• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di antara Karang Karang Frustrasi dan Ko

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Di antara Karang Karang Frustrasi dan Ko"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Di antara Karang-Karang Frustrasi dan Korupsi :

Nafas Aktivisme dan Transformasi Sosial hari-hari ini

1

Hizkia Yosie Polimpung2

Peneliti di Koperasi Riset Purusha dan Editor Jurnal IndoProgress

Saya hendak memulai diskusi kita pada pertanyaan yang sedikit puitik, namun relevan: masih adakah nafas kita untuk melakukan transformasi sosial hari-hari ini?

Ya, hari-hari ini. Diskusi kita tidak akan memiliki faedahnya apabila ia tidak dipancangkan pada situasi kekinian, pada kontemporalitas, pada yang “hari ini.” Berbicara mengenai situasi politik hari-hari ini, kita tentu bisa menderetkan beberapa hal secara spontan: demokrasi yang tersabotase oligarki, birokratisme dan teknokratisme politik, korupsi partai politik berikut politisinya, politik transaksional nir-idiologi, mahasiswa pragmatis, NGO berorientasi proyek, korporasi membeli negara, mandulnya kritisisme kampus, kongkalingkong dengan korporasi asing, tunduknya kedaulatan di hadapan kapital dan negara besar, dst. Inilah yang kerap kita dengar, baca, saksikan, bahkan alami di kehidupan kita sehari-hari. Dimana-mana kita temukan kedangkalan, kepalsuan, dan kebohongan. Situasi demikian kemudian memroduksi subyek-subyek pragmatis, sinis dan egois, di satu sisi. Namun di sisi lain, mereka-mereka yang idealis dan menjunjung-tinggi kejujuran, garis idiologi/perjuangan, dan integritas, harus memungut puing-puing keyakinannya yang hancur berkeping-keping. Sinisme dan asketisme akhirnya menjadi subyektivitas mereka-mereka yang belakangan ini, jika bukan malah menjadi konformis dan menjadi pragmatis.

Saya kira, inilah masalah bagi topik utama kita pada kesempatan kali ini: aktivisme. Hal-hal yang terjadi di tingkatan nasional, bahkan global, perlahan-lahan tapi pasti semakin menghantarkan efek yang nyata di kehidupan kita sehari-hari. Semakin tinggi harga-harga kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, biaya ini dan itu. Pekerjaan menjadi semakin langka, dan semakin tidak menentu – baik dari segi masa kerja, remunerasi dan kepastian kerja. Persaingan makin ketat dan individualis. Proyek-proyek penelitian, pemberdayaan, advokasi, dst., menjadi semakin seret untuk para aktivis NGO. Demikian pula kejujuran, keterus-terangan dan keberpihakan para jurnalis yang berkomitmen semakin menjadi hal yang di-daftar-hitamkan pimpinan-pimpinan media pada umumnya. Himpitan-himpitan kehidupan individu dari hari ke hari ini berefek pada panjang pendeknya nafas mereka-mereka yang berupaya untuk

1 Makalah disampaikan pada kuliah umum “Idiologi Aktivisme dan Perubahan Sosial,” dlm acara Pembukaan

Sekolah Idiologi dan Gerakan Sosial, In-Trans Institute, Malang, 14 Februari 2015.

(2)

mewujudkan suatu perubahan sosial-politik yang berarti, mereka-mereka yang dikenal sebagai “aktivis”: kita.

Inilah pergumulan yang dihadapkan pada kita aktivis. Banyak kita lihat, dan bahkan rasakan sendiri, bagaimana memompa nafas untuk tetap teguh di jalur aktivisme adalah hal yang sukar. Sering pula kita lihat jatuh bangun gerakan, NGO, lembaga penelitian dan organisasi-organisasi perserikatan yang mempraktikkan aktivisme, karena masalah keuangan seperti keterbatasan donor dan pemasukan yang tidak menentu. Di rumah, para aktivis harus berhadapan dengan suami/istri, anak-anak, mertua, dan orang tua. “Asap dapur harus mengepul,” demikian yang kerap terucap. Ironisnya, di lain sisi, semakin idealis suatu riset dilakukan, semakin susah sang peneliti mendapat donor. Semakin suatu kegiatan pemberdayaan menyasar permasalahan mendasar seperti ketimpangan kesempatan berproduksi dan jejaring penguasa, semakin jauh suatu NGO dari donor atau program pemberdayaan pemerintah.

Semakin suatu aktivitas sosial jauh dari indikator profitability, maka semakin program CSR

korporasi susah diakses. Siapapun yang mau mempraktikkan aktivisme hari-hari ini, pasti akan berhadapan dengan tantangan seperti ini.

Frustrasi. Kata ini saya kira paling cocok untuk mendeskripsikan gejala psikis yang

ditampakkan3 para aktivis kebanyakan hari ini. Di satu sisi mereka ingin memerjuangkan ide-ide

besar transformasi, pergerakan, dan/atau perlawanan. Namun di sisi lain, semakin mereka mendalami dan serius terhadap itu semua, semakin pula kerentanan (sosial, ekonomi, politik)

hidup meliputi mereka. Yang memfrustrasikan adalah bahwa para aktivis ini tahu betul bahwa

kerentanan kehidupan yang menguras nafas hidup mereka adalah akibat dari sesuatu yang ingin mereka transformasikan dan/atau lawan. Seakan-akan sang lawan ini mencekik dari berbagai penjuru sehingga membuat sang aktivis sulit meneruskan nafas perjuangan mereka. Sayangnya lawan ini sangat jauh dari jangkauan kita, susah untuk kita tonjok. Seolah-olah mustahil untuk kita lawan. Frustrasi membuat subyek aktivis berada pada posisi terkulai pasrah yang seolah tidak mampu berbuat apa-apa untuk meneruskan perjuangannya. Memangnya, seperti apakah lawan ini ?

Dalam suatu kesempatan, saya pernah terlibat dalam perbincangan awal pembentukan suatu serikat pekerja. Saat itu, rekan-rekan pekerja ini dibantu oleh beberapa orang “aktivis senior” untuk pembentukan organisasi. Satu jam berlalu saat sang aktivis senior ini menceritakan pengalamannya saat mengorganisir demonstrasi pekerja besar-besaran di era 90-an, dan

3 Dalam psikoanalisis Jacques Lacan, frustrasi adalah satu dari tiga bentuk “kehilangan obyek hasrat” – dua

(3)

saat menuju reformasi. Seorang pekerja kemudian nyeletuk, “owalah mas, nek jamane sampeyan enak lha wong mungsune ketok. Saiki po’o mungsune sopo ae gak ngerti…” [ya ampun mas, kalau zamannya kamu enak karena musuhnya keliatan. Kala sekarang, musuhnya siapa saja kita tidak tahu…]. Saya kira celetukan sang pekerja ini juga dirasakan kita semua hari ini. Jika dulu sang musuh memfrustrasikan kita dengan represi fisik nan kongkrit, namun sekarang sang musuh hanya bisa kita rasakan dari kesusahan kita sehari-hari. Saya kira ini, salah satunya, perbedaan konteks aktivisme hari ini dan dulu.

Mencoba menculaskan perbedaan ini, saya meminjam ilustrasi jenaka seorang filsuf

tentang dua macam ayah: ayah totaliter dan ayah posmodern.4 Suatu hari ayah totaliter

menyuruh anaknya menjenguk nenek yang sedang sakit. Karena disertai suara menggelegar dan ancaman potong uang saku, maka sang anak dengan terpaksa pergi sekalipun di dalam hati ia mengumpat kesal. Beda halnya dengan ayah posmodern yang toleran dan demokratis, ia berkata pada anaknya, “nak, kamu tahu kan kalau nenek sangat menyayangi kamu. Nah sekarang nenek sakit, dia pasti senang kamu jenguk. Tapi, kalau kamu tidak mau menjenguk, ya tidak apa.” Efeknya lebih parah dari ayah totaliter. Si anak bukan hanya tetap harus pergi menjenguk sang nenek, melainkan ia harus merasa “bebas” untuk pergi dan berbahagia dalam menjalankan proses penjengukan nenek yang sebenarnya ia benci.

