KEABSAHAN AKTA JUAL BELI TANAH PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH YANG TIDAK MENCANTUMKAN HARGA JUAL

137  Download (0)

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

TALITA SYAMANTA 167011068/M.Kn

MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

TALITA SYAMANTA 167011068/M.Kn

MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)
(4)

TIM PENGUJI TESIS

KETUA : Notaris Dr. Suprayitno, SH, MKn ANGGOTA : 1. Notaris Dr. Henry Sinaga, SH, MKn

2. Dr. T Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum 3. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum

4. Notaris Dr. Tony, SH, MKn

(5)
(6)
(7)

Pembuatan akta Jual Beli Tanah hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah atau disebut dengan PPAT. Akta Jual Beli Tanah digunakan sebagai alat pembuktian di Pengadilan jika terjadi sengketa. Dengan adanya Akta Jual Beli Tanah berarti telah terjadi peralihan hak atas tanah, oleh sebab itu Akta Jual Beli Tanah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan peraturan yang berlaku. PPAT yang membuat Akta Jual Beli Tanah harus sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, Peratauran Menteri Negara/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998. Namun, kenyataannya telah di temukan Akta Jual Beli Tanah yang dibuat oleh PPAT yang tidak sesuai dengan Peraturan, yaitu tidak dicantumkannya harga jual beli tanah. Dimana akta tersebut telah melanggar mekanisme pembuatan Akta Autentik oleh PPAT dan tidak memenuhi unsur materil dalam pembutan Akta Jual Beli Tanah. Dengan demikian, bagaiamana akibat hokum terhadap akta jual beli tanah yang dibuat dihadapan PPAT yang tidak mencantumkan harga jual beli, bagaimana perlindungan hukum bagi para pihak dalam akta jual beli tanah yang dibuat dihadapan PPAT yang tidak mencantumkan harga jual.

Jenis penelitian tesis ini menggunakan penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari wawancara, serta data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur dan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya menarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif.

Kesimpulan yang didapat bahwa Akta Jual Beli Tanah yang tidak mencantumkan harga jual tersebut harus dibatalkan karena tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Prinsip dalam pelaksanaan jual beli adalah terang dan jelas.

Maka, dalam setiap pembuatan Akta Jual Beli Tanah harus mencantumkan harga jual. Karena apabila terjadi pelaksanaan pembuatan Akta Jual Beli Tanah dan tidak mencantumkan harga jual akan mengakibatkan kekaburan dalam akta tersebut yang mengakibatkan ketidak jelasan bahkan dinyatakan tidak dapat menimbulkan akibat hukum apapun dalam akta tersebut.

Kata Kunci : Akta Jual Beli, Pejabat Pembuat Akta Tanah, Harga Jual Beli

(8)
(9)

Nama : Talita Syamanta Tempat/ Tgl. Lahir : Medan/ 18 Juni 1994

Alamat : Jl. Setia Luhur Gg. Mushola No. 156 C, Medan Status : Belum Menikah

Agama : Islam

PENDIDIKAN FORMALN

1. SD Kartika 1-2 2. SMP Kartika 1-2

3. SMA Negeri 3 Medan

4. S1 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

(10)

kenikmatandananugerahkepadapenulis, sehinggapenulisdapatmenyelesaikan penyusunantesisinidenganjudul:“HAK JANDA ATAS HARTA PENINGGALAN SUAMI BERDASARKAN HUKUM ADAT MARGA HIA DI DESA IRAONOGAILA KECAMATAN LAHOMI KABUPATEN NIAS BARAT”

Ketikamelakukanpenulisandanpenyusunantesisini,

penulismenyadarimasihbanyakkekuranganbaikdariisitulisanmaupuncarapenulisan

nya. Hal

inidikarenakanolehterbatasnyapengetahuandanpengalamanuntukmenuangkannyak edalamtesisini, olehkarenaitusangatdiharapkankritikanmaupun saran gunamemperbaikikualitasdaripenulisandanbermanfaatpadamasa yang akandatang.

Saatpenyelesaiantesisinitidakterlepasdaribantuanberbagaipihak, baik secaralangsungmaupuntidaklangsung.Penulismenyadaritidakakanmampuuntukme mbalaskebaikandariberbagaipihaktersebut danhanyadapatberdo’a agar semuapihak yang sudah terlibat membantupenulisselaludalamlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sebagaiungkapanterimakasih, makaizinkanlahpenulisuntukmenyampaikan rasa hormatdanterimakasihkepada:

1. Prof. Dr. BudimanGinting,

SH.,M.HumselakuDekanFakultasHukumUniversitas Sumatera Utara.

2. Dr. T. KeizerinaDeviAzwar, SH.,CN.,M.HumselakuKetua Program Studi Magister KenotariatanFakultasHukumUniversitas Sumatera Utara sekaligus

(11)

telahmeluangkanwaktuuntukmemberikan bimbingan, petunjukbaikberupa saran danarahan yang membangunselamapenyusunantesisini serta atas ilmu yang diberikan selama masa studi pada Program Magister Kenotariatan USU.

4. Dr. Yefizawati, SH.,M.Hum selakudosenpembimbing 2, yang telahmeluangkanwaktumembimbingserta semangat dan motivasi selama penyusunan tesis.

5. Dr. Utary Maharani Barus, SH.M.Hum selaku dosen pembimbing 3, yang telah meluangkan waktu membimbing serta memberikan arahan selama penyusunan tesis ini.

6. Dr. Rosnidar Sembiring, SH.,M.Hum selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan petunjuk, arahan dalam penyusunan tesis ini.

7. Bapak/IbuDosenMagister KenotariatanFakultasHukumUniversitas Sumatera

Utara yang

telahmendidikdanmemberikantambahanwawasanilmudanpengetahuanhukums

elamamenjalankanperkuliahan di Magister

KenotariatanFakultasHukumUniversitas Sumatera Utara.

8. SeluruhstafdanpegawaiMagister KenotariatanFakultasHukumUniversitas Sumatera Utara yang telahmembantuselama proses perkuliahanselamaini.

9. TerimakasihkepadaparasahabatsayaHeri Kosman Sagala, Antonius Sihaloho, Jusriono P Siregar, Daniel L, Sri Endhayani Ginting Suka, Junita Tampubolon, Andre Rajagukgukdan semua yang tidak dapat dituliskan satu persatu yang selalu menyemangati dan membuatkeceriansetiaphari.

10. Seluruh teman-temanseperjuanganangkatan 2016 Magister KenotariatanFakultasHukumUniversitas Sumatera Utara yang selalumemberikandukungan, semangat, dan saran.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terimakasihdan rasa sayang yang takterhinggakepadaayahanda Yakobus Yubilate Daeli, danibundaKristina

(12)

kepadasaudara/saudariku: Sinivonni Daeli, Siprianus S Daeli, Sastri Liusni Daeli, Star Boy Fortuna Daeli, Srikardo S Daeli, Sixtus Suwandi L Daeli, Sesilia Solidaritas Daeli dansemuasepupu yang tidakdapatditulis namanyasatupersatu

yang telahmembantu, menyemangati,

mendukungsertamendoakandalampenyelesaiantesisini.

Penulismenyadarisepenuhnyabahwadalampenulisantesisinimasihjauhdarik esempurnaan.Olehkarenaitu, dengansegala kerendahanhati, penulismenerimakritikdan saran demi kesempurnaantesisini.Akhir kata penulisberharapsemogatesisinidapatmenjadikontribusi yang bermanfaatbagiilmupengetahuankhususnya di bidanghukum.

Medan, 07Desember2019 Penulis

Spontan Daeli Nim : 167011138

(13)

BPHTB :Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan BPN : Badan Pertanahan Nasional

BW : Burgelijk Wetboek

HIR : Het her zien Indonesiach Regelement IPPAT : Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah KTUN : Keputusan Tata Usaha Negara KTP : Kartu Tanda Penduduk

KUH Perdata : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata KUH Pidana : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana NJOP : Nilai Jual Objek Pajak

NPWP : Nomor Pokok Wajib Pajak PBB : Pajak Bumi Bangunan

PERKABAN : Peratutan Kepala Badan Pertanahan Nasional PJPPAT : Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah PPAT : Pejabat Pembuat Akta Tanah

PPAIW : Pejabat Pembuat Akta Tanah Ikrar Wakaf

PPh : Pajak Penghasilan

UUJN : Undang-Undang Jabatan Notaris UUPA : Undang-Undang Pokok Agraria

(14)

di pengadilan

Akibat Hukum : Akibat yang diberikan oleh hukum atas suatu peristiwa hukum atau perbuatan dari subjek hukum

Akta :Dokumen hukum yang berkaitan dengan status perdata seseorang atau yang menunjukkan suatu fakta perdata.

Akta Otentik :Akta yang dibuat oleh dan dihadapan tenaga kependidikan umum yang berwenang membuat akta (Notaris, PPAT, Camat) dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang. Akta ini memiliki kekuatan pembuktian paling kuat dibandingkan alat bukti lainnya dihadapan pengadilan.

Harga :Nilai barang baik barang bergerak maupun tetap yang ditentukanatau dirupakan dengan uang.

Harga Beli :Harga yang berlaku pada waktu membeli sesuatu barang.

Harga Jual :Sejumlah kompensasi (uang atau barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang atau jasa.

Jual :Memberikan sesuatu dengan memperoleh pembayaran atau uang.

Jual Beli :Persetujuan saling mengikat antara penjual dan pembeli, penjual sebagai pihak yang menyerahkan barang, dan pembelil sebagaimana pihak yang membayar harga barang yang telah dibelinya, masalah ini erat kaitannya dengan pasal 1457,1458 dan 1459, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Juncto :Berhubungan dengan penjelasan sebelumnya Limitatif :Terbatas

Pendaftaran

tanah :Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus berkesinambungan dan teratur meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun. Termasuk pembenaan surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

Perjanjian :persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih tertulis maupun lisan, masing-masing sepakat untuk mentaati isi persetujuan yang telah dibuat bersama, hal ini diatur di dalam pasal 1313, 1314 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Prosedur :Cara yang harus dilakukan dalam melaksanakan sesuatu.

(15)

i

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 13

C. Tujuan Penelitian ... 13

D. Manfaat Penelitian ... 13

E. Keaslian Penelitian ... 14

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 16

1. . Kerangka Teori... 16

2. . Kerangka Konsepsi ... 23

G. Metode Penelitian ... 25

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 25

2. Sumber Data ... 26

3. Teknik Pengumpulan Data ... 27

4. Analisis Data ... 28

BAB II : PENGATURAN TENTANG PEMBUATAN HARGA JUAL BELI TANAH DALAM AKTA JUAL BELI YANG DIBUAT DIHADAPAN PPAT A. Pengaturan Peraliham Hak Atas Tanah Dengan Jual Beli Yang Dibuat Dihadapan PPAT ... 29

1. Pelaksanaan Jual Beli Tanah Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria No. 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah ... 29

2. Pelaksanaan Jual Beli Tanah Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Republik Indonesia No. 8 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Baadan Pertanahan NASIONAL No. 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah (Perkaban No. 8 Tahun 2012) ... 31

3. Pelaksanaan Jual Beli Tanah Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Pejabat Pembuat Akta Tanah Republik Indonesia ... 34

(16)

ii

B. Prosedur Pelaksanaan Akta Jual Beli Dihadapan PPAT 40 1. Sbelum Pelaksanaan Pembuatan Akta Jual Beli

Tanah. ... 51

2. Pelaksanaan Akta Jual Beli ... 58

C. Unsur-unsur Jual Beli Yang Dilakukan Dihadapan PPAT ... 64

1. Unsur Essentialia ... 65

2. Unsur Naturalia ... 68

3. Unsur Aksidentialia ... 69

BAB III : AKIBAT HUKUM TERHADAP AKYA JUAL BELI YANG DIBUAT DIHADAPAN PPAT YANG TIDAK MENCANTUMKAN HARGA JUAL A. Syarat Sah Akta Jual Beli ... 71

B. Akta Jual Beli Sebagai Alat Bukti Yang Sah ... 78

C. Akibat Hukum Akta Jual Beli Yang Tidak Mencantumkan Harga Jual ... 84

D. Kasus Mengenai Akta Jual Beli Yang Tidak Mencantumkan Harga Jual Beli... 89

BAB IV : PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA PIHAK DALAM AKTA JUAL BELI YANG DIBUAT DIHADAPAN PPAT YANG TIDAK MENCANTUMKAN A. Kerugian Yang Dialami Oleh Para Pihak Terhadap Akta Jual Beli Yang Tidak Mencantumkan Harga Jual Beli ... 95

B. Tanggungjawab PPAT Terhadap Akta Jual Beli Yang Tidak Mencantumkan Harga Jual Beli ... 97

1. Pertanggungjawaban PPAT secara Administrasi .... 99

2. Pertanggungjawaban PPAT Secara Perdata ... 102

3. Pertanggungjawaban PPAT Secara Pidana ... 104

C. Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak Dalam Akta Jual Beli Yang Dibuat Dihadapan PPAT Yang Tidak Mencantumkan Harga Jual Beli ... 106

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 112

B. Saran ... 114

DAFTAR PUSTAKA ... 116

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, atas dasar hak menguasai dari negara maka menjadi kewajiban bagi pemerintah melaksanakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut Undang-Undang Pokok Agraria yang komunalistik religius, selain bertujuan melindungi tanah juga mengatur hubungan hukum hak atas tanah melalui penyerahan sertifikat sebagai tanda bukti hak atas tanah bagi pemegangnya.1

Pengertian hak atas tanah dirumuskan dalam Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) adalah hak yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada diatasnya, sekadar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu dalam batas-batas menurut Undang-Undang ini dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi.2

Hak-hak atas tanah yang diberikan kepada subyek hak yaitu orang atau badan hukum yang dipersamakan dengan orang adalah hak-hak atas tanah yang bersifat keperdataan sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Undang-Undang

1 S Chandra, Sertifikat Kepemilikan Hak Atas Tanah Persyaratan Permohonan Di Kantor Pertanahan, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Medan, 2005, halaman 3

2H.M. Arba, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, halaman 84

(18)

Pokok Agraria (UUPA) yakni : 1. Hak Milik, 2. Hak Guna Usaha 3. Hak Guna Bangunan, 4. Hak Pakai 5. Hak Sewa 6. Hak Membuka Tanah, 7. Hak Memungut Hasil Hutan, dan 8. Hak-hak lain serta hak-hak yang bersifat sementara.3

Perbuatan hukum kepemilikan hak atas tanah dapat dialihkan dengan peralihan hak atas tanah. Peralihan hak atas tanah adalah berpindahnya hak atas tanah dari pemegang hak yang lama kepada pemegang hak yang baru. Ada 2 (dua) cara peralihan hak atas tanah, yaitu beralih dan dialihkan. Beralih menunjukkan berpindahnya hak atas tanah tanpa ada perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemiliknya, misalnya melalui pewarisan. Dialihkan menunjuk pada berpindahnya hak atas tanah melalui perbuatan hukum yang dilakukan pemiliknya, misalnya melalui jual beli tanah.

Dalam jual beli tanah tentunya ada pihak-pihak yang tersangkut di dalamnya yaitu pihak (calon) penjual sebagai pihak yang mempunyai tanah yang akan diperjualkan kepada pihak lain yang disebut sebagai (calon) pembeli yang berkeinginan memiliki/mempunyai tanah tertentu yang sesuai dengan keinginannya.4

Di samping itu juga ada instansi atau pejabat yang juga terlibat dalam melakukan jual beli tanah. Pengalihan hak atas tanah yang belum bersertifikat dilakukan dihadapan notaris sedangkan pengalihan hak atas tanah yang telah bersertifikat dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat AktaTanah sebagai pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat alat bukti mengenai perbuatan

3Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Loc., Cit Halaman 2

4Harun AK Rashid, Sekilas Tentang Jual Beli Tanah (Berikut Peraturan-peraturannya), Ghalia Indonesia, Jakarta,Halaman 17

(19)

hukum tertentu atas tanah. Dalam Pasal 6 ayat (2) Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah yang mengatakan bahwa dalam melaksanakan pendaftaran tanah, Kepala Kantor Pertanahan, kecuali kegiatan- kegiatan tertentu menurut Peraturan Pemerintah ini dan peraturan perundang- undangan yang bersangkutan.5

Jual beli tanah yang belum bersertifikat merupakan tanah bekas Hak Adat yang belum pernah didaftar, boleh dijual, tanpa terlebih dahulu dibuat sertifikat, kecuali kalau sebelumnya sudah ada kewajiban untuk diuruskan sertifikatnya. Kewajiban itu misalnya telah terjadi pewarisan atau sudah dijual atau sudah dibebani Hak Tangunggungan, yang terjadi sesudah PP. No.

10/1961 berlaku.6

Jual beli tanah yang telah memilik sertifikat maka pemilik/pemegang hak atas tanah harus membawa sertifikat aslinya dikarenakan membawa sertifikat yang asli tersebut sangat penting sebab setelah terjadinya jual beli maka sertifkat tanah beserta aktajual belinya akan dikirimkan ke Kantor Agraria untuk dimintakan balik nama dan didaftarkan atas nama pembeli tanah tersebut sebagai pemilik yang baru karena tanpa adanya sertifikat aslinya ini Pejabat Pembuat AktaTanah tidak mungkin akan membuat aktajual beli.7

Peralihan hak atas tanah dengan cara jual beli tersebut diatas merupakan suatu perbuatan hukum yang dikuatkan dengan aktaautentik yang diperbuat

5Arfansyah Putra Tanjung, Analisis Yuridis Pemberian Kuasa Blanko Pada AktaPerikatan Jual Beli (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 51/PD.T/2009/MDN. Tesis, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009.

6Efendi Perangin, Praktek Jual Beli Tanah, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, halaman 17

7Harun Al Rashid,. Op.,Cit., halaman 57

(20)

oleh dan di hadapan Pejabat Pembuat AktaTanah yang mengakibatkan beralihnya pemegang hak atas tanah kepada pihak lain.8

Tata cara dan formalitas pembuatan aktaotentik adalah merupakan ketentuan hukum yang memaksa, artinya tata cara dan prosedur pembuatan itu harus diikuti dengan setepat-tepatnya tanpa boleh di simpangi sedikitpun.

Penyimpangan dari tatacara dan prosedur pembuatan aktaotentik akan membawa akibat hukum kepada kekuatan pembuktian aktaitu. Keberadaan suatu aktaotentik dan pejabat umum di Indonesia diatur dalam Pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang berbunyi: “aktaotentik adalah aktayang didalam bentuknya ditentukan oleh Undang-undang dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat dimana aktaitu dibuatnya.” Pasal tersebut menghendaki adanya Undang-undang organik yang mengatur tentang bentuk aktaotentik yang mengatur tentang bentuk aktaotentik dan pejabat umum.9

Pejabat Pembuat AktaTanah atau di sebut juga PPAT merupakan pejabat umum yang diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang diberi kewenangan untuk membuat aktaperbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. PPAT dapat diangkat oleh kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan

8Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, CV Mandar Maju, Bandung, 2008, halaman 275

9I Gusti Bagus Yoga Prawira, Tanggung Jawab Terhadap AktaJual Beli Tanah, Magister Kenotariatan Universitas Mataram, 2016, halaman 67

(21)

oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perbuatan hukum tertentu yang dibuktikan dengan aktaPPAT adalah jual beli, tukar-menukar, hibah, pemasukan dalam modal perusahaan (inbreng), pembagian hak bersama, pembebanan Hak Tanggungan, dan pemberian Hak Guna Bangungan atau Hak Pakai Atas Tanah Hak Milik. pengertian PPAT tersebut di atas menunjukkan bahwa PPAT merupakan jabatan umum dan diberi kewenangan untuk membuat aktatertentu yang berkaitan dengan tanah.10

AktaAutentik yang dibuat oleh PPAT merupakan aktakhusus untuk para pihak yang Bentuk dan formatnya sudah ditentukan oleh peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2012, tentang perubahan atas Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasioanal Nomor 3 Tahun 1997, tentang Pendaftaran Tanah. Didalam Pasal 96 ayat (1) menyatakan : ”Bentuk Aktayang dipergunakan di dalam pembuatan aktasebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (1) dan ayat (2) serta berdasarkan rumusan Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 bahwa PPAT termasuk Pejabat Umum yang khusus membuat aktayang berkaitan dengan Peralihan hak atas tanah. Adapun akta-aktayang termasuk kewenangan PPAT terdiri dari” 11:

1. Aktajual beli

2. Aktatukar menukar 3. Aktahibah

4. Aktapemasukan ke dalam perusahaan (inbreng) 5. Aktapembagian hak bersama

10Urip Santoso, Pejabat Pembuat AktaTanah, Perspektif Regulasi, Wewenang, dan Sifat Akta, Prenadamedia Group, Jakarta, 2016, halaman. 98

11Samsaimun, Peraturan Jabatan PPAT Pengaturan Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah (PPAT) DALAM Peralihan ATAS Tanah di Indonesia, Pustaka Reka Cipta, Bandung, 2018, halaman: 55

(22)

6. Aktapemberian Hak Guna Bangunan/Hak pakai atas tanah Hak Milik

7. Aktapemberian Hak Tanggungan Aktapemberian kuasa membebankan hak tanggungan.

Akta-aktayang dibuat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah tersebut diatas merupakan Aktaautentik, aktaautentik yang dimaksud menurut Pasal 1868 KUH Perdata, adalah aktadi dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang- Undang, dibuat oleh dan di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu, di tempat dimana aktaitu dibuatnya. Aktaautentik adalah aktayang dibuat yang bentuknya ditetapkan dengan Undang-Undang, aktadibuat oleh dan di hadapan pejabat umum yang berwenang, dan aktadibuat oleh dan di hadapan pejabat umum yang berwenang, dan aktadibuat di daerah kerja pejabat umum yang berwenang tersebut. Yang dimaksud aktaautentik menurut Pasal 101 huruf a Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 sebagaimana diubah oleh Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, adalah surat yang dibuat oleh atau di hadapan seorang pejabat umum, yang menurut peraturan perundang-undangan berwenang membuat surat itu dengan maksud untuk digunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum di dalamnya.12

Aktaautentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna bagi para pihak beserta seluruh ahli warisnya atau pihak lain yang mendapatkan hak dari para pihak, sehingga apabila suatu pihak mengajukan suatu aktaautentik, hakim harus menerimanya dan menganggap apa yang dituliskan di dalam akta.13

12Urip Santoso, Op.Cit Halaman 129

13Ibid.,

(23)

Menurut A.A. Andi Prajotno menyatakan bahwa aktaPejabat Pembuat AktaTanah sebagai aktaautentik seharusnya mempunyai:14

a. Kekuatan pembuktian lahiriah (uitwendige bewijskracht), mempunyai kemampuan untuk membuktikan sendiri keabsahannya, lazim disebut

“acta publica probant sese ipsa”;

b. Kekuatan pembuaktian formal (formale bewijskracht), merupakan pernyataan pejabat dalam tulisan yang tercantum dalam aktaadalah sama dengan yang dilakukan dan disaksikan oleh pejabat yang bersangkutan dalam menjalankan jabatannya, termasuk kepastian dari tanggal pembuatannya, tanda tangannya, dan tempat pembuatan aktanya;

c. Kekuatan pembuaktian material (material berwijskracht), dalam arti isi aktaitu benar adanya terhadap setiap orang yang menyuruh membuatkan aktaitu untuk itu terhadap dirinya.

Untuk menetapkan aktaPejabat Pembuat AktaTanah sebagai aktaautentik atau bukan digunakan 3 (tiga) unsur dalam Pasal 1868 KUH Perdata, yaitu salah satunya pada bentuk aktayang diguanakan oleh Pejabat Pembuat AktaTanah (PPAT) diatur dalam:15

1. Pasal 38 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 menetapkan bahwa bentuk, isi, dan cara pembuatan akta-aktaPejabat Pembuat AktaTanah diatur dengan Peraturan Menteri Negara/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sekarang Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasioanal Republik Indonesia);

14A.A Andi Prajitno, Pengetahuan Praktis Tentang Apa dan Siapa Pejabat Pembuat AktaTanah, Selaras, Malang, halaman 86-87

15Urip Santoso, Loc., Cit halaman 143

(24)

2. Pasal 21 Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 menetapkan bahwa aktaPejabat Pembuat AktaTanah dibaut dengan bentuk yang ditetapkan oleh Menteri Negara/Kepala Badan Pertanahan dan Pertanahan Nasional Republik Indonesia;

3. Pasal 95 dan Pasal 96 Peraturan Menteri Negara/Kepala Badan Pertanahan Nasioanl No. 3 Tahun 1997 menetapkan macam dan bentuk aktayang dibuat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah.

Berdasarkan ketiga peraturan perundang-undangan tersebut diatas, bentuk aktaPPAT tidak ditetapkan oleh undang-undang, melainkan oleh Menteri Negara/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sekarang Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional umum). Mewajibkan kepada Pejabat Pembuat AktaTanah untuk membuat aktatanah sesuai dengan Peraturan yang ada.

Menurut pandangan Salim HS. Jual Beli adalah suatu perjanjian yang dibuat antara pihak penjual dan pembeli, dimana pihak penjual berkewajiban untuk menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan berhak menerima harga, dan pembeli berkewajiban untuk membayar harga dan berhak menerima objek tersebut.16

Unsur-unsur yang tercantum dalam ketiga definisi di atas adalah 1. Adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli

2. Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga, dan

16Salim HS, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusun Kontrak, Jakarta, Sinar Grafika, 2011, Halaman 49

(25)

3. Adanya hak dan kewajiban yang timbal antara pihak penjual dan pembeli.

Seperti yang dijelaskan seperti yang diatas dikatakan bahwa salah satu unsur terpenting dalam AktaJual Beli adalah adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga. Dimana, harga pada suatu barang tersebut harus dicantumkan, dituliskan dengan sangat jelas pada aktajual beli. Dimana pengertian harga adalah istilah yang digunakan untuk sejumlah uang yang diminta, ditawarkan, atau dibayarkan untuk suatu barang atau jasa. Hubungannya dengan penilaian, harga merupakan faktahistoris, baik yang diumumkan secara finansial, motivasi, atau kepentingan khusus dari seorang penjual atau pembeli, harga yang dibayarkan atas suatu barang atau jasa dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan nilai barang atau jasa yang bersangkutan. Meskipun demikian, harga biasanya merupakan indikasi atas nilai relif dari barang atau jasa oleh pembeli tertentu dan atau penjual tertentu dalam kondisi yang tertentu pula.17

Adapun prosedur jual beli tanah itu diawali dengan kata sepakat antara calon penjual dengan calon pembeli mengenai obyek jual belinya yaitu tanah hak milik yang akan dijual dan harganya. Hal ini dilakukan melalui musyawarah di antara mereka sendiri. Setelah mereka sepakat akan harga dari tanah itu, biasanya sebagai tanda beli. Kesepakatan itu lalu kemudian ditandai dengan pembuatan AktaJual beli yang di buat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah, dan harus dituliskan secara terperinci dari kesepakatan jual beli

17Harnoto dan Lambang Aditama, Mengenal Penilaian Dan Profesinya, PT. Mitra Wacana Media, Jakarta, 2009, Halaman 7

(26)

tersebut. Termasuk salah satunya adalah dengan mencantumkan dengan jelas harga jual tanah yang telah diperjual belikan.

Contoh-contoh pelanggaran yang sering terjadi dalam praktek pembuatan aktaPPAT adalah:

1. Menandatangani aktajual beli sebelum dilakukan cek bersih/pengecekan sertifikat di Kantor Badan Pertanahan Nasional.

2. Hanya melakukan pengecekan lisan

3. Aktajual beli tidak dibacakan oleh PPAT secara rinci namun hanya menerangkan isi aktasecara garis besar

4. Penandatanganan terhadap aktajual beli dilakukan oleh para pihak tidak secara bersamaan

5. Saksi-saksi tidak pernah terlibat secara langsung dalam suatu proses penandatanganan akta

6. Menerima pekerjaan dari rekan sejawat akan tetapi terhadap aktayang akan dibuat telah ditandatangani sebelumnya oleh para pihak

7. Nilai harga transaksi yang dimuat dalam aktajual beli berbedan dengan nilai transaksi yang sebenanrnya.

Hal-hal tersebut diatas merupakan perbuatan menyimpang yang sering dilakukan oleh para Pejabat Pembuat AktaTanah yang mengakibatkan Aktayang dibuatnya bermasalah. Dalam hal penulisan tesis ini, telah di temukan adanya aktayang dibuat dengan sengaja oleh Pejabat Pembuat AktaTanah yang tidak mencantumkan harga jual.

(27)

Aktajual beli tanah yang dibuat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang ada. AktaJual Beli tersebut dibuat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah (PPAT) “V” dengan Nomor Akta: 30, Tahun 2009. PPAT tersebut telah diangkat/ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat AktaTanah berdasarkan Surat Keputusan Menurut Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional pada tanggal 4 Juni 1998 nomor 9.XI.1998. Dengan wilayah kerja di daerah Kota Sibolga. Bahwa aktajual beli tersebut tidak mencantumkan harga jual pada aktajual belinya.

Aktajual beli tersebut telah diserahkan kepada para pihak yang bersangkutan. Para pihak kedua/penjual Tuan “KJM” maupun pihak pertama/

pembeli Tuan “TC”, Tuan “DCK” dan Tuan “TPK”. Aktaini telah ditanda tangani oleh para pihak dan disaksikan oleh para saksi “SS” dan “N” yang tercatat diaktatersebut pada tanggal 28 Oktober Tahun 2009.

Aktajual beli tersebut telah mencantumkan Sertifikat Tanda Bukti Hak dan Buku Tanah yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri. Dalam pendaftaran Hak, Pembebanan dan pencatatan lainnya sudah didaftarkan oleh Pejabat Pembuat Akta“V” tercatat pada tanggal 5 Oktober Tahun 2009 / 01- 10-2009 Nomor 31/ Nomor: 537/2009 dan nama yang berhak dan pemegang hak lain-lainnya atas nama Tuan “KJM” 30 Januari 1957. Telah ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan Kota Sibolga “RM” Juga sudah terdapat Surat ukur sementara dengan Nomor: 14-2/1987, Surat Pernyataan Ahli Waris, Kuasa Menjual Nomor: 26,- yang dibuat oleh Notaris “PE”,

(28)

Notaris Kota Tangerang. Dimana Nyonya “MC” memberi kuasa kepada Nyonya “TC” untuk menjual sebidang tanah atas nama “BT”. Dimana “BT”

merupakan pemilik tanah dan sekaligus orangtua dari “TC”. Juga sudah terdapat surat kuasa yang sudah ditandangani dengan materai atas nama tersebut diatas tadi. Terakhir dalam aktaini juga sudah terdapat surat pernyataan yang di tandatangani oleh “TP” yang menyatakan bahwa ia merupakan ahli waris yang sah atas tanah yang diperjual belikan tersebut.

Hanya saja kekurangan dari aktajual beli ini adalah tidak mencantumkan harga jual pada aktajual beli. Dimana harga jual adalah bagian terpenting dalam transaksi jual beli tanah ini.

Memperhatikan pelanggaran dalam mekanisme pembuatan aktaautentik oleh Pejabat Pembuat AktaTanah tersebut, tentang tidak terpenuhinya unsur lahiriah, formal, materil dan pelanggaran atas Pasal 1320 ayat 3 KUH Perdata tentunya sudah sangat jelas bahwa pelaksanaan atas hak dan kewajiban dalam aktatersebut tidak boleh dilaksanakan, karena bertentangan dengan hukum.18

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam tulisan ini mengkaji permasalahan yang berkaitan dengan AktaPejabat Pembuat AktaTanah khususnya mengenai “Keabsahan AktaJual Beli Tanah Pejabat Pembuat AktaTanah Yang Tidak Mencantumkan Harga Jual”.

18M. Luthfan Hadi Darus, Hukum Notariat dan Tanggungjawab Jabatan Notaris, UII Press Yogyakarta (Anggota IKAPI), Yogyakarta, 2017, Halaman. 99

(29)

B.Rumusan Masalah

Beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam tesis ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana Pengaturan tentang pembuatan harga jual beli dalam aktajual beli yang dibuat dihadapan PPAT ?

2. Bagaimana akibat hukum terhadap AktaJual Beli yang dibuat dihadapan PPAT yang tidak mencantumkan harga jual?

3. Bagaimana perlindungan hukum bagi para pihak dalam AktaJual Beli yang tidak mencantumkan harga jual beli ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan tentang harga jual beli pada AktaJual Beli.

2. Untuk dan menganalisis Akibat Hukum terhadap AktaJual Beli yang Dibuat di hadapan PPAT yang tidak mencantumkan harga jual.

3. Untuk mengetahui perlindungan hukum bagi para pihak dalam AktaJual Beli yang dibuat Dihadapan PPAT yang tidak mencantumkan Harga Jual Beli.

D. Manfaat Penelitian

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan baik secara teoritis maupun praktis.

1. Secara Teoritis

(30)

a. Hasil penelitian ini memberikan sumbang saran dalam khasanah ilmu pengetahuan hukum, khususnya mengenai keabsahaan aktajual beli yang dilakukan oleh Pejabat Pembuat AktaTanah yang tidak mencantumkan harga jual.

b. Memberi masukan-masukan kepada masyarakat yang ingin mengetahui aktajual beli yang tidak sah menurut peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

2. Secara Praktis

a. Bermanfaat kepada masyarakat khususnya terhadap para pihak yang ingin melakukan perbuatan aktajual beli tanah di hadapan Pejabat Pembuat AktaTanah yang tidak mencantumkan harga jual pada aktajual beli yang dibuat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah tersebut.

b. Mengungkapkan berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapai dalam pelaksanaan serta alternatif solusi permasalahan tersebut.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi dan penelusuran studi kepustakaan, khususnya perpustakaan USU, maupun perpustakaan Cabang USU di Fakultas Hukum USU, bahwa penelitian ini yang berjudul “Keabsahan AktaJual Beli Tanah Pejabat Pembuat AktaTanah yang Tidak Mencantumkan Harga Jual”, belum pernah dilakukan. Sehingga dengan demikian penelitian ini adalah asli adanya dan secara akademis dapat dipertanggungjawabkan.

(31)

1. Judul Tesis, “Akibat Hukum Dari Pembuatan AktaJual Beli Tanah Yang Tidak Sesuai Dengan Tata Cara Pembuatan AktaPPAT”, dengan perumusan masalah:

a. Apa bentuk-bentuk dari pembuatan aktajual beli tanah yang tidak sesuai dengan tata cara pembuatan aktaPPAT?

b. Apa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pembuatan aktajual beli tanah yang tidak sesuai dengan tata cara pembuatan aktaPPAT?

c. Apa akibat hukum dari aktajual beli tanah yang tidak sesuai dengan tata cara pembuatan aktaPPAT tersebut?

2. Judul Tesis, “Pertanggungjawaban Notaris/PPAT terhadap AktaJual Beli Tanah yang Mengandung Cacat Materil AktaDitinjau dari Hukum Pidana (Studi Putusan MA No.126/PID/B/2009/PN.DUM)”, Dengan perumusan masalah:

a. Bagaimana akibat hukum atas suatu AktaJual Beli Tanah dapat dikatakan sebagai aktayang mengandung cacat materil akta?

b. Bagaimana tanggungjawab Notaris/PPAT terhadap AktaJual Beli tanah yang mengandung cacat materil aktaditinjau dari hukum pidana?

c. Bagaimana analisis pertimbangan hukim terhadap Putusan MA No.

126/PID/B/2009/P.NDUM?

3. Judul Tesis, “Tanggungjawab Pejabat Pembuat AktaTanah Yang Melakukan Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perbuatan AktaPPAT (Studi kasus Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.

94/Pdt.G/2005/PN.Jkt.Pst)”, dengan perumusan masalah:

(32)

a. Bagaimana peranan Pejabat Pembuat AktaTanah dalam peralihan hak atas tanah dengan adanya kuasa mutlak?

b. Bagaimana tanggungjawab PPAT yang melakukan perbuatan melawan hukum dalam pembuatan aktappat?

c. Apa akibat hukum terhadap aktayang dibuat dihadapan Pejabat Pembuat AktaTanah secara melawan hukum?

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan dan pegangan teoritis. Kerangka teori merupakan susunan dari beberapa anggapan, pendapat cara, aturan, asas, dan keterangan sebagai satu kesatuan yang logis menjadi landasan, acuan dan pedoman untuk mencapai tujuan.19

Pentingnya kerangka konsepsional dan landasan atau kerangka teoritis dalam penelitian hukum, dikemukakan juga oleh Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, dimana menurut mereka kedua kerangka tersebut merupakan unsur yang sangat penting.20

Teori menunjukan hubungan antara fakta-fakta. Teori menyusun fakta- faktadalam bentuk yang sistematis sehingga dapat dipahami.21 Teori

19Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2004, Halaman 72-73

20Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauann Singkat, Jakarta, Halaman 7

21S Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Jakarta, Bumi Aksara, 2002, Halaman 3

(33)

memegang peranan penting dalam penelitian, yakni mengarahkan penelitian, merangkum pengetahuan dalam sistem tertentu dan meramalkan fakta.22

Menurut J. Gijssel dan V, Hoecke teori hukum adalah sebuah upaya untuk kegiatan mempelajari hukum mengintegrasikan lagi ke dalam konteks total dari keterberian-keterbian faktual dan keyakinan idiil yang hidup yang terkait padanya, singkatnya mengintegritaskannya ke dalam masyarakat (pergaulan hidup).23

Teori dipergunakan sebagai landasan atau alasan mengenai suatu variabel bebas tertentu dimasukkan dalam penelitian, karena berdasarkan teori tersebut variabel yang bersangkutan memang bisa mempengaruhi variabel tak bebas atau merupakan salah satu penyebab.24

Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis. Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir butir pendapat, teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.25

Menurut Satjipto raharjo, kerangka teori dalam penelitian hukum sangat diperlukan untuk membuat jelas nilai-nilai oleh postulat-postulat hukum sampai pada landasan filosofinya yang tertinggi. Teori hukum sendiri boleh disebut sebagai kelanjutan dan mempelajari hukum positif, setidaknya dalam urutan yang demikian itulah kita dapat merekonstruksi kehadiran teori hukum secara jelas.26

22Ibid,. Halaman 9

23I Made Pasek Diantha, Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum, Denpasar, Prenada Media Group, 2016. Halaman 11

24M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung, Mandar Maju, 1994, Halaman 27

25Ibid., Halaman 80

26Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1999, Halaman 253

(34)

Penggunaan teori dalam penelitian hukum sudah pasti menggunakan teori hukum. Teori hukum adalah cabang ilmu yang menganalisis secara kritis dalam perspektif interdispliner, dari berbagai aspek perwujudan (fenomena) hukum secara tersendiri atau menyeluruh, baik dalam konsepsi teoritis maupun dalam pelaksanaan praktis dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang lebih baik dan uraian yang lebih jelas tentang bahan-bahan yuridis ini.27 Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori:

1. Teori Positivisme Hukum 2. Teori Kepastian Hukum 3. Teori Perlindungan Hukum

Positivisme hukum adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan positivisme (ilmu)28. Dalam definisinya yang paling tradisional tentang hakikat hukum dimaknai sebagai norma-norma positif dalam sistem perundang-undangan, tidak ada hukum diluar Undang-Undang.

Satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang yang pandang dalam hukum positivisme ini dipertahankan oleh Hans Kelsen, John Austin dan lain-lain.29 Oleh John Austin dikatakan bahwa hukum dilihat sebagai peraturan-peraturan yang dipaksakan dari penguasa yang berwenang dimana teori yang dilontarkan oleh John Austin ini lebih cocok dengan lebih terpusat pada pemerintah zaman modern. Aktivitasnya justru diturunkan kepada permasalahan konkret dan dapat dilihat dalam Undang-Undang karena hanya

27Sudikno Mertukusumo, Teori Hukum Edisi Revisi, Yogyakarta, Cahaya Atma Pustaka, 2012 Halaman 87

28Fisal, Menerobos Positivisme Hukum, Rangkang Education, Yogyakarta, 2010 Halaman 15

29Lily Rasjidi dan dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, P.T Citra Aditya Bakti Bandung, 2004, Halaman 56

(35)

dengan itulah ketentuan hukum dapat diverifikasi dan masalah validasi (legitimasi) aturan tetap diberi perhatian, tetapi standar regulasi yang dijadikan acuannya adalah norma-norma hukum.30 Maka sangat dapat dihubungkan dengan pengaturan peraturan yang berlaku mengenai keabsahaan suatu aktajual beli yang dibuat oleh Pejabat Pembuat AktaTanah yang tidak mencantumkan harga jual beli.

Aliran positivisme hukum hanya dikaji dari aspek lahiriahnya, apa yang muncul bagi realitas kehidupan sosial, tanpa memandang nilai-nilai dan norma-norma seperti keadilan, kebenaran, kebijaksanaan, dan lain-lain yang melandasi aturan-aturan hukum tersebut, maka nilai-niali ini tidak dapat ditangkap oleh panca indra. Sebenarnya positivisme hukum juga mengakui hukum di luar undang-undang, akan tetapi dengan syarat: “hukum tersebut ditunjuk atau dikukuhkan oleh undang-undang”. Disamping itu, pada dasarnya kaum positivisme hukum tidak memishkan antara hukum yang ada atau berlaku (positif) dengan hukum yang seharusnya ada, yang berisi norma-norma ideal, akan tetapi dalam positivisme menganggap, bahwa kedua hal tersebut harus dipisahkan dalam bidang-bidang yang berbeda.31

Prinsip-prinsip yang dijadikan pegangan kaum positivisme hukum, maka terlihat dengan jelas, bahwa aliran positivisme mempunyai pengaruh terhadap filsafat hukum, yang berwujud dengan nama positivisme hukum.

Sebelum positivisme hukum terlebih dahulu ada aliran pemikiran dalam ilmu

30 Ketut Oka Setiawan, Modal Teori Hukum, Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Yogyakarta, Jakarta, 2007. Halaman 21

31Johni Najwan, Implikasi Aliran Positivisme Terhadap Pemikiran Hukum, Implikasi Aliran Positivisme Terhadap Pemikiran Hukum - Journal UNJA https://online-journal. unja. ac. id/ index.

php/jimih/article/.../176, Palembang, halaman 8

(36)

hukum yaitu legisme. Pemikiran hukum ini berkembang semenjak abad pertengahan dan telah banyak berpengaruh di berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia. Aliran ini mengidentikkan hukum dengan undang-undang, tidak ada hukum hukum di luar undang-undang. Aliran legisme, menganggap undang-undang sebagai barang keramat, dan mendorong para penguasa untuk memperbanyak undang-undang samapi seluruh kehidupan diatur secara yuridis. Mereka berpikir, bila terdapat peraturan-praturan yang baik, hidup bersama akan berlangsung dengan baik.32

Aliran positivisme merupakan suatu aturan yang mengedepankan undang-undang tertulis, mendapat dukungan kuat di wilayah hukum kontinental, yang memiliki kecendrungan akan adanya kodifikasi hukum.

Semangat kodifikasi ini sebenarnya diilhami pula oleh hukum Romawi. Pada zaman romawi, kekuasaan yang menonjol dari raja adalah membuat peraturan melalui dekrit, yang dari berbagai dekrit ini dijadikan rujukan memutus berbagai perkara.Dimana dengan teori positivism ini dapat ditemukan jawaban dari permasalahan berdasarkan peraturan-peraturan yang mengatur tentang keabsahaan suatu AktaJual Beli PPAT yang tidak mencantumkna harga jual.

Untuk selanjutnya Teori Kepastian Hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat

32Budiman Kusumohamidjojo, Ketertiban Yang Adil,: Problematika Filsafat Hukum, Jakarta Grasindo, 1999, halaman 47

(37)

mengetahui apa saja yang boleh dilakukan oleh negara terhadap individu.

Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputusakan.33

Kepastian hukum menurut Jan Michiel Otto mendefinisikan sebagai kemungkinan bahwa dalam situasi tertentu:

1. Tersedia aturan-aturan yang jelas (jernih), konsisten dan mudah diperoleh diterbitkan oleh dan diakui karena (kekuasaan) negara.

2. Instansi-instansi penguasa (pemerintah) menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya.

3. Warga secara prinsipil menyesuaikan prilaku mereka terhadap aturan- aturan tersebut.

4. Hakim-hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpikir menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum.

5. Keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.34

Teori kepastian hukum menegaskan bahwa tugas hukum itu menjamin kepastian hukum dalam hubungan-hubungan pergaulan kemasyarakatan.

Terjadi kepastian yang dicapai “oleh karena hukum”. Dalam tugas itu tersimpul dua tugas lain yakni hukum harus menjamin keadilan maupun

33Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Kencana Pranada Media Group, 2008, halaman 158

34Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Sinar Grafindo, 2011, halaman 70

(38)

hukum harus tetap berguna. Akibatnya kadang-kadang yang adil terpaksa dikorbankan untuk yang berguna.

Van Apeldorn mengemukakan dua pengertian tentang kepastian hukum, seperti berikut:

1. Kepastian hukum berarti dapat ditentukan hukum apa yang berlaku untuk masalah-masalh kongkrit. Dengan dapat ditentukan masalah-masalah kongkrit. Dengan dapat ditentukan masalah-masalah kongkrit, pihak-pihak yang berperkara sudah dapat mengetahui sejak awal ketentuan-ketentuan apakah yang akan dipergunakan dalam sengketa tersebut.

2. Kepastian hukum berarti perlindungan hukum, dalam hal ini pihak yang bersengketa dapat dihindari dari kesewenang-wenangan penghakiman.35 Dengan memakai teori Kepastian hukum dapat diketahui dan ditemukannya jawaban dari permasalahan tentang keabsahaan suatu AktaJual Beli PPAT yang tidak mencantumkan harga jual beli.

Sedangkan terkait dengan teori perlindungan hukum, ada beberapa ahli yang menjelaskan bahasan ini antara lain yaitu Fitgerald, Satjipto Raharjo, Philipus M Hanjon dan Lily Rasyidi.

Fitzgerald mengutip istilah teori perlindungan hukum dari Salmond bahwa hukum bertujuan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat karena dalam suatu lalulintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan tertentu dapat dilakukan dengan cara membatasi berbagai kepentingan dilain pihak kepentingan hukum adalah mengurusi hak dan kepentingan manusia, sehingga hukum memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan kepentinga manusia yang perlu diatur dan dilindungi. Perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat yang pada dasarnya merupakan kesepakatan

35Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2005, Halaman 59-60

(39)

masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan perilaku antara anggota- anggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.36

Menurut Satjipto Rahardjo, Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak- hak yang diberikan oleh hukum.37

Selanjutnya menurut Philipus M. Hadjon bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan reprentif.

Perlindungan Hukum yang preventif bertujuan untuk bersikap berhati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan diskresi dan perlindungan yang resprentif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa termasuk penanganannya di lembaga peradilan.38

Sedangkan menurut Lily Rasjidi dan I.B Wysa Putra bahwa hukum dapat di fungsikan untuk mewujudkan perlindungan yang sifatnya tidak sekedar adaptif dan fleksibel, melainkan juga predektif dan antipatif.39

Dari uraian para ahli diatas memberikan pemahaman bahwa perlindungan hukum merupakan gambaran dari bekerjanya fungsi hukum untuk mewujudkan tujuan-tujuan hukum, yakni keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subyek hukum sesuai dengan aturan hukum, baik itu yang yabg bersifat preventif maupun dalam bentuk yang bersifat represif, baik yang secara tertulis maupun tidak tertulis dalam rangka menegakkan peraturan hukum.

2. Kerangka Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Karena konsep adalah sebagai penghubung yang menerangkan sesuatu yang sebelumnya hanya baru ada dalam pikiran. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi, antara abstraksi dan realits. Dengan

36 Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, Halaman 53,

37 Ibid, Halaman 69

38 Ibid, Halaman 54

39 Lily Rasjidi dan I.B Wysa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Rusda Karya, Bandung, 1993, Halaman 118

(40)

demikian konsepsi dapat diartikan pula sebagai sarana untuk mengetahui gambaran umum pokok penelitian yang akan dibahas sebelum memulai penelitian masalah yang akan diteliti. Konsep diartikan pula sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal khusus yang disebut defenisi operasional.40

Dalam penelitian ini, ada beberapa konsep dasar dalam rangka menyamakan persepsi untuk dapat menjawab permasalahan penelitian, antara lain:

1. Keabsahan, berasal dari kata absah. Keabsahanan memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga keabsahan dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda, dan segala yang dibedakan yang berarti juga memiliki sifat yang sah.

2. AktaJual Beli merupakan dokumen yang membuktikan adanya peralihan hak atas tanah dari pemilik sebagai penjual kepada pembeli sebagai pemilik baru.

3. Pejabat Pembuat AktaTanah berdasarkan PP No. 37 Tahun 1998 Pasal 1 butir 1) menyebutkan pengertian Pejabat Pembuat AktaTanah adalah pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta-aktaautentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah Susun.

4. Harga Jual adalah sejumlah kompensasi (uang atau barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang atau jasa.

40 Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2008, Halaman 28

(41)

Dalam hal ini harga jual dari hasil kesepakatan jual beli tanah yang seharusnya dicantumkan dalam AktaJual Beli.

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, dimana penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan dipandang dari sisi normatifnya.

Penelitian hukum normatif berfungsi untuk memberi argumentasi yuridis ketika terjadi kekosongan, kekaburan dan konflik norma. Yang berarti penelitian hukum normatif berperan untuk mempertahankan aspek kritis dari keilmuan hukumnya sebagai ilmu normatif yang sui generis.41

Ilmu normatif disebut juga sebagai ilmu a priori. Disebut demikian karena ini merupakan ide dasar dan tolok ajaran yang mengharuskan (yang dalam bahasa Jerman disebut das Sollen), hadir mendahului (prior to) faktaperbuatan atau peristiwa (das’Sein) yang hendak ditolok dalam buruk baiknya atau benar salahnya. Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis, maksudnya adalah dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dilakukan berdasarkan gambaran, faktayang diperoleh dan akan dilakukan

41I Made Pasek Diantha Op.,Cit Halaman 12

(42)

secara cermat, bagaimana menjawab permasalahan dalam menyimpulkan suatu solusi sebagai jawaban dari permasalahan tersebut.42

2. Sumber Data

Data penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan bahan-bahan hukum primer, sekunder maupun tersier yang dikumpulkan malalui studi dokumen dan kepustakaan yang terdiri dari:

a. Bahan hukum primer, adalah pernyataan memiliki otoritas hukum yang ditetapkan oleh suatu cabang kekuasaan pemerintah yang meliputi; undang- undang yang dibuat parlemen, dan peraturan eksekutif/ administratif.43Dalam hal ini penelitian ini mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Agraria, Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 dan Peraturan Pelaksanaan, Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Peraturan Pemerintah RI No. 37 Tahun 1998 Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 4 Tahun 1999 Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah, dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 640-1198 Tanggal 1 April 1999

42Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Normatif, UI Press, Jakarta, 2006, Halaman 30

43I Made Pasek Diantha Op.,Cit Halaman

(43)

Tentang Penyampaian Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN No.

4 Tahun 1999.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu semua bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan-bahan Hukum Primer. Meliputi jurnal, buku- buku referensi, hasil karya ilmiah para Magister Kenotariatan dan Magister Hukum, hasil-hasil penelitian ilmiah yang mengulas masalah hukum yang diteliti dengan mengikutsertakan ilmu-ilmu sosial lainnya.

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu semua bahan hukum yang memberikan petunjuk/ penjelasan terhadap Bahan Hukum Primer dan Bahan Hukum Sekunder, meliputi bahan dari media internet, kamus, ensiklopedia, dan sebagainya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Alat pengumpul data yang digunakan adalah studi dokumen untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisa data primer yakni mengenai ketentuan yang mengatur tentang peraturan Pejabat Pembuat AktaTanah yang termuat dalam Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Agraria, Undang- Undang No. 5 Tahun 1960 dan Peraturan Pelaksanaan, Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan

(44)

Peraturan Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Peraturan Pemerintah RI No. 37 Tahun 1998 Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 4 Tahun 1999 Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah, dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 640-1198 Tanggal 1 April 1999 Tentang Penyampaian Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN No. 4 Tahun 1999.

4. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.44 Didalam penelitian hukum normatif, maka maksud pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis, sistematisasi yang berarti membuat klasifikasi terhadap bahan hukum tertulis tersebut untuk mempermudah pekerjaan analisis dan konstruksi. Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang dikumpulkan. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan dianalisis dan disistematisasikan secara kualitatif.45

44 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Banyu Media, Malang, 2005, halaman 8

45 Ibid,.

(45)

29 BAB II

PENGATURAN TENTANG PEMBUATAN HARGA JUAL BELI TANAH DALAM AKTAJUAL BELI YANG DIBUAT

DIHADAPAN PPAT

A. Pengaturan Peralihan Hak Atas Tanah Dengan Jual Beli Yang Dibuat Dihadapan PPAT

1. Pelaksanaan Jual Beli Tanah Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Pejabat Pembuat AktaTanah Republik Indonesia

Berdasarkan pasal 2 PP No. 37 Tahun 1998, menyebutkan bahwa tugas pokok PPAT adalah melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat aktasebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun, yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh pebuatan hukum itu.46

Perbuatan hukum tersebut adalah jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan ke dalam perusahaan, pembagian hak bersama, pemberian hak Guna Bangunan/Hak Pakai atas tanah hak milik, pemberian hak tanggungan dan pemberian kuasa memberikan hak tanggungan.

Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, maka PPAT mempunyai kewenangan untuk membuat aktaautentik mengenai semua perbuatan hukum mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang terletak didalam daerah kerjanya.

46Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Pejabat Pembuat AKTATanah Presiden Republik Indonesia

(46)

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 dan Pasal 1 angka 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 1 Tahun 2006, ditetapkan bahwa aktayang dibaut oleh PPAT adalah aktaautentik. Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 1 Tahun 2006 tidak memberikan pengertian apa yang dimaksud dengan aktaautentik.47

Aktaautentik menurut Pasal 1868 Burgelijk Wetboek (BW), adalah aktadi dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh dan di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu, di tempat dimana aktaitu dibuat.48 Suatu aktadinyatakan autenti apabila memenuhi unsur-unsur yang ditetapkan oleh Pasal 1868 BW, yaitu:

1. Bentuk aktaditentukan oleh undang-undang;

2. Aktadibuat oleh dan dihadapan pegawai-pegawai umum (pejabat umum) yang berkuasa (berwenang);

3. Aktadibuat di tempat dimana aktadibuatnya atau aktadibuat dalam daerah kerja tertentu.

Kewenangan PPAT yang diatur dalam berbagai peraturan perundanga- undangan memberikan kewenangan kepada PPAT untuk membuat (to make) aktajual beli perumahan. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 3 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah yang menyatakan bahwa

“seseorang PPAT mempunyai kewenangan untuk membuat aktaautentik

47Urip Santoso, Op.,Cit Halaman 140

48R Subekti dan R Tjitorosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata Burgelijk Wetbook, Pradnja Paramita, Jakarta, 1985, Halaman 419

(47)

mengenai perbuatan hukum mengenai hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun yang terletak di daerah kerjanya”.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 38 ayat (2) menyebutkan bahwa: “bentuk, isi, dan cara pembuatan akta-aktaPPAT diatur oleh Menteri”. Ketentuan ini merupakan perubahan dari Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah, bahkan kemudian dipertegas dalam Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 1 Tahun 2006 tentang ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat AktaTanah pada Pasal 53 ayat (1) yang mengatakan bahwa;

“AktaPPAT dibuat dengan mengisi blanko aktayang tersedia secara lengkap sesuai dengan petunjuk pengisisannya”. PPAT dilahirkan bukanlah untuk mengisi blanko aktakosong melainkan membuat AktaJual beli autentik sesuai dengan blanko yang telah tersedia dalam Perkaban No. 8 Tahun 2012.49

2. Pelaksanaan Jual Beli Tanah BerdasarkanPeraturan Kepala Badan Pertanahan Nasioanal Republik Indonesia No. 8 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Agraria/

Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftran Tanah (Perkaban No. 8 Tahun 2012).

Pada Pasal 96 ayat (1) Perkaban No. 8 Tahun 2012 dikatakan bahwa bentuk aktasebagaiamana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (1) dan ayat (2) dan tata cara pengisian dibuat sesuai dengan lampiran Peraturan ini yang terdiri dari50 :

1. AktaJual Beli 2. AktaTukar Menukar 3. AktaHibah

4. AktaPemasukan ke Dalam Perusahaan

49Evi Novita Tri Setyorini, Op.,Cit

(48)

5. AktaPembagian Hak Bersama 6. AktaPemberian Hak Tanggungan

7. AktaPemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai di ats Tanah Hak Milik 8. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan

Dimana dalam peraturan diatas cara pengisian akta-aktadiatas harus menggunakan blanko yang telah disiapkan oleh pemerintah, sehingga para PPAT harus mengisi blanko tersebut sesuai dengan aturan yang ada.

Secara historis penggunaan blanko AktaPPAT pada tahun 1961 melalui Peraturan Menteri Agraria No. 11 Tahun 1961 tentang bentuk aktayang mulai berlaku pada tanggal 7 September 1961 dan mengenai pembuatan akta, Pejabat Pembuat AktaTanah wajib menggunakan:

1. Formulir-formulir yang tercetak, atau

2. Formulir-formulir yang tersensil atau diketik dengan menggunakan kertas HVS 70/80 gram dengan ukuran A3 dengan persetujuan Kepala Jawatan Pendaftaran Tanah;

3. Formulir-formulir yang tercetak hanya dapat dibeli di Kantor pos.

Dalam perkembangannya, dengan berlakunya Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.3 Tahun 1997 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran Tanah, telah ditegaskan kembali bahwa PPAT harus dibuat dengan blanko AktaPPAT yang telah disediakan atau dicetak pada Perkaban No. 8 Tahun 2012. Artinya, tanpa blanko Aktatersebut PPAT tidak boleh menjalankan jabatannya dalam membuat Akta-aktaPPAT. Aturan ini menimbulkan ketergantungan pelaksanaan tugas jabatan PPAT dengan keberadaan Blanko AktaPPAT. Bentuk hukum pengaturan blanko AktaPPAT dituangkan dan

Figur

Memperbarui...

Related subjects :