• Tidak ada hasil yang ditemukan

PKM KC Didanai Asrin Pesawat Amfibi Pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PKM KC Didanai Asrin Pesawat Amfibi Pe"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM

Asrin – Pesawat Amfibi Pengawas, Pengintai, Penjaga lautan Indonesia Berbahan Bakar Solar Sel

BIDANG KEGIATAN: PKM KARSA CIPTA

Diusulkan oleh:

ROBI HIDAYAT 11/316648/PA/13783 (2011)

HANI HIDAYAH 11/312768/GE/6984 (2011)

SOFYAN YUSUF 11/319711/TK/38829 (2011)

PUTRI HARDIANI A 11/320056/GE/07226 (2011)

UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

(2)
(3)

DAFTAR ISI

a.Perancangan Sistem Pesawat ... 7

b.Perancangan Sistem Kendali Pesawat ... 7

c.Perancangan Sistem Autopilot... 8

d.Perancangan Sistem Komunikasi ... 8

3.3 Tahap Penyatuan ... 8

3.4 Uji Coba Sistem ... 8

3.5 Implementasi ... 8

3.6 Evaluasi Sistem ... 9

IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya ... 9

4.2 Jadwal Kegiatan ... 10

DAFTAR PUSTAKA ... 10

LAMPIRAN Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota , Dosen Pembingbing ... 9

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan ... 13

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas ... 14

Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana ... 15

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Modifikasi Badan Pesawat ... 5

Gambar 2.2 Badan Pesawat Tampak Bawah ... 5

Gambar 2.3 Modifikasi pada lapisan sayap ... 5

Gambar 2.4 Motor brushless ... 6

Gambar 2.5 ESC ... 6

Gambar 2.6 GCS ... 6

Gambar 5.1 Sistem Display GCS pada PC ... 20

Gambar 5.2 Ardupilot Sebagai Otak Autopilot ... 20

Gambar 5.3 GPS sebagai Penentu Posisi ... 20

Gambar 5.4 Battery ... 20

Gambar 5.5 ESC Kiri ... 20

Gambar 5.6 ESC Tengah ... 20

Gambar 5.7 ESC Kanan ... 20

Gambar 6.8 Motor Brushless Kiri ... 20

Gambar 6.9 Motor Brushless Tengah ... 20

Gambar 6.0 Motor Brushless Kanan ... 20

Gambar 6.3 Propeler kiri ... 20

Gambar 6.4 Propeler tengah ... 20

Gambar 6.5 Propeler kanan ... 20

Gambar 6.8 Panel Surya yg akan di implementasikan ... 20

Gambar 6.9 Battrey ... 20

Gambar 7.0 Sema Sayap pada UAV dengan Panel Surya ... 20

Gambar 7.1 Skema Bentuk Pesawat Asrin ... 21

Gambar 7.4 Modul Receiver data camera pengintai ... 21

Gambar 7.2 Skema GCS... 22

Gambar 7.3 KIT Camera Mobius FPV dan Transiter ... 22

(5)

RINGKASAN

(6)

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1JUDUL

Asrin – Pesawat Amfibi Pengawas, Pengintai, Penjaga Lautan Indonesia Berbahan Bakar Solar Sel

1.2LATAR BELAKANG

Maritim, julukan bagi Negara Indonesia karena memiliki 17506 pulau besar dan kecil dengan total garis pantai diperkirakan sepanjang 81.000 km. Sehingga Indonesia ditetapkan sebagai Negara yang memiliki panjang garis pantai terpanjang ke 2 di dunia, setelah Kanada (Dirhamsyah,2006). Luas kepulauan Indonesia snediri mencapai 9,8 Juta km2 dan luas lautnya mencapai 7,9 Juta km2 (Nancy, 2013). Potensi maritime ini dapat digunakan dalam pengembangan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, wilayah pesisir dan pulau – pulau kecil harus dikelola dengan sangat intensif dan berkelanjutan.

