Peran Aktif Ikhwanul Muslimin Dalam Pemerintahan Mesir Pasca Revolusi Mesir Tahun 2011
Ditulis oleh :
Nursilam (1112022000073) SKI V A (TIMTENG)
Abstrak
Wacana dan konsep demokrasi mulai memasuki kawasan semenanjung Arab dan memberikan dampak tersendiri pada perubahan dunia politik dan sosial di negara-negara Arab. Terutama dalam kesempatan pembukaan bagi partai-partai politik Islam dan berbagai gerakan Islam untuk berpartisipasi dalam arena politik.
Fenomena yang paling menarik untuk dilihat adalah munculnya Ikhwanul Muslimin (Ikhwanul Muslimin) gerakan di Mesir yang menyediakan warna tersendiri antara nuansa partai politik yang meramaikan demokrasi di negeri ini. Meskipun berasal dari kelompok kecil dengan keanggotaan terbatas, namun berkat kecemerlangan ide-ide mereka dan konsistensi mereka dalam memperjuangkan tujuan mereka, gerakan itu bisa mendapatkan respon positif dari masyarakat Mesir.
Skenario politik Mesir yang cenderung dimainkan oleh ideologi dan kepentingan pribadi elit politik dan kaum kapitalis, membuat gerakan memutuskan untuk berpartisipasi dalam ranah politik. Namun kemenangan di bidang politik bukan harga tetap untuk gerakan ini, tetapi ada tujuan yang lebih mulia mereka yaitu dalam rangka berjuang untuk melestarikan dan menyebarkan Islam. Oleh karena itu, gerakan ini muncul untuk menarik emansipasi dan transformasi komunitas Muslim dan untuk mengatur ulang identitas politik dan ekonomi sosial masyarakat Muslim agar sejalan dengan nilai-nilai etika Islam.
Adapun dalam makalah ini penulis menggunakan metode penelitian analisis data yang terkumpul dari berbagai sumber literatur, seperti buku, website, publikasi resmi, artikel, dan jurnal. Selanjutnya penulis menjelaskan, mencatat, menganalisis, dan menginterprestasikan tentang hal-hal yang melandasi pokok permasalahan tentang bagaimana peran aktif Ikhwanul Muslimin dalam mewarnai perpolitikan di Mesir di bawah para pemimpin yang pro-Barat (Inggris, Amerika, Israel) sampai terjadinya revolusi di Mesir pada tahun 2011.
Pendahuluan
Dalam dunia politik kontemporer, banyak para ahli yang meyakini bahwa politik dan keyakinan (kepercayaan) adalah hal yang terpisah dan tidak ada lagi yang menerapkannya dalam bernegara. Namun di abad ini masih tumbuh gerakan-gerakan yang besar, kokoh dan berpegaruh yang berdasarkan kepada keyakinan akan Tuhan untuk membangun sebuah negara yang baik. Gerakan Ikhwanul Muslimin merupakan salah satu gerakan Islam terbesar yang terorganisir dan berpengaruh di Mesir, di Timur Tengah, Afrika Utara, bahkan berpengaruh di berbagai belahan dunia.
Ikhwanul Muslimin (IM) meyakini bahwa Islam bukanlah sekedar agama yang menuntut keyakinan dan rangkaian kegiatan-kegiatan ibadah semata, akan tetapi Islam adalah solusi untuk semua hal. IM menekankan bahwa Islam adalah ideologi yang menyeluruh (comprehensive) untuk kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat, serta sebagai landasan membangun masyarakat dan negara Islam. Hassan Albanna pendiri IM menyebutkan bahwa:
“... Islam adalah aqidah dan ibadah, negara dan kewarganegaraan, toleransi
dan kekuatan, moral dan material, peradaban dan perundang-undangan. ...”
Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi Islam yang didirikan atas dasar keinginan untuk menyatukan umat Islam setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924. Hasan Al-Banna mendirikan organisasi ini tahun 1928 untuk merangkul masyarakat Mesir agar kembali menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan dan berupaya membentengi kebudayaan barat yang berkembang di Mesir. Tahun 1952, IM bergabung dengan militer Mesir dan berhasil menggulingkan raja Farouq yang dinilai sudah menjadi boneka kerajaan Inggris. IM tumbuh membangun Mesir bersama militer hingga terjadi perselisihan dengan Gamal Abdul Naser yang menilai gerakan keagamaan mengancam stabilitas nasional. IM dibubarkan dari di Mesir dan menyebar di berbagai kawasan Timur Tengah.
Sana Abed-Kotob. The Accommodationists Speak: Goals and Strategies of the Muslim Brotherhood of Egypt. International Journal of Middle East Studies, Vol. 27, No. 3 (Aug., 1995) hal. 323.
Setelah meninggalnya Gamal Abdul Naser, Anwar sadat yang menggantikan posisi presiden mengalami kesulitan dalam menjaga stabilitas pemerintahannya akibat pengaruh komunis. Sadat membebaskan anggota-anggota IM yang ditahan selama pemerintahan Sadat dan memanggil pemimpin IM yang berada di luar negeri. Sadat memanfaatkan organisasi ini untuk mendapatkan dukungan dan menekan perkembangan komunis. Namun situasi ekonomi Mesir
yang tidak stabil akibat perperangan yang berkelanjutan dengan Israel menjadi beban pemerintahan Sadat. Untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi tersebut, Sadat memilih mengikuti diplomasi yang dilakukan AS untuk mengakhiri perang dengan Israel dan menyepakati perjanjian damai dengan Israel tahun 1978 dan 1979. Hasil dari kesepakatan tersebut memberikan Mesir atas hak milik Sinai dan Mesir menerima bantuan militer serta ekonomi berkelanjutan dari AS. Namun konsekuensi dari tindakan tersebut, Mesir dikucilkan dari dunia Arab dan kehilangan pengaruh di kawasan Timur Tengah. Gerakan-gerakan ekstrimis pun bermunculan yang berujung pada pembunuhan Anwar Sadat. Tahun 1981, Husni Mubarak memimpin Mesir dengan menjalankan apa yang telah dimulai oleh pendahulunya, Sadat. Ikhwanul Muslimin dibiarkan berkembang namun tetap dianggap sebagai organisasi ilegal.
Kebijakan luar negeri Mubarak tunduk pada kepentingan AS di Timur Tengah. Kebijakan yang dikeluarkan Mubarak cenderung menguntungkan AS dan sekutunya Israel. Sebagai negara Arab dan mayoritas muslim, Mesir tidak lagi mejalankan perannya dengan semestinya. Kebijakan terhadap kawasan Afrika hanya untuk mengambil keuntungan dari Sungai Nil dan menolak untuk membicarakan pembagian secara adil. Hubungan Mesir-Afrika tidak baik selama rezim Mubarak. Meskipun terjadi banyak tuntutan dari kelompok-kelompok masyarkat, Mubarak tidak memberikan lawan politiknya untuk tampil menyainginya. Kelompok Ikhwanul Mulsimin terus mengawalnya dari parlemen. Dengan alasan keamanan dan stabilitas negara, Mubarak selalu membubarkan
Abd al-Monein Said Aly and Manfred W. Wenner. Modern Islamic Reform Movements: The Muslim Brotherhood in Contemporary Egypt. Middle East Journal, Vol. 36, No. 3 (Summer, 1982) hal. 348.
parlemen jika tidak mendukung pemerintah. Meskipun ilegal, aktifitas gerakan IM tetap tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kecil melalui kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Setelah 30 tahun rezim Mubarak bertahan, negara-negara Arab dilanda gelombang protes terhadap pemerintah-pemerintah. Demonstrasi pertama terjadi di Tunisia, menuntut mundur rezim Ben Ali menjadi pememicu semangat reakyat Mesir menyuarakan tuntutan untuk mengakhiri rezim Mubarak. Desakan yang besar memaksa Mubarak untuk meletakkan jabatannya pada tanggal 11 Febuari 2011.
30 April 2011, IM mendirikan partai Freedom and Justice Party (FJP) sebagai sayap politik untuk mengikuti pemilihan parlemen Desember 2011-Januari 2012. IM berhasil memenangkan 47,2 % suara dan diikuti oleh partai An-Nour yang berafiliasi dengan kelompok Salafi 24,22% suara. Kemenangan FJP dan An-Nour menjadikan parlemen Mesir didominasi oleh kelompok Islam. Muhammad Mursi yang diusung Ikhwanul Muslimin dan Partai An-Nour memenangkan pemilihan presiden pada bulan Juni 2012. Setelah terpilihnya Mursi sebagai presiden baru Mesir secara demokratis, Mursi mulai melakukan pergeseran pola politik luar negeri Mesir, terutama dengan negara Inggris, Amerika, dan Israel.
Pergerakan Ikhwanul Muslimin merupakan jawaban dari kondisi masyarakat Mesir di bawah pemimpin yang pro-barat, terutama dalam aspek sosial, pendidikan, dan agama. Sehingga pergerakannya pun bukan hanya berpusat di kalangan bawah (masyarakat), tetapi Ikhwanul Muslimin juga ikut andil dalam perpolitikan Mesir dan puncaknya ketika aktivis Ikhwan berhasil menjadi presiden Mesir yang dipilih secara demokratis yakni Muhammad Mursi. Dengan menguasai pemerintahan pusat maka Ikhwanul Muslimin akan lebih mudah dalam mensyi’arkan dakwah Islam dan akan lebih mudah mewujudkan cita-cita Ikhwanul Muslimin, yaitu mengembalikan identitas politik dan ekonomi sosial masyarakat Muslim agar sejalan dengan nilai-nilai etika Islam.
Ikhwanul Muslimin Di Era Hosni Mubarak
Sita Hidriyah. Terpilihnya Muhammad Mursi dan Babak Baru Demokrasi di Mesir. Info Singkat Hubungan Internasional, Vol. IV, No. 13/I/P3DI/Juli/2012.
Ikhwanul Muslimin memiliki peranan yang signifikan di Mesir bahkan di luar negeri. Kelompok Islam moderat ini berkecimpung tidak hanya dalam bidang agama, namun juga ikut serta dalam bidang politik. Meskipun secara teoritis nasionalisme dan Islam seharusnya terpisah, Ikhwanul Muslimin mampu menjalankannya secara bersamaan. Kehadiran Ikhwanul Muslimin membuat Hosni Mubarak resah. Kegiatan-kegiatannya dianggap mengancam kekuasaan Mubarak di Mesir. Berbagai kebijakan juga dilakukan terhadap kelompok islam moderat tersebut.
Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi agama Islam yang religius dengan tujuan menyebarkan Islam dan berakhlak yang mulia. Organisasi ini didirikan oleh Hasan Al-Banna di Mesir pada 1928. Sejak organisasi ini berdiri, sasarannya adalah sosial dan politik, namun tetap berbasis Islam. Hasan Al Banna adalah pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir. Dia lahir pada Oktober 1906 di Buhairah, timr laut Kairo. Ayahnya seorang imam dan pengajar di masjid. Ketika berumur belasan tahun, dia mulai mempelajari sufi, mengajar, dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Gabungan dari berbagai pengaruh, mulai dari sufisme, pemikiran Muhammad Rashid Ridha dan gerakan Salafiyah, nasionalisme hingga ajaran dari ajaran ayahnya, membuat Al-Banna membuat sebuah pemikirannya sendiri. Sewaktu menjadi seorang pengajar, dia banyak bergaul dengan masyarakat setempat. Pada 1927, Al-Banna mendukung berdirinya Ikatan Pemuda Muslim di Kairo dan pada tahun 1928, dia mendirikan jamaahnya sendiri yang bernama Ikhwanul Muslimin. Dia terbunuh oleh polisi pada 12 Februari 1949.
Dalam pergerakannya, Ikhwanul Muslimin menggunakan konsep ketaatan kepada pemimpin dan pola organisasinya yang ketat yang menghubungkan pimpinan tertinggi sampai satuan terkecil, seperti keluarga. Organisasi ini juga
mencakup hubungan yang cukup luas, mulai dari teknis dan komite maupun dewan penasihat. Ikhwanul Muslimin telah memiliki lebih dari 300 cabang yang menyebarluaskan gagasan-gagasannya. Ikhwanul Muslimin juga mendirikan pabrik, perusahaan, sekolah, dan rumah sakit sendiri.
Abd al-Monein Said Aly and Manfred W. Wenner. Op. Cit. Hal. 337.
Ikhwanul Muslimin memiliki daya tarik yang kuat. Banyak kalangan masyarakat Mesir yang mendukung mereka, mulai dari guru besar, mahasiswa, dokter, pengacara sampai kaum professional lainnya. Meskipun pemerintahan melarang dan menyatakan tidak sah, organisasi ini tetap diterima secara de facto. Ikhwanul Muslimin juga mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa kelompok-kelompok Islam secara umum mampu memperoleh legitimasi dan pengaruh positif yang mereka miliki dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalankan misinya, Ikhwanul Muslimin bekerja melalui organisasi-organisasi sah yang ada di Mesir.
Pada saat Mubarak sibuk menumpas kelompok Islam radikal, Ikhwanul Muslimin memposisikan diri mereka menjadi sebuah kekuatan politik alternatif dan bersuara moderat. Ikhwanul Muslimin memang menjadi pihak yang diuntungkan dalam permasalahan tersebut, namun dia juga tidak bisa luput dari kecaman pemerintahan Mubarak. Akan tetapi, meskipun Mubarak berusaha menumpas mereka, hal itu tidak membuat Ikhwanul Muslimin ini hancur. Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah organisasi yang cukup unik. Dia merupakan sebuah organisasi yang berkecimpung di dunia keagamaan, dalam hal ini adalah Islam, sosial, dan politik.
Ikhwanul Muslimin terkadang memilih menggunakan cara kekerasan untuk menentang kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan prinsip yang mereka yakini. Ikhwanul Muslimin juga seringkali menyesuaikan strateginya dengan angin politik yang sedang berhembus. Hal ini dibuktikan saat Ikhwanul Muslimin mencoba mengambil hati Mubarak ketika pemerintahan Mesir sedang bersitegang dengan kelompok Islam radikal. Ketika itu Ikhwanul Muslimin muncul sebagai sebuah organisasi Islam moderat.
Dalam pemerintahannya, Mubarak menjalin hubungan yang dapat dikatakan cukup baik dan lebih akomodatif dengan pihak oposisinya, yaitu dengan memberi ruang kepada mereka agar pihak oposisi dapat menyalurkan aspirasinya. Hal ini dilakukan Mubarak karena dia sadar bahwa “Kebangkitan
Barry Rubin. The Muslim Brotherhood: The Organization and Political of a GlobalIslamic Movement (United States: 2010) Hal. 39.
Islam” bukanlah kekuatan asing yang merupakan kelanjutan dari gerakan-gerakan sebelumnya yang telah berlangsung lama dan melibatkan banyak unsur sesuai perkembangan demokrasi dan kapitalisme. Keleluasaan yang diberikan oleh Mubarak agar Ikhwanul Muslimin dapat bekerja sama dengan pemerintah supaya tidak memunculkan kelompok Islam yang lebih radikal tidak lagi menentang pemerintahan Mubarak, namun pemerintah sendiri akan membatasi gerak-gerak Ikhwanul Muslimin agar tidak menyalahgunakan kewenangan tersebut.
Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam politik Mesir. Pemerintah Mesir memang tidak mengakui Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah partai politik, namun diakui sebagai semi organisasi. Pemerintahan Mubarak juga mengizinkan Ikhwanul Muslimin untuk ikut dalam pemilihan umum parlemen dan berkoalisi dengan partai politik lainnya. Pada 1980 sampai 1990, Ikhwanul Muslimin lebih menunjukkan eksistensinya dalam bidang agama, baik secara moderat maupun militan. Pada Agustus 1995, Mubarak menangkap ratusan aktivis Ikhwanul Muslimin ke pengadilan militer yang biasanya digunakan untuk mengadili para tersangka teroris.
Penjelasan di atas menjelasakan bahwa Mubarak juga melakukan tindakan dan kebijakan terhadap Ikhwanul Muslimin. Berbeda dengan Al-Jamaah Wa Jihad, Ikhwanul Muslimin lebih moderat. Dalam hal ini, Mubarak sempat memberikan keleluasaan terhadap kegiatan-kegiatan Ikhwanul Muslimin, misalnya mengizinkan Ikhwanul Muslimin mengikuti pemilihan umum meskipun hanya berkoalisi dengan salah satu partai politik. Meskipun diberi kebebasan, Mubarak tetap membatasi gerak-gerik para anggota Ikhwanul Muslimin serta menangkap kemudian menghukum anggota yang dianggap mengancam kekuasaan Mubarak.
Dinamika politik Timur Tengah yang rawan konflik sangat mempengaruhi politik luar negeri Mesir. Di era pemerintahan Husni Mubarak, Mesir merupakan negara sekutu AS yang membantu keberlangsungan kepentingan AS di Timur Tengah terutama terkait keberadaan Israel yang terjalin sejak penandatanganan perjanjian Camp David. Kedekatan AS dan Mesir menyebabkan politik luar
negeri Mesir cenderung menguntungkan kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah dan banyak merugikan kelompok-kelompok Islam yang merupakan kelompok dominan di Timur Tengah. Pemerintah Mesir mengembangkan sekulerisme dan membantu AS membelenggu gerakan-gerakan Islam yang diyakini AS sebagai kelompok-kelompok teroris yang mengancam keamanan internasional.
Keberpihakan Mesir terhadap dunia barat menghilangkan jati diri Mesir sebagai bangsa Arab. Mesir kehilangan kepercayaan dan kekuatan untuk merangkul persatuan bangsa Arab seperti yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Gamal Abdul Nasir. Mesir semakin terpuruk dalam kendali AS, semakin tergantung pada bantuan ekonomi AS dan tidak dapat berbuat apa-apa terhadap konflik disekitarnya yang berkaitan dengan agresi Israel.
Setelah terjadinya pergolakan di beberapa negara kawasan Timur Tengah (Arab Spiring), demonstran Mesir berhasil memaksa Husni Mubarak untuk mundur dari jabatan presiden dan menyerahkan kekuasaan sementara pada Dewan Agung Militer. Kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan Islam terbesar di Timur Tengah mendapatkan peluang untuk mendapatkan kepercayaan rakyat untuk memerintah Mesir. Pada pemilihan parlemen tahun Desember 2011 hingga Januari 2012, FJP sebagai sayap politik Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilihan umum dengan mendapatkan 47,2% suara. IM juga mendapatkan kepercayaan rakyat dengan terpilihnya Muhammad Mursi salah seorang petinggi IM sebagai presiden terpilih Mesir untuk menjalankan pemerintahan yang baru.
Gerakan Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan muslim terbesar di Mesir dan Timur Tengah bahkan paling berpengaruh di Dunia. IM menilai hegemoni AS yang kuat di Timur Tengah dan Mesir memberikan dampak buruk terhadap dunia Islam. IM didirikan sejak tahun 1928 dibangun atas dasar keinginan untuk mengembalikan semua aspek kehidupan masyarakat pada ajaran Islam. IM memandang AS telah melakukan penindasan terhadap kelompok-kelompok Islam
Robert. S. Leiken amd Steven Brooke. The Moderate Muslim Brother. Jurnal Foreign Affairs, Vol. 86, No. 2 (Mar-April, 2007) Hal. 121.
apalagi keberpihakannya terhadap Israel yang menduduki Palestina. Meskipun gerakan ini mendapatkan tekanan yang sangat kuat sejak didirikan namun terus berkembang pesat menjadi kekuatan paling berpengaruh terhadap peta politik di Timur Tengah. Setelah IM menguasai Mesir, IM menata ulang negara Mesir dengan menekankan aspek demokrasi yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam. Perbedaan Ideologi yang mendasar dari kepemimpinan IM dari pemerintahan sebelumnya akan berpengaruh pada arah kebijakan luar negeri Mesir pasca terjadinya revolusi.
Ikhwanul Muslimin Di Era Muhammad Mursi
Era Muhammad Mursi, Politik luar negeri Mesir untuk Palestina semakin berkembang setelah Mesir berada di bawah kepemimpinan Muhammad Mursi. Pada tahun 2012 atau ketika Muhammad Mursi memimpin Mesir, perbatasan Mesir-Palestina kembali dibuka, dan rakyat Palestina diizinkan untuk memasuki Mesir tanpa visa. Sembari membela hak-hak rakyat Palestina, Mesir dengan dukungan pihak pertahanan terus mengkritik operasi militer yang dilakukan Israel di Gaza. Perbatasan Rafah dibuka selama 12 jam, dan dibuka enam kali dalam seminggu, dan penduduk Gaza yang yang berusia antara 18-40 tahun harus melapor untuk dapat melintasi perbatasan tersebut, sementara wanita dan anak-anak tidak perlu melapor. Mereka yang menggunakan perbatasan untuk tujuan berdagang dalam skala besar masih dipertimbangkan untuk dapat melintasi perbatasan tersebut.
Duta besar Mesir untuk Israel ditarik dan duta besar Israel untuk Mesir mendapat protes resmi dari Mesir. Dan orang yang ada di balik dukungan nyata Mesir ini adalah presiden terpilih hasil pemilu, Muhammad Mursi. Mursi terpilih menjadi presiden Mesir pada 8 Juli 2012. Mursi pernah menyatakan bahwa “The Israelis must realise that this aggression is unacceptable and would only lead to instability in the region”. Liga Arab mendukung protes terhadap Israel dengan melakukan serangkaian pertemuan dan meminta dukungan dari Dewan Keamanan PBB.
Semenjak Mursi berkuasa, hubungan Mesir-Palestina sangat aktif, selain membuka kembali perbatasan Rafah, pada 29 November 2012, Mesir juga mendukung Palestina menjadi anggota PBB dengan upaya voting United Nations General Assembly resolution 67/19. Keputusan resolusi tersebut menjadikan Palestina sebagai salah satu peninjau non-anggota di PBB, posisi tersebut sama seperti Vatikan.
Dibukanya kembali perbatasan Rafah menunjukkan keberhasilan kebijakan luar negeri Mursi, karena dianggap lepas dari tekanan Israel. Dibukanya kembali perbatasan memudahkan penduduk Gaza yang berjumlah sekitar 1.5 juta orang mendapatkan akses ke dunia yang lebih luas, karena selama ini mereka merasa di blokade oleh Israel dan dihalang-halangi oleh Mesir. Terbukanya kembali perbatasan Rafah menurut Alan Phils, penulis harian di The National, UEA, menunjukkan adanya gap antara Mesir dan Israel, dan menunjukkan sinyal bahwa politik luar negeri Mesir telah berubah dan Mesir akan bertindak tanpa harus berkonsultasi dulu dengan Israel.
Masyarakat Palestina terutama Gaza menyadari bahwa mereka menaruh harapan yang besar pada Mursi, yang akan lebih simpati dengan mereka, dan memiliki kedekatan ideologis dengan organisasi nomor satu di Gaza, HAMAS. Diakui Mesir, bahwa pembukaan perbatasan Rafah belum mengakhiri blokade terhadap Gaza, namun ini menunjukkan perubahan yang signifikan.
Politik domestik Mesir mengalami kekisruhan di tahun 2013 yang menyebabkan Mursi harus mundur dari jabatan. Turunnya Mursi dari presiden menyebabkan militer kembali berkuasa di Mesir. Perubahan politik domestik ini kemudian mempengaruhi urusan luar negeri Mesir seperti isu Palestina. Tak lama setelah penggulingan Mursi pada 3 Juli 2013, militer kembali menutup perbatasan Rafah, dengan alasan terjadi penembakan terhadap 20 orang polisi di dekat perbatasan dan pelakunya diduga dari militan HAMAS. Peristiwa ini menjadi perhatian karena selama masa Mursi memimpin, perbatasan Rafah dilewati 1200 orang tiap harinya. Penutupan kembali perbatasan Rafah diduga dipengaruhi
pihak lain terutama Israel, dan HAMAS memiliki hubungan yang tidak baik dengan pemerintahan Mesir yang berasal dari latar belakang militer.
