DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DALAM ... PERSYARATAN GELAR ... PERSETUJUAN UJIAN HASIL ... LEMBAR PENETAPAN PANITIA UJIAN HASIL ... SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK… ... ABSTRACT... RINGKASAN ... DAFTAR ISI ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan Penelitian ... 1.4 Manfaat Penelitian ... BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 2.1 Kinerja Organisasi ...

2.1.1 Konsep kinerja organisasi ... 2.1.2 Indikator kinerja organisasi…... 2.2 Inovasi ... 2.2.1 Konsep inovasi ... 2.2.2 Indikator inovasi ... 2.2.3 Hasil penelitian inovasi organisasi... 2.3 Entrepreneurial Leadership ...

2.3.1 Konsep entrepreneurial leadership ... 2.3.2 Etika pemimpin... 2.3.3 Dimensi entrepreneurial leadership... 2.3.4 Penelitian sebelumnya terkait entrepreneurial

leadership... 2.4 Knowledge Sharing ...

2.4.1 Konsep knowledge sharing ... 2.4.2 Dimensi knowledge sharing... 2.4.3 Penelitian sebelumnya terkait knowledge sharing.... 2.5 Kritik terhadap literatur sebelumnya ... BAB III KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

PENELITIAN ...

3.1 Kerangka Berpikir ... 3.2 Kerangka Konsep Penelitian ... .. 87

i ii iii iv v vi viii ix x xiv xvii xviii xx 1 1 17 18 19 21 21 21 25 29 29 31 32 40 40 47 52 54 64 64 68 70 81 84 84

(2)

3.3 Hipotesis Penelitian ... 3.3.1 Pengaruh entrepreneurial leadership terhadap inovasi

organisasi ... 3.3.2 Pengaruh entrepreneurial leadership terhadap kinerja

organisasi ... 3.3.3 Pengaruh knowledge sharing terhadap inovasi organisasi

...

3.3.4 Pengaruh knowledge sharing terhadap kinerja organisasi ...

3.3.5 Pengaruh inovasi organisasi terhadap kinerja organisasi …...

3.3.6 Peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh

entrepreneurial leadership terhadap kinerja organisasi

3.3.6 Peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh

knowledge sharing terhadap kinerja organisasi ……..

BAB IV METODE PENELITIAN ... 4.1 Rancangan Penelitian ... 4.2 Ruang Lingkup Penelitian ... 4.3 Pendekatan Eksploratif Kualitatif ... 4.4 Metode Penelitian Kuantitatif ... 4.4.1 Variabel penelitian ... 4.4.2 Definisi operasional ... 4.4.3 Jenis dan sumber data ... 4.4.4 Populasi dan sampel penelitian ... 4.4.5 Metode pengumpulan data ... 4.4.6 Uji validitas dan reliabilitas ... 4.4.7 Teknik analisis data ...,,... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 5.1 Profil LPD di Wilayah Bali ... 5.2 Hasil Analisis Deskriptif ...

5.2.1 Karakteristik responden ... 5.2.2 Deskripsi persepsi responden terhadap variabel

penelitian... 5.3 Hasil Analisis Inferensial ... 5.3.1 Hasil evaluasi model pengukuran (outer model) ... 5.3.2 Hasil evaluasi model struktural (inner model) ... 5.4 Pengujian Dimensi dan Indikator Nilai Etika satya laksana 5.5 Pengujian Hipotesis ...

5.5.1 Pengujian hipotesis pengaruh langsung ……...………. 5.5.2 Pengujian hipotesis pengaruh tidak langsung ………... 5.6 Pembahasan Hasil Penelitian ... 5.6.1 Pengaruh entrepreneurial leadership terhadap inovasi

organisasi ... 96 96 98 100 101 103 104 106 108 108 106 110 128 128 129 139 140 142 144 145 154 156 156 156 160 173 173 183 188 190 190 193 195 195

(3)

5.6.2 Pengaruh entrepreneurial leadership terhadap kinerja organisasi ... 5.6.3 Pengaruh knowledge sharing terhadap inovasi organisasi

...

5.6.4 Pengaruh knowledge sharing terhadap kinerja organisasi ...

5.6.5 Pengaruh inovasi organisasi terhadap kinerja organisasi ...

5.6.6 Peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh

entrepreneurial leadership terhadap kinerja organisasi

5.6.7 Peran inovasi organisasi sebagai pemediasi hubungan

entrepreneurial leadership dengan kinerja organisasi

5.7 Temuan Penelitian ... 5.8 Implikasi Penelitian ... 5.8.1 Implikasi Teoritis ... 5.8.2 Implikasi Praktis ... 5.9 Keterbatasan Penelitian... BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 6.1 Simpulan ... 6.2 Saran ... 6.2.1 Bagi peneliti selanjutnya ... 6.2.2 Bagi pengurus LPD ... 6.2.3 Bagi pemerintah ... DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN... 200 204 207 211 214 215 217 217 218 218 219 221 221 224 224 224 225 226 254

(4)

ABSTRAK

ANTESEDEN INOVASI DAN KINERJA LEMBAGA PERKREDITAN DESA DI PROVINSI BALI

Penelitian ini memiliki tujuan utama yaitu (1) mengeksplorasi indikator-indikator etika satya laksana, (2) menguji etika satya laksana (jujur, memperhatikan stakeholder, bertanggung jawab, setia serta taat pada peraturan), sebagai salah satu dimensi dari entrepreneurial leadership yang valid dan reliabel, (3) menjelaskan hubungan konstruk entrepreneurial leadership, knowledge

sharing, inovasi dan kinerja organisasi serta (4) menjelaskan peran inovasi

organisasi sebagai pemediasi pengaruh entrepreneurial leadership dan knowledge

sharing terhadap kinerja organisasi.

