MAKALAH SEMINAR
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
INVESTASI DAN KEWAJIBAN
MADE GDE SATRIA BELA
A31115753
S1 STAR-BPKP BATCH 2
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan makalah seminar akuntansi sektor publik ini. Terima kasih sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Bapak Dosen Dr. H. Arifuddin, S.E., M.Si., Ak. CA yang telah memberikan bimbingan dan pembelajaran komprehensif kepada penulis.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat menambah wawasan dan memperluas ilmu tentang akuntansi sektor publik yang penulis sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber, khususnya akuntansi pemerintahan. Kami berharap makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari dan memahami konsep dan implementasi dari akuntansi sektor publik secara lebih mendalam sehingga memberikan manfaat dan kontribusi bagi perkembangan ilmu akuntansi sektor publik.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Makassar, Oktober 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ...ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUANG LINGKUP ... 2
d. Dokumen Yang Digunakan ... 7
2. Pengakuan ... 8
3. Pengukuran ... 9
4. Metode Penilaian Investasi ... 10
a. Metode biaya ... 10
b. Metode ekuitas ... 10
c. Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan ... 10
5. Pengakuan Hasil Serta Pelepasan Dan Pemindahan Investasi ... 11
6. Jurnal Standar Pemerintah Pusat ... 12
a. Perolehan Investasi ... 12
b. Pendapatan Hasil Investasi... 12
c. Pelepasan Investasi... 12
7. Jurnal Standar Pemerintah Daerah... 12
a. Perolehan Investasi ... 12
b. Hasil Investasi... 14
c. Pelepasan Investasi... 16
8. Perlakuan Khusus... 17
a. Badan Layanan Umum (BLU) ... 17
b. Investasi Dalam Saham Bersaldo Minus... 17
c. Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) ... 17
d. Dana Bergulir Yang Belum Digulirkan/Diinvestasikan dan Yang Tidak Digulirkan Kembali... 18
9. Penyajian Di Laporan Keuangan... 18
10. Pengungkapan... 20
B. AKUNTANSI KEWAJIBAN... 21
a. Definisi... 21
b. Klasifikasi... 21
2. Pengakuan ... 24
a. Transaksi dengan Pertukaran (exchange transactions) ... 24
b. Transaksi tanpa Pertukaran (non-exchange transactions) ... 24
c. Kejadian yang Berkaitan dengan Pemerintah (government-related events) ... 24
d. Kejadian yang Diakui Pemerintah (government-acknowledge events) ... 24
3. Pengukuran ... 25
a. Pengukuran Utang kepada Pihak Ketiga... 25
b. Pengukuran Utang Transfer... 25
c. Pengukuran Utang Bunga... 25
d. Pengukuran Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) ... 25
e. Pengukuran Bagian Lancar Utang Jangka Panjang ... 26
f. Pengukuran Kewajiban Lancar Lainnya ... 26
g. Utang yang tidak diperjualbelikan ... 26
h. Utang yang diperjualbelikan... 26
4. Penyelesaian Kewajiban Sebelum Jatuh Tempo Dan Tunggakan ... 26
5. Restrukturisasi ... 27
a. Definisi... 27
b. Pengakuan ... 28
c. Pengukuran ... 28
d. Penyajian dan Pengungkapan ... 28
6. Penghapusan Utang ... 28
7. Biaya-Biaya Yang Berhubungan Dengan Utang Pemerintah ... 29
8. Jurnal Standar Pemerintah Pusat ... 29
9. Sistem Akuntansi Kewajiban di SPKD ... 31
a. Pihak-pihak Terkait ... 31
b. Dokumen yang Digunakan... 32
c. Jurnal Standar ... 32
10. Sistem Akuntansi Kewajiban di PPKD ... 34
a. Pihak-Pihak Terkait... 34
b. Dokumen Yang Digunakan ... 34
c. Jurnal Standar ... 35
d. Penyajian dan Pengungkapan ... 38
BAB III PENUTUP... 39
A. KESIMPULAN... 39
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Undang - Undang di bidang keuangan negara mewajibkan entitas pemerintah untuk menyajikan laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran dan penggunaan sumber daya dalam periode tertentu. Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, serta membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan. Selain itu, laporan keuangan entitas pelaporan juga menyediakan informasi mengenai antara lain aset, kewajiban, dan ekuitas. Penyusunan dan penyajian laporan keuangan tersebut dimaksudkan untuk memenuhi prinsip transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.
Akuntansi didefinisikan sebagai sebuah proses identifikasi, pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran atas semua transaksi dan aktivitas keuangan, penyajian laporan, serta penginterpretasian atas hasilnya. Definisi tersebut diambil dari Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah yang merupakan acuan dasar dalam pelaksanaan akuntansi di setiap instansi pemerintahan di Indonesia, termasuk di Pemerintah Daerah dan satuan kerja di dalamnya.
Proses akuntansi ini akan mengolah semua transaksi dan aktivitas keuangan yang ada di setiap entitas Pemerintah Pusat/Daerah. Proses tersebut kemudian menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang akan digunakan dalam proses evaluasi dan pengambilan keputusan manajerial yang kemudian akan mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan keuangan negara/daerah pada periode berikutnya. Jadi, input dari proses akuntansi adalah transaksi dan ouputnya berupa laporan keuangan.
Pihak yang melaksanakan proses akuntansi ini dibagi menjadi dua entitas, yaitu entitas akuntansi dan entitas pelaporan. Entitas akuntansi merupakan satuan kerja yang merupakan pengguna anggaran yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan keuangan atas dasar akuntansi yang diselenggarakannya untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Dalam hal ini, yang dimaksud entitas akuntansi adalah SKPD dan PPKD.
Investasi merupakan aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial, sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Investasi merupakan instrumen yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk memanfaatkan surplus anggaran untuk memperoleh pendapatan dalam jangka panjang dan memanfaatkan dana yang belum digunakan untuk investasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas.
Kewajiban merupakan dampak transaksi masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi. Kewajiban pemerintah dapat timbul dari pengadaan barang dan jasa atau gaji yang belum dibayar, dan kewajiban pemerintah yang timbul dari keharusan membayar kembali pinjaman dalam negeri (obligasi), pinjaman lembaga internasional, pinjaman dari pemerintah lain, atau pinjaman lembaga keuangan dalam negeri.
Akuntansi kewajiban meliputi pengakuan, pengukuran, serta pelaporan dan pengungkapan seluruh transaksi kewajiban yang menyebabkan timbulnya utang, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk perlakuan atas restrukturisasi utang, penghapusan utang dan kapitalisasi biaya pinjaman.
B. RUANG LINGKUP
Makalah Investasi dan Kewajiban ini secara khusus mempelajari akuntansi Investasi dan Kewajiban dalam penerapan akuntansi berbasis akrual yang diterapkan untuk tujuan umum, serta untuk seluruh entitas pemerintah pusat dan daerah tidak termasuk perusahaan negara/daerah.
C. TUJUAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. AKUNTANSI INVESTASI
1. Gambaran Umum
a. Definisi
Investasi merupakan aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial, sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintah melakukan investasi dimaksudkan antara lain untuk memperoleh pendapatan dalam jangka panjang atau memanfaatkan dana yang belum digunakan untuk investasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas. Terdapat beberapa jenis investasi yang dapat dibuktikan dengan sertifikat atau dokumen lain yang serupa. Hakikat suatu investasi dapat berupa pembelian surat utang baik jangka pendek maupun jangka panjang, serta instrumen ekuitas.
Investasi merupakan instrumen yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk memanfaatkan surplus anggaran untuk memperoleh pendapatan dalam jangka panjang dan memanfaatkan dana yang belum digunakan untuk investasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas.
b. Klasifikasi
Investasi pemerintah diklasifikasikan berdasarkan jangka waktunya menjadi dua yaitu investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan kelompok aset lancar sedangkan investasi jangka panjang merupakan kelompok aset nonlancar. Pos-pos investasi menurut PSAP Berbasis Akrual Nomor 06 tentang Investasi antara lain:
1) Investasi Jangka Pendek
jangka pendek. Jenis investasi yang tidak termasuk dalam kelompok investasi jangka pendek antara lain adalah:
a) Surat berharga yang dibeli pemerintah dalam rangka mengendalikan suatu badan usaha, misalnya pembelian surat berharga untuk menambah kepemilikan modal saham pada suatu badan usaha;
b) Surat berharga yang dibeli pemerintah untuk tujuan menjaga hubungan kelembagaan yang baik dengan pihak lain, misalnya pembelian surat berharga yang dikeluarkan oleh suatu lembaga baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menunjukkan partisipasi pemerintah; atau
c) Surat berharga yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam memenuhi kebutuhan kas jangka pendek.
Investasi yang dapat digolongkan sebagai investasi jangka pendek, antara lain terdiri atas: (a) Deposito berjangka waktu tiga sampai dua belas bulan dan/atau yang dapat diperpanjang secara otomatis (revolving deposits); (b) Pembelian Surat Utang Negara (SUN) pemerintah jangka pendek oleh pemerintah pusat maupun daerah dan pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
2) Investasi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang merupakan investasi yang pencairannya memiliki jangka waktu lebih dari 12 bulan. Investasi jangka panjang dibagi menurut sifatnya, yaitu:
a) Investasi Jangka Panjang Nonpermanen
Investasi jangka panjang nonpermanen merupakan investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau suatu waktu akan dijual atau ditarik kembali.
b) Investasi Jangka Panjang Permanen
Investasi jangka panjang permanen merupakan investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan atau tidak untuk diperjualbelikan atau ditarik kembali.
Investasi permanen yang dilakukan oleh pemerintah adalah investasi yang tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan, tetapi untuk mendapatkan dividen dan/atau pengaruh yang signifikan dalam jangka panjang dan/atau menjaga hubungan kelembagaan. Investasi permanen dapat berupa:
Investasi permanen lainnya yang dimiliki oleh pemerintah untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Investasi nonpermanen yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain dapat berupa:
Pembelian obligasi atau surat utang jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan tanggal jatuh temponya oleh pemerintah;
Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan kepada pihak ketiga;
Dana yang disisihkan pemerintah dalam rangka pelayanan masyarakat seperti bantuan modal kerja secara bergulir kepada kelompok masyarakat;
Investasi nonpermanen lainnya, yang sifatnya tidak dimaksudkan untuk dimiliki pemerintah secara berkelanjutan, seperti penyertaan modal yang dimaksudkan untuk penyehatan/penyelamatan perekonomian.
c. Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi investasi pada Pemerintah Pusat antara lain adalah Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Bendahara Umum Negara (BUN).
1) Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)
a) Mereklasifikasi saldo kas yang ditempatkan pada investasi dalam Buku Besar Akrual.
b) Menjurnal perolehan investasi jangka panjang.
c) Menjurnal dan membukukan pendapatan hasil investasi yang diterima, dividen, pelepasan investasi, dan keuntungan atau kerugian selisih hasil pelepasan investasi.
2) Bendahara Umum Negara (BUN)
a) Mereklasifikasi saldo kas yang ditempatkan pada investasi dalam Buku Besar Akrual.
b) Menjurnal penerimaan kas dan membukukannya di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas.
c) Mereklasifikasi saldo investasi yang dikembalikan ke kas dalam Buku Besar Akrual.
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi investasi pada Pemerintah Daerah antara lain Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD) dan PPKD.
3) Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD)
Dalam sistem akuntansi investasi, PPK-PPKD melaksanakan fungsi akuntansi PPKD yang memiliki tugas sebagai berikut:
a) Mencatat transaksi/kejadian investasi berdasarkan bukti-bukti transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum.
b) Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku Besar masing-masing rekening (rincian objek).
Ekuitas (LPE), Laporan Arus Kas (LAK), Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
4) PPKD
Dalam sistem akuntansi investasi, PPKD memiliki tugas:
a) menandatangani laporan keuangan PPKD sebelum diserahkan dalam proses penggabungan/konsolidasi yang dilakukan oleh fungsi akuntansi PPKD
b) menandatangani surat pernyataan tanggung jawab PPKD.
d. Dokumen Yang Digunakan
Berikut disajikan dokumen utama terkait dengan sistem akuntansi Investasi pada PPKD:
Uraian Dokumen
Investasi Jangka
Pendek
Investasi dalam Saham Sertifikat Saham/Nota Kredit/Dokumen yang Dipersamakan
Investasi dalam Deposito Sertifikat Deposito/Nota Kredit/Dokumen yang Dipersamakan
Investasi dalam SUN Sertifikat Obligasi/SUN/Nota Kredit/Dokumen yang Dipersamakan Investasi dalam SBI Sertifikat SBI/Nota Kredit/Dokumen yang
Dipersamakan
Investasi dalam SPN Sertifikat SPN/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Investasi Jangka Pendek Lainnya
Investasi Jangka
Panjang Non
Permanen
Investasi kepada Badan Usaha Milik Negara
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Investasi kepada Badan Usaha Milik Daerah
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Investasi kepada Badan Usaha Milik Swasta
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/Dokumen yang Dipersamakan
Uraian Dokumen
Investasi dalam Proyek Pembangunan
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Dana Bergulir SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Deposito Jangka Panjang SP2D-LS (jika tunai)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Investasi Non Permanen Lainnya
SP2D-LS (jika tunai), BAST (jika berupa aset)/Dokumen yang Dipersamakan
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Penyertaan Modal Kepada BUMD
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Penyertaan Modal Kepada Badan Usaha Milik Swasta
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
Investasi Permanen Lainnya
SP2D-LS (jika tunai)/BAST (jika berupa aset)/Nota Kredit/ Dokumen yang Dipersamakan
2. Pengakuan
Investasi diakui saat terdapat pengeluaran kas atau aset lainnya yang dapat memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. memungkinkan pemerintah memperoleh manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa potensial di masa depan; atau
yang akan diperoleh memerlukan suatu jaminan bahwa suatu entitas akan memperoleh manfaat dari aset tersebut dan akan menanggung risiko yang mungkin timbul.
Kriteria pengakuan investasi, biasanya dapat dipenuhi karena adanya transaksi pertukaran atau pembelian yang didukung dengan bukti yang menyatakan/ mengidentifikasikan biaya perolehannya. Dalam hal tertentu, suatu investasi mungkin diperoleh bukan berdasarkan biaya perolehannya, atau berdasarkan nilai wajar pada tanggal perolehan. Dalam kasus yang demikian, penggunaan nilai estimasi yang layak dapat digunakan.
