PEMETAAN PEMIKIRAN AKTOR MEDIA TENTANG SISTEM PENYIARAN DI INDONESIA
(DALAM GUGATAN YUDICIAL REVIEW TERHADAP UU 32/2002 PADA TAHUN 2003‐2009 DI MAHKAMAH KONSTITUSI RI)
TESIS
Oleh :
HEROE POERWADI NIM : 08/275192/PSP/03368
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
2010
TESIS
PEMETAAN PEMIKIRAN AKTOR MEDIA TENTANG SISTEM PENYIARAN DI INDONESIA
(DALAM GUGATAN YUDICIAL REVIEW TERHADAP UU 32/2002 PADA TAHUN 2003‐2009 DI MAHKAMAH KONSTITUSI RI)
Diajukan oleh :
HEROE POERWADI NIM : 08/275192/PSP/03368
Pembimbing :
Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si.
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
2010
cxÜáxÅut{tÇ
àxá|á |Ç|
átçt ÑxÜáxÅut{~tÇ ~xÑtwt ~xÄâtÜzt átçt
|áàxÜ|? tÜçÉ wtÇ à|àt
PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya sendiri, dan seluruh sumber yang menjadi kutipan dan referensi penulisan ini sudah saya nyatakan dengan benar.
Sehingga tesisi ini, Bukan plagiarism atau apapun yang tidak sesuai dengan nilai‐nilai akademis Heroe Poerwadi
KATA PENGANTAR
Topik tesis ini bermula ketika melihat begitu luasnya wilayah poin perhatian dalam setiap perdebatan maupun diskursus yang menjadi perhatian publik terhadap sesuatu hal yang berkaitan dengan kebijakan publik. Rentang dan sudut pandang perdebatan sangat beragam, sehingga terkesan tidak focus, tidak berujung dan tidak selesai dan diselesaikan. Yang membuat kegelisahan adalah kondisi seperti itu selalu dan terus berulang berkali‐kali, dan terjadi pada topic‐topik perdebatan lainnya. Sehingga yang selalu menjadi pertanyaan adalah mengapa orientasi nilai atau ideologi atau paradigma yang dijadikan perdebatan begitu luas dan tidak pernah fokus kepada perhatian publik yang menjadi nilai dasar keindonesiaan. Misalnya mengapa selalu masih ada perbenturan antara orientasi yang pro pasar, pro state dan pro publik di dalam setiap perdebatan ? Mengapa kita tidak hanya fokus pada satu orientasi saja sebagai nilai dasar keindonesiaan yang sudah kita terima bersama, sehingga perdebatannya tidak lagi bersifat ideologis atau paradigmatik, tetapi focus pada pelaksanaan nilai ideologis atau paradigmatiknya.
Persoalan tersebut, kebetulan juga muncul di dalam proses pembuatan UU 32/2002 maupun dalam pelaksanaannya. Sehingga diskursus publik dan tindakan sejumlah pihak aktor media sampai membawa ke ranah peradilan, baik di Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi RI, terutama untuk melanjutkan perdebatan yang bersifat ideologis atau paradigmatik tersebut. Sehingga mendorong untuk menelusuri apakah memang tidak ada sistem komunikasi atau sistem media atau sistem penyiaran yang bisa disepakati bersama sebagai nilai dasar di indonesia. Oleh karena itulah maka dalam kajian ini, penelusuran dilakukan dengan mencoba untuk melakukan konstruksi pemikiran para aktor media tentang sistem penyiaran yang diharapkan terbangun di Indonesia, terutama yang terekam dalam proses gugatan uji materi maupun sengketa kewenangan yang dilakukan di Mahkamah
Konstitusi RI, yang berkaitan dengan UU 32/2002. Dari bangunan aktor media tersebut diharapkan bisa dipetakan tentang persamaan dan perbedaan, wilayah inteseksi dan isu yang masih bisa dideliberasikan maupun yang rentangnya memang jauh. Sehingga akhirnya nanti bisa dikonstruksikan sebuah sistem penyiaran yang demokratis dan melindungi kepentingan publik.
Semoga kajian ini, sebagaimana juga kajian‐kajian sejenis yang sudah pernah dilakukan, nantinya bisa membantu membangun sebuah kebijakan nasional tentang sistem penyiaran di Indonesia yang demokratis dan melindungi kepentingan publik.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini, ijinkan saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Prof. Nunung Prajarto, M.A., Ph.D. yang mendorong memilihkan topik kajian dan memberi kesepatan untuk mengeksplorasi lebih dalam dunia komunikasi. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si. pembimbing tesis dan telah menjadi teman diskusi serta yang terus memberi inspirasi dan motivasi untuk melakukan penjelajahan ruang‐ruang kebijakan publik di bidang komunikasi. Serta Drs. I Gusti Ngurah Putra, M.A. dan Wisnu Martha Adiputra, S.Ip., M.Si. yang telah menjadi penguji dan mengoreksi tesis ini untuk lebih baik lagi. Dan tidak lupa juga kepada seluruh teman‐teman S2 Komunikasi 2008, yang keakraban dan keterbukaannya menjadikan proses yang ditempuh di kampus tercinta menjadi lebih mudah dan mencerahkan.
Selain itu juga kepada keluarga besar AKINDO yang telah membantu mendorong dan memberikan kesempatan untuk lebih suntuk ke penyelesaian studi dengan meninggalkan banyak pekerjaan di kampus kreatif.
Yogyakarta, 27 Nopember 2010
Penyusun
INTISARI
Heroe Poerwadi
NIM : 08/275192/PSP/03368
Pemetaan Pemikiran Aktor Media tentang Sistem Penyiaran di Indonesia
(Dalam Gugatan Yudicial Review Terhadap UU 32/2002 pada Tahun 2002‐2009 di Mahkamah Konstitusi RI)
Halaman : 144., Daftar Pustaka 62 buku, 17 Artikel
Perdebatan yang seru dan tajam mengenai Undang‐undang 32/2002 tentang Penyiaran tidak saja terjadi saat proses penyusunan dan pembahasan di DPR RI, tetapi setelah disahkan, saat penerapan dan penyusunan peraturan pelaksananya pun, tidak kalah ramainya menjadi diskursus di ruang publik. Bahkan beberapakali sampai di ruang pengadilan, baik di Mahkamah Agung maupun Mahkamah Konstitusi. Itu hanya menunjukkan betapa perhatian para pemangku kepentingan terhadap sistem penyiaran sangat tinggi. Mereka berebut untuk memenangkan konstruksi dominan dalam membentuk sistem penyiaran di Indonesia.
Kajian ini memfokuskan pada teks‐teks yang ada dalam proses gugatan yudicial review maupun sengketa kewenangan yang terjadi Mahkamah Konstitusi RI dalam kurun waktu 2002‐
2009. Gugatan pertama dilakukan oleh aktor media Kelompok Industri (IJTI, P3I, PRSSNI, ATVSI, PERSUSI, KOMTEVE) melawan aktor media Kelompok Negara, Gugatan kedua dan ketiga dilakukan aktor media Kelompok Masyarakat/Publik (KPI) melawan aktor media Kelompok Negara, dan gugatan ketiga adalah aktor media Kelompok Masyarakat (Komite Nasional Perlindungan Anak dan 2 anak) melawan aktor media Kelompok Negara. kemudian dari teks‐
teks tersebut, kajian ini mencoba untuk mengkonstruksikan pemikiran para aktor media tersebut tentang sistem penyiaran yang diinginkan dan menjadi idealisasi konstruksi masing‐
masing aktor media.
Sistem penyiaran yang normatif sebagaimana digambarkan oleh McQuail, Browne, atau Wiio menjadi dasar tentang upaya menyusun kebijakan media. Proses pembuatan kebijakan media diuraikan oleh Siebert dkk, Habte, Chaudhary dan Martin, serta Hallin dan Mancini memberikan uraian tentang bagaimana perspektif dan akar kebijakan media dikonstruksikan.
Kemudian frame yang digunakan untuk memetakan konstruksi pemikiran aktor media adalah konsepsi general public interest (GPI) dari Cuilenburg dan McQuail serta konsepsi responsibility
of media (RoM) Bardoel. Sedangkan teori relasi aktor‐sistem serta rational choice theory (RCT) dijadikan dasar untuk melihat bangunan pemikiran dan motivasi tindakan setiap aktor media.
Hasil dari kajian ini adalah jika dilihat dari frame GPI maka masing‐masing aktor media menunjukkan konstruksi dominan berdasarkan kepentingan dan orientasi masing‐masing, dan hanya menemukan interseksi pada limitasi dan mekanisme kontrol pelaksanaan kebebasan. Jika dilihat dari sisi RoM, maka ketiga aktor media muncul banyak perbedaan pertanggungjawaban media, tetapi mempunyai pemahaman bahwa RoM Publik dan RoM Professional, banyak disebut ketika membicarakan cara mengatur isi dan sistem penyiaran. Akan tetapi ketiga konstruksi pemikiran aktor media juga ditemukan mencampuradukan empat perspektif RoM Bardoel sehingga menunjukkan ketidakkonsistenan di dalam membangun konstruksi dengan arah orientasi yang tunggal dan utuh. Ketidakonsistenan juga muncul ketika aktor media menyikapi isu‐isu tertentu dan penempatan posisi dalam bergabung atau melawan kelompok aktor media lainnya dalam empat kali gugatan di MK RI. Ketidakkonsitenan itulah yang menguak motivasi apa yang ada disebalik proses gugatan para aktor media tersebut.
Dengan proses tersebut, maka dari kajian ini mengajukan tesis bahwa konstruksi kebijakan nasional sistem penyiaran yang demokratis dan melindungi kepentingan publik tidak cukup hanya dilihat dari sisi GPI‐nya saja, tetapi harus memadukan konsepsi GPI dan RoM sehingga menghasilkan sistem pertanggungjawaban dua tingkat dengan sistem relasi yang bersifat dualitas.
ABSTRACT
Heroe Poerwadi
NIM : 08/275192/PSP/03368
Mind Mapping Actor Media about Indonesia's Broadcasting Systems
(In Lawsuit Against Yudicial Review of Law 32/2002 on the Constitutional Court from 2002 to 2009 in Indonesia)
Pages: 144., 62 Bibliography of books, 17 articles
Critical and sharp debate on the Law 32/2002 on Broadcasting does not just happen during the process of preparation and discussion in Parliament, but once approved, the application and preparation of implementing regulations were, no less hectic with a discourse on public space. Such even up in the courtroom, both in the Supreme Court (MA) and Constitutional Court (MK). It just shows how much attention the stakeholders of the broadcasting system is very high. They scramble to win the dominant construction in shaping the broadcasting system in Indonesia.
This study focuses on texts that are in the process of review and dispute the claim yudicial authority of the Constitutional Court which occurred in the period 2002-2009. The first lawsuit by media actors Industry Group (IJTI, P3I, PRSSNI, ATVSI, PERSUSI, KOMTEVE) against State Groups media actors, the second and third accusation made media actors Community Groups / Public (KPI) against the State Group media actors, and the third lawsuit Community media is an actor (National Committee for Child Protection and 2 children) against State Groups media actors. Then of these texts, this study tries to construct the media actors thought about the desired broadcasting system and the construction of idealizing their respective the media actors.
Broadcasting system that normative as described by McQuail, Browne, or Wiio the basis of efforts to develop media policy. Media policy-making process described by Siebert et al, Habte, Chaudhary and Martin, and Hallin and Mancini gave a description of how the perspective and the roots of media policy is constructed. Then the frames are used to map the construction of the media actor thought is a general conception of public interest (GPI) from Cuilenburg and McQuail and the conception of responsibility of the media (RoM) Bardoel. While the actor- system relations theory and rational choice theory (RCT) used as a base to see the building thoughts and actions of each the media actor motivation.
The results of this study is that if viewed from the frame GPI then each the media actor shows the construction of dominant based on the interests and orientation of each, and only
found the intersection on the limitation and control mechanism of implementation freedom. If viewed from the side of the RoM, the three actors appear much different media accountability, but have an understanding that the Public and Professional RoM, many referred to when discussing how to manage the content and broadcasting system. But the third construction the media actor thought was also found jumble four perspectives Bardoel RoM that shows inconsistencies in building construction with a single direction of orientation and intact.
Inconsistencies also arise when the media actors addressing certain issues and placement of positions within or against the groups of the media actors joined other in four times the lawsuit at the Constitutional Court of Indonesia. Inconsistencies motivation reveals that what is behind the screen process the media actors lawsuit.
In the process, then the thesis of this study propose that the construction of a national policy of a democratic broadcasting system and protect the public interest is not enough in terms of its GPI alone, but must integrate conception and RoM and GPI resulting in a two-tier system with a system of accountability relationships nature of duality.
DAFTAR ISI
Halaman Persetujuan i
Halaman Pernyataan Orisinalitas ii
Halaman Pengesahan Tesis iii
Kata Pengantar iv
Abstrak vi
Daftar Isi xi
Daftar Tabel dan Gambar xiii
BAB I Pendahuluan 1
A. Latar belakang masalah 1
B. Rumusan Masalah 5
C. Maksud dan tujuan 5
D. Manfaat 5
E. Kerangka Pemikiran 6
1. Setting politik dan SistemPenyiaran yang Demokratis : Merugikan Publik ? 6
2. Kebijakan Nasional Sistem Penyiaran : Menakar Arah dan Komitmen General Public Interest (GPI) dan Responsibility of Media (RoM) 11 3. Posisi Aktor Media dan Teori Pilihan Rasional 14
4. Analisis Kebijakan 18
F. Kerangka dan Definisi Konsep 19
G. Metodologi 26
1. Subyek penelitian 26
2. Otentifikasi Penelitian 27
3. Metode penelitian 28
4. Paradigma 29
5. Desain Penelitian dan kerangka Analisis 30
BAB II Relasi Aktor Media : dari Posisi Otonom sampai Subordinasi 33 A. Posisi Aktor Media yang Semakin Kuat 33
B. Relasi Aktor Media dalam Sistem Penyiaran 34
C. Posisi Hukum dan Setting Politik 40
D. Posisi Aktor Media 47
1. Kelompok Industri 47
2. Kelompok Negara 59
3. Kelompok Masyarakat 62
4. Mahkamah Konstitusi 65
BAB III Analisis Data Tuggal : Pemetaan pemikiran Aktor Media tentang Sistem Penyiaran 68
A. Kelompok Industri 69
1. Perumusan pemikiran 69
2. Konstruksi Pemikiran Aktor Media Industri 76
B. Kelompok Negara 81
1. Perumusan pemikiran 82
2. Konstruksi Pemikiran Aktor Media Negara 86
C. Kelompok Masyarakat 90
1. Perumusan pemikiran 90
2. Konstruksi Pemikiran Aktor Media Masyarakat/Publik 96
BAB IV Perbandingan Pemikiran, Pergeseran Posisi Aktor dan Deliberasi 100 A. Perbandingan Peta Pemikiran Aktor Media 100
1. Kebebasan 103
2. Badan Regulasi 106
3. Kompetisi 110
4. Akses 115
5. Pengaturan Isi Siaran 116
B. Pergeseran Posisi Aktor dan Isu 120
C. Proses Deliberasi di MK 130
BAB V Penutup 136
A. Kesimpulan 136
B. Catatan 136
Lampiran 145
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR
Tabel
Tabel I.1 Elemen Konstruksi Peta Pemikiran Aktor Media 33
Tabel I.2 Desain Penelitian 34
Tabel II.1 Aktor Media dan Materi Yudicial Review UU 32/2002 di MK RI 42 Tabel II.2 Relasi Aktor Media dan Isu dalam Pertanggungjawaban Media 46
Tabel III.1 Political Welfare dan isu Kelompok Industri 75
Tabel III.2 Economic welfare dan isu utama kelompok industry 76
Tabel III.3 Social Welfare dan Isu Utama Kelompok Industry 76
Tabel III.4 Konstruksi Pemikiran Aktor Media Kelompok Industri 79
Tabel III.5 Political Welfare dan Isu Kelompok Negara 85
Tabel III.6 Economic welfare dan Isu Utama Kelompok Negara 85
Tabel III.7 Social Welfare dan Isu Utama Kelompok Negara 86
Tabel III.8 Konstruksi Pemikiran Aktor Media Kelompok Negara 88
Tabel III.9 Political Welfare dan isu Kelompok Masyarakat 94
Tabel III.10 Economic welfare dan isu utama kelompok Masyarakat 95
Tabel III.11 Social Welfare dan Isu Utama Kelompok Masyarakat 96
Tabel III.12 Konstruksi Pemikiran Aktor Media Kelompok Masyarakat 97 Tabel IV.1 Peta Kecenderungan Pemikiran Sistem Penyiaran Aktor Media 101
Tabel IV.2 Posisi Menang‐Kalah Aktor Media 129
Gambar
Gambar IV.1 Perbandingan Pemikiran Isu Kebebasan para Aktor Media dan MK 96 Gambar IV.2 Perbandingan Isu Badan Regulasi Para Aktor Media dan MK 98 Gambar IV.3 Perbandingan Isu Kompetisi para Aktor Media dan MK 112 Gambar IV.4 Perbandingan Isu Aksesibilitas Masyarakat para Aktor Media dan MK 114 Gambar IV.5 Perbandingan Isu Pengaturan Isi Siaran para Aktor Media dan MK 117 Gambar IV.6 Posisi Aktor Media dalam Kasus Kelompok Industri vs Kelompok Negara 120 Gambar IV.7 Posisi Aktor Media dalam Kasus Kelompok Masyarakat vs Kelompok Negara (1) 121 Gambar IV.8 Posisi Aktor Media dalam Kasus Kelompok Masyarakat vs Kelompok Negara (2) 122 Gambar IV.9 Posisi Standpoint Aktor Media dan Responsibility of Media
Kasus Kelompok Industri vs Kelompok Negara 125
Gambar IV.10 Posisi Standpoint Aktor Media dan Responsibility of Media
Kasus Kelompok Masyarakat vs Kelompok Negara (1) 126
Gambar IV.11 Posisi Standpoint Aktor Media dalam Responsibility of Media
Kasus Kelompok Masyarakat vs Kelompok Negara (2) 128
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Ketika Kementerian Komunikasi dan Informasi RI (KOMINFO) melakukan sosialisasi Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Konten Multimedia, maka mendadak banyak pemangku kepentingan dan masyarakat segera bereaksi. Hampir semua pihak dan masyarakat melakukan gerakan untuk menolak pemberlakuan RPM tersebut. Wacana penolakan baik yang dilakukan penyedia provider, akademisi, masyarakat dalam gerakan facebook menolak RPM yang begitu kuat, telah memaksa presiden SBY memerintahkan Kominfo RI untuk menarik RPM tersebut, sebelum menjadi perdebatan pro‐kontra yang semakian besar. (Detikcom, dari 17‐25 Februari 2010).
Penolakan atau gerakan pro‐kontra dari para pemangku kepentingan dan masyarakat terhadap kebijakan yang mengatur tentang komunikasi atau media massa tersebut, telah terjadi berulangkali di Indonesia. Hampir semua Undang‐undang di bidang komunikasi atau media massa yang akan dibuat, seringkali dihiasi dengan perdebatan yang seru. Bisa disebut misalnya UU Pers, UU Penyiaran, UU ITE, UU KIP, atau UU Film. Bahkan undang‐undang yang terkait dengan komunikasi atau media massa secara tidak langsung pun menjadi perdebatan yang tidak kalah seru, seperti UU Rahasia Negara, UU Intelijen, UU Kemanan Nasional, UU bidang Paket Politik dan sebagainya.
Perdebatan yang muncul, tidak hanya menyangkut tentang isu kebebasan media dan demokratisasi, pengaruh dominasi ekonomi atau politik, pengaruh pasar‐
kekuasaan‐publik, tetapi juga menyangkut perdebatan isu paradigmatic konstruksi undang‐undang tersebut lebih bersifat positifis atau kritis atau kesesuaian UU satu dengan yang lainnya. Sehingga bangunan konstruktif‐sistemik kebijakan media massa sering menjadi landasan pertanyaan, ke arah mana pengembangan media massa akan dijalankan. Pertanyaan ini sangat penting, karena menyangkut posisi, kedudukan dan fungsi media massa di masyarakat.
Perdebatan tentang arah kebijakan di bidang media massa pada suatu negara, akan selalu melibatkan banyak pihak dan aktor. Hal itu menurut Mcquail (1989) karena posisi penting media massa sebagai suatu industry yang terus berubah dan mendorong pertumbuhan industry lainnya; menjadi sumber kekuatan untuk mengendalikan dan mengawasi sebagai pengganti sumber daya masyarakat lainnya; menjadi lokasi atau forum yang menampilkan kehidupan realitas masyarakat, yang juga berperan sebagai wahana untuk mengembangkan tata nilai masyarakat, inovasi dan peradaban; serta posisi media massa sebagai sumber dominan bagi individu dan masyarakat untuk menampilkan citra realitas kehidupan kolektif kelompoknya.
Setiap pemangku kepentingan, yang tidak lain adalah aktor media, selalu akan terus mewacanakan agar konstruksi dominannya bisa masuk dan mewarnai isi kebijakan yang mengatur media massa. Artinya, selama para pemangku kepentingan merasakan konstruksi kebijakannya tidak memberi ruang yang cukup untuk eksistensi kehidupannya, maka di setiap momen akan di manfaatkan untuk mendesakkan konstruksi dominan yang dipahaminya.
Perdebatan dan upaya mendesakkan konstruksi dominannya tersebut hanya menunjukkan bahwa kehidupan dinamika pendapat, aspirasi, kepentingan atau bahkan pemikiran pradigmatik dan ideologis di Indonesia masih sangat beragam. Setiap aspirasi, kepentingan atau paradigm dan ideology ditampilkan dalam proses dialogis dalam suatu argumentasi yang partial maupun utuh di dalam forum‐forum yang ada. Sehingga bisa memberikan gambaran tentang nilai‐nilai yang masih hidup dan ingin dikembangkan oleh aktor‐aktor media di dalam membangun kebijakannya.
Undang‐undang tentang Penyiaran No 32 tahun 2002 (UU 32/2002) adalah salah satu contoh bagaimana aspirasi, kepentingan atau pemikiran paradigmatik dan ideologis bertemu dalam proses dialogis dalam wacana publik maupun forum peradilan di Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia. Bahkan MK, setidaknya telah menyelenggarakan empat kali persidangan tentang UU 32/2002 yang terjadi dalam kurun waktu 2003‐2009 dan menjadi ajang pertempuran kepentingan, pemikiran paradigmatik dan ideologis yang ingin didesakkan aktor media.
Pada tahun 2003, para aktor media seperti kaum professional Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Persatuan Sulih Suara Indonesia (PERSUSI), kelompok pengelola televisi dan radio swasta (ATVSI dan PRSSNI), Kelompok perusahaan periklanan (P3I), serta masyarakat (Komunitas Televisi) mengajukan gugatan terhadap UU No 32/2002 ke Mahkamah Konstitusi, terutama menyangkut kewenangan KPI, regulasi, pencabutan ijin, sumber pendanaan, pembatasan audience, sensor dan lain‐lain. Melihat materi gugatannya, jika ditarik abstraksinya, maka kondisi tersebut mencerminkan pertarungan konstruksi dominan dari para aktor media yang merepresentasikan antara kepentingan pasar dan professional dengan kepentingan publik.
Pada tahun 2006, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), melayangkan dua kali gugatan ke MK terhadap materi UU No 32/2002, terutama menyangkut posisinya sebagai Lembaga Negara Independen dan menyangkut kewenangan pemberian ijin serta dalam hal kewenangan melakukan regulasi, yang belum diatur secara jelas dan eksplisit dalam UU tersebut. Persoalan tersebut merupakan sengketa kewenangan antara KPI sebagai representasi publik dengan Kementerian Kominfo, sebagai representasi Negara. Melihat pokok materi gugatannya, dalam hal ini KPI sebagai aktor media yang melakukan pengawasan terhadap perilaku penyiaran, sedang berebut kewenangan dengan Kementerian Kominfo sebagai representasi Negara.
Sedangkan pada tahun 2009, kelompok masyarakat yang diwakili oleh Komite Nasional Perlindungan Anak (KNPA), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat, serta kelompok masyarakat anak‐anak atas nama Alfie Sekar Nadia (13) dan Faza Ibnu Ubaydillah (17), juga mengajukan gugatan ke MK, terutama menyangkut pasal 46 dalam UU 32/2002 yang mengatur tentang iklan komersial rokok. Pada posisi ini, penggugat sebagai aktor media yang menjadi audience adalah representasi publik yang berusaha melindungi hak anak‐anak untuk tidak menjadi obyek komodifikasi (dalam bingkai Mosco, 1986) dari iklan rokok yang ditayangkan oleh media penyiaran. Sehingga melihat materi guagatannya, maka telah tergambarkan adanya tarik menarik antara kepentingan publik dengan kepentingan industry, baik dalam konteks industry media
yang berkepentingan dengan sumber pembiayaan institusi penyiaran maupun industry rokok dalam kaitannya untuk memperluas area marketingnya.1
Proses gugatan tersebut menunjukkan betapa pertempuran kepentingan, dan pemikiran paradigmatic dan ideologis sangat jelas muncul dalam persidangan, baik yang menjadi representasi kepentingan industry atau pasar, kepentingan Negara atau pemerintah dan kepentingan publik. Oleh karena itu menjadi sangat menarik untuk bisa melakukan pengkajian tentang proses adu argumentasi persidangan di MK tersebut, terutama untuk bisa melakukan pemetaan pemikiran para aktor media yang terlibat dalam upaya untuk mendesakkan konstruksi pemikirannya dalam kebijakan nasional sistem penyiaran dalam UU 32/2002. Sehingga bisa terpetakan secara lebih detail bagaimana arah orientasi sistem penyiaran yang ingin dikembangkan para aktor media.
Bisa digambarkan pula bagaimana isu‐isu sistem penyiaran yang demokratis disikapi dan dipahami oleh para aktor media. Bahkan bisa digambarkan pula kesamaan dan perbedaan pensikapan terhadap isu normative sistem penyiaran. Hal itu semua akan memberi manfaat di dalam proses pembuatan kebijakan di bidang penyiaran, dan kebijakan nasional lainnya yang menyangkut kebijakan media.
Melalui proses inilah maka penelitian ini mencoba untuk mengungkap apa yang ada dibalik proses gugatan‐gugatan tersebut, terutama menyangkut relasi antar aktor media tersebut, dan bagaimana pemikiran para aktor media tersebut terhadap sistem penyiaran yang kehendakinya.
1 Gugatan yang berkaitan dengan konstruksi kebijakan di media penyiaran, sebenarnya masih banyak dan sangat beragam.
Hanya saja, level materi gugatannya tidak langsung kepada UU 32/2002, melainkan terhadap terbitnya Peraturan Pemerintah yang merupakan konstruksi kebijakan pemerintah untuk menjalankan UU 32/2002. Gugatan atau uji materi dalam bentuk Judicial review yang dilakukan oleh 10 TV swasta terhadap terbitnya Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3PS) yang diterbitkan oleh KPI pada tahun 2005. Atau gugatan yang dilakukan oleh Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) terhadap Kementerian Kominfo sebagai regulator dan KPI sebagai pengawas, yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dianggap lalai atau membiarkan terjadinya oligopoly penyiaran, pemusatan kepemilikan dan terjadinya jual beli saham maupun frekuensi di dalam industry penyiaran (kompas.com, 1 Agustus 2008) yang bertentang dengan semangat dan jiwa UU 32/2002. Atau persoalan bagaimana Presiden menolak menemui KPI untuk memberikan laporan tahunan (detikcom 25 Mei 2005) yang pada dasarnya adalah keberpihakan terhadap cerminan penguatan posisi KPI atau Kementerian Kominfo dalam konstruksi UU 32/2002 (yang kemudian menjadi pemicu gugatan KPI ke MK tahun 2006 seperti tersebut diatas).
Atau bagaimana Kaukus Penyiaran yang mempertanyakan tatacara seleksi anggota KPI 2006‐2009 yang meloloskan 8 anggota KPI lama menjadi kandidat untuk memperpanjang jabatannya (Detikcom, 2 Oktober 2006). Persoalan tersebut pada dasarnya bisa dilacak sebagai upaya untuk mencegah anggota KPI lama yang dinilai sangat anti industry penyiaran dan sangat pro publik, untuk tetap duduk menjadi komisioner. Pada kenyataannya, memang sebagian besar komisioner yang kemudian terpilih adalah orang‐orang yang baru, yang sedang (kemudian keluar dan masuk lagi) atau pernah bekerja di industry penyiaran TV swasta.
B. Rumusan Masalah
Oleh karena itu, untuk mendapat gambaran secara jelas dan bisa melihat posisinya tersebut, maka perlu dilakukan pembedahan dan penelusuran pemikiran para aktor media tersebut. Sehingga rumusan permasalahannya adalah :
“Bagaimana kecenderungan konsep pemikiran para aktor media terhadap system penyiaran di Indonesia yang terekonstruksikan dalam proses gugatan di Mahkamah Konstitusi pada perkara No : 005/PUU‐I/2003, No : 030/PUU‐
IV/2006, No : 031/SKLN‐IV/2006, dan No : 6/PUU‐VII/2009?”
C. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana deskripsi dan konstruksi peta pemikiran system penyiaran para aktor media di Indonesia
2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan ide dan konsep tentang system penyiaran dari para aktor media.
3. Untuk mengetahui posisi relasi aktor‐aktor dan aktor‐sistem dalam pemikiran konstruksi system penyiaran dalam proses gugatan tersebut
4. Untuk mengetahui makna yang ada di balik proses gugatan tersebut
5. Untuk mengetahui dan mengkaji konstruksi system broadcasting yang bisa diterima para aktor media.
D. MANFAAT
1. Dengan penelitian ini, maka akan diperoleh gambaran rekonstruksi system penyiaran para aktor media yang bergerak di broadcasting sehingga bisa memetakan pemikiran yang memberi manfaat di dalam proses pembuatan kebijakan
2. Dengan penelitian ini, maka diperoleh gambaran potensi permasalahan pelaksanaan UU 32/2002 baik secara konseptual maupun praktis
3. Dengan penelitian ini maka akan diperoleh kajian akademis yang bisa melacak peta pemikiran para aktor media penyiaran di Indonesia, yang memberi manfaat sebagai
bahan pertimbangan dalam proses pembuatan kebijakan di bidang media massa lainnya
4. Dengan studi ini, maka akan memperkuat landasan studi kebijakan di bidang komunikasi sebagai sebuah kajian yang penting di dalam pengembangan media massa dan ilmu komunikasi di Indonesia.
5. Dengan studi ini diharapkan bisa menemukan model dan tatacara penyusunan kebijakan di bidang media berdasarkan dari pemikiran aktor media.
E. KERANGKA PEMIKIRAN
1. Setting Politik dan Sistem Penyiaran yang Demokratis, Merugikan Publik ?
Ketika membicarakan sistem penyiaran yang demokratis, setidaknya ada dua hal yang perlu dipahami. Pertama adalah proses dan mekanisme proses pembuatan kebijakan melalui tahapan yang demokratis, dan yang kedua adalah hasilnya atau substansi isi kebijakannya pun memenuhi ukuran sebagai sebuah sistem penyiaran yang demokratis. Pernyataan ini penting, sebab sistem demokrasi mempunyai banyak variasi model, yang tidak setiap model bisa memberikan jaminan hasil substantive yang demokratis. Dalam tingkatan proses, Thomas Meyer dan Lew Hinchman (2002) memberikan gambaran tentang tiga variasi model demokrasi yang dikaitkan dengan media, terutama untuk melihat posisi media dalam proses politik dalam pembuatan kebijakan.2 Dalam model demokrasi as marketplace, proses dan mediasi dilakukan secara individual dan dilakukan secara bebas, sehingga media bisa berkolaborasi dengan kekuatan kapital dan kekuatan politik untuk mencapai tujuan masing‐masing yaitu pertumbuhan kekuasaan dan kapital.3 Dalam model demokrasi as participation, proses
2 Negara yang mengadopsi model demokrasi as a marketplace, atau as a participatory, atau as a civil society mempunyai focus perhatian terhadap dimensi politik sebagai polity (struktur dan kultur), Policy (deal yang diperoleh dari banyak kepentingan) dan political process (proses perjuangan untuk dialog, negosiasi, deliberasi dan mencapai consensus), hanya saja pembedanya kepada luasnya ruang publik yang disediakan untuk membangun dialog, deliberasi dan konsensus. Pada proses politik tersebut maka posisi media sangat penting. Dalam model as marketplace media ikut bermain sendiri secara bebas dalam pasar bebas, dalam model as participatory media sebagai alat sehingga relasi dan tindakannya ditentukan oleh kekuatan lain, sedangkan dalam model as civil society media berposisi sebagai intermediasi diantara kekuatan yang ada, sehingga relasi dan tindakannya untuk melakukan mediasi.
3 Lebih lanjut bisa baca McChesney, Robert W; The Problem of Media, US Communications Politics In The 21st Century, Mountly Review Press, New York, 2004 dan Bourdieu, Piere; Jurnalistik Televisi; Yayasan Kalamakara dan AKINDO, Yogyakarta, 2002 yang memberikan gambaran tentang bertemunya kepentingan media dan kepentingan politik untuk tujuanmasing‐masing.
dan mediasi dilakukan secara kelembagaan sehingga posisi media sering bersifat subordinasi, seperti yang terjadi di Italia dengan fenomena Berlusconi yang menjadikan media sebagai alat politiknya melakukan tekanan dan bargaining; sedangkan model demokrasi as civil society, proses dan mediasi dilakukan oleh masyarakat secara individual maupun terwakili dalam kelompok masyarakat. Posisi media menjadi bagian proses politik sebagai lembaga intermediasi.
Model demokrasi yang diukur dengan mengaitkan posisi media di dalam proses politiknya, bisa dilihat dalam banyak aspek. Siebert dkk (1958) melihat dari perspektif filsafat dan sejarah sosial yang dialami masyarakatnya, Chaudahry dan Martin (1983) melihat dari perspektif fungsional struktural dengan melihat peran, tujuan dan fungsinya di masyarakat, atau Habte (1983) dan McQuail (2000) menempatkan dalam perspektif strukturalis dalam konteks konstelasi kekuatan politik, ekonomi dan budaya masyarakatnya. Sedangkan Hallin dan Mancini (2004) melihat dari sisi relasi struktur politik dan struktur media, sehingga dihasilkan derajat intervensi terhadap institusi media.
Aspek‐aspek yang dilihat tersebut memang bisa dengan jelas menunjukkan perbedaan relasi media dalam proses politik, sebab berada di dalam sistem politik yang berbeda‐beda. Tentu berbeda dengan pandangan Meyer dan Hinchman, yang melihat relasi media dalam sistem politik yang sama, yaitu sistem demokrasi. Sehingga di dalam sebuah sistem yang demokratis di dalam satu Negara sekalipun, dalam proses politik pembuatan kebijakan sistem media bisa dihasilkan sistem media yang corak dan sistem relasi diantara institusi yang ada menghasilkan derajat demokrasinya tidak sama.
Bahkan bisa menghasilkan sebuah sistem yang tidak demokratis, sebagaimana digambarkan dan dikeluhkan oleh Robert W McChesney (2004) ketika memotret problem media di Amerika di abad 21. Bagi McChesney proses pembuatan kebijakan media massa di Amerika yang demokratis, telah di dominasi oleh korporasi dan elit politik dengan meninggalkan partisipasi publik. Sehingga kebijakan di bidang media yang dihasilkan di AS lebih memperhatikan pertimbangan untuk memberikan pelayanan kepada kepentingan korporasi, memaksimalkan profit dan kesehatan investor daripada
untuk menjaga berjalannya fungsi‐fungsi demokrasi, berjalannya sistem pemerintahan oleh warga serta terpeliharanya kesehatan budaya.
Dalam setting Indonesia, kekawatiran sebagaimana digambarkan McChesney pun terbuka sangat lebar untuk bisa terjadi di Indonesia. Di masa orde baru, hubungan patron‐klien antara penguasa dan pengusaha di dalam proses pembuatan kebijakan maupun di dalam proses pengendalian perilaku politik sangat menonjol baik untuk menentukan kebijakan politik, ekonomi dan media (Masoed, 1990; Muhaimin, 1991;
dan Dhakidae, 1991). Sehingga menurut Husein dan Hufron (2008) serta Mahfud (2009), menjadikan konstruksi hukum adalah produk sistem politik. Mahfud mengasumsikan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan hukum yang responsive, sedangkan konfigurasi politik yang otoriter akan melahirkan hukum yang orthodox atau konservatif. Oleh karena itu, menurut Satjipto Raharjo (2009), terjadinya proses perubahan hukum selalu di awali dengan perubahan sosial di masyarakat. Semakin besar kesenjangan yang terjadi antara hukum yang mengatur dengan dinamika masyarakat, maka semakin besar tingkatan urgensi untuk melakukan perubahan hukum.
Dengan demikian proses reformasi sejak 1998 di Indonesia, tentu akan diikuti dengan proses perubahan hukum yang mengatur kepentingan kehidupan di masyarakat.
Persoalannya kemanakah arah perubahan paradigmatic yang terjadi di Indonesia ? Apakah menuju demokrasi as marketplace (melalui individu yang bebas dalam negosiasi), atau as participation (melalui kelompok yang representative dan subordinatif) atau as civil society (melalui individu dan kelompok dalam proses intermediasi) sebagaimana digambarkan Meyer dan Hinchman di atas ?.4 Ketika McChesney sangat risau dengan fisafat politik neoliberalisme yang dikembangkan AS, yang menjadikan korporasi dan elit dominan terhadap wacana dan proses politik dalam
4 Pandangan model demokrasi tersebut sejalan dengan tiga tipe teori demokrasi, yaitu : liberal individualism, pluralistic political democracy dan holistic socialism. Liberal Individualisme berbasis kepada persamaan universal bagi warga Negara dalam mengikuti proses politik. Individu yang mewakili dipilih secara bebas (one person one vote). Pluralistic political democracy tidak berdasar kepada kepentingan individu, tetapi agregasi kepentingan individu melalui kelompok kepentingan yang melakukan mediasi kompetisi kepentingan menuju social equilibrium. Sedangkan holistic socialism lahir dari kritik dan koreksi liberal individualism yang menjadikan relasi mandeg, memandang demokrasi harus menjamin terdistribusikannya sejumlah kebutuhan ekonomi sehingga kesejahteraan social menjadi dasar dan tujuan demokrasi politik. Tiga konsepsi dasar teori demokrasi ini hanya menguatkan adanya banyak variable dan model demokrasi yang bisa dijadikan dasar konstruksi kebijakan sistem media atau penyiaran. Selanjutnya lihat David Held, Models of Democracy, Polity and Akbar Tanjung Institute, Jakarta, 2006
pembuatan kebijakan publik, sebenarnya konstruksinya menyerupai gambaran demokrasi as marketplace‐nya Meyer dan Hinchman atau mirip dengan demokrasi korporasi‐nya Hallin dan Mancini. Indonesia juga mempunyai potensi menuju paradigm seperti tersebut di atas.
Ketika Sistem politik di Indonesia semakin menunjukkan sistem liberalism individual, yaitu dengan mengusung ikon “one man, one vote, one value” yang diwujudkan dengan sistim pemilihan langsung (pilkada, pilpres dan pileg serta pilkades yang sudah berlangsung jauh sebelumnya) dan sistem ekonomi menganut mekanisme pasar dalam jaring kapitalisme global, maka sistem demokrasi akan berpotensi cenderung mengarah kepada model as marketplace. Kuskrido Ambardi (2009) telah membuktikannya bahwa proses pembuatan kebijakan dan konstruksi pembuatan hukum dilakukan dengan sistem kartelisasi. Yaitu proses pengambilan keputusan lebih banyak di tentukan oleh kepentingan individu daripada kepentingan ideologis masing‐
masing partai. Kondisi tersebut mempunyai potensi tidak mempunyai kesatuan gagasan, visi dan paradigma yang konsisten. Kondisi tersebut sangat jauh dengan pandangan James Anderson (Winarno, 2002) yang menguraikan lima kategori nilai‐nilai yang dapat membantu mengarahkan perilaku para pembuat keputusan, yaitu nilai‐nilai politik, nilai organisasi, nilai pribadi, nilai kebijakan dan nilai ideology. Selain kondisi seperti tersebut diatas juga telah menafikkan fungsi hukum sebagai alat kontrol sosial (social engineering) sebagaimana gambaran Raharjo (2009a).5
Setting politik seperti hal tersebut, ditambah dengan proses transisi dari rezim otoriter ke rezim demokratis yang tidak tuntas, yang dalam pandangan Budi Winarno (2007) menunjukkan gerakan reformasi di Indonesia selama ini gagal membangun system politik yang baru. Reformasi hanya berhasil mengubah struktur politik dan refungsionalisasi, tetapi tidak tuntas membangun proses intitusionalisasinya. Reformasi juga gagal mengubah budaya politik yang menjadi faktor penting kuatnya sistem politik yang baru. Hal itu disebabkan oleh faktor birokrasi yang tidak tersentuh proses
5 Satjipto Raharjo (2009) melihat bahwa perubahan hukum yang didasarkan oleh perubahan dan dinamikamasyarakat bisa dilakukan melalui : (1) tekanan‐tekanan yang datang dari wilayah pemilihnya; (2) tuntutan partai atau golongannya; (3) tekanan‐tekanan kelompok kepentingan; (4) pengaruh system nilai yang dihayati; (5) dan kerangka norma‐norma, baik yang formal maupun informal.
perubahan secara mendasar, sehingga sistem birokrasi masih disebutnya dengan sistem pemerintahan yang patrimonial‐otoritarian.
Meskipun demikian, perubahan paradigma dari otoritarian dan sentralisasi menjadi demokratis dan desentralisasi, dan disusul dengan gelombang liberalisme dan individualisme yang datang bersama‐sama dengan globalisasi dan perkembangan tekonologi komunikasi dan informasi, tidak hanya memperlemah posisi dan peran pemerintah, tetapi juga memperkuat posisi masyarakat dan aktor‐aktor politikya. Dalam bahasa Pratikno (2007),”... pemerintah tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya, akibat semakin kuatnya posisi aktor sosial, akibatnya kebijakan publik yang sebelumnya menjadi domain pemerintah, harus selalu dinegosiasikan.” Pada posisi ini, terkesan lepasnya proses subordinasi pemerintah, dan bergeser kepada posisi otonom dari para aktor media yang semakin kuat.
Selain itu, kebijakan nasional sistem penyiaran dalam konteks kebijakan publik, juga tidak mungkin melepaskan kekuatan elit politik atau pemerintah dan kekuatan publik yang salah satu diantaranya akan menjadi dominan dalam membentuk karakter sistem media (Habte, 1983) atau kekuatan politik dan kekuatan ekonomi atau pasar yang menjadi dasar terbentuknya institusi media (McQuail, 2000). Sehingga posisi aktor media, relasinya dan tarik menarik orientasi nilai yang terjadi, baik yang berada di dalam kekuatan publik, state dan pasar menjadi factor penting untuk terbentuknya karakter sistem media atau sistem penyiaran di sebuah negara.
Dalam setting politik dan model demokrasi yang seperti tersebut di atas, penelitian ini mencoba menelusuri pemikiran para aktor media di dalam mengkonstruksikan kebijakan nasional sistem penyiaran. Apakah pemikiran sistem penyiaran tersebut menempatkan aktor media dalam posisi mewakili dirinya sendiri, atau mewakili kelompok kepentingan dalam posisi subordinasi, atau menjadi representasi publik dengan posisi intermediasi, di dalam proses politik yang terjadi. Oleh karena itulah, konstruksi relasi aktor dan sistem, menjadi alat analisis yang bisa menjelaskan posisi aktor media dalam sistem penyiaran yang di persandingkan untuk merebut konstruksi dominannya.
2. Kebijaksanaan Nasional Sistem Penyiaran : menakar arah dan komitmen General Public Interest (GPI) dan Responsibility of Media (RoM)
Frame yang kedua untuk memahami sistem penyiaran di sebuah Negara adalah dengan melihat bagaimana isi atau substansi dari kebijakan nasional sistem penyiaran tersebut apakah sudah mencerminkan sebuah sistem penyiaran yang demokratis atau setidaknya bisa menunjukkan derajat demokrasi yang di bangun. Oleh karena itu perlu memahami tentang basic factor dan teori normative sistem broadcasting atau sistem media, sehingga kemudian akhirnya ditemukan frame untuk mengukur pemikiran sistem penyiaran, yaitu general publik interest (GPI) dan responsibility of media (RoM).
Donald R Browne (1989) melihat bahwa dalam membangun sebuah sistem penyiaran, harus mempertimbangkan basic factor yang dimiliki oleh sebuah Negara.
Yaitu karakteristik yang relative tetap dan tidak berubah drastis, serta melekat dan tidak terpisahkan oleh kondisi apapun yang dihadapi sebuah masyarakat atau Negara.
Menurut Browne, basic factor sistem penyiaran meliputi : geografi, demografi/language, ekonomi, kultur dan politik. Kondisi fisik, struktur kependudukan, kekuatan ekonomi masyarakat dan negara, kultur masyarakat dan pandangan politik adalah elemen dasar yang membentuk kelompok, komunitas dan entitas setempat. Oleh karena itu, system penyiaran bisa dilakukan secara terpusat, jika faktor geografis, kultur dan demografi memang relative homogen dan terjangkau. Bisa juga dilakukan secara terdesentralisasi dan berjaringan jika komposisinya sangat heterogen, luas dan multikultur.
Meskipun demikian, basic factor tersebut tetap akan memunculkan perbedaan cara memahami dan sudut pandang setiap aktor ketika sudah dihubungkan dengan kepentingan setiap aktor media. Sehingga akan memunculkan proses relasi, negosiasi dan bahkan perbenturan pandangan diantara para aktor media. Masalahnya adalah apakah proses tersebut bisa berlangsung secara fair dan adil sehingga mampu membangun sistem penyiaran nasional yang demokratis. Untuk itulah, maka perlu didiskusikan tentang standar minimal sebuah kebijakan nasional sistem media yang memenuhi aspek normatif sistem penyiaran yang sehat.
Menurut McQuail (2000) secara normatif ada lima elemen untuk melihat standar kebijakan media, yaitu media freedom, equality, diversity, information quality, social order and solidarity, dan cultural order. Atau secara minimal, menurut Cuilenburg dan Mcquail (2003), setidaknya mempunyai tiga prinsip inti yang harus ada dalam paradigma kebijakan komunikasi yang baru, yaitu freedom of communication, acces, dan control/accountability. Dengan demikian, setiap kebijakan tentang media atau penyiaran akan diukur dengan pertanyaan : bagaimana jaminan kebebasan medianya, apakah mempunyai kesamaan hak untuk menyebar dan menikmati aneka informasi yang berkualitas, dan mampu menjaga integrasi dan tata nilai dinamis yang berkembang di masyarakat.
Persoalannya adalah apakah dengan demikian kebijakan media atau penyiaran yang memberi jaminan lebih bebas dan lebih memberi hak dan kesempatan yang sama adalah kebijakan yang lebih baik ?. Meyer & Hinchman dan McChesney tentu mengatakan tidak, sebab untuk mencegah kemungkinan terjadinya aliansi korporasi dan kekuasaan, sebagaimana bisa terjadi di dalam setting politik demokrasi as marketplace..
Ada kekawatiran menjadikan masyarakat sebagai subyek pasar dan politik sebagaimana pandangan Croteau dan Hoynes (2004). Bahkan bisa memungkinkan terjadinya konsolidasi kepemilikan dan korporasi untuk melakukan mega‐mergers dalam rangka menghadapi globalisasi dan internasionalisasi, bisa dihindarkan (Doyle, 2002). Sebab kebebasan dan hak yang sama tersebut juga harus secara bersamaan mampu memberikan jaminan tersajinya kualitas informasi, keanekaragaman yang mampu memelihara nilai social dan budaya. Dalam bahasa Cuilenburg dan McQuail harus mampu memberikan jaminan general public interest (GPI). Dalam konteks ini, maka sebuah kebijakan bisa dilihat mempunyai kecenderungan GPI berdasarkan terpenuhinya ukuran‐ukuran terbentuknya kelembagaan menuju proses demokratisasi, kebebasan, partisipasi; terciptanya tatanan social yang adil, maju dan berkembang; serta ketersediaan infrastruktur, professional, efisien dan profit.
Padahal kenyataannya, sebagaimana sinyalemen Meyer & Hinchman dan McChesney, bahwa kebijakan nasional di bidang media sangat ditentukan oleh dinamika
relasi yang terjadi antara interest of state dan corporate interest yang berkepentingan untuk mendesakkan konstruksi dominannya. Oleh karena itu, menurut Cuilenburg dan McQuail, elemen utama sebuah kebijakan media harus bisa menjawab konteks permasalahan : tujuan dan sasaran yang dikehendaki, nilai dan kriteria untuk mencapai tujuan, beragam pelayanan isi dan komunikasi untuk menerapkan kebijakan, perbedaan pelayanan penyebarannya, ketersediaan ukuran dan alat implementasi kebijakan.
Dalam hal ini ukuran yang digunakan adalah terpenuhinya general public interets, yang meliputi political welfare, social welfare dan economic welfare.
Sebuah kebijakan nasional sistem penyiaran disebut mempunyai nilai political welfare jika mendorong terjadinya proses demokratisasi, kemerdekaan, dan persamaan hak. Nilai social welfare yang dimaksud harus mampu mendorong terjadinya proses integrasi dan kohesifitas sosial, keleluasaan akses, dan partisipasi. Sedangkan nilai economic welfare sebuah kebijakan nasional sistem penyiaran harus mampu menyiapkan sarana dan prasarana terbentuknya masyarakat informasi, dan tingkat kompetisi dan kepemilikan yang mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.6
Selain masalah perhatian terhadap GPI, perdebatan tentang sebuah kebijakan di bidang media massa atau system penyiaran tidak bisa meninggalkan pemahaman tentang responsibility of the media (RoM). Sebuah ungkapan yang mengacu kepada pertanggungjawaban media kepada masyarakat dan tatacara media mendengar dan mempertimbangkan public (Bardoel, 2004), atau “obligations and expectations”
(McQuail, 2000), atau dalam tingkatan social, masuk dan mendorong terbentuknya wilayah publicsphere (Habermas, 1996).
Persoalannya adalah siapa yang disebut dengan publik itu ? Ada yang memahami sebagai warga, consumer, audience, atau konstituen. (McQuail, 2000; Wiio, 1983). Oleh karena itu, logika tanggungjawab sosial media kepada masyarakat bisa berbeda‐beda
6 Ini sejalan dengan pandangan Osmo A Wiio (dalam Wiio, Osmo A. 1983. “The Mass Media Role in the Western World”
dalam Martin, John, J. dan Chaudhary, Anju Gover. 1983. Comparative Mass Media System. New York : Longman Inc.,) yang melihat kepemilikan, kebebasan dan keterbukaan sebagai faktor yang penting di dalam mengidentifikan dan mengkonstruksikan system penyiaran. Jadi pandangan Wiio dalam konteks penelitian ini, membantu memperkuat untuk mengidentifikasikan apakah system penyiaran yang digagas tersebut memberikan proporsi yang memadai untuk pengaturan kepemilikan sehingga bisa tercipta sebuah akses media yang lebih demokratis, memberi ruang ekspresi yang bebas dan terbuka.