Tujuan pertama dicapai dengan melakukan metode eksploratif, sedangkan tujuan kedua, ketiga dan keempat dicapai dengan metode kuantitatif. Penelitian tentang entrepreneurial leadership sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun

entrepreneurial leadership yang mengandung unsur-unsur etika kepemimpinan

yang diyakini oleh pengurus LPD di Bali yaitu etika satya laksana belum pernah diteliti. Penelitian eksploratif kualitatif mengacu pada penelitian Templeton (2002) dan Dewi (2013), serta Rahyuda (2015). Metode kuantitatif menggunakan

Structural Equation Modeling berbasis variance yaitu Partial Least Square (SEM

PLS) dengan program aplikasi Smart PLS 3.0. Metode eksploratif kualitatif menggunakan informan yaitu beberapa pengurus LPD di Bali. Unit analisis pada metode kuantitatif adalah LPD kategori sehat di Bali, yang berjumlah 956 LPD pada 9 kabupaten/Kota di Bali. Sampel penelitian sebanyak 151 LPD ditentukan dengan rumus Slovin, kemudian dikalikan dengan pengurus LPD yang terdiri dari ketua, tata usaha dan kasir, sehingga jumlah sampel penelitian adalah merata-ratakan hasil jawaban 453 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan proportional random sampling.

Hasil metode eksploratif kualitatif membuktikan bahwa indikator jujur, memperhatikan stakeholder, bertanggung jawab, setia dan taat pada peraturan terbukti valid merefleksikan dimensi etika satya laksana. Demikian pula dimensi etika satya laksana relevan merefleksikan variabel entrepreneurial leadership. Hasil metode kuantitatif menunjukkan entrepreneurial leadership secara positif signifikan berpengaruh terhadap inovasi dan kinerja LPD di Bali. Knowledge

sharing menunjukkan pengaruh yang positif signifikan terhadap inovasi organisasi

tetapi tidak signifikan berpengaruh terhadap kinerja LPD di Bali. Selain itu, inovasi organisasi menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap kinerja LPD di Bali. Hasil penelitian juga menyatakan bahwa inovasi organisasi berperan sebagai pemediasi parsial pengaruh entrepreneurial leadership dan knowledge sharing terhadap kinerja LPD di Bali.

Kata kunci: Entreprenurial leadership, knowledge sharing, inovasi, kinerja organisasi, dan Lembaga Perkreditan Desa

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekonomi kerakyatan merupakan sebuah konsep perekonomian yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, serta merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Zulkarnain (2006 ; 9), ekonomi kerakyatan merupakan sistem perkonomian yang sesuai dengan falsafah negara kita menyangkut aspek keadilan, demokrasi ekonomi serta keberpihakan kepada ekonomi rakyat. Pengembangan ekonomi kerakyatan diarahkan pada peningkatan pendapatan masyarakat serta mengatasi ketimpangan ekonomi dan sosial. Ekonomi kerakyatan memberi perhatian khusus pada usaha pembangunan ekonomi pedesaan, membina dan melindungi usaha kecil melalui dukungan informasi serta pembiayaan usaha. Hal ini diejawantahkan dengan adanya Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebagai lembaga keuangan mikro yang tersebar pada desa-desa di Bali.

Lembaga Perkreditan Desa sebagai suatu lembaga yang menjalankan fungsi keuangan berdasarkan ikatan adat di Bali berperan mendorong perekonomian masyarakat desa pakraman serta menopang kehidupan sosial, budaya, adat dan agama. Pembentukan LPD bertujuan untuk menunjang peran desa adat agar memiliki sumber pembiayaan yang mandiri dan berkelanjutan untuk membiayai kegiatan yang terkait dengan urusan adat atau kemasyarakatan lainnya, seperti pemeliharaan instrumen-instrumen budaya, pemeliharaan warisan budaya, pembangunan dan perbaikan pura serta biaya upakara dan upacara.

(6)

Lembaga Perkreditan Desa lahir, tumbuh dan berkembang, berawal dari kearifan lokal (local genius) yang dimiliki oleh masyarakat Hindu di Bali. Keberadaan LPD dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun, sejak pendiriannya tahun 1984 menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi jumlah maupun dari sisi perkembangan usahanya. Pada awal pendiriannya, tahun 1984/1985, hanya ada 8 unit LPD, sampai awal tahun 2017 telah menjadi 1433 unit LPD yang tersebar di seluruh desa pakraman di Bali. Total asset LPD mencapai Rp 15,5 trilyun, melibatkan pengurus dan karyawan sebanyak 7.882 orang (LPLPD Provinsi Bali, 2016). Pertumbuhan dan perkembangan peranan LPD sebagai lembaga intermediasi, yakni sebagai pengumpul sekaligus penyalur dana masyarakat mengalami peningkatan, yang ditunjukkan pada Gambar 1.1.

________________________

Gambar 1.1 Total Aset, Tabungan dan Deposito, Kredit LPD Se- Bali Tahun 2011 dan Tahun 2016

Sumber : Laporan PertanggungJawaban LPLPD (LPLPD Provinsi Bali, 2016)

Berdasarkan Gambar 1.1 bahwa total aset, tabungan, deposito serta kredit yang disalurkan mengalami peningkatan. Pada Tahun 2011, total asset yang dimiliki LPD se-Bali sekitar 3,7 trilyun rupiah dan pada tahun 2016 sekitar 15,5 trilyun rupiah. Jumlah simpanan dalam bentuk deposito dan tabungan pada tahun

(7)

2011, sebesar 7,2 trilyun rupiah dan meningkat menjadi kurang lebih 12,9 trilyun rupiah pada tahun 2016. Total kredit untuk tahun 2011 mencapai sekitar 6 trilyun rupiah dan mengalami perkembangan, sehingga besarnya sekitar 12,1 triliun rupiah pada tahun 2016. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terkait keberadaan LPD pada desa pakraman.

Namun, peningkatan kepercayaan masyarakat tidak disertai oleh meningkatnya kinerja yang berupa peningkatan total asset, tabungan dan deposito pada beberapa LPD. Laporan pertanggungjawaban LPLPD (2016) menunjukkan persentase pinjaman klasifikasi kurang lancar mengalami peningkatan pada Desember 2013 sebesar 4,10%, Desember 2014 sebesar 4.33% serta Desember 2015 sebesar 4,89%. Pinjaman klasifikasi macet juga mengalami peningkatan dari Desember 2013 sebesar 1,41%, Desember 2014 sebesar 1,50% serta Desember 2015 sebesar 1,64%. Rasio kredit bermasalah (non performing loan atau NPL) yang diberikan LPD berflutuasi dan masih tergolong tinggi. Hal ini ditunjukkan dari ratio NPL dari tahun 2013 sebesar 7,43, tahun 2014 (7,46%) dan pada Desember 2015 (7,44%) (lampiran 1). Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor : 13/3/PBI/2011 bahwa batas aman ratio NPL adalah sebesar 5%. Informasi tersebut memberikan indikasi bahwa peningkatan kepercayaan masyarakat desa pakraman belum diimbangi oleh pencapaian kinerja LPD yang baik. Jika hal ini tidak ditanggulangi, akan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap LPD. Selanjutnya dapat berdampak pada eksistensi dan keberlangsungan LPD. Keberadaan LPD seperti pisau bermata dua, jika kinerja LPD baik maka dapat memperkuat perekonomian namun menjadi beban desa pakraman jika LPD memiliki kinerja tidak baik.

(8)

Permasalahan kredit macet yang terjadi pada LPD, diakibatkan oleh faktor internal yang berupa ketidakmampuan mengelola sumber daya yang dimiliki serta keterbatasan menganalisis lingkungan eksternal (Cendikiawan, 2013). Hasil observasi awal yang dilakukan terkait permasalahan kinerja LPD sebagian besar disebabkan oleh perilaku pengurus yang terdiri dari ketua (pamucuk), tata usaha

(penyarikan) dan kasir (patengen) yang memiliki otoritas terkait proses kredit

mengabaikan persyaratan pemberian kredit dan menyalahgunakan wewenang sebagai seorang pengurus. Keputusan pengurus LPD dalam pemberian kredit, yang mengabaikan prosedur serta ketentuan-ketentuan yang berlaku berupa karakteristik individu dari peminjam, menyebabkan banyak kreditur tidak mengembalikan pinjamannya secara tepat waktu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pengurus LPD sebagai pengambil kebijakan strategis dan pelaksana operasional mengabaikan etika serta faktor eksternal organisasi. Fenomena tersebut juga dapat terjadi pada LPD kategori sehat, yang dapat berdampak hingga tidak beroperasinya lembaga keuangan milik desa pakraman.

Pemimpin yang mengabaikan etika dalam pengambilan keputusan dapat berdampak buruk pada kinerja serta inovasi organisasi. Pengurus yang merupakan jajaran pimpinan sebagai pengambil kebijakan operasional LPD, dalam setiap tindakannya diharapkan selalu berpedoman pada prosedur dan aturan yang berlaku. Kredibilitas dan karakter pengurus akan memberikan pengaruh pada kepercayaan masyarakat terhadap LPD sebagai lembaga keuangan milik desa pakraman. Copeland (2014) mengemukaan bahwa teori manajemen dan kepemimpin baru memberikan penekanan pada pentingnya etika dan moral seorang pemimpin,

(9)

sehingga dapat dijadikan contoh bagi anggota organisasi yang akan memberikan pengaruh pada keberlangsungan usahanya. Dimensi etika seorang pemimpin berperan dalam menggerakkan anggota organisasinya untuk pencapaian tujuan perusahaan (Trevino et al.,2003; Brown et al., 2005). Hasil penelitian Crosley (2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara perilaku etis seorang pemimpin terhadap inovasi dan kinerja organisasi.

Pemimpin merupakan salah satu sumber daya manusia yang paling berperan untuk pencapaian tujuan organisasi. Keberhasilan organisasi sangat tergantung pada kualitas pimpinan untuk memotivasi anggota organisasi, meningkatkan metode kerja, serta memastikan kegiatan-kegiatan organisasi agar terorganisir dengan baik (Teece et al., 1997; Ling & Jaw.,2011). Menurut Ojokuku et al. (2012), pemimpin dengan gaya kepemimpinannya merupakan penentu utama keberhasilan atau kegagalan kinerja organisasi. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mempengaruhi, mengarahkan, dan memotivasi anggota organisasi untuk pencapaian kinerja dan tujuan organisasi (Koech & Namusonge, 2012). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap kinerja organisasi. Hasil penelitian Timothy et al. (2011) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional berpengaruh signifikan, sedangkan gaya kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Demikian pula hasil penelitian Koech dan Namusonga (2012) menunjukkan bahwa gaya kepemimpan laissez-faire tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi, sedangkan gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi pada

(10)

perusahaan milik negara di Kenya. Hal ini menunjukkan adanya inkonsistensi dalam sejumlah penelitian terkait dengan pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja organisasi, sehingga ini menjadi celah untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

Pada lingkungan dinamis dan kompetitif dibutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Lingkungan dinamis menuntut pemimpin yang mampu menghadapi persaingan usaha untuk selalu berorientasi entrepreneur. Menurut Jagdale dan Shankar (2015) bahwa organisasi membutuhkan pemimpin berorientasi

entrepreneur untuk memahami kompleksitas lingkungan global yang berubah

dengan cepat. Menurut Arsyad (2006), LPD menghadapi tantangan berupa persaingan antar lembaga keuangan dan microfinance lainnya. Oleh karena itu, dalam pengelolaan LPD dibutuhkan pemimpin yang berorientasi entrepreneur.

Pimpinan penting untuk menempatkan entrepreneur sebagai visi organisasi, sehingga hal tersebut merupakan suatu strategi entrepreneur. Menurut Ireland et al.(2003), pemimpin yang menerapkan cara berfikir entrepreneurship dengan mengelola sumber daya strategis untuk mengidentifikasi dan menghadapi peluang melalui penerapan kreativitas diistilahkan sebagai strategic entrepreneurship. Peran strategic entrepreneurship dapat membangun keunggulan bersaing melalui peningkatan kemampuan inovasi serta kinerja organisasi. Sebuah usaha akan mencapai kesuksesan jika dikelola oleh seorang pemimpin yang memiliki visi serta ide-ide untuk menggerakkan anggota organisasinya (Jensen & Luthans, 2006). Strategi kewirausahaan seorang pemimpin memusatkan pada penciptaan keunggulan kompetitif pada lingkungan eksternal yang dinamis dengan

(11)

memanfaatkan sumber daya internal organisasi (Harrison, 2012; Kuratko & Audretsc, 2009).

Menurut Vecchio (2003) bahwa mengintegrasikan konsep entrepreneur dan teori kepemimpinan pada bidang manajemen diistilahkan dengan entrepreneurial

leaderhip. Fernald et al. (2005) menyatakan bahwa, meskipun entrepreneur dan

leadership merupakan pokok kajian yang berbeda, keduanya terkait satu sama lain.

Beberapa peneliti juga mencoba menggabungkan dan mengekplorasi dua konsep yaitu kepemimpinan dan perilaku kewirausahaan yang dikenal dengan model kepemimpinan kewirausahaan (entreprenurial leadership) (Gupta et al., 2004; Renko et al., 2013).

Entrepreneurial leadership merupakan pengembangan dari

transformasional leadership berorientasi entrepreneur bagi peningkatan kinerja

organisasi (Cogliser & Brigham, 2004; Chung, 2008). Seorang pemimpin yang

menerapkan entrepreneurial leadership mampu mengarahkan perilaku karyawannya menuju peningkatan kinerja organisasi. Menurut Hmieleski dan Ensley (2007) bahwa pada lingkungan yang dinamis pemimpin tidak akan berhasil mengembangkan usaha dan kinerja organisasinya tanpa menampilkan perilaku

entrepreneurial leadership yang efektif. Temuan Rahim et al. (2015) yang

melaksanakan penelitian pada pemilik Usaha Kecil Menengah (UKM) di Malaysia menunjukkan bahwa entrepreneurial leadership berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Sementara itu, hasil penelitian Jagdale dan Shankar (2014) menunjukkan bahwa entrepreneurial leadership tidak berpengaruh terhadap kinerja UKM di India.

(12)

Menurut Gupta et al. (2004) bahwa penerapan entrepreneurial leadership akan efektif jika berbasis etika, yang menjadi keyakinan seluruh individu pada organisasi. Darling et al. (2007) juga berpendapat bahwa sukses penerapan

entrepreneurial leadership sangat ditentukan oleh atribut entrepreneur dan nilai

yang diyakini individu dalam organisasi. Menurut Helm dan Zyl (2007) bahwa seorang entrepreneurial leader yang tidak menerapkan nilai moral dan etika, diragukan keberhasilannya dalam meningkatkan kinerja organisasi. Demikian pula

entreprenurial leadership yang memiliki karakteristik, innovativeness, proactive,

risk taking dapat mencapai kesuksesan maksimal jika tidak mengabaikan etika pada

proses memimpin organisasinya(Tarabishy & Solomon, 2005; Jagdale & Shankar, 2014). Beberapa pendapat ahli tersebut bermakna bahwa kesuksesan seorang

entrepreneurial leader dapat tercapai jika memperhatikan etika dalam

penerapannya.

Lembaga Perkreditan Desa yang kuat, sehat, tangguh, dan berdaya saing tinggi dapat mendukung usaha-usaha ke arah peningkatan taraf hidup krama desa dan pembangunan desa pakraman. Berdasarkan fenomena, isu bisnis serta penelitian empiris, maka penelitian ini mengacu pada konsep entrepreneurial

leadership untuk mengantisipasi perubahan lingkungan dinamis atribut

entrepreneur seorang pemimpin menawarkan berbagai manfaat dan kelebihan bagi

organisasi (Amir, 2016; 182). Strategi entrepreneur pemimpin selalu memastikan optimisme agar aktivitas bisnis berjalan lancar serta merealisasikan peluang-peluang baru dengan berbagai cara. Komitmen yang berlebihan (escalation of

(13)

memiliki optimis berlebihan mengarah pada perilaku tidak etis. Hal tersebut akan berpotensi menjadi dilema etika dan merupakan sisi gelap atribut entrepreneurial seorang pemimpin (the dark side of entrepreneurial leadership).

Gaya kepemimpinan seorang pemimpin tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai terkait tradisi etika yang ada di sekitarnya. Nilai tradisi tersebut diyakini secara turun temurun dan menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat sebagai dasar berperilaku (Arthadi, 2011; 147). Etika adalah suatu keyakinan yang menjadi pedoman anggota organisasi dalam berperilaku (Amstrong, 2009). Etika kepemimpinan telah bangkit dalam organisasi publik dan bisnis terutama pada masyarakat Amerika (Kacmar et al., 2011; Rahyuda dkk, 2015). Uraian atas konsep spiritual dapat disejajarkan dengan konsep nilai dan etika yang didasarkan atas nilai-nilai religis Agama Hindu. Nilai ini bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia. Salah satu nilai religis Agama Hindu yang mengandung unsur etika kepemimpinan adalah Panca Satya, yaitu lima kesetiaan, kejujuran dan tanggung jawab yang mengandung unsur kebenaran serta membawa manusia pada ketenangan dan ketentraman. Panca Satya merupakan salah satu paradigma spiritual Hindu terkait nilai tradisi yang diyakini, untuk mengatasi dilema etika di masyarakat Bali. Menurut Inglehart dan Baker (2000) paradigma spiritual dikaitkan dengan kebutuhan untuk mencari solusi terkait permasalahan sosial modern, pengaruh filsafat holistik dan pergeseran paradigma ilmiah mempengaruhi organisasi. Pandangan multidisiplin menggali munculnya paradigma spiritual, yang dikaitkan dengan ketidakpuasan, serta meningkatnya materialisme (Hoppe, 2005).

(14)

Nilai tradisi tersebut diyakini secara turun temurun dan menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat sebagai dasar berperilaku (Daft, 2010 : 147).

Menurut Suhardana (2006 : 28) bahwa salah satu kerangka dasar etika dalam agama Hindu adalah Panca Satya yang terdiri dari satya hredaya, satya wacana,

satya semaya, satya mitra dan satya laksana.Satya hredaya merupakan kesetiaan

terhadap kebenaran dan kejujuran kata hati serta berpendirian teguh. Satya wacana adalah setia, jujur dan benar dalam berkata-kata atau tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Satya semaya diwujudkan dengan selalu menepati janji. Setia dan jujur kepada teman merupakan pencerminan satya mitra. Sikap setia, jujur, serta mempertanggungjawabkan kebenaran perbuatan merupakan perwujudan dari satya

laksana.

Salah satu nilai panca satya adalah satya laksana, merupakan perwujudan bahwa nilai yang menjadi dasar seseorang berperilaku etis akan bermanfaat jika sudah dilaksanakan atau menjadi perilaku (behavior). Hasil penelitian Rahyuda dkk. (2015) menemukan proposisi bahwa seorang pemimpin akan sukses menghadapi lingkungan dinamis dengan melaksanakan etika kepemimpinan yang terkandung pada panca satya. Etika kepemimpinan Hindu yaitu satya laksana direfleksikan melalui kejujuran, tindakan yang mencerminkan kesetiaan pada lembaga, bertanggung jawab atas segala yang dilakukan, dan perbuatan mengarah pada pemangku kepentingan (stakeholder) demi meningkatkan nilai perusahaan (Rahyuda dkk., 2015).

Penelitian ini menggunakan etika satya laksana sebagai salah satu dimensi

(15)

(2007) dan Mgeni (2015) menunjukkan bahwa entrepreneurial leadership akan sukses jika dilandasi oleh perilaku beretika (ethical behaviour). Penelitian ini menggunakan etika sebagai salah satu dimensi entrepreneurial leadership yaitu etika satya laksana. Dimensietika satya laksana merupakan salah satu keterbaruan pada penelitian ini, dimana sebelum dipasangkan menjadi bagian dari variabel

entrepreneurial leadership, terlebih dahulu dilakukan eksploratif kualitatif. Hal

tersebut yang melatarbelakangi digunakannya etika satya laksana sebagai salah satu dimensi entrepreneurial leadership untuk dapat mengatasi permasalahan etika pada LPD.

Salah satu faktor utama pencapaian keunggulan kompetitif dan keberhasilan jangka panjang pada lingkungan bisnis yang kompetitif adalah kemampuan untuk berinovasi (Petuskiene & Glinskiene, 2011). Inovasi merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan kinerja organisasi (Calantone et al., 2002; Darroch, 2005). Organisasi yang didukung dengan kemampuan inovatif dapat merespon tantangan lingkungan secara lebih cepat, karena dapat meningkatkan efesiensi organisasi (Jimenez & Valle, 2005). Inovasi organisasi dapat membawa perubahan baru dan kesuksesan serta meningkatkan kinerja usaha (Aragon et al., 2007; Jimenez & Valle, 2011; Gunday et al., 2011; Rofiaty 2011; Setyanti, et al., 2013). Menurut Wang dan Tsai (2013) bahwa inovasi merupakan kesuksesan implementasi ide kreatif yang berdasarkan pada sumber daya, praktik-praktik manajemen dan pengetahuan pada konteks organisasi.

Penelitian sebelumnya terkait pengaruh inovasi organisasi terhadap kinerja organisasi memiliki hasil bervariasi. Menurut Prajogo (2006) inovasi mampu

(16)

mempengaruhi kinerja organisasi baik di sektor jasa maupun manufaktur. Beberapa studi empiris mengidentifikasi pengaruh positif inovasi terhadap kinerja (Thornhill, 2006). Inovasi mampu menciptakan kreativitas, produktivitas, dan kinerja yang unggul (Gunday et al., 2011). Pada lingkungan yang dinamis dan kompetitif semua organisasi harus melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerja organisasi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Uslu et al. (2015) bahwa inovasi merupakan hal penting untuk dilaksanakan pada berbagai jenis organisasi. Sebaliknya, hasil penelitian Simpson et al. (2006) menunjukkan bahwa inovasi sebagai proses berisiko dan membutuhkan biaya tinggi, sehingga memiliki efek negatif terhadap kinerja perusahaan. Inovasi berdampak negatif karena kurang mempertimbangkan risiko pasar, kenaikan biaya, ketidakpuasan karyawan, dan perubahan tidak rasional dari proses inovasi.

Damanpour et al. (2009) menemukan bahwa pelayanan yang inovatif, proses, dan administrasi berdampak merugikan bagi perusahaan layanan umum di Inggris, karena tidak didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten. Penelitian Menguc (2010) menemukan bahwa inovasi produk berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi pada di lingkungan bisnis yang stabil, tetapi menunjukkan pengaruh negatif terhadap kinerja organisasi pada lingkungan dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa pada lingkungan yang dinamis penuh dengan ketidakpastian, pelaku bisnis sulit memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Agar tidak berdampak negatif terhadap kinerja, maka sangat dibutuhkan pertimbangan secara matang aspek sumber daya yang mendukung inovasi tersebut .

(17)

Lembaga Perkreditan Desa merupakan microfinance yang bebasis kearifan lokal, tetap mengalami persaingan dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya (LPLPD, 2016). Inovasi juga menjadi keharusan pada LPD seiring semakin bertambahnya produk-produk lembaga keuangan lainnya. LPD dapat melakukan inovasi disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat desa pakraman, misalnya semakin beragamnya jenis produk serta proses pelayanan yang dikeluarkan oleh LPD.

Lembaga Pekreditan Desa penting melakukan transformasi pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam mencapai kinerja lebih baik. Peningkatan knowledge dibutuhkan untuk mengantisipasi keterbatasan pengetahuan SDM yang dimiliki LPD. Oleh karena itu, LPD harus memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimiliki seperti keterbatasan kompetensi dan manajerial SDM. Hal tersebut menjadikan inovasi sebagai keharusan dalam pengelolaan LPD karena kompetensi dan manajerial SDM yang terbatas merupakan salah satu kelemahan yang dimiliki (Arsyad, 2006; Ikeanyibe, 2009). Setiap organisasi membutuhkan adanya interaksi sosial berupa pertukaran pengetahuan karyawan, pengalaman, dan keterampilan untuk mengantisipasi keterbatasan kompetensi sumber daya manusia dalam organisasi (Lin, 2007). Pengetahuan merupakan intangible asset organisasi yang meningkatkan kinerja organisasi pada lingkungan yang semakin dinamis (Wang & Noe, 2010). Salah satu proses peningkatan manajemen pengetahuan (knowledge management) pada organisasi adalah berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Selain knowledge creating, knowledge acquiring, knowledge capturing dan knowledge using,

(18)

knowledge sharing merupakan salah satu komponen knowledge management yang memiliki kontribusi terkuat bagi peningkatan knowledge organisasi (Gholami et al., 2013).

Knowledge sharing memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap

kinerja organisasi ( (Darroch, 2005; Hsu, 2008 ; Abdalah et al., 2012; Wang & Wang, 2012). Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Ngah & Jusoff (2009), yang menyatakan bahwa knowledge sharing merupakan proses terbaik bagi peningkatan kompetensi dan kinerja organisasi. Hasil penelitian lain juga menemukan bahwa knowledge sharing merupakan kunci sukses organisasi baik pada tingkat individu maupun organisasi (Lin & Hsiu, 2007; Alhady et al., 2011). Menurut Ibrahim dan Heng (2015) bahwa kesuksesan usaha tergantung pada kemampuan untuk mengelola pengetahuan, berbagi pengetahuan (knowledge

sharing) serta mengkreasikan pengetahuan untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Hasil penelitian Setyanti et al. (2013) menunjukkan bahwa knowledge sharing tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Knowledge sharing akan memberikan manfaat jika anggota UKM batik mampu mengkreasikan dan mendistribusikan kemampuan yang dimiliki serta yang diperoleh untuk dapat meningkatkan kinerja. Hal ini memberikan pemahaman bahwa knowledge sharing akan memberikan pengaruh terhadap kinerja organisasi jika dimediasi oleh inovasi organisasi (Chiu & Chien, 2015).

LPD sebagai sebuah lembaga keuangan non bank yang keberadaannya berdasarkan awig-awig dan pararem pada desa pakraman harus selalu berinovasi agar mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya. Data LPLPD Tahun 2016

(19)

menunjukkan bahwa di Provinsi Bali terdapat 189 LPD dalam kondisi kurang sehat, 93 LPD dalam kondisi cukup sehat, 18 LPD dengan kondisi tidak sehat, dan 177 LPD tidak beroperasi. Kondisi ini terjadi karena persoalan persoalan hutang-piutang dengan krama desa belum dapat diselesaikan (LPLPD, 2016). Menyikapi sejumlah LPD bermasalah dibutuhkan pendekatan yang mampu mengatasi penyebab permasalahan tersebut. Entrepreneurial leadership yang mengandung dimensi perilaku beretika merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan LPD. Entrepreneurial leadership berpengaruh terhadap inovasi dan kinerja. Menurut Hong et al. (2014), entrepreneurial

leadership berpengaruh positif signifikan terhadap inovasi. Hal tersebut

menunjukkan bahwa entrepreneurial leadership dapat memotivasi anggota organisasi agar lebih kreatif sehingga akan meningkatkan inovasi organisasi.

Laporan Pertanggungjawaban LPLPD tahun 2016 menunjukkan bahwa tidak seluruh pengurus di satu lembaga memperoleh pendidikan dan pelatihan, sehingga proses knowledge sharing penting untuk diperhatikan. Poses knowledge

sharing yang terdiri dari mengumpulkan dan berbagi pengetahuan dapat

meningkatkan inovasi organisasi. Menurut Krohet al. (2012), bahwa knowledge

sharing merupakan sumber penggerak inovasi pada organisasi. Knowledge sharing

adalah proses berbagi tacit dan explicit knowledge yang merupakan kekuatan dan kunci sukses peningkatan inovasi pada suatu organisasi (Husseini et al., 2015).

Berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 11 Tahun 2013 tentang perubahan kedua petunjuk Pelaksana Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 bahwa Tingkat Kesehatan LPD dinilai dengan tingkat permodalan

(20)

(capital), kualitas aktiva produktif (aktiva), rentabilitas (earning), dan likuiditas

(liquidity) yang diistilahkan dengan CAEL (Biro Perekonomian dan Pembangunan

Setda Provinsi Bali, 2013). Tingkat kesehatan LPD menunjukkan kinerja organisasi hanya dari perspektif keuangan. Kinerja LPD pada penelitian ini menggunakan perspektif keuangan dan non keuangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Dempsey

et al. (1997) bahwa pengukuran kinerja perusahaan dengan menggunakan

perspektif keuangan dan non keuangan, memberikan gambaran terkait misi dan strategi jangka panjang. Kinerja microfinance tidak hanya dari perspektif keuangan, tetapi perspektif non keuangan juga harus diperhatikan (Slavkovic & Babic, 2013; Salwa et al., 2013). Pada microfinance selain kinerja keuangan dan non keuangan, penting untuk diperhatikannya aspek sosial berupa peranan lembaga tersebut bagi masyarakat, untuk pengukuran pencapaian kinerja organisasi (Kipesha, 2013).

Berdasarkan Keputusan Gubernur Bali No.4 Tahun 2003 tentang Penyetoran dan Penggunaan Keuntungan Bersih LPD, salah satunya adalah untuk peningkatan kesejahteraan desa pakraman. Manfaat nyata keberadaan LPD dapat dilihat dari kontribusi sebesar 20% dari keuntungan bersih tiap tahun untuk dana pembangunan desa, serta 5% untuk dana sosial untuk menunjang pembangunan desa di Bali.

Lembaga Perkreditan Desa berperan melayani kebutuhan permodalan sebagian besar masyarakat pedesaan yang tidak memiliki akses pelayanan pada bank komersial. Lembaga keuangan mikro setingkat village banking model setara dengan LPD, dimana laba yang diperoleh dalam jumlah tertentu dipergunakan

(21)

untuk aktivitas sosial kemasyarakatan pada komunitas bersangkutan (Leithwood et al., 1999; Popli & Kumari, 2013). Studi pada LPD menjadi unik karena secara operasional LPD berbeda dengan lembaga perbankan pada umumnya. Lembaga keuangan mikro termasuk LPD membantu warga tertinggal untuk mendapatkan pelayanan keuangan dan mensejahterakan masyarakat desa (Otero, 1999). Bank komersial melayani para pelanggan dengan orientasi sepenuhnya kepada laba usaha, tetapi LPD merupakan lembaga keuangan mikro non bank yang berorientasi sosial. Hal ini mendorong peneliti untuk menjadikan LPD di Bali sebagai obyek penelitian. Penelitian ini mengintegrasikan entrepreneurial leadership yang mengandung unsur etika yaitu satya laksana serta knowledge sharing untuk mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah indikator-indikator etika satya laksana mampu merefleksikan dimensinya?

2. Apakah dimensi etika satya laksana mampu merefleksikan variabel

entrepreneurial leadership ?

3. Bagaimanakah pengaruh entrepreneurial leadership terhadap inovasi LPD?

4. Bagaimanakah pengaruh entrepreneurial leadership terhadap kinerja LPD? 5. Bagaimanakah pengaruh knowledge sharing terhadap inovasi LPD ?

(22)

6. Bagaimanakah pengaruh knowledge sharing terhadap kinerja LPD ? 7. Bagaimanakah pengaruh inovasi terhadap kinerja LPD ?

8. Bagaimanakah peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh

entrepreneurial leadership terhadap kinerja LPD ?

9. Bagaimanakah peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh

knowledge sharing terhadap kinerja LPD ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan tingkat relevansi indikator etika satya laksana dalam merefleksikan dimensinya.

2. Membuktikan tingkat relevansi dimensi etika satya laksana merefleksikan variabel entrepreneurial leadership

3. Menjelaskan pengaruh entrepreneurial leadership terhadap inovasi LPD di Bali

4. Menjelaskan pengaruh entrepreneurial leadership terhadap kinerja LPD di Bali

5. Menjelaskan pengaruh knowledge sharing terhadap inovasi LPD di Bali 6. Menjelaskan pengaruh knowledge sharing terhadap kinerja LPD di Bali 7. Menjelaskan pengaruh inovasi terhadap kinerja LPD di Bali

8. Menjelaskan peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh

entrepreneurial leadership terhadap kinerja LPD

9. Menjelaskan peran inovasi organisasi sebagai pemediasi pengaruh knowledge

(23)

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis

1. Bagi pengurus LPD, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam berperilaku serta merumuskan kebijakan entrepreneur berlandaskan etika bagi seorang pemimpin.

2. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi penguatan LPD sebagai lembaga keuangan milik desa

pakraman, dalam rangka pembinaan, pendampingan, serta

pemberdayaan guna mewujudkan LPD berbasis kearifan lokal yang mandiri.

1.4.2 Manfaat Teoritis

1. Mengembangkan pengukuran kepemimpinan entrepreneur

(entrepreneur leadership) yang mengandung unsur etika

kepemimpinan berbasis kearifan lokal, dalam hal ini etika satya laksana sebagai salah satu dimensi variabel entrepreneurial leadership melalui beberapa tahapan pengujian.

2. Melakukan pengujian secara empiris dengan mengembangkan model, mengidentifikasi, mengintegrasikan, dan menjelaskan hubungan antar variabel entrepreneurial leadership, knowledge sharing, inovasi dan kinerja.

3. Diharapkan berguna bagi pengembangan teori strategic

(24)

pengembangan keilmuan kinerja (performance) yaitu theory job and

Figur

Gambar 1.1 Total Aset, Tabungan dan Deposito, Kredit LPD Se- Bali Tahun 2011  dan Tahun  2016

Gambar 1.1

Total Aset, Tabungan dan Deposito, Kredit LPD Se- Bali Tahun 2011 dan Tahun 2016 p.6

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :