BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen penting dalam suatu sekolah. Peran penting dari bimbingan dan konseling sendiri adalah membantu peserta didik mencapai keoptimalan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki serta mengentaskan masalah yang tengah dialami. Layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Ahli atau orang yang berkecimpung dalam bimbingan dan konseling disebut dengan istilah guru BK/ konselor. Guru BK/ konselor sekolah merupakan seorang ahli yang membantu peserta didik mencapai perkembangannya serta mengentaskan masalahnya.
Pekerjaan sebagai guru BK/ konselor bisa disebut sebagai sebuah profesi dimana tidak semua dari pekerjaan bisa disebut sebagai profesi. Prayitno dan Amti (2013: 340) menyatakan bahwa profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut profesi tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. Sebuah profesi harus memenuhi etika atau memiliki ciri-ciri tertentu. Diyakini bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah suatu profesi yang dapat memenuhi ciri-ciri dan persyaratan tersebut. Namun, berhubung dengan perkembangannya yang masih tergolong baru, terutama di Indonesia, dewasa ini pelayanan bimbingan dan konseling belum sepenuhnya mencapai persyaratan yang diharapkan. Sebagai profesi yang handal, bimbingan dan konseling masih perlu dikembangkan, bahkan diperjuangkan. Salah satu aspek yang perlu dikembangkan dan diperjuangkan adalah terkait standarisasi profesi BK.
dan atas keputusan yang berlandaskan nilai. Pembimbing/konselor seharusnya berfikir dan bertindak atas dasar nilai-nilai, etika pribadi dan profesional, dan prosedur yang legal. Dalam hubungan inilah para pembimbing/konselor seharusnya memahami dasar-dasar kode etik bimbingan dan konseling.
Pekerjaan bimbingan dan konseling memerlukan adanya kode etik profesional agar layanan bimbingan dapat terlaksana secara pforesional. Kode etik profesional sebagai perangkat standar berperilaku, dikembangkan atas dasar kesepakatan nilai-nilai dan moral dalam profesi itu. Dengan demikian kode etik bimbingan dan konseling dikembangkan atas dasar nilai dan moral yang menjadi landasan bagi terlaksananya profesi bimbingan dan konseling.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana isu-isu etik dalam bimbingan dan konseling? 2. Bagaimana isu-isu legal dalam bimbingan dan konseling? 3. Bagaimana isu-isu profesional dalam bimbingan dan konseling?
C. Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan: 1. Untuk mengetahui isu-isu etik dalam bimbingan dan konseling. 2. Untuk mengetahui isu-isu legal dalam bimbingan dan konseling. 3. Untuk mengetahui isu-isu profesional dalam bimbingan dan konseling.
BAB II PEMBAHASAN
Etika dalam suatu profesi akan selalu memandang keberadaan profesi lain, seperti halnya profesi lain yang mempertimbangkan profesi Konselor. Artinya kode etik yang dirancang dalam tatanan keprofesian tidak muncul dengan begitu saja. Standar etika itu muncul dari pengakuan individu yang mewakili profesi dan melakukan upaya-upaya sebagai bentuk penghormatan para anggota profesi tersebut melalui asosiasi yang menaunginya. Fungsi asosiasi sebagai organisasi profesi juga menyediakan forum pertemuan bagi para praktisi dan peneliti, mereka juga memainkan peran politik dalam advokasi untuk profesi tersebut.
Komunikasi dan kinerja yang ada di dalam tubuh organisasi profesi dikawal dan dipandu oleh standar (kode ethical) yang bertindak untuk meminimalkan atau mencegah hal-hal yang merugikan organisasi profesi itu sendiri, para praktisi profesi, akademisi atau ilmuwan, serta individu yang dilayani profesi tersebut. Sebuah profesi tanpa standar etika justru perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Oleh karena itu, konselor harus peka terhadap isu-isu yang berkembang dari ranah politik dan birokrasi yang mengatur profesionalisasi dalam konseling.
Blocher (1996) menjelaskan bahwa kode etik umumnya mengakui kenyataan bahwa konselor memiliki sejumlah kewajiban etis. Kewajiban tersebut adalah:
1. Kewajiban kepada klien.
2. Kewajiban kepada orang tua klien. 3. Kewajiban untuk profesi.
4. Kewajiban kepada institusi yang mempekerjakan.
5. Kewajiban untuk komunitas atau masyarakat pada umumnya.
Asosiasi Konseling Amerika (ACA dalam counselingfa, diakses pada tanggal 30 April 2017) menjabarkan lebih lengkap mengenai kode etik yang harus dijalani seorang konselor:
Bagian A: Hubungan dalam Konseling
Hubungan dalam konseling merupakan satu kesatuan antara konselor dan konseli yang memiliki tujuan untuk memecahkan permasalah yang dihadapi. Konselor memiliki peran untuk membantu konseli, sedangkan konseli memiliki peran sebagai individu yang sedang memerlukan bantuan. Proses konseling akan menyangkut hubungan dari peran konselor itu sendiri. Kontek hubungan dalam proses konseling menyangkut hal-hal sebagai berikut : (a) kesejahteraan klien, (b) hak-hak klien, (c) klien dilayani oleh orang lain, (d) kebutuhan pribadi dan nilai-nilai, (e) hubungan ganda, (f) keintiman seksual dengan klien, (g) banyak klien, (h) kerja, (i) kelompok, (j) biaya dan barter, (k) terminasi dan rujukan, (l) dan teknologi komputer.
Bagian B: Kerahasiahan
(c) kecenderungan kompetensi klien, (d) catatan-catatan konseling, (e) hasil analisa dan pelatihan, (f) dan hasil konsultasi dengan konselor.
Bagian C: Tanggung Jawab
Konselor memiliki tanggung jawab yang penuh terhadap klien, orang tua, organisasi, serta terhadap diri konselor itu sendiri. Tanggung jawab yang diemban konselor merupakan hal yang harus mendapatkan perhatian yang serius, sebab tanggung jawab ini akan berdampak pada keberhasilan suatu pola kerja dari konselor. Tanggung jawab profesional menyangkut: (a) standar-standar pengetahuan, (b) kompetensi profesional, (c) identitas klien, (d) tanggung jawab publik, dan (e) tanggung jawab profesional lain.
Bagian D: Hubungan dengan Profesional Lain
Hubungan dengan profesi lain, hal ini menunjukan bahwa permasalahan yang harus diselesaikan oleh konselor mengenai permasalahan klien tentu akan berhubungan dengan profesi lain. Profesi lain dalan konteks ini adalah lembaga-lembaga atau profesi yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dihadapi oleh klien. Profesi lian dalam kaitannya dengan siswa bisa saja pihak kesehatan (dokter) atau psikolog/psikiater. Konteks hubungan dengan teman sejawat konselor di sekolah bukan individu yang berdiri sendiri melainkan merupakan team work di antara personel sekolah. Demikian hubungan dengan profesional lain menjadi komponen penting dalam membina hubungan sosial dalam konteks kerja profesonal.
Bagian E: Evaluasi, Penilaian, dan Interpretasi
dilakukan, melainkan melalui beberapa tahapan. (c) kesesuaian penilaian. Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam penilaian ini menyangkut: penilaian umum masalah-masalah, kompetensi menggunakan dan menafsirkan tes, perijinan untuk penilaian, penggunaan dan distribusi informasi, diagnosa yang tepat terhadapa gangguan mental, tes seleksi, tes kondisi administrasi, keragaman dalam pengujian, penilaian dan interpretasi tes, keamanan tes, serta bagaimana menganalisa keusangan tes, serta melakukan konstruksi alat tes.
Bagian F: Pengajaran, Pelatihan, dan Pengawasan
Mencakup isu yang berkaitan dengan pelatihan konselor dan program pendidikan konselor. Mencakup kajian tentang: pendidikan dan pelatihan konselor.
Bagian G: Penelitian dan Publikasi
Bagian ini memberikan penjelasan terhadap prosedur penelitian yang berkaitan dengan isu-isu yang terjadi. Dalam melaksanakan penelitian hal yang harus diperhatikan adalah (a) Tanggung jawab, tanggung jawab terhadap profesi adalan bagaimana mengambangkan suatu penelitian yang berkenaan dengan peningkatakan kualitas layanan, (b) perijinan, perijinan dalam penelitian menyangkut legalitas dari penelitian yang akan dilakukan baik secara kelembagaan maupun secara individual kepada subjek penelitian yangtu klien yang dijadikan kajian permasalahan, (c) pelaporan hasil dan publikasi, pelaporan hasil tentunya akan menyangkut pada konsep bagaimana penelitian tersebut dirancang, dilaksanakan, dianalisa hasilnya serta publikasi dari hasil penelitian.
Bagian H : Menyelesaikan Isu-Isuk Etik
tentang pelanggaran informasi adalah : (a) sejauhmana pengetahuan tentang standar kode etik yang berlaku pada organisasi tersebut, (b) sejauhmana dugaan pelanggaran yang dilakukan, (c) bagaimana pola kerjasama yang harus dilakukan dengan bagian komite etika sehingga proses penyelesaian pelanggaran kode etik dapat diselesaikan dengan baik.
Hoose dan Kottler (dalam Gladding, 2012) memaparkan alasan pentingnya kode etik dalam sebuah profesi:
1. Kode Etik melidungi profesi dari pemerintah. Poin ini menjelaskan bahwa sebuah profesi diperbolehkan secara mandiri dalam independensinya untuk mengelola profesi tersebut agar berfungsi sebagaimana mestinya.
2. Kode etik membantu mengontrol ketidaksepakatan internal dan pertengkaran, sehingga memelihara kestabilan dalam profesi.
3. Kode etik melindungi praktisi dari publik, terutama untuk pengaduan malpraktik. Jika konselor telah bertindak sesuai batas-batas kode etik, tingkah lakunya akan di nilai telah mematuhi standar umum.
Berdasarkan penjelasan di atas, dengan demikian kode etik dapat membantu meningkatkan kepercayaan publik terhadap integritas sebuah profesi, serta menjamin perlindungan klien dari layanan yang dapat merugikan klien tersebut. Sementara itu ACA; Herlihy dan Corey (dalam Gladding, 2012) memberikan contoh perilaku tidak etis yang paling sering terjadi dalam bimbingan dan konseling:
1. Pelanggaran kepercayaan.
2. Melampaui tingkat kompetensi profesional seseorang. 3. Kelainan dalam praktik.
4. Mengklaim keahlian yang tidak dimiliki. 5. Memaksakan nilai-nilai konselor pada klien. 6. Membuat klien bergantung.
7. Melakukan aktivitas seksual dengan klien.
8. Konflik kepentingan, seperti hubungan ganda yaitu peran konselor bercampur hubungan pribadi atau hubungan profesional yang menyimpang.
9. Persetujuan finansial yang kurang jelas. 10. Pengiklanan yang tidak pantas.
Dipaparkannya perilaku tidak etis di atas diharapkan setidak-tidaknya konselor menghindari perilaku-perilaku di atas dan lebih selektif dalam menjalankan profesi konselor. Namun demikian, kode etik jarang terperinci dalam mengurai kasus yang lebih spesifik karena kode etik itu sendiri lebih bersifat umum dan idealistik.
Dalam banyak kasus, konselor diminta untuk membuat keputusan etis yang kompleks. Beymer, Corey dan Callanan, dan Talbutt (dalam Gladding, 2012) menjelaskan ada sejumlah batasan spesifik dalam kode etik:
1. Beberapa masalah tidak dapat diputuskan dengan kode etik. 2. Pelaksanaan kode etik merupakan hal yang sulit.
3. Standar-standar yang diuraikan dalam kode etik ada kemungkinan saling bertentangan.
4. Beberapa isu legal dan etis tidak tercakup dalam kode etik.
5. Kode etik adalah dokumen sejarah, artinya kode etik yang diterapkan dalam kurun waktu tertentu bisa saja tidak lagi relevan di kemudian hari.
6. Terkadang muncul konflik antara peraturan etik dan peraturan legal. 7. Kode etik tidak membahas masalah lintas budaya.
8. Tidak semua kemungkinan situasi dibahas dalam kode etik.
9. Seringkali sulit menampung keinginan semua pihak yang terlibat dalam perbincangan etik secara sistematis.
10. Kode etik bukan dokumen proaktif untuk membantu konselor dalam memutuskan apa yang harus dilakukan dalam suatu situasi baru.
Disamping itu semua, ternyata di dalam tubuh kode etik itu sendiri memunculkan konflik dilematis yang berbenturan antara nilai-nilai etik itu sendiri, maupun nilai etik dengan perspektif hukum. Seperti dipaparkan oleh Blocher (1996) yang menjelaskan bahwa kode etik dapat memberikan pedoman luas untuk keputusan etis, namun jarang cukup rinci menerapkan secara sempurna untuk situasi etis tertentu. Pengambilan keputusan etik tidak selamanya mudah, namun inilah yang menjadi tugas seorang konselor (Gladding, 2012). Selanjutnya Welfel (dalam Gladding, 2012) menambahkan perlunya karakter integritas, keberanian moral, serta pengetahuan dalam diri konselor untuk mengatasi hal tersebut.
diyakini sangat berguna dalam menuntun kinerja profesi ternyata tidak selamanya dapat menjawab semua pertanyaan di lapangan. Sikap hati-hati yang perlu konselor miliki tergambar melalui konselor yang beroperasi berdasarkan standar etik pribadi tanpa berpegang pada standar etik yang dirancang asosiasi profesi, biasanya berjalan dengan lancar di awal, hingga menemukan suatu situasi dilematis yang akhirnya tidak melahirkan solusi yang jelas dan bukan solusi yang terbaik (Swanson dalam Gladding, 2012). Sebuah studi di New York (Hayman dan Covert dalam Gladding, 2012) menemukan fakta yang mengejutkan bahwa hanya kurang dari sepertiga responden yang mengatakan bahwa mereka mengandalkan kode etik profesional yang sudah dipublikasikan dalam menyelesaikan permasalahan. Mereka (konselor) lebih cenderung menggunakan strategi “akal sehat” yang terkadang secara profesionalitas dipandang tidak etis dan kurang bijaksana.
Situasi ini berpotensi memunculkan perilaku tidak etis dalam diri konselor karena tidak didasarkan pada kode etik yang ditetapkan, melainkan pada peraturan yang mereka ambil untuk membenarkan tindakan mereka atas dasar perspektif pribadi mereka. Hal ini juga berpotensi mencederai integritas profesi konselor yang memiliki ekspektasi tinggi untuk dapat diterima dan memperoleh kepercayaan publik yang utuh dalam operasional kerjanya. Artinya perlu sikap yang arif dan bijaksana serta mengasah intuisi konselor dalam melangkah, dan tidak lupa disertai sikap kehati-hatian dalam mengambil setiap keputusan bantuan, sehingga menciptakan perilaku etis di setiap pengambilan keputusannya.
B. Isu-isu Legal dalam Bimbingan dan Konseling
hubungan konseli dan konselor, namun juga hal-hal yang bersinggungan dengan dunia hukum.
Aspek etik yang perlu ditempuh konselor saat menghadapi situasi ini diantaranya komunikasi kerahasiaan (konfidensial), privasi, dan hak istimewa (Gladding, 2012). Kerahasiaan diartikan sebagai jaminan konselor terhadap konseli bahwa segala macam informasi yang terkait konseli dan telah dikantongi konselor sebagai data, tidak akan dipubilkasikan atau dibagikan secara tidak sah dan tanpa ijin. Privasi merupakan sebuah konsep legal yang mengakui hak-hak individu untuk memilih waktu, keadaan, dan banyaknya informasi pribadi yang ingin atau tidak ingin mereka bagikan (Herlihy dan Sheeley, dalam Gladding, 2012). Sedangkan komunikasi atau hak istimewa adalah hak legal klien yang dijamin oleh undang-undang untuk tidak mengungkapkan komunikasi rahasia di pengadilan tanpa izin dari konseli (Gladding, 2012). Situasi tertentu seperti hak kerahasiaan, privasi, serta komunikasi istimewa klien menjadi sebuah pengecualian, yaitu ketika:
1. Adanya kasus pertentangan antara konselor dan klien.
2. Ketika klien memunculkan masalah mengenai kondisi mental dalam tuntutan legal.
3. Ketika kondisi klien menghadirkan bahaya untuk dirinya sendiri atau orang lain.
4. Kasus pelecehan anak.
5. Ketika konselor memperoleh informasi bahwa klien akan melakukan tindakan kejahatan.
6. Selama pengadilan meminta evaluasi psikologis. 7. Untuk tujuan pertolongan spontan.
8. Ketika konselor memiliki informasi bahwa klien telah menjadi korban kejahatan.
9. Kasus kekerasan pada orang yang rentan.
C. Isu-Isu Profesional dalam Bimbingan dan Konseling
dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktik penyelenggaraannya. Kesalahpahaman yang sering dijumpai di lapangan menurut Prayitono dan Amti (2013: 120) antara lain:
1. Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
Ada dua pendapat ekstrem berhubungan dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa bimbingan dan konseling sama saja dengan pendidikan. Pendapat ini menganggap bahwa pelayanan khusus bimbingan dan konseling tidak perlu di sekolah. Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling harus benar-benar dilaksanakan secara khusus oleh tenaga yang benar-benar ahli dengan perlengkapan (alat, tempat, dan sarana) yang benar-benar memenuhi syarat. Pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari.
Memang bimbingan dan konseling di sekolah secara umum termasuk ke dalam ruang lingkup upaya pendidikan di sekolah, namun tidak berarti dengan penyelenggaraan pengajaran yang baik saja seluruh misi sekolah akan dapat dicapai dengan penuh. Maka dalam hal ini bimbingan dan konseling dapat memainkan peranan yang amat berarti dalam melayani kepentingan siswa, khususnya yang belum terpenuhi secara baik. Dalam hal ini peranan bimbingan dan konseling ialah menunjang seluruh usaha sekolah demi keberhasilan anak didik. Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah pelayanan yang mewah, untuk menjadi konselor yang baik, seseorang perlu menguasai keterampilan-keterampilan dasar, baik keterampialn pribadi dalam memberikan konseling perseorangan, konseling kelompok, kemampuan berkomunikasi dan lain sebagainya. Perlengkapan instrumentasi bimbingan dan konseling (seperti tes baku, dan sebagainya) ruangan, dan sarana-sarana lain hanyalah merupakan pelengkap saja dan tidak perlu memudarkan pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh.
Masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Petugas bimbingan dan konseling bukanlah pengawas ataupun polisi yang selalu mencurigai dan akan menangkap siapa saja yang bersalah. Petugas bimbingan dan konseling adalah kawan pengiring penunjuk jalan, pembangun kekuatan, dan pembina tingkah laku-tingkah laku positif yang dikehendaki. Dengan pandangan, sikap, keterampilan, dan penampilan konselor, siswa atau siapapun yang berhubungan dengan konselor akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.
3. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberi nasihat
Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Pemberian nasihat hanya merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Di samping memerlukan pemberian nasihat, pada umumnya klien dengan masalah yang dialaminya, memerlukan pula pelayanan lain, seperti pemberian informasi, penempatan dan penyaluran, konseling, bimbingan belajar, pengalihtangan kepada tugas yang lebih ahli dan berwenang, layanan kepada orang tua siswa dan masyarakat, dan sebagainya.
4. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat insidental
individu yang menjadi tanggung jawabnya secara penuh dan menyeluruh.
5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja Pelayanan bimbingan dan konseling bukan tersedia dan tertuju hanya untuk klien-klien tertentu saja, tetapi terbuka untuk segenap individu ataupun kelompok yang memerlukannya. Jika pun ada penggolongan, maka penggolongan itu didasarkan atas klasifikasi masalah (seperti bimbingan dan konseling pendidikan, jabatan/ pekerjaan, keluarga/perkawinan), bukan atas dasar kondisi klien (misalnya jenis kelamin, kelas sosial/ekonomi, agama, suku, dan lain sebagainya). Lebih jauh klasifikasi masalah itu akan mengarah kepada spesialisasi keahlian konseling tertentu sesuai dengan permasalahan itu. 6. Bimbingan dan konseling melayani ”orang sakit” dan/atau ”kurang
normal”
Bimbingan dan konseling tidak melayani “orang sakit” dan/atau “kurang normal”. Bimbingan dan konseling hanya melayani orang-orang normal yang mengalami masalah tetentu. Konselor yang memiliki kemampuan yang tinggi akan mampu mendeteksi dan mempertimbangkan lebih jauh tentang mantap atau kurang mantapnya fungsi-fungsi yang ada pada klien sehingga kliennya itu perlu dikirim kepada dokter atau psikiater atau tidak. Penanganan masalah oleh ahlinya secara tepat akan memberikan jasmani yang kuat bagi keberhasilan pelayanan.
7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh konselor saja. Dalam hal ini peranan guru, orang tua dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Konselor harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Di samping itu, konselor harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa.
8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama, yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini konselor, maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat, atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Maka pihak-pihak lain pun harus ikut aktif membantu kelancaran usaha pelayanan itu.
9. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
Jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. “Tidak”, bimbingan dan konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan (yaitu mengikuti filosofi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di perguruan tinggi.
harus mampu menyelami sedalam-dalamnya masalah klien yang sebenarnya.
11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater
Memang dalam hal-hal tertentu terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter, atau psikiater, yaitu sama-sama menginginkan klien atau pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Sama-sama mempunyai tekhnik-teknik tersendiri yang sudah teruji untuk membantu permasalahan klien atau pasiennya. Namun, pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit, sedangkan konselor bekerja dengan orang sehat yang sedang mengalami masalah. Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater ialah dengan memakai obat dan resep serta teknik-teknik pengobatan dokter dan psikiater. Sedangkan bimbingan dan konseling memberikan jalan pemecahan masalah melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, penguatan tingkah laku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perbaikan, serta teknik-teknik bimbingan dan konseling lainnya.
12. Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat
Cara apa pun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakikatnya berbeda, sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Pada dasarnya pemakaian sesuatu cara tergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan dan konseling, dan sarana yang tersedia.
14. Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya)
Perlu diketahui perlengkapan dan sarana utama yang pasti ada dan dapat dikembangkan pada diri konselor ialah keterampilan pribadi. Dengan kata lain, ada dan digunakan instrumen (tes, Inventori, angket, dan sebagainya itu) hanyalah sekadar pembantu. Oleh sebab itu, konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi, apalagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali. Petugas pembimbing dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan.
15. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang ringan saja
gejala-gejala kelainan kejiwaan misalnya, maka alih tangan kepada psikiater sudahlah perlu.
BAB III KESIMPULAN
Profesi konselor memiliki etika untuk membimbing mereka dalam melakukan kerja atau praktik yang akan dijalani, Code of ethics ACA dapat dijadikan salah satu acuan utama konselor ketika menghadapi dilema etika, karena bertindak etis tidak selamanya mudah, nyaman, dan jelas. Selain itu, dalam pengambilan keputusan, etika konselor dapat berdasarkan pada nilai-nilai pribadi selain standar etika yang legal. Tidak hanya itu para konselor dapat merujuk kepada rekan kerja profesional, casebook dan aturan.
Seorang konselor penting memiliki informasi dan wawasan yang cukup banyak terkait etika demi kesejahteraan diri konselor maupun konseli, namun tidak cukup hanya itu konselor pun harus memiliki pengalaman kerja serta dapat menilai pada tingkat perkembangan apa mereka dan rekan kerjanya beroperasi. Konselor rentan terhadap pengaduan malapraktik sipil dan kriminal pada saat mereka melanggar hak-hak klien atau aturan sosial. Maka dari itu, konselor harus memiliki informasi dan wawasan terkait peraturan setempat serta keputusan legal. Oleh karena itu untuk menghindari hal yang demikian konselor harus mampu menaati standarisasi etika dan organisasi profesional di tempat para konselor bekerja sesuai praktik normal yang diakui.
Semakin pesatnya perkembangan konseling sebagai sebuah profesi, aspek etika dan legal kemungkinan akan menjadi lebih kompleks, dan pastinya prosedur penegakannya pun akan menjadi lebih tegas karena mengabaikan kode etik dan hukum suatu hal yang tidak termaafkan untuk setiap konselor yang berpraktik. Oleh karena itu, sebagai kultur minoritas konselor harus pandai mengambil inisiatif dalam belajar bagaimana berhadapan dengan masalah hukum.
menjadi konselor yang berpengalaman seperti yang disebutkan di atas sehingga dalam praktik yang dijalanai diharapkan konselor mampu mengatasi setiap permasalahan-permasalahan yang ditemukan nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Blocher, Donald H. 1996. Developmental Counseling. New York:John Wiley & Sons.
Counselingfa. 2016. Etik dan Legal Konseling. [Online]. Tersedia: http:// counselingfa.blogspot.co.id/2016/01/etik-dan-legal-konseling.html#, diakses pada tanggal 30 Maret 2017.
Gladding, T.Samuel. 2012. Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta: PT Indeks.