PERBEDAAN PEMBERDAYAAN RETENSI ANTARA SISWA SMA
AKADEMIK RENDAH DAN TINGGI MELALUI PEMBELAJARAN
COOPERATIVE SCRIPT DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI
Ika Sukmawati1), Shefa Dwijayanti Ramadani1), Ahmad Fauzi1), Aloysius Duran Corebima2)
1
Pascasarjana Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5, Malang
2
Jurusan Biologi, Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5, Malang e-Mail : [email protected]
ABSTRAK
Pembelajaran bukan hanya proses yang menuntut tingginya pemahaman konsep yang diperoleh oleh siswa. Materi pembelajaran yang diperoleh, selain diharapkan mampu dipahami, juga diharapkan mampu disimpan dengan baik di dalam otak siswa. Cooperative Script (CS) merupakan salah satu strategi pembelajaran yang diusulkan berbagai peneliti pendidikan dalam usaha pemberdayaan retensi siswa. Menurut berbagai laporan yang telah dipublikasikan, siswa dengan kemampuan akademik rendah akan memiliki tingkat retensi yang lebih rendah pula. Studi ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan tingkat retensi siswa berkemampuan akademik rendah dengan tinggi yang memperoleh pembelajaran Biologi melalui strategi CS selama satu semester. Penelitian dilakukan selama dua periode selama dua tahun, tahun pertama pada subjek penelitian siswa kelas X dan tahun kedua pada siswa kelas XI SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada retensi hasil belajar antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah yang menerapkan strategi pembelajaran CS, baik pada tahun pertama (p=0.849) maupun pada tahun kedua (p=0,124). Hasil dari studi ini menunjukkan adanya potensi strategi CS dalam memberdayakan retensi siswa berkemampuan akademik rendah pada tingkat yang sama dengan siswa akademik tinggi.
Kata kunci: retensi, kemampuan akademik, cooperative script
I. PENDAHULUAN
Pencapaian hasil belajar oleh siswa mencerminkan keberhasilan pembelajaran. Salah satu indikator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan kegiatan belajar mengajar adalah daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan, serta kemampuan siswa mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok [1]. Kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran dilakukan sebagai upaya untuk membantu siswa mencapai hasil belajar sesuai tujuan. Namun demikian, hasil belajar yang tinggi sesungguhnya bukanlah satu-satunya faktor yang dituntut dalam pembelajaran yang berhasil.
Efektivitas suatu pembelajaran juga dilihat berdasarkan kemampuan siswa mengolah dan menyimpan informasi yang diterima dalam jangka waktu tertentu. Dengan kata lain,
pembelajaran yang efektif juga menuntut bertahannya informasi yang telah dipelajari dalam ingatan jangka panjang siswa. Hal ini dapat dipahami karena pada dasarnya kemampuan mengingat juga merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan belajar.
jangka panjang ke memori jangka pendek untuk kemudian diekspresikan ke generator respons [2].
Tingkat retensi pada setiap orang tidaklah sama. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa informasi yang disimpan dalam memori juga dapat dilupakan. Lupa merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mendapatkan kembali informasi yang telah dipelajari. Ketidakmampuan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yang berkaitan dengan kegagalan mengkode informasi, ketahanan memori yang lemah, dan kegagalan memindah informasi dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek. Kegagalan pengambilan informasi ini dapat terjadi ketika terlalu sedikit petunjuk untuk memanggil informasi dari memori jangka panjang, atau karena terjadinya kompetisi informasi baru dan informasi lama yang disebut dengan interferensi [4].
Beberapa faktor mempengaruhi tinggi atau rendahnya retensi yang dimiliki siswa. Pada kenyataannya kondisi siswa sangat beragam, dan salah satu atribut pembeda kondisi siswa yaitu kemampuan akademik. Kemampuan akademik merupakan gambaran tingkat pengetahuan atau kemampuan siswa terhadap suatu materi pembelajaran yang sudah dipelajari dan dapat digunakan sebagai bekal atau modal untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan lebih kompleks lagi [5]. Pada beberapa tahun terakhir, kondisi akademik siswa SMA di setiap sekolah telah terpolarisasi menjadi tingkat kemampuan akademik tinggi dan rendah. Berbagai penelitian juga telah melaporkan adanya kesenjangan pencapaian antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah, termasuk dalam aspek tingkat retensi.
Sayangnya, pemberdayaan retensi dalam pembelajaran biologi di tingkat SMA masih kurang dilakukan terutama di kalangan siswa berkemampuan akademik rendah. Aktivitas pembelajaran yang dilakukan dan hasil belajar kognitif yang diukur lebih cenderung ke arah penguasaan konsep yang berpeluang besar akan segera hilang. Padahal, retensi merupakan suatu aspek penting yang harus diupayakan dalam pembelajaran. Kualitas penguasaan konsep yang diukur sebagai daya retensi lah yang berperanan besar bagi pembentukan sikap maupun keterampilan-keterampilan lain yang dibutuhkan untuk hidup [6].
Dalam pembelajaran, retensi hasil belajar siswa dapat diberdayakan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai. Setiap individu memang memiliki kemampuan mengingat yang berbeda-beda, tetapi setiap siswa dapat meningkatkan kemampuan mengingatnya dengan pengaturan kondisi pembelajaran yang lebih baik dan penggunaan metode yang lebih tepat [7]. Berkaitan dengan pemilihan strategi pembelajaran, siswa yang belajar sains melalui strategi pembelajaran kooperatif terbukti memiliki daya retensi lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar secara individual [8].
Salah satu strategi kooperatif yang dapat dipilih dalam pembelajaran yang memberdayakan retensi adalah Cooperative Script (CS). Langkah-langkah pembelajaran CS terdiri dari serangkaian fase yang memuat kegiatan belajar siswa, yaitu motivasi dan penyampaian tujuan pembelajaran, penyajian informasi, pengorganisasian siswa dalam kelompok belajar beranggotakan dua orang, serta pembimbingan kelompok dalam kegiatan belajar. Pada fase pembimbingan kelompok belajar, kegiatan belajar siswa yaitu membaca dan membuat ringkasan dari materi pertama yang telah dibaca. Hasil ringkasan siswa pertama dibacakan untuk disimak oleh pasangan yang bertugas mengoreksi kebenaran serta kelengkapan ide. Kemudian, kedua siswa bekerja sama menyusun ringkasan yang lebih baik. Rangkaian kegiatan ini diulang untuk materi berikutnya, yang memungkinkan kedua siswa untuk bertukar peran sebagai pembaca dan penyimak [9].
Berkaitan dengan retensi, menulis membutuhkan kemampuan pengambilan informasi dengan cepat dari ingatan jangka panjang [11].
Berdiskusi juga merupakan salah satu aktivitas yang berpotensi meningkatkan retensi. Pada strategi CS, ringkasan yang telah dibuat oleh masing-masing siswa dibacakan kepada pasangan untuk kemudian dikomentari dan didiskusikan. Mendiskusikan hal-hal yang telah dipelajari dengan siswa lain membantu memperbaiki pengetahuan yang dimiliki. Aktivitas diskusi juga memungkinkan pemahaman menjadi lebih jelas serta memperkaya informasi yang dipelajari [10]. Telah banyak studi yang menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan berdiskusi dapat mempelajari dan mengendapkan materi lebih banyak dari pada siswa yang hanya merangkum atau membaca materi [12]. Setelah berdiskusi, siswa menyusun ringkasan yang baru, yang tentunya lebih baik dari ringkasan sebelumnya. Perbaikan yang dilakukan siswa didasarkan pada proses refleksi atas komentar pasangan. Merefleksi juga merupakan aktivitas yang meningkatkan retensi [10].
Beberapa laporan penelitian telah mengungkapkan potensi strategi CS dalam memberdayakan retensi siswa, baik siswa berkemampuan akademik tinggi maupun akademik rendah. Salah satu dari beberapa penelitian tersebut mengungkapkan bahwa penerapan strategi CS selama pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan ingatan. Peran strategi CS dalam meningkatkan ingatan siswa terjadi melalui adanya pengulangan materi yang ada dalam langkah pembelajaran [13].
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan tingkat retensi hasil belajar siswa berkemampuan akademik rendah dan tinggi yang menerapkan pembelajaran Biologi melalui strategi CS selama satu semester. Penelitian dilakukan melalui dua tahap yakni penelitian tahun pertama dan penelitian tahun ke dua. Penelitian dilakukan dengan desain penelitian quasi eksperimen.
II. METODE
Penelitian ini dilaksanakan dengan desain penelitian eksperimen semu (quasi experimental
design) berpola pretest-posttest nonequivalent control group design. Populasi penelitian
mencakup seluruh siswa berkemampuana akademik tinggi dan rendah kelas X dan XI di Malang. Sedangkan, sampel penelitian mencakup siswa kelas X SMA Shalahudin Malang dan SMA Negeri 1 Tumpang pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 untuk penelitian tahun pertama, serta kelas XI SMA Diponegoro dan SMA Negeri 1 Tumpang pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 untuk penelitian tahun ke dua. Siswa kelas X SMA Shalahudin dan kelas XI SMA Diponegoro mewakili kelompok siswa berkemampuan akademik rendah, sedangkan siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Tumpang mewakili kelompok siswa berkemampuan akademik tinggi.
Instrumen penelitian yang digunakan meliputi instrumen perlakuaan yang meliputi silabus, RPP, Lembar Kerja Siswa, dan Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks; serta instrumen pengukuran yang terdiri dari tes uraian untuk pelaksanaan pre test, post test, dan tes retensi. Data yang telah terkumpul diuji prasyarat dengan uji normalitas (uji Kolmogorov-Smirnov) dan uji homogenitas (uji ). Uji hipotesis perbedaan tingkat retensi hasil belajar dilakukan dengan uji Anakova menggunakan program IBM
SPSS Statistics Version 22.00.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Setelah pembelajaran dengan strategi CS dijalankan selama 1 semester, hasil tes retensi menunjukkan data bahwa rerata hasil belajar siswa berkemampuan akademik tinggi adalah sebesar 46,044 sedangkan pada siswa berkemampuan akademik rendah sebesar 45,347. Hasil uji hipotesis perbedaan retensi hasil belajar pada siswa berkemampuan akademik rendah dan tinggi yang menerapkan pembelajaran dengan strategi CS pada tahun pertama dapat ditunjukkan pada Tabel 1.
Hasil yang serupa ditunjukkan pada penelitian tahun ke dua. Pada siswa berkemampuan akademik tinggi, rerata hasil belajar yang didapatkan pada pelaksanaan tes retensi adalah sebesar 37,587 sedangkan pada siswa berkemampuan akademik rendah sebesar 34,864. Lebih lanjut, uji beda dilakukan untuk mengetahui perbedaan kedua rerata tersebut. Sebagai hasilnya, perbedaan tingkat retensi siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah pada pembelajaran CS tahun ke dua dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa p=0,124. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat diartikan tingkat retensi siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah yang menerapkan pembelajaran Biologi dengan strategi CS pada tahun ke dua juga tidak berbeda secara signifikan.
Bercermin dari hasil yang ditunjukkan pada penelitian tahun pertama dan tahun ke dua, dapat diartikan bahwa pada siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah yang menjalani pembelajaran Biologi melalui strategi CS tidak terdapat perbedaan tingkat retensi yang signifikan. Dengan demikian, strategi CS berpotensi dapat memberdayakan retensi siswa berkemampuan akademik rendah pada tingkat yang sama dengan siswa berkemampuan akademik tinggi.
IV. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data, terbukti bahwa retensi siswa dengan kemampuan akademik berbeda memiliki tingkat retensi hasil belajar kognitif yang sama. Hasil tersebut diperoleh baik pada penelitian tahun pertama maupun kedua. Dengan demikian, dengan penerapan strategi CS secara konsisten, siswa berkemampuan akademik rendah mampu mencapai tingkat retensi yang sama dengan siswa berkemampuan akademik tinggi. Dalam poin ini akan dibahas aktivitas apa saja dari CS yang berpotensi sebagai alasan mengapa siswa akademik rendah mampu menyamai tingkat retensi yang sama dengan siswa akademik tinggi.