Ikhwanul Muslimin dan Dasar Pemikirannya
Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimun (Muslim Brotherhood) atau Ikhwanul Muslimin adalah kelompok gerakan Islam Suni yang didirikan oleh Al-Banna pada tahun 1928. Ikhwanul Muslimin didirikan sebagai solusi atas kemunduran Islam yang terpecah belah dan semakin jauh dari nilai-nilai kehidupan Islam. Keruntuhan kekhalifahan Turki Usmani tahun 1924 adalah puncak dari kemunduran umat Islam. Krisis keyakinan, ideologi, ekonomi, perpecahan diberbagai negeri muslim, bahkan penjajahan dan pendudukan diberbagai wilayah muslim semakin melemahkan dan memuat umat Islam tidak berdaya. Dari hal-hal seperti inilah, Hasan Al-Banna mendirikan IM agar dapat mengobarkan persatuan umat Islam dan menjadikan nilai-nilai dan hukum-hukum Islam kembali menjadi dasar-dasar dari seluruh aspek kehidupan.
Kondisi-kondisi kemunduran Islam dan keadaan Mesir yang sudah menjauhkan nilai-nilai Islam dari kehidupannya menjadi salah satu tujuan utama Al-Banna mendirikan IM. Setelah perang dunia pertama usai, Inggris dan Prancis menjadi negara yang paling memiliki kekuasaan di negeri-negeri muslim. Inggris memiliki kekuasaan antara lain di Mesir, Sudan, Irak, Palestina, India (sebelum terpisah dengan Pakistan), Malaysia, Nigeria dan beberapa wilayah Afrika. Sedang kan Prancis memiliki wilayah jajahan yaitu Suriah, Libanon, Afrika Utara (Tunisia, Al-Jazair, dan Maroko) Mauritania, Sinegal dan beberapa wilayah lainnya. Hukum positif Inggris menggantikan secara utuh hukum Islam (Syari’ah Law) yang selama tiga belas abad menjadi sumber hukum agama, peradilan dan perundang-undangan di Mesir. Pemikiran Barat mulai berkembang dalam semua aspek, baik dalam filsafat, moral, politik, ekonomi, dan budaya barat menjadi rujukan serta tren menggantikan budaya Islam yang sudah bekembang sejak lama.
Gaza: Hamas urges Egypt to reopen Rafah crossing, BBC, 23 Agustus 2013, dalam http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east- 23809332. Diakses pada tanggal 17 Desember 2014. Pukul 14.51.
Keadaan-keadaan yang terjadi di Mesir menimbulkan tuntutan-tuntutan dari berbagai kalangan masyarakat di penjuru negeri Islam untuk mengembalikan ke khalifahan Islam yang telah runtuh tahun 1924. Para kalangan atas, pemuka-pemuka masyarakat dan pemuka-pemuka agama juga mengikuti arus westernisasi sehingga intervensi Inggris semakin kuat, terutama dalam bidang ekonomi. Akhirnya enam orang rekan-rekan Al-Banna berkumpul berbagi visinya untuk Ismailiyah dan Mesir dan membicarakan perlunya gerakan untuk mengembalikan keadaan masyarakat yang menjunjung nilai-nilai Islam. Melalui pertemuan ini, Al-Banna mendirikan organisasi “Ikhwanul Muslimin” yang dipimpin langsung olehnya. Nama Ikhwanul Muslimin dipilih oleh Al-Banna :
“We are brothers in the service of Islam; hence we are “The Muslim
Brothers.”
Al-Banna meyakini bahwa Islam memiliki sistem yang lengkap, aturan-aturan bersumber dari Tuhan baik permasalahan keseharian, hukum, politik dan berbagai aspek lainnya.
Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah organisasi Islam berlandaskan ajaran Islam. IM menganut paham sunni yang moderat dan universal sesuai dengan Al Qur’an dan Hadis yang dijadikan landasan utama. IM memandang bahwa Islam adalah agama yang universal dan menyeluruh, bukan hanya sekedar agama yang mengurusi ibadah ritual seperti shalat, zakat, puasa, haji saja.” Pandangan dasar IM terhadap Islam mengikuti mazhab Hambali salah satu dari empat ulama mazhab utama dalam Islam. Mazhab Hambali ini merupakan mazhab yang sangat teliti dalam menafsirkan dan menerapkan Al-Qur’an dan Hadist.
Perhatian utama dari IM berpusat pada dominasi Mesir oleh kekuatan asing yang telah merubah budaya Islam di Mesir, kemiskinan, merosotnya moral masyarakat yang telah terjadi diseluruh pelosok Mesir. IM meyakini bahwa solusi untuk semua permasalahan ini hanya dengan mengembalikan ajaran Islam sebagai pedoman utama dalam masyarakat dan perlunya untuk membangun pemahaman
bahwa umat Islam adalah umat yang satu dan harus brsama-sama melawan pengaruh buruk dari budaya barat. Mengenai pandangan tentang persatuan umat Islam ini, IM juga mendapatkan ide-ide dari cendikiawan Islam Jamaludin Al-Afghani. Jamaludin Al-Afghani memiliki pandangan perlunya persatuan umat Islam di seluruh dunia (Pan-Islam) untuk menyingkirkan dominasi barat dan menerapkan Islam sebagai dasar utama dalam kehidupan. Perbedaan-pebedaan
dalam padangan Islam harus dicermati dengan baik sehingga tidak memecah belah umat Islam dan semakin menenggelamkan Islam. Pandangan ini juga menjadi dasar bagaimana IM dalam tindakan-tindakan organisasinya.
Hassan Al-Banna merupakan tokoh utama sebagai pendiri dan meletakkan dasar-dasar gerakan Ikhwanul Muslimin. Prinsip-prinsip dasar IM dikumpulkan dalam buku Risalah Pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Diantara prinsip dasar gerakan IM terdapat lima selogan, yaitu : Allah ghayatuna (Allah adalah tujuan kami), Ar-Rasul qudwatuna (Rasul adalah teladan kami), Al-Qur'an syir'atuna
(Qurban adalah undang-undang kami), Al-Jihad sabiluna (jihad adalah jalan kami), dan Asy-Syahadah umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami).
Cara pandang Al-Banna tentang pentingnya persatuan umat Islam diseluruh dunia sangat dekat dengan Pan-Islam yang digulirkan oleh Jamaludin Al-Afghani. Jamaludin Al-Afghani merupakan seorang syi’ah yang memiliki pandangan universal sehingga mengenyampingkan perbedaan-perbedaan yang ada dan mengedepankan persatuan. Ide Pan-Islam inilah yang terus dikembambangkan Al-Banna meskipun secara akidah (keyakinan) berbeda dengan Al-Afghani.
Al-Banna mempunyai visi untuk menyatukan seluruh umat Islam dan persatuan negara-negara Islam. Tujuan utama Al-Banna dalam IM adalah untuk mempersatukan umat yang terpecah belah setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani. Sejak awal gerakan ini muncul, IM sangat gencar untuk menyatukan pihak-pihak yang saling bercerai dan bermusuhan dalam kerangka perjuangan
Zafar Ishaq Ansarī. Contemporary Islam and Nationalism a Case Study of Egypt. Brill: Die Welt des Islams, New Series, Vol. 7, Issue 1/4 (1961). Hal. 12
untuk Islam, dari kelompok, individu maupun lembaga. Al-Banna menegaskan gerakan tersebut adalah untuk membangun dan menghimpun, tidak menghancurkan, tidak memecah belah.
Keinginan Al-Banna terhadap IM bukan untuk meleburkan akidah, akan tetapi untuk menyatukan barisan (Tauhidus Sufuf) dari keduanya sebagai rekonsiliasi, sekaligus koalisi untuk membendung arus ateisme, komunisme, sosialisme, kapitalisme, imperialisme dan hedonisme yang telah terjadi di negeri-negeri Islam.
Al-Banna menyanggah pendapat-pendapat yang menganggap bahwa berpengang pada Islam berarti mengancam hubungan dengan barat, menjadikan barat takut dengan Islam dan berprasangka buruk. Mengenai hal ini, Al-Banna mengemukakan bahwa banyak orang mengira bahwa sistem Islam dalam kehidupan baru akan menjauhkan umat Islam dari negara-negara barat dan dapat merusak hubungan yang sudah terjalin baik, namun dugaan ini tidak beralasan. Islam secara tegas berbicara tentang perjanjian-perjanjian dan melaksanakan kesepkatan-kesepakatan. Meskipun berhadapan dengan kelompok yang tidak seakidah, Islam tetap meletakkan prinsip-prinsip untuk menghormati perjanjian dan harus dilaksanakan.
Ikhwanul Muslmin adalah organisasi Islam Suni terbesar yang paling terorganisir bahkan hingga pada level mayarakat terkecil. Tingkat yang paling dasar dari organisasi ini adalah keluarga sebagai sel terkecil yang terdiri sekitar 5 orang. Kemudian sel-sel ini berinteraksi dan berbagi dengan sel-sel yang lainnya dan menunjuk seorang pemimpin yang disebut dengan Naqib untuk mewakili di dewan administrasi cabang Ikhwanul Muslimin setempat. Setiap keluarga diperlukan untuk memimpin masyarakat sekitarnya untuk menuntun gaya hidup secara Islam, memperkuat ikatan dengan umat Islam lainnnya, melakukan pertemuan mingguan, serta kegiatan-kegiatan rutinitas seperti sholat, berpuasa, mempelajari Al-Qur’an dengan sesama anggota gerakan, menyumbangkan sebagian pendapatan untuk dana solidaritas yang digunakan untuk anggota yang membutuhkan dan sebagian dimasukkan dalam anggaran kesejahteraan umum
dari markas IM. Aktifitas sel-sel ini sangat efektif sebagai pelatihan terhadap anggota-anggota gerakan.
Aktifitas dari sel-sel ini dipantau oleh tingkat administrasi daerah. Bagian ini titunjuk sebagai badan independen baik secara sosial (kegiatan-kegiatan sosial dalam masyarakat) maupun politik. Ditingkat administrasi daerah ini tunduk pada pedoman dari Mursyid ‘Am. Di tingkat tertinggi pimpinan Ikhwanul Muslimin disebut Mursyid 'Am atau Ketua Umum. Adapun tugas dari Mursyid 'Am adalah untuk mengatur organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga cabang-cabang seluruh dunia. Mursyid ‘Am di tunjuk oleh dewan syura.
Mursyid 'Am yang pernah memimpin Ikhwanul Muslimin adalah Hassan al-Banna (1928-1949), Hassan al-Hudhaibi (1949-1972), Umar at-Tilmisani (1972 - 1986), Muhammad Hamid Abu Nasr (19861996), Mustafa Masyhur (1996 -2002), Ma'mun al-Hudhaibi (2002-2004), Muhammad Mahdi Akif (2004-2010), Muhammad Badie (2010-sekarang).
Kebijakan-kebijakan Muhammad Mursi Pasca Revolusi 2011
Dalam pembentukan politik luar negeri suatu negara, faktor psikologis dan latar belakang pengambil keputusan merupakan hal penting yang harus dieprhatikan. Pasca revolusi Mesir, Kelompok Ikhwanul Muslimin menjalankan peran sebagai kelompok yang menguasai posisi-posisi strategis dalam politik Mesir. Ideologi yang dibangun oleh gerakan ini akan sangat mempengaruhi bagaimana kebijakan baru politik luar negeri Mesir. Walaupun pengambil keputusan adalah seorang individu, faktor organisasional yang menjadi latar belakang invividu tersebut akan memberikan pengaruh besar dalam membuat suatu keputusan. Peran IM dalam menentukan pola baru politik luar negeri Mesir tidak hanya didukung oleh kuatnya basis dalam masyarakat, namun juga keberadaan anggota dari kelompok ini sebagai pengambil putusan.
