• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAMANITYA DEWI PUTRI 1) Jl. Duri Pekanbaru Km. 77 KANDIS, KAB. SIAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RAMANITYA DEWI PUTRI 1) Jl. Duri Pekanbaru Km. 77 KANDIS, KAB. SIAK"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

31 PERLINDUNGAN HUKUM PENERAPAN KLAUSULA EKSONERASI

PADA PERJANJIAN INVESTASI PERDAGANGAN KONTRAK BERJANGKA BAGI NASABAH DI PT KONTAK PERKASA FUTURE PEKANBARU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN

1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN RAMANITYA DEWI PUTRI1)

1)Instut Agama Islam Edi Haryono Madani Riau (IAI EHMRI) Jl. Duri – Pekanbaru Km. 77 KANDIS, KAB. SIAK

E-mail: [email protected]

ABSTRACT

This study aims to determine the legal protection of the application of the exoneration clause in futures contract trading investment agreements for customers at PT Kontak Perkasa Futures Pekanbaru based on Law No. 8 of 1999 concerning consumer protection. the method used in determining the sample in this study is the census method. The results of the study show that the implementation of the exoneration clause in the futures contract trading investment agreement through the stages of notification of the futures exchange by futures brokers, processing customer data and making agreements about investments and signing investment cooperation agreements. laws and regulations in the field of futures trading.

Keywords: Investments, Expansion clauses, Clients and Futures Brokers

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum penerapan klausula eksonerasi pada perjanjian investasi perdagangan kontrak berjangka bagi nasabah di pt kontak perkasa future pekanbaru berdasarkan uu no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. metode yang digunakan dalam menetapkan sample pada penelitian ini adalah metode sensu. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan klausul eksenorasi dalam perjanjian investasi perdagangan kontrak berjangka melalui tahapan pemberitahuan tentang bursa berjangka oleh pialang berjangka, Pemprosesan data nasabah dan pembuatan kesepakatan tentang investasi dan penandatanganan perjanjian kerjasama investasi, Setiap pihak dilarang melakukan kegiatan perdagangan berjangka, kecuali kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang perdagangan berjangka

Kata Kunci: Investasi, Klausul eksenorasi, Nasabah dan Pialang berjangka

A. PENDAHULUAN

Suatu kenyataan hidup bahwa manusia itu tidak dapat hidup sendiri (zoon politicon), dirinya hidup berdampingan bahkan berkelompok dan sering mengadakan hubungan antar sesamanya (R. Abdoel Djamali, 2001:1) Pemenuhan kebutuhan tersebut menimbulkan hubungan perdagangan.

(2)

32

Perdagangan atau dalam istilahnya yang lain, “perniagaan” pada umumnya ialah pekerjaan membeli barang dari suatu tempat atau pada suatu waktu dan menjual barang itu ditempat lain atau pada waktu yang berikut dengan maksud untuk memperoleh keuntungan.

Menghadapi era perdagangan bebas (Free Trade Area Era)dan sejalan dengan kesepakatan Indonesia dalam WTO(World Trade Organization), APEC (Asia Pacific Economic Community), dan AFTA (Asian Free Trade Area) serta Paket Reformasi 15 Januari 1998, pemerintah Indonesia telah mengurangi campur tangan di bidang tata niaga komoditi dan menyerahkannya pada mekanisme pasar. Kehadiran Bursa Berjangka di Indonesia sebagai tempat diselenggarakannya perdagangan Kontrak Berjangka Komoditi sangatlah relevan, karena Kontrak Berjangka merupakan instrumen pasar yang memiliki spectrum luas dinegara-negara maju dan berkembang serta paling bsanyak digunakan untuk pengelolaan risiko harga yang dibutuhkan dunia usaha (Lihat BAPPEBTI, http://www.bappebti.go.id/id/edu/brochures/detail/126.html, Diakses Pada Tanggal 20 September 2015 Pukul 20.30 wib) Investasi di bidang Perdagangan Berjangka merupakan suatu bentuk investasi di sektor finansial yang sekarang ini lazim disebut sebagai pasar derivatif. A derivative is a financial contract between two or more parties, whichis derived from the future value of an underlying asset. Derivative are consist of : Forward contract, Futures Contract, Options Contract, Swaps Transactions. Dalam terjemahan bebasnya, pasar derivatif adalah terdapatnya kontrak keuangan antara dua pihak atau lebih yang berasal dari nilai masa depan dari aset yang mendasari . Derivatif ini terdiri dari : Kontrak Saham , Kontrak Berjangka , Pilihan Kontrak , Swap Transaksi.

Dalam bursa berjangka investor melakukan penanaman modal melalui Perusahaan Pialang Berjangka, hal ini dikarenakan investor tidak dapat terjun langsung ke bursa berjangka untuk menanamkan investasinya karena investor bukanlah anggota dari bursa berjangka, sehingga dalam menanamkan investasinya harus melalui Perusahaan Pialang Berjangka, sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Jadi dengan kata lain investor menitipkan investasinya kepada Perusahaan Pialang Berjangka agar diteruskan untuk dikelola dan diinvestasikan di bursa berjangka.

PT. Kontrak Perkasa Future memiliki klausul baku yang mengandung penggantian kerugian, pembatasan tangung jawab, serta adanya risiko. Namun dalam praktiknya, pada kebanyakan kasus klausul baku sering digunakan dengan tujuan untuk pihak mereka sendiri selaku pihak ketiga atau perantara.

Nasabah telah menginvestasikan dana kepada PT. Kontak Perkasa Future dengan memilih transaksi jenis produk Emas (Gold) Derivatives Investment dengan persentase keuntungan yang sangat menggiurkan Per-Hari terhitung sejak transaksi (Trading) itu dilaksanakan oleh nasabah maupun pialang berjangka. Pialang Pada saat melakukan perjanjian memberitahukan adanya resiko namun pialang berjangka dengan tegas dan jelas serta meyakin kan nasabah bahwa keuntungan itu pasti dapat diperoleh dan secara pribadi dapat ia pertanggung jawabkan (Wawancara Dengan Ibu Herawati (Nasabah

(3)

33 PT.Kontak Perkasa Future) Pada Hari Minggu 03 Januari 2016 Pukul 17.00 wib)

Pada saat selang satu hari bertransaksi (Trading) nasabah mendapat laporan via telepon bahwa lot nasabah berada dalam posisi Loss Trading atau tersangkut dengan harga tertinggi, Sehingga membuat nasabah dengan terpaksa harus kembali menyetorkan dana tersebut, dan hal tersebut tertulis pada perjanjian investasi PT. Kontak perkasa futures pada perjanjian pemberian amanat pasal 4 ayat 2 :

“Apabila jumlah margin memerlukan penambahan maka pialang berjangka wajib memberitahukan dan memintakan kepada nasabah untuk menambah margin segera”

Namun setelah dana tersebut disetorkan nasabah tetap tidak bisa menyelamatkan margin dan tidak ada sedikitpun laporan formalitas atas kegagalan trading dari pialang berjangka maupun perusahaan bahkan pialang berjangka maupun perusahaan tidak ada menemui pihak nasabah.

Kerjasama investasi ini pada kenyataannya menimbulkan kerugian pada nasabahnya. Pada saat itu PT. Kontrak Perkasa nasabah telah mengalami Loss Trading dan tidak menginformasikan kepada herawati sebagai nasabahnya, sehingga herawati tidak menerima sedikitpun sharing profit seperti yang dijanjikan.

Klausul eksonerasi yang tertuang dalam perjanjian antara PT.

Menghadapi hal ini nasabah cenderung bersikap pasrah tidak berdaya atau bahkan tidak menyadari pencantuman klausul eksonerasi dalam perjanjian tersebut. Padahal klausul eksonerasi dalam perjanjian menempatkan nasabah pada posisi tawar yang lemah, karena pihak yang lemah bargaining position- nya hanya sekedar menerima segala isi kontrak dengan terpaksa (Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan (Bagian Pertama):2013, 88-89), sebab apabila ia mencoba menawar dengan alternatif kemungkinan besar akan kehilangan apa yang dibutuhkannya.

Berkaitan dengan hal-hal yang telah diuraikan di atas, penulis tertarik untuk menulis Penelitian dengan judul : “Perlindungan Hukum Penerapan Klausula Eksonerasi Pada Perjanjian Investasi Perdagangan Kontrak Berjangka Bagi Nasabah di PT Kontak Perkasa Future Pekanbaru Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen”

B. KONSEP TEORITIS 1. Perjanjian

Menurut Abdul kadir Muhammad, perjanjian adalah suatu persetujuan dimana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan (Abdulkadir Muhammad:1990, 78).

R. Subekti, menyatakan “Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau di mana 2 orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal, yang dalam bentuknya perjanjian itu dapat dilakukan sebagai suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan secara lisan maupun tertulis”.

(4)

34

Pada umumnya perjanjian tidak terikat kepada suatu bentuk tertentu, dapat dibuat secara lisan maupun secara tertulis (R. Subekti, 1994:1), ketentuan ini dapat dibuat lisan atau tertulis lebih kepada bersifat sebagai alat bukti semata apabila dikemudian hari terjadi perselisihan antara pihak-pihak yang membuat perjanjian. Akan tetapi ada beberapa perjanjian yang ditentukan bentuknya oleh peraturan perundang-undangan, dan apabila bentuk ini tidak dipenuhi maka perjanjian tersebut menjadi batal atau tidak sah, seperti perjanjian pendirian Perseroan Terbatas.

a. Syarat Sah Perjanjian

Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) berbunyi : untuk sahnya suatu perikatan diperlukan empat syarat (R.

Subekti, R Tjirosudibio,2001:339) : 1) Sepakat mereka yang mengikatkan diri.

2) Maksudnya bahwa kedua pihak yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat, setuju mengenai hal-hal yang menjadi pokok dari perjanjian yang dilakukan/diadakan itu.

3) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.

4) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan, maksudnya bahwa pihak- pihak yang membuat perjanjian tersebut merupakan orang yang sudah memenuhi syarat sebagai pihak yang dianggap cakap menurut hukum.

5) Suatu hal tertentu.

6) Suatu hal tertentu yang dimaksudkan dalam persyaratan ketiga syarat sahnya suatu perjanjian ini adalah obyek dari pada perjanjian. Suatu sebab yang halal.

7) Pengertian dari suatu sebab yang halal yaitu, bahwa isi dari perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, norma-norma agama, kesusilaan, dan ketertiban umum.

b. Lahirnya Perjanjian

Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Pasal 1338 (1) yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Jadi dapat disimpulkan bahwa bilamana sudah tercapai kata sepakat antara para pihak yang membuat perjanjian, maka sahlah sudah perjanjian itu atau mengikatlah perjanjian itu atau berlakulah ia sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

c. Berakhirnya Perjanjian

Berakhirnya sebuah perjanjian yaitu sesuai dengan aturan dalam pasal 1381 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang berbunyi : perikatan-perikatan hapus apabila pelunasan dan suatu perjanjian dengan pembayaran sejumlah uang atau benda, Penawaran Pembayaran Tunai Diikuti Oleh Penyimpanan Atau Penitipan Barang, pembaharuan Hutang, Percampuran Hutang, Pembebasan Hutang, Musnahnya Barang Yang Terhutang, Kebatalan dan Pembatalan Perjanjian, Berlakunya Suatu Syarat Batal, dan karena lewat Waktu atau Kadaluarsa.

(5)

35 d. Asas Perjanjian

Asas perjanjian terdiri dari (Mariam Darus Badrulzaman, Dkk, 2001:1) Asas kebebasan berkontrak, Asas konsensualisme (Salim HS , 2001:157), Asas itikad baik, Asas Pacta Sun Servanda, Asas berlakunya suatu perjanjian.

2. Kontrak Berjangka a. Pengertian

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Kontrak Berjangka adalah suatu bentuk kontrak standar untuk membeli atau menjual komoditi dalam jumlah, mutu, jenis, tempat, dan waktu penyerahan di kemudian hari yang telah ditetapkan, dan termasuk dalam pengertian Kontrak Berjangka ini adalah Opsi atas Kontrak Berjangka (Pasal 1, angka 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi)

Pasar Berjangka (Futures Market) merupakan bagian dari pasar derivatif yang digunakan oleh berbagai pihak untuk mengelola risiko. Di Indonesia pasar ini sudah lama dirasakan kebutuhannya, tetapi realisasinya sangat lambat. Berbagai kendala seperti sedikitnya yang berminnat jadi promotor kesan bahwa perdagangan Berjangka sama dengan judi dan sebagainya, belum lagi masalah persaingan dan perselisihan antara pemerintah dengan pialang tidak resmi.

b. Mekanisme Transaksi Kontrak Berjangka

Bursa Komoditi adalah sarana perniagaan yang disediakan sebagai tempat pertemuan untuk mengadakan transaksi dagang antara pengusaha yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang komoditi (Pasal 1, angka 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi). Ketentuan tersebut sesuai dengan pengaturan yang terdapat dalam Pasal 31 ayat 1 Undang-undang No. 32 Tahun 1997. Investor apabila ingin melakukan transaksi dibursa berjangka luar negeri, maka harus menjadi anggota atau nasabah dari pialang berjangka anggota kliring atau langsung mendaftar menjadi anggota pialang yang ada diluar negeri.

Nasabah setelah menyetorkan marginnya, maka selanjutnya nasabah menghubungi wakil pialang untuk melaporkan bukti setoran margin ke kliring berjangka. Wakil pialang akan menyampaikan laporan ke Kliring Berjangka dan amanat nasabah ke Bursa Berjangka untuk melakukan pembelian komoditi. BursaBerjangka yang sudah menerima amanat nasabah melalui wakil pialang melakukan konfirmasi laporan transaksi ke Kliring Berjangka.

Pialang berjangka harus berbadan hukum perseroan terbatas, selain itu supaya legal, pialang berjangka harus menjadi anggota bursa dan mendapatkan izin usaha terlebih dahulu dari BAPPEBTI sebelum beroperasi. Dalam hubunganya di dalam lembaga kliring, pialang berjangka terbagi dalam dua kategori keanggotaan yaitu pialang berjangka yang merangkap sebagai anggota kliring dan pialang berjangka non anggota kliring (Ibid). Hanya transaksi yang didaftarkan Pialang Berjangka berstatus anggota Kliring yang memperoleh jaminan dari

(6)

36

Lembaga Kliring. Berikut Gambar Hubungan para pelaku perdagangan Berjangka (Sawidji Widoatmodjo, 2001:56)

Keterangan :

Pengawasan

Proses Perdagangan

BAPPEBTI : Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi BBJ : Bursa Berjangka Jakarta

KBI : Kliring Berjangka Indonesia

Gambar I. Hubungan para pelaku perdagangan Berjangka

c. Manfaat Perdagangan Berjangka

Perdagangan Berjangka mempunyai banyak sekali manfaat, baik itu bagipengusaha maupun bagi perekonomian nasional. Dalam teori ekonomi, pasar adalah tempat bertemunya penawaran dan permintaan.

Bursa berjangka memberikan suatu mekanisme pembentukan harga bagi semua pelaku di dalamnya. Harga yang terjadi dari suatu transaksi perdagangan berjangka dipakai sebagai harga patokan bagi bermacam- macam kegiatan yang dapat meningkatkan efisiensi sistem pemasaran secara menyeluruh (Lumban Batu Pantas, 2010:106-107). Dengan referensi harga tersebut, baik produsen maupun konsumen dapat membuat perencanaan yang baik atas produksi ataupun konsumsi berdasarkan informasi tersebut.

Dalam konteks perekonomian nasional, perdagangan berjangka dapat dipergunakan sebagai alat pengendali inflasi. Palaniappan Chidambaran berpendapat bahwa perdagangan berjangka memiliki pengaruh dalam mengatur spekulasi naiknya harga bahan makanan seperti beras, jagung, kedelai, minyak goreng, dan gula di India.

perdagangan berjangka merupakan sarana early warning system dalam pengendalian inflasi suatu negara

(7)

37 d. Resiko Perdagangan Berjangka

Perdagangan berjangka bersifat high risk high return. Investor mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan yang besar akan tetapi tidak tertutup kemungkinan menderita kerugian atas keseluruhan margin.

Sebelum investor mengambil keputusan bertransaksi, perlu dilakukan analisis fundamental dan analisis teknikal. Dengan dipergunakannya analisis fundamental dan teknikalyang akurat dapat meminimalisir kemungkinan rugi ataupun membatasi kerugian yang telah terjadi (Http://Www.Bappebti.Go.Id/?Pg=Faq, Diakses Tanggal 21 Desember 2015, Pada Pukul 19.17 wib)

3. Pengertian Umum Tentang Klausula Eksenorasi

Pengertian klausula baku terdapat dalam Pasal 1 angka 10 Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yaitu setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Yang dibakukan dalam perjanjian tersebut adalah klausul-klausulnya bukan formulir perjanjian (Ibid)

Pelaku usaha yang merancang format dan isi perjanjian adalah pihak yang memilki kedudukan lebih kuat, maka dapat dipastikan bahwa perjanjian tersebut memuat klausul-klausul yang menguntungkan baginya, atau meringankanbahkan menghapus beban-beban atau kewajiban-kewajiban tertentu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Prinsip tanggung jawab pelaku usaha yang membentuk klausul eksenorasi ini adalah prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation ol liability principle.

Pasal 18 ayat (1) UUPK yang pada pokoknya mengatur bahwa klausul eksonerasi dilarang penggunaannya. Dimana salah satu rumusan tidak boleh mencantumkan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha yang merupakan wujud dari persetujuan-persetujuan istimewa dan memungkinkan tidak diwajibkan menanggung akan suatu apapun.

4. Hukum Perlindungan Konsumen

Berdasarkan penjelasan pasal 2 UUPK, perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 (lima) asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu :

a. Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamatkan bahwa segala upaya dalam penyelanggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.

b. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.

(8)

38

b. Asas keadilan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintahan dalam arti materiil ataupun spiritual.

c. Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atau keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan manfaat barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan

e. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyenggaraan perlindungan konsumen, serta Negara menjamin kepastian hukum.

Tujuan perlindungan konsumen tersebut merupakan isis pembangunan nasional yang menjadi sasaran akhir yang harus dicapai dalam pelaksanaan pembangunan di bidang hukum perlindungan konsumen. Keenam tujuan tersebut hanya dapat tercapai secara maksimal, apabila didukung oleh keseluruhan subsistem perlindungan yang diatur dalam UUPK, tanpa mengabaikan fasilitas penunjang dan kondisi masyarakat.

C. METODE PENELITIAN 1. Jenis dan Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk dalam golongan penelitian hukum kombinasi (normatif-empiris) atau Applied Law Research (Abdulkadir Muhammad, 2004:185), penelitian hukum ini menggunakan studi kasus hukum normatif-empiris berupa produk prilaku hukum.

Pendekatan yuridis normatif dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang dengan bahan hukum baik primer, sekunder maupun tersier terutama UU No. 8 Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen, Dalam kaitannya dengan hal tersebut, penelitian ini akan meneliti hukum positif tertulis. Sebagai penelitian normatif penelitian ini menggunakan Statute Approach (Pendekatan Perundang-Undangan), Conceptual Approach (Pendekatan Konsep), dan Case Approach (Pendekatan Kasus)( Johny Ibrahim, 2007: 302).

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini berada pada kota Pekanbaru Provinsi Riau, dengan alasan dan pertimbangan di wilayah tersebut PT. Kontak perkasa Futures dan nasabahnya berdomisili.

3. Analisis Data

Analisa data yang utama dilakukan yaitu pengumpulan data, data di kumpulkan dari populasi dan sampel yang dijadikan objek oleh penulis. Lalu penulis mencocokkan dengan bahan hukum primer berupa perjanjian investasi tersebut dan sumber hukum tertulis lainnya. Sebagai alat pengumpul data yang utama digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Observasi dan wawancara. merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap objek penelitian dan mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan melalui tanya jawab secara

(9)

39 langsung kepada responden yang disesuaikan dengan permasalahan yang dibahas.

4. Metode Penerikan Kesimpulan

Penelitian penulis ini menggunakan metode penelitian hukum kombinasi, data dapat dianalisis secara kualitatif. Analisis secara kualitatif merupakan analisis dengan cara mendeskripsikan, kemudian membandingkan antara data dengan ketentuan peraturan perundang- undangan atau pendapat para ahli hukum.

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara induktif, yaitu menggabungkan dari hal-hal yang khusus ke yang umum, sementara dianalisis dengan menggunakan tehnik deskripsi, interpretasi, argumentasi, evaluasi, dan sistematisasi.

D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pelaksanaan Klausul Eksenorasi Dalam Perjanjian Investasi Perdagangan Kontrak Berjangka Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Hasil Penelitian menyimpulkan Klausul Eksenorasi Dalam Perjanjian Investasi Perdagangan Kontrak Berjangka melalui beberapa tahapan, yaitu Pemberitahuan tentang Bursa Berjangka oleh pialang berjangka, pemprosesan data nasabah dan pembuatan kesepakatan tentang investasi dan penandatanganan perjanjian kerjasama investasi.

Perjanjian investasi antara investor dengan perusahaan Pialang Berjangka merupakan dasar hukum utama dan acuan bagi para pihak untuk pelaksanaan kerjasama investasi dari investor di Bursa Berjangka (Http ://Www.Dudung.Net/, Diakses Pada Hari Sabtu Tanggal 16 Januari 2016 Pukul 20.30 wib). Ketentuan ini diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”

Dari Perjanjian antara Perusahaan Pialang Berjangka dengan Nasabah/Investor dalam transaksi adalah dibuat dalam formulir-formulir yang telah dibakukan secara rinci dan cermat (Sawidji Widoatmodjo, 2001:28). Dalam perjanjian transaksi tersebut, isinya direncanakan terlebih dahulu oleh para pihak perusahaan pialang berjangka. Sehingga nasabah/investor tinggal menyetujuinya saja apabila nasabah bersedia menerima aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan serta yang ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh perusahaan pialang berjangka.

Pasal 106 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Komoditi yang menyatakan bahwa:

“Sebelum membuka rekening Nasabah untuk transaksi Kontrak Berjangka, Pialang Berjangka wajib:

a. Memberitahukan dan menjelaskan tentang keterangan perusahaan yang dimuat dalam Dokumen Keterangan Perusahaan, resiko yang dihadapi

(10)

40

dalam Perdagangan Berjangka Komoditi yang dimuat dalam Dokumen Pemberitahuan Adanya Resiko, dan isi perjanjian pemberi amanat yang isi dan bentuknya ditetapkan oleh Bappebti.

b. Memberikan informasi yang jelas dan tidak menyesatkan tentang prosedur Perdagangan Berjangka Komoditi;

c. Menjelaskan isi Kontrak Berjangka yang akan ditransaksikan oleh nasabah;

d. Menerima dokumen sebagaimana dimaksud huruf a, yang telah ditandatangani dan diberi tanggal oleh Nasabah sebagai tanda bukti telah mengerti dan menyutujui isi dokumen dan prosedur transaksi Kontrak Berjangka;

e. Segera memberitahukan kepada seluruh Nasabahnya, apabila ada perubahan dalam peraturan yang berlaku; dan

f. Meneliti semua informasi yang telah diberikan oleh Nasabah dalam permohonan pembukuan rekening untuk meyakinkan tidak adanya kesalahan atau kekurangan dalam pengisian.”

Pialang Berjangka berkewajiban untuk menjelaskan semua hal dengan sejelas-jelasnya kepada investor tentang status Pialang Berjangka dan Perusahaan Pialang Berjangka tersebut maupunadanya penjelasan tentang risiko yang mungkin akan dialami oleh investor dalam pelaksanaan investasinya di Bursa Berjangka.

Pada pemrosesan data nasabah, Data yang dikumpulkan adalah data tentang nasabah atau calon investor yang akan melakukan investasi di Bursa Berjangka.

Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi yang menyatakan bahwa “Pialang Berjangka dilarang menerima amanat Nasabah apabila mengetahui Nasabah yang bersangkutan:

a. Telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan;

b. Telah dinyatakan melanggar ketentuan Undang-Undang ini dan/atau peraturan pelaksanaannya oleh Badan peradilan atau Bappebti;

c. Pejabat atau pegawai:

1) Bappebti, Bursa Berjangka, Lembaga Kliring, atau

2) Bendaharawan lembaga yang melayani kepentingan umum, kecuali yang bersangkutan mendapat kuasa dari lembaga tersebut.”

Pembuatan kesepakatan tentang investasi yang akan dilakukan merupakan hal yang sangat penting karena kesepakatan tersebut yang akan menentukan jenis investasi yang akan dilakukan nasabah di Bursa Berjangka. Berdasarkan tahapan Perjanjian Kerjasama Investasi terdapat juga tahapan Pelaksanaan Investasinya . Tahap ini merupakan tahap utama dalam melaksanakan investasi karena pada tahap ini menentukan untung ruginya investasi yang dilakukan. Tahapan Pelaksanaan Investasi terbagi menjadi :

1) Tahap pemberian amanat dari nasabah kepada pialang berjangka.

2) Penempatan dana nasabah pada rekening terpisah.

(11)

41 2. Perlindungan Hukum Penerapan Klausul Eksenorasi Dalam Perjanjian Investasi Perdagangan Kontrak Berjangka Serta Perlindungan Hukum Kepada Nasabah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Hasil Penelitian menyimpulkan, dalam penelitian yang dilakukan penulis kepada seluruh perusaahan investasi perdagangan berjangka di kota Pekanbaru, ditemukan bahwa seluruh isi klausula perjanjian atau kontrak yang dimiliki seluruh perusahaan adalah sama. Dikarenakan semua klausula perjanjian diterbitkan oleh BAPPEBTI.

BAPPEBTI memegang peranan penting dalam memastikan bahwa kontrak investasi selaras dengan perlindungan hukum yang telah dijamin

dalam peraturan perundang-undangan

(Http://Www.Bappebti.Go.Id/?Pg=Faq, Op. Cit.)

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 64/BAPPEBTI/Per/1/2009 mengatur bahwa kontrak investasi antara Perusahaan Pialang Berjangka dengan nasabahnya disebut dengan istilah Perjanjian Pemberian Amanat, yang berlaku secara baku untuk setiap kontrak investasi yang disepakati antara Perusahaan Pialang Berjangka dengan setiap nasabahnya.

Klausula-klausula dalam Perjanjian Pemberian Amanat yang merupakan bentuk perlindungan hukum terhadap nasabah Pialang Berjangka yang melakukan transaksi dalam sistem perdagangan alternatif:

a. Nasabah diwajibkan untuk menempatkan sejumlah dana ke Rekening Terpisah

b. Setiap amanat yang disampaikan oleh nasabah atau kuasanya yang ditunjuk secara tertulis oleh nasabah, dianggap sah apabila diterima Pialang Berjangka sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

c. Pialang Berjangka tidak bertanggung jawab untuk memberikan penilaian kepada nasabah mengenai iklim, pasar, keadaan politik dan ekonomi nasional dan internasional, nilai kontrak berjangka, kolateral, atau memberikan nasihat mengenai keadaan pasar.

d. Pialang Berjangka berkewajiban menyampaikan konfirmasi transaksi, laporan rekening, permintaan call margin, dan pemberitahuan lainnya kepada nasabah secara akurat, benar dan secepatnya pada alamat nasabah sesuai dengan yang tertera dalam rekening nasabah

e. Nasabah dapat memberikan kuasa kepada pihak lain kecuali kepada pegawai Pialang Berjangka atau pihak lainnya yang memiliki kepentingan dengan Pialang Berjangka.

f. Nasabah mengakui menerima dan mengerti Dokumen Pemberitahuan Adanya Resiko

Perjanjian Pemberian Amanat seperti yang diwajibkan dan diberlakukan secara baku oleh Bappebti tidak cukup memberikan perlindungan kepada nasabah. Perjanjian Pemberian Amanat yang bersifat baku tersebut perlu untuk dilanjutkan keberlakuannya, dengan menyesuaikan terhadap ketentuan Undang-undang Nomor 10 tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka

(12)

42

Komoditi. Penyesuaian ini krusial karena Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 64/BAPPEBTI/Per/1/2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 63/BAPPEBTI/Per/1/2008 Tentang Ketentuan Teknis Perilaku Pialang Berjangka, diterbitkan dalam rezim Undang-undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

Perjanjian investasi PT. Kontak Perkasa Futures dengan nasabahnya mengandung kewajiban yang melanggar undang-undang yakni mencantumkan klausul eksenorasi yang dilarang oleh Undang-undang perlindungan konsumen. . Larangan membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian diatur dalam Pasal 18 ayat (1), berupa :

a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha.

b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen.

c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli konsumen.

d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen.

f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa.

g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya.

h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

Pada perjanjian investasi pada PT. Kontak perkasa future melanggar Larangan membuat atau mencantumkan klausula baku pada dokumen dan/atau perjanjian. Yang telah diatur dalam Pasal 18 ayat (1), pada huruf a dan g, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

D. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai, perlindungan hukum penerapan klausula eksonerasi pada perjanjian investasi perdagangan kontrak berjangka bagi nasabah di PT. Kontak Perkasa Future Pekanbaru Berdasarkan UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan Klausul Eksenorasi Dalam Perjanjian Investasi Perdagangan Kontrak Berjangka melalui beberapa tahapan, yaitu :

(13)

43 a. Pemberitahuan tentang Bursa Berjangka oleh Pialang Berjangka

b. Pemprosesan Data Nasabah

c. Pembuatan Kesepakatan tentang Investasi dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Investasi, Berdasarkan tahapan Perjanjian Kerjasama Investasi diatas terdapat juga tahapan Pelaksanaan Investasinya:

1) Tahap Pemberian Amanat dari Nasabah Kepada Pialang Berjangka 2) Penempatan Dana Nasabah Pada Rekening Terpisah

Pada perjanjian ini nasabah tetap melaksanakan perjanjian dan melaksanakan klausula dari perjanjian tersebut. Menghadapi hal ini nasabah cenderung bersikap pasrah tidak berdaya atau bahkan tidak menyadari pencantuman klausul eksonerasi dalam perjanjian tersebut. Kurangnya edukasi dan informasi nasabah tentang klausul eksonerasi memunculkan anggapan bahwa pencantuman tersebut merupakan hal yang wajar. Padahal klausul eksonerasi dalam perjanjian menempatkan nasabah pada posisi tawar (bargaining position) yang lemah, karena pihak yang lemah bargaining position-nya hanya sekedar menerima segala isi kontrak dengan terpaksa (Ridwan Khairandy, 2013:88-89), sebab apabila ia mencoba menawar dengan alternatif kemungkinan besar akan kehilangan apa yang dibutuhkannya. Jadi hanya ada dua alternatif pilihan bagi pihak yang lemah posisi tawarnya yaitu untuk menerima atau menolak

2. Pada dasarnya setiap pihak dilarang melakukan kegiatan perdagangan berjangka, kecuali kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang perdagangan berjangka.

Perlindungan Hukum Penerapan Klausul Eksenorasi Dalam Perjanjian Investasi Perdagangan Kontrak Berjangka diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUPK diatur bahwa setiap klausul baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dukumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum (Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen) Bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan Pasal 18 dapat dikenai sanksi pidana sesuai dengan Pasal 62 ayat (1) yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp.

2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

E. REFERENSI

[1] Muhammad, Kadir, Abdul , 1990, Hukum Perikatan, Bandung : Citra Aditya Bhakti

[2] Subekti, R., 1994, Hukum Perjanjian, Jakarta : PT.Intermasa

[3] R Tjirosudibio, R. Subekti, , 2001, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Cet Ke-31, Jakarta : PT Pradnya Paramitha

[4] Khairandy, Ridwan, 2013, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan (Bagian Pertama), Jakarta: PT. Sinar Muda Jaya.

[5] _________________, 2013, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan (Bagian Pertama), Yogyakarta : FH UII Press.

[6] HS, Salim, 2001, Pengantar Hukum Perdata Tertulis, Jakarta:Sinar Grafika,

(14)

44

[7] Widoatmodjo,Sawidji, 2001, Jakarta:Cara Cepat Memulai Investasi Saham [8]Undang¬-Undang Nomor 32 Tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka

Komoditi

[9] Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen [10] Kamaruddin, Ahmad 1996, Dasar-Dasar Manajemen Investasi,

Jakarta:Rineka Cipta, Hal 164

[11] http ://Www.Dudung.Net/, Diakses Pada Hari Sabtu Tanggal 16 Januari 2016 Pukul 20.30 Wib

[12] http://dewawan.blogspot.com/2009/11/apa-itu- Analisis Teknikal”.html.

Diakses Pada Hari Minggu Tanggal 10 Januari 2016 Pukul 20.00 Wib [13] http://www.bappebti.go.id/?pg=faq, Diakses Pada Hari Rabu Tanggal 21

Desember 2015, Pada Pukul 19.17 Wib.

[14] http://www.bappebti.go.id/id/edu/brochures/detail/126.html, diakses pada tanggal 20 September 2015, pukul 20.15 wib

[15] Pantas, Batu,Lumban, 2010, Perdagangan Berjangka (Futures Trading), Jakarta: Elex Media Komputindo.

[16] Badrulzaman, Darus, Mariam, Dkk., 2001, Kompilasi Hukum Perikatan, Jakarta : Citra Aditya Bhakti

[17] Djamali, R. Abdoel, 2001, Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

Kadar Fixed Carbon yang diperoleh dari sampel sampah plastik dari sampah rumah tangga (sampah domestik) yakni 3.86%..

VRRP mendukung Ethernet, Fastethernet, Bridge Group Virtual Interface (BVI), Gigabit Ethernet interfaces dan pada Multiprotocol Label Switching (MPLS), Virtual

Kinerja keuangan perusahaan yaitu (EPS, DER, PER, ROI, dan ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham pada industri manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Economic

Strategi adaptasi wanita Islam terhadap kehidupan keluarga suami tercermin dalam proses belajar berbahasa Bali, mengolah dan mengonsumsi makanan Bali, membuat banten ,

Penulisan Ilmiah ini bertujuan untuk membangun suatu aplikasi berbasis web berupa website E-Learning dengan menggunakan modul Pascal, yang digunakan sebagai media alternatif

[r]

Berdasarkan penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dengan bubu lipat Standar (S) selama 20 trip operasi penangkapan tersebut dengan mengabaikan penggunaan umpan

Pada bulan Februari 2016 NTPR mengalami penurunan sebesar 0,93 persen apabila dibandingkan dengan Januari 2016 yaitu dari 100,01 menjadi 99,09 , penurunan NTPR ini disebabkan