• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP BIOLOGI DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA TENTANG EKOSISTEM DAN LINGKUNGAN DI KELAS X SMA NEGERI 1 SIGI | Kono | JSTT 6958 23233 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP BIOLOGI DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA TENTANG EKOSISTEM DAN LINGKUNGAN DI KELAS X SMA NEGERI 1 SIGI | Kono | JSTT 6958 23233 1 PB"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

28

PENGARUH MODEL

PROBLEM BASED LEARNING

(

PBL

) TERHADAP

PEMAHAMAN KONSEP BIOLOGI DAN KETERAMPILAN BERPIKIR

KRITIS SISWA TENTANG EKOSISTEM DAN LINGKUNGAN

DI KELAS X SMA NEGERI 1 SIGI

Rahmad Kono1, Hartono D. Mamu dan Lilies N. Tangge2 [email protected]

1

(Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Tadulako)

2

(Dosen Program Studi Magister Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Tadulako)

Abstract

The research aimed at investigating the effect of model of problem based learning (PBL) on the concept comprehension and critical thinking skill about ecosystem and environment of class X

students’ of biology at SMA Negeri 1 Sigi. The method used is quasi-experimental pretest-posttest 2 x 2. The research sample is determined with random sampling. The class selected as the research sample was class X A and X B. The data was collected by using the concept comprehension test in form of multiple and the critical thinking skill test in form of essay test. Data obtained was the primary data which directly analyzed descriptively and analysis of covariance. Resuts of the data analysis at significance level α = 0,05 is at follow: (1) the learning outcomes (the concept comprehension) of student that were learned by the model of problem based learning (PBL) (mean=72,86) was higher than the cognitive learning outcomes of studens that were learned with the conventional learning (mean=58,93) with a significance value of 0,003. (2) the learning outcomes (critical thinking skill) of student that were learned by the model of problem based learning (PBL) (mean=74,12) was higher than the cognitive learning outcomes of studens that were learned with the conventional learning (mean=57,45) with a significance value of 0,018. Based on the result of this research, it can be concluded that: there are the effect of model of problem based learning (PBL) on the concept comprehension and critical thinking skill about ecosystem and environment of class X students’ of biology at SMA Negeri 1 Sigi.

Keywords: Problem based learning(PBL), Concept comprehension, Critical thinking skill

Pada abad 21 sekarang ini, pendidikan di Indonesia dihadapkan pada era pengetahuan dan tehnologi yang membutuhkan berbagai keterampilan berpikir yang wajib dimiliki oleh guru dan siswa. Alasan yang mendasar Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan menjadi Kurikulum 2013 didasari atas pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogik, kompetensi masa depan, dan fenomena negatif yang mengemuka, serta penyempurnaan pola pikir (Tim Pengembang, 2013). Berbagai tantangan tersebut menjadi pendorong untuk melakukan perbaikan-perbaikan dibidang pendidikan.

(2)

komunikasi (information and communications technology literacy) mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kinerja dan aktivitas sehari-hari; (5) kemampuan belajar kontekstual (contextual learning skills) mampu menjalani aktivitas pembelajaran mandiri yang kontekstual sebagai bagian dari pengembangan pribadi; (6) kemampuan informasi dan literasi media (information and media literacy skills) mampu memahami dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menyampaikan beragam gagasan dan melaksanakan aktivitas kolaborasi serta interaksi dengan beragam pihak (Moeloek dkk., 2010).

Untuk mencapai beberapa kompetensi dan/ atau keahlian yang harus dimiliki oleh siswa atau sumber daya manusia abad 21 yaitu dengan meningkatkan mutu pembelajaran diantaranya adalah perbaikan sistem pengajaran serta meningkatkan kualitas kemampuan guru. Banyak hal yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut seperti menciptakan suasana belajar siswa yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan agar mereka bergairah dan berkembang sepenuhnya selama proses pembelajaran.

Penerapan pembelajaran konven-sional selama ini dianggap belum mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari hasil evaluasi atau ulangan semester siswa, khususnya matapelajaran biologi di SMAN 1 Sigi yang hasilnya masih dibawah kriteri ketuntasan minimal (KKM) 75 %, dan ketuntasan klasikal masih dibawah 80%. Adapun data nilai rata-rata evaluasi ulangan tengah semester dan ulangan semester ganjil siswa kelas X pada tahun pelajaran 2014/2015 nilai rata-rata ulangan tengah semester 65,57 % (tuntas klasikal 66,28%) dan ujian semester ganjil 67,20% (tuntas klasikal 64,80%), (Buku Analisis Daftar Nilai SMAN 1 Sigi, 2014).

Rendahnya pemahaman konsep

merupakan salah satu masalah dalam pembelajaran matapelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Sigi kelas X yang berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini diduga

disebabkan oleh banyak faktor antara lain: (1) siswa belum maksimal dalam belajar, (2) fasilitas yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar masih terbatas, (3) strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang melibatkan siswa belajar sacara kooperatif dan masih didominasi oleh pembelajaran konvensional dimana guru masih sangat dominan dalam proses pembelajaran, (4) siswa masih kurang memberdayakan kemampuannya dalam hal melakukan keterampilan berpikir kritis saat pembelajaran.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu dirancang pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran biologi, sehingga mampu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir kritis disatu pihak dan pemahaman konsep siswa dipihak lain. PBL merupakan salah satu model pembelajaran pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran dengan tujuan untuk melatih siswa menyelesaikan masalah dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Pemecahan masalah ber-hubungan dengan kemampuan berpikir kritis karena berpikir kritis merupakan suatu proses yang digunakan ketika mendatangkan (memunculkan) suatu ide baru dengan menggabungkan ide-ide yang sebelumnya dilakukan (Muslich, 2007).

(3)

mereka juga mampu menerapkan konsep yang dimilikinya pada aspek yang lain. Untuk mewujudkan hal itu, maka sekolah dan guru sebagai komponen utama pendidikan perlu mengelola pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar antara lain: (1) kegiatan berpusat pada siswa, (2) belajar melalui berbuat, (3) belajar mandiri dan belajar bekerja sama sehingga pembelajaran diharapkan tidak terfokus pada guru, tetapi bagaimana cara mengaktifkan siswa dalam belajarnya (student active learning) (Muslich, 2007).

Mengacu pada implementasi kurikulum 2013 salah satu model pembelajaran yang harus diterapkan oleh guru dalam mengajar di kelas adalah

model PBL. PBL merupakan model pembelajaran

yang secara teoritis mampu mengembangkan

berbagai aspek kompetensi siswa guna

meningkatkan hasil belajar dan prestasi belajarnya, namun model ini belum diterapkan secara konsisten oleh sebagian besar guru yang berada di wilayah

Kabupaten Sigi. Adapun fakta empirik keberhasilan

model PBL: (1) dengan PBL akan terjadi

pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar

memecahkan suatu masalah mereka akan

menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mencari/mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi dimana konsep diterapkan, (2) dalam situasi PBL, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan

ketrampilan secara simultan dan

mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan;

dan, (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan

berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok (Tim Pengembang, 2014).

PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang diyakini para ahli mampu menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia kerja di abad ke-21 (Ali, 1998). PBL telah terbukti efektif dalam membangun keterampilan berpikir yang diperlukan dan menumbuhkan kualitas pribadi yang diharapkan (Huang, 2005).

Berdasarkan keunggulan-keunggulan model

PBL seperti yang dikemukakan diatas dan

dibuktikan dengan hasil penelitian dibeberapa tempat diantaranya disampaikan oleh Wagiran,

dkk., (2010), hasil penelitian ini adalah diperolehnya

kompetensi Measuring dan diperolehnya media

pembelajaran berbantuan komputer dalam

mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji dan layak untuk diterapkan dalam pembelajaran. Media berbantuan komputer yang disusun telah memenuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Lain halnya yang dikemukakan oleh

Juliawan, (2012), bahwa PBL dapat meningkatkan

pemahaman konsep dan keterampilan proses sains siswa pada pembelajaran biologi. Hal yang senada

juga dikemukakan oleh Sari dan Afridewi P,

(2012), hasil penelitian disimpulkan bahwa PBL

selalu lebih unggul dari pembelajaran konvensionel

karena PBL dapat meningkatkan pemahaman

konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa. Berdasarkan berbagai uraian di atas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji pengaruh model PBL terhadap pemahaman konsep biologi dan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem dan lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Sigi.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental design). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan preetest-posttest non- equivalent control groupn design dengan pola faktorial 2x2. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu model PBL dan pembelajaran konvensional sedangkan variabel terikatnya adalah pemahaman konsep biologi dan keterampilan berpikir kritis. Penelitian dilaksanakan pada dua kelas berbeda yaitu satu kelas eksperimen mendapat pembelajaran PBL

