Aktor di Balik Bisnis Gambar Idoep
Kala rehat menghampiri manusia, maka rencana refreshing pun singgah dalam benak. Berbagai upaya mereka lakukan demi penyegaran jiwa lan raga. Salah satu caranya adalah menonton film. Hanya ada satu tempat yang menyediakan fasilitas menonton film dengan nyaman dan tenang, yaitu bioskop. Kehadirannya seakan bak oasis di padang pasir, namun luput dalam catatan sejarah kita, ditambah lagi ketika hari film Nasional diperingati. Societet ala barat ini telah tersebar di seluruh kota besar, Indonesia. Pada tahun 1983 menurut Usmar Ismail, —tokoh perfilman Indonesia—terdapat 700 Bioskop[CITATION Usm83 \p 68 \l 1057 ] di Nusantara. Jumlah yang sudah besar bagi kaum awam, namun tak sebanding apabila disandingkan dengan Jepang atau Amerika Serikat.
Banyak sekali cerita menarik yang hadir dalam dunia perfilman termasuk bioskop. Bioskop merupakan saksi bisu peristiwa sejarah, mulai dari pendiriannya sendiri bahkan hingga menyaksikkan pergerakan revolusi warga Indonesia. Bioskop pun berperan dalam sejarah, sebab mereka tak jarang menampilkan film yang bersubstansi ideologi atau propaganda. Tak banyak yang mengetahui tentang sejarah tempat nonton gambar idoep. Begitu panjang dan penuh dinamika sosial-kebudayaan dalm sejarah bioskop itu sendiri.
Berawal dari keputusan pemerintah Hindia Belanda yang mencoba memberikan peluang kepada pengusaha Asing untuk membuka lahan bisnis di Hindia Timur. Kebijakan liberal untuk ekonomi berlaku untuk semua bidang, tanpa terkecuali mulai tahun 1870. Sekitar tahun 1900 bioskop pertama kali dibuka di Batavia dengan bukti iklan di Bintang Betawi . Saat itu tempat pemutaran “gambar idoep” masih memutar film dokumenter, belum film bercerita yang bisu.
Hindia Belandasecara sengaja atau tidak telah mengambil peran dalam perkembangan industri perfilman lewat kebijakan politiknya.. Terhitung sudah ada tiga bioskop pada abad 20 awal di Batavia yaitu Manage Kebandjoe, Mangga Besar dan Kongsi Tan Boen[CITATION MSa09 \p 16 \l 1057 ]. Sayangnya waktu itu tempat pemutaran gambar idoep masih sepi pengunjung. Berbagai macam alasan, mulai dari harga yang tak tergapai hingga pilihan hiburan lainnya. Mengenai hiburan lainnya, pada masa 1900-an masih banyak pagelaran wayang, tonil, ludruk dan drama. Hiburan berbasis interaksi dua arah—dengan penonton —ini masih mendapat tempat di hati para khalayak karena murah. Namun kemenangan budaya barat hari per hari semakin menanjak.
Beberapa tahun kemudian, bioskop akhirnya mendapatkan hati para masyarakat. Perkembangan itu merupakan buah hasil dari penurunan
harga tiket sebanyak 40% yang semula dari 2f menjadi 1,25f . Mereka pun mencoba sensasi relaksasi di gedung besar. Kemajuan bisokop sekali lagi terdukung oleh kebijkan politik Belanda yang waktu itu melarang pagelaran wayang, tonil dan lain-lain. Mereka memiliki dalih agama, yaitu ketika pagelaran wayang biasanya para orang Nusantara main top jang[ CITATION MSa09 \l 1057 ]. Juga pagelaran tonil, wayang dan lainnya meninggalkan para penggemar, sebab mereka ngamen di berbagai kota. Pada akhirnya bisnis gambar idoep ini semakin diminati banyak orang dengan kenaikan jumlah peminat. Hingga akhirnya bioskop sendiri membuka banyak lapangan kerja baru, seperti importir, booker dan distributor film.
Tiga jabatan di atas memegang peran penting dalam dunia per-bioskop-an, spesifiknya pemilihan film. Tak banyak orang mengetahui keberadaan mereka dalam industri bioskop, sebab orang-orang itu merupakan gugusan birokrasi. Secara halus mereka berpengaruh kepada penikmat cum produsen film. Seorang booker merupakan agen bioskop yang berhubungan dengan distributor dan importir film. Per bulannya mereka menerima pendapatan dari pemasukan bioskop[CITATION Usm83 \p 68 \l 1057 ]. Mereka pun bersentuhan langsung dengan distributor masalah kontrak film seperti block bookings—film diputar sesuai dengan jadwal karena terikat kontrak—dan spot booking— pemutaran film sesuai dengan perjanjian produsen[CITATION Usm83 \p 69 \l 1057 ].
Begitu pula dengan importir film. Penulis menganggap bahwa mereka adalah elite per-bioskop-an, sebab memiliki tanggung jawab membawa film berkualitas dari luar negeri. Catatan awal terdapat tiga importir film yang menguasai bioskop di Nusantara, mereka adalah American Animatography, Nederlandsch Indie Biograph Compagnie dan The Royal Bioscope[CITATION MSa09 \p 16 \l 1057 ]. Namun yang paling besar adalah Pathe Theatre, pimpinan L Swemlaar pada abad 20 awal.
Kevin Rinangga Adriyan / 08976712886 Mahasiswa Sejarah Universitas Sanata Dharma