Bukankah ini suasana yang kita hadapi saat ini? Kita para aktivis dibuat seakan-akan percuma untuk melawan, dan sebaliknya kita dipaksa untuk merasa bahwa adalah suatu pilihan bebas untuk tunduk dan mengikuti koridor-koridor yang disediakan sistem saat himpitan ekonomi (lengkap ditambah omelan pasangan, rengekan anak, sindiran orang tua/mertua) semakin mencekik nafas kita. Lawan kita di era posmodern ini memerangi kita tidak hanya dengan polisi rahasia yang mengintai kita, namun dengan mengondisikan kefrustrasian kita dan menjadikan kita orang-orang sinis terhadap idealisme perjuangan. Siapa yang tidak tergiur

dengan tawaran proyek pemberdayaan masyarakat dengan rate honor tinggi sekalipun kita tahu

pasti itu hanya merupakan “sogokan” untuk membabat lahan untuk menanam kelapa sawit yang merusak itu, misalnya, di kala lembaga kita mengalami paceklik pemasukan? Peneliti mana yang tidak tergiur menjadi pelegitimasi kebijakan dan konsultan pesanan di kala proposal-proposal riset seriusnya tidak digubris oleh kampus atau pendonor? Lawan kita hari ini memfrustrasikan kita dengan cara-cara subtil dan halus seperti ini. Seketika saja kita merasa seperti sekrup

berkarat di hadapan arogannya sekawanan Megatron (antagonis dalam film Transformers).

4 Lelucon ini disampaikan oleh Slavoj Zizek di berbagai kesempatan diskusi publik. (Beberapa diunggahkan ke

(4)

Satu hal yang ingin saya soroti yang menjadi salah satu akibat dari pemfrustrasian ini,

yaitu korupsi. Sayatidak hanya berbicara mengenai korupsi dalam artian sempit (korupsi uang,

jabatan, kekuasaan), yaitu dalam artian penyelewengan. Lebih dari itu. Korupsi bukan hanya menyangkut hal-hal yang sebenarnya juga non-material, melainkan bagaimana sistem yang

memfrustrasikan ini seakan telah membuat korupsi sebagai suatu hal yang wajar dan normal.5

Sedemikian rupa sehingga korupsi menjadi mekanisme normal berjalan mulusnya sistem yang ia

ciptakan, sekaligus alat yang dilakukan lawan kita untuk mengaburkan kita dari

idealisme-idealisme perjuangan kita.

Lebih dari hal-hal yang kasat mata seperti uang, kuasa dan jabatan, korupsi muncul saat kita mulai memberikan pembenaran-pembenaran untuk tindakan kita menyerah pada sistem dan keadaan, membungkusnya seolah terkesan kita adalah korban yang tak berdaya untuk terkorupsi (berkorupsi). Pula korupsi memberi justifikasi bagi kita untuk “pura-pura masuk dalam sistem dan melawannya dari dalam” tanpa argumen jelas dan program terukur. Korupsi membuat kita bisa menyelamatkan muka dari rasa bersalah, dengan mengatakan “yah setidaknya kami melakukan sesuatu,” di kala seolah semua yang kita lakukan sia-sia. Korupsi membuat kita lihai memanipulasi retorika-retorika perubahan sosial untuk menutupi mental transaksional kita. Korupsi menyabotase aktivisme sebagai panggung untuk semata meneguhkan identitas diri/organisasi dan ritual identitas aktivis, sementara menjauhkannya dari mengintervensi keadaan secara berarti. Korupsi membuat kita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan aktivisme mencibir junior dan kawan kita yang lebih muda saat mereka berapi-api terbakar idealismenya. Korupsi membuat kita penuh prasangka dan cemburu saat organisasi sebelah dapat proyek. Singkatnya, bak para Conquistador Spanyol membuat para Aztec menghancurkan seluruh produk capaian tinggi kebudayaan Imperium Aztec dengan tangannya sendiri, demikianlah korupsi menjadikan aktivis agen penghancur dari aktivisme itu sendiri. Bedanya suku Aztec meratapi ini dengan mendalam, para aktivis justru menjadikan ini sebagai

suatu dirty little (common) secret di antara mereka, suatu “omongan jorok” yang “tahu sama tahu.”