Ketika pengakuan investasi itu terjadi, maka fungsi akuntansi PPKD membuat jurnal pengakuan investasi. Untuk pengakuan investasi jangka pendek, jurnal tersebut mencatat investasi jangka pendek di debit dan kas di kas daerah di kredit (jika tunai) berdasarkan dokumen sumber yang relevan. Sementara itu, untuk pengakuan investasi jangka panjang, jurnal tersebut mencatat investasi jangka panjang di debit dan kas di kas daerah di kredit (jika tunai). Selain itu, untuk investasi jangka panjang, pemerintah daerah juga mengakui terjadinya pengeluaran pembiayaan dengan menjurnal pengeluaran pembiayaan-penyertaan modal/investasi pemerintah daerah di debit dan perubahan SAL di kredit.
3. Pengukuran
Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar aktif yang dapat membentuk nilai pasar, dalam hal investasi yang demikian, nilai pasar dipergunakan sebagai dasar penerapan nilai wajar. Sedangkan untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif dapat dipergunakan nilai nominal, nilai tercatat atau nilai wajar lainnya.
Pengukuran investasi berbeda-beda berdasarkan jenis investasinya. Berikut ini akan dijabarkan pengukuran investasi untuk masing-masing jenis.
a. Pengukuran investasi jangka pendek: 1) Investasi dalam bentuk surat berharga:
Apabila terdapat nilai biaya perolehannya, maka dicatat sebesar biaya perolehan yang di dalamnya mencakup harga investasi, komisi, jasa bank, dan biaya lainnya.
Apabila tidak terdapat biaya perolehannya, maka dicatat sebesar nilai wajar atau harga pasarnya.
2) Investasi dalam bentuk non saham dicatat sebesar nilai nominalnya, misalnya deposito berjangka waktu 6 bulan.
b. Pengukuran investasi jangka panjang:
2) Investasi nonpermanen:
investasi yang dimaksudkan tidak untuk dimiliki berkelanjutan, dinilai sebesar nilai perolehannya.
investasi dalam bentuk dana talangan untuk penyehatan perbankan yang akan segera dicairkan dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan.
penanaman modal di proyek-proyek pembangunan pemerintah daerah (seperti proyek PIR) dinilai sebesar biaya pembangunan termasuk biaya yang dikeluarkan untuk perencanaan dan biaya lain yang dikeluarkan dalam rangka penyelesaian proyek sampai proyek tersebut diserahkan ke pihak ketiga.
c. Pengukuran investasi yang diperoleh dari nilai aset yang disertakan sebagai investasi pemerintah daerah, dinilai sebesar biaya perolehan, atau nilai wajar investasi tersebut jika harga perolehannya tidak ada.
d. Pengukuran investasi yang harga perolehannya dalam valuta asing harus dinyatakan dalam rupiah dengan menggunakan nilai tukar (kurs tengah bank sentral) yang berlaku pada tanggal transaksi.
4. Metode Penilaian Investasi
Penilaian investasi pemerintah dilakukan dengan tiga metode yaitu:
a. Metode biaya
Investasi pemerintah yang dinilai menggunakan metode biaya akan dicatat sebesar biaya perolehan. Hasil dari investasi tersebut diakui sebesar bagian hasil yang diterima dan tidak mempengaruhi besarnya investasi pada badan usaha/badan hukum yang terkait.
b. Metode ekuitas
Investasi pemerintah yang dinilai menggunakan metode ekuitas akan dicatat sebesar biaya perolehan investasi awal dan ditambah atau dikurangi bagian laba atau rugi sebesar persentasi kepemilikan pemerintah setelah tanggal perolehan. Bagian laba yang diterima pemerintah, tidak termasuk dividen yang diterima dalam bentuk saham, akan mengurangi nilai investasi pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan. Penyesuaian terhadap nilai investasi juga diperlukan untuk mengubah porsi kepemilikan investasi pemerintah, misalnya adanya perubahan yang timbul akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi aset tetap.
c. Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan
Penggunaan metode-metode tersebut di atas didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
Kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya.
Kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan kurang dari 20% tetapi memiliki pengaruh yang signifikan menggunakan metode ekuitas.
Kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas.
Kepemilikan bersifat nonpermanen menggunakan metode nilai bersih yang direalisasikan.
Dalam kondisi tertentu, kriteria besarnya prosentase kepemilikan saham bukan merupakan faktor yang menentukan dalam pemilihan metode penilaian investasi, tetapi yang lebih menentukan adalah tingkat pengaruh (the degree of influence) atau pengendalian terhadap perusahaan investee. Ciri-ciri adanya pengaruh atau pengendalian pada perusahaaninvestee, antara lain:
1) Kemampuan mempengaruhi komposisi dewan komisaris; 2) Kemampuan untuk menunjuk atau menggantikan direksi;
3) Kemampuan untuk menetapkan dan mengganti dewan direksi perusahaaninvestee; 4) Kemampuan untuk mengendalikan mayoritas suara dalam rapat/pertemuan dewan
direksi.
5. Pengakuan Hasil Serta Pelepasan Dan Pemindahan Investasi
Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka pendek, antara lain berupa bunga deposito, bunga obligasi, dan dividen tunai (cash dividend), diakui pada saat diperoleh dan dicatat sebagai pendapatan. Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal pemerintah yang pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat sebagai pendapatan hasil investasi. Sedangkan apabila menggunakan metode ekuitas, bagian laba berupa dividen tunai yang diperoleh oleh pemerintah dicatat sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi nilai investasi pemerintah. Dividen dalam bentuk saham yang diterima tidak akan menambah nilai investasi pemerintah.
6. Jurnal Standar Pemerintah Pusat
a. Perolehan Investasi
Pada saat perolehan investasi jangka panjang, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Pengeluaran Investasi Pemerintah xxx
xxx Ditagihkan ke Entitas Lain xxx
Kuasa BUN menjurnal pengeluaran kas dan membukukan di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas dengan jurnal pengeluaran kas.
b. Pendapatan Hasil Investasi
Pada saat pendapatan kas hasil investasi jangka panjang/dividen diterima, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Diterima dari Entitas Lain xxx
xxx Pendapatan Bagian Laba BUMN xxx
Kuasa BUN menjurnal penerimaan kas dan membukukan di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas dengan jurnal penerimaan kas.
c. Pelepasan Investasi
Pada saat pelepasan investasi jangka panjang, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Diterima dari Entitas Lain xxx
xxx Penerimaan Hasil Privatisasi xxx
Kuasa BUN menjurnal penerimaan kas dan membukukan di Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas dengan jurnal penerimaan kas.
7. Jurnal Standar Pemerintah Daerah
a. Perolehan Investasi
1) Perolehan Investasi (Investasi Jangka Pendek)
Ketika pemerintah daerah melakukan pembentukan/pembelian investasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas, fungsi akuntansi PPKD mencatat jurnal:
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Investasi Jangka Pendek xxx
xxx Kas di Kas Daerah xxx
2) Perolehan Investasi (Investasi Jangka Panjang)
Perolehan investasi dicatat ketika penyertaan modal dalam peraturan daerah direalisasikan. Pencatatan dilakukan oleh fungsi akuntansi PPKD berdasarkan SP2D-LS (jika tunai) yang menjadi dasar pencairan pengeluaran pembiayaan untuk investasi tersebut. Fungsi akuntansi PPKD mencatat perolehan investasi jangka panjang dengan jurnal:
a) Investasi Jangka Panjang Non Permanen
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Investasi Jangka Panjang Non Permanen xxx
xxx Kas di Kas Daerah xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxx
xxx Perubahan SAL xxx
b) Investasi Jangka Panjang Permanen
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Investasi Jangka Panjang Permanen xxx
xxx Kas di Kas Daerah xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Pengeluaran Pembiayaan – Penyertaan
Modal/Investasi Pemda xxx
b. Hasil Investasi
1) Hasil Investasi Jangka Pendek
Hasil investasi jangka pendek berupa pendapatan bunga. Pendapatan bunga ini biasanya diperoleh bersamaan dengan pelepasan investasi jangka pendek tersebut, sehingga pembahasannya akan digabungkan ke sub bagian pelepasan investasi.
