Pengembangan Model Inovatif Dalam Analisis Makna Karya Sastra Melalui Kajian Stilistika: Studi Kasus Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk

25 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN TAHUNAN (TAHUN II)

PENELITIAN TIM PASCASARJANA

JUDUL PENELITIAN

PENGEMBANGAN MODEL INOVATIF DALAM ANALISIS MAKNA KARYA SASTRA MELALUI KAJIAN STILISTIKA:

Studi Kasus Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk

TIM PENGUSUL

Dr. Ali Imron Al-Ma‘ruf, M.Hum. NIDN: 00300857010 (Ketua) Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. NIDN: 00280465001 (Anggota)

Dibiayai oleh:

Koordinasi Perguruan Tinggi Wilayah VI, Kemendikbud RI, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Desentralisasi Tahun 2014 Program Penelitian Tim Pascasartjana Tahun Kedua Nomor: 194.17/A.3-III/LPPM/V/2014,

Tanggal 17 Mei 2014

(2)
(3)

RINGKASAN

Penelitian tahun II (2014) bertujuan untuk: mendeskripsikan makna stilistika trilogi novel Rongeng Dukuh Paruk (RDP) secara holistik berdasarkan tanggapan pembaca (pendekatan

pragmatik/reseptif) dan dikaitkan dengan latar sosiohistoris pengarang (pendekatan ekspresif).

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan memaanfaatkan metode berpikir hermeneutik. Penelitian ini merupakan penelitian terpancang dan studi kasus tunggal (embedded research and case study) mengingat fokus utama penelitian yakni stilistika RDP sudah ditentukan sejak awal untuk membimbing arah penelitian. Kajian stilistika RDP ini termasuk kajian stilistika genetik yakni mengkaji stilistika karya seorang pengarang, Ahmad Tohari yakni novel RDP. Data penelitian terdiri atas: (1) data faktor ekspresif berupa latar sosiohistoris pengarang; (2) data faktor realitas sosial budaya (univers) ketika novel Ronggeng Dukuh Paruk diciptakan; (3) data faktor reseptif berupa tanggapan pembaca tentang makna stilistika RDP (gaya bahasa ‗style‘ novel RDP –faktor objektif-- telah dikaji pada tahun I). Sumber datanya adalah: pustaka dan narasumber (informant). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik: (1) pustaka, (2) simak dan catat, (3) wawancara mendalam (in-depth interviewing), dan (4) focus group discussion (FGD). Validasi data dilakukan dengan teknik trianggulasi data dan trianggulasi teori. Pemeriksaan validitas data dilakukan dengan: (1) informant review, (2) pembuatan data base, dan (3) penyusunan mata rantai bukti penelitian. Adapun analisis data dilakukan dengan (1) model interaktif dengan langkah: (a) reduksi data, (b) sajian data, dan (c) penarikan simpulan dan verifikasi data. Selanjutnya, pengungkapan makna stilistika RDP dilakukan dengan (2) metode pembacaan model Semiotik yakni pembacaan heuristik (satuan kebahasaan) dan hermeneutik (interpretasi makna) dengan pendekatan teori Semiotik, Interteks, dan Resepsi Sastra.

Hasil penelitian dengan pendekatan kritik holistik menunjukkan bahwa makna gaya bahasa styleRDP sebagai hasil interpretasi atau tanggapan pembaca dengan menggunakan teori Semiotik, Interteks, dan Resepsi Sastra serta teori Hermeneutik dapat disimpulkan bahwa RDP merupakan karya sastra yang mengandung gagasan multidimensi yang kaya perspektif. Multidimensi karena RDP mengandung gagasan-gagasan yang beragam dan ‘penuh kejutan‘. Keberagaman itu dapat dilihat pada adanya gagasan-gagasan yang meliputi dimensi kultural, sosial, moral, humanistik, gender, dan religiositas. Penuh kejutan karena ada beberapa gagasan yang selama ini tidak pernah atau belum diungkapkan oleh kritikus/peneliti RDP sebelumnya.

(4)

sebagai resistensi budaya. Untuk menjadi ronggeng, seorang perempuan harus mendapat indang ronggeng, semacam wangsit, di dalam dirinya. Menurut wawasan spiritual Dukuh Paruk, menjadi ronggeng merupakan suratan takdir yang mesti dijalaninya. Bagi Srintil, menjadi ronggeng merupakan tugas budaya yang mesti ditunaikan sehingga hal itu membuatnya bangga. Srintil merasa menjadi malam yang harus berpasangan dengan siang; c. Ronggeng dan pengukuhan mitos. Novel RDP merupakan pengukuhan mitos dan ritual (myth of concern). Srintil menganggap ritual bukak-klambu sebagai sebuah keharusan. Demikian pula sebagai ronggeng, Srintil juga sundal yang berperan sebagai pemangku hasrat kelelakian. Semua yang dialaminya dipandang sebagai bagian dari sistem tradisi yang harus dijalaninya dengan rela. d. Kearifan lokal pada zaman global: intertekstualitas dengan ajaran Islam. Melalui RDP Tohari seolah mengajak pembaca yang hidup pada zaman global kini untuk merenungkan kembali kearifan lokal (local genius) budaya Jawa yang sarat dengan nilai adiluhung. Manusia masa kini harus mampu berpikir global namun tetap harus bertindak dengan

karakteristik lokal (think globally but act locally). Kearifan lokal dalam RDP banyak yang memiliki

hubungan intertekstual dengan ajaran al-Quran dan al-Hadits. Kedua, Dimensi Sosial: Empati terhadap Wong Cilik Korban Politik. RDP merupakan

wujud pembelaan Tohari terhadap wong cilik (rakyat kecil) yang sejak dulu sering menjadi korban konflik politik. Dalam RDP konflik antarelit politik yang memperebutkan kekuasaan telah menjerumuskan bangsa Indonesia ke dalam tragedi politik, peristiwa G30S/ PKI 1965.

Ketiga, Dimensi Humanistik: Pembunuhan Mental sebagai Tragedi Kemanusiaan yang

Terabaikan dari Sanksi Hukum dan Sanksi Sosial. Srintil kehilangan citra kemanusiaannya, gila, setelah mendapat deraan batin bertubi-tubi dari Bajus: (1) tidak dinikahi Bajus, (2) diminta melayani nafsu hewani Blengur (atasan Bajus), padahal dia sudah bertekad meninggalkan dunia mesum dan menjadi perempuan somahan, dan (3) dituduh sebagai anggota PKI. Meskipun wujudnya manusia, sejatinya Srintil telah kehilangan kemanusiaannya.

Keempat, Dimensi Moral: Moralitas yang Terpinggirkan oleh Budaya. Melalui citraan intelektual dalam RDP Tohari menggelitik pembaca untuk berpikir bahwa sebenarnya ronggeng sebagai kesenian tidak menjadi masalah asalkan dikembangkan di atas bangunan seni yang berlandaskan moral selaras dengan ajaran Tuhan.

Kelima, Dimensi Gender: Resistensi Perempuan terhadap Hegemoni Kekuasaan Laki-laki Gaya Ronggeng. Melalui tokoh Srintil RDP mengekspos resistensi kaum perempuan terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki. Srintil ditampilkan sebagai perempuan yang memiliki kemandirian dan harga diri sehingga berani menolak laki-laki yang tidak disukainya, meskipun laki-laki itu pejabat terhormat.

(5)

tokoh Rasus pada akhir RDP (hlm. 394); b. Dakwah kultural melalui sastra: estetika sebagai ekspresi religiositas. Melalui RDP Tohari menyampaikan dakwah kultural dengan menyentuh hati nurani, mengelus lembut perasaan, dan menggelitik pemikiran pembaca, apa pun agamanya.

Ketujuh, Dimensi Multikultural: Ronggeng Dukuh Paruk sebagai Sastra Multikultural. RDP mengekspos keunikan budaya lokal Jawa Banyumas sebagai salah satu keberagaman budaya

nasional yang mampu memperkaya budaya global.

(6)

PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. atas limpahan rahmat dan berkah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan Penelitian Tim Pascasarjana Ditlitabmas Ditjen Dikti tahun II 2014 dan menyelesaikan laporan tahunan penelitian ini (tahun II 2014). Penelitian ini tidak akan terlaksana tanpa bantuan dan kontribusi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga penulis layangkan kepada Direktur Ditlitabmas Ditjen Dikti Kemendikbud, Ketua LPPM UMS, Bapak Agus Ulinuha, Ph.D., Dekan FKIP UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, Ketua Prodi Magister Pangkajian Bahasa Sekolah Pascasarjana UMS, Prof. Dr. Markhamah, M.Hum. dan teman-teman dosen di prodi Magister Pengkajian Bahasa (MPB) Sekolah Pascasarjana UMS dan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan dukungan dan dorongan sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan penelitian ini. Semoga Allah Swt. menjadikan amal kebajikan mereka sebagai ibadah kepada-Nya. Amin.

Akhirnya, seperti pepatah ‖tiada gading yang tak retak‖. Disadari sepenuhnya bahwa laporan tahunan penelitian ini (tahun II 2014) jauh dari sempurna mengingat keterbatasan penulis sebagai insan biasa. Untuk itu, saran dan kritik konstruktif dari semua pihak demi penyempurnaan laporan penelitian ini sangat diharapkan.

Seberapa pun laporan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya pengembangan kajian stilistika sebagai linguistik terapan dalam pemaknaan karya sastra di Indonesia.

Surakarta, 7 November 2014 Ketua Peneliti,

(7)

DAFTAR ISI

HALAMANSAMPUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

RINGKASAN ... iii

PRAKATA ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAAN ... 21

BAB 4. METODE PENELITIAN ... 22

BAB 5. HASIL YANG DICAPAI ... 23

BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA ... 73

BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 75

LAMPIRAN ... 32

Lampiran 1: Artikel untuk Jurnal/TBI Litera FBS Universitas Negeri Yogyakarta ... 90

Lampiran 4: Buku Ajar (draft sampul dan daftar isi) ... 108

Lampiran 5: Makalah dalam Kongres Nasional/Internasional ... 111

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Artikel untuk TBI Litera Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya FBS Universitas Negeri Yogyakarta (submitted)

Lampiran 2: Makalah dalam Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indoensia dalam rangka PIBSI 2014 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (10-11 Oktober 2014)

Lampiran 3: Produk Penelitian berupa Buku Ajar berjudul KAJIAN STILISTIKA PERSPEKTIF HOLISTIK Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Pemaknaannya (dalam proses

penerbitan oleh penerbit CakraBooks Surakarta)

(9)

PENGEMBANGAN MODEL INOVATIF DALAM ANALISIS MAKNA KARYA SASTRA MELALUI KAJIAN STILISTIKA:

Studi Kasus Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pengungkapan makna karya sastra baik genre puisi, fiksi maupun drama, selama ini lazim dilakukan dengan lebih dahulu mengkaji struktur/unsur-unsurnya kemudian baru pengungkapan maknanya. Bahkan, tidak jarang pengkajian karya sastra hanya dilakukan dengan membongkar struktur/unsur-unsur intrinsiknya saja. Pengungkapan makna karya sastra melalui kajian stilistika masih jarang dilakukan para peneliti. Para linguis selama ini lebih sering melakukan kajian stilistika sampai pada pemerian aspek kebahasaannya saja, tidak sampai pada pemaknaan sastra. Adapun para pakar sastra lazimnya memfokuskan analisis karya sastra pada unsur-unsur dan pemaknaan dengan pendekatan teori sastra tertentu seperti Sosiologi Sastra, Psikologi Sastra, Semiotik, Interteks, Kritik Sastra Feminis, dan sebagainya.

Penelitian ini mencoba mengembangkan model inovatif yakni pengungkapan makna karya sastra melalui kajian stilistika. Hal itu tidak terlepas dari realitas bahwa dunia dalam karya sastra dikreasikan dan sekaligus diekspresikan oleh sastrawan lazimnya melalui bahasa yang terwujud dalam gaya bahasa (style). Dengan demikian, apa pun yang dipaparkan pengarang dalam karya sastranya kemudian ditafsirkan oleh pembaca, selalu berkaitan dengan bahasa.

Struktur novel dengan segala sesuatu yang dikomunikasikan, menurut Fowler (1977:3), selalu dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa pengarang. Demi efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dieksploitasi, dan didayagunakan sedemikian rupa. Bahasa sastra memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan karya nonsastra.

