• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan dan Penetapan Masalah Peneliti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemilihan dan Penetapan Masalah Peneliti"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PEMILIHAN DAN PENETAPAN MASALAH PENELITIAN Disusun dalam rangka memenuhi tugas

Mata kuliah Metodologi Penelitian

Dosen:

Prof. Dr. Zainal Rafli, M.Pd. Dr. Asti Purbarini, M.Pd.

Oleh Kelompok 2:

Nada Muthia Zahrah Qurrata A’yunin

Tri Septiarini (Kelas B)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA PROGRAM PASCASARJANA

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Sehingga, kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Pemilihan dan Penetapan Masalah Penelitian”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat, tata bahasa maupun isinya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata, kami berharap semoga makalah “Pemilihan dan Penetapan Masalah Penelitian” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta, September 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II...3

PEMBAHASAN...3

2.1. Masalah dan Topik Penelitian...3

2.1.1 Definisi Masalah Penelitian...3

2.1.2 Definisi Topik...4

2.2 Kriteria Masalah Penelitian...5

2.3 Sumber Masalah Penelitian...7

2.4 Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian...14

2.4.1 Identifikasi Penelitian...14

2.4.2 Pemilihan Masalah Penelitian...15

2.4.3 Perumusan Masalah Penelitian...16

2.4.4 Model Perumusan Masalah Penelitian...20

BAB III...23

KESIMPULAN...23

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia bukan hanya dari segi fisik, akan tetapi manusia juga dianugerahi kesempurnaan akal. Akal manusia merupakan sesuatu yang khas yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Kesempurnaan akal inilah yang menyebabkan pengetahuan manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Salah satu penyebab manusia terus ingin mengembangkan pengetahuannya adalah karena terdapat rasa keingintahuan. Dengan adanya rasa keingintahuan, manusia dapat melakukan dua jenis usaha. Pertama, usaha yang paling sering dilakukan

adalah penalaran akal sehat (common sense). Tetapi, tidak semua keingintahuan

manusia bisa terjawab melalui penalaran akal sehat. Jika hal tersebut terjadi, maka alternatif cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penelitian ilmiah sebagai usaha jenis kedua.

Kedudukan masalah dalam alur prosedur penelitian sangatlah penting, bahkan lebih penting dari solusi atau jawaban yang akan diperoleh/dicari, karena masalah yang dipilih dapat menentukan perumusan masalah, tujuan, hipotesis, kajian pustaka yang akan digunakan bahkan juga untuk menentukan metodologi yang tepat untuk memecahkannya.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini memperoleh hasil yang diinginkan, maka masalah dalam makalah ini dibatasi pada:

(1) Bagaimanakah masalah dan topik penelitian? (2) Apa saja kriteria masalah penelitian?

(3) Apa sajakah sumber masalah penelitian?

(4) Bagaimanakah identifikasi, pemilihan dan penetapan masalah penelitian?

1.3 Tujuan

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Masalah dan Topik Penelitian 2.1.1 Definisi Masalah Penelitian

Seorang peneliti akan memulai sebuah penelitian dengan mengidentifikasi “masalah” yang akan diteliti. Mereka akan menuliskan latar belakang masalah di awal pembahasan sebuah penelitian. Biasanya masalah akan dijabarkan sehingga memberikan pemahaman kepada pembaca, mengapa masalah tersebut layak diteliti dan hasil penelitiannya layak dibaca oleh banyak pihak.

Creswell menyatakan dalam Educatioal Research (2012) bahwa masalah

dalam penelitian yaitu isu-isu tentang pendidikan, hal-hal yang memicu kontroversi dan hal-hal yang perlu untuk ditemukan solusinya.

Sedangkan menurut Kerlinger (2002),

A problem is an interrogative sentence or statement that asks what relation exists between two or more variable. The answer to questions will provide what is having sought in the research”.

Yang bermakna bahwa masalah adalah sebuah kalimat tanya atau pernyataan yang menanyakan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Jawaban dari pertanyaan akan dijabarkan dalam sebuah penelitian yang sedang dikaji. Sedangkan variabel didefinisikan sebagai pembeda antara sesuatu dengan yang lain.

(7)

menyeimbangkan permasalahan antara kenyataan dan harapan, yang tersedia dan

yang diperlukan, dan memecahkannya (Scientific Research Problem).

