Alih Kode Tuturan Penjual Dan Pembeli Di Pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau Chapter III V

45 

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pasar Puan Maimun yang terletak di jalan Pasar Baru Puan Maimun Sei Lakam Timur, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Pasar Puan Maimun merupakan salah satu pasar yang ada di Tanjung Balai Karimun. Alasan peneliti memilih Pasar Puan Maimun karena pasar ini merupakan salah satu pasar terbesar yang ada di Tanjung Balai Karimun memiliki dua unit bangunan permanen yang masing- masing dibangun dua lantai dan disana terdapat beragam suku dengan bahasa yang berbeda.

3.1.2 Waktu Penelitian

Peneliti melakukan penelitian mulai dari tanggal 20 Februari 2016 sampai dengan April 2016. Penelitian ini dilakukan sekitar 2 bulan. Pada minggu pertama, yang pertama peneliti lakukan adalah observasi kurang lebih selama 2 hari. Setelah dilakukan observasi peneliti mulai mengumpulkan data berupa percakapan antara penjual dan pembeli kurang lebih selama 2 bulan. Kemudian setelah semua data terkumpul, peneliti melakukan pengolahan data kurang lebih selama 1 bulan.

3.2 Sumber Data

(2)

terdiri dari dua bangunan, yaitu Blok A dan Blok B. Bangunan Blok A untuk pedagang sandang dan garmen, terdiri dari 143, sedangkan bangunan Blok B untuk pedagang basah seperti ikan dan sayuran

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

memiliki jumlah lapak 372 dan 56 kios. Jadi jumlah populasi penjual di pasar Puan Maimun lebih kurang 571. Peneliti mengambil sampel 30 penjual dan 37 pembeli secara acak (random) yang ada di pasar Puan Maimun untuk diteliti karena menurut Roscoe dalam Sugiyono (2007) ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30-500. Berdasarkan hal tersebut, untuk efisiensi tenaga, waktu dan biaya maka besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 sampel.

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu metode simak dengan teknik lanjutan yaitu teknik simak bebas libat cakap dan teknik rekam. Teknik simak bebas libat cakap adalah peneliti sebagai pengamat pengguna bahasa dengan mendengarkan apa yang dikatakan oleh informan dalam proses berdialog dan peneliti merekam tanpa sepengetahuan penutur peristiwa tuturan alih kode yang terjadi di Pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun agar tuturan yang dilakukan alami. Dalam penelitian ini juga digunakan metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing.

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data

(3)

bahasa, kemudian teknik dasarnya disesuaikan dengan alat penentunya yaitu dengan menggunakan teknik pilah unsur penentu yang dimiliki suatu alat yang bersifat mental yang dimiliki peneliti (Sudaryanto, 1993:21). Teknik lanjutan adalah teknik hubung banding membedakan tuturan yang disampaikan oleh peserta tutur saat transaksi jual beli berlangsung (berbahasa Melayu dan bahasa Indonesia atau sebaliknya). Analisis data Analisis data dapat dilihat pada alih kode dalam peristiwa tutur di bawah ini:

(3) Alih kode pada peristiwa tutur ini terjadi antara penjual, pembeli baju batik dan handuk di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual, Pembeli 1, dan pembeli 2.

Tujuan Membeli baju batik dan handuk. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penjual kepada pembeli yang mencari baju batik dan handuk.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa Tutur

Penjual : Nak carik ape, Buk? Mau cari apa, Bu? ‘Bu, mau cari apa?’

(4)

Penjual : Ade Buk, nak ukuran ape? Ada Bu, mau ukuran apa? ‘Ada Bu, mau ukuran apa?’

Pembeli 1 : Ukuran M. Ukuran M. ‘Ukuran M’.

Penjual : Kalo ukuran M tak ade, Buk. Kalau ukuran M NEG. ada, Bu. ‘Kalau ukuran M , tidak ada Bu.’ Pembeli 2 : Ade handuk, Kak ?

Ada handuk, Kak ? ‘Kak, ada handuk?’ Penjual :Ade di sana.

Ada PRE. sana. ‘Ada di sebelah sana.’ Pembeli 2 : Bisa lihat dulu, Kak? ‘Bisa lihat dulu, Kak? ‘Kak, bisa lihat dulu?’ Penjual : Bisa, tunggu sebentar ya.

Bisa, tunggu sebentar ya. ‘Bisa, tunggu sebentar ya’.

(5)

dari etnis melayu sehingga terjadi alih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Alih kode ini karena karena hadirnya orang ketiga.

(4) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli ikan di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli ikan.