Tingkat intelektualitas bahasa dalam karya sastra berbeda-beda. Ada novel-novel yang menyoroti masalah tertentu seperti moral, kultural, humanitas, sosial, politik, hingga gender, dengan menggunakan bahasa emotif dan simbolis. Tegasnya, bahasa sastra berkaitan lebih mendalam dengan struktur historis bahasa dan menekankan kesadaran akan tanda, serta memiliki segi ekspresif dan pragmatis yang dihindari sejauh mungkin oleh bahasa ilmiah (Wellek dan Warren, 1989:16).

Style 'gaya bahasa' dalam karya sastra merupakan sarana sastra yang turut memberikan

(10)

Menurut Pradopo (2007:8), sesuai dengan konvensi sastra, gaya bahasa merupakan tanda yang menandai sesuatu. Bahan karya sastra adalah bahasa yang merupakan sistem tanda tingkat pertama (first order semiotics). Dalam karya sastra gaya bahasa itu menjadi sistem tanda tingkat kedua (second order semiotics). Gaya, bagi Junus (1989:187-188), adalah tanda yang mempunyai makna. Gaya bahasa itu bukannya kosong tanpa makna. Gaya bahasa itu, demikian Junus (1989:192-195), menandai ideologi pengarang. Hal ini dapat dipahami mengingat gaya bahasa merupakan keistimewaan (idiosyncrasy) pengarang yang merupakan suara-suara pribadinya yang terekam dalam karyanya.

Dalam karya sastra, stilistika dipakai pengarang sebagai sarana retorika dengan mengeksploitasi, memanipulasi, memanfaatkan, dan memberdayakan segenap potensi bahasa. Sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran (Altenbernd & Lewis, 1970:22). Sarana retorika itu bermacam-macam dan setiap sastrawan memiliki kekhususan dalam menggunakannya pada karyanya. Corak sarana retorika tiap karya sastra sesuai dengan gaya bersastra, aliran, ideologi, dan konsepsi estetik pengarangnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sarana retorika Tohari yang konsepsi estetiknya agraris berbeda dengan Kuntowijoyo yang sufistik , tidak sama pula dengan Mangunwijaya yang pluralis, jauh berbeda dengan Ayu Utami yang metropolis, dan seterusnya.

Makna karya sastra tidak dapat terlepas dari pemakaian gaya bahasa di dalamnya (Pradopo, 1994:46). Oleh karena itu, stilistika, studi tentang gaya yang meliputi pemakaian gaya bahasa dalam karya sastra (Junus, 1989:xvii; Endraswara, 2003:75), merupakan bagian penting bagi ilmu sastra sekaligus bagi studi linguistik. Dalam analisis sastra, stilistika dapat membantu memahami aspek-aspek estetik dan pemaknaan sastra.

Kajian stilistika sebagai linguistik terapan terhadap karya sastra ikut memberikan kontribusi bagi analisis sastra untuk membantu memahami ekspresi karya sastra yang berupa pemanfaatan dan pengolahan potensi bahasa itu yang tidak terlepas dari pengolahan gagasan (Aminuddin, 1995:6). Tugas peneliti sastralah untuk menguasai kode suatu pernyataan bahasa dan menjelaskan maksud karya sastra dengan bahasa yang lazim. Ia harus memahami seluk-beluk bahasa medium karya sastra dengan sasaran utama untuk mengungkapkan makna yang dikodekan itu (Widdowson, 1979:5).

Penelitian stilistika karya sastra dengan mengaitkan latar sosiohistoris, kondisi sosial budaya masyarakat ketika karya itu diciptakan, dan ideologi pengarang serta fungsinya bagi pemaknaan sastra secara memadai, sepanjang pengamatan peneliti belum ditemukan. Selama ini penelitian stilistika karya sastra lazimnya atau mayoritas memfokuskan kajiannya pada analisis linguistik. Adapun penelitian karya sastra pada umumnya memfokuskan pada pendeskripsian struktur dan maknanya. Peneliti sastra yang memfokuskan kajiannya pada stilistika masih terbatas (Endraswara, 2003:72).

(11)

stilistika tersebut dapat memberikan sumbangan bermakna bagi kajian linguistik khususnya pada karya sastra. Kajian stilistika tidak hanya berhenti pada pemerian fenomena kebahasaan saja melainkan sampai pada pemaknaan sastra. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengembangkan model analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Dipilihnya stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (PT Gramedia Pustaka Utama, 2003, 395 + ix halaman) karya Ahmad Tohari (selanjutnya disebut Tohari) sebagai objek penelitian dalam studi kasus ini dilandasi oleh beberapa alasan. Berdasarkan pembacaan awal, RDP diduga merupakan salah satu novel Indonesia mutakhir yang memiliki keunikan dan kekhasan (uniqueness and specialty) baik segi ekspresi (surface structure) maupun segi kekayaan maknanya (deep structure). Artinya, RDP memenuhi dua kriteria utama sebagai karya literer seperti dinyatakan oleh Hugh (dalam Aminuddin, 1987:45), yakni (1) relevansi nilai-nilai eksistensi manusia yang terdeskripsikan melalui jalan seni, melalui imajinasi dan rekaan yang keseluruhannya memiliki kesatuan yang utuh, selaras serta memiliki kepaduan dalam pencapaian tujuan tertentu (integrity, harmony dan unity) dan (2) daya ungkap, keluasan, dan daya pukau yang disajikan lewat bentuk (texture) serta penataan unsur-unsur kebahasaan dan struktur verbalnya (adanya consonantia dan klaritas).

Pada kriteria pertama, RDP melukiskan latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri atas orang-orang desa yang sederhana dengan menarik, bahkan tidak jarang sangat menarik (Damono dalam Tohari, 2003:ii). RDP mengungkapkan budaya lokal Banyumas Jawa Tengah yang khas dengan karakteristik, keunikan, dan permasalahannya dengan cara khas sastra. RDP disajikan dengan cara yang menggugah perasaan ingin tahu, suatu masalah yang bagi kita sebenarnya sangat lazim.

Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986), sejak kehadirannya dalam dunia sastra Indonesia telah mendorong banyak pengamat sastra mengkajinya. Novel RDP dinilai banyak kritikus sastra memiliki nilai lebih karena keberhasilannya mengungkapkan fenomena sosial budaya yang khas dalam sistem kehidupan politik di Indonesia pada paroh dekade 1960-an. Budaya lokal yang ditampilkan melalui dunia ronggeng sebagai kesenian tradisional yang marjinal, di tangan Tohari tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan yang menarik berbagai kalangan baik komunitas sastra maupun pengamat sosial budaya.

