• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) : Studi Kasus di Badan Amil Zakat Nasional Kota Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) : Studi Kasus di Badan Amil Zakat Nasional Kota Bogor"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

MUZAKI

DALAM MEMILIH ORGANISASI PENGELOLA

ZAKAT (OPZ): STUDI KASUS DI BADAN AMIL ZAKAT

NASIONAL KOTA BOGOR

NADILLA AMBARFAUZIAH RULIAN

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ): Studi Kasus di Badan Amil Zakat Nasional Kota Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, April 2014

Nadilla Ambarfauziah Rulian

(4)

ABSTRAK

NADILLA AMBARFAUZIAH RULIAN. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ): Studi Kasus di BAZNAS Kota Bogor. Dibimbing oleh LUKYTAWATI ANGGRAENI dan DENI LUBIS.

Tujuan utama pengelolaan zakat menurut UU RI No. 23 Tahun 2011 adalah untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan penanggulangan kemiskinan. Akan tetapi sampai saat ini zakat belum mencukupi untuk mewujudkan kedua tujuan tersebut, karena dana zakat yang terkumpul di Indonesia hanya berkisar 1% dari potensi zakat nasional yang mencapai Rp 217 triliun. Hal tersebut menandakan bahwa masih banyak orang Islam yang tidak termotivasi untuk membayar zakat atau umat Islam belum percaya pada OPZ. Studi ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi muzakidalam memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dan menganalisis persepsi muzaki terhadap kinerja OPZ. Metode regresi logistik digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi muzaki dalam memilih OPZ. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis persepsi muzaki terhadap OPZ. Penelitian ini dilakukan selama bulan Februari 2014 dengan 30 responden muzaki BAZNAS Kota Bogor dan 30 muzaki yang membayarkan zakatnya langsung ke mustahik. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi muzakidalam memilih OPZ adalah pendapatan, tingkat

realiability, dan citra lembaga. Walau demikian, persepsi muzakiterhadap kinerja OPZ dapat disimpulkan sudah cukup baik, khususnya terkait reliability, responsiveness, dan tangible.

Kata kunci: Zakat, Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), Metode Regresi Logistik.

ABSTRACT

NADILLA AMBARFAUZIAH RULIAN. Analysis of Factors influencing

Muzakki in Selecting Zakat Management Organization (OPZ): Case Study in BAZNAS Kota Bogor. Supervised by LUKYTAWATI ANGGRAENI and DENI LUBIS.

The main purpose of management of zakat in Act No 23/2011 is to achieve public welfare and poverty alleviation. However, until now, zakat has not been sufficient to attain both these goals since zakat fund collected in Indonesia is only about 1% of its national potential that reaches Rp 217 trillion. This indicates that there are many muslims who are not motivated to pay zakat nor trust Zakat Management Organization. This study analyzes the factors that influence muzakki

(5)

respondents BAZNAS Kota Bogor’s muzakki and 30 respondents muzakki whose paying zakat directly to mustahiq. The results of logistic regression show that the factors that affect muzakki in choosing Zakat Management Organization are income, the level of reliability, and institution’s image. The muzakki’s perception

of the performance of BAZNAS Kota Bogor can be concluded as good, particulary in reliability, responsiveness, and tangible.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ilmu Ekonomi

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

MUZAKI

DALAM MEMILIH ORGANISASI PENGELOLA

ZAKAT (OPZ): STUDI KASUS DI BADAN AMIL ZAKAT

NASIONAL KOTA BOGOR

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) : Studi Kasus di Badan Amil Zakat Nasional Kota Bogor

Nama : Nadilla Ambarfauziah Rulian NIM : H54100012

Disetujui oleh

Lukytawati Anggraeni, Ph.D Pembimbing I

Deni Lubis, MA Pembimbing II

Diketahui oleh

Dedi Budiman Hakim, Ph.D Ketua Departemen

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) : Studi Kasus di Badan Amil Zakat Nasional Kota Bogor”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Institut Pertanian Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui persepsi muzaki terhadap kinerja BAZNAS Kota Bogor dan faktor-faktor yang memengaruhi muzaki dalam memilih Organisasi Pengelola Zakat.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada orang tua dan keluarga penulis, yaitu Ayah Rulian Adhi Wibowo dan Ibu Lilis Sopiah serta adik dari penulis, Arafat Dipo Samudra, Irrana Vernadian Nailafatich, dan Namirra Vernadies Alishafatich atas segala doa dan dukungan yang selalu diberikan. Selain itu, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Lukytawati Anggraeni, Ph.D dan Bapak Deni Lubis, MA selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan, saran, waktu, dan motivasi dengan sabar sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Jaenal Effendi selaku dosen penguji utama dan Ibu Ranti Wiliasih, M.Si selaku dosen penguji dari komisi pendidikan atas kritik dan saran yang telah diberikan untuk perbaikan skripsi ini.

3. Seluruh pihak pengurus BAZNAS Kota Bogor, terutama Mbak Widya Wuri Handayani,SE, Dani Malik Ibrahim, dan Siti Sayidah yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Para dosen, staf, dan seluruh civitas akademik Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB yang telah memberikan ilmu dan bantuan untuk penulis.

5. Teman-teman satu bimbingan, Aldesta Nurika, Muhammad Haris, Iin Zahratain, Dara Ayu Lestari, Angga Febriawan, Astika, dan Ayu yang telah banyak memberikan bantuan, kritik, saran, dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh keluarga Ilmu ekonomi, terutama Ilmu Ekonomi Syariah 47,48, dan 49 terimakasih atas doa dan dukungannya.

7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, April 2014

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 4

Ruang Lingkup Penelitian 5

TINJAUAN PUSTAKA 5

Zakat 5

Amil Zakat 7

Potensi Zakat 9

Penelitian Terdahulu 9

Kerangka Pikir 11

METODOLOGI PENELITIAN 12

Jenis dan Sumber Data 12

Lokasi dan Waktu Penelitian 12

Metode Pengumpulan Data 13

Metode Pengolahan dan Analisis Data 13

HASIL DAN PEMBAHASAN 18

Karakteristik Responden 18

SIMPULAN DAN SARAN 33

LAMPIRAN 36

(12)

DAFTAR TABEL

Potensi Zakat Nasional ... 1

Perkembangan Data Penerimaan Dana Zakat Infak Sedekah BAZNAS Kota Bogor Tahun 2011-2012 ... 2

Laporan Rekapitulasi Data Penerimaan Dana Zakat Infak Sedekah BAZNAS Kota Bogor Selama Bulan Ramadhan 2011 - 2013 ... 3

Statistik Deskriptif Karakteristik Responden ... 18

Besar Pendapatan Muzaki ... 20

Lama Pembayaran Zakat di BAZNAS Kota Bogor ... 22

Layanan Pembayaran Zakat ... 23

Alasan Tidak Mengetahui Program Penyaluran Zakat ... 24

Alasan Menyalurkan Zakat Langsung ke Mustahik ... 25

Persepsi Muzaki Terhadap Program Penyaluran Zakat BAZNAS Kota Bogor ... 27

Persepsi Muzaki Terhadap Reliability BAZNAS Kota Bogor ... 28

Persepsi Muzaki Terhadap Tingkat Responsiveness BAZNAS Kota Bogor ... 29

Persepsi Muzaki Terhadap Tingkat Assurance BAZNAS Kota Bogor ... 29

Persepsi Muzaki Terhadap Tingkat Emphaty BAZNAS Bogor ... 30

Persepsi Muzaki Terhadap Tingkat Tangible BAZNAS Kota Bogor ... 30

Persepsi Muzaki Terhadap FasilitasBAZNAS Kota Bogor ... 31

Hasil Uji Beda ... 31

Hasil Pendugaan Parameter Model Logit ... 32

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Muzaki dalam Memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) ... 33

DAFTAR GAMBAR

Kerangka Penelitian ... 12

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 18

Jenis Pekerjaan Responden Muzaki ... 19

Jenis Zakat ... 20

Persepsi Muzaki Terhdap Hukum Zakat Profesi ... 21

Pengetahuan Muzaki Tentang Tata Cara Pembayaran Zakat ... 21

Sumber Informasi BAZNAS Kota Bogor ... 22

Program Penyaluran Zakat ... 24

Pelayan dan Fasilitas BAZNAS Kota Bogor ... 25

Mustahik Zakat ... 27

DAFTAR LAMPIRAN

Kuisioner Penelitian Muzaki BAZNAS Kota Bogor ... 36

Kuisioner Penelitian Muzaki Distribusi Langsung ... 45

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat menjelaskan bahwa lembaga zakat di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merupakan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah yang bertugas untuk mengelola zakat secara nasional, sedangkan Lembaga Amil Zakat (LAZ) merupakan lembaga yang dibentuk oleh masyarakat yang tujuannya adalah mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan dana zakat.

Keberadaan lembaga zakat menjadi sangat penting, karena sebelum adanya lembaga zakat, zakat lebih banyak dikelola oleh individu masing-masing yang akhirnya hanya berdampak pada sekedar meringankan beban konsumsi seseorang. Setelah adanya lembaga zakat, zakat jadi memiliki dampak sosial-ekonomi yang diharapkan mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendorong perkembangan masyarakat, yaitu dengan menjadikan zakat sebagai sumber ekonomi produktif sehingga pengelolaannya menghasilkan manfaat produktif yang maksimal (Muhammad 2009). Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Bab 1 Pasal 3 yang mengemukakan bahwa salah satu tujuan pengelolaan zakat adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.

Pengelolaan dana zakat yang baik oleh lembaga, dapat menjadikan zakat sebagai instrumen ekonomi yang memiliki kekuatan untuk mengentaskan kemiskinan, pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan mendorong tumbuhnya perekonomian masyarakat (Muhammad 2009). Hal tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatkan jumlah penerimaan zakat di lembaga dengan terus melakukan upaya penggalian dana zakat (Hafidhuddin 2002).

Pengumpulan dana zakat yang optimal untuk saat ini masih sulit untuk dilakukan, dapat dilihat dari hasil riset BAZNAS dan FEM IPB yang mengungkapkan bahwa total potensi zakat nasional adalah Rp217 Triliun (Tabel 1), namun dana zakat yang dapat terserap di Indonesia hanya sekitar 1% dari potensi zakat nasional (Hafidhuddin 2013).

Tabel 1 Potensi Zakat Nasional

Keterangan Potensi Zakat (Triliun Rupiah)

Potensi Zakat Rumah Tangga 82.70

Potensi Zakat Industri Swasta 114.89

Potensi Zakat BUMN 2.40

Potensi Zakat Tabungan 17.00

Total Potensi Zakat Nasional 217.00

(14)

2

Kesenjangan yang sangat besar antara dana zakat yang terkumpul dan potensi zakat yang ada menandakan bahwa masih banyak orang Islam yang tidak termotivasi untuk membayar zakat. Penyebab lain dari sedikitnya dana zakat yang terkumpul dan tidak mencukupi untuk mengentaskan kemiskinan adalah umat tidak percaya kepada lembaga pengelola zakat (Mawardi 2005). Padahal lembaga zakat sangat berpengaruh dalam pengoptimalan potensi zakat, karena lembaga zakat yang dapat dipercaya merupakan faktor utama bagi muzaki dalam memilih menyalurkan dana zakatnya melalui lembaga atau tidak (Gamsir et al. 2012).

Lembaga zakat saat ini sudah banyak yang dapat meraih prestasi dengan inovasi program-programnya untuk pengumpulan zakat dan pengelolaan zakat, salah satunya adalah BAZNAS Kota Bogor. Penghimpunan dana Zakat Infak Sedekah (ZIS) yang dikumpulkan BAZNAS Kota Bogor mengalami peningkatan pada periode 2011-2012, jumlah zakat yang terkumpul berkembang 3.22% dan jumlah infak/sedekah berkembang 5.27% (Tabel 2). Dana ZIS tersebut diantaranya terkumpul didominasi oleh muzaki perseorangan yaitu 48%, sedangkan muzaki dinas/lembaga berada pada kisaran 26%. Unit Pengelola Zakat (UPZ) juga turut mengalami peningkatan, pada tahun 2012 UPZ yang ada di masjid-masjid kota Bogor telah tercatat ada 119 masjid, sedangkan di tahun 2013 total UPZ mencapai kisaran 150 masjid, perkembangannya mencapai 26%.

Tabel 2 Perkembangan Data Penerimaan Dana Zakat Infak Sedekah BAZNAS Kota Bogor Tahun 2011-2012

Uraian Jumlah Penerimaan (Rupiah) Perkembangan

Tahun 2011 Tahun 2012 (%)

Zakat 2,124,143,462 2,192,540,539,94 3.22

Infak/Sedekah 558,801,060 588,285,937,44 5.27 Total Penerimaan

ZIS 2,682,944,522 2,780,826,477,38 3.65

Sumber: BAZNAS Kota Bogor 2012 (diolah)

(15)

3 Tabel 3 Laporan Rekapitulasi Data Penerimaan Dana Zakat Infak Sedekah

BAZNAS Kota Bogor Selama Bulan Ramadhan 2011 - 2013

Uraian Jumlah Penerimaan ( Miliar Rupiah)

Perkembangan

Sumber: BAZNAS Kota Bogor 2013 (diolah)

Penghimpunan dana ZIS di lembaga zakat dengan optimal dapat dilakukan, salah satunya dengan cara mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi masyarakat dalam memilih lembaga zakat dan perlu diketahui pula persepsi masyarakat terhadap kinerja lembaga zakat, sehingga lembaga zakat dapat mengoptimalkan fungsinya untuk mengelola dana zakat agar dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan menanggulangi kemiskinan, sesuai dengan tujuan didirikannya lembaga zakat yang terkandung dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011.

Perumusan Masalah

Dana zakat yang terkumpul di suatu lembaga pengelola zakat dapat didistribusikan ke delapan ashnaf dalam berbagai inovasi progam. Sehingga, semakin banyak dana yang terkumpul semakin banyak pula program-program yang terealisasi untuk menyejahterakan delapan ashnaf. Saat ini dalam pengumpulan dana zakat, BAZNAS Kota Bogor telah mengalami banyak kemajuan, terlihat dari meningkatnya dana ZIS yang terkumpul pada tahun 2011 – 2012 (Tabel 2). Akan tetapi tetap saja dana tersebut masih jauh dari potensi zakat yang sebenarnya, yaitu masih di kisaran 1% dari potensi zakat sebenarnya. Hal tersebut disebabkan karena ada beberapa kendala dalam memobilisasi zakat yang menyebabkan sulitnya pengembangan lembaga zakat di Indonesia, yaitu pemahaman masyarakat terhadap kewajiban zakat masih kurang, ada sebagian masyarakat yang tidak mau membayar zakat karena sudah membayar pajak, koordinasi dari masing-masing lembaga zakat masih kurang, konsistensi di setiap lembaga zakat untuk menjalin networking masih kurang, dan keberadaan Undang Undang zakat belum sepenuhnya diimplementasikan karena struktur birokrasi pemerintahan masih kurang akomodatif terhadap keberadaan sistem Islam dalam pembangunan ekonomi negara (Sudarsono 2012).

(16)

4

1. BAZ kota/kabupaten terbaik tingkat nasional untuk kategori keativitas program pendayagunaan versi BAZNAS pada tahun 2009

2. BAZ kota/kabupaten terbaik peringkat dua tingkat nasional versi Islamic Social Responsibility pada tahun 2010

3. BAZNAS daerah terbaik kedua se-Indonesia versi Forum Zakat dan Masyarakat Ekonomi Syariah pada tahun 2013

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Jaelani (2008) menyimpulkan bahwa kualitas pelayanan zakat dan social marketing secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan berzakat muzaki. Kualitas pelayanan dibagi kepada beberapa indikator, yaitu kemampuan untuk memberikan jasa yang akurat dan terpercaya (Reliability), kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat dan responsif kepada muzaki (Responsiveness), kepercayaan, pengetahuan, dan keramahan karyawan serta kemampuan melaksanakan tugas secara spontan sehingga menimbulkan kepercayaan dan keyakinan muzaki (Assurance), memberikan perhatian yang bersifat individual kepada muzaki dan berupaya untuk memahami keinginan muzaki (Emphaty), dan penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik (Tangible).

Penelitian terdahulu yang dilakukan di Kabupaten Bogor oleh Mukhlis (2010) menyimpulkan bahwa faktor yang memengaruhi individu untuk membayar zakat di Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) adalah karena OPZ bersifat transparan, profesional, memberi kemudahan dalam berzakat, serta pelayanan yang memuaskan. Sebaliknya, individu yang lebih memilih membayar langsung ke penerima zakat memiliki penilaian yang kurang baik terhadap organisasi zakat. Adapun hal-hal yang memengaruhi responden dalam memilih tempat berzakat, yaitu adanya kemudahan dari OPZ, baiknya kinerja OPZ yang dicerminkan oleh transparansi, profesionalitas, dan sosialisasi dari OPZ.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana persepsi muzaki terhadap kinerja Badan Amil Zakat Nasional kota Bogor ?

2. Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi muzaki dalam memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis persepsi muzaki terhadap kinerja Badan Amil Zakat Nasional kota Bogor

(17)

5

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya adalah: 1. Memberikan informasi yang baik tentang faktor-faktor yang memengaruhi

muzaki dalam memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ)

2. Memberikan gambaran tentang persepsi muzaki terhadap kinerja BAZNAS Kota Bogor

3. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan penerimaan dana zakat

4. Dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi para peminat dan peneliti untuk bahan penelitian lanjutan

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengambil studi kasus di Badan Amil Zakat Nasional Kota Bogor (BAZNAS Kota Bogor). Populasi dalam penelitian ini adalah para muzaki yang membayar zakat ke BAZNAS Kota Bogor dan yang membayar langsung kepada mustahik. Zakat yang dibayarkan merupakan zakat maal. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Bogor.

TINJAUAN PUSTAKA

Zakat

Pengertian Zakat

Ditinjau dari segi fikih, zakat merupakan sejumlah harta yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada yang berhak (Qardhawi 1993). Selanjutnya, ditinjau dari segi istilah, zakat adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu yang diwajibkan oleh Allah Swt. untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu (Hafidhuddin 2002). Zakat juga merupakan salah satu bentuk ibadah dengan menggunakan harta yang mendorong umat muslim untuk mengasihi sesama, mewujudkan keadilan sosial, mendayakan masyarakat, menggerakan perekonomian masyarakat, serta untuk mengentaskan kemiskinan (Arifin 2011).

Hikmah, Urgensi, dan Manfaat Zakat

Zakat merupakan kewajiban yang tegas dan mutlak, karena dalam zakat terkandung hikmah dan manfaat yang sangat besar dan mulia, baik bagi pemberi zakat (muzaki), penerima zakat (mustahik), harta benda yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat. Adapun hikmah, urgensi, dan manfaaat zakat, yaitu (Hafidhuddin 2007):

(18)

6

menumbuhkan keberkahan harta, serta pintu rejeki akan selalu dibuka oleh Allah swt.

2. Zakat merupakan hak bagi mustahik yang berfungsi untuk menolong, membantu, dan membina mereka ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera. Keberadaan zakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan mustahik, terutama kaum fakir miskin dan menghilangkan atau memperkecil penyebab kemiskinan.

3. Zakat sebagai penghubung antara kelompok yang berkecukupan hidupnya dengan para pejuang di jalan Allah yang waktunya sepenuhnya digunakan untuk berjuang di jalan Allah dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk menafkahi diri maupun keluarganya.

4. Zakat sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana dan prasarana umat Islam, yaitu sarana pendidikan, kesehatan, sosial-ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

5. Zakat untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, karena zakat hanya diterima dari harta yang halal.

6. Zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan, dengan pengelolaan zakat yang baik dimungkinkan untuk membangun pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. Keberadaan zakat menjadi penyebab harta akan selalu beredar dan mencegah terjadinya pemusatan harta pada satu tangan saja, serta mendorong manusia untuk melakukan investasi.

Syarat Wajib Zakat

Sebagai salah satu bentuk ibadah dalam bentuk harta, zakat memiliki ketentuan tertentu yang membedakannya dengan ibadah dalam bentuk harta lainnya. Ketentuan tersebut salah satunya mencakup syarat-syarat wajib zakat. Syarat-syarat wajib zakat diperlukan agar orang-orang yang terkena kewajiban zakat tersebut memang termasuk golongan orang-orang mampu dan telah terpenuhi kebutuhan pokoknya (Hafidhuddin 2005). Syarat-syarat harta menjadi sumber zakat adalah sebagai berikut (Hafidhuddin 2002):

1. Harta didapatkan dengan cara yang baik dan halal

2. Harta tersebut berkembang dan berpotensi untuk dikembangkan

3. Harta tersebut berada dibawah kontrol dan di dalam kekuasaan pemiliknya 4. Harta tersebut mencapai nishab atau batas kena zakat

5. Harta tersebut berasal dari sumber-sumber zakat tertentu, seperti perdagangan, peternakan, emas, dan perak

(19)

7

Penerima Zakat

Orang-orang yang berhak mendapatkan zakat atau disebut sebagai ashnaf

juga sudah ditentukan dalam Al-Qur’an, yaitu dengan dasar firman Allah swt. dalam QS.At-Taubah: 60, yang artinya:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Berdasarkan ayat tersebut, zakat harus disalurkan kepada para mustahik yang uraiannya sebagai berikut (Hafidhuddin 2002):

1. Fakir dan miskin, yaitu orang yang tidak mempunyai penghasilan sama sekali, atau memiliki penghasilan namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarga.

2. Amil, yaitu orang yang bekerja untuk kepentingan zakat yang berkaitan dengan mengurus zakat, mencatat dan menadminitrasikan, menagih zakat, melakukan sosialisasi, dan mendistribusikan zakat.

3. Mualaf, yaitu orang yang baru masuk Islam dan masih dianggap lemah imannya, sehingga perlu diberikan zakat agar bertambah kesungguhannya dalam Islam. Pada saat sekarang, dana zakat untuk mualaf dapat diberikan untuk lembaga dakwah atau pun untuk training keislaman.

4. Untuk memerdekakan budak, yaitu untuk memerdekakan budak belian dan menghilangkan segala bentuk perbudakan.

5. Gharimin, yaitu orang yang berutang dan sama sekali tidak melunasi utangnya. Utang yang dimaksud adalah utang untuk kebaikan dan kemaslahatan diri dan keluarganya, atau pun utang untuk kemaslahatan orang lain.

6. Fi sabilillah. Pada zaman Rasulullah saw. golongan yang termasuk fi sabilillah adalah para sukarelawan perang yang tidak mempunyai gaji tetap. Untuk saat ini, sebagian ulama membolehkan memberi zakat tersebut untuk membangun masjid, lembaga pendidikan, perpustakaan, pelatihan da’i, menerbitkan buku, majalah, brosur, ataupun membangun mass media.

7. Ibnu Sabil, yaitu orang yang dalam perjalanan dan terputus bekalnya dalam perjalanan. Untuk saat ini, pemberian dana untuk ibnu sabil bisa juga diserahkan kepada musafir yang mengadakan perjaalanan yang dianjurkan agama, seperti silaturahmi, study tour pada objek yang bermanfaat, atau untuk beasiswa kepada orang yang terputus pendidikannya karena ketiadaan dana.

Amil Zakat

Pengertian Amil

(20)

8

kepada yang berhak menerima zakat (Hafidhuddin 2007). Sejak zaman pemerintahan Rasulullah saw., pengelolaan dana zakat sudah diserahkan kepada amil di Baitul Mal, yaitu lembaga yang mengumpulkan dan mendistribusikan semua hasil penghimpunan kekayaan negara (Amalia 2010).

Indonesia memiliki dua macam organisasi pengelola zakat yang bertugas untuk melakukan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk oleh pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh masyarakat. BAZ maupun LAZ memiliki misi yang sama, yaitu mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk bukti kepedulian Islam terhadap kaum tidak berpunya, yaitu dengan menghadirkan lembaga zakat yang berfungsi sebagai tempat untuk mengumpulkan dan mendistribusikan dana kepada masyarakat yang membutuhkan (Hidayat 2010).

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pengelolaan zakat melalui lembaga, yaitu (Hafidhuddin 2002):

1. Menjamin kepastian dan disiplin pembayaran zakat

2. Menjaga perasaan mustahik bila berhadapan langsung untuk menerima haknya dari muzaki

3. Mencapai efisiensi, efektivitas, dan sasaran yang tepat dalam pendistribusian zakat

4. Memperlihatkan syiar Islam dan semangat penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang islami. Sebaliknya, jika zakat diserahkan langsung dari muzaki ke mustahik tanpa campur tangan lembaga, maka nasib dan hak para mustahikterhadap muzaki tidak mendapatkan jaminan pasti.

Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk mustahik pada lembaga zakat dilakukan berdasarkan beberapa persyaratan, yaitu (Soemitra 2010):

1. Hasil pendataan dan penelitian terhadap kebenaran delapan ashnaf

2. Mendahulukan orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan sangat memerlukan bantuan

3. Mendahulukan mustahikdalam wilayahnya masing-masing

Setelah terpenuhinya poin-poin tersebut, maka lembaga dapat melakukan pendayagunaan hasil pengumpulan zakat melalui program-program yang dirancang oleh lembaga pengelola zakat. Program tersebut harus merupakan program yang memiliki dampak dan pengaruh yang luas bagi penerima zakat serta berpihak sepenuhnya terhadap mustahik. Salah satu contohnya Departemen Agama Republik Indonesia menyebutkan bahwa tujuan dan sasaran zakat hendaknya digunakan untuk hal-hal sebagai berikut (Suprayitno 2005):

1. Memperbaiki taraf hidup masyarakat, dengan memberikan bimbingan untuk membangun usaha produktif dan memberikan bantuan permodalan

(21)

9 3. Mengatasi pengangguran, sasarannya adalah orang-orang yang belum mempunyai pekerjaan atau usaha tetap dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun kepada mereka yang sudah mempunyai usaha namun terkendala karena kekurangan modal

4. Program pelayanan kesehatan, yaitu dengan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang belum mampu menjangkaunya;

5. Panti Asuhan, yaitu dengan usaha menanggulangi anak-anak yatim yang terlantar dan memberi bantuan kepada panti asuhan berupa uang atau sarana keterampilan

6. Sarana Peribadatan; yaitu dengan membantu keperluan pembangunan atau pemeliharaan tempat ibadah.

Potensi Zakat

Potensi zakat di Indonesia yang mencapai 217 triliun merupakan jumlah yang sangat besar dan mampu secara finansial memecahkan masalah kemiskinan dan ketidakadilan di Indonesia, namun sampai saat ini zakat yang terkumpul di organisasi pengelola zakat hanya sekitar 1% dari potensi yang ada. Hal tersebut disebabkan karena banyak masalah dalam memobilisasi zakat di Indonesia, diantaranya (Damanhuri 2010):

1. Trauma psikologis, banyak kasus di Indonesia dimana zakat yang terkumpul tidak sampai ke kaum fakir miskin

2. Belum ada visi dan langkah besar yang mengaitkan pengumpulan dana zakat dengan langkah memecahkan kemiskinan dan ketidakadilan sosial baik nasional maupun per daerah

3. Belum adanya sinergi antara gerakan zakat dengan program pemerintah

Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Anam (2012) mengenai Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Masyarakat Terhadap Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Karangayung. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil kesimpulannya adalah bahwa faktor yang memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap BAZ Kecamatan Karangrayung terbagi menjadi dua macam, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam, yaitu kelembagaan yang meliputi sistem, manajemen, uang, material, metode, pasar, informasi, rencana strategis, kejelasan visi dan misi, program dan rencana kerja, struktur organisasi, legalitas, evaluasi kerja, sosialisasi dan publikasi, Sumber Daya Manusia, loyalitas, dan profesionalisme terhadap BAZ. Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar, yaitu kepercayaan masyarakat, krisis ekonomi, dan pemahaman masyarakat terhadap zakat masih kurang.

(22)

10

nilai saling berbagi dan membantu orang lain, nilai keberkahan dan tambahan harta, dan nilai kepuasan dan ketenangan jiwa atas kepemilikan harta.

Sariningum (2011) dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembayaran Zakat di Kota Palembang. Metode yang digunakan adalah metode regresi logistik dan analisis faktor. Hasil kesimpulannya menunjukkan bahwa karakteristik organisasi yang memengaruhi pemilihan organisasi zakat adalah sosialisasi melalui media massa dan elektronik serta pemotongan gaji secara langsung dari tempat bekerja, sedangkan jika dilihat dari karakteristik responden, pendidikan yang semakin tinggi turut memengaruhi pemilihan organisasi zakat formal.

Alhasanah (2011) mengenai Analisis Diskriminan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Partisipasi Berzakat Berinfak dan Pemilihan Tempat Membayar Zakat (Studi Kasus: Kabupaten Bogor). Metode yang digunakan adalah metode analisis diskriminan. Hasil kesimpulannya menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pemilihan tempat membayar zakat adalah faktor ketersediaan organisasi pengelola zakat di daerah sekitar tempat tinggal dan faktor tingkat pendidikan.

Ramadhani (2011) tentang Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengumpulan Zakat, Infak dan Shodaqqoh pada Badan Amil Zakat Daerah Sumatera Utara (BAZDA SUMUT). Hasil kesimpulannya menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi pengumpulan dana zakat, infak, dan shodaqqoh

adalah momen bulan keagamaan, pendapatan, dan usia muzaki. Desain penelitian ini adalah studi deskriptif. Alasan para muzaki lebih memilih membayarkan zakat, infak, shodaqqoh di BAZDA SUMUT adalah karena BAZDA SUMUT merupakan institusi resmi atau legal milik pemerintah dan sebagian besar muzaki menyatakan puas terhadap pelayanan dan manfaat yang diperoleh di BAZDA SUMUT.

Suprayogi (2011) mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keinginan dan Preferensi Pengusaha Mikro untuk Berzakat. Metode yang digunakan adalah metode logit dan multi nominal logit. Hasil kesimpulannya menunjukkan bahwa ada tiga faktor yang memengaruhi keinginan dan preferensi pengusaha mikro untuk berzakat, yaitu: (1) Pengetahuan tentang zakat; semakin baik pengetahuan pengusaha mikro tentang zakat, maka semakin besar kecenderungannya untuk berzakat dan semakin besar peluangnya untuk berzakat; (2) Keyakinan akan manfaat zakat; semakin tinggi keyakinan pengusaha mikro terhadap zakat, semakin besar kecenderungannya untuk berzakat dan semakin besar peluangnya untuk berzakat, dan; (3) Tingkat ibadah; semakin baik ibadah pengusaha mikro maka semakin besar kecenderungannya untuk berzakat dan semakin besar peluangnya untuk berzakat.

(23)

11 transparan, 15 persen menilai organisasi zakat profesional, selain itu mereka merasa lebih puas jika membayar langsung kepada mustahik. Adapun hal-hal yang memengaruhi responden dalam memilih tempat berzakat, yaitu adanya kemudahan dari OPZ, baiknya kinerja OPZ yang dicerminkan oleh transparansi dan profesionalitas, dan sosialisasi dari OPZ.

Jaelani (2008) tentang Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Social Marketing

Lembaga Amil Zakat (LAZ) terhadap keputusan berzakat Muzaki (Studi Kasus pada Rumah Zakat Indonesia). Metode yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Hasil dari kesimpulannya adalah kualitas pelayanan zakat dan social marketing secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan berzakat muzaki di LAZ Rumah Zakat Indonesia (RZI). Kualitas pelayanan dibagi kepada beberapa indikator, yaitu kemampuan untuk memberikan jasa yang akurat dan terpercaya (Reliability), kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat dan responsif kepada muzaki (Responsiveness), kepercayaan, pengetahuan, dan keramahan karyawan serta kemampuan melaksanakan tugas secara spontan sehingga menimbulkan kepercayaan dan keyakinan muzaki (Assurance), memberikan perhatian yang bersifat individual kepada muzaki dan berupaya untuk memahami keinginan muzaki(Emphaty), dan penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik (Tangible). Social marketing yang merupakan salah satu bagian dari manajemen pemasaran diwakili oleh program dan produk zakat yang variatif, inovasi dan perbaikan produk, harga yang efisien, kantor dan konter RZI, layanan jemput zakat, layanan dengan menggunakan teknologi modern, promosi melalui media, dan promosi melalui

website.

Muhammad et al. (2006) tentang Factors Influencing Individul Participation In Zakat Contribution: Exploratory Investigation. Metode yang digunakan adalah analisis faktor. Hasil kesimpulannya adalah ada beberapa faktor yang memotivasi muzaki atas kontribusi zakat, yaitu faktor althurism, agama, kepuasan diri, dan organisasi. Faktor utama yang paling berpengaruh terhadap pembayaran zakat individu adalah altruisme dan dari penelitiannya dapat disimpulkan bahwa orang membayar zakat bukan hanya karena faktor agama, melainkan karena kepuasan yang diterima untuk diri sendiri dan untuk kebahagiaan orang lain. Faktor organisasi juga turut berperan penting, karena ada responden yang menyatakan bahwa mereka membayar zakat karena mereka puas pada layanan yang ditawarkan oleh organisasi yang bertanggungjawab dalam pengumpulan zakat.

Kerangka Pikir

(24)

12

menghimpun dana zakat yang lebih banyak dengan cara melakukan usaha-usaha untuk meningkatan kepercayaan muzaki terhadap OPZ. Penelitian ini mencoba untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi muzaki dalam memilih OPZ. Adapun kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka Penelitian

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Badan Amil Zakat Nasional Bogor (BAZNAS Kota Bogor). Pemilihan lokasi penelitian dilakukan berdasarkan wilayah

Rekomendasi Peningkatan Penerimaan

Zakat

Penerimaan Zakat di Organisasi Pengelola Zakat Lebih Rendah

dari Potensi

Identifikasi Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemilihan OPZ

Faktor Eksternal

Muzaki

Faktor Internal

Kelembagaan

Sosialisasi Zakat

Profesionalitas Pengelolaan

Zakat Pemahaman

Muzaki terhadap

Zakat

Kepercayaan Muzaki

Persepsi masyarakat

terhadap kinerja

(25)

13 penghimpunan zakat BAZNAS Kota Bogor. Pemilihan BAZNAS Kota Bogor tersebut dilakukan secara purposive (sengaja) dengan beberapa pertimbangan, yaitu BAZNAS Kota Bogor yang merupakan salah satu lembaga pengelola zakat terbaik di Indonesia dan telah menghimpun dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian dilakukan selama bulan Februari 2014.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan muzaki yang membayarkan zakatnya di BAZNAS Kota Bogor dan yang membayarkan zakatnya langsung ke mustahik, data tersebut digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi muzaki dalam memilih lembaga pengelola zakat dan persepsi muzaki terhadap kinerja BAZNAS Kota Bogor. Selanjutnya data sekunder digunakan untuk melengkapi data primer. Sumber data lain yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan melalui BAZNAS Kota Bogor, buku, jurnal, skripsi, tesis, dan internet.

Metode Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini diambil dengan metode studi kasus (case study) melalui wawancara kepada muzakiyang menjadi responden dengan menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pengambilan sampel non acak, yaitu prosedur memilih sampel berdasarkan pertimbangan karakteristik tertentu yang cocok dan diperlukan untuk menjawab penelitian (Juanda 2009). Karakteristik yang diambil dalam penelitian ini adalah muzaki rumah tangga yang rutin membayarkan zakat maalnya, yaitu sebanyak 30 responden muzaki yang membayarkan zakatnya di BAZNAS Kota Bogor dan 30 muzaki yang membayarkan zakatnya langsung kepada mustahik.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan analisis kuantitatif dan pendekatan analisis kualitatif. Pendekatan analisis kuantitatif digunakan untuk menampilkan data dalam bentuk tabel, sedangkan pendekatan analisis kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data-data fakta dari hasil wawancara dan kuesioner yang didapat dari muzaki.

Analisis Persepsi Muzaki terhadap Kinerja BAZNAS Kota Bogor

(26)

14

ini adalah muzakiyang membayarkan zakatnya di BAZNAS Kota Bogor. Kinerja yang dilihat dalam analisis persepsi ini adalah kualitas pelayanan, program penyaluran, dan fasilitas yang disediakan oleh BAZNAS Kota Bogor.

Kualitas pelayanan yang dimaksud dilihat dari Reliability (kehandalan), Responsiveness (ketanggapan), Assurance (jaminan), Empathy (empati),dan

Tangible (wujud sarana dan prasarana fisik). Program penyaluran dilihat dari program penyaluran yang tersedia di BAZNAS Kota Bogor. Fasilitas dilihat dari akses yang disediakan BAZNAS Kota Bogor untuk memudahkan muzaki dalam membayar zakat dan mendapatkan informasi. Penilaian atas kepuasan muzaki terhadap kinerja BAZNAS Kota Bogor dinilai menggunakan skala likert, yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, atau persepsi seseorang mengenai gejala sosial tertentu. Skala likert digunakan untuk mengukur variabel yang akan dijabarkan menjadi sub variabel yang memiliki indikator terukur, yaitu sebagai berikut (Riduwan2008):

1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju

3 = Kurang Setuju 4 = Setuju

5 = Sangat Setuju

Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Muzakidalam Memilih Lembaga Zakat

Uji beda digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dengan kasus 2 sampel berpasangan. Dengan menggunakan uji beda maka dapat diketahui apakah populasi berdasarkan dua sampel berpasangan tersebut berbeda (Firdaus et al. 2011). Metode analisis data yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi muzaki dalam memilih OPZ adalah model logit atau regresi logistik. Model logit digunakan ketika variabel dependen bersifat kualitatif. Jika variabel kualitatif tersebut hanya mempunyai dua kemungkinan nilai maka model yang digunakan adalah binary logistic.

Batasan dan Definisi Operasional

Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini didefinisikan sebagai berikut: 1. Umur

Umur merupakan perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang dan terhitung menggunakan tahun.

2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan identitas responden yang dalam penelitian ini menjadi variabel dummy (1 = laki-laki, 0 = perempuan)

3. Jumlah Tanggungan

Jumlah tanggungan adalah jumlah anggota keluarga yang biaya hidupnya ditanggung oleh kepala rumah tangga.

4. Lama Pendidikan

Lama pendidikan merupakan perhitungan pendidikan muzaki yang dimulai dari saat Sekolah Dasar dan terhitung menggunakan tahun.

5. Pendapatan

(27)

15 6. Jarak

Jarak adalah panjang lintasan dari rumah muzaki sampai lokasi BAZNAS Kota Bogor dan terhitung menggunakan kilometer (km).

7. Citra Lembaga

Variabel citra lembaga berisi beberapa pernyataan mengenai citra lembaga dan dihitung menggunakan skor. Semakin besar skor citra lembaga, maka persepsi muzaki terhadap citra lembaga semakin baik.

8. Pengetahuan

Variabel pengetahuan berisi beberapa pernyataan mengenai pengetahuan muzaki mengenai keutamaan lembaga zakat. Semakin besar skor pengetahun, maka pengetahuan muzaki mengenai keutamaan lembaga zakat semakin baik.

9. Program Penyaluran Zakat

Variabel program penyaluran zakat berisi beberapa pernyataan mengenai program penyaluran zakat yang diketahui muzaki. Semakin besar skor program penyaluran zakat, maka persepsi muzaki terhadap program penyaluran zakat semakin baik.

10.Reliability

Variabel reliability berisi beberapa pernyataan mengenai persepsi muzaki terhadap kehandalan lembaga zakat dalam memberi pelayanan. Semakin besar skor reliability, maka persepsi muzaki terhadap reliability lembaga zakat semakin baik.

11.Responsiveness

Variabel responsiveness berisi beberapa pernyataan mengenai persepsi muzaki terhadap kebijakan dalam memberi pelayanan yang cepat dan responsif. Semakin besar skor responsiveness, maka persepsi muzaki terhadap responsiveness lembaga zakat semakin baik.

12.Assurance

Variabel assurance berisi beberapa pernyataan mengenai persepsi muzaki terhadap pelayanan lembaga yang menimbulkan kepercayaan dan keyakinan muzaki. Semakin besar skor assurance, maka persepsi muzaki terhadap assurance lembaga zakat semakin baik.

13.Emphaty

Variabel emphaty berisi beberapa pernyataan mengenai persepsi muzaki terhadap pelayanan lembaga dalam memberikan perhatian untuk memahami keinginan muzaki. Semakin besar skor emphaty, maka persepsi muzaki terhadap emphaty lembaga zakat semakin baik.

14.Tangible

Variabel tangible berisi beberapa pernyataan mengenai persepsi muzaki terhadap penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik lembaga. Semakin besar skor tangible, maka persepsi muzaki terhadap tangible

lembaga zakat semakin baik. 15.Akses

(28)

16

16.Promosi Lembaga

Variabel promosi lembaga berisi beberapa pernyataan mengenai persepsi muzaki terhadap promosi yang dilakukan lembaga zakat. Semakin besar skor promosi lembaga, maka persepsi muzaki terhadap promosi lembaga zakat semakin baik.

Model logit dalam penelitian ini dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi muzaki dalam memilih organisasi pengelola zakat, yaitu berdasarkan model yang dikembangkan dari penelitian Jaelani (2008). Model logit diturunkan berdasarkan fungsi peluang logistik kumulatif yang dispesifikasikan sebagai berikut (Juanda 2009):

Pi = F(Zi) = F(α + βXi) =

– ...(1)

Keterangan:

Pi = Keputusan muzakiuntuk memilih tempat membayar zakat (1 jika memilih OPZ, 0 jika tidak memilih OPZ)

X9 = Program Penyaluran Zakat (skor) X10 = Realiability (skor) suatu nilai indikator kecenderungan muzakiuntuk menentukan pilihan 1 (memilih OPZ). Nilai odds semakin besar menandakan bahwa peluang muzaki untuk memilih OPZ semakin besar. Hubungan antara parameter dan odds ratio yaitu:

OddsRasio =

...(2)

Keterangan:

(29)

17

GAMBARAN UMUM

BAZNAS menurut UU No.23 Tahun 2011 merupakan lembaga pemerintah non struktural yang bersifat mandiri dan bertanggungjawab kepada presiden melalui menteri, serta berwenang untuk melakukan pengelolaan zakat secara nasional. BAZ Kota Bogor didirikan pada tahun 1981 oleh Pemerintah Daerah Kota Bogor dengan pengurusnya adalah pegawai Pemerintah Daerah Kota Bogor. Pada awal pembentukannya, lembaga ini memiliki pokok program penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sehingga pada awalnya bernama Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (BAZIS) Kota Bogor, namun sejak berlakunya UU No.38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, nama BAZIS Kota Bogor diubah menjadi BAZ Kota Bogor

Pada masa awal pembentukan BAZIS Kota Bogor penyaluran zakat utamanya adalah kepada fakir miskin dan sabilillah, serta objek zakat yang paling utama adalah zakat fitrah. Akan tetapi, sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, BAZ Kota Bogor berkedudukan menjadi lembaga semi independen yang operasionalnya diatur oleh undang-undang yang mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Selain itu, BAZ Kota Bogor pun memiliki tugas pokok yaitu mengumpulkan, mendayagunakan, dan mendistribusikan dana ZIS umat Islam di Kota Bogor

Seiring perubahan waktu, BAZ Kota Bogor terus berupaya untuk menjadi Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) yang lebih baik. Hal tersebut terbukti dengan prestasi-prestasi yang berhasil diraih BAZ Kota Bogor, salah satunya yaitu terpilih menjadi salah satu BAZ kota/kabupaten terbaik tingkat nasional untuk kategori keativitas program pendayagunaan versi BAZNAS pada tahun 2009. Selain itu, BAZ Kota Bogor juga berhasil menghimpun dana ZIS yang terus meningkat dari tahun ke tahun (Tabel 3).

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, nama BAZ Kota Bogor diubah menjadi BAZNAS Kota Bogor. Layanan yang ditawarkan di BAZNAS Kota Bogor diantaranya adalah jemput zakat, konsultasi zakat, kalkulator zakat, dan pembayaran zakat dengan menggunakan teknologi (transfer,

(30)

18

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini merupakan muzaki rumah tangga yang rutin membayar zakat maalnya melalui BAZNAS Kota Bogor ataupun langsung kepada mustahik. Muzaki yang rutin membayar zakatnya di BAZNAS Kota Bogor dipilih berdasarkan muzaki yang mengetahui kualitas pelayanan BAZNAS Kota Bogor dan pernah membayarkan zakatnya langsung ke kantor BAZNAS Kota Bogor. Responden pada penelitian ini memperlihatkan jumlah responden wanita yang sedikit lebih banyak dibanding jumlah responden laki-laki. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Karakteristik responden berdasarkan tingkat usia, lama pendidikan, dan jumlah tanggungan ditampilkan dalam bentuk statistik deskriptif pada Tabel 4. Statistik deskriptif ditampilkan untuk mengetahui karakteristik data berdasarkan pada ukuran pemusatan dan penyebaran data. Ukuran standar deviasi digunakan untuk menggambarkan variasi data.

Tabel 4 Statistik Deskriptif Karakteristik Responden

Variabel Mean

Responden Muzaki Distribusi Langsung

Usia 40.26 73 23 12.89

Lama Pendidikan 15.33 20 12 2.00

Jumlah Tanggungan 2.23 5 0 1.50

Hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata usia responden muzaki distribusi langsung sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan responden muzaki

40% 43%

Muzaki BAZNAS Bogor Muzaki Langsung

(31)

19

23%

57% 17%

3%

Muzaki Distribusi Langsung

BAZNAS Kota Bogor, serta menghasilkan nilai standar deviasi yang berbeda pula. Rata-rata usia responden muzaki distribusi langsung adalah 40 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 12.89 tahun. Nilai standar deviasi tersebut menunjukkan bahwa usia responden sangat beragam dan tersebar dari rata-rata responden muzaki distribusi langsung. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan usia responden dari yang tertinggi 73 tahun dan terendah 23 tahun. Tingkat usia responden muzaki distribusi langsung paling banyak berada pada interval 40-49 tahun yaitu sebanyak 9 orang atau sebesar 30%.

Rata-rata usia responden muzaki BAZNAS Kota Bogor adalah 39 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 10.80 tahun. Nilai standar deviasi tersebut menunjukkan bahwa usia responden sangat beragam dan tersebar dari rata-rata responden muzaki BAZNAS Kota Bogor. Tingkat usia tertinggi pada responden muzaki BAZNAS Kota Bogor adalah 58 tahun dan terendah 19 tahun. Tingkat usia responden Muzaki BAZNAS Kota Bogor paling banyak berada pada interval 40-49 tahun yaitu sebanyak 13 orang atau sebesar 43.33%.

Lama pendidikan responden muzaki BAZNAS Kota Bogor dan muzaki distribusi langsung memiliki nilai rata-rata yang sama, yaitu 15.33. Nilai rata-rata lama pendidikan responden adalah 15 tahun atau setara dengan lulusan D3 dengan lama pendidikan tertinggi yaitu 20 tahun atau setara dengan lulusan S3 dan terendah yaitu 12 tahun atau setara dengan lulusan SMA.

Jumlah tanggungan terdiri dari orang yang biaya hidupnya ditanggung oleh responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebesar 73.33% atau 22 orang responden muzaki BAZNAS Kota Bogor memiliki jumlah tanggungan 1-3 orang. Responden muzaki distribusi langsung menunjukkan bahwa sebesar 66.67% atau sebanyak 20 orang responden muzaki distribusi langsung memiliki jumlah tanggungan 1-3 orang.

Jenis Pekerjaan Responden

Responden muzaki BAZNAS Kota Bogor dan muzaki distribusi langsung yang menjadi responden dalam penelitian ini mempunyai pekerjaan yang cukup beragam, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS), pedagang, pegawai swasta, wiraswasta, dan profesional. Persentase masing-masing jenis pekerjaan pada responden muzaki BAZNAS Kota Bogor dan muzaki distribusi langsung dapat dilihat pada Gambar 3.

(32)

20

Jenis pekerjaan responden muzaki BAZNAS Kota Bogor yang paling banyak dijalankan oleh muzaki adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu sebesar 43%, sedangkan pekerjaan yang paling sedikit dijalankan oleh muzaki adalah wiraswasta dan profesional, yaitu masing-masing sebesar 7%. Jenis pekerjaan yang paling mendominasi pada responden muzaki distribusi langsung adalah pegawai swasta, yaitu sebesar 57% dan yang paling sedikit dijalankan oleh muzaki adalah profesional, yaitu sebesar 3%.

Jenis Zakat yang Dibayarkan Oleh Muzaki

Jenis zakat yang dibayarkan oleh muzaki cukup variatif, yaitu zakat perdagangan, zakat pertanian, zakat profesi, dan zakat harta. Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa zakat yang paling banyak dibayarkan oleh muzaki adalah zakat profesi baik pada muzaki BAZNAS Kota Bogor maupun muzaki distribusi langsung.

Gambar 4 Jenis Zakat yang Dibayar Muzaki

Pendapatan Muzaki

Hasil penelitian pada Tabel 5 menunjukkan bahwa besar pendapatan rumah tangga responden muzaki BAZNAS Kota Bogor maupun muzaki distribusi langsung paling banyak berada pada interval 2.8 sampai 10.8 juta rupiah, yaitu pada muzaki BAZNAS Kota Bogor sebesar 66.67% dan pada muzaki distribusi langsung sebesar 80.00%. Selanjutnya besar pendapatan responden muzaki BAZNAS Kota Bogor dan muzaki distribusi langsung yang paling sedikit berada pada interval 18.8 – 26.8 juta rupiah, yaitu masing-masing sebesar 3.33% dan 6.67%. Rata-rata pendapatan muzaki distribusi langsung adalah 8.6 juta rupiah, sedangkan rata-rata pendapatan muzaki BAZNAS Kota Bogor adalah 9.5 juta rupiah.

Tabel 5 Besar Pendapatan Muzaki

Besar Pendapatan (Rp) /

(33)

21 Berdasarkan data responden tersebut, dapat dilihat bahwa pendapatan muzaki yang terendah yaitu 2.8 juta rupiah perbulan. Hal tersebut membuktikkan bahwa tidak semua muzaki memiliki pendapatan yang besar. Adapun muzaki yang pendapatannya 2.8 juta rupiah perbulan adalah muzaki yang belum memiliki keluarga ataupun tanggungan.

Pengetahuan Zakat

Hasil penelitian tentang hukum zakat profesi dapat dilihat pada Gambar 5 yang menunjukkan bahwa 96.67% Muzaki BAZNAS Kota Bogor berpendapat bahwa hukum zakat profesi adalah wajib dan 3.33% sisanya mengaku tidak tahu hukumnya zakat profesi. Selanjutnya pada muzaki distribusi langsung 83.33% berpendapat bahwa hukum zakat profesi adalah wajib, 6.67% berpendapat tidak wajib, dan 10% mengaku tidak tahu hukumnya zakat profesi. Hal ini sejalan dengan hasil survey pada Gambar 4 yang membuktikan bahwa mayoritas muzaki yang membayarkan zakatnya ke BAZNAS Kota Bogor adalah muzaki yang membayar zakat profesi.

Gambar 5 Persepsi Muzaki Terhadap Hukum Zakat Profesi

Pengetahuan zakat dilihat pula dari pengetahun muzaki tentang cara perhitungan zakat, nishab zakat, dan waktu pembayaran zakat. Hasil penelitian yang ditunjukkan pada Gambar 6 menunjukkan bahwa Responden muzaki BAZNAS Kota Bogor dan muzaki distribusi langsung masing-masing mengetahui cara perhitungan zakat. Selanjutnya untuk nishab zakat hanya 57% muzaki BAZNAS Kota Bogor dan 50% muzaki distribusi langsung yang mengetahui besaran nishab zakat. Waktu pembayaran zakat diketahui oleh seluruh muzaki, yaitu pada muzaki BAZNAS Kota Bogor maupun muzaki distribusi langsung.

Gambar 6 Pengetahuan Muzaki Tentang Tata Cara Pembayaran Zakat 96.67%

0.00% 3.33% 83.33%

6.67% 10.00%

Wajib Tidak Wajib Tidak Tahu Muzakki BAZNAS Muzakki Perseorangan

100%

57%

100% 100%

50%

100%

(34)

22

Sumber Informasi BAZNAS Kota Bogor

Responden muzaki BAZNAS Kota Bogor mengetahui informasi tentang BAZNAS Kota Bogor dari berbagai macam sumber, yaitu dari iklan (spanduk di jalan raya), teman/saudara/keluarga, informasi dari internet , sosialisasi BAZNAS, brosur/koran, dan kantor BAZNAS Kota Bogor. Hasil penelitian yang disajikan pada Gambar 7 menunjukkan bahwa 30% responden muzaki BAZNAS Kota Bogor mengetahui informasi tentang BAZNAS Kota Bogor dari sosialisasi yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Bogor. Selanjutnya 20% muzaki lainnya mengaku mengetahui BAZNAS Kota Bogor karena lokasi kantor BAZNAS yang dekat dengan masjid raya. Pada tingkat persentase yang sama, yaitu 20% muzaki BAZNAS Kota Bogor mengaku mengetahui BAZNAS Kota Bogor dari teman/keluarga/saudara muzaki.

Gambar 7 Sumber Informasi BAZNAS Kota Bogor

Muzaki BAZNAS Kota Bogor yang menjadi responden dalam penelitian ini telah rutin membayar zakat di BAZNAS Kota Bogor dalam waktu yang berbeda-beda. Hasil olahan data yang terurai dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa responden muzaki yang diwawancarai paling banyak sudah membayar zakat di BAZNAS Kota Bogor berada pada interval kurang dari 3 tahun, yaitu 19 orang dengan presentase 63.33%, kemudian interval 3 hingga 7 tahun sebesar 26.67%. Lama pembayaran responden paling sedikit berada pada interval lebih dari 7 tahun, yaitu sebesar 10%.

Tabel 6 Lama Keanggotaan Responden Muzaki BAZNAS Kota Bogor Lama Keanggotaan (Tahun) Frekuensi Persentase (%)

<3 19 63.33

3-7 8 26.67

>7 3 10.00

Responden muzaki BAZNAS Kota Bogor membayarkan zakatnya menggunakan layanan yang berbeda-beda, yaitu melalui fasilitas jemput zakat, bayar langsung ke BAZNAS Kota Bogor, Pemotongan Langsung, via ATM/Transfer, ataupun via kantor tempat muzaki bekerja. Layanan pembayaran zakat yang paling sering muzaki gunakan disajikan pada Tabel 7.

(35)

23 Tabel 7 Layanan Pembayaran Zakat

Layanan Pembayaran Zakat Frekuensi Persentase (%)

Jemput Zakat 2 6.67

Langsung ke BAZNAS Kota Bogor 18 60.00

Pemotongan Langsung 2 6.67

Via ATM/Transfer 5 16.66

Via Kantor 3 10.00

Tabel 7 menunjukkan bahwa responden muzaki BAZNAS Kota Bogor sebanyak 60% lebih sering membayarkan zakatnya langsung ke BAZNAS Kota Bogor. Selanjutnya, layanan pembayaran zakat yang paling sedikit frekuensinya adalah layanan jemput zakat dan pemotongan langsung. Walaupun demikian, dalam penelitian ini seluruh responden BAZNAS Kota Bogor merupakan responden yang pernah membayarkan zakatnya langsung ke BAZNAS Kota Bogor.

Responden yang menggunakan layanan jemput zakat merupakan responden yang bekerja sebagai profesional dan wirausaha, sedangkan responden yang membayarkan zakatnya melalui pemotongan langsung dan via kantor merupakan muzaki yang bekerja sebagai PNS. Selanjutnya, muzaki yang menggunakan layanan transfer/ATM dan membayar zakat langsung ke BAZNAS Kota Bogor merupakan muzaki yang bekerja sebagai pegawai swasta dan pedagang.

Laporan Pertanggungjawaban

Hasil penelitian terhadap muzaki BAZNAS Kota Bogor menunjukkan bahwa 17 orang atau setara dengan 57% mengaku mendapatkan laporan pertanggungjawaban dari program penyaluran zakat yang disediakan BAZNAS Kota Bogor melalui koran, SMS dan aplikasi WhatsApp. Selanjutnya 43% responden muzaki BAZNAS Kota Bogor mengaku tidak mendapatkan laporan pertanggungjawaban dari BAZNAS Kota Bogor.

Responden muzaki BAZNAS Kota Bogor yang mendapatkan laporan pertanggungjawaban sebanyak 82.35% menyatakan puas terhadap laporan pertanggungjawaban yang diberikan oleh BAZNAS Kota Bogor. Selanjutnya 17.65% lainnya mengaku kurang puas terhadap laporan pertanggungjawaban yang diberikan oleh BAZNAS Kota Bogor. Hal tersebut dikarenakan muzaki menginginkan laporan pertanggungjawaban yang dikirimkan secara personal dan lebih lengkap.

Program Penyaluran Zakat

(36)

24

analisis pada Gambar 8 membuktikan bahwa dari responden muzaki BAZNAS Kota Bogor yang mengetahui program penyaluran zakat, mayoritas muzaki mengetahui bahwa BAZNAS Kota Bogor memiliki program beasiswa yaitu sebanyak 12 orang.

Gambar 8 Program Penyaluran Zakat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa muzaki yang mengetahui program penyaluran zakat tersebut 16.67% menyatakan sangat puas terhadap program penyaluran zakat yang disediakan oleh BAZNAS Kota Bogor. Walau demikian 83.33% sisanya mengaku puas. Tabel 8 menyajikan alasan muzaki yang tidak mengetahui program penyaluran zakat yang tersedia di BAZNAS Kota Bogor, yaitu sebagai berikut:

Tabel 8 Alasan Tidak Mengetahui Program Penyaluran Zakat

Alasan Presentase

Tidak Ada Informasi 66.67%

Tidak Ingin Tahu 33.33%

Responden muzaki BAZNAS Kota Bogor yang tidak mengetahui program penyaluran zakat di BAZNAS Kota Bogor mempunyai beberapa alasan yang tercantum dalam Tabel 8 yang menunjukkan bahwa 66.67% responden yang tidak mengetahui program penyaluran zakat tersebut karena mereka tidak mendapatkan informasi dari BAZNAS Kota Bogor. Walau demikian 33.33% sisanya mengaku tidak ingin tahu.

Fasilitas dan Pelayanan

Fasilitas yang disediakan oleh BAZNAS Kota Bogor berkaitan dengan kemudahan akses yang diberikan untuk muzaki BAZNAS Kota Bogor. Di samping itu pelayanan berkaitan dengan kualitas pelayanan yang diberikan amil terhadap muzaki. Berdasarkan survei yang disajikan pada Gambar 9 dapat dilihat

12

2

9

2

1 1 1

3

(37)

25 bahwa 80% atau setara dengan 24 orang menyatakan puas terhadap pelayanan dan fasilitas yang disediakan BAZNAS Kota Bogor. Walau demikian 1.33% mengaku kurang puas terhadap pelayanan yang diberikan BAZNAS Kota Bogor. Alasan muzaki tersebut adalah karena waktu pelayanan BAZNAS Kota Bogor yang tidak konsisten dan tidak menyesuaikan dengan jam kerja muzaki. Adapun 1.33% muzaki mengaku tidak puas terhadap pelayanan BAZNAS Kota Bogor, hal tersebut dikarenakan muzaki menginginkan adanya pelayanan doa setelah membayar zakat dan kelengkapan data muzaki di sistem yang tersedia di BAZNAS Kota Bogor.

Sebanyak 13.33% muzaki mengaku kurang puas terhadap fasilitas yang disediakan BAZNAS Kota Bogor. Hal tersebut disebabkan karena muzaki menginginkan BAZNAS Kota Bogor dapat memberikan fasilitas yang lebih lengkap, salah satunya dengan memberikan informasi yang lengkap di

website/twitter BAZNAS Kota Bogor sehingga memudahkan muzaki dalam mencari informasi dan memberikan laporan pertanggungjawaban kepada muzaki yang rutin membayarkan zakatnya di BAZNAS Kota Bogor.

Gambar 9 Pelayan dan Fasilitas BAZNAS Kota Bogor

Alasan Membayarkan Zakat Langsung ke Mustahik

Tabel 9 menampilkan alasan muzaki distribusi langsung menyalurkan zakatnya langsung ke mustahik. Alasan yang ditampilkan adalah alasan paling kuat yang dipertimbangkan oleh muzaki. Sebanyak 23 orang atau 76.67% mengakui bahwa alasan mereka menyalurakan zakatnya tidak melalui lembaga adalah karena lebih mudah dan langsung ke sasaran. Mereka merasa lebih tenang karena uang yang mereka zakatkan langsung sampai ke sasaran, biasanya mereka menyalurkan zakatnya kepada orang-orang yang tinggal disekitar mereka atau orang-orang yang mereka kenal, sehingga penyaluran zakat dirasa lebih mudah.

Tabel 9 Alasan Menyalurkan Zakat Langsung ke Mustahik

Alasan Persentase (%)

Lebih Mudah dan Langsung ke Sasaran 76.67

Tidak Ada Informasi Seputar OPZ 6.67

OPZ belum mendistribusikan zakat secara luas 13.33

Sesuai Syariat 3.33

(38)

26

Sebanyak 13.33% responden muzaki distribusi langsung mengakui bahwa mereka merasa orang-orang yang membutuhkan disekitar rumahnya belum tersentuh oleh OPZ sehingga mereka lebih memilih untuk menyalurkan zakatnya langsung ke mustahik terdekat yang tinggal disekitar lingkungan muzaki. Sebanyak 6.67% muzaki mengaku tidak mendapatkan informasi seputar OPZ. Informasi yang dimaksud adalah informasi seputar keutamaan dan kelebihan yang didapatkan muzaki ketika memilih menyalurkan zakatnya ke OPZ. Alasan lainnya adalah karena muzaki ingin menyalurkan zakatnya sesuai syariat, yaitu menolong orang-orang yang tidak mampu dari mulai lingkungan terdekat.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Mawardi (2005) bahwa muzaki yang membayarkan zakatnya langsung kepada mustahik memiliki beberapa alasan, diantaranya adalah terjadinya pembagian zakat yang rancu dan ganjil sehingga tidak semua mustahik mendapat bagian. Hal tersebut menyebabkan adanya persepsi muzaki bahwa OPZ belum mendistribusikan zakatnya secara luas. Adapun hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Mukhlis (2011) yang menyatakan bahwa muzaki memilih menyalurkan zakatnya langsung kepada mustahik karena akses yang lebih mudah dan langsung ke sasaran, serta tidak adanya sosialisasi mengenai lembaga zakat terhadap muzaki.

Mustahik

Responden muzaki distribusi langsung yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka membayarkan zakatnya langsung kepada mustahik. Mustahik merupakan orang-orang yang berhak mendapatkan zakat, yaitu dalam penelitian ini diuraikan pada Gambar 10. Mustahik Zakat yang paling banyak diberikan zakat oleh muzaki adalah anak yatim, yaitu 14 orang. Adapun 13 orang lainnya mengaku menyalurkan zakat kepada fakir miskin yang ada di sekitar tempat tinggal muzaki. Walau demikian beberapa muzaki menyatakan tidak pernah memberikan zakat kepada golongan khusus, melainkan hanya kepada siapapun yang membutuhkan.

(39)

27

Gambar 10 Mustahik

Persepsi Muzaki terhadap Kinerja BAZNAS Kota Bogor

Persepsi muzaki terhadap kinerja BAZNAS Kota Bogor penting diketahui agar BAZNAS Kota Bogor mampu mengoptimalkan fungsinya dalam memberikan pelayanan dan fasilitas yang lebih baik, serta menyediakan program penyaluran zakat yang diinginkan masyarakat. Analisis persepsi muzaki terhadap kinerja BAZNAS Kota Bogor dilakukan dengan analisis deskriptif, yaitu dengan melihat nilai mean, minimum, dan maksimum yang terdapat pada variabel Program penyaluran zakat, kualitas pelayanan, dan fasilitas yang disediakan BAZNAS Kota Bogor.

Program Penyaluran Zakat (PPZ) merupakan program-program yang disediakan BAZNAS Kota Bogor untuk menyalurkan dana zakat kepada mustahik yang membutuhkan. Analisis persepsi muzaki terhadap program penyaluran zakat yang disediakan oleh BAZNAS Kota Bogor disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10 Persepsi Muzaki Terhadap Program Penyaluran Zakat BAZNAS Kota Bogor

No Variabel Mean Min Max

1 Program Penyaluran Zakat 1: Program relevan dan sesuai

dengan kondisi mustahikyang membutuhkan

4.1 3 5

2 Program Penyaluran Zakat 2: Program inovatif dan

banyak kontribusi untuk masyarakat

4.2 3 5

3 Program Penyaluran Zakat 3: Program penyaluran zakat

berbeda dengan program OPZ lain

3.3 2 5

4 Program Penyaluran Zakat 4: Program penyaluran zakat

variatif

3.9 3 5

5 Program Penyaluran Zakat 5: Program dapat

didistribusikan secara luas

4.0 3 5

6 Program Penyaluran Zakat 6: Program penyaluran zakat

dapat dilihat bukti fisiknya

Anak Yatim Fakir Miskin

Saudara Janda Tua

(40)

28

Keterangan:

1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju

3 = Kurang Setuju 4 = Setuju

5 = Sangat Setuju

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata jawaban responden pada variabel program penyaluran zakat sudah mencapai nilai lebih dari skala 3. Sehingga dapat disimpulkan rata-rata responden muzaki BAZNAS Kota Bogor menyatakan bahwa program penyaluran zakat di BAZNAS Kota Bogor sudah cukup baik. Pernyataan yang mendapatkan nilai rata-rata tertinggi adalah pernyataan nomor 2 (mean 4.2) yaitu BAZNAS Kota Bogor memiliki program penyaluran zakat yang inovatif dan banyak kontribusinya untuk masyarakat. Adapun pernyataan yang mendapatkan nilai rata-rata terkecil adalah pernyataan nomor 3 (mean 3.3). Hal tersebut dapat dikatakan wajar karena program penyaluran zakat di BAZNAS Kota Bogor tidak banyak berbeda dengan program-program zakat di Organisasi Pengelola Zakat lainnya.

Kualitas pelayanan yang disediakan di BAZNAS Kota Bogor dibagi menjadi beberapa indikator, yaitu Reliability, Responsiveness, Assurance, Emphaty, dan Tangible. Reliability merupakan kehandalan, yaitu kemampuan untuk memberikan jasa yang akurat dan terpercaya. Untuk mengetahui persepsi muzaki terhadap kehandalan BAZNAS Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Persepsi Muzaki Terhadap Reliability BAZNAS Kota Bogor

No Variabel Mean Min Max

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Reliability mendapatkan nilai rata-rata lebih dari 4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kehandalan BAZNAS Kota Bogor dalam memberikan pelayanan kepada responden sudah baik dan sesuai dengan prosedur penerimaan serta pemanfaatan yang berlaku. Pernyataan yang mendapatkan nilai rata-rata tertinggi adalah pernyataan

Reliability 2 (mean 4.3) yaitu mengenai prosedur penerimaan. Prosedur penerimaan tersebut berkaitan dengan prosedur penerimaan yang sesuai dengan syariat Islam dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Walau demikian untuk

Reliability 1 dan 3 mendapatkan nilai rata-rata yang sama besarnya yaitu 4.2.

Gambar

Gambar 1 Kerangka Penelitian
Tabel 4 Statistik Deskriptif Karakteristik Responden
Gambar 3 Jenis Pekerjaan Responden Muzaki
Gambar 4 Jenis Zakat yang Dibayar Muzaki
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai perbedaan antara penelitian terdahulu dengan yang sekarang dalam peneltian ini, penulis akan menjelaskan tentang bagaimana fungsi dari tiga kompenan

Mata kuliah ini merupakan lanjutan dari mata kuliah Struktur und Wortschatz I dan merupakan salah satu dari mata kuliah keterampilan dasar bahasa Jerman yang

Masalah psikososial dan lingkungan dapat berupa pengalaman hidup yang tidak baik, kesulitan atau defisiensi lingkungan, stres interpersonal ataupun familial,

(1) Apa yang saya ketahui tentang hal ini, topik dan masalah subjek?; (2) Apakah saya mengetahui apa yang harus saya ketahui?; (3) Apakah saya mengetahui di mana saya

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat enam bentuk kesantunan berbahasa di SMA Negeri 1 Dulupi Kabupaten Boalemo berdasarkan prinsip maksim kesantunan, yaitu: (a)

Untuk menjaga agar penyangga waktu tidak melebihi 6 buah per hari atas setiap komponen, bahan baku harus dilepas ke proses  penggerindaan sedemikian rupa sehingga hanya 6 buah

Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi sosial pada siswa SMA yaitu dengan diberikannya konseling multibudaya supaya mereka mampu menghargai perbedaan yang dimiliki

Jadi pendistribusian zakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bentuk penyaluran dana zakat dari muzaki kepada mustahik Fī sabīlillah dengan melalui Badan Amil