Pelaksanaan pernikahan adat Rambang perspektif hukum Islam : Adat Rambang pada Desa Jemenang Kecamatan Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan

123 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

! " # " $ %

! ""# ""$

&

&

'

(

(

(

)

(

(

(2)

PELAKSANAAN PERNIKAHAN ADAT RAMBANG PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

(Adat Rambang Pada Desa Jemenang Kecamatan Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)

Oleh :

Choirunisa NIM : 105044201446

Di Bawah Bimbingan Pembimbing

Dra. Maskufa, M.Ag NIP : 150268590

KONSENTRASI ADMINISTRASI KEPERDATAAN ISLAM

PROGRAM STUDI AHWAL ASYAKHSHIYYAH

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

U I N SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

% % & & & ' & () &

* + %,&- & && %. -& & & &' .& /& %. %-' 0

(-( ,& & &' .& /& & & % & )% % & -% & &'&

.& /& & -( -&/( &'% (&.& % ( &'%.& %,&'&

+ + + 1 2 0 + ( 3

1 ( 4 + ) + ) # 56

+ * 1 1

+ 1 + & 7 6

) 8 ) # 5

0 +

46 .6 6 + & 8 86 &8

6 ! # "##

& ' & () &

6 - . 6 6 &6 / 2 8 8 &6 996669996696

! $5 #

#6 - + 8 6&18

996669996696

! #:! 5;#

<6 * * 1 6 4 8 6&1 996669999666

! #$: !5

"6 1 . 6 6 &6 / 2 8 8 &6 996669996696

! $5 #

!6 1 + 8 6&18 & 996669996696

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata I Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan asli hasil karya saya, atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanki yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 1 Juni 2009

Choirunisa

(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia dan barbagai kenikmatan terutama nikmat sehat sehinga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada tauladan kita, yaitu baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliah ke zaman yang terang benderang seperti sekarang ini, mudah-mudahan kita termasuk bagian dari umat beliau yang akan mendapat syafaat di hari kiamat, amin……

Dalam penulisan skripsi ini banyak sekali hambatan dan rintangan yang penulis hadapi, Alhamdulillah berkat rahmat dan pertolongan-nya serta bantuan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung, segala rintangan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya yang pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya penulis mengeucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH., MA., MM., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, SH., MA., dan Bapak Kamarusdiana, S. Ag., MH., selaku Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Dra. Maskufa, M.Ag., selaku Pembimbing skripsi ini yang telah meluangkan waktu dan pikirannya selama membimbing skripsi.

(6)

5. Segenap bapak dan ibu dosen prodi Ahwal Syakhsiyyah, khususnya pada konsentrasi Adm. Keperdataan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis baik langsung maupun tidak langsung.

6. Bapak Den Malhani, S.Pd.I selaku kepala KUA Kec. Rambang Dangku Kab. Muara Enim Sumatra Selatan yang telah memberi dukungan dan bersedia diwawancarai.

7. Bapak Arif Anwar selaku kepala desa, Bapak Rusomad Nadam selaku P3N, Bapak Herman Idi kelaku tokoh Adat, Bapak Ahmad Sauq, S.HI dan Ibu Lasmi, S.Th.I selaku tokoh Agama di desa Jemenang. Yang telah bersedia diwawancarai dan memberikan data desa Jemenang. 8. Ibu Utami Andewi, SPd selaku guru SD I desa Jemenang yang telah membantu dalam

mencari informasi pernikahan adat Rambang di desa Jemenang.

9. Ayahanda dan Ibunda dan saudara tercinta, yang dengan setia senantiasa memotivasi penulis hingga dapat menyelesaikan studi ini.

10.Rekan-rekan AKI angkatan 2005 dan sahabatku Restyaningrum, Sulistiani, dan Herry Hadida, terimakasih atas pengertian dan kekompakannya selama ini. Semoga persahabatan kita selalu rukun dan abadi selamanya.

Semoga bantuan dan partisipasi semua pihak tersebut menjadi amal sholeh dan semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Terakhir harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Tentunya skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, walaupun penulis telah mencurahkan segala daya dan kemampuan. Untuk itu penulis mengharapkan saran-saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan atas karya ilmiah ini.

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL... viii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 8

E. Metodologi Penelitian ... 12

F. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II. PERNIKAHAN MENURUT ISLAM A. Pengertian dan Dasar Hukum Pernikahan ... 17

B. Rukun dan Syarat Pernikahan ... 23

C. Proses Pelaksanaan Pernikahan ... 30

BAB III. KONDISI OBJEKTIF DESA JEMENANG A. Letak Geografis Desa Jemenang ... 38

B. Kondisi Demografis Desa Jemenang ... 39

(8)

BAB I V. PELAKSANAAN PERNIKAHAN ADAT DESA JEMENANG SUMATERA

SELATAN

A. Prosedur Pernikahan Adat Rambang Desa Jemenang... 44

B. Pendapat Tokoh Masyrakat Terhadap Pernikahan Adat Rambang di Desa Jemenang. ... 54

C. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Pernikahan Adat Rambang di Desa Jemenang Kecamatan Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim Sumatra Selatan... 56

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 80

B. Saran-saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 84

LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Tokoh Adat Desa Jemenang ... 87

2. Hasil wawancara dengan Tokoh Adat Desa Jemenang ... 88

3. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Kepala KUA Kecamatan Rambang Dangku ... 100

4. Hasil wawancara dengan Kepala KUA Kecamatan Rambang Dangku ... 101

5. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan P3N Desa Jemenang ... 105

(9)

7. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan bapak Ahmad Syauq selaku Tokoh

Agama Desa Jemenang ... 110 8. Hasil wawancara dengan bapak Ahmad Syauq selaku Tokoh Agama Desa Jemenang

... 111 9. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Ibu Lasmi selaku Tokoh Agama Desa Jemenang

... 115 10.Hasil wawancara dengan Ibu Lasmi selaku Tokoh Agama Desa Jemenang ... 116 11.Surat Peninjukan Dosen Pembimbing ... 120

12.Surat Pengantar Permohonan Data/Wawancara dengan Tokoh Adat Desa Jemenang 121 13.Surat Pengantar Permohonan Data/Wawancara dengan Kepala KUA

Kecamatan Rambang Dangku... 122 14.Surat Pengantar Permohonan Data/Wawancara dengan P3N Desa

Jemenang ... 123 15.Surat Pengantar Permohonan Data/Wawancara dengan Tokoh Agama

Desa Jemenang ... 124 16.Surat Keterangan Wawancara dari Tokoh Adat Desa Jemenang ... 125 17. Surat Keterangan Wawancara dari Kepala KUA Kecamatan

Rambang Dangku ... 126 18.Surat Keterangan Wawancara dari P3N Desa Jemenang ... 127 19.Surat Keterangan Wawancara dari bapak Ahmad Syauq selaku Tokoh Agama Desa

Jemenang ... 128 20.Surat Keterangan Wawancara dari ibu Lasmi selaku Tokoh Agama Desa

(10)

21.Surat Keterangan Permintaan Data dari Kepala Desa Jemenang ... 130

22.Data Jumlah Peristiwa Nikah dari KUA Kecamatan Rambang Dangku ... 131

23.Peta Wilayah Kecamatan Rambang Dangku ... 132

(11)

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1 Prosentase Penduduk Menurut Mata Pencaharian... 39

2. Tabel 2 Jumlah Siswa di Desa Jemenang ... 40

3. Tabel 3 Jumlah Sarana Pendidikan di Desa Jemenang ... 41

4. Tabel 4 Jumlah Sarana Peribadatan di Desa Jemenang ... 41

5. Tabel 5 Prosentase Penduduk Penganut Agama di Desa Jemenang ... 42

(12)

1 " $ $ 2

Hadiyah Salim, Memilih Jodoh, (Bandung: PT.Alma’arif, 1980), Cet. Ke-2, hal. 5

2

(13)

& * 1 + C . * + 1 8

* 7 + > > 8 +

* 1 6 * 1 4 * + +

+ 1 11 + @ + 8 11

+ + + 1 + * 1 + * * +

1 + + 1 * 6 ' 1

+ + 1 * 8 1 + C > + 1

* 1 + 1 + 1 6 + 1 4 1

* + 1

1 + + + 8 * 7 4

1 + + C * +

* + * 8 + * +

* + & * 1 6

* + 8 1

1 * 1 * + 8 + + 6

* + + * +

* 7 + + * &+ & + 1

7 6 - + * * 18 * + * 1

+ + 11 @ 11 +

+ 6 / + +

1 * + + * 1 + +

(14)

8 1 + 1 1 8 1 8

(15)

+ 7 + 1 * 1 . 7

' +C 6

1 + > 8 +

1 + + +

+ 1 + * 8 + . 1 +

1 + > + + + 1 +

+ * 1 . &= + 1 + +

* 1 * 1 + 1 E + >

6 11 > 1 +

* + * 7 @ 7 8

+ 1 8 + 1 + + + * + @* +

1 + 1 1 1 * 1 11 + 1

1 * 1 + 8 + + * +

* + 6 &+ 1 1 + 1 7 *

+ + 1 * 6

&+ . * 1 + + ) 1 +

* @ * +

1 * * + * 7 1 +

1 1 1 + * 7 16 1 + *

+ 8 + 1 + $ " # 2

" ! #3 $ # 1 1

(16)

1 " $ 2

*1 $ 2

+ * +

+ + . * 1 + + ) 1 > . * 1 1

* % 4 6

1 * 8 * * 1

+ * 4 6

* 1 + + * * 7

1 1 8 1 +

> 1 + 1 + *

+ + * 1

+ . * 1 1 + * + + ) 1 +

+ + . * 1 6

/1 " $ 2

* 1 + * +

+ . * 1 + + ) 1 * 8

* 1 *

6 / 1 + . * 1 + +

(17)

#6 & + . * 1 +

+ 1 D

<6 / 1 + + + + +

+ . * 1D

&+ 1 + * + + +

6 + > 1 8 8 + 8

&+ 8 * * 8 + C 6 + *

+ + + + 6

1 + 1 8 * 8 + + + 1

+ * + @* + + 1 6 + + + 1

+ + + 1 1@ 16

#6 + . * 1 + + ) 1 +

1 1 + 1 + + ) 1

1 + > . * 1 1 * % 6

+ + 1 @ 1 1

* + 6 + 6

<6 ' + + 1 + 1

+ . * 1 + + ) 1

* 1 + 1 1 * 6

"6 + @ 1

(18)

41 5 3 $# #

+

' 1 + 1 + +

. * 1 + + ) 1 > . * 1 1 *

% 6

6 ( 1 + . * 1

#6 ( 1 + +

+ . * 1 + 1 6

<6 ( 1 + + + +

+ . * 16

&+ 4 * +

6 ( * 7 7 8 + + 1

1 + 8 1 + * 1 + 4

* 1 7 8 + 1 * + 1 + 1

+ * 1 1 + 1

+ + * + @ + 1 + 1

+ * 6 1 6

#6 ( ) 1 + 1 + *

1 1 + . * 1

4 6

<6 ( 1 7 > 1 *

(19)

+ 8 * * 1 * + 1 4 2

11 1 1 + 1

1 > + + . * 1 + + ) 1

> . * 1 1 * % 6

1 # 5 6# 7% 5# " 2 $

6 & 1 * + = G( &+ / 7 / + '

8 + + / / 8 1 + &

&+ - + # "6 *

* 7

6 + + 1 + 11 +

* * * + 1 * * +

1 1 8 + + + / 1 * 1

* * 1 * * + + +

+ 1 6

*6 = G 7 + / 7 + / 1

+ + > + 8 * + 1

1 * 7 8 + > 7 1

+ + 1 + 6

>6 7 + + / 7 + * 1 + 1

> + * * * 1 +

(20)

# + 1 + + 1 * +

1 1 + 1 * + + +

1 6

#6 & 1 * + + / 7 ' 1

&+ + 6 + + /

> + 1 / 1 + 6 . +

* + 1 6 + * * 1

+ / > + 1 / 1

+ 8 * 1 + + + /

- > + 1 / 1 + 1 6

- 1 + + +

6 + 1 + + + /

> + 1 / 1 + + + 1

(( 6 ' 5;" 7 * + +

+ * + + > + -(&6

*6 + / > + 1 / 1 +

> 1 @ 1 + * 1

* 1 + 1 +

* 6

<6 & 1 * + = &+

6 ' ' + &+ H 1 / + +

(21)

' # ;6 1 + * + +

+ 1 * 1 + 7

+ * 1 + 6

6 & * 1 7 + 1 *

+ D

*6 & 1 7 1 + D

>6 / 1 ( + 1@ + 1 1 + 1

7 D

+6 / 1 + 7 D

*

6 @ 1 * * * 7 +

1 + + * * * *

1 + + C + 11 16

*6 ( + 1@ + 1 1 + +

1 7 * 1 1 +

+ + > * 6

& * * 1 + 1 8

+ 1 11 * @* 1 +

6

"6 & 1 * + 7

(22)

> / / + .

+ + &1 6 &+

6 & 1 + 1 7 +

+ > / / D

*6 * + + 11

7 + > / / D

>6 + 1 + 1 7

+ > / / D

&+ + +

6 11 7 + + + 8

* 1 1 6 - + * *

> > 6 - 1 + 1

* 1 8 * * 1 1 + 1

1 + + 1 6

*6 1 + * + + 7 +

) 1 + 11 1 1 + 11 * 7

1 + 1 8 + +

+ + + > 4 + 1 * 6

# * 1 * *

* + * * *

(23)

+ 1 + 7 + +

* 8 1 + + 1 > +

7 * * +

* + 11 6

* * * + + 1

* > + + 7 6 1

* + . * 1 1 + +

+ + ) 1 > . * 1 1

* % 6

1 8 8$8 # $# # *1 #

11 1

8 1 1 1 + >

* 1 + @ + 8 1

* + 8 + * 1

1 1 * 8

+ + + * 1 6"

4

(24)

&+ + 1 + 1 + + + 4

1 + + * + 1

1 1 8 + 1 @1 6!

* @ + + 1@

1 1 + + 1 1 + 1

+ + . * 1 1

+ + 4 + - -(&8 < 8 ' &1 +

' &+ ) 1 - > . * 1 1 6

/1 "

&+ * +

6

* 3

# 7 7 > + 1

- -(& > . * 1 1 - *

% 6

* < + ) 1 > . * 1 1 +

. + + 1 * 11 + + ) 16

> ' &1 + + ) 1 + , 8 6' 6 +

& + 28 1 * 11 + + ) 1

> . * 1 1 - * % 6

5

(25)

+ ' + . * 1 + + ) 1 + 6 1

* 11 + + ) 1 > . * 1

1 * % 6

*6 +

* + + + * * + * @* +

4 1 * + 1 + 6

,1 & 5 $# #

1 + * +

+ * + + +

+ . * 1 + + ) 1 > . * 1 1

* % 3 6

+1 # ! $

11

1 + + 1 > * 1 *

6 * 3

* 3 + 1 + + 1 + 1

8 > 7 * 8 > * + 4 @

4 + 1 * + 1 1 8 + @

(26)

1 4 1 + * 3 8 + 1 > +

4 * 1 + 6

*6 + 3 7 = 7 > +

3 7 + 1 + 7 7 > >

+ 1 * + ) 1

+ 1 > 1 1 * + 1 1

+ 6

>6 +

1 + 1 1 + +

+ + 7 7 > + + * 3 6+ + 1

+ 1 ' . > + 8 * > 8 + 4 @4 6

+ 7 7 > + 1 1 * 4 11

1 + + * 3 6 + 1 '

. > + + 1 * 1 + + *

> > @ 1 + + 6

91 # $# #

+ + 1 + 46 @+ 1

+ 7 7 > + 1 + + +

> + 4 + + 6

(27)

&+ 1 8 1 > +

* + 8 ' + 1 + *

0 + ( 4 + ) ' # ;6

1 # # $#

1 + + + * *

/ * + 1 * * * * *8

* 1 8 * + 8

+ 4 8 . 3 7 + 8

+ 1 8 6

/ * / * 1 +

+ 1 *8 1 + + 8

+ 8 6

/ * &+ 1 + * 4 + ) 1 >

. * 1 1 * % + * * *8

1 1 4 + ) 18 + + 1 4 +

) 18 + 1 + ) 16

/ * J &+ + * + 1 *8

+ + . * 1 + + ) 18

+ + + . * 1

(28)

+ . * 1 + + ) 1 >

. * 1 1 * % 6

/ * J * * 1 + + *8 +

(29)

1 " # " " # 2 *1 " # " # 2

C 7 + * * + + 1 ? 7 A6

* + ?* 1 * 1A + ?* A

+ 1 1 + 1 ?7 A ? + A8

* + 6$ * * + +

* * 11 6

@- + * * @

VW X 3M

:

Y

( 2

,

Z

D [

\

& ? + + * + 1 +

+ + 1 * * A6;

6

Peunoh Daly, Hukum Islam Studi Kasus Perbandingan Dalam Kalangan, Ahlus sunnah dan Negara-negara Islam, (Malaysia: Thinkers Library, 1969), Cet.Ke-1, h.104

7

(30)

+ H 8 7 + + >

Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, (Jakarta: PT. Hidaya Karya Agung, 1996), cet. 15, h.1

9

Sayuti Thalib, Hukum Keluarga Indonesia, (Jakarata: UI Press), h. 47

10

(31)

<6 1 4 + 4 * 1

Djama’an Nur, Fiqh Munakahat, (Semarang: Dina Utama Semarang , 1993), Cer.1, h.3

12

(32)

+ + 8 + 7 * 1 8 1 1

Hilman Haddikusuma, Hukum Perkawinan di Indonesia Menurut Hukum Adat, Perundang-undangan, Agama, (Penerbit : CV Mandar Maju), h.8

14Kompilasi Hukum Islam di Indonesia

, (Bandung: Fokusmedia,2005), Cet.1, h.7

15

(33)

m ` & k3

Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Bisyarhi Al-Kiromani (Daar Al-Fikri), Juz. Ke-18, h. 56-57

17

(34)

+ + * > + 1 +

+ * 6 :

1 * * + @* + + 1 1 + 16

+ * 1 *

6 * 8 + 6 ' 1 1

8 * *

6 + * * + 8 7 *8 8

8 + 1 1 6 5

#6 8 1 1 7 * 1 8 1 + 1

* + + * *

+ & ='6 * 1 * + + * +

+ * + 6

<6 = * * 1 1 1 > 4 8 + 18 1 +

+ 7 + C 6

"6 8 * 1 1 1 * 1 + +

* 4 6 * * + 7 +

* 7 1 * 1 + 6

!6 8 * 1 1 1 + 4 * 8 *

7 * 4 * 1

6 1 * +

+ +

18

Sihabudin Al-Qalubi, et al, Al-Mahali, (Beirut : Dar-al Fikti t.th), juz 3, h.206

19

(35)

6 / + + 3

+ 6

*6 / + + + * * * 1 8

+ + 7 + + * 1 1

+ + 1 @ 1 *

6 1 + *

7 * 6#

1 ; " " # 2

. + + + 1 + +

+ + 8 * + 3

* + 1 + + 1 + 1

+ 8 11 * + * + + 1 + +

1 + + *

* + 8 + 1 1

+ + + * + 6 +

8 7 + * 1 + *

1 + + 8 +

+ 8 * 8 + * > & @0

1 * 1 + +

* 1 16

20

(36)

- + * + 1 7 + * 7 7

* 1 + 7 8 + @

+ 8 7 8 2 + 8 + * 1 6 +

* 1 + 7 8 + + + + 7

+ + + 7 + 6 1

+ + 7 6# &+

1 + + 7 +

* 1 + + 7 8 7 @

8 * 1 8 * + * 1 6 , *

* > 1 + 7 * 1 *

*1 # 2

. @ 1 + +

1 1 6 * * * +

+ 1 + C *8 +

1 + 1 * * 1 + +

1 1 + + + 8 + +

6

*6

>6 =

+6 1 +

21

(37)

6 * + F * ##

, + + 4 E 8

C * 1 + + + + C *

4 E 8 + + * 7 + + 1

+ + + * 1 1@ 1 + + 1 1

> > + - ( &1

-(& 6#<

/1 ; " " # 2

@ + * 1 6

) @ 7 8 +

* + 1 7 * + @ +

6#" @ + > + @

7 + @ @ 6 @

+ + 1 1 + + + 1

+ 1 1 6

@ 7 8 +

6 * 1 > 1 @

6 / 1

*6 ' 1 @ * * >

22

Departemen Agama RI. Komplasi Hukum Islam. (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 1992), h. 10

23

Muhamad Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, h.22

24

(38)

>6 ' + + + 1 +

+6 ' + * + 1

6 / *

46 ' + 1 + + + 1 *

16 1 * + +

6 ' + + #!

#6 * 1 > 1 7

6 / 1

*6 ' 1 * * >

>6 ' * C + 7

+6 ' + * + + + ++

6 / *

46 / + , E E *

16 ' 1 1

6 ' + +

<6 * 1 7

6 , @

*6 7

>6 7

+6 ' + + 1 7 6#$

"6 * 1

25

Asmin. Status Perkawinan Adat Agama (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1986), h.32

26

(39)

6 + 1 @

(40)
(41)

1 4 2 8 + 1 1 +

(42)

& ? &*+ * & . * E + 6 11

(43)

1 1 >

8 + *+ . &=6

jD "lj i @!#D u3 ﺕ ?

> ML

%/ 0 / = Lﺽ @#,#I ! %/

P 2, J #ﺕ %,M2 5 H #Av * ,2

* D6

* [k

*

F

<$

& . 7 + &* 8 * &=6 * *+ ?7 + 7

8 8 8 > 8

+ 1 6 7 1 8

1 A6 4 2 G 6

1 ; " # 2 $ ;

# - 8 + 8 1 +

+ + 1 7 1 7 +

+ 1 * ++ 6 + + * 1

1 6 @ 8 7 1 + 1 +

+ 1 * 8 # # 8 < 8 + " 6

# = 1 + 1 * + + ++ E 8

+ + 1 + 16

< 1 1 1 1 7 1 + 1 + 1 8

1 * * * +

+ 7 6

" 1 8 + 1

* 1 1 > + @+ 1 1

+ 11 7 1 + 16

36

(44)

< # - 8 * * * 1

Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, h. 9-10

38

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Bairut Libanon, Juz Ke-7, h. 24

39

Kamal Mukhtar, Asas-asas HukumIslam Tentang Perkawinan, h. 33

40

(45)

& ? / * &*+ & C + 1 * E* 8

1 1 8 . &= /

+ + + D 7 * / 6 *+

* , + * + 1 * +

* * 11 16

/ 1 * + 7 1 * + + 18 4 2

* * + + 6 * + * 1

+ + 1 6 0 2 1 &* + &C @K

* * + 8 > + 6

4 2 1 1 1 6 + 1 &*

4 * + 8 + +

1 6"

/1 "

' + 1 + 1 + @

1 + 18 * * 7 > + 1 1 + *

+ 1 + 1 +

? + A6 1 + 1

1 1 + 1 1 * > @>

+ 1 1 6 1 + 1

? + A + * 1 A6"#

41

Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, h. 75

42

(46)

,1 # 2 5 < $

+ +

@ 7 8 1 + * + 6 - +

+ + 1 1 + 1 + >

@ > + @ > + 7 + +

6 + + + ?

> * 7 * + + + 1 > 6

7 * > * 7

+ > + 6"<

? *A 7 + > *

?& + 7 1 + 1 966 * 99

+ 1 7 966 A6

7 + > + 7 * > 2 *

+ 1

?& + 7 + 1 7

996 A6

+1 "# 2 "

> 1 7 6 > 1 8

? * 7 * + 1 + > * 1

> * > * 1 1

43

(47)

+ > A6"" + * >

(48)

6 * + * 1 6 ' + + 1 1 +

* 1 8 7 + + * + 6

& * + * 6

*6 / 1 > + * + * 4 6 ' + + 1

8 * * 8 + 8 + + * 1 6

/ 1 * * 1 * 1 * * 1

1 C 8 + * +

* + 1 * 6 * * 1

+ 1 1 * + 8 + 6

/ * 1 1 + + 6 ' + + 1

* * 1 1 + + 8 + + *

6"$

91 ' $# $ = " ! " # 2 " $

H 1 + + + 1 ? A

+ 1 + + 1 7 6

+ 1 * 4 2 * + * 7

1 + + 1 + +

+ @ 1 6 *+

&=6

46

(49)
(50)

* C * @ * + + 1 4 1 + * 11

+ 6":

1 + 8 7 1 + 7

+ * + + 1 + 6

48

(51)

& &

1 8 " 3#

) 1 * 1 + 7 - > . * 1

1 8 - * % 8 3 6 / +

+ 1 4 + ) 1 7 58#! *

+ 6 1 > "5

6 ' * :55:

#6 ' + + 58#!

) 5 ;8#!

/ @* 7

6 * * * + 1 - 7

#6 * * * + 1 , /

<6 * * * + 1 7 1

"6 * * * * + 1 ' 1 1

- 4 * +

6 , * 7 !$

#6 , * 7 !

<6 , * -. :$

"6 , * -. :;

49

(52)

!6 , 7 + $

$6 , * <!

;6 , ' $:;:

1 8 # # 8 " 3#

= ) 1 + 1 7 @7

+ + + + + ) 1 * * 8

+ + 1 * 1 4 * * 1 1

* 1 6 + 1 + + + ) 1

+ < 5$ 7 + # : + + @ $#5 7 + 7

"$; 7 6 + # 5 * < $: 7 + + @ $!5

7 + ! 5 7 6 * 1 + +

# : # 5 + #8<<L6

&+ > + + ) 1 +

* 1 + + 1 16

( * * 1 > + +

) 1 + + * *

$1 *

"8 " 2 "#

) >

:!L

# + 1 1 L

< !L

) L

(53)

+ * + + # 5 + + + ) 1

* * 1 6

41 8 #8$8 #

*1 # ! # #

1 + + ) 18 +

# 5 * 5!! 7 1 4 1 + + + +

+ * *

$1 / $ 2 # 7 #

+ + , @ 7

' - @ :! $<

# <"# 7 " 7

< 1 #55 7 ## 7

" 1 & <5! 7 <! 7

! 1 ' 11 <; 7 #< 7

) !: 7 ;5; 7

! "##$

' 1 + + * + * + + + ) 1

+ 1 11 1 + + *

1 1 + + * 11 1 11 6

(54)

$ 2 " # # #

+ + )

' - @

# <

< 1

! "##$

+ + + + ) 1 1 * + 8

1 + 1 + * 1

* 11 & * 1 11 6

/1 #

- + * 1 + ) 1 > * 6 +

+ * * 7 + 1 + +

* @* 1 * 4 1 6

- * + * + + * + 1

1 + + 8 + +

) 16 ( * * +

1 + + ) 18 + + + * + * 7

$ 1 + $ 2 " "# #

* + )

+ <

# #

< #

) ;

(55)

/ 1 4 * + * +8 8 1

+ > + 1 1

4 1 8 1 8 8 +

* * + 6

( + + + 1 1 + ) 1

+ + + * + * 7

$ 1 9

"8 #

) &1

5!L

# - !L

) L

& % ! "##$

+ + + ) 1 1 *

+ + 1 1 1 - 6

,1 $ 2 "# #7 # 2

$ 1 :

$ 2 ! "# #7 # 2 #

' ) 7

# " #< 1

# # ! #; 1

< # $ #! 1

" # ; <# 1

! # : <" 1

$ # 5 : 1 B+ * # 5

(56)

+ * + + + * 7 + + +

) 1 + 1 +

+ 6 + ) 1

(57)

BAB IV

PELAKSANAAN PERNIKAHAN ADAT

DESA JEMENANG SUMATRA SELATAN

A. Prosedur Pernikahan Adat Rambang Desa Jemenang

Seperti halnya pada proses pernikahan pada adat lainnya yang harus melalui berbagai tahapan maka pernikahan adat Rambang desa Jemenang pun harus melalui tahapan-tahapan yang cuku panjang sebagai berikut:

1. Kunjungan Kerumah Gadis Ada Tiga Tahap

a. Keluarga bujang datang mengunjungi rumah keluarga gadis yang akan di pinang tujuannya yaitu menanyakan dan memastikan apakah benar ada hubungan atau tidak antara bujang dan gadis (kedua putra dan putri mereka). Jika keluarga gadis menyatakan benar bahwa ada hubungan antara putra dan putri mereka serta keluarga gadis merestuinya, maka kelurga bujang menanyakan apa saja permintaan gadis yang di lamar tersebut, sekaligus dalam kunjungan ini agar kedua keluarga bujang dan gadis saling mengenali. Kunjuangan ini hanya bersama pihak keluarga saja seperti bujang yang hendak melamar bersama ayah atau paman atau kakak laki-lakinya saja. b. Kunjuangan ke dua yaitu keluarga bujang datang menyerahkan atau menunjukkan

(58)

c. Kunjungan ketiga yaitu pelamaran, keluarga bujang datang ke rumah kelurga gadis dengan mengajak saudara, para tetangga, kepala desa dan P3N. Dalam kunjungan ini melamar sekaligus menyerahkan seluruh permintaan gadis yang di lamar.

Didalam acara pelamaran ini ada pembawa acara, dan salah satu kelurga yang di tunjuk sebagai perwakilan dari keluarga bujang dan perwakilan dari keluarga gadis apabila para orang tua mempelai bujang dan gadis menghendaki di wakilkan. Dalam acara pelamaran ini pembawa acara yang memimpin berjalannya acara peminangan. Adapun susunan acaranya yaitu:

1) Sambutan dari pihak keluarga laki-laki 2) Sambuta dari pihak keluarga perempuan 3) Sambutan dari ketua adat dan

4) Sambutan dari kepala desa

5) Pesirihan dan penyerahan permintaan, yang penyerahan ini kedua perwakilan dari keluarga bujang dan gadis saling berhadapan dan berbincang dengan menggunakan bahasa daerah:

a) Pihak bujang berkata: ini saya bawakan sirih yang di bungkus dengan sapu tangan (kain) dan rokok pemberian dari bujang (pelamar) untuk keluarga gadis sebagai tanda penghormatan.

b) Pihak gadis berkata : sirih sudah saya makan rokok sudah saya hisap silahkan pihak bujang menyampaikan apa yang hendak disampaikan

(59)

d) Pihak gadis : ya semuanya benar itu permintaan gadis. Kemudian pihak gadis berpantun.

e) Pihak bujang: kalau benar itu semua permintaannya kami bersyukur, pihak bujang pun berpantun.

Biasanya dalam pantun ini pantun yang saling memuji antara kedua keluarga bujang dan gadis.

6) Kemudian dilanjutkan dengan nasihat dari kepala desa dalam nasihat ini agar pertunangan bujang dan gadis ini langgeng sampai ke pernikahan dan sampai beranak dan bercucu.

7) Setelah itu di buat surat perjanjian bujang dan gadis, dalam surat perjanjian bujang dan gadis ini berisi perjanjian bahwa benar permintaan gadis adalah yang telah ditulis dalam surat dan apa bila bujang membatalkan pertunangan maka semua pemberian kepada gadis tidak dapat di kembalikan lagi dan apa bila pihak gadis yang membatalkan pertunangan maka seluruh pembarian bujang di kembalikan dua kali lipat. Surat perjanjian bujang dan gadis ini di tandatangani keluarga tertua dari pihak bujang dan gadis, kepala desa serta ketua adat dan surat perjanjian ini di buat rangkap tiga, surat dipagang oleh keluarga bujang, keluarga gadis dan kepala desa.

8) Penentuan hari dan tanggal pernikahan, kedua keluarga dan calon pengantin saling berembuk menentukan waktu pelaksanaan pernikahan yang di sepakati bersama. 9) Setelah acara pelamaran selesai dilanjutkan dengan menikmati hidangan makanan

dan minuman serta kueh-kueh yang telah dihidangkan.

(60)

hal ini apa bila si calon mempelai wanita telah terjamin ada yang menemani atau mengawasi selama ia di rumah mempelai pria, jika tidak maka dua atau tiga hari saja, selama calon mempelai wanita di rumah mempelai pria calon mempelai wanita di jaga ketat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Ketika calon mempelai wanita dan calon mempelai pria beserta rombongan hampir sampai di rumah calon mempelai pria, calon mempelai pria memanggil “ma / bapak… sambut aku ini aku dapat mantu..” kemudian ibu dan bapaknya pun datang dan berkata “bawa kemari sambung jurai kami” (bawa kemari teruskan keturunan kami) kedua mempelai dibawa ke dapur kaki kedua pengantin di siram di atas dapur kayu bakar atau kompor yang menyiramkan air adalah ibu si wanita tersebut sambil berniat memaafkan atau menghapus jika ada kesalahan atau perselisihan antara kedua belah pihak keluarga pengantin.

Tujuan mempelai wanita di bawa ke rumah mempelai pria adalah untuk belajar situasi di rumah mertua atau menyesuaikan diri sampai hari pelaksanaan akad nikah dan untuk memperkenelkan kepada keluarga atau saudara mempelai laki-laki yang tidak ikut dalam peminangan.

2. Tindak Lanjut Menuju Hari Pernikahan

Perjanjian-perjanjian untuk pelaksanaan pernikahan a. Permintaan Colon Istri

(61)

1) Keris bertujuan untuk diberikan pada muanang (kakak laki-lak) dan bapak si perempuan

2) Serta memberi emas kepada kakak perempuan atau laki-laki jika ada pelangkahan pernikahan

Setelah permintaan telah terpenuhi selanjutnya: b. Permintaan Adat

Dalam permintaan adat ini harus dipenuhi tidak boleh dilanggar dan tidak ada tawar menawar

Permintaan Wali sekaligus Meminta Restu

Dalam permintaan wali calon pengantin wanita meminta secara langsung atau diwakilkan oleh orang lain untuk meminta wali kepada bapak atau kakak laki-laki (jika bapak sudah meninggal) dengan menyerahkan keris di sertai membawa makanan berupa sagun dan sirih, yang mempersiapkan keris, sagun dan sirih dalam permintaan wali adalah pihak mempelai pria. Permintaan wali ini bertujuan untuk meminta restu kepada orang tua dan meminta sang ayah agar mau menjadi wali di saat ijab dan qabul nanti.

1) Menggunakan keris karena: dahulu zaman nenek moyang di desa Jemenang, pusaka sangat di agungkan seperti keris, pedang dan tombak, dan karena keris lebih berteras (bernilai) sebagai pusaka.

2) Membawa sirih karena: dizaman dahulu yang paling dihargai adalah pesirihan. Pesirihan adalah bernilai penghornatan yang paling tertinggi.

(62)

3. Pelaksanaan Pernikahan

a. Akad Nikah atau Ijab Qabul

Dalam akad nikah tidak ada yang berbeda, akad nikah dilangsungkan sesuai dengan Rukun dan syarat nikah yaitu ada:

1) Mempelai pria dan wanita 2) Wali nikah

3) Dua saksi 4) Ijab dan qabul

Dalam syarat nikah pun dilaksanakan sesuai dengan anjuran agama Islam. Sedangkan mas kawin yang biasanya diminta oleh mempelai perempuan adalah uang sebesar Rp.50.000 sampai Rp.100.000 atau seperangkat alat sholat.

Pelaksanaan akad nikah dan walimah dilaksanakan di rumah mempelai pria. Pelaksanaan akad nikah dengan di hadiri P3N dan di saksikan oleh masyarakat (tamu undangan).

b. Kawin Adam atau Perkawinan Adam

Setelah ijab qabul selesai dilanjutkan dengan Perkawinan Adam, biasanya pelaksanaan kawin Adam ini penganti laki-laki dan pengantin perempuan sudah duduk di pelaminan dengan di saksikan para tamu undangan, keluarga dan saudara dari pihak laki-laki dan perempuan. Adapun ritual kawin Adam adalah :

(63)

2) Jempol tangan kedua pengantin disatukan serta rambut di ubun-ubun kedua pengantin juga disatukan dan diikat dengan dibacakan doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SAW agar rukun dan damai rumah tangga mereka nantinya.

3) Di kepasi (di perciki) kedua pengantin dengan daun kayu balai angin atau daun kayu belidang atau daun kayu salah dan air jeruk yang di iris-iris, agar menyatu rasa kasih sayang antara bujang dan gadis.

4) Ngais kaki dengan kaki ayam, kaki pengantin di usap-usap dengan kaki ayam jantan dan betina yang masih hidup, dengan disaksikan pemerintah desa.

Disebut kawin Adam karena dahulu manusia yang ada di bumi hanya Nabi Adam dan Siti Hawa dan dahulu Nabi Adam dan Siti Hawa itu belumlah seiring sejalan (satu tujuan) kemudian turunlah wahyu melalui malaikat Jibril bahwa nikahkanlah Adam dan Hawa kemudian dinikahkanlah Nabi Adam dan Siti Hawa oleh malaikat Jibril atas perintah Allah tanpa adanya wali dan saksi.

Tujuan dari nikah Adam adalah untuk seiring sejalan dan sah perkawinan bukan berzina (ayam seteguran)

c. Nyuapi Hati Ayam

Setelah kawin Adam selesai orang tua kedua belah pihak menyuapi hati ayam pada kedua pengantin laki-laki dan perempuan sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga sangat bahagia karena telah terlaksananya hubungan dua keluarga besar.

(64)

mengucapkan “mudah-mudahan hidupnya gayuh (panjang umur), murah rizki, sambung jurai kami (teruskaan keturunan kami)”.

d. Setelah acara makan-makan para tamu undangan memberi selamat kepada pengantin dengan ngusap kening kedua pengantin dengan jempol yang di oles dengan air liur. e. Balek Belanjun

Setelah acara pernikahan selesai dan para tamu sudah pulang serta rumah pun sudah di bersihkan semua perabotan yang dapat meminjam sudah di kembalikan dan setelah keadaan rumah mempelai pria sudah rapih kembali dilanjutkan dengan acara balek belanjun, pengantin wanita kembali kerumah orang tuanya. Pengantin pria pun ikut serta ke rumah orang tua mempelai wanita dengan diantar oleh keluarga pengantin pria ketika balek belanjun dengan membawa: lemang, dodol, dan ayam kampung.

Setelah sampai di rumah mempelai wanita kemudian para ibu memasak membuat nasi gemuk. Nasi gemuk di persembahkan kepada arwah-arwah leluhur keluarga pengantin wanita bahwa cucunya telah pulang kerumah serta memanggil ruh setingkat wali dan Nabi, memanggil arwah-arwah leluhur dengan membakar kemenyan dengan di pimpin oleh tokoh adat, setelah doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah selesai kemudian nasi gemuk tersebut dimakan bersama sekeluarga. f. Ziarah ke Makam Leluhur

(65)

di beri kenikmatan kubur di minta agar menyampaikan doa ini kepada Allah SWT agar dapat di kabulkan.

g. Kawin Belarian

Jika pihak bujang kurang mampu maka bisa dengan kawin belarian yaitu bujang membawa gadis datang ke rumah kepala desa untuk membuat surat perjanjian bujang dan gadis tanpa membawa saudara dan para tetangga dan dikeesokan hari langsung mengadakan akad nikah. Tetapi pada umumnya kawin belarian ini secara sembunyi-sembunyi karena pihak bujang merasa malu.50

B. Pendapat Tokoh Masyarakat Terhadap Pernikahan Adat Rambang di Desa Jemenang

1. Pendapat Kepala KUA51

a. Saya tidak begitu faham betul dengan pernikahan adat Rambang. Menurut pendapat saya pernikahan adat Rambang biasa-biasa saja. Mengenai besarnya biaya pernikahan menurut saya kalaupun membutuhkan waktu dan biaya yang banyak jika memang itu sesuai dengan kesepakatan maka itu tidak ada masalah, kalau punya biaya ya silahkan kalau tidak punya biaya silahkan semampunya, dan mengenai dibawanya gadis ke rumah bujang setelah di lamar menurut saya silahkan saja tetapi kalau itu menimbulkan berakibat negatif maka saya juga tidak setuju. Tetapi kalau tujuannya itu bersifat positif saya setuju seperti untuk mengamankan perempuan agar fokus menuju pernikahan dan siwanita di rumah pria di jaga ketat atau dipelihara. Dengan

50

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat Rambang, Jemenang, 17 Maret 2009.

51

(66)

dibawanya calon pengantin wanita ke rumah calon pengantin pria juga termasuk pra pernikahan, pra memaklumi keluarga laki atau perkenalan dengan keluarga laki-laki .

b. Memang dalam sunah Nabi pernikahan tidak seperti itu dan kalau bertentangan dengan sunah Nabi memang iya akan tetapi bukan berarti dikatakan haram dalam pernikahan adat Rambang ini, hanya mungkin tidak mendapatkan kesunahan atau hikmah-hikmah Nabi, tetapi kalau sampai dikatakan bertentangan dengan Al-Qur’an itu belum terjadi.

c. Selama ini dalam pernikahan adat Rambang tidak ada yang bertentangan dengan syariat Islam dan peraturan pemerintah.

d. Dan masih sesuai dengan adat masing-masing. Tetapi dengan catatan adat tidak dapat mengalahkan agama sekalipun teguh dengan adat tetap adat tidak dapat mengalahkan agama dan apabila adat menimbulkan berakibat buruk maka harus di hilangkan.

2. Pendapat P3N52

Pelaksanaan pernikahan adat Rambang masih sesuai dengan syariat Islam, karena adat Rambang tidak mempersulit tergantung kemampuan si bujang atas musyawarah dengan si gadis.

3. Pendapat Tokoh Agama a. Bapak Ahmad Syauq53

Pendapat saya tentang pelaksanaan pernikahan adat Rambang. Dalam adat Rambang wanita yang telah di lamar boleh di bawa ke rumah mempelai kali-laki menurut saya itu sudah seperti lima puluh persen halal sedangkan dalam Islam melarangnya, wanita yang telah di pinang belum boleh di bawa ke rumah pihak

laki-52

Hasil Wawancara Pribadi dengan Rusomad Nadam, P3N, Jemenang, 18 Maret 2009.

53

(67)

laki. Dari suatu prosesi akad nikah sesuai dengan syariat Islam tetapi, prosesi setelah lamaran dan besarnya permintaan dari pada mahar, serta pada umumnya ketika pengantin pria menyerahkan mahar untuk pengantin wanita uang mahar itu tidak rapih (kusut tidak dirapihkan) dan terkadang maharnya itu hanya berupa seperangkat alat shalat sehingga terkesan terlalu mudah memberi mahar dan terkesan bahwa wanita itu kurang berharga karena mahar itu seharusnya paling berharga dan bermanfaat hal inilah yang saya kurang setuju dalam pelaksanaan pernikahan adat Rambang.

b. Ibu lasmi54

Pendapat saya tentang pelaksanaan pernikahan adat Rambang yang tidak sesuai dengan syariat Islam adalah gadis yang sudah di pinang langsung di bawa ke rumah bujang seharusnya tidak boleh di bawa ke rumah calon mempelai laki-laki selama masih dalam peminangan dan adanya sedekah-sedekah yang memanggil dukun serta pemberian maskawin yang sepetinya kurang sesuai terkadang uang maskawin di keluarkan langsung dalam keadaan kusut dari kantong celana tanpa amplop menurt saya itu kurang menghargai wanita.

C. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Pernikahan Adat Rambang di Desa

Jemenang Kecamatan Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim Sumatra Selatan.

Dalam pembicaraan ahli hukum tidak ada perbedaan antara ‘urf dengan adat. Urf adalah kata bahasa Arab yang terjemahannya dalam bahasa kita cenderung di artikan dengan adat, kebiasaan. Dengan demikian ‘urf adalah kata lain dari adat.55

54

Hasil Wawancara Pribadi dengan Lasmi, Tokoh Agama, Jemenang: 21 Maret 2009.

55

(68)

Para fuqaha memberikan definisi ‘urf, yaitu:

#

ﺙ & I C

0

)

D[, "P#ﺕ "

! "? %& 0. /

<

C# %. |# e %M./#Q

[

@b

@b

Artinya: Urf ialah apa yang dikenal oleh manusia dan berlaku padanya, baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun meninggalkan sesuatu. Dan ini juga dinamakan adat. Dan dikalangan ulama syari’at tidak ada perbedaan antara urf dengan adat.

Urf ada dua macam, yaitu:56

a. Urf shahih ialah apa-apa yang telah menjadi adat kebiasaan manusia dan tidak menyalahi dalil syara’, tidak menghalalkan yang haram dan tidak membatalkan yang wajib. Contohnya: adat kebiasaan mengadakan membayar maskawina dengan cicilan, apa-apa yang diberikan oleh lelaki kepada wanita pinangannya berupa perhiasan dan pakaian adalah hadiah tidak termasuk sebagian dari maskawin dan sebagainya.

b. Urf fasid ialah apa-apa yang telah menjadi adat kebiasaan manusia, tetapi menyalahi syara’, mengahalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib. Misalnya: pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan, memakan riba, main judi, dan sebagainya.

1. Acara Adat sebelum Pernikahan Kunjungan ke rumah gadis

Dalam kunjungan kerumah gadis ada tiga kali kunjungan

56

(69)

1) Pertama untuk menanyakan bahwa apakah keluarga gadis membenarkan adanya hubungan antara bujang dan gadis (merestui) sekaligus saling mengenali antara keluarga bujang dan gadis.

2) Kunjungan kedua yaitu keluarga bujang datang menyerahkan atau menunjukkan sesuatu sebagai tanda setuju berupa emas atau uang.

3) Kunjungan ketiga yaitu melamar gadis. Keluarga bujang datang ke rumah gadis dengan membawa semua permintaan gadis dan datang bersama seluruh keluarga, saudara dan mengajak para tetangga tujuannya yaitu memperkenalkan gadis pada seluruh keluarga bujang dan para tetangga.57

Dalam hukum perkawinan Islam dikenal istilah meminang (khitbah) dalam terminology fikih munakahah adalah pernyataan atau ajakan untuk menikah dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan atau sebaliknya dengan cara yang baik.58

Orang yang paling baik dan hati-hati adalah orang yang tidak memasuki suatu tempat sebelum mengetahui baik dan buruknya suasana tempat yang hendak ia masuki. Pengenalan sebelum kawin tidak terbatas pada cantik atau tidaknya calon pasangan yang dikehendaki, tetapi mengetahui dan mengenal sifat-sifat yang lain juga sangat perlu, dengan cara mewawancarai orang-orang dekatnya yang betul-betul tahu dan jujur.59

Hikmah lamaran atau pinangan yaitu memberi kesempatan kepada kedua belah pihak mempelajari dengan seksama akhlak, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada masing-masing pihak, sehingga kedua belah pihak merasakan kepuasan. Perkawinan yang didahului dengan proses lamaran

57

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

58

Asrorun Ni’am Sholeh, Fatwa-fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, (Jakarta: eLSAS, 2008), Cet. Ke-1. Hal, 9

59

(70)

seperti ini dapat membuahkan kemantapan dan kesepakatan. Jika kedua belah pihak puas dan ikhlas dengan keadaan masing-masing pasangan, maka lamaran itu telah sahih.60

Untuk kebaikan dalam kehidupan berumah tangga, kesejahteraan dan kesenangannya, seyogyanya laki-laki melihat dulu perempuan yang akan di pinangnya, sehingga ia dapat menentukan apakah peminangan itu diteruskan atau dibatalkan.61 Berdasarkan sabda Nabi SAW:

/

Rasulullah SAW bertanya kepadanya: Sudahkah kamu lihat dia? Ia menjawab: Belum. Sabda Nabi: Lihatlah dia lebih dahulu agar nantinya kamu bisa hidup bersama lebih langgeng.”

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa laki-laki hanya diperbolehkan melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita, bukan yang lain. Karena cantik atau tidaknya wanita dapat dilihat dari wajah atau kedua telapak tangannya.63

Dari penjelasan diatas penulis memberi kesimpulan bahwa peminangan dalam adat Rambang dengan peminangan yang sesuai syariat islam sama-sama menganjurkan kepada kedua belah pihak mempelajari dengan seksama akhlak, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada masing-masing pihak, sehingga kedua belah pihak merasakan kepuasan. Namun dalam syariat Islam tidak ada permintaan berbentuk materi dari gadis kepada bujang.

60

Ibid, h. 38-39.

61

Abd. Rahman Ghazaly, MA, Fiqh Munakahat, h. 74-75

62

Syekh Abu Al Abbas Syihabbudin bin Ahmad, Zawaid Ibnu Majah, ‘Ala Al Kutub Al Khomsah, h. 267

63

(71)

Perjanjian Bujang dan Gadis

Membuat surat perjanjian antara bujang dan gadis tujuannya yaitu agar bujang dan gadis saling setia maka jika ada yang melanggar (menikah dengan orang lain) maka akan mendapat sanksi. Perjanjian tersebut berisi perjanjian bahwa benar permintaan gadis adalah yang telah ditulis dalam surat dan apabila bujang membatalkan pertunangan maka semua pemberian kepada gadis tidak dapat di kembalikan lagi dan apa bila pihak gadis yang membatalkan pertunangan maka seluruh pemberian bujang di kembalikan dua kali lipat.64

Hal seperti ini dalam fikih Syafi’i tidak ditemukan secara eksplisit. Hanya terdapat penjelasan mengenai larangan laki-laki meminang perempuan yang dipinang oleh saudaranya yang lain.65 Asyafi’i memberikan komentar berdasarkan hadis Rasulullah SAW.

Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kamu meminang atas pinangan saudaranya”.

Dari sini dapat terlihat, wajar saja seandainya ada ganti rugi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan, karena dengan pembatalan pertunangan berarti ada yang marasa dirugikan, sehingga dengan adanya aturan ini, setiap orang tidak akan sembarangan untuk membatalkan pertunangannya.

Gadis di Bawa ke Rumah Bujang

64

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

(72)

Setelah acara pelamaran selesai bersama dengan rombongan keluarga bujang, gadis dibawa ke rumah bujang dengan tujuan untuk belajar situasi di rumah mertua atau menyesuaikan diri dan untuk memperkenelkan kepada keluarga, saudara atau para tetangga mempelai laki-laki yang tidak ikut dalam peminangan. Selama gadis di rumah bujang, gadis ditemani dan di jaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama di rumah bujang.67

Suksesnya sebuah keluarga dalam mewujudkan tujuan pernikahan (kehidupan yang bahagia, sejahtera dan damai) sangat ditentukan oleh kesiapan individu yang bersangkutan. Secara umum kesiapan yang harus dimiliki dan merupakan prasyarat untuk keberhasilan sebuah pernikahan terbagi kedalam tiga bentuk:

1) Kesiapan Fisik

a) Orang yang akan menikah tersebut sudah berumur dewasa.

b) Orang yang akan menikah tersebut sehat (tidak memiliki penyakit yang sangat gawat atau penyakit kronis yang berat.

2) Kesiapan Mental

a) Orang yang akan menikah itu telah membulatkan niat dan memantapkan tekad. b) Orang yang akan menikah tersebut telah memiliki kedewasaan emosional.

c) Orang akan menikah tersebut telah memiliki bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang rumah tangga.

3) Kesiapan Sosial

Terjadinya konflik dalam rumah tangga, tidak sedikit yang dipicu oleh kurangnya kesiapan sosial pasangan suami istri yang bersangkutan. Yang dimaksud kesiapan sosial di sini adalah:

67

(73)

a) Kemampuan suami istri membina hubungan dengan keluarga asal, membina hubungan baru dengan keluarga besan, dan juga membina hubungan dengan kolega ditempat kerja serta lingkungan dan masyarakat.

b) Kemampuan finansial yang harus dimiliki oleh orang yang akan menikah.

Selain memilih orang yang sudah matang fisik, mental dan sosialnya, setiap orang yang akan menikah, sejatinya, juga memperhatikan hal-hal berikut:

a) Memilih orang yang halal dinikahi, baik menurut agama, undang-undang maupun adat/tradisi setempat.

b) Memilih orang yang kompatibilitas.

c) Memilih jodoh berdasarkan cinta sejati dan restu orang tua.

d) Melakukan khitbah untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang calon, keluarga, cita-cita dan komitmennya. Jangan membeli kucing dalam karung.68 4) Etika pergaulan setelah tunangan :

Bertunangan pada dasarnya adalah kesiapan akhir sebelum memasuki jenjang perkawinan. Pada masa tunangan, hubungan wanita dan pria semakin bertambah hangat dan mesra, sehingga menimbulkan godaan syahwat lebih besar. Karena itu, masing-masing pihak, terutama wanita harus mejaga diri dan kesuciannya hingga hari pernikahannya. Suatu kebanggaan dan juga penghargaan bagi wanita dan pria yang mampu mempertahankan kesuciannya hingga malam pertama hari pernikahan.69

68

A. Sutarmadi dan Mesraini, M.Ag, Administrasi Pernikahan dan Manajemen Keluarga, (Jakarta, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta, Tahun 2006), h. 87-99.

69

(74)

Menurut pendapat penulis memberi kesimpuan bahwa, dengan dibawanya gadis kerumah bujang (dengan catatan tidak ada pelanggaran peraturan adat yang telah ditentukan) itu dapat dikatakan sebagai tahap pra pernikahan.

Permintaan Calon Istri

Calon mempelai laki-laki harus memenuhi apapun yang diminta oleh calon mempelai wanita (calon istri) bila sesuai kesepakatan, pemberian barang permintaan dari calon suami itu termasuk sebagai wujud rasa kasih sayang calon suami kepada calon istri karena apabila calon istri tidak mengajukan permintaan, pada umumnya calon suami akan memberi sesuatu yang dia mampu kepada calon istrinya. Biasanya permintaan calon istri berupa emas, uang, dan besi berupa keris. Permintaan murni dari keinginan calon mempelai wanita. Keris bertujuan untuk diberikan pada muanang (kakak laki-lak) dan bapak si perempuan serta memberi emas kepada kakak perempuan atau laki-laki jika ada pelangkahan pernikahan dan tujuan dari permintaan juga untuk bekal membeli kebutuhan calon istri nantinya setelah menikah.70

Wanita beriman yang salihah tidak akan menyusahkan suaminya dengan banyak tuntutan. Dia merasa puas dengan apa yang dibagikan Allah kepadanya.71

Permintaan Adat

70

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

71

(75)

Dalam permintaan wali calon pengantin wanita meminta secara langsung atau diwakilkan oleh orang lain untuk meminta wali (dinikahkan) kepada bapak atau kakak laki-laki (jika bapak sudah meninggal) dengan menyerahkan keris disertai membawa makanan berupa sagun dan sirih, yang mempersiapkan keris, sagun dan sirih dalam permintaan wali adalah pihak mempelai pria. Permintaan wali ini bertujuan untuk meminta restu kepada orang tua dan meminta sang ayah agar mau menjadi wali di saat ijab dan qabul nanti.72

Pernikahan tidak sah jika wali tidak ada, karena seorang wanita tidak punya kapasitas untuk menikahkan dirinya tanpa adanya seorang wali atau mewakilikannya kepada orang lain jika wali berhalangan untuk menikahkannya, dan jika dilakukan hal itu maka nikahnya tidak sah. Sebagainama sabda Rasulullah Saw:

- ` *E 3 *w.

$ #w.W Jk3 "@!#& D+,!

4

b b ! T

7

73

Artinya: “Bahwa wanita siapa saja yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya tidak sah.” (HR. Abu Daud)

Wali yang paling utama adalah ayah, kemudian kakek (ayah dari ayah) saudara laki-laki seayah dan seibu, atau seayah, kemudian ashabah-ashabah lainnya.74

Penilis memberi kesimpulan bahwa permintaan wali dalam pernikahan adat Rambang itu sangat baik karena harus ada persetujuan wali.

2. Acara Pernikahan

Akad Nikah atau Ijab Qabul

72

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

(76)

Dalam akad pernikahan adat Rambang tidak ada yang berbeda, akad nikah dilangsungkan sesuai dengan rukun dan syarat nikah yaitu ada:

1) Ada mempelai pria dan wanita 2) Ada wali nikah

3) Ada dua saksi serta 4) Ijab dan qabul

Dalam syarat nikah pun dilaksanakan sesuai dengan anjuran agama Islam. Pelaksanaan akad nikah dan walimah dilaksanakan di rumah mempelai pria. Pelaksanaan akad nikah di hadiri P3N dan di saksikan oleh masyarakat (tamu undangan).75

Mahar

Sedangkan mas kawin yang biasanya diminta oleh mempelai perempuan adalah uang sebesar Rp. 50.000 sampai Rp.100.000 atau seperangkat alat sholat.76

Mahar secara etimologi artinya maskawin. Secara terminologi, mahar ialah “pemberian menimbulkan rasa cinta kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya”.77

Dibenci (makruh) bagi seorang lelaki yang memberikan mahar kepada seorang perempuan, apabila dilunasi akan memberatkannya, tapi bila dihutangi ia tidak dapat membayarnya.78

Menurut pendapat penulis dalam pemberian mahar pada pernikahan adat Rambang tidak besar karena Islam juga menganjurkan agar tidak berlebihan dalam memberi mahar.

75

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

76

Ibid

77

Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, h. 84.

78

(77)

Kawin Adam atau Perkawinan Adam

1) Di kepasi (di perciki) kedua pengantin dengan daun kayu balai angin atau daun kayu belidang atau daun kayu salah dan air jeruk yang diiris-iris, dan berdoa kepada Allah agar disatukan rasa kasih sayang antara bujang dan gadis.

2) Ngais kaki dengan kaki ayam, kaki pengantin di usap-usap dengan kaki ayam jantan dan betina yang masih hidup. dengan disaksikan oleh pemerintah desa.

Disebut kawin Adam karena dahulu manusia yang ada di bumi hanya Adam dan Siti Hawa, dahulu Adam dan Siti Hawa itu belumlah seiring sejalan (satu tujuan) kemudian turunlah wahyu melalui malaikat Jibril bahwa nikahkanlah Adam dan Hawa kemudian dinikahkanlah Adam dan Siti Hawa oleh malaikat Jibril atas perintah Allah tanpa adanya wali dan saksi dan seperti inilah proses pernikahannya.

Tujuan dari nikah Adam adalah untuk seiring sejalan dan sebagai tanda bahwa telah sah perkawinan bukan berzina (ayam seteguran)79

Syaikh al-Utsaimin berkata: menyandarkan diri kepada sebab yang disyariatkan dan benar tetapi disertai dengan kelalaian terhadap yang menyebabkannya, yaitu Allah SAW jenis ini merupakan kesyirikan akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari dien

ini karena dia menyandarkan dari kepada sebab dan lupa kepada yang menyebabkannya, yaitu Allah SAW.80

Dalam sejarah perkawinan Nabi Adam dengan Siti Hawa adalah: Setelah Allah SAW menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya dan menciptakan malaikat-malaikat dan Iblis. Maka tibalah kehendak Allah SAW untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni,

79

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

80

(78)

memelihara dan menikmati isi bumi, dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kehawatiran Para Malaikat

Para malaikat hawatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuannya dan melakukan kerusakan di muka bumi.

Berkatalah para malaikat kepada Allah:

menbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” (Q.S. Al-Baqarah[2]:30).

Allah berfirman, menghilangkan kehawatiran para malaikat itu:

….

Artinya: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S.Al-Baqarah[2]:30)

Kemudian para malaikatpun diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT melarang hambanya beribadah kepada sesame makhluknya.”

Iblis Membangkang

(79)

lebih agung dari Adam, karena ia diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam dari tanah daan lumpur.

Kerena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Adam Menghuni Syurga

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakan Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrah.

Untuk mengembangkan keturunan. Menurut para ulama Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya. Ia ditanya oleh malaikat : “Wahai adam ! Apa dan siapa makhluk yang berada di samping itu?” Berkatalah Adam: “Seorang perempuan .”Sesuai dengan firman Allah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya. “Siapa namanya?”, tanya malaikat lagi. “Hawa”, jawab Adam. “untuk apa tuhan menciptakan makhluk ini ?”, tanya malaikat lagi. Adam menjawab: “Untuk mendampingiku, member kebahagiaan bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

(80)

Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar, dahaga ataupun letih selama kamu berada didalamnya. Akan tetapi aku ingatkan janganlah makan buah pohon khuldi ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh istrimu, ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmati ini.”

Adam dan Hawa diperdaya Iblis

Larangan Allah SWT kepada Adam dan Hawa tentang tidak diperbolehkannya mendekati pohon Khuldi, diketahui oleh syetan. Karenanya, dia berusaha sekuat tenaganya untuk memperdayakan kedua suami-istri itu, agar keduanya memakan buah larangan itu.

Syetanpun lalu berpura-pura menjadi orang yang bersih hati dan berduka cita. Karena itu, Adam dan Hawa pun datang menghampirinya seraya bertanya : “Apakah sebabnya engkau beduka cita dan bersedih hati ? Apakah gerangan yang engkau pikirkan?”

Sahut syetan: “Saya bersedih hati ini, karena memikirkan nasib engkau berdua, telah saya dengar bahwa engkau berdua tidak akan lama lagi tinggal bersenang-senang didalam syurga ini, apalagi setelah Allah melarangmu memakan buah pohon khuldi ini, adalah satu tanda bahwa apa yang saya hawatirkan itu akan benar-benar terjadi. Oleh karena itu, lekaslah makan buah pohon ini supaya engkau berdua jangan terusir dari syurga ini.”

Mendenger bujukan dan rayuannya itu, terpedayalah keduanya seraya memakan buah khuldi itu, dan akhirnya Nabi Adam dan Siti Hawa pun diturunkan kebumi.

(81)

Siti Hawa mempunya anak banyak, dan tiap-tiap beranak selalu kembar. Karena manusia di waktu itu belum banyak, maka perkawinannya tentulah dengan saudara kandung sendiri, asal jangan dengan yang bersama-sama dilahirkan. Hal ini terjadi diantara putra-puuri Nabi Adam, yang bernama Iqlima seorang wanita yang tercantik rupanya, lahir kembar bersama dengan Qabil, dan lahir kembar bersama Habil. Karena mereka itu sama-sama lahir dalam keadaan kembar, maka perkawinan itu harus dipertukar-tukarkan antara yang lahir sekarang dengan yang lahir sesudahnya, asal saja jangan yang sama-sama lahir.

Rupanya peraturan ini tidak diterima oleh Qabil, dan ia tetap ingin menikahi saudaranya (Iqlima), yang sama-sama lahir dengannya, sebab Iqlima lebih cantik dari Labuda. Karena peristiwa ini tetap tegang, maka mereka mengadukan kepada ayahnya (Nabi Adam) dan Adampun tetap mempertahankan hukum Allah, supaya Iqlima kawin dengan Habil.

Akhirnya Qabil tetap menolak keputusan itu dan peristiwa ini pun diserahkan kepada Allah SWT dengan jalan mengadakan kurban. Qabil dan Habil pun berkurban dan barang siapa yang kurbannya diterima oleh Allah, maka itulah yang harus menikahi Iqlima. Akan tetapi Qabil kalah, kurbannya tidak diterima oleh Allah. Qabil pun marah hawa nafsunya selalu hendak membunuh saudaranya (Habil) dan akhirnya Habilpun dibunuhnya.81

Dalam setiap sejarah Nabi Adam dan Siti Hawa tidak ada yang menceritakan bagaimana pelaksanaan pernikahan mereka, jadi menurut pendapat penulis proses pelaksanaan pernikahan Adam dan Hawa tidak seperti kawin Adam dalam pelaksanaan pernikahan adat Rambang, melainkan itu adalah adat kebiasaan Hindu. Karena dalam

81

(82)

pengakuan tokoh adat sendiri pun dalam pelaksanaan pernikahan adat Rambang masih ada peninggalan budaya Hindu.

Nyuapi Ati Ayam

Setelah kawin Adam selesai orang tua kedua belah pihak menyuapi hati ayam pada kedua pengantin laki-laki dan perempuan, sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga sangat bahagia karena telah terlaksananya hubungan dua keluarga besar.

Setelah selesai menyuapi hati ayah, disusul acara sambut-menyambut, menurut kebiasaan tiga orang dari keluarga laki-laki dan dua orang dari keluarga perempuan pengantin dirangkul dengan selendang dengan mengucapkan “mudah-mudahan hidupnya gayuh (panjang umur), murah rizki, sambung jurai kami (teruskaan keturunan kami)”.82

Dalam menyuapi hati ayam pada kedua pengantin ini hanya sebagai ungkapan rasa syukur dan restu dari kedua keluarga pengantin.

Memberi Selamat

Setelah acara makan-makan para tamu udangan memberi selamat kepada pengantin dengan mengusap kening kedua pengantin dengan jempol tangan yang di oles dengan air liur.83

Disunnatkan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa apabila Nabi SAW memberikan selamat kepada orang yang menikah, maka beliau mengucapkan:

8 = P

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

83

Hasil Wawancara Pribadi dengan Herman Idi, Tokoh Adat

84

(83)

Artinya: “Semoga Allah memberkati kamu dan memberikan berkah atas kamu serta menyatukan kalian kalian berdua dalam kebaikan.” (HR.Tirmidzi).

Imam Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits ini berstatus hasan shahih.85

Penulis berpendapat bahwa ucapan selamat untuk pengantin dari para tamu undangan itu sangat penting untuk menunjukkan restu mereka dan menunjukkan bahwa meraka juga turut bahagia. Mengenai mengusap kening pengantin dengan air liur, karena ini sudah menjadi adat kebiasaan bagi mereka maka hal ini tidak ada masalah selagi mereka ridho, tetapi adat kebiasaan ini menurut penjelasan tokoh adat Rambang di desa Jemenang kebiasaan ini hampir punah bahkan sudah sulit sekali dijumpai hanya khusus bagi ketua adat saja yang masih melaksanakan usapan air liur pada pengantin.

Balek Belanjun

Setelah acara pernikahan selesai pengantin wanita kembali kerumah orang tuanya pengantin pria pun ikut serta ke rumah orang tua mempelai wanita, ketika balek belanjun dengan membawa: lemang, dodol, dan ayam kampung.

Setelah sampai di rumah mempelai wanita, kemudian para ibu memasak membuat nasi gemuk. Nasi gemuk di persembahkan kepada arwah-arwah leluhur keluarga pengantin wanita bahwa cucunya telah pulang kerumah, serta memanggil ruh setingkat wali dan Nabi. Memanggil arwah-arwah leluhur dengan membakar kemenyan dan di pimpin oleh tokoh adat, setelah itu nasi gemuk tersebut dimakan bersama sekeluarga.86

Menurut pendapat penulis orang yang sudah meninggal tidak dapat berhubungan lagi dengan orang yang masih hidup, dan sudah tidak dapat merasakan nikmatnya kenikmatan

85

Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqih Wanita Edisi Lengkap, Cet. Ke-1, h. 409

86

(84)

dunia (makanan). Yang dibutuhkan orang yang sudah meninggal hanyalah doa dari orang yang masih hidup agar mereka mendapat kenikmatan dialam kubur.

Seorang muslim yang murni berarti ia mampu memelihara ketunggalan-ketunggalan keparcayaannya hanya kepada Allah SWT sesuai petunjuk nash agama. Mempercayai mitos berarti merusak kemurnian aqidah karena isi (substantif) kepercayaan telah terisi dengan yang lain atau tercampur. Islam sangat menentang kepercayaan tersebut. Al-Qur’an menyatakan

Artinya: “Sesungguhnya mempersekutukan 7Allah4 adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman.13).

Dalam acara balik belanjun ini adalah suatu tradisi peninggalan budaya Hindu yang dipengaruhi oleh budaya Islam karena dalam palaksanaan balek belanjun ini ada pemanggilan arwah-arwah leluhur dan memanggil arwah setingkat wali dan Nabi, sama halnya dengan Islam yaitu adanya tahlilan yang biasa dilaksanakan pada malam jum’at. Mengenai persembahan makanan kepada leluhur akan tetapi pada akhirnya dimakan bersama dengan keluarga dan saudara yang hadir jadi pendapat penulis, sesungguhnya bukanlah dinamakan persembahan atau sesajen karena biasanya yang dinamakan persembahan atau sesajen adalah sesuatu yang di persembahkan dan tidak di ambil lagi atau tidak dimakan oleh sipemberi sesajen.

Ziarah ke Makam Leluhur

(85)

memanjatkan doa ke pada Allah SWT agar para leluhur yang belum mendapat ketenangan di alam kubur supaya di beri ketenangan dan yang sudah di beri kenikmatan kubur di minta agar menyampaikan doa ini ke pada Allah SWT agar dapat di kabulkan.87

Imam Al-Ghazali, secara umum memandang ziarah kubur itu suatu perbuatan sunah, untuk memberikan peringatan dan pelajaran kepada kita yang pasti akan mengalami juga (li at-tadzakkur wa al-i’tibar). Rasulullah SAW memang pernah melarangnya pada masa awal Islam, tetapi kemudian mengizinkannya, seperti dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat Buraidah r.a. juga Imam Ahmad dan Abu Ya’la dari sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

K # ' @ ,N %/ 3 .* J

Artinya: “Saya pernah melarangmu ziarah kubur. Ziarahlah sekarang, karena hal itu akan mengingatkan kamu soal akhirat”.

Menurut pandapat yang masyhur, Imam Syafi’i memandang bahwa bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan bacaan-bacaan lain tidak sampai pahalanya kepada mayit dan tidak memberi manfaat kepadanya. Hal itu dikemukakan antara lain oleh Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim dan kitab Al-Adzkar-nya. Tapi Imam Nawawi sendiri menyatakan, bahwa bacaan Al-Qur’an dan bacaan-bacaan dzikir dan sebagainya itu bermanfaat untuk mayit, seperti yang digegaskan dalam kitab Al-Majmu’. Pendapat yang serupa dari pengikut-pengikut madzhab Syafi’i yang lain seperti Al-Ghozali, Ibnu Hajar Al-Haitami antara lain Ibnu Taimiyah (dalam majmu’ Fatwa-fatwa-nya Jilid : 24), Ibnu Qoyyim , Ibnu Qudamah dan lain-lain. Untuk menetralisir pendapat-pendapat tersebut, dilingkungan madzha Syafi’i menyarankan agar supaya sesudah membaca ayat-ayat Al-Qur’an atau

87

Ibid

88

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...