Tujuan Membeli ikan. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa Tutur

Pembeli : Berapa harga ikan satu kilo, Buk? Berapa harga ikan NUM kilo, Buk? ‛Bu, berapa harga ikan satu kilogram?’ Penjual : Due puluh lime ribu.

NUM. ribu. ‛Dua puluh lima ribu’.

Pembeli : Tak kurang lagi, Buk. Nak ambel tige kilo? NEG. kurang lagi, Bu. Mau ambil NUM. kilo? ‛Mau ambil tiga kilo, Bu. Tidak kurang lagi?’ Penjual : Boleh, tapi kurang siket aje.

(6)

Dari contoh tersebut terjadi alih kode pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia, tetapi penjual menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud Kalimat. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena karena pembeli menghormati penjual yang kebetulan usianya lebih tua dan pembeli juga ingin menciptakan suasana santai dan akrab saat transaksi jual beli berlangsung. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur. 3.5 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

(7)

BAB IV

PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang dikemukakan dalam bab IV ini meliputi bentuk tuturan penjual dan pembeli di pasar Puan Maimun dan faktor penyebab terjadinya alih kode di pasar Puan Maimun. Bentuk alih kode dalam tuturan penjual dan pembeli di pasar Puan Maimun yang terjadi adalah berupa alih bahasa yang meliputi: alih bahasa Melayu ke dalam bahasa Indonesia dan alih bahasa Indonesia ke dalam bahasa Melayu.

Subdialek Melayu dapat dibagi menjadi dua subdialek, yaitu subdialek Daratan dan subdialek Kepulauan. Subdialek Daratan mempunyai ciri-ciri fonologis yang berdekatan dengan bahasa Melayu Minangkabau, sedang subdialek Kepulauan mempunyai ciri fonologis yang berdekatan dengan bahasa Melayu Malaysia.

Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Riau terdapat perbedaan yaitu kedua subdialek ini ditandai dengan kata-kata yang dalam bahasa Indonesia merupakan kata-kata yang berakhir dengan vokal /a/; pada subdialek Daratan diucapkan dengan vokal /o/, sedang pada subdialek Kepulauan diucapkan /?/. Beberapa contohnya antara lain yaitu penyebutan kata /bila/, /tiga/, /kata/ dalam Bahasa Indonesia akan menjadi demikian dalam Bahasa Riau Daratan: /bilo/, /tigo/, /kato/. Sementara dalam Bahasa Riau Kepulauan menjadi: /bile/, /tige/, /kate/.

(8)

Kekhasan lainnya adalah perbedaan artikulasi pada konsonan getar uvular /R/ yang berbeda dengan getar ujung lidah yang terdapat dalam bahasa Indonesia.

4.1 Bentuk Alih Kode dalam Tuturan Penjual dan Pembeli di Pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau

Bentuk alih kode yang terjadi adalah berupa alih bahasa yang meliputi: alih bahasa Indonesia ke dalam bahasa Melayu dan alih bahasa Melayu ke dalam bahasa Indonesia.

4.1.1 Alih bahasa Melayu ke dalam bahasa Indonesia

(5) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli bawang merah di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli bawang merah.

Tujuan Membeli bawang merah. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa Tutur

(9)

Penjual : Bede- bede harge bu. Beda- beda harga bu? ‛Berbeda- beda harga bu’ Pembeli : Kalo yang ini berape? Kalau yang DET berapa?

‛Kalau yang ini berape?’ Penjual : Lima belas ribu, bu.

NUM bu. ‛Lima belas ribu, bu.

Pembeli : Beli se kilo aja, bu. AKT.beli NUM kilogram aja, bu. ‛bu, beli satu kilogram aja’.

Penjual : Yang lain bu, bawang putih, cabe, tomat? Yang lain bu, bawang putih, cabai, tomat? ‛Yang lain bu, bawang putih, cabai, tomat?’

Dari tuturan tersebut terjadi alih kode yaitu di tengah pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu dan penjual pun menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Di tengah percakapan pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia yang berwujud frasa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena pembeli ingin menciptakan suasana santai dan akrab saat transaksi jual beli berlangsung. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(6) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli kaos kaki di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli kaos kaki.

(10)

Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Penjual : Ape cari bu? Apa cari bu? ‛Apa cari bu?’

Pembeli : Ada kaos kaki warna hitam? Ada kaos kaki warna hitam? ‛Ada kaos kaki warna hitam?’ Penjual : Ada bu,mau berapa pasang?

Ada bu, mau berapa pasang? Ada bu, mau berapa pasang?’ Pembeli : Berapa harganya sepasang?

Berapa harganya sepasang? ‛Berapa harganya sepasang?’ Penjual : Sepuluh ribu bu.

NUM bu.

‛Sepuluh ribu.’

(11)

disebabkan karena penjual ingin menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh pembeli dan alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(7) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli gelas di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli gelas.

Tujuan Membeli gelas. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Berape harge gelas ni se lusin? Berapa harga gelas DET NUM lusin?

‛Berapa harga gelas ini satu lusin?’

Penjual : Satu lusin enam puluh lima ribu, bu. NUM lusin NUM ribu bu. ‛Satu lusin enam puluh lima ribu, bu.’

Pembeli : Ngak bisa kurang bu, mau ambil dua lusin. NEG bisa kurang bu, mau ambil NUM lusin. ‛Tidak bisa kurang bu, mau ambil dua lusin.’ Penjual : Bisa kurang sedikit aja.

(12)

Dari tuturan tersebut terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu tetapi penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia yang berwujud kalimat. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena pembeli ingin menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh penjual dengan maksud ingin mendapatkan potongan harga. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(8) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli jilbab di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli jilbab.

Tujuan Membeli jilbab. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli :Ade warna laen tak jilbab ni? Ada warna lain NEG jilbab DET? ‛Ada warna lain tidak jilbab ini?’

(13)

Pembeli : Coba lihat warna merah. Coba lihat warana merah.

‛Coba liat warna merah.’

Penjual : Sebentar ya. Sebentar ya. ‛Sebentar ya.’

Dari tuturan tersebut terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu tetapi penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia yang berwujud klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena pembeli ingin menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh penjual. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(9) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli minyak makan di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli minyak makan.

Tujuan Membeli minyak makan. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

(14)

Peristiwa tutur

Pembeli : Berape minyak makan se kiko? Berapa minyak makan NUM kilo? ‛Berapa minyak makan satu kilo?’ Penjual : Se kilo tige belas ribu.

NUM kilo NUM ribu. ‛Satu kilo tiga belas ribu.

Pembeli : Kok mahal, tadi di sana dua belas ribu aja. Kok mahal, tadi PRE sana NUM aja. ‛Kok mahal, tadi di sana dua belas ribu aja. Penjual : Mau ambil berapa kilo?

Mau ambil berapa kilo? ‛Mau ambil berapa kilo?’ Pembeli : Tiga kilo.

NUM kilo. ‛Tiga kilo.’

Dari tuturan di atas tersebut terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu dan penjual menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Lalu ditengah percakapan pembeli meggunakan bahasa Inonesia dan akhirnya pembeli pun beralih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia yang berwujud klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena pembeli kurang menguasai bahasa melayu. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(10) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli jaket di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli jaket.

(15)

Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Penjual : Nak tawar berape? Mau tawar berapa? ‛Mau tawar berapa?’

Pembeli : Sembilan puloh ribu ye, bu? NUM ya, bu? ‛Sembilan puluh ya,bu?’

Penjual : Kalau itu belum dapat, harganya ngak di bawah seratus. Kalau DET belum dapat, harga jaket NEG PREP bawah NUM. ‛Kalau yang itu belum dapat, harganya tidak dibawah seratus.’ Pembeli : Kurang lah sedikit lagi bu, biar jadi di ambil jaketnya.

Kurang lah sedikit lagi bu, biar jadi PREP ambi jaketnya. ‛Kurang lah sedikit lagi bu, biar jadi diambil jaketnya.’

(16)

(11) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli pakaian anak di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli pakaian anak.

Tujuan Membeli pakaian anak. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Tige puloh ribu lah ye pak? NUM lah ya pak? ‛Tiga puluh ribu lah ya pak?’

Penjual : Belum bise, tambah lime ribu lagi lah. Belum bisa, tambah NUM lagi lah. ‛Belum bisa tambah lima ribu lahi lah.’ Pembeli : Ada yang lebih besar ukurannya pak?

Ada KONJ lebih besar ukurannya pak? ‛Ada yang lebih besar ukurannya pak?’ Penjual : Ada, anak ibu umur berapa tahun?

Ada, anak ibu umur berapa tahun? ‛Ada, umur berapa tahun anak ibu?’ Pembeli : Lima tahun pak.

(17)

Dari tuturan di atas terjadi peristiwa alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu dan penjual menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Akhirnya penjual beralih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia di tengah percakapan. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia yang berwujud kalimat. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena penjual menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh pembeli agar komunikasi saat transaksi jual beli nyaman. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(12) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli bumbu di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli bumbu.

Tujuan Membeli bumbu. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Bu, kasi bumbu rendang due ribu. Bu, kasi bumbu rendang NUM ribu. ‛Bu, kasi bumbu rendang dua ribu.’ Penjual : Iya, bumbu apalagi?

(18)

Pembeli : Bumbu sop kasi seribu aja. Bumbu sop kasi seribu saja.’ ‛Bumbu sop kasi seribu saja.’

Penjual : gak bisa bu, paling sedikit beli dua ribu. NEG bisa bu, paling sedikit beli NUM ribu. ‛Tidak bisa bu, paling sedikit beli dua ribu.’

Dari tuturan di atas terjadi peristiwa alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu dan penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia di tengah percakapan. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia yang berwujud klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena pembeli menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh penjual agar komunikasi saat transaksi jual beli nyaman. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

4.1.2 Alih bahasa Indonesia ke dalam bahasa Melayu

(13) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli sepatu sekolah di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli sepatu sekolah.

Tujuan Membeli sepatu sekolah. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

(19)

Peristiwa tutur

Pembeli : Pak, ada sepatu sekolah anak warna hitam? Pak, ada sepatu sekolah anak warna hitam?

‛Pak, ada sepatu sekolah anak warna hitam?’

Penjual : Ada bu. Ada bu. ‛Ada bu.’

Pembeli : Berapa ini harganya? Berapa DET harganya? ‛Berapa ini harganya?’

Penjual : Seratus tujuh puluh saja bu, ukuran berapa anaknya bu? NUM saja bu, ukuran berapa anaknya bu?

‛Ukuran tiga lima pak, Harganya tidak kurang lagi? Seratus dua puluh ajalah.’

Penjual :Tak balek modal saye buk, dah lah saye kasi harge pagi aje ni seratus lime puloh ribu.

NEG balik modal 1Tg bu, sudah lah 1Tg kasi harga pagi aja DET NUM.

‛Tidak balik modal saya bu, sudah lah saya kasi harga pagi aja ini seratus lima puluh ribu.’

Pembeli : Seratus empat puloh lah ye, biar jadi di ambel. NUM lah ya, biar jadi PREP ambil.

‛Seratus empat lah ya, biar jadi diambil.’

(20)

etnis Melayu sehingga penjual menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh mitra tuturnya.

(14) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli tempe di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli tempe.

Tujuan Membeli tempe. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Pak, harga tempe berapa? Pak, harga tempe berapa? ‛Pak, harga tempe berapa?’

Penjual : Nak yang daon atau plastik bu? Mau KONJ daun atau plastik bu? ‛Mau yang daun atau plastik bu?’

Pembeli : Yang daon aje pak lima belas bungkus. KONJ daun saja pak NUM bungkus. ‛Yang daun saja pak lima belas bungkus.’

(21)

Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud kalimat. Alih kode ini terjadi karena pembeli menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh mitra tuturnya.

(15) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli daster di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli daster.

Tujuan Membeli daster. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Berapa bu dasternya? Berapa bu dasternya? ‛Bu berapa dasternya?’

Penjual : Enam puluh ribu. NUM ribu. ‛Enam puluh ribu.’

Pembeli : Kok mahal sekali, ngak bisa kurang bu? Kok mahal sekali, NEG bisa kurang bu? ‛Kok mahal sekali, tidak bisa kurang bu?’

(22)

‛Udah dikasi murah, yang ini bahannya bagus.’

Pembeli : Lime puloh ribu ajelah, biar saye ambel. NUM sajalah, biar 1Tg ambil. ‛Lima puluh ribu sajalah, biar saya ambil.’ Penjual : Tambah siket lah kak.

Tambah sedikit lah kak. ‛Tambah sedikit lah kak.’ Pembeli : Tak lah bu, segitu aje.

NEG lah bu,segitu saja. ‛Tidak lah bu, segitu saja.’

Dari tuturan tersebut terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia dan penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu di tengah percakapan. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini karena di tengah percakapan penjual yang dari etnis Melayu menggunakan bahasa Melayu sehingga pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu agar pembeli mendapatkan harga yang murah dalam transaksi jual beli.

(16) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli udang di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli udang.

Tujuan Membeli udang. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

(23)

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Bu, udangnya berapa se kilo? Bu, udangnya berapa NUM kilo? ‛Bu, berapa udangnya satu kilo?’

Penjual : Udang merah tiga puluh lima ribu , kalau udang putihnya lima puluh ribu.

Udang merah NUM ribu, kalau udang putihnya NUM ribu.

‛Udang merah tiga puluh lima ribu, kalau udang putihnya lima puluh ribu.

Pembeli : Tak empat puloh lime aje udang puteh de? NEG NUM aja udang putihnya? ‛Tidak empat puluh lima aja udang putihnya?’ Penjual : Boleh lah bu, nak berape kilo?

Boleh lah bu, mau berapa kilo? ‛Boleh lah bu, mau berapa kilo?’

Pembeli : Kasi se kilo ajelah bu. Kasi NUM kilo sajalah bu. ‛Kasi satu kilo sajalah bu.’

(24)

klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena pembeli menginginkan harga yang murah dalam transaksi jual beli ini.

(17) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli jeruk di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli jeruk.

Tujuan Membeli jeruk. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Penjual : Belanja apa bu? Jeruknya delapan ribu aja se kilo. Belanaj apa bu? Jeruknya NUM aja NUM kilo. ‛Belanja apa bu? Jeruknya delapan ribu aja sekilo.’ Pembeli : Manes tak jeruk de?

Manis NEG jeruknya? ‛Manis tidak jeruknya?’

Penjual : Manes bu, kalo tak manes boleh dikembalikan. Manis bu, kalau NEG manis boleh dikembalikan. ‛Manis bu, kalau tidak manis boleh dikembalikan.’ Pembeli : Kalo gitu, saye ambel due kilo.

(25)

Dari tuturan di atas terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan penjual menawarkan dagangannya menggunakan bahasa Indonesia, kemudian pembeli yang dari etnis Melayu menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Akhirnya penjual beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud kalimat. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena hadirnya mitra tutur sehingga penjual menyesuaikan bahasa yang digunakannya.

(18) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli sendal di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli sendal.

Tujuan Membeli sendal. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Penjual : Dua puluh ribu dua puluh ribu sendalnya dipilih kak. NUM ribu NUM sendal dipilih kak. ‛Dua puluh ribu dua puluh ribu sendalnya dipilih kak.’ Pembeli : Ambel due pasang tige puluh lime ribu ye?

(26)

Penjual : Tak bise kak, dah harge murah ni. NEG bisa kak, udah harga murah ini. ‛Tidak bisa kak, udah harga murah ini.’

Pembeli : Iyelah, saye ambel due pasang ukuran tige tujuh dan tige lapan. Iyalah, 1Tg ambil NUM pasang ukuran NUM dan NUM. ‛Iyalah saya ambil dua pasang ukuran tiga tujuh dan tiga delapan.’

Dari tuturan di atas terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan penjual menggunakan bahasa Indonesia untuk menawarkan dagangannya kepada pembeli, akan tetapi pembeli menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena penjual menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh pembeli agar pembeli nyaman saat transaksi jual beli.

(19) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli Sayur sawi di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli sayur sawi.

Tujuan Membeli sayur sawi. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

(27)

Peristiwa tutur

Pembeli : Berapa harga sayur sawi satu ons bu? Berapa harga sayur sawi NUM ons bu? ‛Bu, berapa harga sayur sawi satu ons?’

Penjual : Satu ons lima ribu bu. NUM ons NUM bu. ‛Satu ons lima ribu bu.’

Pembeli : Kenapa mahal bu, biase empat ribu aje satu ons. Kenapa mahal bu, biasa NUM aja NUM ons. ‛Kenapa mahal bu, biasa satu ons empat ribu aja.’ Penjual : Iye, harge sayur lagi naek nak ambel berapa ons bu?

Iya, harga sayur lagi naik mau ambil berapa ons bu? ‛Iya, harga sayur lagi naik mau ambil berapa ons bu?’

Pembeli : Kasi tige ons aje. Kasi NUM ons aja. ‛Kasi tiga ons aja.’

Dari tuturan di atas terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia dan penjual pun menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Di tengah percakapan penjual beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud kalimat. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena penjual kurang menguasai bahasa melayu. Alih kode ini terjadi karena adanya mitra tutur.

(20) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli terong di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli terong dan kentang.

(28)

Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Penjual : Mau belanja sayuran apa bu? Mau belanja sayuran apa bu? ‛Mau belanja sayuran apa bu?’

Pembeli : Kalau sayuran terongnya per kilo berapa pak? Kalau sayuran terongnya per kilogram berapa pak? ‛Kalau sayuran terongnya per kilogram berapa pak?’ Penjual : Delapan ribu saja bu harga sayuran terongnya.

NUM ribu saja bu harga sayuran terongnya. ‛Delapan ribu saja bu harga sayuran terongnya. Pembeli : Tak bise kurang pak?

NEG bisa kurang pak? ‛Tidak bisa kurang pak?’

Penjual : Nak ambil berapa kilo, kalau ambil banyak bise kurang.

Mau ambil berapa kilogram, kalau ambil banyak bisa kurang. ‛Mau ambil berapa kilogram, kalau ambil banyak bisa kurang.

Pembeli : Nak ambel due kilo terong, kentang juge due kilo pak. Mau ambil NUM kilogram terong, kentang juga NUM kilogram pak.

‛Mau ambil dua kilogram terongnya, kentangnya juga dua kilogram pak.’

(29)

dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu di tengah percakapan. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena adanya mitra tutur menggunakan bahasa Melayu, sehingga penjual menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh mitra tutur agar pembeli merasa nyaman dalam transaksi jual beli. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud kalimat.

4.2 Penyebab Terjadinya Alih Kode dalam Peristiwa Tutur di Pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau

Adapun faktor penyebab terjadinya alih kode di Pasar Puan Maimun Tanjung balai Karimun Kepulauan Riau, antara lain sebagai berikut:

a.Pembicara atau penutur

(21) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli terong dan kentang di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli terong dan kentang.

Tujuan Membeli terong dan kentang. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

(30)

Peristiwa tutur

Pembeli : Bu, kasi terongnya satu kilo , kentang setengah kilo. Bu, kasi terongnya NUM kilo, kentang setengah kilo. ‛Bu, kasi terongnya satu kilo, kentang setengah kilo.’ Penjual : Iya bu. Ada yang lain bu?

Iya bu. Ada KONJ lain bu? ‛Iya bu. Ada yang lain bu.’

Pembeli : Tak ade itu ajelah. NEG ada, DET saja. ‛Tidak ada, itu saja.’

Penjual : Ni bu. Semue jadi lapan belas ribu. DET bu. Semua jadi NUM ribu.

‛Ini bu. Semua jadi delapan belas ribu.’

Dari tuturan tersebut terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia dan penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya penjual beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu di tengah percakapan. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena adanya penutur atau pembicara menggunakan bahasa Melayu, sehingga penjual menyesuaikan bahasa dalam transaksi jual beli. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud klausa.

(22) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli boneka di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli boneka.

Tujuan Membeli boneka. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

(31)

dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa Tutur:

Pembeli : Berapa harga boneka ini? Berapa harga boneka DET? ‛Berapa harga boneka ini?’

Penjual : Kalau boneka yang ini enam puluh lima ribu. Kalau boneka KONJ DET NUM ribu. ‛Kalau boneka yang ini enam puluh lima ribu.’

Pembeli : Tidak bisa kurang? Soalnya barangnya mau dijual lagi. NEG bisa kurang? Soalnya barangnya mau dijual lagi. ‛Tidak bisa kurang? Soalnya barangnya mau dijual lagi.’ Penjual : Boleh kurang harganya kalau beli lebih dari dua.

Boleh kurang harganya kalau beli lebih dari NUM. ‛Boleh kurang harganya kalau beli lebih dari dua.’

Pembeli : Saye nak ambel tige dulu, jadi berape kurang harge de tu? 1Tg mau ambil NUM dulu, jadi berapa kurang harganya DET? ‛Saya mau ambil tiga dulu, jadi berapa kurang harganya itu?’ Penjual : Kalau ambil tige kasi harge lime puloh ribu satu boneka.

Kalau ambil NUM kasi harga NUM ribu NUM boneka. ‛Kalau ambil tiga kasi harga lima puluh ribu satu boneka.’

(32)

penjual menyesuaikan bahasa dalam transaksi jual beli. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud kalimat.

(23) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli Mukenah di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli mukenah.

Tujuan Membeli mukenah. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa Tutur:

Penjual : Mau mukenah warna apa kak? Mau mukenah warna apa kak? ‛Mau mukenah warna apa kak? Pembeli : Warna putih aja, berapa harganya?

Warna putih aja, berapa harganya? ‛Warna putihaja, berapa harganya?’

Penjual : Bede-bede harge kak, bede bahan bede juge harge. Beda-beda harga kak, beda bahan beda juga harga.

‛Beda-beda harga kak, beda bahan beda juga harga.’

(33)

Dari tuturan di atas terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan penjual menggunakan bahasa Indonesia dan pembeli menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena adanya mitra tutur yang menggunakan bahasa Melayu, sehingga pembeli menyesuaikan bahasa yang digunkanny dalam transaksi tersebut. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud kalimat.

b. Pendengar atau Mitra tutur

(24) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli jam tangan di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli jam tangan.

Tujuan Membeli jam tangan. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Perstiwa tutur:

Pembeli : Kurang lah siket pak? Kurang lah siket pak?

‛Kurang lah siket pak?

(34)

Pembeli : Tiga puluh lima ribu bisa pak? NUM ribu bisa pak?

‛Tiga puluh lima ribu bisa pak?’

Penjual : Belum dapat, tambah lima ribu lagi lah. Belom dapat, tambah NUM lagi lah. ‛Belom dapat, tambah lima ribu lagi lah.

Dari tuturan di atas terjadi alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Melayu tetapi penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena adanya mitra tutur yang menggunakan bahasa Indonesia, sehingga pembeli menyesuaikan bahasa yang digunkannya dalam transaksi tersebut dengan maksud ingin mendapatkan potongan harga. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud frasa.

(25) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli kacamata di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli kacamata.

Tujuan Membeli kacamata. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

(35)

Peristiwa tutur

Pembeli : Kak, berapa harga kacamata ini ? Kak, berapa harga kacamata DET ? ‛Kak,berapa harga kacamata ini?’

Penjual : Saye kasi harge murah ajae, lime puluh ribu. 1Tg kasi harga murah saja, NUM ribu. ‛Saya kasi harga murah saja, lima puluh ribu.’

Pembeli : Tige puloh ribu aje kak. NUM ribu saja kak. ‛Tiga puluh ribu saja kak. Penjual : Mau ambil berapa?

Mau ambil berapa? ‛Mau ambil berapa?’ Pembeli : Ambil satu aja kak. Ambil satu saja kak. ‛Ambil satu saja kak.’

Penjual : Yaudah ambil lah dek, tapi langganan sini ya. Yasudah ambil lah dek, tapi langganan sini ya.

‛Yasudah amnil lah dek, tapi langganan sini ya.

Dari tuturan di atas terjadi peristiwa alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia tetapi penjual menanggapinya menggunakan bahasa Melayu. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu di tengah percakapan. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena adanya mitra tutur yang dari etnis melayu sehingga pembeli menyesuaikan bahasa yang digunakannya agar komunikasi saat transaksi jual beli lancar dan pembeli ingin mendapatkan potongan harga dari penjual. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud frasa.

(36)

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli pisang.

Tujuan Membeli pisang. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Pisang kepok satu sisir bu. Pisang kepok NUM sisir bu. ‛Pisang kepok satu sisir bu.’ Penjual : Itu aje, yang laen tidak?

DET saja, KONJ lain NEG? ‛Itu aja, yang lain tidak?’ Pembeli : Iye, tu aje.

Iya, DET saja.

‛Iya, itu saja.’

(37)

c. Hadirnya orang ketiga

(27) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli Ikan teri di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli Ikan teri.

Tujuan Membeli Ikan teri . Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli 1 : Bang teri nasi ada? Bang teri nasi ada? ‛Bang teri nasi ada?’ Penjual : Ada mau berapa?

Ada mau berapa? ‛Ada mau berapa?’ Pembeli 1 : Kasi tiga kilo.

Kasi NUM kilo. ‛Kasi tiga kilogram.’ ( Hadir calon pembeli lain)

Pembeli 2 : Banyak bu belinya. Banyak bu belinya. ‛Banyak bu belinya.’ Pembeli 1 : Iya bu, ada acara.

(38)

Pembeli 2 : Acare ape bu? Acara apa bu? ‛Acara apa bu?’

Pembeli 1 : Acare kecil-kecilan aje di rumah. Acara kecil- kecilan saja PREP rumah. ‛Acara kecil-kecilan saja di rumah.’

Dari tuturan di atas terjadi peristiwa alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia dan penjual menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Di tengah percakapan hadir pembeli dua dan akhirnya pembeli satu beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud klausa. Penyebab terjadinya alih kode ini disebabkan karena hadirnya orang ketiga pada transaksi jual beli sehinnga terjadilah peristiwa alih kode.

(28) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli beras di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli beras.

Tujuan Membeli beras. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

(39)

Peristiwa tutur

Pembeli 1 : Pak, beras harum satu karung? Pak, beras harum NUM karung? ‛Pak, beras harum satu karung?’

Penjual : Habis bu, yang ini aja beras ketupat sama kualitasnya. Habis bu, KONJ DET saja beras ketupat sama kualitasnya. ‛Habis bu, yang ini saja beras ketupat sama kualitasnya. ( Hadir calon pembeli lain)

Pembeli 2 : Iya enak juga beras bangau, saya ambil lima belas kilo. Iya enak juga beras bangau, 1Tg ambil NUM kilo. ‛Iya enak juga beras bangau, saya ambil lima belas kilo.’ Penjual : Lima belas kilo cukup bu?

NUM kilo cukup bu? ‛Lima belas kilogram cukup bu?’ Pembeli 2 : Cukup pak, nanti dah abes beli lagi.

Cukup pak, nanti sudah habis beli lagi. ‛Cukup pak, nanti sudah habis beli lagi’

Penjual : Iyelah bu. Iyelah bu. ‛Iyelah bu.’

Pembeli 1 : Saye ambel sepuloh kilo aje. 1Tg ambil NUM kilogram saja. ‛Saya ambil sepuluh kilogram saja.’

(40)

d. Perubahan topik pembicaraan

(29) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli dasi sekolah di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli dasi sekolah.

Tujuan Membeli sekolah. Bentuk Ujaran Percakapan biasa.

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Pembeli : Bu, dasi sekolah untuk anak SD ada? Bu,dasi sekolah untuk anak SD ada? ‛Bu,dasi sekolah untuk anak SD ada?’ Penjual : Ada, mau berapa bu?

Ada, mau berapa bu? ‛Ada, mau berapa bu?’

Pembeli : Satu aja, berapa bu harganya? NUM saja, berapa bu harganya? ‛Satu saja, berapa bu harganya?’ Penjual : Lima belas ribu aja.

NUM ribu saja. ‛Lima belas ribu saja.’ Pembeli : Saya ambil satu bu.

(41)

Penjual : SD mane anak ibuk? SD dimana anak ibu? ‛SD dimana anak ibu?’ Pembeli : SD due balai bu.

SD NUM balai bu. ‛SD dua balai bu.’

Penjual : Oh, anak saye juge sekolah situ, kelas berape anak ibu? Oh, anak 1Tg juga sekolah disitu , kelas berapa anak ibu? ‛Oh, anak saya juga sekolah disitu, kelas berapa anak ibu? Pembeli : Anak saye kelas tige.

Anak 1Tg kelas NUM.

‛Anak saya kelas tiga.’

Dari tuturan di atas terjadi peristiwa alih kode yaitu pada awal percakapan pembeli menggunakan bahasa Indonesia dan penjual pun menanggapinya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya pembeli beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu yang berwujud frasa. Penyebab terjadinya alih kode ini karena perubahan topik pembicaraan saat penjual mulai menanyakan tentang anak pembeli sehingga pembeli pun menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh penjual. Alih kode ini terjadi karena perubahan topik pembicaraan.

(30) Alih kode pada peristiwa tutur ini penjual dan pembeli rok di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun.

Latar Di Pasar Puan Maimun. Peserta

Percakapan

Penjual dan pembeli dasi sekolah.

(42)

Kunci Penyampaian penawaran harga anatara penjual dan pembeli.

Sarana Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu (lisan). Norma Bertanya dan menjawab pertanyaan dengan

berbahasa yang sopan.

Jenis Bentuk deskripsi yang berupa kalimat-kalimat. biasa yang informal.

Peristiwa tutur

Penjual : Nak cari ape ? Mau cari apa? ‛Mau cari apa?’ Pembeli : Rok ni berape bu?

Rok DET berapa bu? ‛Rok ini berapa bu?’ Penjual : Seratos due puloh ribu.

NUM ribu.

‛Seratus dua puluh ribu.’

Pembeli : Lapan puloh ribu ye. NUM ribu ya. ‛Delapan puluh ribu ya. Penjual : Tambah lime ribu lagi lah.

Tambah NUM lagi lah. ‛Tambah lima ribu lagi lah.

Pembeli : Iyelah bu, saye ambel. Iyalah bu, 1Tg ambil.

‛Iyalah bu, saya ambil.’

Penjual : Adik, kuliah atau udah kerja? Adik kuliah atau sudah kerja? ‛Adik kuliah atau sudah kerja?’

(43)
(44)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bentuk alih kode yang terjadi di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun yaitu:

1. Alih bahasa dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia dan alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Adapun alih kode yang dominan terjadi yaitu alih bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu, hal ini terjadi karena masyarakat Tanjung Balai Karimun yang mayoritas bersuku Melayu sehingga bahasa yang sering digunakan sehari- hari ialah bahasa Melayu. Bentuk alih kode yang terjadi di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun yaitu berwujud frasa, klausa dan kalimat.

2. Faktor penyebab terjadinya alih kode di pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun antara lain:

a. Penutur b. Mitra tutur

c. Hadirnya orang ketiga

d. Perubahan topik pembicaraan

5.2 Saran

(45)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...