1 PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia bisnis yang semakin maju menyebabkan terjadinya persaingan yang relatif ketat. Saat ini, persaingan bisnis semakin gencar salah satunya dalam bidang penjualan barang secara langsung, termasuk dalam hal ini adalah bisnis menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga. Bisnis ini menjual kebutuhan masyarakat akan barang-barang rumah tangga khususnya kompor, panci, wajan, dan sebagainya. Kondisi seperti ini menyebabkan persaingan bisnis yang sangat ketat dalam bidang penjualan kebutuhan rumah tangga, sehingga tidak sedikit para pemilik usaha melakukan promosi secara besar-besaran, seperti: memberikan potongan harga, cicilan mudah (kredit) dengan bekerja sama dengan perusahaan distributor barang, serta membentuk agen, agar penyebaran barang yang dijual lebih merata di masing-masing area/daerah dan meminimalisasi biaya operasional perusahaan.
Pengendalian internal sangat penting dalam dunia bisnis. Pengendalian internal diterapkan untuk meningkatkan efektivitas operasional perusahaan. Dalam dunia bisnis pengendalian internal merupakan suatu cara untuk mengawasi, mengarahkan, dan mengukur sumber daya organisasi. Peran penting pengendalian internal untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam sebuah proses organisasi. Oleh karena itu, pengendalian internal sangat penting untuk kemajuan perusahaan. Jika sistem operasional perusahaan baik, maka dapat mengurangi penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang tersebut diperlukan pengawasan dan struktur pengendalian internal yang baik dalam perusahaan. Supaya setiap prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat berjalan secara efektif.
Pengendalian internal diperlukan dalam PT Perkasa Jaya, agar kegiatan operasional usaha tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam proses organisasi PT Perkasa Jasa tak mengherankan terdapat masalah. Masalah yang terjadi yaitu piutang tak tertagih. Piutang tak tertagih dapat disebabkan oleh karyawan dan konsumen. Jika masalah tersebut di diamkan terus menerus maka dapat menggangu proses penjualan, dikarenakan perusahaan tidak memiliki kas. Kondisi tersebut
2
menunjukkan perlu dilakukan analisis penerapan terhadap sistem pengendalian internal pada sistem penjualan PT Perkasa Jaya. PT Perkasa Jaya memiliki beberapa pengendalian internal untuk menyelesaikan masalah yang ada. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perusahaan belum sepenuhnya efektif untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu PT Perkasa Jaya memerlukan pengendalian internal, guna melihat sistem pengendalian di perusahaan sudah baik atau belum.
Hal tersebut diperlukan untuk memberikan rekomendasi perbaikan yang telah di peroleh dalam kegiatan atas fungsi-fungsi yang terkait. Pengendalian internal sangat penting untuk sebuah usaha, dikarenakan untuk mencegah dan mendeteksi terjadinya risiko atau kecurangan yang bisa disebabkan oleh konsumen dan karyawan. Pengendalian internal terdiri atas kebijakan dan prosedur yang digunakan dalam operasi perusahaan untuk menjamin dipatuhinya hukum dan peraturan yang berlaku.Pengendalian internal yang memadai harus didukung oleh adanya komponen-komponen pengendalian yang meliputi: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pengawasan.
Pengendalian internal yang memadai dapat berperan dalam memberikan informasi dan prosedur untuk menangani masalah piutang tak tertagih. Berdasarkan masalah yang ada, pengendalian internal menurut COSO itu penting untuk perusahaan sebagai upaya yang lebih sistematis untuk menagani piutang tak tertagih, dan kecurangan karyawan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk melakukan kajian mengenai: “Analisis Penerapan Sistem Pengendalian Internal Pada Siklus Penjualan Di PT Perkasa Jaya”.
Masalah Penelitian
Masalah yang dihadapi oleh PT Perkasa Jaya mengenai piutang tak tertagih.
Piutang tak tertagih dapat disebabkan oleh konsumen dan karyawan. Karyawan tersebut khususnya pada bagian kolektor. Masalah yang disebabkan oleh kolektor yaitu saat konsumen telah membayarkan tagihannya, kolektor mengambil uang tagihan atau lapping. Perusahaan tidak melakukan konfirmasi ulang kepada pembeli, mengenai
3
tagihan yang telah dibayarkan. Hanya kolektor melaporkan kepada admin dengan bukti kwitansi. Konsumen dan kolektor diberi kwitansi masing-masing, sehingga konsumen juga mengetahui berapa cicilan yang harus dibayarkan. Sering terjadi konsumen membayar tagihan tidak sesuai dengan angsuran yang telah disepakati. Dalam hal ini perusahaan tidak memiliki cara khusus untuk menangani masalah tersebut. Jika masalah tersebut terus didiamkan akan menyebabkan pendapatan perusahaan tidak lancar.
Tidak mudah menjalankan sebuah usaha. Dapat dilihat dari masalah yang ada di PT Perkasa Jaya, masalah-masalah tersebut bisa diakibatkan sistem perusahaan yang kurang baik. Sehingga perusahaan perlu menerapkan sistem pengendalian internal untuk menghindari masalah-masalah yang terjadi.
Persoalan Penelitian
Sejalan dengan masalah penelitian di atas, maka dirumuskan persoalan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana analisis penerapan sistem pengendalian internal PT Perkasa Jaya pada siklus penjualan?
2. Bagaimana cara mengatasi permasalahan terkait dengan pengendalian internal siklus penjualan yang ada di PT Perkasa Jaya?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan persoalan penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan sistem pengendalian internal pada siklus penjualan di PT Perkasa Jaya.
Manfaat Penelitian
Secara praktis, manfaat yang dapat diperoleh bagi perusahaan yaitu sebagai bahan pertimbangan untuk membuat alat pengendalian bagi perusahaan. Pengendalian tersebut berguna untuk menggembangkan usahannya dan pengambilan keputusan, agar perusahaan berkembang terus-menerus.
4 LANDASAN TEORI
KAJIAN PUSTAKA
Sistem Pengendalian Internal
Internal Control-Integrated Framework yang dikeluarkan COSO (the Committee of Sponsoring Organizations), yaitu kerangka kerja pengendalian internal yang paling luas diterima Amerika Serikat. COSO (the Committee of Sponsoring Organizations menguraikan lima komponen pengendalian internal yang dirancang dan diimplementasikan oleh manajemen untuk memberikan kepastian yang layak bahwa tujuan pengendaliannya akan tercapai.
Sistem pengendalian internal menurut COSO yaitu proses atau sistem yang dirancang dewan komisaris, manajemen dan personel lain untuk memberikan keyakinan yang memadai agar tujuan dapat tercapai: keandalan laporan keuangan, efisien dan efektivitas operasi, serta kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Komponen sistem pengendalian internal menurut COSO, yaitu: (Arens et al. 2006:375) Tabel 1
Komponen Pengendalian Internal Menurut COSO
Pengendalian Internal Indikator
Lingkungan Pengendalian adalah Tindakan, kebijakan, prosedur yang mencerminkan perilaku personel atau
anggota entitas.
a. Intergritas dan nilai etika (karyawan dan pimpinan perusahaan)
b. Komitmen terhadap kompetensi
c. Pertisipasi dewan komisaris dan dewan direksi perusahaan
d. Filosofi manajemen dan gaya mengelola operasi e. Struktur organisasi
f. Kebijakan SDM dan prosedurnya Penilaian risiko adalah
Proses mengidentifikasi
a. Tujuan perusahaan (keseluruhan) b. Tujuan disetiap tingkat proses
c. Indetifikasi risiko dan menganalisanya
5 manajemen dan menganalisis
risiko yang relevan.
d. Mengelola perubahan
Aktivitas pengendalian yaitu Kebijakan atau prosedur yang membantu untuk
manajemen mencapai tujuan entitas.
a. Pemisahan tugas yang memadai
b. Otorisasi sesuai dengan transaksi dan aktivitas c. Dokumen dan catatan yang memadai
d. Pengendalian fisik atas aktiva dan catatan e. Pemeriksaan kinerja secara independen Informasi dan komunikasi
adalah Penyampaian informasi kepada personel entitas (kualitas informasi dan aktivitas komunikasi).
Tujuannya untuk memulai, mencatat, memroses, dan melaporkan transaksi yang dilakukan entitas itu serta mempertahankan akuntabilitas aktiva terkait.
Monitoring (pengawasan) adalah Mempertimbangkan apakah pengendalian
beroperasi sesuai harapan dan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan (menyesuaikan kondisi perusahaan).
a. Pengawasan yang terus berlangsung b. Dilakukan evaluasi secara terpisah
c. Melaporkan kekurangan sistem pengendalian internal
Tujuan Pengendalian Intern
Tujuan pengendalian internal adalah memberikan keyakinan yang wajar bahwa:
1) Operasi dikelola untuk mencapai suatu tujuan tertentu, 2) Laporan keuangan yang akurat, 3) Hukum dan peraturan dipenuhi. Pengendalian internal dapat mencegah hilangnya sumber daya, menyediakan informasi bagaimana operasi perusahaan dijalankan, dan memberikan panduan untuk mencapai kinerja yang baik. Namun demikian, pengendalian internal tidak dapat digunakan untuk mencegah hal-hal yang tidak terduga. (Akbar 2004:163).
6
Selain itu tujuan pengendalian intern menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) oleh Winarno (2006:116) adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Tujuan Pengendalian Menurut AICPA
Melindungi harta kekayaan perusahaan.
Meningkatkan akurasi informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi yang dijalankan oleh perusahaan.
Tujuan pengendalian intern menurut AICPA
Meningkatkan efesiensi kinerja perusahaan, sehingga dalam berbagai kegiatan dapat dilakukan penghematan.
Meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan manajemen.
Siklus Penjualan
Siklus penjualan melibatkan keputusan dan proses yang diperlukan untuk pengiriman kepemilikan barang dan jasa kepada pelanggan setelah tersedia untuk dijual.
Ini dimulai dengan permintaan oleh pelanggan dan berakhir dengan konversi bahan atau layanan ke rekening piutang, dan akhirnya menjadi uang tunai. Arens, et al (2012:463).
Risiko dan Pengendalian Internal dalam Siklus Penjualan
Yang dimaksud dengan risiko dalam siklus penjualan adalah tidak tercapainya tujuan sistem informasi akuntansi. Perusahaan membangun sistem informasi akuntansi dalam siklus penjualan dengan harapan agar: (1) perusahaan dapat mengirim barang yang benar ke konsumen secara tepat waktu, (2) konsumen membayar tepat waktu, (3) tidak ada peluang kecurangan yang dapat memotivasi karyawan perusahaan (atau bahkan pelanggan) untuk mencuri kas maupun persediaan perusahaan.
Dalam harapan yang diinginkan perusahaan dalam siklus penjualan, terdapat risiko-risko yang bisa terjadi antara lain (Diana et al. 2011:112): a) menerima uang palsu
7
dari pelanggan, b) kasir menggelapkan kas yang diterima dari pelanggan, c) perusahaan kehabisan stok, sehingga tidak bisa melayani pelanggan atau lambat dalam melayani pelanggan, d) lalai mengirim barang pesanan ke konsumen, e) mengirim produk yang tidak sesuai dengan yang dipesan oleh pelanggan, f) salah kirim jumlah produk, g) mengirim produk yang kualitasnya tidak bagus, h) mengirim produk ke konsumen yang salah, i) salah tagih pelanggan, j) lalai tidak menagih ke konsumen, k) data konsumen jatuh ketangan pihak eksternal yang tidak di kehendaki (misalnya ke tangan pesaing), l) kerusakan data (data perusahaan bisa saja rusak karena virus atau kerusakan hardware), m) lapping adalah kecurangan untuk mengambil uang yang diterima dari konsumen A, kemudian pada saat ada konsumen lain (misal konsumen B) yang membayar, maka kas dari konsumen B akan dicatat sebagai penerimaan kas konsumen A. Demikian seterusnya, pada saat konsumen C melunasi piutangnya, karyawan yang melakukan lapping akan mencatat penerimaan kas dari konsumen C sebagai penerimaan kas konsumen B. Jadi, karyawan mencuri uang dan menutupi kecurangannya dengan menunda mencatat piutang dari seorang konsumen.
8 METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Menurut Sudarto (1997:62) penelitian kualitatif yaitu prosedur penilaian yang menghasilkan informasi deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati.
Waktu dan Subjek Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah pimpinan PT Perkasa Jaya. Jumlah informan yang di ambil sebanyak 2 orang (pemilik dan admin) dari 1 usaha dagang. Wawancara dilakukan di PT Perkasa Jaya dan dilakukan wawancara dengan lamanya waktu bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi, serta berdasarkan janji yang telah disepakati.
Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Menurut Umar (2003:56), data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Dalam penelitian ini yang merupakan data primer yaitu hasil wawancara. Sedangkan data sekunder menurut Menurut Sugiono (2008:402) adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Dalam penelitian ini yang merupakan data sekunder yaitu dokumen. Dokumen yang ada antara lain: buku tagihan, dokumen pencatatan pembelian barang, buku pengiriman, pencatatan mengenai stok barang masuk dan keluar, pembukuan mengenai angsuran konsumen, pembukuan penjualan.
Teknik Pengukuran Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi atau data yang diperlukan sebagai bahan penelitian. Ada tiga teknik pengumpulan data dalam penelitian ini.
9 1. Wawancara
Menurut Esterberg dalam Sugiyono (2013:231), wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dimana responden dimintai pendapat dan ide-idenya. Peneliti melakukan wawancara dengan pemilik dan pegawai pada bagian admin. Pemilik PT Perkasa Jaya bernama Fran X. Jaka dan admin bernama Theresia Yustika Hatri. Peneliti melakukan wawancara kepada pemilik tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pengawasan.
2. Pengumpulan dokumen-dokumen pendukung
Menurut Sugiyono (2013:240), dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Penulis meminta foto dokumen mengenai aktivitas penjualan perusahaan.
Dokumen tersebut didapat dari admin perusahaan. Dokumen yang ada antara lain:
buku tagihan, dokumen pencatatan pembelian barang, buku pengiriman, pencatatan mengenai stok barang masuk dan keluar, pembukuan mengenai angsuran konsumen, pembukuan penjualan.
Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari wawancara akan dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Menurut Sukmadinata (2011),penelitian deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah atau rekayasa manusia. Langkah-langkah yang penulis lakukan yaitu pada tahap awal merumuskan masalah yang ada diperusahaan setelah itu membuat indikator mengenai pengendalian internal. Setelah itu melakukan observasi dan wawancara terkait dengan kondisi perusahaan. Berdasarkan informasi yang didapat kemudian diolah dan dianalisis.
Hingga akhirnya penulis membuat laporan.
10 HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Perusahaan
PT Perkasa Jaya didirikan pada tanggal 1 Mei 2003 oleh Fran X. Jaka. Perusahaan tersebut beralamat di Jragung Jogotirto Berbah Sleman Yogyakarta. Perusahaan ini berfokus pada penjualan barang rumah tangga secara kredit maupun tunai. Barang yang dijual seperti kompor, panci, rak piring, kasur busa, kasur matras, lemari, wajan, dll.
Barang yang dijual dengan berbagai merek. Saat ini perusahaan memiliki 43 karyawan yang terdiri dari tenaga pemasaran 36 orang, kolektor 4 orang, dan admin 3 orang.
Wilayah penjualan meliputi daerah sleman, bantul, wonosari, dan klaten. Bapak Fran tidak membuka cabang, hanya membuka di Yogyakarta.
Sebelum memulai usaha penjualan barang kebutuhan rumah tangga, Bapak Fran pernah bekerja sebagai tenaga pemasaran pada perusahaan penjualan barang kebutuhan rumah tangga. Setelah lama bekerja sebagai tenaga pemasaran, maka Bapak Fran naik jabatan sebagai demo booking, dan akhirnya menjadi kepala cabang di Bali. Dari pengalaman tersebut, kemudian Bapak Fran membuka usaha sendiri. Awal membuka usaha penjualan barang ke konsumen secara langsung dengan modal 25 juta, karyawan yang dimiliki hanya lima tenaga pemasaran, satu kolektor, dan admin dikerjakan sendiri.
Kemudian usaha tersebut semakin berkembang dan memiliki tujuh belas karyawan, tetapi saat itu semua karyawan mengundurkan diri dikarenakan terprovokasi oleh pesaing.
Oleh karena itu Bapak Fran memulai usahanya dari awal dengan modal yang minim, kemudian usahanya mulai berkembang. Dalam tiga tahun Ia dapat membeli rumah sendiri untuk kantor dan tempat tinggal. Tahun 2006 manajemen usahanya mulai tertata. Dahulu Bapak Fran memiliki cabang di Magelang, Sedayu, Lampung dan di daerah Jawa Timur, tetapi semenjak pemilik sakit maka cabang ditutup dan hanya membuka di daerah Yogyakarta.
Lingkungan Pengendalian
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan. Dalam penelitian ini perusahaan sudah memiliki beberapa pengendalian internal, untuk mengurangi masalah yang ada. Perusahaan ini memiliki beberapa fakta terkait pengendalian internal dapat
11
ditemukan. PT Perkasa Jaya memiliki nilai-nilai etis yang ingin dikembangkan berupa orientasi pelanggan, integritas karyawan dan kompetensi karyawan. Nilai pertama yaitu orientasi pelanggan. Nilai tersebut sangat penting bagi jalannya usaha, karena pelanggan memiliki peran penting bagi kemajuan sebuah usaha. Nilai orientasi pelanggan lebih mengacu pada pelayanan yang baik, dan membentuk relasi kepada pelanggan. Jika hubungan perusahaan dengan pelanggan terbentuk, maka dapat meningkatkan kualitas perusahaan. Bagi pemilik kepuasan serta pelayanan yang baik untuk pelanggan adalah hal yang utama. Tingkat kepuasan yang diperoleh oleh pelanggan sangat berkaitan dengan standar kualitas barang atau jasa yang mereka nikmati.
Kepuasan pelanggan dibangun atas beberapa prinsip yang digunakan untuk menilai suatu organisasi dalam memberikan pelayanan yang baik dan terpercaya. Untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan, perusahaan harus memahami kebutuhan apa saja yang diinginkan pelanggan. Selain itu pelayanan yang diberikan oleh perusahaan berperan penting untuk menciptakan kepercayaan pelanggan. Membuat pelanggan mengerti semua pelayanan yang perusahaan berikan, serta membuat pelanggan mengetahui secara lengkap dan jelas semua produk yang diberikan oleh perusahaan.
Tidak hanya itu, untuk meningkatkan kepuasan pelanggan perusahaan harus menciptakan kesan yang positif. Karena jika pelanggan puas terhadap pelayanan, tidak dapat dipungkiri bila pelanggan tersebut menceritakan kepada orang lain, sehingga akan meningkatkan kualitas perusahaan.
Untuk meningkatkan orientasi pelanggan perusahaan menerapkan kebijakan berupa mekanisme transaksi misalnya memberikan bonus kepada konsumen. Kebijakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Agar kepuasan pelanggan tercapai maka perusahaan menerapkan sistem garansi. Dimana setiap pelanggan yang membeli barang, akan diberikan garansi selama angsuran berlangsung. Tidak hanya itu jika pelanggan membayar angsuran secara lancar, maka akan diberikan bonus-bonus berupa barang. Bonus-bonus diberikan agar dapat memacu konsumen untuk membayar tagihan secara rutin serta tepat waktu. Orientasi pelanggan dapat dibangun dengan cara melakukan komunikasi kepada konsumen. Hal tersebut dilakukan agar komunikasi antara pemilik dan konsumen terjalin.
12
Nilai yang kedua yaitu integritas karyawan. Untuk menciptakan pelayanan serta kepercayaan pelanggan, tidak pernah lepas dari campur tangan seorang karyawan.
Seorang karyawan mempunyai peran yang sangat penting bagi kemajuan sebuah perusahaan. Oleh karena itu pemilik meningkatkan integritas karyawan. Integritas karyawan mempunyai tujuan memberikan motivasi bagi karyawan agar bertanggung jawab, disiplin, dan jujur. Bila sebuah perusahaan gagal menegakkan integritas sebagai pilar terpenting diperusahaannya, maka karyawan tidak akan mampu menjalankan tanggung jawabnya secara profesional. Bila integritas pribadi lemah dalam karakter pribadi, maka dapat dipastikan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin, pasti tidak akan berfungsi seperti seharusnya. Jika nilai-nilai tersebut tidak diterapkan, maka kepercayaan pelanggan tidak akan terjalin. Sehingga seorang pemimpin harus menerapkan sikap intergritas kepada bawahannya.
Setiap perusahaan pasti menginginkan seorang karyawan yang bertanggung jawab, jujur, rajin, dan memiliki tekad yang tinggi, tidak terkecuali dengan PT Perkasa Jaya. PT Perkasa Jaya memiliki 43 karyawan. Karyawan tersebut terbagi dalam 3 orang karyawan tetap dan 40 orang karyawan freelance. Dalam upaya meningkatkan integritas karyawan pada PT Perkasa Jaya cukup sulit dikarenakan terdapat karyawan freelance.
Sehingga perusahaan tidak dapat menekan karyawan, karena tidak ada keterikatan gaji.
Tidak ada cara khusus untuk meningkatkan sikap tanggung jawab, jujur, rajin, dan memiliki tekad yang tinggi. Lebih kepada kesadaran karyawan itu sendiri.
Pemimpin menerapkan komisi yang cukup tinggi kepada karyawan, dibandingkan dengan perusahaan penjualan barang-barang rumah tangga yang lainnya. Cara tersebut dilakukan untuk mempertahankan karyawan. Sehingga banyak karyawan yang telah lama bekerja di perusahaan tersebut. Ada karyawan yang telah bekerja pada perusahaan tersebut mencapai 10 tahun. Dengan menerapkan komisi yang tinggi, dapat memacu kinerja seorang karyawan. Tidak hanya itu kebijakan tersebut, membuat karyawan nyaman bekerja di perusahaan tersebut.
Pemilik menginginkan karyawan yang disiplin, jujur serta tanggung jawab, oleh karena itu karyawan wajib melaporkan hasil kerja tiap harinya. Saat ini penyerahan dokumen dilimpahkan kepada bagian admin. Sebelum bagian pemasaran menyerahkan
13
surat order kepada admin, bagian verifikator akan menyeleksi terlebih dahulu pembeli tersebut apakah layak, serta akan menaati peraturan yang telah disepakati atau tidak. Jika pembeli tersebut layak maka bagian pemasaran akan menyerahkan surat order kepada bagian admin. Kemudian admin akan mengambil barang dari gudang dan menyerahkannya pada bagian pengiriman. Setelah itu admin akan melaporkan kepada pemilik hasil laporan tutup buku.
Oleh karena itu pemilik tidak sembarangan memilih seorang karyawan. Pemilik menilai kompetensi sebagai tolak ukur seorang karyawan. Nilai yang ketiga yaitu kompetensi karyawan. Kompetensi adalah kewenangan dan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan sesuai dengan jabatan yang disandangnya. Kriteria seorang karyawan yang diharapkan oleh pemimpin yaitu bertanggung jawab, jujur, sopan, dapat berkomunikasi dengan baik, serta mempunyai tekad yang tinggi. Tidak hanya itu pemilik melihat bakat sesuai dengan bidangnya, karena jika seorang karyawan telah berbakat pada bidangnya maka akan lebih mudah memahami apa yang seharusnya dikerjakan. Percumah jika seseorang memiliki kepintaran, tetapi tidak memiliki tekad yang tinggi untuk perusahaan tempatnya bekerja. Jika seorang karyawan memiliki tekad yang tinggi maka perusahaan akan berkembang.
Seorang pemimpin seharusnya dapat memotivasi karyawannya, untuk menjalin komunikasi kepada karyawan. Setiap karyawan harus mempunyai pikiran jika ia bekerja dengan baik tidak hanya menguntungkan bagi diri sendiri tetapi juga untuk kemajuan perusahaan. Oleh sebab itu pemimpin harus mementingkan kepuasan karyawan juga, tidak hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Jika seorang pemimpin memberi kesan yang baik terhadap karyawannya, maka seorang karyawan akan memiliki kesan simpati serta kepercayaan terhadap atasan. Dalam perekrutan karyawan, pemilik lebih memilih orang yang sudah berpengalaman dibidangnya, dikarenakan jika memilih orang yang belum berpengalaman maka akan susah dalam bidang promosi. Penjualan akan jauh lebih tinggi yang telah berpengalaman dalam bidangnya.
Agar karyawan memiliki daya saing, maka perusahaan menerapkan kebijakan yaitu pemberian bonus. Bonus yang diberikan kepada tenaga pemasaran dan kolektor berupa komisi. Jika memenuhi target yang diberikan maka perusahaan akan memberikan
14
bonus. Tenaga pemasaran berperan penting dalam proses penjualan. Oleh karena itu perusahaan memberikan bonus berupa komisi. Untuk tenaga pemasaran akan diberikan 18-20% dari total penjualan. Jika penjualan mencapai 15 sampai 20 juta maka akan diberikan bonus. Bonus yang diberikan dapat berupa uang. Tenaga pemasaran dan kolektor di perusahaan PT Perkasa Jaya termasuk karyawan freelance. Sedangkan bonus kolektor yaitu jika tagihan dapat tertagih diatas 90% maka akan mendapatkan bonus 1%
dari total uang tertagih.
PT Perkasa Jaya telah memiliki nilai-nilai yang ingin dicapai dan membuat kebijakan-kebijakan kepada karyawan dan konsumen. Tetapi dalam proses organisasi kebijakan dan nilai-nilai tersebut tidak terlaksana dengan baik. Walaupun banyak masalah yang tidak teridentifikasi oleh perusahaan. Perusahaan tidak melakukan tindakan yang tegas untuk mengurangi masalah yang ada.
Penilaian Risiko
Berdasarkan wawancara yang dilakukan, perusahaan mengalami beberapa masalah dalam proses organisasi. Masalah tersebut disebabkan oleh karyawan dan konsumen. Walaupun karyawan yang ada di PT Perkasa Jaya telah lama bekerja, tetapi risiko yang dapat ditimbulkan oleh karyawan masih saja terjadi. Masalah pertama yaitu kolektor tidak tepat waktu menagih ke konsumen dan kolektor memakai uang tagihan.
Risiko tagihan tidak terbayar juga disebabkan oleh konsumen, dikarenakan karakter masyarakat itu sendiri, serta masyarakat yang tidak memenuhi perjanjian pada awal pembelian barang. Tidak hanya itu, konsumen membayar cicilan tidak sesuai dengan kesepakatan. Akibat dari masalah tersebut, perusahaan akan mengalami kerugian dan pemasukkan tidak lancar. Pemasukan tidak lancar membuat perputaran modal perusahaan tidak stabil.
Masalah yang kedua yaitu kendala pada karyawan bagian pemasaran dikarenakan mereka freelance sehingga masuk kerja terserah karyawan itu sendiri. Misalnya jika mereka butuh uang maka akan datang kerja, jika tidak maka tidak akan datang kerja. Hal tersebut mengakibatkan pemasukkan perusahaan tidak dapat dikendalikan serta penjualan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sehingga perusahaan tidak mempunyai
15
standart khusus untuk penilaian lapangan guna menganalisis penjualan. Sistem komisi yang diberikan oleh karyawan cukup besar, dibandingkan dengan perusahaan penjualan barang secara langsung lainnya. Pemilik menerapkan komisi tinggi agar memacu karyawannya bekerja dengan rajin dan loyal.
Memberikan bonus ke karyawan diukur dari pencapaian omset. Jika penjualan mencapai 15 juta atau 20 juta maka akan diberikan bonus. Tidak hanya itu jika dibulan ini seorang karyawan mendapatkan omset paling tinggi dari karyawan yang lain, maka perusahaan akan memberikan bonus. Bonus diberikan tidak hanya untuk karyawan saja, melainkan untuk konsumen jika pembayarannya rutin tiap bulannya akan diberikan bonus. Bonus yang diberikan berupa barang, jika karyawan bonus berupa uang. Untuk mengurangi risiko yang ada, maka perusahaan menetapkan sistem karyawan freelance.
Sehingga tidak ada keterikatan penuh terhadap karyawan. Sistem karyawan freelance diterapkan agar perusahaan tidak rugi, dikarenakan gaji yang didapat merupakan komisi yang didapatkan atas hasil kerja mereka.
Masalah yang ketiga yaitu inovasi produk untuk meningkatkan penjualan. Sampai saat ini inovasi produk belum bisa diterapkan dikarenakan ada keterbatasaan dalam berinovasi. Jika perusahaan ingin meningkatkan penjualan, kendala yang dapat dialami yaitu mendapatkan barang dengan kualitas yang buruk. Karena perusahaan masih mencoba-coba membeli barang dengan merek berbeda. Sehingga mendapat peluang barang dengan kualitas buruk. Jika hal tersebut terjadi maka akibatnya tingkat kepuasan dan kepercayaan konsumen pada produk yang ditawarkan berkurang, sehingga konsumen akan bosan terhadap produk-produk yang dijual. Untuk mengurangi risiko dalam hal inovasi produk, maka perusahaan melakukan kerja sama pada peusahaan yang lain.
Misalnya perusahaan tersebut membutuhkan panci dengan merek maxima, untuk memudahkan pengadaan barang maka perusahaan mengadakan kerja sama pada perusahaan yang memiliki barang tersebut. Sehingga akan mempengaruhi tingkat penjualan perusahaan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber diketahui bahwa dalam rangka memperkecil risiko yang timbul akibat kesalahan kolektor. Maka pemilik akan menegur serta kolektor tersebut harus bertanggung jawab terhadap kesalahaannya. Jika kolektor
16
mengambil uang tagihan, maka pemilik akan memotong komisi yang didapatkan serta retur kolektor. Dalam kasus, jika konsumen tidak membayar tagihan secara rutin atau mundur bulan. Maka perusahaan akan bersikap tegas, jika tidak membayar maka barang akan diambil.
Aktivitas Pengendalian
Risiko yang pertama dihadapi oleh perusahaan adalah tagihan yang tidak terbayar.
Untuk mengendalikan risiko-risiko yang terjadi, PT Perkasa Jaya menerapkan kebijakan.
Risiko tagihan tidak tertagih bisa disebabkan oleh konsumen dan karyawan. Jika disebabkan oleh karyawan khususnya bagian kolektor maka pengendaliannya agar risiko tidak terjadi dengan cara retur kolektor. Misalnya jika kolektor A bermasalah, maka kolektor tersebut wilayah penagihannya diubah dengan kolektor B. Setiap hari kolektor harus melapor pada bagian admin, mengenai tagihan oleh konsumen. Setiap konsumen dan kolektor memiliki kwitansi pembayaran, sehingga dapat mengetahui tagihan yang telah dibayarkan. Perusahaan memiliki dokumen tagihan. Dokumen tersebut mencatat berapa tagihan yang harus dibayarkan konsumen. Setiap kolektor mempunyai dokumen tagihan masing-masing. Admin membuat pembukuan tagihan setiap kolektor.
Jika tagihan tak tertagih disebabkan oleh konsumen maka pengedalian yang dilakukan yaitu jika konsumen tersebut akan membeli produk tidak diberi kesempatan.
Tidak ada cara khusus atau aturan untuk mengendalikan sikap konsumen. Masalah yang disebabkan oleh konsumen yaitu tidak tepat waktu dalam pembayaran dan cicilan tidak sesuai kesepakatan. Masalah tersebut terjadi dikarenakan karakter konsumen itu sendiri.
Misalnya setiap bulan seharusnya konsumen tersebut membayar Rp 100.000 tiap bulannya, tetapi bulan ke-3 Rp 70.000 kemudian bulan ke-4 Rp 50.000. Tidak ada kebijakan perusahaan untuk konsumen membayar tagihan sesukanya. Karena usaha seperti ini fleksibel, sehingga harus menyesuaikan medan. Jika konsumen pada tanggal jatuh tempo tagihan belum lunas, maka perusahaan akan memberi batas waktu 3 bulan.
Setelah 3 bulan tidak dilunasi, maka barang akan diambil kembali.
Risiko yang kedua yaitu loyalitas karyawan. Loyalitas karyawan itu sangat penting guna memajukan sebuah usaha. Pemilik PT Perkasa Jaya menerapkan gaya
17
kepemimpinan yang kekeluargaan. Untuk mendapatkan loyalitas karyawan pemiliki melakukan pendekatan secara personal. Walaupun pemilik melakukan pendekatan personal, masalah yang dilakukan karyawan tergantung dari sikap karyawan itu sendiri.
Jika karyawan sudah lama bekerja tidak berarti masalah tidak akan muncul. Pengendalian yang dilakukan oleh pemilik hanya menegur. Karyawan yang melakukan kesalahan yang sangat fatal maka akan dipecat. Sebetulnya tidak ada pengendalian secara khusus agar risiko tidak muncul kembali. Pemilik menyadari bahwa risiko usaha penjualan barang secara langsung besar. Maka pemilik menerapkan pengendalian tersebut agar karyawan menyadari kesalahannya. Untuk meningkatkan loyalitas karyawan, maka pemilik menerapkan bonus. Bonus yang pemilik terapkan hanya untuk karyawan freelance saja, dikarenakan untuk meningkatkan daya saing. Bonus disini berupa komisi.
Risiko yang ketiga yaitu inovasi produk untuk meningkatkan penjualan, pemilik melihat kondisi pasar saat ini. Misalnya saat ini banyak orang yang suka mendaki gunung, maka perusahaan akan menjual produk yang sesuai dengan keadaan tersebut. Jika tidak ada inovasi produk, maka konsumen akan bosan dengan produk yang ditawarkan.
Dikarenakan konsumen yang tagihannya lancar akan ditawarkan kembali produk yang perusahaan tawarkan. Pemilik memiliki jaringan supplier yang banyak dan mendapatkan jaringan supplier yang baik. Untuk mengurangi risiko mendapatkan produk dengan kualitas yang tidak baik, maka pemilik akan membuat kesepakatan kepada supplier untuk uji coba produk sebelum produk tersebut dipasarkan. Misalnya ada supplier menawarkan panci anti minyak yang mudah dicuci, maka perusahaan melakukan uji coba. Jika produk sesuai dengan yang ditawarkan, maka perusahaan akan memasarkan produk tersebut.
Untuk mengurangi risiko penumpukan barang digudang, maka pemilik membuat kesepakatan ke supplier. Kesepakatan berupa pengembalian barang yang tidak laku terjual. Pemilik tidak memiliki catatan produk yang laku dipasarkan dan pencatatan mengenai produk yang diinginkan konsumen.
Berdasarkan hasil wawancara, pemilik sudah memiliki beberapa komponen untuk mengendalikan masalah. Kebijakan-kebijakan dilakukan agar memperkecil masalah yang terjadi. Perusahaan memiliki beberapa dokumen untuk memantau kinerja organisasi.
Admin bertanggung jawab dalam proses pencatatan penjualan, hingga pengeluaran
18
barang dari gudang. Setiap dokumen dicek setiap hari. Tidak hanya itu kolektor bertanggung jawab untuk melapor kepada admin, atas hasil tagihan ke konsumen. Admin akan melapor kepada atasan mengenai dokumen-dokumen penjualan dan laporan akhir penjualan
Informasi dan Komunikasi
Saat ini pemilik tidak melakukan evaluasi dalam proses perusahaan. Tidak ada evaluasi khusus bagi kinerja karyawan dan proses bisnis. Jika terjadi masalah yang ada dilapangan, maka karyawan akan mengkomunikasikannya kepada atasan melalui telepon atau WhatsApp. Semua informasi mengenai pendapatan dilakukan secara manual dan komputerisasi. Informasi yang dibutuhkan untuk tagihan yang tidak terbayar yaitu setiap konsumen dan kolektor akan diberikan kwitansi atau kartu pembayaran. Setiap pembayaran bagian admin akan mencatat secara manual dan komputerisasi. Setiap kwitansi pembayaran terdapat nama, serta alamat pembeli tetapi tidak ada nomor telepon.
Pemilik tidak melakukan konfirmasi ulang kepada konsumen terkait dengan pembayaran.
Untuk meningkatkan kinerja karyawan, perusahaan akan memberikan bonus jika mencapai target. Dikarenakan bagian pemasaran merupakan karyawan freelance, sehingga tidak mendapatkan gaji tetap. Gaji karyawan berupa komisi penjualan. Untuk mengetahui berapa penjualan yang telah dicapai pemilik mancatat pada papan monitoring penjualan. Setiap harinya papan monitoring tersebut akan dicek. Selain itu masalah inovasi produk untuk meningkatkan penjualan, sebetulnya tidak ada catatan khusus.
Pemilik tidak mencatat produk-produk yang terlaku dari barang-barang yang dijual dan tidak mencatat produk-produk yang diinginkan. Pemilik hanya mengikuti trend yang ada, untuk produk yang baru.
Berdasarkan hasil wawancara, PT Perkasa Jaya memiliki proses pencatatan dan karyawan wajib melaporkan hasil kinerja dilapangan. Pencatatan untuk pembayaran tagihan dilakukan secara manual dan komputerisasi. Sedangkan pencatatan mengenai stock produk, produk keluar dari gudang dilakukan secara manual. Tetapi didalam proses pembayaran, tidak ada konfirmasi ulang kepada konsumen. Sehingga menimbulkan kecurangan yang dilakukan oleh kolektor. Saat ini melaporkan masalah yang ada di
19
lapangan dengan menggunakan Whatsapp tidak terlaksana, dikarenakan ada karyawan yang tidak memakai aplikasi tersebut. Sehingga karyawan wajin melapor hasil kerja mereka dan kendala-kendala yang dialami dilapangan.
Monitoring
PT Perkasa Jaya melakukan monitoring setiap proses organisasi dengan melihat pencatatan dan pembukuan akhir bulan. Admin melakukan pengecekkan dokumen, yang terkait dengan proses penjualan. Admin akan melakukan pembukuan mengenai proses penjualan, setelah itu hasil laporan akhir bulan akan dilaporkan kepada atasan. Pemilik tidak memantau proses organisasi perusahaan serta tidak mengontrol kinerja karyawan secara langsung. Pengawasan karyawan dilakukan oleh admin. Jika terjadi masalah- masalah yang tidak dapat diatasi oleh admin, maka admin akan melaporkan kepada atasan. Dikarenakan pemilik tidak terlibat langsung dalam proses organisasi, maka pemilik melakukan meeting setiap minggunya. Tetapi saat ini sudah tidak dilakukan meeting. Meeting dilakukan satu bulan sekali pada awal bulan saja, saat karyawan mendapatkan gaji. Dalam prosesnya meeting tersebut tidak dilaksanakan.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan perusahaan memiliki beberapa kelemahan dalam pengendalian internal perusahaan. Setelah mengetahui nilai-nilai yang ingin dicapai perusahaan berdasarkan pengendalian internal menurut COSO framework bagi perusahaan penjualan barang secara langsung seperti PT Perkasa Jaya beserta kendala-kendalanya. Kelemahan yang ada yaitu tidak ada konfirmasi ulang kepada konsumen yang telah membayar tagihannya sehingga menyebabkan peluang bagi kolektor melakukan kecurangan. Ada juga konsumen yang membayar tagihan lewat batas waktu tagihan dan membayar tagihan yang tidak sesuai dengan kesepakatan.
Oleh karena itu sebaiknya pemilik tidak melimpahkan tanggung jawab kepada admin, tetapi juga turun tangan dalam proses organisasi. Tindakan tersebut berguna untuk menjalin komunikasi kepada karyawan. Tidak hanya itu, perusahaan harus melakukan tindakan yang tegas dan membuat peraturan terhadap pembayaran tagihan. Untuk mengurangi risiko yang dilakukan oleh kolektor, setiap pembayaran yang dilakukan oleh konsumen perlu dilakukan konfirmasi ulang.
20
Permasalahan Seputar Pengendalian Internal PT Perkasa Jaya
Berdasarkan permasalahan di atas, PT Perkasa Jaya memiliki beberapa masalah pada siklus penjualan. Masalah tersebut disebabkan oleh karyawan dan konsumen.
Masalah yang di sebabkan oleh kolektor yaitu memakai uang tagihan atau lapping.
Masalah yang disebabkan oleh konsumen yaitu tagihan yang tidak sesuai dengan perjanjian atau mundur bulan. Akibat dari masalah tersebut, perusahaan akan mengalami kerugian dan pemasukkan tidak lancar. Pemasukan tidak lancar membuat perputaran modal perusahaan tidak stabil. Jika terjadi hal tersebut maka pemilik hanya menegur, serta kolektor yang melanggar mengganti rugi sesuai dengan uang yang diambilnya. Bisa juga dengan memotong komisi yang didapatkan. Untuk masalah yang ditimbulkan konsumen, konsumen wajib membayar cicilan. Jika cicilan tersebut tidak dapat dilunasi pada batas waktu yang telah disepakati, maka barang akan diambil. Tidak hanya itu, jika konsumen tersebut membeli barang di kemudian hari tidak akan diberi kesempatan.
PT Perkasa Jaya memiliki beberapa karyawan freelance, masalah yang timbul yaitu jika mereka butuh uang maka akan datang kerja, tetapi jika tidak mereka tidak akan datang kerja. Pemilik menerapkan komisi yang tinggi kepada karyawan freelance, agar memacu kinerja karyawan. Tidak hanya itu jika karyawan dapat mencapai target, maka akan diberikan bonus berupa komisi. Seharusnya pemilik melakukan komunikasi secara berkala dan pemantauan secara langsung. Hal tersebut perlu dilakukan agar menjalin komunikasi yang baik kepada karyawan.
Masalah yang ketiga yaitu inovasi produk untuk meningkatkan penjualan.
Kendala yang dialami oleh perusahaan adalah mendapatkan barang dengan kualitas yang tidak baik. Oleh karena itu perusahaan membuat perjanjian kepada pihak supplier, jika barang yang tidak habis terjual maka akan dikembalikan. Tetapi inovasi produk harus menyesuaikan kebutuhan rumah tangga, sehingga inovasi produk tidak terlalu efektif untuk meningkatkan penjualan. Dikarenakan kebutuhan konsumen tertentu, maka perusahaan harus menyesuaikan kebutuhan rumah tangga. Jika perusahaan memiliki sistem pengendalian internal yang baik, maka masalah-masalah yang terjadi dapat terselesaikan. Oleh karena itu perusahaan seharusnya memiliki sistem pengendalian yang baik, untuk mencegah risiko-risiko tersebut terjadi lagi. Seharusnya pemilik memiliki
21
sistem yang memadai, berupa konfirmasi ulang kepada pembeli. Untuk mencegah penumpukkan barang dikarenakan pembelian produk, seharusnya pemilik memiliki catatan mengenai produk yang laku terjual dan barang yang diinginkan konsumen.
22 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan instrument COSO framework, PT Perkasa Jaya sudah memiliki beberapa komponen sistem pengendalian internal meskipun belum dirangkai menjadi sebuah sistem. Pengendalian internal yang terdapat di PT Perkasa Jaya yaitu lingkungan pengendalian (nilai-nilai yang ingin dicapai), penilaian risiko, dan aktivitas pengendalian.
Tetapi PT Perkasa Jaya memiliki beberapa komponen yang tidak ada dalam proses organisasi perusahaan. Komponen tersebut yaitu informasi dan komunikasi, serta pengawasan.
Dalam proses organisasi PT Perkasa Jaya memiliki beberapa masalah. Masalah tersebut yaitu piutang tak tertagih, loyalitas karyawan dan inovasi produk. Untuk mencegah risiko tersebut tidak terjadi khususnya pada piutang tak tertagih disebabkan oleh kolektor, maka kolektor harus menganti rugi. Jika dilakukan oleh konsumen maka tidak akan diberi kesempatan lagi untuk membeli produk dan barang akan diambil jika pembayaran lebih dari waktu yang telah disepakatai. Masalah kedua mengenai loyalitas karyawan. Dalam proses organisasi PT Perkasa Jaya memiliki beberapa karyawan freelance. Sehingga karyawan yang bekerja tidak efektif. Sehingga pemilik menerapkan komisi yang tinggi dan bonus untuk meningkatkan kinerja karyawan. Masalah yang ketiga yaitu inovasi produk. Untuk mengurangi risiko mendapatkan barang dengan kualitas yang jelek, maka perusahaan akan membuat perjanjian kepada supplier.
Dilihat dari risiko dan pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan memiliki beberapa komponen pengendalian untuk mencegah risiko terjadi. Dalam proses organisasi perusahaan tidak melakukan monitoring. Monitoring yang dilakukan hanya melihat pencatatan mengenai penjualan. Seharusnya perusahaan melakukan pemantauan dan komunikasi kepada karyawan secara berkala. Hal tersebut dilakukan agar loyalitas dan integritas karyawan terbangun. Tidak hanya itu pemilik juga membangun komunikasi kepada konsumen, untuk membangun kepercayaan. Saat ini pemilik tidak melakukan konfirmasi kepada konsumen. Tidak hanya itu, pemilik tidak memiliki pencatatan mengenai produk yang diinginkan konsumen dan produk yang terlaku. Hal tersebut
23
dilakukan agar tidak terjadi penumpukkan barang digudang, dikarenakan barang yang dibeli dari supplier tidak laku. Dilihat dari masalah-masalah yang ada di PT Perkasa Jaya, memiliki kelemahan pengendalian internal dalam hal aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta monitoring (Dapat dilihat pada Tabel 4 analisis permasalahan dan rekomendasi berdasarkan Pengendalian Internaal menurut COSO).
Berdasarkan penanganan permasalahan di PT Perkasa Jaya. Pengendalian yang dilakukan oleh PT Perkasa Jaya mengambil keuntungan yang besar. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisispasi masalah-masalah yang terjadi. Keuntungan rata-rata dua kali lipat sampai dengan dua setengah kali lipat. Alasan perusahaan melakukan tindakan tersebut untuk mengantisipasi konsumen dan kolektor yang benar-benar bermasalah.
Masalah tersebut yaitu konsumen yang benar-benar tidak bisa ditagih dan kolektor yang mengambil keuntungan sendiri. PT Perkasa Jaya memerlukan sebuah sistem yang baik, agar masalah yang terjadi dapat berkurang.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian dalam menyusun karya ini adalah penelitian ini hanya dilakukan dengan wawancara. Dari perolehan data penulis hanya melakukan wawancara dengan pemilik dan beberapa karyawan saja. Karyawan tersebut hanya satu orang yaitu admin perusahaan. Sumber informasi terbatas hanya pemilik dan admin yang mengerti proses dan jalanannya usaha. Memungkinkan hasil penelitian bisa saja tidak komperhensif, dikarenakan hanya dua orang sumber informasi.
Saran
Berdasarkan analisis sistem pengendalian internal di PT Perkasa Jaya belum memadai untuk mengatasi masalah yang ada. Ada beberapa komponen yang tidak diterapkan dalam proses organisasi, yaitu informasi dan komunikasi, serta pengawasan.
Sehubungan dengan itu maka diharapkan pemilik PT Perkasa Jaya melakukan, yang pertama konfirmasi pembayaran kepada konsumen. Tindakan tersebut dilakukan agar para kolektor tidak mengambil kesempatan untuk berbuat curang dalam hal memutarkan piutang atau mengambil uang tagihan konsumen. Sekaligus menjalin komunikasi yang
24
baik kepada konsumen dan karyawan. Tidak hanya itu, pemilik seharusnya memantau kinerja karyawan secara langsung agar loyalitas terjalin.
Yang kedua yaitu perusahaan diharapkan memiliki sistem yang diberlalukan dengan tegas diperusahaan, terkait dengan piutang tak tertagih. Misalnya dengan cara mengingatkan konsumen kapan tanggal jatuh tempo pembayaran. Selain itu memberlakukan sanksi tegas kepada konsumen yang pembayarannya mundur bulan.
Dengan cara tidak dapat mengambil barang sebelum melunasi utang sebelumnya. Jika kwitansi pembayaran penuh lebih baik mencatat dilembaran baru. Dapat dilihat di lampiran kwitansi pembayaran tagihan, konsumen yang membayar tagihan tidak sesuai kolektor mencatat dilembaran yang sudah penuh. Hal ini menyebabkan kwitansi membayaran tidak rapi, tidak mudah untuk membaca. Yang ketiga yaitu perusahaan diharapkan memiliki catatan mengenai produk yang diinginkan konsumen, dan produk yang paling terlaku. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penumpukan barang digudang, yang disebabkan oleh barang yang tidak laku dijual.
Berdasarkan masalah-masalah yang terjadi. Seharusnya pemilik menerapkan pengendalian berdasarkan informasi dan komunikasi, serta pengawasan. Hal tersebut harus dilakukan, agar membentuk sistem pengendalian internal pada siklus penjualan yang baik.