Analisis Teknik Permainan dan Penggarapan Tiga Komposisi Gondang Pada Instrumen Garantung Yang Dimainkan Oleh Tiga Pargarantung

131  26  Download (1)

Full text

(1)

ANALISIS TEKNIK PERMAINAN DAN PENGGARAPAN TIGA KOMPOSISI GONDANG PADA INSTRUMEN GARANTUNG YANG DIMAINKAN OLEH TIGA PARGARANTUNG

SKRIPSI SARJANA O

L E H

(2)

ANALISIS TEKNIK PERMAINAN DAN PENGGARAPAN TIGA KOMPOSISI GONDANG PADA INSTRUMEN GARANTUNG YANG DIMAINKAN OLEH TIGA PARGARANTUNG

OLEH :

NAMA : NESYA VANIA CLARA SINAGA NIM : 090707003

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof. Drs. Mauly Purba, M.A.,Ph.D. Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. NIP. 196108291989031003 NIP. 196512211991031001

(3)

DISETUJUI OLEH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI KETUA,

Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. NIP. 196512211991031001

(4)

PENGESAHAN

Diterima oleh:

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Seni dalam bidang Etnomusikologi pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan.

Hari : Kamis

Tanggal : 22 Agustus 2013

FAKULTAS ILMU BUDAYA USU, Dekan,

Dr. Syahron Lubis, M.A NIP. 1951 1013 1976 031001

Panitia Ujian: Tanda Tangan

1. Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D 2. Dra. Heristina Dewi, M.Pd.

(5)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Analisis Teknik Permainan dan Penggarapan Tiga Komposisi Gondang Pada Instrumen Garantung Yang Dimainkan Oleh Tiga Pargarantung. Tulisan ini akan mengulas bagaimana teknik permainan dan penggarapan dari setiap komposisi gondang yang dimainkan oleh tiga pargarantung. Bagaimana metode yang dipakai dalam menghasilkan garapan dan aspek apa yang membuat penggarapan melodi pargarantung berbeda atau sama. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitis, yaitu menguraikan bagaimana teknik permainan garantung, pada saat yang sama menganalisa permainan atau penggarapan dari masing-masing pemain garantung.

Tiga pargarantung yang menjadi fokus pada tulisan ini adalah Marsius Sitohang, Sarikawan Sitohang dan Amarista Simarmata, sementara tiga komposisi

gondang yang akan dianalisis adalah Hata Sopisik, Si Bunga Jambu dan

Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan. Hasil analisa ini menunjukkan bahwa pertama, setiap

pargarantung mengolah permainan mereka dengan cara yang berbeda dan ada pula

(6)
(7)

ABSTRACT

This thesis is titled “Technique Analysis of the Arrangement and Composition of Three-Composition Garantung by Three Garantung Performers.” The study investigated the arrangement and techniques of each of the compositions that were used by the three performers. Specifically, this study examined the methods that they used in generating arrangement and other aspects that led to differences and parallels in their melody arrangement.In applying descriptive-analysis methodology, this study achieves its purposes of describing Garantung performance techniques and analyzing each performer’s composition and arrangement.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini berjudul “ANALISIS TEKNIK PERMAINAN DAN PENGGARAPAN TIGA KOMPOSISI GONDANG PADA INSTRUMEN GARANTUNG YANG DIMAINKAN OLEH TIGA PARGARANTUNG” Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus penulis penuhi untuk menyelesaikan pendidikan tingkat strata satu (S1) di jurusan Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Banyak pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini, baik dalam hal gagasan, waktu maupun materil. Dengan tulus penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka. Secara khusus pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., Ketua Departemen Etnomusikologi, Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D., dan Sekretaris Departemen Etnomusikologi, Dra. Heristina Dewi, M.Pd., atas bantuan yang diberikan kepada saya selama mengikuti dan menyelesaikan pendidikan tingkat S1 jurusan Etnomusikologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

(9)

dalam skripsi ini. Semua ini memberikan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Terima kasih yang tulus juga penulis sampaikan kepada pembimbing II saya, Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. yang telah memberikan masukan-masukan di dalam diskusi selama proses penyelesaian penulisan skripsi ini.

Terima kasih yang tulus dan rasa hormat juga penulis sampaikan kepada semua dosen di Jurusan Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mentransformasikan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan di Departemen Etnomusikologi. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada segenap tenaga kependidikan di Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah membantu penulis dalam bidang adminstrasi perkuliahan sselama penulis menjadi mahasiswa.

Terima kasih kepada Bapak Marsius Sitohang, Bapak Sarikawan Sitohang dan Bapak Amarista Simarmata selaku informan kunci yang sangat membantu penulis dalam proses pengerjaan tugas akhir ini. Khususnya penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada bapak Marsius Sitohang, di samping sebagai dosen mata kuliah praktek gondang hasapi yang telah mengajarkan garantung kepada penulis selama masa perkuliahan, juga telah meluangkan waktunya untuk mengajarkan garantung dalam konteks kepentingan tulisan akhir ini selama kurang lebih dua bulan.

(10)

dukungannya selama ini. Semoga kita sukses bersama-sama. Demikian juga kepada Yosua P. Sihotang yang telah banyak memberikan bantuan dan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

Terima kasih yang tulus penulis tujukan kepada kedua orang tua, D. Sinaga dan G. Hutagalung serta adikku Vito Sinaga beserta seluruh keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik bagi penulis. Khususnya kepada ayah dan ibuku yang tidak pernah lelah menyemangati dan memotivasi penulis dalam mengerjakan tugas akhir ini, penulis ucapkan terima kasih.

Terima kasih kepada semua pihak yang memberikan bantuan langsung maupun tidak langsung kepada penulis dalam menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari adanya keterbatasan dan kekurangan dalam penyusunan tugas akhir ini, oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga berguna bagi penulis untuk menyempurnakan tugas akhir ini. Semoga dapat menambah pengetahuan bagi pembaca, khususnya pengetahuan terhadap budaya musikal masyarakat Batak Toba.

Medan, Agustus 2013

(11)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya

bahwa skripsi saya yang berjudul: ANALISIS TEKNIK PERMAINAN DAN PENGGARAPAN TIGA KOMPOSISI GONDANG PADA INSTRUMEN GARANTUNG YANG DIMAINKAN OLEH TIGA PARGARANTUNG adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun. Adapun bagian-bagian tertentu

dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan

sumbernya secara jelas sesuai dengan norma kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di penulisan skripsi ini saya

bersedia menerima sanksi dari fakutas sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Agustus 2013

Nesya Vania Clara Sinaga

(12)

DAFTAR ISI

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian………. 6

1.3.1 Tujuan………... 6

BAB II TRADISI KEBUDAYAAN MUSIK BATAK TOBA……… 14

2.1 Gambaran Umum Masyarakat Batak Toba………. 14

2.2 Kebudayaan Musikal Masyarakat Batak Toba……… 17

2.2.1 Ensambel Gondang Sabangunan………... 19

2.2.2 Ensambel Gondang Hasapi…...……….. 20

2.2.3 Teater Rakyat: Opera Batak………. 21

2.2.4 Ensambel Musik Tiup ( Brass Band )………. 23

(13)

BAB III INSTRUMEN GARANTUNG……… 26

3.1 Garantung dalam Perspektif Organologi……….. 26

3.2 Nada dan Sistem Pelarasan Garantung……….. 27

3.3 Posisi Badan dan Cara Memegang Kayu Pemukul dalam Memainkan Garantung………. 29

3.4 Garantung dalam Ensambel Gondang……… 31

BAB IV TRANSKRIPSI dan ANALISIS……… 34

4.1 Analisis Bentuk………..………… 33

4.1.1 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik……… 33

4.1.1.1 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik oleh Marsius Sitohang……… 33

4.1.1.2 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik oleh Sarikawan Sitohang……… 40

4.1.1.3 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik oleh Amarista Simarmata……….. 46

4.1.2 Analisis Bentuk GondangSi Bunga Jambu………… 54

4.1.2.1 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu oleh Marsius Sitohang……….. 54

4.1.2.2 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu oleh Sarikawan Sitohang………... 63

4.1.2.3 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu oleh Amarista Simarmata……….. 72

(14)

4.1.3.1 Analisis Bentuk Gondang Panogu-nogu

Horbo Tu Lahatan oleh Marsius Sitohang… 81

4.1.3.2 Analisis Bentuk Gondang Panogu-nogu

Horbo Tu Lahatan oleh Sarikawan Sitohang.. 86

4.1.3.3 Analisis Bentuk Gondang Panogu-nogu

Horbo Tu Lahatan oleh Amarista Simarmata 91

4.2 Analisis Teknik Permainan……… 95 4.2.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata Sopisik.. 95

4.2.1.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata

Sopisik oleh Marsius Sitohang…... 95 4.2.1.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata

Sopisik oleh Sarikawan Sitohang………… 97

4.2.1.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata

Sopisik oleh Amarista Simarmata………. 100

4.2.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga

Jambu………… . 101

4.2.2.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga

Jambu oleh Marsius Sitohang……… 101

4.2.2.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga

Jambu oleh Sarikawan Sitohang……… 102

4.2.2.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga

Jambu oleh Amarista Simarmata………….. 103

4.2.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu-nogu

Horbo Tu Lahatan………. 104

(15)

nogu Horbo Tu Lahatan oleh Marsius

Sitohang……….. 104

4.2.3.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu- nogu Horbo Tu Lahatan oleh Sarikawan Sitohang……….. 105

4.2.3.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu- nogu Horbo Tu Lahatan oleh Amarista Simarmata……… 106

4.2.4 Kesimpulan Analisis Teknik Permainan……….. 107

BAB V KESIMPULAN………. 110

DAFTAR PUSTAKA………. 114

(16)

ABSTRACT

This thesis is titled “Technique Analysis of the Arrangement and Composition of Three-Composition Garantung by Three Garantung Performers.” The study investigated the arrangement and techniques of each of the compositions that were used by the three performers. Specifically, this study examined the methods that they used in generating arrangement and other aspects that led to differences and parallels in their melody arrangement.In applying descriptive-analysis methodology, this study achieves its purposes of describing Garantung performance techniques and analyzing each performer’s composition and arrangement.

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu mata kuliah praktek yang saya ikuti selama empat semester (sejak T.A 2010/2011 s.d. T.A 2011/2012) berturut-turut di program studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara adalah mata kuliah Praktek Ensambel Gondang1

1

Menurut Purba dalam Victor Gannap (2010) mengatakan: “Dalam bahasa Batak Toba kata ‘gondang’ mempunyai arti yang majemuk. Kata tersebut bisa berarti instrumen musikal, ensambel musikal, judul sebuah komposisi musik, judul kolektif dari beberapa komposisi musik (repertoar), sebuah upacara, menunjukkan suatu kelompok …. Di samping itu, kata gondang seperti juga kata ‘benda’ lainnya, yang jika digabungkan dengan awalan tertentu akan memberikan pengertian yang berbeda. Sebagai contoh: kata ‘margondang’, ‘pargondang’, ‘sagondang’ … Oleh karena itu perlu dipahami bahwa kata gondang adalah sesuatu yang fleksibel untuk digunakan pada berbagai ekspresi. Oleh karena itu pula, kata gondang yang digunakan pada kalimat dan konteks yang berbeda akan memberikan pengertian yang berbeda pula. Perlu juga dicatat bahwa pengertian dan penggunaan kata gondang jelas berbeda dari arti yang terkandung dalam kata gendang atau khendang dalam bahasa Melayu dan Jawa. Kendati mereka memiliki persamaan di dalam artikulasi, namun mereka memberikan arti yang sangat berbeda.”

Hasapi Batak Toba, dengan kode mata kuliah: Mus 172, Mus

(18)

memainkan melodi komposisi gondang diajarkan pada intrumen-instrumen yang ditawarkan di dalam mata kuliah tersebut menjadi sangat penting.

Formasi instrumen yang biasanya dimainkan dalam ensambel gondang hasapi adalah dua buah hasapi (two stringed boat lute-chordophone) masing-masing disebut

hasapi ende dan hasapi doal, sebuah garantung (wooden-xylophone, struck

idiophone), sebuah sulim (transverse bamboo-flute-aerophone), dan sebuah sarune

etek (single-reed idioglot-aerophone). Di dalam mata kuliah gondang hasapi yang

diajarkan di program studi Etnomusikologi yang saya ikuti, hanya ada tiga instrumen yang diajarkan, yaitu hasapi, sulim dan garantung. Sejak mengikuti perkuliahan tersebut saya sudah memutuskan untuk mempelajari lebih jauh tentang instrumen

garantung. Saya memilih mempelajari garantung karena menurut pengamatan saya

jauh lebih mudah mendengarkan dan memainkan melodi garantung dibandingkan dengan mendengar dan memainkan instrumen lainnya yang ada di dalam ensambel

gondang hasapi. Alasan dasar inilah yang membuat saya tertarik untuk mempelajari

lebih jauh tentang instrumen garantung, baik dari sisi teknik memainkannya maupun aspek-aspek musikal dan ekstra musikal lainnya termasuk pembuatannya, perkembangannya, metode pentransmisiannya, maupun cara penggarapan pukulan oleh para pargarantung.

(19)
(20)

Musisi yang memainkan garantung disebut pargarantung. Menjadi

pargarantung adalah melalui proses belajar atau memiliki bakat alamiah. Mereka

belajar dari pargarantung terdahulu yang telah mereka amati. Awalnya mereka menyimak bagaimana cara pargarantung memainkan sebuah repertoar, mendengarkan, menghafal melodi dan memperhatikan pergerakan tangan saat memukul bilah garantung. Untuk lebih mendalaminya, mereka harus berlatih kembali sehingga dapat memainkan repertoar secara utuh

Dalam memainkan sebuah repertoar gondang seorang pargarantung memainkan repertoar gondang yang digarapnya sesuai dengan keinginan setiap pargarantung. Garapan maksudnya adalah kombinasi pengolahan nada dan ritma yang diciptakan oleh pargarantung ke dalam pengorganisasian tangan kanan dan tangan kiri dalam memainkan sebuah repertoar. Dari pengamatan yang saya lakukan, saya mencatat bahwa antara satu pargarantung dengan pargarantung lainnya mempunyai materi dan metode penggarapan yang berbeda, tetapi bisa pula sama, atau mirip. Asumsi ini didasarkan pada kenyataan adalah bahwa interaksi diantara

pargarantung sering terjadi yang memungkinkan mereka bertukar pendapat atau

(21)

dimaksud memberikan konsekuensi logis, yaitu bahwa perbedaan dan persamaan yang ada di dalam tradisi gondang hasapi menjadi warna yang kuat dan menjadi karakter tradisi musik tersebut. Persamaan dan perbedaan tersebut penting untuk dipelajari: dimana perbedaan dan dimana persamaannya. Faktor apa sajakah sebenarnya yang menyebabkan terjadinya persamaan dan perbedaannya, serta bagaimana proses persamaan dan perbedaan tersebut bisa berlangsung dan berkesinambungan?

Berdasarkan hal dan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang permainan garantung, dan dituliskan dalam skripsi dengan judul:

ANALISIS TEKNIK PERMAINAN DAN PENGGARAPAN TIGA KOMPOSISI GONDANG PADA INSTRUMEN GARANTUNG YANG DIMAINKAN OLEH TIGA PARGARANTUNG.

1.2 Pokok Permasalahan

Adapun pokok permasalahan pada skripsi ini adalah bagaimana teknik permainan dan penggarapan tiga komposisi gondang yang dimainkan oleh tiga

pargarantung. Dalam teknik permainan apakah ada cara atau pola tertentu dalam

memainkan repertoar gondang? Bagaimana metode yang dipakai dalam menghasilkan garapan? Aspek apa yang membuat penggarapan yang dimainkan

(22)

Tiga repertoar yang akan dianalisis adalah Gondang Hata Sopisik, Gondang Si

Bunga Jambu dan Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan. Analisis teknik

permainan yang akan dilakukan terhadap ke tiga repertoar ini diharapkan mampu menunjukkan kekayaan pola permainan garantung yang dimainkan oleh tiga

pargarantung.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan

1. Untuk mengetahui cara atau pola teknik permainan tiga gondang yang dimainkan oleh ketiga pargarantung.

2. Untuk mengetahui metode yang dipakai dalam mengahasilkan garapan

3. Untuk mengetahui aspek apa yang membuat penggarapan yang dimainkan

pargarantung berbeda atau sama

1.3.2 Manfaat

1. Sebagai pengayaan referensi musik Batak Toba khususnya musik garantung

2. Sebagai referensi penelitian berikutnya dalam aspek teknis maupun teori musik Batak Toba

1.4 Konsep dan Teori 1.4.1 Konsep

(23)

(Mely Tan dalam Koentjaraningrat, 1991: 21). Konsep dimaksudkan untuk memberi definisi dan pembatasan pemahaman.

Kata analisis berasal dari kata analisa yaitu, penyelidikan dan penguraian terhadap masalah untuk mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya serta proses pemecahan masalah. Adapun objek penelitian yang akan diuraikan adalah teknik permainan dan penggarapan tiga komposisi gondang oleh tiga pargarantung pada instrumen garantung.

Teknik permainan yang dimaksud pada tulisan ini adalah cara yang dipakai seorang pargarantung dalam memainkan repertoar tersebut khususnya dalam menggarap. Hal ini dicapai dengan mengidentifikasi pergerakan tangan kanan dan kiri pargarantung.

Penggarapan berasal dari kata garap yang merupakan istilah yang dipakai pada gamelan jawa. Judith Becker dalam bukunya Karawitan Source Readings In

Javenese Gamelan And Vocal Music mengatakan: “Garap: 1. Way of working or

fashioning. 2. The creation of melodies.” Jika diterjemahkan secara bebas, garap

(24)

Tangkai keatas gerakan tangan kiri

Tangkai kebawah gerakan tangan kanan

Gambar. 1

Gondang pada judul skripsi ini mengandung banyak pengertian seperti yang sudah penulis utarakan pada latar belakang. Gondang yang dimaksud pada judul skripsi ini adalah judul sebuah komposisi musik.

Yang dimaksud dengan pargarantung adalah seorang yang mampu memainkan garantung, mengenal sejumlah repertoar gondang atau merupakan seorang pemain garantung dalam grup musik etnis Batak

1.4.2 Teori

Untuk menguraikan topik-topik pembahasan dibutuhkan teori yang berguna untuk mempedomani penguraian tersebut.

(25)

mungkin kita dapat mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi atau belum diketahui tentang teori praktis dan teknik-teknik permainan yang dinyatakan lewat istilah-istilah lokal dapat diteliti atau diungkap.

Tradisi yang diwariskan dengan cara mulut ke mulut ini juga akan mengakibatkan beberapa konsekuensi lain yaitu pemahaman si penerima yang berkembang mengikuti perubahan lingkungan dan waktu. Beberapa pargarantung yang memainkan repertoar dengan judul yang sama akan menghasilkan repertoar tersebut dengan bentuk dan cara yang berbeda atau mungkin sama. Hal ini mungkin diakibatkan oleh pengalaman bermusik, lingkungan tempat tinggal, dengan siapa mereka berinteraksi yang mengakibatkan permainan mereka berbeda atau sama. Netll dalam bukunya The Study of Ethnomusicology, 29 Issues and Concepts juga mengatakan bahwa di dalam literatur etnomusikologi, musik tidak mempermasalahkan suatu kebenaran. Perbedaan dan persamaan dalam musik tradisi tersebut adalah hal yang normal dan tidak ada yang salah (Nettl 1983: 172). Justru perbedaan dan persamaan inilah menjadi ciri dan warna dalam tradisi musikal pada masyarakat Batak Toba.

(26)

proses memainkan musik (Nettl 1973: 35). Oleh karena kerangka pikir ini, penulis berpedoman bahwa dengan melakukan pentranskripsian terhadap musik yang diteliti penulis dapat menjawab permasalahan di dalam tulisan ini.

1.5 Metode Penelitian

Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitis, yaitu menguraikan bagaimana teknik permainan garantung, pada saat yang sama menganalisa permainan atau penggarapan dari masing-masing pemain

garantung.

Pada tahap awal, penulis melakukan studi kepustakaan dengan mencari dan membaca tulisan yang berkaitan dengan kajian penulis. Setelah membaca dan memahami apa yang ingin dicapai, penulis menetapkan tiga pargarantung sebagai informan kunci. Alasan penulis menetapkan tiga orang adalah dikarenakan jumlah

pargarantung pada saat ini yang sangat sedikit sehingga tiga pargarantung ini sudah

cukup mewakili. Tiga orang pargarantung yang penulis pilih yaitu Marsius Sitohang, Sarikawan Sitohang dan Amarista Simarmata. Ketiga informan ini merupakan seniman dalam dunia musik Batak Toba, mereka mampu dalam memainkan

garantung dan sudah diakui kemampuannya oleh masyarakat. Tahap berikutnya

penulis melakukan perekaman tiga repertoar gondang, yang dilakukan dari satu

pargarantung ke pargarantung berikutnya. Perekaman dilakukan secara audio visual.

(27)

tersebut, kemudian melatihnya langsung dengan garantung. Penulis harus berulang-ulang melihat maupun mendengar rekaman lagu dan melatihnya bagian per bagian. Dalam melatih instrumen garantung, penulis mendapat kemudahan dalam mengorganisasi pergerakan tangan dikarenakan penulis telah belajar piano selama kurang lebih tiga belas tahun. Pergerakan tangan dalam memainkan piano yang juga dapat diterapkan dalam memainkan garantung adalah seperti gerakan searah (similar

motion) dan gerakan berlawanan (contrary motion). Melalui hal ini penulis terbantu

dalam memainkan repertoar garantung dan hal pemahaman penulisan transkripsi yaitu dalam memahami tinggi rendah dan panjang pendeknya nilai sebuah nada. Namun demikian, penulis harus bisa mencapai tingkat yang lebih lagi yaitu memahami setiap garapan yang dibuat oleh masing-masing pargarantung. Untuk mencapai ini, penulis melakukan latihan. Setelah dapat memainkan repertoar tersebut, penulis mulai melakukan transkripsi di atas kertas. Repertoar yang telah ditranskripsi kemudian dianalisis oleh penulis. Hasil transkripsi dan analisis inilah yang nantinya menjadi tujuan dari penelitian ini.

(28)

Pemahaman nilai ketukan pada notasi barat tetap digunakan penulis dalam menunjukkan jumlah waktu dalam memainkan repertoar. Nilai ketukan pada

penulisan ini menggunkan nilai satuan σδφγκλ;θ σ sebagai satu ketuk.

Simbol-simbol notasi yang akan dipakai penulis pada penulisan repertoar adalah :

Tangan Kanan

Tangan Kiri

Pukulan Tak (pukulan pinggiran badan kayu oleh tangan kiri) |

| | |

Garis putus-putus yang diasosiasikan pada garis birama seperti pada musik barat (membatasi jumlah nilai ketukan setiap birama)

Tabel. 1

(29)
(30)

BAB II

TRADISI KEBUDAYAAN MUSIK BATAK TOBA

2.1 Gambaran Umum Masyarakat Batak Toba

Batak Toba merupakan salah satu suku dari lima kelompok etnik suku Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Empat kelompok etnik lainnya yaitu Pakpak, Mandailing, Simalungun dan Karo. Dari lima sub-suku ini, Batak Toba merupakan suku yang paling banyak jumlahnya.

Secara administratif, etnik Batak Toba mendiami daerah Tapanuli Utara. Pada umumnya masyarakat Batak Toba bermata pencaharian sebagai petani yang bekerja di persawahan dan ada pula yang membuka perladangan dimana mereka dapat bercocok tanam dan beternak. Selain bercocok tanam dan beternak, masyarakat Batak Toba juga ada yang berprofesi sebagai nelayan di sekitar danau Toba. Namun setelah berkembangnya jaman, profesi-profesi ini dianggap tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehingga banyak masyarakat Batak Toba yang pergi merantau keluar dari Tapanuli Utara dan hidup disana. Pada sekarang ini masyarakat Batak Toba yang telah maju dalam pendidikan sudah mendapatkan profesi-profesi lainnya dan menetap di kota-kota Indonesia.

(31)

Kebudayaan Batak Toba merupakan sebuah bentuk gagasan yang diwarisi masyarakat pemiliknya dengan membuat perilaku terhadap nilai-nilai budaya. Seperti yang diungkapkan Koentjaraningrat bahwa kebudayaan merupakan ungkapan dari ide, gagasan dan tindakan manusia dalam memenuhi keperluan hidup sehari-hari, yang diperoleh melalui proses belajar dan mengajar (2000:215). Konsep masyarakat Batak Toba tentang kehidupan manusia adalah bahwa kehidupannya selalu terkait dan diatur oleh nilai-nilai adat. Adat merupakan bagian dari kewajiban yang harus ditaati dan dijalankan.

Dalam mitologi yang berkembang pada masyarakat Batak Toba, penguasa tertinggi adalah Ompu Mulajadi Nabolon. Hal ini diyakini bahwa manusia dan segala isinya diciptakan oleh Mulajadi Nabolon. Mulajadi Nabolon ini terbagi tiga yang disebut tri tunggal sebagai wujud kuasa Mulajadi Nabolon, yaitu: Batara Guru,

Ompu Tuan Soripada dan Ompu Tuan Mangalabulan. Batara Guru merupakan dewa

yang memberikan kepintaran, tempat bertanya dan pemberi talenta. Ompu Tuan

Soripada merupakan sebagai dewa yang memberi mata pencaharian, kekayaan,

kejayaan dan kesusahan bagi manusia. Sedangkan Tuan Sori Mangaraja adalah dewa yang memberikan ilmu kedukunan, kesaktian, kekuatan dan ilmu keberanian (Tobing 1956:46-55)

(32)

saat ini masih ada masyarakat yang menganut kepercayaan Batak Toba asli yang disebut dengan Ugamo Malim (Parmalim).

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam tiga posisi yang disebut Dalihan Na Tolu. Dalam berbagai tulisan yang membicarakan masyarakat Toba, istilah Dalihan Na Tolu selalu diartikan atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tiga Tungku Sejerangan atau Tungku Nan Tiga yaitu: (1) pihak semarga atau Dongan

Tubu (2) pihak yang menerima istri atau Hula-hula (3) pihak yang memberi istri atau

Boru. Ketiga kelompok memiliki peranan yang penting dan saling melengkapi dalam adat. Sistem ini bersifat kontekstual, maksudnya adalah setiap masyarakat Batak Toba akan pernah menjadi Hula-hula, juga sebagai Dongan Tubu, dan sebagai Boru.

(33)

Gambar 3. Tanah Batak, Terletak di Sumatera Utara, Kab. Samosir, Kab. Toba Samosir, Kab. Tapanuli Utara, Kab. Humbanghasundutan

(Sumbe

2.2 Kebudayaan Musikal Masyarakat Batak Toba

Musik dalam budaya Batak Toba terdiri dari musik vokal dan instrumental. Musik vokal disebut dengan istilah ende dan musik instrumental disebut gondang. Ende dapat dibagi menurut fungsi dan tujuan lagu tersebut. Jenis-jenis ende adalah:

(a) Mandideng, nyanyian untuk menidurkan anak, (b) Sipaingot, nyanyian yang isi

(34)

khusus untuk iringan tari tumba, biasanya pada saat terang bulan, (e) Sibaran, nyanyian yang menceritakan penderitaan yang berkepanjangan yang menimpa seseorang atau keluarga, (f) Pasu-pasuan, nyanyian yang berkenaan dengan pemberkatan, yang mengungkapkan lirik-lirik tentang kekuasaan Tuhan, biasanya dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya, (g) Hata yaitu nyanyian yang dinyanyikan dengan ritma yang “monoton” seperti metric speech atau rap dengan lirik berupa pantun dengan sajak AABB dengan memiliki jumlah suku kata yang relatif sama setiap barisnya. Biasanya nyanyian ini dilakukan sekelompok anak yang dipimpin oleh seorang yang lebih dewasa atau orang tua, (h) Andung, yaitu nyanyian yang menceritakan riwayat hidup seseorang yang telah meninggal, baik pada waktu di depan jenazah ataupun setelah dikubur. Nyanyian ini secara spontanitas dengan garis melodi yang bebas (Ben Pasaribu 1986:27-28)

Aktivitas musikal dalam bentuk musik instrumental Batak Toba dikenal dengan sebutan Gondang. Gondang terdiri dari dua bagian, yakni Gondang

Sabangunan (Gondang Bolon) dan Gondang Hasapi (Uning-uningan). Gondang

Sabangunan dan Gondang Hasapi adalah dua jenis ensambel musik yang terdapat

(35)

2.2.1 Ensambel Gondang Sabangunan

Gondang Sabangunan terdiri dari taganing, gordang bolon, sarune bolon,

ogung oloan, ogung ihutan, ogung panggora, ogung doal dan hesek. Dalam uraian

berikut ini akan dijelaskan fungsi dari masing-masing instrumen.

1. Taganing (braced-drum chime) dari segi teknis, memiliki tanggung jawab

dalam penguasaan repertoar dan memainkan melodi bersama-sama dengan sarune. Walaupun tidak seluruh repetoar berfungsi sebagai pembawa melodi, namun pada setiap penyajian gondang, taganing berfungsi sebagai “pengaba” dengan isyarat-isyarat ritma yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota ensambel dan pemberi semangat kepada pemain lainnya

2. Gordang Bolon (braced-drum) berfungsi sebagai instrumen ritma variabel,

yaitu memainkan iringan musik lagu.

3. Sarune Bolon (double reed oboe) berfungsi sebagai pembawa melodi lagu

yang dibawakan oleh taganing.

4. Ogung (Suspended Gong) yang terdiri dari Ogung Oloan, Ihutan, Panggora

dan Doal. Ogung Oloan berfungsi dalam membentuk ritma yang konstan,

yaitu memainkan iringan irama lagu dengan model yang tetap. Fungsi Ogung

Oloan ini umumnya sama dengan fungsi Ogung Ihutan, Ogung Panggora,

dan Ogung Doal. Ogung Doal memperdengarkan bunyinya tepat di

tengah-tengah dari dua pukulan hesek dan menimbulkan suatu efek sinkop dari

(36)

5. Hesek berfungsi sebagai pembawa tempo (ketukan dasar) untuk menuntun instrumen lainnya.

Gondang Sabangunan pada zaman dahulu digunakan untuk setiap upacara yang berhubungan dengan upacara adat maupun upacara religius. Gondang berperan sebagai media yang menghubungkan manusia dengan penciptanya dan juga dianggap sebagai media yang menghubungkan manusia dengan sesamanya. Disamping itu

Gondang Sabangunan kini digunakan sebagai sarana hiburan.

Ensambel Gondang Sabangunan juga kerap disebut Gondang Bolon.

Gondang Bolon berarti ensambel yang besar.

2.2.2 Ensambel Gondang Hasapi

Ensambel Gondang Hasapi terdiri dari beberapa instrumen yaitu :

1. Hasapi Ende (pluked lute) adalah instrumen pembawa melodi. Instrumen ini

termasuk kedalam kelompok chordophone. Instrumen ini dimainkan dengan cara mamiltik (dipetik).

2. Hasapi Doal (pluked lute), instrumen ini sama dengan Hasapi Ende namun

dalam permainannya Hasapi Doal berperan sebagai pembawa ritma konstan. Ukuran instrumen Hasapi Doal sedikit lebih besar dari Hasapi Ende.

3. Sarune Etek (idio-aerophone), adalah instrumen pembawa melodi yang

(37)

4. Garantung (wooden-xylophone), adalah instrumen pembawa melodi yang terbuat dari kayu dan memiliki lima bilah nada atau lebih. Klasifikasi instrumen ini termasuk ke dalam kelompok xylophone. Selain berperan sebagai pembawa melodi, juga berperan sebagai pembawa ritma pada lagu-lagu tertentu.

5. Hesek, adalah instrumen pembawa tempo (ketukan dasar) yang terbuat dari

pecahan logam atau besi dan kadang kala dipukul dengan botol kosong. Instrumen ini dimainkan dengan cara mengadu pecahan logam tersebut sesuai dengan irama dari suatu lagu. Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok idiophone.

Dalam perkembangannya, gondang hasapi kadangkala ditambah dengan instrumen sulim. Beberapa narasumber menyebutkan bahwa alat musik sulim

termasuk ke dalam ensambel gondang hasapi dipengaruhi dari ansambel musik opera Batak.

(38)

2.2.3 Teater Rakyat: Opera Batak

Opera Batak adalah suatu bentuk pertunjukan berupa sandiwara keliling, yang menampilkan cerita- cerita rakyat Batak, yang terdiri dari dua sampai lima babak dimana didalam setiap penampilannya selalu disertai dengan musik, vokal dan tarian. Opera Batak berkembang di daerah Sitamiang Samosir,yang dipelopori oleh Tilhang Gultom sekitar tahun 1928. Opera batak ini dimainkan biasanya pada malam hari untuk mengisi kekosongan waktu masyarakat batak dan untuk melepas keletihan sesudah bekerja. Lakon cerita dan lagu-lagu yang dibawakan biasanya menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat batak toba dan sering juga menimbulkan rasa kesukuan serta kebangsaan yang tinggi. Bahkan ada juga yang berisi sindiran dan kritikan terhadap pemerintah penjajah yang pada waktu itu adalah penjajah dari Belanda, sehingga mengakibatkan banyak terjadi pro dan kontra di antara masyarakat. Cerita yang terdapat dalam Opera Batak juga merupakan cerita tentang rakyat Batak yang dituturkan dari mulut ke mulut. Misalnya kisah tentang Sipurba Goringgoring yang terkenal didaerah Humbang Hasundutan, kisah Siboru Tumbaga, Guru Saman dan Sisingamangaraja dan lainnya.

(39)

2.2.4 Ensambel Musik Tiup (Brass Band)

Musik tiup (brass band) adalah kesatuan musik dimana alat musik yang dipergunakan adalah alat musik yang terbuat dari logam atau kuningan. Menurut Curt

Sachs dalam Wellsprings of Music, pengelompokan musik tentang konsep sexes

dalam klasifikasi alat atau penjenisan musik, musik tiup brass termasuk dalam kelompok aerophone yakni sumber bunyi berasal dari udara (1962:97-98). Awalnya bahan untuk instrumen logam ini terbuat dari kuningan dan sering dinamai brass, yang dapat menghasilkan bunyi musikal dengan cara ditiup. Instrumen logam ini berasal dari tahun 1820-an di tempat asalnya di Inggris.

Ensambel Musik Tiup (Brass Band) awalnya merupakan pengaruh musik luar (musik barat) yang datang ke dalam komunitas masyarakat Batak, diawali dari aktivitas keagamaan oleh gereja pertama di tanah Batak. Masuknya ajaran agama Kristen di tanah Batak, menandai dimulainya era baru dalam banyak aspek kehidupan sosial. Para misionaris dalam penginjilannya juga membawa tradisi musik barat yaitu musik organ dan musik tiup (brass band), sebagai sarana pendukung di dalam penyampaian pelayanan pengabaran Injil di tanah Batak.

Musik barat yang dahulu dipakai hanya dalam kegiatan gereja kini digunakan di acara adat tradisi yang sama halnya dengan gondang. Ensambel musik tiup sekarang sudah digunakan dalam upacara seremonial dan religi bahkan upacara ritual.

Dalam praktek dewasa ini ensambel musik tiup dan gondang berkolaborasi, saling

(40)

2.3 Transmisi Musikal dalam Kebudayaan Musik Batak Toba

Transmisi musikal maksudnya adalah hal-hal yang bekaitan dengan belajar dan mengajar musik (Dorothea 2002: 75). Proses transmisi musik Batak Toba adalah melalui proses tradisi lisan, yaitu melalui penyampaian mulut ke mulut.

Menurut Marsius Sitohang, ada dua cara yang dapat dilakukan dalam proses transmisi musikal dalam kebudayaan Batak Toba yaitu adalah mempelajari musik tersebut secara mandiri, melakukannya sendiri tanpa bantuan seorang guru atau secara pengajaran melalui bantuan seorang guru yang memberikan pengajaran musik tersebut secara langsung.

Mempelajari secara mandiri merupakan suatu cara yang diperoleh melalui kerja keras calon musisi tersebut. Calon musisi tersebut harus mempunyai kemampuan daya ingat yang baik supaya dapat mengingat dari permainan musisi lain. Dari hasil pengamatan inilah menjadi modal untuk dapat memainkan dan mengembangkan sebuah permainan musik yang akan dikuasainya. Selain mempunyai daya ingat yang kuat, calon musisi tersebut juga harus mempunyai kemampuan musikalitas yang baik untuk menciptakan variasi-variasi di dalam permainannya. Kerja keras melalui suatu ketekunan sangat dibutuhkan untuk mencapai hasil yang maksimal.

(41)
(42)

BAB III

INSTRUMEN GARANTUNG

3.1 Garantung dalam Perspektif Organologi

Garantung Batak Toba termasuk dalam klasifikasi idiophone yang terdiri dari

bilah-bilah kayu yang dibunyikan dengan cara dipukul dengan menggunakan stik

pemukul (palu-palu). Dilihat dari bentuknya, garantung dikategorikan dalam jenis

xylophone dimana bilah-bilah kayu disusun secara berurutan sesuai nadanya

masing-masing.

Garantung pada awalnya berbentuk sangat sederhana dan masih berbilah lima

buah. Tangga nada yang terdapat pada garantung pada masa itu merupakan sistem lima nada dan belum menggunakan sistem penalaan musik barat. Susunan bilah-bilah

garantung adalah dari kanan ke kiri berurut dimulai dari nada terendah. Susunan ini

terbalik dengan susunan pada piano dalam musik barat. Jika bilah dipukul secara berurutan maka akan terdengar menyerupai bunyi do, re, mi, fa dan sol dalam solmisasi musik barat.

(43)

saat sekarang ini digunakan tali rafia. Kayu pemukul garantung (palu-palu) terbuat dari kayu yang cukup keras seperti kayu jeruk purut, bambu tebal dan lainnya.

Garantung mengalami perkembangan dari segi fisik atau bentuk alat

musiknya. Bentuk garantung berkembang dari bentuk yang sangat sederhana menjadi yang lebih kompleks pada saat sekarang ini. Jenis-jenis garantung ini adalah seperti :

- Garantung lima buah bilah tanpa kaki penyangga

- Garantung lima buah bilah dengan kaki penyangga

- Garantung lima buah bilah dengan kotak resonator dan kayu melintang untuk

pukulan tak

- Garantung delapan buah bilah dengan kotak resonator dan kayu melintang untuk

pukulan tak

- Garantung lebih dari delapan bilah dengan kotak resonator dan kayu melintang

untuk pukulan tak

3.2 Nada dan Sistem Pelarasan Garantung

(44)

Gambar 4. Interval Garantung Penulis2

2

Pada penulisan skripsi ini penulis memakai tiga garantung yang berbeda. Salah satu garantung yang dipakai adalah garantung penulis.

Pada awalnya garantung merupakan instrumen yang mempunyai lima buah bilah, setiap bilah menghasilkan satu nada karena itu pada awalnya garantung adalah instrumen dengan sistem lima nada atau pentatonis. Jika lima nada ini dibunyikan secara berurut maka akan terdengar seperti bunyi do re mi fa sol jika disamakan pada musik barat. Pada saat ini garantung yang mempunyai lima buah nada dituning atau distem dengan cara yang sangat sederhana yaitu berdasarkan rasa pembuatnya.

Pada perkembangannya garantung kini mempunyai lebih dari lima buah bilah, ada yang mempunyai delapan bilah (menghasilkan delapan nada atau satu oktaf) ataupun lebih dari delapan bilah. Sistem pelarasan yang digunakan pada

garantung ini sudah berubah tidak mengikuti rasa pembuatnya lagi tetapi

menggunakan alat bantu seperti dapat disesuaikan dengan nada-nada sulim atau disesuaikan dengan bunyi yang dihasilkan pada instrumen - instrumen musik barat seperti piano atau keyboard.

(45)

Berkembangnya jumlah bilah atau nada pada garantung dan berubahnya sistem tune pada garantung diperkirakan muncul sejak adanya opera Batak yang pada saat itu memainkan lagu-lagu yang menggunakan nada diatonis. Untuk dapat memainkan lagu tersebut maka garantung yang awalnya hanya mempunyai lima bilah dimodifikasi sesuai dengan penggunaannya. Alasan lain adalah munculnya lagu pop Batak Toba atau lagu rohani Kristen yang juga menggunakan tangga nada diatonis sehingga garantung disesuaikan dan dilaraskan dengan sistem penalaan diatonis agar bunyi yang dihasilkan dapat menyerupai atau mengikuti instrumen musik barat.

3.3 Posisi Badan dan Cara Memegang Kayu Pemukul Pada Waktu Memainkan Garantung

(46)

Gambar 4. Posisi Bermain Garantung dengan Duduk Bersila

Pada saat sekarang ini posisi badan disesuaikan dengan bentuk garantung yang dipakai dan disesuaikan dengan kegunaannya pada saat dimainkan.

Pargarantung dapat duduk di kursi dimana instrumen garantung yang dimainkannya

diletakkan di atas meja atau wadah tertentu sesuai dengan tinggi tubuh pargarantung pada saat duduk. Jika garantung yang digunakan adalah garantung yang mempunyai kaki, pargarantung memainkan garantung tersebut dengan posisi tubuh berdiri. Posisi lainnya adalah dimana garantung digantungkan atau dikaitkan ke tubuh si pemain. Posisi ini digunakan agar pargarantung dapat bergerak sambil memainkan

(47)

Gambar 5. Posisi Bermain Garantung dengan Posisi Berdiri

(48)

Gambar 6. Posisi Tangan Memegang Stik

(49)

3.4 Garantung dalam Ensambel Gondang

Dilihat dari peranan musikalnya garantung mempunyai peran ganda yaitu sebagai pembawa melodi maupun ritma secara konstan maupun variatif. Garantung juga dapat mengawali tempo lagu dan mengikuti melodi gondang secara paralel pada permainan sarune etek .

Dilihat dari peranan fungsi, garantung secara individu adalah sebagai media hiburan dan secara ensambel garantung dimainkan dalam ensambel gondang hasapi dimana pada zaman dahulu dipakai untuk :

1. Mengiringi tarian muda-mudi (manortor) 2. Belajar bermain garantung oleh muda-mudi 3. Mengiringi pertunjukan opera Batak

4. Menyembuhkan orang sakit

5. Mendatangkan rezeki atau menolak bala 6. Memanggil roh orang yang sudah meninggal

(50)

BAB IV

TRANSKRIPSI DAN ANALISIS

4.1 Analisis Bentuk

Yang dimaksud bentuk dalam pembahasan ini adalah bagian dari keseluruhan gondang yang dibagi berdasarkan susunan melodi yang dimainkan dalam satu siklus. Setiap gondang akan dibagi kedalam beberapa kelompok bentuk yang penulis namakan dengan huruf pada setiap bagian.

4.1.1 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik

4.1.1.1 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik oleh Marsius Sitohang

Gondang Hata Sopisik yang dimainkan oleh Marsius Sitohang terdiri dari 47 birama yang dibagi ke dalam tujuh bagian, yaitu bagian A, B, C, D, E, F dan G. Di dalam bagian dari melodi ini terdapat pengulangan-pengulangan pukulan. Pengulangan tersebut ada yang berupa pengulangan sama persis dan ada pula pengulangan variasi. Pengulangan variasi adalah variasi pukulan yang berbeda dari pukulan sebelumnya. Berikut akan dijabarkan analisis bentuk Gondang Hata Sopisik yang dimainkan Marsius Sitohang.

(51)

Setelah bagian A dimainkan maka Marsius memainkan bagian A1 yaitu terdapat pada birama 5-8.

A1 merupakan pengulangan varisi dari bagian A. Jika dilihat, birama 2-4 dan birama 6-8 mempunyai melodi yang sama persis. Perbedaan terletak pada variasi bagian awal yaitu antara birama 1 dengan birama 5.

(52)

Bagian C dimainkan dari birama 13-16. Birama 15-16 merupakan pengulangan variasi dari birama 13-14 namun mempunyai sedikit perbedaan dibagian akhir birama 14 dan bagian akhir birama 16 :

Setelah bagian C maka dimainkan bagian D pada birama 17-20. Birama 19-20 adalah pengulangan variasi dari birama 17-18 yang mempunyai perbedaan antara birama 17 dengan birama 19. Perhatikan gambar berikut ini.

(53)

Kemudian dimainkan E1 pada birama 26-29 :

Bagian E1 merupakan pengulangan dari bagian E. Yang membedakannya hanya pada akhir birama 29 dengan birama 25:

Bagian E

(54)

Bagian F dimainkan dari birama 30-37. Birama 34-37 merupakan sequence yang dimainkan lebih tinggi 1 bilah dari birama sebelumnya 30-33. Perhatikan gambar berikut ini :

Kemudian Marsius memainkan bagian G dimainkan dari birama 38-41. Birama 40-41 merupakan pengulangan dari birama 38-39.

(55)

G1 merupakan pengulangan variasi dari bagian G. Perhatikan perbedaan variasi pukulan berikut ini:

Marsius Sitohang mengakhiri gondang pada birama 46-47 :

G

(56)
(57)

4.1.1.2 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik oleh Sarikawan Sitohang

Gondang Hata Sopisik yang dimainkan oleh Sarikawan Sitohang terdiri dari 46 birama yang dibagi menjadi tujuh bagian melodi, yaitu bagian A, B, C, D, E, F dan G. Di dalam bagian-bagian ini terdapat pengulangan berupa pengulangan variasi pukulan. Berikut penjabaran dari setiap bagian.

Bagian A dimainkan dari birama 1-4.

Bagian A1 dimainkan pada birama 5-8 yang merupakan pengulangan variasi dari bagian A.

Lihat variasi pukulan bagian A birama 1-4 dengan bagian A1 birama 5-8 :

A

(58)

Kemudian Sarikawan memainkan bagian B pada birama 9-12. Jika diperhatikan birama 11-12 merupakan pengulangan variasi dari dua birama sebelumnya. Variasi terletak pada birama 12 dengan birama 10 :

Selanjutnya dimainkan bagian C pada birama 13-16. Birama 15-16 merupakan pengulangan variasi dari birama 13-14. Perhatikan perbedaan variasi pada gambar berikut ini.

(59)

Berikutnya dimainkan bagian E pada birama 21-24. Birama 23-24 merupakan pengulangan variasi dari birama 21-22.

(60)

Bagian E1 merupakan pengulangan dari bagian E. Perhatikan perbedaan variasi pada gambar berikut ini:

Selanjutnya bagian F dimainkan pada birama 29-36. Jika diperhatikan birama 33-36 merupakan sequence variasidari birama 29-32, dimainkan 1 bilah lebih tinggi.

E

(61)

Setelah bagian F Sarikawan memainkan bagian G pada birama 37-40. Birama 39-40 merupakan pengulangan variasi dari birama 37-38.

Selanjutnya masuk ke bagian G1 dari birama 41-44. Birama 43-44 merupakan pengulangan variasi dari birama 41-42 :

(62)

Sebagai penutup Sarikawan memainkan melodi pada birama 45-46

Dengan melihat analisis diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk gondang Hata Sopisik oleh Sarikawan Sitohang adalah A A1 B C D E E1 F G G1 Penutup.

G

(63)

4.1.1.3 Analisis Bentuk Gondang Hata Sopisik oleh Amarista Simarmata

Gondang Hata Sopisik yang dimainkan oleh Amarista Simarmata mempunyai 48 birama yang dibagi kedalam enam bagian yaitu bagian A B C D E dan F. Di dalam bagian ini terdapat pengulangan berupa pengulangan variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut akan dijabarkan bentuk dari Gondang Hata Sopisik oleh Amarista Simarmata

Bagian A dimainkan pada birama 1-4.

(64)

Lihat perbedaan variasi yang dimainkan pada bagian A dan A1 pada gambar berikut ini :

Selanjutnya bagian B dimainkan pada birama 9-12 :

Kemudian permainan dilanjutkan ke bagian B1 yaitu birama 13-16 yang merupakan pengulangan variasi dari bagian B. Perhatikan gambar pada halaman 49.

A

(65)

Perhatikan variasi pukulan pada bagian B dan B1 :

Permainan dilanjutkan ke bagian C pada birama 17-20. Birama 19-20 merupakan pengulangan variasi dari dua birama sebelumnya. Perhatikan perbedaan

B

(66)

variasi berikut ini:

Pada birama berikutnya Amarista memainkan bagian D yaitu birama 21-24. Birama 23-24 merupakan pengulangan variasi dari birama 21-22 :

(67)

Perhatikan variasi pukulan yang terjadi pada bagian D dan D1 :

D

(68)

Berikutnya Amarista memainkan bagian E pada birama 29-36. Birama 33-36 merupakan sequence variasi dari birama 29-32, yang dimainkan 1 bilah lebih tinggi. Perhatikan gambar berikut ini :

Permainan dlanjutkan ke bagian F pada birama 37-40. Birama 39-40 merupakan pengulangan dari dua birama sebelumnya.

(69)

Perhatikan variasi yang terjadi pada bagian F dan F1 berikut ini:

F

(70)

Sebagai penutup Amarista Simarmata memainkan melodi dari birama 45-48

(71)

4.1.2 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu

4.1.2.1 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu oleh Marsius Sitohang

Gondang Si Bunga Jambu yang dimainkan Marsius Sitohang mempunyai 62 birama yang terdiri dari tiga bagian yaitu A B dan C. Dari bagian-bagian ini terdapat pengulangan berupa variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut ini akan dijabarkan bagian dari gondang Si Bunga Jambu oleh Marsius Sitohang.

Bagian A dimainkan pada birama 1-8. Bagian A mempunyai pola yang sama pada setiap dua birama. Birama 1-2 , 3-4, 5-6, 7-8 mempunyai kemiripan pada pola pukulan namun dengan variasi-variasi yang berbeda.

(72)

Permainan dilanjutkan ke bagian B pada birama 17-20 . Birama 19-20 merupakan pengulangan variasi dari dua birama sebelumnya. Lihat perbedaan variasi berikut ini:

(73)

Selanjutnya dimainkan bagian A3 pada birama 29-36.

(74)
(75)

Permainan dilanjutkan ke bagian C pada birama 37-44. Birama 41-44 merupakan pengulangan variasi dari birama 37-40 :

(76)
(77)

Bagian C pada gondang ini merupakan variasi sequence dari bagian A yang

(78)
(79)

Sebagai penutup Marsius Sitohang memainkan birama 61-62

(80)

4.1.2.2 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu oleh Sarikawan Sitohang Gondang Si Bunga Jambu yang dimainkan oleh Sarikawan Sitohang terdiri dari 62 birama terbagi dalam tiga bagian yaitu A B dan C. Beberapa dari bagian ini ada yang mendapat pengulangan berupa pengulangan variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut ini akan dijabarkan bagian dari Gondang Si Bunga Jambu oleh Sarikawan Sitohang.

Bagian A dimainkan dari birama 1-8. Birama 1-2, 3-4, 5-6 dan 7-8 mempunyai kemiripan bentuk yang diulang dengan variasi yang berbeda.

(81)

Kemudian bagian B dimainkan dari birama 17-20. Birama 19-20 merupakan pengulangan variasi dari birama 17-18 :

(82)
(83)
(84)
(85)

Setelah bagian A3 Sarikawan memainkan Bagian C. Bagian C dimainkan dua kali pengulangan dengan variasi yang berbeda yaitu bagian C1 dan C2. Bagian C pada gondang ini merupakan variasi sequence dari bagian A yang dimainkan 1 bilah lebih rendah. Bagian C dimainkan dari birama 37-44.

(86)

Bagian C2 dimainkan dari birama 53-60.

(87)
(88)

Bagian penutup, Sarikawan memainkan birama 61-62

(89)

4.1.2.3 Analisis Bentuk Gondang Si Bunga Jambu oleh Amarista Simarmata Gondang Si Bunga Jambu yang dimainkan Amarista Simarmata mempunyai 60 birama yang terbagi dalam lima bagian melodi yaitu A B C D dan E. Beberapa dari bagian ini terdapat pengulangan berupa variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut adalah penjabaran dari setiap bagian.

Bagian A dimulai pada birama 1-8. Bagian A mempunyai bentuk motif yang diulang-ulang. Birama 1-2, 3-4, 5-6 dan 7-8 merupakan pengulangan-pengulangan dengan variasi yang berbeda.

(90)

Kemudian permainan dilanjutkan ke bagian B yang dimainkan dari birama 17-20. Birama 19-20 merupakan pengulangan dari birama 17-18.

(91)
(92)
(93)

Selanjutnya masuk ke bagian C pada birama 27-34. Pada bagian ini antara birama 27-28, 29-30, 31-32 dan 33-34 merupakan suatu bentuk pengulangan namun dengan variasi yang berbeda.

(94)

Setelah bagian D dimainkan, Amarista memainkan bagian E. Bagian ini dimainkan dua putaran dengan variasi yang berbeda yaitu bagian E1. Bagian E pada gondang ini merupakan sequence variasi dari bagian A yang dimainkan satu bilah lebih rendah.

(95)
(96)

Perhatikan variasi yang muncul pada bagian E dan E1 berikut ini:

E

(97)

Sebagai penutup Amarista memainkan birama 59-60

(98)

4.1.3 Analisis Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan

4.1.3.1 Analisis Bentuk Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan oleh Marsius Sitohang

Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan yang dimainkan oleh Marsius Sitohang mempunyai 42 birama yang terbagi ke dalam empat bagian yaitu A B C dan D. Setiap dari bagian ini terdapat pengulangan berupa variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut ini adalah penjabaran dari setiap bagian.

Bagian A dimainkan dari birama 1-8. Birama 5-8 merupakan pengulangan dari birama 1-4 dengan variasi yang berbeda. Birama 2, 4, 6, 8 mempunyai kesamaan pola pukulan namun dengan variasi yang berbeda.

(99)

mempunyai kemiripan dengan birama 2, 4, 6 dan 8 pada bagian A (lihat hubungan antar bagian pada halaman 85)

Setelah bagian B Marsius memainkan bagian B1. Bagian B1 merupakan pengulangan variasi dari bagian B. Pada bagian birama 21-24 terdapat kemiripan pola dengan bagian A. (lihat hubungan antar bagian pada halaman 85). Bagian B1 dimainkan dari birama 17-24.

(100)

Bagian C diulang kembali namun dengan variasi yang berbeda yang disebut bagian C1 pada birama 29-32 . Birama 31-32 mempunyai kemiripan pada bagian A, B, B1 dan C (lihat hubungan antar bagian pada halaman 85)

(101)
(102)

Kemudian dilanjutkan ke bagian D yang dimainkan dari birama 33-40. Birama 37-40 merupakan pengulangan variasi dari birama 33-36

Sebagai penutup Marsius memainkan dari birama 41-42

(103)

4.1.3.2 Analisis Bentuk Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan oleh Sarikawan Sitohang

Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan yang dimainkan Sarikawan Sitohang mempunyai 42 birama yang terbagi dalam empat bagian yaitu A B C dan D. Setiap dari bagian ini terdapat pengulangan berupa variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut ini adalah penjabaran dari setiap bagian.

Bagian A dimainkan dari birama 1-8. Birama 5-8 merupakan pengulangan dari birama 1-4 namun dengan variasi yang berbeda.

(104)

Bagian B1 dimainkan dari birama 17-24. Birama 21-22 dan 23-24 mempunyai kemiripan pada bagian A yaitu birama 3-4, 7-8 dan bagian B pada birama 13-14, 15-16 .

Permainan dilanjutkan ke bagian C yang dimainkan dari birama 25-28.

(105)
(106)
(107)

Selanjutnya bagian D dimainkan dari birama 33-40. Birama 33-34, 35-36, 37-38, 39-40 mempunyai pola yang sama :

Bagian penutup Sarikawan memainkan birama 41-42

(108)

4.1.3.3 Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan oleh Amarista Simarmata Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan yang dimainkan oleh Amarista Simarmata mempunyai 39 birama yang dibagai menjadi lima bagian yaitu A B C D dan E. Beberapa dari bagian ini terdapat pengulangan berupa variasi pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Berikut ini adalah penjabaran dari setiap bagian.

Bagian A dimainkan dari birama 1-2

Selanjutnya dimainkan bagian B dimainkan dari birama 3-6.

Permainan dilanjutkan ke bagian C yang dimainkan dari birama 7-9

(109)

Perhatikan variasi pukulan bagian B dan B1

Berikutnya setelah memainkan bagian B1 Amarista mengulang kembali bagian C dengan variasi yang berbeda yang disebut bagian C1. Bagian C1 mendapat tambahan birama menjadi empat birama. Bagian ini dimainkan dari birama 14-17

Dari bagian C1 kemudian masuk ke bagian C2 yang dimainkan dari birama 18-21

B

(110)

C1

C2

C3

Kemudian Amarista memainkan bagian C3. Bagian C3 mempunyai tiga birama seperti pada bagian C.

Berikut adalah variasi pukulan antara bagian C, C1, C2 dan C3:

Pada birama berikutnya Amarista memainkan bagian D yang dimainkan dari birama 25-32. Birama 29-32 merupakan pengulangan dari birama 25-28.

(111)

Setelah itu Amarista memainkan bagian E dan merupakan penutup dari gondang ini yang dimainkan dari birama 33-39.

(112)

4.2 Analisis Teknik Permainan

Pada bagian ini, penulis akan menjabarkan bagaimana ketiga pargarantung memainkan tiga repertoar gondang. Dari setiap gondang akan diperlihatkan metode atau cara apa yang dipakai oleh masing-masing pargarantung. Akan menjadi sukar apabila analisis dilakukan dengan melihat setiap pukulan dari satu birama ke birama berikutnya, namun pada bagian ini penulis berupaya untuk memperlihatkan bagian-bagian yang dianggap dapat mewakili cara atau metode yang dipakai si pargarantung dalam memainkan suatu repertoar.

4.2.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata Sopisik

4.2.1.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata Sopisik oleh Marsius Sitohang Dalam memainkan repertoar ini Marsius menggunakan tangan kanan dan kiri secara aktif pada bilah garantung tanpa menggunakan pukulan tak. Tangan kanan pada gondang ini terlihat dominan memainkan bagian melodi repertoar dan kiri berperan dominan pada pukulan ritma yang konstan. Sebagai contoh lihat pada birama 22-24 dibawah ini :

(113)

Pukulan lain yang dipakai pada gondang ini adalah garapan pukulan dimana tangan kanan dan kiri secara bergantian memainkan bilah yang sama. Nada-nada pada pukulan ini terdengar pendek karena nada tersebut digandakan atau dipadatkan. Contoh dapat dilihat pada pada birama 2-3 dan pada pengulangannya pada birama 6-7

Bagian lain yang memakai pukulan seperti ini terdapat pada birama 13-16 :

(114)

Birama 22-24 dengan birama 26-28 :

Dan pada birama 40-41 dengan birama 42-43 :

4.2.1.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata Sopisik oleh Sarikawan Sitohang

(115)

tangan kanan memainkan pola melodi dan tangan kiri memainkan pukulan ritma yang konstan.

Contoh tangan kanan dan kiri bersama memainkan melodi adalah terdapat pada birama 29-36 :

(116)

Pukulan lain yang dapat dilihat adalah pukulan tangan kanan dan kiri secara konstan dan bergantian pada bilah yang sama yaitu seperti pada birama 37 – 44 :

(117)

Bagian lain yang dapat dilihat adalah penggunaan bilah keenam yang dipakai oleh Sarikawan dalam permainannya yaitu pada birama 17-20. Bilah keenam tidak dipakai pargarantung lainnya.

4.2.1.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Hata Sopisik oleh Amarista Simarmata

Amarista memainkan keseluruhan bagian gondang ini menggunakan pukulan tak pada tangan kiri yang tidak dipakai oleh kedua pargarantung lainnya. Pukulan tak yang digunakannya dikuti oleh pukulan pada bilah garantung kelima secara bergantian. Pukulan ini membuat melodi repertoar gondang sepenuhnya dimainkan oleh tangan kanan dan kanan kiri berperan memainkan pukulan ritma yang konstan.

(118)

4.2.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga Jambu

4.2.2.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga Jambu oleh Marsius Sitohang

Pada gondang ini Marsius menggunakan pukulan tak namun tidak di seluruh bagian gondang. Pukulan tak ini menggunakan tangan kiri dan diikuti dengan pukulan bilah kelima secara bergantian. Salah satu contoh pukulan ini terdapat pada birama 33-38 .

(119)

Untuk permainan pada tangan kanan bagian ini mendominasi memainkan melodi gondang.

4.2.2.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga Jambu oleh Sarikawan Sitohang

Gondang Si Bunga Jambu yang dimainkan oleh Sarikawan menggunakan pukulan tak di tangan kiri. Pukulan tak diikuti oleh pukulan bilah kelima secara bergantian. Jenis pukulan ini mendominasi pada keseluruhan gondang untuk bagian permainan tangan kiri. Selain pukulan tak, terlihat juga permainan dimana tangan kiri yang aktif memainkan satu bilah diikuti bilah kelima. Salah satu contoh pukulan ini terdapat pada birama 41-44 :

(120)

4.2.2.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Si Bunga Jambu oleh Amarista Simarmata

(121)

4.2.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan Dalam penulisan ini Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan yang dimainkan Amarista berbeda versi dengan yang dimainkan Marsius dan Sarikawan.

4.2.3.1 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan oleh Marsius Sitohang

Dalam memainkan repertoar ini Marsius menggunakan tangan kanan dan kiri pada bilah garantung tanpa menggunakan pukulan tak. Tangan kanan mendominasi permainan melodi gondang dan kiri mendominasi memainkan pukulan ritma pada bilah kelima sebagai pukulan ritma yang konstan. Salah satu contoh bagian dari permainan pukulan seperti ini pada birama 1-9. Perhatikan notasi tangkai kebawah merupakan permainan tangan kanan yang membawa melodi lagu dan tangan kiri memukul bilah kelima sebagai pukulan ritma yang konstan.

(122)

4.2.3.2 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan oleh Sarikawan Sitohang

Pada gondang ini tangan kanan mendominasi memainkan melodi gondang dan tangan kiri mendominasi pada pukulan ritma yang konstan. Sarikawan menggunakan pukulan tak di tangan kiri namun tidak pada keseluruhan bagian gondang ini. Salah satu contoh pukulan tak terdapat pada birama 3-8

(123)

4.2.3.3 Analisis Teknik Permainan Gondang Panogu-nogu Horbo Tu Lahatan oleh Amarista Simarmata

(124)

4.2.4 Kesimpulan Analisis Teknik Permainan

Dari penjabaran teknik permainan ketiga repertoar gondang oleh tiga

pargarantung diatas maka dapat diambil tiga metode umum yang dipakai

pargarantung dalam memainkan garantung. Pertama adalah pukulan dimana tangan

kanan memainkan melodi repertoar gondang dan kiri memainkan pukulan ritma yang konstan yaitu pukulan tak pada pinggiran kayu diikuti oleh pukulan pada bilah kelima secara bergantian atau pukulan bilah kelima tanpa pukulan tak. Kedua adalah dimana tangan kanan dan kiri secara bergantian memainkan melodi repertoar gondang tanpa pukulan tak. Ketiga adalah pukulan konstan pada bilah yang sama, dimainkan oleh tangan kanan dan kiri secara bergantian. Ketiga teknik permainan ini dijumpai pada permainan Marsius dan Sarikawan namun tidak pada Amarista.

Dalam memainkan ketiga repertoar gondang Marsius, Sarikawan dan Amarista mempunyai perbedaan dalam menggarap sebuah repertoar tetapi ada pula yang sama. Penerapan tiga teknik permainan ini berbeda-beda antara satu

pargarantung dengan pargarantung lainnya. Marsius memainkan repertoar gondang

(125)

dengan variasi yang lebih kompleks dengan penggunaan tangan kanan dan kiri yang cukup rumit. Setiap pengulangan yang terjadi hampir dimainkan seluruhnya dengan variasi yang berbeda dari sebelumnya. Amarista mempunyai ciri yang kuat dimana setiap gondang yang dimainkannya menggunakan pukulan tak yang diikuti pukulan bilah kelima secara bergantian di tangan kiri dan pada tangan kanan memainkan melodi dari gondang tersebut.

Permainan Marsius dan Sarikawan mempunyai kedekatan pola jika dibandingkan dengan permainan Amarista. Kedekatan pola yang terjadi pada permainan Marsius dan Sarikawan tentu sangat kuat diakibatkan karena mereka merupakan saudara kandung. Marsius dan Sarikawan berguru pada guru yang sama dan bermain bersama dalam waktu yang cukup lama dalam satu kelompok musik etnis. Namun walaupun begitu dari hasil analisis ini dapat dilihat juga bahwa walaupun mempunyai kedekatan pola, permainan mereka tidaklah sama. Penggarapan setiap pukulan yang terjadi tidaklah sama persis. Marsius dan Sarikawan tetap memainkan garantung dengan gaya mereka masing-masing.

Figure

Gambar. 1
Gambar. 1 p.24
Tabel. 1
Tabel. 1 p.28
Gambar 2.

Gambar 2.

p.29
Gambar 3. Tanah Batak, Terletak di Sumatera Utara, Kab. Samosir, Kab. Toba

Gambar 3.

Tanah Batak, Terletak di Sumatera Utara, Kab. Samosir, Kab. Toba p.33
Gambar 4. Interval Garantung Penulis2

Gambar 4.

Interval Garantung Penulis2 p.44
Gambar 4. Posisi Bermain Garantung dengan Duduk Bersila

Gambar 4.

Posisi Bermain Garantung dengan Duduk Bersila p.46
Gambar 5. Posisi Bermain Garantung dengan Posisi Berdiri

Gambar 5.

Posisi Bermain Garantung dengan Posisi Berdiri p.47
Gambar 6. Posisi Tangan Memegang Stik

Gambar 6.

Posisi Tangan Memegang Stik p.48
gambar berikut ini :

gambar berikut

ini : p.54
gambar berikut ini.

gambar berikut

ini. p.58
gambar berikut ini:

gambar berikut

ini: p.60
gambar pada halaman 88.

gambar pada

halaman 88. p.103

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in