Politik luar negeri Mesir yang telah dibangun Mubarak mulai berubah sejak duduknya Mursi sebagai presiden baru. Mursi mengambil langkah aktif dalam menempatkan Mesir dalam peran regional dan internasional. Sebelum maju
dalam pemilihan presiden Mesir, Muhammad Mursi merupakan ketua partai FJP yang merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin. FJP dan IM secara aktif menerima kunjungan dan menemui delegasi dari berbagai negara untuk memperkuat hubungan Mesir dan peningkatan kerjasama ekonomi dan politik. Meskipun Mesir merupakan sekutu utama AS di Timur Tengah, Mursi tidak menunjukkan aksi positif dalam hubungan AS-Mesir sebagai mitra strategis. Mursi memulai kunjungan luar negerinya ke Arab Saudi, Cina, Iran yang menyebabkan timbulnya berbagai spekulasi politik. Mursi memperkuat hubungan dengan Arab Saudi serta mengambil langkah aktif terhadap krisis yang terjadi di Suriah. Mesir berhasil mengajak Arab Saudi, Turki dan Iran sebagai kelompok Islam untuk membantu menyelesaikan konflik Suriah. Mursi juga mengunjungi Ethiopia menghadiri KTT Uni Afrika yang tidak pernah dihadiri oleh Mubarak sejak tahun 1995.
Langkah Mursi untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Arab semakin kuat ketika menghadiri KTT non-blok pad 30-31 Agustus di Teheran. Kunjungan Mursi merupakan kontak pertama hubungan antara Mesir dan Iran sejak terjadinya pemutusan hubungan diplomatik tahun 1979. Sambutan yang disampaikan Mursi dalam pembukaan KTT ini menekankan untuk segera mencarikan solusi untuk krisis Suriah. Tindakan Mursi untuk menghadiri KTT Non-Blok di Teheran mencerminkan bentuk baru dari kebijakan luar negeri Mesir. Mursi tidak hanya menunjukkan keinginan Mesir untuk hubungan yang lebih terbuka, namun juga memperlihatkan kebijakan Mesir yang bebas tanpa tekanan dari AS. Padahal sebelumnya pemerintahan Obama telah berupaya menghalangi negara-negara anggota PBB untuk menghadiri pertemuan di Teheran karena dinilai akan mengganggu upaya internasional untuk melaksanakan sanksi terhadap Iran.
Republika Online. Oposisi Suriah Dukung Pidato Mursi di GNB. Diposting pada tanggal 31 August 2012, 00:14 WIB. Bisa diakses dalam
http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/12/08/31/m9kvww-oposisi-suriah-dukung-pidato-mursi-di-gnb. diakses pada tanggal 21 Desember 2014.
Upaya Mesir untuk melibatkan Iran dalam “Contact Group” penanganan krisis Suriah merupakan bagian dari keinginan Ikhwanul Muslmin dalam merangkul negara-negara Islam dalam satu kekuatan. Negara-negara Arab terutama Arab Saudi memiliki hubungan yang buruk dengan Iran. Konflik Islam Sunni dan Syiah menjadil latar belakang memburuknya hubungan kedua negara ini. Iran sebagai negara Islam Syi’ah terbesar, berupaya melindungi rezim Bashar Assad yang berlatar belakang Syi’ah dan menuduh Arab Saudi dan Turki
mendukung pemberontak untuk menjatuhkan rezim. Sementara negara-negara Arab lainnya menuntut rezim Assad mengikuti keinginan rakyat Suriah. Mursi berupaya melibatkan Iran dalam pembicaraan perdamaian bersama negara-negara Arab lainya, meskipun banyak negara-negara yang menyangsikan keberadaan Iran tidak akan memberikan solusi.
Hubungan Mesir-AS semakin dingin setelah terjadinya serangan terhadap kedutaan besar AS di Mesir. Obama mengecam pemerintah Mesir yang dinilai lamban dalam menangani kasus serangan terhadap kedubesnya. Dalam wawancara yang dilakukan The New York Times Mursi menjawab kritikan Obama dengan menyatakan bahwa pemerintah Mesir akan menindak tegas namun harus melakukan tindakan dalam situasi yang tepat. Dalam wawancara tersebut Mursi mengkritik Barat untuk merubah cara pandang dan pendekatannya terhadap dunia Arab.
“If Washington is asking Egypt to honor its treaty with Israel, he said, Washington should also live up to its own Camp David commitment to Palestinian self-rule. He said the United States must respect the Arab world’s history and culture, even when that conflicts with Western values.”
Menurut Mursi, Barat harus merubah sikapnya terhadap dunia Arab dengan menghormati nilai-nilai yang ada dan harus membantu membangun negara Palestina agar kebencian yang telah terbangun selama puluhan tahun dapat hilang. Hubungan sekutu antara AS dan Mesir tidak lagi dapat dilihat dari sikap yang ditunjukkan kedua pemimpin negara ini. Obama juga menyatakan bahwa
Mesir bukanlah sekutu AS namun juga bukan Musuh baginya. Obama mengatakan :
"I don't think we would consider them an ally, but we don't consider them an enemy. They are a new government that is trying to find its way,"
Mursi juga menyatakan pemerintahannya akan menjaga hubungan baik dengan Barat akan tetapi tidak akan sama seperti rezim terdahulu. Mursi meminta AS untuk memenuhi tanggung jawabnya terhadap kemerdekaan Palestina. AS dinilai bertanggung jawab untuk memenuhi perjanjian Camp David 1978 untuk memaksa Israel menarik mundur pasukan dari Gaza dan Tepi Barat serta menyerakan pemerintahan secara penuh pada rakyat Palestin. Mursi menyatakan:
“As long as peace and justice are not fulfilled for the Palestinians, then the treaty remains unfulfilled,”
Meskipun selama bertahun-tahun AS sebagai negara utama yang mendukung perekonomian Mesir, Mursi tidak memanfaatkan kedekatan tersebut untuk membangun kembali perekonomian yang terpuruk pasca revolusi. Mursi lebih memilih mengupayakan kerjasama ekonomi dan bantuan dari negara-negara Arab dan Islam bahkan Cina dari pada memanfaatkan kedekatan dengan AS.
Kesimpulan
Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah oraganisasi sosial yang terbentuk atas dasar semangat juang umat Islam Mesir yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna. Kondisi masyarakat Islam Mesir yang sedang mengalami kemunduran dalam segala aspek kehidupan; Sosial, politik, ekonomi dan agama. Kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terjadi di Mesir benar-bnar dirasakan oleh masyarakat Mesir, itu disebabkan karena keberpihakan elit politik pada negara-negara barat (Amerika, Inggris dan Israel). Keberpihakan kaum elit plotik tersebut akan menimbulkan ketidaksenangan masyarakat Mesir terhadap pemerintahan, karena kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan selalu dipengaruhi oleh pihak-pihak asing dan kebijakan tersebut banyak menguntungkan pihak asing dan merugikan rakyat Mesir. Sehingga kepala pemerintahan hanya sebagai bonekanya
asing, yang lebih mengedepankan kepentingkan negara Asing. Kondisi seperti ini yang membuat geram dan membangkitkan semangat sekumpulan kaum Muslimin yang membentuk dan berhimpun dalam sebuah organisasi yang dinamakan dengan Ikhwanul Muslimin.
Era Muhammad Mursi atau pasca revolusi mampu untuk mengubah haluan politik luar negeri yang pro-barat, dan membangun dan mengembalikan kembali kepercayaan negara-negara Timur Tengah terhadap Mesir. Dibuktikan dengan kunjungan resmi Muhammad Mursi ke negara Arab Saudi disusul Ethiopia, Cina, dan Iran. Tindakan yang dilakukan Mursi ini menunjukan bahwa tidak menjadikan AS sebagai sekutu utama Mesir. Mursi lebih memilih melakukan penguatan huubungan ekonomi dengan Cina daripada mempererat hubungan dengan AS telah lama menjadi kekuatan utama membantu ekonomi dan militer Mesir. Mursi juga membawa Mesir terlibat aktif dalam upaya perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Mursi juga merangkul Iran, Turki dan Arab Saudi untuk terlibat akitif dalam menyelesaikan konflik Suriah. Hubungan Mesir dan AS terlihat semakin menjauh, hingga akhir 2012 tidak ada terjadi pertemuan bilateral tingkat kepala negara diantara kedua negara ini.
Oleh karena itu maka Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah kekuatan oposisi yang cukup kuat dan sangat efektif. Bahkan, seorang penulis di Mesir yang mengamati dan memahami masalah ini mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin menjadi kelompok alternatif Islamis yang berpengaruh, baik di kalngan masyarakat bawah juga di kalangan elit politik pemerintahan.
Aavsar, Esra. The Transformation Of The Political Ideology And The Democracy Discourse Of The Muslim Brotherhood In Egypt (Thesis ,Middle East Studies: 2008)
Devina, Rachilda. Konsep Syura Perspektif Hassan Al-Banna. Jakarta: Institu Institutional Repository UI, 2007.
Faris, Ahmad. Transformasi Ikhwanul Muslimin Dari Gerakan Sosial ke Gerakan Politik. Artikel Ilmiah STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, 2014.
Jurdi, Syarifudin. Gerakan Sosial Islam: Kemunculan, Eskalasi, Pembentukan Blok Politik dan Tipologi Artikulasi Gerakan. Jurnal Politik Profetik, Vol.1, No.1 tahun 2013.
Hasan Al-Banna. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 2. Surakarta: Era Edicitira Intermedia, 2012.
Said Aly, Abd al-Monein and W. Wenner, Manfred. Modern Islamic Reform Movements: The Muslim Brotherhood in Contemporary Egypt. Middle East Journal, Vol. 36, No. 3. Summer, 1982. Accessed: 18/11/2014 05:00. http://www.jstor.org/stable/4326425.
Rubin, Barry. The Muslim Brotherhood: The Organization and Political of a GlobalIslamic Movement. United States: Palgrave Macmillan, 2010.
Sana Abed-Kotob. The Accommodationists Speak: Goals and Strategies of the Muslim Brotherhood of Egypt. International Journal of Middle East: Cambridge University Press, Vol. 27, No. 3. Aug., 1995. Accessed: 18/11/2014 05:35. http://www.jstor.org/stable/176254.
Hidriyah, Sita. Terpilihnya Muhammad Mursi dan Babak Baru Demokrasi di Mesir. Info Singkat Hubungan Internasional, Vol. IV, No. 13/I/P3DI/Juli/2012.
Judy, Michael. The muslim Brother and the Theat to U.S. National Securuity-The Movement. Global Scurity Studies, Vol.2, Issu.4, tahun 2011.
Nur, Indria. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam Imam Hasan Al-Banna.
Artikel STAIN Sorong. Accessed: 06/12/14 23.50. http:www. stain-sorong.ac.id.
Amalia, Rizfa. Kebijkan-Kebijakan Hosni Mubarak Di Mesir (1981-2011), Skripsi UI Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (Depok: 2012) hal. 26.
Robert. S. Leiken amd Steven Brooke. The Moderate Muslim Brother. Jurnal
Ansarī, Zafar Ishaq. Contemporary Islam and Nationalism a Case Study of Egypt. Brill:
Die Welt des Islams, New Series, Vol. 7, Issue 1/4 (1961). Accessed:
18/11/2014 05:27. http://www.jstor.org/stable/1569567.
Gaza: Hamas urges Egypt to reopen Rafah crossing, BBC, 23 Agustus 2013, dalam
http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east- 23809332. Diakses pada tanggal 17 Desember 2014. Pukul 14.51.
Middle East Policy Council, Egypt Opens Its Border with Gaza, dalam
http://www.mepc.org/articles-commentary/commentary/egypt-opens-its-border-gaza?print.Diakses pada tanggal 17 Desember 2014. Pukul 14.56.
The Guardian. Muslim Brotherhood's Mohammed Morsi wins Egypt's presidential
race.posted:June 2012. Dapat diakses di:
http://www.guardian.co.uk/world/middle-east-live/2012/jun/24/egypt-election-results-live. Diakses pada tanggal 17 Desember 2014. Pikul 15.21.
Ernesto Londoño., Visit by Egypt’s Morsi to Iran reflects foreign policy shift. Diakses dari : http://articles.washingtonpost.com/2012-08- 27/world/35491859_1_morsi-nuclear-program-minister-ali-akbar-salehi. Diakses pada tanggal 17 Desember 2014. Pikul 16.51.
Bridget Johnson. Bashar Al-Assad. Diakses pada tanggal 17 Desember 2014.
Pukul.17.02. dapat diakses pada:
http://worldnews.about.com/od/syria/p/Bashar-Al-Assad.htm.
Republika Online. Oposisi Suriah Dukung Pidato Mursi di GNB. Diposting pada tanggal 31 August 2012, 00:14 WIB. Bisa diakses dalam