HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKS DINI DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA

23 

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN

PENDIDIKAN SEKS DINI DENGAN

PERILAKU SEKSUAL REMAJA

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh:

SOFIA SETIYAWATI

NIM. 09060117

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKS DINI DENGAN

PERILAKU SEKSUAL REMAJA

SKRIPSI

Disusun Oleh : SOFIA SETIYAWATI

NIM. 09060117

Skripsi Ini Telah Disetujui

Untuk Diujikan Pada Tanggal 2 Agustus 2013

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang

Nurul Aini, S.Kep. Ns.M.Kep NIP. UMM. 112.0501.0419 Pembimbing I,

Prof. Dr. Ir Sujono. M.Kes NIP. UMM. 131877094

Pembimbing II,

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKS DINI DENGAN

PERILAKU SEKSUAL REMAJA

SKRIPSI

Disusun Oleh :

SOFIA SETIYAWATI NIM. 09060117

Diujikan

Tanggal 3 Agustus 2013

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang

Tri Lestari Handayani, M.Kep.Sp.Mat NIP. UMM. 112.9311.0304 Penguji I,

Prof. Dr. Ir Sujono. M.Kes NIP. UMM. 131877094

Penguji II,

Solichati, S. Kep. Ns NIDN. UMM. 706098302

Penguji III,

Yoyok Bekti P, M.Kep.,Sp.Kom NIP. UMM. 112.0309.0405

Penguji IV,

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan bimbingan-Nya saya

dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Hubungan Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini dengan Perilaku Seksual Remaja . Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana keperawatan

(S.Kep) pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Malang.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini dapat terselesaikan berkat bantuan,

arahan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa penulis

menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada yang terhormat:

1. Tri Lestari Handayani, M. Kep., Sp. Mat, selaku Dekan Fakultas Ilmu

Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang

2. Nurul Aini, M.Kep., selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas

Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.

3. Prof. Dr. Ir Sujono M.Kes, selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

4. Solichati, S. Kep. Ns, selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan, arahan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

5. Kedua orang tua yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan moril

dan materil bagi terselesaikanya skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan yang telah senantiasa

membimbing dan memberikan ilmunya.

7. Drs. H. M Ismail AW, selaku Kepala SMP Islam Batu yang telah memberi ijin

(5)

8. Bu Kusnanik, selaku Guru Bimbingan Konseling di SMP Islam Batu yang

telah membantu selama penelitian ini.

9. Siswa siswi kelas VIII dan IX SMP Islam Batu yang berkenan menjadi

responden.

10. Teman-teman PSIK B 2009 dan semua pihak yang telah membantu

penyelesaian skripsi ini.

Penulis hanya mampu berdoa semoga amal kebaikannya mendapat imbalan

dan diterima sebagai ibadah oleh Allah SWT. Penulis menyadari masih banyak

kekurangan yang disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang

penulis miliki, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat

penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para

pembaca.

Malang, 30 Juli 2013

(6)

DAFTAR ISI

Hal

Halaman Judul ... i

Lembar Persetujuan ... ii

Lembar Pengesahan... iii

Lembar Pernyataan Keaslian ... iv

Motto ... v

Lembar Persembahan ... iv

Kata Pengantar ... viii

Abstract ... x

Abstrak... xi

Daftar Isi ...xii

Daftar Tabel...xv

Daftar Gambar ... xvi

Lampiran ... xvii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar belakang...1

1.2 Rumusan Masalah ...5

1.3 Tujuan penelitian...5

1.3.1 Tujuan Umum ...5

1.3.2 Tujuan Khusus ...5

1.4 Manfaat Penelitian...6

1.4.1 Teoritis...6

1.4.2 Manfaat Praktis...6

1. Bagi Peneliti ...6

2. Bagi Responden...6

3. Bagi Orang Tua Institusi Pendidikan ...6

4. Bagi Lahan...6

5. Bagi Institusi Pendidikan ...7

1.5 Keaslian Penelitian ...7

1.6 Batasan Penelitian ...8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...9

2.1 Konsep Remaja...9

2.1.1 Pengertian Remaja...9

2.1.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja ...9

2.1.3 Perkembangan Psikoseksual Anak hingga Remaja...13

2.1.4 Tugas Perkembangan Seksualitas Remaja ...15

2.2 Konsep Perilaku Seksual Remaja ...17

2.2.1 Definisi Perilaku Seksual ...17

2.2.2 Tahapan-tahapan Perilaku Seksual ...18

2.2.3 Tahap Perkembangan Perilaku Seksual Remaja ...20

2.2.4 Perilaku Seksual Remaja ...22

2.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja...24

(7)

2.3.1 Pengertian Pendidikan Seks sejak Dini ...27

2.3.2 Tujuan Pendidikan Seks Dini ...28

2.3.3 Manfaat Pendidikan Seks Dini ...29

2.3.4 Faktor-faktor Pendukung Pendidikan Seks Dini...31

2.3.5 Materi Pendidikan Seks Anak...34

2.3.6 Metode Pendidikan Seks Dini ...37

2.4 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks sejak Dini ...39

2.4.1 Konsep Peran ...39

2.4.2 Peran Orang Tua dalam Keluarga ...39

2.4.3 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks Dini ...40

2.5 Hubungan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks Dini dengan Perilaku Seksual Remaja...43

BAB II KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual ...46

3.2 Hipotesis Penelitian ...47

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian...48

4.2 Kerangka Penelitian ...48

4.3 Populasi, Sampel, dan Sampling...50

4.3.1 Populasi...50

4.3.2 Sampling ...50

4.3.3 Sampel...51

4.4 Variabel Penelitian...51

4.4.1 Variabel Independen...51

4.3.2 Variabel Dependen...51

4.5 Definisi Operasional ...52

4.6 Tempat Penelitian ...52

4.7 Waktu Penelitian...52

4.8 Instrumen Penelitian...53

4.8.1 Uji Validitas ...53

4.8.2 Uji Reliabilitas ...55

4.9 Prosedur Pengumpulan Data...56

4.8.1 Tahap Persiapan ...56

4.8.2 Tahap Pelaksanaan ...56

4.3.1 Tahap Pengumpulan Data ...56

4.3.2 Tahap Pengelolaan Data...57

4.10 Analisa Data ...58

4.10.1 Univariat ...58

4.10.2 Bivariat ...58

4.11 Etika Penelitian...59

BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA ...61

5.1 Karakteristik Responden ...61

5.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia... 61

5.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 62

(8)

5.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Urutan Kelahiran dalam

Keluarga ... 63

5.1.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Komunikasi dengan Orang Tua ... 63

5.1.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Ayah ... 64

5.1.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu ... 64

5.1.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah ... 65

5.1.9 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu ... 65

5.1.10Karakteristik Responden Berdasarkan Peran dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini... 66

5.1.11Gambaran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini ... 66

5.1.12 Gambaran Perilaku Seksual Remaja ... 67

5.2 Analisa Data ...68

BAB VI PEMBAHASAN ...70

6.1 Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini... 70

6.2 Perilaku Seksual Remaja di SMP Kota Batu ... 73

6.3 Hubungan Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini dengan Perilaku Seksual Remaja 75 6.4 Keterbatasan Penelitian ... 80

6.5 Implikasi Untuk Keperawatan ... 81

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ...83

7.1 Kesimpulan ... 83

7.2 Saran ... 83

Daftar Pustaka ... 86

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tahap Perkembangan Remaja ...20

Tabel 4.1 Perhitungan Populasi dan Sampel pada Tiap Tingkatan Kelas...51

Tabel 4.2 Definisi Operasional Variabel...52

Tabel 4.3 Uji Validitas ...54

Tabel 4.3 Uji Reliabilitas ...55

Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ...61

Tabel 5.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ...62

Tabel 5.3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkatan Kelas SMP 62 Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Urutan Kelahiran dalam Keluarga ...63

Tabel 5.5 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Komunikasi dengan Orang Tua...63

Tabel 5.6 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Ayah...64

Tabel 5.7 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu...64

Tabel 5.8 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah...65

Tabel 5.9 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu...65

Tabel 5.10 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Peran dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini...66

Tabel 5.11 Distribusi Responden Berdasarkan Macam-macam Perilaku Seksual 67 Tabel 5.12 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Seksual ...67

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual...46

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Studi Pendahuluan dan Ijin Penelitian di SMP

Islam 1 Batu ...90

Lampiran 2 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian SMP Islam 1 Batu ....91

Lampiran 3 Lembar Permohonan Menjadi Responden ...92

Lampiran 4 Lembar Kuesioner Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Dini ...93

Lampiran 5 Lembar Kuesioner Perilaku Seksual Remaja...97

Lampiran 6 Lembar Jawaban Kuesioner Peran Orang Tua ...98

Lampiran 7 Kunci Jawaban Peran Orang Tua ...99

Lampiran 8 Penafsiran Skor Data Penelitian ...100

Lampiran 9 Karakteristik Responden ...102

Lampiran 10 Scoring Peran Orang Tua dan Perilaku Seksual Remaja ...107

Lampiran 11 Uji Validitas dan Reliabilitas ...114

Lampiran 12 Hasil Uji Statistik...118

Lampiran 13 Lembar Konsultasi Bimbingan Skripsi ...122

Lampiran 14 Dokumentasi Penelitian ...124

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Hendriarti. (2006). Psikologi Perkembangan (Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri & Penyesuaian Diri pada Remaja. Bandung: Refika Aditama. Amrillah, Annadharah Amilia., Prasetyaningrum, Juliani., Hertinjung, Wisnu Sri.

2007.Hubungan antara Pengetahuan Seksualitas dan Kualitas Komunikasi Orang Tua Anak dengan Perilaku Seksual Pranikah.Indigeneous, 7 (4). 45-50. Araujo, Mishan, 2008, The Effects of Sex Education on Adolescent Sexual Risk

Taking Behavior.

https://www.stanford.edu/group/siepr/cgi-bin/pubpol/?q=system/files/shared/documents/Araujo.pdf, diakses tanggal 25 Juni 2013

Arikunto, S. (2010).Prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi. Revisi). Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, S. (2006).Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Asrofudin, 2010. Pentingnya Sex Education ( Pendidikan Seks)

.

http://asrofudin.blogspot.com/2010/06/pentingnya-sex-education-pendidikan.html,

diakses tanggal 18 April 2013).

Banun, Fadila Oktavia sari & Setyorogo, Soedijono. 2012. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada mahasiswa semester V STIKes X Jakarta Timur.Jurnal Ilmiah Kesehatan5(1)

Budiman. (2011).Penelitian Kesehatan Buku Pertama.Bandung: Refika Aditama.

Azwar, Saifudin. (2012). Penyusunan Skala Psikologis Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelanjar

BKKBN, 2008, http:// jatim. Bkkbn.go.id/ berita.php?p=berita_detail&id=738, diakses 28 Maret 2013.

Dahlan, M. Sopiyudin. (2012).Statistik untuk Kedokteran & Kesehatan Deskriptif, Bivariat & Multivariat Dilengkapi Aplikasi dengan Menggunakan SPSS. Jakarta: Salemba Medika.

Darmasih, Ririn. (2009). Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seks Pranikah pada Remaja SMA di Surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Depkes, Poltekes. (2010). Kesehatan Remaja: Problem dan Solusinya. Jakarta: Salemba Medika

Desmita. (2009).Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya

(13)

Fajri & Khairani. (2011). Hubungan antara Komunikasi Ibu-Anak denan Kesiapan Menghadapi Mestruasi Pertama (Menarche) pada Siswi SMP Muhammadiyah Banda Aceh.Jurnal Psikologi Undip,Vol. 10 (2)

Gunarsa, Singgih D. (2008). Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia

Hidayat. (2009).Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007).Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

Hurlock, Elizabeth. (2003). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Kumalasari, Intan & Andhiyantoro, Iwan. (2012). Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Kusmiran, Eny. (2011). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba Medika.

Kozier, Barbara J et al. (2008).Fundamental of Nursing; Concept, Process and Practice, 5 th Edition, Addison Wesley Nursing. Cuming Publishing: New York.

Mariani,Ani & Bachtiar, Imam. 2010. Keterpaparan Materi Pornografi dan Perilaku Seksual Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri. Makara, Sosial Humaniora, 14 (2), 83-90

Maryatun., & Purwaningsih, Wahyu. (2012). Hubungan Pengetahuan & Peran Keluarga dengan Perilaku Seksual Pra Nikah pada Remaja Anak Jalanan di Kota Surakarta.Gaster,9 (1)

Miron, Amy G & Miron, Charles D. (2006). Bicara Soal Cinta, Pacaran & Seks kepada Remaja Panduan Guru dan Orang Tua. Jakarta: Erlangga.

Munawir, Suraji & Rahmawatie, Sofie. (2008). Pendidikan Seks Bagi Anak Panduan Keluarga Muslim. Yogyakarta: Pustaka Fahima.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo.(2012).Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Novita, Windya. (2007). Serba serbi Anak: yang Perlu Diketahui Seputar Anak dari dalam

Kandungan hingga Masa Sekolah (Tinjauan Psikologi dan Kedokteran). Jakarta: Elek Media Komputindo.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

(14)

Potter, Patricia A & Perry, Anne G. (2010). Fundamental Keperawatan Edisi 7 Buku 2. Jakarta: Salemba Medika.

Purnawan, I. (2004).Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Lempuyan Yogyakarta. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM

Ronisulistyo, Hanny., Mulyadi, Seto., & Mulawati, Lia. (2009).Ketika Anak Bertanya Seks. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Rogala, C., & Tydén, T. (2003). Does pornography influence young women’s sexual behavior? Women sHealth Issues, 13, 39–43.

Roqib, Moh (2009).Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Intergratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat. Yogyakarta : LKis Printing Cemerlang

Sekarrini, Loveria. (2012)Faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Seksual remaja di SMK Kesehatan di Kabupaten Bogor Tahun 2011. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Sadarjoen, Sawitri Supardi. (2005). Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual. Bandung: Refika Aditama

Sarwono, Sarlito W. (2011). Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Santrock, John W. (2003).Adolenscence: Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga

Santrock, John W.(2011).Masa Perkembangan Anak Edisi 11- Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Sapitri, Putri Yuli. (2012). Hubungan Peran dan Pengetahuan Orang Tua dalam Pendidikan Seks dengan Perilaku Seksual Remaja Di SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.

Skripsi (tidak diterbitkan).Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Sieswerda, Lee E & Blekkenhorst, Peggy. (2006). Parental Attutudes toward Sex Education in the Home. Canada: Thunder Bay District Healt Unit

Siregar, Syofian. (2010). Statistika Deskriptif untuk Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.

Sugiyono. (2012).Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sumiati., Dianarti., Nurhaeni., Heni., Aryani, Ratna. (2009).Kesehatan Jiwa Remaja dan

Konseling.Jakarta: Trans Info Media.

(15)
(16)

1

✁ ✂

✄☎✆✝✁✞ ✟✠✟✁✆

✡☛ ✡ ✠☞✌☞ ✍ ✎✏☞ ✑☞✒ ✓

Masa remaja (adolenscence) merupakan masa dimana terjadi transisi masa

kanak-kanak menuju dewasa, berkisar antara usia 13 sampai 20 tahun (Potter &

Perry, 2009). Biasanya orang menyebut masa remaja sebagai masa yang paling

indah. Berlawanan dengan kenyataan tersebut, terkadang orang menyebut masa

ini sebagai masa yang paling rawan. Keindahan dan kerawanan ini muncul sebagai

bentuk perubahan-perubahan fisik dan psikis remaja.

Perubahan fisik masa remaja terutama ditandai dengan perubahan seks

primer dan perubahan seks sekunder. Perubahan seks sekunder yang terjadi pada

masa remaja berkaitan dengan hormon seksual yang berperan terhadap fungsi

reproduksi (Depkes, 2010). Kematangan pada organ-organ reproduksi dan

perubahan-perubahan hormonal menyebabkan munculnya dorongan-dorongan

seksual pada masa remaja (Desmita, 2009). Adanya dorongan-dorongan seksual

dan ketertarikannya dengan lawan jenis kelaminnya menyebabkan perilaku remaja

mulai diarahkan kepada minat terhadap kehidupan seksual (Kusmiran, 2011).

Perkembangan minat seksual menyebabkan masa remaja disebut sebagai

masa keaktifan seksual tinggi yang merupakan masa ketika masalah seksual dan

lawan jenis menjadi pembicaraan yang menarik dan dipenuhi rasa ingin tahu

tentang masalah seksual (Kusmiran, 2011). Sejalan dengan meningkatnya minat

terhadap kehidupan seksual, remaja berusaha mencari informasi objektif

(17)

2

sumber yang kurang tepat sehingga remaja menginterprestasikan dengan hal yang

salah melalui perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab (Kusmiran, 2011).

Di Indonesia perilaku seksual dikalangan remaja belakangan ini

cenderung meningkat dan sangat memprihatinkan. Berdasarkan penelitian

diempat SMP Negeri di Mataram terhadap 1415 siswa 14% telah melakukan

masturbasi, 45% siswa telah berpacaran dan 13% pernah berciuman mulut

(Mariani & Bachtiar, 2010). Lebih lanjut berdasarkan laporan media massa pada

bulan Juni 2013 menyatakan bahwa siswa SMP di Surabaya menjadi penjual dan

penyalur jasa seks teman-teman seusianya (Newswire, 2013).

Fenomena perilaku seksual yang muncul dikalangan remaja seringkali

mencemaskan para orang tua, pendidik dan masyarakat. Ada beberapa faktor

penyebab perilaku seksual remaja saat ini, salah satunya adalah ketidaktahuan

orang tua maupun sikap orang tua yang masih mentabukan pembicaraan

mengenai seks (Sarwono, 2011). Menurut Santrock (2003) dalam survei yang

dilakukan menunjukkan sekitar 17% pendidikan seks yang diterima remaja

diperoleh dari ibu dan hanya 2% yang diperoleh dari ayah. Penelitian di Canada

juga menunjukan hal yang sama yakni 22% ibu dan 10% ayah percaya bahwa ibu

adalah penyedia pendidikan seks baik bagi anak-anaknya. (Siswerda &

Blekkenhorst, 2006). Meskipun pendidikan seks sudah diberikan oleh ibu, anak

laki-laki merasa bahwa materi yang disampaikan merupakan pengalaman

perempuan. Akibatnya, anak-anak menggunakan sumber-sumber lain (teman

sebaya, media dan internet) untuk mendapatkan pengetahuan terkait tentang

(18)

3

Hal tersebut mencerminkan betapa pentingnya peran kedua orang tua

dalam memberikan pendidikan seks secara dini kepada anak-anaknya. Peran

orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak sejak dini diharapkan

dapat memudahkan anak menerima keberadaan tubuhnya secara menyeluruh dan

menerima fase-fase perkembangannya secara wajar (Tretsakis, 2003). Namun,

orang tua seringkali merasa bahwa anak kecil tidak perlu dan belum pantas

mendapatkan pendidikan seks dan mereka berkeyakinan bahwa ketika anak

menjelang akil balik pendidikan seks baru dapat diberikan (Tentrakis, 2003).

Sebuah studi di Canada yang menyatakan bahwa hanya 35% orang tua yang

memulai diskusi sebelum anak mengalami menarche. Orang tua tidak menyadari

bahwa pendidikan seks lebih optimal jika diberikan sejak dini (Siswerda &

Blekkenhorst, 2006).

Pendidikan seks yang diberikan sejak dini diharapkan dapat mengurangi

keingintahuan yang berlebihan dan dengan berkurangnya keingintahuan ini maka

keinginan untuk berpetualang dalam kegiatan seks diharapkan berkurang

(Gunarsa, 2008). Selain itu, pendidikan seks yang sehat, jujur dan terbuka juga

akan menumbuhkan rasa hormat dan patuh anak-anak terhadap orang tuanya,

sehingga komunikasi secara terbuka antara orang tua dapat terjalin (Tretsakis,

2003).

Hasil studi pendahuluan didelapan SMP di Kota Batu pada bulan

Februari 2013 dari 1777 siswa SMP kelas VII dan VIII usia 12-15 tahun, 8

diantaranya pernah melakukan hubungan seksual pra nikah. Beberapa

penyimpangan perilaku seksual yang pernah dilakukan remaja lainnya yaitu

melihat film khusus orang dewasa 501 siswa atau sekitar 28,28 % siswa dan

(19)

4

pernah melakukan sentuhan lebih dari pegangan tangan dan sebanyak 219 siswa

atau 12,32 % pernah melakukan ciuman dengan pacar dengan intensitas satu kali

dalam seminggu.

Dari hasil studi pendahuluan tersebut terdapat salah satu sekolah dengan

presentase lebih tinggi dibandingkan dengan tujuh sekolah lainnya. Dimana

perilaku seksual remaja tersebut terbagi dalam dua kelas dengan total responden

sejumlah 191 siswa . Untuk perilaku seksual yang dilakukan siswa kelas VII

sejumlah 99 siswa menunjukkan 33 siswa atau 33,33% diantaranya pernah

melihat film khusus orang dewasa, 32 siswa atau 32,32 % pernah melihat gambar

atau video porno. Sebanyak 32 siswa pernah melakukan ciuman. Presentase lebih

tinggi ditunjukkan pada kelas VIII dengan total responden 91 siswa. Terdapat 52

siswa atau 56,52% pernah melihat film khusus orang dewasa. 36, 95% atau 34

siswa pernah melakukan sentuhan lebih dari pegangan tangan. 40 siswa atau

43,47% pernah melakukan ciuman dan 53 siswa atau 57,60% pernah melihat

gambar atau video porno serta 2 diantaranya pernah melakukan hubungan

seksual pranikah.

Lebih lanjut dalam studi pendahuluan peneliti menemukan fakta dari 25

siswa hanya 2 orang siswa yang berani berdiskusi dengan orang tuanya mengenai

pendidikan seks termasuk didalamnya perilaku dalam berpacaran. Hal ini

didukung dari wawancara kepada salah satu guru menyatakan bahwa rendahnya

peran orang tua dalam pendidikan kepada anak dikarenakan input siswa di

sekolah tersebut berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah

dengan pendidikan cukup rendah dimana hanya 5% orang tua yang

berpendidikan sarjana. Adapun peran sekolah dalam pendidikan seks hanya

(20)

5

Melihat kondisi ini peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut untuk mengetahui

hubungan Hubungan Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks

Dini dengan Perilaku Seksual pada Remaja.

✔✕✖ ✗ ✘✙ ✘✚ ✛✜✢✛✚✛✣ ✛✤

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka

perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan peran

orang tua dalam memberikan pendidikan seks dini dengan perilaku seksual pada

remaja?

✔✕✥ ✦✘✧✘ ✛✜★ ✩✜✩✣✪✫ ✪✛✜

1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran

orang tua dalam memberikan pendidikan seks dini dengan perilaku seksual

pada remaja

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi peran orang tua dalam pendidikan seks dini

2. Mengidentifikasi perilaku seksual pada remaja

3. Menganalisis hubungan peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks

(21)

6

✬✭✮ ✯✰✱ ✲✰✰✳✴ ✵✱ ✵✶✷✳ ✷✰✱

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi

perkembangan ilmu keperawatan komunitas dan maternitas yaitu tentang

hubungan peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks dini dengan

perilaku seksual remaja.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah wawasan

mengenai perilaku seksual remaja serta untuk mengetahui hubungan peran

orang tua dalam memberikan seks edukasi dini dengan perilaku seksual pada

remaja.

2. Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran bagi remaja tentang perilaku

seksual yang harus dihindari dan pentingnya mendapatkan pendidikan seks

sejak dini.

3. Bagi Orang Tua

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran orang tua tentang

pentingnya memberikan pendidikan seks sejak dini kepada anak.

4. Bagi Lahan

Diharapkan dengan adanya penelitian ini sekolah dapat mengembangkan

pendidikan seks sebagai materi yang penting untuk diberikan dalam proses

(22)

7

5. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan untuk

peneliti selanjutnya.

✸✹✺ ✻✼ ✽✾✿ ❀✽❁❂✼ ❁✼ ✿ ❀❃ ❀✽❁

Penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan peran orang tua dalam

memberikan seks edukasi dini dengan perilaku seksual remaja adalah:

1. Hubungan peran dan pengetahuan orang tua dalam pendidikan seks dengan

perilaku seksual remaja di SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya

Metode penelitian yang digunakan oleh Putri Yuli Sapitri (2012)

adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional dengan besar sampel 87

responden beserta orang tuanya dengan cara simple random sampling.

Analisis dengan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara pengetahuan dan peran orang tua dalam pendidikan seks

dengan perilaku seksual remaja.

Perbedaan penelitian yang dilakukan Putri Yuli Sapitri (2012) yaitu

menggunakan subjek remaja yang ada di SMK Pariwisata Satya Widya

Surabaya sedangkan dalam penelitian ini berbeda dalam subjek yang

digunakan, penelitian ini menggunakan subjek remaja di SMP. Variabel

independen dalam penelitian ini adalah peran orang tua dalam memberikan

pendidikan seks dini sedangkan penelitian Sapitri menggunakan variabel

(23)

8

2. Hubungan pengetahuan dan peran keluarga dengan perilaku seksual pranikah

pada remaja anak jalanan di Kota Surakarta.

Menurut penelitian Maryatun & Wahyu Purwaningsih (2010)

penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dengan metode

pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik quota

sampling, menggunakan instrument penelitian kuesioner. Analisis dengan

menggunakan Uji chi-square test dengan taraf signifikasi ( = 0,05).

Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja anak jalan yang melakukan perilaku

seksual pranikah mempunyai pengetahuan rendah dan peran orang tua

kurang baik. Hasil analisis korelasi diperoleh hasil yang signifikan ( P value <

0,05) yang dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara tingkat

pengetahuan dan perilaku seksual pranikah anak jalanan Kota Surakarta.

Perbedaan penelitian yang dilakukan Maryatun & Wahyu

Purwaningsih (2010) dengan penelitian ini adalah subjek penelitian

merupakan remaja pada tingkat SMP dan teknik pengambilan sampel dengan

menggunakan ❄❅ ❆ ❇❈❉ ❊ ❋●❍ ■ ❆ ❄ ❋❆ ❇❈❅ ● ❏. Selain itu, penelitian ini menggunakan

variabel dependen peran orang tua dalam memberikan seks edukasi dini dan

variabel dependen perilaku seksual remaja.

❑▲▼ ◆❖P❖ ◗❖❘❙ ❚❘ ❚❯❱P ❱❖❘

Peneliti membatasi masalah penelitian ini hanya pada peran orang tua

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...