STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI KERAJINAN TANGAN DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2010

96  180  Download (4)

Teks penuh

(1)

STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI KERAJINAN TANGAN DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2010

Skripsi

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

ONY YULIA TERADITA F0106062

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)
(3)
(4)

MOTTO

Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh

direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri ( R.A Kartini)

Well done is better than well said

-Benjamin Franklin-

Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, namun hanya

didapatkan oleh mereka yang bersemangat mengejarnya

-Abraham Lincoln-

Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billahi

(Tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan

Allah)

(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Penulis persembahkan karya kecil ini kepada:

ƒ

M y Almight y God, Allah SW T

ƒ

M y Beloved Parent s

ƒ

Almamat er

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah

melimpahkan berkat serta rahmat-Nya, sehingga dengan bimbingan,

pertolongan, izin dan kasih karunia-Nya penulis mampu menyelesaikan

skripsi dengan judul : “Struktur dan Kinerja Industri Kerajinan Tangan

di Kota Surakarta Tahun 2010”. Sebuah berkat dan kebahagian tersendiri

bagi penulis dapat menyusun karya kecil ini sebagai upaya untuk

memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi

Pembangunan Universitas Sebelas Maret.

Skripsi ini dapat terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang

berupa bantuan, bimbingan, dukungan, doa serta motivasi. Oleh karena itu

dengan segala kerendahan hati penulis ingin menghaturkan terima kasih

kepada:

1. Ibu Dwi Prasetyani, SE, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang

dengan penuh kesabaran membantu, membimbing, dan meluangkan

waktu bagi penulis dalam proses penulisan skripsi.

2. Bapak Sumardi, SE selaku Dosen Pembimbing Akademik

3. Bapak Drs. Kresno Sarosa Pribadi, M.Si selaku Ketua Jurusan

Ekonomi Pembangunan.

(7)

4. Ibu Izza Mafruhah, SE, M.Si selaku Sekertaris Jurusan Ekonomi

Pembangunan

5. Ibu Nunung Sri Mulyani selaku pembimbing terdahulu yang telah

memberikan sumbangan pemikiran bagi penulis

6. My beloved parents, papa dan mama...amat sangat berterimakasih

atas segalanya, maaf bila terlalu lama menuggu kelulusanku.

7. My dearest sister, Shania...life is so worth with her.

8. My sweetheart, my best motivator, Fahrur Rozi Irawan nun jauh di

sana,,so grateful for always encourage me..

9. Yang Kung dan Yang Uti yang mendoakanku dari jauh

10. ”Pat” dan Seluruh keluarga besarku dimanapun kalian berada

11. Sahabat sekaligus teman seperjuanganku, esp Echa Suminten, Yesy

Cndoetz, Lokitut, Hayuu, juga untuk Tia di magetan, thanks a

million vo this priceless frenship which will not be replaced..

12. My crazy buddy, Bayu Nurhadi....you rock guy!

13. Monic dan Tika …thanks atas sumbangan pemikiran kala lagi stuck

14. Princess kecilku, Flo, Kylie, Trixie, Trea & Kinsey ..cheer me up

always yaa

15. Sobat-sobatku semasa di SDN Kleco 1, SMPN 1 Solo, SMAN 3

Solo, thanks vo fillin’ up some episodes of my life..it was so

memorable

(8)

16. Teman-teman EP Holic ‘06 , thanks for the story that will be a

history..

17. Bapak dan Ibu Pegawai Disperindag Kota Surakarta, terimakasih

atas sikap hangat dan keramahtamahannya.

18. Seluruh pengusaha ataupun pemilik usaha kerajinan tangan yang

telah sudi membantu tersedianya data dan informasi yang

dibutuhkan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan. Untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya

atas kekuarangan-kekurangan tersebut. Semoga karya kecil ini dapat

memberikan manfaat bagi diri penulis dan pembaca semua.

Surakarta, Januari 2011

Penulis

Ony Yulia Teradita

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN ………... ii

HALAMAN PENGESAHAN ………...… iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ……….. iv

HALAMAN MOTTO ………...………..………….. v

KATA PENGANTAR ……… vi

DAFTAR ISI ……… ix

DAFTAR TABEL ……….. xii

DAFTAR GAMBAR ………. xiv

ABSTRAK ………... xv

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………... 1

B. Perumusan Masalah ……… 10

C. Tujuan Penelitian ……… 10

D. Manfaat Penelitian ………. 11

II. TINJAUAN PUSTAKA

(10)

A. Landasan Teori ………... 12

1. Pengertian Industri………... 12

2. Jenis Industri ………... 15

3. Kerajinan Tangan ……… 17

4. Permasalahan Industri Kerajinan di Indonesia ………... 20

5. Pengembangan Industri Kerajinan di Indonesia ... 22

B. Struktur Pasar ……….. 23

1. Pengertian dan Bentuk Pasar ... 23

2. Unsur-Unsur Struktur Pasar ... 31

C. Kinerja ………... 36

D. Hubungan Struktur Pasar dan Kinerja Pasar ……….. 38

E. Kerangka Pemikiran ………... 41

F. Hipotesis ………..…... 42

G. Penelitian Terdahulu ………..… 43

III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian ………... 46

B. Jenis dan Sumber Data ………... 46

C. Populasi dan Sampel ………..… 47

D. Definisi Operasional Variabel ... 48

E. Metode Pengolahan Data ………... 49

F. Metode Analisis Data ……… 50

1. Pengukuran Struktur Pasar ... 50

2. Pengukuran Kinerja ... 54

IV. ANALISIS DATA A. Gambaran Umum Objek Surakarta ………..… 57

1. Letak Geografis ……… 57

(11)

2. Keadaan Wilayah ……… 58

3. Sumber Daya Lahan………. 59

B. Aspek Demografis ………... 61

1. Jumlah Penduduk Menurut Umur ... 61

2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian... 64

3. Kepadatan Penduduk Geografis ... 66

C. Keadaan Sosial Ekonomi………....……... 67

1. Keadaan Pendidikan ………...……... 67

2. Kondisi Perekonomian ………... 68

D. Gambaran Umum Industri Kerajinan Tangan di Kota Surakarta... ... 72

1. Jumlah Modal Industri Kerajinan Tangan ... 72

2. Jumlah Pendapatan Industri Kerajinan Tangan ... 73

3. Jumlah Biaya Industri Kerajinan Tangan ... 74

E. Analisis Struktur Industri Kerajinan Tangan ... 74

F. Analisis Kinerja Industri Kerajinan Tangan ... 76

1. Analisis Kinerja Rentabilitas Ekonomi ... 76

2. Analisis Kinerja Profit Margin ... 76

G. Analisis Korelasi Struktur Pasar dengan Kinerja ... 77

1. Analisis Korelasi Pendapatan dengan Rentabilitas Ekonomi ... 77

2. Analisis Korelasi Pendapatan dengan Profit Margin ... 78

V. PENUTUP A. Kesimpulan ………... 80

B. Saran ………... 82

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Penduduk Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis

Kelamin Tahun 2008 ……… 62

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Berdasar Jenis Kelamin

dan Tingkat Pertumbuhan Tahun 2004-2008 ……… 63

Tabel 4.3 Banyaknya Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di

Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 64

Tabel 4.4 Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut

Lapangan Usaha Di Kota Surakarta Tahun 2008 ……….. 65

Tabel 4.5 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan

Tingkat Kepadatan Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun

2008 ... 67

Tabel 4.6 Banyaknya Penduduk 5 Tahun ke Atas Menurut Tingkat

Pendidikan di Kota Surakarta Tahun 2004-2008 ... 68

Tabel 4.7 Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Berlaku Di Kota Surakarta Tahun 2004 –

2008 ………... 69

Tabel 4.8 Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Konstan 2000 Di Kota Surakarta

Tahun 2004 – 2008 ……….. 70

Tabel 4.9 Banyaknya Industri di Kota Surakarta Tahun 2008-2009 . 72

(13)

Tabel 4.10 Jumlah Modal Industri Kerajinan Tangan ... 73

Tabel 4.11 Jumlah Pendapatan Industri Kerajinan Tangan ... 73

Tabel 4.12 Jumlah Biaya Industri Kerajinan Tangan ... 74

Tabel 4.13 Konsentrasi Industri Kerajinan Tangan Variabel Pendapatan

... ... 75

Tabel 4.16 Hasil Korelasi Pendapatan dengan RE ... 77

Tabel 4.17 Hasil Korelasi Pendapatan dengan PM ... 78

 

 

 

(14)

commit to user

x iv

ABSTRACT

THE STRUCTURE AND THE PERFORMANCE OF HANDICRAFT INDUSTRIES IN SURAKARTA CITY IN 2010

Ony Yulia Teradita

(NIM. F0106062)

The basis of this research is the increasingly tight level of competition in the handicraft industry in Surakarta during the year 2010. The purpose of this study was to determine the market structure of the handicraft industries in Surakarta viewed from the level of income, to determine the performance of the handicraft industries in Surakarta seen from the economic rates of return and profit margin, and to know the relationship between the market structure and the performance of handicraft industries in the city of Surakarta.

The study was a descriptive study using survey method. The sampling method is to use saturated sampling techniques, resulting in the respondents, 56 businesses. The analytical technique used is the concentration ratio and Herfindahl index. The economic rentability and profit margin are used to determine the performance of handicraft industries. In finding the relationship between the market structure and the performance, a correlational test of Pearson Product Momment method was used.

The results of data analysis showed that the concentration ratio of the four largest firms (CR-4) is amounted to 41.80% by value of Herfindahl Index of 5.95%. Based on the results of correlation, it is known that the relationship between the variables of income with economic rentability have a significant relationship due to the fact that the value of r is 0.482. In addition, between the revenue variable and the profit margins, there is a significant relationship in which the r value is amounted to 0.278.

Based on the finding the researcher put forward some suggestions as follows: a) It is better for the industry to diversify its product; b)Companies need to cooperate with one another because if the industry is dominated by several large companies only, the price will tend to rise; c) Production efficiency and the use of technology should be intensively made; d)There must also be efficiency in resource allocation, efficiency in product distribution, and creative marketing techniques through non-price competition such as quality, convenience, and brand promotion. The higher the economic profitability, the higher the level of efficient use of capital. And the higher the profit margin, the more efficient operation of the company will be.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Industrialisasi telah menjadi kekuatan utama (driving force) di balik urbanisasi yang cepat di kawasan Asia sejak dasawarsa 1980-an. Maka dari itu, peranan sektor industri dalam perekonomian Indonesia semakin besar dan penting. Pembangunan di sektor industri dikembangkan secara bertahap dan terpadu melalui peningkatan keterkaitan antar industri dan antar sektor industri yang memasukkan bahan baku industri, melalui iklim yang merangsang bagi penanam modal dan penyebaran pembangunan industri di daerah sesuai dengan potensi masing-masing dan sesuai dengan iklim usaha yang pada akhirnya akan memantapkan pertumbuhan ekonomi nasional.

(16)

Sektor industri di setiap negara memiliki posisi penting untuk meningkatkan perekonomian rakyat, karena dengan maraknya sektor ini maka lapangan pekerjaan bagi masyarakat akan terbuka lebar. Tergeser sektor industri modern, industri tradisional mulai lesu dan tak mampu bersaing dengan perusahaan raksasa. Industri tradisional yang biasanya dikerjakan oleh warga pedesaan sulit berkembang. Layak disoroti bahwa kerajinan tangan dalam industri tradisional memiliki nilai budaya yang mencerminkan identitas sebuah bangsa. Kini berbagai seminar dan dialog tingkat internasional ramai digelar untuk menyelamatkan industri ini.

Berbicara tentang kerajinan tangan tidak terlepas dari keterampilan seseorang dalam membuat sesuatu produk yang tidak menggunakan mesin atau peralatan bantu modern dan biasanya melakukan kegiatan terbatas kepada ruang lingkup rumahan. Jika sudah menggunakan mesin dan alat bantu modern serta melakukan kegiatannya dalam lingkup bangunan pabrik, maka tidak lagi disebut kerajinan tangan tetapi sudah merupakan Produk Industri Kecil Kerajinan. Memang melihat bentuknya keduanya adalah produk kerajinan, namun yang membedakan adalah proses pembuatannya yaitu dengan tangan atau dengan bantuan mesin. Kapasitas produksi kerajinan tangan tidak sebanyak kerajinan yang menggunakan mesin, hal ini dapat dilihat ketika keduanya melakukan produksi massal.

(17)

Kaum perempuan jaman dulu juga sudah mengenal kerajinan batik tulis, kini beralih fungsi sebagai industri batik dengan jumlah produksi yang bisa dipacu dengan bantuan beragam mesin atau peralatan modern. Banyak kerajinan tangan yang dikenal hingga kini, semua itu merupakan aset produk etnik yang biasanya mempunyai sejarah dan berkaitan dengan adat dan budaya daerah itu sendiri.

Kerajinan tangan juga merupakan salah satu hasil produksi Indonesia yang termasuk ke dalam komoditi non migas. Sebagian besar industri kerajinan tangan terdiri atas industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Pengembangannya sangat diharapkan oleh pemerintah untuk menunjang perekonomian rakyat. Menurut Soeroto dalam Made Berata (2008), seni kerajinan merupakan usaha produktif di sektor nonpertanian baik untuk mata pencaharian utama maupun sampingan, oleh karenanya merupakan usaha ekonomi, maka usaha seni kerajinan dikategorikan ke dalam usaha industri. Industri kerajinan tangan merupakan manisfestasi seni dan kreativitas sebuah bangsa. Sejatinya, industri ini menjadi wadah penting bagi seni dan budaya serta mencerminkan identitas sebuah bangsa. Saat ini, upaya untuk menghidupkan kembali industri kerajinan tangan bukan hanya menghubungkan kita dengan sejarah masa lalu berbagai bangsa, namun juga mampu menjadi faktor untuk kian mempererat hubungan antara bangsa.

(18)

tingkat dunia yang dihadiri para ahli lebih dari 40 negara. Dalam pertemuan tersebut para peserta sepakat membentuk lembaga dunia untuk industri kerajinan tangan. Lembaga ini berada di bawah UNESCO. Dengan terbentuknya lembaga ini, industri kerajinan tangan dan tradisional mendapat perhatian serius di sektor budaya dan ekonomi internasional. Menurut para ahli, era Renaissance atau pembaharuan sangat berpengaruh bagi kesempurnaan seni kerajinan tangan.

Kerajinan tangan sering disebut dengan istilah seni kriya. Seni kriya termasuk seni rupa terapan (applied art) yang selain mempunyai aspek-aspek keindahan juga menekankan aspek kegunaan atau fungsi praktis. Artinya, seni kriya atau kerajinan tangan adalah seni kerajinan tangan manusia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan pertimbangan artistik dan keindahan (Cauto, 1993 : 5).

(19)

Menurut Made Soeroto dalam Made Barata, dalam bahasa Inggris kata yang berhubungan dengan makna kriya ditemukan dalam arti handycraft, yaitu berarti pertukangan atau keprigelan atau ketrampilan tangan. Disini keprigelan, menunjuk pada keahlian atau ketrampilan yang dapat menghasilkan benda.

Selain sisi konsumsi, nilai seni sebuah kerajinan tangan juga sangat diperhatikan. Dengan kata lain, kerajinan tangan merupakan industri dan sumber penghasilan. Namun seiring kemajuan teknologi, nilai historis dan budaya sebuah hasil kerajinan tangan menjadi lebih menonjol. Menurut para pengamat, industri kerajinan tangan selain menjaga nilai-nilai keaslian budaya sebuah masyarakat juga memberikan nilai ekonomis. Sejak pertama kali muncul, industri kerajinan tangan telah memberikan lapangan kerja yang besar bagi masyarakat. Selain itu bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap, industri ini juga memberikan penghasilan sampingan, khususnya bagi mereka yang hidup di pedesaan.

(20)

kerajinan tangan berbagai negara oleh sebuah lembaga internasional. Lembaga ini sedikitnya telah mampu menjawab kekhawatiran produsen industri kerajinan tangan.

Oleh karena itu, pada tahun 2001 dibentuklah hak paten yang dikeluarkan oleh UNESCO untuk melindungi hak produsen industri kerajinan tangan. Jelas bahwa tidak seluruh kerajinan tangan memiliki kelayakan untuk mendapat hak paten dari UNESCO. Karena itulah lembaga ini menentukan sejumlah kriteria dalam hal ini. Di antaranya adalah sebuah hasil kerajinan tangan harus menjaga nilai-nilai budaya, penuh kreativitas, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Hal lain yang patut diperhatikan adalah bahwa hasil kerajinan tangan bukan sekedar peninggalan bersejarah dan hiasan dinding. Karya ini diproduksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat juga memenuhi kebutuhan manusia modern serta memberikan identitas baru bagi mereka. Mengingat sejarah panjang dan urgensitas kerajinan tangan di sektor budaya, sejarah dan agama bagi setiap bangsa, diharapkan metode untuk memajukan industri ini dapat segera ditemukan sehingga kerajinan ini mampu diproduksi secara besar-besaran.

(21)
(22)

Keragaman adat dan budaya akan banyak melahirkan keragaman jenis kerajinan tangan yang bisa dikembangkan dan diperluas pangsa pasarnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi dalam mendukung kelancaran usaha, dirasa sangat perlu untuk membentuk suatu wadah sebagai wahana komunikasi, informasi, diskusi serta menjembatani antara pemerintah dengan pengusaha dalam menyelesaikan permasalahan industri. Umumnya, permasalahan tersebut meliputi masalah permodalan, tenaga kerja terlatih, pemasaran, bahan baku, teknologi, dan lain-lain. Suatu wadah yang akan menampung aspirasi pengusaha untuk disampaikan kepada pemerintah melalui instansi terkait.

(23)

kerajinan tangan Surakarta juga mempunyai nilai seni tinggi sehingga banyak diminati para turis mancanegara. Makin berkembangnya pasar produk-produk kerajinan ini menjadi pendorong tumbuhnya sektor informal di Kota Surakarta.

(24)

B. Perumusan Masalah

Untuk memberikan pedoman yang jelas dalam arah penelitian dari latar belakang yang diuraikan, maka beberapa masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur pasar dari industri kerajinan tangan dilihat dari tingkat pendapatan ?

2. Bagaimana kinerja dari industri kerajinan tangan dilihat dari tingkat rentabilitas ekonomi dan profit margin ?

3. Bagaimana hubungan antara struktur pasar dengan kinerja dari industri kerajinan tangan di Kota Surakarta ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui struktur pasar dari industri kerajinan tangan di Kota Surakarta dilihat dari tingkat pendapatan.

2. Untuk mengetahui kinerja dari industri kerajinan tangan di Kota Surakarta dilihat dari tingkat rentabilitas ekonomi dan profit margin.

(25)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini antara lain : 1. Bagi Akademisi

Untuk menambah pengetahuan dan informasi, serta sebagai bahan referensi untuk melengkapi penelitian-penelitian lebih lanjut tentang industri kreatif khususnya di bidang kerajinan tangan

2. Bagi Pemerintah Daerah

Merupakan bahan masukan bagi pemerintah Kota Surakarta dalam merumuskan kebijakan pembangunan sektor industri, khususnya subsektor industri kerajinan tangan.

3. Bagi Masyarakat

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Industri

Analisis industri adalah upaya memanfaatkan peluang bisnis dan mengidentifikasikan cara mendapatkan keuntungan jangka panjang. Tujuan analisis industri adalah meramalkan perilaku para pesaing, baik lama maupun baru yang akan masuk ke pasar, pengembangan produk, metode dan teknologi baru, serta pengaruh pembangunan dan perkembangan pada industri yang berhubungan. Lebih lanjut, dasar analisis industri adalah masalah efisiensi (Mudrajad, 2007 : 36).

Industri adalah suatu unit atau kesatuan produksi yang terletak pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan untuk mengubah bahan baku dengan mesin atu kimia atau dengan tangan menjadi produk baru, atau mengubah barang- barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dengan maksud untuk mendekatkan produk tersebut pada konsumen akhir (Badan Pusat Statistik, 2003 : 32).

(27)

yang memproduksi barang dan jasa dengan elastisitas silang (cross elasticities of demand) yang positif dan tinggi (Mudrajad, 2007 : 167).

Pengertian industri dapat dalam lingkup makro maupun mikro. Secara mikro, industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang homogen, atau barang-barang yang mempunyai sifat yang saling mengganti secara erat. Dari segi pembentukan pendapatan, yakni yang cenderung bersifat makro, industri adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah (Hasibuan, 2003 : 12).

Ekonomi industri maupun organisasi industri merupakan kelanjutan dari teori ekonomi mikro yang membahas mengenai variabel-variabel seperti harga, upah, ongkos produksi, perilaku perusahaan atau industri dan perilaku konsumen. Ekonomi industri mempunyai subyek masalah tentang perilaku dari perusahaan dalam industri. Mempelajari mengenai kebijakan perusahaan yang mengikuti rival dan customers mereka (termasuk harga, iklim dan penelitian-pengembangan). Serta mempelajari kompetitif di dalam pasar (Martin, 1993 : 1).

Moch Sadli dan Endang W (2000 : 9) menyatakan bahwa kata industri mempunyai tiga pengertian, yaitu :

a. Kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi suatu barang yang serupa.

(28)

c. Kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang mempunyai proses produksi yang sama.

Dari beberapa pengertian industri yang telah dikemukakan di atas, diambil suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya industri merupakan suatu unit usaha yang melakukan kegiatan yang bersifat ekonomi yang merubah barang atau jasa yang pada akhirnya dapat menghasilkan barang atau jasa yang lebih bernilai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau konsumen.

(29)

2. Jenis Industri

Penggolongan industri dengan pendekatan besar kecilnya skala usaha dilakukan oleh beberapa lembaga dengan kriteria yang berbeda-beda. Untuk keperluan pengembangan sektor industri sendiri (industrialisasi), serta berkaitan dengan administrasi Departemen Perindustrian dan Perdagangan, industri di Indonesia digolong-golongkan berdasarkan hubungan arus produknya menjadi (Dumairy, 1997 : 232) : a. Industri hulu, yang terdiri atas Industri kimia dasar dan Industri mesin,

logam dasar dan elektronika.

b. Industri hilir, yang terdiri atas : Aneka industri dan Industri kecil.

Departemen Perindustrian menggolongkan industri menjadi Industri Kecil dan Industri Menengah. Aset pada industri kecil lebih kecil dari Rp200 Juta diluar tanah dan bangunan. Omset tahunan lebih kecil dari Rp1 milyar. Sedangkan Industri Menengah (Konsensus Depperindag-BPS), omset penjualan antara Rp 1 milyar hingga Rp 50 milyar.

Klasifikasi industri kecil menurut Departemen Perindustrian adalah sebagai berikut (Dirjen Industri Kecil 1985 : 10) :

a. Industri Kecil Modern

Industri kecil modern meliputi industri kecil sebagai berikut : 1) Menggunakan teknologi proses madya.

2) Tergantung pada dukungan litbang dan usaha-usaha kerekayasaan. 3) Dilibatkan dalam sistem produksi industri besar dan menengah

(30)

4) Menggunakan mesin khusus dan alat perlengkapan model lainnya. 5) Industri kecil modern mempunyai akses untuk menjangkau sistem

pemasaran yang lebih berkembang baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor. Jumlah industri kecil modern mencapai 5% dari jumlah total industri kecil di Indonesia.

b. Industri Kecil Tradisional

Jumlah industri kecil tradisional di Indonesia adalah 75% dari jumlah total industri kecil yang ada. Industri kecil tradisional mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1) Teknologi proses yang digunakan secara sederhana.

2) Teknologi pada bantuan UPT yang disediakan oleh Departemen Perindustrian sebagai bagian dari program bantuan teknis kepada industri kecil.

3) Alat perlengkapan dan mesin yang digunakan relatif sederhana. 4) Lokasinya di daerah pedesaan.

c. Industri Kecil Kerajinan

(31)

3. Kerajinan Tangan

Kerajinan tangan disebut juga sebagai seni kriya, adalah seni kerajinan tangan manusia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan pertimbangan artistik dan keindahan.

Seni kriya atau kerajinan tangan sebaiknya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Made Berata, 2008) :

a. Utility atau aspek kegunaan

Yaitu seni kriya atau kerajinan tangan harus memiliki kegunaan sebagai : Security, (jaminan tentang keamanan orang menggunakan barang-barang itu), Comfortable (nyaman tidaknya suatu barang digunakan) barang yang nyaman digunakan disebut barang terap. Barang-barang terapan adalah barang yang memiliki nilai praktis yang tinggi. Flexibility (keluwesan penggunaan). Barang-barang seni kriya adalah barang terap yang wujudnya sesuai dengan kegunaan atau terapannya. Barang terap dipersyaratkan memberi kemudahan dan keluwesan penggunaan agar pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.

b. Estetika atau syarat keindahan

(32)

pemakainya. Dorongan orang memakai, memiliki, dan menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu diperindah dan berwujud estetik.

Fungsi dan tujuan pembuatan seni kriya atau kerajinan tangan adalah :

a. Sebagai benda pakai, adalah seni kriya yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung. b. Sebagai benda hias, yaitu seni kriya yang dibuat sebagai benda

pajangan atau hiasan.

c. Sebagai benda mainan, adalah seni kriya yang dibuat untuk digunakan sebagai alat permainan.

Jenis-jenis seni kriya atau kerajinan tangan di Nusantara antara lain:

a. Seni kerajinan kulit, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contoh : tas, sepatu, wayang, ikat pinggang.

b. Seni kerajinan logam, ialah kerajinan yang menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak. Sedangkan teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Contoh : pisau, barang aksesoris, kerajinan dari besi, kerajinan dari perunggu, kerajinan dari emas, kerajianan dari perak, dan lain-lain.

(33)

biasanya digunakan adalah : kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contoh : mebel, relief, topeng.

d. Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dan lain sebagainya. Contoh : topi, tas, keranjang. e. Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan

proses teknik tulis atau teknik cetak.

f. Seni kerajinan keramik, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijat, butsir, pilin, pembakaran, dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contoh : gerabah, piring, gelas, vas, pot.

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999 menetapkan bahwa usaha kecil yang didalamnya terdapat industri kecil dan kerajinan adalah suatu unit usaha yang mempunyai nilai aset netto (tidak termasuk tanah dan bangunan) yang tidak melebihi Rp200 juta, atau penjualan per tahun tidak lebih besar dari 1 milliar. Sedangkan, menurut Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 1999 nilai aset netto (diluar tanah dan gedung) yang dimiliki oleh suatu pengusaha kecil dan menengah antara Rp200 juta sampai Rp. 10 milliar (Tulus Tambunan, 2002 : 49).

(34)

pengilangan minyak bumi. Industri pengolahan non migas dibedakan atas industri besar dan sedang, kecil dan kerajinan rumah tangga.

Perajin sendiri menurut definisi Umar Kayam adalah mereka yang memiliki suatu ketrampilan khusus yang didapatkan dari penyampaian secara turun-temurun lewat nenek moyangnya atau yang diperoleh melalui proses sosialisasi dai lingkungan budayanya.

4. Permasalahan Industri Kerajinan di Indonesia

Tantangan utama yang dihadapi oleh industri nasional saat ini adalah kecenderungan penurunan daya saing industri di pasar internasional. Penyebabnya antara lain adalah meningkatnya biaya energi, ekonomi biaya tinggi, penyelundupan, serta belum memadainya layanan birokrasi.

(35)

kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil (Mudrajad Kuncoro, 2000 : 8).

Industri kecil dan menengah (IKM) yang memiliki potensi tinggi dalam penyerapan tenaga kerja ternyata masih memiliki berbagai keterbatasan yang masih belum dapat diatasi dengan tuntas sampai saat ini. Permasalahan utama yang dihadapi oleh IKM adalah sulitnya mendapatkan akses permodalan, keterbatasan sumber daya manusia yang siap, kurang dalam kemampuan manajemen dan bisnis, serta terbatasnya kemampuan akses informasi untuk membaca peluang pasar serta menyiasati perubahan pasar yang cepat.

Sedangkan permasalahan industri kecil dan kerajinan rumah tangga meliputi (Irsan Azhary Saleh, 1986 : 14) :

a. berkaitan dengan perihal kesempatan kerja yang secara asasi merupakan landasan perkembangan terpenting bagi industri kecil Indonesia. Dalam hubungan ini pembahasan berkisar pada upaya mendeteksi dan memahami kontribusi dari sektor industri di Indonesia terhadap penyelesaian masalah kesempatan kerja dengan tekanan utama pada penganalisaan terhadap subsektor Industri kecil dan kerajinan rumah tangga.

(36)

5. Pengembangan Industri Kerajinan di Indonesia

Pemberian pelatihan melalui pelatihan industri kerajinan perlu digalakkan pemerintah dan dunia pendidikan seperti universitas. Bentuk pelatihan berupa pelatihan keterampilan dan manajemen perusahaan profesional sangat penting untuk mempertahankan kondisi pengusaha-pengusaha di industri kerajinan. Perlu dibentuknya asosiasi pengusaha-pengusaha industri kerajinan untuk memperkuat usaha ini sebagai salah satu bentuk usaha baru yang menekankan kepada inovasi dan kreativitas pengusahanya. Industri kerajinan berdasarkan seni yang memang dimiliki masyarakat muda Indonesia merupakan suatu bentuk inovasi baru di saat terengah-engahnya industri-industri besar di Indonesia saat ini.

(37)

B. Struktur Pasar

1. Pengertian dan Bentuk Pasar

Pengertian pasar menurut kajian Ilmu Ekonomi memiliki pengertian yaitu pasar adalah suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu barang atau jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan. Terdapat tiga elemen pokok dalam struktur pasar, antara lain :

a. Pangsa pasar (market share)

Pangsa pasar adalah persentase pendapatan perusahaan dari total pendapatan industri yang dapat diukur dari 0 persen hingga 100 persen (Jaya, 2001). Semakin tinggi pangsa pasar, semakin tinggi pula kekuatan pasar yang dimiliki perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki pangsa pasar yang tinggi akan menciptakan monopoli yang mengejar keuntungan semaksimal mungkin. Apabila setiap perusahaan pangsa pasarnya rendah maka akan tercipta persaingan yang efektif.

b. Konsentrasi pasar (market concentration),

(38)

c. Hambatan-hambatan untuk masuk pasar (barrier to entry).

Pengertian struktur pasar pada hakekatnya adalah penggolongan produsen ke beberapa bentuk pasar berdasarkan kepada ciri-ciri seperti : (i) jenis barang yang dihasilkan, (ii) banyaknya perusahaan dalam industri, (iii) mudah tidaknya keluar atau masuk ke dalam industri, dan (iv) peran iklan dalam kegiatan industri (Sukirno, 1985 : 181).

Analisis ekonomi membedakan struktur pasar dalam empat jenis pasar, yaitu pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar persaingan monopolistik dan pasar oligopoli.

a. Pasar Persaingan Sempurna

Pasar Persaingan Sempurna adalah pasar dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual maupun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar (Sukirno, 1985 : 181-182). Pasar Persaingan Sempurna merupakan struktur pasar yang paling cocok, karena menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi barang dan jasa yang tinggi efisiensinya.

Ciri-ciri dari pasar persaingan sempurna adalah :

1) Setiap perusahaan adalah price taker, berarti setiap perusahaan yang ada di dalam pasar tidak dapat menentukan atau merubah harga pasar.

2) Terdapat banyak penjual dan pembeli di pasar

(39)

4) Terdapat kebebasan bagi perusahaan untuk keluar masuk pasar 5) Para pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang

keadaan di pasar.

Pada pasar yang bersaing sempurna terdapat kebebasan keluar masuk dalam pasar atau industri. Seorang produsen yang memandang bahwa dalam pasar suatu produk menguntungkan, ia bebas memasuki pasar tanpa ada rintangan apapun. Tantangan yang dihadapi adalah harus berani bersaing. Jika keuntungan yang diperoleh merupakan keuntungan yang cukup baik menurut pandangan mereka, maka mereka tetap dalam pasar.

Sebagai implikasi adanya kebebasan keluar masuk pasar atau industri, adalah adanya kebebasan untuk mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang dimiliki (modal, tenaga kerja, dan sebagainya). Dalam pasar persaingan sempurna tidak diperlukan promosi, karena penjual dan pembeli relatif banyak.

Harga bagi produsen dalam pasar yang bersaing secara sempurna merupakan kesepakatan yang harus diterima oleh penjual atau pembeli. Namun harga juga perupakan petunjuk bagi produsen untuk mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang dimiliki.

(40)

Struktur pasar yang sangat bertentangan dengan pasar persaingan sempurna adalah pasar monopoli. Pasar monopoli adalah pasar dimana terdapat hanya seorang penjual saja (Sukirno, 1985 : 183). Keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan monopoli adalah keuntungan murni dan diperoleh karena terdapat hambatan yang sangat kuat karena terdapat perusahaan lain yang ingin memasuki industri tersebut.

1) Timbulnya Monopoli:

a) Investasi yang sangat besar untuk mendirikan perusahaan. Bagi negara-negara yang sudah berkembang perusahaan swasta dapat melakukan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur. Bagi negara-negara yang berkembang monopoli dilakukan oleh pemerintah karena pihak swasta tidak mampu melaksanakan investasi yang jumlahnya cukup besar.

b) Karena adanya lisensi dari pemerintah, atau ditunjuk oleh pemerintah, hak paten suatu temuan baru.

c) Pengendalian bahan baku. Penguasaan bahan untuk memproduksi suatu barang oleh suatu perusahaan menjadikan perusahaan yang menguasai bahan tersebut sebagai monopolist.

(41)

a) Hanya terdapat satu penjual di pasar

b) Dapat menentukan harga (price maker) karena hanya ada satu penjual

c) Barang yang dihasilkan oleh pasar monopoli tidak dapat digantikan oleh barang lain

d) Adanya hambatan bagi perusahaan baru untuk memasuki industri

e) Usaha mempromosikan penjualan secara iklan kurang diperlukan

c. Pasar Persaingan Monopolistis

Pasar Persaingan Monopolistis adalah suatu pasar dimana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang yang berbeda corak (differentiated product). Pasar persaingan monopolistis pada dasarnya adalah pasar yang berada di antara dua jenis pasar yang ekstrim, yaitu pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli, sehingga mempunyai unsur sifat pasar monopoli dan unsur-unsur sifat pasar persaingan sempurna (Sukirno, 1985 : 184). 1) Unsur persaingan:

a) Unsur persaingan karena produsen banyak b) Kemudahan untuk memasuki pasar

(42)

a) Adanya perbedaan produk yang dihasilkan antara produsen satu dengan produsen yang lain dalam bentuk kualitas, kemasan, model atau bentuk

b) Ada kekuatan untuk mengatur harga pasar

Ciri-ciri dari pasar persaingan monopolistis adalah :

a) Terdapat cukup banyak penjual, namun tidak sebanyak seperti pada pasar persaingan sempurna

b) Barang produksinya berbeda corak (differentiated product) sehingga secara fisik mudah dibedakan dengan produksi perusahaan lainnya

c) Perusahaan dalam persaingan monopolistis dapat mempengaruhi harga, namun pengaruhnya relatif kecil jika dibandingkan dengan perusahaan oligopoli dan monopoli. d) Hambatan untuk memasuki pasar relatif mudah

e) Karena produksi terdiferensiasi maka para pengusaha tidak melakukan persaingan harga melainkan dalam melakukan perbaikan mutu dan desain barang dengan melakukan kegiatan iklan yang terus-menerus.

d. Pasar Oligopoli

(43)

sangat dipengaruhi oleh kegiatan perusahaan lainnya di dalam industri yang sama (Sukirno, 1985 : 186).

1) Timbulnya Oligopoli

a) Adanya produsen yang beroperasi dengan skala besar, sehingga hanya diperlukan hanya beberapa produsen saja b) Investasi yang besar untuk masuk dalam industri

c) Hak paten

d) Mempunyai hubungan khusus dengan pelanggan e) Menguasai dan mengawasi pasar

f) Ditunjuk oleh pemerintah 2) Ciri-ciri dari pasar oligopoli adalah :

a) Jumlah perusaahaan hanya terdiri dari sekelompok kecil perusahaan yang mendominasi pasar

b) Barang yang diproduksi adalah barang standart atau barang yang terdiferensiasi.

c) Kekuasaan dalam menentukan harga ada kalanya lemah dan ada kalanya sangat kuat. Hal ini tergantung dari ada tidaknya kerjasama diantara perusahaan-perusahaan di pasar oligopoli

d) Terdapat hambatan yang cukup kuat yang menghalangi perusahaan baru untuk memasuki pasar

(44)

Dalam penelitian Sulistyawati (2006), Joe S Bain membuat batasan jumlah perusahaan yang menguasai beberapa bagian pasar dan menggolongkannya menjadi beberapa tipe oligopoli :

1) Tipe I

Tipe ini adalah tipe oligopoli penuh atau tingkat konsentrasi sangat tinggi. Pada tipe I ini 3 perusahaan terbesar menguasai sekitar 87% dari total penawaran output ke suatu pasar atau 8 perusahaan terbesar menguasai 99% total penawaran output.

2) Tipe II

Tipe ini merupakan tipe oligopoli dengan tingkat konsentrasi tinggi. Pada tipe II ini empat perusahaan terbesar menguasai 65%-75% penawaran output, delapan perusahaan tebesar menguasai 85%-90% penawaran output atau 20 perusahaan terbesar menguasai 95% penawaran output.

3) Tipe III

Tipe ini merupakan tipe oligopoli dengan tingkat konsentrasi moderat tinggi. Pada tipe ini empat perusahaan terbesar menguasai sekitar 50%-65% penawaran output atau 20 perusahaan terbesar menguasai 95% penawaran output.

4) Tipe IV

(45)

menguasai sekitar 65% atau 20 perusahaan terbesar menguasai sekitar 70% penawaran output.

2. Unsur-unsur Struktur Pasar

Unsur-unsur struktur pasar adalah : a. Jumlah dan Ukuran Distribusi Penjual

Dalam pasar persaingan sempurna terdapat banyak penjual dan pembeli yang tidak satupun diantara mereka yang dapat mempengaruhi harga. Industri yang kompetitif akan mempengaruhi efisiensi, sementara pasar-pasar monopoli hanya terdapat satu penjual yang dapat membatasi output dan mempengaruhi harga yang mengakibatkan beberapa konsumen tidak mampu membeli output tersebut.

b. Jumlah dan Ukuran Distribusi Pembeli

Terdapat suatu teori yaitu Countervailling Power, inti dari teori ini adalah konsentrasi sebagian dari pasar akan menyeimbangkan konsentrasi dari sebagian pasar lain. Ketika jumlah penjual yang sedikit tawar-menawar dengan sejumlah kecil pembeli, akan terdapat kesulitan bagi penjual untuk menetapkan harga di dalam pasar.

c. Pangsa Pasar

(46)

sumber keuntungan bagi preusahaan. Terdapat hubungan antara pangsa pasar masing-masing perusahaan dengan tingkat keuntungan.

Hubungan ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Rate of return = a + b market share

Dimana a adalah rate of return, yang berkompetisi dan b adalah kemiringan garis. Nilai a menunjukkan biaya modal perusahaan yang dibayar kepada investor sebagai ganti opportinity cost. Tingkat keuntungan di atas a, diperoleh karena pangsa pasar meningkat ditunjukkan dengan kemiringan b yang tinggi, sehingga menguntungkan perusahaan (Shephered, 1997 : 71-73).

d. Konsentrasi

(47)

Ada bermacam-macam ukuran tentang konsentrasi industri seperti andil beberapa perusahaan terbesar, Kurva Lorenz, Angka Gini, dan berbagai indeks lainnya. Pengukuran dengan indeks konsentrasi antara lain adalah Indeks Lerner, Indeks Bain dan Indeks Herfindahl. Bahkan seperti telah dikemukakan dalam teori ekonomi Mikro, angka elastisitas pun dapat digunakan sebagai pengukur (Hasibuan, 1993 : 106-107).

1) Andil perusahaan

Dalam metode ini, untuk mengukur konsentrasi industri, penggunaan share perusahaan di dalam suatu industri merupakan bagian dari struktur pasar yang akan diketahui.

2) Kurva Lorenz

Tingkat konsentrasi industri dapat juga diukur dengan kurva Lorenz. Dalam Kurva Lorenz, sumbu vertikal (y) adalah jumlah kumulatif kinerja pasar yang dikuasai oleh industri, sedangkan sumbu horisontal (x) merupakan presentase kumulatif andil (proporsi) perusahaan di pasar dari yang terkecil hingga yang terbesar.

(48)

Semakin tinggi tingkat kesenjangan maka dapat menunjukkan bahwa struktur pasar tidaklah kompetitif. Kelemahan dari Angka Gini adalah tidak memperhitungkan jumlah perusahaan dalam industri.

3) Indeks Lerner

Indeks Lerner mengukur kekuatan monopoli yang terdapat pada pasar. Pengertian monopoli dalam hal ini bersifat relatif, tidak mengukur secara langsung. Rumus dari Indeks Lerner adalah :

P MC P L= −

P adalah tingkat harga produk yang dihasilkan, MC adalah biaya marjinal dalam memproduksi barang. Nilai Indeks Lerner adalah nol sampai dengan satu, apabila Indeks Lerner senakin mendekati satu maka pasar akan berbentuk monopoli. Kelemahan Indeks Lerner adalah meskipun sama-sama perusahaan monopoli dengan skala berbeda akan tetapi nilai Indeks Lernernya sama (Hasibuan, 2000 : 133).

4) Indeks Bain

(49)

Perhitungan laba menurut konsep akuntansi adalah penghasilan dikurangi ongkos dan depresiasi, tetapi Bain menghitung lagi nilai investasi dari pemilik perusahaan (V), dan tingkat bunga yang berlaku. Jadi batasan laba secara ekonomis menurut Bain adalah R-C-D-iV. R adalah Revenue; C adalah ongkos pada tahun berjalan dalam memproduksi; i adalah tingkat bunga yang berlaku yang merupakan resiko dalam nilai investasi.

Bain mengukur tingkat keuntungan suatu industri. Tingkat keuntungan dapat dibandingkan antara industri. Dengan demikian, tingkat laba tidak hanya untuk satu perusahaan tetapi bersifat agregatif dalam suatu industri yang diamati

V iV D C R

IB= − − −

Bain tidak sekedar mengukur kekuatan monopoli tetapi juga konsentrasi industri dengan menggunakan laba sebagai salah satu variabel kinerja. Dipublikasikan oleh Bain bahwa apabila tingkat laba relatif tinggi, maka diperkirakan bahwa industri tersebut mempunyai struktur pasar monopoli (Hasibuan, 2000 : 115-116).

5) Indeks Herfindahl

(50)

hanya memberi info tentang pangsa pasar sedikit perusahaan-perusahaan terbesar dalam industri.

C. Kinerja

Pengukuran kinerja dipandang sebagai pengukuran atas seberapa jauh perilaku pasar barang industri menyimpang dari tujuan ekonomi. Kinerja difokuskan pada tiga elemen pokok, yaitu efisiensi, perkembangan teknologi dan pemerataan distribusi (Shepered, 1997 : 33-37).

1. Efisiensi

Pengertian efisiensi secara sederhana adalah menghasilkan nilai output yang maksimum dari sejumlah nilai input tertentu. Efisiensi digolongkan menjadi efisiensi internal dan efisiensi alokasi.

a. Efisiensi Internal

Efisinsi internal diperoleh dari pengelolaan yang baik dalam perusahaan. Para manajer menggunakan segala macam cara untuk memacu para pekerja, menekan segala macam biaya dan mengawasi pelaksanaan-pelaksanaan yang menyimpang. Masalah yang terjadi dalam efisiensi internal adalah inefisiensi-X. Inefisiensi-X adalah merupakan suatu kondisi dimana biaya produksi yang terjadi lebih besar dari biaya minimum yang masih mungkin dicapai oleh perusahaan.

(51)

b. Efisiensi Alokasi

Efisiensi Alokasi menentukan kondisi ekuilibrium secara umum. Kondisi ini terjadi pada saat output berada pada saat tingkat dimana biaya marjinal (MC) sama dengan harga (P) dari masing-masing produksi setiap perusahaan di dalam perekonomian secara keseluruhan. Harga juga akan sama dengan tingakat biaya rata-rata (AC) minimum dalam jangka panjang.

2. Perkembangan Teknologi

Inovasi merupakan sesuatu yang dinamis, karena selalu membawa produk dan proses yang baru. Untuk mengembangkan inovasi dibutuhkan sumber daya yang tidak sedikit dan ditandai dengan keadaan ketidakpastian. Kriteria dasar dari perkembangan teknologi adalah sama dengan efisiensi alokasi. Efisiensi mensyaratkan bahwa sumber daya yang ada sekarang dicurahkan untuk mengembangkan teknologi sesuai dengan yang diharapkan yaitu pendapatan marjinal sama dengan biaya.

3. Pemerataan Distribusi

(52)

Pendapatan dapat terlihat dari upah, gaji dan pembayaran bonus kepada pekerja. Dalam perusahaan yang mempunyai kekuatan pasar mampu membayar lebih kepada pekerja. Pembayaran yang lebih dapat diberikan pada waktu lembur.

Kekuatan monopoli biasanya mengurangi kesempatan berusaha dan menyebabkan pengurangan jumlah perusahaan hanya tinggal menjadi satu. Selain itu kekuatan monopoli mengurangi variasi dan tanggung jawab perusahaan sebagai penjual kepada konsumen dan kepada pekerja dalam hal memilih pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (Shepered, 1997 : 130-134).

D. Hubungan Struktur Pasar dan Kinerja Pasar

Seperti yang telah diuraikan di atas, dimana struktur pasar mempengaruhi perilaku seperti kebijakan-kebijakan yang diambil oleh perusahaan. Perilaku tersebut pada akhirnya mempengaruhi tingkat keuntungan dan efisiensi.

Dalam penelitian Wisnu (2004), disebutkan bahwa beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan tersebut, khususnya antara struktur pasar dengan kinerja, seperti :

1. Konsentrasi dengan tingkat keuntungan

(53)

terkonsentrasi, sementara Leonard Weiss mendapatkan hubungan positif antara keuntungan dengan produk dari industri konsentrasi tinggi dan hambatan masuk yang tinggi.

2. Konsentrasi dengan tingkat harga

Menurut Stigler dan Chamberlin menyatakan bahwa kolusi yang efektif, yang diukur dari price-cost margins, akan meningkat dengan konsentrasi. Perbedaan antara harga dan biaya untuk rata-rata produksi akan tinggi di pasar monopoli daripada di pasar persaingan sempurna. Sejumlah peneliti melihat hubungan antara rasio konsentrasi dengan price-cost margins di pasar, dimana price-cost margins lebih tinggi di dalam industri yang terkonsentrasi daripada industri yang tidak terkonsentrasi. 3. Konsentrasi dengan perubahan teknologi

Penelitian yang menyangkut hubungan konsentrasi dengan perubahan teknologi dilakukan oleh Stigler dan Philips. Stigler menunjukkan adanya hubungan yang berkebalikan antara konsentrasi dengan peningkatan produktivitas sementara Philips menemukan hubungan yang positif. Hal ini dikarenakan Stigler menggunakan metode firm concentration ratio, sedang Philips menggunakan plant concentration ratio.

(54)

antara struktur dan kinerja menggunakan metode koefisien korelasi. Koefisien korelasi merupakan ukuran besar kecilnya atau kuat lemahnya suatu hubungan antara variabel-variabel apabila bentuk hubungan tersebut linier. Dalam analisis korelasi, dua variabel diperlakukan secara simetris, tidak ada perbedaan antara variabel yang menerangkan. Metode koefisien korelasi yang digunakan adalah Pearson Product Moment :

r =

r = koefisien korelasi sample

X = variabel struktur industri kerajinan tangandi Kota Surakarta Y = variabel kinerja industri kerajinan tangandi Kota Surakarta N = jumlah industri kerajinan tangan

Apabila r mendekati 1 atau -1 berarti terdapat hubungan yang kuat, sebaliknya apabila r mendekati nol maka hubungan lemah atau tidak ada hubungan. Apabila r sama dengan 1 atau -1, berarti terdapat hubungan yang positif sempurna.

Beberapa sifat r adalah sebagai berikut (Gujarati, 1995 : 46-47) : 1. r dapat positif atau negatif, tandanya tergantung pada tanda faktor

(55)

3. Sifat dasarnya simetris, yaitu koefisisen korelasi antara X dan Y (rxy)

sama dengan koefisien korelasi antara Y dan X (ryx).

4. Tidak tergantung pada titik asal (origin) dan skala.

5. Apabila ada X dan Y bebas secara statistik, koefisien korelasi antara keduanya 0 (nol), tetapi kalau r = 0, ini tidak berarti kedua variabel adalah bebas. Dengan kata lain, korelasi nol tidak perlu berarti kebebasan.

6. r hanyalah hubungan linier atau ketergantungan linier saja, tidak mempunyai arti untuk menggambarkan hubungan non linier.

7. Meski r adalah hubungan linier antara dua variabel, tetapi tidak perlu berarti adanya hubungan sebab akibat.

E. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran digunakan untuk menunjukkan arah penyusunan penelitian dan mempermudah dalam menganalisa masalah yang dihadapi, maka diperlukan suatu kerangka pemikiran yang akan memberikan gambaran tahap-tahap penelitian untuk mencapai suatu kesimpulan.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Kinerja

Rentabilitas Ekonomi Profit Margin

Struktur

(56)

Keterangan :

Analisis yang digunakan dalam Ekonomi Industri adalah pendekatan Struktur, Perilaku dan Kinerja. Hubungan antara Struktur, Perilaku dan Kinerja sangat berkaitan dimana ketiganya saling mempengaruhi satu sama lain. Bentuk struktur pasar akan mempengaruhi perilaku dari perusahaan dan selanjutnya perilaku akan mempengaruhi kinerja. Kinerja pada akhirnya juga akan kembali mempengaruhi bentuk struktur pasar dan perilaku.

Struktur industri kerajinan tangan dihitung berdasarkan variabel pendapatan dengan menggunakan rasio konsentrasi dan Indeks Herfindahl. Sedangkan untuk mengetahui kinerja industri kerajinan tangan dapat dilihat dari tingkat profitabilitas dengan menggunakan perhitungan Rentabilitas Ekonomi dan Profit Margin.

F. Hipotesis

Hipotesis merupakan anggapan sementara yang masih memerlukan pengujian. Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, maka penulis mengajukan hipotesis yang akan diuji kebenarannya sebagai berikut :

1. Diduga struktur pasar dari industri kerajinan tangan yang dilihat dari tingkat pendapatan merupakan industri yang terkonsentrasi dan mengarah pada bentuk pasar oligopoli.

(57)

3. Diduga hubungan antara struktur pasar dengan kinerja industri kerajinan tangan di Kota Surakarta adalah signifikan.

G. Penelitian Terdahulu

(58)

pakaian jadi di Provinsi DIY, yaitu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam investasi mesin produksi, melakukan efisiensi operasional dan strategi pemasaran yang agresif terutama ke pasar-pasar baru, meningkatkan kualitas produk dan layanan kepada konsumen, dan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk serta kualitas SDM.

Penelitian oleh Wisnu Yudananto (2004) dengan judul “Struktur Pasar dan Kinerja Industri Warung Internet di Kota Surakarta” menggunakan analisis rasio konsentrasi dan Indeks Herfindahl atas dasar variabel pendapatan mengindikasikan bahwa struktur pasar industri warnet termasuk oligopoli. Keuntungan yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dipengaruhi oleh pangsa pasar dari perusahaan tersebut dan akan menjadi lebih besar jika perusahaan tersebut mempunyai kekuatan pasar yang semakin besar pula. Semakin tinggi tingkat konsentrasi menunjukkan bahwa keuntungan sebagian besar perusahaan juga semakin turun.

(59)

ada perbedaan yang signifikan pada kinerja CAR dan LDR antara sebelum dan sesudah krisis moneter.

(60)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dengan unit analisis penelitian terhadap pengusaha kerajinan tangan yang ada di Kota Surakarta tahun 2010. Alasan memilih Kota Surakarta karena kontribusi industri kerajinan tangan yang termasuk dalam sektor industri pengolahan di Kota Surakarta terhadap PDRB meningkat dari tahun ke tahun. Selain dapat dijangkau, peneliti juga merasa Kota Surakarta dapat mewakili fenomena yang telah penulis kemukakan sebelumnya akan peluang dan prospektif industri kerajinan tanganpada umumnya.

B. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, dimana data primer yakni data yang diperoleh secara langsung dari wawancara serta pengisian kuisioner oleh pengusaha kerajinan tangan. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section, artinya data yang diambil pada tahun yang sama.

(61)

dengan cara mengambil data statistik yang telah ada serta dokumen-dokumen terkait yang diperlukan.

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2004)

Populasi dalam penelitian ini adalah para pengusaha kerajinan tangan di Kota Surakarta yaitu sebanyak 60 pengusaha yang dikelompokkan berdasarkan lokasi. Dalam pelaksanaan suatu penelitian, kadang-kadang populasi sasaran yang hendak diteliti demikian besar jumlahnya sehingga akan lebih praktis jika digunakan sampel daripada populasi. Namun demikian, ada beberapa penelitian survei dalam bidang pendidikan, psikologi, dan bidang-bidang disiplin ilmu lain yang tidak memerlukan sampel karena kecilnya ukuran populasi yang akan diteliti (Sevilla et al, 1993 : 160). Oleh karena itu, seluruh populasi akan digunakan dalam penelitian ini. Namun dalam kenyataan di lapangan, dari 60 responden hanya terdapat 56 pengusaha yang masih eksis.

(62)

D. Definisi Operasional Variabel

Batasan pengertian dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Struktur Pasar

Struktur pasar menggambarkan pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan yang terkait. Struktur pasar merupakan karakteristik dari organisasi perusahaan yang dapat mempengaruhi sifat kompetisi dan harga. Variabel struktur pasar yang digunakan meliputi :

a) Modal Usaha adalah seluruh dana yang ditanamkan ke dalam perusahaan baik berupa kas, gedung dan dinyatakan dalam rupiah. b) Pendapatan merupakan hasil kegiatan operasional pengusaha rata-rata

per bulan yang diperoleh dari jumlah produk fisik yang dihasilkan dikalikan dengan harga jualnya dan diukur dalam satuan rupiah.

c) Biaya adalah seluruh pengeluaran operasional perusahaan yang diukur dalam satuan rupiah.

d) Laba adalah selisih antara pendapatan dengan biaya operasional selama satu bulan dan dinyatakan dalam rupiah.

2. Kinerja

(63)

a) Rentabilitas ekonomi

Yaitu perbandingan antara laba usaha dengan modal usaha dan dinyatakan dalam presentase. Rentabilitas itu sendiri memiliki pengertian menurut Riyanto (1999:35) adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Dengan demikian, tingkat rentabilitas yang tinggi dapat mengakibatkan penerimaan yang tinggi pula.

b) Profit margin

Yaitu perbandingan antara laba usaha dengan pendapatan yang diperoleh dan dinyatakan dalam presentase. Dengan adanya profit margin maka menunjukkan kinerja perusahaan yang efisien.

E. Metode Pengolahan Data

1. Metode observasi

Yaitu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti.

2. Metode kuesioner

(64)

terbuka adalah daftar pertanyaan yang tidak memberikan alternatif jawaban kepada responden, sehingga responden bebas dalam menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan peneliti. Pertanyaan tertutup adalah jenis pertanyaan yang memberikan alternatif jawaban kepada responden, sehingga responden dapat memilih salah satu dari berbagai alternatif jawaban yang diberikan peneliti.

F. Metode Analisis Data

1. Pengukuran stuktur pasar

Struktur pasar berhubungan dengan karakteristik dan pentingnya pasar tersebut di dalam perekonomian. Kondisi demikian dapat diidentifikasikan dengan mengacu pada jumlah dan ukuran distribusi dari penjual dan pembeli di pasar tersebut (konsentrasi pasar), batasan suatu produk memiliki perbedaan (diferensiasi), dan tingkat kemudahan memasuki pasar bagi perusahaan baru. Faktor-faktor di atas merupakan karakteristik utama, yang paling umum digunakan untuk menganalisis struktur pasar. Cara pengukuran struktur pasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a) Rasio Konsentrasi (Concentration Ratio)

(65)

lebih besar atau lebih kecil dari 4 . Concentration Ratio kerap kali dinyatakan sebagai CRm, contoh : CR4.

Rasio konsentrasi : CRm =

=

m

i

Si 1

Keterangan, CR = konsentrasi industri m perusahaan terbesar Si = pangsa pasar perusahaan ke-i

Jadi, untuk rasio konsentrasi 4 perusahaan terbesar adalah :

CR4 = S1 + S2 + S3 + S4 , dimana

CR4 : rasio konsentrasi 4 perusahaan terbesar S : presentase pangsa pasar suatu perusahaan

Semakin besar angka persentasenya (mendekati 100 persen) berarti semakin besar konsentrasi industri dari produk tersebut. Jika rasio konsentrasi suatu industri mencapai 100 persen maka bentuk pasarnya adalah monopoli (Jaya, 2001). Sedangkan untuk pasar persaingan sempurna CR4 akan mendekati nilai 0 (nol), karena perusahaan-perusahaan dengan output terbesarpun mempunyai proporsi yang sangat kecil pada industri tersebut.

(66)

pangsa pasar yang besar. Secara ekstrim, misalkan CR1 (hanya satu perusahaan) memiliki CR 90%, maka perusahaan tersebut mengendalikan pasar secara efektif, hal tersebut menjadi suatu monopoli (Mudrajad, 1980)

Nilai CR4 berada pada kisaran antara 0% sampai dengan 100%. Berdasarkan nilai CR4 dapat diidentifikasikan struktur suatu pasar, yaitu pasar dengan konsentrasi rendah, dimana nilai CR4 dibawah 50%; pasar dengan konsentrasi sedang yang memiliki nilai CR4 antara 50% sampai dengan 85%; dan pasar dengan konsentrasi tinggi dengan nilai CR4 di atas 85% (Lee, 2007 : 21). Semakin tinggi konsentrasi-konsentrasi perusahaan dalam pasar, maka semakin besar kemampuannya untuk mengendalikan pasar sehingga semakin besar kemampuan perusahaan untuk menentukan harga dan produknya dalam rangka meraih laba maksimal.

b) Indeks Herfindahl

(67)

Herfindahl-Hirschman Index (HHi), yaitu jumlah dari kuadrat pangsa pasar untuk semua perusahaan dalam suatu industri (Mudrajad, 2007 : 156). Indeks Herfindahl atau Herfindahl-Hirschman Index (HHI) digunakan untuk menunjukkan kondisi pangsa pasar seluruh perusahaan dalam industri

Indeks Herfindahl : IH =

2

Keterangan, n = jumlah perusahaan dalam suatu industri

X= besaran absolut dari variabel yang diamati pada perusahaan ke-i

T = jumlah keseluruhan variabel yang diukur

(68)

terkonsentrasi secara moderat. Nilai IH berkisar antara 0 ≤ IH ≤ 1. Nilai IH=1 apabila dalam indeks hanya ada satu perusahaan yang mengenai pasar.

2. Pengukuran kinerja

Untuk mengukur kinerja perusahaan dapat dilihat dari tingkat profitabilitas ekonomi dan Profit Margin.

a. Rentabilitas Ekonomi

(69)

Rentabilitas Ekonomi atau Return on Investment (ROI) Rentabilitas Ekonomi (Return On Investment) adalah perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal pinjaman yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut yang dinyatakan dalam presentase (%). Dalam menghitung rentabilitas ekonomi ini, modal sendiri dan modal pinjaman dianggap sebagai satu kesatuan. Dengan menghitung ROI ini kita dapat memperoleh gambaran efisiensi usaha secara keseluruhan. Rentabilitas Ekonomi dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Rentabilitas Ekonomi = x100% Modal

Laba

(RE)

b. Profit Margin

Profit margin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya ROI. Profit Margin adalah perbandingan antara laba usaha dengan pendapatan bersih, perbandingan tersebut dinyatakan dalam bentuk persentase.

Profit Margin = 100%

tanx Pendapa

Laba

(PM)

(70)

yang diterima. Semakin tinggi profit margin yang diterima perusahaan berarti semakin efisien operasi perusahaan tersebut.

(71)

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Letak Geografis

Kota Surakarta adalah salah satu kota di Propinsi Jawa Tengah. Kota Surakarta merupakan dataran rendah (dengan ketinggian ±92 meter diatas permukaan air laut) dan berada antara pertemuan sungai-sungai Pepe, Jenes dan Bengawan Solo serta terletak di cekungan lereng pegunungan lawu dan merapi. Secara geografis, kota Surakarta terletak di antara 110º45’15’’-110º45’35’’ Bujur Timur dan antara 7º36’00’’-7º56’00’’Lintang Selatan. Terletak pada jalur Jogja-Semarang sehingga sangat strategis untuk melakukan perdagangan. Secara administratif, Kota Surakarta berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kabupaten Dati II Karanganyar dan Kabupaten Dati II Boyolali.

Sebelah Timur : Kabupaten Dati II Sukoharjo dan Kabupaten Dati II Karanganyar.

Sebelah Selatan : Kabupaten Dati II Sukoharjo.

(72)

Gambar 4.1 Peta Kota Surakarta

2. Keadaan Wilayah

a. Keadaan Iklim

(73)

Untuk curah hujan yang terbanyak sebesar 699 mm, yang jatuh pada bulan Oktober. Sedangkan rata-rata curah hujan saat hari hujan terbesar juga jatuh pada bulan November, yaitu sebesar 33,1 m per hari hujan (BPS, Surakarta Dalam Angka 2008).

b. Keadaan tanah

Keadaan wilayah Kota Surakarta secara umum adalah datar, hanya di bagian utara dan timur yang agak bergelombang dengan ketinggian kurang lebih 92 meter diatas permukaan air laut.

Jenis tanahnya sebagian merupakan tanah liat berpasir termasuk Regosol kelabu dan Alluvial, di bagian utara berupa tanah liat Grumosol serta wilayah bagian timur laut tanahnya Litosol Mediteranian.

3. Sumber Daya Lahan

a. Luas Penggunaan Lahan

Secara administratif, Kota Surakarta mempunyai luas wilayah kurang lebih 44,04 km2 yang terbagi dalam 5 kecamatan, 51 kelurahan, 595 RW (Rukun Warga), 2.669 RT (Rukun Tetangga), dan 130.440 KK (Kepala Keluarga). Sebanyak 61,68% dari luas lahan yang ada digunakan sebagai tempat pemukiman dan 20% digunakan untuk kegiatan ekonomi.

(74)

Kelurahan), Jebres (11 Kelurahan), dan Banjarsari (13 Kelurahan). Kelurahan yang tersebar dalam lima kecamatan itu adalah :

1) Kecamatan Laweyan terdiri dari Kelurahan Pajang, Kelurahan Laweyan, Kelurahan Bumi, Kelurahan Panularan, Kelurahan Penumping, Kelurahan Sriwedari, Kelurahan Purwosari, Kelurahan Sondakan, Kelurahan Kerten, Kelurahan Karangasem, dan Kelurahan Jajar.

2) Kecamatan Serengan terdiri dari Kelurahan Joyotakan, Kelurahan Danukusuman, Kelurahan Serengan, Kelurahan Tipes, Kelurahan Kratonan, Kelurahan Jayengan, dan Kelurahan Kemlayan.

3) Kecamatan Pasar Kliwon terdiri dari Kelurahan Joyosuran, Kelurahan Semanggi, Kelurahan Pasar Kliwon, Kelurahan Gajahan, Kelurahan Baluwarti, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Kedung Lumbu, Kelurahan Karangasem, Kelurahan Sangkrah, dan Kelurahan Kauman.

4) Kecamatan Jebres terdiri dari Kelurahan Kepatihan Kulon, Kelurahan Kepatihan Wetan, Kelurahan Sudiroprajan, Kelurahan Gandekan, Kelurahan Sewu, Kelurahan Pucang Sawit, Kelurahan Jagalan, Kelurahan Purwodiningratan, Kelurahan Tegalharjo, Kelurahan Jebres, dan Kelurahan Mojosongo.

(75)

Ketelan, Kelurahan Punggawan, Kelurahan Mangkubumen, Kelurahan Manahan, Kelurahan Sumber, dan Kelurahan Banyuanyar.

B. Aspek Demografi

1. Jumlah Penduduk Menurut Umur

Dengan melihat komposisi penduduk menurut umur di Surakarta, dapat diketahui besarnya angka ketergantungan (Dependency Ratio) yang ada. Angka ketergantungan menunjukan banyaknya penduduk yang bekerja dan yang sudah tidak bekerja, yaitu menggantungkan hidupnya baik secara ekonomi, sosial dan medis terhadap penduduk yang produktif. Untuk mengetahui angka ketergantungan penduduk di Surakarta dapat dilihat dengan melalui pembagian komposisi penduduk sebagai berikut :

1) Penduduk golongan usia muda (belum produktif) 2) Penduduk golongan usia kerja (usia produktif) 3) Golongan penduduk usia tua (sudah tidak produktif)

(76)

terendah adalah penduduk usia 60-64 tahun atau sebesar 3,35%. Total jumlah penduduk usia kerja mencapai 522.934orang.

Jumlah penduduk Surakarta menurut jenis kelamin dan kelompok umur seperti terlihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1

Penduduk Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008

Kelompok

Jumlah 247.246 275.697 522.934 100

Sumber: BPS Kota Surakarta, diolah

(77)

Angka ketergantungan =

Dari hasil perhitungan dengan memasukkan angka – angka dari tabel 4.1 kedalam rumus diatas, maka akan diperoleh angka – angka ketergantungan sebagai berikut :

[110.465 + 33.896] : 381.573 = 0,37

Ini berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 37 orang yang tidak produktif.

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Kota Surakarta Berdasarkan Jenis Kelamin dan Tingkat Pertumbuhan Tahun 2004-2008

Tahun

Jenis Kelamin Jumlah

Penduduk

(78)

Meningkatnya jumlah penduduk disebabkan oleh urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan untuk di Jawa Tengah Kota Surakarta termasuk dalam kota yang cukup maju dan berkembang dibandingkan kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006-2007 yaitu sebanyak 6,48%.

2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Banyaknya jumlah penduduk di Kota Surakarta berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat melalui tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3

Banyaknya Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota Surakarta Tahun 2008

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase

1.

Jumlah 401.179 100

Sumber : Surakarta Dalam Angka 2008, diolah

(79)

70.034 orang atau sebesar 17,46%. Sedangkan mata pencaharian yang paling sedikit adalah Petani, ada 456 penduduk yaitu 0,11%.

Untuk mengetahui karakterisitik penduduk menurut lapangan usaha utama di Kota Surakarta berdasarkan usia 15 tahun ke atas seperti pada tabel 4.4 sebagai berikut

Tabel 4.4

Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Di Kota Surakarta Tahun 2008

Lapangan

Pertanian 1.284 459 1.743 0,69

Pertambangan

dan Penggalian 0 0 0 0

Industri 22.294 21.928 44.222 17,61

Listrik, Gas dan

Air 604 0 604 0,24

Kontruksi 7.134 0 7.134 2,84

Perdagangan 56.487 52.383 108.870 43,36

Angkutan dan

Komunikasi 14.552 3.669 18.221 7,26

Keuangan dan

Jasa Perusahaan 5.931 2.814 8.745 3,48

Jasa-jasa 32.336 29.226 61.562 24,52

Jumlah 140.622 110.479 251.101 100

Sumber: BPS Kota Surakarta, diolah

Figur

Tabel 4.1 Penduduk Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis

Tabel 4.1

Penduduk Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis p.12
Tabel 4.10

Tabel 4.10

p.13
Gambar 4.1 Peta Kota Surakarta

Gambar 4.1

Peta Kota Surakarta p.72
Tabel 4.1 Penduduk Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis

Tabel 4.1

Penduduk Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis p.76
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Berdasarkan Jenis Kelamin dan

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Kota Surakarta Berdasarkan Jenis Kelamin dan p.77
Tabel 4.3 Banyaknya Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Tabel 4.3

Banyaknya Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian p.78
Tabel 4.4 Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut

Tabel 4.4

Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut p.79
  Tabel 4.5 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat
Tabel 4.5 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat p.81
Tabel 4.6

Tabel 4.6

p.82
Tabel 4.7 Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar

Tabel 4.7

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar p.83
Tabel 4.8 Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar

Tabel 4.8

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar p.84
  Tabel 4.9
Tabel 4.9 p.86
Tabel 4.11

Tabel 4.11

p.87
Tabel 4.12

Tabel 4.12

p.88
tabel yang terdapat dalam lampiran dapat dilihat masing-masing

tabel yang

terdapat dalam lampiran dapat dilihat masing-masing p.90
Tabel 4.16

Tabel 4.16

p.91
Tabel 4.17

Tabel 4.17

p.92

Referensi

Memperbarui...