• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH DASAR DASAR MIPA Mahalnya Biaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH DASAR DASAR MIPA Mahalnya Biaya"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH DASAR DASAR MIPA

“Mahalnya Biaya Masuk Perguruan

Tinggi”

Disusun Oleh :

Melvika Anggraini (RSAC311010)

Dosen Mata Kuliah : Dra. Jufrida M.Si

Program Studi Pendidikan Fisika PGSBI

Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Jambi

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu elemen yang sangat penting dalam mencetak generasi penerus bangsa masih jauh dari yang diharapkan. Masalah disana-sini masih sering terjadi. Namun yang paling jelas adalah masalah mahalnya biaya pendidikan sehingga tidak terjangkau bagi masyarakat dikalangan bawah. Seharusnya pendiikan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia seperti yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi salah satu tujuan Negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini mempunyai konsekuensi bahwa Negara harus menyelenggarakan dan memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia untuk memperoleh pengajaran dan pendidikan yang layak.Maka tentu saja Negara dalam hal ini Pemerintah harus mengusahakan agar pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan merupakan faktor kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan, termasuk pendidikan di Perguruan Tinggi.

(3)

sedangkan dana dari pemerintah hanya sekitar Rp 300 miliar. Kekurangannya, antara lain, ditutupi dari mahasiswa yang menempuh “jalur khusus” ini.

Ada yang menarik dalam sebuah petikan dialog antara sang Ibu dengan anaknya: “Ah, saya lulus sekolah mau kerja aja, bu”, celetuk beberapa murid kelas XII SMUN ketika mendapat penjelasan mengenai penutupan jalur mandiri penerimaan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan dan SNMPTN ujian tulis tahun akademik 2011/2012. Jawaban yang mungkin membuat kita terperangah heran. Tapi menelisik alasan mereka yang mengatakan tidak adanya biaya untuk kuliah mungkin membuat kita mafhum, walau sulit. Mengapa memilih SMUN apabila tidak bertujuan meneruskan sekolah ? Bukankah sebaiknya mereka memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ? Mungkinkah iklan layanan masyarakat mengenai SMK tidak cukup mengedukasi ? Atau mungkin mereka masih menaruh asa untuk kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ? Mengingat mereka adalah siswa berpotensi, tapi kondisi keuangan orang tua tidak memungkinkan.

Melihat kondisi pendidikan tinggi di Indonesia diatas, maka penulis ingin membahas lebih dalam permasalahn ini dan berusaha mencari solusinya dalam sebuah makalah yang berjudul “Mahalnya Biaya Masuk Perguruan Tinggi di Indonesia”.

1.2. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang di atas, maka timbullah beberapa pertanyaan, anatara lain : 1. Bagaimana kondisi biaya masuk perguruan tinggi di Indonesia saat ini?

2. Apakah penyebab biaya masuk perguruan tinggi sangat besar? 3. Apakah akibat biaya masuk perguruan tinggi sangat besar?

4. Bagaimana solusi terhadap permasalahan mahalnya biaya masuk perguruan tinggi?

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain :

1. Untuk mengetahui kondisi biaya masuk perguruan tinggi di Indonesia saat ini. 2. Untuk mengetahui penyebab mahalnya biaya masuk perguruan tinggi di Indonesia. 3. Untuk mengetahui akibat dari mahalnya biaya masuk perguruan tinggi di Indonesia. 4. Untuk mengetahui solusi terhadap permasalahan mahalnya biaya masuk perguruan

tinggi di Indonesia.

BAB II

(4)

1.1. Kondisi Biaya Masuk Perguruan Tinggi di Indonesia

Berikut saya tampilkan biaya masuk lewat jalur resmi Snmptn di Institut Pertanian Bogor ( IPB ):

Biaya Registrasi Mahasiswa Baru TA 2012/2013 SPP / Tahun Total Biaya

BPMB AI Asrama POM

1.000 800 500 1,200 100 350 3,000 1,500 1,000 1,130 8.080 6.580

1.000 < P <=

2.500 800 500 1,200 100 400 6,000 3,500 1,600 1,130 11.730 9.230

2.500 < P <=

5.000 800 500 1,200 100 450 10,000 6,500 2,400 1,130 16.580 13.080

5.000 < P <=

7.500 800 500 1,200 100 500 15,000 10,500 3,400 1,130 22.630 18.130

7.500 < P <=

10.000 800 500 1,200 100 550 21,000 15,500 4,600 1,130 29.880 24.380

10.000 < P <=

15.000 800 500 1,200 100 650 25,500 20,000 5,800 1,130 35.680 30.180

P > 15.000 800 500 1,200 100 750 30,000 24,500 7,000 1,130 41.480 35.980

Ket:

1. BPMB : Biaya Perlengkapan Mahasiswa Baru 2. AI : Biaya Akses Layanan Internet

3. POM : Iuran Perhimpunan Orangtua Mahasiswa

4. BPIF : Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas ( Kategori I dan II) 5. BPMP : Biaya Peningkatan Mutu Pendidikan

6. BPMK : Biaya Penyelenggaraan Mata Kuliah TPB 7. SPP : Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan

8. Kategori I : Biaya berlaku untuk Program Studi Teknologi Pangan, Statistika, Ilmu Komputer, Agribisnis, dan Ilmu Gizi

9. Kategori II : Biaya berlaku untuk Program Studi selain yang disebutkan pada Kategori I

(5)

banyaknya biaya embel – embel yang harus di tambah, biaya pembangunan, biaya operasional dan biaya biaya lainnya. Institut Teknologi Bandung memperkirakan pembiayaan sekitar Rp 27 juta/mahasiswa/tahun atau sebesar Rp 108 juta apabila mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan dalam 4 tahun. Jumlah tersebut sudah termasuk BPPM (Biaya Penyelenggaraan Pendidikan yang dibayar diMuka) sebesar Rp 55 juta dan Rp 80 juta khusus SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen). (www.Kompasiana.com).

Selain jalur resmi Snmptn, banyak jalur mandiri universitas yang biayanya tentu lebih mahal. Universitas Indonesia sedari awal memang tidak membuka jalur mandiri. Tetapi menyelenggarakan SIMAK UI yang tahun ini akan dimulai 3- 24 Juni 2011. UI mengklaim biaya pendidikannya lebih berazaskan keadilan. Komponen biaya pendidikan S1 Reguler terdiri dari Biaya Operasional Pendidikan sebesar RP 100 ribu hingga maksimal Rp 5 juta (Prodi IPS) dan Rp 7,5 juta (Prodi IPA). Biaya lainnya yaitu Uang Pangkal yang besarannya nol rupiah, Rp 5 juta, Rp 10 juta hingga Rp 25 juta (tergantung fakultasnya, termasuk disini fakultas kedokteran). Bagi mahasiswa yang tidak mampu dapat mengajukan permohonan cicilan atau pengurangan uang pangkal. (www.Kompasiana.com) . Pembanding lain adalah UNPAD yang menyelenggarakan SMUP UNPAD dan mensyaratkan Biaya Penyelenggaraan Pendidikan sebesar Rp 2 juta ditambah Dana Pengembangan yang jumlahnya bervariasi antara Rp 12 juta (sastra daerah, sastra Perancis), Rp 57 juta (Ekonomi Akutansi berbahasa Inggris) hingga Rp 177 juta (Kedokteran). (www.Kompasiana.com). Bagaimana dengan Universitas Gajah Mada (UGM)? UGM menyelenggarakan Penelusuran Bakat Swadana (PBS). UGM mematok Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA) terendah Rp 10 juta (Filsafat), Rp 50 juta ( Ekonomi Akutansi /Ekonomi Manajemen) hingga Rp 100 juta (Kedokteran). (www.Kompasiana.com).

(6)

ketetapan Kemendiknas yang melarang jalur berbasis uang tersebut diadakan sebelum SNMPTN?

Apabila pemerintah kita mau jauh-jauh datang ke India untuk studi banding (atau mungkin sudah?), tentu mereka akan mengetahui bahwa PTN di India memang ditujukan ke masyarakat India dari kalangan ekonomi lemah yang ingin menimba ilmu. Sebaliknya, PTS, dengan segala fasilitas dan kemudahannya, ditujukan bagi masyarakat India dari kalangan ekonomi mampu. Fasilitas dan kemudahan tersebut tentu diiringi dengan biaya yang tidak sedikit pula. Hebatnya, mereka yang mampu merasa enggan untuk kuliah di PTN sehingga tidak berebut kursi dengan mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Tapi apakah PTN di India lebih baik dari PTS? Tentu tidak! PTN disini merupakan perguruan tinggi yang bersubsidi. Titik.

PTN di Indonesia pun tidak seharusnya menggarap pangsa pasar untuk program S1. Stated-Owned Universities di Amerika umumnya tidak menggarap program-program undergraduate (S1) karena PTN tersebut telah terfokus ke arah penelitian (research-based university) sehingga hanya menggarap utnuk program pascasarjana (S2) dan doktorat (S3) saja. PTN Amerika tidak lagi memikirkan untuk berkompetisi dengan PTN dan PTS lokal, tetapi sudah berorientasi menujuworld class university. Sedangkan, program S1 dan sederajat umumnya dikelola oleh PTS dan terkadang dikenal dengan nama college. Beberapa college bisa berada di bawah naungan satu PTN. Bagaimana dengan PTN di Indonesia? Tidak hanya menggarap program S1 tetapi juga program D3. Bahkan calon mahasiswa yang fanatik PTN tidak masalah diterima di D3 dan berharap untuk lanjut S1 (ekstensi) setelah lulus D3 di PTN tersebut. Toh mereka hanya perlu menambah 1 tahun saja. Lalu kapan PTN-PTN Indonesia bisa segera fokus menjadi perguruan tinggi kelas dunia?

(7)

Barat), Surakarta (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), hingga Makassar (Sulawesi Selatan). Besar biaya masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tersebut bergantung pada program S-1 yang diambil serta bidang ilmu yang dipilih. Program tersebut beragam dan berbeda antara satu PTN dan PTN lain. Bahkan, ada PTN yang membuka program internasional. Pada program ini, mahasiswa membayar biaya berlipat-lipat dibandingkan program reguler pada setiap semesternya. Bagi para calon mahasiswa yang gagal masuk melalui program S-1 reguler lewat seleksi nasional masuk PTN (SNMPTN), hampir semua PTN yang dihubungi memiliki program non-SNMPTN. Biaya masuk program non-SNMPTN ini lebih tinggi dibandingkan jalur SNMPTN. Program non-SNMPTN ini pun berbeda antara satu PTN dan PTN lain-ada yang memiliki lebih dari lima program. Semua angka tersebut bisa kita bandingkan dengan biaya kuliah di National University of Singapore yang biayanya (tuition fee) berkisar 9.540 dollar Singapura hingga 27.350 dollar Singapura atau di Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaysia, yang memasang biaya 1.167 ringgit Malaysia hingga 1.500 ringgit Malaysia.

Untuk kelas internasional dari sejumlah program seleksi penerimaan mahasiswa baru, yang termahal adalah jalur internasional. Universitas Indonesia pada tahun ini menerapkan jalur tersebut. Rektor Universitas Indonesia Prof Gumilar Rusliwa Somantri menjelaskan, selain program S-1 reguler, pihaknya membuka kelas internasional untuk Fakultas Kedokteran, Teknik, Ekonomi, Psikologi, dan Ilmu Komputer bekerjasama dengan Universitas Queensland, Australia, untuk program double degree dan penggunaan tenaga pengajar asing.Biaya kuliah per semester tiga kali lipat program S-1 reguler. Untuk Kedokteran, uang pangkal (biaya masuk) Rp 70 juta, dengan biaya per semester Rp 35 juta. Fakultas Teknik uang per semester Rp 20 juta, uang pangkal Rp 15 juta, sedangkan Ekonomi uang pangkal Rp 26 juta dan Rp 25 juta per semester.

(8)

gedung dan SPP. Mereka adalah pelajar dengan nilai akademis menonjol. Sementara di Universitas Airlangga ada empat jalur PMDK (umum, prestasi, alih jenjang, dan diploma). Dari wilayah timur Indonesia, Universitas Hasanuddin membuka tiga jalur non-SNMPTN, yaitu jalur nonsubsidi (JNS), jalur penelusuran potensi belajar, dan jalur prestasi olahraga, seni, dan keilmuan. Yang termahal adalah JNS. Pada jalur ini mahasiswa membayar rata-rata uang kuliah Rp 20 juta setahun, sedangkan dari jalur SNMPTN rata-rata hanya Rp 1,5 juta setahun. Kepala Humas Unhas Dahlan Abubakar mengatakan, dana tersebut untuk subsidi silang.(Kompas,./2008/05/12).

1.2. Penyebab Mahalnya Biaya Masuk Perguruan Tinggi

Ada beberapa alasan mahalnya biaya masuk perguruan tinggi yang berhasil saya temukan alasan itu antara lain :

1. Perguruaan tinggi yang dulunya berstatus badan hukum milik negara (BHMN), berubah menjadi BLU (Badan Layanan Umum). Keadaan ini hampir sama cuma membedakan tata kelola keuangan saja. Pada status BLU , uang di perguruan tinggi separuh disetor ke pemerintah masuk kas negara dan separuh masuk ke kas Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Dengan BLU ini tetap biaya mahal sehingga keluhan berbagai kalangan lantaran sudah memberatkan mahasiswa karena biayanya sangat tinggi. Beragam nama pun muncul, mulai dari jalur umum, jalur khusus, jalur prestasi, jalur alih jenjang, dan sejumlah nama lainnya karena perubahan status ini, yang tentunya biaya masuknya lebih mahal.

2. Mahalnya biaya masuk dan kuliah di PTN dipandang beberapa pengelola perguruan tinggi sebagai upaya “subsidi silang” antara mahasiswa kaya dan miskin. Salah satu PTN yang dulu masuk BHMN menyebut biaya operasional per tahun sekitar Rp 1 triliun, sedangkan dana dari pemerintah hanya sekitar Rp 300 miliar. Kekurangannya, antara lain, ditutupi dari mahasiswa yang menempuh “jalur khusus” ini.

2.1. Akibat Mahalnya Biaya Masuk Perguruan Tinggi

Ada banyak akibat mahalnya biaya masuk perguruan tinggi di Indnesia : 1. Rendahnya kualitas pendidikan Indonesia

(9)

nya di jurusan tertentu di peguruan tinggi. Selain itu, semakin sedikit jumlah peserta didik yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tentu membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia karena rata rata pendiidikan tertinggi masyarakatnya adalah Sekolah Menengah Atas, padahal pendidikan terendah rata – rata yang dibutuhkan dalam dunia kerja adalah strata satu.

2. Lemahnya Sumber Daya Manusia

Salah satu sektor strategis dalam usaha pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia adalah sektor pendidikan. Sektor pendidikan ini memberikan peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas dan standar SDM di Indonesia untuk membangun Indonesia yang lebih baik kedepannya. Sebagai salah satu entity atau elemen yang terlibat secara langsung dalam dunia pendidikan, pelajar merupakan pihak yang paling merasakan seluruh dampak dari perubahan yang terjadi pada sektor pendidikan di Indonesia. Tak peduli apakah dampak tersebut baik atau buruk.

Permasalahan yang ikut membawa dampak sangat besar pada pelajar adalah permasalahan mengenai mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Permasalahan ini dinilai sebagai permasalahan klasik yang terus muncul kepermukaan dan belum selesai hingga sekarang. Padahal, tingginya biaya pendidikan saat ini tidak sesuai dengan mutu atau kualitas serta output pendidikan itu sendiri. Kenyataan tersebut dapat dilihat dari masih tingginya persentase pengangguran terdidik (Sarjana) yaitu sekitar 1,1 juta orang (Data BPS - 2009). Penyebab banyaknya pengangguran terdidik ini terlihat beragam dan menjadi semakin ironis jika dilihat dari mahalnya seorang pelajar (terdidik) telah membayar uang kuliah atau uang sekolah mereka

3. Lemahnya Taraf Ekonomi Masyarakat

(10)

Jones melihat, bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial, dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja, yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Menurutnya, korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membangun. Sementara itu Vaizey melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan, karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga- tenaga terdidik dan terlatih.

Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensi yang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Oleh karena itu, pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah.

4. Kurangya Kesadaran Masyarakat Akan Kesehatan

(11)

Selain itu, pendidikan tinggi diantaranya universitas merupakan pendidikan tertinggi yang bertugas memberikan pengabdian kepada masyarakat dalam berbagai bentuk yang bermanfaat. Dalam hal ini, jurusan dari berbagai pendidikan kesehatan dalam melakukan program pengabdian masyarakat seperti pengobatan gratis dan sebagainya yang ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam membantu masyarakat yang membutuhkan mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

1.1. Solusi Permasalahan Mahalnya biaya Masuk perguruan Tinggi

Saat ini kondisinya sudah berubah bisa diterima di PTN kini bukanlah kebanggaan karena prestasi melainkan kemampuan biaya keuangan yang mampu dibayarkan oleh orang tua calon mahasiswa baru. Dulu PTN adalah harapan bagi lulusan SMA yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, kini biaya kuliah PTN makin tidak terjangkau karena sangat mahal, sejajar dengan PTS yang biaya penyelenggaraan pendidikannya ditanggung sendiri secara swadaya meliputi pengadaan sarana prsarana kampus sampai pembayaran gaji dosen. Perguruan Tinggi merupakan jembatan bagi lulusan SMA sebelum memasuki dunia kerja, banyak ilmu-ilmu praktis yang bisa dipraktikkan jika memang PTN butuh dana lebih besar dari subsidi yang diterima. Sudah saatnya pemerintah menetapkan standarisasi biaya masuk yang murah pendidikan di PTN sehingga masing-masing tidak mematok biaya menurut aturannya sendiri atau pemerintah mengratiskan biaya masuk PTN.

Selain itu sebagai indvidu dan calon orang tua, mungkin ada langkah yang dapat dilakukan yaitu menabung secara sedikit demi sedikit ketika anaknya masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas, sehingga ketika anaknya telah lulus SMA telah memiliki bekal uang yang cukup untuk memasuki perguruan tinggi. Itu hanya cara alternatif, solusi

Adapun kesimpulan dari makalah ini antara lain :

(12)

2. Ada beberapa penyebab mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu berubahnya status perguruan tinggi dari badan hukum milik negara (BHMN), berubah menjadi BLU (Badan Layanan Umum), adannya subsidi silang untuk mahasiswa msikin, dan terbuka nya banyak jalur masuk perguruan tinggi.

3. Akibat yang ditimbulkan dari mahalnya biaya masuk perguruan tinggi yaitu Rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, Lemahnya Sumber Daya Manusia, Lemahnya Taraf Ekonomi Masyarakat dan Kurangya Kesadaran Masyarakat Akan Kesehatan

4. Solusi dari permasalahan mahalnya biaya masuk perguruan tinggi ini yaitu Memperbesar dana APBN untuk pendidikan, yaitu sesuai dengan undang-undang sebesar 20% dari total APBN, Melibatkan unsur masyarakat, terutama mereka yang mampu secara ekonomi, Pada dasarnya kedua solusi di atas telah dilakukan, namun kurangnya komitmen masyarakat dan pemerintah maka mengakibatkan kedua solusi di atas tidak berjalan sesuai dengan harapan. Selain itu pemerintah menetapkan standarisasi biaya masuk yang murah pendidikan di PTN sehingga masing-masing tidak mematok biaya menurut aturannya sendiri atau pemerintah mengratiskan biaya masuk PTN.

3.2. Saran

Mahalnya pendidikan bukan berarti menghalangi untuk terus melanjutkan sekolah. Jika seorang anak berprestasi dan memiliki kemauan yang kuat, maka akan selalu ada jalan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah dan masyarakat harus saling bekerja sama agar permasalahan mahalnya biaya pendidikan di Indonesia tidak menjadi masalah yang terus menerus menghantui pendidikan Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/06/dampak-biaya-pendidikan-di-indonesia.html ( Diakses tanggal 20 Desember 2012)

(13)

Anonim.2012.

Referensi

Dokumen terkait