28 BAB II
KERJA SAMA MILITER INDONESIA DAN SINGAPURA
2.1. Hubungan Diplomatik Indonesia-Singapura
Bagi Boer Mauna, hubungan diplomatik merupakan upaya suatu negara untuk berunding dengan negara lain untuk mencari dan melindungi kepentingannya, dan sekaligus berusaha untuk mencapai kepentingan bersama.1 Hubungan diplomatik kedua negara merupakan bagian penting dari kerjasama internasional. Ini adalah pertukaran resmi antarnegara, yang ditandai dengan saling menerima perwakilan internasional.
Pada tanggal 8 Agustus 1967, Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina dan Singapura menyetujui Deklarasi Bangkok. Deklarasi ini menandai awal lahirnya ASEAN. Selain itu, hubungan diplomatik Indonesia terhadap Singapura secara resmi dimulai pada tanggal 7 September 1967.2 Menlu RI Adam Malik diundang Menlu Singapura S. Rajaratnam untuk mengajak Indonesia menjalin kerjasama bilateral.3 Sejak saat itu, kedua negara telah bertukar proposal kerja sama di berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik, keamanan, dan sosial budaya.
1 Boer Mauna, 2003, Hukum Internasional Pengertian, Peranan, dan fungsi dalam Era Dinamika Global, Bandung: Alumni, Hal. 510.
2 Esthi Maharani, “Melawat ke Jakarta: Presiden Singapura Disambut SBY”. Website Republika, artikel diakses pada 7 Mei 2019 dalam
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/11/28/me6zu8-melawat-ke-jakarta-presiden- singapura-disambut-sby
3 http://www.mfa.gov.sg/content/mfa/overseasmission/jakarta/about_the_embassy.html
29
Hubungan Indonesia-Singapura pada masa pemerintahan Lee Kuan Yew-Presiden Soeharto sangat erat. Pada tanggal 25 Mei 1973, Indonesia dan Singapura sepakat untuk menetapkan batas laut kedua negara di Selat Singapura.4 Kerja sama ini pertama kali setelah lima tahun saling membuka hubungan diplomatik pada 1967.
Pada tahun 1980, Indonesia dan Singapura memulai kerjasama di bidang ekonomi. Perjanjian antara kedua Negara ditandatangani di Singapura pada tanggal 31 Oktober 1980, dan mencakup kerjasama ekonomi dalam rangka pengembangan wilayah Batam.5 Kerjasama yang dicapai dalam bentuk lahan yang semakin banyak dan tenaga kerja yang lebih murah. Karena keterbatasan lahan dan tenaga kerja, sulit bagi Singapura untuk melakukan industrialisasi. Oleh karena itu, Singapura memlih Batam sebagai kawasan kerjasama ekonomi untuk kemajuan dan perkembangan kedua Negara.6 Kemitraan Singapura-Batam didirikan atas nama Batam, Bintan dan Karimun (BBK), yang merupakan zona perdagangan bebas. Singapura juga berinvestasi dalam pertumbuhan ekonomi kawasan.
Kemudian, pada tanggal 28 Juni 1991 di Jakarta, Indonesia dan Singapura bekerjasama untuk mengembangkan sumber daya air di Provinsi Riau. Singapura ingin mencari alternatif untuk memasok air bersih dari Indonesia ke negaranya, agar tidak terlalu bergantung pada Malaysia.7 Kerjasama ini masih berlangsung
4 “Perjanjian Internasional”. Website Kemenlu, diakses pada 7 Mei 2019 dalam http://treaty.kemlu.go.id/index.php/treaty/index
5 Ibid.
6 “DK FTZ Batam, Bintan, Karimun Harus Punya Tim Analisis”. Website Metrobatam, diakses pada 7 Mei 2019 dalam http://www.metrobatam.com/index.php/life-style/19-all-artikel/news/540- dk-ftz-batam-bintan-karimun-harus-punya-tim-analisis
7 “Perjanjian Internasional”. Website Kemlu, diakses pada 7 Mei 2019 dalam http://treaty.kemlu.go.id/index.php/treaty/index
30
dan diperkirakan akan berlangsung selama 100 tahun sejak pertukaran statuta yang telah disetujui. Di bidang pertahanan, kerja sama kedua negara baru berlangsung pada Juni 1980.8 Hal ini dicapai melalui latihan bersama yang dilakukan oleh angkatan bersenjata kedua negara. Bentuk kerjasama pertahanan ini disebut Latihan Bersama Elang Indopura 1/80.
2.2. Kerja sama Militer Indonesia – Singapura
Dalam penelitian tradisional, pertahanan negara sering digambarkan dalam konteks membela negara dari ancaman fisik eksternal (militer). Namun perkembangan global saat ini menimbulkan ancaman terhadap pertahanan Negara dan ancaman non militer atau non tradisional.9 Dalam rangka menjaga pertahanan dan keamanan negara dalam menghadapu ancaman tersebut, negara seringkali meningkatkan kekuatan dan kemampuan militernya untuk memperkuat kemampuan pertahanan negaranya, salah satunya dengan melibatkan Negara lain.
Dalam hal ini, Cooperative Security dapat menjadi contoh ketertarikan dan partisipasi suatu negara dengan negara lain dalam kerangka kerjasama pertahanan.
Salah satu cara untuk tujuan bela negara adalah dengan menggunakan diplomasi pertahanan. Kerjasama pertahanan dan praktik diplomasi pertahanan juga menjadi salah satu agenda politik luar negeri Singapura.10
Struktur pertahanan Indonesia mencakup sistem pertahanan semesta untuk mencapai tujuan nasional. Setidaknya, tujuan nasional ini akan selalu sejalan dengan kepentingan nasional yang dalam Buku Putih Pertahanan Kementerian
8 F. Djoko Poerwoko. Ekstradisi Mungkinkah Kedaulatan Dilepas. Kompas. 29 Juni 2007. Hal. 57 9 Buku Putih Pertahanan RI, 2015. Kementrian Pertahanan. Hal . 7
10 MINDEF. (2007, April 27). Mindef Singapore. Retrieved Januari 22, 2018, from Mindef Singapore: Oficial Releases: 0) https://www.mindef.gov.sg/imindef/pr
ess_room/official_releases/nr/2007/apr/27apr07_ nr.htm
31
Pertahanan, kepentingan nasional adalah untuk menjaga dan melindungi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, serta menjamin kelancaran pembangunan nasional untuk mencapai tujuan nasional.11 Penelitian ini akan membahas pengembangan kemampuan pertahanan militer yang berkelanjutan dan mengadaptasi kemampuan pertahanan tersebut untuk menghadapi berbagai kemungkinan tantangan dan perkembangan kemampuan pertahanan strategis jangka panjang.12
Untuk mengukur kekuatan pertahanan, dapat dilihat bahwa kapasitas pertahanan negara dinilai dari sumber daya material yang dimiliki oleh negara untuk diubah menjadi kekuatan militer. Namun, menurut Jasjit Singh, ada 3 hal yang menjadi alat untuk menganalisis kemampuan pertahanan negara, yaitu Manpower (jumlah angkatan bersenjata), Machine (alat utama sistem
persenjataan), dan Money (anggaran).13 Dalam analisa Active military manpower14 menunjukan bahwa jumlah tentara Indonesia berdasarkan jumlah penduduk yang tersedia kurang lebih 130 juta dengan angkatan bersenjata yang aktif 435 ribu dengan demikian hanya 0,4% dari total penduduk yang aktif. Oleh karena itu, sebagai negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbanyak di dunia, Indonesia masih belum dapat menggunakan sumber daya manusianya untuk meningkatkan kemampuan militernya. Singapura memiliki sumber daya manusia yang lebih
11 Buku Putih Pertahanan, Op. Cit., hal. 26-27 12 Ibid., hal 101-102
13 Jasjit Singh, “Planning Military Power for the Future”, dalam Air Power Journal Vol. 2, No. 4 Winter 2005 (October-December), New Delhi: Center for Air Power. Hal. 57, diunduh dari http://www.aerospaceindia.org/Journals/Winter%202005/Planning%20Military%20Power%20for
%20the%20Future.pdf
14 Active military manpower, diunduh dari https://www.globalfirepower.com/active- militarymanpower.asp diakses pada 16 Februari 2020.
32
sedikit daripada Indonesia, di antara jumlah penduduk, jumlah sumber daya manusia yang tersedia adalah 1,2 juta penduduk, sedangkan untuk angkatan bersenjata yang aktif, Singapura hanya memiliki 72.000 pasukan.15 Dengan demikian, dari sisi jumlah SDM dan angkatan bersenjata Singapura jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia.
Selanjutnya Machine / alat utama sistem persenjataan, merupakan komponen utama yang digunakan untuk mengukur kemampuan pertahanan suatu negara, termasuk perlengkapan militer atau senjata militer / Alutsista.. Dalam peringkat global yang diukur dari penguasaan senjata dan peralatan Indonesia, Indonesia menempati urutan ke-26 di dunia untuk kepemilikan senjata di darat, ke-28 untuk jumlah kapal, dan ke-34 untuk total pesawat terbang.16 Dilihat dari kemampuan skala darat, laut dan udara Indonesia menunjukkan bahwa TNI sangat lemah dan tidak efisien. Sebab jika melihat kondisi alutsista TNI masih harus memenuhi standard, seperti minimal basic power yang harus dipenuhi. Dari sisi jumlah pesawat, Indonesia mempunyai 441, Singapura 226, Indonesia mempunyai 418 tank, Singapura 196, Indonesia mempunyai 221 aset angkatan laut, dan Singapura punya 40. Perbandingan jumlah tersebut sangat jauh jika dilihat dari jumlah aset dan kepemilikan alutsista antara Indonesia dan Singapura.
Terakhir adalah money atau biasa disebut anggaran pertahanan negara yang dikeluarkan oleh suatu negara. Seperti kita ketahui bersama, anggaran pertahanan Indonesia akan selalu tidak tetap, yang mempengaruhi setiap realisasi postur pertahanan. Dibandingkan dengan Singapura yang memiliki anggaran
15 Ibid.,
16 Machine Military Power, diunduh dari https://www.globalfirepower.com/active- militarymachine.asp diakses pada 17 Februari 2020.
33
pertahanan lebih tinggi dari Indonesia, Singapura menempati urutan ke-23, sedangkan anggaran pertahanan Indonesia menempati urutan ke-30.17
Kerja sama pertahanan antara Singapura dengan Indonesia telah berlangsung selama 26 tahun yang disebut Latma Indopura dan berbentuk SAFKAR-INDOPURA untuk TNI AD, EAGLE-INDOPURA untuk TNI ANGKATAN UDARA dan EAGLE-INDOPURA untuk TNI AL. Kerja sama tersebut dimulai pada tahun 1974 dan berlanjut sampai tahun 1980-an.18 Pada Maret 1989, kedua belah pihak bekerja sama untuk mendirikan pangkalan, pangkalan pelatihan penembakan udara di Riau, dan pangkalan pelatihan infanteri di Baturaja, Sumatera Selatan.
Saat ini, Indonesia dan Singapura telah melakukan berbagai latihan militer bersama, dan pengamanan Selat Malaka serta kawasan latihan militer (MTA) yang sudah mulai berjalan efektif di bidang pertahanan dan keamanan negara.
Perjanjian tersebut dibuat pada tanggal 21 September 1995, dimana MTA 1 terletak di Pulau Tanjung Pinang dan MTA 2 terletak di Laut Cina Selatan.
Namun, perjanjian tersebut diakhiri secara sepihak oleh Indonesia pada tahun 2003 dan akan dikaji kembali karena Singapura selalu bermasalah dengan melanggar wilayah yang telah ditetapkan dalam perjanjian MTA, serta keinginan Singapura melibatkan pasukan dari negara lain yaitu Amerika Serikat dan Australia yang melakukan latihan di wilayah teritorial Indonesia.
17 Annual Defense Budget, diunduh dari https://www.globalfirepower.com/active- militarymanpower.asp diakses pada 17 Februari 2020.
18 Multazam Ibrahim, (2015). Tinjauan hukum internasional tentang sewa-menyewa pulau yang dijadikan wilayah pertahanan (Studi kasus Defense Cooperation Indonesia- Singapura).
Universitas Hasanuddin. Hal 65
34
Di bidang pertahanan dan keamanan, kerja sama meliputi pengamanan bersama di Selat Malaka, latihan militer bersama secara rutin, dan melatih tentara Indonesia untuk berangkat ke Singapura. Berada di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran dan komunikasi terpenting karena memegang peranan yang sangat penting dan hampir 72% dari kapal tanker di dunia dan lebih dari 500 kapal berlayar melewati selat ini setiap harinya. Karena letaknya yang strategis, hal ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa kelompok sebagai peluang untuk memasukkan barang-barang secara illegal ke seluruh dunia dan juga menimbulkan terjadinya pembajakan kapal yang sangat membahayakan kehidupan di sekitarnya. Oleh karena itu, pengamanan di sepanjang Selat Malaka menjadi fokus perhatian negara-negara yang dilewatinya.
Negara-negara tersebut mengadakan patroli bertajuk "Malsindo Trilateral Coordinated Patrol" di Batam pada tanggal 20 Juli 2004 yang dikoordinir oleh tiga negara antara Malaysia-Singapura-Indonesia
Pentingnya kerjasama regional dan internasional untuk melindungi keamanan dunia dari ancaman keamanan nasional seperti teroris dan penyelundupan manusia secara illegal (human trafficking), perdagangan narkoba, penjualan senjata api secara ilegal, pencucian uang serta pembajakan kapal laut.
Kerja sama yang didasarkan pada keadilan, saling menghormati dan saling menguntungkan, tanpa mengorbankan kepentingan nasional masing-masing negara. Kegiatan ini diharapkan dapat lebih meningkatkan hubungan kerja sama antara ketiga negara khususnya kerja sama antara Tentara Nasional Indonesia, Angkatan Tentara Malaysia dan Singapore Armed Forces dapat menciptakan kestabilan, kedamaian dan kemakmuran diwilayah regional serta keamanan
35
kawasan. Tahap pertama adalah pertukaran terus menerus selama 24 jam antara angkatan laut ketiga negara, terutama lalu lintas maritim yang melalui Selat Malaka dan Selat Singapura, kemudian dilanjutkan dengan patroli udara tiga negara.
Kesepakatan akan perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura sangat diinginkan pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an, ketika Indonesia memprakarsai perjanjian ekstradisi dengan beberapa negara tetangga, antara lain Filipina, Malaysia, Thailand, Australia, Hongkong, dan Korea Selatan. Indonesia telah memulai pembahasan perjanjian ekstradisi untuk korupsi serta penjahat ekonomi lainnya sejak 1979, namun Singapura tidak menanggapi saat itu dengan alasan perbedaan dalam sistem hukum dan selalu menunda penandatanganan perjanjian. Menurut Singapura, perjanjian ekstradisi sulit dilaksanakan. Perjanjian ini mencakup 31 kejahatan, termasuk terorisme, korupsi, penyuapan, pemalsuan uang, kejahatan perbankan, pelanggaran hukum perusahaan, dan kebangkrutan.
Namun, masih mungkin untuk meningkatkan kejahatan lainnya di masa mendatang, terutama kejahatan baru. Melalui perjanjian ekstradisi, pemerintah berharap aparat penegak hukum di Indonesia dan Singapura mempunyai wewenang lebih dalam memburu dan mengejar tersangka, terutama dalam kasus korupsi dan pengembalian aset individu yang dikorupsi.
Singapura telah menunjukkan perubahan sikap sejak akhir tahun 2004.
Pada pertemuan bilateral kedua kepala negara Singapura dan Indonesia yang diadakan di Tampak Siring, Bali pada tanggal 4 Oktober 2005, telah terbentuk kesepakatan, yaitu proses negosiasi perjanjian ekstradisi dan perjanjian kerja sama baru di sektor pertahanan. Setelah lebih dari 30 tahun proses negosiasi yang
36
panjang dan dinamis, pada 27 April 2007, dicapai kesepakatan kerja sama pertahanan DCA (Defence Cooperation Agreement).19 Perjanjian tersebut ditandatangani bersamaan dengan perjanjian ekstradisi (Extradition Treaty).
Penandatanganan perjanjian tersebut membuka babak baru bagi hubungan antara Indonesia dan Singapura. Secara historis, Singapura hanya menyelesaikan perjanjian ekstradisi dengan negara-negara Persemakmuran dan berinteraksi dengan Sekutu. Perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura merupakan sinyal positif dari Singapura ke Indonesia.
Salah satu isi perjanjian pertahanan antara Indonesia dan Singapura adalah mengizinkan Singapura untuk melakukan latihan militer dan melakukan latihan bersama dengan negara-negara lain di wilayah Indonesia. Singapura adalah negara kecil dengan efektivitas tempur yang kuat. Pangkalan untuk seluruh armada tempur dan lokasi pelatihan militer mutlak diperlukan. Inilah sebabnya Singapura mau menandatangani perjanjian ekstradisi. Analisis lain mengungkapkan kekhawatiran tentang ancaman embargo pasir dan rencana pemerintah Indonesia untuk mengambil alih PT. Indosat Tbk dari Singapore Telecommunications Corporation dimulai pada awal 2007.
Ada kerugian dan keuntungan yang diperoleh oleh kedua negara.
Indonesia menuai keuntungan berupa pengembalian aset negara, penangkapan koruptor tanpa prosedur yang berbelit-belit serta peningkatan keterampilan personel TNI dalam penggunaan alutsista canggih dan modern Singapura. Untuk Indonesia, sis negatifnya adalah Singapura mengetahui kelebihan dan kekurangan
19 Pankaj Kumar Jha, “Singapore- Indonesia Extradition Treaty ad Defense Cooperation,” dalam website IPSC http://ipsc.org/article/southeast-asia/singaporeindonesia-extradition-treaty-an diakses pada 15 Februari 2020.
37
dari kondisi geografis tempat latihan TNI. Keunggulan Singapura adalah dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang militer.
Dalam suatu perjanjian antara dua negara atau lebih, diawali dengan proses negosiasi antara kedua pihak sebelum kesepakatan disetujui. Jika kedua belah pihak merasa saling diuntungkan, hasil negosiasi akan disetujui dan menjadi Memorandum of Understanding (MoU). Para pihak kemudian menandatangani
perjanjian dan masuk ke parlemen masing-masing untuk menyetujui kesepakatan tersebut. Sekalipun perjanjian pertahanan dan perjanjian ekstradisi telah ditandatangani, perjanjian itu tidak dapat segera dilaksanakan. Perjanjian ekstradisi harus disetujui oleh parlemen nasional, dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat. Proses ratifikasi dari DPR membutuhkan waktu beberapa tahun. Bahkan jika perjanjian telah diratifikasi, perjanjian ekstradisi mungkin tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Pelaksanaannya membutuhkan komitmen dan keseriusan antara kedua negara agar dapat terealisasi dengan baik.
Penandatanganan DCA dan MTA merupakan salah satu keuntungan geostratregis dan geopolitik Singapura. Dari segi geopolitik, Singapura tidak memiliki cukup lahan untuk pelatihan militer. Dengan demikian, melalui geostrateginya Singapura membuat perjanjian pertahanan dengan Indonesia, karena beberapa alasan, antara lain:
a. Apabila kekuatan militer Singapura semakin berkembang, maka akan dengan mudahnya Singapura mewujdkan tujuan politiknya untuk dapat memberikan pengaruh politik atas negara-negara tetangga seperti yang dilakukan
38
Amerika Serikat sekarang. Geostrategi merupakan upaya penguasaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui untuk kelangsungan hidup bangsa.
b. Singapura adalah negara kecil yang tidak memiliki wilayah untuk latihan militer. Selama bertahun-tahun Singapura menyewa wilayah di sejumlah negara dengan harga yang mahal. Dengan adanya perjanjian dengan Indonesia, Singapura tentunya tidak perlu lagi menyewa area untuk latihan militernya. Dalam penggunaan wilayah latihan itu (laut dan udara), Singapura bahkan bisa mengikutsertakan pihak ketiga, meski dengan meminta izin kepada Indonesia.
Indonesia dan Singapura telah menyepakati perjanjian DCA untuk ditandatangani dalam satu paket dengan perjanjian ekstradisi. Namun, sejak penandatanganan tersebut muncul pro dan kontra. Pro dan kontra ini telah menempatkan Indonesia dan Singapura dalam keadaan yang sangat berat. Kritik yang ditujukan pada isi kesepakatan itu tidak hanya terkait dengan proses sosialisasinya. Salah satunya melibatkan beberapa wilayah yang telah disepakati untuk dijadikan tempat latihan militer. Tentang hal ini beberapa pihak berpendapat antara lain:
a. Penetapan wilayah Indonesia sebagai tempat latihan militer bersama merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan NKRI, dan dikhawatirkan akan semakin memperkuat cengkeraman AS di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. . Jika demikian, itu berarti Indonesia telah membayar lebih untuk perjanjian ekstradisi dengan Singapura..
b. Perjanjian tersebut sebenarnya dapat digunakan sebagai alat yang sah bagi penyusupan kekuatan militer asing ke wilayah Indonesia dengan dalih latihan
39
bersama. Padahal, berkat kesepakatan ini, Indonesia bisa “diuntungkan” dari fasilitas militer Singapura. Namun, tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan bahaya keterlibatan pihak ketiga seperti Amerika Serikat di kawasan ini karena kehadirannya mau tidak mau akan mengancam kedaulatan Indonesia. Sementara itu, izin Indonesia untuk menggunakan fasilitas militer Singapura tentu bukan tanpa batas.
c. Jangka waktu berlangsungnya perjanjian ini adalah 25 tahun. Dalam jangka panjang dikhawatirkan akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi Indonesia. Karena selama ini Indonesia tidak memantau aktivitas militer Singapura di wilayah yang tercakup dalam perjanjian DCA.
2.3. Kerjasama Strategis dan Keamanan Indonesia-Singapura
Bentuk kerja sama pertahanan pertama antara Indonesia dan Singapura adalah diberi kode “Latma Elang Indopura 1/80” (Latihan Bersama Indonesia dan Singapura) yang dilaksanakan di Lapangan Udara (Lanud) Iswahyudi, Madiun.20 Latihan ini merupakan latihan tempur Republic of Singapore Armed Force (RSAF) dan ABRI (sekarang TNI). Latihan ini menggunakan pesawat F-86 Sabre dari TNI Angkatan Udara dan Hawke Hunter dari RSAF, yang berlangsung pada Juni 1980 di Indonesia.
Kemudia pada tahun 1989, pelatihan antara TNI dan RSAF meningkat, penambahan infrastruktur pelatihan dibangun seperti Air Weapon Range (AWR).
Kemudian pada tahun 1991, dikembangkan Air Combat Maneuvering Range (ACWR) untuk TNI ANGKATAN UDARA. Pada tahun yang sama Overland
20 Ibid
40
Flying Training Area (OFTA) dibangun untuk pilot kedua negara. Semua fasilitas
ini didirikan di Pekanbaru, Indonesia. Semuanya berpusat di Lapangan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin sebagai kantor pangkalan bersama.21
Pada tanggal 21 September 1995 – 14 April 2003, juga telah disepakati akses dua area latihan militer (Military Training Area/MTA) bagi Singapura, dan proyek bersama pembangunan sejumlah fasilitas latihan militer. Selama proses konstruksi, Singapura mendanai proyek kerjasama militer dengan Indonesia.
Pembangunan fasilitas latihan militer akan dilaksanakan di Provinsi Riau, Kepulauan Riau dan wilayah Baturaja Sumatera Selatan.22
Tentara Nasional Indonesia telah dapat berlatih di Singapura sejak 2011.
Ini merupakan perjanjian kerjasama pertahanan antara Singapura dengan Indonesia. Pada 27 Juni 2011, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen bertemu dengan Wakil Presiden Boediono di Jakarta. Pertemuan tersebut menyepakati untuk mengirim 600 perwira TNI setiap tahunnya dari Indonesia untuk dapat melakukan pelatihan militer di Singapura, demikian juga sebaliknya.23 Dengan melihat bentuk-bentuk kerja sama pertahanan yang dilakukan Indonesia dan Singapura, dapat disimpulkan bahwa kedua negara menyadari pentingnya kerjasama yang strategis untuk saling membantu di bidang pertahanan. Kolaborasi ini bukanlah aliansi, tetapi lebih sebagai kemitraan.
21 Ibid
22 Wisnu Dewabrata, Kerja sama Pertahanan Repotnya Menukar Uang untuk Ruang, Kompas, 16 Juni 2007, Hal. 36
23 Bayu Galih dan Aries Setiawan, 600 Perwira Latihan di Singapura Setiap Tahunnya, Website Viva, artikel diakses pada 7 Mei 2019 dalam http://nasional.news.viva.co.id/news/read/236176- 600-perwira-latihan-di-singapura-tiap-tahun
41
Artinya, Singapura telah memilih bersahabat dengan Indonesia dan bersama-sama menjaga keamanan negaranya masing-masing.
2.4. Keamanan Udara Indonesia
Untuk mencapai pertahanan yang kuat terhadap kemungkinan ancaman udara, negara perlu membuat dan menetapkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara atau Air Defense Identification Zone (ADIZ). Saat ini Indonesia telah menetapkan
Zona Identifikasi Pertahanan Udara di Pulau Jawa dan sekitarnya, yang dinilai berbeda dengan hukum kebiasaan masyarakat internasional, sehingga dianggap tidak tepat dan optimal. Penetapan Zona Identifikasi Pertahanan Udara Indonesia saat ini kurang tepat diukur dari lokasi dan luasnya karena meliputi wilayah udara di atas sebagian kecil Sumatera Selatan, Jawa dan Madura, Bali, Lombok dan sebagian kecil Pulau Sumbawa bagian barat. Praktik ini tidak banyak diterapkan oleh negara lain yang menempatkan ADIZ di luar wilayahnya. Dari perspektif teori Zona Identifikasi Pertahanan Udara Indonesia, bertentangan dengan sifat dan tujuan Zona Identifikasi Pertahanan Udara yang didefinisikan oleh teori Zona Identifikasi Pertahanan Udara, yaitu sebagai metode identifikasi awal sebelum pesawat memasuki wilayah udara nasional. Wilayah udara berupa ADIZ yang digunakan untuk identifikasi harus berada di luar wilayah udara nasional agar pesawat udara dapat mengidentifikasi atau melaporkan rencana penerbangannya (flight plan) terlebih dahulu sebelum memasuki wilayah udara, guna mengetahui secara dini apakah wilayah suatu negara sedang terancam. Dengan ditempatkan ADIZ Indonesia berada di atas udara wilayah Jawa sekitarnya maka fungsi ADIZ sebagai sarana identifikasi sebelum memasuki wilayah territorial menjadi kurang
42
berfungsi karena ADIZ Indonesia berada di dalam wilayah udara teritorial itu sendiri.
Penetapan ADIZ suatu negara didasarkan pada dua hal yang mendasar, yaitu :
1. Dengan perkembangan dunia, teknologi penerbangan yang semakin maju, negara-negara yang berbatasan langsung dengan laut bebas khawatir pihak asing akan menyerang melalui udara masuk ke negaranya melewati laut bebas, sehingga negara-negara yang memiliki wilayah udara secara sepihak menetapkan ADIZ
2. Penetapan ADIZ tidak semata-mata untuk tujuan mengatur lintas udara atau mencari keuntungan dalam pengaturannya, tetapi untuk kepentingan pertahanan dari negara. Penetapan ADIZ Indonesia yang kemudian memberlakukan penegakan terhadap pelanggaran ADIZ bagi pesawat yang tidak melakukan identifikasi dilakukan dengan ketat, jadi ADIZ Indonesia harus didukung oleh alutsista yang memadai.
Dibandingkan dengan luas wilayah udara yang harus dipertahankan maka perlengkapan pertahanan TNI ANGKATAN UDARA belum mencukupi. Adapun peralatan pertahanan yang dapat mendukung ADIZ Indonesia sebagai berikut:24
3.1 Pesawat Terbang. Status operasional pesawat TNI ANGKATAN UDARA hingga saat ini meliputi 68 jet tempur; 47 pesawat angkut, 38 helikopter, 55 pesawat latih dengan tingkat kesiapan rata-rata 44%
3.1 Radar TNI ANGKATAN UDARA saat ini memiliki 20 unit dengan kesiapan operasional 16 unit (94 %).
24 Mabesau, Pembangunan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force)TNI ANGKATAN UDARA Tahun 2010-2024, Jakarta, hal. 7
43
3.1 Rudal (misil). Rudal yang saat ini dimiliki TNI ANGKATAN UDARA antara lain meriam Penangkis Serangan Udara (PSU) tipe HSS Alla Gun kaliber 30 mm sebanyak 11 unit, dan tipe HSS Triple Gun kaliber 20 mm sebanyak 33 unit yang sudah tua, masih digunakan sebagai fasilitas pangkalan perlindungan pertahanan udara (hanud) guna melindungi pangkalan-pangkalan induk. Selain itu, TNI ANGKATAN UDARA juga memiliki rudal jarak pendek tipe QW-3 Manpacked sebanyak 24 set dari pengadaan tahun 2006, rudal udara-udara tipe AIM-9, dan rudal udara- darat tipe Maverick AGM-65.
2.5. Kebutuhan Keamanan Udara terkait Penerapan ADIZ
Dalam menghadapi ancaman keamanan udara, TNI Angkatan Udara berperan penting dalam menyelenggarakan pertahanan kedaulatan wilayah udara territorial Republik Indonesia. Pasal 10 Undang – Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia menegaskan bahwa tanggung jawab TNI Angkatan Udara meliputi pelaksanaan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan negara, penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan wilayah yuridiksi nasional, pelaksanaan tugas TNI dalam pengembangan matra udara, serta melakukan pemberdayaan wilayah pertahanan udara. Segala upaya untuk menciptakan kondisi wilayah udara yang aman merupakan kewajiban TNI Angkatan Udara. Sebagai wujud pelaksanaan tugas tersebut, dapat diimplementasikan dalam kegiatan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Sebagaimana tercantum dalam penafsiran Pasal 8 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009, TNI Angkatan Udara adalah kekuatan nyata dalam penegakan hukum wilayah udara.
44
Pasal 9 UU TNI Nomor 34 Tahun 2004 mengatur bahwa pihak yang berwenang melakukan penindakan terhadap pelanggaran yurisdiksi nasional adalah TNI Angkata Udara. Salah satu upaya TNI Angkatan Udara untuk menegakkan hukum dan menjaga keamanan wilayah udara Indonesia adalah dengan melakukan Operasi Pertahanan Udara pada tahap pendeteksian, identifikasi, penindakan, dan menetralisir atau mengurangi dampak ancaman dari udara. Penindakan yang dilakukan oleh pesawat tempur TNI Angkatan Udara meliputi25 :
1. Shadowing (Membayang - bayangi)
Dilakukan pada pesawat yang diperkirakan akan melanggar kedaulatan wilayah udara nasional.
2. Intervention (Penghalauan)
Dilakukan pada pesawat yang melanggar wilayah udara nasional atau jalur penerbangan yang telah ditentukan oleh ADIZ yang berlaku.
3. Interception (Intersepsi)
Peringatan yang dilakukan oleh pesawat militer TNI Angkatan Udara yang terhadap pesawat yang memasuki wilayah udara nasional tanpa izin. Intersepsi dilakukan apabila ada penerbangan yang tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan kegiatan tersebut menggunakan pesawat udara interceptor milik TNI Angkatan Udara. Pelaksanaan Tindakan intersepsi telah diatur dalam Pasal 32 Ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2018 yang melibatkan koordinasi
25 Hakim, Chappy., & Abu, Supri. 2019. Penegakan Kedaulatan Negara di Udara. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
45
antara personel pengendali lalu lintas udara dengan TNI Angkatan Udara untuk memberikan informasi kepada pesawat yang melanggar. Pelaksanaan Tindakan intersepsi juga harus memperhatikan keselamatan penumpang jika pesawat yang diintersepsi adalah pesawat sipil. Pesawat yang diintersepsi juga wajib mengikuti semua perintah yang diberikan pesawat interceptor.
4. Force Down (Pemaksaan Mendarat)
Dilakukan terhadap setiap pesawat yang melanggar wilayah udara nasional dan dapat diperkirakan bermaksud untuk melakukan kegiatan yang mengancam.
Tindakan force down merupakan pemaksaan mendarat terhadap pesawat di Landasan Udara terdekat apabila perintah yang diberikan sebelumnya dihiraukan.
5. Destruction (Penghancuran)
Dilakukan oleh pesawat tempur sergap terhadap setiap pesawat yang melanggar wilayah kedaulatan dan tidak mengindahkan peringatan yang diberikan, mengancam keselamatan obyek vital, dan melakukan manuver yang berbahaya, selama pesawat tempur melaksanakan penyergapan yang telah diatur dalam ROE (Rule of Engagement).
Peran TNI Angkatan Udara sangat penting sebagai penjaga wilayah udara nasional, menjamin keselamatan terhadap ancaman keamanan dan kedaulatan nasional. Tentunya untuk memenuhi peran tersebut diperlukan infrastruktur yang layak dan sesuai. TNI Angkatan Udara saat ini didukung oleh 24 radar militer yang mencakup sebagian besar wilayah udara Indonesia dan memiliki 8 skuadron
46
tempur di berbagai wilayah Indonesia.26 Namun, alat utama sistem persenjataan TNI Angkatan Udara terdapat beberapa keterbatasan dalam hal kesiapan tempur.
Hal ini terlihat dari banyakanya kasus pelanggaran wilayah udara nasional yang terjadi karena kekuatan alutsista yang ada tidak sebanding dengan luas wilayah yang dijaga, sehingga faktor ini menjadi kendala dalam pengawasan wilayah udara Indonesia yang tidak dapat dilakukan secara optimal.
Pelanggaran wilayah udara masih banyak yang terjadi dan juga banyak kasus yang tidak dapat ditangani merupakan akibat dari Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) masih terbatas dan kurang layak, di mana alutsista merupakan semua hal yang berhubungan dengan sistem senjata, kendaraan dan peralatan militer menjadi faktor pendukung untuk pengamanan wilayah kedaulatan nasional.
Adanya penerbangan gelap yang tidak terdeteksi oleh radar Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dan pelanggaran udara yang tidak mampu diecgat oleh pesawat TNI Angkatan Udara dapat menjadi tolak ukur kelemahan pengamanan wilayah udara nasional.27 Hal tersebut dapat menimbulkan dampak pada kedaulatan nasional dalam hal pencegahan ancaman dari luar.
Mengingat pentingnya tugas TNI Angkatan Udara dalam penegakan hukum dan pengamanan wilayah udara nasional, tentunya TNI Angkatan Udara terlibat dalam penanganan kasus pelanggaran wilayah udara, namun keterlibatan TNI Angkatan Udara hanya sampai pada proses penyelidikan. Kewenangan penyidikan diberikan kepada PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) Penerbangan yang berada di
26 Roza, R. 2014. Pengawasan Wilayah Udara Indonesia. Jurnal Info Singkat Hubungan Internasional, Vol. VI, (No.22), hal. 6.
27 Dispenau. 2019. Angkasa Cendekia Edisi 2019. Jakarta: Dinas Penerangan Angkatan Udara.
47
bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan.28 Pasal 399 Undang – Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menyatakan bahwa PPNS tertentu yang lingkup tugasnya pada bidang penerbangan diberikan wewenang khusus sebagai penyidik. Penyidikan dilakukan di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik Polri. Hal ini juga menjadi salah satu faktor pembatas karena dari sisi prosedur, TNI Angkatan Udara telah aktif dalam penanganan kasus pelanggaran wilayah udara nasional dan merupakan pihak yang mengetahui terlebih dahulu mengenai pelanggaran terhadap pesawat asing saat terdeteksi oleh radar sampai pada pemaksaan mendarat. Oleh karena itu, keterlibatan TNI Angkatan Udara (sebagai pihak yang berwenang untuk menegakkan hukum terkait dengan pertahanan udara) dalam proses penyidikan dinilai sangat penting agar proses penegakan hukum tidak terhambat. Keamanan wilayah udara yang maksimal mutlak diperlukan untuk menjaga kedaulatan di wilayah udara karena tanpa pengamanan, kedaulatan ini akan terancam terhadap serangan udara dari pihak asing. Oleh karena itu, TNI Angkatan Udara, sebagai pelaksana tugas menjaga kedaulatan dan penegakan hukum wilayah udara nasional, harus memperhatikan segala kepentingannya untuk menjamin keamanan wilayah udara nasional secara maksimal.
28 Risdiarto, D. 2019. Kendala Hukum Penindakan terhadap Pesawat Udara Sipil yang Tidak Berizin yang Memasuki Wilayah Udara Indonesia. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol.16, (No.3), p.
16.