• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAYASAING INDUSTRI CPO INDONESI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS DAYASAING INDUSTRI CPO INDONESI"

Copied!
185
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DAYASAING INDUSTRI CPO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

Oleh

DENNY DWINATA HERIANTO A14105525

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RINGKASAN

DENNY DWINATA HERIANTO.Analisis Dayasaing Industri CPO Indonesia di Pasar Internasional. Dibawah bimbinganLUKMAN MOHAMMAD BAGA.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang masih mengandalkan komoditas minyak dan gas bumi (Migas) sebagai penghasil devisa. Komoditas minyak dan gas bumi merupakan jenis sumberdaya alam dengan jumlah yang terbatas dan tidak dapat diperbarui, sehingga perlu penghematan dalam penggunannya. Negara Indonesia tidak selamanya dapat mengandalkan komoditas tersebut (Migas) untuk memperoleh devisa, sehingga peranan dari sektor lain yang mempunyai potensi harus dikembangkan. Salah satu sektor non migas yang mampu memberikan kontribusi positif kepada negara adalah sektor pertanian. Komoditas kelapa sawit menyumbang devisa kepada negara sebesar US$ 2,79 milyar dengan volume ekspor sebesar 5,72 juta ton dari bulan Januari sampai Mei tahun 2007. Permintaan kelapa sawit untuk kebutuhan konsumsi akan terus mengalami peningkatan karena seiring dengan bertambahnya jumlah populasi manusia, sehingga permintaan terhadap CPO akan meningkat sebagai bahan baku minyak goreng dan keperluan lain seperti biofuel (bahan bakar). Peningkatan dayasaing masih CPO Indonesia disebabkan karena penggunaan bibit palsu atau tidak berlabel. Penggunaan bibit yang tidak berkualitas akan mempengaruhi produksi dan produkstivitas CPO. Masalah lain yang berdampak terhadap peningkatan penanaman kelapa sawit di Indonesia yaitu isu negatif dari Negara Di Eropa dan LSM Lingkungan, yang menyatakan kalau pembukaan lahan perkebnan kelapa sawit akan dampak terhadap kerusakan hayati dan penyebab terjadinya pemanasan global.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk ; (1) Mengetahui struktur industri CPO di pasar internasional, (2) Mengetahui keunggulan komparatif industri CPO Indonesia, (3) Mengetahui keunggulan kompetitif industri CPO Indonesia, (4) Mengetahui strategi yang dapat dirumuskan untuk memperkuat dayasaing industri CPO nasional di pasar internasional. Penelitian ini dilakukan dengan lingkup makro, yaitu meliputi keadaan perdagangan CPO secara nasional dan internasional.

Struktur pasar CPO di pasar internasional pada tahun 1993-2006 menunjukan kecenderungan kearah pasar Oligopoli ketat. Negara yang termasuk kedalam struktur pasar ini adalah Malaysia, Indonesia, Papua Nugini, dan Costarica. Hasil ini ditunjukan oleh nilai Herifindhal Index sebesar 0,5 dan nilai Concentration Ratio dari empat produsen CPO terbesar sejumlah 94 persen. Malaysia dan Indonesia merupakan negara yang paling besar kontribusi CPO dari empat eksportir utama CPO di pasar internasional.

(3)

adalah Papua Nugini dengan nilai 68, sedangkan Negara Malaysia mempunyai niai RCA sebesar 42. Negara Papua Nugini mempunyai nilai RCA tertinggi karena kontribusi ekspor CPO terhadap pendapatan total negara lebih besar dibandingkan dengan negara produsen CPO lainnya.

Hasil analisis keunggulan kompetitif industri CPO Indonesia menghasilkan bahwa secara keseluruhan atribut seperti sumberdaya, kondisi permintaan domesik memiliki keunggulan kompetitif. Dukungan dari pemerintah dan faktor peluang juga membantu terbentuknya keunggulan Kompetitif Indonesia. Kendala masih terdapat dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit yaitu masih minimnya sarana dan prasarana penunjang industri CPO Indonesia, masih rendahnya penggunaan bibit unggul, dan kurangnya peranan dari penyuluh pertanian lapangan.

(4)

ANALISIS DAYASAING INDUSTRI CPO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

Oleh

DENNY DWINATA HERIANTO A14105525

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

(5)

Judul :Analisis Dayasaing Industri CPO Indonesia di Pasar Internasional

Nama : Denny Dwinata Herianto NRP : A14105525

Program Studi : Ekstensi Manajemen Agribisnis

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Skripsi

Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec. NIP. 131 846 873

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019

(6)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS DAYASAING INDUSTRI CPO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL” ADALAH BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU PADA LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Mei 2008

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis di lahirkan di Bangkinang pada 08 Desember 1983, sebagai anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan T. Simalango dan R. Manalu, SP. Pendidikan dasar di SDN 004 Air Molek Indragiri Hulu (Riau) diselesaikan pada tahun 1996 dan melanjutkan pendidikan pada SLTPN 1 di Air Molek sampai dengan tahun 1999. Pada tahun 1999 penulis melanjutkan pendidikan ke kota ‘gudeg’ yaitu di SMU BOPKRI 1 Yogyakarta dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 2002.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang bejudul “Analisis Dayasaing Industri CPO Indonesia di Pasar Internasional”. Skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Skripsi ini mengkaji struktur pasar CPO di pasar Internasional. Selain itu, skripsi ini juga mengkaji keunggulan kompetitif dan komparatif industri CPO Indonesia. Penulis menyadari dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Bogor, Mei 2008

(9)

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkat dan Kasih-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini

2. Ayahanda dan Ibunda tercinta atas doa dan kasih sayang selama ini

3. Bapak Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec., selaku dosen pembibing skripsi atas segala bimbingan, arahan, serta waktu yang sangat berharga kepada penulis selama menyusun skripsi ini.

4. Ibu Ir. Popong Nurhayati, MM sebagai dosen evaluator atas saran dan kritikan bagi rencana penulisan penelitian skripsi ini.

5. Bapak Muhammad Firdaus, PhD sebagai dosen penguji utama atas saran. 6. Bapak Ir. Joko Purwono, Ms sebagai dosen penguji atas masukan untuk

tehnik penulisan.

7. Saudaraku tercinta kakak Loli, Dina dan Meli atas doa dan dukungan yang tak pernah hentinya.

8. Elisya Nurani Kombong atas motivasi dan segala perhatian selama ini dan semoga tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun.

(10)

10. Mas Darlin atas kesediaanya menjadi pembahas seminar dan sarannya. 11. Teman-teman GTP (Alex_clv, Kiki, lan Sembiring, Arde, Abah, Pak RT,

Ari, Habibi, Hasan, Amanda, Pak Eko, Arrow Budi, Heksa). 12. Om Agus di Surabaya atas kebaikan selama ini.

13. Teman-teman seperjuangan Ekstensi Irma, Lisma, Eko Priyadi, Elfrida, Ebry, Josep, Dedy Maretha, Wawan, Rudy, Mbak Dar, Imel, Siska, Baim, Koko, Rita, Sandra, dan teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

14. Sekretariat Ekstensi Manajemen Agribisnis atas pelayanan dan bantuan selama ini terutama untuk Mbak Rahmi, Mbak Nur, Mas Agus dan Aji. 15. Penguni Kos Jl Riau Ujung tercinta Mas Riki, Mbak Wida, Mas Tyas,

Bapak kost dan Ibu, serta Mas Toto dan Yeni.

16. Teman-teman SMU Bopkri I Cristian, Nando, Dinad, Theresia, Adit atas kekompakan selama ini.

17. Semua pihak lain yang belum disebutkan yang turut membantu terselesainya skripsi ini.

Bogor, Mei 2008

(11)

DAFTAR ISI 2.1. Gambaran Umum Kelapa Sawit ... 12

2.1.1. Sejarah Kelapa Sawit ... 12

2.1.2. Karakteristik Tanaman Kelapa Sawit ... 12

2.1.3. Bibit Kelapa Sawit ... 14

2.1.4. Standar Nasional CPO (Crude Palm Oil) ... 15

2.1.5. Usaha Tani Kelapa Sawit ... 16

2.1.6. Pengolahan Kelapa sawit ... 18

2.1.6.Peranan Kelapa Sawit Dalam Bidang Sosial dan Ekonomi Indonesia ... 19

2.2. Penelitian Terdahulu ... 21

2.2.1. Penelitian Dayasaing ... 21

2.2.1. Penelitian Kelapa Sawit ... 23

2.2.1. Penelitian CPO (Crude Palm Oil) ... 24

3.1.2.1. Pasar Persaingan Sempurna ... 36

3.1.2.2. Pasar Monopolistik ... 37

3.1.2.3. Pasar Oligopoli ... 37

3.1.2.4. Pasar Monopoli ... 38

3.1.3. Teori perdagangan Internasional ... 38

3.1.4. Pasar dan Pangsa Pasar ... 40

(12)

IV METODE PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM KELAPA SAWIT NASIONAL DAN INTERNASIONAL 5.1. Perkebunan KelapaSawit Indonesia ... 58

5.1.1 Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Pengusahaan 59

5.1.2 Produksi dan Produktivitas Minyak Kelapa Sawit Indonesia . 61

5.1.3 Luas Areal dan Produksi Menurut Provinsi ... 63

5.1.4 Penyerapan Tenaga Kerja... 63

5.1.5 Unit Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit ... 64

5.2. Tingkat Harga CPO di Indnesia ... 66

VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Struktur Industri CPO di Pasar Internasional ... 82

6.2. Analisis Keunggulan Komparatif CPO Indonesia di Pasar Internasional... 84

6.3. Analisis Dayasaing Industri CPO di Indonesia dengan PendekatanPorter s Diamond ... 85

6.3.1 Kondisi Faktor Sumberdaya ... 85

6.3.2 Kondisi Permintaan ... 120

6.3.3 Industri Terkait dan Industri Pendukung... 123

6.3.4 Struktur, Persaingan dan Strategi Industri CPO Nasional ... 128

6.3.5 Peran Pemerintah ... 134

(13)

VII STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI CPO INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

7.1. Perumusan Strategi Peningkatan Dayasaing

Industri CPO Indonesia... 138

7.1.1 Faktor Eksternal ... 139

7.1.1 Peluang ... 139

7.1.1 Ancaman ... 141

7.1.2 Faktor Internal ... 144

7.1.2.1 Kekuatan ... 144

7.1.2.2 Kelemahan ... 147

7.2 Program Peningkatan Dayasaing ... 144

VIII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan ... 162

7.2. Saran ... 164

DAFTAR PUSTAKA ... 165

(14)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih mengandalkan komoditas minyak dan gas bumi (Migas) sebagai penghasil devisa. Komoditas minyak dan gas bumi merupakan jenis sumber daya alam dengan jumlah yang terbatas dan tidak dapat diperbarui, sehingga perlu penghematan untuk penggunannya. Negara Indonesia tidak selamanya dapat mengandalkan komoditas tersebut (Migas) untuk memperoleh devisa, sehingga peranan dari sektor lain yang mempunyai potensi harus dikembangkan. Salah satu sektor non Migas yang mampu memberikan kontribusi positif kepada negara adalah sektor pertanian.

Sub sektor perkebunan merupakan salah satu bagian yang menyumbang PDB kepada negara. Salah satu komoditi dari perkebunan adalah kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan tanaman keras sebagai salah satu sumber penghasil minyak nabati yang bermanfaat luas dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, kerena minyak kelapa sawit rendah akan kolesterol dan mempunyai betakaroten tinggi (PPKS, 2006).

(15)

(bahan bakar). Peluang bagi negara Indonesia untuk lebih meningkatkan ekspor minyak kelapa sawit guna meningkatkan devisa dari komoditas kelapa sawit. Pada tahun 2006 Negara Indonesia merupakan pengekspor kelapa sawit terbesar kedua setelah Malaysia, dengan negara tujuan ekspor kelapa sawit ke India, China dan negara-negara di Eropa.

Tabel 1 Ekspor Komoditi Kelapa Sawit Indonesia Periode Januari–Mei 2007

Bulan Volume (Ton) Nilai US$

Januari

Sumber : Departemen Pertanian, 2008

Pada Tabel 2 luasan areal perkebunan untuk komoditi kelapa sawit untuk lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 luas lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 6,59 juta hektar, sedangkan pada tahun 2002 sampai tahun 2005 luas lahan perkebunan di Indonesia berkisar diatas lima juta hektar. Luas areal perkebunan kelapa sawit dari tahun 1916 sampai dengan tahun 2006 menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Perubahannya terutama antara tahun 1990 sampai dengan tahun 2006, dimana untuk total luas areal dari 1,12 juta hektar menjadi 6,59 juta hektar dan akan terus meningkat seiring kebutuhan minyak nabati dunia1.

Tabel 2 Luas Areal Komoditi Perkebunan Indonesia Tahun 2002–2006 (Ha)

1

(16)

Komoditi 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber : Departemen Pertanian, 2007

Pada tahun 2006 perkebunan kelapa sawit, 57 persen dikuasai swasta, 30 persen petani swadaya, dan 13 persen dikuasai negara. Pada Gambar 1 penguasaan lahan perkebunan di Indonesia lebih dari setengahnya dikuasai oleh pihak swasta dan diikuti oleh masyarakat yang mengusahakan kelapa sawit secara swadaya, serta oleh negara.

Gambar 1 Penguasaan Lahan

Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2006

(17)

Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Banten, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Papua, dan Irian Jaya Barat.

Produksi CPO dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 mengalami peningkatan (Tabel 3). Pada tahun 2002 produksi kelapa sawit sebesar 9,62 juta ton dan mengalami peningkatan untuk tahun 2006 yaitu sebesar 17,35 juta ton. Peningkatan produksi kelapa sawit akibat dari areal penanaman sawit yang juga mengalami peningkatan karena para produsen kelapa sawit melihat kebutuhan minyak goreng serta CPO yang meningkat dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Peningkatan produksi kelapa sawit juga akibat dari mahalnya harga CPO di pasar internasional sehingga banyak produsen mengekspor CPO ke luar negeri. Proyeksi produksi kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2010 menjadi 18 juta ton, pada tahun 2015 akan menjadi 21 juta ton dan pada tahun 2015 akan meningkat sebesar 15 persen atau sebesar 24 juta ton. Proyeksi ekspor kelapa sawit Indonesia ke luar negeri diperkirakan pada tahun 2010 sebesar 12,5 juta ton dan akan meningkat sebesar 25 persen atau sebesar 15 juta ton dan pada tahun 2020 sebesar 16 juta ton2.

Tabel 3 Produksi Komoditi Perkebunan Indonesia Tahun 2002–2006 (000Ton)

Komoditi 2002 2003 2004 2005 2006 Karet Sumber : Departemen Pertanian, 2007

2

(18)

Dibandingkan dengan Negara Malaysia, kelapa sawit Indonesia memiliki sejumlah keunggulan komparatif. Keunggulan pertama, Indonesia memiliki lahan dan tenaga kerja melimpah. Pada Saat ini ada lahan 9,2 juta hektar lahan yang bisa diperluas menjadi 18 juta hektar, sedangkan perluasan lahan sawit di Malaysia terbatas. Keunggulan kedua, biaya produksi CPO Indonesia lebih rendah daripada Malaysia. Selain mengekspor CPO, Negara Malaysia mengolahnya menjadi berbagai produk hilir bernilai tinggi3.

Malaysia unggul untuk produktivitas (3,21 ton CPO per hektar per tahun) dibandingkan dengan Indonesia (2,51 ton CPO per hektar per tahun). Malaysia mampu memanfaatkan 87 persen kapasitas pabrik terpasangnya yang mencapai 86 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun, sedangkan Indonesia 65 juta ton TBS per tahun. Dampak kekurangan pabrik pengolahan sawit di Indonesia tidak hanya pada dayasaing yang rendah untuk produksi dan ekspor CPO, tapi juga mengakibatkan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit tanpa memiliki lahan sawit, hal Ini menyebabkan jumlah produksi minyak sawit, kualitas produksi, dan harga tidak mampu diprediksi serta dikontrol dengan baik. Kondisi inilah yang mendukung perbedaan produksi dan ekspor kedua negara4.

3

http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b4sawit.Prospek, Arah pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit . Diakses 15 januari 2008.

(19)

1.2 Perumusan Masalah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sub sektor perkebunan merupakan sumberdaya yang terus memberikan peluang untuk terus berkembang dan dapat diandalkan sebagai sumber devisa selain dari sektor Migas yang terus mengalami kemunduran akibat dari sifanya yang tidak dapat diperbarui. Perkebunan masih memberikan peluang yang luas selain masih tersedianya lahan perkebunan baru, juga tersedia tenaga kerja dan konsumen akhir yang terus mengalami perkembangan setiap tahunnya. Negara produsen CPO, termasuk Indonesia berusaha untuk memanfaatkan kelapa sawit sebagai penghasil devisa. Munculnya negara industri baru, perkembangan ekonomi dunia dan pertumbuhan penduduk menyebabkan kelapa sawit akan terus termanfaatkan.

Permasalahan peningkatan hasil CPO Indonesia di pasar internasional yaitu disebakan oleh banyak faktor kendala, antara lain adalah ;

1. Produktivitas di bawah potensinya

(20)

tidak berkesinambungan, hama dan penyakit (ganoderma) yang menggangu tanaman kelapa sawit seperti gajah, babi dan kera, serta faktor alam yang tidak bisa diprediksi.

2. Industri hilir belum berkembang

Industri hilir pengolahan CPO di Indonesia saat ini masih terbatas karena iklim investasi yang belum kondusif. Pengolahan minyak sawit mentah untuk diolah menjadi produk yang lebih mempunyai nilai tambah (value add) salah satunya oleokimia (sabun, detergen, margarin) dan minyak goreng masih terbatas, karena investasi pembangunan pabrik pengolahan yang besar. Selain itu masalah pasokan gas bumi dan listrik yang belum mencukupi kebutuhan pabrik pengolahan kelapa sawit. Peluang besar bagi negara Malaysia untuk mencukupi permintaan pasar dunia akan kebutuhan minyak nabati khususnya dari kelapa sawit, dan merupakan peluang belum termanfaatkan oleh negara Indonesia.

3. Infrastruktur yang terbatas

(21)

4. Berbagai kebijakan yang tidak kondusif

Langkanya minyak goreng dan diikuti oleh mahalnya minyak goreng dalam negeri diakibatkan naiknya harga CPO di pasar internasional. Naiknya harga CPO di pasar internasional menyebabkan produsen dalam negeri banyak mengekspor CPO dari pada menjual CPO di dalam negeri. Tingginya harga CPO dunia juga dipengaruhi oleh permintaan yang semakin tinggi untuk kebutuhan biodiesel dan pengaruh iklim global seperti kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan turunnya hasil pertanian baik untuk keperluan pabrik nabati atau biodiesel seperti yang terjadi di Ukraina, China, USA, dan beberapa Negara di Eropa.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka mengatasi kelangkaan minyak goreng adalah dengan meningkatkan pajak ekspor (PE) berdasarkan keputusan menteri keuangan Nomor 61/PMK 001/2007 mengenai peningkatan pajak ekspor untuk CPO dari 1,5 persen menjadi 6,5 persen dan peningkatan pajak ekspor kelapa sawit segar (TBS) sebesar 10 persen dari sebelumnya hanya 3 persen. Dampak yang ditimbukan oleh kebijakan pemerintah dengan adanya pajak ekspor yaitu ;

a) Mengurangi pendapatan produsen perkebunan kelapa sawit b) Memicu penyeludupan CPO

c) Menguntungkan negara eksportir lain d) Berdampak kehilangan pasar

e) Mengganggu iklim investasi

(22)

Keputusan Menteri Pertanian Nomor 357/Kpts/HK.350/5/2002 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan, mengatur mengenai luas lahan usaha budidaya perkebunan untuk satu perusahaan atau grup perusahaan yang ditetapkan bahwa luas maksimum lahan usaha perkebunan adalah 20.000 hektar dalam satu Provinsi atau 100.000 hektar untuk seluruh Indonesia. Dikeluarkanya keputusan ini menyebabkan para investor bepikir untuk menanamkan investasi pada sub sektor perkebunan, karena keputusan ini membuat pengusaha perkebunan sulit untuk mengontrol operasional perkebunan yang tersebar di beberapa daerah.

5. Berkembangnya areal swadaya tanpa pabrik kelapa sawit (PKS)

(23)

6. Kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit di pasar Internasional Peningkatan produksi kelapa sawit dengan pembukaan lahan untuk areal perkebunan kelapa sawit banyak menuai kritikan dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional dan Negara di Eropa terutama Inggris. Menurut mereka dampak yang ditimbulkan dari pembukaan lahan kelapa sawit yaitu rusaknya lingkungan, menyebabkan deforestrasi, berkurangnya satwa langka, dan penyumbang pemanasan global terbesar.

Perdagangan global menjanjikan pengurangan hambatan berupa tarif, dan proteksi namun di satu sisi muncul tantangan baru berupa hambatan non tarif atau non tarif barrier melalui ketentuan-ketentuanstandard code yang dikenal dengan perjanjian technical barrier to trade (TBT) dan perjanjian sanitary and phytosanitary (SPS). Kedua perjanjian tersebut berkaitan dengan standar produk dan jasa, perlindungan kesehatan, keselamatan masyarakat dan lingkungan hidup. Karena itu dalam merebut peluang pasar yang makin terbuka, penyediaan barang dan jasa harus didukung oleh suatu sistem mutu yang diakui secara internasional. Dari uraian permasalahan di atas maka yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana struktur industri CPO di pasar Internasional ?

2. Apakah industri CPO Indonesia memiliki keunggulan komparatif ? 3. Apakah industri CPO Indonesia memiliki keunggulan kompetitif ? 4. Strategi apa yang perlu dirumuskan untuk memperkuat industri CPO

(24)

1.3 Tujuan Peneitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menganalisis struktur industri CPO di pasar Internasional.

2. Menganalisis keunggulan komparatif industri CPO Indonesia. 3. Menganalisis keunggulan kompetitif industri CPO Indonesia.

4. Merumuskan strategi untuk memperkuat dayasaing industri CPO nasional di pasar internasional.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis bermanfaat dalam mengaplikasikan teori dan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan serta pengetahuan.

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Gambaran Umum Kelapa Sawit 2.1.1 Sejarah Kelapa Sawit

Kelapa sawit pertama kali di tanam secara masal pada tahun 1911 di daerah asalnya Afrika Barat. Kegagalan penanaman tersebut menyebabkan perkebunan dipindahkan ke Kongo. Kelapa sawit masuk ke Indonesia pada tahun 1848 sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor, tanaman kelapa sawit diusahakan sebagai komersial pada tahun 1912 dan di ekspor minyak kelapa sawit pertama dilakukan pada tahun 1919. Industri kelapa sawit Indonesia dan Malaysia berawal ketika empat benih dari Afrika ditanam pada Taman Botani Bogor tahun 1848. Benih kelapa sawit dari Bogor ini kemudian di tanam pada tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaysia pada tahun 1911-1912.

2.1.2 Karakteristik Tanaman Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis) termasuk golongan tumbuhan palma. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Kelapa sawit menjadi populer setelah revolusi industri pada akhir abad ke-19 yang menyebabkan permintaan minyak nabati untuk bahan pangan dan industri sabun menjadi tinggi.

(26)

paling tahan hama dan penyakit dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Jika dilihat dari konsumsi per kapita minyak nabati dunia mencapai angka rata-rata 25 kg/th per orang, kebutuhan ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya konsumsi per kapita.

Klasifikasi Botani tanaman kelapa sawit : Filum : Magnoliophyta

Kelas :Liliopsida Ordo :Arecales Famili :Arecaceae Genus :Elaeis

Spesies :Elaeis guineensis Elaeis oleifera

Kelapa sawit dapat mencapai tinggi 25 meter. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak, ukuran buah kecil, bila masak berwarna merah kehitaman dan daging buahnya padat. Pada daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyak tersebut digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, ampas yang disebut bungkil dapat digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.

(27)

2.1.3 Bibit Kelapa Sawit di Indonesia

Ketersediaan bibit sangat penting dan strategis karena merupakan tumpuan utama untuk mencapai keberhasilan perkebunan. Kelapa sawit yang berkualitas membutuhkan bibit yang berkualitas sesuai dengan standar yang ditentukan. Pengembangan agribisnis kelapa sawit di Indonesia kedepan didukung secara handal oleh tujuh produsen benih dengan kapasitas 141 juta pada tahun 2006. Produsen penghasil bibit kelapa sawit yaitu: Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dengan kapasitas produksi 40 juta ton, PT. Socfindo dengan kapasitas produksi 45 juta ton, PT. Lonsum dengan kapasitas produksi 14 juta ton, PT. Dami Mas dengan kapasitas produksi 15 juta ton, PT. Tunggal Yunus dengan kapasaitas produksi 6 juta ton, PT. Bina Sawit Makmur dengan kapasitas produksi 15 juta ton dan PT Tania Selatan sebesar 1 juta ton. Permasalahan benih palsu diyakini dapat teratasi melalui langkah - langkah sistematis dan strategis yang telah disepakati secara nasional. Impor benih kelapa sawit harus dilakukan secara hati - hati terutama dengan pertimbangan penyebaran penyakit.

Bibit yang dihasilkan oleh produsen resmi ini mempunyai kualitas baik karena berasal dari induk yang jelas asal usulnya seperti Delidura, Tenera dan BapakPisifera. Adapun ciri dari masing - masing jenis kelapa sawit yaitu :

1. Kelapa sawit jenis dura biasanya di tanam sebagai pohon induk dengan ciri :

a. Mempunyai ciri daging buah tipis (20 - 65%) b. Tempurung yang tebal (20 - 50%)

(28)

2. Kelapa sawit jenis pisifera biasanya di tanam sebagai tanaman serbuk dengan ciri :

a. Mempunyai ciri daging tebal (92 - 97%) b. Tidak mempunyai tempurung

c. Biji kecil (3 - 8%)

3. Kelapa sawit jenis tenera biasanya di tanam diperkebunan kelapa sawit dengan ciri :

a. Mempunyai ciri daging buah sedang (60 - 96%)

b. Tempurung yang tipis (3 - 20 %) c. Biji sedang (3 -15%)

2.1.4 Standar Nasional CPO (Crude Palm Oil)

Standar Nasional Indonesia untuk CPO adalah SNI 01-2901-2006 yang merupakan revisi dari SNI 01-2901-1992. Tujuan dari standar ini adalah menyesuaikan standar mutu minyak kelapa sawit mentah Indonesia dengan mutu minyak kelapa sawit yang umum dipakai dalam perdagangan internasional sesuai dengan perkembangan yang terakhir, sehingga minyak kelapa sawit Indonesia dapat bersaing dipasar internasional.

Tabel 4 Syarat Mutu Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO) Menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN)

Kriteria uji Satuan Persyaratan Mutu

Warna

Kadar air dan kotoran Asam lemak bebas Bilangan Yodium

-%, fraksi masa %, fraksi masa g yodium/100g

(29)

2.1.5 Usahatani Kelapa Sawit

Kebijakan pada sub sektor perkebunan, yang menjadi landasan perundangan adalah Undang-undang No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, yang memiliki ruang lingkup pengaturan meliputi perencanaan perkebunan, penggunaan tanah, pemberdayaan dan pengelolaan usaha, pengelolaan dan pemasaran hasil, penelitian dan pengembangan, pengembangan sumberdaya manusia, pembiayaan, pembinaan dan pengawasan. Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dapat dilakukan dalam berbagai pola yaitu;

1. Pola Koperasi Usaha Perkebunan, yaitu pola pengembangan yang modal usahanya 100 persen dimiliki oleh Koperasi Usaha Perkebunan.

2. Pola Patungan Koperasi dengan Investor Koperasi, yaitu pola pengembangan yang sahamnya dimiliki koperasi sebesar 65 persen dan sisanya dimiliki investor atau perusahaan.

3. Pola Patungan Investor Koperasi, yaitu pola pengembangan yang sahamnya 80 persen dimiliki investor atau perusahaan dan 20 persen dimiliki koperasi yang ditingkatkan secara bertahap.

4. Pola BOT (Built Operate and Transfer), yaitu pola pengembangan di mana pembangunan dan pengoperasian dilakukan oleh investor atau perusahaan yang kemudian pada waktu tertentu seluruhnya dialihkan kepada koperasi. 5. Pola BTN, yaitu pola pengembangan di mana investor atau perusahaan

(30)

6. Pola-pola pengembangan lainnya yang saling menguntungkan, memperkuat, membutuhkan antara petani pekebun dengan perusahaan perkebunan.

Dalam rangka pengembangan sistem dan usaha agribisnis perkebunan secara optimal, maka pemerintah menyusun langkah pemantapan melalui pendekatan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN), dimana Pedoman Kriteria dan Standar Klasifikasi KIMBUN dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 633/Kpts/OT.140/10/2004. Adapun bagan dari strategi pengembangan perkebunan oleh pemerintah saat ini dapat dilihat pada Gambar 2. Dengan adanya pedoman ini diharapkan terciptanya sistem agribisnis perkebunan yang mempunyai dayasaing tinggi, berkelanjutan dan berkeadilan untuk kemakmuran rakyat Indonesia5.

Gambar 2 Bagan Strategi Pembangunan Perkebunan Sumber : Shobirin, 2003

5Shobirin.2003.

http://sawitwatch.or.id/index?option=com_content&task=view+55&itemid=27&lang. Kebijakan Nasional terkait dengan pengembangan komoditi kelapa sawit.

• UUD 45

• Peningatan Kemampuan SDM & IPTEK • Penumbuhan Kemitraan

Usaha • Pengembangan

Kelembagaan • Investasi Usaha

Perkebunan

• Peningkatan Dukungan Pembangunan Ketahanan Pangan • Pengelolaan SDA

&Lingkungan Hidup • Pengembangan Sistem

(31)

2.1.6 Pengolahan Kelapa Sawit

Industri pengolahan kelapa sawit menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 107 Kep/Kpts/1999, pemberian ijin pendirian pabrik kelapa sawit harus ada jaminan adanya pasokan dari kebun sendiri. Pabrik kelapa sawit standar dengan kapasitas 30 ton Tandan Buah Segar (TBS)/jam, memerlukan dukungan kebun sawit seluas minimal 6000 hektar. Pabrik pengolahan mini dengan kapasitas 10 ton TBS/jam, memerlukan dukungan kebun sawit seluas 2000 hektar.

Strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit diantaranya adalah integrasi vertikal dan horisontal perkebunan kelapa sawit dalam rangka peningkatan ketahanan pangan masyarakat, pengembangan usaha pengolahan kelapa sawit di pedesaan, menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan dalam rangka pemanfaatan sumber daya perkebunan, dan pengembangan pasar. Strategi tersebut didukung dengan penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) dan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk peningkatan kapasitas agribisnis kelapa sawit. Dalam implementasinya, strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung dengan program-program yang komprehensif dari berbagai aspek manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan (perbenihan, budidaya dan pemeliharaan, pengolahan hasil, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat) hingga evaluasi.

2.1.7 Peranan Kelapa Sawit Dalam Bidang Sosial dan Perekonomian Indonesia

(32)

biofuel dan minyak goreng yang merupakan salah satu bagian dari sembilan bahan pokok. Melihat potensi pasar dalam negeri dan luar negeri untuk permintaan kelapa sawit yang besar, sehingga banyak para produsen di dalam negeri yang mengusahakan kelapa sawit dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang besar dengan mengekspor kelapa sawit dalam bentuk segar (TBS) ataupun dalam bentuk CPO. Para produsen kelapa sawit terdiri dari Badan Usaha Milik Negara atau BUMN atau PTPN (Perusahaan Terbatas Perkebunan Nasional), BUMS atau Badan Usaha Milk Swasta (Sinar Mas, Astra) dan juga masyarakat petani kelapa sawit swadaya.

Dampak yang ditimbulkan oleh pembukaan lahan kelapa sawit dan pabrik-pabrik secara sosial pada daerah setempat adalah penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan produksi kelapa sawit baik di lapangan maupun di pabrik (penyiapan lahan, pembukaan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan)6. Selain penyerapan tenaga kerja dampak langsung yang ditimbulkan dengan hadirnya perkebunan kelapa sawit adalah peningkatan pendapatan yang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Pembangunan sarana dan prasarana penunjang perkebunan seperti pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pembangunan sarana-sarana umum, pendidikan, kesehatan, bantuan bencana alam dan pembangunan tempat ibadah juga merupakan bentuk sosial dari pihak produsen atau perusahaan kelapa sawit kepada masyarakat setempat.

(33)

Permintaan kelapa sawit dari dalam negeri dan luar negeri dalam bentuk buah segar (TBS) dan bentuk CPO menyebabkan perlunya perluasan areal produksi kelapa sawit. Pengembangan perkebunan untuk menghasilkan produksi kelapa sawit seperti di daerah Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan daerah-daerah lain di Indonesia akan membantu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak. Daerah-daerah pengembangan kelapa sawit akan berusaha menarik investor dari mancanegara dan domestik melaui promosi-promosi yang dilakukannya. Secara nasional kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan Indonesia untuk di ekspor sebagai penghasil devisa. Pada saat ini harga kelapa sawit di pasar internasional sangat tinggi sehingga menyebabkan banyak produsen kelapa sawit yang mengekspor keluar negeri. Fluktuasi harga kelapa sawit dan CPO di pasar internasional dipengaruhi oleh harga minyak goreng dari komoditas lain seperti kedelai, zaitun dan rapeseed7.

Produksi dan pengembangan industri kelapa sawit Indonesia menimbulkan sejumlah masalah yaitu ancaman keragaman hayati yang rusak, praktek pembakaran hutan untuk pembukaan lahan, konflik sosial dengan masyarakat lokal. Mengatasi permasalahan itu maka sekarang produsen kelapa sawit harus memproduksi kelapa sawit dengan cara-cara yang lestari yaitu dengan memperhatikan aspek-aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

(34)

2.2 Penelitian Terdahulu 2.2.1 Penelitian Dayasaing

Kristina (2006) melakukan penelitian mengenai dayasaing teh hitam Indonesia di pasar internasional dengan teknik estimasi menggunakan data panel yang diperoleh melalui kombinasi datatime series dancross-section dalam kurun waktu tahun 1993-2003. Pengolahan data menggunakan tiga metode yaitu metode pooled, metode fixed effect dan metode random effect. Selanjutnya dari ketiga metode tersebut dilakukan uji F dan uji Hausman untuk mengetahui metode yang terbaik dalam mengestimasi model. Dari hasil pengolahan data dan uji kesesuaian model diketahui bahwa metode yang terbaik dalam estimasi adalah metodefixed effect. Berdasarkan pengolahan hasil melalui estimasi model menggunakan data panel dengan metodefixed effect diketahui bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pangsa pasar teh hitam Indonesia berdasarkan nilai probabilitasnya yang diperoleh adalah produksi teh hitam dan jumlah konsumsi teh hitam di dalam negeri.

(35)

Penelitian yang dilakukan oleh Yusran (2006) tentang analisis dayasaing manggis menguntungkan dan efesien secara finansial dan ekonomi. Nilai keuntungan privat yaitu sebesar Rp. 1.471,51/kg (Desa Kracak) dan Rp. 3.621,8/kg (Desa Babakan) dan PCR lebih kecil dari satu yaitu sebesar 0,71 (Desa Kracak) dan 0,44 (Desa Babakan). Keuntungan sosial sebesar Rp.1.984,04/kg (Desa Kracak) dan Rp. 2.614,06/kg (Desa Babakan) dan DRC kurang dari satu yaitu sebesar 0,61 (Desa Kracak) dan 0,50 (Desa Babakan). Hasil perhitungan menunjukan bahwa pengusahaan manggis memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dan memiliki keunggulan diatas normal, baik dalam kondisi adanya distorsi kebijakan maupun dalam pasar persaingan sempurna.

2.2.2 Penelitian Kelapa sawit

(36)

mempertahankan pasar yang ada, 4) Meningkatkan pengawasan terhadap proses produksi di kebun dan di pabrik, 5) Meningkatkan pengamanan di perkebunan dan juga mengawasi proses distribusi produk.

Penelitian yang dilakukan oleh Yolanda Hole (2000) mengenai Partisipasi Petani Dalam Kegiatan Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit di Manokwari Irian Jaya. Berdasarkan hasil penelitiannya menunjukan bahwa terdapat perbedaan petani transmigrasi lokal dan petani transmigrasi swakarsa yang tercermin pada komponen-komponen partisipasi meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Selanjutnya hasil penelitian ini menyatakan bahwasanya faktor pengalaman kerja dan motivasi ekstrinsik berhubungan nyata dengan tingkat partisipasi petani transmigrasi lokal, dan faktor pengalaman kerja, motivasi intrinsik, dan sifat kosmopolit petani berhubungan dengan tingkat partisipasi petani transmigrasi swakarsa.

(37)

2.2.3 Penelitian CPO (Crude Palm Oil)

Penelitian Analisis Integrasi Pasar CPO Dunia dengan Pasar CPO, Minyak Goreng, dan TBS Domestik Serta Pengaruh Tarif Ekspor CPO dan Harga BBM Dunia oleh Yunita (2007). Menggunakan metode pengolahan Vector Auoregression (VAR). Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pasar CPO dunia terintegrasi dengan pasar CPO, minyak goreng, dan TBS domestik. Pasar CPO dunia berperan sebagai penentu harga, sedangkan pasar domesik berperan sebagai pengikut harga. Pada pasar domestik, terjadi integrasi pasar antara pasar CPO dengan pasar TBS domestik. Dimana pasar CPO domestik adalah penentu harga bagi pasar TBS domestik. Tarif ekspor CPO yang ditetapkan pemerintah ternyata tidak berpengaruh terhadap integrasi pasar yang terjadi. Dapat dikatakan bahwa tarif ekspor yang berlaku tidak efektif, karena tarif ekspor yang tinggi dapat meminimumkan penghasilan produsen dan eksortir CPO, serta petani, harga BBM dunia berpengaruh terhadap integrasi pasar yang terjadi.

(38)
(39)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Dayasaing

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam kamus Bahasa Indonesia tahun 1995 berpendapat bawa dayasaing adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu atau bertindak untuk merebut pasar. Sedangkan menurut Brataatmaja (1994) mendefinisikan dayasaing sebagai kekuatan, kemampuan atau kesanggupan untuk bersaing. Pengertian dayasaing juga mengacu pada kemampuan suatu negara untuk memasarkan produk yang dihasilkan negara itu relatif terhadap kemampuan negara lain (Bappenas, 2007).

(40)

3.1.1.1 Keunggulan Komparatif

Suatu negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan dengan negara lain bila negara tersebut berspesialisasi dalam komoditas yang dapat diproduksi dengan lebih efesien (mempunyai keunggulan absolut) dan mengimpor komoditas yang kurang efesien (mengalami kerugian absolut). Konsep keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantage) yang dipopulerkan oleh David Ricado (1823) yang menyatakan bahwa sekalipun suatu negara mengalami kerugian atau ketidakunggulan absolut dalam memproduksi kedua komoditas jika dibandingkan dengan negara lain, namun perdagangan yang saling mengguntungkan masih dapat berlangsung. Negara yang kurang efesien akan berspesialisasi dalam memproduksi komoditas ekspor pada komoditas yang mempunyai kerugian absolut lebih kecil. Dari komoditas ini negara tersebut mempunyai keunggulan komparatif dan akan mengimpor komoditas yang mempunyai kerugian absolut lebih besar. Dari komoditas inilah negara mengalami kerugian komparatif (Salvatore, 1997).

(41)

Teori keunggulan komparatif yang lebih modern adalah teori Hecksher-Ohlin (1933), yang pada perbedaan bawaan faktor (produksi) antar negara sebagai determinasi perdagangan yang paling penting. Teori Hecksher-Ohlin menggangap bahwa sebuah negara akan mengekspor komoditas yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu bersamaan negara akan mengimpor komoditas yang produksinya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal di negara itu. Keunggulan komparatif yang dimiliki dalam perdagangan memiliki sifat yang dinamis bukan statis. Sifat yang dinamis tersebut membuat negara memiliki keungglan komparatif di sektor tertentu harus mampu mempertahankan agar tidak tersaingi oleh negara lain atau digantikan komoditas subtitusinya.

3.1.1.2 Keunggulan Kompetitif

Keunggulan kompetitif adalah alat untuk mengukur kelayakan suatu aktivitas atau keuntungan privat yang dihitung berdasarkan harga pasar dan nilai tukar resmi yang berlaku (analisis finansial), sehingga konsep keunggulan kompetitif bukan merupakan suatu konsep yang sifatnya menggantikan atau mensubtitusi terhadap konsep keunggulan komparatif, akan tetapi merupakan suatu konsep yang sifatnya saling melengkapi.

(42)

suatu komoditas dengan asumsi adanya sistem pemasarannya dan intervensi pemerintah.

Keunggulan bersaing negara mencakup tersedianya peran sumberdaya dan melihat lebih jauh pada keadaan negara yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan internasional pada industri yang berbeda. Sebagian besar sumberdaya yang penting seperti keahlian tenaga kerja yang tinggi, teknologi dan sistem manajemen yang canggih diciptakan melalui investasi oleh orang - orang dan perusahaan. Atribut yang merupakan faktor penentu keunggulan bersaing industri nasional yaitu kondisi sumberdaya, kondisi permintaan, industri pendukung dan terkait, serta persaingan, struktur dan strategi perusahaan. Keempat atribut tersebut didukung oleh peranan kesempatan dan peranan pemerintah dalam meningkatkan keunggulan dayasaing industri nasional, dan secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang dikenal denganNational Diamond System.

Gambar 3 “The National Diamond System Sumber : Porter 1990

Kesempatan

Kondisi permintaan Kondisi Faktor

Industri terkait dan

pendukung Pemerintah

(43)

Setiap atribut yang terdapat dalam Teori Berlian Porter memiliki poin -poin penting yang menjelaskan secara detail atribut yang ada, dengan penjelasnya sebagai berikut ;

1. Kondisi Faktor Sumberdaya

Posisi suatu bangsa berdasarkan sumberdaya yang dimilikinya merupakan faktor produksi yang diperlukan untuk bersaing dalam industri tertentu. Faktor produksi tersebut digolongkan pada lima kelompok ;

a) Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia yang mempengaruhi daya saing industri nasional terdiri dari jumlah tenaga kerja yang tersedia, kemampuan manajerial dan keterampilan yang dimilikinya, biaya tenaga kerja yang berlaku (tingkat upah) dan etika kerja (termasuk moral).

b) Sumberdaya Fisik/Alam

Sumberdaya fisik atau sumberdaya alam yang mempengaruhi dayasaing industri nasional mencakup biaya, kualitas, aksesbilitas, ukuran lahan (lokasi), ketersediaan air, mineral dan energi serta sumber daya pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan (termasuk sumberdaya perairan laut lainnya), dan sumber peternakan, serta sumberdaya alam lainnya, baik yang dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui. Begitu juga kondisi cuaca dan iklim, luas wilayah geografis, kondisi topografis dan lain-lain.

c) Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

(44)

dan jasa. Begitu juga ketersediaan sumber-sumber pengetahuan dan teknologi, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga statistik, literatur bisnis dan ilmiah, basis data, laporan penelitian, asosiasi pengusaha, asosiasi perdagangan dan sumber pengetahuan dan teknologi lainnya. d) Sumberdaya Modal

Sumberdaya modal yang mempengaruhi dayasaing nasional terdiri dari jumlah dan biaya (suku bunga) yang tersedia, jenis pembiayaan (sumber modal), aksesibilitas terhadap pembiayaan, kondisi lembaga pembiayaan dan perbankan, tingkat tabungan masyarakat, peraturan keuangan, kondisi moneter dan fiskal, serta peraturan moneter dan fiskal.

e) Sumberdaya Infrastruktur

Sumberdaya infrastruktur yang mempengaruhi dayasaing nasional dapat dilihat dari ketersediaan, jenis, mutu, dan biaya penggunaan infrastruktur yang mempengaruhi persaingan, termasuk sistem transportasi, komunikasi, pembayaran dan transfer dana, air bersih, energi listrik dan lain-lain.

2. Kondisi Permintaan

(45)

a. Komposisi Permintaan Domestik

Karakteristik permintaan domestik sangat mempengaruhi dayasaing nasional. Karakteristik tersebut meliputi ;

1) Struktur segmen permintaan merupakan faktor penentu dayasaing Industri nasional. Pada sebagian besar industri, permintaan yang ada telah tersegmentasi atau dipersempit menjadi beberapa bagian yang lebih spesifik. Pada umumnya perusahaan lebih mudah memperoleh dayasaing pada struktur segmen permintaan yang lebih luas dibandingkan dengan struktur segmen yang sempit.

2) Pengalaman dan selera pembeli yang tinggi akan meningkatkan tekanan kepada produsen untuk menghasilkan produk yang bermutu dan memenuhi standar yang tinggi, yang mencakup standar mutu produk, fitur-fitur pada produk dan pelayanan.

3) Antisipasi kebutuhan pembeli yang baik dari perusahaan dalam negeri merupakan suatu poin dalam memperoleh keunggulan dayasaing.

b. Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan

(46)

c. Permintaan Luar Negeri Terhadap Nasional

Pembeli lokal yang merupakan pembeli dari luar negeri akan mendorong dayasaing industri nasional kerena dapat membawa produk tersebut keluar negeri. Konsumen yang memiliki mobilitas internasional tinggi dan sering mengunjungi suatu negara juga dapat mendorong dan meningkatkan dayasaing produk negeri yang dikunjungi tersebut.

3. Industri Terkait dan Industri Pendukung

Keberadaan industri pendukung dan industri terkait yang memiliki dayasaing global juga akan mempengaruhi dayasaing industri utamanya. Industri hulu yang memiliki dayasaing global akan memasok input bagi industri utama dengan harga lebih murah, mutu yang lebih baik, pelayanan yang cepat, pengiriman tepat waktu dan jumah sesuai dengan kebutuhan industri utama, sehingga industri tersebut juga akan memiliki dayasaing global yang tinggi. Begitu juga industri hilir yang menggunakan produk industri utama sebagai bahan baku. Apabila industri hilir memiliki dayasaing global maka industri hilir tersebut dapat menarik industri hulunya untuk memperoleh dayasaing global.

4. Struktur, Persaingan dan Strategi Perusahaan

(47)

Perusahaan-peruahaan yang telah terbukti bersaing ketat dalam industri nasional akan lebih mudah memenangkan persaingan internasional dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang belum memliki dayasaing nasional atau berada dalam industri yang tingkat persaingannya rendah.

Strukur industri dan struktur perusahaan juga menentukan dayasaing yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang tercakup dalam industri tersebut. Struktur industri yang monopolistik kurang memiliki daya dorong untuk melakukan perbaikan-perbaikan serta inovasi-inovasi baru dibandingkan dengan struktur industri yang bersaing. Di lain pihak, struktur perusahaan yang berada dalam industri sangat berpengaruh terhadap bagaimana perusahaan yang bersangkutan dikelola dan dikembangkan dalam suasana tekanan persaingan, baik domestik maupun internasional. Di samping itu, juga berpengaruh pada strategi perusahaan untuk memenangkan persaingan domestik dan internasional. Dengan demikian secara tidak langsung akan meningkatkan dayasaing global industri yang bersangkutan.

5. Peran Pemerintah

(48)

telekomunikasi atau penerbangan untuk keperluan negara. Bahkan pemerintah dapat juga menjadi penjual utama atau memegang kekuasaan atas produk-produk vital yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. Pada bagian industri pendukung dan terkait, pemerintah dapat membentuk polanya, seperti dengan mengkontrol media periklanan dan membuat regulasi dari pelayanan pendukung. Disamping itu, pemerintah juga dapat mempengaruhi persaingan, struktur dan strategi perusahaan melalui regulasi pasar modal, kebijakan pajak dan peundang-undangan.

6. Peran Kesempatan

Kesempatan mempunyai dampak yang asimetris atau hanya berlaku satu arah terhadap keempat faktor utama dari Teori Berlian Porter. Faktor Peluang seringkali merupakan suatu hal yang besar di luar kekuatan dari industri dan juga pemerintah dalam mempengaruhi keunggulan kompetitif, yaitu hak paten, perang, keputusan politik dari pemerintah luar negeri dan lainnya.

3.1.2 Struktur Pasar

(49)

3.1.2.1 Pasar Persaingan Sempurna

Menurut pappas dan Hirchey (1995), pasar persaingan sempurna adalah struktur pasar yang dicirikan dengan sejumlah besar pembeli dan penjual untuk sebuah produk yang homogen, di mana setiap transaksi peserta pasar adalah begitu kecil sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap harga dari produk tersebut. Para pembeli dan penjual individual adalah para pengambil harga (price taker). Harga telah ditentukan pasar dan cenderung konstan. Ini berarti bahwa perusahaan–perusahaan mengambil harga sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah dan tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi pasar melalui tindakannya sendiri. Sehingga untuk mendapatkan keuntungan maksimum seorang produsen hanya dapat mencapainya melalui keputusan banyaknya jumlah produk yang akan dijual, dengan kata lain laba maksimum dapat diwujudkan dalam kondisi MR=MC. Pada struktur pasar ini informasi permintaan dan penawaran yang bebas dan lengkap tersedia serta tidak terdapat hambatan masuk dan keluar yang berarti, akibatnya tingkat pengembalian atas investasi hanya dimungkinkan dalam jangka panjang.

3.1.2.2 Pasar Persaingan Monopolistik

Menurut Pappas dan Hirchey (1995), persaingan monopolistik adalah pasar yang terdiri dari banyak penjual yang menawarkan produk-produk yang serupa tetapi tidak identik atau terdiferensiasi. Namun barang-barang tersebut tidak bisa saling mensubtitusi. Sehingga konsumen melihat adanya perbedaan penting diantara produk-produk yang ditawarkan oleh setiap produsen individual.

(50)

yang cukup besar dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, peniruan oleh para pesaing akan mengikis pangsa pasar dan laba akhirnya menurun ketingkat normal.

Alasan perusahaan dalam industri monopolistik dapat mengontrol harga produknya adalah subyektifitas konsumen yang memandang produk-produknya berbeda. Oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan pada industri yang memiiki struktur ini berusaha meyakinkan bahwa produk mereka berbeda dan lebih baik dari perusahaan lainnya.

3.1.2.3 Pasar Oligopoli

Menurut Lipsey (1997), Oligopoli adalah industri yang terdiri dari dua atau beberapa perusahaan, sedikitnya satu di antaranya menghasilkan sebagian besar dari keluaran total industri. Para oligopolis memperhitungkan keputusan– keputusan yang diambil oleh berbagai produsen dan mereka memperhitungkan juga dampak keputusan yang diambil oleh berbagai produsen dan mereka memperhitungkan juga dampak keputusan mereka terhadap pesaing-pesaingnya. Bila tedapat perubahan harga sekecil apapun, maka konsumen beralih pada produsen lainnya.

(51)

3.1.2.4 Pasar Monopoli

Menurut Pappas dan Hirchey (1995), pasar monopoli adalah suatu pasar yang dicirikan dengan penjual tunggal dan sebuah produk yang sangat terdiferensiasi. Produsen monopoli dapat menentukan harga. Hambatan masuk atau keluar yang besar seringkali merintangi para pendatang potensial. Monopoli biasa terjadi kerena 3 hal, yaitu monopoli alami, monopoli kerena efisiensi yang superior, dan monopoli kerena paten.

3.1.3 Teori Perdagangan Internasional

(52)

Menurut teorema (Heckscher-Ohlin dalam Salvatore, 1996) sebuah negara akan mengekspor komoditi yang diproduksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu yang bersamaan akan mengimpor komoditas yang diproduksinya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal di negara itu. Singkatnya, sebuah negara yang relatif kaya atau berkelimpahan tenaga kerja akan mengekspor komoditas yang relatif padat tenaga keja dan mengimpor komoditas yang relatif padat modal (yang meupakan faktor produksi langka dan mahal di negara bersangkutan).

Dalam teori mengenai timbulnya perdagangan Internasional, (Heckscher-Ohlin dalam Salvatore, 1987) menganggap bahwa negara dicirikan oleh faktor bawaan yang berbeda, sedangkan fungsi produksi di semua negara adalah sama. Dengan menggunakan asumsi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa dengan fungsi produksi yang sama dan faktor bawaan yang berbeda antar negara, suatu negara cenderung untuk mengekspor komoditas yang secara relatif intensif dalam menggunakan faktor produksinya lebih banyak dan mengimpor barang-barang yang menggunakan faktor-faktor produksi yang relatif langka dan intensif.

(53)

internasional serta hal-hal yang dapat mempengaruhi harga baik secara langsung maupun tidak langsung (Salvatore, 1996).

3.1.4 Pasar dan Pangsa Pasar

Dalam perdagangan dikenal istilah pasar. Menurut Lipsey (1995), pasar merupakan suatu konsep yang memiliki beberapa definisi. Definisi yang pertama yaitu pasar merupakan tempat berlangsungnya negosiasi pertukaran komoditas antara pembeli dan penjual. Definisi yang kedua dari sudut pandang rumah tangga, pasar adalah perusahaan-perusahaan dimana rumah tangga dapat membeli produk. Definisi yang ketiga dari sudut pandang perusahaan, pasar adalah pembeli - pembeli dimana perusahaan dapat menjual produk. Sedangkan pengertian pasar yang dikemukakan oleh WJ. Stanton dalam Swatha (1998) adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk berbelanja dan kemauan untuk membelanjakannya. Istilah pangsa pasar (market share) didefinisikan sebagai persentase penguasaan pasar (Chandradhy, 1978).

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Sub sektor perkebunan merupakan salah satu sektor dari sekian banyak sektor unggulan ekspor Indonesia. Salah satu komoditas unggulan perkebunan adalah kelapa sawit selain keret, teh, kopi dan lain sebagainya. Hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap devisa negara dan penyerapan tenaga kerja. Kebutuhan kelapa sawit untuk kebutuhan minyak goreng dan sebagai bahan bakar (biofuel). Industri CPO Indonesia bukan hanya memasok kebutuhan di dalam negeri saja, melainkan negara lain seperti India, China, Belanda, dan Negara Uni Eropa.

(54)

Indonesia masih di bawah potensinya, kedua industri hilir belum berkembang, ketiga infrastruktur yang terbatas, keempat berbagai kebijakan yang tidak kondusif, kelima berkembangnya areal swadaya tanpa pabrik kelapa sawit, dan keenam adanya kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit di pasar Internasional. Sehingga perlu perbaikan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kelapa sawit agar mampu bersaing dengan pesaing utama yaitu Malaysia. Terbukanya kran perdagangan bebas antar negara merupakan peluang bagi negara Indonesia untuk meningkatkan devisa dari ekspor kelapa sawit. Selain itu tuntutan permintaan CPO dari negara-negara Eropa atau importir yang besar menyebabkan adanya syarat komoditas ekspor yang bersaing dan harus memperhatikn aspek linkungan, ekonomi dan sosial masyarakat sekitar perkebunan.

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan dari penelitian “Dayasaing Industri CPO Indonesia di Pasar Internasional” ini adalah menganalisis struktur pasar dalam perdagangan CPO serta menganalisis posisi dayasaing CPO di pasar Internasional. Oleh karena itu, tahapan dalam penelitian ini adalah melakukan pengkajian potensi, kendala, dan peluang komoditas CPO. Analisis situasi tersebut dilakukan dengan pendekatan Teori Berlian Porter (Porter Diamond Theory) tentang keunggulan bersaing suatu negara.

(55)
(56)

Gambar 4 Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian

• Permasalahan didalam negeri yang menyebabkan dayasaing kelapa sawit nasional menurun

• Persaingan komoditi di pasar Internasional dengan

terbukanya kran perdagangan bebas

Gambaran dayasaing CPO Indonesia menghadapi persaingan

Internasional (Identifikasi faktor SWOT) Analisis struktur

industri CPO di pasar Internasional

Revealed Comparatif Advantage (RCA)

Analisis Keunggulan Kompetitif industri

CPO Indonesia

Herifindahl Index dan Rasio Konsenttrasi

Analisis keunggulan Komparatif CPO

Indonesia

Teori Berlian Porter

Posisi dayasaing CPO (Crude Palm Oil)Indonesia

Strategi untuk meningkatkan dayasaing CPO Indonesia di pasar

Internasional

(57)

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada beberapa tempat diantaranya Gedung PAU IPB Lantai 2 yang merupakan pusat organisasi Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dewan Minyak Sawit Indonesia Jakarta, serta Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta. Penelitian ini berlangsung pada bulan Febuari hingga April 2008.

4.2 Jenis dan Sumber Data

(58)

4.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan Teori Berlian Porter dan analisis SWOT, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan Herifindahl Index (HI) dan Revealed Comparative Advantage (RCA). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan softwareMicrosoft Excel 2007.

4.3.1 Analisis Struktur Industri

Herifindahl Index dan Rasio Konsentrasi adalah alat analisis yang digunakan untuk mengetahui struktur pasar yang dihadapi suatu industri. Herfindahl Index merupakan suatu alat untuk mengukur besar kecilnya (ukuran) perusahaan-perusahaan dalam industri dan sebagai indikator jumlah pesaing diantara mereka. Herfindahl Index dan rasio konsentrasi sering digunakan untuk mengukur konsentrasi industri. Nilai Herifindahl Index mencerminkan penguasaan pangsa pasar oleh suatu perusahaan dalam suatu industri. Indeks tersebut merupakan hasil penjumlahan kuadrat pangsa pasar tiap-tiap perusahaan dalam suatu industri.

Keterangan :

Sij : Pangsa pasar CPO Negara i di pasar internasional Xij : Nilai ekspor CPO Negara i dipasar internasional TXj : Total nilai ekspor CPO di pasar internacional

(59)

Dalam penelitian ini, alat analisis Herifindahl Index digunakan dengan tujuan mengetahui struktur pasar CPO di pasar internasional sekaligus mengukur penguasaan pangsa pasar masing-masing negara terlibat dalam perdagangan CPO. Pangsa pasar CPO suatu negara dihitung dengan membandingkan ekspor CPO tersebut dengan total ekspor dunia. Formula yang sama kemudian digunakan untuk mengukur struktur pasar dan pangsa pasar suatu negara dalam perdagangan CPO internasional, yaitu sebagai berikut

Keterangan :

HI : Herifindahl Index

Si : Pangsa pasar Negara ke i dalam perdagangan CPO dunia n : Jumlah Negara yang terlibat dalam perdagangan CPO

Didasarkan pada analisa standar dalam ekonomi industri, bahwa struktur industri dikatakan berbentuk oligopoli bila empat produsen terbesar menguasai minimal 40 persen pangsa pasar penjualan dari industri yang besangkutan (CR4=40 persen). Apabila kekuatan keempat produsen tersebut sama, maka

pangsa penjualan atau produksi masing-masing produsen adalah 10 persen dari nilai penjualan atau produksi suatu industri. Apabila penguasaan pasar oleh sepuluh produsen atau kurang dalam suatu industri merupakan batas minimum suatu industri berbentuk oligopolistik, maka terdapat kecendrungan peningkatan derajat penguasaan pasar dari tahun ketahun. Sejalan dengan peningkatan derajat penguasaan pasar tersebut, beberapa sub sektor industri beralih kearah persaingan

HI = S1 2

+ S2 2

+ S3 2

(60)

oligopolistik. NilaiHerifindahl Index ini berkisar antara 0 hingga 1 (atau 10.000 yang merupakan kuadrat dari 100 persen). Jika nilaiHerifindahl Index mendekati 0 berarti struktur pasar industri yang bersangkutan cenderung ke pasar persaingan (competitive market), sementara jika indeks bernilai mendekati 1 (atau 10.000) maka struktur pasar industri tersebut cenderung bersifat monopoli.

Struktur pasar juga dapat diklasifikasikan berdasarkan rasio konsentrasinya, yaitu :

1. Struktur pasar persaingan sempurna (perfect competition) ditunjukan dengan rasio konsetrasi yang sangat rendah.

2. Struktur pasar persaingan monopolistik (monopolistic competicion) ditunjukan dengan nilai rasio konsetrasi untuk empat produsen terbesar (CR4) di bawah 40 persen.

3. Strukur pasar oligopoli ditunjukan dengan nilai rasio konsentrasi empat produsen terbesar (CR4) diatas 40 persen.

4. Struktur pasar monopoli ditunjukan dengan nilai rasio konsentrasi empat produsen (CR4) mendekati 100 persen.

Rasio konsentrasi negara penghasil kelapa sawit di formulasikan sebagai berikut:

Keterangan

Sij : Pangsa pasar negara ke i penghasil CPO

(61)

Nilai CR yang banyak digunakan adalah CR4 dan CR8 menunjukan

persentase output pasar yang dihasilkan oleh keempat atau kedalapan produsen terbesar dalam industri. Semakin besar nilai rasio konsentrasi menunjukan bahwa industri tersebut semakin terkonsentrasi dan semakin sedikit jumlah produsen yang berada dipasar, sedangkan semakin rendah rasio konsentrasi menunjukan konsentrasi pasar yang rendah, persaingan yang lebih ketat dikarenakan tidak ada produsen yang secara signifikan menguasai pasar.

Dengan mengetahui nilaiHerifindahl Index dan Rasio Konsentrasi empat produsen terbesar ini maka secara tidak langsung dapat diketahui konsentrasi dan struktur pasar persaingan di mana Indonesia dan negara-negara produsen CPO lainnya bersaing, serta menyesuiakan strategi kompetitif yang akan digunakan.

Tingkat konsentrasi pasar yang dapat dirumuskan dari dua alat yaitu Herifindahl Index dan CR4adalah sebagai berikut :

1 Konsentrasi pasar yang tinggi dicirikan dengan nilai CR4yang berkisar antara

80-100 persen, sedangkan kisaran nilai HI yaitu antara 1.800-10.000. struktur pasar untuk tingkat konsentrasi tinggi adalah monopoli atau oligopoli ketat. 2 Konsentrasi pasar yang sedang dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisar

antara 50 sampai 80 persen, sedangkan kisaran nilai HI yaitu antara 1.000-1.800. struktur pasar yang mungkin untuk tingkat konsentrasi sedang adalah lebih banyak oligopoli.

3 Konsentrasi pasar yang rendah dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisar 0

(62)

4.3.2Reveled Comparative Advantage (RCA)

Salah satu cara untuk mengukur keunggulan komparatif adalah dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage Index, yang membandingkan pangsa pasar ekspor sektor tertentu suatu negara dengan pangsa pasar sektor tertentu di pasar dunia. Keuntungan dari menggunakan RCA Index adalah bahwa indeks ini mempertimbangkan keuntungan intrinsik komoditas ekspor tertentu dan konsisten dengan perubahan di dalam suatu ekonomi produktifitas dan faktor anugerah alternatif, kerugiannya bagaimanapun juga indeks ini tidak dapat membedakan antara peningkatan didalam faktor sumberdaya dan penerapan kebijakan perdagangan yang sesuai.

Tujuan penggunaan indeks RCA dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi komparatif Indonesia diantara negara produsen kelapa sawit lainnya di pasar internasional. Selain itu indeks ini bermanfaat untuk mengukur dayasaing industri suatu negara, apakah industri cukup tangguh bersaing di pasar internasional atau tidak dapat diketahui secara kuantatif dengan menggunakan indeks ini.

Rumus menurut Balasaa dalam Smyth (2005) untuk mengukur keunggulan komparatif sebuah Negara dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage, yaitu : RCAi = ( Xij / Xj ) / (Xiw/Xw)

Keterangan

RCAi :Revealed Comparative Advantage untuk komditi i Xij : Nilai Ekspor komoditas i dari negara j

Xj : Total ekspor negara j

(63)

Apabila hasil yang didapat yaitu nilai RCA lebih besar dari satu, maka dapat dikatakan Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk kondisi yang terkait dan mempunyai dayasaing kuat. Apabila nilai RCA kurang dari satu, maka Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif terhadap komoditi tersebut atau komoditi tersebut dayasaingnya lemah. Maka, semakin tinggi nilai RCA-nya semakin kuat dayasaingnya (Swaranindita, 2005)

4.3.3 Analisa Berlian Porter

Alat analisis Berlian Porter digunakan untuk mengetahui situasi dan kondisi dari setiap atribut yang ada, seperti kondisi permintaan domestik, kondisi faktor sumberdaya, industri pendukung dan terkait dan persaingan, struktur dan strategi industri CPO nasional. Selain hal tersebut, terdapat juga dua atribut tambahan yaitu peran pemerintah dan peran dari kesempatan yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan industri CPO nasional.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis industri CPO nasional, yaitu :

1) Menentukan siapa saja yang ada didalam industri. Hal ini dilakukan dengan membuat daftar kasar yang memuat para peserta industri secara langsung. 2) Menelaah industri. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya hasil telaah

industri yang relatif cukup lengkap atau sejumlah artikel yang cakupannya luas.

(64)

4.3.4 Analisa SWOT

Dalam menetapkan strategi dan kebijakan pengembangan kelapa sawit Indonesia ke depan digunakan alat analisis SWOT. Dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu industri serta analisis terhadap fakor kunci yang dijadikan sebagai bahan acuan dalam menetapkan strategi dan kebijakan penanganan kelapa sawit, guna mewujudkan industri yang tangguh melalui penciptaan kondisi yang kondusif.

Analisis SWOT yaitu analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (Strenghts, Weaknesses, Opportunities threats). Analisis SWOT merupakan identifikasi yang bersifat sistematis dari faktor–faktor kekuatan dan kelemahan industri serta peluang dan ancaman lingkungan luar dan strategi yang menyajikan kombinasi terbaik diantara ke empatnya.

Setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman barulah suatu industri dapat menentukan strategi dengan memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya untuk mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada, sekaligus untuk memperkecil atau bahkan mengatasi kelemahan yang dimilikinya untuk menghindari ancaman yang ada.

1. Analisis Kekuatan (Strengths)

Kekuatan merupakan kelebihan khusus yang memberikan keunggulan di dalam suatu industri. Kekuatan akan mendukung perkembangan usaha dengan cara memperhatikan sumber dana, citra, kepemimpinan pasar, hubungan dengan konsumen atau pemasok, serta faktor lainnya.

(65)

Kelemahan adalah keterbatasan dan kekurangan dalam hal sumberdaya, keahlian dan kemampuan yang secara nyata menghambat aktivitas industri. fasilitas, sumberdaya keuangan, kemampuan manajerial dan pandangan terhadapa industri.

3. Analsis Peluang (Opportunities)

Peluang adalah situasi yang diinginkan atau disukai dalam perusahaan atau industri yang diidentifikasi. Segmen pasar, perubahan dalam persaingan atau lingkungan, perubahan teknologi, peraturan baru dapat menjadi peluang bagi industri atau perusahaan.

4. Analisis Ancaman (Threats)

Ancaman merupakan situasi yang paling tidak disukai oleh perusahaan atau industri. Ancaman merupakan penghalang bagi posisi yang diharapkan oleh industri. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, meningkatnya posisi penawaran pembeli dan pemasok, perubahan teknologi. Peraturan juga dapat menjadi ancaman bagi industri CPO.

(66)

Internal Gambar 5 Matriks SWOT

Terdapat 8 tahapan dalam membentuk matriks SWOT, yaitu ;

1. Tentukan faktor-faktor peluang eksternal organisasi atau perusahaan. 2. Tentukan faktor-faktor ancaman perusahaan atau industri.

3. Tentukan faktor-faktor kelemahan perusahaan atau industri. 4. Tentukan faktor-faktor kekuatan perusahaan atau industri.

5. Sesuaikan kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi S-O.

6. Sesuaikan kelemahan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi W-O.

7. Sesuiakan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi S-T.

(67)

Faktor Eksternal

Faktor eksternal perusahaan atau industri dipengaruhi oeh lingkungan jauh perusahaan dan lingkungan bisnis perusahaan. Pengidentifikasian berbagai faktor eksternal ini diharapkan dapat memuat berbagai faktor luar yang dianggap sebagai peluang maupun ancaman bagi perusahaan dengan alasan yang kuat. Lingkungan eksernal perusahaan terdiri dari berbagai faktor yang pada dasarnya di luar dan terlepas dari perusahaan. Berbagai faktor utama yang diperhatikan dalam lingkungan eksternal jauh perusahaan ialah faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi, yang sering disebut dengan PEST. Lingkungan jauh ini menjadi hambatan dan ancaman untuk maju. Penjelasan dari tiap faktor dipaparkan berikut ini.

1. Faktor Politik

Arah kebijakan dan stabilitas politik pemerintah menjadi faktor penting bagi pengusaha untuk berusaha. Situasi politik yang tidak kondusif akan berdampak negatif bagi dunia usaha begitu pula sebaliknya. Beberapa hal utama yang harus diperhatikan dari faktor politik agar bisnis dapat berkembang dengan baik ialah undang-undang tentang lingkungan dan perburuhan, peraturan tentang perdagangan luar negeri, stabilitas pemerintah, peraturan tentang keamanan dan kesehatan kerja, dan sistem perpajakan.

2. Faktor Ekonomi

(68)

diperhatikan dalam menganalisis faktor ekonomi adalah siklus bisnis atau ekonomi, ketersediaan energi, inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan jasa, produkktivitas dan tenaga kerja.

3. Faktor Sosial

Kondisi masyarakat berubah-ubah secara dinamis. Kondisi sosial meliputi banyak aspek yaitu sikap, gaya hidup, adat istiadat dan kebiasaan hidup orang-orang di lingkungan eksternal perusahaan, kondisi cultural perusahaan, ekologis demografis, relegius, pendidikan dan etnis. Contoh dari pengaruh kekuatan sosial ialah jika sikap sosial berubah, permintaan untuk berbagai kebutuhan akan berubah.

4. Faktor Teknologi

Perkembangan teknologi mengalami kemajuan pesat, baik di bidang bisnis maupun di bidang yang mendukung kegiatan bisnis. Setiap kegiatan usaha yang diinginkan berjalan terus menerus harus selalu mengikuti perkembangan teknologi yang dapat diterapkan pada produk atau jasa yang dihasilkan atau pada cara operasinya. Agar perusahaan tidak tertinggal karena kesalahan penggunaan teknologi, maka ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan yaitu bagaimana kecepatan transfer teknologi.

Faktor Internal

(69)

usaha memperbaiki kelemahan internalnya. Audit internal mencakup seluruh fungsi yang terdapat organisasi tersebut.

Audit lingkungan internal ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan fungional perusahaan. Pada pendekatan fungsional perusahaan, pengkategorian analisis internal sering diarahkan pada pasar dan pemasaran, kondisi keuangan dan akunting, produksi, sumberdaya manusia, dan struktur organisasi dan manajemen.

1. Pasar dan Pemasaran

Ada beberapa faktor yang diperhatikan dalam bidang pemasaran yaitu pangsa pasar, pelayanan purna jual, kepemilkan informasi tentang pasar, pengendalian distributor, kondisi satuan kerja pemasaran, kegiatan promosi, harga jual produk, komitmen manajemen puncak, loyalitas pelanggan dan kebijakan produk baru.

2. Keuangan dan Akuntasi

Dana dibutuhkan dalam operasional perusahaan. Oleh karena itu, faktor-faktor yang perlu diperhitungkan adalah kemampuan peusahaan menumpuk modal jangka panjang dan jangka pendek, beban yang harus dipikul sebagai upaya memperoleh modal tambahan, hubungan baik dengan penanam modal dan pemegang saham, pengelolaan keuangan, struktur modal kerja, harga jual produk, pemantau penyebab inefesiensi dan sistem akunting yang handal.

3. Kegiatan Produksi dan Operasi

Gambar

Gambar 1 Penguasaan Lahan
Tabel 3 Produksi Komoditi Perkebunan Indonesia Tahun 2002–2006(000Ton)
Gambar 2 Bagan Strategi Pembangunan Perkebunan
Gambar 3 “The National Diamond System”Sumber : Porter 1990
+7

Referensi

Dokumen terkait

Industri pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu industri berbasis pertanian yang menempati posisi strategis di Indonesia Industri pengolahan kelapa sawit didominasi

Untuk dapat menganalisis nilai tambah dari hasil pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil), terdapat berbagai komponen penting yaitu: nilai output, input bahan baku,

Panduan Lengkap Kelapa Sawit : Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir.. Pemurnian Minyak Jelantah Menggunakan Ampas Tebu

Kelapa Sawit Forum komunikasi klaster Forum komunikasi klaster industri CPO industri CPO Kelapa Kelapa -- MASALAH AKTUAL MASALAH AKTUAL Pengolahan Buah. Pengolahan Buah --

Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu.

1) Produk minyak sawit mentah (CPO) memiliki potensi besar dikembangkan di sektor industri hilir, yang menghasil nilai tambah besar di dalam negeri untuk

Di samping Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Propinsi Sumatera Utara, terdapat beberapa perusahaan yang mengelola industri turunan (hilir) mengolah minyak CPO menjadi minyak

Peningkatan tarif ekspor sebesar satu persen mengakibatkan penurunan volume ekspor CPO, produksi minyak goreng sawit domestik dan permintaan CPO oleh industri