• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesesuaian Instar Larva Spodoptera Litura Fabricius (Lepidoptera : Noctuidae) sebagai Inang Parasitoid Larva Snellenius (=Microplitis) manilae Ashmead (Hymenooptera: Braconidae)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kesesuaian Instar Larva Spodoptera Litura Fabricius (Lepidoptera : Noctuidae) sebagai Inang Parasitoid Larva Snellenius (=Microplitis) manilae Ashmead (Hymenooptera: Braconidae)"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

KESESUAIAN INSTAR LARVA

Spodoptera litura

Fabricius

(LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) SEBAGAI INANG PARASlTOlD

LARVA

Snellenius (=Microplitis) manilae

Ash

mead

(HYMENOPTERA: BRACONIDAE)

Oleh

DWI KURNlAWATl

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKU LTAS PERTANIAN

(2)

s n k a ~ ~ k a h

Kalfli telah laya~vkan ~rftf&tnn

dadcmtu

Dm11

~zal~li

telah hihngkatl darpadamu hebatzrrlu

Y a y

~~le~rrheratka~lyungglirglnu

Dalr Katili tirr~gika~

baai~itu sebutarlnlri

Knlala ses~tnggi~hlya

sesudah kendita~ itu ada ker~tudaha~l

srsrcnggnhnya seesudah kesulitan itu ada ketitudahan

aka

ayahila katitu teIah seIesai

,

kerjakanlah sarrgguh-sungg~lh y a y lain

Dall halya kepada ~uharilah hendakrlya ba11lu beyharay

(@

~ h t n

~ a y r a h )

Itatfir sayak kdiyart ~ b u , ~e l f l h e

~ e f l i k a

llgkang saged K e y ~ ~ i t r a

~ t i i r ~ k c r i ,

Matur Nuwurr sedaya Dorar BnlltlLafl

1g~i

~ e r h a t t i ~ i ~ p ~ ~ ~

(3)

RINGKASAN

DWI KURNIAWATI. Kesesuaian lnstar Larva Spodoptera litura Fabricius

(Lepidoptera: Noctuidae) sebagai lnang Parasitoid Larva Snellenius

(=Microplitis) manilae Ashmead (Hymenoptera: Braconidae) (Di bawah

bimbingan ENDANG SRI RATNA dan DEW1 SARTIAMI).

Larva ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu inang en-

doparasitoid larva Snellenius (=Microplitis) manilae.

Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini ada tiga, yaitu kese-

suaian inang untuk peletakan telur parasitoid, kesesuaian inang untuk ke-

langsungan hidup parasitoid dan pemilihan inang oleh parasitoid. Pengamat-

an kesesuaian inang untuk peletakan telur dilakukan dengan memaparkan

larva pada parasitoid di dalarn ku'rungan plastik kecil. Di dalam setiap ku-

rungan tersebut terdapat 30 laiba inang dari instar yang saka yang ditempat-

kan pada satu pucuk tanaman kedelai dan sepasang imago parasitoid ber-

umur empat hari. Pemaparan parasitoid dilakukan mulai dari jam 08.00

-

10.00 wib. Larva S. litura kemudian dibedah, segera setelah pemaparan se-

lesai. Selanjutnya dihitung tingkat parasitisasi dan tingkat superparasitisme

yang terjadi pada masing-masing instar.

Pengamatan kesesuaian inang untuk kelangsungan hidup parasitoid

dilakukan dengan cara yang sama seperti di atas, sampai pada tahap pe-

maparan parasitoid. ~elanjutnya larva dipelihara dalam kotak pemeliharaan

dan ditunggu sampai terbentuk pupa dan muncul sebagai imago. Selanjut-

nya dihitung tingkat keberhasilan terbentuknya pupa dan tingkat keberhasilan

(4)

II

Pengarnatan pernilihan inang dilakukan dengan memaparkan 150

larva S. litura masing-masing 30 larva dari instar I, 11. 11, IV dan V pada

sepasang imago parasitoid di dalarn kurungan plastik besar. Larva dari

masing-masing instar yang berbeda diletakkan pada setiap pucuk tanaman

kedelai yang berbeda. Peletakan pucuk-pucuk tanarnan kedelai tersebut da-

lam kurungan dilakukan secara acak. Pernaparan dilakukan selarna dua jam

dari 08.00-10.00 wib. Segera setelah pernaparan selesai, larva-larva tersebut

dibedah. Selanjutnya dihitung tingkat parasitisasi yang terjadi pada rnasing-

rnasing instar larva.

Larva S. litura yang paling sesuai untuk peletakan telur ialah larva ins-

tar Ill dengan tingkat parasitisasi rata-rata sebesar 56%. Ukuran tubuh inang

larva instar Ill mernudahkan parasitoid rneletakkan telurnya karena reaksi fisik

yang diberikan oleh inang lebih kecil dibandingkan pada instar IV dan V.

Ukuran tubuh instar II dan I11 lebih besar daripada instar I, sehingga inang

tersebut lebih rnudah ditemukan oleh parasitoid.

Larva S. lifura yang paling sesuai untuk kelangsungan hidup parasitoid

adalah larva instar 11, meskipun peletakan telur tertinggi terjadi pada larva ins-

tar Ill. Kelangsungan hidup parasitoid ditandai dengan keberhasilan perkern-

bangan telur menjadi imago sebesar 15%. Keadaan kritis relatif mernpe-

ngaruhi perkernbangan larva dibandingkan perkembangan pupa parasitoid,

rnengingat persentase keberhasilan pernbentukan pupa relatif jauh lebih kecil

(1 9%) dibandingkan dengan pernunculan imago (81

YO).

Hal ini diperkirakan

oleh adanya superparasitisrne, sebagai contohnya persentase superparasi-

(5)

...

111

kemampuan larva parasitoid untuk bertahan lebih baik terjadi pada larva ins-

tar II dibandingkan larva instar 111.

Imago betina parasitoid lebih rnemilih inang larva instar Ill. Persentase

parasitisasi yang terjadi pada larva instar Ill sebesar 41,67%. Perilaku para-

sitoid dalam pemilihan inang 'kemungkinan dipengaruhi oleh ukuran inang,

kemampuan parasitoid bertahan melawan pertahanan inang, serta keter-

sediaan makanan untuk menyelesaikan fase perkembangan parasitoid itu

(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)

KESESUAIAN INSTAR LARVA

Spodoptera litura

Fabricius

(LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) SEBAGAI INANG PARASlTOlD

LARVA

Snellenius (=Microplitis) manilae

Ash

mead

(HYMENOPTERA: BRACONIDAE)

Oleh

DWI KURNlAWATl

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKU LTAS PERTANIAN

(50)

s n k a ~ ~ k a h

Kalfli telah laya~vkan ~rftf&tnn

dadcmtu

Dm11

~zal~li

telah hihngkatl darpadamu hebatzrrlu

Y a y

~~le~rrheratka~lyungglirglnu

Dalr Katili tirr~gika~

baai~itu sebutarlnlri

Knlala ses~tnggi~hlya

sesudah kendita~ itu ada ker~tudaha~l

srsrcnggnhnya seesudah kesulitan itu ada ketitudahan

aka

ayahila katitu teIah seIesai

,

kerjakanlah sarrgguh-sungg~lh y a y lain

Dall halya kepada ~uharilah hendakrlya ba11lu beyharay

(@

~ h t n

~ a y r a h )

Itatfir sayak kdiyart ~ b u , ~e l f l h e

~ e f l i k a

llgkang saged K e y ~ ~ i t r a

~ t i i r ~ k c r i ,

Matur Nuwurr sedaya Dorar BnlltlLafl

1g~i

~ e r h a t t i ~ i ~ p ~ ~ ~

(51)

RINGKASAN

DWI KURNIAWATI. Kesesuaian lnstar Larva Spodoptera litura Fabricius

(Lepidoptera: Noctuidae) sebagai lnang Parasitoid Larva Snellenius

(=Microplitis) manilae Ashmead (Hymenoptera: Braconidae) (Di bawah

bimbingan ENDANG SRI RATNA dan DEW1 SARTIAMI).

Larva ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu inang en-

doparasitoid larva Snellenius (=Microplitis) manilae.

Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini ada tiga, yaitu kese-

suaian inang untuk peletakan telur parasitoid, kesesuaian inang untuk ke-

langsungan hidup parasitoid dan pemilihan inang oleh parasitoid. Pengamat-

an kesesuaian inang untuk peletakan telur dilakukan dengan memaparkan

larva pada parasitoid di dalarn ku'rungan plastik kecil. Di dalam setiap ku-

rungan tersebut terdapat 30 laiba inang dari instar yang saka yang ditempat-

kan pada satu pucuk tanaman kedelai dan sepasang imago parasitoid ber-

umur empat hari. Pemaparan parasitoid dilakukan mulai dari jam 08.00

-

10.00 wib. Larva S. litura kemudian dibedah, segera setelah pemaparan se-

lesai. Selanjutnya dihitung tingkat parasitisasi dan tingkat superparasitisme

yang terjadi pada masing-masing instar.

Pengamatan kesesuaian inang untuk kelangsungan hidup parasitoid

dilakukan dengan cara yang sama seperti di atas, sampai pada tahap pe-

maparan parasitoid. ~elanjutnya larva dipelihara dalam kotak pemeliharaan

dan ditunggu sampai terbentuk pupa dan muncul sebagai imago. Selanjut-

nya dihitung tingkat keberhasilan terbentuknya pupa dan tingkat keberhasilan

(52)

II

Pengarnatan pernilihan inang dilakukan dengan memaparkan 150

larva S. litura masing-masing 30 larva dari instar I, 11. 11, IV dan V pada

sepasang imago parasitoid di dalarn kurungan plastik besar. Larva dari

masing-masing instar yang berbeda diletakkan pada setiap pucuk tanaman

kedelai yang berbeda. Peletakan pucuk-pucuk tanarnan kedelai tersebut da-

lam kurungan dilakukan secara acak. Pernaparan dilakukan selarna dua jam

dari 08.00-10.00 wib. Segera setelah pernaparan selesai, larva-larva tersebut

dibedah. Selanjutnya dihitung tingkat parasitisasi yang terjadi pada rnasing-

rnasing instar larva.

Larva S. litura yang paling sesuai untuk peletakan telur ialah larva ins-

tar Ill dengan tingkat parasitisasi rata-rata sebesar 56%. Ukuran tubuh inang

larva instar Ill mernudahkan parasitoid rneletakkan telurnya karena reaksi fisik

yang diberikan oleh inang lebih kecil dibandingkan pada instar IV dan V.

Ukuran tubuh instar II dan I11 lebih besar daripada instar I, sehingga inang

tersebut lebih rnudah ditemukan oleh parasitoid.

Larva S. lifura yang paling sesuai untuk kelangsungan hidup parasitoid

adalah larva instar 11, meskipun peletakan telur tertinggi terjadi pada larva ins-

tar Ill. Kelangsungan hidup parasitoid ditandai dengan keberhasilan perkern-

bangan telur menjadi imago sebesar 15%. Keadaan kritis relatif mernpe-

ngaruhi perkernbangan larva dibandingkan perkembangan pupa parasitoid,

rnengingat persentase keberhasilan pernbentukan pupa relatif jauh lebih kecil

(1 9%) dibandingkan dengan pernunculan imago (81

YO).

Hal ini diperkirakan

oleh adanya superparasitisrne, sebagai contohnya persentase superparasi-

(53)

...

111

kemampuan larva parasitoid untuk bertahan lebih baik terjadi pada larva ins-

tar II dibandingkan larva instar 111.

Imago betina parasitoid lebih rnemilih inang larva instar Ill. Persentase

parasitisasi yang terjadi pada larva instar Ill sebesar 41,67%. Perilaku para-

sitoid dalam pemilihan inang 'kemungkinan dipengaruhi oleh ukuran inang,

kemampuan parasitoid bertahan melawan pertahanan inang, serta keter-

sediaan makanan untuk menyelesaikan fase perkembangan parasitoid itu

(54)
(55)
(56)
(57)
(58)

Referensi

Dokumen terkait

Adapun judul skripsi ini adalah “Daya Predasi Cecopet (Forficula auricularia) (Dermaptera : Nisolabididae) Pada Berbagai Instar Larva Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Penelitian bertujuan untuk mengetahui patogenisitas Beauveria bassiana pada kerapatan konidia dan waktu aplikasi yang berbeda terhadap larva Spodoptera litura pada tanaman

argenteo- pilosus menunjukkan bahwa pupa parasitoid bisa terbentuk tapi dalam perkembangan tidak menjadi imago karena terjadi gagal pupa, yaitu rumah pupa terbentuk

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Respon Kedatangan Ngengat Spodoptera litura Fabricius (Lepidoptera : Noctuidae) Terhadap

Pengendalian lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan Spodoptera litura pada tanaman kedelai selain menggunakan insektisida kimia yaitu dengan menggunakan virus

Patogenisitas Jamur Entomopatogen Beauveria Bassiana Balsamo (Deuteromycetes: Moniliales) Pada Larva Spodoptera Litura Fabricius (Lepidoptera: Noctuidae).. Life History Of Common

Pengujian dilakukan pada 10 pasang imago parasitoid sebagai ulangan, untuk menentukan beberapa parameter pengamatan antara lain: tingkat parasitisisasi, jumlah telur

yang berasal dari rizosfir tanaman kubis merupakan isolat yang lebih virulen terhadap telur dan larva larva.. litura instar I dibandingkan dengan isolat yang