NEGOSIASI HUKUM DAN POLITIK
KARYA MUH. KHAMDAN
Copyright © Muh Khamdan
Editor: Haidan Penyunting: M. Nasrurrahman
Penata Letak: Nur Habibi Desain Cover: Abydesain
ISBN: 978-602-98228-1-6
Cetakan I: Desember 2010
Penerbit Parist Kudus Alamat:
Jl. Conge Ngembalrejo Kotak Pos 51 Kudus 59322 Gedung PKM Lt.1 STAIN Kudus
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Pemberi tanpa pilih kasih, maka penulis dapat menyusun buku ini untuk memberikan gambaran perenungan atas perjalanan penegakan hukum dan tatanan penyelenggaraan pemerintahan yang ada.
Buku ini merupakan buah pemikiran penulis yang awalnya bertebaran di berbagai media massa terkait dengan banyaknya kegiatan-kegiatan yang mengindikasikan berlangsungnya proses negosiasi hukum dengan kepentingan kekuasaan. Secara
spesiik, tulisan ini mencoba menggambarkan sistem hukum yang akan selalu
dinamis dengan berbagai kepentingan sehingga membutuhkan prinsip keadilan, dan penulis ingin menempatkan moralitas sebagai cara pandang memahaminya.
Penulis menyadari bahwa tulisan yang ada sangat mungkin terjadi pengulangan di satu bagian dengan bagian lainnya karena cara pandang penulis yang sama terhadap suatu masalah. Untuk itulah apa yang tersajikan di dalam buku ini bisa menjadi gabungan yang belum utuh, namun setidaknya telah berpijak pada satu kesatuan tematik.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan dengan adanya support dan motivasi dari keluarga besar di Pringtulis Nalumsari Jepara Jawa Tengah. Kedua orangtua yang penuh kemuliaan, Abah (Alm) H. Abdullah Chandiq dan Siti Aminah yang dengan doa-doa mulianya telah memberikan didikan terbaik, juga untuk semua saudara tercinta dari mbak Hanif Mifrohah dan ipar Wiji Sulamto, kak Hasan Asy’ari dan ipar Nana beserta ketiga ponakan, Ina, Kia, dan Ivan. Mbak Zakiyah dan ipar Munir, Nang Muhammad Syaifudin, Genduk Atik Amrina dan Izvina Maliya.
Semua rekan kerja widyaiswara BPSDM dan semua pegawai di Kementerian Hukum dan HAM RI. Demikian juga para peneliti di Paradigma Institute Kudus yang
telah kritis mengklasiikasikan tulisan penulis menjadi dalam susunan yang tematis.
Penulis sadar masih terdapat kekurangan di dalam penulisan ini, sehingga sangat diharapkan adanya masukan konstruktif untuk perbaikan di masa mendatang. Wallahul muwaiq ila aqwamith thoriq.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi
BAB I HUKUM DAN MORALITAS
1. Runtuhnya Moralitas Hukum 1 2. Teknologi dan Supremasi Moral 3 3. Hati Nurani dan Korps Korupsi 5 4. Anarkhisme Para advokat 7 5. Kedaulatan (Barter) Hukum 9 6. Krisis Hukum di Negara Hukum 11
BAB II HUKUM DAN POLITIK KEBIJAKAN
1. Menagih Amanat Konstitusi 13 2. Silaturrahim Politik Century 19 3. Negosiasi Hukum dan Politik 21 4. Keterbukaan Informasi vs Rahasia Negara 25 5. Keadilan (bukan) di Pengadilan 30
6. Hukum yes Politik no 35
BAB III HUKUM DAN DEMOKRASI
1. Melawan Mahalnya Demokrasi 39 2. Penguatan Civic Education 41 3. Teror terhadap Demokrasi 49 4. Anas dan Desentralisasi Demokrat 54 5. Learning Center Partai Politik 58
BAB IV HUKUM DAN KEARIFAN LINGKUNGAN
1. Meneguhkan Hak Veto Lingkungan 58 2. Jangan Melupakan Ekoterorisme 64 3. Meneguhkan Paradigma Ekoterorisme 69 4. Hakim Hijau dan Supremasi Lingkungan 72
5. Pudarnya Pesona PLTN 76
BAB VI HUKUM DAN ISU SOSIAL
1. Meneguhkan Kembali Desa Hukum 95 2. Membenahi Kelemahan Intelijen 101 3. Delik Prahara Pemenjaraan Arthalyta 106 4. Imperialisme Bahasa Indonesia 111 5. Mangrove Center dan Perda Pesisir 115
Runtuhnya Moralitas Hukum
M
asyarakat baru saja melhat kejadan hukum yang merusak moraltas sehngga berkembang perseps bahwa kn sudah tdak ada lag keadlan d lembaga penegak hukum. Pertama, putusan hakm terhadap Mnah (55) yang dganjar bulan 5 har penjara dengan masa percobaan 3 bulan atas dakwaan pencuran 3 buah kakao d perkebunan mlk PT Rumpun Sar Antan (RSA), Banyumas.Belum hlang keheranan publk, hukum juga memaksa Basar dan Koll mendekam dalam LP Kelas A Kota Kedr karena mencur sebutr semangka seharga Rp 5.000. Keterkejutan memuncak ketka hukum melalu PT Banten menuntut Prta Mulyasar menggant kerugan materal dan mmateral kepada RS Omn Rp 204 juta karena dakwaan pencemaran nama bak atas pelayanan buruk yang dkeluhkan melalu surat elektronk.
1
Terakhr, Mansh (40) dan tga kerabatanya Rabu (0/2) menjalan persdangan d PN Batang atas sangkaan mencur 4 klogram kapuk randu d perkebunan PT Segayung, Kecamatan Tuls, Batang. Sdang dlanjutkan Senn (4/2) n, untuk mendengarkan ekseps penashat hukum terdakwa tersebut.
Kejadan-kejadan hukum tu pada akhrnya menmbulkan pengaruh sosal yang bermakna bag masyarakat, lalu tak kalah pentng untuk dpaham, kejadan hukum tu akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pengadlan sebaga sumber keadlan. Mengapa kejadan n berdampak pada pengadlan? Seberapa pentng pengaruhnya?
Pengadlan adalah jantung hukum tu sendr karena menjad laboratorum bedah atas paket perundang-undangan, profesonal hukum melaksanakan fungs, produk keadlan, dan pertarungan antara moral dan kepentngan-kepentngan lan.
Untuk tulah berkembang adagum klask d duna hukum bahwa sebak atau seburuk apapun teks perundang-undangan maka produk keadlan yang dhaslkan tetap tergantung pada sosok-sosok yang menjalankannya. D snlah pentngnya moraltas hukum yang harus dpegang oleh penguasa pengadlan.
Pernyataan tu dapat dkatakan suatu jawaban atas fenomena hlangnya keadlan d pengadlan adanya kasus Mnah, Basar-Koll, dan Prta Mulyasar. D ss lan, semuanya merupakan kelompok masyarakat kelas bawah sehngga menjad bukt langsung bahwa hukum belum dapat dcerna oleh masyarakat awam.
Hukum dan moral sama-sama berkatan dengan tngkah laku manusa agar selalu bak, namun postvsme hukum yang murn justru tdak memberkan kepastan hukum. Itulah sebabnya, hukuman terhadap Amr Mahmud, sopr d BNN hanya karena sebuah pl ekstas justru dkena hukuman 4 tahun oleh Pengadlan Neger Jakarta Barat, sedangkan jaksa Ester dan Dara yang telah menggelapkan 343 butr ekstas hanya dvons tahun.
Hukum merupakan postvas nla moral yang berkatan dengan kebenaran, keadlan, kesamaan derajat, kebebasan, tanggung jawab, dan hat nuran manusa. Hukum sebaga postvas nla moral adalah legtmas karena adl bag semua orang.
Tanpa moral, hukum tdak mengkat secara nalar karena moral mengutamakan pemahaman dan kesadaran subjek dalam mematuh hukum. Hal n sebagamana dungkapkan K Bertens bahwa qud leges sne morbus yang memlk art apa gunanya undang-undang kalau tdak dserta moraltas.
kesewenangan hukum dan pertmbangan kepentngan lan dalam penegakan keadlan d pengadlan. Mnah, mansh cs, Basar, dan Koll secara substans hukum memang melakukan pelanggaran berupa delk pencuran, namun secara moral mest dpaham bahwa keadlan d tengah lalu lntas hukum modern adalah menekankan pada struktur rasonal, prosedur, dan format.
Jka hal n dtadakan, maka akan menegaskan tulsan Harold Rothwax dalam buku Gulty- The Collapse of the Crmnal Justce System bahwa masyarakat modern tdak lag mencar keadlan tetap mencar kemenangan dengan segala cara. Setdaknya hal demkan dapat terbaca dalam kasus Prta yang menjad tersangka pencemaran nama bak Omn Internatonal Hosptal Alam Sutera Tangerang. Prta dtuduh setelah menuls keluhan pelayanan rumah sakt tu terhadap drnya melalu nternet.
Ranah Publik
Keluhan yang dkrm dalam emal ke beberapa temannya semula merupakan ranah prbad, tetap kemudan surat elektronk tersebut masuk dalam malng lst sehngga menjad ranah publk. Subjektvtas muncul karena dalam konteks tersebut, moraltas dalam pengadlan tdak membaca adanya Prta sebaga korban yang membutuhkan keadlan melankan rumah sakt tersebut sebaga korban.
Menurut Thomas Aqunas dalam buku On the Book of Job, keadlan akan musnah dalam dua kemungknan, yatu karena sebuah kebjaksanaan yang tdak bjaksana atau karena perbuatan tdak terpuj dar seseorang yang memlk kekuasaan atas pengadlan.
Masyarakat harus melakukan check and balances agar hukum benar-benar memlk vs moral, yatu mengutamakan kesamaan perlakuan d hadapan hukum tanpa ada dskrmnas, sedangkan profesonal hukum harus melakukan lompatan penafsran atas hukum postf.
Secara kebetulan, kejadan yang menmpa Mnah, mansh cs, Basar, Koll, dan Prta, sekalgus ketmpangan kasus antara Ester-Dara dan Amr Mahmud akan menjad gerbang sosalsas grats untuk pembelajaran masyarakat dalam ranah hukum pdana dan perdata.
Perlu menyosalsaskan kembal tentang pentngnya pemahaman hukum dan kesadaran hukum yang berwawasan moraltas d masyarakat melalu dua doman pencapaan. Pertama, pengembangan atas desa sadar hukum. Kedua, adanya penddkan hukum rakyat secara dn agar masyarakat mampu mengawal penegakan keadlan bak secara prosedural maupun moral.
antara hukum dan moral sehngga membawa konds pertarungan nla-nla keadlan yang harus djunjung dalam pengadlan. Oleh karena tu prnsp epkea mest djunjung sebaga suatu nterpretas terhadap hukum postf bukan menurut naskah hukum melankan menurut semangat keadlan moral kebatnan pemegang kuasa pengadlan. Epkea bermaksud mempertahankan esens hukum yang bersfat ntrnsk dan tdak tertuls, bukan dalh pengngkaran atas hukum yang berlaku.
Pasal 28D Ayat UUD 945 menyatakan bahwa setap orang berhak atas pengakuan, jamnan, perlndungan, dan kepastan hukum yang adl. Hasl amandemen n memlk ms agar tdak terjad pembaran penguasa pengadlan menjatuhkan vons sesua kepentngan tertentu, tetap memlk semangat berdasarkan pada keadlan.
Jelas bukan suatu keadlan kalau gara-gara pencuran semangka seharga Rp 5.000, negara harus menanggung baya makan Basar dan Koll d penjara yang jumlahnya lebh dar berlpat-lpat ganda. Bukankah putusan hakm justru merugkan negara?
Moral hukum berupa ”adl” n menjadkan para hakm untuk terdorong menggal rasa keadlan substantf (substantve justce) darpada terbelenggu ketentuan UUU (procedural justce). Setdaknya hal tersebut telah menjad dasar kepada semua hakm mengngat bahwa setap putusan, hakm selalu menegaskan kalau putusan yang dbuat d pengadlan adalah ”dem keadlan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa”, bukan ”dem kepastan hukum berdasarkan Undang-Undang”. Karena tu, keadlan harus dskap sesua karakter masng-masng.
Masyarakat telah menyakskan betapa smpang-surnya keadaan hukum yang tdak member kepastan keadlan terutama pada masyarakat kelas bawah. Untuk tu profesonal hukum harus mengharga nla-nla kemanusaan dalam menegakkan hukum untuk menegakkan keadlan (iat iustitia) dengan mengusakan kesesuaan antara kebenaran formal dan kebenaran materal atau mengedepankan kebajkan dan kepatutan (prudence dan equity) agar keadlan d pengadlan tetap memlk moraltas sehngga mendapatkan kepercayaan masyarakat.
UU ITE dan Supremasi Moral
P
rta Mulyasar harus berhadapan dengan pengadlan, setelah putusan sela Pengadlan Neger (PN) Tangerang yang membebaskannya dbatalkan oleh Pengadlan Tngg (PT) Banten. Ibu dengan dua putra n oleh Kejaksaan Neger Tangerang djerat dengan pasal 45 jo pasal 27 (3) UU No /2008 tentang Informas dan Transaks Elektronk ((UU ITE). UU yang semestnya member angn segar bag pengguna teknolog nformas dan komunkas elektronk, sebalknya menjad UU yang menakutkan karena mengancam kebebasan dengan jerat kejahatan elektronk berupa pencemaran nama bak.Dar snlah prahara hukum tu terjad karena delk pencemaran nama bak jelas menjad senjata ampuh yang dapat membungkam demokras berpendapat. Prta menjad tersangka pencemaran nama bak yang dtuduhkan RS OMNI Internasonal Hosptal Alam Sutera Tangerang, setelah menuls keluhan pelayanan RS OMNI terhadap drnya melalu nternet.
(JPU). Menurut ketua majels, Hakm Tuppu, surat dakwaan JPU batal dem hukum dengan alasan tdak memenuh syarat sebagamana yang tercantum dalam Pasal 43 ayat 2 huruf b KUHAP. Tdak terma putusan tersebut, JPU langsung melakukan perlawanan (verzet) atas putusan tu dan oleh Pengadlan Tngg Banten putusan PN Tangerang dbatalkan, sehngga secara otomats dakwaan Prta yang terdahulu danggap sah. Dar snlah dapat dbedakan poss antara supremas prosedural dengan supremas moral d dalam proses hukum.
UU ITE yang dundangkan pada 2 Aprl 2008 sebaga cyber
law pertama d Indonesa, merupakan bentuk perlndungan kepada seluruh masyarakat dalam dalam rangka menjamn kepastan hukum, khususnya berkenaan dengan maraknya kegatan berbass elektronk. Mater yang datur dalam UU n adalah hal baru dalam sstem hukum Indonesa, sepert penyelesaan sengketa, perlndungan data, pengakuan transaks dan alat bukt elektronk semacam e-banking, e-commerce, atau e-buy, dan nama doman atas Hak Kekayaan Intelektual. Dar alasan d atas, keberadaan UU ITE dharapkan mampu memberkan dasar hukum bag transaks elektronk agar tmbul keteraturan sosal yang memudahkan masyarakat salng bertransaks.
Poss UU ITE adalah wujud apresas dalam menykap konvergens d bdang telekomunkas dan nformatka (telematka) yang memlk mplkas luas d tengah masyarakat dan berpotens melakukan kejahatan pada permasalahan hukum. Persoalan n perlu dfaham ketka msalnya terdapat pengubahan data elektronk tertentu melalu penyadapan, pemalsuan, dan publkas yang tdak sebenarnya. Maka keberadaan 3 bab dan 54 pasal pada UU ITE sesungguhnya cukup komprehensf dan mengakomodas semua hal tentang duna sber, bahkan menyangkut berbaga aspek hukum, sepert hukum transnasonal, hukum perdata, hukum admnstras, dan hukum pdana.
Secara kebetulan, kejadan yang menmpa Prta Mulyasar menjad gerbang sosalsas grats dalam ranah hukum pdana dan perdata pada UU ITE tersebut. Masalah meyangkut dengan hak asas manusa dalam menyampakan pendapat dan ketentuan sanks pdana yang berlebhan sekalgus memberatkan karena mplementas peraturan harus memberkan keadlan bag masyarakat. Oleh srkumstans, keterbatasan, dan ntenstas waktu yang kurang, maka membawa nterpretas hukum yang subjektf terutama menyangkut pencemaran nama bak d dalam UU ITE tersebut.
pembuktian hukum. Kedua, adanya pengklasiikasian tindakan-tndakan yang tergolong pelanggaran hukum dalam penyalahgunaan teknologi informasi. Di antaranya yang masuk dalam klasiikasi ini adalah pembobolan nformas rahasa, penpuan, persangan bsns yang curang, dan hacking. Sementara tu pencemaran nama bak yang mengancam kemerdekaan berpendapat, sejak awal dalam rumusan RUU pada tahun 2003 tu, sudah mendapatkan perlawanan dan gagal untuk uj materl d Mahkamah Konsttus. Ibaratnya, supremas moral telah dkalahkan oleh supremas prosedural sehngga keputusan yang salah melalu prosedur yang benar maka sult untuk dgugat.
Setdaknya pasal 27, 28, dan pasal 29 pada Bab VII memlk mplkas pada pelanggaran hak asas manusa karena membelenggu kebebasan masyarakat untuk memperoleh dan menyampakan nformas yang secara konsttusonal djamn oleh pasal 28F UUD 945. Pasal-pasal tersebut tetap bertahan karena mengacu pada perlunya batas dan rambu-rambu dalam kebebasan berpendapat d masyarakat, kendat dalam pasal 30 KUHP juga sudah mengatur adanya batasan kebebasan berpendapat yang tdak mencemarkan nama bak phak lan. Masuk akal memang perlunya rambu-rambu kemerdekaan berpendapat, tetap kenyataan menunjukkan konsekuens berbeda sebagamana dalam Prta Mulyasar yang harus kembal berhadapan dengan pengadlan karena campur aduknya delk materl pada aturan-aturan yang ada.
Penuls poltk Perancs, Alexs de Tocquelle pernah menyebut bahwa kebebasan nformas d tengah masyarakat adalah sebaga oksgen demokras. Pernyataan n jad sangat hperbols, namun dalam kenyataannya hal tersebut mendapatkan pembenaran bahwa d semua rezm-rezm pemerntahan yang dktator akan berrng dengan pemenggalan kebebasan nformas. D sampng rezm pemerntahan, kalangan pemodal atau berdut juga selalu merampas hak-hak masyarakat atas nformas dan berpendapat dengan dalh pencemaran nama bak. Untuk tulah akhrnya demokras mengalam “sesak nafas” perjalanannya.
Thomas Fredman, kolumns luar neger untuk The New York
dan era nformas yang akhrnya mencptakan global village.
Dengan latar belakang tu, “tempora mutantur, nos et mutamur
in Illis” yang berart zaman berubah membuat masyarakat juga berubah bersamanya. Kekecewaan dan kebngungan yang dpcu dar subjektvtas pasal dalam UU ITE menegaskan bahwa persoalan tu perlu dajukan kembal ke Mahkamah Konsttus untuk duj materl, terlebh pasal-pasal tentang pencemaran nama bak yang sudah tdak relevan d masa sekarang. Adalah hak pemerntah dan DPR memberlakukan UU dan peraturan yang dbuatnya, tetap adalah hak masyarakat juga untuk kut mengawal perbakan dan pelaksanaannya.
Apa yang dlakukan Prta lebh lanjut ternaung dalam pasal 9 Deklaras Unversal Hak Asas Manusa (Universal Declaration of
Human Rights) PBB yang menyebutkan bahwa setap orang berhak untuk berpendapat dan mengeluarkan ekspresnya serta mencar, menerma, dan menyebarkan nformas atau de gagasan. Dengan berpedoman pada deklaras tersebut, nformas adalah mlk masyarakat dan hal yang mampu mengawal demokras untuk tetap hdup karena akan mencptakan klm pelayanan publk yang lebh terbuka dan transparan, sehngga mematkan upaya pembodohan massal serta pemsknan struktural sstemk.
Hati Nurani dan Korps Korupsi
P
erode kedua pemerntahan Presden Suslo Bambang Yudhoyono belakangan n dwarna banyak perkara hukum yang berkepanjangan. Mash segar dalam ngatan bagamana kasus Ccak vs Buaya yang merepresentaskan permanan kekuasaan antara KPK dan kepolsan. Belum tuntas, gemuruh kasus Bank Century memasung knerja Wakl Presden, Boedono, dan Menter Keuangan, Sr Mulyan. Kn korps korups terbongkar d semua nstans penegak hukum melalu nuran pengakuan terbuka mantan Kepala Badan Reserse dan Krmnal (Bareskrm) Mabes Polr, Komsars Jenderal Susno Duadji tentang maia pajak.Pembongkaran “maia” hukum tersebut juga memiliki dampak sstemk terhadap korps Kementeran Keuangan dengan munculnya aktor dari Direktorat Pajak, Gayus Tambunan dan Bahasyim Assiie yang bermplkas pada gugatan reformas brokras dan kebjakan remuneras. Bahkan arus kuat kasus pajak tersebut sangat mungkn akan menyangkut phak-phak yang tdak pernah terduga, sebagamana telah muncul nsal SJ yang dungkapkan SusnoDuadj sebaga makelar kasus pajak.
Berbaga pelajaran kasus-kasus yang terjad dalam penndakan praktk korups belum mampu mengokohkan relas keadlan hukum dan moraltas dalam konsentras upaya mencptakan brokras yang bersh sekalgus bertndak sesua dengan pendekatan hat nuran. Bahkan pengungkapan praktik persekongkolan maia hukum dari anggota d dalam korps, justru serng terancam dengan tuduhan pelanggaran kode etk dan bahkan aduan pencemaran nama bak. Untuk tulah dapat dfaham jka Susno Dudaj merasa perlu memnta perlndungan hukum dan perlndungan poltk kepada DPR.
Sebagamana kasus yang pernah dungkap audtor BPK, Kharansyah, masa kepemmpnan Anwar Nasuton pada 2005, dengan lebh nyaman a melaporkan kepada KPK darpada ke nsttusnya. Hadah kata-kata yang berkembang dar atasannya saat tu berupa ngn mencar populartas, kampungan, ancaman pemecatan, stupd, dan sebaganya. Kegagalan sstem akuntabltas vertkal dar bawahan kepada atasannya langsung dan atasannya akan melanjutkan ke atasan berkutnya sampa yang tertngg, membuktkan bahwa korups d neger n merupakan sebuah jarngan laba-laba.
Oleh karena tu pulalah langkah Susno Duadj untuk membershkan korps kebanggaannya dar kungkungan Makelar Kasus (Markus) dengan memberkan laporan terlebh dulu ke Satuan Tugas (Satgas) Anti-maia Hukum daripada ke institusinya dapat difahami karena adanya ketdakpercayaan dengan akuntabltas vertkal yang selama n terjad dalam organsas pemerntahan termasuk Mabes Polr. Kenyataan tersebut mengingatkan terbongkarnya jaringan maia polisi Sdney, New South Wales (NSW), Australa, oleh Koms Wood (99) yang mengagetkan banyak negara, dan tu karena bantuan seorang pols yang memlk pangglan hat nuran untuk kut membongkar kejahatan yang terjad d korps-nya.
rekaman Anggodo Wdjojo dengan berbaga petngg nsttus penegak hukum yang dperdengarkan dalam perjalanan sdang perkara Chandra M Hamzah-Bbt Samad Ranto d Mahkamah Konsttus. Anggodo begtu leluasa mengatur perkara melalu sejumlah pejabat d kejaksaan dan kepolsan. Tdak hanya tu, masyarakat juga pernah menyakskan bagamana jaksa Urp Tr Gunawan dtangkap KPK ketka melakukan transaks perkara dengan Artalyta Suryan.
Memnjam stlah Habermas, manusa akan kehlangan daya krtsnya karena terbua oleh mater-mater yang bersfat semu, yatu uang. Hal demkan mendukung kepolsan untuk terbua dengan mater semu karena memlk poss dan legtmas sebaga aparat kontrol sosal dar pemerntah yang mempunya monopol kekuasaan. Poss hukum pols yang memlk otortas berhadapan dengan masyarakat, sepert mencurga, menahan, atau menggeledah melahrkan kedgdayaan pols terhadap masyarakat. Ironsnya hal tersebut harus dhadap Susno Duadj tu sendr.
Tdak mampunya hukum memberkan keadlan publk dakbatkan ketdakberanan aparat penegak hukum bertndak progresf. Dalam suasana semangat tngg untuk menegakkan supremas hukum (the cry for supremacy of law), Profesor Satjpto Rahardjo selalu mengampanyekan agar penegak hukum tdak menjad tawanan undang-undang. Dalam hal n, kredo dekonstruks hukum tersebut mengsyaratkan bahwa hukum bukan sekadar peraturan tetap adanya perlaku terbuka untuk melakukan plhan-plhan determnas berkehendak memberkan keadlan kepada masyarakat.
Masyarakat telah menyakskan betapa smpang-surnya keadaan hukum yang tdak member kepastan keadlan. Untuk tu para profesonal hukum harus mengharga nla-nla kemanusaan dalam menegakkan hukum untuk menegakkan keadilan (iat iustitia) dengan mengedepankan kebajkan dan kepatutan (prudence dan equty) agar kepastan dan keadlan hukum terjaga. Dan Susno Duadj setdaknya berusaha menunjukkan, lewat hati nurani maia hukum dapat dilawan kendat telah membangun korps korups sendr.
Anarkhisme Para Advokat
A
narkhsme advokat menjad tontonan menark dalam perjalanan hukum d neger n. Anarkhsme yang dlakukan oleh advokat Kongres Advokat Indonesa (KAI) tu terjad d gedung Mahkamah Agung setelah muncul Surat Edaran Mahkamah Agung kepada ketua pengadlan tngg se-Indonesa bertanggal 25 Jun 200 nomor 089/KMA/VI/200 tentang Penyumpahan Advokat yang hanya mengaku Perhmpunan Advokat Indonesa (Perad) sebaga organsas tunggal dan menyshkan organsas advokat lannya.Tuntutan para punggawa hukum yang berujung anarkhs terkat berebut benar dalam organsas pengacara (bar association) ternyata tak jauh berbeda dengan anarkhsme-anarkhsme jalanan yang selama n terjad d masyarakat. Hal tersebut jelas akan mencdera kepercayaan masyarakat atas hukum karena akan berkembang stgma bahwa ahl hukum saja ketka tdak mendapatkan ketdakadlan pada akhrnya membenarkan kekerasan apalag masyarakat yang awam hukum.
pelanggaran pdana dengan kecurgaan pemalsuan dokumen tentu dapat dlakukan jalur pelaporan ke pols. Pun jka rasa ketdakadlan muncul akbat adanya pasal 28 ayat () UU Advokat yang mewajbkan wadah tunggal advokat, maka UU tersebut dapat duj melalu keberadaan Mahkamah konsttus (MK).
Aspek kejwaan berupa marah, kecewa, ketdaksetujuan, atau merasa dlanggar hak keadlannya dalam hukum, sudah tentu harus dsalurkan melalu prosedur hukum. Dan nlah yang telah dtunjukkan oleh mantan menter Kehakman dan hak Asas Manusa, Yusrl Ihza Mahendra ketka tdak sepaham tentang legaltas jabatan Hendarman Supandj sebaga Jaksa Agung dengan mengajukan uj mater UU Nomor Tahun 2004 tentang Kejaksaan pada Mahkamah Konsttus.
Secara nstrumental hukum merupakan sarana untuk mencptakan dan memelhara ketertban, stabltas dan predktabltas, melestarkan nla-nla budaya dan mewujudkan keadlan, sarana penddkan untuk pengadaban masyarakat sekalgus mengesahkan perubahan masyarakat. Dengan demkan hukum berfungs memanusakan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat agar yang kuat tdak sewenang-wenang melakukan penndasan terhadap yang lemah atau tdak salng memangsa (homo hommini lupus).
Memakna prahara d kalangan advokat, tdak akan ada yang mengngkar bahwa kalangan advokat merupakan kalangan yang memlk pemahaman hukum tertngg d masyarakat, dan tentunya mengetahu tentang keberadaan fungs hukum sehngga dharapkan menjad poner tentang kesadaran hukum pada masyarakat. Untuk tulah kranya terdapat kepentngan tertentu yang tdak tertampung sehngga menmbulkan rasa ketdakdlan dan berbuah pada demo brutal oleh para advokat KAI.
Kepatuhan seseorang termasuk para advokat terhadap hukum merupakan suatu varabel yang membutuhkan dukungan empat varabel lan. Pertama, compliance atau adanya harapan suatu mbalan terhndar dar hukuman. Kedua, identiication yatu suatu kepatuhan yang terjad karena adanya hubungan bak dengan pemegang kewenangan. Ketga, internalization yang berart seseorang patuh karena sesua dengan nla-nla yang dyaknnya. Keempat, karena kepentngan-kepentngan yang terjamn dalam hukum yang ada.
sudah berlangsung, namun MA yang berfungs sebaga medator justru menelkung dengan terbtnya Surat Edaran yang menegaskan KAI. Untuk tu kearfan harus djunjung dengan menjaga kepentngan bersama dalam legalstk formal yang berdasarkan pada ranah sosologs dan keadlan.
Dalam hal kesadaran hukum setdaknya dpengaruh adanya pengetahuan hukum, pemahaman hukum, sekalgus skap terhadap hukum. Dengan demkan, tentu dketahu bahwa kalangan advokat adalah kalangan yang memlk kesadaran hukum terbak d tengah masyarakat. Namun ketka terjad anarkhsme oleh para advokat tu sendr, hal n menunjukkan adanya apatisme hukum d kalangan advokat neger n sehngga memudarkan kepatuhan hukum d kalangan advokat KAI.
Kedaulatan (Barter) Hukum
S
alah satu su pelk atas laporan dan rekomendas Panta Khusus (Pansus) kasus Century telah menemukan jawaban bahwa mayortas fraks d DPR mengaku adanya pelanggaran hukum dan pelanggaran lan sehngga perlu dlanjutkan dalam ranahnya masng-masng. Dalam katan n, persoalan belum berhent karena dalam proses selanjutnya sangat dbutuhkan konsoldas pengawasan terutama menyangkut persoalan hukum. Terlebh sepert dsnyalr ICW tentang adanya ndkas barter perkara sehngga mencdera kedaulatan hukum dem menghambat pengungkapan kasus Century.iktif milik kader PKS, Misbakhun. Terakhir, 19 politisi dindikaskan menerma dana ïlegal” terkat pemlhan Deput Gubernur BI, Mranda Goeltom.
Berangkat dar tulah setdaknya terbangun kekhawatran supremas dan kedaulatan hukum benar-benar terancam oleh suatu permanan kepentngan, d masa sekarang atau bahkan sepanjang waktu karena “amuns perkara” mash tersmpan. Sangat dsayangkan hukum harus tergrng dalam penympangan kekuasaan yang tergolong
political corruption, yatu penggunaan kekuasaan untuk keuntungan prbad dan keuntungan golongan elte tertentu. sepanjang n berbaga profesonal hukum berusaha untuk merubah ctra hukum yang telah turun derajat agar bsa kembal menjad lebh bak memberkan keadlan (dispensing justice), namun hal demkan tentu akan mengalam kesultan memperoleh kepercayaan masyarakat karena para profes hukum seolah telah kehlangan orentas dan dealsme.
Terlepas dar hasl pansus Century dan keputusan sdang parpurna, demokras slaturrahm yang dtanda adanya lob-lob dan upaya tawar-menawar kepentngan justru menguatkan memor kolektf publk sebagamana Marc Galanter menulskan profesonal hukum lebh cenderung mementngkan kekuasaan dan bsns darpada penegakan keadlan dan kebenaran. Terkuaknya perkara-perkara hukum sebaga senjata lob atau melemahkan kekrtsan anggota Pansus Century, pada akhrnya mempertontonkan adanya tebang plh penanganan kasus hukum memang benar-benar terjad selama n. Tdaklah mengherankan jka bangsa n ddera pada masalah krusal mengena pengkhanatan fungs hukum yang terdr dar dua hal.
Pertama, hukum mengungkapkan pandangan hdup, nla-nla budaya, dan nla-nla keadlan. Hukum selalu tertanam d dalam suatu struktur sosal tertentu, tdak ada hukum jka tdak ada masyarakat. Manusa adalah makhluk sosal (zoon politicon) yang secara kodratnya selalu mencar orang lan untuk salng bernteraks. Dalam proses tersebut ada kepentngan prbad dan kepentngan bersama yang dalam relasinya sering terjadi konlik kepentingan sehingga memaksa untuk membuat ketentuan tertentu yang dsebut nla. Kedua, secara nstrumental hukum menjad sarana untuk mencptakan dan memelhara ketertban, stabltas dan predktabltas, melestarkan nla-nla budaya dan mewujudkan keadlan, sarana penddkan untuk pengadaban masyarakat sekalgus mengesahkan perubahan masyarakat. Dengan demkan hukum berfungs memanusakan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat agar yang kuat tdak sewenang-wenang atau tdak salng memangsa (homo hommini lupus).
perkara hukum d atas perstwa poltk harus djadkan wahana ntrospeks sekalgus koreks untuk melhat sejujurnya apa yang terjad antara kekuasaan poltk dan kekuasaan hukum. Dalam katan n, hukum harus relevan dan berphak pada kepentngan rasa keadlan sosal masyarakat. Hukum harus menjad pengayom sesama warga masyarakat tanpa membeda-bedakan dengan menegakkan keadlan untuk semua (equality before the law). Profesonal hukum juga mest otonom, bebas dan mandr menjalankan profes tanpa tekanan untuk merekayasa pencapaan keadlan hukum.
Asas keadlan n harus berjalan memenuh persyaratan moral bukan datur oleh poltk. Karena pada hakkatnya, poltk datur oleh kekuasaan sedangkan kekuasaan datur oleh uang. Memnjam stlah Habermas, manusa akan kehlangan daya krtsnya karena terbua oleh mater-mater yang bersfat semu, yatu uang. Yang lebh parah lag, poltk Indonesa yang selama n terbangun justru ddomnas skap-skap tradsonal berupa rasa ewuh pakewuh, dan dalam stuas tertentu karakter memitnah, menjelek-jelekkan keburukan orang lain yang belum tentu buruk, dan salng mengumbar rahasa kawan-lawan yang tentunya menjadkan keadlan hukum semu, karena adanya tebang plh perkara yang dtangan berdalh skala prortas.
Hukum memang membutuhkan kekuasaan karena tdak mungkn ada hukum tanpa adanya suatu bentuk penguasa, tetap hukum tdak bsa dbarkan dtunggang oleh kekuasaan. Secara hakk hukum harus past dan adl agar hukum berfungs sebagamana mestnya. Suatu hukum yang tdak past dan tdak mau adl menunjukkan hukum yang buruk sehngga mudah drekayasa untuk kepentngan tertentu sekalgus member peluang kepada profesonal hukum guna menafsr atau menjerat perkara hukum sesua selera subjektf.
Masyarakat telah melhat melalu tontonan hukum yang merusak moraltas sehngga berkembang perseps tdak ada lag keadlan d pengadlan karena tdak adanya kepastan dan kesamaan hukum. Satu persatu perstwa tersebut sepert putusan hakm terhadap Mnah yang ddakwa mencur 3 buah kakao dengan ganjaran bulan 5 har penjara, Basar dan Koll karena mencur semangka harus mendekam dalam LP Kelas A Kota Kedr, juga kasus Mansh atas sangkaan mencur 4 klogram kapuk randu, termasuk delk prahara Prta Mulyasar yang menghpnots masyarakat untuk membela.
yang telah menggelapkan 343 butr ekstas hanya dvons tahun semakn menguatkan ketdakpersamaan hukum tu sendr. Untuk tulah profesonal hukum juga harus memlk kualtas dr beruapa skap kemanusaan, keadlan, kepatutan, dan kejujuran.
Rchard Qunney melalu Crtque of Legal Order (973) menggambarkan bahwa hukum cenderung dbuat untuk menampung kengnan elte yang menguasa negara darpada untuk kepentngan masyarakat. Akbatnya, muncul pertentangan antara dealtas teor hukum dan postvtas hukum sehngga penegakan hukum justru mendatangkan malapetaka dalam kehdupan sosal karena moraltas sudah terkalahkan oleh kekuasaan. Dengan menyadar hal n, dbutuhkan komtmen bersama untuk mengawal hukum agar tdak menghna rasa keadlan masyarakat atau adanya poltsas hukum.
Krisis Hukum di Negara Hukum
P
ara pelaku hukum tentu tdak sempat membayangkan akan terjadnya lngkaran setan korps korups d neger n yang bermula dar pernyataan mantan Kepala Badan Reserse dan Krmnal (Bareskrm) Mabes Polr, Komsars Jenderal Susno Duadj tentang maia pajak. Oleh karena tidak sempat membayangkan, tentu juga belum bsa memperkrakan babak akhr prahara hukum yang menelanjang kebobrokan nsttus penegak hukum yang ada, sehngga agenda reformas hukum tdak jelas arahnya.Perode kedua pemerntahan Presden Suslo bambang Yudhoyono belakangan n seolah menjad perode cuc gudang pemerntahan dalam bdang hukum. Mash segar dalam ngatan bagamana kasus Ccak
versus Buaya yang merepresentaskan permanan kekuasaan antara KPK dan kepolsan bersama aparat penegak hukum lannya. Semakn kuat pembenarannya setelah barang bukt rekaman percakapan antara Deput Penndakan Koms Pemberantasan Korups (KPK) Ade Rahardja dan Ar Mulad hlang atau memang semula dada-adakan.
knerja Wakl Presden, Boedono, dan telah mengorbankan Menter Keuangan, Sr Mulyan untuk hjrah mennggalkan Indonesa n tada jelas penuntasannya.
Sebaga negara hukum keadlan harus d tegakkan dar neger n. Jangan sampa hukum hanya berlaku pada rakyat kecl sementara para pemegang kekuasaan domnan neger n kebal hukum. Yang lebh parah, para koruptor yang pernah mengemuka untuk dber hukuman mat, justru mendapatkan pengampunan berupa gras dan rems d har kemerdekaan ke-5. Setdaknya 34 koruptor mendapat rems termasuk d dalamnya besan Presden SBY, yang mendapatkan rems tga bulan. Bahkan, sebelas d antaranya langsung menghrup udara bebas. Sebuah kebjakan yang dnla banyak phak sangat kontroversal d tengah usaha memberantas dan memberkan efek jera kepada koruptor yang telah merugkan negara.
Kn korps korups telah terbongkar d semua nstans penegak hukum melalu nuran pengakuan sang Jenderal bntang tga tersebut, sehngga lngkaran setan yang awalnya gelap medapatkan cahaya penndakan. Korps Kepolsan telah mengambl tndakan terhadap Kompol Arafat, AKP Sr Sumantr, bahkan mencopot Brgjend Edmond Ilyas dar poss Kapolda. Korps Kejaksaan Agung juga telah mencopot Cyrus Snaga sebaga Assten Pdana Khusus Kejaksaan Tngg Jawa Tengah, yang seharusnya juga dapat djerat dengan ancaman pdana. Namun, lambannya pengusutan mencptakan kecurgaan baru bag masyarakat bahwa hukum tdak lag sebaga alat untuk memberkan keadlan (dispensing justice).
Temuan-temuan tentang persekongkolan korups secara seklas menunjukkan pengaruh-pengaruh korups yang mencptakan kejahatan terorganisir dan munculnya kekuasaan tipe maia yang menerobos strata masyarakat. Korups juga merupakan kejahatan krmnal luar basa (extraordinary crime). Bahkan, Unted Natons Conventon Agaisnt Corruption (UNCAC) mengklasiikasikan korupsi sebagai kejahatan hak asas manusa (human rights crime) dan kejahatan kemanusaan (crime against humanity). Karena tu, cara-cara yang luar basa patut dterapkan kepada koruptor.
Namun, lngkaran setan korups yang demkan jelas masf terjad jelas akan menmbulkan pertanyaan, mengapa bsa terjad? Bagamana mengatasnya untuk memulhkan kepercayaan publk? Dan mengapa ada pengampunan?
buaan fatamorgana kekayaan.
Implkas serus dar keterbuaan aparat penegak hukum terhadap kekayaan atau bsns adalah konds reformas penegakan hukum terutama pemberantasan korups kehlangan arah. Imparsaltas, ntegrtas, dan akuntabltas pejabat penegak hukum tersandera oleh kekuatan uang yang menjelma menjad kekuatan besar dan menekan. Intervens demkan pada akhrnya meruntuhkan kepastan dan keadlan tu sendr.
Perstwa terbongkarnya kekuatan uang dalam proses hukum secara gamblang terlhat dar rekaman Anggodo Wdjojo dengan berbaga petngg nsttus penegak hukum yang dperdengarkan dalam perjalanan sdang perkara Chandra M Hamzah-Bbt Samad Ranto d Mahkamah Konsttus. Anggodo begtu leluasa mengatur perkara melalu sejumlah pejabat d kejaksaan dan kepolsan., bahkan setelah rekaman dputar ternyata Mabes Polr tdak juga menetapkan Anggodo sebaga tersangka sampa akhrnya KPK yang menetapkannya. Tdak hanya tu, masyarakat juga pernah menyakskan bagamana jaksa Urp Tr Gunawan dtangkap KPK ketka melakukan transaks perkara dengan Artalyta Suryan.
Kuat lemahnya kekuatan uang untuk menguasa seseorang setdaknya sangat dpengaruh dar dua stuas, yatu lngkungan batn ndvdu yang erat katannya dengan hat nuran, serta lngkungan sosal yang berhubungan dengan pengawasan optmal.
Dalam suasana semangat tngg untuk menegakkan supremas hukum (the cry for supremacy of law), Profesor Satjpto Rahardjo selalu mengampanyekan agar penegak hukum tdak menjad tawanan undang-undang. Dalam hal n, kredo dekonstruks hukum tersebut mengsyaratkan bahwa hukum bukan sekadar peraturan tetap adanya perlaku terbuka untuk melakukan plhan-plhan determnas berkehendak memberkan keadlan kepada masyarakat.
Analss demkan sangat berkatan denga hat nuran manusa karena pada hakkatnya semua manusa dber nla dasar alamah tentang keadlan. Hat nuran menyngkap dengan terang dmens ets dalam hubungan hdup manusa. Hat nuran mengungkapkan penghayatan tentang bak dan buruk berkatan dengan tngkah laku yang konkret untuk dlakukan atau dtnggalkan. Dengan demkan, otonom manusa dalam mengatur serta mengarahkan hdupnya dhayat dalam keputusan hat nurannya.
dem kewbawaan hukum. Mengedepankan hat nuran juga pernah dtorehkan oleh hakm-hakm terbak Indonesa sepert hakm agung Bsmar Sregar, hakm agung Ad Andojo Soetjpto, dan Benyamn Mangkudlaga yang masng-masng lebh memlh keadlan hat nuran darpada tersekat pada undang-undang. Kemampuan menguj batas kemampuan undang-undang (testing the limit of law) yang membutuhkan keberanan dan aspek transendental sprtual nlah yang mempengaruh keadlan hukum.
Sementara tu, hat nuran akan selalu tergoda dengan duna luar karena kekuatan man seseorang juga akan mengalam konds pasang surut. Untuk tulah pengawasan fungsonal yang bersfat horsontal dan vertkal harus dtngkatkan. Ketka pengawasan nternal yang cenderung mengedepankan soldartas korps dan cenderung membentuk persekongkolan telah danggap tdak efektf menjaga penegakan hukum dalam arah yang sebenarnya, maka mendesak pengawasan masyarakat sebaga bagan dar sstem pengawasan lembaga-lembaga penegak hukum menjad suatu kenscayaan.
Menagih Amanat Konstitusi
P
resden sudah slh bergant sampa empat kal sejak Soeharto lengser 2 tahun lalu. Setap pemerntahan tentu mengaku sudah membuat kebjakan dan program pengentasan masyarakat pedesaan dan perkotaan dar kemsknan dengan alokas anggaran trlunan rupah. Namun angka kemsknan ternyata tdak mampu terbendung untuk turun secara berart sehngga berbaga program menjad tdak efektf. Dengan demkan, amanat konsttus tentang kewajban negara atas orang mskn dan anak telantar seolah hanya sapan jempol.D dalam pembukaan UUD 945 jelas mengamanatkan pentngnya kesejahteraan umum sekalgus terwujudnya kecerdasan bangsa yang menyeluruh sebaga bagan dar tujuan berdrnya negara Indonesa. Amanat demkan semakn dpertegas dalam batang tubuh UUD
2
945 dan perlu ddorong dengan aturan hukum yang jelas dalam lngkup pelaksanaannya. Dalam stuas sepert tu, RUU Fakr Mskn yang kemudan dsulkan berubah nama menjad RUU Percepatan Pengentasan Kemknan merupakan sebuah keharusan untuk dapat menjawab permasalahan mengapa kebjakan serta program yang selama n berjalan mengalam kemandulan.
DPR-RI telah menetapkan Program Legslas Nasonal (Prolegnas) tahun 200-204 pada Masa Persdangan I lalu. Selama kurun waku lma tahun ke depan telah dtetapkan target pembahasan 247 RUU, dtambah dengan 5 kategor RUU kumulatf terbuka. Dar Prolegnas tu, sebanyak 58 RUU dtambah 5 kategor RUU kumulatf terbuka dtetapkan sebaga RUU prortas tahun 200. Dan RUU Fakr Mskn tengah menjad salah satu RUU prortas yang harus dselesakan oleh Koms VII DPR.
Program dan kebjakan pengentasan kemsknan yang djalankan pemerntah pusat maupun pemerntah daerah selama n seolah berjalan tanpa perencanaan yang matang untuk jangka waktu yang panjang. Hal demkan dapat terlhat dar pelaksanaan program yang hanya bersfat bantuan sosal, sehngga terkesan bag-bag dana segar sehngga mengalam kemandulan pengentasan masalah utama kemsknan. Kenyataan tersebut setdaknya dfaham dar dua paradgma yang berjalan.
Pertama, adanya poltsas kewajban menjad penctraan kedermawanan oleh pemerntah.Penctraan kedermawanan tersebut sebagamana dengan memberkan dana tuna yang seolah menggambarkan kepedulan sosal pemerntah, padahal mestnya adalah tanggung jawab negara atas rakyatnya. Bantuan model n semacam Bantuan Langsung Tuna (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan kelompok usaha bersama (KUBE) dengan tajuk utama sebaga perlndungan sosal yang dtujukan pada keluarga atau komuntas mskn. Fenomena BLT telah menjadkan dana yang ddapatkan hanya menjad pemuas konsums sekalgus menyuburkan konsumersme serta ketergantungan masyarakat mskn. .
Statstk (BPS). Walaupun BPS cukup banyak memperoleh krtk sehubungan data yang semrawut.
Berdasarakan data BPS, persentase penduduk mskn d Indonesa pada 2008 (5,42 persen) menurun sektar 2 persen dbandngkan persentase pada 99 (7,47 persen). Jka dlhat dar jumlah absolut, penduduk mskn justru menngkat dar 34,0 juta (99) menjad 34,9 (2008). faktanya, perkembangan kemsknan masyarakat justru terjad samap d depan stana dengan maraknya anak jalanan dan fakr mskn d bawah kolong jembatan.
Pemerntah telah mengeluarkan serangkaan kebjakan pengentasan kemsknan lan melalu berbaga kebjakan, sepert BOS, Askeskn dan Jamkesmas, yang tentu membutuhkan alokas anggaran yang besar. Untuk tahun 2009 msalnya, Anggaran kesejahteraan atau pengentasan kemsknan secara agregat d dalam APBN mencapa sektar Rp trlun. Meskpun demkan, masalah kemsknan sampa saat n terus-menerus menjad masalah yang tak berkesudahan.
Hal demkan karena penyebab kemsknan selalu ddasarkan pada jawaban makro yang tunggal, padahal penyebab kemsknan memlk karakter berbeda-beda sesua dengan lngkup lokaltas yang ada. Kesemrawutan data demkan tdak akan dapat mencermnkan gambaran tngkat kemsknan masyarakat yang memlk keragaman akbat wlayah negara Indonesa yang berbeda secara geolog, organsas sosal, budaya, sumber daya alam, maupun bentuk-bentuk ekonom yang berkembang.
Akhrnya, kemsknan dan kecerdasan bangsa Indonesa adalah tanggung jawab bersama. Jka RUU Pengentasan Kemsknan djadkan sebaga tonggak awal pembenahan program dan kebjakan yang selama n danggap mandul, maka pentng drumuskan kejelasan hukum hubungan antara pemerntah d semua level, lembaga-lembaga kemasyarakatan, serta masyarakat dalam menanggulang kemsknan agar tdak ada pengkhanatan atas konsttus.
Menjelang usa 5 tahun Indonesa merdeka, bangsa n semakn tersadar betapa sultnya menagh amanat konsttus bahwa fakr mskn dan anak-anak telantar dapat dpelhara oleh negara. Untuk tu, agar menegaskan bahwa negara memlk tanggung jawab atas rakyat msknnya sebaga amanat UUD 945, segera dselesakannya RUU tentang Fakr Mskn menjad UU merupakan suatu kenscayaan.
Silaturrahim Politik Century
S
etelah hampr tujuh bulan terkatung-katung, kn kasus Century yang telah memaksa Sr Mulyan mundur dar kurs Menter Keuangan kembal memanas. Pasalnya, melalu slaturrahm poltk para petngg Parta Golkar bersama mantan ketua umumnya, Jusuf Kalla, kasus yang danggap merugkan negara Rp ,7 trlun dpertanyakan penuntasannya.Ketdaktegasan para penegak hukum, bak kepolsan, kejaksaan, bahkan KPK menndaklanjut rekomendas DPR tentang adanya pelanggaran hukum, pelanggaran perbankan, pelanggaran pencucan uang, dan pelanggaran lannya memang layak dpertanyakan. Terlebh para penegak hukum tu telah terlalu dn menyatakan kurang adanya bukt padahal dugaan permulaan telah dlaporkan melalu nvestgas BPK dan juga para pengusul angket dalam tm 9.
dkedepankan dalam mengawal kembal kasus Century agar tdak mat sur.
Sapapun dapat memaham kekuatan slaturrahm poltk yang sempat dlakukan oleh tm 9 pengusul awal angket Century. Tm yang ddomnas anak-anak muda DPR tu punya peran yang kukuh. Slaturrahm poltk sengaja dlakukan untuk mendobrak nuran “kebenaran” anggota DPR yang lan dengan adanya dukungan para tokoh bangsa dan elemen masyarakat ant-korups. Dengan kata lan, dplomas yang dlakukan melalu tatap muka dengan pendekatan emosonal serta pskologs penuh penghargaan terhadap phak yang dtemu pada akhrnya member dua keberhaslan.
Pertama, pembubuhan tandatangan dukungan lebh dar 500 anggota DPR menjad bukt awal keberhaslan slaturrahm sehngga mengantarkan terbentuknya Panta Khusus (Pansus) Bank Century.
Kedua, legtmas “kebenaran” yang dperoleh melalu keterangan saks beserta data-datanya, secara pskopoltk telah bersentuhan dengan ekspektas publk dan lag-lag terkuatkan oleh dplomas slaturrahm. Hasl akhrnya terungkap bahwa mayortas anggota DPR menyetuju adanya pelanggaran hukum dan pelanggaran lan sehngga perlu dlanjutkan dalam ranahnya masng-masng.
Masuk akal dan normal jka dalam sdang parpurna dukungan terhadap kesmpulan Pansus mengena adanya ndkas pelanggaran hukum justru lebh besar dar kekuatan yang dperkrakan publk. Dbukanya kran slaturrahm poltk merupakan salah satu pertanda yang esensal untuk mengawal demokras. Logs jka masng-masng phak menawarkan klausul kebenaran berdasarkan kepentngannya, tetap momentum, tata cara, dan proses tulah yang menandakan santun atau tdaknya slaturrahm.
Dar pengalaman carut marutnya kasus Century yang tdak jelas penuntasannya, mengndkaskan adanya proses tukar gulng perkara hukum yang mengancam penegakan demokras. Hal demkan terlhat dar menurunnya krtssme anggota DPR setelah kasus Century berhasl melengserkan Sr Mulyan dar kurs menter.
Indonesa jelas memlk potens otentk untuk menjad negara demokras teladan. Namun konstruks demokras “jad-jadan” justru mampu mempengaruh bergesernya kedaulatan hukum yang mestnya menjad panglma. Dalam poltk jelas cara-cara nakal menjad sah dan man akal merupakan suatu kenscayaan. Tentu saja, benar atau tak benar bsa kabur kendat dalam wlayah hukum mengharuskan nla kepastan.
ada upaya negosas perkara hukum antar petngg poltk menjelang perhelatan sdang parpurna pembahasan kasus Century. Iron demkan membangun memor kolektf publk bahwa supremas dan kedaulatan hukum memang bsa “dselngkuh” oleh kekuasaan poltk. Hal n menguatkan pendapat Marc Galanter kalau pemegang kuasa domnan lebh cenderung mementngkan kekuasaan dan bsns atau mater darpada penegakan hukum.
Wllam J Chamblss dalam On the Take; From Petty Crooks to
Presidents (978) dan Rchard Qunney melalu Crtque of Legal Order (973) menggambarkan bahwa hukum cenderung dbuat untuk menampung kengnan elte yang menguasa negara darpada untuk kepentngan masyarakat. Akbatnya, muncul pertentangan antara dealtas teor hukum dan postvtas hukum sehngga penegakan hukum justru mendatangkan malapetaka.
Dengan kekuatan uang hukum dapat dpengaruh, dengan kekuatan kekuasaan hukum juga dapat drekayasa. Oleh karena tu, dbutuhkan komtmen berasama untuk mengawas agar tdak ada rekayasa poltk dalam mengungkap kebenaran kendat dsadar kebenaran memlk relatvtas. Dan hal demkan dapat kembal dbangktkan melalu silaturrahim politik yang dilandasi kejernihan dan hati dan ikiran untuk kesejahteraan rakyat.
Negosiasi Hukum dan Politik
P
ernyataan Staf Khusus Presden Denny Indrayana bahwa ada parta poltk yang mencoba menegosaskan hukum sungguh menjad dentum ancaman serus atas kedaulatan hukum tu sendr. Jka memang benar apa yang dsampakan tersebut, sangat dsayangkan hukum harus tergrng dalam penympangan kekuasaan yang tergolong poltcal corrupton, yatu penggunaan kekuasaan untuk keuntungan prbad dan keuntungan golongan elte tertentu. Maklum karena sesama penyelenggara negara memlk “kartu rahasa” yang sap djadkan amuns masng-masng.penegakan keadlan.
Dalam hukum, terdapat dua fungs utama yang oleh Bernard Arief Sidharta dalam “Releksi tentang Struktur Ilmu Hukum” disebut dengan fungs ekspresf dan fungs nstrumental. Pertama, hukum mengungkapkan pandangan hdup, nla budaya, dan nla-nla keadlan. Hukum selalu tertanam d dalam suatu struktur sosal tertentu karena manusa adalah makhluk sosal yang secara kodratnya selalu mencar orang lan untuk salng bernteraks dan butuh adanya suatu nilai agar tidak terjadi konlik. Kedua, secara instrumental hukum menjad sarana untuk mencptakan dan memelhara ketertban, stabltas, dan predktabltas, melestarkan nla-nla budaya dan mewujudkan keadlan, sarana penddkan untuk pengadaban masyarakat sekalgus mengesahkan perubahan masyarakat. Dengan demkan, hukum berfungs memanusakan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat agar yang kuat tdak sewenang-wenang melakukan penndasan terhadap yang lemah atau tdak salng memangsa.
Dar kedua fungs tu, kranya fakta adanya upaya negosas perkara hukum d atas perstwa poltk harus djadkan wahana ntrospeks untuk melhat sejujurnya apa yang terjad antara kekuasaan poltk dan kekuasaan hukum. Dalam katan n, hukum harus relevan dan berphak pada kepentngan rasa keadlan sosal masyarakat. Hukum harus menjad pengayom sesama warga masyarakat tanpa membeda-bedakan dengan menegakkan keadlan untuk semua (equalty before the law).
Asas keadlan n harus berjalan memenuh persyaratan moral bukan datur oleh poltk. Karena pada hakkatnya, poltk datur oleh kekuasaan sedangkan kekuasaan datur oleh uang. Memnjam stlah Habermas, manusa akan kehlangan daya krtsnya karena terbua oleh mater-mater yang bersfat semu, yatu uang. Dengan demkan, profes hukum yang merupakan profes terhormat dan luhur (oficium
nobile) harus menjunjung tngg etka profes untuk mengabd pada sesama sebaga dealsmenya.
Hukum memang membutuhkan kekuasaan, tetap hukum tdak bsa dbarkan dtunggang oleh kekuasaan. Secara hakk hukum harus past dan adl agar hukum berfungs sebagamana mestnya. Suatu hukum yang tdak past dan tdak mau adl menunjukkan hukum yang buruk sehngga mudah drekayasa untuk kepentngan tertentu sekalgus member peluang kepada profesonal hukum guna menafsr atau menjerat perkara hukum sesua selera subjektf.
luhur dan terhormat n dcemar pelaku profes hukum sendr, sepert putusan hakm terhadap Mnah yang ddakwa mencur tga buah kakao dengan ganjaran bulan 5 har penjara, Basar dan Koll karena mencur semangka harus mendekam dalam LP Kelas A Kota Kedr, juga kasus Mansh atas sangkaan mencur 4 klogram kapuk randu.
Asas kesamaan d hadapan hukum yang menuntut adanya keadlan hukum justru djungkrbalkkan. Pada akhrnya perkara hukum terhadap Amr Mahmud, hanya karena pl ekstas dkena hukuman empat tahun oleh Pengadlan Neger Jakarta Barat, sedangkan jaksa Ester dan Dara yang menggelapkan 343 butr ekstas hanya dvons tahun.
Dalam memaham hubungan antara hukum dan kekuasaan, perlu dtumbuhkan adanya demokratsas dalam pelahran suatu produk hukum agar fungs ekspresf hukum tu dapat berjalan mengawal terwujudnya produk hukum yang berkeadlan dan berperkemanusaan yang beradab. Pada ss lan, penyadaran melalu pendampngan yang kontnu terhadap masyarakat mengena hukum harus dperluas ke semua lapsan agar mampu mengawal kepastan hukum dan mencegah terjadnya manuver kekuasaan dalam kedaulatan hukum.
D snlah pentngnya moraltas bag profes hukum dengan menjunjung kode etk. Kode etk pentng bag profes hukum karena profes hukum merupakan suatu moral communty (masyarakat moral) yang memlk cta-cta dan nla-nla bersama. Dan benar atau tdaknya upaya negosas hukum pada akhrnya dapat tercegah oleh profes hukum yang menjaga kedaulatan hukum tu sendr.
Keterbukaan Informasi vs Rahasia Negara
S
aat masyarakat berhak mendapatkan jamnan memperoleh nformas melalu lahrnya Undang-Undang Keterbukaan Informas Publk (KIP), RUU Rahasa Negara menjad ancaman untuk menegaskan pelaksanaannya. Bangsa n sudah begtu sabar menunggu pengesahan UU yang semula dalam draft bernama RUU Kebebasan Memperoleh Informas Publk (KMIP) dar perode 999-2004 sampa 999-2004-2009, namun harapan besar yang telah terbangun mest bersap runtuh jka RUU Rahasa Negara jad dsahkan sebaga UU yang kemungknan besar akan berlawanan.mendapatkan opn wajar tanpa pengecualan (WTP) dar Badan Pemerksa Keuangan (BPK). Tahun 2009 hanya delapan daerah dar 4 LKPD yang dlaporkan. Padahal, pada 2004 berjumlah 2 buah, 2005 menjad 7 daerah, dan sejak 200 kurang dar 0 daerah (MI, 4/8).
D ss lan, UU n dharapkan dapat mendorong terwujudnya reformas brokras (open government) melalu pemberan pelayanan yang bak, karena selama n sstem dan kultur brokras dbuat untuk lambat. Seolah menjad warsan budaya turun temurun, gema reformas brokras setdaknya sudah ddengungkan sejak turunnya mantan Presden Soeharto namun belum juga berhasl mengubah kultur knerja pegawa. Secara gamblang, pemerntah dan DPR RI telah mengeluarkan UU Nomor 28/999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersh dan Bebas dar Korups, Kolus, dan Nepotsme (KKN) yang kemudan djelaskan dalam Keputusan Menter Pemberdayaan Aparatur Negara No. 5/2008 tentang pedoman reformas brokras. Ada tga sektor yang menjad acuan reformas brokras, yatu ketatalaksanaan, kelembagaan, dan sumber daya manusa.
Munculnya UU No. 25/2009 tentang Standardsas Pelayanan Publk merupakan langkah awal untuk terwujudnya pelayanan prma dar aparatur negrata terhadap masyarakat, namun perlu dlengkap dengan UU lan berupa prnsp-prnsp keetkaan dalam layanan publk maupun keterbukaan akses yang tertampung dalam UU KIP karena terkat audt dan akuntabltas pelayanan. Dalam admnstras publk, brokrat sebaga aparatur negara dtuntut untuk profesonal sehngga dperlukan adanya Standar Operasonal Prosedur (SOP) untuk mengukur keprofesonaltasan. Tentu n membutuhkan kedsplnan sekalgus gaj yang bermbang sehngga audt knerja yang ddukung oleh legaltas keterbukaan nformas memlk kontrbus yang besar, terlebh dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 200, salah satu perhatan pemerntahan SBY adalah reformas brokras dan hukum serta demokras d Indonesa. Pemerntah menganggarkan Rp 8, trlun rupah dalam bentuk penngkatan gaj PNS dan TNI.
kesempatan menambah jumlah pegawa dengan dalh sedktnya pegawa sebaga penyebab pelayanan publk menjad lambat sehngga terjad jual bel kekuasaan.
Pengaruh tersebut tentu dapat dbaca oleh brokrat yang melacurkan dealsme demokras untuk keuntungan sesaat. D benak kalangan n, keterbukaan nformas justru akan menjadkan pola “kontrak poltk” menjad tertutup dan terancam karena pelayanan yang dberkan akan daudt phak ketga sebaga subjek yang mendapatkan pelayanan. Bahkan kebjakan-kebjakan yang dalam kurun waktu tertentu dapat dpesan oleh kelompok khusus, cukup nyata dapat dawas publk. Maka dmunculkanlah gagasan adanya Rancangan Undang-Undang Rahasa Negara yang nantnya dapat berfungs sebaga pelndung kepentngannya.
In adalah khtar pemkran yang cenderung dpaka untuk merah pragmatsme kepentngan tertentu. Pada dasarnya snkronsas antara kebebasan nformas dan kerahasaan Negara sudah datur dalam 0 pasal d Ktab Undang-Undang Hukum Pdana (KUHP) dan satu bab khusus dalam UU KIP. Persoalannya adalah sstem pengawasan yang mengakomodas hak-hak publk atas nformas tanpa melupakan perahasaan nformas negara.
Pengalaman hampr sepuluh tahun sudah masyarakat memlk koms ndependen yang fokus pada bdang nformas. Pertama untuk urusan pers maka dbentuk Dewan Pers melalu UU No 40/999 tentang pers, dan untuk urusan penyaran dbentuk KPI (Koms Penyaran Indonesa) melalu UU No 32/2002 tentang penyaran. Keduanya berfungs untuk menjalankan fungs-fungs Negara sebaga bagan pemerntahan tetap memlk ndependens dar tekanan manapun. Namun kenyataannya kedua lembaga n tdak memlk kapastas tngg dalam menentukan kebjakan d bdangnya.
UU KIP memandatkan dbentuknya Kms Informas (KI) sebaga lembaga ndependen yang berfungs membuat semua peraturan tekns tentang mplementas UU KIP. Dengan peraturan n akan memaksa badan-badan publk untuk melayan kebutuhan nformas masyarakat. KI juga memegang peranan dalam sengketa nformas antara pemnta nformas dengan badan publk yang salah satunya merasa drugkan. Koms berjumlah tujuh orang yang telah dtetapkan oleh DPR (2/5) nlah yang akan menjad determnan bag pelaksanaan UU KIP.
tertentu. Maka keterbukaan nformas badan pemerntah dan badan publk yang mendapatkan dana pembayaan dar APBD dan APBN sangat dbutuhkan sekalgus pentng untuk dawas agar tdak ada dusta d antara kta, apalag hanya berdalh rahasa negara.
Keadilan (Bukan) di Pengadilan
B
elakangan masyarakat meyakn bahwa keadlan yang semestnya ada d pengadlan benar-benar telah hlang. Putusan hakm yang mengganjar bulan 5 har penjara dengan masa percobaan 3 bulan terhadap Nenek Mnah (55), setdaknya menjad fakta penguat. Nenek yang tnggal d Dusun Sdoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajbarang, Banyumas n mest mempertanggungjawabkan tndakan sengnya memetk 3 buah kakao d perkebunan mlk PT Rumpun Sar Antan (RSA).Mnah tdak sendr, gara-gara mencur sebuah semangka mlk tetangga karena kehausan, Basar dan Koll harus mendekam d sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas A Kota Kedr sebaga tahanan Pengadlan Neger setempat. Hal yang lebh memprhatnkan adalah putusan perdata yang menghukum denda terhadap Prta Mulyasar sebesar 240 juta dengan jeratan kejahatan elektronk berupa pencemaran nama bak.
Elektronk (UU ITE). UU yang semestnya member angn segar bag pengguna teknolog nformas dan komunkas elektronk, sebalknya menjad UU yang menakutkan karena mengancam kebebasan pengaduan pelayanan publk yang dterma.
Dar snlah prahara krss kepercayaan terhadap keadlan d pengadlan terjad karena delk pencuran dan pencemaran nama bak hanya dmakna secara prosedural tanpa pendekatan moral hakm menla fakta kasus masng-masng. Hukum dan moral sama-sama berkatan dengan tngkah laku manusa agar selalu bak, namun postvsme hukum yang murn justru tdak memberkan kepastan hukum. Itulah sebabnya, hukuman terhadap Amr Mahmud seorang sopr d BNN yang hanya karena buah pl ekstas justru lebh berat darpada jaksa Ester yang telah menjad bagan dar sndkat pengedaran narkoba.
Hukum merupakan postvas nla moral yang berkatan dengan kebenaran, keadlan, kesamaan derajat, kebebasan, tanggung jawab, dan hat nuran manusa. Hukum sebaga postvas nla moral adalah
legitim karena adl bag semua orang. Tanpa moral, hukum tdak mengkat secara nalar karena moral mengutamakan pemahaman dan kesadaran subjek dalam mematuh hukum. Hal n sebagamana dungkapkan K. Bertens bahwa quid leges sine moribus yang memlk art apa gunanya undang-undang kalau tdak dserta moraltas.
Moral jelas menjad senjata ampuh yang dapat membungkam kesewenangan hukum dan pertmbangan kepentngan lan dalam penegakan keadlan d pengadlan. Mnah, Basar, dan Koll secara substans hukum memang melakukan pelanggaran berupa delk pencuran, namun secara moral mest dfaham bahwa keadlan d tengah lalu lntas hukum modern adalah menekankan pada struktur rasonal, prosedur, dan format. Jka hal n dtadakan, maka akan menegaskan tulsan Harold Rothwax dalam buku Guilty- The Collapse
of the Criminal Justice System bahwa masyarakat modern tdak lag mencar keadlan tetap mencar kemenangan dengan segala cara.