Wilayah kepulauan Indonesia memiliki posisi silang yang sangat strategis. Indonesia memiliki peran penting dalam lalu lintas laut melalui adanya posisi strategis tersebut. Posisi strategis ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi Indonesia tetapi juga membahayakan negara baik dalam bidang ekonomi, kebudayaan, maupun pertahanan dan keamanan. Indonesia menganut persetujuan Hukum Laut Internasional yang disepakati pada tahun 1982. Sebagai mana diatur dalam United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS, 1982), Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan satu kesatuan wilayah yuridiksi, yang berdaulat serta mempunyai hak dan wewenang penuh yang diakui dunia internasional, untuk mengatur, mengelola, dan memanfaatkan kekayaan laut yang dimilikinya bagi kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Hukum laut Internasional United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS, 1982) Indonesia memiliki batas teritorial, batas kontinen dan batas zona ekonomi eksklusif. Atas dasar hukum laut internasioanl tersebut, jika ada negara lain yang melewati batas – batas zona tersebut tanpa seizin maka dapat di tanggap atau di jatuhkan hukuman karena sudah melanggar batas zona tersebut. Oleh karena itu, banyak kapal yang melintasi zona ini tapi tidak memiliki izin dan para nelayan dari luar yang mencuri kekayaan alam indonesia akan di tindak dan ditangkap oleh TNI. Namun, banyak pula yang lolos dari kejaran TNI karena keterbatasan anggota.

Luasnya wilayah teritorial Indonesia mengharuskan TNI ektra keras dalam bertugas, ditambah jumlah personil TNI yang kurang proporsional dibandingkan dengan luas wilayah indonesia. Maka tidak jarang banyak penyelundup dan pencurian kekayaan alam yang masih bisa lolos dari penjagaan pihak TNI.

(7)

cari oleh masyarakat mancanegara. Bila tidak di pantau dan tidak di jaga maka akan habis oleh para pencuri.

Beberapa hasil reserch dari lembaga peneliti seperti Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) dan LAPAN, bekerja sama dengan pihak TNI membuat suatu inovasi pesawat tanpa awak untuk memantau keadaan di lautan indonesia yang dinamakan UAV (Unmaned Aeritical Vechile) . Salah tujuan dibuatnya UAV tersebut adalah sebagai pengintai. Namun, masalah yang terjadi saat ini adalah UAV tersebut daya jangkaunya hanya beberapa puluh kilometer saja dan bahan bakar yang digunakan seperti baterai hanya bertahan beberapa jam saja. Sehingga UAV tersebut tidak bisa menjangkau keseluruhan lauatan. Ketika UAV tersebut habis maka akan jatuh ke dasar laut dan lost contact. Selain daya jangkau yang masih terbatas, pesawat UAV tersebut belum dilengkapi dengan teknologi yang mampu bekerja di dua medium yang berbeda.

Penerapan Sains dan Teknologi yang canggih sangat diperlukan agar mampu membantu peran dari TNI untuk menjaga dan mengawasi luasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat menghindari serta meminimalisir tindak pencurian, penyelundupan atas kekayaan alam indonesia.

1.3PERUMUSAN MASALAH

Fokus masalah yang diteliti adalah bagaimana membuat suatu sistem yang dapat membantu tugas TNI untuk melindungi, menjaga dan mengawasi wilayah lautan negara kesatuan republik indonesia. dengan adanya kolaborasi antara TNI dan teknologi akan ada hasil yang jauh lebih maksimal dibandingkan dengan tidak adanya teknologi yang menompang.

Saat ini memang sudah ada beberapa jenis UAV buatan luar negri seperti punya inggris, irak, rusia yang sangat canggih dan mampu menempuh medan yang sangat jauh. Namun, bila ingin mempunyai pesawat UAV buatan rusia atau luar negeri tentu memerlukan biaya yang sangat mahal. Selain buatan luar negri, Indonesia sendiri sudah bisa dan mampu membuat teknologi UAV seperti buatan UGM dengan nama camar, buatan LAPAN dengan nama FADEX, ZEN 1, buatan BPPT dengan nama SRITI, Alap – Alap dan dll. Namun teknologi yang dipakai masih minim dan harus dikembangkan lebih lanjut untuk dapat di jadikan sebagai pengintai, pengawas, dan penjelajah samudra indonesia .

Independensi dalam memproduski energi juga menjadi kendala dalam UAV jenis Fixed

– wings yang bertugas untuk mengintai, mengawasi, menjaga kondisi lautan. Ketika batre habis maka pesawat harus segera landing untuk mengganti batrenya, sedangkan tugas yang di rencanakan akan ditinggalkan.

(8)

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pada pesawat pengintai UAV diatas diperlukan suatu sistem yang dapat memaksimalkan kinerja dari UAV tersebut agar dapat berkolaborasi dengan TNI untuk menjaga, mengawasi, teritorial wilayah indonesia.

1.4TUJUAN PROGRAM

a. Membantu tugas dari TNI untuk menjaga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

b. Memantau dan memberikan informasi terkini di zona – zona kritis yang rawan akan tindak pencurian dan ilegaloging.

c. Mengawasi wilayah indonesia.

d. Memanfaatkan dan mengambangkan teknologi yang sudah ada. e. Mengambangkan sistem UAV untuk ketahanan nasional.

1.5LUARAN YANG DIHARAPKAN

Penerapan sistem ini diharapkan suatu luaran berupa model desain, piranti lunak, perangkat keras dan paten dari suatu sistem yang dapat digunakan sebagai alternatif ataupun penunjang tugas TNI dalam mengawasi , memantau, dan meninjau wilayah lauatan indonesia yang sangat luas. Selian itu juga sistem ini dapat berperan ganda sebagai inovasi baru tipe UAV yang dapat bekerja di dua medium yaitu udara dan laut.

1.6KEGUNAAN PROGRAM

Adapun manfaat dari penggunaan sistem ini yang akan diperoleh TNI dan Masyarakat antara lain sebagai berikut :

1. Pihak TNI akan terbantu dalam menjalankan tugas pengintaian dengan adanya sistem navigasi dua medium ini yaitu udara dan laut.

2. Pihak TNI akan terbantu dalam menjalankan tugas pengawasan, pemantauan, dan penjagaan wilayah lautan indonesia yang sangat luas.

3. Pemerintah dapat menghemat pengeluaran untuk membeli pesawat pengintai buatan luar negeri yang sangat canggih.

4. Wilayah indonesia akan terjaga dan terawasi oleh sebuat sistem UAV yang mempu menjaga wilayah udara dan laut.

(9)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 LETAK GEOGRAFIS INDONESIA

Luas Wilayah Negara Republik Indonesia sangat luas dan menjadi negara terluas ke 4 di dunia. Luas lautan yang dimiliki oleh indonesia mencapai 7,9 juta km2 (Nancy, 2013) dan berdasarkan hukum laut internasional United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS,1982), zonasi laut di Indonesia dibagi menjadi batas laut territorial, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi eksklusif.

Di dalam batas laut territorial ini, Indonesia mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya. Negara lain dapat berlayar di wilayah ini atas izin pemerintah Indonesia. Menurut Undang-undang No. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia, Landas kontinen adalah dasar laut yang jika dilihat dari segi geologi maupun geomorfologinya merupakan kelanjutan dari koninen atau benua. Kedalaman landas kontinen tidak lebih dari 150 meter. Batas landas kontinen diukur mulai dari garis dasar pantai kea rah luar dengan jarak paling jauh adalah 200 mil. Kalau ada dua negara yang berdampingan menguasai laut dalam satu landas kontinen dan jaraknya kurang dari 4000 mil, batas kontinen masing-masing negara ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing. Menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) adalah jalur laut selebar 200 mil laut kea rah laut terbuka diukur dari garis dasar. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) ditetapkan pada tanggal 21 Maret 1980. Di zona ini negara Indonesia memiliki hak untuk melakukan eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan sumber daya alam yang ada. Eksplorasi adalah penyelidikan tentang sumber daya alam yang ada di suatu daerah.

2.2 PERANCANGAN UAV – ASRIN

Jenis UAV yang digunakan adalah tipe Fixed – wings atau bersayap tetap. Keunggulan dari jenis UAV ada pada jarak terbang yang jauh dan arah terbang yang horisontal, sangat cocok untuk dijadikan sebagai pesawat pengintai, pengawas, dan penjaga lautan Indonesia. Pengaruh dari tekanan pada sayap dan kecepatan dari mesin pendorong menyebabkan pesawat jenis Fixed – wings dapat terbang melayang di udara. Agar pesawat bisa terbang, kondisi gaya berat (W) harus lebih kecil daripada lift (L), gaya dorong/thrust (Th) harus lebih besar daripada drag (D). Pada keadaan stabil, yaitu pesawat melaju dengan kecepatan konstan, maka kondisi gaya berat (W) harus sama dengan lift (L), gaya dorong / thrust (Th) harus sama dengan drag (D) (Ricky, 2012) .

(10)

gaya impak yang dialami pada badan pesawat tersebut semakin besar (Arifin, 2012) . Tentunya bahan yang digunakan untuk membuat pesawat ini adalah Expanded Polyolefin yang dilapisi dengan plastik. Jenis bahan ini sangat ringan dan kokoh sehingga mampu menahan tekanan ketika berada di udara.

Modifikasi pada badan pesawat akan kami lakukan untuk bisa membuat pesawat UAV jenis Fixed – wings mampu landing di permukaan air dan mampu menjaga kondisi pada komponen – komponen yang ada di dalam badan agar tetap kering. Modifikasi kecil akan mempu meningkatkan perform yang maksimal jika dilakukan dengan benar. Berikut modifikasi yang dilakukan pada badan pesawat.

Gambar 2.1 Modifikasi Badan Pesawat Gambar 2.2 Badan Pesawat Tampak Bawah Untuk membuat suatu pesawat UAV yang memiliki independensi energi, maka kami merancang pesawat UAV ini dilengkapi dengan Solar Sell. Tujuan dari pemasangan Solar Sell pada pesawat UAV ini adalah untuk merubah Enegri yang ada pada sinar martahari menjadi energi listrik yang akan disimpan ke dalam batre dan digunakan kembali untuk penerbangan pesawat.

Gambar 2.3 Modifikasi pada lapisan sayap

Pemasangan Solar Sell diletakan pada sayap bagian atas agar tidak mengganggu aerodinamika dari pesawat tersebut dan dapat menyerap panas cahaya matahari dengan maksimal.

Agar pesawat bisa terbang, kondisi gaya berat (W) harus lebih kecil daripada lift (L), gaya dorong/thrust (Th) harus lebih besar daripada drag (D) dan daya dorong pada pesawat akibat mesin yang terdapat pada pesawat tersebut. Jenis mesin yang kami gunakan adalah motor elektrik dengan tipe brushless atau biasa disebut dengan motor brushless. Pemilihan motor brushlesss tergantung dari berat keseluruhan pesawat atau gaya berat (W). Salah satu rumus yang digunakan untuk pemilihan besarnya daya dorong pada motor brushless adalah sebagi berikut :

Watt = [berat pesawat (kg)] x [kebutuhan daya (Watt/kg) dari jenis pesawat yang anda inginkan]

Bagan 1. Rumus Penghitungan Daya Motor brushLess

a. Lapisan Plastik b. Lapisan Panel

Surya

c. Lapisan Expanded Polyolefin

(11)

Gaya angkat pada sayap yang diperlukan pada jenis Fixed – wings minimal 10 kali lebih besar dari pada gaya tahan. Oleh karena itu diperlukan Kpv yang besar pada pemilihan motor brushlessnya.

Gambar 2.4 Motor brushless

sumber : www.hobbyking.com www.hobbyking.comGambar 2.5 ESC

Untuk dapat mengatur kecepatan pada motor brushless diperlukan alat tambahan berupa ESC (Electric Speed Control) . Kapasitas ESC yang dipilih berdasarkan pada kuat arus yang digunakan pada motor brushless, jika motor brushless yang di pilih memiliki kuat arus 30 A maka ESC yang digunakan minimal 30 A juga.

2.3 GCS (GROUND CONTROL STATION)

Salah satu hal yang menunjang UAV adalah dengan adanya GCS (Ground Control Station) . Ground Control Station ini dapat menampilkan visualisasi parameter penerbangan UAV melalui panel instrumen yang menampilkan data kecepatan udara (airspeed), heading (yaw), sudut guling dan angguk (pitch and roll), ketinggian barometrik, turn and bank rate,serta climb speed sesuai data yang didapat dari modul Ardupilot AMP 2. Plot lokasi dan jalur penerbangan UAV ditampilkan pada peta sesuai data lokasi yang didapat dari GPS ADAHRS.Selain itu kuat sinyal, daya baterai, dan memberikan peringatan melalui alarm pada antarmuka Ground Control Station jika berada pada kondisi tertentu, sesuai data yang didapat dari modul Ardupilot AMP 2. (Ali Akbar, 2013).

Gambar 2.6 Ground Control Station Sumber : Ali Akbar, 2013

(12)

banyak sensor dan GPS (Global Positioning System) . kemudian komunikasi dengan GSC pun sudah terintegrasi dengan penambahan modul telemetry.

2.4 IMAGE PROCESSING

Pada pesawat UAV yang kita rancang terdapat modul camera FPV (First – Person Video) yang bertujuan untuk dapat memantau kondisi yang ada di lautan. Video akan ditampilkan secara streaming di dalam GCS pada Srean Display. Video tersebut akan diproses lebih lanjut untuk dapat memudahkan dalam proses pemantauan kondisi lingkungan lautan. Proses pengolahan data video tersebut menggunakan modul Opencv yang terintegrasi ke dalam Software Visual Studio 2010 C# .

BAB 3. METODE PELAKSANAAN 3.1 TAHAP PERSIAPAN

a. Studi Literatur

Dalam tahap ini kami menggunakan berbagai referensi untuk merancang dan mengimplementasikan ide yang telah kami buat. Studi literatur yang kami lakukan adalah dengan membaca beberapa referensi jurnal – jurnal mengenai Aerodinamika, management Energi dan daya dan beberapa penelitian terkini mengenai sistem autopilot pada pesawat tipe Fix Wing.

b. Wawancara

Wawancara kami lakukan untuk menambah pemahaman kami terhadap sistem yang akan kami buat . beberapa narasumber yang kami wawancarai adalah Dosen Pembimbing PKM kami, Kelompok Studi Aeromedeling dan beberapa orang yang berkecimpung dalam dunia Pesawat Tanpa Awak

3.2 TAHAP PERANCANGAN

Beberapa tahap yang harus di rancang sebelum keseluruhan sistem pesawat ini dapat diterbangkan adalah sebagai berikut :

a. Perancangan Sistem Pesawat

Pada Proses perancangan pesawat, kami mendesain arsitektur kerangka pesawat dan mendesain sistem aerodinamika yang akan dipakai dalam pesawat dan setelah tahap pendesainan kerangka pesawat kami kemudian membuat miniatur dari kerangka pesawat tersebut dan akan menganalisa dari segi fungsional, segi estetika, segi ketahanan, dan segi dinamikanya. Seteleh desain yang dirancang tidak mengalami error maka tahap selanjutnya adalah membuat kerangka pesawat dengan bahan yang ringan dari serat fiber.

b. Perancangan Sistem Kendali Pesawat

(13)

respons yang diharapkan lebih cepat, dan dapat memperediski error yang akan terjadi di masa depan dan keunggulan yang lebih dari sistem kendali PID adalah floating atau ketidak stabilan sistem yang minim.

c. Perancangan Sistem Autopilot

Modul yang dipakai untuk merancang sistem autopilot adalah dengan menggunakan produk yang sudah open souce yaitu Ardupilot. Keunggulan yang dimiliki oleh modul ini adalah sistem dapat dikembangan oleh kita sendiri dan harga yang jauh lebih murah. Sistem yang digunakan menggunakan kombinasi sensor dan beberapa modul GPS dan Mikrokontroler yang dihubungkan ke Servo.

d. Perancangan Sistem komunikasi

Sistem komunikasi yang digunakan dalam mode penerbangan pesawat ini adalah dengan Signal Frekuensi Amatir sehingga untuk dapat berkomunikasi kita tidak perlu meminta ijin. Jalur komunikasi dengan frekuensi amatir memang digunakan salah satunya untuk komunikasi Pesawat Remote Kontrol.

3.3 TAHAP PENYATUAN

Setelah Tahap Perancangan dari Pesawat, Sistem komunikasi, Sistem kendali, dan sistem autopilot selesai tahap berikutnya adalah tahap penyatuan. Tahap ini menyatukan kesemua bagian dari beberapa sistem yang sudah dirancang sebelumnya.

Rangka pesawat dibuat seringan mungkin dan tentunya mempunyai aerodinamika yang tinggi agar ketika pesawat berada dalam ketinggian tertentu mesin bisa dimatikan dan sistem pengawasan dapat di jalankan. Pesawat yang sudah dilengkapi dengan sistem autopilot membuat penerbangan dapat diarahkan mana sesuai dengan set point yang telah di terapkan dalam modul dan software autopilot.

Dengan penambahan PID ke dalam sistem autopiloyt maka dapat memaksimalkan kendali dan membuat sistem lebih stabil dan lebih cepat tanggap responnya. Sistem aerodinamika yang ada dalam pesawat sengaja dibuat sedemikian hingga agar ketika pesawat berada di udara mesin pesawat dimatikan dan dapat memanfaatkan tekanan angin.

3.4 UJI COBA SISTEM

Pada tahap ini akan dilakukan uji caba sistem yang meliputi uji fungsional sistem dan uji ketahanan sistem. Pada saat uji coba sistem juga dilakukan kalibrasi dari komponen-komponen yang digunakan pada sistem. Uji coba fungsional meliputi uji coba sistem kendali, sistem auto pilot, sistem aerodinamika pada pesawat.

3.5 IMPLEMENTASI

(14)

3.5 EVALUASI SISTEM

Setelah proses implementasi dan sistem telah diujicobakan maka tahap selanjutnya adalah mengevaluasi sistem secara keseluruhan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menyimpulkan dari hasil dan data yang didapat setelah dilakukan percobaan di lapangan. Dari kegiatan evaluasi ini diharapkan segala kekurangan dari sistem dapat diperbaiki sehingga dapat bermanfaat dengan sempurna bagi masyarakat khususnya pihak TNI.

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya

No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)

1 Peralatan Penunjang pembuatan UAV Fixed - wings

Asrin 2.845.000

2 Bahan Habis Pakai 5.310.000

3 Perjalanan 1.630.000

4 Lain - lain : administrasi, Publikasi, Laporan 1.715.000

Jumlah 11.500.000

4.2 Jadwal Kegiatan

Di bawah ini adalah Tabel 1 merupakan jadwal rencana kami dalam merealisasikan pembuatan alat “ Asrin - Pesawat Amfibi Pengawas, Pengintai, Panjaga Lautan Indonesia Berbahan Bakar Solar Sel” selama 5 bulan.

(15)

9 Evaluasi awal 10 Revisi sistem

11

Evaluasi akhir

sistem

DAFTAR PUSTAKA

Akbar Ali.2013. Purwarupa Ground Control Station untuk Pengamatan dan Pengendalian Unmanned Aerial Vehicle Bersayap Tetap. IJEIS, Volume III, No.1,pp. 1-10.

Beard, Randal. 2005. Autonomous Vehicle Technologies for Small Fixed-Wing UAVs. Journal of aerospace computing, information, and communication. vol 2. No.1.

Chao, HaiYang.2010. Autopilots for Small Unmanned Aerial Vehicles: A Survey. International Journal of Control, Automation, and Systems .Vol 8 No.1 pp 36-44.

Dirhamsyah. 2006. Pengelolaan Wilayah Pesisir Terintegrasi di Indonesia. Jurnal Oseana, Volume XXXI, Nomor 1, Halaman 21-26.

Durury, Fill.2008. Awareness in Unmanned Aerial Vehicle Operations.C2 Journal.Volume 2, No. 1. pp. 1-10.

Fauzi Arifin. 2012. Analisa gaya impak yang terjadi pada badan pesawat aeromodelling tipe glider saat landingdengan variasi sudut pendaratan yang disimulasikan dengan menggunakan software solidwork. Jurnal e-Dinamis,Vol 1,No.1.

Fernanda, Riyadhi. 2012. Desain dan Perancangan Graphical User Interface pada Ground Segment untuk Sistem Telemetri Aero-Robotik. Bandung: Proyek Akhir Ahli Madya Institut Teknologi Telkom.

Nancy, Suci. 2013. Batas Zona Ekonomi Eksklusif, Laut Teritorial, dan Landas Kontinen. Avalaible at http://campusnancy.blogspot.com/2013/04/batas-zona-ekonomi-eksklusif-laut.html. diakses oleh Hani Hidayah tanggal 12 September 2014.

Surya Ricky.2012. Analisis tegangan pada sayap horizontal bagian ekor aeromodelling tipe glider akibat laju aliran udara dengan menggunakan software berbasis computional fluid dynamic (cfd). Jurnal e-Dinamis, vol 1, No.1.

Undang-undang RI No. 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

Undang-undang No. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia

www.google.co.id

www.hobbyking.com

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan

Dekko 30/40Sb Sebagai cadangan

Mata solder 7 15.000 105000

Bor Sit Mini Untuk melubagi PCB

dan Panel Surya 1 350.000 350000

Tool Box Untuk menyimpan

(23)

Lem Alteco

PCB Perakitan ulang set

Panel surya 2 20000 40000

Servo 10 Kg Sebagai pembelok

(24)

Lem Perekat

Remote 8 Chanel Pengontrol pesawat

jalur bypass 1 900.000 900000

pada Motor Brushless 2 150.000 300000

SUBTOTAL Rp5.310.000

C. Perjalanan

Material Justifikasi Anggaran Kuantitas Harga

Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

Material Justifikasi Anggaran Kuantitas Harga

Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

(25)

Materai Rp. 6000 Administrasi lembar

pernyataan 2 7.000 14.000

Pengiriman barang dalam negeri

Administrasi pengiriman bahan impor

8 20.000 160.000

Alat tulis Kantor

Peralatan

administrasi dan laporan

1 36000 36.000

Log Book PKM Administrasi 2 40.000 80.000

Peminjaman Laboratorium

Biaya masuk Lab. Peminjaman alat - alat Lab Elektronika dan Instrumentasi

3 450.000 1.350.000

SUBTOTAL Rp1.715.000

(26)

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas

( Jam/Minggu) Uraian Tugas

1

(11/319711/TK/38829) FisikaTeknik Elektronika

(27)

telemetry pada jalur komunikasi UAV,

Perancangan sistem Ground Control Station pada Ardupilot Mega APM2, dan Telemetry pada UAV

4

Putri Hardiani Aryaningrum

(11/320056/GE/07226)

Kartografi dan

Penginderaan

Jauh Geografi

21 Jam / Minggu

Perancangan, Penerapan, Analisa Solar Surya

(28)
(29)

Lampiran 5. Gambaran Teknologi yang hendak diterapkembangkan

a. Gambaran Teknologi pada Autopilot UAV

Gambar 5.1 Sistem Display GCS pada PC

Gambar 5.2 Ardupilot Sebagai

Otak Autopilot Gambar 5.3 GPS sebagai Penentu Posisi Gambar 5.4 battery

Gambar 5.5 ESC kiri

Gambar 5.6 ESC tengah

Gambar 5.7 ESC kanan

Gambar 6.0 MotorBrushless Kiri

Gambar 6.3 Propeler kiri

Gambar 6.1 MotorBrushless Tengah

Gambar 6.4 Propeler tengah

Gambar 6.2 MotorBrushless Kanan

(30)

b. Gambran Teknologi pada Panel Surya AUV

Gambar 6.6 Skema Power Managemen pada UAV dengan Panel Surya

Gambar 6.7 Skema Syap Gambar 6.8 panel Surya yg akan di implementasikan

Gambar 6.9 Battrey

(31)

c. Gambaran Teknologi Sistem Pemantauan

d. Gambaran Sistem secara kecesuruhan

Gambar 7.4 reciver camera pengintai Gambar 7.2 Skema GCS

Gambar 7.3 KIT Camera Mobius FPV dan Transiter

Gambar 7.5 Gambaran skema sistem pesawat ASRIN

Gambar

Gambar 2.3 Modifikasi pada lapisan sayap
Gambar 2.6 Ground Control Station
Gambar 6.6 Skema Power Managemen pada UAV dengan Panel Surya
Gambar 7.5 Gambaran skema sistem pesawat ASRIN

Referensi

Dokumen terkait

Dari 20 penumpang (embarkasi-debarkasi) di temani 10 orang pengantar-penjemput. Setiap orang membutuhkan waktu ± 5 menit dalam menggunakan peturasan. Luas Total Fasilitas

Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien, tidak perlu persetujuan dari siapapun (pasal

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan lembar wawancara pendukung tes diagnostik dapat digunakan untuk mendeteksi miskonsepsi dan menganalisis

Tujuannya adalah untuk mengetahui: (a), besarnya biaya produksi dan keuntungan yang dicapai oleh petani kopi; (b) besarnya net present value (NPV), Gross dan Net B/C

Ada pun model pariwisata agrowisata berbasis budaya yang dapat dikembanghan adalah pariwsata budaya tradisi dan agrowisata, dengan menyusun paket-paket tour, yaitu:

Alasan peneliti tertarik meneliti di kecamatan Bangun Purba Kabupaten Deli Serdang adalah karena daerah ini merupakan salah satu pelaksana program simpan

Demikian halnya dengan SMK Swasta Teladan Tanah Jawa sebagai salah perusahaan yang bergerak dibidang jasa pendidikan formal perlu melakukan pelatihan

Sebelumnya, penagalaman selama menjalankan Program Pengalaman Lapangan (PPL), pada saat proses belajar mengajar dikelas telah diteliti bahwa beberapa siswa menggap pelajaran