FUNGSI PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA PADI DI KECAMATAN TONJONG KABUPATEN BREBES
Function of Agricultural Extension in the Development of Rice Cultivation in Tonjong Sub-District, Brebes District
Ivan Akmal Nur1*, Wahyu Febriyono1 Program Studi Agribisnis Universitas Peradaban
Jl. Raya Pagojengan Km 3, Desa Pagojengan, Kec. Paguyangan, Kab.Brebes 52276
*Sur-el: [email protected]
Abstrak
BPP Tonjong berperan dalam mensukseskan transfer teknologi pertanian dan mensukseskan program pemerintah pusat maupun daerah. Penelitian ini memiliki tujuan untuk (1) mengetahui kegiatan dan kendala yang dihadapi penyuluh pertanian di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes, (2) mengetahui peran penyuluh pertanian Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes. Penelitian ini dilaksanakan di bulan April-Mei 2021, menggunakan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Variabel dalam pengamatan antara lain fungsi penyuluh sebagai edukator, komunikator, vasilitator, konsultan, motivator, monitoring, evaluator. Hasil dari penelitian ini diketahui : kegiatan dilaksanakan oleh penyuluh pertanian antara lain mengadakan kegiatan Sekolah Lapang Pertanian Terpadu, memberikan bantuan benih dan bibit, serta mengawal program pemerintah agar bisa berjalan dengan baik. Kendala yang ditemui penyuluh antara lain: anggaran yang rendah, kesadaran akan adopsi petani akan teknologi masih rendah, bidang pertanian kurang diminati kaum muda, serta alih fungsi lahan pertanian. penyuluh pertanian berperan sebagai edukator, komunikator, fasilitator, konsultan, motivator, monitoring, evaluator.
Kata Kunci: pengembangan, penyuluhan, pertanian
Abstract
BPP Tonjong plays a role in the success of the transfer of agricultural technology and the success of central and local government programs. This study aims to (1) find out the activities and obstacles faced by agricultural extension workers in Tonjong District, Brebes Regency, (2) find out the role of agricultural extension workers in Tonjong District, Brebes Regency. This research was conducted in April-May 2021, using descriptive qualitative and quantitative descriptive methods. Variables under observation include the function of the extension agent as an educator, communicator, facilitator, consultant, monitor, monitor, and evaluator. The results of this study are known: the activities carried out by agricultural extension workers include the Integrated Agricultural Field School, providing seed and seed assistance, and overseeing government programs so that they can run well. The constraints faced by extension workers include: low budget, low awareness of adopting farmers to technology, agriculture that is less attractive to young people, and conversion of agricultural land. Agricultural extension workers act as educators, communicators, facilitators, consultants, motivators, monitors, and evaluators.
Keywords: agriculture, development, extension PENDAHULUAN
Padi merupakan bahan makanan pokok penduduk Indonesia. Produksi padi harus ditingkatkan setiap tahunnya agar mencapai swasembada pangan. Swasembada padi dapat dicapai dengan penggunaan teknologi pertanian yang tepat guna. Swasembada dapat terhambat dikarenakan kurangnya edukasi petani. Masih banyak petani yang belum memiliki
keterampilan dan kurangnya penerapan teknologi dibidang pertanian. sehingga petani masih menggunakan cara dan tradisi lama dalam usaha budidaya padinya (Zulhaq et al, 2020).
Selain persoalan teknologi muncul pula permasalahan tentang kelangkaan pupuk, benih dan akses air yang terbatas. karena keadaan petani semakin sulit dan terjepit, maka dibutuhkan peranan lembaga terkait untuk
membantu petani menyelesaikannya.
Kecamatan Tonjong memiliki BPP yang berperan dalam mensuskseskan transfer teknologi pertanian dan mensukseskan program yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun daerah.
BPP Tonjong memiliki 6 orang pegawai yang membawahi 14 desa (BPS Kabupaten Brebes, 2021). Berdasarkan jumlah tersebut terdapat ketimpangan antara jumlah pegawai dengan jumlah desa yang disuluhnya, sehingga kegiatan penyuluhan menjadi kurang efektif dan efisien. Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut penelitian ini bertujuan:
1. Mengetahui kegiatan dan kendala yang dihadapi penyuluh pertanian di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes.
2. Mengetahui peran penyuluh pertanian Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes pada bulan April-Mei 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix metode yaitu penggabungan penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptip kuantif. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara terstruktur, dokumentasi serta kajian pustaka yang relevan.
Variabel dalam pengamatan antara lain fungsi penyuluh sebagai edukator, komunikator, fasilitator, konsultan, motivator, monitoring, dan evaluator. Kriteria setiap tanggapan untuk masing-masing pertanyaan adalah 3 = sangat berperan, 2 = berperan, 1 = tidak berperan.
Selanjutnya dari jawaban yang diperoleh dihitung rata-rata tingkat peran penyuluh pertanian (Sugiyono, 2010). Metode tringaluasi sumber digunakan untuk pemeriksaan dan keabsahan data. Metode ini membandingkan kembali tingkat kesahihan data dan informasi diambil dari berbagai sumber seperti membandingan antara observasi dengan wawancara atau dokumen dengan hasil wawancara (Firdaus, 2018).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kegiatan dan Kendala Penyuluhan Pertaian di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes
Keadaan pertanian di Kecamatan Tonjong sudah baik dengan komoditas
unggulan padi dan durian. Perilaku, sikap dan keterampilan petani perlu ditingkatkan agar produksi bisa lebih tinggi lagi. Produktifitas padi di Kecamatan Tonjong tahun 2020 sebesar 5,88 ton per hektar, sedangkan produktifitas padi di Kabupaten Brebes sebesar 5,84 ton/ha (BPS Kab.Brebes, 2021).
Produksifitas tanaman padi dapat ditingkatkan. Salah satu cara dalam meningkatkan produktifitas tanaman padi adalah dengan penerapan teknologi oleh petani.
Kegiatan penyuluhan dapat digunakan untuk mengedukasi tentang penggunaan teknologi agar produksinya meningkat penyuluh juga mengawal program pemerintah agar berjalan dengan sukses. Hal ini sejalan dengan pendapat Mardikanto (2009), bahwa penyuluh berperan sebagai motivator, educator, organisator, komunikator, dan konsultan.
Kendala yang dihadapi penyuluhan pertanian Kecamatan Tonjong antara lain anggaran yang masih rendah, kesadaran petani akan penggunaan teknologi yang masih rendah, serta adanya alih fungsi lahan pertanian.
Sejalan dengan pendapatan Astuti (2015), bahwa penyuluh petanian menemui kendala antara lain kurangnya dukungan sarana prasarana (akses jalan yang sulit ditempuh, telekomunikasi yang kurang memadai), masih adanya sebagian petani yang susah diberikan arahan, dan kurangnya atas modal dan sarana produksi usaha tani. Sedangkan Allen et al, (2015), menyatakan bahwa kendala penyuluhan antara lain: jarak, sarana prasarana dan partisipasi petani.
B. Peran Penyuluh Pertanian di Kecamatan Tonjong
Pada penelitian ini diketahui peran penyuluhan pertanian di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes:
1. Edukator
Tabel 1.Nilai fungsi edukator Nilai Jawaban Tebel
Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 122 122 15,41
2 134 268 33,82
3 134 402 50,77
Jumlah 390 792 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
Penyuluh berperan dalam mendidik petani agar perilaku, sikap dan kemampuannya meningkat. Kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian Kecamatan Tonjong adalah penyuluhan pertanian dan melaksanakan kegiatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT). Berdasarkan penelitian Asnawi et al., 2013) SLPTT meningkatkan produktivitas padi sawah sehingga pendapatan petani meningkat. SLPTT merupakan salah satu strategi pemerintah untuk memperdayakan petani dalam menunjang dalam produktifitas usaha tani (Muchtar et al., 2014).
2. Komunikator
Tabel 2. Nilai fungsi komunikator Nilai Jawaban Tabel Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 133 133 17,98
2 125 250 33,78
3 119 357 48,24
Jumlah 377 740 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
Penyuluh berperan sebagai komunikator. Penyuluh mengkomunikasikan kendala yang dihadapi petani kepada dinas pertanian maupun menyampaikan program yang dilaksanakan pemerintah pusat dan daerah. Penyuluh berperan sebagai penyambung lidah petani maupun pemerintah pusat dan daerah. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa penyuluh sangat berperan dalam komunikasi antara petani dan pemerintah. Hal ini sejalan dengan Marbun et al., (2019) yang menyatakan bahwa penyuluh pertanian berinteraksi dengan baik kepada petani, sehingga adanya perubahan perilaku petani dalam mengembangkan usahanya.
Menurut Anti (2021) hal mendasar yang perlu dilakukan dalam penyuluhan antara lain:
penyuluhan dilakukan ketika petani tidak sibuk; materinya sesuai dengan kebutuhan petani: menggunakan media penyalur informasi yang menarik; dibutuhkan komunikasi persuasif dalam mengarahkan petani; menggunakan bahasa yang mudah dimengerti; intens dalam melakukan komunikasi dengan petani sebagai bahan evaluasi.
3. Fasilitator
Penyuluh berperan sebagai fasilitator, 50,99% responden menyatakan bahwa penyuluh sangat berperan sebagai fasilitator.
Penyuluh memfasilitasi petani untuk menyelesaikan permasalahannya melalui teknologi tepat guna yang digalakan melalui program pemerintah. Berdasarkan penelitian Wibowo et al., (2018) sebagai fasilitator penyuluh menyediakan infrastruktur penunjang kegiatan, penyediaan sumber dan media belajar, penggunaan metode belajar, peningkatan motivasi belajar, dan keahlian dalam menjalankan perannya. Sedangkan menurut Marbun et al., (2019), sebagai fasilitator penyuluh membantu petani dalam menyediakan sarana produksi dan peralatan pertanian, memberikan contoh kepada petani dalam menggunakan sarana produksi pertanian, memfasilitasi petani dalam mengakses informasi dari pemerintah (kredit, kebijakan baru, harga pasar), memberikan jalan/kemudahan unjuk memajukan usaha petani.
Tabel 3. Nilai fungsi fasilitator Nilai Jawaban Tabel
Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 108 108 14,23
2 132 264 34,78
3 129 378 50,99
Jumlah 369 759 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
4. Konsultan
Tabel 4.Nilai fungsi konsultan Nilai Jawaban Tebel
Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 137 137 18,66
2 111 222 30,25
3 125 375 51,09
Jumlah 373 734 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
Sebanyak 51,09% responden menyatakan bahwa penyuluh sangat berperan sebagai konsultan petani dalam menyelesaikan permasalahan pertaniannya. Melalui nasehat
yang diberikan penyuluh terkait dengan penggunaan teknologi, petani dapat menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam usahataninya, sejalan dengan pendapat Khairunnisa et al., (2021), yang menyatakan bahwa penyuluhan memberikan nasehat kepada petani apabila usahatani yang dilakukan oleh petani masih kurang tepat dan kurang memberikan keuntungan yang maksimal.
5. Motivator
Sebanyak 49,80% responden menyatakan bahwa penyuluh sangat berperan sebagai motivator petani dalam berusaha tani agar kesejahteraannya meningkat. Penyuluh memberikan informasi-informasi kepada petani untuk mengembangkan usahatani yang lebih menguntungkan serta memotivasi petani untuk meningkatkan hasil produksi jagung serta mempraktikan alat teknologi untuk meningkatkan hasil produksi usahatani.
Menurut Kansirini et al., (2020), kegiatan penyuluhan kepada petani, peran motivator sangat penting dalam mendukung petani untuk mengadopsi inovasi. Khairunnisa et al., (2021).
Penyuluh pertanian Kecamatan Tonjong berhasil mempengaruhi petani agar mengaplikasikan teknologi jajar lewogo.
Tabel 5. Nilai fungsi motivator Nilai Jawaban Tebel
Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 130 130 17,54
2 121 242 32,66
3 123 369 49,80
Jumlah 374 741 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
6. Monitoring
Tabel 6. Nilai fungsi monitoring Nilai Jawaban Tebel
Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 126 126 17,75
2 118 236 33,24
3 116 348 49,01
Jumlah 360 710 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
Petani merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan monitoring yang dilakukan oleh penyuluh pertanian dengan bobot nilai 49,01%. Monitoring penyuluhan merupakan proses pendampingan yang dilakukan penyuluh pertanian terkait dengan usaha budidaya pertanian yang dilakukan oleh petani. Dalam suatu penyelenggaraan kegiatan penyuluhan, bagian terpenting adalah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang telah diberikan kepada petani. Sejauh mana perubahan yang diperoleh oleh petani dapat dilihat dari hasil monitoring dan evaluasi. Selain itu, hal ini juga dibutuhkan untuk mengetahui kendala dan tantangan yang dialami oleh petani, sehingga dapat segera diberikan masukan dan solusi kepada para petani (Kansirini et al, 2020).
7. Evaluator
Penyuluh pertanian dinilai sangat evaluator dengan bobot nilai 46,12%. Penyuluh bertugas mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh petani. Evaluasi yang dilakukan terkait dengan hasil yang diperoleh.
Sejalan dengan pendapat Afrialfa et al., (2014) evaluasi terhadap penguasaan inovasi atau teknologi melakukan evaluasi terhadap hasil kegiatan subsistem onfarm/budidaya dan evaluasi.
Tabel 7. Nilai fungsi monitoring Nilai Jawaban Tebel
Nilai
Bobot Nilai
(%) Pernyataan Responden
1 120 120 18,26
2 117 236 35,62
3 101 303 46,12
Jumlah 338 657 100
Sumber: Data penelitian diolah, 2021.
KESIMPULAN
1. Kegiatan yang dilaksanakan oleh penyuluh pertanian Kecamatan Tonjong antara lain mengadakan kegiatan SLPTT, memberikan bantuan benih dan bibit, serta mengawal program pemerintah agar bisa berjalan dengan baik. Kendala yang ditemui penyuluh antara lain: anggaran yang rendah, kesadaran petani akan adopsi teknologi masih rendah, bidang pertanian
kurang diminati kaum muda, serta alih fungsi lahan pertanian.
2. Penyuluh pertanian di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes berperan sebagai edukator, komunikator, konsultan, fasilitator, monitoring dan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Afrialfa F., Yulida, R., Arifudin. 2014. Peran penyuluhan dalam pemberdayaan petani kelapa sawit pola swadaya di Kabupaten Indragiri Hilir. Jom Faperta, 1 (2): 1-12.
Allen, H. F., Batubara, M. M., & Iswarini, H. I.
(2015). Kendala penyuluh dalam melaksanakan aktivitas penyuluhan pada usahatani kopi di Kecamatan Dempo Utara Kota Pagar Alam. Societa: Jurnal Ilmu-Ilmu Agribisnis, 4(2):105-110.
Anti, A. (2021). Penyuluh pertanian sebagai komunikator dalam pengembangan kemampuan petani. Al-Din: Jurnal Dakwah dan Sosial Keagamaan, 7(1).
Asnawi, R., Zahara, Z., & Arief, R. W. (2013).
Peningkatan produktivitas dan pendapatan petani melalui penerapan model pengelolaan tanaman terpadu padi sawah di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Jurnal Pembangunan Manusia, 7(3):87-100.
Astuti, I. W. 2015. Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam peningkatan produktivitas pertanian di Desa Batu Timbau Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kutai Timur. Journal Ilmu Pemerintahan, 3 (1): 433-442.
BPS Kabupaten Brebes. 2021. Kabupaten Brebes dalam angka 2021. BPS Kabupaten Brebes : Brebes
Firdaus, F. 2018. Aplikasi Metodologi Penelitian. Yogyakarta:Deepublish
Kansrini, Y., Mulyani, P. W., & Febrimeli, D.
(2020). Peran penyuluh pertanian lapangan (ppl) dalam mendukung adopsi budidaya tanaman kopi arabika yang baik (good agriculture practices) oleh petani di kabupaten tapanuli selatan. Agrica Ekstensia, 14(1):54-65.
Khairunnisa, N.F., Saidah, Z, Hapsari, H., Wulandari, E. 2021. Peran penyuluhan pertanian terhadap tingkat produksi usahatani jagung. Jurnal Penyuluhan 17 (02): 113-125.
Marbun, D.N.V.D., Satmoko, S., Gayatri, S.
2019. Peran penyuluh pertanian dalam pengembangan kelompok tani tanaman hortikultura di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 3 (3): 537-546.
Muchtar, K., Purmaningsih, N., Susanto, D.
2014. Komunikasi partipasif pada Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Jurnal Komunikasi Pembangunan, 12(2): 1-14.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian.
Bandung: Alfabeta.
Wibowo, H. S., Sutjipta, N., & Windia, I. W.
(2018). Peranan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai Fasilitator dalam Penggunaan Metode Belajar Pendidikan Orang Dewasa (Andragogi)(Kasus di Gapoktan Madani, Desa Sampalan Klod, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali). E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, 7 (1):21-30.
Zulhaq M.F.T., Nur, I.A., Febriyono, W. 2020.
Fugsi penyuluh pertanian dalam pengembangan pertanian di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. Jurnal Ilmiah Media Agrosains 6(2):83-93.