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kas di Kas Daerah xxx
xxx Pendapatan Bunga…- LO xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Perubahan SAL xxx
xxx Pendapatan Bunga…- LRA xxx
2) Hasil Investasi Jangka Panjang
a) Metode Biaya
Dalam metode biaya, keuntungan/kerugian perusahaan tidak mempengaruhi investasi yang dimiliki pemerintah daerah. Pemerintah daerah hanya menerima dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Berdasarkan pengumuman pembagian dividen yang dilakukan oleh perusahaan investee, PPKD dapat mengetahui jumlah dividen yang akan diterima pada periode berjalan.Selanjutnya fungsi akuntansi PPKD menjurnal:
xxx xxx xxx Piutang Hasil Pengelolaan Kekayaaan Daerah
yang Dipisahkan xxx xxx Pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaaan Daerah yang Dipisahkan-LO xxx
Pada saat perusahaan investee membagikan dividen tunai kepada pemerintah daerah, fungsi akuntansi PPKD mencatat jurnal:
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kas di Kas Daerah xxx xxx Piutang Hasil Pengelolaan Kekayaaan
Daerah yang Dipisahkan xxx
xxx xxx xxx Perubahan SAL xxx xxx Pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaaan Daerah yang Dipisahkan-LRA xxx
b) Metode Ekuitas
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan tempat pemerintah daerah berinvestasi, PPKD dapat mengetahui jumlah keuntungan perusahaan pada periode berjalan. Dalam metode ekuitas, keuntungan yang diperoleh perusahaan akan mempengaruhi jumlah investasi yang dimiliki pemerintah daerah. Pada saat perusahaan mengumumkan laba, fungsi akuntansi PPKD mencatat kejadian tersebut dengan melakukan penjurnalan sebagai berikut:
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Investasi Jangka Panjang xxx xxx Pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaaan Daerah yang Dipisahkan-LO xxx
Pada saat perusahaan membagikan dividen, fungsi akuntansi PPKD akan mencatat penerimaan dividen (tunai) tersebut dengan jurnal:
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kas di Kas Daerah xxx
xxx Investasi Jangka Panjang xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
xxx xxx xxx Perubahan SAL xxx xxx Pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaaan Daerah yang Dipisahkan-LRA xxx
c) Metode Nilai Bersih yang Dapat Direalisasikan
Ketika pendapatan bunga dari investasi jangka panjang non permanen (misalnya pendapatan bunga dari dana bergulir) telah diterima, Fungsi Akuntansi PPKD mencatat penerimaan bunga dengan jurnal:
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kas di Kas Daerah xxx
xxx Pendapatan Bunga Dana Bergulir – LO xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Perubahan SAL xxx
xxx Pendapatan Bunga Dana Bergulir – LRA xxx
c. Pelepasan Investasi
1) Pelepasan Investasi Jangka Pendek
Ketika dilakukan pelepasan investasi jangka pendek, berdasarkan dokumen transaksi yang dimiliki PPKD, Fungsi Akuntansi PPKD melakukan pencatatan dengan menjurnal:
Jurnal LO dan Neraca
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kas di Kas Daerah xxx
xxx Pendapatan ... – LO xxx xxx Investasi Jangka Pendek xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Perubahan SAL xxx
xxx Pendapatan ... – LRA xxx
Ketika dilakukan pelepasan investasi jangka panjang misalnya saham, berdasarkan dokumen transaksi yang dimiliki PPKD, fungsi akuntansi PPKD melakukan pencatatan dengan menjurnal:
Jurnal LO dan Neraca (Jika Surplus)
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kas di Kas Daerah xxx xxx Surplus Pelepasan Investasi Jangka
Panjang-LO xxx xxx Investasi Jangka Panjang xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Perubahan SAL xxx
xxx
Penerimaan Pembiayaan – Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
xxx
8. Perlakuan Khusus
a. Badan Layanan Umum (BLU)
Satuan kerja tidak boleh melakukan investasi jangka pendek kecuali BLU, dalam rangka pemanfaatan kas yang menganggur. Apabila kas yang dipergunakan berasal dari kas operasional maka investasi tersebut disajikan sebagai investasi jangka pendek dan merupakan bagian dari SiLPA/SAL. Apabila kas yang dipergunakan berasal dari kas kelolaan yang akan/belum bergulir, maka investasi tersebut disajikan sebagai aset lainnya dan bukan merupakan bagian dari SiLPA/SAL.
b. Investasi Dalam Saham Bersaldo Minus
Investasi ini dimungkinkan karena perusahaan tersebut terus menerus mengalami kerugian atau nilai kewajiban melebihi nilai asetnya, sehingga nilai ekuitas bersaldo minus.ini diakui oleh pemerintah sepanjang dapat diyakini menurut praktik akuntansi yang diterima umum, dan/atau pemerintah mempunyai tanggung jawab konstruktif dan kewajiban hukum terhadap perusahaan negara.
c. Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS)
sebagai penyertaan modal Pemerintah. BPYBDS dikeluarkan dari neraca (off balance sheet) dan diungkapkan dalam CALK baik nilai maupun tahap penyelesaian yuridis secar rinci.
d. Dana Bergulir Yang Belum Digulirkan/Diinvestasikan dan Yang Tidak
Digulirkan Kembali
Dana bergulir yang belum digulirkan disajikan pada Aset Lainnya sebagai Dana Kelolaan yang Belum Digulirkan. Dana Bergulir yang tidak digulirkan kembali, maka disetorkan ke kas negara sampai dengan tanggal pelaporan keuangan disajikan sebagai Kas Lainnya dan Setara Kas.
9. Penyajian Di Laporan Keuangan
Investasi jangka pendek disajikan sebagai bagian dari Aset Lancar, sedangkan investasi jangka panjang disajikan sebagai bagian dari Investasi Jangka Panjang yang kemudian dibagi ke dalam Investasi Nonpermanen dan Investasi Permanen.
Berikut adalah contoh penyajian investasi jangka pendek dalam Neraca Pemerintah Pusat.
Berikut adalah contoh penyajian investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang dalam Neraca Pemerintah Daerah.
10. Pengungkapan
Pengungkapan investasi dalam Catatan atas Laporan Keuangan sekurang-kurangnya mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Kebijakan akuntansi untuk penentuan nilai investasi;
b. Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan nonpermanen;
c. Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang;
d. Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab penurunan tersebut; e. Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan penerapannya;
B. AKUNTANSI KEWAJIBAN
1. Gambaran Umum
a. Definisi
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Lampiran I PSAP Nomor 09 tentang Kewajiban menjelaskan bahwa kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah daerah.
Karakteristik utama kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban sampai saat ini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggung jawab untuk bertindak di masa lalu. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pendanaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintahan lain, atau lembaga internasional.
Kewajiban pemerintah dapat juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah, kewajiban kepada masyarakat luas yaitu kewajiban tunjangan, kompensasi, ganti rugi, kelebihan setoran pajak dari wajib pajak, alokasi/realokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa lainnya. Kewajiban bersifat mengikat dan dapat dipaksakan secara hukum sebagai konsekuensi atas kontrak atau peraturan perundang-undangan.
b. Klasifikasi
Kewajiban pemerintah dapat diklasifikasikan berdasarkan jangka waktu/saat jatuh temponya dan berdasarkan sumber dana.
1) Kewajiban Berdasarkan Jatuh Tempo
Berdasarkan jatuh temponya, kewajiban dapat diklasifikasikan menjadi kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Berdasarkan paragraf 11 PSAP 09,
a) Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang diharapkan dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban jangka pendek antara lain utang transfer pemerintah daerah, utang kepada pegawai, utang bunga, utang jangka pendek kepada pihak ketiga, utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), dan bagian lancar utang jangka panjang.
(1) jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 bulan;
(2) entitas bermaksud untuk mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut atas dasar jangka panjang;
(3) maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian pendaan kembali (refinancing), atau adanya penjadwalan kembali terhadap pembayaran, yang diselesaikan sebelum pelaporan keuangan disetujui.
Beberapa kewajiban yang jatuh tempo untuk dilunasi pada tahun berikutnya mungkin diharapkan dapat didanai kembali (refinancing) atau digulirkan (roll over) berdasarkan kebijakan entitas pelaporan dan diharapkan tidak akan segera menyerap dana entitas. Kewajiban yang demikian dipertimbangkan untuk menjadi suatu bagian dari pendanaan jangka panjang dan diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Namun dalam situasi di mana kebijakan pendanaan kembali tidak berada pada entitas (seperti dalam kasus tidak adanya persetujuan pendanaan kembali), pendanaan kembali ini tidak dapat dipertimbangkan secara otomatis dan kewajiban ini diklasifikasikan sebagai pos jangka pendek kecuali penyelesaian atas perjanjian pendanaan kembali sebelum persetujuan laporan keuangan membuktikan bahwa substansi kewajiban pada tanggal pelaporan adalah jangka panjang.
Beberapa perjanjian pinjaman menyertakan persyaratan tertentu (covenant) yang menyebabkan kewajiban jangka panjang menjadi kewajiban jangka pendek (payable on demand) jika persyaratan tertentu yang terkait dengan posisi keuangan peminjam dilanggar. Dalam keadaan demikian, kewajiban dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang hanya jika: pemberi pinjaman telah menyetujui untuk tidak meminta pelunasan sebagai konsekuensi adanya pelanggaran, dan terdapat jaminan bahwa tidak akan terjadi pelanggaran berikutnya dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.
2) Kewajiban Berdasarkan Sumber Pinjaman
Kewajiban juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber dana atau pemberi pinjaman. Sumber dana atau pemberi pinjaman dapat berasal dari dalam negeri dan dari luar negeri. Pinjaman yang diperoleh dari luar negeri akan disajikan dalam kelompok utang luar negeri, dan pinjaman dari dalam negeri akan disajikan dalam kelompok utang dalam negeri.
b) Utang Luar Negeri, atau biasa dikenal dalam istilah pemerintahan sebagai pinjaman luar negeri merupakan salah satu instrumen yang diambil oleh pemerintah dalam upaya menanggulangi defisit anggaran. Utang luar negeri juga dapat digunakan untuk keperluan lain sesuai dengan rencana kerja dan keuangan pemerintah. Utang luar negeri dapat berupa kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Hubungan antara utang dalam negeri dan utang luar negeri dengan klasifikasi jangka pendek dan jangka panjang disajikan dalam tabel di bawah ini.
Utang Dalam Negeri
2. Pengakuan
Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai saat pelaporan, dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima oleh pemerintah atau dikeluarkan oleh kreditur sesuai dengan kesepakatan, dan/atau pada saat kewajiban timbul. Kewajiban tersebut dapat timbul dari:
a. Transaksi dengan Pertukaran (exchange transactions)
Suatu transaksi dengan pertukaran timbul ketika masing-masing pihak dalam transaksi tersebut mengorbankan dan menerima suatu nilai sebagai gantinya. Terdapat dua arus timbal balik atas sumber daya atau janji untuk menyediakan sumber daya. Dalam transaksi dengan pertukaran, kewajiban diakui ketika satu pihak menerima barang atau jasa sebagai ganti janji untuk memberikan uang atau sumber daya lain di masa depan.
b. Transaksi tanpa Pertukaran (non-exchange transactions)
Suatu transaksi tanpa pertukaran timbul ketika satu pihak dalam suatu transaksi menerima nilai tanpa secara langsung memberikan atau menjanjikan nilai sebagai gantinya. Dalam hal ini, hanya ada satu arah arus sumber daya atau janji. Untuk transaksi tanpa pertukaran, suatu kewajiban harus diakui atas jumlah terutang yang belum dibayar pada tanggal pelaporan.
c. Kejadian yang Berkaitan dengan Pemerintah (government-related events)
Kejadian yang berkaitan dengan Pemerintah adalah kejadian yang tidak didasari transaksi namun berdasarkan adanya interaksi antara pemerintah dan lingkungannya. Kejadian tersebut mungkin berada di luar kendali pemerintah. Secara umum suatu kewajiban diakui, dalam hubungannya dengan kejadian yang berkaitan dengan Pemerintah, dengan basis yang sama dengan kejadian yang timbul dari transaksi dengan pertukaran.
d. Kejadian yang Diakui Pemerintah (government-acknowledge events)
Untuk itu, Pemerintah sering diasumsikan bertanggung jawab terhadap satu kejadian yang sebelumnya tidak diatur dalam peraturan formal yang ada. Konsekuensinya, biaya yang timbul dari berbagai kejadian, yang disebabkan oleh entitas nonpemerintah dan bencana alam, pada akhirnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun biaya-biaya tersebut belum dapat memenuhi definisi kewajiban sampai pemerintah secara formal mengakuinya sebagai tanggung jawab keuangan pemerintah, dan atas biaya yang timbul sehubungan dengan kejadian tersebut telah terjadi transaksi dengan pertukaran atau tanpa pertukaran.
3. Pengukuran
Kewajiban pemerintah daerah dicatat sebesar nilai nominalnya. Apabila kewajiban tersebut dalam bentuk mata uang asing, maka dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal necara. Penggunaan nilai nominal dalam pengukuran kewajiban ini berbeda untuk masing-masing pos mengikuti karakteristiknya. Berikut ini akan dijabarkan mengenai pengukuran untuk masing-masing pos kewajiban.
Pengukuran kewajiban atau utang jangka pendek pemerintah daerah berbeda-beda berdasarkan jenis investasinya. Berikut ini akan dijabarkan bagaimana pengukuran kewajiban untuk masing-masing jenis kewajiban jangka pendek.
a. Pengukuran Utang kepada Pihak Ketiga
Pada saat pemerintah menerima hak atas barang, termasuk barang dalam perjalanan yang telah menjadi haknya, pemerintah harus mengakui kewajiban atas jumlah yang belum dibayarkan untuk barang tersebut. Jumlah kewajiban yang disebabkan transaksi antar unit pemerintahan harus dipisahkan dengan kewajiban kepada unit nonpemerintahan.
b. Pengukuran Utang Transfer
Utang transfer adalah kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundang-undangan. Utang transfer diakui dan dinilai sesuai dengan peraturan yang berlaku.
c. Pengukuran Utang Bunga
Utang bunga atas utang pemerintah harus dicatat sebesar biaya bunga yang telah terjadi dan belum dibayar. Bunga dimaksud dapat berasal dari utang pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri. Utang bunga atas utang pemerintah yang belum dibayar harus diakui pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian dari kewajiban yang berkaitan.
d. Pengukuran Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
e. Pengukuran Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Bagian lancar utang jangka panjang dicatat sejumlah yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan.
f. Pengukuran Kewajiban Lancar Lainnya
Kewajiban lancar lainnya merupakan kewajiban lancar yang tidak termasuk dalam kategori yang ada. Termasuk dalam kewajiban lancar lainnya tersebut adalah biaya yang masih harus dibayar pada saat laporan keuangan disusun. Pengukuran untuk masing-masing item disesuaikan dengan karakteristik masing-masing-masing-masing pos tersebut, misalnya utang pembayaran gaji kepada pegawai dinilai berdasarkan jumlah gaji yang masih harus dibayarkan atas jasa yang telah diserahkan oleh pegawai tersebut. Contoh lainnya adalah penerimaan pembayaran di muka atas penyerahan barang atau jasa oleh pemerintah kepada pihak lain.
Kewajiban atau utang jangka panjang pemerintah daerah juga diukur berdasarkan karakteristiknya. Terdapat dua karakteristik utang jangka panjang pemerintah daerah, yaitu:
g. Utang yang tidak diperjualbelikan
Nilai nominal atas utang pemerintah yang tidak diperjualbelikan (non-traded debt) merupakan kewajiban entitas kepada pemberi utang sebesar pokok utang dan bunga sesuai yang diatur dalam kontrak perjanjian dan belum diselesaikan pada tanggal pelaporan.
h. Utang yang diperjualbelikan
Utang pemerintah yang dapat diperjualbelikan biasanya dalam bentuk sekuritas utang pemerintah (government debt securities) yang dapat memuat ketentuan mengenai nilai utang pada saat jatuh tempo.Jenis sekuritas utang pemerintah harus dinilai sebesar nilai pari (original face value) dengan memperhitungkan diskonto atau premium yang belum diamortisasi. Sekuritas utang pemerintah yang dijual sebesar nilai pari tanpa diskonto ataupun premium harus dinilai sebesar nilai pari. Sekuritas yang dijual dengan harga diskonto akan bertambah nilainya selama periode penjualan dan jatuh tempo; sedangkan sekuritas yang dijual dengan harga premium nilainya akan berkurang.
4. Penyelesaian Kewajiban Sebelum Jatuh Tempo Dan Tunggakan
Jumlah tunggakan atas pinjaman pemerintah harus disajikan dalam bentuk Daftar Umur (aging schedule) Kreditur pada Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian pengungkapan kewajiban.
5. Restrukturisasi
a. Definisi
Definisi restrukturisasi utang berdasarkan PSAP 09 Akuntansi Kewajiban, adalah kesepakatan antara kreditur dan debitur untuk memodifikasi syarat-syarat perjanjian utang dengan atau tanpa pengurangan jumlah utang, dalam bentuk:
1) Pembiayaan kembali yaitu mengganti utang lama termasuk tunggakan dengan utang baru; atau
2) Penjadwalan ulang atau modifikasi persyaratan utang yaitu mengubah persyaratan dan kondisi kontrak perjanjian yang ada. Penjadwalan utang dapat berbentuk perubahan jadwal pembayaran, penambahan masa tenggang, atau menjadwalkan kembali rencana pembayaran pokok dan bunga yang jatuh tempo dan/atau tertunggak.
Dengan demikian, restrukturisasi utang dapat berupa pembayaran utang dengan syarat yang lebih lunak atau lebih ringan dibandingkan dengan syarat pembayaran utang sebelum dilakukannya proses restrukturisasi utang, karena adanya keringanan yang diberikan kreditur kepada debitur. Keringanan semacam ini tidaklah diberikan kepada debitur apabila debitur tersebut tidak dalam keadaan kesulitan keuangan. Keringanan semacam ini dapat berasal dari perjanjian antara kreditur dengan debitur, atau dari keputusan pengadilan, serta dari peraturan hukum.
Restrukturisasi utang dapat terjadi sebelum, pada, atau sesudah tanggal jatuh tempo utang yang tercantum dalam perjanjian. Pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan utang baru hasil restrukturisasi di neraca diatur dalam PSAP 9 Paragraf 69 dan 73, yaitu:
Paragraf 69
Dalam restrukturisasi utang melalui modifikasi persyaratan utang, debitur harus mencatat dampak restrukturisasi secara prospektif sejak saat restrukturisasi dilaksanakan dan tidak boleh mengubah nilai tercatat utang pada saat restrukturisasi kecuali jika nilai tercatat tersebut melebihi jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dengan persyaratan baru. Informasi restrukturisasi ini harus diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian pengungkapan dari pos kewajiban yang terkait.
Jika jumlah pembayaran kas masa depan sebagaimana ditetapkan dalam persyaratan baru utang, termasuk pembayaran untuk bunga maupun untuk pokok utang lebih rendah dari nilai.
b. Pengakuan
Restrukturisasi diakui pada saat telah disahkannya perjanjian restrukturisasi antara para pihak, yaitu kreditur dan debitur, dan berlaku terhitung mulai tanggal yang ditetapkan dalam perjanjian.
c. Pengukuran
Besarnya utang baru sehubungan dengan restrukturisasi adalah sebesar nilai utang lama ditambah dan/atau dikurangi dengan nilai absolut dari faktor penambah dan/atau pengurang sebagaimana disebutkan dalam perjanjian restrukturisasi.
d. Penyajian dan Pengungkapan
Utang baru yang dihasilkan dari restrukturisasi disajikan di neraca dengan klasifikasi/pos yang sama dengan utang jangka panjang lama yang digantikannya. Restrukturisasi utang tidak dicatat dalam laporan arus kas.
Berkenaan dengan adanya restrukturisasi, perlu diungkapkan pada CALK antara lain informasi berikut:
1) Persyaratan kredit pada perjanjian utang lama yang direvisi;
2) Persyaratan kredit baru pada perjanjian restrukturisasi, misalnya besaran persentase bunga baru, besaran absolut pemotongan bunga terutang, besaran absolut pemotongan pokok utang, lamanya pengunduran jangka waktu pelunasan;
3) Hal-hal penting yang menyebabkan terjadinya restrukturisasi utang;
4) Hal lainnya yang dipandang perlu demi kewajaran pengungkapan sebagaimana ditentukan dalam PSAP 9 paragraf 69, 73, dan 88 huruf (e).
6. Penghapusan Utang
Menurut PSAP 9 penghapusan utang adalah pembatalan secara sukarela tagihan oleh kreditur kepada debitur, baik sebagian maupun seluruhnya, jumlah utang debitur dalam bentuk perjanjian formal diantara keduanya. Atas penghapusan utang mungkin diselesaikan oleh debitur ke kreditur melalui penyerahan aset kas maupun nonkas dengan nilai utang di bawah nilai tercatatnya.
Jika penyelesaian suatu utang yang nilai penyelesaiannya di bawah nilai tercatatnya dilakukan dengan aset nonkas maka entitas sebagai debitur harus melakukan penilaian kembali atas aset nonkas dahulu ke nilai wajarnya dan kemudian menerapkan ketentuan pada resktrusturisasi paragraf 73, serta mengungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian dari pos kewajiban dan aset nonkas yang berhubungan.
7. Biaya-Biaya Yang Berhubungan Dengan Utang Pemerintah
Biaya-biaya yang berhubungan dengan utang pemerintah adalah biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan peminjaman dana. Biaya-biaya dimaksud meliputi:
a) Bunga dan provisi atas penggunaan dana pinjaman, baik pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang;
b) Commitment fee atas dana pinjaman yang belum ditarik;
c) Amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman,
d) Amortisasi kapitalisasi biaya yang terkait dengan perolehan pinjaman seperti biaya konsultan, ahli hukum, dan sebagainya.
e) Perbedaan nilai tukar pada pinjaman dengan mata uang asing sejauh hal tersebut diperlakukan sebagai penyesuaian atas biaya bunga.
Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan atau produksi suatu aset tertentu (qualifying asset) harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset tertentu tersebut.
Apabila suatu dana dari pinjaman yang tidak secara khusus digunakan untuk perolehan aset maka biaya pinjaman yang harus dikapitalisasi ke aset tertentu harus dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang (weighted average) atas akumulasi biaya seluruh aset tertentu yang berkaitan selama periode pelaporan.
8. Jurnal Standar Pemerintah Pusat
a) Pada saat utang jangka pendek diakui melalui penerimaan kas atas penerbitan surat utang jangka pendek, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Diterima Dari Entitas Lain xxx
Kemudian KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Kas dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Diterima Dari Entitas Lain xxx
xxx Penerimaan Pembiayaan xxx
b) Pada Saat utang jangka pendek diakui melalui Resume Tagihan atau Jurnal Penyesuaian Akhir Periode, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Belanja... xxx
xxx Belanja... yang masih harus dibayar xxx
c) Pada saat mengakui bagian pendapatan diterima dimuka, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Pendapatan xxx
xxx Pendapatan ... Diterima Di Muka xxx
d) Pada saat reklasifikasi utang jangka panjang, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Kewajiban Jangka Panjang xxx
xxx Bagian Lancar Utang Jangka Panjang xxx
e) Pada saat utang jangka panjang diakui, KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Akrual dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Diterima Dari Entitas Lain xxx
Kemudian KPA menjurnal dan membukukan di Buku Besar Kas dengan jurnal:
Tanggal Nomor
Bukti Akun Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Diterima Dari Entitas Lain xxx
xxx Penerimaan Pembiayaan xxx
Kemudian BUN menjurnal penerimaan kas dan membukukan di Buku Besar Kas dan Buku Besar Akrual sesuai jurnal penerimaan kas.
9. Sistem Akuntansi Kewajiban di SPKD
Akuntansi kewajiban di SKPD terdiri atas penerimaan utang, pembayaran utang khususnya utang jangka pendek.
a. Pihak-pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi kewajiban si SKPD terdiri atas: PPTK, PPK-SKPD dan PPKD.
1) Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPTK melaksanakan fungsi untuk pengadaan barang/jasa kegiatan, dengan memiliki tugas sebagai berikut:
a) melakukan pembelian/pengadaan barang/jasa berdasarkan kebutuhan kegiatan dengan menggunakan nota pesanan/ dokumen lain yang dipersamakan;
b) menerima barang berdasarkan nota pesanan dengan dibuktikan dengan Berita Acara Serah Terima Barang (BAST);
c) menyiapkan dokumen pembayaran.
2) Pejabat Penatausahaan Keuangan - SKPD
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPK-SKPD melaksanakan fungsi akuntansi pada SKPD dengan memiliki tugas sebagai berikut:
a) mencatat transaksi/kejadian investasi lainnya berdasarkan bukti-bukti transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum;
b) memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku Besar masing-masing rekening (rincian objek);
c) menyusun laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
3) Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)
a) Menyampaikan dokumen transaksi yang dilakukan dengan mekanisme LS kepada SKPD;
b) Melakukan pengecekan terhadap transaksi konsolidasi antara PPKD dan SKPD untuk meyakinkan kebenaran pencatatan yang dilakukan oleh fungsi akuntansi SKPD.
4) Pengguna Anggaran (PA / KPA)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PA/KPA menandatangani laporan keuangan yang telah disusun oleh Fungsi Akuntansi SKPD.
b. Dokumen yang Digunakan
Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi kewajiban antara lain: 1) Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah; 2) Nota Pesanan;
3) Berita Acara Serah Terima; 4) Kuitansi;
5) Surat Perjanjian Kerja; 6) SP2D UP/GU/TU; 7) SP2D LS;
8) Surat Pernyataan PA tentang tanggungjawab PA terhadap laporan keuangan SKPD.
c. Jurnal Standar
Akuntansi kewajiban di SKPD terdiri atas pencatatan atas terjadinya utang dan pembayaran utang. Ketika SKPD melakukan suatu transaksi pembelian barang dan jasa yang telah dilaksanakan dan pelunasan belum dilakukan, PPK-SKPD akan mengakui adanya utang. Pencatatan atas pengadaan/pembelian barang/jasa dapat dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan Beban dan (2) Pendekatan Aset.
1) Transaksi pengakuan terjadinya utang pada saat pengadaan/pembelian ATK yang telah dilaksanakan dan pelunasan belum dilakukan.
a) Jika menggunakan pendekatan beban, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi akuntansi SKPD adalah:
xxx xxx xxx Beban ATK xxx
b) Jika menggunakan pendekatan aset, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi
xxx xxx xxx Persediaan Alat Tulis Kantor xxx
xxx Utang Belanja Bahan Pakai Habis xxx
2) Transaksi pembayaran utang pada saat dilakukan pembayaran/pelunasan dengan asumsi menggunakan mekanisme UP/GU, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi akuntansi SKPD adalah:
xxx xxx xxx Utang Belanja Bahan Pakai Habis xxx
xxx Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
Jurnal LRA
Tanggal Nomor Bukti
Kode
Rekening Uraian Debet Kredit
xxx xxx xxx Belanja ATK xxx
xxx Perubahan SAL xxx
3) Transaksi pembayaran utang pada saat dilakukan pembayaran/pelunasan dengan asumsi menggunakan mekanisme LS, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi akuntansi SKPD adalah:
Xxx xxx xxx Utang Belanja Bahan Pakai Habis xxx
xxx RK PPKD xxx
xxx Perubahan SAL xxx
Pengakuan adanya utang terkait dengan transaksi pembelian/pengadaan barang dan jasa harus mempertimbangkan ketersediaan anggaran/dana untuk menyelesaikan/membayar utang.
10. Sistem Akuntansi Kewajiban di PPKD
Akuntansi kewajiban PPKD terdiri atas penerimaan utang, pembayaran utang, dan reklasifikasi utang yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu : (1) Akuntansi kewajiban, dan (2) akuntansi pembiayaan.
a. Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi kewajiban di PPKD terdiri atas : Fungsi Akuntansi PPKD, BUD dan PPKD.
1) Fungsi Akuntansi - PPKD
Dalam sistem akuntansi kewajiban, fungsi akuntansi pada PPKD dengan memiliki tugas sebagai berikut:
a) mencatat transaksi/kejadian investasi lainnya berdasarkan bukti-bukti transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum;
b) memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku Besar masing-masing rekening (rincian objek);
c) menyusun laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan SAL (LP-SAL), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
2) Bendahara Umum Daerah (BUD)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, BUD melakukan fungsi mengadministrasi penerimaan utang, pembahayaran utang dan reklasifikasi utang, sehingga BUD memiliki tugas:
a) menyiapkan dokumen transaksi penerimaan, pembayaran dan reklasifikasi utang; b) menyiapkan bukti memorial untuk pencatatan akuntansi oleh Fungsi Akuntansi
PPKD yang sebelumnya disahkan oleh Kepala SKPKD.
3) Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPKD memiliki tugas menandatangani laporan keuangan Pemerintah Daerah sebelum diserahkan kepada BPK.
b. Dokumen Yang Digunakan
3) Nota Kredit; 4) SP2D LS.
c. Jurnal Standar
11. Penyajian
Berikut adalah contoh penyajian kewajiban jangka panjang dalam Neraca Pemerintah Pusat.
12. Pengungkapan
Utang pemerintah harus diungkapkan secara rinci dalam bentuk daftar skedul utang untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada pemakainya. Dalam pengungkapan pada Catatan atas Laporan Keuangan terkait dengan kewajiban, harus diungkapkan pula hal-hal sebagai berikut:
1) jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang yang diklasifikasikan berdasarkan pemberi pinjaman;
2) jumlah saldo kewajiban berupa utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas utang pemerintah dan jatuh temponya;
3) bunga pinjaman yang terutang pada periode berjalan dan tingkat bunga yang berlaku; 4) konsekuensi dilakukannya penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo;
5) perjanjian restrukturisasi utang meliputi: a) pengurangan pinjaman;
b) modifikasi persyaratan utang;
c) pengurangan tingkat bunga pinjaman; d) pengunduran jatuh tempo pinjaman;
e) pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman; dan
f) pengurangan jumlah bunga terutang sampai dengan periode pelaporan.
6) jumlah tunggakan pinjaman yang disajikan dalam bentuk daftar umur utang berdasarkan kreditur.
7) biaya pinjaman:
a) perlakuan biaya pinjaman;
b) jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi pada periode yang bersangkutan; dan c) tingkat kapitalisasi yang dipergunakan.
13. Kewajiban Kontigensi
a. Definisi
Kewajiban kontingensi adalah:
1) kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu, dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah; atau
2) kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena:
b) jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.
b. Pengakuan
Banyak peristiwa masa lalu yang dapat menimbulkan kewajiban kini. Walaupun demikian, dalam beberapa peristiwa yang jarang terjadi, misalnya dalam tuntutan hukum, dapat timbul perbedaan pendapat mengenai apakah peristiwa tertentu sudah terjadi atau apakah peristiwa tersebut menimbulkan kewajiban kini. Jika demikian halnya, pemerintah menentukan apakah kewajiban kini telah ada pada tanggal neraca dengan mempertimbangkan semua bukti yang tersedia, termasuk misalnya pendapat ahli. Bukti yang dipertimbangkan mencakup, antara lain, bukti tambahan yang diperoleh dari peristiwa setelah tanggal neraca. Atas dasar bukti tersebut, apabila besar kemungkinan bahwa kewajiban kini belum ada pada tanggal neraca, pemerintah mengungkapkan adanya kewajiban kontingensi. Pengungkapan tidak diperlukan jika kemungkinan arus keluar sumber daya kecil.
Kewajiban kontingensi dapat berkembang ke arah yang tidak diperkirakan semula. Oleh karena itu, kewajiban kontingensi harus terus-menerus dikaji ulang untuk menentukan apakah tingkat kemungkinan arus keluar sumber daya bertambah besar (probable). Apabila kemungkinan itu terjadi, maka pemerintah akan mengakui kewajiban diestimasi dalam laporan keuangan periode saat perubahan tingkat kemungkinan tersebut terjadi, kecuali nilainya tidak dapat diestimasikan secara andal.
c. Pengukuran
Besaran kewajiban kontingensi tidak dapat diukur secara eksak. Untuk itu diperlukan pertimbangan profesional oleh pihak yang berkompeten.
d. Penyajian dan Pengungkapan
Kewajiban kontingensi tidak disajikan pada neraca pemerintah, namun demikian pemerintah harus mengungkapkan kewajiban kontingensi pada Catatan atas Laporan Keuangan untuk setiap jenis kewajiban kontingensi pada tanggal neraca. Pengungkapan tersebut dapat meliputi:
1) karakteristik kewajiban kontingensi;
2) estimasi dari dampak finansial yang diukur;
3) indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau waktu arus keluar sumber daya;
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Investasi
Investasi adalah Aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Investasi diklasifikasikan menjadi:
1) Investasi jangka Pendek
Diharapkan dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama setahun atau kurang ditujukan dalam rangka manajemen kas. Berisiko rendah atau bebas dari perubahan atau pengurangan harga yang signifikan. Contoh : investasi dalam saham dan investasi dalam obligasi.
2) Investasi Jangka Panjang
Dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial yang dimiliki lebih dari dua belas bulan. Sifat penanaman:
a) permanen : Investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Contoh: Penyertaan modal Pemerintah daerah.
b) non permanen : Investasi Jangka Panjang yang simaksudkan untuk dimiliki tidak berkelanjutan. Contoh: Pinjaman Jangka Panjang kepada Entitas Lain, Dana Bergulir, Investasi dalam proyek pembangunan.
Prinsip Pengakuan dan Pengukuran adalah:
Investasi jangka pendek dicatat sebesar nilai perolehan
Investasi jangka panjang dicatat sebesar biaya perolehan termasuk biaya tambahan lainnya yang terjadi untuk memperoleh kepemilikan yang sah atas investasi tersebut Pencatatan Investasi dilakukan di buku jurnal finansial. Penyajian Investasi akan dilaporkan dalam Neraca dan diungkapkan dalan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Pemerintah Daerah.
Kewajiban
Utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Kewajiban diklasifikasikan menjadi:
1) Kewajiban Jangka Pendek
Adalah Kewajiban yang jatuh tempo kurang dari 12 bulan setelah tanggal pelaporan. Jenis Kewajiban Jangka Pendek:
Utang Bunga
Bagian Lancar utang jangka panjang
Pendapatan diterima dimuka
Utang Beban
Utang jangka pendek lainnya 2) Kewajiban Jangka Panjang
Adalah Kewajiban yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan setelah tanggal pelaporan Jenis Kewajiban Jangka Panjang:
Utang Dalam negeri
Utang Luar negei
Utang jangka panjang lainnya
Prinsip Pengakuan dan Pengukuran Kewajiban diakui jika besar kemungkinan sumber daya ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai saat pelaporan dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal. Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima dan/atau pada saat kewajiban timbul. Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal neraca.
DAFTAR PUSTAKA
Buku II Sistem Dan Prosedur Akuntansi Pemerintah Daerah Berbasis Akrual. 2014. Deputi Pengawasan Bidang Penyelengkaraan Keuangan Daerah. BPKP
Bulektin Teknis Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 22. Akuntansi Utang Berbasis Akrual. 2015. Komite Standar Akuntansi Pemerintahan.
Lampiran I Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Modul Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah dan SKPD. 2014. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Kementerian Keuangan.
Modul 1 Konsep Dan Siklus Akuntansi Pemerintah Daerah. 2014. Kementerian Dalam Negeri.
Modul 2 pengantar Ilustrasi Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah. 2014. Kementerian Dalam Negeri.
Modul 3 Pengantar Modul Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. 2014. Kementerian Dalam Negeri.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Sistem Akuntansi Pemerintahan.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 215/PMK.05/2013 tentang Jurnal Akuntansi Pemerintah pada Pemerintah Pusat
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 219/PMK.05/2013 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat