BAB I AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

23 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit. Meskipun kosmetik umumnya dipakai pada kulit, tidak tertutup kemungkinan efek sampingnya mengenai daerah lain misalnya iritasi pada mata, pada pemakaian shampo dan tata rias.

(2)

B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud Percobaan

Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk Menguji efektifitas penggunaan kosmetik yang dapat menyebabkan iritasi pada hewan uji coba kelinci (Oryctolagus cuniculus).

2. Tujuan Percobaan

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Iritasi

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal. Dermatitis kontak adalah reaksi fisiologik yang terjadi pada kulit karena kontak dengan substansi tertentu, dimana sebagian besar reaksi ini disebabkan oleh iritan kulit (dermatitis kontak iritan) dan sisanya disebabkan oleh alergen (dermatitis kontak alergi) yang merangsang reaksi alergi. Dermatitis kontak iritan merupakan inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema, edema ringan dan pecah-pecah. DKI merupakan respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimia langsung yang melepaskan mediator-mediator inflamasi yang sebagian besar berasal dari sel epidermis.

(4)

terjadi akibat pemakaian kosmetik, terutama yang mengandung bahan bersifat asam, basa, dan abrasif.

Adakalanya suatu bahan kimiawi menyebabkan suatu respons iritasi pada kulit sebagai contoh : sabun, jika disertai dengan mencuci berulang-ulang dapat menyebabkan iritasi kulit.

B. Penyebab Iritasi

Iritasi kulit disebabkan oleh suatu bahan dapat terjadi pada setiap orang, tidak melibatkan sistem imun tubuh dan ada beberapa faktor-faktor tertentu yang memegang peranan seperti keadaan permukaan kulit, lamanya bahan bersentuhan dengan kulit, usia pasien, adanya okulasi dan konsentrasi dari bahan.

Hal-hal yang dapat menyebabkan iritasi: 1. Reaksi Kulit terhadap Bahan Pengawet

(5)

obat oles atau kosmetika pada kulit yang terluka atau sedang mengalami iritasi.

2. Reaksi Kulit Terhadap Sabun dan Deterjen

Reaksi kulit terhadap pemakaian sabun dan detergen dapat terjadi berdasarkan iritasi kulit akibat pemakaian yang berlebihan. Terjadinya iritasi kulit oleh pemakaian sabun kemungkinan disebabkan oleh sifat alkalis sabun disertai dengan daya menghapus minyak dari kulit dan sifat iritasi dari asam lemak. Pernah dilaporkan terjadinya depigmentasi kulit oleh pemakaian sabun yang mengandung fenol. Sabun sebagai iritan utama dapat merupakan faktor yang memperlambat penyembuhan dari eksema pada tangan. Untuk menghindari reaksi iritasi ini, kurangi pemakaian sabun.

3. Salah Kosmetik Sebabkan Iritasi Kulit

Kulit yang wajah sensitif cepat sekali memberikan reaksi iritasi jika salah dalam merawatnya. Biasanya, kulit wajah yang sensitif akan cepat memerah jika kosmetika yang dipakai tidak cocok. Terasa pedih dan kemudian akan muncul bintik-bintik merah yang mengakibatkan kulit menjadi mudah teriritasi. Alkohol yang terkandung dalam kosmetik biasanya sering menyebabkan iritasi.

(6)

1. Gangguan pada saraf Dilansir, Husinah Rubuna Thamrin Akib dari BPOM mengatakan bahwa merkuri sangat berbahaya karena termasuk logam berat. Sekecil apapun merkuri yang masuk ke dalam tubuh akan menjadi racun. Salah saru efek samping pemakaian merkuri adalah gangguan pada saraf. Anda akan mengalami kasus, seperti alzheimer dan parkinson dengan gejala insomnia, gemetar, gangguan penglihatan, pikun, depresi, dan disorientasi ruang. akibat memakai kosmetik bermerkuri.

2. Memperlambat pertumbuhan janin nerkuri yang tidak bisa dibuang oleh ginjal, ditumpuk di badan dan akan masuk ke janin ketika Anda hamil. Dengan begitu, akan bisa memperlambat pertumbuhan janin dan si anak juga akan mengalami autisme.

3. Wajah akan menjadi lebih rusak Krim yang mengandung merkuri pada awalnya memang terasa manjur dan membuat nampak putih berseri. Tapi, lama-kelamaan kulit akan menghitam dan menyebabkan jerawat semakin parah. Selain itu, wajah juga akan timbul flek-flek hitam yang sangat parah.

(7)

5. Kerusakan pada ginjal Bau urin akan menjadi tajam setelah memakai krim bermerkuri. Selain itu, orang yang memakai krim bermerkuri juga akan merasakan sakit pinggang. Namun, bukan karena kelelahan tapi karena logam berat yang menumpuk di ginjal sehingga bisa mengakibatkan gagal ginjal.

6. Penyakit kanker Pemakaian kosmetik yang mengandung bahan merkuri lama-kelamaan akan mengakibatkan kanker kulit, kanker payudara, kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan jenis kanker lainnya. Efek samping yang ditimbulkan jika memakai kosmetik berbahan merkuri itu tentunya sangat membahayakan kesehatan. Sekali masuk dalam tubuh, merkuri sangat sulit bahkan hampir tidakmungkin dikeluarkan. Untuk itu, Anda harus berhati-hati dalam memilih kosmetik. Pastikan kosmetik yang digunakan aman dan sudah terdaftar oleh BPOM atau badan kesehatan dunia yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan juga tergiur krim pemutih yang berdar di pasaran, sekalipun harganya mahal.

C. Mekanisme Iritasi

(8)

Dermatitis kontak iritan dapat terjadi melalui dua jalur: efek langsung iritan terhadap keratinosit dan kerusakan sawar kulit. Efek langsung iritan pada keratinosit, pada iritasi akut, penetrasi iritan melewati sawar kulit akan merusak keratinosit dan merangsang pengeluaran mediator inflamasi diikuti dengan aktivasi sel T. Selanjutnya terjadi akumulasi sel T dengan aktivasi tidak lagi bergantung pada penyebab. Hal tersebut dapat menerangkan kesamaan jenis infiltrat dan sitokin yang berperan antara Dermatitis kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi. Peradangan hanya merupakan salah satu aspek sindrom iritasi. Apabila terjadi pajanan dengan konsentrasi suboptimal maka reaksi yang terjadi langsung kronik.

(9)

D. Anti Iritasi dan pengobatan

Anti-iritasi adalah aspek vital dari formula perawatan kulit. Apapun penyebabnya, iritasi adalah permasalahan untuk semua jenis kulit, namun sangat sulit untuk dihindari. Entah karena matahari, kerusakan oksidatif dari polusi, atau dari produk perawatan kulit yang digunakan, iritasi dapat menjadi permasalahan terus-menerus bagi kulit. Ironisnya, bahkan bahan-bahan yang di butuhkan seperti zat-zat tabir surya, pengawet, exfoliant kulit, dan zat-zat pembersih dapat menyebabkan iritasi. Bahan-bahan lain, seperti pewangi, methol, dan ekstrak tanaman yang menyebabkan kulit sensitif, adalah penyebab utama iritasi dan umumnya tidak memberikan hasil yang menguntungkan bagi kulit jadi penggunaan zat-zat ini tidak berguna,setidaknya jika serius ingin menciptakan dan mempertahankan kulit yang sehat.

Anti-iritasi sangat membantu karena memberikan waktu penyembuhan bagi kulit dan mengurangi permasalahan oksidatif dan sumber kerusakan eksternal. Anti-iritasi seperti Metil salisilat bekerja sebagai anti iritan lokal dan mampu berpenetrasi sehingga menghasilkan efek analgesik.

Pengobatan

(10)

tidak terjadi komplikasi, maka dermatitis iritan tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan topikal, mungkin cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering.

Apabila diperlukan, untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan yang kronis bisa diawali dengan kortikosteroid yang lebih kuat.

Pemakaian alat pelindung yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan, untuk mencegah kontak dengan bahan tersebut.

E. Uraian Hewan Coba

A. Klasifikasi Hewan Kelinci (Festing : 1979) Kingdom : Animalia

Fillum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Lagorhapha Familia : Lapordidae

Genus : Oryctolagus

Spesis : Oryctolagus cuniculus

B. Karakteristik Hewan Kelinci ( Festing : 1979 ) Lama hidup : 8 tahun

(11)

Masa tumbuh : 38,5 hari Masa puberitas : 4 bulan

Masa beranak : 5 kali dalam setahun Masa hamil : 28-36 hari

Jumlah sekali lahir : 5-6 ekor Frekuensi kelahiran : 3-4 kali/tahun Luas permukaan tubuh : 12,89 kg

Bobot badan dewasa

Jantan : 2-5 kg Betina : 4-6,5 kg Bobot lahir : 30-100 g C. Morfologi Hewan Kelinci (Festing : 1979)

Kelinci (Orytolagus cuniculus) berpungung melengkung dan berekor pendek, kepalanya pendek dengan daun telinga yang tegak keatas akan tetapi ada beberapa jenis kelinci yang terkulai ke bawah. Kelinci memiliki bibir yang bagian atasnya terbelah dan bergabung hingga hidung, beberapa misa atau kumis panjang yang keras atau tepat di hidung. Disekitar mata terdapat beberapa helai bulu mata yang panjang. Telinga kelinci yang besar dan banyak terdapat saluran darah, kaki belakang kelinci lebih panjang dan kuat dibanding dengan kaki depannya yang berjari dan berkuku empat, kelinci merupakan hewab pelonoat.

(12)

jagung yang kering dan sepotong kayu sebagai sarana untuk mengasah gigi dan kukunya.

(13)

BAB III

METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan

A. Alat yang digunakan : 1. Alat cukur

2. Gunting rambut

3. Keranjang tempat kelinci 4. Mistar

5. Pensil/ Spidol

B. Bahan yang digunakan : 1. Aquadest

2. Cream Dokter White 3. Kasa steril

(14)

B. Cara kerja

A. Pencukur ‘an kelinci (Oryctolagus cuniculus)

1. Buat 6 kotak berukuran 2 X 2 pada punggung kelinci, cukur ke-6 kotak tersebut.

2. Beri batas yang jelas pada kotak tersebut

3. Punggung kelinci bagian kiri untuk kulit yang normal, sedangkan punggung kelinci bagian kanan untuk kulit yang lecet.

B. Pemberian zat uji

1. Sebelum dioleskan zat uji, kulit hewan uji dibersihkan pelan-pelan dengan kapas bersih yang dibasahi air.

2. Lalu kulit diolesi dengan zat uji sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.

3. Setelah itu, kulit dilapisi dengan plastik tipis dan kasa steril, dibuat sedemikian rupa sehingga dipastikan hewan uji tidak dapat menelan senyawa uji yang diberikan.

(15)

BAB IV

HASIL PENGAMATAN A. Tabel Pengamatan pada Kulit Normal

Perlakua

n

Pengamatan 24 jam Pengamatan 72 jam

Eritema Edema Eritema Edema

I II III I II III I II III I II III

1x oles

0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0

2x oles

0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1

Aquades

0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0

B. Tabel Pengamatan pada Kulit Lecet

Perlakuan

Pengamatan 24 jam Pengamatan 72 jam

Eritema Edema Eritema Edema

I II III I II III I II III I II III

1x oles 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 2 0

2x oles 0 2 0 0 1 0 0 2 1 0 1 0

(16)

B. Tabel Indeks Nilai Eritema dan Edema

Perlakua

n

Rata-rata

eritema

Indeks eritem a primer

Rata-rata

edema

Indeks edema primer

Indek s

iritasi prime r Norma

l

Lecet Norma

l

Lecet

1x oles 0,33 0,5 0,415 0,33 0,5 0,415 0,83

2x oles 0,67 0,83 0,75 0,617 0,33 0,25 1

(17)

BAB V PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, percobaan yang dilakukan adalah uji iritasi primer dengan metode uji temple (patch test). Adapun hewan uj yang digunakan adalah kelinci (Oryctolagus cuniculus). Iritasi adalah suatu reaksi kulit terhadap zat kimia misalnya alkali kuat, asam kuat, pelarut dan deterjen. Beratnya bermacam-macam dari hyperemia, edema dan vasikulasi sampai pemborokkan. Iritasi primer terjadi ditempat kontak dan umumnya pada sentuhan pertama. Adapun dalam melakukan praktikum ini kami menggunakan bentuk sediaan topical berupa kosmetik dengan merk dagang pada bedak kosmetik Dokter White dan Krim malam Scholar.

(18)

pendarahan dan kulit bagian kanan ditandai pada setiap kelompok perlakuan yaitu I – IV.

Tahap berikutnya dengan pemberian zat uji dan melakukan pengamatan gejala toksik dengan prosedur kerjanya yakni sebelum dioleskan zat uji, kulit hewan uji dibersihkan pelan-pelan dengan kapas atau tissue dibasahi aquadest. Lalu kulit diolesi dengan zat uji dengan dosis yang telah dilakuakan. Setelah itu, kulit diperban lalu diplaster, dibuat sedemikian rupa sehingga dipastikan hewan uji tidak menelan hewan uji yang diberikan. Berikan zat uji sekali sehari dan juga dilakukan pengamatan gejala toksit selama 3 hari.

Kemudian dilakukan analisa hasil dengan data hasil pengamatan secara kualitatif, yaitu pengamatan gejala toksik berupa eritema dan edema yang terjadi pada kulit yang dileceti. Pengamatan ini dilakukan setelah 24 dan 72 jam terakhir.

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai indeks iritasi primer pada perlakuan I untuk pengolesan krim scholar sebanyak 1 X hanya sedikit mengiritasi kulit.

(19)

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa zat uji yang digunakan dalam percobaan uji iritasi dinyatakan tidak aman digunakan karena merupakan iritasi moderat.

B. Saran

(20)

LAMPIRAN

Perhitungan

Analisa secara kuantitatif berupa perhitungan indeks iritasi primer pada kulit kelinci.

a. Perlakuan pertama 1 x oles

1. Rata-rata eritema normal

eritema kulit normal24 jam+eritema kulit72jam 2

2. Rata-rata edema normal

edemakulit normal24 jam+edema kulit72jam 2

eritema kulit lecet24jam+eritemakulit lecet72jam 2

edemakulit lecet24 jam+edema kulit lecet72jam 2

(21)

0,33+0,5 2 =

1

3 = 0,415 6. Indeks edema primer

ratarata edemakulit normal24 jam+ratarata edema kulit lecet72jam 2

0,33+0,5

2

=

0,415 7. Indeks iritasi primer

Indeks iritasi primer = indeks eritema primer + indeks edema = 0,415 + 0,415 = 0,83

b. Perlakuan ke-2 yaitu dengan 2 x oles 1. Rata-rata eritema normal

0+1

2. Rata-rata edema normal

(22)

7. Indeks iritasi primer 0,75 + 0,25 = 1

C. Perlakuan ke- 3 yaitu dengan aquadest 1. Rata-rata eritema normal

0+0

2. Rata-rata edema normal 0+02 +0+0

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. FARMAKOPE INDONESIA EDISI III. Jakarta. Depkes RI Anonim, 1995. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV. Jakarta. Depkes RI Festhing. 1979. KLASIFIKASI ANIMALIA. Bandung. Regina

Junquera LC, Carneiro J. 2007. HISTOLOGI TEKS DAN ATLAS. Jakarta Wasita Atmaja, 1997. KOSMETIK. avaible

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...