(4)

Jenis data adalah data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data pretest dan posttest

penilaian hasil belajar pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis. Sumber data terdiri dari siswa kelas X A dan X B yang akan dikelompokkan berdasarkan undian menjadi kelas eksperimen dan pada kelas kontrol. Data keterampilan berpikir kritis diperoleh dari tes berpikir kritis yang didasarkan pada kebenaran jawaban yang diberikan dengan berpatokan pada rubrik penilaian. Data tersebut meliputi keterampilan berpikir kritis siswa dalam hal: (1) menginterpretasi, (2) menganalisis, (3) menginferensi, (4) mengevaluasi, (5) menjelaskan, dan (6) melakukan self-regulation. Sedangkan data pemahaman konsep merupakan data kemampuan siswa dalam dimensi proses kognitif meliputi: (1) mengingat (C1), (2) memahami (C2), mengaplikasikan, (3) menganalis (C4), (5) mengevaluasi (C5), dan (6) mencipta (C6) Preettest dan posttest

pemahaman konsep digunakan untuk memperoleh data hasil pemahaman konsep.

Data pelaksanaan model PBL diperoleh dari kegiatan siswa (siswa kelas eksperimen dan kontrol) selama pembelajaran. Pembelajaran dilakukan selama enam kali pertemuan pada pokok bahasan ekosistem dan lingkungan. Data pemahaman konsep biologi dan keterampilan berpikir kritis siswa yang dikumpulkan dengan menggunakan tes. Tes pemahaman konsep biologi terdiri dari 30 item tes pilihan ganda dikembangkan dalam penelitian ini berdasarkan ranah kognitif taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Anderson & Krathwohl (2010). Tes keterampilan berpikir kritis terdiri dari 16 item tes berbentuk tes uraian dengan skor item 0 – 5. Tes uraian dipilih dengan asumsi bahwa dengan menjawab tes uraian, keterampilan berpikir kritis siswa lebih mudah diamati dibandingkan dengan menjawab tes obyektif. Penggunaan tes uraian ini dapat diupayakan menumbuhkan kemampuan berpikir siswa. Selanjutnya hasil observasi dan tes hasil belajar akan dianalisa dan diinterpretasi.

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen berupa tes hasil belajar

bentuk pilihan ganda yang dipakai untuk mengukur hasil belajar siswa pada pemahaman konsep dan tes hasil belajar siswa bentuk essay

untuk mengukur hasil belajar siswa pada keterampilan berpikir kritis. Sebelum instrumen penelitian digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu instrumen tersebut dilakukan uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran butir soal, dan uji daya beda tes.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil validasi butir soal pemahaman konsep menggunakan program SPSS 20 diperoleh data 30 soal yang memenuhi kriteria valid sedangkan 10 soal tidak memenuhi kriteria yaitu tidak valid, sedangkan pada hasil validasi butir soal keterampilan berpikir kritis diperoleh 26 soal yang memenuhi kriteria valid sedangkan 6 soal tidak memenuhi kriteria yaitu tidak valid.

Hasil realibilitas butir soal pemahaman konsep diperoleh r hitung 0.887 sedangkan r tabel df = (N-2) diperoleh df = 38 = 0.320, Kemudian pada realibilitas butir soal keterampilan berpikir kritis diperoleh r hitung 0.867 sedangkan r tabel df = (N-2) diperoleh df=38 = 0.320. Perbandingan antara r hitung dengan r tabel dengan taraf signifikansi 5% diperoleh hasil r hitung > r tabel, maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

Hasil uji daya pembeda dan tingkat kesukaran butir soal pemahaman konsep diperoleh 30 soal yang memenuhi kriteria yang telah disesuaikan dengan hasil validasi. Hasil perhitungan 30 soal tersebut diperoleh daya pembeda yang memenuhi kriteria yaitu 5 butir soal daya pembeda cukup, 7 butir soal baik dan 18 butir soal baik sekali. sedangkan untuk tingkat kesukaran soal yang memenuhi kriteria yaitu 16 butir soal kriteria mudah, 10 butir soal kriteria sedang, dan 4 soal kriteria sukar.

(5)

Hasil perhitungan 26 soal tersebut diperoleh daya pembeda yang memenuhi kriteria yaitu 14 butir soal daya pembeda cukup, dan 12 butir soal baik, sedang tingkat kesukaran soal yang memenuhi kriteria yaitu 4 butir soal kriteria mudah, dan 22 butir soal kriteria sedang.

Uji prasyarat dilakukan terhadap data hasil belajar siswa sebelum dan setelah perlakuan, baik pada kelompok eksperimen maupun pada kelompok kontrol. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan dua macam uji terhadap data hasil penelitian, yakni uji normalitas dan uji homogenitas.

Uji normalitas data dilakukan terhadap data skor hasil belajar siswa, baik

siswa yang mendapat perlakukan dengan model pem-belajaran PBL maupun siswa yang mendapat perlakuan dengan pem-belajaran konvensional. Dalam pengujian normalitas ini yang diuji adalah hasil pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji one-sample Kolmogorov-Smirnov pada taraf

signifikansi α = 0,05. Kriteria pengujian adalah

jika diperoleh nilai signifikan p ˃ 0,05 maka

data dikatakan berdistribusi normal. Berdasarkan data hasil belajar pretest - posttest yang diolah dan dianalisis menggunakan bantuan SPSS versi 20, maka dapat dikemukakan normalitas data seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 56

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 9.40629520

Most Extreme Differences Absolute .117

Positive .098

Negative -.117

Kolmogorov-Smirnov Z .879

Asymp. Sig. (2-tailed) .422

Hasil analisis pada Tabel 1 diperoleh nilai normalitas yaitu 0,422 lebih besar dari 0,05 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara data yang diuji dengan data normal baku, sehingga disimpulkan bahwa data pada pengujian ini terdistribusi secara normal. Kaidah pengujian homogenitas sebagai berikut. Jika p 0,05, maka Ho diterima berarti tidak

ada perbedaan varians hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Berdasarkan data hasil penelitian yang diolah dan dianalisis menggunakan uji levene’s test of

equality of error variance, hasil uji homogenitas data hasil penelitian terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Hasil Uji Homogenita

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

(6)

Hasil analisis pada Tabel 2, diperoleh nilai Homogenitas yaitu 0,431 lebih besar dari 0,05 maka signifikan data yang diuji berasal dari populasi yang bervariansi homogen.

Hasil uji hipotesis pertama dengan Anakova terhadap hasil belajar siswa (pemahaman konsep) pada ranah kognitif, dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil perhitungan Anakova hipotesis pertama. Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: Model_Pembelajaran

Source Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 7.153a 15 ,477 2,785 ,005

Intercept 4,492 1 4,492 26,243 ,000

Test_Awal_PK ,031 1 ,031 ,182 ,672

Test_PK 7,141 14 ,510 2,979 ,003

Error 6,847 40 ,171

Total 140,000 56

Corrected Total 14,000 55

a. R Squared = .511 (Adjusted R Squared = .327)

Hasil uji hipotesis pada tabel 3 menunjukkan nilai signifikansi (sig.) atau p untuk model pembelajaran = 0,003. Nilai

signifikansi tersebut lebih kecil dari nilai α 0,05,

sehingga H0 yang menyatakan “tidak ada

pengaruh model PBL terhadap pemahaman konsep biologi siswa tentang ekosistem dan lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Sigi.” ditolak. Jadi hipotesis penelitian yang

menyatakan “Ada pengaruh model PBL

terhadap pemahaman konsep biologi siswa tentang ekosistem dan lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Sigi.” diterima.

Hasil uji hipotesis kedua dengan Anakova terhadap hasil belajar siswa (keterampilan berpikir kritis) pada ranah kognitif, dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil perhitungan Anakova hipotesis kedua Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: Model_Pembelajaran

Source Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 8.278a 22 ,376 2,170 ,021

Intercept 1,747 1 1,747 10,076 ,003

Test_Awal_BK ,001 1 ,001 ,004 ,953

Test_BK 8,208 21 ,391 2,254 ,018

Error 5,722 33 ,173

Total 140,000 56

Corrected Total 14,000 55

a. R Squared = .591 (Adjusted R Squared = .319)

Hasil uji hipotesis pada Tabel 4 menunjukkan nilai signifikansi (sig.) atau p untuk model pembelajaran = 0,018. Nilai

signifikansi tersebut lebih kecil dari nilai α 0,05,

sehingga H0 yang menyatakan “tidak ada

(7)

keterampilan berpikir kritis siswa tentang ekosistem dan lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Sigi.” diterima.