Setdaknya hal demkan dapat terbaca dalam kasus Prta yang menjad tersangka pencemaran nama bak RS OMNI Internasonal Hosptal Alam Sutera Tangerang. Prta dtuduh setelah menuls keluhan pelayanan RS OMNI terhadap drnya melalu nternet. Keluhan yang dkrm dalam email ke beberapa temannya semula merupakan ranah prbad, tetap kemudan surat elektronk tersebut masuk dalam mailing
list sehngga menjad ranah publk. Subyektvtas muncul karena dalam konteks tersebut, moraltas dalam pengadlan tdak membaca adanya Prta sebaga korban yang membutuhkan keadlan.
law pertama d Indonesa, merupakan bentuk perlndungan kepada seluruh masyarakat dalam dalam rangka menjamn kepastan hukum, khususnya berkenaan dengan maraknya kegatan berbass elektronk. Mater yang datur dalam UU n adalah hal baru dalam sstem hukum Indonesa, sepert penyelesaan sengketa, perlndungan data, pengakuan transaks dan alat bukt elektronk semacam e-banking, e-commerce, atau e-buy, dan nama doman atas Hak Kekayaan Intelektual. Dar alasan d atas, keberadaan UU ITE dharapkan mampu memberkan dasar hukum bag transaks elektronk. Namun karena prosedural dan format serta delk masalah tdak djwa adanya moraltas dalam ruang pengadlan, maka hukuman yang terkesan subjektf mest dtanggung oleh Prta.
Secara kebetulan, kejadan yang menmpa Mnah, Basar, Koll, dan Prta Mulyasar akan menjad gerbang sosalsas grats untuk pembelajaran masyarakat dalam ranah hukum pdana dan perdata. Perlu menyosalsaskan kembal tentang pentngnya pemahaman hukum dan kesadaran hukum yang berwawasan moraltas d masyarakat melalu dua doman pencapaan. Pertama, pengembangan atas desa sadar hukum. Kedua, adanya penddkan hukum rakyat secara dn agar masyarakat mampu mengawal penegakan keadlan bak secara prosedural maupun moral.
Menurut Thomas Aqunas dalam buku On the Book of Job, keadlan akan musnah dalam dua kemungknan, yatu karena sebuah kebjaksanaan yang tdak bjaksana atau karena perbuatan tdak terpuj dar seseorang yang memlk kekuasaan atas pengadlan. Masyarakat harus melakukan check and balances agar hukum benar-benar memlk vs moral, yatu mengutamakan kesamaan perlakuan d hadapan hukum tanpa ada dskrmnas, sedangkan profesonal hukum harus melakukan lompatan penafsran atas hukum postf.
Dalam kenyataan tersebut, kasus Mnah, Basar, Koll, Prta, dan Amir Mahmud adalah konlik antara hukum dan moral sehingga membawa konds pertarungan nla-nla keadlan yang harus djunjung dalam pengadlan. Oleh karena tu prnsp epikea mest djunjung sebaga suatu nterpretas terhadap hukum postf bukan menurut naskah hukum, tetap menurut semangat keadlan moral kebatnan pemegang kuasa pengadlan. Epkea bermaksud mempertahankan esens hukum yang bersfat ntrnsk dan tdak tertuls, bukan dalh pengngkaran atas hukum yang berlaku.
Hukum Yes, Politik No
H
ukum tak pernah memlh korban warga negara tertentu, karena asas kesamaan d hadapan hukum menuntut adanya suatu perkara yang sama harus dputus sama (similia similibus). Untuk tulah rumusan hukum mestnya mudah dfaham masyarakat karena keadlan terukur secara sama tanpa adanya rekayasa dalam penafsran, dan keadlan tu ada d pengadlan.Dmenangkannya gugatan praperadlan Anngodo Wdjojo terhadap penghentan penuntutan kasus Bbt Samad Ranto-Chandra M. Hamzah dengan gamblang berusaha menjelaskan asas kesamaan dan keadlan hukum yang harus dselesakan d pengadlan tersebut.
Har-har n, khususnya setelah Pengadlan Neger (PN) Jakarta Selatan memenangkan Anggodo, perpecahan wacana d beberapa kalangan semakn menguat. Muncul pandangan besar tentang kemenangan supremas hukum dan d lan phak menganggap sebaga kemenangan konsolidasi maia hukum. Dengan pandangan yang sama tentang rasa keadlan masyarakat, konseps bahwa keadlan hukum ada d pengadlan pentng untuk kembal dtegakkan dengan segenap pengawalan yang bak dar masyarakat.
Selama n masyarakat memang telah mendapatkan tontonan prahara hukum yang mengkhanat rasa keadlan akbat runtuhnya moraltas penegak hukum. Merebaknya kontrovers terhadap proses hukum pasca-keputusan PN Jakarta Selatan atas kasus Bbt-Chandra d tengah masyarakat akhr-akhr n setdaknya juga dakbatkan oleh ketdaktahuan proses demokras atau hukum dan menngkatnya apatsme penegakan hukum d neger n.
Kecenderungan ketdaktahuan masyarakat terhadap cara kerja demokras dan proses hukum demkan setdaknya tercpta secara sstemk. Penddkan yang rendah tanpa ddukung sosalsas hukum dan demokras yang mencptakan ketdaktahuan masyarakat menjad turun-menurun. Hal n bukan hanya akan membuat masyarakat menjad phak tertndas oleh kekuasaan domnan, tetap juga akan menggrng opn publk dalam pembelaan dengan pengerahan massa yang tak jarang dwarna kekerasan.
Proses peradlan yang dalam dua janda pahlawan, Nenek Soetart dan Nenek Roesmn d Pengadlan Neger Jakarta Tmur msalnya, dengan dakwaan merebut tanah orang lan dan menempat rumah negara mlk Perum Pegadaan, menjad potret sebuah paradoks mengena buruknya brokras penegak hukum membangun ctra keadlan yang danggap tdak mengetahu cara kerja hukum sehngga tertndas kekuasaan domnan. Sekal lag, karena desakan masyarakat perkara tersebut tak jelas bagamana ujung berakhrnya karena adanya campur tangan poltk “maaf-memaafkan”.
Bsa dfaham jka paradoks keadlan yang menadakan moraltas serngkal terjad dan hampr semuanya hanya menmpa kelompok masyarakat kelas bawah atau yang tdak memlk kuasa. Untuk tulah poltk akan merebut pengaruh dalam penegakan hukum sehngga kekuatan uang dan bsns yang palng menentukan arah hukum tu sendr.
corruption, yatu penggunaan kekuasaan untuk keuntungan prbad dan keuntungan golongan tertentu.
Masyarakat telah menyakskan bagamana kasus Century yang semakn ksruh d dalam duna poltk sehngga konteks hukum menjad tumpang tndh karena adanya kepentngan yang tersembuny. Dan mengejutkan, kebakan hat mantan Kepala Badan Reserse dan Krmnal (Kabareskrm) Mabes Polr, Susno Duadj dalam membongkar maia hukum harus ikut tergiring dalam ranah politik sehngga “arus kuat” hukum salng bertarung d ranah publk yang semakn membuat masyarakat apats terhadap hukum.
Kenyataan-kenyataan tersebut tentu sangat mengentalkan ctra negara n sebaga negara kleptokratk atau negara sarang malng. Laporan menark dar Poltcal & Economc Rsk Consultancy (PERC) d Hongkong dan Transfarency Internasonal d Jerman, ternyata Indonesia merupakan negara paling korup dari 16 negara Asia Pasiik yang menjad tujuan nvestas para pelaku bsns (8/3). Kenyataan n semakn menguatkan pendapat Marc Galanter bahwa profes hukum memang lebh mementngkan bsns atau uang darpada penegakan keadlan. Hal n memlk kesamaan dengan Habermas yang menyebutkan kalau daya krts manusa akan hlang oleh keterbuaan terhadap mater-mater semu, yatu uang.
Tdak mampunya hukum memberkan keadlan publk dakbatkan ketdakberanan aparat penegak hukum bertndak progresf. Dalam suasana semangat tngg untuk menegakkan supremas hukum (the cry for supremacy of law), Profesor Satjpto Rahardjo selalu mengampanyekan agar penegak hukum tdak menjad tawanan undang-undang. Dalam hal n, kredo dekonstruks hukum tersebut mengsyaratkan bahwa hukum bukan sekadar peraturan tetap adanya perlaku terbuka untuk melakukan plhan-plhan determnas berkehendak memberkan keadlan kepada masyarakat.
Dar sn, hukum harus tetap sesua dengan prosedur hukum tetap hakm harus mengedepankan moraltas keadlan dengan penggunaan hak epkea yang dmlknya.Apa yang akan dgunakan publk untuk menakar komtmen keadlan hukum bukanlah karena berdasarkan legalsme peraturan, tetap lebh pada tndakan aks yang sesua hat nuran.
dber nla dasar alamah tentang keadlan.
Hat nuran menyngkap dengan terang dmens ets dalam hubungan hdup manusa. Hat nuran mengungkapkan penghayatan tentang bak dan buruk berkatan dengan tngkah laku yang konkret untuk dlakukan atau dtnggalkan. Dengan demkan, otonom manusa dalam mengatur serta mengarahkan hdupnya dhayat dalam keputusan hat nurannya. Namun, benar atau tdaknya penegakan hukum, harus dkembalkan d dalam jalur yang semestnya, yatu d pengadlan bukan dengan negosas perkara atau slaturrahm poltk.
Masyarakat telah menyakskan betapa smpang-surnya keadaan hukum yang tdak member kepastan keadlan terutama atas masyarakat kelas bawah dan kalangan yang tdak memlk kuasa. Untuk tu para profesonal hukum harus mengharga nla-nla kemanusaan untuk menegakkan keadlan (iat iustitia) dengan mengedepankan kebajkan dan kepatutan (prudence dan equity) agar keadlan d pengadlan tdak hlang dar kepercayaan masyarakat.