Korupsi adalah salah satu kemungkinan luaran dari frustrasi. Merasa gagal memperjuangkan hasratnya untuk transformasi sosial yang ideal, subyek mencari-cari

simbolisasi-simbolisasi untuk mengompensasikan hasratnya yang mula-mula.6 Merasa lelah

mencoba dari segala penjuru, sang subyek aktivis akhirnya terjebak pada rutinitas-rutinitas

aktivisme yang selamai ini dilakukannya sebagai aktivis. Absennya dinamika paradigma dan cara

melihat permasalahan. Aktivisme yang makin terhirarkisasi, terpersonifikasi, terbirokratisasi dan terteknokratisasi. Inilah rupa-rupa gejala terkorupsi aktivisme itu sendiri oleh para aktivis.

5 Konsep ‘korupsi’ yang dipakai di sini terinspirasi dari pembahasan Michael Hardt dan Antonio Negri, Empire

(2000), subbab “Generation and Corruption.”

(5)

Yang terpenting adalah “aksi!”, “lakukan sesuatu” dan imperatif-imperatif lainnya. Mungkin

benar kata Zizek, kita harus membalik seruan NATO – no action talk only – menjadi: don’t just do

something, talk! Aktivisme rawan jatuh pada seruan iklan Nike “Just do it!” – ya, pokoknya lakukan saja meski kita tidak benar-benar tahu apa yang kita lakukan, apakah berarti atau tidak.

Jadi, masih adakah nafas kita untuk melakukan transformasi sosial hari-hari ini?

***

Menutup paparan saya kali ini, saya sendiri bahkan tidak cukup yakin untuk memberikan jawaban positif (“masih ada”), dan sangat tidak rela untuk memberikan jawaban negatif (“sudah tidak ada”). Ini hal yang harus kita diskusikan dan pecahkan tentunya. Sekalipun tidak berusaha memberikan saran yang bijak, setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik sebagai turunan dari paparan saya barusan.

Pertama, adalah penting untuk memulai upaya-upaya pengorganisasi kemandirian ekonomi secara harian di kalangan aktivis. Semenjak urusan dapur mengepul adalah sangat signifikan bagi panjang pendeknya nafas aktivisme, maka kita harus mulai memikirkan upaya-upaya untuk mengamankannya. Kolektivitas dan solidaritas di antara aktivis adalah kapital yang sangat berharga untuk pengorganisasian ekonomi secara mandiri ini. Koperasi misalnya, adalah contoh yang bisa dilakukan. Tujuan koperasi yang paling utama adalah pemenuhan kebutuhan anggota melalui pengorganisasian ekonomi kolektif (dan bukan individualistik). Maka adalah baik bagi para aktivis untuk mulai mengupayakan satu per satu kebutuhannya dipenuh secara kolektif melalui koperasi. Diskusi lebih mendetil mengenai usulan ini tentu diperlukan, namun

saya kira ini cukup untuk memberikan sense of importance dari pengorganisasian ekonomi secara

kolektif sebagai basis aktivisme.

Kedua, dengan menormalnya dan mewajarnya korupsi, maka penting bagi kita untuk cukup tajam dan jeli dalam memisahkan, menseparasi, dan memilah-milah suatu hal dari

aspek-aspek yang mengorupsinya. Dengan mentotalnya praktik korupsi di sistem hari ini, maka semua

(6)

Ketiga, untuk melakukan hal pada pelajaran kedua di atas, perlu bagi aktivis untuk mengembangkan sayap intelektualnya lebih lagi. Pasalnya, semakin subtil dan tampak tak terbedakannya aspirasi penguasa dengan aspirasi kita para rakyat dalam suatu prakti-wacana seperti, misalnya ‘pembangunan’, ‘demokrasi’, ‘pemberdayaan’, dst., maka semakin mutakhir pula alat analisis yang diperlukan untuk membedah praktik-wacana tersebut. Riset, adalah hal yang mutlak bagi aktivisme. Riset merupakan upaya intelektual aktivis, bukan untuk menggurui aktivis lainnya (!!!), namun untuk menunjukkan posisi kita semua beserta penderitaan-penderitaan kita ke dalam suatu gambaran yang lebih besar dan abstrak. Riset membuat aktivis untuk tidak terjebak dalam miopia dan kacamata kuda dalam mencandra kejadian demi kejadian yang terjadi dan/atau menimpa kita di keseharian. Riset menyediakan peta obyektif tentang sistem pertahanan lawan, menunjukkan celahnya, dan merekomendasikan strategi intervensi.

Keempat, sekaligus yang paling pelik, dengan mewabahnya (sampai taraf pandemik, bisa jadi) gejala frustrasi di kalangan aktivis, maka penting bagi kita untuk melakukan upaya-upaya penenangan (katarsis). Tentunya, jalan pintas fanatisme SARA bukanlah solusinya. Potensi afektif dari suatu kolektivitas dapat menjadi penenang yang produktif sekaligus penyemangat bagi para aktivis yang dirundung frustrasi. Saling menguatkan dengan menceritakan (dan bukan menyombongkan, sekalipun itu dibalut frase-frase merendah) pengalaman aktivisme, saling bertukar informasi, bacaan dan sesekali humor, saling bertukar analisis, dst.: inilah yang diperlukan para aktivis untuk, tidak hanya merapatkan barisan, melainkan juga tetap menjaga spirit aktivismenya. (Bahkan mungkin juga mendapatkan pasangan hidup yang sama-sama aktivisnya, yang konon bisa membuat hidup sebagai aktivis “jadi lebih mudah”!)

Untuk yang keempat ini, saya membayangkan suatu wadah terbuka yang berperan sebagai semacam impresario dalam suatu opera. Impresario berfungsi sebagai pengatur acara, pengatur dekorasi, mengundang dan menyeleksi artis dan pementas, mengundang penonton

dan memastikan pertunjukan berjalan lancar. Impresario bertugas mengumpulkan,

menghimpun, mengundang, dan memfasilitasi orang-orang berkumpul di bawah satu tema pertunjukkan. Demikian pula halnya “impresario aktivisme,” ia adalah wadah terbuka non-partisan yang menjadi tempat berkumpulnya para aktivis dari berbagai elemen (mahasiswa, akademisi, NGO, jurnalis, seniman) untuk saling berdiskusi, memaparkan pandangan dan pengalamannya, menyosialisasikan hasil riset dan amatannya, tapi juga saling memperhatikan satu sama lain, bahu membahu memupuk solidaritas dan pengorganisasian ekonomi kolektif, … kesemuanya di bawah satu spanduk: transformasi sosial.

Saya sangat optimis Sekolah Idiologi dan Gerakan Sosial – In-Trans Institute yang baru

Referensi

Dokumen terkait

-Jumlah dokumen kesepakatan sinkronisasi yang dihasilkan melalui rakorda keitbangan se sumsel Rakorda Kelembagaan

Empat anggota Tim Mawar yang baru saja menerima kenaikan pangkat menjadi Brigjen adalah Kolonel Inf Fauzambi Syahrul Multazhar (Wakil Komandan Tim Mawar yang dulu bernama

Sumenep terhadap akad dan produk al-Qardh al-Hasan, Rahn dan Hadiah di KSPPS BMT NU Jawa Timur di Gapura Sumenep ialah kiai dan tokoh yang memperbolehkan karena jelas

administrative and management costs, reduction in inventory, faster delivery of goods and services to the customers and increased customer satisfaction.... Intranets

Apabila belum masuk waktu yang telah ditentukan dalam jadual, namun sarana dan prasarana serta kedua regu akan bertandingan sudah siap, maka pertandingan dapat dilangsungkan

Untuk itu, maka praktik pengalaman lapangan (PPL) yang diselenggarakan di sekolah diharapkan benar-benar dapat merupakan pembekalan keterampilan dari setiap

Sebuah Skripsi yang diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling. © Rena

Based on export data from supplying countries, post reduced estimated total Saudi barley imports for MY 2016/17 of 10.5 mi to 7.6 million MT.. The two main causes of the decline