Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story

111 

Teks penuh

(1)

TINDAK TUTUR PERMINTAAN

DALAM FILM TOKYO LOVE STORY

TESIS

Oleh

ROSMITA SYAHRI / LNG

097009004

SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

TINDAK TUTUR PERMINTAAN

DALAM FILM TOKYO LOVE STORY

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Pada

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

ROSMITA SYAHRI / LNG

097009004

SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Persetujuan Komisi Pembimbing Judul Tesis : TINDAK TUTUR PERMINTAAN DALAM FILM TOKYO LOVE STORY Nama Mahasiswa : Rosmita Syahri

Nomor Pokok : 097009004 Program Studi : Linguistik Konsentrasi : Bahasa Jepang

Menyetujui Komisi Pembimbing

( Prof. Amrin Saragih, M. A., Ph. D) (Dra. Siti Muharami Malayu, M. Hum) Ketua Anggota

Ketua Pogram Studi Direktur

(Prof. T. Silvana Sinar, M. A., Ph. D) (Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE )

(4)

Telah diuji pada

Tanggal 2 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Amrin Saragih, M.A.,Ph.D.

Aggota : 1. Dra. Siti Muharami Malayu, M.Hum. 2. Dr. Deliana, M. Hum

(5)

PERNYATAAN

TINDAK TUTUR PERMINTAAN

DALAM FILM TOKYO LOVE STORY

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai Syarat untuk

memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya saya

sendiri.

Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian –bagian tertentu dari hasil karya

orang lain dalam Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya sacara jelas sesuai dengan

norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata di temukan Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri

atau adanya plagiat, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya

sandang dan sanksi-sanksi lainya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 2 Agustus 2011

(6)

RIWAYAT PENULIS

A.

IDENTITAS

Nama : Rosmita Syahri

Tempat / Tgl lahir : Medan / 4 Oktober 1986

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan : Mahasiswa

Agama : Islam

Alamat : Jln, SMA 7 no. 44 Lubuk Buaya Padang

Email : tabitha_libra2000@yahoo.com

B. PENDIDIKAN

1. Tahun 1992-1998 tamat SDN 20 Sangkir, Lubuk Basung.

2. Tahun 1998-2001 tamat SMPN 10 Medan.

3. Tahun 2001- 2004 tamat SMU ADABIAH Padang.

4. Tahun 2004-2008 tamat kuliah Jurusan Sastra Asia Timur Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Bung Hatta Padang.

5. Tahun 2007-2008 Mendapat Beasiswa Pertukaran Mahasiswa antara Universitas

Bung Hatta dengan Sonoda Women’s University, Osaka Jepang.

6. Tahun 2009 – Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Pada

(7)

C. PENGALAMAN KERJA

1. Tahun 2008 – 2009 Guru honorer SMK N 10 Kelautan Padang.

2. Tahun 2010 – Sekarang Guru MA. Miftahussalam Medan.

D. PENGALAMAN ORGANISASI

1. Tahun 2006-2007 tercatat sebagai Anggota Jurnalistik Wawasan Proklamator (Koran

Kampus) Universitas Bung Hatta.

2. Tahun 2007-2008 tercatat sebagai Anggota klub nihon buyou (Tari Jepang) Sonoda

University, Osaka Jepang.

3. Tahun 2007-2008 tercatat sebagai Anggota klub shadou (Kebudayaan Teh Jepang)

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT,

serta salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,

atas segala rahmat dan karunia Nya lah sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

Tesis ini disampaikan untuk melengkapi salah satu persyarat menyelesaikan studi

pada Program Studi Konsentrasi Linguistik Jepang, Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara.

Tesis ini berjudul “Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story” yang

terdiri atas enam bab yaitu: Bab I : Pendahuluan, Bab II : Tinjauan Pustaka, Bab III :

Metode Penelitian, Bab : IV : Analisis dan Pembahasan, Bab V : Temuan Hasil Penelitian,

Bab VI : Simpulan dan Saran.

Pemilihan judul ini berkaitan dengan ketertarikan peneliti, sebagai pembelajar

bahasa Jepang, terhadap temuan dan teori-teori para linguis yang berkenaan dengan

kajian pragmatik khususnya mengenai tindak tutur.

Hasil penelitian yang tertuang pada tesis ini diharapkan dapat memberi

sumbangan bagi kajian pragmatik di Indonesia khususnya bagi pembelajar bahasa Jepang

mengenai tindak tutur dalam bahasa Jepang.Akhirnya penulis mengharapkan sumbangan

pikiran, pendapat, serta kritik membangun dari segala pihak untuk kesempurnaan tesis ini.

Medan, Juli 2011

Penulis,

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT,

serta salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,

atas segala rahmat dan karunia Nya lah sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

Adapun yang menjadi topik penelitian dalam tesis ini adalah suatu analisis tindak

tutur yang diberi judul : ‘Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story ‘.

Tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi guna menyelesaikan Sekolah

Pascasarjana pada Program Studi Konsentrasi Linguistik Jepang, Universitas Sumatera

Utara.

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang perlu

disempurnakan terutama yang berkaitan dengan isi tesis ini, untuk itu dengan segala

kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari

para pembaca.

Dalam proses penulisan tesis ini, banyak pihak yang telah memberikan saran,

bimbingan, bantuan dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung sejak

awal penulisan sampai tesis ini terselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tuaku yang sangat kusayangi yang

telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yakni ayahanda Syahrial

S.S.,M.Hum dan ibunda Rosdaini beserta adik-adik penulis yang penulis sayangi (Erni,

Budi dan Lia) serta untuk seseorang yang sangat penulis sayangi terima kasih untuk

semangatnya yang selalu dibagi kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Penulis

(10)

1. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, sebagai Direktur Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Prof. Tengku Silvana Sinar, Ph.D.,sebagai Ketua Program Studi Linguistik

Sekolah Pascasarjana dan ibu Dr. Nurlela M,Hum., sebagai Sekretaris Program

Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana.

3. Bapak Drs. Yuddi Adrian Muliadi M.A., Sebagai Koordinator Konsentrasi

Bahasa Jepang Program Studi Magister Linguisik Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., sebagai dosen pembimbing pertama

yang telah bersedia menyediakan waktu untuk membagi pengetahuan, pandangan,

masukan serta bimbingan bagi penulis selama pengerjaan tesis ini.

5. Ibu Dra. Siti Muharami Malayu, M. Hum., sebagai dosen pembimbing kedua

yang telah bersedia menyediakan waktu untuk membagi pengetahuan, pandangan,

masukan serta bimbingan bagi penulis selama pengerjaan tesis ini.

6. Ibu Dr. Deliana, M. Hum dan Bapak Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP sebagai dosen

penguji atas segala koreksi, masukan-masukan selama kolokium, seminar hasil

dan sidang.

7. Seluruh staf pengajar / dosen-dosen saya di Program Magister Linguistik USU

yang telah memberikan pendidikan pelajaran dan bimbingan pada penulis dari

semester awal hingga menamatkan perkuliahan.

8. Seluruh staf pengajar / dosen-dosen saya di Fakultasa Ilmu Budaya Sastra Asia

Timur Universitas Bung Hatta yang telah memberikan dorongan serta

(11)

9. Seluruh staf administrasi Program Magister Linguistik Universitas Sumatera

Utara.

10. Teman-teman angkatan 2009 baik yang dari Jurusan Linguistik Umum,

Konsentrasi Linguistik Jepang, Konsentrasi Linguistik Arab, Analisis Wacana dan

Kesusastraan dan Translation.

11. Teman-teman penulis di Bung Hatta (via dan putri) beserta teman-teman yang

lainnya ang telah memberikan semangat serta masukan untuk penulis.

12. Panitia Seminar Linguistik USU 2010-2011 yang telah berkenan hadir dalam

prakolokium dan memfasilitasi pra seminar hasil di program studi linguisti.

13. Penulis juga mengucapkan rasa terima kasih pada semua pihak yang secara

langsung atau tidak langsung, membantu penulis menyelesaikan tesis ini.

Selanjutnya penulis mengucapkan terimakasih kepada keluarga ibunda Ermiati,

SS dan pak Zulnaidi, SS, M, Hum beserta keluarga (kak Evi, bang Andi, Ani, Erna

dan Tia) yang telah banyak sekali membantu penulis dalam masa perkuliahan sampai

akhirnya penulis menyelesiakan tesis ini baik secara moril ataupun materil dan tidak

henti-hentinya memberikan dukungan, semangat serta saran kepada penulis.

Terimakasih penulis ucapkan kepada Kak Elviati Saprina Amd beserta suami Drs.

Husnel Anwar Matondang M.Ag dan anak (Rido, Shaza, Dura, Fudla dan Tsuroiya)

dan Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Bang Sabriandi Erdian, SS, M, Hum.

beserta istri kak Eka Satria Bukhari dan anak (‘Akilla dan Mufliha) yang telah

membantu penulis selama masa kuliah dan menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan dan oleh karena

(12)

tesis ini. Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan

yang setimpal dari Allah SWT, Amien Yaa Rabbal Alamin. Akhir kata penulis

berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, Juli 2011

Penulis,

(13)

DAFTAR ISI

2.5 Fungsi Tindak Tutur ...26

2.6 Jenis Tindak Tutur...29

(14)

2.8 Kajian Terdahulu / Sebelumnya...33

2.9 Kerangka Konseptual...34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...36

3.1 Metode Penelitian...36

3.2 Sumber Data...36

3.3 Teknik Pengumpulan Data...37

3.4 Analisis Data...37

3.5 Contoh Analisis Data...38

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN...40

4.1 Analisis Data...………40

4.1.1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan, pada Data Ragam Kinerja Verbal...40

4.1.2 Kinerja Kesopanan………...45

4.1.3 Kinerja Ketidaksopanan………..47

4.1.4 Pemakaian Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Bahasa Jepang dalam Film Tokyo Love Story...48

4.2 Pembahasan………....……….48

4.2.1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan……….48

4.2.1.1Tuturan Bermodus Imperatif……….………...49

4.2.1.2 Tuturan Performatif Eksplisit………52

4.2.1.3 Tuturan Performatif Berpagar……….………...54

4.2.1.4 Tuturan Dengan Proposisi Keharusan………….………..…………57

4.2.1.5 Tuturan yang Menunjukkan Kesangsian (pesimis)………59

4.2.1.6 Tuturan Pengandaian Bersyarat………..………...64

(15)

4.2.3 Kinerja Ketidaksopanan………..………..72

4.2.4 Pemakaian Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Bahasa Jepang dalam Film Tokyo Love Story…………..………..….74

BAB V TEMUAN HASIL PENELITIAN...77

5.1 Temuan hasil penelitian...77

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN………...79

Simpulan………….………..………...…….…………79

Saran……….………..………..………...81

(16)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Ragam kinerja verbal tindak tutur………..40

2. Kinerja kesopanan………..45

3. Kinerja ketidaksopanan………..47

4. Temuan hasil penelitian……….77

(18)

ABSTRAK

Rosmita Syahri . 2011. Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story

Medan : Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Tesis ini mengkaji tentang tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story .Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menguraikan jenis dan fungsi tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story.Teori utama yang digunakan adalah untuk menganalisis jenis tindak tutur penulis menggunakan teori Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis –jenis tindak tutur menjadi dua jenis. Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka (1987) yang membagi fungsi tindak tutur menjadi sembilan kelompok.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun dan mengklasifikasikannya, menganalisis serta menginterprestasikannya.. Data dikumpulkan dengan cara mendengarkan dan mencatat semua tuturan permintaan pada kolom jenis tindak tutur dan fungsi tindak tutur. Hasil penelitian tentang tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story ini menunjukkan dalam interaksi masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, genderlaki-laki lebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, sementara tuturan dalam interaksi yang digunakan oleh junior, lebih muda, pembantu, gender perempuan lebih cenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan tidaklangsung (ketidakterusterangan).

(19)

ABSTRACT

Rosmita Syahri. 2011. Speect acts found in the Tokyo Love Story Film. School Student. Medan. Postgraduate Program North Sumatera University.

This thesis deals with speect acts in Japanese found in the Tokyo Love Story Film. The objective of the study is to describe and explain the function of speect acts in the film. The study is based on the theory of speect acts as proposed by Rahardi (2009 : 19) in which two kinds of speect acts are elaborated to analyze the speect act function, reference is made to Blum Kulka (1987) who categorized the speect acts into nine types. The study was based on descriptive approach. Data were collected by listening to the expression and categorizing the types of speect act. Finding of the research about speech act order in Japanese at Tokyo Love Story film show that in interaction society of Japan speech seniority old age, boss, employer, man inclined use impolite speech, while speech in interaction use of junior, younger age, assistant, servant, woman inclined use polite and show with indirect speech (roguishness).

.

(20)

ABSTRAK

Rosmita Syahri . 2011. Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story

Medan : Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Tesis ini mengkaji tentang tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story .Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menguraikan jenis dan fungsi tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story.Teori utama yang digunakan adalah untuk menganalisis jenis tindak tutur penulis menggunakan teori Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis –jenis tindak tutur menjadi dua jenis. Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka (1987) yang membagi fungsi tindak tutur menjadi sembilan kelompok.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun dan mengklasifikasikannya, menganalisis serta menginterprestasikannya.. Data dikumpulkan dengan cara mendengarkan dan mencatat semua tuturan permintaan pada kolom jenis tindak tutur dan fungsi tindak tutur. Hasil penelitian tentang tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story ini menunjukkan dalam interaksi masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, genderlaki-laki lebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, sementara tuturan dalam interaksi yang digunakan oleh junior, lebih muda, pembantu, gender perempuan lebih cenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan tidaklangsung (ketidakterusterangan).

(21)

ABSTRACT

Rosmita Syahri. 2011. Speect acts found in the Tokyo Love Story Film. School Student. Medan. Postgraduate Program North Sumatera University.

This thesis deals with speect acts in Japanese found in the Tokyo Love Story Film. The objective of the study is to describe and explain the function of speect acts in the film. The study is based on the theory of speect acts as proposed by Rahardi (2009 : 19) in which two kinds of speect acts are elaborated to analyze the speect act function, reference is made to Blum Kulka (1987) who categorized the speect acts into nine types. The study was based on descriptive approach. Data were collected by listening to the expression and categorizing the types of speect act. Finding of the research about speech act order in Japanese at Tokyo Love Story film show that in interaction society of Japan speech seniority old age, boss, employer, man inclined use impolite speech, while speech in interaction use of junior, younger age, assistant, servant, woman inclined use polite and show with indirect speech (roguishness).

.

(22)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Bahasa adalah wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam

menjalin hubungan dengan dunia di luar dirinya. Hal itu berarti bahwa fungsi utama

bahasa adalah sumber daya untuk berkomunikasi. Sebagai media komunikasi, bahasa

tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemakaianya. Bahasa itu muncul karena adanya

kepentingan untuk menjalin hubungan interaksi sosial.

Sebagai alat komunikasi, bahasa sangat esensial dalam kehidupan manusia, yakni

untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Dengan bahasa, manusia dapat berbuat

sesuatu usaha yang berhubungan dengan kebutuhannya untuk meningkatkan taraf

kesejahteraan.

Begitu juga sebagai unsur kelengkapan hidup manusia, seperti kebudayaan, ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni, merupakan kelengkapan kehidupan manusia yang

dibudidayakan dengan menggunakan bahasa menurut Suparno dan Oka ( 1993 : 1).

Sebagai salah satu wujud budaya, bahasa dengan berbagai fungsinya merupakan

bentuk keterampilan yang harus dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupan

sehari-hari. Melalui bahasa maksud perasaan ataupun pola pikir dari penutur dapat diketahui.

Diantara berbagai fungsi bahasa seperti untuk menyampaikan perasaan,

(23)

Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Menguraikan peran

bahasa dalam setiap aspek kehidupan manusia, seperti berkomunikasi berpikir oleh

Kartomiharjo ( 1988 : 1).

Dengan demikian kajian tentang bagaimana bahasa digunakan di masyarakat

sangat diperlukan. Di masyarakat, bahasa berperan sebagai pengikat anggota-anggota

masyarakat pemakainya menjadi suatu masyarakat yang kuat, bersatu dan maju dan

fungsinya adalah untuk berinteraksi dengan sesamanya guna memenuhi segala kebutuhan

hidupnya. Bagi individu, bahasa diguakan untuk berfikir, berintrospeksi diri, berkhayal,

dan lain-lain. Sebenarnya manuasia dalam diam itu, tetap menggunakan bahasa.

Walaupun tampak diam, namun dia tidak dapat dikatakan sepenuhnya diam. Dalam

kondisi diam itu, pikiran manusia masih tetap aktif dan dalam keaktifannya itu berarti

manuasia berbahasa.

Begitu juga dalam menuturkan suatu kalimat, seseorang tidak semata-mata

mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat, ia juga “menindakkan” sesuatu. Contoh

dalam pengucapan kalimat Mau minum apa? si pembicara tidak semata-mata

menanyakan atau meminta jawaban tertentu ; ia juga menindakkan sesuatu, yakni

menawarkan minuman.

Seperti contoh berikut : seorang ibu rumah pondokan putri berbicara kepada tamu

laki lakinya;

Sudah jam sembilan!

Pada contoh diatas si ibu tidak hanya semata-mata memberi tahu keadaan jam

pada waktu itu, tetapi menindakkan sesuatu, yakni memerintahkan lawan bicara. Agar

(24)

ditindakan di dalam berbicara antara lain, permintaan (request), pemberian izin

(permission ), tawaran (offers), ajakan (invitation), penerimaan akan tawaran (acceptation

of offers) menurut Purwo ( 1990 : 19-20).

Wujud praktis penggunaan bahasa dapat dilihat dalam tindak tutur. Dalam

bertindak tutur , antara penutur dan mitra tutur selalu berhubungan dengan fungsi,

maksud, modus dan konteks yang melatari terjadinya interaksi Leech (1983 :13). Istilah

fungsi berhubungan dengan tujuan tindak, misalnya tindak yang hanya berorientasi

penutur, mitra tutur , atau tindak yang berorientasi baik penutur maupun mitra tutur

dalam interaksi. Istilah maksud berhubungan dengan tujuan tindak yang telah dibebani

oleh kemauan atau motivasi yang sadar dari pemakainya dalam interaksi Verhaar (1982 :

131) misalnya persuasi, menyindir dan sebagainya. Modus adalah strategi penyampaian

tutur sehubungan dengan tujuan dan maksud tutur tersebut dalam interaksi, misalnya

permintaan disampaikan dengan bentuk kalimat pernyataan sebagai modus langsung,

permintaan disampaikan dengan bentuk kalimat pernyataan sebagai modus tidak

langsung, dan sebagainya. Dapat dilihat pada contoh yang ditulis oleh Purwo (1990 : 20)

berikut ini:

(1) ( Tindak Ujaran langsung )

A: Minta uang untuk membeli gula

B: Ini

(2) (Tindak Ujaran tak langsung )

A: Gulanya habis, nyah.

B: Ini uangnya. Beli sana!

(25)

contoh (2) penutur A tidak semata-mata menyatakan bahwa gulanya habis, ia dengan

tidak langsung juga “menindakkan” sesuatu, yakni meminta uang untuk membeli gula

walaupun tidak ditunjukkan secara eksplisit dengan performatif minta. Konteks

mengacu kepada aspek-aspek yang berhubungan dengan lingkungan fisik dan

sosiobudaya dalam interaksi.

Contoh kasus di atas bukan hanya terdapat pada penutur bahasa Indonesia, tetapi

juga terdapat pada penutur bahasa asing lainnya seperti bahasa Jepang. Bahasa Jepang

ialah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat di seluruh

pelosok negara Jepang. Bahasa Jepang dipakai sebagai bahasa resmi, bahasa

penghubung antar anggota masyarakat Jepang yang memiliki berbagai macam dialek ,

dan dipakai sebagai bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan di Jepang sejak

sekolah taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi menurut Sudjianto (1995 : 1).

Selain itu bahasa Jepang juga mengenal adanya tingkatan bahasa, dalam

penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan

pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah

ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang

dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka menurut Edizal (2001 :

1)

Karena adanya penggunaan konsep tersebut dalam stratifikasi sosial masyarakat

Jepang maka terbentuklah ragam bahasa Jepang yang terdiri dari ragam hormat dan

ragam biasa.

Kajian tentang stratifikasi sosial tersebut dibahas pada cabang ilmu sosiolinguistik.

(26)

segolongan orang dimasukkan ke dalam linguistik). Salah satu kaitan yang dapat kita

lihat adalah munculnya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu Sumarsono

(2004 : 322).

Sehubungan dengan peran tindak tutur tersebut, pemakaian tindak tutur dalam

interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung memiliki keberagaman kinerja bentuk

verbal dan mendapatkan status dan konteks interaksi tersebut.

Tesis ini mengkaji tindak tutur direktif, khususnya tindak tutur permintaan pada

penutur bahasa Jepang pada film TLS. Permintaan adalah salah satu tindak tutur yang

dikelompokkan ke dalam kategori tindak tutur direktif. Direktif adalah tindak tutur atau

ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar penutur melakukan tindakan yang

disebutkan di dalam ujaran itu (misalnya : menyuruh, meminta, memohon, menuntut,

menyarankan, menentang) Searle (1975 : 24). Bach dan Harnish (1979) juga menyatakan

bahwa direktif juga mengungkapkan sikap penutur terhadap tindakan yang akan

dilakukan oleh petutur, tindakan direktif juga bisa mengungkapkan maksud penutur

(keiginan, harapan) sehinggga ujaran atau sikap yang diungkapkan dijadikan sebagai alas

an untuk bertindak oleh petutur.

Tindak tutur direktif yang dikhususkan pada tuturan permintaan adalah tindak

tutur yang dilakukan penutur dalam bentuk perintah atau suruhan dengan maksud

meminta mitra tutur untuk melakukan sesuatu.

Kendala tindak tutur permintaan dari fungsi dan jenis penyampaiannya menurut

hasil pengamatan banyak dijumpai pada ragam bahasa Jepang sebagai peristiwa -

(27)

Sebagai contoh analisis yaitu pada film TLS adalah:

A: ( Episode 1)

Nande, sono kao yo, waratte, waratte.

Kenapa raut wajah kamu, tersenyumlah.

B:

Yaa, boku wa hitoride Ehime kara kite, nani wo suru ka, wakaranaiyo.

Saya sendirian datang dari Ehime, apa yang mau dikerjakanpun belum paham.

Pada tuturan di atas A adalah teman wanita dari B. A meminta agar B tersenyum

karena melihat raut muka B yang murung. Menurut Rahardi (2009: 19-20) tuturan

yang modus penyampaiannya sama dengan kalimat menggambarkan pernyataan

permintaan secara langsung dan literal karena makna / maksud dari kalimat

tersebut sama dengan tuturan yang disampaikan. Jadi tuturan diatas merupakan

jenis tindak tutur langsung literal dan berfungsi menawarkan dengan

menggunakan kalimat bermodus imperatif. Sebagaimana pendapat Alisjahbana

(1959 : 54) dapat dimaksudkan sebagai perintah langsung, yang menggunakan

tuturan yang bermodus imperatif cenderung dimaksudkan sebagai perintah positif,

karenanya cenderung lugas.

Penelitian ini di fokuskan pada bahasa Jepang dengan objek studi kasus serial

drama Jepang TLS. Film ini dimulai dengan kepindahan Kanji Nagao ke Bagian

Penjualan, Heart Sports di Tokyo, dari desa kecil yang bernama Ehime. Dan

mempertemukannya dengan teman baru satu kantornya yang bernama Rika Akana.

Selama berada di Tokyo, Kanji yang biasa mengikuti reuni dengan teman-teman satu

(28)

sejak kecil dan tumbuh bersama. Mikami adalah sahabat laki-lakinya yang

berkepribadian terbuka, dan cenderung playboy. Sementara Satomi adalah wanita yang

diam-diam dicintainya sejak mereka SMA dulu, tapi Kanji tidak pernah menyatakan

perasaannya.

Kanji yang naif dan peragu langsung shock ketika melihat Mikami dan Satomi

berjalan bersama dengan mesra, Mikami yang memang sering bertengkar dengan Kanji

karena Satomi bahkan tidak ragu mengumumkan hubungan mereka. Dia mengatakan,

Satomi yang pendiam membalas perasaannya. Dia tidak peduli bila hal tersebut akan

menyakitiKanji.

Namun kehadiran Rika yang periang dan selalu bersemangat mampu menghibur

kekecewaan Kanji. Bahkan dia berusaha terus berada di dekat ketiga sahabat tersebut

sehingga membuat persahabatan mereka tidak putus, Kanji yang mengetahui Rika secara

diam-diam juga menyukai dirinya akhirnya menerima Rika sebagai kekasihnya.

Hubungan mereka sempat terganggu, karena Kanji mendengar Rika pernah punya

hubungan dengan bos mereka Sendo, yang sudah berkeluarga.

Sifat Mikami yang cenderung playboy membuatnya tak mampu menahan diri

untuk mendekati teman kuliahnya, Naoko Nagasaki, meskipun dia sudah menjalin

hubungan dengan Satomi. Kecuekan Naoko membuatnya penasaran. Tapi ternyata,

sebenarnya Naoko yang sudah dijodohkan tersebut juga diam – diam menyukai Mikami.

Bahkan, dia rela membatalkan pernikahannya demi Mikami.

Hubungan Mikami dan Naoko akhirnya diketahui Satomi. Kepada siapa lagi dia mengadu

selain pada teman akrabnya yang tidak lain adalah Kanji. Dia pun mulai menyadari,

(29)

hubungan Kanji dan Rika, dia berusaha menguji, apakah perasaan Kanji pada Rika lebih

besar daripada perasaan Kanji padanya. Kanji yang peragu tentu saja kesulitan ketika

dihadapkan pada pilihan ini. Apalagi dia mengira, Satomi yang pemurung lebih

memerlukan kehadirannya daripada Rika yang tampak selalu gembira seolah tak pernah

punya masalah.

Dari hubungan pertemanan mereka ini banyak menghasilkan tindak tutur

permintaan yang berbeda seperti tuturan permintaan pada waktu menolak, mengajak,

menerima dan sebagainya, baik dilihat dari segi gender, pendidikan, latar belakang sosial

maupunumur.

Film ini diadaptasi dari manga “komik” dengan judul yang sama karya

Fumi Saimon yang di produksi oleh Fuji TV dengan sutradara Kozo Nakayama yang

terdiri dari 11 episode. Serial drama Jepang ini adalah teledrama Asia pertama yang

sangat populer di Indonesia setelah oshin di era TVRI. Selain itu tindak tutur yang diteliti

banyak terdapat pada drama ini dan bahasa Jepang yang digunakan juga mudah dipahami

oleh penulis sebagai pembelajar asing yang mempelajari bahasa Jepang.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Jenis tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS?

2. Fungsi tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS?

3. Jenis dan fungsi tindak tutur permintaan manakah yang paling dominan pada film

(30)

4. Apakah penyebab tindak tutur permintaan tertentu muncul lebih dominan pada

film TLS?

1.3Tujuan Penelitian

Sejalan dengan masalah yang akan dikaji, tujuan penelitin ini adalah:

1. Mendeskripsikan jenis tindak tutur permintaan yang terdapat pada film

TLS,

2. Mendeskripsikan fungsi tindak tutur permintaan yang terdapat pada film

TLS,

3. Menguraikan jenis dan fungsi tindak tutur permintaan yang paling

dominan pada film TLS,

4. Menguraikan penyebab tindak tutur permintaan tersebut muncul lebih

dominan pada film TLS.

1.4 Manfaat Penelitian

Temuan penelitian diharapkan memberi manfaat teoritis dan praktis yakni,

Manfaat teoritis temuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Temuan penelitian ini dapat menigkatkan ilmu kebahasaan (Linguistik),

khususnya pada kajian pragmatik dan sosiopragmatik bahasa Jepang.

2. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan

yang lengkap dan mendalam khususnya oleh pembelajar bahasa, budaya dan

(31)

3. Temuan penelitian ini dapat menambah kajian kosakata bahasa Jepang khususnya

yang berhubungan dengan tindak tutur.

Manfaat praktis mencakup hal sebagai berikut:

1. Temuan penelitian ini juga diharapkan berguna bagi penelitian selanjutnya.

2. Temuan penelitian ini diharapkan berguna bagi pengajar dan pembelajar

khususnya bahasa Jepang.

3. Temuan penelitian ini dapat menambah khasanah kepustakaan pada bidang

Linguistik bahasa Jepang.

1.5 Landasan Teori

Tesis ini menggunakan teori sosiopragmatik dan tindak tutur sebagai landasan

teori. Uraian tentang teori yang berkaitan dengan sosiopragmatik dan tindak tutur akan

diberikan pada bab II.

Untuk teori sosiopragmatik sebagai kajian dalam tesis ini, penulis mengacu pada

pendapat Rahardi (2009 : 21) yang mengatakan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari

kondisi penggunaan bahasa manusia, pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks

situasi yang mewadahi bahasa itu.

Untuk menganalisis tindak tutur penulis mengacu pada pendapat Saragih (2010 :

15) yang mengatakan tindak tutur adalah aksi yang dilakukan oleh pembicara melalui

ujaran atau dengan menggunakan bahasa. Saragih juga mengelompokkan tindak tutur

menjadi lima jenis, yaitu tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan

(32)

Untuk menganalisis jenis tindak tutur, penulis juga menggunakan pendapat

Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis-jenis tindak tutur menjadi:

1. Tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung.

2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal.

Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum

Kulka (1987) dalam Kartika (2000 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan

berbagai ujaran seperti berikut:

1. Bermodus imperatif (Pindahkan kotak ini!).

2. Performatif eksplisit (Saya minta Saudara memindahkan kotak ini)

3. Performatif berpagar (Saya sebenarnya mau minta Saudara memindahkan kotak

ini)

4. Pernyataan keharusan (Saudara harus memindahkankotak ini )

5. Pernyataan keinginan (Saya ingin kotak ini dipindahkan)

6. Rumusan saran ( Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan)

7. Persiapan pernyataan (Saudara dapat memindahkan kotak ini?)

8. Isyarat kuat (Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan sesak)

9. Isyarat halus ( Ruangan ini kelihatan sesak)

Untuk pengertian mengenai tindak tutur permintaan penulis menggunakan

pendapat Bach dan Harnish ( 1979 : 41 ) yang mengatakan tindak tutur permintaan

merupakan jenis tindak tutur yang dilakukan oleh penutur untuk membuat mitra tuturnya

(33)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahasa Jepang

Bahasa Jepang ialah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar anggota

masyarakat di seluruh pelosok negara Jepang. Bahasa Jepang dipakai sebagai bahasa

resmi, bahasa penghubung antar anggota masyarakat Jepang yang memiliki berbagai

macam dialek , dan dipakai sebagai bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan di

Jepang sejak sekolah taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dalam Sudjianto

(1995 :1).

Bahasa Jepang adalah bahasa yag unik, apabila kita melihat para penuturnya, tidak

ada masyarakat negara lain yang memakai bahasa Jepang sebaai bahasa nasionalnya.

Sebagai bandingan kita dapat melihat bahasa lain seperti bahasa Inggris yang dipakai di

beberapa negara sebagai bahasa nasionalnya seperti di Amerika, Inggris, Australia,

Selandia Baru, Kanada, dan sebagainya. Sehingga walaupun hanya menguasai bahasa

Inggris kita dapat berkomunikasi dengan warga negara-negara tersebut. Contoh lain

adalah bahasa Melayu yang biasa dipakai oleh orang-orang Indonesia, Malaysia, Brunei

Darussalam dan sebagainya. Bahasa Jepang tidak sama dengan bahasa –bahasa yag tadi.

Orang-orang yang lahir dan hidup di dalam lingkungan masyarakat dan kebudayaan

Jepang. Kita dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang atau dengan orang lain

yang pernah mempelajarinya menurut Sudjianto (1995 : 3)

Dari sisi lain kita juga melihat bangsa Jepang hanya memakai satu bahasa sebagai

(34)

sebagai bahasa nasionalnya. Keunikan bahasa Jepang lainnya berkaitan dengan rumpun

bahasanya. Bahasa-bahasa yang ada di dunia ini pada umumnya jelas rumpun

bahasanya. Sedangkan rumpun bahasa Jepang sampai sekarang masih diperdebatkan

oleh para ahlinya. Hal ini dapat disadari apabila melihat klasifikasi bahasa-bahasa yang

ada di dunia berdasarkan rumpun bahasanya menurut Shimizu (2000 : 14)

Dilihat dari aspek-aspek kebahasaannya, bahasa Jepang memiliki karakteristik

tetentu yang dapat kita amati dari huruf yang dipakainya, kosakata, sistem pengucapan,

gramatika, dan ragam bahasanya. Apabila melihat huruf yang dipakai untuk

menuliskan bahasa Jepang , kita tahu bahwa bahasa Jepang memiliki sistem penulisan

yang sangat kompleks.

Selain itu bahasa Jepang juga mengenal adanya tingkatan bahasa, dalam

penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan

pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah

ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang

dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka dalam Edizal (2001 : 1)

2.2 Sosiopragmatik

Pandangan yang berterima di kalangan pakar pramatik dan juga di kalangan pakar

sosiolinguistik saat ini adalah bahwa, jika kita berbicara atau mengeluarkan ujaran

(apakah ujaran itu berupa kalimat, frasa atau kata), apa yang keluar dari mulut kita itu

dapat dianggap sebagai tindakan. Tindakan itu dapat disebut sebgai tindakan berbicara,

(35)

mengacu ke tindakan itu ialah tindak tutur, yang merupakan terjemahan istilah Inggris

speech act.

Sering dikatakan, sosiolinguistik itu sangat berkaitan dengan pragmatik (yang

oleh segolongan orang dimasukkan ke dalam linguistik ). Salah satu kaitan yang dapat

kita lihat adalah munculya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu menurut

Sumarno dan Partana (2004 : 322)

Ihwal sosiopragmatik dapat dijelaskan dari pengertian oleh pakar-pakar linguistik

dalam Rahardi (2009 : 20) yaitu Levinson (1983) mendefiisikan sebagai studi bahasa

yang mempelajari relasi bahasa dengan konteknya. Batasan dari Levinson dapat dilihat

pada kutipan berikut: Pragmatics is the study of those relations between language and

context that are gramaticalizzed or encoded in the structure of a language menurut

Levinson (1983 : 9). Pada sisi lain, Parker (1986) dalam Rahardi (2009 : 20) dalam

bukunya yang berjudul Linguistics for Non-Linguists menyatakan bahwa itu cabang ilmu

bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal.

Tarigan (1990 : 26) mengatakan sosiopragmatik adalah telaah mengenai

kondisi-kondisi ‘setempat’ atau kondisi-kondisi-kondisi-kondisi ‘lokal’ yang lebih khusus mengenai penggunaan

bahasa. Dalam masyarakat setempat yang lebih khusus ini jelas terlihat bahwa prinsip

koperatif atau prinsip kerjasama dan prinsip kesopansantunan berlangsung secara

berubah-ubah dalam kebudayaan yang berbeda-beda atau aneka masyarakat bahasa,

dalam situasi-situasi sosial yang berbeda-beda, dan sebagainya. Dengan kata lain,

sosiopragmatik merupakan tapal batas sosiologis pragmatik. Jadi jelas di sini betapa erat

(36)

Dari batasan-batasan yang disampaikan ini dapat disimpulkan bahwa sosok

pragmatik, yakni ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia,

pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks situasi yang mewadahi bahasa itu. Konteks

yang dimaksud dapat mencakup dua macam hal, yakni konteks yang bersifat sosial dan

konteks yang bersifat sosietal. Konteks sosial adalah konteks yang timbul sebagai akibat

dari munculnya interaksi antaranggota masyarakat dalam suatu masyarakat sosial dan

budaya tertentu. Adapun yang dimaksud dengan konteks sosietal adalah konteks yang

faktor penentunya adalah kedudukan dari anggota masyarakat dalam institusi-institusi

sosial yang ada di dalam masyarakat dan budaya tertentu.

2.2.1 Sosiolinguistik

Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua

bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Sosiolinguistik adalah bidang

ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa

itu di dalam masyarakat menurut Chaer dan Agustina (2004 : 2-3).

Menurut Rahardi (2010:16) Sosiolinguistik mengkaji bahasa dengan

memperhitungkan hubungan antara bahasa dan masyarakat, khususnya masyarakat

penutur bahasa itu. Jadi jelas, bahwa sosiolinguistik mempertimbangkan keterkaitan

antara dua hal, yaitu linguistik untuk segi kebahasaannya dan sosiologi untuk segi

(37)

2.2.2 Pragmatik

Tarigan (1996 : 34) menyatakan bahwa teori tindak tutur adalah bagian dari

pragmatik, dan pragmatik itu sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik.

Pengetahuan mengenai dunia adalah bagian dari konteks dan dengan demikian pragmatik

mencakup bagaimana cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk

menginterprestasikan ucapan-ucapan.

Purwo (1990 : 16) dan Leech (1983: 21) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu

yang mengkaji makna tuturan, sedangkan semantik adalah ilmu yang mengkaji makna

kalimat, pragmatik mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar.

Djajasudarma (1994 : 56) sendiri menerangkan bahwa pragmatik itu mengkaji

unsur makna ujaran yang tidak dapat dijelaskan melalui referensi langsung pada

pengungkapan ujaran dan juga mencakup studi interaksi antara pengetahuan kebahasaan

dan dasar pengetahuan tentang dunia yang dimiliki oleh pendengar / pembaca.

Purwo (1990 : 17-20) mengatakan bahwa pragmatik menjelajahi empat fenomena,

yaitu (1) deiksis, (2) praanggapan, (3) tindak ujaran, dan (4) implikatur percakapan.

Soemarno (1998) juga mengemukakan bahwa unsur-unsur penting yang perlu diamati

dalam penelitian pragmatik adalah deiksis, praanggapan, implikatur, pertuturan, dan

struktur wacana. Jadi jelas bahwa tindak tutur merupakan prasyarat dalam memperoleh

(38)

2.2.3 Pragmatik Bahasa Jepang

Gouyouron ha gohou kensha shitari, kentou shitari suru bunmon dehanai. Gengou

dentatsu ni oite, hatsuwa aru bamen ni oitenasareru. haiwa toshite no bun ha, sore

yoirareru no naka de hajimete tekitou na imi wo motsu koto ni naru.

Pragmatik adalah studi dari penggunaan untuk pemeriksaan terhadap tindakan

dalam komunikasi linguistik, baik berupa ucapan yang dibuat dalam sebuah tuturan, baik

berupa teks yang tepat dalam pertama penggunaannya sehingga memiliki makna di

dalamnya.

 

Tatoeba:

(1) kore o mawashite kudasai.

Contoh:

(1) silahkan putar ini

1993 : 281-282

(1) no bun ga ba no kotoba de areba, [mawasu] ha hako no tottete o [kaitensaseru]

koto de aru. Futsu, go ya bun ha iku touri ka no imi o motsu koto ga ooi.

Koushita imi wo yomi to iuga, sono go ya bun ga tsukawawreru joutai ni yotte,

(39)

Contoh (1) pada kalimat di atas adalah kata (putar), untuk memutar sebuah kotak itu.

Biasanya, kata tersebut apabila berada dalam sebuah kalimat maka akan memiliki

beberapa makna.

Maka itu berarti, kata-kata dan pernyataan yang digunakan dalam beberapa situasi

itu menentukan suatu tindakan.

2.3 Tindak Tutur

Telaah mengenai bagaimana cara kita melakukan sesuatu dengan memanfaatkan

kalimat-kalimat adalah telaah mengenai tindak ujar / tindak tutur (speech act ) dalam

menelaah tindak ujar ini kita harus menyadari benar-benar betapa pentingnya konteks

ucapan / ungkapan. Teori tindak ujar bertujuan mengutarakan kepada kita, bila kita

mengemukakan pertanyaan padahal yang dimaksud adalah menyuruh, atau bila kita

mengatakan sesuatu hal dengan intonasi khusus padahal yang dimaksud justru sebaliknya

Tarigan (1990 : 33).

Chaer dan Austina (2004 : 50) Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula

diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang guru besar di Uiversitas Harvard, pada tahun

1956. Teori yang bersal dari materi kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson

(1965) dengan judul How to do Thing with Word? Tetapi teori tersebut baru mulai

terkenal dalam studi linguistik setelah Searle (1969) menerbitkan buku berjudul Speech

Act and Essay in the Philosophy of Language.

Sehubungan dengan peran tindak tutur tersebut, pemakaian tindak tutur dalam

interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung memiliki keberagaman kinerja bentuk

(40)

Tindak tutur memerlukan penutur dan mitra tutur. Keberagaman kinerja tindak

tutur itu menurut Hymes (1980-23) dan Jacobson yang dikutip Djajengwasito (1984 :

4-5) dapat berfugsi sebagai:

1. Repsentatif ( disebut juga asertif), yaitu tindak tutur yang mengikat

penuturnya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya (misalnya:

menyatakan, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan);

2. Direktif, yaitu tindak ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud

agar penutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu

(misalnya : meminta, menyuruh, memohon, menuntut, menyarankan,

menentang);

3. Ekspresif, tindak ujaran yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya

diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam ujaran

itu ( misalnya : memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik,

mengeluh);

4. Komisif, tindak ujaran yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan

apa yang disebutkan di dalam ujarannya ( seperti : berjanji, bersumpah,

mengancam);

5. Deklaratif, yaitu tindak ujaran yang dilakukan penutur dengan maksud

untuk menciptakan hal ( status, keadaan, dan sebagainya) yang baru

(misalnya: memutuskan, membatalkan, melarang, mengizinkan,

memberi maaf).

Austin (1962) dalam How to do Thing with Word mengemukakan bahwa

(41)

disamping memang mengucapkan kalimat tersebut. Ia membedakan tiga jenis tindakan

yang berkaitan dengan tindak tutur, yaitu lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

1. Tindak tutur lokusi adalah semata-mata tindak berbicara, yaitu tindak

mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam

kamus ) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidahnya sintaksisnya. Perbuatan bertutur,

hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutyonary speech act).

Misalnya: Dia sakit.

Kaki manusia dua.

Pohon punya daun.

Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk tindak tutur

lokusi. Tindak tutur ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik.

2. Tindak tutur ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Di sini kita mulai

berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan, untuk apa

ujaran itu dilakukan. Perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau

melakukan sesuatu. Misalnya : memperingatkan, bertanya (illocutionary speech act)

Misalnya : Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya)

Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana)

Saya tidak dapat datang (minta maaf)

3. Tindak tutur perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujara yang

dihasilkan oleh penutur. Secara singkat , perlokusi adalah efek dari tindak tutur itu bagi

mitra tutur. Perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu, membuat orang lain

percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu, misalnya

(42)

2.3.1 Tindak Tutur Permintaan

Bach dan Harnish (1979 : 41) mengatakan tindak tutur permintaan merupakan jenis

tindak tutur yang dilakukan oleh penutur untuk membuat mitra tuturnya melakukan

sesuatu baik berfungsi sebagai pengatur tingkah laku maupun berfungsi sebgai

pengontrol tindak.

Selanjutnya menurut Fasold (1990 : 58) , Bach dan Harnish (1979 : 47) bahwa

tindak tutur permintaan tidak hanya penutur menuntut mitra tutur melakukan sesuatu,

bertindak atau berkata, tetapi ia (penutur) menuntut mitra tuturnya melakukan kegiatan

yang sesuai dengan pandangan Grice (1975 : 40-50) baik menyangkut apa yang dikatakan,

apa yang dimaksudkan maupun apa yang dilakukan yang sangat berkaitan dengan tataran

sosio budaya masyarakat tuturnya.

Pada waktu seseorang mengutarakan permintaan ataupun suruhan kepada orang

lain, banyak hal yang harus dipertimbangkannya. Salah satu pertimbangannya adalah

bagaimana menyatakan permintaan tanpa melukai perasaan lawan tuturnya. Pemilihan

tindak tutur permintaan sebagai satu analisis didasari pada beberapa pertimbangan :

1. Pertama, tindak tutur permintaan ini berpotensi besar mengancam muka ( yakni

muka orang yang dimintai permintaan).

2. Kedua, permintaan tidak hanya sebagai gagasan yang asal terujar melainkan perlu

mempertimbangakan kepada siapa permintaan tersebut dituturkan dan dimana

peristiwa tersebut dituturkan.

3. Ketiga, permintaan dapat merusak keharmonisan hubungan baik antara penutur

(43)

Analisis tindak tutur permintaan merupakan bagian dari tindak direktif. Tindak

tutur permintaan adalah kajian yang diteliti dalam tesis ini. Menurut Moelino et al (1993)

meminta adalah berharap supaya diberi atau mendapat sesuatu. Sedangkan permintaan

adalah perbuatan meminta. Dikemukakan pula oleh Marckwardt e al (1996 : 170)

permintaan adalah (1) untuk mengungkapkan keinginan ; (2) untuk menyatakan kehendak,

menghendaki seseorang untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas (senang). Jadi

permintaan berarti menggambarkan sikap penutur yang menghendaki agar mitra tutur

melakukan sesuatu.

Dalam tindak tutur permintaan, pelaku tutur dihadapkan pada : (1) konteks

sosio-budaya yang berupa struktur dan fungsi sosial dalam sistem nilai yang ada dalam

masyarakat tuturnya, misalnya hubungan sosial (status dan fungsi peserta tutur, mobilitas

strata peserta tutur seperti uchi dan soto dikebudayaan Jepang. Dan proses sosial dalam

mengekspresikan pelaksanaan tindak yang diinginkan atau kehendaki oleh penutur

kepada mitra tutur atau sebaliknya , dan (2) modus (strategi) penyampaian tindak, fungsi,

maksud tindak tutur permintaan dalam kinerja bentuk verbal yag sesuai dengan konteks

tutur dan budaya pelaku tutur. Namun, tidak jarang dengn bekal pemahaman yang

menyeluruh tentang tindak, fungsi, dan maksud serta modus penyampaian tindak yang

tepat baik sesuai dengan konteks tutur maupun konteks budaya tersebut, pelaku tutur

dapat menciptakan hubungan yang harmonis, tetapi jika penyampaiannya tidak tepat

dapat merusak hubungan diantara petutur dan mitra tutur.

(44)

Di dalam bahasa, kebutuhan penutur bukanlah semata-mata untuk menyampaikan

proposisi atau amanat saja, melainkan lebih dari itu. Dengan berbahasa penutur dapat

melakukan tindakan, salah satu tindakan yang penting dan dilakukan oleh penutur dalam

berbahasa adalah tindak ilokusi. Searle (1975) mengklasifikasikan tindak ilokusi ke

dalam beberapa fungsi diantaranya direktif, yakni ilokusi sebagai aspek makro yang

bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan seperti meminta, memerintah,

menyarankan yang dilakukan oleh mitra tutur.

Tindak tutur permintaan yang dianalisis pada penelitian ini adalah bentuk

tindakan yang memiliki tujuan, dan menempatkan tindak tutur permintaan dalam konteks

interaksi skala makro.

2.4 Kesopanan

Kesantunan menurut Fasold (1990): 159) adalah formalitas (formality),

ketaksegajaan (hesitancy) dan persamaan kesekawanan (equality or comaradirie). Jika

dijabarkan, formalitas berarti ‘jangan memaksa atau jangan angkuh (aloof); ketaktegasan

berarti ‘buatlah sedemikian rupa sehingga mitra tutur anda dapat menentuka piliha

(option); dan persamaan atau kesekawanan berarti ‘bertindaklah seolah-olah anda dan

mitra tutur anda sama’ atau dengan kata lain ‘buatlah ia merasa senang’.

Prinsip kesantunan yang sampai saat ini dianggap paling lengkap, paling mapan,

dan paling komprehensif adalah prinsip kesantunan yang dirumuskan Leech (1983).

Leech dalam Rahardi (2009 : 5-9) menyampaikan maksim-maksim di dalam prinsip

kesantunan itu sebagai berikut (1) Maksim Kebijaksanaan menyatakan : (a) kurangilah

(45)

Penerimaan menyatakan : (a) kurangi keuntungan diri sendiri, dan (b) tambahi

pengorbanan diri sendiri. (3) Maksim Penghargaan menyatakan : (a) kurangi cacian pada

orang lain, dan tambahi pujian pada orang lain. (4) Maksim Kesederhanaan menyatakan :

(a) kurangilah pujian pada diri sendiri, dan (b) tambahi pujian pada orang lain. (5)

Maksim Permufakatan menyatakan (a) kurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan

orang lain, dan (b) tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. (6)

Maksim Simpati menyatakan : (a) kurangi simpati antara diri sendiri dengan orang lain,

dan (b) perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain.

Sementara itu, Kartomihardjo (1988) menyatakan bahwa dalam menggunakan

bahasa (tindak bahasa), penutur tidak bias lepas dari norma-norma sosial dan budaya

yang dimilikinya. Agar terjadi keserasian dan keseimbangan antara penutur dengan mitra

tutur dalam melaksanakan interaksi, penutur dapat memasuki norma atau tata krama yang

diwujudkan.

2.5 Fungsi Tindak Tutur

Komunikasi suatu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai

bentuk ujaran. Untuk maksud “permintaan” menurut Blum-Kulka (1987) dalam Kartika

(2010 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran seperti berikut:

Berdasarkan penelitian empiris tentang tindak tutur permintaan dalam berbagai

bahasa yang berbeda, Blum Kulka dalam Kartika (2010 : 29-30) menjabarkan hal

tersebut ke dalam sembilan subtingkat yang berbeda yang disebut “fungsi tindak tutur”

yang membentuk skala ketidaklangsungan.

(46)

modal verba gramatikal dalam ujaran memarkahi daya ilokusinya sebagai tindak

(2). Performatif eksplisit (explicit performatives)

Daya ilokusi ujaran secara eksplisit disebut oleh penutur . contohnya ialah:

Saya minta Saudara memindahkan kotak ini.

Kono hako ha utsuttekudasai, onegai Ini kotak (pem. S) memindahkan, minta Saya minta saudara memindahkan kotak ini.

(3). Performatif berpagar (hedged performative)

Ujaran menyisipkan sebutan daya ilokusi. Contohnya ialah:

Saya sebenarnya mau minta Saudara memindahkan kotak ini.

Jitsu, kono hako ha utsutteitadaku

Sebenarnya, ini kotak (pem. S) mau memindahkan.

Saya sebenarnya mau minta saudara memindahkan kotak ini.

(4). Pernyataan Keharusan (Locution derivable)

Titik ilokusi secara langsung ditimbulkan dari makna semantik lokusi. Contohnya

ialah:

Saudara harus memindahkan kotak ini.

(47)

Ini kotak (pem. S) harus memindahkan Saudara harus memindahkan kotak ini.

(5). Pernyataan Keinginan (scope Stating)

Ujaran mengungkapkan maksud penutur, keinginan, atau perasaan yang

diharapkan dilakukan penutur.contohnya ialah:

Saya ingin kotak ini dipindahkan.

Kono hako ha utsuritagaru.

Ini kotak (pem. S) ingin dipindahkan. Saya ingin kotak ini dipindahkan.

(6). Rumusan Saran (language specific suggestory formula)

Ujaran berisi saran untuk melakukan tindak. Contohnya ialah:

Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan?

Kono hako ha utsutte moiidesuka.

Ini kotak (pem. S) dipindahkan bagaimana? Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan.

(7). Persiapan Pertanyaan (reference to preparatory conditions)

Ujaran berisi acuan kepada syarat persiapan (misalnya kemampuan atau

keinginan, kemungkinan tindak dilakukan) seperti dikonvensionalisasi dalam bahasa

tertentu. Contohnya ialah:

(48)

Kono hako ha utsuttekureru.

Ini kotak (pem. S) memindahkan dapat. Saudara dapat memindahkan kotak ini

(8). Isyarat kuat (strong hints)

Ujaran berisi acuan sebagian kepada objek atau kepada unsur-unsur yang

diperlukan untuk pelaksanaan tindak memohon.

Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan menjadi sempit.

Kono hako ha koko ni atte, kono shitsu ha semakunatte mieru.

Ini kotak (pem. S) sini di dengan (keberadaan), ini ruangan (pem. S) sempit menjadi kelihatan.

Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan menjadi sempit.

(9). Isyarat halus (mild hints)

Ujaran yang dibuat tidak mengacu kepada ciri permohonan (atau unsur-unsurnya),

tetapi dapat diinterprestasikan melalui konteks sebagai permohonan (secara tidak

langsung dan secara pragmatik mengimplikasikan tindak). Contohnya ialah:

Ruangan ini kelihatan sesak.

Kono shitsu ha semaku mieru. Ini kotak (pem.S) sesak kelihatan. Ruangan ini kelihatan sesak.

Jika kesembilan bentuk tuturan di atas benar-benar dituturkan, akan memperoleh

sembilan tindak tutur yang berbeda-beda derajat kelangsuangannya dalam hal

menyampaikan maksud ” menyuruh memindahkan kotak itu”. Dalam teori Blum-Kulka

dibicarakan tentang tindak tutur langsung dan tindak tutur tak langsung.

Saragih (2001 : 57-58) menguraikan dalam berbahasa penutur atau pengguna

(49)

peran itu terkait dua jenis komoditas, yaitu (1) informasi, dan (2) barang dan jasa.

Apabila variabel peran dan komoditas tersebut diklarifikasikan silang, dapat 4 (empat)

jenis aksi, atau tindak tutur seperti terlihat dalam tabel I. Keempat variabel tersebut

disebut protoaksi atau tindak tutur dasar karena keempat aksi tersebut menjadi sumber

dari aksi atau tindak tutur yang dilalukan pemakai bahasa.

Tabel 1. Protoaksi Dalam Bahasa

KOMODITAS

INFORMASI BARANG DAN JASA

Memberi Pernyataan Tawaran

Meminta Pertanyaan Perintah

Secara sistematik, keempat protoaksi atau tindak tutur dasar itu dapat diuraikan

sebagai berikut:

Memberi informasi : Pernyataan ( Statementt)

Meminta / informasi : Pertanyaan ( Question)

Memberi / barang dan jasa : Tawaran (Offer)

Meminta / barang dan jasa : Perintah (Command)

Selanjutnya Saragih (2001 : 59) mengatakan protoaksi tersebut direalisasikan

oleh 3 (tiga) nada percakapan pada tingkat tata bahasa yang disebut modus yaitu modus

deklaratif, interogatif dan imperatif. Lazimnya aksi ”pernyataan”, ”pertanyaan”

dan ”perintah” masing-masing direalisasikan oleh modus deklaratif, interogatif, dan

(50)

Saragih (2001 : 64) mengamati bahwa realisasi aksi atau tindak tutur pada strata

semantik dan tata bahasa bukanlah hubungan ’satu ke satu’ (biunique relatio); artinya

bahwa semantik aksi ’pernyataan’ tidak selamanya direalisasikan oleh modus

deklaratif, ’pertanyaan’ oleh interogatif dan perintah oleh imperatif.

2.6 Jenis-Jenis Tindak Tutur

Wijana (2006) dalam Rahardi (2009 : 19-20) menguraikan dua macam jenis

tindak tutur di dalam praktik berbahasa, yaitu:

1.Tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung.

a. Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang dinyatakan sesuai dengan

modus kalimatnya.

Contoh: Tolong hidupkan lampunya.

Tuturan di atas adalah tindakan memerintah seseorang untuk menyalakan lampu

karena situasi ruangan gelap.

b. Tindak tutur tidak langsung adalah tindakan yang tidak dinyatakan langsung

oleh modus kalimatnya.

Contoh:Ruangnya gelap sekali.

Tututran di atas secara tidak langsung menyuruh atau meminta seseorang untuk

menghidupkan lampu karena situasi ruangannya gelap tetapi di sampaikan secara tidak

langsung.

2.Tindak tutur literal dan tindak tutur non literal.

a. Tindak tutur literal dapat dimaknai sebagai tindak tutur yang maksudnya sama

(51)

Contoh:: Wah, suaramu bagus sekali.

Jika maksud tuturan itu adalah untuk pujian kepada sang mitra tutur, maka jelas

sekali bahwa tuturan itu merupakan tuturan yang sifatnya literal.

b. Tindak tutur non liteal

Adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama, atau bahkan berlawanan, dengan

makna kata-kata yang menyususnya itu.

Contoh : Wah, suaramu bagus sekali.

Jika maksud tuturan itu adalah untuk untuk menyindir atau untuk mengejek sang

mitra tutur maka tindak tutur yang demikian itu disebut sebagai tindak tutur nonliteral

atau tindak tutur tidak literal.

Dari empat macam jenis tindak tutur yang disampaikan di atas itu, masing-masing

kemudian bisa diinterseksikan antara yang satu dengan yang lainnya. Dari interseksi

keempatnya itu dapat dihasilkan empat jenis tindak tutur yang berikutnya yakni:

1. Tindak tutur langsung literal,

2. Tindak tutur tidak langsung literal,

3. Tindak tutur langsung non literal,

4. Tindak tutur tidak langsung non literal.

2.7 Ragam Bahasa Hormat dan Ragam Bahasa Biasa

Dahidi dan Sudjianto (2004 : 188-189) menyatakan pemakaian ragam bahasa

hormat menjadi salah satu karakteristik bahasa Jepang. Pada dasarnya ragam bahasa

hormat dipakai untuk menghaluskan bahasa yang dipakai orang pertama (pembicara)

untuk menghormati orang kedua (pendengar) dan orang ketiga (yang dibicarakan). Jadi

(52)

tuturan termasuk orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga. Nakano Toshio dalam

Sudjianto (1999 : 149) menjelaskan bahwa ragam bahasa hormat ditentukan dengan

parameter sebagai berikut:

1. Usia : tua atau muda, senior atau yunior

2. Status : atasan atau bawahan, guru atau murid.

3. Jenis Kelamin : pria atau wanita (wanita lebih banyak menggunakan ragam

bahasa hormat).

4. Keakraban : orang dalam atau orang luar.

5. Gaya Bahasa : bahasa sehari-hari, ceramah, perkuliahan.

6. Pribadi atau umum: rapat, upacara, atau kegiatan apa.

7. Pendidikan : berpendidikan atau tidak.

Selain itu bahasa Jepang juga mengenal adanya tingkatan bahasa, dalam

penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan

pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah

ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang

dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka menurut Edizal (2001 :

1)

Ragam bahasa biasa adalah bentuk bahasa sehari-hari / biasa dalam bahasa Jepang

dan biasanya digunakan kepada orang yang lebih muda atau kepada orang yang sudah

akrab.

Seperti disebutkan diatas situasi / ranah juga mempengaruhi tindak tutur

(53)

Ranah merupakan gugusan situasi atau cakrawala interaksi di mana satu bahasa

digunkan. Ranah dihubungkan dengan variasi tertentu, variasi-variasitersebut

dibandingkan dengan situasi sosial dan merupakan abstraksi dari persilangan antara

hubungn peran dan status, lingkungan dan pokok bahasan tertentu menurut Siregar

(1998 : 38)

Di dalam penulisan yang pernah dilakukan oleh Fishman (1971) dalam Rahardi

(2009 : 39) telah digunakan lima macam ranah yakni (1) ranah keluarga, (2) ranah

persahabatan, (3) ranah pekerjaan, (4) ranah pendidikan, (5) ranah agama.

Maka sebuah ranah, misalnya saja, akan dapat dianggap sebagai ranah keluarga

apabila terdapat pertuturan yang terjadi di rumah atau dalam sebuah keluarga, terdapat

topik perbincangan mengenai masalah keluarga, dan terdapat para partisipan tutur yang

merupakan bagian dari keluarga itu menurut Rahardi (2002) dan Sumarsono (1993)

dalam Rahardi (2009 : 39).

2.8Kajian Terdahulu / Sebelumnya

Penelitian mengenai tindak tutur telah dilakukan oleh beberapa orang, diantaranya

penelitian mengenai jenis dan fungsi tindak tutur yang mendekati dengan penelitian yang

penulis tulis adalah:

Eviravriza (2000) dalam tesisnya mengkaji tentang tindak tutur permintaan yang

menjadi studi kasusnya adalah pengguna bahasa Melayu Riau di Pekan Baru. Eviravriza

membahas tentang modus dan bagaimana bentuk kesopanan direfleksikan dengan tindak

tutur khususnya permintaan yang objek studi kasusya pengguna bahasa Melayu Riau di

(54)

Hamida (2002) dalam tesisnya mengkaji tentang jenis dan fungsi tindak tutur pada

cerita anak bergambar berbahasa Inggris. Hamida membahas jenis-jenis dan fungsi tindak

tutur pada cerita anak-anak bergambar dalam bahasa Inggris.

Pramuniati (2009) dalam disertasinya mengkaji tentang Strategi Tindak Tutur dan

Kepekaan Pragmatik Melarang Dalam Bahasa Aceh Utara. Pramuniati membahas strategi

bertutur apa yang digunakan oleh penutur Aceh Utara di dalam perilaku tindak tutur

melarang.

Kartika (2010) dalam bukunya mengkaji tentang Kesantunan Tindak Tutur

Memohon Dalam Bahasa Indonesia Oleh Mahasiswa Jepang, yang menjadi studi kasus

pada Program Bahasa Indonesia Penutur Asing Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia.

2.9 Kerangka Konseptual

Tindak tutur permintaan bahasa Jepang dalam Film TLS juga dipengaruhi

beberapa faktor, yakni dari kelompok umur, jenjang pendidikan dan jenis kelamin. Faktor

perbedaan variasi sosial tersebut juga dipengaruhi oleh unsur kesantunan yang mengacu

pada kekuasaan (K), solidaritas (S) dan latar publik (P). Kajian teori terdahulu

menunjukkan terdapat jumlah tindak tutur permintaan ini bervariasi dan di rumuskan

mencakup hal sebagai berikut:

1.Untuk menganalisis jenis tindak tutur, penulis menggunakan pendapat Rahardi ( 2009 :

19) yang membedakan jenis-jenis tindak tutur menjadi:

(55)

b. Tindak tutur literal dan tindak tutur non literal.

2. Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka

(1987) dalam Kartika (2010 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai

iujaran sebagai berikut:

1. Bermodus imperatif (Pindahkan kotak ini!).

2. Performatif eksplisit (Saya minta saudara memindahkan kotak ini)

3. Performatif berpagar (Saya sebenarnya mau minta saudara memindahkan kotak

ini)

4. Pernyataan keharusan (Saudara harus memindahkankotak ini )

5. Pernyataan keinginan (Saya ingin kotak ini dipindahkan)

6. Rumusan saran ( Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan)

7. Persiapan pernyataan (Saudara dapat memindahkan kotak ini?)

8. Isyarat kuat (Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan sesak)

9. Isyarat halus ( Ruangan ini kelihatan sesak)

Teori ini penulis jadikan acuan dalam penelitian yang akan penulis kaji karena

(56)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode ini

merupakan suatu metode penelitian yang semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang

ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penuturnya, sehingga yang

dihasilkan atau yang dicatat berupa paparan apa adanya menurut Sudaryanto (1993 : 62).

Adapun metode kualitatif ini membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat

mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti, sehingga

akan didapatkan gambaran data secara ilmiah menurut Djajasudarma (1993 : 8-9).

3.2Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan yang berasal dari

tuturan-tuturan dalam film.. Data yang diambil merupakan data primer yang berasal dari

film Jepang yang berjudul TLS. Film ini diadaptasi dari komik (manga) dengan judul

sama karya Fumi Saimon yang di produksi oleh Fuji TV dengan sutradara Kozo

Nakayama yang terdiri dari 11 episode. Serial drama Jepang ini adalah teledrama Asia

pertama yang sangat populer di Indonesia setelah oshin di era TVRI. Selain itu tindak

tutur yang diteliti banyak terdapat pada drama ini dan bahasa Jepang yang digunakan

juga mudah dipahami oleh penulis sebgai pembelajar asing yang mempelajari bahasa

Figur

Tabel 1. Protoaksi Dalam Bahasa
Tabel 1 Protoaksi Dalam Bahasa . View in document p.49

Referensi

Memperbarui...