Penyebab Gagalnya Kerja Sama antar Dua N

28 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mengapa antar dua perusahaan yang berbeda negara bisa gagal menjalin kerja sama?

Dalam melakukan suatu kerja sama, hal yang paling utama harus dilakukan oleh sebuah organisasi atau perusahaan adalah komunikasi bisnis. Apabila kerja sama tersebut merupakan kerja sama antar perusahaan di dalam satu negara, maka komunikasi yang dilakukan tidak terlalu sulit, karena budaya, terutama bahasa, sama dengan perusahaan tersebut. Akan tetapi, bagaimana jika perusahaan tersebut ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan di negara lain yang budaya dan bahasanya berbeda dengan negara asalnya? Jawabannya adalah dengan mempelajari komunikasi bisnis lintas budaya. Secara sederhana, komunikasi bisnis lintas budaya adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis baik komunikasi verbal maupun nonverbal dngan memperhatikan faktor-faktor budaya di suatu daerah, wilayah, atau negara.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa bisa terjadi kegagalan dalam menjalin kerja sama antar dua perusahaan yang berbeda negara meskipun sudah mempelajari komunikasi bisnis lintas budaya? Dalam era globalisasi, ketika banyak perusahaan asing yang melakukan kegiatan bisnis di suatu negara, diperlukan pemahaman yang baik dan benar terhadap budaya negara tersebut. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegagalan dalam menjalin bisnis kerja sama adalah karena adanya kesalahan dalam berkomunikasi antar perusahaan yang bersangkutan.

Perbedaan budaya dapat dilihat dari nilai sosial, peran dan status, kebiasaan pengambilan keputusan, sikap terhadap waktu, penggunaan ruang/jarak, konteks budaya, bahasa tubuh, hukum, perilaku etis, dan perbedayaan budaya perusahaan. Kemungkinan, gagalnya pengajuan kerja sama tersebut disebabkan oleh penyimpangan terhadap beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya.

Misalnya, pandangan terhadap peran wanita di dunia usaha. Di negara-negara yang sedang berkembang, peran wanita dalam dunia bisnis masih relatif lemah dan kurang diakui. Sementara itu, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat an Eropa, peran wanita di dunia bisnis sudah cukup kuat. Maka dari itu, apabila sebuah perusahaan A dari negara maju dengan pemimpin seorang wanita ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan B di negara berkembang, ada kemungkinan pemimpin dari perusahaan B kurang bisa mempercayai bahwa perusahaan A yang dipimpin oleh wanita itu dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaannya. Bagi mereka, peran wanita tidak sebaik peran kaum pria. Wanita dinilai tidak dapat mengambil keputusan dengan tegas. Kemudian masalah status juga demikian.

(2)

sesuatu. Hal ini dapat menyebabkan pengajuan kerja sama menjadi gagal karena dianggap tidak sopan.

Perilaku etis dan tidak etis pun di setiap negara berbeda. Di beberapa negara, perusahaan diharapkan membayar sejumlah uang secara resmi untuk persetujuan kontrak pemerintah. Pembayaran tersebut dianggap hal yang wajar dan rutin. Sementara itu, di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Swedia, hal itu bisa dikategorikan sebagai bentuk suap sehingga tidak etis dan ilegal. Sebagai contoh, perusahaan X ingin menjalin kontrak kerja sama dengan perusahaan Y dari negara lain. Perusahaan X sudah biasa melakukan pembayaran uang dalam menyetujui suatu kontrak. Sedangkan perusahaan Y sebaliknya, menganggap hal itu tidak etis. Ketika pemimpin perusahaan X dan perusahaan Y bertemu, dan awalnya sepakat untuk menjalin kerja sama, namun karena perusahaan X tidak mengetahui akan hal etis yang berlaku di negara tersebut, ia membayar sejumlah uang dengan maksud setuju terhadap kontrak. Hal ini akan dipandang sebagai tindakan menyuap dan tidak etis bagi perusahaan Y. Sehingga kontrak yang tadinya sudah disepakati bisa dibatalkan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...