• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN LAPANGAN PANASBUMI WAYANG WINDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN LAPANGAN PANASBUMI WAYANG WINDU"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

TINJAUAN LAPANGAN PANASBUMI WAYANG WINDU

2.1. Tinjauan Umum

Sumur Beta 2 Lapangan Panasbumi Wayang Windu, Jawa Barat, Indonesia diinterpretasikan sebagai lapangan panasbumi peralihan antara jenis vapor dominated dengan jenis liquid dominated, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.1. sumur pada bagian Utara memproduksi fluida yang berasal dari vapor-dominated reservoir, sedangkan sumur pada bagian Selatan memproduksi fluida yang berasal dari deep liquid reservoir. Lapangan Panasbumi Wayang Windu memiliki empat pusat fluid upwelling dengan dua pusat fluid upwelling tersebut berasosiasi dengan sebagian besar Gunung Malabar andesite stratovolcano dan dua pusat lainnya berasosiasi dengan kelurusan yang lebih kecil antara Gunung Wayang dan Gunung Windu andesitic volcanoes menuju bagian Selatan, secara umum pada bagian Selatan memiliki umur batuan lebih muda dan lebih berjenis liquid dominated.

Luas keseluruhan potential resource area sebesar 40 km2. Sumur dalam (deep well) dapat mencapai liquid reservoir, dengan jarak antara 0 – 400 meter diatas sea level, secara umum akan bertambah dalam pada bagian Selatan. Deep liquid reservoir dilapisi oleh tiga vapor dominated reservoir terpisah, dimana bagian paling Utara merupakan bagian terbesar dikarenakan merupakan gabungan dua pusat fluid upwelling yang berbeda.

Pada bagian Utara, diketahui area ini memiliki kandungan gas rendah, produktivitas dapat berlangsung lama dan tekanan konstan. Hubungan mineralogi menunjukkan vapor zone bagian Utara pada mulanya merupakan liquid dominated zone dengan water level pada elevasi 1700 meter diatas sea level. Tahap berikutnya, adanya penguapan yang berkurang dapat merefleksikan laju alir recharge yang rendah mengarah pada adanya isolasi hidrologi dibawah permukaan.

Pada bagian Selatan, vapor dominated reservoir mengalami penurunan ketebalan dan memiliki karakteristik antara lain tekanan, temperatur dan kandungan gas yang cukup tinggi menandakan vapor dominated zone paling Selatan memiliki umur batuan lebih muda dan akan semakin tua apabila kearah Utara.

(2)

Gambar 2.1.

Skema Letak Lapangan Panasbumi yang Terdapat pada Sunda Arc 3)

2.2. Geologi Regional

Lapangan Panasbumi Beta 2 Wayang Windu terletak kira-kira 35 km Selatan kota Bandung ibukota Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.1. Lapangan Panasbumi Wayang Windu merupakan satu diantara beberapa cluster lapangan panasbumi high temperature dan high enthalpy yang mengelilingi Kota Bandung, adapun lapangan panasbumi lainnya antara lain Lapangan Panasbumi Darajat (Hadi et.al., 2003), Lapangan Panasbumi Kamojang (Utami, 2000), Lapangan Panasbumi Karaha-Talaga Bodas (Moore et.al., 2002 & 2004), Lapangan Panasbumi Papandayan (Wibowo, 2006), Lapangan Panasbumi Patuha (Layman & Soemarinda, 2003), Lapangan Panasbumi Tampomas (Wibowo, 2006) dan Lapangan Panasbumi Tangkuban Perahu (Wibowo, 2006). Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2.

Lapangan-lapangan panasbumi tersebut terdapat pada lapisan andesitic dimana dataran tinggi vulkanik terbentuk oleh sebuah konsentrasi pusat vulkanik yang merupakan bagian dari Sunda arc

(3)

Gambar 2.2.

Skema yang Menunjukkan Lapangan Panasbumi Wayang Windu Merupakan Bagian dari Bandung Volcanic Complex 11)

Kota Bandung terletak pada sebuah basin (Dam, 1994) berdekatan dengan pusat dataran tinggi vulkanik. Basin tersebut bukan merupakan back-arc basin, tetapi merupakan volcanic arc. Arc ini terbentuk sebagai hasil subduksi kearah Utara antara Australian-Indian plate dengan Eurasian plate yang telah terjadi sejak zaman Cretaceous (Whittaker et.al., 2007). Subduksi kearah Utara tersebut mengakibatkan maximum horizontal stress dengan kecenderungan arah Utara-Selatan yang paralel dengan plate convergence. Stress tersebut menghasilkan regional yang cenderung kearah Utara-Timur laut strike-slip faults, yang kemungkinan memberikan important structural control terhadap distribusi sumber panas dan permeabilitas untuk geothermal systems lapangan panasbumi didaerah Jawa Barat (Mandala Nusantara Ltd, 1997 op cit Unocal Geothermal of Indonesia, 2002).

(4)

2.2.1. Geologi Permukaan (Surface)

Geologi permukaan pada contract area Lapangan Panasbumi Wayang Windu telah dipetakan dan dipelajari melalui studi aerial photography dan field mapping oleh banyak pihak seperti Mandala Nusantara Ltd (1997), Bogie & McKenzie (1998), Sinclair Knight Merz Ltd (2001), Unocal Geothermal of Indonesia (2002), Pieters et.al.

(2005), Asrizal et.al. (2006) dan Bronto S. (2009).

Secara fisiografi, Terdapat tiga satuan geomorfologi dalam contract area Lapangan Panasbumi Wayang Windu, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.3.

antara lain :

 Gunung Malabar volcanic complex pada bagian Utara.

 Gunung Windu-Wayang-Bedil massif pada bagian Selatan-Timur.

 Pangalengan intermountain plateau, yang menyatukan Gunung Malabar dengan bagian Selatan dan Gunung Windu-Wayang-Bedil dengan bagian Barat.

Gambar 2.3.

Peta Fisiografi Lapangan Panasbumi Wayang Windu 11)

(5)

Pada contract area Lapangan Panasbumi Wayang Windu terdapat dua pusat erupsi, yang kemudian dinamakan northern eruption center dan eastern eruptive center (Asrizal et.al., 2006). Northern eruption center terdiri atas Malabar dan Puncak Besar volcanic complex yang terbentuk dari beberapa caldera. Sedangkan eastern eruptive center diwakili oleh Windu-Wayang-Bedil domes kearah Timur laut-Barat daya, dimana Windu domes terletak pada bagian Selatan paling Barat dari rangkaian tersebut dan Bedil domes terletak pada bagian Utara paling Timur (Gambar 2.4).

Gambar 2.4.

Volcanic Eruption Center pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu 11)

(6)

2.2.1.1. Penyebaran Patahan (Fault)

Patahan (fault) yang mengarah Utara-Timur dan Utara-Timur laut merupakan patahan utama yang mengontrol penyebaran daerah produksi bagian Selatan (WWA pad dan WWF pad) Lapangan Panasbumi Wayang Windu. Arah patahan seperti ini tidak hanya ditemukan pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu tetapi juga ditemukan pada Lapangan Panasbumi Kamojang dan Darajat.

Gambar 2.5.

Penyebaran Patahan (Fault) pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu 11)

Penyebaran patahan ini diidentifikasi hingga mencapai slope bagian Selatan Gunung Malabar. Sedangkan, pada bagian Utara Lapangan Panasbumi Wayang Windu

(7)

(MBD pad dan WWQ pad) sumur-sumur produksi kemungkinan dikontrol oleh patahan yang mengarah Utara barat laut-Selatan Tenggara, yang diduga sebagai orientasi struktur utama kedua. Yang ketiga, berpotensi menjadi struktur utama adalah patahan yang mengarah Barat laut-Tenggara, yang dipercaya bahwa struktur ini merepresentasikan minor horst dan graben yang mengganggu patahan arah Utara- Timur. Horst tersebut kemungkinan merepresentasikan block dengan permeabilitas rendah yang memisahkan reservoir hingga menjadi beberapa reservoir lebih kecil (Mandala Nusantara Ltd, 1997).

Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd (2009) telah memetakan major fault dan rekahan (fracture) berdasarkan pada data pemboran, data geophysical well logging, data micro earthquake, data spinner test dan data geologi permukaan termasuk data remote sensing. 1st rank adalah patahan yang telah ditunjukkan oleh kebanyakan data, sementara 4th rank merupakan patahan yang ditunjukkan hanya oleh data geologi permukaan. Hal ini memunculkan dugaan adanya patahan utama yang mengontrol geothermal system dan permeabilitas yang mengarah Timur laut-Barat daya, Utara Barat laut-Selatan Tenggara dan Barat laut-Tenggara. 1st rank didominasi patahan yang mengarah Timur laut-Barat daya. Peta geologi yang dibuat oleh Pieters et.al., (2005) kemudian digabungkan dengan peta struktur yang diinterpretasikan oleh Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd (2009) ditunjukkan pada Gambar 2.5.

2.2.1.2. Manifestasi Permukaan

Unocal Geothermal of Indonesia (2002) dan Pieters et.al. (2005) menyebutkan bahwa thermal surface manifestation pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu hanya terdiri atas fumaroles dan bicarbonate hot springs, altered ground (beberapa dengan steam) dan tidak ditemukannya chloride hot springs, akan tetapi Bogie et.al., menyebutkan adanya keberadaan acid sulphate springs tetapi lokasi manifestasi tersebut tidak diterangkan dalam publikasinya. Ketidakhadiran chloride water dapat diindikasikan bahwa steam ataupun vapor mendominasi fluida reservoir Lapangan Panasbumi Wayang Windu.

Fumaroles yang ditemukan pada Kawah Burung (daerah bagian Utara) dan Kawah Windu (daerah bagian Selatan) mengindikasikan adanya gas maupun steam yang berada didalam reservoir. Kedua jenis fumarole yang terpisah ini dapat berasal

(8)

dari reservoir terdekat. Implikasi lainnya, hal ini mengindikasikan adanya dua lokasi reservoir yang berbeda, kemungkinan pada bagian Selatan berasal dari Windu-Wayang massif sedangkan pada bagian Utara berada diantara Gunung Gambung dan Gunung Puncak Besar.

Gambar 2.6.

Peta Manifestasi Permukaan Lapangan Panasbumi Wayang Windu 11)

Altered ground yang berasosiasi dengan hot springs dan fumaroles menyebar dari bagian Timur hingga bagian Utara Lapangan Panasbumi Wayang Windu.

Meskipun silicified rock (lingkaran merah pada Gambar 2.6) hanya terdapat pada bagian Utara, ±1 km Tenggara dari Kawah Burung, hal ini memunculkan dugaan adanya sistem reservoir yang telah mengalami evolusi rumit pada satu periode awal

(9)

ketika tekanan reservoir sangat lebih tinggi apabila dibandingkan dengan keadaan saat ini.

2.2.2. Geologi Bawah Permukaan (Subsurface)

2.2.2.1. Stratigrafi

Batuan bawah permukaan Lapangan Panasbumi Wayang Windu merupakan tipe batuan hasil andesitic stratovolcanoes, termasuk didalamnya lava flows, flow breccias, lahars dan beberapa pyroclastics rocks berupa tuffaceous breccias hingga massive lapilli dan crystal tuffs. Dimana pada bagian reservoir yang lebih dalam diidentifikasi adanya intrusive rocks berupa microdiorite dan dolerite dikes.

Lima formasi berbeda kemudian diidentifikasi dan dinamakan sebagai formasi Wayang Windu, formasi Malabar, formasi Pangalengan, formasi Waringin dan formasi Loka. Berdasarkan pada studi regional, formasi Jambang yang berumur Tertiary diidentifikasi sebagai regional basement rock. Formasi Jambang terdiri atas tuffaceous sandstone, pumice tuff, claystone, conglomerate dan lignite serta lensa-lensa sandy limestone dan reef limestone (Mandala Nusantara Ltd, 1997) yang kemudian terintrusi oleh quartz diorite berumur Tertiary. Tidak ada satupun sumur pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu yang dapat mencapai basement.

Reservoir rocks terdiri atas batuan berumur Pliocene hingga early Quaternary (lebih tua daripada 1 Ma) volcanic complex yang kemungkinan terdiri atas formasi Waringin dan atau formasi Pangalengan. Adapun pada bagian Utara, sangat memungkinkan umur batuan reservoir sama dengan bagian bawah dari formasi Malabar. Sementara, formasi Malabar kemungkinan merupakan bagian kecil yang membentuk reservoir bagian atas seperti yang diperlihatkan peta geologi Lapangan Panasbumi Wayang Windu pada Gambar 2.7. Sedangkan, pembagian stratigrafi Lapangan Panasbumi Wayang Windu dapat dilihat pada Gambar 2.8.

(10)

Gambar 2.7.

Peta Geologi Lapangan Panasbumi Wayang Windu 11)

Batuan vulkanik pada umumnya sangat rumit sehingga tidak mudah dalam mengkorelasikan dari satu sumur dengan sumur yang lainnya, sehingga interpretasi yang paling baik adalah dengan mengelompokkan batuan tersebut kedalam satu facies asal yang sama. Untuk mengkorelasikan batuan bawah permukaan dari struktur andesites stratovolcano yang ada maka digunakan facies model yang dimodelkan oleh Bogie & McKenzie (1998) seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.9. Model tersebut memperkirakan adanya intrusive rocks dan lava flow yang cukup tebal berasosiasi dengan central dan proximal facies serta adanya pyroclastics yang cukup tebal dan lahars yang dihubungkan dengan medial dan distal facies.

(11)

Gambar 2.8.

Penampang Stratigrafi Lapangan Panasbumi Wayang Windu 8)

Marker beds untuk satuan batuan yang dipelajari dapat berasal dari core dan atau thin section serta digunakan dalam mengontrol korelasi lithologi ataupun satuan facies. Markers tersebut termasuk ketebalan individual beds, komposisi batuan, ukuran phenocrysts dan lainnya seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.10.

Satuan batuan yang terdapat pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu dapat diklasifikasikan dalam empat facies, dinamakan central-proximal facies yang umumnya terdiri dari lava dan breccias, selanjutnya adalah proximal-medial facies yang umumnya terdiri dari breccias dan tuff breccias, serta medial-distal facies yang umumnya terdiri atas lapilli dan tuffs.

(12)

Gambar 2.9.

Facies Model yang Digunakan Pada Mapping Geologi Bawah Permukaan Lapangan Panasbumi Wayang Windu 2)

Gambar 2.10.

Cross Section Utara-Selatan Menggunakan XRF Data untuk Mengkorelasikan Kelompok Facies 2)

(13)

2.2.2.2. Alterasi

Berdasarkan pada data pemboran, alterasi yang umum dijumpai berupa argilic pada kedalaman relatif dangkal yang melapisi propyllitic. Pada reservoir bagian Utara terutama sumur-sumur yang berada pada sisi Selatan Gunung Puncak Besar, epidote ditemukan pada temperatur diatas 240 °C dan menunjukkan persesuaian yang baik dengan 250 °C isotherm. Sedangkan pada bagian Selatan terutama sumur-sumur yang berada pada sisi Barat Windu-Wayang-Bedil massif, epidote umumnya ditemukan pada temperatur mendekati 270 °C, hal ini kemungkinan diakibatkan bagian Selatan masih mengalami heating up ataupun dapat dikarenakan adanya kandungan gas yang cukup tinggi pada reservoir bagian Selatan. Tabel 2-1. menunjukkan mineral alterasi yang terdapat pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu.

Tabel II.1.

Mineral Alterasi Pada Lapangan Wayang Windu 8)

Batuan yang mengalami alterasi menjadi argilic melapisi reservoir Wayang Windu, merupakan kumpulan mineral smectite, campuran smectite-illite dan campuran smectite-chlorite clays bersama dengan calcite, chalcedony, quartz dan pyrite. Alterasi clay tersebut berfungsi sebagai caprock bagi reservoir yang memiliki sifat permeabilitas rendah. Laporan Sinclair Knight Merz Ltd menyebutkan retrograde argilic alteration

(14)

melapisi propyllitic alteration terdapat pada sumur MBE-1 dan WWQ-4 yang masih dalam batas steam cap sehingga mengindikasikan sumur tersebut kemungkinan terletak berdekatan dengan batas Selatan dan Timur dari steam cap.

Gambar 2.11.

Penyebaran Sumur-sumur pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu 3)

Advance argilic mengandung alunite, pyrophyllite dan dickite (mengindikasikan alterasi jenis asam) ditemukan pada sumur WWD-1, MBD-3, WWR pad, WWC pad dan WWF-1. Pada sumur WWD-1 dan MBD-3 argilic yang ditemukan kemungkinan merupakan hasil akibat dari lokasi sumur yang berdekatan dengan fumarole. Untuk sumur yang berada pada WWR pad dan WWC pad, argilic kemungkinan dipengaruhi oleh adanya fumarole yang masih aktif hingga sekarang, sedangkan pada sumur WWF- 1 kemungkinan dipengaruhi acid fluid alteration dikarenakan pada saat ini sumur yang berada dalam WWF pad memproduksi neutral fluid.

Phyllic alteration terdiri atas dickite, pyrophyllite dan sericite ditemukan pada sumur MBB, MBD-2, MBA-1, MBA-2, MBA-3, WWW-1 dan WWF pad didaerah ini lah dilakukan pemboran sumur Beta 2. Phyllic terdapat pada dasar lubang sumur dan tidak ditemukan lagi dilokasi lainnya pada Lapangan Panasbumi Wayang Windu.

Adapun penyebaran sumur-sumur tersebut diperlihatkan pada Gambar 2.11.

Gambar

Tabel II.1.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk pertunjukan wayang purwa biasanya diperlukan tiga batang pisang yang cukup panjang, yang dalam bahasa jawa disebut dengan nama dhebog atau gedhebog, dari jenis

Jenis mesin Stirling yang dikenal sebagai tipe “beta dan gamma”, menggunakan displacer (pemindah panas) mekanis yang telah terisolasi untuk mendorong gas kerja

karotenoid pada madu tersebut berasal dari tepung sari bunga sumber nektar yang diambil oleh lebah.. Jenis pigmen karotenoid tersebut antara lain beta karoten Kandungan beta

Sistem klasifikasi tanah berdasarkan tekstur terlalu sederhana karena hanya berdasarkan pada distribusi ukuran butirannya saja. Padahal dalam kenyataannya di lapangan jumlah dan

Peralihan jenis ini biasanya digunakan dalam percakapan antar tokoh dalam sebuah komik. Lingkup atau wilayah dalam komik biasanya berada pada wilayah serta adegan yang

Selama penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di Bagian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat terdapat berbagai kegiatan insidentil atau kegiatan yang tidak

Dalam melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) pada Bagian Humas dan Protokol Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat, penulis melakukan aktivitas rutin yakni kegiatan yang

commit to user.. tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin ini merupakan Jenis protein yang potensial menyebabkan alergi. Kadar lemak tinggi ini dibutuhkan untuk