• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. lain juga dapat menimbulkan dampak yang justru merugikan kelangsungan hidup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. lain juga dapat menimbulkan dampak yang justru merugikan kelangsungan hidup"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Industri di Indonesia saat ini meningkat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Industri selalu diikuti masalah pencemaran lingkungan terutama yang berhubungan dengan proses kegiatan industri tersebut.

Industri-industri besar yang menggunakan bahan bakar fosil banyak menghasilkan gas buang yang dapat menyebabkan pencemaran udara. Kegiatan industri pada mulanya dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, namun pada sisi lain juga dapat menimbulkan dampak yang justru merugikan kelangsungan hidup manusia. Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing didalam udara yang menyebabkan adanya perubahan komposisi udara dari keadaan normalnya (Wardana, 2001).

Industri di Jawa Barat kini sangat berkembang pesat salah satunya Industri pembuatan boneka yaitu PT. Aurora World Cianjur yang terletak di Kabupaten Cianjur Jalan Raya Bandung-Cianjur. Adapun alur proses produksi yang ada di PT.

Aurora World Cianjur yaitu mulai dari gudang pendistribusian bahan baku pembuatan boneka yaitu kain lalu masuk kepada proses pemotongan atau ruang cutting dibagi menjadi 3 ruangan yaitu menggunakan metode fire cutting berbahan asbes, press (hidrolik), dan laser menggunakan mesin yang sudah diprogram dikomputer. Tahap selanjutnya penjahitan (sewing), lalu masuk kepada proses pembalikan yaitu dipasang aksesoris boneka seperti mata, hidung, kumis, dll lalu selanjutnya masuk ke tahap staffing atau pengisian kapas sintetis kedalam rangka boneka lalu finishing yaitu pemposisian karakter seperti boneka yang duduk atau

(2)

berdiri, lalu masuk kepada tahap spraying atau pengecatan dan tahap/proses terakhir yaitu packaging dan siap menjadi bahan export yang akan dikirim ke berbagai negara.

Alur proses produksi boneka salah satunya adalah ruang fire cutting atau ruang potong bakar. Fire cutting ini yaitu khusus untuk kain berbulu panjang dipotong dengan teknik fire cutting atau teknik cap bakar, dimana proses pemotongan kain ini dengan menggunakan asbes sebagai elemen panas. Bentuk konsepnya hampir mirip dengan setrikaan akan tetapi dengan tingkat panas yang lebih tinggi. Sehingga begitu diletakkan di atas kain, panas asbes ini langsung mampu memotong bulu-bulu kain panjang. Di ruang fire cutting ini terdiri dari 22 meja kerja dan 22 ventilasi lokal yang fungsinya hanya menghisap asap pembakaran dengan kapasitas rendah, pada masing-masing meja kerja terdiri dari 2 orang karyawan dan hampir semua karyawan di ruang fire cutting ini tidak menggunakan APD seperti sarung tangan dan masker khusus.

Berdasarkan data sekunder yang di dapat di area kawasan PT. Aurora World Cianjur pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 dengan masing-masing 2 semester pertahun dilakukan pengukuran kualitas udara, khusus untuk kadar debu total di udara (TSP) masih belum memenuhi persyaratan atau masih melebihi nilai ambang batas (NAB) pada tahun 2015 semester I kadar debu total (TSP) yang didapat yaitu 35,82 mg/ untuk semester II kadar debu total (TSP) yang didapat yaitu 35,82mg/ sedangkan untuk data tahun 2016 semester I kadar debu total (TSP) yang didapat yaitu 119,70 mg/ untuk semester II kadar debu total (TSP) yang didapat yaitu 14,84 mg/ .

(3)

Untuk menghindari bahaya gangguan kesehatan pekerja akibat paparan debu, pemerintah telah nenetapkan Nilai Ambang Batas (NAB) debu lingkungan kerja.

NAB debu adalah standar konsentrasi debu yang dianjurkan di tempat kerja agar tenaga kerja masih dapat menerimanya tanpa mengakibatkan penyakit gangguan kesehatan untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Kegunaan NAB ini sebagai rekomendasi pada praktek hygiene perusahaan dalam melakukan penatalaksanaan lingkungan kerja sebagai upaya untuk mencegah dampaknya terhadap kesehatan. Parameter partikel debu telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan republik Indonesia No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri yaitu tidak boleh melebihi 0,15 mg/ .

Berdasarkan pemantauan data medis klinik bulan Desember tahun 2016 di PT. Aurora World Cianjur bahwa penyakit yang berhubungan langsung di ruang kerja fire cutting dari 55 orang, penyakit yang paling banyak di derita yaitu pusing sebanyak 25 orang selanjutnya ISPA 17 orang, luka bakar 5 orang, sesak nafas 1 orang dan alergi 1 orang.

Partikel-partikel debu yang dapat dilihat oleh mata adalah yang partikel yang berukuran lebih besar dari 50 mikron, sedangkan yang berukuran kurang dari 10 mikron sulit atau tidak dapat dideteksi oleh mata, dan hanya dapat dideteksi oleh mata bila terdapat pantulan cahaya yang kuat dari partikel-partikel debu tersebut atau dengan menggunakan mikroskop (Sapta Prasetya, 2013). Partikel debu akan berada di udara dalam kurun waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan. Selain dapat membahayakan terhadap kesehatan juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan dapat mengadakan berbagai reaksi kimia sehingga komposisi debu di udara

(4)

menjadi partikel yang sangat rumit karena merupakan campuran dari berbagai bahan dengan ukuran dan bentuk yang relatif berbeda-beda (Pujiastuti, 2002).

Serabut kelapa bisa dijadikan sebagai media adsorben, proses adsorpsi dapat berlangsung jika padatan, molekul gas atau cair dikontakkan dengan molekul- molekul adsorbat maka didalamnya terdapat gaya kohesif atau gaya hidrostatik dan gaya ikatan hidrogen yang bekerja diantara molekul seluruh material (Nasution, 2015). Struktur dari serabut tersusun atas natural sellulose (sellulose, lignin, dan hemisellulose) yang secara alami memberi struktur berpori sehingga bahan-bahan tersebut dapat digunakan sebagai media adsorbsi (Paskawati, 2010). Serabut kelapa mengandung ± 43% sellulose. Serbuk selulosanya merupakan zat padat kasar yang polar, selulosa ini memiliki afinitas yang besar terhadap zat terlarut yang polar apalagi bila kepolaran pelarutnya rendah. Serabut kelapa juga mengandung lignin sekitar 20%, lignin merupakan bioplymer aromatic kompleks yang memliki berat molekul besar dan terbentuk dari proses polimerisasi phydroxycinnamyl alcohol.

Lignin memiliki aldehida, keton asam, phenol dan ether sehingga pada lignin dapat

terjadi adsorbsi kimia. Hemiselulosa merupakan senyawa sejenis polisakarida yang terdapat pada semua jenis serat, mudah larut dalam alkali dan mudah terhidrolisis oleh asam mineral menjadi gula dan senyawa lain (Rahayu L.H dkk, 2014).

Ketebalan serabut kelapa sebagai media adsorbsi yang dikemukakan oleh Mia A.P dkk dalam jurnal yang berjudul Sistem Filter Pm2,5 Berbahan Campuran Serbuk Sabut Kelapa Dan Lem Kanji Dengan Perbandingan 50:50 jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya Malang bahwa ketebalan 6 cm efektif untuk menjadi media adsorbsi.

Prinsip kerja ventilasi pengeluaran setempat (lokal exhaust ventilation) yang ada di PT. Aurora World Cianjur hanya menggunakan fan sebagai penghisap dan

(5)

polutan langsung dibuang ke udara ambien, ventilasi lokal di ruangan ini akan di tambahkan media adsorben berupa serabut kelapa agar bisa menurunkan kadar debu total yang dihasilkan dari proses produksi.

Berdasarkan kasus diatas peneliti tertarik melakukan eksperimen tentang

“Perbedaan ketebalan serabut kelapa sebagai adsorben dalam menurunkan kadar debu total pada proses fire cutting di PT. Aurora World Cianjur”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah ada perbedaan ketebalan serabut kelapa sebagai adsorben dalam menurunkan kadar debu total di PT. Aurora World Cianjur?”.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ketebalan serabut kelapa sebagai adsorben dalam menurunkan kadar debu total di PT. Aurora World Cianjur.

(6)

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui rata-rata kadar debu total sebelum dan sesudah menggunakan adsorben serabut kelapa.

b. Untuk mengetahui rata-rata persentase penurunan kadar debu total setelah melewati berbagai ketebalan adsorben serabut kelapa.

c. Untuk mengetahui rata-rata perbedaan persentase penurunan kadar debu total setelah melewati berbagai ketebalan serabut kelapa.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti

Peneliti dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajari, menambah wawasan dan mensosialisasikan teori dan alat yang telah dibuat.

1.4.2 Bagi Institusi

a. Sebagai bahan kajian proses pembelajaran dalam mata kuliah penyehatan udara

b. Sebagai bahan masukkan atau referensi di perpustakaan.

1.4.3 Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadikan bahan masukkan di PT.

Aurora World Cianjur terkait mata kuliah penyehatan udara khususnya kadar debu total, serta memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat.

(7)

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu penelitian eksperimen, penelitian ini mengambil objek tentang penyehatan udara, dengan tujuan mengetahui perbedaan ketebalan serabut kelapa sebagai adsorben dalam menurunkan kadar debu total di PT. Aurora World Cianjur.

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran perawatan kulit wajah secara manual dengan menggunakan model pembelajaran berbasis kooperatif tipe Two

10 Pada diagram diatas dapat dilihat dari tahun ke tahun terdapat peningkatan jumlah konsultan pajak di Indonesia yang terdaftar dalam IKPI yang cukup

Secara garis besar pemanfaatan Posyandu Lansia berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis Lansia di Kecamatan IV Angkek, yang dapat dilihat dari hasil

Seperti studi yang telah dilakukan oleh Vira dan Ruadsepp (dalam Zadeh, 2014) bahwa bila ketrampilan motorik ini kurang adekuat maka menyebabkan hilangnya keberhasilan dan

Sikap negatif dapat dilihat dari prestasi yang kurang baik, kurang produktif, kurang loyal terhadap perusahaan, tidak bertanggung jawab dalam bekerja, hubungan yang kurang baik

Masyarakat di Desa Bantunan mempunyai sistem paruan dan sistem nyasih dalam pengelolahan perkebunan kopi, sebagian besar keuntungan setengah dari hasil kebun dalam

Sedangkan untuk benda atau sampah antariksa yang berukuran lebih besar, sekitar 10 cm, umumnya masih bisa dideteksi oleh sistem patroli antariksa, sehingga jika

Hal ini dapat dilihat pengaruh negatifnya pada sebahagian besar siswa tersebut, contohnya: kurang terbiasa bergaul atau cenderung penyendiri, kurangnya toleransi