• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyuapan Kepala Daerah Oleh PT HIP Diti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penyuapan Kepala Daerah Oleh PT HIP Diti"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

HALAMAN PENGESAHAN

Artikel Ilmiah

PENYUAPAN KEPALA DAERAH OLEH PT HIP DITINJAU DARI

UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAIMANA

DIRUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001

Hendrik Lie

NRP: 2130131

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(2)

1

PENYUAPAN KEPALA DAERAH OLEH PT HIP DITINJAU DARI

UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAIMANA

DIRUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001

Hendrik Lie

Fakultas Hukum [email protected]

Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa apakah perbuatan PT HIP menyuap penyelenggara negara yang dilakukan oleh para pengurus PT HIP untuk memperoleh izin atas sebidang tanah yang melebihi batas yang diperbolehkan untuk suatu perusahaan atau grup perusahaan tersebut dapat dikatakan sebagai perbuatan PT HIP sendiri. Melalui penelitian yang bersifat yuridis normatif, PT HIP terbukti memenuhi unsur-unsur Pasal 5 ayat (1) huruf a jo. Pasal 20 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, dan berdasarkan teori identifikasi PT HIP dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana. Harapan dilakukannya penelitian ini adalah: agar perbuatan PT HIP melakukan penyuapan kepada penyelenggara negara dapat diproses secara hukum menggunakan ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan agar Komisi Pemberantasan Korupsi dalam memproses suatu perkara lebih menekankan pada bentuk pertanggungjawaban pidana dimana korporasi berbuat, maka korporasi dan pengurus yang bertanggungjawab.

Kata Kunci: kejahatan korporasi; teori identifikasi; penyuapan; korupsi.

Abstract – The purpose of this paper is to analyze whether or not the act of

bribery toward state officials by PT HIP’s boards to obtain permit on a land plot that violates the allowed limit for a company or a group of of companies is an act of PT HIP itself. Through judicial normative study, PT HIP is proven to fulfill the elements of Article 5 paragraph (1) letter a jo. Article 20 of Law Number 31 of 1999 on the Eradication of Criminal Acts of Corruption, as improved by Law Number 20 of 2001, and according to identification theory PT HIP is able to bear criminal responsibility of its actions. Through this study, we hoped that: PT HIP to be legally prosecuted under the term of Article 5 paragraph (1) letter a of Law on the Eradication of Criminal Acts of Corruption, and for the Commission for the Eradication of Criminal Acts of Corruption to emphasize corporate criminal responsibility model where the actor is a corporation and both the corporation and its boards are responsible.

Keywords: corporate crime; identification theory; bribery; corruption.

PENDAHULUAN

(3)

2

dituangkan di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Salah satu cita-cita bangsa Indonesia berdasarkan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Hal itu berusaha dicapai dengan melalui proses pembangunan yang ditujukan untuk memajukan kehidupan masyarakat. Pada kenyataannya proses pembangunan itu selain membawa dampak-dampak positif, juga mengakibatkan dampak-dampak negatif.

Salah satu dampak negatif yang dapat diamati adalah meningkatnya peluang dilakukannya tindak pidana oleh pihak-pihak yang memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi, dan memegang kekuasaan yang besar. Hal itu dimungkinkan karena pihak yang menduduki jabatan fungsional yang cukup penting cenderung memiliki sejumlah besar aset di bawah kekuasaannya yang seharusnya digunakan dalam rangka pemenuhan tujuan usaha. Kejahatan yang dilakukan oleh golongan tersebut dikenal dengan istilah White Collars Crime atau kejahatan kerah putih.

Salah satu bentuk kejahatan yang dapat dilakukan pada kedudukan tersebut adalah korupsi, yang merupakan jenis tindak pidana yang memiliki efek yang sangat luas hingga berujung pada kerugian keuangan negara. Barda Nawawi Arif berpendapat bahwa pada dasarnya tindak pidana korupsi memiliki efek yang meluas dan multidimensi, yang pemberantasannya pun harus dilakukan secara luar biasa, tidak bisa hanya melalui pembaharuan peraturan-perundang-undangan atau law reformation saja.1

Korupsi sendiri pun bukan masalah yang baru di Indonesia, melainkan telah dikenal sejak era tahun 1950-an. Namun hingga memasuki Era Reformasi, barulah dimulai proses-proses perubahan yang dijiwai oleh semangat untuk memberantas korupsi. Hal tersebut dapat dilihat dari keluarnya Tap MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, kemudian diikuti dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (selanjutnya disebut UU 28/1999), kemudian Undang-Undang Nomor

(4)

3

31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU 31/1999), yang mencabut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU 3/1971), lalu dirubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 (selanjutnya disebut UU 20/2001). Untuk selanjutnya UU 31/1999 dan UU 20/2001 secara kolektif akan disingkat UU PTPK.

Konsiderans UU PTPK menjelaskan bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional. Selain itu juga tindak pidana korupsi juga menghambat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi.

Salah satu dari bentuk tindak pidana korupsi yang diatur adalah tindak pidana penyuapan aktif terhadap pegawai negeri atau penyelenggara negara, yaitu pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK, yang menentukan:

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dengan maksud supaya Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya.

Lebih lanjut, pada Pasal 1 angka 3 UU PTPK mencantumkan korporasi sebagai subjek hukum yang diakui selain orang perorangan. Pasal 20 UU PTPK menegaskan bahwa korporasi dapat bertanggungjawab sebagai subjek hukum pidana menurut undang-undang ini, seperti yang dapat dilihat pada Pasal 20 ayat (1) dan (2) UU PTPK, yang menentukan:

(1) Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.

(2) Tindakan pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.

(5)

4

korporasi telah memberikan kontribusi perkembangan dan dampak positif kepada suatu negara.2 Di luar dari dampak-dampak positif tersebut, pada saat yang sama korporasi juga dapat membawa dampak negatif, sehingga peraturan perundang-undangan yang dibuat pun memperhatikan dan mengatur tentang aktivitas korporasi sebagai sarana perlindungan masyarakat dari dampak yang diberikan korporasi.3

Bertolak dari uraian-uraian di atas, terdapat suatu kasus korupsi di mana pengurus PT HIP yang melakukan penyuapan kepada Kepala Daerah. Pengurus PT HIP meminta Kepala Daerah tersebut untuk memberikan rekomendasi untuk izin atas sebidang tanah, yang dimohonkan atas nama PT SIP. Sementara itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sedang berlaku, izin lokasi atas lahan perkebunan untuk satu perusahaan/grup perusahaan dalam satu provinsi berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi (berikutnya disebut Permen Agraria 2/1999) tidak boleh lebih luas dari 20.000 hektar. Karena PT HIP yang telah memegang izin Hak Guna Usaha seluas 22.780,87 Ha, dan PT SIP yang dimohonkan izin atas sebidang tanah tersebut, merupakan anak perusahaan dari PT CCM, kedua perusahaan tersebut masih merupakan satu grup perusahaan, sehingga jika permohonan tersebut dikabulkan akan terjadi pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kepala Daerah yang dimintai permohonan itu pada awalnya menolak dan memberikan izin lahan tersebut kepada perusahaan lain, yaitu PT S. SHM selaku pengurus PT HIP kemudian menyampaikan keberatan kepada AB selaku Kepala Daerah atas hal tersebut, diikuti dengan permintaan agar memudahkan proses perolehan rekomendasi izin atas lahan yang dimintakan PT HIP untuk diberikan kepada PT SIP. Atas permohonan tersebut, Pengurus PT HIP memberikan uang sejumlah Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah).

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, TL selaku direktur PT HIP diputus terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak

2Setiyono (a), Kejahatan Korporasi: Analisis Viktimologi dan Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang, 2004, hlm. 1.

(6)

5

Pidana Korupsi secara bersama-sama sebagai perbuatan berlanjut, yang diatur pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (untuk selanjutnya disebut KUHP), sehingga TL dikenakan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila tidak dibayar digantikan dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan kurungan. Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi telah diajukan banding ke Pengadilan Tinggi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang amarnya adalah menguatkan putusan yang dimintakan banding.

Tujuan praktis yang hendak dicapai adalah untuk menganalisis apakah PT HIP yang melakukan penyuapan Kepala Daerah dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Perbuatan PT HIP inilah yang akan ditinjau dari Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 untuk melihat apakah perbuatan pengurus PT HIP tersebut dapat dikatakan sebagai perbuatan PT HIP sendiri, sehingga PT HIP dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka dapat ditarik suatu masalah yang dapat dikaji dalam penelitian ini: “Apakah PT HIP dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana atas penyuapan Kepala Daerah ditinjau dari Pasal 5 ayat (1) huruf a jo. Pasal 20 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001?”

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut: a. Tipe Penulisan

(7)

6

perundang-undangan, dan bahan hukum sekunder yang berupa teori-teori dan literatur-literatur yang relevan terhadap permasalahan yang diteliti. Bahan-bahan hukum tersebut didekatkan dan dikaitkan dengan permasalahan yang dibahas.

b. Pendekatan Masalah

Dalam tulisan ini, ada dua pendekatan masalah yang digunakan, yaitu Statute Approach dan Conceptual Approach. Statute Approach, yaitu pendekatan masalah yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan membahas peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehubungan dengan materi yang dibahas. Conceptual Approach merupakan pendekatan masalah dengan melihat pendapat-pendapat para sarjana yang terdapat dalam literatur-literatur yang relevan sebagai landasan pendukung.

c. Bahan Hukum

Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

– Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 sebagai bahan untuk mengupas kasus yang menjadi materi pembahasan.

– Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang bersifat menjelaskan bahan hukum primer, yang digunakan dalam penelitian ini berupa literatur-literatur maupun karya ilmiah para sarjana yang relevan dengan materi yang dibahas.

d. Langkah Penulisan

Penulisan ini dengan cara mencari fakta-fakta yang terjadi sehubungan dengan kasus penyuapan kepada Kepala Daerah oleh pengurus PT HIP. Selanjutnya diikuti dengan mengumpulkan dan merangkum bahan-bahan hukum yang berkaitan dengan objek penelitian, kemudian digunakan sebagai alat bantu penelitian terhadap objek penelitian yang dibahas.

(8)

7

perundang-undangan dan pendapat-pendapat yang diperoleh dari literatur-literatur. Kemudian penalaran tersebut diterapkan dalam objek penelitian yang dibahas, sehingga diperoleh penyelesaian permasalahan yang bersifat khusus, beserta penafsiran yang bersifat sistematis dan terstruktur, sesuai dengan susunan pasal-pasal yang berhubungan dengan pasal-pasal lainnya yang ada dalam undang-undang yang digunakan, atau dikaitkan dengan pasal-pasal dari undang-undang lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pasal 1 ayat (1) KUHP menentukan: “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum,

melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu daripada perbuatan itu.” Asas ini dikenal dalam hukum pidana sebagai asas legalitas, yang bermakna seseorang tidak dapat dihukum tanpa adanya peraturan pidana yang mendahului terjadinya perbuatan tersebut, yang telah mencantumkan suatu ancaman hukuman atas perbuatan tersebut.4 Lebih lanjut

Moeljatno menjelaskan bahwa tindak pidana adalah: “... perbuatan yang dilarang

oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa

pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut.”5 UU 31/1999 mulai berlaku sejak tanggal 16 Agustus 1999, sedangkan UU 20/2001 mulai berlaku sejak tanggal 21 November 2001. Berkaitan dengan kasus yang dibahas, perbuatan PT HIP menyerahkan sejumlah uang kepada AB dengan tujuan agar AB melakukan seperti apa yang diminta oleh PT HIP secara bertahap, yaitu tahap satu pada tanggal 18 Juni 2012, dan tahap dua pada tanggal 26 Juni 2012. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa pada saat PT HIP melakukan penyerahan sejumlah uang kepada AB, berdasarkan tempus delicti perbuatannya dilakukan pada masa berlakunya UU PTPK, sehingga ketentuan pidana yang diatur pada UU PTPK dapat digunakan sebagai dasar pemidanaan PT HIP atas tindak penyuapan kepada AB dengan tujuan agar AB melakukan seperti yang diminta oleh PT HIP.

4Hasbullah F. Sjawie, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Pada Tindak Pidana Korupsi, Prenada Media Group, Jakarta, 2015, hlm. 15-16.

(9)

8

Menurut hukum positif yang berlaku di Indonesia pengertian korupsi diatur pada Pasal 1 angka 1 UU KPK, yang menentukan bahwa tindak pidana korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam UU PTPK, dan menurut Pasal 14 UU PTPK, tindak pidana korupsi lainnya yang oleh undang-undang secara tegas menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi.6 Berkaitan dengan kasus yang dibahas, perbuatan pengurus PT HIP melakukan penyuapan kepada penyelenggara negara telah diputus terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi secara bersama-sama sebagai perbuatan berlanjut, yang diatur pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. Berdasarkan hal itu, karena Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK adalah salah satu ketentuan pidana yang diatur menurut UU PTPK, maka ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK termasuk dalam pengertian tindak pidana korupsi.

Salah satu dari bentuk tindak pidana korupsi yang diatur di dalam UU PTPK adalah tindak pidana penyuapan. Lebih lanjut beberapa dari tindak pidana penyuapan yang diatur oleh UU PTPK adalah penyuapan aktif kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang diatur pada Pasal 5 ayat (1) UU PTPK yang diangkat dari Pasal 209 KUHP, dan penyuapan aktif kepada hakim dan advokat yang diatur pada Pasal 6 ayat (1) UU PTPK yang diangkat dari Pasal 210 KUHP. Menurut Adami Chazawi, tindak pidana penyuapan aktif kepada pegawai negeri yang diatur pada Pasal 209 KUHP tidak berlaku lagi semenjak diberlakukannya Pasal 5 UU PTPK, namun untuk memahami penerapannya, yurisprudensi dari Pasal 209 KUHP masih dapat digunakan.7

Di ranah Internasional terdapat UNCAC yang merupakan satu-satunya instrumen anti korupsi universal yang mengikat secara hukum.8 Lebih lanjut UNCAC diratifikasi oleh Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003

6Ermansjah Djaja, Tipologi Pidana Korupsi di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2010, hlm. 24.

7 Adami Chazawi, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang, 2014, hlm. 79.

(10)

9

(Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003) pada tanggal 18 April 2006.

Salah satu tindak pidana korupsi yang diatur menurut UNCAC adalah penyuapan terhadap pejabat publik nasional pada Pasal 15 UNCAC, yang menentukan:

Each State Party shall adopt such legislative and other measures as may be necessary to establish as criminal offences, when committed intentionally: (a) The promise, offering or giving, to a public official, directly or indirectly,

of an undue advantage, for the official himself or herself or another person or entity, in order that the official act or refrain from acting in the exercise of his or her official duties;

(b) The solicitation or acceptance by a public official, directly or indirectly, of an undue advantage, for the official himself or herself or another person or entity, in order that the official act or refrain from acting in the exercise of his or her official duties.

Pasal 15 huruf (a) UNCAC merupakan penyuapan aktif terhadap pejabat publik, dimana si pelaku memberikan janji, penawaran, atau pemberian kepada pejabat publik, sementara pada Pasal 15 huruf (b) UNCAC mengatur penyuapan pasif pejabat publik, dimana pejabat publik yang bersangkutan menerima janji, penawaran, atau pemberian dari pelaku penyuapan aktif.9 Di Indonesia, substansi Pasal 15 huruf (a) UNCAC dapat ditemukan pada Pasal 5 ayat (1) UU PTPK, yang menentukan:

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:

a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dengan maksud supaya Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau

b. memberi sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

(11)

10

Berkaitan dengan kasus yang dibahas, perbuatan PT HIP atas penyuapan kepada Kepala Daerah diatur menurut Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK, yang menentukan:

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dengan maksud supaya Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya.

Berdasarkan rumusan di atas, maka unsur-unsur Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK dapat diuraikan sebagai berikut:

– setiap orang;

– memberi atau menjanjikan sesuatu;

– Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara;

– dengan maksud supaya Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara berbuat atau tidak berbuat dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.10

Masing-masing unsur tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Mengenai unsur “setiap orang”, pengertian unsur tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU PTPK adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi. Pengertian korporasi diatur pada Pasal 1 angka 1 UU PTPK sebagai kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. Berdasarkan hal tersebut R. Wiyono menguraikan bahwa korporasi yang dimaksud meliputi yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.11 Berkaitan dengan kasus yang dibahas, PT HIP didirikan dengan Akta Pendirian HIP No. 04 tanggal 3 April 1995, dan terdaftar berdasarkan Tanda Daftar Perusahaan No. 09.06.1.01.31808 atas nama PT HIP tanggal 1 Februari 2011. Berdasarkan uraian tersebut, PT HIP termasuk dalam pengertian setiap orang sebagai korporasi, yaitu sekumpulan orang dan/atau

10 R. Wiyono, Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 46.

(12)

11

harta kekayaan yang terorganisasi yang merupakan badan hukum, sehingga unsur

“setiap orang” telah terbukti.

Mengenai unsur “memberi atau menjanjikan sesuatu”, Adami Chazawi

menjelaskan bahwa pemberian atau janji untuk memberikan sesuatu dalam bentuk apapun juga yang pada intinya memberikan keuntungan12 atau atau seperti yang ditambahkan oleh R. Wiyono, memiliki arti bagi pihak yang menerima,13 selama bukan merupakan kewajiban dari pemberi untuk berbuat demikian,14 dan pemberian atau menjanjikan sesuatu tersebut dilakukan dengan maksud seperti yang dicantumkan pada rumusan pasal ini.15 Janji untuk memberikan sesuatu tersebut memiliki makna sesuatu yang akan dilakukan, yang merupakan kelanjutan dari janji tersebut.16 Diterima atau tidaknya pemberian atau janji untuk memberi sesuatu tersebut tidak disyaratkan oleh pasal ini, karena perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu merupakan kejahatan tersendiri. Pemberian atau menjanjikan sesuatu dapat dilakukan oleh pelaku maupun oleh pihak ketiga demi kepentingan pelaku, dan tidak harus dilakukan sewaktu pegawai negeri atau penyelenggara negara yang bersangkutan sedang melakukan dinasnya.17

Berkaitan dengan kasus yang dibahas, pada mulanya PT HIP mendiskusikan mengenai masalah permohonan izin lokasi yang ditolak kepada AB. Pada waktu itu AB meminta sumbangan untuk pilkada kepada PT HIP, yang kemudian menyanggupi permintaan AB, berupa janji untuk memberikan uang sebesar Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah). PT HIP yang menyanggupi permintaan AB adalah perbuatan janji untuk memberi sesuatu, karena masih ada kelanjutan dari janji tersebut, yaitu pemberian sejumlah uang berdasarkan permohonan AB. Sumbangan yang diminta oleh AB bukan merupakan kewajiban bagi PT HIP

12Adami Chazawi, Op. Cit., hlm. 80.

13R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 46.

14 P.A.F. Lamintang, Delik-Delik Khusus: Kejahatan-Kejahatan Terhadap Kepentingan Hukum Negara, Sinar Baru, Bandung, 1987, hlm. 601.

15Ibid., hlm. 600.

16 S.R. Sianturi, Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya, Alumni Ahaem-Petehaem, Jakarta, 1989, hlm. 76.

(13)

12

untuk memberikan, namun PT HIP tetap menyanggupi untuk memberikannya agar AB bersedia untuk menerima permohonan izin lokasi seperti yang dimintakan PT HIP. Lebih lanjut, sumbangan tersebut diminta oleh AB dengan alasan untuk keperluan pilkada, sehingga sumbangan tersebut memiliki nilai bagi AB. Berdasarkan kesanggupan atau janji PT HIP untuk memberikan AB sejumlah uang sebesar Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah), PT HIP menyerahkan uang tersebut dalam dua tahap, yang pertama untuk mengeluarkan izin lokasi berupa HGU atas tanah seluas 4.500 Ha yang telah ditanami kelapa sawit oleh PT CCM, dan tahap kedua untuk menerbitkan tiga izin lokasi lagi atas sisa tanah PT CCM yang belum memiliki izin lokasi berupa HGU. Berdasarkan uraian tersebut maka perbuatan PT HIP telah memenuhi pengertian unsur “memberi atau menjanjikan

sesuatu”.

Mengenai unsur “Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara”, Pengertian

“Pegawai Negeri” dapat dilihat pada Pasal 1 angka 2 UU PTPK:

Pegawai Negeri adalah meliputi:

a. Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Kepegawaian;

b. Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

c. orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah; d. orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima

bantuan dari keuangan negara atau daerah; atau

e. orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

Pengertian “Penyelenggara Negara” dapat dilihat pada penjelasan Pasal 5 ayat (2) UU PTPK, yang menguraikan bahwa “Yang dimaksud dengan ‘penyelenggara negara’ dalam Pasal ini adalah penyelenggara negara sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan

Nepotisme.” Pasal 2 UU 28/1999 menentukan:

Penyelenggara negara meliputi:

1. pejabat negara pada lembaga tertinggi negara; 2. pejabat negara pada lembaga tinggi negara; 3. menteri;

(14)

13

6. pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan

7. pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang masih berlaku.

Berdasarkan penjelasan Pasal 2 angka 6 UU 28/1999, yang dimaksud dengan

“Pejabat negarayang lain” dalam ketentuan ini termasuk Bupati/Walikotamadya. Berkaitan dengan kasus yang dibahas, AB menjabat sebagai Bupati Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, periode tahun 2007-2012 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.72-415 Tahun 2007 tanggal 20 September

2007, maka kedudukan AB memenuhi pengertian “Penyelenggara Negara”.

Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penjelasan unsur “memberi atau

menjanjikan sesuatu”, perbuatan PT HIP memberikan sejumlah uang kepada AB

sebagai Bupati Buol yang merupakan penyelenggara negara, adalah perbuatan memberikan sesuatu kepada penyelenggara negara. Lebih lanjut karena unsur

“pegawai negeri atau penyelenggara negara” bersifat alternatif, sehingga cukup dibuktikan salah satunya saja. Berdasarkan hal itu, maka unsur ini telah terpenuhi karena AB termasuk dalam pengertian penyelenggara negara.

Unsur “dengan maksud supaya Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara berbuat atau tidak berbuat dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.” Mengenai unsur ini R. Wiyono menjelaskan: “... di dalam hukum pidana disebut bijkomend oogmerk atau ‘maksud selanjutnya’ yang tidak perlu telah tercapai pada waktu pelaku tindak pidana selesai melakukan tindak pidana.”18 Mengenai hal ini Adami Chazawi menjelaskan bahwa “Selain kehendak si pembuat yang ditujukan agar pegawai negeri itu berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya, si pembuat juga harus mengetahui atau ada kesadaran bahwa orang yang disuapnya

adalah seorang pegawai negeri.”19

Mengenai kata jabatan dalam unsur ini, R. Wiyono menguraikan bahwa setiap jabatan dari Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara memiliki atau

18R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 49.

(15)

14

terlekat suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, baik berupa berbuat sesuatu maupun berupa tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya.20 Ia menambahkan bahwa

kalimat “dalam jabatan” pada pasal ini yang berasal dari kalimat in zijn bediening dalam Pasal 209 ayat (1) KUHP yang telah ditafsirkan oleh Hoge Raad sebagai

berikut: “tidak perlu syarat Pegawai Negeri itu mempunyai wewenang untuk

melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh yang memberi atau menjanjikan sesuatu, akan tetapi sudah cukup jika karena jabatannya Pegawai Negeri tersebut memberikan kemungkinan untuk dapat melakukan perbuatan tersebut.”21

Berkaitan dengan kasus yang dibahas, PT HIP memberikan uang sejumlah Rp. 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) kepada AB agar AB mengabulkan permohonan pengajuan izin PT CCM dan menerbitkan surat rekomendasi agar PT CCM memperoleh HGU atas lahan seluas 4.500 Ha yang telah ditanami kelapa sawit. Perbuatan itu diikuti dengan pemberian uang dari kas PT HIP sejumlah Rp. 2.000.000.000,- (dua miliar rupiah) kepada AB agar AB menerbitkan surat rekomendasi untuk memperoleh HGU lagi untuk seluruh sisa tanah yang telah dikuasai oleh PT CCM, sehingga seluruh tanah seluas 75.090 Ha tersebut memiliki HGU.

Berdasarkan uraian tersebut, maksud selanjutnya dari pemberian uang tersebut adalah agar AB menerbitkan surat rekomendasi untuk memperoleh HGU melebihi batas yang diperbolehkan menurut Pasal 4 ayat (1) huruf c angka 2 Permen Agraria 2/1999, yaitu seluas maksimum 20.000 Ha saja. AB selaku penyelenggara negara memiliki kewajiban yang melekat di jabatannya untuk menolak permohonan tersebut walaupun jabatannya memungkinkannya untuk menerima permohonan tersebut dan menerbitkan surat rekomendasi untuk memperoleh HGB, karena jika dilakukan maka AB melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban yang melekat pada diri AB selaku penyelenggara negara. Maksud tersebut terlihat dari PT HIP yang menyanggupi permintaan AB untuk diberikan sumbangan demi keperluan pilkada, karena PT HIP pada mulanya menyanggupi permintaan AB, dengan janji akan memberikan uang sebesar Rp.

20R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 49.

(16)

15

3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah), dan AB menyampaikan permintaan tersebut ketika AB dan para PT HIP sedang berdiskusi mengenai permohonan izin atas nama PT CCM yang sebelumnya ditolak oleh AB. Lebih lanjut AB membuat surat rekomendasi untuk izin lokasi setelah PT HIP memberikan sejumlah uang tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka PT HIP telah memenuhi unsur “dengan maksud supaya Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara berbuat atau tidak berbuat dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.”

Berdasarkan uraian-uraian di atas, PT HIP telah memenuhi unsur-unsur Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK, karena PT HIP telah memberikan uang dengan total jumlah Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah) kepada penyelenggara negara, yaitu AB, agar AB melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. Berdasarkan hal tersebut dan dikaitkan dengan pertanggungjawaban korporasi yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya, PT HIP dapat dikualifikasikan sebagai pelaku penyuapan kepada Penyelenggara Negara menurut UU PTPK.

Secara yuridis, pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi pada tindak pidana korupsi diatur secara khusus pada Pasal 20 UU PTPK, yang menentukan:

(1) Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.

(2) Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

(3) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus.

(4) Pengurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat diwakili oleh orang lain.

(5) Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri di pengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya pengurus tersebut dibawa ke sidang pengadilan.

(6) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan untuk menghadap dan menyerahkan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau di tempat pengurus berkantor.

(17)

16

Pengertian “pengurus” dapat ditemukan pada penjelasan Pasal 20 ayat (1) UU PTPK yang menjelaskan: “... organ korporasi yang menjalankan

kepengurusan korporasi yang bersangkutan sesuai dengan anggaran dasar, termasuk mereka yang dalam kenyataannya memiliki kewenangan dan ikut memutuskan kebijakan korporasi yang dapat dikualifikasikan sebagai tindak

pidana korupsi.” R. Wiyono menjelaskan bahwa yang menjadi kriteria atau

ukuran apakah seseorang merupakan pengurus dari suatu korporasi atau tidak adalah ada atau tidaknya kewenangan dan keikutsertaan dalam memutuskan kebijakan korporasi, selain dari dicantumkan atau tidak dicantumkannya namanya di anggaran dasar suatu korporasi.22

Mengenai frasa “tindak pidana yang dilakukan oleh atau atas nama

korporasi” pada Pasal 20 ayat (1) UU PTPK, David O. Friedrichs menggunakan

istilah kejahatan korporasi, yang dijelaskan sebagai: “… tindak pidana yang dilakukan oleh pengurus korporasi untuk kepentingan korporasi atau tindak

pidana yang dilakukan oleh korporasi itu sendiri.”23 Berkaitan dengan kasus yang dibahas, PT HIP melakukan penyuapan kepada AB dengan tujuan agar AB mengabaikan ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf c angka 2 Permen Agraria 2/1999 agar PT CCM sebagai perusahaan induk memperoleh izin lokasi berupa HGU untuk diberikan kepada PT SIP, anak perusahaan PT CCM. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dipahami bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh PT HIP.

Mengenai sistem pemidanaan yang dianut pada rumusan Pasal 20 ayat (1) UU PTPK, dapat dipahami bahwa tuntutan dan penjatuhan pidana tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh atau atas nama korporasi bersifat kumulatif-alternatif, sehingga tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dikenakan terhadap korporasi dan pengurus, atau terhadap korporasi saja atau terhadap pengurus saja.24 Pada perkembangannya terdapat empat sistem pertanggungjawaban korporasi sebagai subjek hukum tindak pidana:

22R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 141.

23Mahrus Ali, Asas-Asas Hukum Pidana Korporasi, Rajawali Pers, Jakarta, 2015, hlm. 9.

(18)

17

a. Pengurus korporasi sebagai pembuat, maka pengurus yang bertanggungjawab. Sifat tindak pidana yang dilakukan korporasi dibatasi pada perorangan, sehingga tindak pidana yang terjadi di lingkungan korporasi dianggap dilakukan oleh pengurusnya.25

b. Korporasi sebagai pembuat, maka pengurus yang bertanggungjawab. Perserikatan atau badan usaha atau korporasi diakui dapat melakukan tindak pidana, namun tanggung jawab atas tindak pidana tersebut dibebankan ke pengurus korporasi tersebut, selama pembebanan tersebut diatur secara tegas dalam peraturan yang bersangkutan.26

c. Korporasi sebagai pembuat dan yang bertanggungjawab. Pertanggungjawaban pidana langsung ke korporasi ini dikarenakan dalam berbagai tindak pidana ekonomi keuntungan yang diperoleh oleh korporasi atau kerugian yang dialami masyarakat sangat besar hingga tidak cukup jika pertanggungjawaban pidana hanya dikenakan kepada pengurus, sehingga tidak ada jaminan bahwa korporasi tersebut tidak akan mengulangi tindak pidana lagi.27

d. Pengurus dan korporasi sebagai pembuat, dan keduanya yang harus bertanggungjawab. Sistem pertanggungjawaban ini perlu ada sehingga (1) memberikan keadilan bagi masyarakat, karena pengurus berbuat untuk dan atas nama korporasi; (2) tanggung jawab pengurus atas perbuatan yang dilakukan demi kepentingan korporasi tidak lepas; dan (3) perbuatan pengurus korporasi tidak dialihkan pertanggungjawabannya kepada korporasi walau pembebanan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi dilakukan secara vikarius (pertanggungjawaban pengganti).28

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dipahami bahwa dalam UU PTPK dapat dipilih salah satu dari keempat sistem pertanggungjawaban korporasi

25Setiyono (b), Teori-Teori & Alur Pikir Penerapan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Bayumedia Publishing, Malang, 2013, hlm. 117-118.

26Ibid., hlm. 119-120.

27Ibid., hlm. 120-121.

(19)

18

sebagai subjek hukum tindak pidana di atas. Berkaitan dengan kasus yang dibahas, sistem pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi yang dapat

digunakan dalam kasus ini adalah sistem “pengurus dan korporasi sebagai pembuat, dan keduanya pula yang harus bertanggungjawab”.

Sistem pertanggungjawaban tersebut digunakan karena TL sebagai salah satu pengurus PT HIP telah bertanggungjawab secara pidana karena telah diputus terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi secara bersama-sama sebagai perbuatan berlanjut, yang diatur pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. TL selaku direktur PT HIP dikenakan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila tidak dibayar digantikan dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan kurungan.

R. Wiyono menjelaskan bahwa pada perumusan tindak pidana korupsi yang terdapat dalam Pasal 5 ayat (1) UU PTPK, yang menjadi pelaku digunakan frasa

“Setiap Orang”, yang berdasarkan Pasal 1 angka 3 memiliki makna orang

perseorangan atau termasuk korporasi.29 Lebih lanjut, menurut Pasal 20 ayat (2) UU PTPK yang menentukan: “Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama”, korporasi baru bisa dikatakan melakukan tindak pidana korupsi jika yang melakukan tindak pidana korupsi adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan korporasi tersebut, baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lainnya, yang bertindak masih dalam batas-batas tugas atau usaha korporasi.30 Orang-orang yang berdasarkan hubungan kerja dalam lingkungan korporasi adalah orang-orang yang tercantum di anggaran dasar sebagai pengurus korporasi tersebut.31

29R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 139.

30Ibid., hlm. 140.

(20)

19

Lebih lanjut dalam menentukan apakah suatu perbuatan dilakukan oleh korporasi atau bukan, terdapat beberapa teori-teori pertanggungjawaban pidana korporasi yang dapat digunakan, antara lain teori fungsional, teori pertanggungjawaban pengganti, teori identifikasi, dan teori delegasi.

Teori fungsional atau functioneel daderschap adalah teori yang menjelaskan bahwa secara lahiriah korporasi tidak dapat melakukan perbuatannya sendiri, maka perbuatan tersebut diwakili oleh perbuatan pegawainya yang diatur secara tegas pada anggaran dasar dan aturan internal korporasi tersebut.32

Teori pertanggungjawaban pengganti atau vicarious liability adalah pertanggungjawaban yang dimiliki oleh pihak yang mengawasi atas perbuatan yang dilakukan oleh karyawan atau rekannya berdasarkan hubungan di antara mereka. Berdasarkan penjelasan tersebut, korporasi sebagai pihak yang mengawasi bertanggungjawab atas perbuatan pidana yang dilakukan oleh pegawainya.33

Teori identifikasi adalah teori yang menjelaskan bahwa kondisi mental pengurus perusahaan adalah kondisi mental dari perusahaan tersebut, sehingga kesalahan pengurus adalah kesalahan dari korporasi itu sendiri, karena pengurus korporasi adalah alter ego atau merupakan korporasi itu sendiri. Korporasi tidak bertanggungjawab secara pertanggungjawaban pengganti, tetapi bertanggungjawab atas kesalahannya sendiri.34

Teori delegasi menurut Setiyono adalah teori yang mendasari pertanggungjawaban korporasi atas perbuatan yang dilakukan oleh seseorang karena adanya pendelegasian wewenang yang diberikan kepada orang yang bersangkutan. Korporasi bertanggungjawab atas kesalahan dan perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan oleh pegawai yang didasarkan pada tanggung jawab menurut kewajiban yang telah didelegasikan kepadanya dari korporasi sebagai pemberi delegasi tersebut.35

32Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit., hlm. 54-55.

33Ibid., hlm. 28.

34Ibid., hlm. 40-41.

(21)

20

Salah satu teori pemidanaan korporasi yang dapat digunakan menurut Pasal 20 ayat (2) UU PTPK adalah teori identifikasi, karena pengurus adalah orang-orang yang memiliki hubungan kerja dengan korporasi tersebut karena nama pengurus tercantum di anggaran dasar sebagai pengurus korporasi tersebut, yang menjalankan kepengurusan korporasi yang bersangkutan sesuai dengan anggaran dasar, dan bertindak dalam batas-batas tugas atau usaha korporasi. Menurut teori identifikasi, kondisi mental pengurus perusahaan adalah kondisi mental dari perusahaan tersebut, sehingga kesalahan pengurus adalah kesalahan dari korporasi itu sendiri, karena pengurus korporasi adalah alter ego atau merupakan korporasi itu sendiri.36

Berkaitan dengan kasus yang dibahas, perbuatan PT HIP memberikan uang kepada AB sebesar total Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah) dengan tujuan agar AB mengabaikan ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf c angka 2 Permen Agraria 2/1999 agar PT CCM sebagai perusahaan induk memperoleh izin lokasi berupa HGU untuk diberikan kepada PT SIP, anak perusahaan PT CCM, dilakukan oleh pengurusnya demi kepentingan PT HIP. Hal itu disebabkan karena apabila AB mengabulkan permohonan PT SIP untuk mengeluarkan izin lokasi berupa HGU atas nama PT CCM yang kemudian diberikan kepada PT SIP, maka PT CCM, PT HIP dan PT SIP sebagai satu grup perusahaan diuntungkan karena memiliki izin lokasi berupa HGU yang lebih besar dari batas yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan uraian tersebut maka perbuatan yang dilakukan oleh para pengurus PT HIP dengan kedudukan yang cukup tinggi sehingga para pengurus tersebut bekerja tidak berada di bawah perintah atau arahan dari atasan, dalam hal ini adalah para direktur PT HIP termasuk TL, menurut teori identifikasi, adalah alter ego atau merupakan perbuatan PT HIP. Lebih lanjut, sikap batin dari para pengurus PT HIP, yaitu dengan tujuan agar AB mengabaikan ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf c angka 2 Permen Agraria 2/1999 agar PT CCM sebagai perusahaan induk memperoleh izin lokasi berupa HGU, adalah sikap batin dari PT HIP sendiri.

(22)

21

Berdasarkan hal tersebut maka PT HIP dapat bertanggungjawab menurut Pasal 20 UU PTPK karena yang melakukan tindak pidana penyuapan seperti yang diatur pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP adalah pengurus PT HIP, yaitu para direktur PT HIP yang memiliki kedudukan yang cukup tinggi sehingga para pengurus tersebut bekerja tidak berada di bawah perintah atau arahan dari atasan, menjalankan kepengurusan PT HIP, yang memiliki kewenangan dan ikut memutuskan untuk memberi sejumlah uang kepada AB selaku Bupati Buol agar AB melakukan sesuai seperti yang diminta oleh PT HIP.

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa sistem pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi yang dapat digunakan dalam kasus yang dibahas adalah

sistem “pengurus dan korporasi sebagai pembuat, dan keduanya pula yang harus bertanggungjawab.” Uraian pada bagian tersebut jika dikaitkan dengan teori-teori pertanggungjawaban pidana korporasi, maka korporasi sebagai pembuat karena menurut teori identifikasi, perbuatan dan sikap batin dari pengurus PT HIP adalah perbuatan dan sikap batin dari PT HIP sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka korporasi juga harus bertanggungjawab secara pidana bersama-sama dengan pengurusnya, yang dalam kasus ini salah satu pengurus PT HIP adalah TL. Pertanggungjawaban pidana langsung ke korporasi ini diperlukan karena dalam berbagai tindak pidana ekonomi, keuntungan yang diperoleh oleh korporasi atau kerugian yang dialami masyarakat sangat besar hingga tidak cukup jika pertanggungjawaban pidana hanya dikenakan kepada pengurus, sehingga tidak ada jaminan bahwa korporasi tersebut tidak akan mengulangi tindak pidana lagi.37

Mengenai pemidanaan PT HIP sebagai korporasi, seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, PT HIP termasuk dalam pengertian korporasi sebagai subjek hukum yang diakui menurut UU PTPK, dan terbukti telah memenuhi unsur-unsur Pasal 5 ayat (1) huruf a jo. Pasal 20 UU PTPK, sehingga PT HIP dapat dijatuhkan pidana menurut UU PTPK.

Pidana yang dapat dikenakan pada perbuatan yang diatur di Pasal 5 ayat (1)

huruf a UU PTPK adalah: “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

(23)

22

Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp250.000.000,00

(dua ratus lima puluh juta rupiah) ...” Lebih lanjut, menurut Pasal 20 ayat (7), korporasi hanya dapat dijatuhkan pidana pokok berupa denda dengan ketentuan maksimum pidana ditambah 1/3 (satu pertiga), sehingga pidana yang dapat dikenakan kepada PT HIP adalah pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), dan paling banyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah) ditambah 1/3 (satu pertiga). R. Wiyono menambahkan bahwa pidana denda tersebut tidak dapat disertai pidana kurungan pengganti jika denda tidak dibayar oleh korporasi menurut Pasal 10 angka 3 KUHP, karena korporasi tidak mungkin dijatuhkan pidana badan.38

Lebih lanjut mengenai siapa yang membayar denda tersebut, R. Wiyono menjelaskan bahwa yang dibebani membayarkan pidana denda adalah korporasi, bukan pengurus atau orang lain yang mewakili korporasi, walau asal uang pembayaran denda tersebut tidak dipermasalahkan antara dari kas korporasi maupun dari uang pribadi pengurus.39 Berkaitan dengan kasus yang dibahas, maka PT HIP adalah pihak yang dibebani kewajiban untuk membayar pidana denda yang dijatuhkan kepadanya, namun asal uang pembayaran denda tersebut dapat berasal dari kas PT HIP sendiri maupun dari uang pribadi para pengurus PT HIP.

Selain pidana denda sebagai pidana pokok, menurut R. Wiyono korporasi masih dapat dikenakan pidana tambahan pada Pasal 18 UU PTPK, karena pidana pokok dapat disertakan dengan pidana tambahan.40 Mengenai pidana tambahan yang dapat dikenakan kepada korporasi selain pidana pokok, Pasal 18 UU PTPK menentukan:

(1) Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagai pidana tambahan adalah:

a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut;

38Ibid., hlm. 142.

39Ibid., hlm. 143.

(24)

23

b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi;

c. penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun;

d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana.

(2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.

Mengenai Pasal 18 ayat (3) UU PTPK, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, korporasi sebagai subjek hukum pidana tidak dapat dikenakan pidana penjara karena tidak memiliki fisik, sehingga tidak dapat dikenakan hukuman badan. Berdasarkan hal itu, PT HIP dapat dikenakan pidana tambahan menurut Pasal 18 ayat (1) UU PTPK, dan Pasal 18 ayat (2) UU PTPK, kecuali Pasal 18 ayat (3) UU PTPK karena PT HIP merupakan subjek hukum pidana korporasi yang tidak memiliki fisik, sehingga tidak dapat dikenakan hukuman badan seperti pidana penjara.

SIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dibahas di bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa PT HIP dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana atas penyuapan kepada Kepala Daerah menurut UU PTPK, karena:

(25)

24

miliar rupiah) kepada penyelenggara negara, yaitu AB selaku Bupati Buol, agar AB melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. b. Menurut teori identifikasi PT HIP dapat bertanggungjawab menurut Pasal

20 UU PTPK karena yang melakukan tindak pidana penyuapan seperti yang diatur pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK adalah para pengurus PT HIP, yaitu para direktur PT HIP yang merupakan alter ego atau merupakan PT HIP itu sendiri, yang memiliki kewenangan dan ikut memutuskan untuk memberi sejumlah uang kepada AB selaku Bupati Buol agar AB melakukan sesuai seperti yang diminta oleh PT HIP.

2. Saran

Berdasarkan simpulan yang disampaikan sebelumnya, maka saran yang dapat diberikan adalah:

a. Hendaknya perbuatan PT HIP yang menyuap Kepala Daerah dapat diproses secara hukum berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf a jo. Pasal 20 UU PTPK.

b. Hendaknya Komisi Pemberantasan Korupsi dalam memproses suatu perkara lebih menekankan pada bentuk pertanggungjawaban pidana dimana korporasi berbuat, maka korporasi dan pengurus yang bertanggungjawab.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Adami Chazawi, 2014, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di

Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang.

Barda Nawawi Arief, 2013, Kapita Selekta Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Ermansjah Djaja, 2010, Tipologi Pidana Korupsi di Indonesia, Mandar Maju, Bandung.

Hamzah, Andi, 2006, Pemberantasan Korupsi: Melalui Hukum Pidana

Nasional dan Internasional, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Hasbullah F. Sjawie, 2015, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Pada

Tindak Pidana Korupsi, Prenada Media Group, Jakarta.

(26)

25

Moeljatno, 2015, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.

Muladi dan Dwidja Priyatno, 2010, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Prenada Media Group, Jakarta.

P.A.F. Lamintang, 1987, Delik-Delik Khusus: Kejahatan-Kejahatan Terhadap

Kepentingan Hukum Negara, Sinar Baru, Bandung.

Setiyono, 2004, Kejahatan Korporasi: Analisis Viktimologi dan Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana Indonesia,

Bayumedia Publishing, Malang.

______, 2013, Teori-Teori & Alur Pikir Penerapan Pertanggungjawaban

Pidana Korporasi, Bayumedia Publishing, Malang.

Sianturi, S.R., 1989, Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya, Alumni Ahaem-Petehaem, Jakarta.

Sutan Remy Sjahdeini, 2007, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Grafiti Pers, Jakarta.

______, 2009, Kejahatan dan Tindak Pidana Komputer, Grafiti Pers, Jakarta. R. Wiyono, 2005, Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta.

Internet

U4 Anti-Corruption Resource Centre, 2009, The United Nations Convention

against Corruption A Primer for Development Practitioners,

[Diarsipkan pada 19 Juli 2009]. Diakses pada 30 Maret 2017 dari https://web.archive.org/web/20090719084024/http://www.u4.no/themes/u ncac/introduction.cfm

United Nations Office on Drugs and Crime, 2012, Legislative guide for the

implementation of the United Nations Convention against Corruption,

Second Revised Edition 2012, United Nations, New York, [Online].

Diakses pada 30 Maret 2017 dari

http://www.unodc.org/documents/treaties/UNCAC/Publications/Legislativ eGuide/UNCAC_Legislative_Guide_E.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara serta Pasal 33 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (2)

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 ayat (5) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, ketentuan Pasal 333 ayat (1)

Sesuai ketentuan dalam Pasal 41 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Pasal 333 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 76 Ayat (3) Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan

Alasan Pemeriksaan Kasasi Perkara Tata Usaha Negara oleh Mahkamah Agung Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa secara normatif dalam ketentuan Pasal 131 ayat (1)

Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dan setiap orang, selain pemberi kerja,

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 2 ayat (3) Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 7 Tahun 2018 tentang Persetujuan Penyelenggara

10 Sesuai ketentuan dalam Pasal 41 ayat 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 333 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah