| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 1
ab 5: Area A AREA RESIKO SANITASI risiko Sanitasi
5.1 Area Berisiko Sanitasi
Risiko Sanitasi diartikan sebagai terjadinya penurunan kualitas hidup, kesehatan, bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sektor sanitasi dan perilaku higiene dan sanitasi. Proses penentuan area berisiko dimulai dengan analisis data sekunder, diikuti analisis berdasarkan hasil studi EHRA dan dengan penilaian SKPD. Penentuan area berisiko akan dilakukan bersama-sama seluruh anggota Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan berdasarkan hasil dari ketiga data tersebut.
1. Penentuan area berisiko berdasarkan data sekunder adalah kegiatan menilai dan memetakan tingkat
risiko sebuah area (kelurahan/desa) berdasarkan data yang telah tersedia di SKPD mengenai ketersediaan layanan fasilitas air bersih dan sanitasi dan data umum, meliputi nama kelurahan, luas administratif, luas terbangun; pertumbuhan penduduk; Jumlah KK dalam setiap kelurahan/desa; kepadatan penduduk;
klasifikasi urban dan rural; area CBD (Central Bussiness Development); Jumlah KK miskin; jumlah KK yang masih melakukan BABS; jumlah KK ke akses sistem tidak layak dan layak (On-Site) dan akses ke Sistem Komunal serta akses ke sistem terpusat (Off-Site); jumlah sampah rumah tangga yang terkumpul dan terangkut;
jumlah TPS dan TPS-3R yang ada dan juga jumlah Pasar; serta daerah yang terpengaruh pasang surut dan wilayah yang terpengaruh genangan..
2. Studi EHRA merupakan data primer yang diambil berdasarkan survey partisipatif di Kabupaten Buru Selatan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku higiene dan sanitasi skala rumah tangga di Kabupaten Buru Selatan dengan jumlah responden yaitu 400 rumah tangga di 10 Desa se-Kabupaten Buru Selatan. Hasil dari analisa Studi EHRA yang tergambarkan dalam Indeks Risiko Sanitasi (IRS) diartikan sebagai ukuran atau tingkatan risiko sanitasi, dalam hal ini dapat memberikan informasi “indicative Magnitude” atas skala permasalahan sanitasi secara relative di satu strata terhadap strata lainnya dan sebagai salah satu komponen dalam menentukan area berisiko sanitasi. Sebagai penentu area berisiko sanitasi, maka telah dipilih dan disepakati oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan beberapa indikator penentu area berisiko sanitasi yaitu : (1) Genangan Air, (2) Persampahan,
BAB
5
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 2 (3) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, (4) Air Limbah Domestik, (5) Sumber Air Minum Rumah Tangga.
3. Penentuan area beresiko berdasarkan penilaian SKPD diberikan berdasarkan pengamatan, pengetahuan praktis dan keahlian profesi yang dimiliki individu anggota pokja kabupaten yang mewakili SKPD terkait sanitasi dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) dan Bagian Humas Kabupaten Buru Selatan.
Berdasarkan penggabungan data Sekunder, Penilaian SKPD dan data studi EHRA untuk wilayah kajian sanitasi di 6 Kecamatan dengan 81 Desa, diperoleh gambaran area beresiko sanitasi Kabupaten Buru Selatan untuk pengelolaan air limbah domestik, pengelolaan persampahan dan drainase perkotaan. (Lihat Peta 5.1. Peta Ilustrasi Area Beresiko Sanitasi Air Limbah Domestik, Peta 5.2. Peta Ilustrasi Area Beresiko Sanitasi Persampahan, dan Peta 5.3. Peta Ilustrasi Area Beresiko Sanitasi Drainase Perkotaan)
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 3
Peta 5.1: Peta Area Berisiko Sanitasi Air Limbah Domestik
ZONA 2
ZONA 3
ZONA 2
KEC. FENAFAFAN
ZONA 3
ZONA 2 ZONA 3 ZONA 2
ZONA 3
ZONA 2
ZONA 2 ZONA 3
ZONA 3
Tinggi Rendah
PETA AREA BERESIKO AIR LIMBAH DOMESTIK
KEC. KEPALA MADAN
KEC. LEKSULA
KEC. NAMROLE KEC. WAESAMA
KEC. AMBALAU
Resiko Tinggi
ZONA 1 ZONA 1
ZONA 1
POKJA SANITASI KABUPATEN BURU SELATAN
Sangat Rendah Resiko sangat Tinggi Resiko Tinggi Resiko Rendah
PETA AREA BERESIKO AIR LIMBAH
TAHUN 2013
Resiko Sangat Rendah
POKJA SANITASI KABUPATEN BURU SELATAN
TAHUN 2013
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 4 Berdasarkan peta ilustrasi area beresiko sanitasi air limbah domestik Kabupaten Buru Selatan dapat dilihat bahwa 33 Desa merupakan area beresiko sangat tinggi dan 37 Desa merupakan beresiko tinggi. Sedangkan Desa lainnya merupakan area beresiko rendah dan sangat rendah. Hal ini dikarenakan sarana dan prasarana air limbah yang kurang memadai sehingga memicu perilaku buang air besar sembarangan (BABs). (Lihat Tabel 5.1. Area Beresiko Sanitasi Air Limbah Domestik)
Tabel 5.1: : Area berisiko sanitasi Air Limbah Domestik
N0 Area Berisiko Wilayah Prioritas
Air Limbah
1 Resiko 4 Labuang
Wali Tikbari Namrinat Labuang Wali Lena
Pohon Batu Waeteba Hote Waemasing Batu Kasa Pasir Putih Walbele Waeha Bala-bala Waehotong Ewiri Neath Liang Waehaolon Waenamaolon Lumoy
Nusa Rua Mangeswaen
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 5 Fakal
Uneth Waeraman Waelo Siwatlahin Trukat Waeken Batu Karang
2 Resiko 3 Wamkana
Waenalut Oki Baru Oki lama Masnana Kamanglale Waenono Batu Tulis Waetawa Waesili Simi Waelikut Balpetu Waekeka Nanali Fogi
Waepandan Air Ternate Sekat Batu Layar Siopot Emguhen Waeturen Waehaka Waemala Tifu
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 6 Nalbessy
Kase Slealale Walunhelat Waewali Grahwaen Terkuri Masawoy Ulima Selasi Elara
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Buru SelatanTahun 2014, hasil analisis
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 7
Peta 5.2: Peta Area Berisiko Sanitasi Persamspahan
Resiko sangat Tinggi Resiko Tinggi Resiko Rendah
PETA AREA BERESIKO PERSAMPAHAN
TAHUN 2013
Resiko Sangat Rendah
POKJA SANITASI KABUPATEN BURU SELATAN
TAHUN 2013
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 8 Wilayah area beresiko sanitasi untuk sub sektor persampahan Kabupaten Buru Selatan terdiri dari 9 desa yang beresiko sangat tinggi dan sebanyak 30 desa yang berisiko tinggi. Permasalahan utama yang ditemukan yakni perilaku masyakat yang sering membuang sampah ke drainase,sungai maupun tempat – tempat umum lainnya,sehingga menyebabkan buruknya sistem sanitasi dikelurahan tersebut.walaupun sistem pengangkutan sampah diKabupaten Buru Selatan sudah cukup memadai. (Lihat Tabel 5.2. Area Beresiko Sanitasi Persampahan)
Tabel 5.2: Area berisiko sanitasi Persampahan
N0 Area Berisiko Wilayah Prioritas
Persampahan
1 Resiko 4 Lena
Pasir Putih Walbele Ewiri Lumoy Masawoy Mangeswaen Uneth Waeraman
2 Resiko 3 Oki Baru
Labuang Wali Tikbari Namrinat Batu Tulis Waetawa Waelikut Wamsisi Pohon Batu Waeteba Hote Waemasing
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 9 Nanali
Fogi
Waepandan Air Ternate Emguhen Waehotong Waeturen Waemala Leksula
Kampung Baru Siwar
Nusa Rua Waelo Siwatlahin Trukat Waeken Batu Karang
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Buru SelatanTahun 2014,hasil analisis
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 10
Peta 5.3: Peta Area Berisiko Sanitasi Drainase Perkotaan
Resiko sangat Tinggi Resiko Tinggi Resiko Rendah
PETA AREA BERESIKO DRAINASE
TAHUN 2013
Resiko Sangat Rendah
POKJA SANITASI KABUPATEN BURU SELATAN
TAHUN 2013
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 11
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 12 Pada sub sektor drainase permasalahannya terletak pada dokumen-dokumen perencanaan yang menjadi pijakan dalam pengelolaan belum cukup tersedia dan partisipasi masyarakat serta pihak swasta belum terlibat secara optimal yang berakibat pada kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan drainase masih sangat rendah. Untuk wilayah dengan resiko sangat tinggi terdapat 26 Desa ,sedangkan untuk yang berisiko tinggi terdapat pada 16 Desa. (Lihat Tabel 5.3. Area Beresiko Sanitasi Drainase.)
Tabel 5.3: Area berisiko sanitasi Drainase
No. Area Berisiko Wilayah Prioritas
Drainase
1 Resiko 4 Waenalut
Elfule Oki Lama Labuang Wali Tikbari Masnana Namrinat Waefusi Batu Tulis Lena Waehotong Tifu
Leksula Neath Liang Slealale Walunhelat Waehaolon Waewali Lumoy Masawoy Kampung Baru Siwar
| Buku Putih Sanitasi Kabupaten Buru Selatan – 2014 13 Nusa Rua
Batu Karang
2 Resiko 3 Lektama
Fatmite Waelikut Wamsisi Waeteba Hote Pasir Putih Waepandan Waeturen Waemala Mangeswaen Waekatin Fakal Uneth Waeraman Waelo Siwatlahin Trukat Waeken
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014, hasil analisis