Pembahasan

Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Pemahaman Konsep Biologi.

Hasil penelitian model PBL menunjukkan bahwa variabel tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep siswa tentang biologi dengan diperoleh nilai signifikan untuk hasil tes pemahaman konsep sebesar 0.003 lebih kecil dari 0.05. Konstribusi ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang biologi kelas X SMAN 1 Sigi, dengan demikian terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa tentang biologi setelah diterapkan model pembelajaran PBL. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kartika, dkk (2014) yang menyatakan bahwa model PBL mampu meningkatkan keterampilan siswa sekaligus meningkatkan penguasaan konsep belajar siswa. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Juliawan (2012) bahwa PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan proses sains siswa pada pembelajaran biologi. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Karmana (2010) bahwa pengaruh model PBL lebih tinggi 22,21% daripada metode konvensional terhadap hasil belajar kognitif biologi.

Data di atas menunjukkan bahwa penerapan model PBL yang dilakukan dengan memperhitungkan aspek ketrampilan berpikir kritis siswa tetap memberikan pengaruh terhadap penguasaan konsep siswa tentang biologi. Secara keseluruhan terdapat peningkatan hasil belajar siswa jika model PBL

diterapkan seperti yang ditunjukkan oleh jumlah total pengaruh penerapan model ini terhadap penguasaan konsep siswa tentang biologi yakni terjadi peningkatan rata-rata 98,06%, artinya penerapan model PBL tetap akan memberikan pengaruh dalam meningkatkan penguasaan

konsep siswa tentang biologi kelas X SMAN 1 Sigi. Sementara pada kelas kontrol yang diberikan pembelajaran konvensional hanya meningkat 58,62%.

Rangsangan pertanyaan dalam model PBL

adalah kunci utama yang memudahkan siswa menemukan jawaban pertanyaan untuk merangkai pemahaman terhadap materi ajar sehingga siswa yang memiliki pemahaman konsep yang rendahpun secara perlahan akan menemukan kata kunci permasalahan yang ada. Hal ini disebabkan karena pada sintaks ketiga pada model PBL terjadi pembelajaran kolaboratif.

Kenyataan di atas sesuai dengan asumsi dasar yang ada dalam hipotesis penelitian yaitu ada pengaruh model pembelajaran PBL

terhadap penguasaan konsep siswa tentang biologi. Adanya pengaruh ini terjadi karena dalam penyajiannya PBL menitik beratkan pada kemandirian siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan mereka saat memecahkan masalah yang telah dirumuskan sehingga siswa dapat menemukan sendiri jawaban setiap masalahnya. Hal yang penting diperoleh dari model ini adalah setiap siswa dapat memahami materi ajar secara lebih bermakna, karena untuk menjawab pertanyaan dari masalah yang ada mereka harus menyusun kerangka pengetahuannya menjadi sebuah jawaban yang utuh, melalui tilikan pertanyaan yang sinambung menuju jawaban pokok. Oleh karena itu model pembelajaran berbasis masalah dapat memberikan pengaruh pada hasil belajar siswa dalam hal ini pemahaman konsep siswa tentang biologi.

(8)

mendapatkan konsep, namun siswa dibantu untuk menemukan sendiri konsep serta memahaminya dengan penemuannya sendiri melalui bantuan pertanyaan. Pengertian ekosistem dan lingkungan dicapai melalui beberapa tuntunan pertanyaan yang mengantarkan siswa kejawaban kunci. Hal ini merupakan kelebihan dari model PBL. Tuntunan pertanyaan secara runut membangun pemahaman siswa terhadap materi ekosistem dan lingkungan melalui jawaban yang diberikan berdasarkan pendekatan kontekstual, yakni siswa melakukan pengamatan langsung terhadap ekosistem dan lingkungan yang diperoleh dari lingkungan sekitar sekolah. Hal ini akan sangat berbeda jika konsep ekosistem dan lingkungan yang abstrak dibelajarkan melalui penjelasan belaka tanpa perlakuan yang lebih bermakna.

Penerapan model PBL menyajikan kepada siswa situasi/masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Fokus permasalahan yang diajukan dalam model PBL lebih nyata, maka pemecahannyapun akan lebih mudah. Seterusnya untuk menyusun jawaban dari persoalan yang diberikan dilakukan secara kelompok dan dituntun dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggiring siswa kejawaban utama sehingga siswa dapat memecahkan masalah tersebut juga dengan lebih mudah dan bermakna olehnya akan berpengaruh pada penguasaan konsep siswa tentang biologi.

Penerapan model PBL memberikan kepada siswa beberapa kemudahan dalam menyelesaikan tugasnya antara lain: pertama, jawaban diperoleh secara bersama melalui kolaborasi sesama teman dalam kelompok. Kerjasama ini akan memunculkan beragam jawaban masing-masing dari tiap siswa, sehingga setiap siswa dapat menyusun jawaban yang lebih tepat untuk tiap persoalan. Kedua, petunjuk jawaban telah diarahkan melalui tuntunan pertanyaan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS), sehingga siswa lebih mudah menemukan kunci jawaban melalui rangsangan

pertanyaan bersusun. Arahan pertanyaan ini pula merupakan jembatan pengetahuan kearah jawaban yang lebih pasti. Ketiga, pembelajaran dilakukan secara bersama-sama sehingga siswa secara penuh terlibat kedalam semua proses pembelajaran termasuk proses penemuan jawaban atas permasalahan yang ada.

Pengaruh model Problem Based Learning (PBL) terhadap Ketrampilan Berpikir Kritis.

Berdasarkan hasil anakova, diperoleh kesimpulan bahwa model PBL memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa tentang biologi. Hasil penelitian model PBL

menunjukkan bahwa variabel tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa tentang biologi sebesar 0.018 lebih kecil dari 0.05. Konstribusi ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa tentang biologi kelas X SMAN 1 Sigi, dengan demikian terjadi peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa tentang biologi setelah diterapkan model pembelajaran PBL.

Secara keseluruhan terdapat peningkatan hasil belajar keterampilan berpikir kritis siswa jika model PBL diterapkan seperti yang ditunjukkan oleh jumlah total pengaruh penerapan model ini terhadap keterampilan berpiir kritis siswa tentang biologi yakni terjadi peningkatan 91,51%, artinya penerapan model

PBL akan memberikan pengaruh dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa tentang biologi kelas X SMAN 1 Sigi. Sementara pada kelas kontrol yang diberikan pembelajaran konvensional hanya meningkat 66,70%.

Rangsangan pertanyaan dalam model PBL

(9)

Terjadinya pengaruh model PBL pada variabel yang diteliti merupakan suatu temuan yang memperlihatkan kelebihan dari model pembelajaran tersebut. Hasil yang diperoleh dari model pembelajaran PBL tersebut oleh Arends (2008). Lebih lanjut, menurur Arends (2008) bahwa hasil yang diperoleh dari model pembelajaran PBL adalah membantu mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan intelektual, mempelajarari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya berbagai situasi rill atau situasi disimulasikan, dan menjadi pebelajar mandiri dan otonom.

Adapun fakta empirik keberhasilan model

PBL : (1) dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi dimana konsep diterapkan, (2) dalam situasi PBL, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan, (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok (Tim Pengembang, 2014). PBL

merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang diyakini para ahli mampu menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia kerja di abad ke-21 (Ali, 1998).

Berdasarkan keunggulan model PBL seperti

yang dikemukakan diatas dan dibuktikan dengan

hasil penelitian dibeberapa tempat diantaranya disampaikan oleh Wagiran, dkk., (2010), hasil penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran

berbantuan komputer dalam mendukung

pembelajaran PBL-PBK yang teruji dan layak untuk diterapkan dalam pembelajaran. Media berbantuan komputer yang disusun telah memenuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris.

Temuan penelitian ini sejalan dengan pendapat Kauchak dan Enggen dalam Muhiddin (2012) bahwa proses berpikir kritis itu sangat dipengaruhi oleh pengetahuan konten atau pemahaman terhadap topik-topik tertentu, penguasaan terhadap prosedur-prosedur atau proses berpikir yang dapat melahirkan rumusan-rumusan pemikiran, sikap, dan kecenderungan metakognisi dimana antara komponen yang satu dengan komponen lainnya ada keterkaitan.

Pengaruh modal PBL terhadap keterampilan berpikir kritis siswa tidak lepas dari keunggulan model PBL itu sendiri. Keunggulan tersebut telah dikemukakakan oleh Ackay (2009) mengemukakan bahwa model

PBL dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, membantu siswa memperoleh pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan. Keunggulan lainnya adalah

PBL dapat mengembangkan dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis (Yuan dkk, 2008)

Pengaruh model pembelajaran PBL terhadap

pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis,

disebabkan karena karakteristik sintaks

pembelajaran yang menuntut adanya saling

ketergantungan tanggung jawab individu, tatap muka, dan komunikasi dalam proses mencari penyelesaian masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang tercantum dalam LKS. Adanya tanggung jawab individu yang terbentuk pada diri siswa

disebabkan karena pada model pembelajaran PBL

memiliki tujuan yaitu mengembangkan

pembelajaran yang self-directed (mengatur diri

sendiri atau belajar sendiri) sehingga siswa dapat bertanggung jawab untuk mengatur dan mengontrol pembelajarannya sendiri. Oleh karena itu model

pembelajaran PBL berpeluang untuk

memberdayakan keterampilan berpikir kritis yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar

siswa. Hal tersebut menurut pendapat Wang (2008)

bahwa PBL erat sekali hubungannya dengan kemampuan berpikir kritis.

(10)

sintaks tersebut menujukkan adanya learning by doing and learning by together. Dengan demikian maka informasi yang diterma siswa bukan hanya berasal dari penyampaian atau penjelasan guru, akan tetapi berasal dari kegiatan belajarnya sendiri dan bekerja sama dengan teman-teman sesama anggota kelompok. Hal in sejalan dengan pendapat Konfusius dalam Siberman (2006) yang

menyatakan bahwa “apa yang saya dengar, saya lupa”, “apa yang saya lihat, saya ingat” dan “apa yang saya lakukan, saya pahami”.

Selanjutnya Siberman memodifikasi pernyataan di atas sesuai dengan pengembangannya

menjadi “apa yang saya dengar, saya lupa”, apa yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat”, “apa yang saya dengar, lihat, dan diskusikan

dengan orang lain, saya mulai pahami”, “dan apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, bahas, dan terapkan saya dapatkan pengetahuan dan

keterampilan”, “apa yang saya ajarkan kepada

orang lain, saya kuasai. Artinya siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran PBL

tidak hanya melibatkan indera pendengaran akan tetapi melibatkan lebih dari satu panca indera sehingga hasil belajar dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Dahar (2006) bahwa jika informasi yang dipelajari secara bermakna maka informasi tersebut lebih lama diingat daripada informasi yang dipelajari secara hapalan.

Siswa yang memiliki cara berpikir kritis lebih terampil dalam memecahkan sebuah masalah. Siswa yang kritis dalam berpikir dapat memberikan bermacam-macam kemungkinan jawaban. Pehkonen (1997) mengemukakan bahwa ketika seseorang menerapkan berpikir kritis dalam suatu praktek pemecahan masalah, maka timbul pemikiran divergen yang dapat menghasilkan banyak ide yang berguna dalam menyelesaikan masalah. Selanjutnya bahwa dalam pemecahan masalah, siswa yang memiliki ketrampilan berpikir kritis yang baik akan menghasilkan banyak ide-ide yang berguna dalam menemukan penyelesaian masalah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: ada pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap pemahaman konsep siswa pada materi ekosistem dan lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Sigi Tahun Pelajaran 2014/2015. Ada pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem dan lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Sigi Tahun Pelajaran 2014/2015.

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan segala kerendahan dan keiklasan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hartono D Mamu dan Ibu Lilies N. Tangge yang telah begitu banyak memberi masukan dan bimbingan kepada penulis, sejak awal pembimbingan sampai penyusunan artikel ini untuk layak dipublikasikan.

DAFTAR PUSTAKA

Akcay, B. 2009. Problem Based Leraning in Science Education. Journal of Turkish Science Education. Vol 6 (1): 26-36. Ali, W. W. Z. (1998). The concept of teaching

and learning in the 21st century: a discussion. Masalah Pendidikan, 21.

(24-2-2014).

Anderson, L.W. and Krathwohl, D.R., 2010.

A Taksonomy for Learning, Teaching,

and Assessing ( A Revision of Bloom’s

Taksonomi of Education Objective ) Terjemahan oleh Agung Prihantono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arends, R.I. 2008. Learning To Teach. Terjemahan oleh Helly P. Soetjipto dan Sri Mulyantini S. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dahar, R. W. 2006. Teori-teori belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti. Proyek Pengembangan

Lembaga Pendidikan Tenaga

(11)

Huang, R. (2005). Chinese International

Students’ Perceptions of the Problem -Based Learning Experience. Journal of Hospitality, Leisure, Sport and Tourism Education . 4 (2). ( 22-2-2014)

Juliawan, D. 2012. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Pemahaman Konsep dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Kuta Tahun Pelajaran 2011/2012.

Karmana, I. W. 2010. Pengaruh Strategi PBL dan Integrasinya dengan STAD Terhadap

Kemampuan Pemecahan Masalah,

Kemampuan Berpikir Kritis, Kesadaran Metakognitf dan Hasil Belajar Kognitif Biologi pada siswa SMA Negeri 4 Mataram. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS Universitas Negeri Malang.

Kartika, D., Santyasa W., dan Warpala W. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Pemahaman Konsep Fisika dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidik-an Ganesha Program Studi Teknologi Pembelajaran. (4). (07-12-2014).

Moeloek, A. F., Moehammad Aman

Wirakartakusumah., Gunawan

Indrayanto., Johannes Gunawan, S.H., Richardus Eko Indrajit., Jamaris Jamna, dan Weinata Sairin. 2010. Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI. Jakarta: BNSP.

Muhiddin. 2012. Pengaruh Integrasi Problem Based Learning Dengan Pembelajaran Kooporatif Jigsaw dan Kemampuan Akademik Terhadap Metakognisi, Berpikir Kritis, Pemahaman Konsep, dan Retensi Mahasiswa Pada Perkuliahan Biologi Dasar. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Muslich. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Pehkonen, E.1997. The State-of-Art in Mate- matical Creativity. http://www. fiz. karlsruhe.de/fiz/publications/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Di akses 8 Agustus 2010.

Sadia, I. W. 2006. Pengembangan kemampuan berpikir formal siswa SMA melalui

penerapan model pembelajaran “problem based learning” dan “cycle learning

dalam pembelajaran fisika. Journal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha.

40(1). 1-20. (10-12-2014)

Sari, M dan Afridewi P. 2012. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Untuk Pemahaman Konsep Ekosistem Di SMA Budhi Luhur Pekanbaru. Jurnal Lektura. 03, (02). (10-12-2014)

Silberman, M. 2006. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusa Media.

Tim Pengembang. 2013. Modul Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Matapelajaran IPA SMP. Jakarta: Pusbangprodik.

Tim Pengembang. 2014. Modul Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Matapelajaran Biologi SMA/SMK. Jakarta: Pusbangprodik.

Wagiran, Edy Purnomo, Apri Nuryanto. (2010). Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi): Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

Gambar

Tabel 4  Hasil perhitungan Anakova hipotesis kedua

Referensi

Dokumen terkait

Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran kurikuler inovatif, aktif, menantang, dan kritis yang berpusat pada siswa dengan menggunakan masalah sebagai

9| 4 terdapat peningkatan pemahaman konsep fisika tiap kelompok siswa SMA yang dibelajarkan dengan model pembelajaran problem sotving rJanb) terdapat peningkatan

Hasil ini menunjukkan pemahaman konsep kedua kelas mempunyai perbedaan, terlihat bahwa kelas X MIA1 yang memakai model PBL siswa cenderung lebih aktif dalam proses

Dari analisis hasil tes akhir siklus, banyaknya siswa yang memperoleh skor kemampuan berpikir kritis dalam kualifikasi baik mengalami peningkatan dari siklus I

Hal ini didukung pula oleh nilai tengah semester siswa yang rendah yaitu sebagian besar siswa belum mencapai nilai ketuntasan yaitu 7 yang berarti siswa

Penelitian ini memperlihatkan bahwa hasil uji beda rata-rata pretest nilai kemampuan berpikir kritis siswa antara kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan model

Hal tersebut dapat dilihat dari hasil jawaban siswa yang menunjukkan bahwa siswa dapat menjawab apa yang ditanyakan dari soal, dimana dalam menjawab soal tersebut

1135 pengelolaan kelas, salah satunya guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam belajar agar kegiatan pembelajaran dapat tercapai, Pelaksanaan model Problem