Kata Kunci : Minat Belajar Anak, Keterlibatan Orang Tua A. PENDAHULUAN - MINAT BELAJAR ANAK PRESPEKTIF KETERLIBATAN ORANG TUA

12 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

38

MINAT BELAJAR ANAK PRESPEKTIF KETERLIBATAN ORANG TUA Oleh : Achmad Ridlowi

Abstrak

Peranan orang tua terhadap anaknya sedikit banyak berkurang, karena orang tua telah disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing, sehingga keluarga yang ada di rumah senantiasa menanti akan kasih sayang serta nasehat-nasehatnya terabaikan, jika hal ini dibiarkan terus berkembang akan berpengaruh pada kepribadian anak, karena tanpa kasih sayang dari orang tuanya anak akan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkannya, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi, hal ini akan mencetak anak menjadi brutal serta jauh dari norma-norma yang ada dalam masyarakat. Ketika anak menjadi brutal, maka perkembangan anak itu akan terhambat oleh perbuatannya yang buruk tersebut, sehingga berimbas pada orang tuanya, terkena cela dari masyarakat dan akhirnya martabat keluarga tersebut akan runtuh, karena perbuatan anaknya tersebut.

Adapun mengenai pendidikan yang perlu diberikan kepada anak adalah pendidikan yang seimbang, yaitu pendidikan yang memperhatikan seluruh aspek yang ada pada diri manusia, yakni hati, akal dan fikir. Seorang pendidik harus menyantuni ketiga-tiganya, masing-masing unsur tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Ketiganya harmonis dan seimbang. Pendidikan seimbang yang dimaksud di atas adalah pendidikan umum serta pendidikan agama dipadukan.

Pendidikan tersebut akan menghasilkan manusia yang berkepribadian walaupun memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga dalam masyarakat dapat membedakan mana yang harus dikerjakan serta mana yang harus ditinggalkan.

Kata Kunci : Minat Belajar Anak, Keterlibatan Orang Tua

A. PENDAHULUAN

Setiap orang tua mendambakan rumah tangga damai, menyejukkan hati, penuh

keharmonisan, terutama orang tua yang anaknya banyak. Bila dalam satu keluarga jumlah

anaknya banyak, maka perlu penanganan tersendiri agar tidak timbul keributan, saling

permusuhan dan saling dengki. Untuk itulah, orang tua perlu menciptakan kondisi yang

dirasakan oleh anak-anak kebaikan dan keadilannya.1

1 M. Thalib, 40 Tangung Jawab Orang Tua terhadap Anak, Bandung: Irsyad Baitus Salam,

(2)

39

Pada jaman yang semakin berkembang dewasa ini, peranan orang tua terhadap

anaknya sedikit banyak berkurang, karena orang tua telah disibukkan oleh pekerjaan mereka

masing-masing, sehingga keluarga yang ada di rumah senantiasa menanti akan kasih sayang

serta nasehat-nasehatnya terabaikan, jika hal ini dibiarkan terus berkembang akan

berpengaruh pada kepribadian anak, karena tanpa kasih sayang dari orang tuanya anak

akan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkannya, tanpa memikirkan apa yang akan

terjadi, hal ini akan mencetak anak menjadi brutal serta jauh dari norma-norma yang ada

dalam masyarakat. Ketika anak menjadi brutal, maka perkembangan anak itu akan

terhambat oleh perbuatannya yang buruk tersebut, sehingga berimbas pada orang tuanya,

terkena cela dari masyarakat dan akhirnya martabat keluarga tersebut akan runtuh, karena

perbuatan anaknya tersebut.

Dalam mengasuh anak, seorang ayah berhak untuk mengasuhnya sebagaimana yang

disampaikan oleh Drs. Save M. Dagun dalam buku Psikologi Keluarga mengatakan bahwa: "Anak laki-laki yang diasuh oleh ayahnya menunjukkan adanya sikap yang

menguntungkan; anak laki-laki ini akan berkembang lebih matang dan interaksi sosialpun

lebih baik. Ia juga lebih memperlihatkan kesadaran diri yang tinggi.2

Salah satu contoh sosial dalam masyarakat yaitu hubungan baik dengan masyarakat.

Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan, karena tidak ada seorangpun yang dapat

hidup tanpa bantuan orang lain terutama keluarganya dan masyarakat pada umumya, semua

itu dapat tercapai jika diantara sesama muslim atau sesama anggota masyarakat mengetahui

hak dan kewajibannya, ketika hidup dalam lingkungan masyarakat baik dalam masyarakat

mikro(keluarga) maupun makro (masyarakat luas).

Contoh di atas sangatlah tepat jika ditanamkan dalam pribadi anak untuk

bermasyarakat, dengan demikian dalam diri anak akan tertanam rasa sosial yang tinggi serta

menghormati orang lain tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya,

sebagaimana norma-norma yang ada dalam masyarakat.

2

(3)

40

Adapun mengenai pendidikan yang perlu diberikan kepada anak adalah pendidikan

yang seimbang, yaitu pendidikan yang memperhatikan seluruh aspek yang ada pada diri

manusia, yakni hati, akal dan fikir. Seorang pendidik harus menyantuni ketiga-tiganya,

masing-masing unsur tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Ketiganya harmonis dan seimbang.

Pendidikan seimbang yang dimaksud di atas adalah pendidikan umum serta pendidikan

agama dipadukan.

Dari paduan kedua pendidikan tersebut akan menghasilkan manusia yang

berkepribadian walaupun memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga dalam masyarakat

dapat membedakan mana yang harus dikerjakan serta mana yang harus ditinggalkan.

B. UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBINA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN

ANAK

Menurut H.M. Arifin ada dua fungsi orang tua yaitu:

a. Orang tua berfungsi sebagai pendidik keluarga.

b. Orang tua berfungsi sebagai pemelihara serta pelindung keluarga.3

Di samping orang tua berfungsi sebagai pendidik keluarga, orang tua juga berfungsi

sebagai pemelihara serta pelindung keluarga, yakni orang tua harus memelihara keselamatan

kehidupan keluarganya baik moril maupun materielnya. Jaminan materiel bagi kelangsungan

hidup keluarga antara lain berupa nafkah.

Anak sebagai buah hati dalam kehidupan keluarga merupakan suatu obyek yang

sangat menarik untuk dikaji oleh para ahli. Dari keluarga itulah anak lahir, sehingga orang

tua mempunyai kewajiban untuk membina keluarganya menuju keluarga yang bahagia

serta sejahtera yang diliputi oleh pendidikan Islam yang ada didalamnya, untuk itu ayah

sebagai kepala keluarga haruslah pandai-pandai mengatur keluarganya, dalam mewujudkan

keluarga yang penuh kebahagian, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan serta terdapat

pendidikan yang bernafaskan Islam di dalam keluarga tersebut.

3

(4)

41

Adapun dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak oleh Abdul Mujib

dibagi dalam beberapa bagian, yakni sebagai berikut:

a. Dasar pendidikan budi pekerti

Memberi norma pandangan hidup tertentu walaupun masih dalam bentuk yang

sederhana. Keluarga memberikan bimbingan keagamaan kepada anak-anaknya yaitu

berupa adap sopan-santun dalam keluarga, bagaimana menghormati kepada yang lebih

tua, menghargai karya orang lain, dan lain sebagainya.

b. Dasar pendidikan sosial

Melatih anak didik dalam tata cara bergaul yang baik terhadap lingkungan

keluarga, teman serta dalam bergaul dengan masyarakat sekitaranya.

c. Dasar pendidikan intelek

Anak diajarkan kaidah pokok dalam percakapan, bertutur bahasa yang baik,

kesenian yang disajikan dalam bentuk permainan.

d. Dasar pembentukan kebiasaan

Pembinaan kepribadian yang baik dan wajar, yang membiasakan kepada anak

untuk hidup yang teratur dan bersih, tertib, disiplin, rajin yang dilakukan secara

berangsur-angsur tanpa unsur paksaan.

e. Dasar pembentukan kewarganegaraan

Memberikan norma nasionalisme dan patriotisme, cinta tanah air, dan

berkeprimanusiaan yang tinggi.4

C. UPAYA ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK

Menurut Afifuddin tentang pengertian kepribadian atau “personality” berasal dari

bahasa Yunani, yakni dari kata “prospon” yang berarti topeng (masker) yang biasa

digunakan untuk sandiwara dalam memerankan, atau berasal dari bahasa Romawi

“personae” yang berarti pemain (sandiwara). Topeng tersebut sering digunakan oleh

pemain-pemain panggung untuk memerankan perangai, watak atau pribadi seseorang.

(5)

42

Misalnya menggambarkan orang-orang yang memiliki watak angkara murka, serakah,

sombong dan lain senagainya, maka menggunakan lambang raksasa.5

Gordon W. Allport, merumuskan kepribadian sebagaimana yang dikutip oleh

Afifudin, dkk, dalam buku Psikologi Anak Usia Sekolah Dasas, mengemukakan sebagai berikut:

Kepribadian adalah organisasi yang dinamis didalam individu dari sitem-sistem

psikopsisik yang menentukan penyesuaian diri yang unik terhadap lingkungannya”.6

Agar mudah dalam memahami pengetian kepribadian di atas, dapat dijabarkan sebagai

berikut:

a. Organisasi

Organisasi yang dimaksud adalah suatu keseluruhan dari unsur-unsur yang adala

pada manusia, yang saling memperngaruhi dan bekerja sama.

Dengan demikian kepribadian merupakan suatu kumpulan dari sifat-sifat, akal

budi, kemauan, cita-cita, kelebnihan diri serta keadaan tubuh yang saling berhubungan

dan yang menunjukkan kekhususan dari pada yang lain.

b. Sistem-sistem psikopisik

Kepribadian bukan hanya sekedar dari unsur-unsur jiwa atau raga saja, keduanya

merupakan suatu kesatuan yang saling bekerja sama dan tak dapat dipisah-pisahkan.

Suatu hal yang pasti dan merupakan suatu kenyataan bahwa, tak ada kegiatan yang

semata-mata diperbuat oleh faktor badani tanpa diikuti oleh faktor jiwani. Atau bahkan

tak ada suatu aksi yang semata-mata hanya direspon oleh faktor psikis tanpa didukung

oleh faktor phisis, begitu pula sebaliknya.

c. Dinamis

Artinya perkembangan itu tidak beku, tetapi kepribadian tersebut selalu berubah

dan bekembang menuju kearah kedewasaan.

5Afifudin, SK, BK, dkk, Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar, Solo: Harapan Massa, 1988, hal. 80.

(6)

43

Suatu contoh: Seorang anak yang berusia 3-5 tahun, sifatnya masih egosentris

(kemratu-ratu), namun lambat laun sifat egosentris itu akan hilang dab berubah kearah

sifat yang lebih dewasa. Dengan demikian organisasi dinamis itu bersifat dinamis serta

aktif dan berubah kerah perkembangan.

d. Menentukan

Di atas telah disebutkan bahwa, kepribadian itu merupakan organisasi dan

sistem-sistem psikopisik yang dimanis, sehingga banyak aspek yang ikut menentukan,

mewarnai dan ikut mempengaruhi pola pikir anak, perilaku, akal budi, sifat, perangai,

tabiat atau kepribadian seseorang. Dengan demikian, aspek-aspek tersebut sangat

menentukan perkembangan kepribadian anak.

e. Unik

Maksudnya, setiap manusia tidak pernah ada yang sama antara yang satu dengan

yang lainnya. Setiap idividu mempunyai ciri khas sendiri-sendiri dalam hal kepribadian.

Sebagai contoh antara Tini dan Tuti meupakan saudara kandung, namun

kenyataannya kepribadian mereka tidak sama. Tini memiliki sifat pendiam, pemalu dan

cengeng, sedangkan Tuti bersifat periang, banyak bicara, banyak tingkah, pemberani

dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah “setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam merespon suatu masalah”.

f. Menyesuaikan diri dengan lingkungan

Menyesuaikan diri merupakan suatu usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi

yang serasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, atau dengan masyarakat

sekitarnya, sehingga terjadi hubungan tibal balik yang harmonis diantara keduanya.

D. UPAYA ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK

1. Pengertian Minat Belajar

Sebelum lebih lanjut membahas tentang minat belajar lebih dulu dibahas tentang

pengertian minat. Maka, di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli sebagai

(7)

44 a. Lester D. Crow dan Alice Crow

Minat dapat menunjukkan kemampuan untuk memberi stimulasi yang mendorong

kita untuk memperhatikan seseorang, sesuatu barang kegiatan atau sesuatu yang

dapat memberi pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimuli oleh kegiatan itu

sendiri”. (Crow dan Crow, 1984: 351).

b. W. S. Winkell

Minat diartikan sebagai, “Kecenderungan subjek yang menetap, untuk merasa

tertarik pada suatu bidang study atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang

mempelajari hal itu”. (Winkel, 1989: 105).

c. B. Simandjuntak dan I. L. Pasaribu

Minat adalah, “Suatu sikap subjek terhadap obyek atas dasar adanya kebutuhan dan kemungkinan terpenuhinya kebutuhan itu”. (Simandjuntak dan Pasaribu, 1986: 47).

d. Doyles Fryer

Minat atau intrest adalah, “Gejala psikis yang berkaitan dengan obyek atau

aktifitasyang menstimulir perasaan senang pada individu”. (Nurkencana dan

Sunartama, 1989: 229).

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas, maka dapat diambil suatu

pengertian mengenai minat, yaitu suatu gejala psikis yang di dalamnya terkandung perasaan

senang dan menunjukkan adanya perhatian yang berpusat pada suatu obyek yang

mempunyai daya tarik sehingga obyek cenderung untuk mendapatkan atau melakukan obyek

tersebut baik berupa kegiatan, barang maupun orang.

Setelah kita membahas apa itu belajar atau pengertian dari belajar. Tentang

pengertian belajar itu sendiri mengalami banyak pengertian dari para ahli pendidikan yaitu :

a. Hilgarl dan Bower

Belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang

disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana

perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon

pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang. (Purwanto, 2000:

(8)

45 b. Abu Ahmadi

“Suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara tingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan”. (Ahmadi,

1991: 14).

c. AG. Soejono

Belajar adalah, “Usaha murid membimbing dirinya keperubahan situasi maupun

perubahan tingkat kemajuan dalam proses perkembangan inteleks pada khususnya

dan proses perkembangan jiwa, sikap pribadi, keprigelan pada umumnya”. (Soejono,

t.th.: 12).

Dengan demikian, dari beberapa pendapat tentang pelajar di atas dapat diambil

pemahaman bahwa seseorang dalam belajar akan mengalami perubahan dalam tingkah

lakunya melalui pendidikan atau lebih khususnya melalui prosedur latihan. Perubahan

tingkah laku tersebut akan nampak mempengaruhi kehidupan seseorang.

Dari beberapa uraian di atas, baik mengenai minat maupun mengenai belajar,

dapat dipahami bahwa minat belajar adalah suatu keinginan atau perasaan senang

terhadap suatu bentuk perubahan tingkah laku yang dikarenakan pengalaman dan latihan

yang dirasakan oleh seseorang dalam perkembangan dalam kehidupan.

Keinginan atau senang tersebut merupakan suatu pendorong bagi

terlaksanakannya aktifitas belajar. Minat sangat penting artinya dalam belajar, karena

dengan seseorang mempunyai minat yang besar terhadap belajar, akan dengan mudah

mendapatkan hasil yang diinginkan. Sebaliknya, bila seseorang tidak berminat untuk

belajar, maka hasil belajar yang diinginkan tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan

atau hasil belajarnya kurang maksimal.

2. Faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar

Seperti yang telah kita singgung di muka, bahwa minat adalah sumber hasrat

belajar. Jadi di dalam jiwa seseorang yang memperhatikan sesuatu, ia akan memulainya

dengan menaruh minat pada obyek tersebut. Karena itu, kadang-kadang minat tumbuh

dengan sendirinya dan kadang-kadang perlu diusahakan. Minat yang timbul dengan

(9)

46

a. Dorongan kodrat, baik di bidang biologis seperti ingin makan, ingin minum dan lain

sebagainya maupun di bidang psikis seperti ingin tahu, ingin kenal dan lain

sebagainya.

b. Pengalaman yang diperoleh anak, misalnya anak tertarik pada soal-soal mesin karena

ia sering melihat ayahnya memperbaiki mobil.

Jadi minat akan timbul karena adanya rasa senang yang diikuti oleh sikap positif.

Selain itu, terkadang minat itu timbul dengan disengaja minat juga timbul karena adanya

suatu dorongan dari dalam diri seseorang, yang disertai oleh perasaan senang. Minat juga

bisa timbul karena adanya reaksi dari obyek, maupun kegiatan-kegiatan dalam

lingkungan yang dapat merangsang untuk mendapatkan atau melaksanakan obyek itu.

Demikian pula terhadap minat belajar, timbul karena adanya dorongan dari

dalam (intern) dan dorongan dari luar (ekstern). Belajar merupakan suatu proses yang

kontinue, kecakapan yang lebih baik selalu disertai dengan bertambahnya minat tidak

hanya dalam suatu mata pelajaran tertentu, akan tetapi juga terhadap mata pelajaran lain

yang ada hubungannya. Namun semua mata pelajaran itu sesuai dengan minat serta

tujuan orang belajar. Ada kalanya hal-hal yang harus dipelajari kurang sesuai dengan

minat dan tujuannya tetapi, karena tuntutan lingkungan, maka ia harus mempelajari

hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan hidup yang ada pada masyarakat itu.

Maka, jelaslah bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap minat belajar

adalah faktor intern dan faktor ekstern. Hal ini sesuai dengan pendapat Abu Ahmadi,

tentang faktor yang mempengaruhi minat belajar, yaitu :

a. Faktor intern berupa :

1. Kurangnya kemampuan dasar (intelegensi) murid.

2. Kurangnya bakat khusus untuk suatu situasi belajar tertentu.

3. Kurangnnya minat terhadap situasi belajar.

4. Kurangnya motivasi akan dorongan untuk belajar.

5. Situasi pribadi, terutama emosional yang dihadapi murid tertentu.

6. Faktor jasmaniah karena cacat.

7. Faktor bawaan (hereditas).

(10)

47

1. Faktor lingkungan sekolah yang kurang memadai.

2. Situasi keluarga, broken home, masalahnya ekonomi, kurang perhatian terhadap

pendidikan sering pindah tempat dan sebagainya.

3. Situasi lingkungan sosial yang mengganggu keadaan anak, bacaan porno, film

cabul, buntutan, perjudian dan sebagainya. (Ahmadi, 1978: 161).

Jadi keberhasilan belajar anak juga ditentukan oleh seberapa besar minat belajar

yang dimilikinya. Minat belajar yang dimiliki anak untuk belajar juga tergantung pada

kondisi anak dan lingkungan di mana dia tinggal, dalam arti apabila kondisi sianak secara

fisik dan psikis baik atau siap dan bermiant untuk belajar serta didukung dengan

lingkungan yang baik pula akan lebih bisa mendapatkan hasil belajar yang baik pula dan

sesuai dengan apa yang diharapkan.

3. Fungsi Minat Dalam Proses Belajar

Orang tua sebagai pendidik anak dalam lingkungan keluarga mempunyai

tanggung jawab dalam menumbuh kembangkan minat anak, terutama dalam hal belajar.

Menumbuh kembangkan minat belajar anak ini bisa dilakukan orang tua dengan

memberikan perhatian dan bimbingan belajar anaknya.

Kecakapan anak bertambah baik di rumah maupun di sekolah apabila ada

keinginan untuk belajar. Keinginan untuk belajar itu tumbuh baik dalam sendirinya

mapun dengan pengaruh dari lingkungan luar.

Jadi, minat memainkan peran penting dalam belajar anak dan juga berdamapk

pada sikap dan perilaku anak. Bagi anak-anak minat menjadi sumber motivasi yang kuat

untuk belajar. Anak yang berniat pada sebuah kegiatan akan lebih keras untuk belajar bila

dibandingkan dengan anak yang kurang berniat atau merasa bosan. Jika orang tua ingin

mendapatkan hasil belajar anaknya maksimal, rangsangan harus diatur supaya bertepatan

dengan minat anak. Rangsangan-rangsangan itu bisa berupa rangsangan yang sengaja

diperuntukkan bagi penumbuhan minat belajar anak maupun rangsangan yang tidak

disengaja untuk menumbuhkan minat anak.

Selain itu minat juga timbul berdasarkan kebutuhan anak-anaknya itu apabila

(11)

48

aktifitas-aktifitas fisik, seperti sepak bola, basket dan lain-lainnya, yang hal itu seiring

dengan pertumbuhan fisiknya.

Sehubungan dengan hal tersebut Wingstone sebagaimana dikutip Nurkancana

dan Sumartana, berpendapat bahwa:

Minat yang timbul dari kebutuhan anak-anak akan merupakan faktor pendorong bagi anak dalam melaksanakannya, sebab merupakan sumber dari usaha. Anak-anak tidak perlu mendapatkan dorongan dari luar apabila pekerjaan yang dilakukannya cukup menarik minatnya. (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 230)

Berdasarkan pendapat di atas minat merupakan sumber dari usaha dan timbul

dari kebutuhan anak-anak. Begitu pula dengan minat belajar akan timbul suatu usaha dari

anak dengan ia berniat untuk melakuakn aktifitas yaitu belajar.

Dari beberapa uraian diatas dapat diambil suatu pengertian bahwa fungsi minat

dalam proses belajar yaitu minat sebagai pendorong terhadap aktifitas belajar anak dan

juga sebagai sumber dari usaha anak dalam melaksanakan atau meraih sesuatu.

E. PENUTUP

Setelah diadakan penelitian langsung di lapangan dengan melalui wawancara dan

mengkaji dokumentasi yang ada serta pengamatan yang sesuai dengan permasalahan yang

timbul dan tujuan yang sudah direncanakan, maka sebagai akhir pembahasan disini akan

penulis simpulkan sebagai berikut:

a. Suatu keluarga dalam membina perkembangan anak bisa melalui berbagai cara,

yaitu: dengan pendidikan keteladanan, adat kebiasaan, pendidikan dengan nasehat,

memberi perhatian, memberi hukuman yang bersifat mendidik dan mungkin masih

banyak cara dalam mendidik anak untuk memdapatkan kedewasaan.

b. Kepribadian anak akan tumbuh dengan daya nalar yang dimiliki oleh anak, selain itu

pantauan dari keluarga terutama orang tua untuk mengembangkan kepribadiannya,

(12)

49

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghani 'Abud, Keluarga Muslim dan Berbagai Masalahnya, Bandung: Penerbit Pustaka, 1987.

Afifudin, SK, BK, dkk, Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar, Solo: Harapan Massa, 1988.

Arifin, M., Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama, di Lingkungan Sekolah dan Keluarga, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Gema Risalah Press, 1989.

Djawad Dahlan M., Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...