Sejalan dengan definisi tersebut, John Dewey dan Kerlinger dalam

(Sukardi, 2009) mendefinisikan bahwa permasalahan adalah kesulitan yang dirasakan oleh orang awam maupun para peneliti; permasalahan dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang menghalangi tercapainya tujuan. Hal ini berarti masalah adalah penghalang tercapainya tujuan dari suatu kegiatan, bidang, rencana, dan lainnya. Orang awam dan para peneliti tidak pernah mencari-cari masalah. Mereka hanya mempunyai rasa keingintahuan yang besar untuk memecahkan masalah yang beredar luas dimasyarakat dan mengembang ilmu pengetahuan yang sudah ada baik dalam dunia pendidikan, sosial, ekonomi, dan sektor lainnya.

Dalam sebuah penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah. Namun terdapat perbedaan mendasar antara “masalah” dalam penelitian kuantitatif dan “masalah” dalam penelitian kualitatif. Seperti yang dikatakan oleh Sugiyono (2014:205) dalam penelitian kuantitatif, “masalah” yang akan dipecahkan melalui penelitian harus jelas, spesifik, dan dianggap tidak berubah. Sedangkan di dalam penelitian kualitatif, “masalah” yang dibawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap, kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, “masalah” dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, tentatif dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan.

2.1.2 Definisi Topik

Menurut Gay, Mills dan Airasian (2011:61) berpendapat bahwa:

(8)

or complete the study. When properly defined, the research topic reduces a study to a manageable size.

Pendapat tersebut bermakna bahwa topik penelitian (disebut juga masalah penelitian) yang memberikan fokus dan struktur untuk langkah-langkah penelitian. Topik masalah menjadi penghubung yang mengikat semuanya secara bersama-sama. Memilih dan mendefinisikan sebuah topik harus memerlukan pemikiran yang cukup global. Topik awal yang luas dan kompleks sulit dikontrol untuk dikaji, dan peneliti harus mempersempit ruang lingkup penelitian untuk melaksanakan atau menyelesaikannya. Ketika definisi sudah tepat, topik penelitian diturunkan menjadi sebuah penelitian yang terkontrol.

Dapat disimpulkan bahwa, topik dan masalah itu mempunyai suatu kemiripan. Keduanya sama-sama menjadi tolak ukur sebuah penelitian. Penelitian tidak akan ada jika tidak ada masalah atau topik dari suatu kasus/isu yang sedang terjadi di suatu lingkungan tertentu. Namun perbedaan diantara keduanya adalah, topik itu masih secara umum dan masalah sudah lebih khusus. Jadi masalah adalah turunan dari sebuah topik yang sudah dikhususkan dan dilakukan kajian terlebih dahulu, apakah topik ini sesuai dengan masalah yang ada atau tidak.

Berikut adalah contoh kasus mengenai perbedaan antara Topik dan Masalah Penelitian menurut Creswell:

Umum

Topik: Kelas Jarak Jauh

MasalahPenelitian: Kurangnya siswa peserta kelas jarak jauh Tujuan Penelitian: Untuk meneliti mengapa siswa tidak mengikuti pembelajaran (kelas) jarak jauh

Rumusan Masalah: Apakah penggunaan teknologi web menghambat peran serta siswa dalam mengikuti kelas jarak jauh?

(9)

2.2 Kriteria Masalah Penelitian

Menurut Sukardi (2009), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah penelitian adalah:

1. Memiliki nilai penelitian: Masalah yang akan dipecahkan akan berguna atau bermanfaat yang positif. Terutama jika bermanfaat bagi masyarakat dan kepentingan bersama. Contoh, pengembangan ilmu pengetahuan terkait pendidikan, maka hal tersebut akan digunakan oleh praktisi pendidikan seperti guru, dosen, pengamat pendidikan, tutor, dan lainnya.

2. Memiliki fisibilitas: Fisibilitas artinya masalah tersebut dapat dipecahkan atau dijawab. Contoh, banyaknya siswa bahasa Inggris yang masih mempunyai kekurangan dalam hal penguasaan kosa kata, maka peneliti bisa mencari solusi tersebut dengan beberapa alternatif cara yang mampu membuat siswa mempunyai penguasaan kosa kata yang lebih baik.

3. Sesuai dengan kualitas peneliti: Sesuai dengan kualitas peneliti artinya tingkat kesulitan masalah disesuaikan dengan tingkat kemampuan peneliti. Contoh, dosen bahasa Inggris yang seharusnya meneliti terkait dunia pendidikan khususnya bahasa Inggris dan hubungan dengan bidang

lainnya, tidak mengkaji masalah tax amnesty.

4. Actual: Actual atau Up to date, artinya permasalahan yang akan diteliti adalah fakta perilaku yang sedang “hangat” terjadi di tengah masyarakat. Tentu saja aktualitas sebuah fakta perilaku akan selalu dinamis dan berubah setiap periode waktu tertentu. Contoh, permasalahan perilaku seks bebas remaja saat ini terasa lebih aktual dibandingkan perilaku agresif.

(10)

yang dilakukan pada siswa kelas 3, maka angka siswa tidak lulus akan meningkat.

Faktor lainnya yang perlu diperhatikan, adalah:

1. Adanya data dan metode untuk memecahkan masalah tersebut,

2. Batas-batas masalah yang jelas,

3. Adanya alat atau instrumen untuk memecahkannya,

4. Adanya biaya yang diperlukan, dan

5. Tidak bertentangan dengan hukum.

Banyak peneliti menemukan kesulitan dalam menentukan permasalahan penelitian sehingga menghambat perkembangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Pada umumnya keadaan berikut ini bisa menjadi penuntun mewujudkan permasalahan:

1. Bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam

pengetahuan kita.

2. Bila ada hasil-hasil penelitian atau kajian yang bertentangan.

3. Bila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui

penelitian.

2.3 Sumber Masalah Penelitian

Menurut Arikunto (2002), penemuan masalah dan sumber-sumber masalah juga dapat dilihat melalui beberapa hal, yaitu sebagai berikut:

1. Temuan dan rekomendasi penelitian: Masalah dapat ditelusuri dari hasil penelitian orang lain. Sebuah penelitian memiliki bagian kesimpulan dan saran, dari bagian inilah seorang peneliti menemukan masalah dengan menganilisis adanya kemungkinan untuk melanjutkan penelitian tersebut sebagai upaya untuk mengkaji hal-hal yang belum terungkap, mengulang penelitian tersebut untuk memperkaya teori, dan hal-hal yang lain yang mungkin ditemukan dari analisis hasil penelitian orang lain. Contoh, terdapat penelitian yang mengkaji tentang pembelajaran bahasa Inggris dengan

(11)

kelas 7. Pada saat diaplikasi oleh guru kelas 7, ternyata hal tersebut kurang sesuai dengan karakteristik siswa dan menganggap teknik tersebut terlalu childish atau kekanak-kanakan. Maka guru tersebut, mencari hasil penelitian lain sebagai acuan penelitian baru namun tetap bertolak ukur pada hasil penelitian yang pertama.

2. Analogi: Analogi merupakan penemuan masalah dengan cara mengadaptasi masalah dari suatu pengetahuan dan menerapkannya ke bidang pengetahuan seorang peneliti baru, dengan adanya persyaratan bahwa kedua bidang tersebut harus memiliki kesesuaian dalam hal-hal yang penting. Contoh,

dalam kurikulum 2013, terkenal istilah scientific approach atau pendekatan

saintifik. Pendekatan tersebut awalnya dikembangkan dalam pelajaran yang berkonsentrasi pada bidang ilmiah (saintifik). Namun, hal itu diterapkan dan dikembangkan dalam pelajaran bahasa baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing sesuai dengan langkah-langkah dalam pendekatan tersebut.

3. Renovasi: Renovasi juga merupakan sebuah metode menemukan masalah penelitian yakni dengan cara mengganti suatu unsur teori, untuk meningkatkan kebenaran suatu teori. Contoh, terdapat hasil penelitian yang

mengkaji tentang penggunaan role model atau bermain peran dalam

peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas 7 SMP. Lalu seorang peneliti berkeinginan untuk meningkatkan kebenaran teknik tersebut pada siswa kelas 8 SMP. Jika hasilnya menunjukkan ada pengaruh, maka teknik tersebut mampu meningkatkan kebenaran dalam teori berdasarkan hasil penelitian yang menjadi acuan.

(12)

5. Literatur: Literatur adalah referensi yang digunakan sebagai cara untuk menemukan masalah. Contoh literatur adalah seminar, diskusi, dokumen, buku, jurnal, artikel, prosiding dan lainnya. Setelah membaca referensi tersebut, lalu membandingkan dengan kenyataan yang ada dan ternyata terjadi gap. Maka hal itu mampu memunculkan masalah untuk penelitian.

Stoner dalam Sugiyono (2014) juga mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat hal-hal sebagai berikut:

1. Penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan,

2. Antara apa yang direncanakan dengan kenyataan,

3. Adanya pengaduan, dan

4. Kompetisi.

Sependapat dengan pendapat diatas, Suryabrata (2006:3-6) berpendapat bahwa terdapat dua jenis pendekatan yang mampu mendapatkan masalah penelitian, yaitu:

1. Pendekatan Non-Ilmiah

a. Akal Sehat (common sense)

Akal sehat dan ilmu adalah dua hal yang berbeda sekalipun dalam batas tertentu keduanya memgandung persamaan. Menurut Conant yang dikutip

Kerlinger (1986:4) akal sehat adalah serangkaian konsep (concepts) dan bagan

konseptual (conceptual schemes) yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi

kemanusiaan. Konsep adalah kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus. Dapat disimpulkan bahwa akal sehat banyak digunakan oleh orang awam dalam mempersoalkan suatu hal.

(13)

trauma dalam pendidikan. Penemuan ilmiah ternyata membantah kebenaran akal orang yang melakukannya. Hal yang demikian itu menyebabkan akal sehat mudah beralih menjadi prasangka. Dengan akal sehat orang cenderung mempersenpit pengamatannya karena diwarnai oleh pengamatannya itu, dan cenderung mengkambing hitamkan orang lain atau menyokong suatu pendapat. Orang sering tidak mengendalikan keadaan yang juga dapat terjadi pada keadaan lain. Orang sering cenderung melihat hubungan antara dua hal sebagai hubungan sebab-akibat yang langsung dan sederhana, padahal sesungguhnya gejala yang diamati itu merupakan akibat dari berbagai hal. Dengan akal sehat orang cenderung ke arah perbuatan generalisasi yang terlalu luas, yang lalu merupakan prasangka. Contoh dari sumber pengetahuan ini adalah penelitian tentang stereotip (streotype) Pencapaian pengetahuan tersebut sukar dipercaya. Di sini tidak terdapat langkah-langkah yang sistematik dan terkendali (terkontrol). Metode ini biasa disebut

metode a priori, dengan penalaran, belum tentu cocok dengan pengalaman atau

data empiris. Contoh, seorang peneliti berpendapat bahwa teknik bercerita story

(14)

mengaplikasikan teknik tersebut dikelas, maka hal itu bisa menjadi sebuah pengalaman dan jika dikaji lebih lanjut bersistematik dan terkontrol maka itu bisa menjadi sebuah hasil penelitian.

d. Penemuan Kebetulan dan Coba-coba

Sepanjang sejarah manusia penemuan secara kebetulan itu banyak terjadi, dan banyak di antaranya yang sangat berguna. Misalnya, penemuan seorang penderita malaria pada kolam berisi air pahit yang berasal dari kulit pohon kina yang tumbang ke dalam parit. Walaupun penemuan secara kebetulan itu berguna, namun penemuan tersebut bukan penemuan memalui pendekatan ilmiah. Penemuan secara kebetulan diperoleh tanpa rencana, tidak pasti, serta tidak melalui langkah-langkah yang sistematik dan terkendali.

Penemuan coba-coba (trial and error) diperoleh tanpa kepastian akan diperolehnya suatu kondisi tertentu atau pemecahan suatu masalah. Usaha coba-coba pada umumnya merupakan serangkaian percoba-cobaan tanpa kesadaran akan pemecahan tertentu. Pemecahan terjadi secara kebetulan setelah dilakukan serangkaian usaha; usaha yang berikut biasanya agak lain, yaitu lebih maju, daripada yang mendahuluinya. Penemuan secara kebetulan pada umumnya tidak efisien dan tidak terkontrol.

e. Pendapat Otoritas Ilmiah dan Pikiran Kritis

(15)

2. Pendekatan Ilmiah

Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasarkan atas data empiris. Teori itu dapat diuji (dites) dalam hal keajegan dan kemantapan internalnya. Artinya, jika penelitian ulang dilakukan orang lain menurut langkah-lengkah yang serupa pada kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang ajeg (consistent), yaitu hasil yang sama atau hampir sama dengan hasil terdahulu. Langkah-langkah penelitian yang teratur dan terkontrol itu telah terpolakan dan sampai batas tertentu diakui umum. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut

tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, bias, dan perasaan. Cara penyimpulannya

pun tidak subjektif, melainkan objektif.

Sebagaimana yang dikemukakan diatas, Setyosari (2010:5-11) menyatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia berhadapan dengan berbagai sumber-sumber pengetahuan dalam upaya untuk mencari atau memperoleh jawaban terhadap suatu persoalan yang dihadapi. Jawabannya dapat berasal dari berbagai sumber pengetahuan yakni:

1. Pengalaman (Experience)

(16)

2. Kewenangan (Authority)

Wewenang atau otoritas dimiliki oleh seseorang yang sudah memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Wewenang ini sering juga dipakai sebagai pegangan oleh seseorang dalam suatu usaha memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Contoh, terjadinya kolosi dan korupsi di sebuah bank atau perusahaan yang sering mengundang perhatian publik. Hal tersebut perlu pembuktian oleh akuntan.

3. Berpikir Deduktif (Deductive Thinking)

Berpikir deduktif adalah proses berpikir yang didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu. Cara berpikir ini dilandasi dengan suatu sistem penyusunan fakta yang sudah diketahui lebih dulu untuk sampai pada kesimpulan yang benar. Dasar-dasar berpikir yang dipakai adalah melalui serangkaian pernyataan atau silogisme. Tiga dasar berpikir yaitu: (1) premis mayor atau dasar pikiran utama mengandung suatu pernyataan umum dan universal. (2) premis minor atau dasar pikiran kedua mengandung bagian dari premis utama. Kebenarannya tergantung pada bagian premis utamanya. (3) kesimpulan dibuat berdasarkan kebenaran-kebenaran dalam premis mayor dan minor.

Contoh silogisme,

a. Premis mayor, planet-planet mengitari matahari

b. Premis minor, bumi adalah termasuk sebuah planet

c. Kesimpulan, bumi mengitari matahari

4. Berpikir Induktif (Inductive Thinking)

(17)

pikiran harus diketahui terlebih dahulu sebelum sampai pada kesimpulan yang benar. Dalam berpikir induktif, kesimpulan akan tercapai dengan mengamati contoh-contoh, fakta-fakta, gejala-gejala, atau objeknya. Induktif sempurna dicapai dengan cara mengamati semua contoh-contoh yang dijadikan objek peneyelidikan. Namun, tidaklah mungkin kita mengamati satu per satu setiap gejala sehingga orang hanya mengamati sebagian kecil saja. Oleh karena itu, kesimpulan yang dicapai dikatakan sebagai induksi tidak sempurna. Contoh,

a. Setiap harimau yang diamati bertaring.

b. Hariamu dan kambing adalah binatang menyusui.

c. Oleh sebab itu, kambing adalah binatang bertaring.

Kesimpulan diatas salah, karena antara kambing dan harimau, walaupun keduanya adalah binatang menyusui, tidak saling berhubungan karena kambing bukan binatang bertaring. Agar mendapatkan kesimpulan yang baik dan sempurna, fakta-fakta khusus yang diamati dan dikumpulkan benar-benar berkaitan. Fakta khusus ini menjadi data pendukung agar sampai pada pengambilan kesimpulan yang benar. Oleh karena itu, kesimpulan yang dicapai sebagai induksi sempurna.

5. Berpikir Ilmiah (Scientific Thingking)

(18)

2.4 Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian 2.4.1 Identifikasi Penelitian

Menurut Notohadiprawiro (2006), identifikasi masalah merupakan upaya untuk mengelompokkan, mengurutkan sekaligus memetakkan masalah-masalah tersebut secara sistematis berdasarkan keahlian bidang peneliti. Bila daftar pertanyaan telah dibuat dan disusun sesuai urutan yang paling mendasar, maka perlu dipilih dan ditemukan (identifikasi) masalah yang layak untuk dilakukan penelitian dan dicari jawabannya. Layak tidaknya suatu masalah yang diteliti tergantung ketajaman dan kemandirian (kepekaan, kesiapan dan ketekunan) peneliti yang bersangkutan. Identifikasi masalah perlu memperhatikan apakah masalah/ fokus yang dipilih cukup: (1) esensial/ menduduki urutan paling penting diantara masalah-masalah yang ada, (2) urgen/ mendesak untuk dipecahkan, (3) bermanfaat bila dipecahkan.

2.4.2 Pemilihan Masalah Penelitian

Setelah masalah diidentifikasi, belum merupakan jaminan bahwa masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Biasanya, dalam usaha mengidentifikasikan atau menemukan masalah penelitian ditemukan lebih dari satu masalah. Dari masalah-masalah tersebut perlu dipilih salah satu, yaitu mana yang paling layak dan sesuai untuk diteliti. Jika yang ditemukan sekiranya hanya satu masalah, masalah tersebut juga harus dipertimbangkan layak dan tidaknya serta sesuai dan tidaknya untuk diteliti. Menurut Suryabrata (2006:15-17), terdapat dua arah yang digunakan untuk memilih atau menentukan apakah suatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti, yaitu:

1. Pertimbangan dari Arah Masalahnya

(19)

berbeda dalam konteks tertentu. Untuk itu, tidak ada kriteria dan keputusan akan tergantung pada ketajaman calon peneliti untuk melakukan evaluasi secara kritis, menyeluruh, dan mengjangkau ke depan.

2. Pertimbangan dari Arah Calon Peneliti

Dari segi subjektif, yaitu pertimbangan dari arah calon peneliti, perlu dipertimbangkan apakah masalah itu sesuai dengan calon peneliti. Sesuai atau tidaknya suatu masalah untuk diteliti tergantung pada apakah masalah tersebut manageable (bisa dikelola) atau tidak oleh calon peneliti. Manageability (pengelolaan) itu terutama dilihat dari lima aspek, yaitu:

a. Biaya yang tersedia,

b. Waktu yang dapat digunakan,

c. Alat-alat dan perlengkapan yang tersedia,

d. Bekal kemampuan teoritis, dan

e. Penguasaan metode yang diperlukan.

Setiap calon peneliti perlu menanyakan kepada diri sendiri apakah masalah yang akan diteliti sesuai baginya, dilihat dari kelima aspek diatas. Jika sekiranya tidak, sebaiknya dipilih masalah lain, atau masalah itu dimodifikasi, sehingga sesuai dengan dirinya.

Hal ini dipertegas oleh Notohadiprawiro (2006) yang mengatakan bahwa beberapa pertimbangan dalam pemilihan masalah diuraikan menjadi 3 hal yaitu:

(20)

2. Pertimbangan Non-Ilmiah: (a) Apa manfaat hasil penelitian bagi kepentingan praktis atau masyarakat? (b) Apakah masalah terlalu peka untuk diteliti?

3. Pertimbangan Peneliti: (a) Penguasaan teori dan metodologi. (b) Minat peneliti terhadap masalaah. (c) Kemampuan pengumpulan dan analisis data. (d) Ketersediaan waktu, dana dan sumberdaya.

2.4.3 Perumusan Masalah Penelitian

Setelah mengidentifikasi dan menganalisis masalah, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh peneliti adalah merumuskan masalah. Membuat rumusan masalah menjadi langkah penting dalam sebuah penelitian. Karena mampu menentukan langkah-langkah berikutnya. Masalah yang dirumuskan

secara baik menjadikan masalah itu dapat diteliti (researchable).

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah penelitian seperti yang dikatakan oleh Hanafi (2007:31) yaitu sebagai berikut.

1. Masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, misalnya dengan

menggunakan kata “apakah” atau “bagaimanakah”.

2. Rumusan masalah dapat diuji secara kuantitatif atau kualitatif.

3. Perumusan masalah hendaknya memberi petunjuk cara pemecahannya.

Sependapat dengan pendapat diatas, Suryabrata (2006:17), tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah itu, namun daoat disarankan hal-hal berikut ini:

1. Masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya,

2. Rumusan itu hendaknya padat dan jelas,

3. Rumusan itu hendaklah memberikan petunjuk tentang mungkinnya

(21)

Selain mengetahui hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam perumusan masalah penelitian, calon peneliti juga harus mengetahui beberapa bentuk rumusan masalah penelitian yang diungkapkan oleh Sugiyono (2014) yaitu:

1) Rumusan Masalah Deskriptif

Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lain. Penelitian seperti ini dinamakan penelitian deskriptif.

Contoh rumusan masalah deskriptif diantaranya sebagai berikut.

a) Seberapa baik kinerja Kabinet Bersatu?

b) Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeri Berbadan Hukum?

c) Seberapa tinggi tingkat kepuasan dan apresiasi masyarakat terhadap pelayanan pemerintah daerah bidang kesehatan?

Dari beberapa contoh di atas terlihat bahwa setiap pertanyaan penelitian berkenaan dengan satu variabel atau lebih secara mandiri.

2) Rumusan Masalah Komparatif

Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.

(22)

b) Adakah perbedaan kenyamanan naik Kereta Api dan Bus menurut berbagai kelompok masyarakat?

c) Adakah kesamaan cara promosi antara perusahaan A dan B?

Dari beberapa contoh di atas terlihat jelas bahwa setiap pertanyaan di dalam rumusan masalah komparatif membandingkan satu variabel atau lebih pada dua sampel yang berbeda atau lebih.

3) Rumusan Masalah Assosiatif

Rumusan masalah assosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu:

a. Hubungan simentris: yaitu suatu hubungan antara dua variabel atau lebih

yang kebetulan muncul bersama. Contoh rumusan masalahnya:

- Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat

manisnya buah?

- Adakah hubungan warna rambut dengan kemampuan memimpin?

b. Hubungan Klausal: yaitu suatu hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi

disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (variabel yang dipengaruhi). Contoh rumusan masalahnya:

- Adakah pengaruh sistem penggajian terhadap prestasi kerja?

- Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan, dan kualitas

guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah?

c. Hubungan Interaktif/timbal balik: yaitu suatu hubungan yang saling

mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan variabel dependen. Contoh rumusan masalahnya:

(23)

- Bagaimanakah hubungan antara kecerdasan dan kekayaan?

Setelah paham semua hal tentang perumusan masalah, Moeleong (2006:114-119) mengemukakan bahwa langakah-langkah perumusan masalah adalah sebagai berikut:

a. Tentukan fokus penelitian.

b. Cari berbagai kemungkinan faktor yang ada kaitannya dengan fokus

tersebut yang dalam hal ini dinamakan sub fokus.

c. Diantara faktor-faktor yang terkait, adakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih.

d. Kaitkan secara logis faktor-faktor sub fokus yang dipilih dengan fokus

penelitian.

2.4.4 Model Perumusan Masalah Penelitian Model 1: Penelitian Kualitatif

Pengaruh Handphone Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 2 Depok

(24)

rela mengacuhkan pelajaran hanya demi untuk bisa smsan ataupun mendengarkan mp3.Atas dasar itulah dalam penulisan karya tulis ini, penulis mengambil tema sosial yang berguna untuk memberikan informasi pada semua dan memberikan judul “Pengaruh Handphone Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 2 Depok”.

Identifikasi Masalah: (a) Banyaknya remaja yang kurang memperhatikan prestasinya di karenakan kecanduan handphone. (b) Dampak psikologi yang dialami remaja akibat sering bermain handphone. (c) Perilaku dan sikap yang berubah ketika sudah kecanduan bermain handphone.

Batasan Masalah: Dalam penelitian ini, peneliti membatasi pada Pengaruh Handphone Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 2 Depok.

Rumusan Masalah: (a) Seberapa besar pengaruh handphone terhadap prestasi belajar Siswa di SMK Negeri 2 Depok ? (b) Bagaimana cara mengatasi masalah kecanduan handphone untuk para siswa ?

Model 2: Penelitian Kuantitatif

Pengaruh Game Online dengan Motivasi Belajar Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.

(25)

tekhnologi adalah untuk membantu dan menstimulus motivasi belajar baik aspek kognitif maupun psikomotor para peserta didik di era modernisasi sekarang. Tetapi faktanya perkembangan tekhnologi dan adanya game online membuat arus balik sehingga mayoritas para pecandu game online menurunkan motivasi belajar mereka. Termasuk peserta didik (mahasiswa) di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.

Identifikasi Masalah: (a) Intensitas bermain game online dapat mempengaruhi motivasi belajar. (b) Domisili setiap orang tidak mempagaruhi motivasi belajar terkait dengan candu game online dan (c) Peserta didik mengalami kesulitan dalam membangun motivasi belajar

Batasan Masalah: (a) Intensitas bermain game online mahasiswa terhadap motivasi belajarnya. (b) Pengaruh lingkungan sosial game center terhadap motivasi belajar mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.

(26)

BAB III KESIMPULAN

Dalam melakukan suatu penelitan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama kita harus mengetahui masalah yang ingin di teliti. Sesuatu disebut sebagai masalah jika itu nyata, dapat dirasakan dan membutuhkan pemecahan masalah. Jika tidak membutuhkan solusi, maka itu tidak bisa menjadi masalah. Masalah akan mucul jika tidak adanya kesesuaian antara kenyataan dan harapan dan yang tersedia dan yang diperlukan.

Dalam penemuan masalah ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan yaitu, memiliki nilai pendidikan, memiliki fisibilitas, sesuai dengan kualitas peneliti, actual, dan urgent. Sedangkan sumber-sumber masalah yang ingin dicari bisa dilihat melalui temuan dan rekomendasi penelitian, analogi, renovasi, pengalaman, serta literature. Sumber masalah didapat melalui pendekatan non ilmiah yang berupa: akal sehat; prasangka; pendekatan intuitif; penemuan kebetulan dan coba-coba; pendapat otoritas ilmiah dan pikiran kritis, dan pendekatan ilmiah yang berupa: pengalaman; kewenangan; berpikir deduktif; berpikir induktif dan berpikir ilmiah.

Setelah mengetahui sumber masalah langkah selanjutnya mengidentifikasi masalah, memilih dan merumuskan masalah penelitian. Identifikasi masalah merupakan upaya untuk mengelompokkan, mengurutkan sekaligus memetakkan masalah-masalah tersebut secara sistematis berdasarkan keahlian bidang peneliti.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2002. Prosedur Suatu Penelitian: Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta.

Creswell, John W. 2012. Educational Research. Boston: Pearson Education, Inc.

Fergiyono, Nico. 2013. Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif.

http://nicofergiyono.blogspot.co.id/2013/11/contoh-proposal-penelitian-kuantitatif.html. (Diakses pada 21 September 2016 pukul 20:45).

Gay, R.L, Mills, E.G, and Airasian, Peter. 2012. Educational Research

(Competencies for Analysis and Applications). Pearson Education.

Hanafi, Abdul Halim. 2007. Metodelogi Penelitian Bahasa. Batusangkar: STAIN

Batu Sangkar Press.

Kerlinger., Fred N. 2002. Foundation of Behavioral Research. 3th Ed. New Jersey: Holt, Rinehart and Winston Publishing Co.

Moeleong, J. Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Notohadiprawiro, T. 2006. Metode Penelitian dan Penulisan Ilmiah. Yogyakarta:

Universitas Gajah Mada.

Septiarini, Anisa. 2015. Proposal Karya Ilmiah “Pengaruh Handphone terhadap

Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 2 Depok”.

http://abisaseptiarini.blogspot.co.id/2015/03/proposal-karya-ilmiah-pengaruh.html.(Diakses pada 22 September 2016 pukul 09:45).

Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sugiyono.2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sukardi. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya.

Jakarta: Bumi Aksara.

Suryabrata, Sumadi. 2006. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada.

Suryabrata, I. 2000. Langkah-Langkah Penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Sugiyono (2010:35) deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berhubungan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri, yang hanya pada satu variable

Asuransi Asei Indonesia menggunakan tipe penelitian deskriptif yang dimaksudkan adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan

Menurut Sugiyono (dalam Islami, 2020:9-10), Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu

Metode analisis deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri

Sedangkan menurut Sugiyono (2017: 35) menjelaskan bahwa metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya

Menurut Sugiyono (2017) penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri

Metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri)