Judul : Beikoku kouri kumiai pada masa pendudukan Jepang di Surakarta Kochi tahun 1942-1945
Nama : Iwan Haryanto
BAB II
PENDUDUKAN JEPANG DI SURAKARTA KOCHI
Penyerbuan balatentara Jepang ke Indonesia merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari usaha Jepang untuk mendirikan imperium Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang. Gelombang
serangan pasukan Jepang dimulai pada tanggal 10 Januari 1942 dengan menguasai Tarakan Kalimantan Timur, kemudian disusul penguasaan atas Balikpapan, Pontianak, Martapura dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan.
Tepat pada tanggal 1 Maret 1942 Tentara Militer Jepang berhasil mendarat di tiga tempat berbeda di Pulau Jawa yaitu di Karesidenan Banten sekitar Merak dan Teluk Banten, Karesidenan Cirebon sekitar Eretan Wetan dekat Indramayu Jawa Barat serta di Karesidenan Rembang sekitar Lasem Jawa Tengah.1
Kemenangan Jepang atas Belanda di Indonesia ditandai dengan penyerahan tanpa syarat oleh Jendral H. Ter Poorten sebagai Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda kepada Letnan Jendral Hitoshi Imamura pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati Subang.2 KNIL dibubarkan dan semua perlawanan dihentikan tanpa ada
1 Moedjanto, Indonesia Abad Ke-20 (I): Dari Kebangkitan Nasional Sampai Linggarjati. (Kanisius: Yogyakarta,1988). hlm, 69-72.
2Ibid., hlm, 72.
suatu pertempuran yang sengit. Maka berakhirlah pemerintahan Belanda di Indonesia dan sejak itu dengan resmi Indonesia berada di bawah kekuasaan Kemaharajaan Jepang.
Indonesia memasuki periode baru, yaitu periode di bawah kekuasaan Militer Jepang. Untuk mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia yang menyambut gembira dengan kemenangan Jepang atas Belanda, maka Jepang mengizinkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan serta memperbolehkan pengibaran bendera Merah Putih berdampingan dengan bendera Jepang Hinomaru. Propaganda politik Jepang melalui Gerakan 3A (Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia) dan Organisasi Poetera (Pusat Tenaga Rakyat) juga disosialisasikan untuk memobilisasi rakyat agar mau bekerjasama dengan Jepang.3
Ternyata oleh Jepang 3A maupun Poetera dianggap tidak efektif meskipun telah merekrut para pemimpin nasionalis seperti Soekarno serta Syamsyudin dari eks Parindra. Hal tersebut disebabkan karena kedua organisasi ini hanya berkembang di pusat (Jakarta) serta tidak adanya kerjasama dengan Pangreh Praja yang ada di daerah, termasuk di Surakarta.4 Untuk mengantisipasi hal tersebut Jepang kembali membentuk organisasi baru yang disebut Djawa Hokokai (Persatuan Kebaktian Jawa). Satu hal yang berbeda dari Jawa Hokokai adalah adanya keterlibatan Pangreh Praja di dalamnya.5
3 Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (edisi terjemahan Dharmono Hardjowidjono).
(Gadjah Mada University Press: Yogyakarta, 1998). hlm, 302-315.
4Majalah Jaya Baya, No. 34 tanggal 19 April 1987.
5Aiko Kurasawa, op.cit., hlm, 395.
Pada masa Jepang rakyat Indonesia sangat dipengaruhi oleh semangat perang yang berkobar pada saat itu. Propaganda Jepang tentang pentingnya semangat Hakko- Ichiu, yaitu memenangkan Perang Asia Timur Raya dan kemenangan selalu berada
dipihak Dai Nippon. Ajaran ini berisi tentang kesatuan keluarga umat manusia.
Jepang sebagai negara yang maju mempunyai kewajiban untuk mempersatukan bangsa-bangsa di dunia dan memajukannya. Ajaran tersebut secara psikologis merupakan dorongan moral bagi Jepang sekaligus sebagai legitimasi politik Jepang untuk menginvasi wilayah-wilayah lain termasuk Indonesia.6
Untuk menstabilkan ekonomi rakyat Indonesia, Jepang berusaha dengan keras mencegah kehancuran industri minyak Indonesia. Setelah di medan Perang Pasifik posisinya mulai terancam oleh kekuatan Sekutu dari posisi menyerang menjadi bertahan, maka Jepang memerlukan tenaga rakyat untuk memenangkan perang tersebut. Jepang juga mulai mengalihkan perhatian dari sumber daya ekonomi ke soal pertahanan.
A. Perubahan Birokrasi Pemerintahan
Hadirnya balatentara Jepang mengubah tatanan pemerintahan di Indonesia, ketika pada zaman Hindia Belanda dimana hanya terdapat satu Pemerintahan Sipil, maka sejak Jepang berkuasa, terdapat tiga Pemerintahan Militer Pendudukan Jepang.
Pemerintahan tersebut yaitu Pemerintahan Militer Angkatan Darat ke-25 untuk wilayah Sumatra dengan pusatnya di Bukittinggi, Pemerintahan Militer Angkatan Darat ke-16 untuk wilayah Jawa-Madura dengan pusatnya di Jakarta, serta
6Majalah Jaya Baya, No. 34 tanggal 19 April 1987.
Pemerintahann Militer Angkatan Laut untuk daerah yang meliputi Sulawesi, Kalimantan dan Maluku dengan pusatnya di Makasar.7
Setelah berhasil menguasai Indonesia, oleh Jepang dibentuklah pemerintahan yang bersifat sementara di Pulau Jawa. Untuk melegitimasi pemerintahan sementara tersebut Jepang pada tanggal 7 Maret 1942 mengeluarkan Osamu Serei No. 1. Osamu Serei merupakan Undang-undang yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara ke-16
Letnan Jendral Hitoshi Imamura, dimana pejabat yang bertugas sebagai koordinator Pemerintahan Militer didaerah disebut Gunseibu. Di Pulau Jawa Gunseibu dibentuk di tiga tempat berbeda yaitu di Jawa Barat dengan pusatnya di Bandung, di Jawa Tengah dengan pusatnya di Semarang, di Jawa Timur dengan pusatnya di Surabaya.
Tujuan dibentuknya Gunseibu adalah untuk memulihkan keamanan dan ketertiban serta untuk mengisi kekuasaan yang kosong didaerah setelah ditinggalkan Belanda.8
Bulan Agustus 1942 Pemerintah Jepang kembali mengeluarkan Undang- undang No. 27 tentang aturan pemerintahan daerah serta Undang-undang No. 28 tentang aturan pemerintahan Syu dan Tokubetsu Syi, yang menandai berakhirnya pemerintahan sementara Jepang di Pulau Jawa. Di dalam Undang-undang No. 27, seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Kochi Surakarta dan Yogyakarta, dibagi atas Syu (karesidenan), Syi (kotapraja), Ken (kabupaten), Gun (kawedanan/distrik), Son
(kecamatan) dan Ku (desa).9 Sedangkan untuk wilayah Kochi Surakarta dan Yogyakarta diatur dengan Maklumat No. 53 tanggal 4 Maret 1942 yang dikeluarkan oleh Tyookan Jogja.
7Moedjanto, Ibid., hlm. 72-73.
8Mawarti D.P dan Nugroho Notosusanto, op.cit., hlm, 5-7.
9Moedjanto, op.cit., 74-75.
Pada masa Jepang Syi dan Ken mempunyai status yang sama, dimana untuk pimpinan masing-masing unit administrasi tersebut adalah Syuchokan (pada zaman Belanda disebut Resident), Syico (Walikota), Kencho (Bupati), Guncho (dulu Wedana), Soncho (dulu Asisten Wedana) dan Kuncho (Kepala Desa).10 Sedangkan untuk pemerintahan lokal, struktur dan peraturan tidak terdapat perubahan, kecuali penghapusan pada wilayah administratif propinsi, serta penghidupan kembali tujuh belas karesidenan yang telah ada sebelumnya.
Dalam masa itu pula pemerintahan tertinggi di daerah adalah Syu di bawah pimpinan seorang Syuchokan yang bersifat otonom. Pada masa pendudukan Belanda kekuasaan Syuchokan boleh dikatakan setara dengan Gubenur, akan tetapi daerah kekuasaannya sama dengan Residentie. Di Jawa jumlah Syu ada tujuh belas, yaitu Banten, Batavia, Bogor, Priangan, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Banyumas, Pati, Kedu, Surabaya, Bojonegoro, Madiun, Kediri, Malang, Besuki dan Madura.11
Perubahan struktur pemerintahan tersebut oleh Jepang dimaksudkan untuk memaksimalkan eksploitasi dan mobilisasi sumber daya hingga pada tingkat pedesaan. Undang-undang pemerintah daerah tersebut secara jelas sebenarnya memiliki dua sisi yang berbeda. Aturan yang secara prinsip sebenarnya hanya mengatur kehidupan politik, akan tetapi juga digunakan untuk mengatur kehidupan ekonomi. Posisi Pangreh Praja sebagai pemegang kekuasaan langsung atas rakyat justru lebih condong pada kontrol pemerintah pusat dan tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat.
10Mawarti D.P dan Nugroho Notosusanto, op.cit., hlm. 7.
11 Surat kabar Kan Po,10 September 1942.
Mengenai organisasi pemerintahan di tingkat pusat secara garis besar adalah sebagai berikut: Penguasa Tertinggi adalah Gunsereikan (Panglima Tentara) kemudian pada tanggal 1 September namanya diganti menjadi Saiko Sikikan (Panglima Tertinggi). Di bawah Gunsereikan terdapat Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer) yang dirangkap oleh Kepala Staf Tentara. Gunseikan pertama adalah Mayor Jendral Seizaburo Okasaki. Terdapat pula beberapa Departemen atau Gunseikanbu di bawah Gunseikan antara lain: Soomubu (Urusan Umum), Zaimubu
(Urusan Keuangan), Sangyobu (Urusan Perekonomian), Shihobu (Urusan Kehakiman), Kotsubu (Departemen Lalulintas dan Kerajinan tangan).12
Keterbatasan jumlah personil dalam Pemerintah Militer Jepang, menyebabkan Jepang mengambil kebijakan dengan merekrut penduduk pribumi (rakyat Indonesia) untuk mengisi jabatan yang kosong dihampir semua jabatan ditingkat menengah. Hal ini menyebabkan kenaikan pangkat hampir semua penduduk pribumi yang terlibat dalam pemerintahan. Kenaikan pangkat tersebut terjadi dalam hirarki kepemimpinan di tempat mereka bekerja, baik mendapat kenaikan pangkat satu, dua atau bahkan tiga. Dari sinilah Jepang mendapatkan dukungan serta dapat meredam sikap anti Jepang dari sebagian penduduk pribumi Indonesia.
Ketika situasi militer dan ekonomi memburuk ketergantungan Jepang pada Pangreh Praja pun semakin terlihat.13 Hal ini terjadi karena hilangnya kendali atas jalur perkapalan di laut saat Perang Asia Timur Raya yang menyebabkan semakin buruknya komunikasi antara Pemerintahan Jepang di Jawa dengan di luar Jawa pada
12Moedjanto, op.cit., hlm. 75-77.
13Aiko Kurasawa, op.cit., 394-398.
akhir tahun 1943. Pemerintahan Jepang di Jawa harus berdiri sendiri dalam hal mental maupun material, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan atas masyarakat pribumi untuk memaksimalkan eksploitasi sumberdaya alam dan tenaga kerja.
Pasukan Militer Jepang mulai menduduki daerah pedalaman Pulau Jawa termasuk Surakarta pada tanggal 5 Maret 1942.14 Pada saat itu kekuatan militer Belanda di Surakarta sangat lemah, sehingga ketika Jepang menduduki Surakarta tidak mendapatkan perlawanan berarti baik dari tentara Belanda maupun dari Pasukan Legiun Mangkunegaran yang bertugas membantu Belanda menjaga keamanan daerah Mangkunegaran.
Pada masa pendudukannya di Surakarta, Pemerintah Militer Jepang tidak banyak melakukan perubahan dalam pemerintahan kerajaan yang telah ada maupun wilayah kekuasaannya. Perubahan yang dilakukan oleh Jepang hanya mengubah nama pejabat beserta wilayah administratifnya ke dalam bahasa Jepang. Surakarta Kochi merupakan sebutan bagi wilayah Surakarta pada masa pendudukan Jepang,
wilayah ini terdiri dari Kasunanan Kochi dan Mangkunegaran Kochi. Kasunanan Kochi mempunyai 4 Ken, 18 Gun, dan 66 Son, sedangkan Mangkunegaran Kochi
mempunyai 2 Ken, 9 Gun dan 41 Son.15 Nama-nama Bupati, Wedana, Asisten Wedana diganti dengan nama Kentyo, Guntyo dan Sontyo. Pemerintahan desa diganti nama Ku dengan kepala desa yang disebut Kutyo. Jepang juga membentuk pula suatu
14Julianto Ibrahim, Bandit dan Perjuangan di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta. (Bina Citra Pustaka: Wonogiri, 2004). hlm, 57-58.
15Suyatno Kartodirdjo, op.cit., hlm, 718-719.
basis pemerintahan terendah di dalam Ku yang disebut Tonarigumi atau Rukun Tetangga yang dikepalai oleh seorang Gumityo atau Kepala Rukun Tetangga (Kepala Blok).16
Laksamana Hitoshi Imamura sebagai Panglima Besar Tentara Jepang pada tanggal 31 Juli 1942 mengukuhkan Paku Buwono XI sebagai penguasa Kasunanan Kochi dengan sebutan Kasunanan Koo dan bagi Mangkunegoro VII sebagai penguasa
Mangkunegaran Kochi dengan sebutan Mangkunegaran Koo pada tanggal 14 Agustus 1942. Tujuan utama Jepang memanfaatkan kedua penguasa kerajaan tersebut adalah untuk memudahkan propaganda Jepang terhadap penduduk Surakarta Kochi guna membantu Jepang dalam perang Pasifik. Kedua penguasa kerajaan tersebut tetap berkuasa diwilayahnya. Namun, campur tangan pemerintah militer Jepang tetap ada yaitu dengan menempatkan pegawai Jepang dalam administrasi pemerintah.
Daerah Kasunanan Kochi dan Mangkunegaran Kochi merupakan daerah otonom setingkat dengan Syuu (Karesidenan). Setiap Kochi menguasai daerah Ken, Gun, Son dan Ku. Pada tanggal 4 September 1942 melalui Maklumat No. 53 atas
nama Tyookan Jogja, maka Gunseibu (Pemerintah Balatentara Dai Nippon) yang berada diwilayah Kochi diganti dengan nama Kochi Jimu Kyoku (Kantor Urusan Kerajaan). Surakarta Kochi dipimpin oleh Kochi Jimu Kyoku (Pembesar Urusan Daerah Kerajaan) yang dipegang oleh pejabat Jepang. Sementara dalam urusan militer ditunjuk Kochi Jimu Kyoku Tyokan sebagai pengawas pemerintahan militer.
Ditunjuk pula seorang Pepatih Dalem sebagai Somutyokan (Pembesar Urusan Umum) yang fungsinya membantu Koo dalam urusan umum di kerajaan.
16Aiko Kurasawa, op.cit., hlm. 195-208.
Setelah masuknya Jepang di Surakarta terjadi beberapa perubahan dalam susunan struktur pemerintahan Kasunanan Kochi dan Mangkunegaran Kochi.
Perubahan tersebut antara lain terjadi pada golongan sekretaris di Kasunanan Kochi yang diganti dengan Golongan Paprentahan. Sedangkan di Mangkunegaran Kochi perubahan terjadi dengan dibentuknya Kabupaten Kartirahardjo sebagai bagian dari pemerintahan yang mengurus masalah ekonomi meliputi, masalah pegadaian pertanian, peternakan dan pengaturan makanan rakyat. Jepang juga membentuk Tonarigumi (Rukun Tetangga) dan Kumiai (Persekutuan koperasi gaya Jepang)
ditingkat bawah. Keduanya sangat penting bagi Jepang karena merupakan lembaga yang digunakan untuk mendukung kebijakan dalam mobilisasi serta mengontrol penduduk desa di Jawa agar selalu tunduk dan menjalankan perintah Jepang.17
17Aiko Kurasawa, op.cit., hlm, 195.
Untuk memperjelas birokrasi pemerintahan Jepang di Jawa dari tingkat pusat hingga bawah, berikut ini secara garis besar struktur birokrasi pemerintahan Jepang pada akhir tahun 1942:18
Gunsereikan
(Panglima Bala Tentara Jepang Keenambelas)
Gunseikan
(Kepala Pemerintahan Militer)
Syu (Karesidenan) Kochi (D. Kerajaan) +++ Kochi Jimu KyokuTyookan (Pembesar Urusan Kerajaan)
Syi (Kotapraja) dan Ken (Kabupaten) Ken
Gun (Kawedanan) Gun
Son (Kecamatan) Son
Ku (Desa) Ku
Keterangan:
+++ : Garis Pengawasan | : Garis Komando : Garis Koordinasi
18Aiko Kurasawa, Ibid., hlm, 200.
B.
Kekuatan Militer Jepang di Surakarta Kochi
Ketika Tentara Jepang menginvasi Indonesia, pada saat itu Indonesia masih merupakan negara jajahan Belanda yang bernama Nederlands-Indie atau Hindia Belanda. Kekuatan Militer Jepang yang berada di Surakarta Kochi pada waktu itu adalah Kenpeitai dan Tentara Angkatan Darat. Sedangkan kekuatan sipil yang ada di Surakarta Kochi harus tetap tunduk pada kekuatan Militer Jepang dan bukan merupakan bagian dari kekuatan Militer Jepang.
Kekuatan Militer Jepang di Surakarta Kochi dikenal dengan nama Surakarta Nippon Rikugun Kenpeitai atau hanya sering disebut Kenpeitai Surakarta merupakan
kesatuan Kepolisian Militer dibawah Komandan Mayor Nakano. Komandan Kenpeitai Surakarta Mayor Nakano memegang kekuasaannya dari awal pendudukan
Jepang di Surakarta Kochi hingga tahun 1944. Kemudian diganti oleh Kapten Sato pada awal tahun 1945, hingga bulan Oktober 1945 saat terjadi penyerbuan markas Kenpeitai Surakarta oleh pejuang Surakarta.19
Anggota staf-staf Kenpeitai Surakarta yang dapat dikatakan menonjol atau mempunyai peranan penting dalam tugas operasional Polisi Militer, antara lain adalah Sersan (Gunso) Suzuki, Sersan (Gunso) Teramoto, Sersan (Gunso) Yamamura, Sersan (Gunso) Hori, Sersan Mayor (Shocho) Kobayashi serta seorang guru bahasa bernama Matsubara. Anggota Kenpeitai Surakarta sebelumnya merupakan pasukan Tentara Jepang yang ditugaskan untuk menjaga tawanan- tawanan di penjara Ambarawa yang terdiri dari orang-orang asli Korea. Pada saat itu
19Wawancara dengan Bapak Widijatmo Sontodipuro, Staff Arsip Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, tanggal 1 April 2006.
Korea merupakan negara jajahan Jepang. Orang-orang tersebut adalah mahasiswa Korea yang memberontak pada tahun 1944 dan dimobilisasi Tentara Jepang untuk ikut dalam perang Asia Timur Raya.
Selain Kenpeitai pasukan yang bertugas di Surakarta Kochi sampai bulan Agustus 1945, juga terdapat kekuatan Militer Angkatan Darat Jepang bernama Masse Butai. Disebut Masse Butai karena dikepalai oleh seorang Komandan yang bernama
T. Masse. Pasukan Masse Butai ditempatkan diseluruh wilayah Surakarta Kochi, antaralain di Gembongan, Bangak, Boyolali, Klaten dan Wonogiri. Markas Masse Butai adalah di Mangkubumen dan di lereng Gunung Merapi Boyolali yang dijadikan
basis-basis pertahanan militer.20 Di Surakarta Kochi juga terdapat pasukan penangkis serangan udara dan menjaga lapangan terbang bernama Dai Gusi Butai yang bermarkas di Panasan (Colomadu).
Di samping kekuatan militer di Surakarta Kochi juga terdapat kekuatan sipil lain yang disebut Surakarta Kochi Jimmu Kyoku dengan kepala pemerintah bernama T. Watanabe (Suchokan). Sebagai seorang Suchokan T. Watanabe hanya seorang penguasa sipil dan bukan seorang militer, sehingga Suchokan harus tunduk kepada kekuasaan militer Jepang. Kekuatan sipil Jepang di Surakarta Kochi di samping mengatur dan mengurus masalah kepemerintahan serta penegakan hukum (Kenpeitai) juga terdapat kekuatan sipil yang bertugas pada jawatan-jawatan vital di pemerintahan antaralain Jawatan Radio Surakarta Kochi (Surakarta Kochi Hosso Kyoku), Jawatan Pos Telegraf dan Telpon (Surakarta Kochi Yubin Densin Denwa
20Wawancara dengan Bapak Widijatmo Sontodipuro, Staff Arsip Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, tanggal 25 April 2006.
Kyoku), Jawatan Kereta Api, Jawatan Percetakan, Jawatan Angkutan Bermotor dan
Jawatan Listrik (Denki).21 Dari setiap pegawai jawatan tersebut diberikan pelatihan militer oleh Kenpeitai Surakarta Kochi untuk menjaga keamanan jawatan mereka masing-masing. Pelatihan militer biasanya dilakukan di lereng Gunung Merapi Klaten.
C. Kebijakan Ekonomi Jepang di Surakarta Kochi
Tujuan utama penyerbuan tentara Jepang ke Indonesia adalah mengeksploitasi sumber-sumber daya ekonomi di wilayah-wilayah jajahan ini. Jepang berusaha menjadikan Pulau Jawa khususnya sebagai gudang beras didaerah Selatan. Pedesaan di Jawa dengan tanah yang subur dan penduduk yang banyak, dianggap mempunyai potensi luar biasa, dan Jepang berusaha mengeksploitasi seefisien mungkin melalui kontrol secara intensif atas pulau ini. Dengan demikian Jepang sangat memperhatikan bidang ekonomi dan sistem administrasi militer di Indonesia demi kepentingan perangnya.22
Bulan-bulan pertama masa pendudukan Jepang di Jawa, situasi ekonomi mulai memburuk. Di Surakarta antara bulan Maret dan Mei 1942 timbul gejala baru, dengan munculnya penjual pakaian bekas di pinggir jalan-jalan utama. Pada bulan Juni 1942, Pemerintah Militer Jepang telah mengatur harga makanan untuk wilayah Kasunanan Kochi, yang meliputi Sragen Ken, Klaten Ken, Boyolali Ken serta wilayah dalam kota.
21Aiko Kurasawa, op.cit., hlm. 6.
22Aiko Kurasawa, Ibid., hlm. 3-5.
Pengendalian harga dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi manipulasi.
Penetapan harga tersebut termuat dalam Osamu Serei No. 38, tahun 1943 yang menyatakan bahwa semua harga barang harus dijual dengan harga yang ditentukan.
Barang-barang yang dianggap penting pendistribusian maupun penggunaannya diawasi oleh pemerintah. Para pedagang yang menyimpan stok barang yang dianggap penting harus melaporkan jumlah barang dan peredarannya, apabila barang tersebut akan dijual. Barang-barang yang dianggap penting diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu kelompok barang-barang yang langsung berhubungan dengan perang, antaralain mobil, jenis barang yang berbahan baku baja maupun besi.
Kelompok barang berikutnya adalah barang yang menyangkut kehidupan dan kebutuhan rakyat, seperti makanan pokok, pakaian maupun obat.23
Melalui Kantor Besar Pemerintahan Dai Nippon (Gunseibu) Jepang berusaha untuk mencapai tujuan ekonominya dengan mengatur dan mengendalikan perekonomian di Surakarta Kochi. Tugas kantor ini adalah menentukan harga resmi berbagai macam jenis barang antaralain bahan makanan, tekstil, pembatasan produksi batik serta menangani pembelian paksa padi dari petani. Harga bahan makanan yang telah ditentukan adalah beras, gandum, ikan asin, minyak tanah, teh, gula, rokok dan sebagainya. Peraturan ini melarang pedagang menjual barang-barang dengan harga yang lebih tinggi dari ketentuan yang telah ditetapkan, dan apabila ternyata didapati pedagang yang melanggar dikenai denda sebesar 500 Gulden serta hukuman militer.24
23Mawarti D.P dan Nugroho Notosusanto, op.cit., hlm. 45.
24Julianto Ibrahim, op.cit., hlm. 61.
Pada bulan Agustus Gun Shihobu Surakarta mengeluarkan peraturan yang isinya melarang semua bahan pokok, seperti beras tidak boleh keluar dari wilayah Surakarta Kochi. Begitu juga sebaliknya beras yang beasal dari luar wilayah Surakarta Kochi juga dilarang untuk diperdagangkan di wilayah ini. Selain itu, petani di wilayah Surakarta Kochi apabila mempunyai padi (beras) lebih dari 2000 kg, wajib mendaftarkan diri kepada pemerintah. Tujuannya adalah untuk mengendalikan distribusi bahan makanan disetiap Ken agar dapat digunakan bagi kepentingan perang Jepang.
Untuk mengawasi distribusi bahan makanan di Surakarta Kochi, Pemerintah Militer Jepang mendirikan suatu badan pembagian dan pembelian beras yang disebut Surakarta Kochi Beikoku Kouri Kumiai. Badan ini langsung berada di bawah pengawasan Tyokan Surakarta Kochi dan mempunyai cabang diseluruh wilayah Surakarta Kochi. Di wilayah Surakarta Kochi hanya Beikoku Kouri Kumiai yang berhak membeli padi (beras) dari petani di desa-desa. Semua pedagang kecil yang menjual beras kepada rakyat (konsumen) harus menjadi anggota dari Beikoku Kouri Kumiai pada tingkat Ken.25
Dalam waktu yang relatif singkat dengan cara ini Jepang dapat menguasai perekonomian di Surakarta Kochi, terutama dapat mengendalikan perdagangan beras dari petani di pelosok desa hingga ke pusat kota. Ini berarti Pemerintah Militer Jepang telah berhasil mengendalikan sektor perekonomian di pedesaan. Kekurangan bahan makanan dan pakaian merupakan akibat dari penguasaan sektor perekonomian
25SuyatnoKartodirdjo, op.cit., hlm. 723.
desa dan kota oleh Pemerintah Militer Jepang bagi kepentingan perangnya mengakibatkan kelaparan dan kerawanan pangan di wilayah Surakarta Kochi.