RDP memaparkan fenomena yang belum pernah terjadi di dunia sastra Indonesia, yakni

(12)

Kubah, novelnya terdahulu, RDP menunjukkan bahwa Tohari sangat lancar mendongeng (Damono

dalam Tohari, 2003:ii).

Berdasarkan pembacaan awal, RDP memiliki bentuk ekspresi bahasa yang variatif dan pencitraan yang orisinal. Sesuai dengan latar cerita RDP dan latar kehidupan Tohari yang akrab dengan dunia pedesaan, banyak ungkapan bahasa dan gaya bahasa yang segar dan khas bernuansa alam pedesaan. Profesi Tohari sebagai wartawan turut mewarnai pemakaian bahasa yang variatif dalam RDP. Selain itu, idiom bahasa Jawa yang kaya nuansa memperkaya bahasa RDP sekaligus mencerminkan latar pengarang yang dibesarkan di lingkungan masyarakat Banyumas Jawa Tengah.

Latar belakang Tohari yang pernah kuliah di Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Sosial Politik (kesemuanya tidak diselesaikannya karena alasan non-akademik/ekonomi), diduga turut berperan dalam memberikan pengayaan dalam eksplorasi bahasa dalam RDP. Banyaknya ungkapan dan gaya bahasa orisinal, segar dan khas dalam RDP mengindikasikan hal itu. Gaya bahasa yang kaya informasi tentang istilah dalam ilmu pengetahuan terutama bidang sosial, politik, kedokteran, dan biologi, terlihat sebagai 'pelangi' yang turut memperindah RDP. Semua itu menarik untuk diteliti.

Di pihak lain, karena daya pukaunya yang tinggi., RDP telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang, Belanda, Cina, Inggris dan Jerman serta bahasa Jawa. Bahkan, RDP menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa jurusan Asia Timur di Universitas Bonn Jerman (Bertold Damhauser dalam Tohari, 2003:ii). Dapat dikatakan, bahwa RDP adalah karya yang bernilai tinggi dan merupakan karya masterpiece Tohari.

Dari segi pengarangnya, Tohari adalah sosok sastrawan Indonesia yang layak diperhitungkan. Tohari, --bersama Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Taufik Ismail, Goenawan Mohamad, dan Umar Kayam--, adalah sekelompok sastrawan yang dikategorikan sebagai generasi sastrawan Horison yang lahir melalui karya-karyanya di majalah sastra tersebut sejak dekade 1970-an (Sumardjo, 1991:iv). Dengan karya-karya dan penghargaan tingkat nasional dan/atau internasional yang diperolehnya, tidak mengherankan jika Tohari disejajarkan dengan "raksasa sastra" Indonesia yang beberapa kali dinominasikan sebagai penerima hadiah nobel sastra, Pramudya Ananta Tour (Pengantar Penerbit dalam Tohari, 2003:v).

Sebagai sastrawan Indonesia terkemuka, karya-karyanya khas dan berbobot literer, terbukti dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya dalam berbagai kegiatan. Misalnya, dalam sayembara penulisan sastra di antaranya Kincir Emas dari Radio Nederland Wereldomroep (1975), penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta (1979), dan Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980). Penghargaan dari luar negeri misalnya The Fellow Writer of the University of Iowa (1990) dan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand di Bangkok (1995). Karena itu, karya-karyanya layak

(13)

Mengingat gaya bahasa adalah 'tanda' yang bermakna, yang menyiratkan ideologi pengarang, maka selayaknya penelitian stilistika RDP dikaitkan dengan pemaknaan. Artinya, selain dikaji dari segi aspek linguistiknya, stilistika RDP akan dikaji maknanya di balik ekspresi, eksplorasi, dan manipulasi kebahasaan yang khas Tohari tersebut. Dalam hal ini, untuk mengungkapkan makna stilistika RDP, akan digunakan pendekatan model Abrams (1979:3-29) yang mengaitkan RDP sebagai karya (faktor objektif) dengan latar sosiohistoris Tohari sebagai pengarang dan lingkungan sosial budaya pengarang (faktor ekspresif), serta tanggapan pembaca (faktor pragmatik/reseptif). Oleh karena itu, penelitian stilistika RDP ini diharapkan mampu mengungkapkan gagasan pengarang, kondisi sosial budaya, peristiwa dan suasana tertentu yang terekam dalam keunikan stilistikanya.

Dengan demikian, hasil penelitian stilistika RDP ini akan memberikan informasi ilmiah baru bagi pemerhati linguistik dan sastra sekaligus. Dikatakan baru karena selama ini kajian RDP difokuskan pada kajian stilistika dari segi kebahasaan saja oleh linguis di satu pihak dan di pihak lain RDP dikaji dari segi maknanya saja oleh para kritikus atau akademisi sastra. Hasil penelitian ini akan

mengungkapkan makna RDP melalui kajian stilistikanya yang merupakan terobosan baru atau model inovatif dalam pemaknaan karya sastra.

Dari uraian di atas, dapatlah dikemukakan secara rinci beberapa alasan dilakukannya penelitian stilistika RDP sebagai model inovatif dalam pemaknaan karya sastra sebagai berikut.

(1) Dari segi ekspresifnya, berdasarkan pengamatan awal RDP mengesankan adanya orisinalitas ekspresi yang khas Tohari yang kaya pemanfaatan potensi bahasa dan gaya bahasa yang segar dalam mengungkapkan gagasan sehingga stilistikanya menarik untuk dikaji.

(2) Berdasarkan pengamatan awal, RDP mengungkapkan permasalahan yang multidimensi, baik aspek sosial, politik, kultural, moral, religiositas, gender, maupun kemanusiaan yang menarik untuk dikaji maknanya.

(3) RDP mengesankan adanya daya ekspresi dan gagasan yang memiliki daya tarik tersendiri terbukti RDP telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing yakni bahasa Jepang, Belanda, Jerman, Cina, dan Inggris serta bahasa daerah Jawa.

(4) RDP dapat dipandang sebagai masterpiece karya-karya Tohari yang melambungkan namanya sehingga representatif dan layak untuk dikaji.

(5) Dari segi pengarangnya, Tohari adalah sastrawan Indonesia terkemuka yang karya-karyanya khas dan berbobot literer, terbukti dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya baik dari dalam maupun luar negeri.

(14)

pada aspek linguistik saja atau kajian makna RDP oleh akademisi sastra dengan pendekatan teori sastra.

(7) Penelitian stilistika RDP dan pemaknaannya dengan pendekatan model Abrams merupakan terobosan baru dalam pengkajian karya sastra.

Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi berharga bagi pengembangan keilmuan di bidang linguistik dan studi sastra sekaligus.

Berdasarkan latar belakang dan alasan-alasan di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian stilistika genetis RDP dengan judul "Pengembangan Model Inovatif dalam Analisis Makna Karya Sastra Melalui Kajian Stilistika: Studi Kasus Novel Ronggeng Dukuh Paruk”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, serta sesuai dengan pendekatan model Abrams, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1.2.1 Rumusan Masalah Tahun Pertama:

Bagaimana keunikan dan kekhasan stilistika RDP yang meliputi: diksi (pilihan dan bentuk kata), wacana (paragraf), bahasa figuratif (mencakup majas, idiom, dan peribahasa), dan citraan (faktor objektif).

1.2.2 Rumusan Masalah Tahun Kedua:

Bagaimana kontribusi stilistika RDP sebagai sarana sastra (faktor objektif) dalam interpretasi makna RDP secara holistik, yakni dalam hubungannya dengan latar sosiohistoris pengarang sebagai kreator stilistika novel RDP (faktor ekspresif) beserta kondisi sosial masyarakat lingkungannya pada dekade 1960-an ketika novel RDP diciptakan (faktor mimetik) berdasarkan tanggapan pembaca (faktor pragmatik/reseptif).

1.2.3 Rumusan Masalah Tahun Ketiga:

(1) Bagaimana model inovatif dalam analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika dengan studi kasus trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk.

(2) Bagaimana mengimplementasikan model analisis makna karya sastra baik puisi, fiksi, maupun drama melalui kajian stilistika.

(3) Bagaimana melaksanakan diseminasi model analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika kepada pemerhati dan kritikus sastra.

1.3 Tujuan Penelitian

(15)

1.3.1 Tujuan Penelitian Tahun Pertama adalah mendeskripsikan stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang yang meliputi gaya kata (diksi), gaya wacana, bahasa

figuratif --terdiri atas majas, idiom, dan peribahasa--, dan citraan (faktor objektif).

1.3.1.1 Melakukan pembacaan dan pencatatan data penelitian berupa pemanfaatan stilistika baik gaya kata, kalimat, wacana, bahasa figuratif, maupun citraan dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk melalui teknik pustaka atau analiis isi (content analysis)

1.3.1.2 Menganalisis gaya kata atau diksi dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang meliputi kata konotatif, kata konkret, kata serapan dari bahasa asing, kosakata bahasa Jawa, kata seru khas Jawa, kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, serta kata sapaan khas dan nama diri. 1.3.1.3 Memerikan gaya wacana dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang meliputi gaya

wacana dengan kombinasi sarana retorika dan gaya wacana alih kode.

1.3.1.4 Memaparkan bahasa figuratif (figurative language) dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang meliputi pemajasan, tuturan idiomatik, dan peribahasa.

1.3.1.5 Menganalisis citraan (imagery) dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk meliputi citraan visual, gerak, pendengaran, perabaan, intelektual, penciuman, dan pencecapan.

1.3.1.6 Menyajikan data penelitian berupa pemanfaatan stilistika baik gaya kata, kalimat, wacana, bahasa figuratif, maupun citraan dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk .

1.3.1.7 Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk penyempurnaan penyajian data penelitian. 1.3.1.8 Menyempurnakan sajian data penelitian berupa pemanfaatan stilistika baik gaya kata, kalimat,

wacana, bahasa figuratif, maupun citraan dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk .

1.3.2 Tujuan Penelitian Tahun Kedua adalah mendeskripsikan kontribusi stilistika RDP sebagai sarana sastra dalam interpretasi makna RDP secara komprehensif, yakni dalam hubungannya dengan latar sosiohistoris pengarang sebagai kreator stilistika novel RDP (faktor ekspresif) beserta kondisi sosial masyarakat lingkungannya pada dekade 1960-an ketika novel RDP diciptakan (faktor mimetik) berdasarkan tanggapan pembaca (faktor pragmatik/reseptif). 1.3.2.1 Memaparkan latar belakang sosiohistoris pengarang sebagai kreator stilistika RDP beserta kondisi sosial masyarakat lingkungannya (faktor ekspresif).

1.3.2.2 Mengungkapkan kondisi lingkungan sosial budaya pengarang dan masyarakatnya pada dekade 1960-an ketika novel RDP diciptakan (faktor mimetik).

1.3.2.3 Melakukan pemaknaan novel Ronggeng Dukuh Paruk dalam hubungannya dengan latar sosiohistoris pengarang beserta kondisi sosial masyarakat lingkungannya berdasarkan tanggapan pembaca (faktor pragmatik/reseptif).

(16)

berdasarkan tanggapan pembaca (faktor pragmatik/reseptif).

1.3.2.5 Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk penyempurnaan deskripsi tentang kontribusi kajian Stilistika sebagai sarana sastra dalam interpretasi makna RDP secara holistik.

1.3.2.6 Menyempurnakan laporan tentang kontribusi stilistika RDP sebagai sarana interpretasi makna RDP secara holistik, yakni dalam hubungannya dengan latar sosiohistoris pengarang beserta kondisi sosial masyarakat lingkungannya berdasarkan tanggapan pembaca (faktor pragmatik/reseptif).

1.3.3 Tujuan Penelitian Tahun Ketiga adalah menyusun model inovatif dalam analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika dengan studi kasus novel Ronggeng Dukuh Paruk dan mengimplementasikannya dalam analisis makna karya sastra baik puisi, fiksi, maupun drama. 1.3.3.1 Menyusun model inovatif analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika.

1.3.3.2 Uji-coba penerapan model inovatif dalam analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika.

1.3.3.3 Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengevaluasi dan menyempurnakan model inovatif dalam analisis makna sastra tersebut melalui kajian stilistika.

1.3.2.4 Melakukan implementasi model inovatif dalam analisis karya sastra baik puisi, fiksi, maupun drama melalui kajian stilistika.

1.3.3.5 Melakukan desiminasi model inovatif dalam analisis makna karya sastra melalui kajian stilistika kepada pemerhati/kritikus sastra.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stilistika dan Bidang Kajiannya

2.1.1 Style ’Gaya Bahasa’ dan Stilistika

Stilistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang berarti studi mengenai style 'gaya bahasa' atau 'bahasa bergaya'. Kata style (bahasa Inggris) berasal dari kata Latin stilus yang berarti alat (berujung tajam) yang dipakai untuk menulis di atas lempengan lilin (Shipley, 1979:314; Leech & Short, 1984:13). Kata stilus kemudian dieja menjadi stylus oleh penulis-penulis selanjutnya karena ada kesamaan makna dengan bahasa Yunani stulos (a pilar, bahasa Inggris) yang berarti alat tulis yang terbuat dari logam, kecil, dan berbentuk batang memiliki ujung yang tajam. Alat tersebut digunakan juga untuk menulis di atas kertas berlapis lilin (Scott, 1980:280). Pada perkembangan dalam bahasa Latin kemudian, stylus memiliki arti khusus yang mendeskripsikan tentang penulisan; kritik terhadap kualitas sebuah tulisan.

Style 'gaya bahasa' adalah cara pemakaian bahasa dalam karangan, atau bagaimana seorang

(17)

Kelima, kontribusi kajian stilistika karya sastra. Berdasarkan kajian stilistika atas novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) sebagai karya sastra, dapat dikemukakan bahwa kajian stilistika

karya sastra memiliki peran penting dalam studi sastra. Tugas kajian stilistika dengan penerapan teori-teori linguistik memberikan bantuan dalam analisis sastra dengan memaparkan sarana bahasa yang dimanfaatkan pengarang di dalam teks sastra. Dalam hal ini linguistik memiliki seperangkat teori, model, dan teknik analisis untuk memerikan pola pembentukan, pola konstruksi, kaidah pembentukan satuan lingual yang normatif, dan bentuk kebahaan yang khas dan unik atau menyimpang, juga adanya majas seperti simile, metafora, personifikasi, hiperbola, beserta implikasinya.

Tegasnya, kajian stilistika RDP terbukti memberikan kontribusi berharga bagi pengembangan kajian linguistik dalam studi sastra yakni penemuan model kajian stilistika karya sastra dan pemaknaannya. Kajian stilistika RDP memberikan kontribusi penting bagi studi sastra, khususnya kritik sastra, yakni dalam mengkaji keunikan dan kekhasan bahasa sastra dalam rangka membantu pemahaman maknanya. Adapun terhadap studi linguistik kajian stilistika RDP ini memberikan dasar-dasar dalam mengkaji bahasa sastra yang khas dan unik bukan hanya dengan sudut pandang linguistik formal menyangkut fonetik, morfologis, sintaksis, dan wacananya melainkan juga fungsi, efek makna, dan efek estetik yang ditimbulkannya.

Dapat dikemukakan pula bahwa kajian stilistika RDP membuktikan bahwa kajian linguistik dan kritik sastra dapat dipadukan secara harmonis. Oleh karena itu, ‘perang persepsi‘ yang selama ini timbul di kalangan komunitas linguistik dan sastra bahwa kajian stilistika oleh linguis terkesan ‘kering makna‘ atau sebaliknya kajian sastra oleh kritikus dan akademisi sastra terkesan ‘basah makna‘, dapat ditepis. Dengan demikian, hasil kajian ini dapat memberikan kontribusi berharga bagi pengembangan keilmuan di bidang linguistik dan sekaligus studi sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston.

_______. 1979. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. New York: Oxford University Press.

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1982. Islamization of Konwledge. The International Institute of Islamic Thought.

Al-Ma‘ruf, Ali Imron. 1995. "Signifikansi Ilmu-ilmu Humaniora dalam Pembangunan Bangsa:

Perspektif 50 Tahun Indonesia Merdeka". Orasi Ilmiah dalam Wisuda Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, 17 Oktober 1995.

_______. 2006. ‖Ahmad Tohari dan Ronggeng Dukuh Paruk: Eksistensinya dalam Jagat Sastra

Indonesia‖. Makalah dalam Seminar Dokumentasi Sastrawan Jawa Tengah diselenggarakan

(18)

_______. 2007. ‖Multikulturalisme dalam Novel Burung-burung Rantau Karya Y.B.

Mangunwijaya‖ dalam Litera Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Volume

6, Nomor 1, Januri 2007.

_______. 2007a. ‖Nilai Pendidikan Multikultural dalam Novel Burung-burung Rantau: Kajian

Semiotik‖ dalam Varia Pendidikan Kajian Kajian Pendidikan, Volume 19, Nomor 1, Juni

2007.

Altenbernd, Lynd and Lislie L. Lewis. 1970. A Handbook for the Study of Poetry. London: Collier-Macmillan Ltd.

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya sastra. Bandung: Sinar Baru bekerja sama dengan YA3 Malang.

_______. 1990. Sekitar Masalah Sastra Beberapa Prinsip dan Pengembangannya. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

_______. 1995. Stilistika Pengantar dalam Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.

_______. 2001. Semantik Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo dan YA3 Malang.

Heryanto, Ariel. 1985. Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: Rajawali Press.

Sariyan, Awang. 1988. ―Stilistik dalam Sastera Melayu-Pendekatan Linguistik‖ dalam Konsep dan Pendekatan Sastra (Editor Hamzah Hamdani). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Barthes, Roland. 1973. Mythologies (Trans. Annette Lavers). London: Paladin.

_______. 1984. Image, Music, Text. Cetakan VI (Terj. Stephen Heath) New York: Hill and

Wang.

Budiman, Kris. 1999. Kosa Semiotika. Yogyakarta: LKIS.

Bradford, Richard. 1997. Stylistics. New York: Routledge.

Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Dharma, Budi. 1990. ―Sastra Indonesia Mutakhir‖ dalam Aminuddin (Ed.) Sekitar Masalah

Sastra Beberapa Prinsip dan Model Pengembangannya. Malang: Y3A.

Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Burton, S.H. 1984. The Criticism of Poetry. England: Longman Group Ltd.

Carter, R. (Ed.). 1982. Language and Literature. An Introductory Reader in Stylistics. London: George Allen and Unwin Ltds.

(19)

Chapman, Raymond. 1977. Structure and Literature An Introduction to Literary Stilistics. London: Edward Arnold.

Chatman, Seymour. 1971. Literary Style: A Symposium. London: Oxford University Press.

_______. 1980. Story and Discourse, Narrative Structure in Fiction and Film. Itacha: Cornell University Press.

Ching, Marvin K.L. et al. 1981. ―The Theoritical Relation Between Linguyistics and Literary

Studies: An Introduction by Editors‖, dalam Lingustics Perspective and

Literature, Marvin K.L. Ching , Michael C. Halley, Ronald F. Lunsford (Ed.). London: Routledge & Kegan Paul.

Chomsky, Noam. 1971. ―Deep Structure, Surface Structure, and Semantic

Interpretation‖ dalam Semantics: An Interdisciplinary Reader in Philosophy Linguistics and

Psychology. Danny D. Steinberg & Leon A. Jakobovits (Ed.). New York: Cambridge University Press.

Combes, H. 1980. Literature and Criticism. Harmondsworth, Midlesex: Penguin Books Ltd.

Cribb, Robert (Ed.). 2004. The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966. Yogyakarta: Matabangsa.

Cuddon, J.A. 1979. A Dictionary of Literary Term. Great Britain: W&J Mackay Limited.

Culler, Jonatan. 1975. Structuralist Poetics, Structuralism, Linguistics and Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.

_______. 1981. The Pursuit of Signs. London: Routledge & Kegan Paul.

Cummings, M. and Simmons R. 1986. The Language of Literature. England: Pergemond Press.

Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraaan Indonesia Mutakhir. Jakarta: Gramedia.

Darmawan, Taufik. 1990. ―Tinjauan Novel Ronggeng Dukuh Paruk (Sebuah Tinjauan Sosiologis)‖ dalam Aminuddin (Ed.). Sekitar Masalah Sastra. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh.

Dasuki, Sholeh. 2001. ―Pandangan Dunia Pengarang dalam Trilogi Novel Karya Ahmad Tohari‖ dalam Jurnal Nuansa Indonesia No. 15 Vol. VI (April 2001).

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Direktori Penulis di Indonesia. Jakarta: Direktorat Genderal Kebudayaan.

Dewanto, Nirwan. 1991. "Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991" dalam Prisma No. 10 Tahun XX, Oktober 1991.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

(20)

Eneste, Pamusuk. 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Fowler, Roger. 1977. Linguistic and the Novel. London: Methuen & Co Ltd.

Freeman, Donald C. 1981. Modern Stylistics. New York. : Methuen & Co. Ltd..

Freebon, Denis. 1996. Style Text Analysis and Linguistics Criticism. London: Macmillan Press Ltd.

Gandasudirja, Maskar. 1995. 700 Peribahasa Indonesia. Bandung: Toko Buku Ekonomi.

Garcia, Ricardo L. 1982. Teaching in a Pluralistic Society: Consepts, Models, Strategies. New York: Harper & Row Publisher.

Goldman, Lucien. 1981. Method in the Sociological Literature (Trans. By William Q. Boelhower). England: Basil Blackwell.

Halliday, M.A.K. 1996. ―Descriptive Linguistics in Literary Studies” dalam Patterns of Language.

Papper in General, Descriptive and Applied Linguistics. London: Longman.

Hartoko, Dick & B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Hasan, Zaini. 1990. ―Karakteristik Kajian Kualitatif‖ dalam Aminuddin (Ed.). Kajian Kualitatif dalam

Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Hasyim, Nafron. 2001. Pedoman Penyuluhan Apresiasi Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.

Hawkes, Terence. 1978. Structuralism and Semiotics. London: Methuen & Co. Ltd.

Ismail, Taufik. 2002. ‖Setelah Menguap dan Tertidur Selama 45 Tahun‖. Makalah Pertemuan

Ilmiah Nasional XII di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tanggal 8-10 September 2002 Kerja sama Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) dengan Majalah Sastra Horison, Lembaga Kebudayaan Jepang, Balai Bahasa Yogyakarta, dan

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Jakobson, Roman. 1960. ―Closing Statement: Linguistics and Poetics” dalam Style in Language (T.A. Seboek (Ed.)), New York: technology of the M.I.T. Press.

Jassin, H.B. 1984. Al-Quranul Karim Bacaan Mulia. Jakarta: Djambatan.

Jauss, Hans Robert. 1984. Toward an Aesthetic Reception. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Keraf, Gorys. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

_______. 1993. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia.

(21)

K.S., Yudiono. 2003. Ahmad Tohari Karya dan Dunianya. Jakarta: PT Grasindo.

Labov, W. & Uriel Weinrich. 1980. On Semantics. New York: Cambridge University Press.

Larson, Mildred L. 1989. Penerjemahan Berdasarkan Makna: Pedoman untuk Pemadanan Bahasa (Terj. K. Taniran). Jakarta: Arcan.

Leech, Geoffrey. 2003. Semantik (Terj. Paina Partana). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leech, Geoffrey N. & Michael H. Short. 1984. Style in Fiction: a Linguistics Introduction to English Fictional Prose. London: Longmann.

Lodge, David. 1967. Language of Fiction. London: Chatto and Windus.

Luxemberg, Jan val et al. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. (Terj. Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.

Lyons, John. 1979. Semantics, Volume I. London: Cambridge University Press.

Lyotard, Jen-Francois. 1992. The Posmodern Condition: A Report on Knowledge. Manchester: Manchester University Press.

Mangunwijaya, Y.B. 1992. Burung-burung Rantau. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mas, Keris. 1990. Perbincangan Gaya Bahasa Sastra. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Miles, M.B. & A.M. Huberman. 1984. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. Beverly Hills: Sage Publication.

Moleong, Lexy J. 1990. Metodologi Kajian Kualitatif. Bandung. Rosda Karya.

Montifiero, Alan. 1983. Philosophy France Today. Cambridge: Cambridge University Press.

Mukarovsky, Jan. 1976. On Poetry Language. (Translated by John Burbank and Pitter Steiner). London: Yale University Press.

Oemarjati, Boen Sri. 1972. Chairil Anwar: the Poet and His Language. Leiden: University of Leiden.

Poerwadarminta, W.J.S. dkk. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters Uitgevers- Maatschappij N.V. Groningen.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. "Stilistika" dalam Jurnal Humaniora Nomor 1, Tahun 1994.

_______. 1997. "Ragam Bahasa Sastra" dalam Humaniora Nomor 1 Tahun IV 1997.

_______. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

_______. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

(22)

Prawiroatmodjo, S. 1994. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta: CV Hají Masagung.

Preminger, Alex dkk. 1978. Princeton Encyclopedia of Poetry and Poetic. Princeton: Princeton University Press.

Rahardi, F. 1984. ―Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal‖ dalam Majalah

Sastra Horison Edisi No. 1 April 1984.

Rampan, Korrie Layun. 1983. Perjalanan Sastra Indonesia. Jakarta: Gunung Jati.

_______. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Gramedia Widyasarana Indonesia.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ricoeur, Paul. 1985. Hermeneutics and Human Science. (Ed. dan Terj. Thomson). Cambridge: Cambridge University Press.

Riffaterre, Michael. 1978. Semiotic of Poetry. Bloomington and London: Indiana University Press.

Riyanto, Wijang J. dkk. 2006. Proses Kreatif Ahmad Tohari dalam Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk. Surakarta: Taman Budaya Jawa Tengah.

Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. (Seri ILDEP). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

San, Suyadi. 2005. Stilistika Sebuah Pengenalan Awal. Medan: Sanggar Budaya Generasi.

Satoto, Soediro. 1995. Stilistika. Surakarta: STSI Press.

Sayuti, Suminto A.. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Scott, A.F. 1980. Current Literary Term. A Concise Dictionary. London: The Macmilland Press.

Sebeok, Thomas A. 1975. Style in Language. Cambridge, Massachussetts: The MIT Press.

Segers, Rien T. 1978. The Evaluation of Literary Texs. Lisse: The Peter de Ridder Press.

Selden, Raman. 1991. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Edisi Terjemahan Rahmad Djoko Pradopo, Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Shipley, Joseph T. 1979. Dictionary of Word Literature. Paterson New York: Liftefield, Adam & Co.

Short, Michael H. (Ed). 1989. Reading, Analysing and Teaching Literature. England: Longman.

(23)

Slamet Riyadi. 1999. ‖Nama Diri Etnik Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat‖ dalam Panduan Kongres Linguistik Nasional IX 1999. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Unika Atmajaya.

Stanton, Robert. 1979. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Stone, Wilfred. 1977. Prose Style. New York: Stanford University Press.

Subroto, D. Edi. 1996. Semantik Leksikal I dan II. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Subroto, D. Edi dkk. 1997. Telaah Linguistik Atas Novel Tirai Menurun Karya N. H. Dini Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

_______. 1999. Telaah Stilistika Novel Berbahasa Jawa Tahun 1980-an. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.

Sudaryanto. 1998. Metode Linguistik ke Arah Memahami Metode Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

_______. 2001. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sudjiman, Panuti (Ed.). 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.

_______. 1995. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Sudjiman, Panuti & Aart van Zoest (Ed.). 1996. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.

Suhandono. 2000. ―Klasifikasi Folk Biologi dalam Bahasa Jawa: Sebuah Pengamatan Awal‖. Makalah

(Tidak Diterbitkan).

Sumardjo, Jakob. 1982. Novel Indonesia Mutakhir Sebuah Kritik. Yogyakarta: Nur Cahaya.

_____________. 1991. Pengantar Novel Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Sumaryono, E. 2003. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Surur, Miftahus. 2003. ―Perempuan Tayub: Nasibmu di Sana, Nasibmu di Sini‖ dalam Jurnal Srinthil

Media Perempuan Multikultural Nomor 2 2003.

Suseno, Franz Magnis. 1984. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia.

Sutarjo. 2002. ―Bahasa Pedalangan Gaya Surakarta (Suatu Kajian Stilistika)‖. Tesis S2 Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Sutejo. 2006. ―Keunikan Bahasa Pengucapan Ayu Utami dalam Dwilogi Novel Saman dan Larung”.

(24)

Sutopo, H.B. 1995. "Kritik Seni Holistik sebagai Model Pendekatan Kajian Kualitatif". Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Budaya pada Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tarigan, Henri Guntur. 1986. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. 1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Gramedia.

_______. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

_______. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Todorov, Tzvetan. 1987. Tata Sastra (Terj. Okke K.S. Zaimar). Jakarta: Djambatan.

Tohari, Ahmad. 1980. Kubah. Jakarta: Pustaka Jaya. _______. 1982. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia. _______. 1985. Lintang Kemukus Dini Hari. Jakarta: Gramedia. _______. 1986. Jantera Bianglala. Jakarta: Gramedia.

_______. 1986. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta: Gramedia.

_______. 1993. Bekisar Merah. Jakarta: Gramedia.

_______. 1995. Lingkar Tanah Lingkar Air. Purwokerto: Harta Prima.

_______. 2001. Belantik (Bekisar Merah II). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. _______. 2002. Orang-orang Proyek . Yogyakarta: LKIS.

_______. 2003. Ronggeng Dukuh Paruk. (Edisi Baru). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

_______. 2003a. "Ronggeng Dukuh Paruk Resistensi Cara Srintil" dalam Jurnal Srinthil Media Perempuan Multikultural Edisi No. 2 Tahun 2003.

Turner, G. W. 1977. Stylistics. Harmondsworth Middlesex: Penguin Books.

Uhlenbeck, E.M. 1982. ―Ciri-ciri Sistematis Nama Orang dalam Bahasa Jawa‖ dalam Kajian Morfologi

Bahasa Jawa. (Seri ILDEP). Jakarta: Djambatan.

Ullmann, Stephen. 1977. Semantics: An Introduction to the Science of Meaning. Oxford: Basil Blacwell.

_______. 1989. Stilistik: Satu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Wahab, Abdul. 1991. Isu-isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.

Waluyo, Herman J.. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wasiyati, Kristina. 2000. ―Referensi, Makna, dan Denotasi‖ (Makalah). Yogyakarta: Tidak Diterbitkan.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusasteraan (Terjemahan Melani Budianto). Jakarta: Gramedia.

(25)

_______. 1992. Practical Stylistics: an Approach to Poetry. Oxford: Oxford University Press.

Wijaya, Ganjar Harimansyah. 2002. ―Kajian Stilistika Puisi Indonesia Tahun 1990-an‖.

Tesis S2 Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

W.M., Abdulhadi. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas. Jakarta: Matahari.

www.ceritanet.com (Diakses tanggal 5 November 2006).

Yin, Robert K. 2000. Studi Kasus (Desain dan Metode) (Terj. M. Djauzi Mudzakir). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Yusuf, Suhendra. 1995. Leksikon Sastra. Bandung: CV Mandar Maju.

Zaimar, Okke K.S. 1991. Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang. Jakarta: Intermasa.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...