Meringkas merupakan kegiatan pertama dalam sintaks pembelajaran CS. Kegiatan meringkas merupakan kegiatan yang mampu membantu seseorang menyimpan informasi yang didapatkan [14]. Terkait dengan kegiatan meringkas, penelitian terdahulu juga telah melaporkan bahwa siswa yang meringkas suatu materi memiliki tingkat ingatan yang lebih baik dari siswa yang hanya membaca materi tanpa melakukan kegiatan meringkas [15]. Selain itu, pembiasaan kegiatan meringkas pada diri siswa dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam me-recall informasi yang pernah mereka tangkap [16]. Melalui kegiatan meringkas di setiap pertemuan selama satu semester yang dilakukan baik pada siswa akademik tinggi maupun rendah, maka kedua kelompok siswa tersebut akan akan lebih mudah Tabel 1. Perbedaan Retensi Hasil Belajar Siswa
Berkemampuan Akademik Rendah dan Tinggi pada Pembelajaran Biologi yang Menerapkan Strategi CS di Tahun Pertama
Source
Intercept 321,480 1 321,48 5,06 ,036
PRA 3325,627 1 3325,6 52,4 ,000
AKADE-MIK 2,368 1 2,368 ,037 ,849
Error 1270,408 20 63,520
Total 53126,196 23
Corrected
Total 4877,502 22
a. R Squared = ,740 (Adjusted R Squared = ,713)
Tabel 2. Perbedaan Retensi Hasil Belajar Siswa Berkemampuan Akademik Rendah dan Tinggi pada Pembelajaran Biologi yang Menerapkan Strategi CS di Tahun Ke Dua
Source
a 2 3093,6 73,964 ,000
Intercept 38,399 1 38,399 ,918 ,342
PRA 5025,04 1 5025,0 120,2 ,000
AKADE-MIK 101,920 1 101,92 2,437 ,124
Error 2425,9 58 41,826
Total 88760,9 61
Corrected
Total 8613,12 60
memanggil kembali materi yang telah tertanam di otak mereka ketika tes retensi.
Pemberdayaan retensi siswa akademik tinggi dan rendah pun dilakukan saat para siswa melakukan kegiatan penyusunan rangkuman secara berpasangan. Ketika melakukan kegiatan tersebut, guru mendorong setiap pasangan siswa untuk mengembangkan analogi, gambar, dan lain sebagainya, untuk membantu mereka meringkas informasi yang mereka dapat sehingga menjadi lebih mudah diingat. Kegiatan tersebut dapat membantu siswa dalam meningkatkan retensi karena pada kegiatan tersebut siswa didorong untuk mempelajari materi lebih dalam melalui kegiatan mengembangkan analogi dan berdiskusi tentang materi yang sedang mereka pelajari [17].
Kegiatan terakhir dalam pembelajaran CS, yaitu kegiatan review juga memiliki peranan untuk menunjang siswa lebih meningkatkan penahanan dan pemanggilan kembali materi pelajaran. Tinjauan kembali (review) terhadap apa yang telah dipelajari penting dilakukan untuk mempertahankan retensi [15]. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Sherman [16]. Kegiatan review sebenarnya merupakan kegiatan yang melatih seseorang dalam me-recall informasi juga [16]. Kegiatan review pada setiap pertemuan telah melatih setiap pasangan siswa untuk selalu mengingat kembali materi yang telah mereka pelajari bersama di setiap akhir pelajaran.
Manfaat penerapan strategi CS sebagai sarana pemberdayaan retensi siswa pernah dilaporkan pada laporan terdahulu [18]. Namun, melalui laporan ini, manfaat dan potensi yang cukup penting terkait retensi dan penerapan strategi CS menjadi lebih terungkap. Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa perbedaan kemampuan akademik tidak akan mempengaruhi tingkat retensi siswa yang dibiasakan untuk melakukan kegiatan meringkas, berdiskusi berpasangan, dan review yang dilakukan secara terus menerus. Dengan demikian, penggunaan strategi CS secara konsisten dapat digunakan oleh guru sebagai cara untuk mengatasi permasalahan rendahnya daya ingat siswa, baik siswa berkemampuan akademik tinggi maupun rendah. Selain itu, hal lain yang cukup penting adalah strategi CS dapat dijadikan salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk menolong siswa berkemampuan akademik rendah.
V. KESIMPULAN
Penerapan strategi CS pada pembelajaran Biologi dapat memberdayakan retensi hasil belajar siswa, baik berkemampuan akademik tinggi maupun rendah. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat retensi siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah melalui penerapan strategi CS ini. Dengan demikian, strategi CS berpotensi memberdayakan retensi siswa berkemampuan akademik rendah pada tingkat yang sama dengan siswa berkemampuan akademik tinggi. Lebih lanjut, strategi CS dapat dijadikan salah satu pilihan strategi pembelajaran yang dapat menolong siswa berkemampuan akademik rendah.
V. DAFTAR PUSTAKA
[1] Usman, M. U., (2000), Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung. [2] Dahar, R.W., (1988), Teori-Teori Belajar,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta.
[3] Warouw, Z. W. M., (2009), Pengaruh Pembelajaran Metakognitif dalam Strategi Cooperative Script dan Reciprocal Teaching pada Kemampuan Akademik Berbeda terhadap Kemampuan dan Keterampilan Metakognitif, Berpikir Kritis, Hasil Belajar Biologi Siswa, serta Retensinya di SMP Negeri Manado, Disertasi tidak diterbitkan, Malang: Program Pascasarjana UM.
[4] Myers, D., (2007). Psychology (8th Edition, in Modules). Henderson State University: Worth Publishers.
[5] Winarni, E. W., (2006), Pengaruh Strategi Pembelajaran terhadap Pemahaman Konsep IPA-Biologi, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Sikap Ilmiah Siswa Kelas V SD dengan Tingkat Kemampuan Akademik Berbeda di Kota Bengkulu, Disertasi tidak diterbitkan, Malang: Program Pascasarjana UM.
[6] Corebima, A. D., (2012). Pembelajaran yang Memberdayakan Keterampilan Metakognitif, Pemahaman Konsep, dan Retensi pada Pembelajaran Biologi SMA di Malang untuk Menolong Siswa Berkemampuan Akademik Rendah. Malang: Universitas Negeri Malang. [7] Suryabrata, (2004), Psikologi Pendidikan,
[8] Humphreys, B., Johnson, R.T., dan Johnson, D. W., (1982). Effect of Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning on Students Achievement in Science Class. Journal of Research in Science Teaching Vol. 19. (5).
[9] Bonk, C., (1998), Cooperative Learning and Cooperative Teaching Scripts, (Online), http://www.indiana.edu/~bobweb/script.html, Diakses tanggal 3 Januari 2013.
[10] Hawkins, M., (2010), How To Retain What You Learn, (Online), http://www.alpinelink.com/Leadership_Sales _Management_Consulting_Papers_Tools_Te mplates.aspx. Diakses tanggal 8 Oktiber 2015.
[11] Kellog, R. T. dan Raulerson III, B, A., (2007), Improving the Writing Skills of College Students, Psychonomic Bulletin & Review Vol. 14 (2): 237-242.
[12] Slavin, R.E., (2008), Cooperative Learning: Theory, Reasearc, and Practice, Diterjemahkan Oleh Nurulita. Nusa Media, Bandung.
[13] Jacobs, G.M., Lee, G.S., dan Ball, J., (1996), Learning Cooperative Learning Via Cooperative Learning. Singapore: SEAMEO Regional Language Center.
[14] Slavin, R. E., (2006), Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Terjemahan Marianto Samosir, PT Indeks, Jakarta. [15] Degeng, N. S., (1989), Ilmu Pengajaran:
Taksonomi Variable, Dirjen Pendidikan Tinggi, PPLPTK, Jakarta.
[16] Sherman, T. M., (1984), Proves Strategies for Successful Learning, Bell & Howell Company, Collumbus.
[17] Craik, F. I. M. and Tulving, E, (1975), Journal ol Experimental Psychology: Depth of Processing and the Retention of Words in Episodic Memory, Vol. 104, No. 3, pp 268-294.