PRINSIP MORAL DASAR DAN KEPRIBADIAN MORAL YANG KUAT
MAKALAH
untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Profesi Guru yang dibimbing oleh Prof. Dr. Hj. Mimien Heni Irawati Al Muhdar, M.S.
Kelompok 7/ B
Arum Tri Hayuning Tyas K.S. 1303416
Evi Wulandari 130341614815
Siti Nur Aisyah 130341614813
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT karena berkat rahmat-Nya kami dapat meyelesaikan makalah kami yang berjudul “Prinsip Moral Dasar dan Kepribadian Moral yang Kuat” guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Profesi Guru yang dibimbing oleh Prof. Dr. Hj. Mimien Heni Irawati Al Muhdar, M.S., kami berharap dengan adanya makalah ini pengetahuan dan wawasan baru yang di peroleh pembaca dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kami menyadari masih banyak kekurangan di dalam makalah kami. Oleh karena itu, kritik, saran dan tanggapan dari pembaca sangat kami harapkan agar kedepannya makalah kami menjadi lebih baik. Akhirul kata wabiltaufiq walhidayah jaza khayra katsira rabbi syrahli shodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatan millisani yafqahu qawli.
Malang, 10 Oktober 2015
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang
Masalah moral merupakan masalah yang sekarang ini sangat banyak meminta perhatian, terutama bagi para pendidik, ulama, pemuka masyarakat dan para orang tua. Tidak henti-hentinya kita mendengar berita tentang tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak, seperti yang terjadi di beberapa daerah yang hampir setiap minggu diberitakan di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik. Bagi warga Ibukota bukan suatu hal yang aneh apabila mendengar atau melihat anak-anak sekolah melakukan tawuran (perkelahian antar pelajar) yang tidak sedikit menimbulkan sejumlah korban. Diperlukan waktu yang panjang dan upaya pendidikan yang sungguh-sungguh untuk mengatasi kondisi ini. Pendidikan dalam hal ini diartikan secara luas, yaitu sebagai upaya untuk mentransformasikan nilai-nilai, sikap, pengetahuan dan keterampilan tertentu dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Pendidikan merupakan alat strategis untuk membentuk dan mengembangkan nilai, sikap dan moral dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Adapun moral sama dengan etika, atau kesusilaan yang diciptakan oleh akal, adat dan agama, yang memberikan norma tentang bagaimana kita harus hidup.
Untuk itu, kita akan mulai pembahasan mengenai prinsip moral dasar, prinsip keadilan, prinsip hormat terhadap diri sendiri, dan sikap kepribadian yang kuat. Agar nanti sebagai calon pendidik dapat menerapkannya pada peserta didik.
II. Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas yaitu: 1. bagaimana prinsip moral dasar?
2. bagaimana aplikasi prinsip moral dasar dalam kehidupan? 3. bagaimana kepribadian moral yang kuat?
4. mengapa keutamaan moral itu penting? III. Tujuan
Tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas yaitu: 1. mengetahui prinsip moral dasar
2. mengetahui bagaimana aplikasi prinsip moral dasar dalam kehidupan 3. mengetahui bagaimana kepribadian moral yang kuat
BAB II PEMBAHASAN
I. Prinsip Moral Dasar dan Kepribadian Moral yang Kuat 1.1 Prinsip Moral Dasar
a. Prinsip Sikap Baik
Prinsip ini merupakan prinsip yang paling utama daripada prinsip yang lain karena prinsip ini mempunyai arti yang sangat besar di kehidupan manusia. Prinsip ini mengatakan bahwa pada dasarnya, kecuali ada alasan khusus, kita harus mendekati siapa saja dan apa saja dengan positif, dengan menghendaki yang baik bagi dia. Artinya, bukan semata-mata perbuatan baik dalam arti sempit, melainkan sikap hati positif terhadap orang lain, kemauan baik terhadapnya. Bersikap baik berarti, memandang seseorang dan sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi dirinya, melainkan menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan, dan menunjang perkembangannya (Suseno, 1987:131). Bersikap baik inilah yang menjadi dasar semua norma moral. Karena hanya atas dasar prinsip itu, maka akan masuk akal bahwa kita harus bersikap adil, atau jujur, atau setia kepada orang lain.
b. Keadilan
Prinsip keadilan pada hakikatnya adalah dari kata dasarnya, yaitu adil yang artinya memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Karena pada hakikatnya semua orang sama nilainya sebagai manusia, maka tentunya semua orang wajib diperlakukan sama, dan mendapat keadilan yang sama pula. Disini artinya bahwa prinsip ini menuntut kita agar tidak melanggar hak orang lain, dan selalu bertindak, bersikap yang baik (Adyantari, 2014).
agar kita jangan mau mencapai tujuan-tujuan, termasuk hal yang baik, dengan melanggar hak seseorang.
c. Hormat terhadap Diri Sendiri
Prinsip ini menekankan bahwa setiap manusia harus memperlakukan dirinya dengan hormat, melakukan sesuatu yang bernilai pada dirinya. Kita wajib untuk menghormati martabat kita sendiri. Prinsip ini mempunyai dua arah:
1. Pertama, dituntut agar kita tidak membiarkan diri diperas, diperalat, atau diperbudak.
Perlakuan tersebut tidak wajar untuk kedua belah pihak, maka yang diperlakukan demikian jangan membiarkannya berlangsung begitu saja apabila ia dapat melawan, sebab kita mempunyai harga diri. Dipaksa untuk melakukan atau menyerahkan sesuatu tidak pernah wajar.
2. Kedua, kita jangan sampai membiarkan diri terlantar.
Prinsip ini berdasarkan paham bahwa manusia adalah person, pusat berpengertian dan berkehendak, yang memiliki kebebasan dan suara hati, mahluk yang berakal budi (Suseno, 1987:133). Sebagai kesimpulan, kebaikan dan keadilan yang kita tunjukkan kepada orang lain, perlu diimbangi dengan sikap yang menghormati diri kita sendiri sebagai mahluk yang bernilai pada dirinya sendiri. Kita mau berbaik kepada orang lain dan bertekad untuk bersikap adil, tetapi tidak dengan membuang diri.
2.1 Implementasi Prinsip Moral Dasar Dalam Kehidupan Sehari-hari dan Dalam Profesi Guru
yakni prinsip sikap baik, keadilan, dan hormat terhadap diri sendiri. Jelas menggunakan narkoba sudah bertentangan dengan ketiga prinsip moral itu (Adyantari, 2014).
Menerapkan moral dalam kehidupan sehari-hari memang sebuah keharusan karena sering terjadi pertentangan moral antara moral masyarakat dengan moral dalam diri kita. Misalnya dalam hal menyontek waktu ujian. Seringkali saya dihadapkan pada teman-teman yang memang hobi menyontek saat ujian, padahal menyontek dari segi moral sudah salah, sudah melanggar ketiga prinsip moral dasar, selain itu menyontek juga sikap tidak jujur, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Di sini saya harus mempertahankan suara hati saya untuk tidak memberi contekan, walaupun dipaksa oleh lingkungan saya. Nah, peran suara hati di sini membantu saya untuk menentukan tindakan penolakan yang saya ambil (Adyantari, 2014). Dalam kaitannya dengan profesi guru, seorang guru juga harus menerapkan ketiga prinsip di atas, yaitu bersikap baik dan adil pada siswanya. Artinya guru tidak membeda-bedakan siswa berdasarkan apapun, baik itu ras, agama maupun sosial ekonomi.
2.3 Sikap Kepribadian yang Kuat a. Kejujuran
Menurut KBBI pengertian jujur adalah lurus hati, tidak berbohong , tidak curang, tulus dan ikhlas. Sedangkan kejujuran menurut KBBI adalah sifat (keadaan) jujur, ketulusan (hati) dan kelurusan (hati). Dalam bahasa Arab jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-¤aff/61:2-3).
Macam-macam kejujuran:
1. Jujur dalam berbicara
Setiap manusia berkewajiban menjaga lisannya, yakni berbicara jujur dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan, kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat tertentu. Setiap muslim dituntut untuk selalu berkata jujur, walau pun bercanda. Rasulullah saw. bersabda, "Aku akan menjamin rumah dipinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walau pun (dalam posisi) benar, dan (aku akan menjamin) rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan kata dusta dalam keadaan bercanda, dan (aku akan menjamin) rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berbudi pekerti tinggi bagi orang yang berbudi pekerti mulia." (HR Abu Dawud; hadits hasan).
Setiap muslim wajib jujur ketika berjual beli. Hendaknya setiap kekurngan dn kelebihan barang yang dijual dikatakan secara jujur dan tidak ada yang ditutupi lagi. Dengan kata lain, dia harus berkata jujur, tidak menyuap dan tidak menipu. Tersebarnya Islam di seluruh belahan negara Afrika, bahkan di seluruh pelosok dunia, disebabkan oleh kejujuran orang-orang muslim dalam praktik jual-beli mereka. Orang-orang non muslim takjub dengan kejujuran dan toleransi yang ada pada tubuh umat Islam. Itulah yang menyebabkan mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Kini umat Islam sangat membutuhkan etika dan transaksi yang telah diatur oleh Islam demi mewujudkan kebahagiaan seluruh umat manusia.
2. Jujur dalam niat dan kehendak
3. Jujur dalam berkeinginan dan dalam meralisaikannya
Keinginan atau tekad yang dimaksudkan adalah seperti perkataan seseorang, "Jika Allah memberiku harta, akau akan menginfakkan semuanya." Keinginan seperti ini ada kalanya benar-benar jujur dan ada kalanya pula masih diselimuti kebimbangan. Kejujuran dalam merialisasikan keinginan, seperti apabila seseorang bertekad dengan jujur untuk bersedekah. Tekas tersebut bisa terlaksana bisa juga tidak. Penyebab tidak terealisainya tekad tersebut bisa saja karena dia memiliki kebutuhan yang mendesak, tekadnya hilang, atau lebih mengedepankan kepentingan nafsunya.
4. Jujur dalam bertindak
Kejujuran dalam bertindak berarti tidak ada perbedaan antara niat dan perbuatan. Jujur dalam hal ini juga bisa berarti tidak berpura-pura khusyu dalam beramal sedangkan hatinya tidaklah demikian.
5. Jujur dalam hal keagamaan
Jujur dalam agama adalah derajat kejujuran tertinggi, seperti jujur dalam rasa takut kepada Allah swt., mengharap ridha-Nya, zuhud, rela dengan pemberi-Nya, cinta dan tawakal. Semua perkara tadi memiliki fondasi yang menjadi tolok ukur kejujuran seseorang dalam menyikapinya. Kejujuran juga memiliki tujuan dan hakikat. Orang yang jujur adalah mereka yang mampu mencapai hakikat semua perkara tadi dan mampu mengalahkan keinginan nafsunya.
diberikan. Ia tidak pernah akan berindak bertentangan dengan suara hati atau keyakinannya.
Pengaruh kejujuran bagi manusia
1. Orang yang terbiasa hidup jujur ketika akan melakukan kebohongan tentu akan berfikir akibat dari kebohongan itu, minimal antara dirinya dengan manusia.lihatlah contoh negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, semua maju dengan pesat dalam segala bidang, padahal negara-negara tersebut ada yang tidak beragama, kenapa mereka maju? Karena mereka telah mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya, hanya mungkin yang kurang pada diri mereka hubungan dirinya dengan Tuhan. Sedangkan manusia yang tidak otentik adalah orang yang seakan-akan tidak mempunyai kepribadian sendiri melainkan terbentuk oleh peranan yang di timpakan kepadanya oleh masyarakat (Bartens,1993). Untuk menguji keotentikan cita-cita perlu dilakukan percobaan-percobaan, contohnya ia memasuki lingkungan yang lain dengan nilai-nilai yang lain yang tanggung jawab dan inisiatifnya ditantang dan diberi kesempatan untuk menunjukkan inisiatifnya dengan tidak terlalu diatur.
c. Kesediaan untuk Bertanggung Jawab
Tanggung jawab menurut KBBI adalah kewajiban menanggung segala sesuatu. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja atau tidak disengaja. Dengan kata lain tanggung jawab adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian dan pengorbanan pihak lain. Kesediaan untuk bertanggung jawab sendiri terdiri atas beberapa aspek yaitu;
1) bersedia untuk melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Kita akan melaksanakan dengan sebaik mungkin, meskipun di tuntut pengorbanan, kurang menguntungkan atau di tentang orang lain. Sebenarnya tugas bukan hanya sekedar masalah tetapi tugas dapat kita rasakan sebagai sesuatu yang mulia yang harus kita pelihara dan kita selesaikan dengan baik.
2) sikap bertanggung jawab mengatasi segala etika peraturan. Orang yang bertanggung jawab akan melanggar peraturan jika tampak tidak sesuai dengan tuntunan situasi. Misalnya saja, seorang pembantu rumah tangga berhak untuk pergi sesudah jam 18.00, akan tetapi tetapi dia juga harus tetap menjaga anak tuan rumah sampai mereka pulang meskipun lewat jam 18.00.
3) wawasan orang yang bersedia untuk bertanggung jawab secara prinsipsial tidak terbatas. Ia tidak membatasi perhatiannya pada apa yang menjadi urusan dan kewajibanya, melainkan merasa bertanggung jawab dimana saja ia di perlukan. 4) kesediaan untuk bertanggung jawab termasuk kesediaan untuk diminta dan
memberikan pertanggungjawaban atas tindakan-tindakanya atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya. Kesediaan untuk bertanggung jawab demikian adalah tanda kekuatan batin yang sudah mantap.
d. Kemandirian dan Keberanian Moral
itu moral juga merupakan seperangkat keyakinan dalam suatu masyarakat berkenaan dengan karakter atau kelakuan dan apa yang harus dilakukan manusia.
Menurut Bartens (1993), kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya. Kemandirian moral juga berarti bahwa kita tak pernah ikut-ikutan saja dengan berbagai pandangan moral dalam lingkungan kita, melainkan selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengannya. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat “dibeli” oleh mayoritas, bahwa kita tidak akan pernah rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar keadilan. Sikap mandiri pada hakekatnya merupakan kemampuan untuk selalu membentuk penilaian terhadap suatu masalah moral. Kemandirian merupakan keutamaan intelektual dan kognitif. Sebagai ketekatan dalam bertindak sikap mandiri di sebut keberanian moral.
Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekat untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban, walaupun tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan. Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang menarik. Setiap kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan malu yang sering mencekamnya. Ia merasa lebih mandiri. Ia memberikan semangat dan kekuatan berpijak bagi mereka yang lemah, yang menderita akibat kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.
f. Kerendahan Hati
g. Realistik dan Kritis
Orang-orang yang mau kita bantu adalah orang-orang yang hidup dunia real. Maka, tanggung jawab kita harus real juga. Kita harus membuka mata lebar-lebar terhadap realitas. Kita mempelajari keadaan dengan serealis-realisnya agar semakin disesuaikan dengan tuntutan prinsip-prinsip dasar. Sikap kritis diperlukan agar kita terus menerus memperbaiki apa yang ada supaya lebih adil, sesuai dengan martabat manusia, dan orang-orang lain dapat lebih bahagia. Sikap kritis juga perlu terhadap segala macam kekuatan, kekuasaan, dan wewenang dalam masyarakat. Kita tidak dapat tunduk begitu saja terhadap wewenang yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan menciptakan kebahagian bagi semakin banyak orang. Pedomannya adalah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu anggota masyarakat yang membuka kemungkinan lebih besar bagi anggota-anggota untuk membangun hidup yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia (Machmud dan Rumate, 2005).
2.4 Pentingnya Keutamaan Moral dalam Menjalankan Tugas dan Kehidupan Sehari-hari
Mengapa moral begitu penting bagi kehidupan kita dan bagi kehidupan masyarakat? Menurut Aly (2012) berikut ini akan diuraikan beberapa alasan kenapa moral atau akhlaq itu sangat penting bagi kehidupan kita.
1. Dengan akhlaq maka kehidupan manusia akan menjadi makmur. Suatu masyarakat yang penduduknya berakhlaq, mereka akan selalu berbuat sebaik-baiknya untuk diri dan masyarakatnya. Mereka akan senantiasa menjalankan amanah yang dipercayakan masyarakat kepadanya sesuai dengan haknya.
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan pembahasan di atas yaitu
1) Prinsip moral dasar terdiri dari tiga, yaitu prinsip sikap baik, prinsip keadilan dan hormat pada diri sendiri
2) Ketiga prinsip di atas harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam aplikasinya kita melakukan hal-hal yang baik seperti tidak mencuri, tidak memakai narkoba, tidak mencontek, dan lain-lain.
3) Kepribadian moral yang kuat meliputi kejujuran, nilai otentik, kesediaan untuk bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, kerendahan hati, realistik dan kritis
4) Implementasi moral yang kuat dalam kehidupan sehari-hari adalah agar kehidupan makmur, tidak ada kejahatan dan manusia menjadi luhur di dunia maupun di akhirat.
3.2 Saran
DAFTAR RUJUKAN
Adyantari, Api. 2014. Prinsip Moral Dasar dan Sikap-Sikap Kepribadian Moral yang Kuat. (online) diakses dari http://api-a-feb11.web.unair.ac.id pada tanggal 08 Oktober 2015
Atkinson,R/F/,B.A. 1969. An Introduction to Moral Philosophy. Toranto: Macmillan.Co.
K. Bertens.1993. Etika. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama
Machmud, A. I., dan Rumate, Frans A. 2005. Etika dan Perilaku. Jakarta : Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Hasanudin
http://kbbi.web.id/jujur
Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 129-151