FAKTOR-FAKTOR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI PENGADILAN NEGERI YOGYAKARTA

Teks penuh

(1)

1

FAKTOR-FAKTOR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN

PUTUSAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI

PENGADILAN NEGERI YOGYAKARTA

Anshari*

*Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak

Email Korespondensi : anshari@unmuhpnk.ac.id

Abstrak

Permasalahan peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Indonesia menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, terutama di kota-kota besar. Pengaruh globalisasi dan hasil dari kemajuan teknologi dapat dinikmati untuk kemaslahatan bersama. Namun di balik itu tampak sisi negatif yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup generasi muda. Arus informasi dan transformasi yang sudah tidak dapat dibendung lagi menyebabkan penyalahgunaan Narkotika, semakin sulit untuk dikendalikan. Upaya pencegahan, penegakan hukum, dan upaya mengurangi tindak pidana penyalahgunaan narkotika tersebut jelas menjadi perhatian pemerintah, yang juga tidak terlepas dari peranan hakim sebagai salah satu aparat penegak hukum dan keadilan yang tugasnya mengadili tersangka atau terdakwa. Hakim mempunyai peran yang sangat penting dalam serangkaian proses penegakan hukum terutama dalam pemidanaan, karena semua perkara hukum bermuara pada putusan-putusannya. Dalam menjalankan fungsi yang penting ini, hakim menjadi pencipta norma-norma yang bersifat baru karena setiap putusan- putusannya dapat dianggap sebagi yurisprudensi yang merupakan salah satu sumber hukum. Hakim juga berperan dalam mempertahankan tertib hukum dengan cara memberikan putusan terhadap setiap perkara yang dihadapkan kepadanya. Selain peran hakim sebagaimana tersebut di atas, hakim juga memiliki peran dalam melakukan penafsiran hukum. Maka dari itu, dalam hal memeriksa, mengadili, dan memutus suatu tindak pidana narkotika, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi putusan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

Kata Kunci: Faktor Pertimbangan Hakim, Putusan Pidana, Tindak Pidana Narkotika

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia merupakan suatu negara yang sedang berkembang yang bercita-cita menuju suatu negara maju. Tapi dalam proses perkembangan pembangunannya banyak hal yang menghambat yang salah satunya adalah penyalahgunaan narkotika yang sangat merusak masyarakat Indonesia khususnya generasi muda sebagai penerus Bangsa. Perkembangan penyalahgunaan narkotika semakin hari semakin meningkat, hal ini dapat kita amati dan saksikan di berbagai mass media cetak maupun elektronik yang selalu dihiasi dengan berita-berita penyalahgunaan narkotika.

(2)

2

sumber daya manusia yang handal erat kaitannya dengan generasi muda yang produktif dan berkualitas.

Generasi muda tumbuh dan berkembang pada tiga dimensi sosial yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, yang merupakan pendidikan dan pembinaan generasi muda. Dimensi ini sangat berpengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya generasi muda, sebab kesinambungan ketiga dimensi ini akan mewarnai penampilan, sikap, dan perilaku mereka dalam masyarakat.

Masuknya unsur kebudayaan asing yang bersifat negatif yang merupakan dampak dari teknologi dan komunikasi yang mengalami kemajuan pesat. Melalui media tersebut terjadi pertemuan berbagai unsur kebudayaan asing. Generasi bangsa mengenal tata cara kehidupan lain seperti cara berpakaian, bergaul, gaya hidup, minum-minuman keras sampai pada kasus penyalahgunaan narkotika.

“Narkotika merupakan zat yang bisa menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkan ke tubuh”.1 Penggunaan

penyalahgunaan narkotika dapat membahayakan, yang akhirnya merusak system syarafnya. Jika hal ini terus dibiarkan, maka akan merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara.

Penyalahgunaan narkotika merupakan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan. Saat ini penyalahgunaan narkotika melingkupi semua lapisan masyarakat baik miskin, kaya, tua, muda, dan bahkan anak-anak. Penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang akhirnya merugikan kader-kader penerus bangsa.

Penyalahgunaan narkotika tidak terlepas dari sistem hukum positif yang berlaku di negara Indonesia. Sistem hukum positif yang berlaku di negara Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini terlihat dalam efektifnya pelaksanaan sanksi pidana. Dalam undang No. 22 Tahun 1997 sebagaimana diubah dengan Undang-undang No. 35 Tahun 2009 (Lembaran Negara RI. No. 143 Tahun 2009) tentang Narkotika terdapat beberapa sanksi, seperti sanksi pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan maupun sanksi pidana denda yang penerapannya dilakukan secara kumulatif.

Penyalahgunaan narkotika yang semakin meningkat dan sulit diberantas, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,2 juta orang, atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.000 orang menggunakan narkotika dengan alat bantu berupa jarum suntik, dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS, serta sekitar 15.000 orang meninggal setiap tahun karena menggunakan napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) lain.2

Dari hasil pengamatan perkembangan meningkatnya penyalahgunaan narkotika dalam hal ini perlu dilakukan upaya pencegahan dan mengurangi tindak kejahatan penyalahgunaan narkotika tersebut, yang tidak terlepas dari peranan hakim sebagai salah satu aparat penegak hukum dan keadilan yang tugasnya mengadili tersangka atau terdakwa. Yang dimaksud dengan mengadili adalah:

“Serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak pada sidang Pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana, yaitu

1 Soedjono Dirjosisworo, Hukum Narkotika Indonesia, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1990, hal. 3

(3)

3

memeriksa dengan berdasarkan pada bukti-bukti yang cukup. Pada tahap ini tersangka dituntut, diperiksa dan diadili oleh hakim dinamakan terdakwa”.3

Untuk mengambil keputusan, hakim harus mempunyai pertimbangan yang bijak supaya putusan tersebut sesuai dengan asas keadilan. Setiap putusan hakim merupakan salah satu dari ketiga kemungkinan sebagai berikut:

1. Pemidanaan atau penjatuhan pidana dan atau tata tertib, yaitu pemidanaan terhadap terdakwa apabila kesalahan terdakwa pada perbuatan yang telah dilakukan dan perbuatan itu adalah suatu tindak pidana menurut hukum dan keyakinan cukup dibuktikan.

2. Putusan bebas, yaitu terdakwa dibebaskan apabila menurut hasil pemeriksaan kesalahan terdakwa menurut hukum dan keyakinan tidak terbukti.

3. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum, yaitu jika kesalahan terdakwa menurut hukum dan keyakinan cukup terbukti, tetapi apa yang dilakukan terdakwa bukan merupakan suatu tindak pidana.4

Putusan hakim yang isinya menjatuhkan hukuman yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka keputusan tersebut dapat dijalankan. Melaksanakan keputusan hakim adalah menyelenggarakan agar supaya segala sesuatu yang tercantum dalam surat keputusan hakim itu dapat dilaksanakan, misalnya apabila keputusan itu berisi pembebasan terdakwa, agar supaya segera dikeluarkan dari tahanan, apabila berisi penjatuhan pidana denda, agar supaya uang denda itu dibayar, dan apabila keputusan itu memuat penjatuhan pidana penjara, agar supaya terpidana menjalani pidananya dalam rumah Lembaga Pemasyarakatan dan sebagainya. Hasil keputusan hakim tersebut dapat menimbulkan dampak yang sangat luas bagi masyarakat.

Hal tersebut di atas sangat berpengaruh terhadap perkembangan kasus penyalahgunaan narkotika yang tidak berkurang bahkan semakin meningkat di beberapa daerah pada umumnya dan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya. Dengan peningkatan jumlah penyalahgunaan narkotika yang dari tahun ke tahun semakin meningkat, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana “Proses Penjatuhan Putusan Oleh Hakim Terhadap Penyalahgunaan Narkotika Di Pengadilan Negeri Yogyakarta”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apa dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Yogyakarta?

2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi putusan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah, yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

(4)

4

2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi putusan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian merupakan merupakan penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan. “Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.”5 “Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu merupakan

pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat yang dimaksud yang tercantum dalam metode ilmiah.”6

Agar suatu penelitian dapat bersifat obyektif maka dalam mengambil kesimpulan harus berpedoman pada metode penelitian. Yang dimaksud dengan metode adalah “suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang memiliki langkah-langkah yang sistematis”.7

Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut: 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data sekunder yang berupa bahan-bahan pustaka serta menghubungi narasumber untuk memperkuat data yang diperoleh.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada wilayah hukum Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan instansi Pengadilan Negeri Yogyakarta.

3. Narasumber Penelitian

Untuk memperkuat data yang berhubungan dengan penelitian ini maka penulis menghubungi narasumber yaitu Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta (atau yang ditunjuk untuk mewakili) pada Pengadilan Negeri Yogyakarta yang pernah menjatuhkan putusan terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika. 4. Sumber Data

Data sekunder yang diperoleh dari:

a. Bahan hukum primer, terdiri dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 143 Tahun 2009) tentang Narkotika, Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2009) tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 49 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 158 Tahun 2009) tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum.

b. Bahan hukum sekunder, yang diperoleh dari RUU KUHP (Rancangan Undang-undang Kitab Undang-Undang-undang Hukum Pidana), Dokumen-dokumen Hukum

5 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal. 46 6Ibid, hal. 46

(5)

5

(Salinan Putusan Pengadilan) tentang perkara tindak pidana penyalahgunaan narkotika, buku ilmiah, jurnal, majalah, surat kabar, televisi, internet, dan sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini.

c. Bahan hukum tersier, yang terdiri dari Kamus Hukum, Kamus Bahasa Indonesia, dan Bahasa lain yang berhubungan dengan penelitian ini.

5. Metode Pengumpulan Data

Cara-cara yang akan digunakan untuk mengumpulkan data dalam penyusunan penelitian ini adalah:

a. Studi Pustaka, diperoleh dengan cara mempelajari kitab peraturan perundang-undangan, buku-buku ilmiah, jurnal, majalah, surat kabar, berita televisi, dan bahan-bahan lain yang dapat dijadikan sebagai data yang mendukung penyusunan penelitian ini.

b. Wawancara langsung dengan narasumber yang dilakukan untuk melengkapi dan menguatkan data-data yang diperoleh dari hasil studi pustaka.

c. Quisioner yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan tertulis kepada narasumber.

6. Analisis Data

Analisis data akan dilakukan dengan menggunakan metode analisis secara kualitatif yaitu data yang sudah terkumpul akan diseleksi dan diolah berdasarkan kualitasnya yang relevan dengan tujuan dan permasalahan penelitian sehingga didapatkan suatu gambaran tentang penjatuhan putusan oleh hakim terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika.

III. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

A. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Pidana Terhadap Pelaku

Tindak Pidana Narkotika

Sebelum memutuskan suatu perkara, hakim selalu memperhatikan hal-hal yang dapat menjadi suatu pertimbangan-pertimbangan baik secara yuridis maupun di luar ketentuan-ketentuan yuridis demi menemukan suatu kebenaran dan menciptakan keadilan.

Sesuai dengan asas tindak pidana tanpa kesalahan (geen straaf zonder schuld) pidana hanya dapat dijatuhkan bila ada kesalahan terdakwa, yang dibuktikan di sidang pengadilan, yaitu kesalahan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam dakwaan penuntut umum. Jadi pengadilan menjatuhkan pidana apabila terdakwa bersalah melakukan tindakan pidana yang didakwakan kepadanya (Pasal 193 KUHP). Bukan begitu saja dapat dijatuhi pidana tetapi, harus didukung dengan alat bukti yang sah sesuai dengan rumusan pasal 183 KUHP yang menegaskan bahwa:

“Hakim tidak pidana menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan ia memperoleh keyakinan bahwa tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.”

Berikut jenis-jenis alat bukti yang terdapat dalam pasal 184 KUHP, yaitu: 1. Keterangan saksi.

2. Keterangan ahli. 3. Surat.

4. Petunjuk.

(6)

6

Disamping itu yang patut diperhatikan oleh hakim dalam menjatuhkan putusan pidana, berdasarkan hasil wawancara dengan bapak H.M. Luthfie, S.H. Yaitu:

1. Kesalahan pembuat tindak pidana. 2. Motif dan tujuan melakukan tindak pidana. 3. Cara melakukan tindak pidana.

4. Sikap batin pembuat pidana.

5. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat tindak pidana. 6. Pengaruh tindak pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana. 7. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. 8. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. 9. Tanggung jawab pelaku terhadap korban.

10. Apakah tindak pidana dilakukan dengan rencana.8

Menurut Bapak H.M. Luthfie, S.H., dalam menjatuhkan putusan pengadilan, hakim mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang tidak hanya dipengaruhi hal-hal tersebut di atas saja, melainkan ada beberapa faktor lain, dalam hal ini dapat memperingan dan memperberat pidana, yaitu sebagai berikut:

1. Pidana diperingan:

Pidana diperingan berkaitan dengan hal-hal berikut ini: a. Seseorang yang mencoba melakukan tindak pidana. b. Seseorang yang membantu terjadinya tindak pidana.

c. Seseorang yang sukarela menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib setelah melakukan tindak pidana.

d. Wanita hamil yang melakukan tindak pidana.

e. Seseorang yang dengan sukarela memberikan ganti kerugian yang layak atau memperbaiki kerusakan akibat tindak pidana yang dilakukan.

f. Seseorang yang melakukan tidak pidana karena kegoncangan jiwa yang hebat sebagai akibat yang sangat berat dari keadaan pribadi atau keluarganya.

g. Seseorang yang melakukan tindak pidana, akan tetapi kurang dapat dipertanggungjawabkan karena menderita gangguan jiwa, penyakit jiwa atau retardasi mental (keterbelakangan mental) atau disabilitas intelektual.

2. Pidana diperberat:

a. Pegawai negeri yang melanggar kewajiban jabatan khusus diancam dengan pidana atau pada waktu melakukan tidak pidana menggunakan kekuasaan, kesempatan, atau upaya yang diberikan kepadanya karena jabatannya.

b. Setiap orang yang melakukan tindak pidana dengan menyalahgunakan bendera kebangsaan, lagu kebangsaan atau lambang Negara.

c. Setiap orang yang melakukan tindak pidana dengan menyalahgunakan keahlian atau profesinya.

d. Orang dewasa melakukan tindak pidana bersama dengan anak di bawah umur. e. Setiap orang yang melakukan tindak pidana dengan bersekutu, bersama-sama,

atau dengan kekerasan dengan cara yang kejam atau dengan berencana. f. Setiap orang yang melakukan tindak pidana pada waktu huru hara atau terjdai

bencana.

(7)

7

g. Setiap orang yang melakukan tindak pidana pada waktu Negara dalam keadaan bahaya.

h. Hal-hal lain yang ditentukan secara khusus dalam suatau peraturan perundang-undangan.

i. Pemberatan tindak pidana di berlakukan juga terhadap setiap orang yang melakukan pengulangan tindak pidana dalam waktu lima tahun sejak:

1) Menjalani seluruh atau sebagaian pidana pokok yang dijatuhkan. 2) Pidana pokok yang dijatuhkan telah dihapuskan.

3) Kewenangan menjalani pidana pokok yang dijatuhkan belum kadaluwarsa buat tindak pidana.

4) Pengaruh tindak pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana. 5) Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindakan pidana. 6) Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. 7) Tanggung jawab pelaku terhadap korban.

8) Apakah tindakan pidana dilakukan dengan berencana.9

Adanya banyak faktor yang diperhatikan dalam penjatuhan pidana tersebut, maka menurut penulis diperlukan kejelian, kebijakan, dan kearifan seorang hakim dalam menjatuhkan putusan. Berdasarkan hal tersebut tampak bahwa hakim tidak hanya menjatuhkan putusan berdasarkan ketentuan peratuaran perundangan-undangan yang berlaku, akan tetapi hakim juga menilai berdasarkan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai kemanusiaan. Pertimbangan-pertimbangan hakim merupakan sarana untuk memperoleh rasa keadilan baik bagi terdakwa, korban, masyarakat atau pengadilan bagi hakim sendiri. Keadilan yang dirasakan oleh terdakwa, maka terdakwa akan tahu bahwa kesalahan yang ia perbuat itu mendapatkan keringanan hukuman berdasarkan hal-hal yang meringkan yang disebut di dalam pembacaan putusan pengadilan sehingga terdakwa merasa mendapatkan pengampunan atas perbuatan yang dilakukan meski harus menjalani hukuman. Apabila disebutkan hal yang memberatkan bagi terdakwa, maka terdakwa merasa bahwa perbuatannya itu dapat merugikan orang lain atau dirinya sendiri, maka terdakwa akan merasa pantas menerima hukuman yang dijatuhkan tersebut.

Hakim dalam menjatuhkan pidana, juga memperhatikan masa depan terdakwa, misalnya terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah bagi isri dan anak-anaknya, maka hakim mempertimbangkan hal yang demikian, sehingga terdakwa mendapatkan keringanan sanksi.

Hal lain yang menjadi pertimbangan hakim adalah masalah umur terdakwa. Umur seorang terdakwa dapat mempengaruhi pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan. Misalnya terdakwa telah berusia lanjut, maka sanksi yang akan diberikan tentunya berbeda dengan terdakwa yang masih berusia produktif. Namun hal ini tentunya tidak bersifat mutlak, maksudnya adalah tergantung pada kasus yang dihadapi. Dalam kasus penyalahgunaan narkotika, masalah umur menurut pendapat hakim dan berdasarkan pada kenyataan (fakta) di persidangan merupakan hal yang harus dipertimbangkan sebelum hakim memutuskan perkara.

Suatu putusan hakim tidak berdiri sendiri tetapi mempunyai kekuatan berlaku untuk peristiwa serupa yang terjadi kemudian hari. Hal ini adalah demi kesatuan dan kepastian hukum. Kesatuan hukum menuntut keseragaman putusan terhadap perkara yang serupa. Sedangkan kepastian hukum mengharap agar perkara serupa tidak diputus berbeda. Jadi putusan hakim itu tidak bersifat normatif, yang berarti bahwa putusan hakim itu tidak hanya

(8)

8

berlaku bagi peristiwa tertentu saja, tetapi juga berlaku bagi peristiwa-peristiwa lainya yang serupa yang terjadi kemudian.

Hal-hal tersebut harus diperhatikan untuk menjamin obyektifitas tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum. Selain itu hakim menjaga tertib sidang, menguasai hukum materil, menjaga hak-hak terdakwa, mengusai hukum acara (hukum formil). Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup di dalam masyarakat. Masyarakat di Indonesia masih mengenal adanya hukum tidak tertulis. Hakim merupakan perumus dan penggali nilai-nilai hukum yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, sehingga hakim dapat memutuskan dengan rasa keadilan dan dapat dipertanggungjawabkan terhadap masyarakat.

Menurut penulis, meskipun pada kenyataannya dewasa ini masih sering ditemui beberapa kasus tentang dasar penjatuhan pidana bagi penyalahgunaan narkotika yang belum sesuai dengan Undang-undang Narkotika, namun dapat dipahami bahwa dengan dikeluarkannya Undang-undang Narkotika, telah banyak mempunyai pengaruh terhadap kerja aparat penegak hukum.

Pengaruh itu antara lain terlihat pada adanya dasar hukum dalam penyelesaian perkara penyalahgunaan narkotika, berbeda dengan sebelum adanya Undang-undang Narkotika, aparat penegak hukum dalam melakukan tindakan terhadap penyalahgunaan narkotika tidak mempunyai pedoman untuk melakukan tindakan karena belum diketahui definisi apa yang dimaksud tentang narkotika. Akibatnya banyak putusan yang jauh berbeda mengenai hal yang sama, dan bahkan banyak pelaku penyalahgunaan narkotika yang sudah tertangkap malah dilepaskan dengan alasan belum ada aturan hukumnya.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Putusan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan

Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Narkotika

Putusan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap tindak pidana narkotika dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi perilaku hakim dalam menyelesaikan perkara. Faktor eksternal misalnya, tekanan pemerintah demi terciptanya kepentingan yang menyangkut wibawa pemerintah ataupun demi kepentingan lainnya. Kadang pemerintah turut campur dalam kasus-kasus tertentu dan juga adanya tekanan dari kelompok-kelompok tertentu untuk memaksakan kehendaknya atau turut campur dalam persidangan. Apabila hakim tidak mempunyai kepribadian yang kuat dan tidak teguh pendirianya sebagai penegak hukum dan keadilan, maka tekanan dari luar ini dapat berpengaruh sekali dalam mengambil suatu keputusan.

Tekanan keadaan juga mempengaruhi hakim secara internal, tekanan keadaan ini adalah suatu keadaan pada saat yang harus dihadapi oleh hakim di dalam menjalankan tugasnya. Tidak berbeda dengan anggota-anggota masyarakat yang lain, maka seorang hakim sebagai anggota masyarakat juga menepati kedudukan tertentu di dalamnya. Kedudukan tertentu ini tidak dapat ditetapkan atau dikehendaki secara otonomi oleh orang-orang yang bersangkutan. Apa yang ingin dilakukan atau dikehendaki oleh seorang hakim dapat ditentukan sendiri secara penuh, melainkan sangat tergantung pula akan nilai-nilai dan susunan masyarakat.

Menurut Bapak H.M. Luthfie, S.H., faktor internal yang dapat mempengaruhi hakim dalam mengambil suatu keputusan adalah:

1. Subyektif

(9)

9

Sikap ini jelas bertentangan dengan asas yang dijunjung tinggi dalam peradilan yaitu asas praduga tak bersalah.

b. Sikap perilaku emosional, perilaku hakim yang mudah tersinggung atau marah akan berbeda dengan perilaku hakim yang penuh pengertian, sabar dan teliti dalam menangani suatu perkara. Hal ini jelas akan berpengaruh pada hasil keputusannya.

c. Sikap perilaku arogan, hakim yang memiliki sikap arogan merasa dirinya berkuasa dan pandai melebihi orang lain sering kali mempengaruhi keputusannya.

d. Moral, faktor ini merupakan landasan yang sangat vital bagi penegak hukum dan keadilan terutama hakim.

2. Obyektif

a. Latar belakang Sosial, Budaya, dan Ekonomi

Latar belakang sosial seorang hakim mempengaruhi sikap perilaku hakim. Dalam kajian sosiologis menunjukkan bahwa hakim yang berasal dari status sosial tinggi berbeda cara memandang suatu permasalahan yang ada dalam masyarakat, bila dibandingkan dengan hakim yang berasal dari lingkungan status sosial menengah ke bawah. Kebudayaan atau pendidikan seorang hakim juga ikut mempengaruhi suatu keputusan hakim. Hakim yang berasal dari lingkungan budaya yang keras dan liberal tentu akan berbeda dalam menangani suatu perkara dibanding dengan hakim yang berasal dari lingkungan budaya yang halus, longgar, dan kekeluargaan. Pendidikan seorang hakim juga ikut mempengaruhi sikap perilakunya. Hakim yang rajin mengikuti pendidikan tambahan, sepeti penataran, kursus-kursus atau bahkan melanjutkan pendidikan yang stratanya lebih tinggi tentu akan memiliki lebih banyak dasar pertimbangan dalam memutus sautu perkara, dibanding dengan seorang hakim yang hanya mengandalkan pendidikan sarjana hukumnya. Satu hal lagi yang banyak mempengaruhi perilaku hakim adalah latar belakang ekonomi. Sebagai manusia biasa yang harus mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, faktor ekonomi seringakali mempengaruhi pola pikirnya. Bisa saja karena desakan ekonomi, seorang hakim yang awalnya memiliki komitmen kuat, secara berangsur-angsur lemah pendiriannya dan menjadi pragmatis. Pada taraf yang paling parah, faktor ini bahkan bisa mendorong hakim berani melakukan tindakan yang salah hanya karena demi mendapatkan imbalan materi. Faktor ini tentunya tidak bersifat absolut, sebab hakim yang memegang teguh kode etik kehormatan hakim, tidak dapat dipengaruhi oleh faktor apapun termasuk desakan ekonomi.

b. Profesionalisme

(10)

10

keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menyelesaikan perkara, menegakkan hukum dan memberikan keadilan.10

Faktor-faktor tersebut menurut penulis sangat relevan jika dikaitkan dengan penjatuhan pidana terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkotika. Apabila seorang hakim mempunyai sikap yang apriori, emosional, atau arogansi, maka dapat saja penjatuhan pidananya diperberat. Namun apabila seoarang hakim mempunyai sikap yang arif dan bijaksana, maka hakim tersebut akan mempertimbangkan banyak faktor, terutama dari sisi nilai sosial dan nilai kemanusiaan, dapat menyebabkan hakim menjatuhkan pidana yang dapat meringankan terdakwa.

Sikap terdakwa yang sopan, masa depan terdakwa yang masih panjang, serta penyebab terdakwa melakukan tindak pidana atau penyalahgunaan narkotika tentu dijadikan sebagai dasar pertimbangan tersendiri oleh hakim. Seorang terdakwa yang baru pertama kali dihukum akibat salah pergaulan, tentu penjatuhan sanksinya akan berbeda dengan seorang terdakwa yang telah berulang kali dihukum. Seorang terdakwa yang baru pertama kali dihukum dan dijatuhi hukuman yang meringankan terdakwa oleh hakim, maka hakim mempunyai penilaian bahwa tingkah laku terdakwa masih dapat diperbaiki.

Sekalipun terikat pada suatu sistem yang ketat namun hakim dan peradilan tidak identik dengan mesin peradilan yang dapat bekerja secara sistematis atau mekanis dalam menyelesaikan perkara. Alasan sebenarnya sangat jelas dan sederhana, pertama karena hakim adalah manusia yang dapat bekerja dengan akal budinya, sehingga dalam menyelesaikan suatu perkara tidak cukup hanya mengandalkan daya pikir dan keterampilan dalam mengoperasionalisasikan hukum, namun juga berlandaskan moral yang muncul dari hati nuraninya.

Kasus yang bervariasi dapat berpengaruh terhadap putusan hakim, namun hal ini tentu saja masih tergantung dari banyak faktor, seperti situasi, dan kondisi masyarakat, sistem pengawasan dan lain-lainnya. Faktor lain yang paling menentukan adalah sikap dari hakim itu sendiri dalam mengadapi kasus-kasus tersebut.

Bapak H.M. Luthfie, S.H., mengatakan bahwa jenis-jenis kasus di pengadilan jika dikaitkan dengan kondisi hakim yang dapat berpengaruh terhadap hasil putusan antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Jika dikaitkan dengan profesionalisme hakim, maka ada perkara yang sederhana dan ada perkara sulit. Bagi hakim yang profesional (dalam arti keterampilan yang memadai dan berpengalaman), variasi perkara itu tidak menjadi masalah, namun bagi hakim yang masih kurang dalam pengalaman, maka akan berpengaruh sekali dalam menangani perkara sulit.

2. Jika dikaitkan dengan semangat hakim, maka ada perkara yang menarik dan membuka tantangan baru. Perkara-perkara semacam ini dapat memacu semangat hakim untuk belajar, berkembang, dan berusaha menyelesaikan sebaik-baiknya. Sebaliknya, apabila ada perkara yang ditangani bersifat monoton dan rutin maka dapat menimbulkan kejenuhan bagi hakim.

3. Jika dikaitkan dengan kepribadian hakim, maka ada perkara yang menyangkut obyek perkara kecil, beresiko tinggi, dan bersifat ketat. Namun ada juga perkara yang menyangkut obyek perkara yang besar yang tidak beresiko, dalam arti menyimpan kemungkinan untuk berkolusi. Bagi hakim yang memiliki kepribadian kuat dan teguh

(11)

11

berpegang pada komitmen sebagai penegak hukum dan keadilan, maka jenis-jenis perkara seperti itu tidak ada pengaruhnya, karena yang menjadi tujuannya adalah bagaimana memutuskan perkara dengan sebaik-baiknya dan seadil adilnya.11

Dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika tidak hanya memperhatikan atau menilai terdakwa di luar pengadilan saja, dalam arti kelakuan terdakwa di masyarakat yang dijelaskan oleh keterangnan saksi, tetapi juga memperhatikan kelakuan terdakwa di persidangan.

C. Analisis Data Putusan Pengadilan

Dalam mengambil dan melakukan analisis data terhadap pertimbangan dan putusan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana narkotika, maka penulis melakukan analisis terhadap salah satu putusan di Pengadilan Negeri Yogyakarta, yaitu Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta Nomor: 262/Pid.B/2007/PN.YK. Analisis Putusan tersebut sebagai berikut:

PUTUSAN

Nomor 262/Pid.B/2007/PN.YK

“DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”

Pengadilan Negeri Yogakarta yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana acara pemeriksaan biasa dalam peradilan tingkat pertama telah menjatuhkan putusan seperti di bawah ini dalam perkara terdakwa:

1. Identitas Terdakwa

Nama : DADANG YAMIN alias ANDI

Tempat Lahir : Jakarta

Umur/Tgl. lahir : 27 tahun, 26 April 1984 Jenis Kelamin : Laki-laki

Kebangsaan : Indonesia

Tempat Tinggal : Jl. Argo Sedayu Bantul, atau Jl. Pelepah Asri I QJ 4/16 RT 011 RW 12 Kelapa Gading Jakarta Utara

Agama : Kristen

Pekerjaan : Wiraswasta

Pendidikan : SMU

2. Posisi Kasus

Dalam hal memeriksa dan mengadili perkara terhadap DADANG YAMIN alias ANDI didakwa dengan dua dakwaan sebagai berikut:

1) Bahwa terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI pada hari Rabu tanggal 29 Agustus 2007, bertempat di halaman parkir depan gedung Pertamina Jl. Pangeran Mangkubumi Jetis Yogyakarta atau setidak-tidaknya disuatu tempat lain yang termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Yogyakarta, secara tanpa hak dan melawan hukum telah memiliki menyimpan untuk dimiliki atau mengusai narkotika golongan I bukan tanaman berupa putaw dengan berat 0,2 gram yang berdasarkan hasil tes/pengujian yang dikeluarkan oleh Laboratorium Forensik Cabang Semarang tanggal 12 Septembar 2007 Nomor: 764/KNF/IX/2007 yang kesimpulannya menyatakan putaw tersebut mengandung heroin, heroin termasuk narkotika golongan 1 (satu) dalam UU RI

(12)

12

Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, Yang dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut:

Pada hari Rabu tanggal 29 Agustus 207 sekitar pukul 10.00 WIB telah nyata kedapatan memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau menguasai narkotika golongan I bukan tanaman berupa putaw dengan berat 0,2 gram, saat petugas kepolisian yang mendapat informasi dari masyarakat menindaklanjuti informasi tersebut dan mendapatkan terdakwa di halaman parkir di depan gedung Pertamina Jl. Pengeran Mangkubumi Jetis Yogyakarta kemudian sewaktu kepolisian melakukan pemeriksaan dan penggeledahan badan/pakaian terhadap diri terdakwa telah ditemukan 1 (satu) bungkus Koran berisi 1 (satu) bungkus plastik putih berisi putaw dengan berat 0,2 gram yang digenggam menggunakan tangan sebelah kanan yang menurut keterangan terdakwa putaw tersebut diperoleh dengan seorang yang bernama Denis (belum tertangkap), selanjutnya terdakwa berikut barang bukti berupa 1 (satu) bungkus kertas Koran berisi 1 (satu) bungkus plastik putih yang berisi putaw dengan berat 0,2 gram tersebut dibawa ke Polda DIY untuk diproses perkaranya lebih lanjut.

2) Bahwa ia terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI pada hari Rabu tanggal 29 Agustus 2007 sekitar pukul 10.00 WIB atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam tahun 2007, bertempat di halaman Gedung Pertamina Mangkubumi Jetis Yogyakarta atau setidak-tidaknya disuatu tempat lain yang termasuk dalam daerah hukum pengadilan Negeri Yogyakarta, secara tanpa hak dan melawan hukum telah menggunakan narkotika golongan 1 bagi diri sendiri berupa putaw yang dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut:

Bahwa ia terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI pada hari Rabu tangal 29 Agustus 2007 sekitar pukul 10.00 WIB telah kedapatan menggunakan narkotika golongan I berupa putaw dengan cara putaw ditaruh di atas kertas timah rokok kemudian di bawah kertas timah tersebut dibakar menggunakan korek api gas dan setelah keluar asapnya dihirup dengan menggunakan sedotan yang terbuat dari kertas yang dilinting, kemudian terdakwa ditangkap petugas kepolisian yang sebelumnya telah mendapatkan informasi dari masyarakat dan menindaklanjuti informasi tersebut, sewaktu petugas kepolisian melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap terdakwa telah ditemukan 1 (satu) bungkus kertas koran berisi 1 (satu) bungkus plastik putih yang berisi putaw dengan berat 0,2 gram sisa dari yang dipergunakan terdakwa, selanjutnya terdakwa berikut barang buktinya dibawa ke Polda DIY untuk diproses perkaranya lebih lanjut, dari hasil laboratorium terdapat urine terdakwa sebagaimana hasil Urinalisis No. Pol: R/219/IX/2007/Biddokkes dan Berita Acara Pemeriksaan Urine No. Pol: R/219/IX/2007/Bidokkes tanggal 29 Agustus 2007 dengan hasil: MORFIN/PUTAW (+) Positif; Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diacam pidana dalam pasal 85 huruf a Undang-undang Nmor 22 tahun 1997 tentang Narkotika.

3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

(13)

13

sebagaimana diatur dan diacam pasal 85 huruf a Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika.

4. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum

Setelah mendengar tuntutan Penuntut Umum, yang pada pokoknya menuntut agar majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuhkan putusan sebagai berikut:

1) Menyatakan terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tidak pidana “Secara tanpa hak dan melawan hukum telah menggunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri” sebagaimana diatur dan diacam pidana dalam pasal 85 huruf a Undang – undang Nomor 1997 tentang Narkotika sebagaimana dalam dakwaan kedua; 2) Menjatuhkan pidana terhadap terdawa DADANG YAMIN alias ANDI dengan

pidana penjara selama 8 (delapan) bulan dikurangi selama terdkawa berada dalam tahanan sementara dengan perintah terdakwa tetap ditahan;

3) Menyatakan barang bukti berupa putaw berat 0,0358 gram (sisa pengujian Labolatorium Forensik Cabang Semarang) beserta bungkusnya dirampas untuk dimusnahkan;

4) Menetapkan agar terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI membayar biaya perkara sebesar Rp.1000,- (Seribu rupiah).

5. Putusan Hakim

MENGADILI

1) Menyatakan terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana: “tanpa hak melawan hukum memiliki Narkotika Golongan I bagi diri sendiri“ ;---2) Menjatuhkan Pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana penjara

selama 6 (enam) bulan ;---3) Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangi

seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;

-4) Memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan ;---5) Memerintahkan barang bukti berupa

;

-1 (satu) bungkus kertas Koran berisi -1 (satu) bungkus plastik putih berisi putaw berat kurang lebih 0,0358 gram (sisa pengujian Labolatorium Forensik Semarang) beserta bungkusnya Dirampas untuk dimusnahkan ;--- 6) Membebaskan kepada terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.1.000,- (seribu rupiah) ;

-6. Analisa

Dalam kasus tersebut di atas menyatakan bahwa terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak dan melawan hukum memiliki narkotika golongan I bagi diri sendiri.

(14)

14

(15)

15

Berdasarkan dakwaan alternatif tersebut, majelis hakim menentukan pilihan dakwaan yang terpenuhi seluruh unsur-unsurnya sehingga dinyatakan terbukti, yaitu dakwaan kedua melanggar Pasal 85 huruf a UU No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, dengan unsur-unsur sebagai berikut:

“Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum menggunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun”.

Berdasarkan dakwaan penuntut umum, yang pada pokoknya menuntut agar majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI dengan pidana penjara 8 (delapan) bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan, dan pasal 85 huruf a UU No. 22 tahun1997 memberikan ancaman pidana penjara 4 tahun, namun putusan yang dijatuhkan oleh hakim terhadap terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI yaitu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dikurangi masa tahanan.

Putusan hakim tersebut yang merupakan putusan pidana di bawah tuntutan penuntut umum dan juga di bawah ketentuan minimum khusus. Menurut penulis putusan hakim tersebut tidak perlu diperdebatkan karena hakim dalam memutuskan satu perkara pidana khusunya dalam tindak pidana penyalahgunaan narkotika, hakim tidak hanya menilai terdakwa dari segi perbuatan saja, tetapi banyak segi atau faktor-faktor yang menjadi pertimbangan-pertimbangan hakim. Dalam hal ini hakim mempunyai pertimbangan serta penilaian bahwa terdakwa tesebut masih dapat diperbaiki.

Pertimbangan-pertimbangan yang diambil oleh hakim dalam memutuskan suatu perkara, hal ini dapat dilihat dalam pasal 51 rancangan KUHP tahun 1999-2000 dan hasil wawancara dengan Bapak H.M. Luthfie, S.H., sebagai salah seorang hakim

5. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat tindak pidana. 6. Pengaruh tindak pidana terhadap masa depan pembuat pidana. 7. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. 8. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. 9. Tanggung jawab pelaku terhadap korban.

10. Apakah tindakan pidana dilakukan dengan rencana.12

Selain itu hakim juga mempertimbangkan hal-hal yang meringakan dan memberatkan terdakwa sebagaimana yang terdapat pada rancangan KUHP baru yaitu pasal 124 dan pasal 126. Di samping pertimbangan-pertimbangan tersebut, dalam menjatuhkan pidana khususnya terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkotika, hakim juga dipengaruhi oleh faktor-faktor baik berupa faktor eksternal dan internal dalam menyelesaikan perkara.

Seorang hakim mempunyai kebebasan atau kemandirian dalam menjatuhkan putusan. Kemandirian kekuasaan kehakiman atau kebebasan kehakiman bersifat universal yaitu dalam melaksanakan peradilan, hakim pada dasarnya bebas dalam memeriksa dan mengadili perkara dan bebas dari campur tangan atau turun tangan

12

(16)

16

kekuasaan extra yudisiil. Kebebasan hakim bukanlah dimaksudkan adanya semacam hak istimewa dari para hakim untuk dapat berbuat sebebas-bebasnya, akan tetapi dimaksudkan agar hakim dapat menjatuhkan putusan sesuai dengan hati nuraninya.

Kebebasan hakim bukan berarti bahwa hakim dapat berbuat sesuka hatinya, namun hakim harus mempertanggungjawabkan keputusannya seperti dalam ketentuan Undang-undang Nomor 4 tahun 2004 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2009) tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman, dimana putusan hakim harus berisi alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan. Berdasarkan kasus tersebut, maka pertimbagan hakim terhadap terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI yang pada intinya mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan terdakwa, yaitu:

1. Yang memberatkan:

a. Perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah dalam pemberantasan narkoba.

2. Yang meringakan:

a. Terdakwa mengakui dan menyesali atas perbuatannya. b. Terdakwa berlaku sopan dalam persidangan.

c. Terdakwa berterus terang sehingga persidangan berjalan dengan lancar. d. Terdakwa sekarang anak bimbingan rohani dari gereja Gerakan

Pentakosta, Bantul, Yogyakarta.

Di samping hal tersebut bahwa terdakwa tidak termasuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan terdakwa masih dalam proses penyembuhan. Dalam hal ini hakim juga mempertimbangan terdakwa yang baru pertama kali dihukum.

Pertimbangan-pertimbangan di atas digunakan hakim dalam mengambil putusan yaitu dalam mempertimbangan terdakwa, untuk itu jelas kita ketahui bahwa tujuan penjatuhan pidana bukan hanya untuk penderitaan, maka penjatuhan putusan pidana terhadap terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI adalah dilakukan oleh seorang hakim dengan pertimbangan yang sangat matang dan penuh dengan pertanggungjawaban.

Berdasarkan keputusan hakim tersebut terhadap terdakwa DADANG YAMIN alias ANDI, sesuai dengan pendapat Leden Marpaung13 yang menganut asas “the persuasive of presedent” yang menurut asas ini hakim diberi kebebasan dalam memutuskan suatu perkara tanpa terikat dengan keputusan hakim terdahulu, dan menganut asas “the binding force of presedent“ dimana seorang hakim dapat

mengambil keputusan berdasarkan keyakinan, sehingga dapat disimpulkan setiap pengambilan keputusan oleh hakim di Indonesia tidak terikat dengan Yurisprudensi.

Dalam hal ini menurut penulis, hakim menjatuhkan putusan berdasarkan keyakinan, namun yang harus diperhatikan oleh hakim dalam menjatuhkan putusan di samping alasan dan pertimbangan yang ada, yang paling pokok keputusan mengandung unsur keadilan terhadap terdakwa, karena hal ini merupakan tujuan utama dibentuknya hukum.

(17)

17

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan (hasil penelitian dan analisis data) yang telah diuraikan tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang pada intinya memperhatikan pada hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan pidana, namun keputusan hakim tersebut harus mampu dipertanggungjawabkan dan memberikan serta menciptakan rasa keadilan.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan hakim dalam menjatuhkan hukuman pidana khususnya terhadap pelaku tindak pidana narkotika adalah faktor di luar aspek yuridis, seperti kelakuan terdakwa di persidangan maupun di luar persidangan, umur terdakwa, serta masa depan terdakwa, sehingga dengan keleluasaan hakim dalam menjatuhkan pidana, namun ada pembatasan tentang kebebasan hakim tersebut bahwa sifat kebebasan hakim tidak mutlak, sebab tugas hakim adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pacasila.

3. Hakim di Indonesia dalam menjatuhkan pidana menganut asas “the persuasive of

presedent“ yang menurut asas ini hakim diberi kebebasan dalam memutus suatu

perkara tanpa terikat dengan keputusan hakim terdahulu, dan juga menganut asas

the binding force of presedent“ dimana seorang hakim dapat mengambil

keputusan berdasarkan keyakinan.

B. Saran

Berdasarkan pada kesimpulan tersebut maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Hakim dalam menjatuhkan pidana haruslah menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang benar-benar matang dan dapat dipertanggungjawabkan terhadap masyarakat.

2. Penjatuhan pidana diharapkan dapat memberikan dan menciptakan rasa keadilan baik bagi terpidana maupun terpidana yang lain.

3. Hakim harus lebih serius, jujur dan maksimal dalam memutuskan perkara penyalahgunaan narkotika.

4. Berbicara tentang narkotika merupakan hal yang menarik dan serius, untuk itu sebaiknya hakim menjatuhkan hukuman mati bagi para pengedar gelap narkotika dan diharapkan hakim memberikan rehabilitasi terhadap pengguna ataupun yang sudah ketergantungan.

5. Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap pelaku penyalahgunaan narkotika jangan hanya melihat dari segi keadilan saja tetapi harus memperhatikan mental daripada tersangka.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002

C.S.T. Kansil & Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Hukum Pidana (Hukum Pidana untuk Tiap

Orang), Pradnya Paramita, Jakarta, 2004

Hartono Hadisoeprapto, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1999

(18)

18

Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, PT. Bina Aksara, 1987

M. Wresniwiro, dkk, Masalah Narkotika, Psikotropika, dan Obat-obat Berbahaya, Yayasan Mitra Bintibmas, 1999

Santosa Sembiring, Undang-Undang Narkotika dan Psikotropika, Nuana Aulia, Bandung, 2007

Soedjono Dirjosisworo, Hukum Narkotika Indonesia, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1990

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta, 1999

Sudikno Mertokusumo, Relevansi Peneguhan Etika Profesi Bagi Kemandirian Kekuasaan

Kehakiman, pada seminar 50 tahun Kemandirian Kekuasan Kehakiman di Indonesia,

Fakultas Hukum UGM, 26 Agustus 1995

Taufik Makarau, Tindak Pidana Narkotika, Ghalia, Indonesia, Jakarta, 2003

Peraturan Perundang-undangan

Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 143 Tahun 2009) tentang Narkotika

Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2009) tentang Kekuasaan Kehakiman

Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 49 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 158 Tahun 2009) tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum

Rancangan Peraturan Perundang-undangan

Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Sumber Lain (Internet)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...