Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Dalam Bentuk Padat Dengan Menggunakan Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa)

71  41 

Teks penuh

(1)

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA PIPI

PIPI

PIPI

PIPI DALAM

DALAM

DALAM

DALAM

BENTUK

BENTUK

BENTUK

BENTUK PADAT

PADAT

PADAT

PADAT DENGAN

DENGAN

DENGAN

DENGAN MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK BUNGA

BUNGA

BUNGA

BUNGA BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH ((((

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

bilimbi

IZAFELLAIZAFELLAIZAFELLA FAHRAINTFAHRAINTFAHRAINTFAHRAINT NIM

NIMNIMNIM 111524011152401115240111524055555555

PROGRAM

PROGRAM

PROGRAM

PROGRAM EKSTENSI

EKSTENSI

EKSTENSI

EKSTENSI SARJANA

SARJANA

SARJANA

SARJANA FARMASI

FARMASI

FARMASI

FARMASI

FAKULTAS

FAKULTAS

FAKULTAS

FAKULTAS FARMASI

FARMASI

FARMASI

FARMASI

UNIVERSITAS

UNIVERSITAS

UNIVERSITAS

(2)

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA PIPI

PIPI

PIPI

PIPI DALAM

DALAM

DALAM

DALAM

BENTUK

BENTUK

BENTUK

BENTUK PADAT

PADAT

PADAT

PADAT DENGAN

DENGAN

DENGAN

DENGAN MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK BUNGA

BUNGA

BUNGA

BUNGA BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH ((((

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

bilimbi

DiajukanDiajukanDiajukan untukuntukuntukuntuk melengkapimelengkapimelengkapimelengkapi salahsalah satusalahsalahsatusatusatu syaratsyaratsyaratsyarat untukuntukuntukuntuk memperoleh

memperoleh memperoleh

memperoleh GelarGelarGelarGelar SarjanaSarjanaSarjanaSarjana FarmasiFarmasiFarmasiFarmasi padapadapadapada Fakultas

Fakultas Fakultas

Fakultas FarmasiFarmasiFarmasiFarmasi Universitas

Universitas Universitas

Universitas SumateraSumateraSumateraSumatera UtaraUtaraUtaraUtara

OLEH:

OLEH:

OLEH:

OLEH:

IZAFELLA

IZAFELLA

IZAFELLA

IZAFELLA FAHRAINT

FAHRAINT

FAHRAINT

FAHRAINT

NIM

NIM

NIM

NIM 111524055

111524055

111524055

111524055

PROGRAM

PROGRAM

PROGRAM

PROGRAM EKSTENSI

EKSTENSI

EKSTENSI

EKSTENSI SARJANA

SARJANA

SARJANA

SARJANA FARMASI

FARMASI

FARMASI

FARMASI

FAKULTAS

FAKULTAS

FAKULTAS

FAKULTAS FARMASI

FARMASI

FARMASI

FARMASI

UNIVERSITAS

UNIVERSITAS

UNIVERSITAS

(3)

PENGESAHAN

PENGESAHAN

PENGESAHAN

PENGESAHAN SKRIPSI

SKRIPSI

SKRIPSI

SKRIPSI

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA PIPI

PIPI

PIPI

PIPI DALAM

DALAM

DALAM

DALAM

BENTUK

BENTUK

BENTUK

BENTUK PADAT

PADAT

PADAT

PADAT DENGAN

DENGAN

DENGAN

DENGAN MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK BUNGA

BUNGA

BUNGA

BUNGA BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH ((((

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

bilimbi

IZAFELLA

IZAFELLA

IZAFELLA FAHRAINT

FAHRAINT

FAHRAINT

FAHRAINT

NIM

NIM

NIM

NIM 111524055

111524055

111524055

111524055

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Pada tanggal: 18 September 2013

Pembimbing I, Panitia Penguji,

Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt. Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt. NIP 195011171980022001 NIP 195107031977102001

Pembimbing II, Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt. NIP 195011171980022001

Dra. Saodah, M.Sc., Apt. Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt. NIP 194901131976032001 NIP 196005111989022001

Drs. Suryanto, M.Si., Apt. NIP 196106191991031001

Medan, Oktober 2013 Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Dekan,

(4)

KATA

KATAKATAKATA PENGANTARPENGANTARPENGANTARPENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi sediaan pewarna pipi dalam bentuk padat dengan menggunakan ekstrak bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbiL.) sebagai pewarna yang merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada . IbuDra. Fat Aminah, M.Sc., Apt., dan ibuDra. Saodah, M.Sc., Apt., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sangat sabar dan telaten membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas

Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas selama masa pendidikan. Ibu Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt., Ibu Dra

Nazliniwaty, M.Si., Apt., dan Bapak Drs. Suryanto, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang memberikan masukan, kritik, arahan dan saran dalam menyusun skripsi ini. Bapak dan ibu staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik selama perkuliahan.

Penulis juga ingin mempersembahkan rasa terima kasih yang sangat tulus kepada Ibunda Laili fithri dan Ayahanda Tarmizi atas pengorbanannya dengan tulus ikhlas dan telah mendoakan penulis, untuk adik-adik tersayang Sujuddin Wahyu dan Aan Raisul Syahrain yang selalu setia memberikan dorongan dan semangat serta kepada teman-teman ekstensi stambuk 2011 atas semua motivasinya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna memperbaiki skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khusus bidang farmasi.

Medan, Oktober 2013 Penulis

(5)

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA PIPI

PIPI

PIPI

PIPI

DALAM

DALAM

DALAM

DALAM BENTUK

BENTUK

BENTUK

BENTUK PADAT

PADAT

PADAT

PADAT DENGAN

DENGAN

DENGAN

DENGAN MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

ESKTRAK

ESKTRAK

ESKTRAK

ESKTRAK BUNGA

BUNGA

BUNGA

BUNGA BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH

((((

Ave

Ave

Ave

Averrrrrhoa

rhoa

rhoa

rhoa bilimbi

bilimbi

bilimbi

bilimbi

L.

L.

L.

L.))))

ABSTRAK ABSTRAK ABSTRAKABSTRAK

Pewarna pipi adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai pipi dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah. Pewarna pipi dibuat dalam berbagai corak warna yang bervariasi mulai dari warna merah jambu hingga merah tua. Bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) mengandung pigmen antosianin yang mampu memberikan warna merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sediaan pewarna pipi dalam bentuk padat menggunakan esktrak bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbiL.) sebagai pewarna.

Ekstraksi bunga belimbing wuluh dibuat dengan cara maserasi 500 gram bunga belimbing menggunakan 500 ml etanol 96% yang telah dicampurkan dengan 2% asam sitrat dan 0,1% natrium metabisulfit. Maserat lalu dipekatkan dengan penguap berputar (rotary evaporator) pada suhu ± 48°C sampai diperoleh ekstrak kental. Selanjutnya hasil yang diperoleh dilakukan pengeringan beku (freeze drying) -40°C selama 2 hari sehingga diperoleh ekstrak bunga belimbing wuluh kental sebanyak 41,62 gram. Ekstrak diformulasi dengan menggunakan talkum, kaolin, zink stearat, parfum, nipagin, isopropyl miristat, lanolin dengan variasi konsentrasi ekstrak 2, 4, 6, 8 dan 10%. Campuran dikempa dengan menggunakan pencetak diameter 1,5cm. Kemudian dilakukan pemeriksaan mutu fisik (homogenitas, uji poles, uji kekerasan, uji keretakan), uji cemaran mikroba, uji iritasi, kesukaan dan stabilitas.

Hasil pemeriksaan mutu fisik sediaan menunjukan bahwa sediaan memiliki warna yang homogen, polesan terbaik pada konsentrasi 6%. Sediaan yang disukai adalah dengan konsentrasi 6%. Hasil uji kekerasan pewarna pipi menggunakan pewarna ekstrak bunga belimbing wuluh 2, 4, 6, 8% adalah 0,2 kg, dan yang 10% adalah 0,4 kg. Warna dan bau dari semua sediaan yang dibuat mengalami perubahan (tidak stabil) selama 75 hari. Ekstrak bunga belimbing wuluh dapat digunakan sebagai pewarna dalam sediaan pewarna pipi, sediaan pewarna pipi dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 2, 4, 6, 8, dan 10% memberikan masing- masing warna yaitu merah jambu, merah muda kecoklatan, dan merah maron. Semua sediaan tidak pecah, tidak stabil dalam penyimpanan selama 90 hari dan , tidak menyebabkan iritasi.

Kata Kata

(6)

FORMULATION

FORMULATION

FORMULATION

FORMULATION OF

OF

OF

OF ROUGE

ROUGE

ROUGE

ROUGE IN

IN

IN

IN A

A

A

A SOLID

SOLID

SOLID

SOLID FORM

FORM

FORM

FORM USING

USING

USING

USING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH FLOWER

FLOWER

FLOWER

FLOWER ((((

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa Bilimbi

Bilimbi

Bilimbi

Bilimbi

L.

L.

L.

L. ))))

EXTRACT

Rouge is a kind of cosmetic that used for coloring cheek with artistic touch so it can improve the aesthetics of make up. Rouge are made on various colors from pink to dark red. Belimbing wuluhs flower contains of antocyanin pigment which produce is red color. The objective of this observation was to make the rouge in a solid form using belimbing wuluh flower (Averrhoa bilimbiL.) extract as a colourant .

Extract was made by macerating 500 g belimbing wuluh flower using 96% ethanol which had been mixed with 2% citric acid and 0,1% sodium metabisulphite. Macerating material was concentrated by rotary evaporator on 48°C till it produce viscous extract. Then the material which got from maceration will be freeze dried on -40°C for two days and there will be 41,62 g viscous belimbing wuluh extract after that. The extract was formulated by using talc, kaolin, zinc stearate, perfume, nipagin, isopropyl myristate, lanolin with various dye concentration of 2, 4, 6, 8 and 10%. The material is compressed by using compressor with 1,5 centimeters diameter. Then it will be tested by physic quality test (homogenity, smear test, hardness test, cracked test), microbial contamination test, irritation test , hedonic test and stability.

The result of physic quality showed that the the product has a homogeneous color, best make up at concentrations of 6%, the preferred rouge was rouge with a concentration of 6%. Result of hardness test using belimbing wuluh flower ekstract as colorant each 2, 4, 6, and 8% was 0,2 kg, and rouge with 10% has a hardness 0,4 kg. The color and odor of the rouge were not stable for 75 days. Belimbing wuluh flower ekstract can be used as colorant in rouge formulation, the rouge with extract of belimbing wuluh flower 2, 4, 6, 8, and 10% gave color respectively: pink, pink chocolate, and maron. All product was not broke, was not stable in storage for 90 days, and did not cause irritation.

Keyword Keyword

(7)

DAFTAR DAFTAR DAFTAR DAFTAR ISIISIISIISI

Halaman

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Hipotesis ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 5

2.1 Uraian Tumbuhan ... 5

2.2 Kosmetik ... 8

2.3 Perona Pipi ... 13

BAB III METODE PENELITIAN ... 16

3.1 Alat dan Bahan ... 16

3.2 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel... 17

3.3 Pembuatan Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh... 17

3.4 Pembuatan Formula Pemerah Pipi dengan Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh sebagai Pewarna dalam Berbagai Konsentrasi... 18

3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Pewarna Pipi... 21

3.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan(Hedonic test)... 23

(8)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 26

4.1 Hasil Ekstraksi Bunga Belimbing Wuluh ...26

4.2 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan Pewarna Pipi...26

4.3 Hasil Uji Kesukaan(Hedonic test)... 30

4.4 Stabilitas Pewarna Pipi ... ... 32

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 34

5.1 Kesimpulan ... 34

5.2 Saran ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... 35

(9)

DAFTAR

DAFTARDAFTARDAFTAR TABELTABELTABELTABEL

Halaman Tabel 3.1 Modifikasi formula sediaan pewarna pipi dari ekstrak

bunga belimbing wuluh ... 20

Tabel 4.1 Data pemeriksaan uji kekerasan pada sediaan pewarna pipi ... 27

Tabel 4.2 Data pemeriksaan uji keretakan pada sediaan pewarna pipi ... 28

Tabel 4.3 Hasil uji cemran mikroba ...29

Tabel 4.4 Data uji iritasi ... 29

Tabel 4.5 Data nilai uji kesukaan(Hedonic test) ...31

(10)

DAFTAR DAFTAR DAFTAR

DAFTAR LAMPIRANLAMPIRANLAMPIRANLAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Hasil Determinasi Tumbuhan ...37

Lampiran 2 Hasil Uji Cemaran Mikroba ... 38

Lampiran 3 Gambar Bunga Belimbing Wuluh ...39

Lampiran 4 Perhitungan Bahan Formulasi Sediaan Pewarna Pipi untuk 50 g ...40

Lampiran 5 Kuesioner Uji Kesukaan(Hedonic test) ...43

Lampiran 6 Perhitungan Rendemen ... 44

Lampiran 7 Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh ... 45

Lampiran 8 Gambar Sediaan Pewarna Pipi Menggunakan Pewarna Ekstrak Bungan Belimbing Wuluh ... 46

Lampiran 9 Gambar Hasil Uji Homogenitas (konsentrasi 8%), Hasil Uji Iritasi (konsentrasi 10%) ...47

Lampiran 10 Uji Poles ... 48

Lampiran 11 Surat Pernyataan untuk Uji Iritasi ... 49

Lampiran 12 Gambar Alat Uji Kekerasan (copley) dan Alat Pencetak ... 50

Lampiran 13 Perhitungan Uji Kesukaan(Hedonictest)...51

(11)

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI

FORMULASI SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN

SEDIAAN PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA

PEWARNA PIPI

PIPI

PIPI

PIPI

DALAM

DALAM

DALAM

DALAM BENTUK

BENTUK

BENTUK

BENTUK PADAT

PADAT

PADAT

PADAT DENGAN

DENGAN

DENGAN

DENGAN MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

MENGGUNAKAN

ESKTRAK

ESKTRAK

ESKTRAK

ESKTRAK BUNGA

BUNGA

BUNGA

BUNGA BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH

((((

Ave

Ave

Ave

Averrrrrhoa

rhoa

rhoa

rhoa bilimbi

bilimbi

bilimbi

bilimbi

L.

L.

L.

L.))))

ABSTRAK ABSTRAK ABSTRAKABSTRAK

Pewarna pipi adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai pipi dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah. Pewarna pipi dibuat dalam berbagai corak warna yang bervariasi mulai dari warna merah jambu hingga merah tua. Bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) mengandung pigmen antosianin yang mampu memberikan warna merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sediaan pewarna pipi dalam bentuk padat menggunakan esktrak bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbiL.) sebagai pewarna.

Ekstraksi bunga belimbing wuluh dibuat dengan cara maserasi 500 gram bunga belimbing menggunakan 500 ml etanol 96% yang telah dicampurkan dengan 2% asam sitrat dan 0,1% natrium metabisulfit. Maserat lalu dipekatkan dengan penguap berputar (rotary evaporator) pada suhu ± 48°C sampai diperoleh ekstrak kental. Selanjutnya hasil yang diperoleh dilakukan pengeringan beku (freeze drying) -40°C selama 2 hari sehingga diperoleh ekstrak bunga belimbing wuluh kental sebanyak 41,62 gram. Ekstrak diformulasi dengan menggunakan talkum, kaolin, zink stearat, parfum, nipagin, isopropyl miristat, lanolin dengan variasi konsentrasi ekstrak 2, 4, 6, 8 dan 10%. Campuran dikempa dengan menggunakan pencetak diameter 1,5cm. Kemudian dilakukan pemeriksaan mutu fisik (homogenitas, uji poles, uji kekerasan, uji keretakan), uji cemaran mikroba, uji iritasi, kesukaan dan stabilitas.

Hasil pemeriksaan mutu fisik sediaan menunjukan bahwa sediaan memiliki warna yang homogen, polesan terbaik pada konsentrasi 6%. Sediaan yang disukai adalah dengan konsentrasi 6%. Hasil uji kekerasan pewarna pipi menggunakan pewarna ekstrak bunga belimbing wuluh 2, 4, 6, 8% adalah 0,2 kg, dan yang 10% adalah 0,4 kg. Warna dan bau dari semua sediaan yang dibuat mengalami perubahan (tidak stabil) selama 75 hari. Ekstrak bunga belimbing wuluh dapat digunakan sebagai pewarna dalam sediaan pewarna pipi, sediaan pewarna pipi dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 2, 4, 6, 8, dan 10% memberikan masing- masing warna yaitu merah jambu, merah muda kecoklatan, dan merah maron. Semua sediaan tidak pecah, tidak stabil dalam penyimpanan selama 90 hari dan , tidak menyebabkan iritasi.

Kata Kata

(12)

FORMULATION

FORMULATION

FORMULATION

FORMULATION OF

OF

OF

OF ROUGE

ROUGE

ROUGE

ROUGE IN

IN

IN

IN A

A

A

A SOLID

SOLID

SOLID

SOLID FORM

FORM

FORM

FORM USING

USING

USING

USING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING

BELIMBING WULUH

WULUH

WULUH

WULUH FLOWER

FLOWER

FLOWER

FLOWER ((((

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa

Averrhoa Bilimbi

Bilimbi

Bilimbi

Bilimbi

L.

L.

L.

L. ))))

EXTRACT

Rouge is a kind of cosmetic that used for coloring cheek with artistic touch so it can improve the aesthetics of make up. Rouge are made on various colors from pink to dark red. Belimbing wuluhs flower contains of antocyanin pigment which produce is red color. The objective of this observation was to make the rouge in a solid form using belimbing wuluh flower (Averrhoa bilimbiL.) extract as a colourant .

Extract was made by macerating 500 g belimbing wuluh flower using 96% ethanol which had been mixed with 2% citric acid and 0,1% sodium metabisulphite. Macerating material was concentrated by rotary evaporator on 48°C till it produce viscous extract. Then the material which got from maceration will be freeze dried on -40°C for two days and there will be 41,62 g viscous belimbing wuluh extract after that. The extract was formulated by using talc, kaolin, zinc stearate, perfume, nipagin, isopropyl myristate, lanolin with various dye concentration of 2, 4, 6, 8 and 10%. The material is compressed by using compressor with 1,5 centimeters diameter. Then it will be tested by physic quality test (homogenity, smear test, hardness test, cracked test), microbial contamination test, irritation test , hedonic test and stability.

The result of physic quality showed that the the product has a homogeneous color, best make up at concentrations of 6%, the preferred rouge was rouge with a concentration of 6%. Result of hardness test using belimbing wuluh flower ekstract as colorant each 2, 4, 6, and 8% was 0,2 kg, and rouge with 10% has a hardness 0,4 kg. The color and odor of the rouge were not stable for 75 days. Belimbing wuluh flower ekstract can be used as colorant in rouge formulation, the rouge with extract of belimbing wuluh flower 2, 4, 6, 8, and 10% gave color respectively: pink, pink chocolate, and maron. All product was not broke, was not stable in storage for 90 days, and did not cause irritation.

Keyword Keyword

(13)

BAB BABBABBAB IIII PENDAHULUAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.1 1.1

1.11.1 LatarLatarLatarLatar BelakangBelakangBelakangBelakang

Kosmetik dikenal manusia sejak berabad- abad yang lalu. Pada abad

ke-19, pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian yaitu selain untuk kecantikan

juga untuk kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru

dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20 dan kosmetik menjadi salah satu

bagian dari dunia usaha. Dewasa ini, teknologi kosmetika begitu maju dan

merupakan paduan antara obat dan kosmetik (pharmaceutical) atau dikenal

dengan istilah kosmetik medik (cosmeceutikals) (Tranggono dan Latifah, 2007).

Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up) diperlukan untuk merias dan

menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik

serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self confident).

Dalam kosmetik riasan, peran zat warna dan pewangi sangat besar (Tranggono

dan Latifah, 2007). Salah satu kosmetik riasan yang banyak digunakan adalah

pewarna pipi.

Pewarna pipi adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai

pipi dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata

rias wajah. Pewarna pipi dapat digunakan langsung dengan melekatkan pada kulit

(14)

sebelum maupun sesudah menggunakan bedak. Pewarna pipi bubuk dapat

disajikan dalam bentuk bubuk tabur dan bubuk kompak. Formulasi bubuk kompak

umumnya mengandung talk dengan kadar tinggi dan zat pengikat, sehingga

campuran bahan dapat dikempa dalam bentuk kompak. Pewarna pipi dibuat

dalam berbagai corak warna yang bervariasi mulai dari warna merah jambu

hingga merah tua. Pewarna pipi konvensional lazim mengandung pigmen merah

atau merah kecoklatan dengan kadar tinggi. Pewarna pipi yang mengandung

pigmen kadar rendah digunakan sebagai pelembut warna atau pencampur untuk

memperoleh efek yang menyolok (Ditjen POM, 1985).

Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) adalah sejenis pohon

tahunan dengan tinggi mencapai 5-10 m, bunganya kecil, muncul langsung dari

batang dengan tangkai bunga berambut, mahkota bunga ada lima, buahnya elips,

warna buah ketika masih muda hijau dengan sisa kelopak bunga di ujungnya

(Widianingrum, 2011). Bunga belimbing wuluh mengandung pigmen antosianin

yang mampu memberikan waran merah (Hidayat dan Saati, 2006).

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengekstraksi zat

warna dari bunga belimbing wuluh untuk digunakan sebagai pewarna dalam

(15)

1.2 1.2

1.21.2 PerumusanPerumusanPerumusanPerumusan MasalahMasalahMasalahMasalah

Rumusan masalah penelitian adalah:

1. Apakah ekstrak bunga belimbing wuluh dapat digunakan sebagai pewarna

dalam formula sediaan pewarna pipi?

2. Apakah formula sediaan pewarna pipi dengan ekstrak bunga belimbing

wuluh stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar?

3. Apakah ekstrak bunga belimbing wuluh yang digunakan sebagai pewarna

dalam formula sediaan pewarna pipi tidak menyebabkan iritasi saat

digunakan?

1.3 1.3

1.31.3 HipotesisHipotesisHipotesisHipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis penelitian ini

adalah:

1. Ekstrak bunga belimbing wuluh dapat digunakan sebagai pewarna dalam

formula sediaan pewarna pipi.

2. Formula sediaan pewarna pipi dengan ekstrak bunga belimbing wuluh

stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar.

3. Ekstrak bunga belimbing wuluh yang digunakan sebagai pewarna dalam

formula sediaan pewarna pipi tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.

1.4 1.4

1.41.4 TujuanTujuanTujuanTujuan PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk membuat sediaan pewarna pipi dengan menggunakan pewarna

dari ekstrak bunga belimbing wuluh.

2. Untuk mengetahui kestabilan sediaan pewarna pipi dengan menggunakan

(16)

3. Untuk mengetahui sediaan pewarna pipi dengan menggunakan pewarna

dari ekstrak bunga belimbing wuluh tidak menyebabkan iritasi saat

digunakan.

1.5 1.5

1.51.5 ManfaatManfaatManfaatManfaat PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian

(17)

BAB

TINJAUAN PUSTAKAPUSTAKAPUSTAKAPUSTAKA

2.1 2.1

2.12.1 UraianUraianUraianUraian TumbuhanTumbuhanTumbuhanTumbuhan

2.1.1 2.1.1

2.1.12.1.1 HabitatHabitatHabitatHabitat tumbuhantumbuhantumbuhantumbuhan

Belimbing wuluh merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal

dari kawasan Malaysia, kemudian menyebar luas ke berbagai negara yang

beriklim tropis lainnya di dunia termasuk Indonesia. Di kawasan Amerika, buah

belimbing dikenal dengan namastarfruits(Hernowo, 2011).

2.1.2 2.1.2

2.1.22.1.2 MorfologiMorfologiMorfologiMorfologi tumbuhantumbuhantumbuhantumbuhan

Tanaman belimbing wuluh memiliki tinggi 5-10 m dengan batang yang

tidak begitu besar dan diameternya hanya 30 cm. Ditanam untuk diambil buahnya,

namun terkadang juga ditemukan tumbuh liar di dataran rendah sampai 500 m

diatas permukaan laut. Batangnya bergelombang kasar, pendek dan cabangnya

sedikit. Daunnya membentuk kelompok menyirip bergantian, panjangnya 30-60

cm dan berkelompok pada akhir cabang. Pada setiap daun terdapat 11-45 pasang

daun oval. Bunganya kecil, muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga

berbulu. Mahkota bunganya berjumlah lima, berwarna putih, kuning, atau ungu.

Buahnya berbentuk elips atau torpedo dengan panjang 4-10 cm. Warnanya hijau

ketika muda dengan kelopak yang tersisa menempel di ujung. Buah masak

(18)

2.1.3 2.1.3

2.1.32.1.3 SistematikaSistematikaSistematikaSistematika tumbuhantumbuhantumbuhantumbuhan

Taksonomi belimbing wuluh (Hernowo, 2011):

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dycotyledonae

Ordo : Oxalidales

Famili : Oxalidaceae

Genus : Averrhoa

Species :Averrhoa bilimbiL.

2.1.4 2.1.4

2.1.42.1.4 KandunganKandunganKandunganKandungan kimiakimiakimiakimia

Di dalam belimbing wuluh terdapat beberapa kandungan diantaranya

kalsium, besi, tiamin, riboflavin, karoten, asam askorbat, niasin, dan kandungan

air. Sedangkan bunga belimbing wuluh mengandung antosianin (Elshabrina, 2013).

2.1.5 2.1.5

2.1.52.1.5 AntosianinAntosianinAntosianinAntosianin

Antosianin berasal dari bahasa Yunani yaitu “anthos” yang berarti bunga

dan “kyanos” yang berarti biru gelap dan termasuk senyawa flavonoid. Antosianin

merupakan sekelompok zat warna berwarna kemerahan yang larut dalam air dan

tersebar sangat luas di dunia tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu dapat digunakan

(19)

dan sayuran). Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air adalah penyebab

hampir semua warna merah, oranye, ungu, dan biru (Kumalaningsih, 2006).

Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan sianidin, dan

semuanya terbentuk dari pigmen sianidin dengan penambahan atau pengurangan

gugus hidroksil atau dengan metilasi. Antosianidin adalah aglikon antosianin yang

terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling

umum dipakai saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung.

Perbedaan warna alami pigmen ini dipengaruhi oleh hidroksilasi dan metilasi,

hidroksilasi meningkatkan warna biru sedangkan metilasi meningkatkan warna

merah (Kumalaningsih, 2006).

Aplikasi antosianin berperan sebagai pewarna alami dapat dilakukan pada

pH rendah. Faktor –faktor yang mempengaruhi stabilitas antosianin adalah

oksigen, pH, temperatur, cahaya, ion logam, dan asam askorbat. Warna dari

antosianin biasanya lebih stabil pada pH dibawah 3,5. Pigmen antosianin stabil

pada pH 1-3 (Kumalaningsih, 2006).

2.1.6 2.1.6

2.1.62.1.6 EkstraksiEkstraksiEkstraksiEkstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut.

Dengan diketahuinya senyawa aktif yang terkandung dalam simplisia akan

mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM,

(20)

Eksraksi antosianin umumnya menggunakan metode maserasi yaitu

proses pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali

pengadukan pada temperatur ruangan. Sedangkan remaserasi adalah

pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyarian maserat pertama,

dan seterusnya (Ditjen POM, 2000).

Ekstraksi antosianin menggunakan pelarut etanol 96%. Hal ini disebabkan

tingkat kepolaran antosianin hampir sama dengan etanol 96% sehingga dapat

larut dengan baik pada etanol 96% (Inayati dan Nurlela, 2011).

2.2 2.2

2.22.2 KosmetikKosmetikKosmetikKosmetik

2.2.1 2.2.1

2.2.12.2.1 PengertianPengertianPengertianPengertian kosmetikkosmetikkosmetikkosmetik

Kosmetik berasal dari katakosmetikos(Yunani) yang artinya keterampilan

menghias, mengatur. Jadi, kosmetik pada dasarnya adalah campuran bahan yang

diaplikasikan pada anggota tubuh bagian luar seperti epidermis kulit, kuku,

rambut, bibir, gigi, dan sebagainya dengan tujuan untuk menambah daya tarik,

melindungi, memperbaiki, sehingga penampilannya lebih indah (Muliyawan dan

suriana, 2013).

Kosmetika merupakan campuran bahan alami untuk perawatan, dekorasi,

dan wangi-wangian. Bahan alami yang digunakan berasal dari bahan tumbuhan,

bahan dari binatang atau bahan yang terdapat di alam bebas disekeliling

(21)

2.2.2 2.2.2

2.2.22.2.2 KosmetikKosmetikKosmetikKosmetik dekoratifdekoratifdekoratifdekoratif

Tujuan awal penggunaan kosmetik adalah mempercantik diri yaitu usaha

untuk menambah daya tarik agar lebih disukai orang lain. Usaha tersebut dapat

dilakukan dengan cara merias setiap bagian tubuh yang terpapar oleh pandangan

sehingga terlihat lebih menarik dan sekaligus juga menutupi kekurangan (cacat)

yang ada (Wasitaatmadja, 1997).

Berdasarkan bagian tubuh yang dirias, kosmetika dekoratif dapat dibagi

menjadi (Wasitaatmadja, 1997):

1. Kosmetik rias kulit (wajah)

2. Kosmetik rias bibir

3. Kosmetik rias rambut

4. Kosmetik rias mata

5. Kosmetik rias kuku

Pembagian kosmetik dekoratif (Tranggono dan Latifah, 2007):

a. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan

dan pemakaiannya sebentar. Misalnya: bedak, pewarna bibir,

pemerah pipi,eye shadowdan lain-lain.

b. Kosmetika dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam

waktu yang lama baru luntur. Misalnya: kosmetika pemutih kulit, cat

(22)

2.2.3 2.2.3

2.2.32.2.3 ZatZatZatZat pewarnapewarnapewarnapewarna

Peran zat warna sangat besar dalam kosmetik dekoratif. Pemakaian

kosmetik dekoratif lebih untuk alasan estetika dari pada kulit. Persyaratan untuk

kosmetika dekoratif antara lain:

a. Warna yang menarik

b. Bau yang harum menyenangkan

c. Tidak lengket

d. Tidak menyebabkan kulit tampak berkilau

e. Tidak merusak atau mengganggu kulit, rambut, bibir, kuku dan lainnya.

Zat warna berasal dari dua sumber. Ada yang berasal dari alam dan ada

juga yang sintesis. Zat warna alami umumnya lebih aman digunakan, tetapi zat

warna alami lebih sulit disintesa serta sulit untuk distandarisasi. Zat warna sintesis

lebih mudah diatur tingkat intensitas warnanya. Harga zat sintesis juga lebih

murah sehingga lebih disukai oleh produsen dan konsumen (Muliyawan dan

Suriana, 2013).

Jenis-jenis zat pewarna yang terdapat pada kosmetik dibagi dalam beberapa

kelompok yaitu:

1. Zat warna alam yang larut

Sebenarnya zat warna jenis ini lebih aman bagi kulit. Namun, pada

produk-produk kosmetik modern dewasa ini, zat warna alam sudah jarang

digunakan. Zat warna alam larut ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya

yaitu kekuatan pewarnaannya relatif lemah, tidak tahan lama, dn relatif mahal.

(23)

a. Alkalain, yaitu zat warna merah yang di ekstrak dari kulit akar alkana

(Radix alcannae)

b. Karmin, yaitu zat warna merah yang diperoleh dari serangga tertentu

yang telah dikeringkan

c. Ekstrak klorofil daun-daun hijau, untuk menghasilkan warna hijau

d. Henna, yaitu zat warna yang biasanya digunakan untuk pewarna kuku dan

rambut. Diekstrak dari daunLawsonia inermis.

e. Karoten, yaitu zat warna kuning yang diekstrak dari bagian tanaman

tertentu yang mengandung zat warna kuning (Muliyawan dan Suriana,

2013).

2. Zat warna sintesis

Zat warna sintesis adalah zat warna yang dihasilkan melalui proses sintesa

senyawa kimia tertentu. Zat warna jenis ini dikenal juga dengan sebutan anilina

atauCoal-tar.Adapun sifat-sifat zat warna sintesis antara lain:

a. Intensitas warnanya sangat kuat

b. Larut dalam air, minyak, alkohol,atau salah satu darinya

c. Zat warna untuk rambut dan kuku biasanya daya rekatnya lebih kuat dari pada zat warna untuk kulit

d. Beberapa bersifat toksik, sehingga perlu hati-hati menggunakan produk kosmetik yang mengandung zat warna jenis ini (Muliyawan dan Suriana,

2013):

3. Pigmen-pigmen alam

Pigmen-pigmen alami itu adalah pigmen warna yang terdapat pada tanah,

(24)

pewarna adalah zat warna ini murni dan sama sekali tidak berrbahaya. Aman

digunakan untuk kulit, sehingga zat warna ini banyak dipakai untuk mewarnai

bedak, krim, dan aneka kosmetik lainnya. Sementara kelemahannya yaitu zat

warna yang dihasilkan tidak seragam. Sangat bergantung pada sumber asalnya

dan tingkat pemanasannya (Muliyawan dan Suriana, 2013).

4. Pigmen-pigmen sintesis

Dewasa ini banyak juga ditemukan besioksida sintesis yang sering

digunakan sebagai pengganti zat warna alam. Berikut adalah beberapa contoh

pigmen sintesis yang digunakan dalam industri kosmetik, antara lain:

a. Besi oksida sintesis menghasilkan warna antara lain kuning, cokelat,

merah dan beragam warna violet

b. Zinc oxidedanTitanium oxide(pigmen sintesis putih)

c. Bismuth oxychloridesebagai warna putih mutiara

d. Bismuth carbonatesebagai pigmen putih

e. Cobalt digunakan sebagai pigmen sintesis warna biru, sementara Cobalt

hijau untuk pigmen hijau kebiru-biruan

f. Beberapa zat warna asal Coal-tar juga digolongkan sebagai pigmen

sintesis

g. Beberapa pigmen sintesis tidak dibenarkan pemakaiannya dalam kosmetik

karena bersifat toksis, contohnyaCadmium sulfide.

h. Lakes alam dan sintesis. Lakes merupakan zat warna yang sering

digunakan dalam bedak, lipstik, dan kosmetik lainnya. Penggunaan Lakes

lebih umum karena menghasilkan warna yang lebih cerah daan cocok

(25)

2.3 2.3

2.32.3 PewarnaPewarnaPewarnaPewarna PipiPipiPipiPipi (Rouge)(Rouge)(Rouge)(Rouge)

Produk pewarna pipi ini bertujuan memerahkan pipi, sehingga

penggunaannya tampak lebih cantik dan segar. Kadang-kadang dipakai langsung,

tetapi lebih sering sebagaifoundation(Tranggono dan Latifah, 2007).

Berdasarkan bentuknya, terdapat beberapa jenis pewarna pipi,

diantaranya

1. Pewarna pipi bentuk bubuk kompak

Bentuk pewarna pipi jenis ini mirip dengan bedak padat. Pewarna pipi ini

merupakan jenis yang paling populer. Untuk mengulaskan pewarna pipi, jenis ini

bisa menggunakan bantuanbrushatauspons(Muliyawan dan Suriana, 2013).

Bubuk kompak adalah sediaan dasar berupa padatan, lembut, homogen,

mudah disapukan merata pada kulit, tidak menimbulkan iritasi, biasanya

berbentuk cake, digunakan sebagai sediaan kosmetik untuk berbagai tata rias.

Bahan untuk pembuatan bubuk kompak diperlukan bahan seperti yang tertera

pada bubuk kompak, biasanya ditambah zat pengikat atau pelicin untuk

memudahkan pengempaan. Formulasi bubuk kompak umumnya mengandung

talkum dengan kadar tinggi dan zat pengikat, sehingga campuran bahan dapat

dikempa dalam bentuk kompak (Ditjen POM, 1985).

2. Pewarna pipi bentuk krim

Pewarna pipi bentuk krim akan membuat pipi lembab alami. Bentuknya

tidak sepadat pewarna pipi bubuk kompak dan memiliki tekstur lebih basah,

sehingga warna yag dihasilkan lebih menyatu alami dengan warna kulit wajah

(Muliyawan dan Suriana, 2013).

(26)

Pewarna pipi jens ini mirip dengan bentuk bubuk kompak. Bedanya,

dalam kemasan terdapat beberapa warna pewarna pipi yang senada. Hasil

gabungan warna tersebut dapat membuat pipi tampak lebih cerah (Muliyawan

dan Suriana, 2013).

4. Pewarna pipi bentuk batang

Pewarna pipi ini dikemas dalam tube mirip lipstik. Penggunaannya cukup

mudah karena langsung di poleskan ke pipi. Pewarna pipi bentuk batang ini cocok

untuk semua jenis kulit (Muliyawan dan Suriana, 2013).

5. Pewarna pipi bentukpowder balls

Pewarna pipi jenis ini bentuknya seperti bola-bola kecil dengan aneka

warna yang ditempatkan dalam wadah seperti mangkuk. Untuk

mengaplikasikannya memerlukan bantuan kuas (Muliyawan dan Suriana, 2013).

2.4 2.4 2.42.4 KulitKulitKulitKulit

Kulit adalah bagian tubuh yang paling luar yang berhubungan langsung

dengan lingkungan.kulitlah yang pertama kali menghadapi berbagai dampak

buruk lingkungan seperti polusi, radiasi sinar UV, bakteri dan sebagainya.

Gangguan pada kulit juga bisa disebabkan oleh penggunaan kosmetik yang tidak

sesuai (Muliyawan dan Suriana, 2013).

Efek samping kosmetika menimbulkan kekhawatiran pengguna kosmetik

akan kemungkinan timbulnya efek samping kosmetik pada dirinya. Konsumen

kosmetika selalu bertambah dan diikuti dengan peningkatan kejadian efek

samping (Wasitaatmadja, 1997).

Salah satu gangguan pada kulit yaitu iritasi kulit atau sering disebut

(27)

inflamasi lokal dan biasanya diikuti dengan perubahan kulit seperti eritema,

edema, dan vesikula dengan keluhan gatal terbakar dan menyengat. Iritasi akan

segera menimbulkan reaksi kulit sesaat setelah pelekatan atau penyentuhan pada

kulit, iritasi demikian disebut iritasi primer. Tetapi jika reaksi tersebut timbul

beberapa jam setelah penyentuhan pada kulit, iritasi ini disebut iritasi sekunder

(28)

BAB BABBABBAB IIIIIIIIIIII METODE

METODEMETODEMETODE PENELITIANPENELITIANPENELITIANPENELITIAN

Metode penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, formulasi sediaan, pemeriksaan mutu fisik sediaan, uji iritasi, uji kesukaan (hedonic test), dan uji stabilitas terhadap variasi sediaan yang dibuat.

Penelitian ini dilakukan di laboratorium penelitian, laboatorium teknologi sediaan I dan II, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3333.1.1.1.1 AlatAlatAlatAlat dandandandan BahanBahanBahanBahan 3333.1.1.1.1.1.1.1.1 AlatAlatAlatAlat

Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium, cawan penguap, freeze dryer, kaca objek, kertas saring, lumpang dan alu porselen, neraca analitis, oven, rotary evaporator, penangas air, batang pengaduk, alumunium foil, pipet tetes, kertas perkamen, gunting, tissue, Ayakan (mesh 60, 100) spatula, sudip, cawan petri, alat pencetak, strong cobb(Copley), dan wadah pewarna pipi.

3333.1.2.1.2.1.2.1.2 BahanBahanBahanBahan

(29)

3333.2.2.2.2 PengumpulanPengumpulanPengumpulanPengumpulan dandandandan PengolahanPengolahanPengolahanPengolahan SampelSampelSampelSampel 3333.2.1.2.1.2.1.2.1 PengumpulanPengumpulanPengumpulanPengumpulan ssssampelampelampelampel

Pengumpulan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan daerah lain. Sampel yang digunakan adalah bunga belimbing wuluh segar berwarna merah ungu yang terdapat di desa Lampaseh Krueng, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam.

3.2.2 3.2.2

3.2.23.2.2 DeterminasiDeterminasiDeterminasiDeterminasi tumbuhantumbuhantumbuhantumbuhan

Determinasi tumbuhan dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan raya Jakarta-Bogor Km.48 Cibinong 16911, Indonesia. Hasil identifikasi dapat dilihat pada lampiran I.

3333.2..2..2..2.3333 PengolahanPengolahanPengolahanPengolahan ssssampelampelampelampel

Bunga belimbing wuluh segar berwarna merah yang telah dikumpulkan, disortasi, lalu ditimbang sebanyak 500 g dicuci dengan air bersih, ditiriskan, lalu bunga belimbing wuluh segar dihaluskan dengan menggunakan lumpang dan alu porselen.

3333.3.3.3.3 PembuatanPembuatanPembuatanPembuatan EkstrakEkstrak BungaEkstrakEkstrakBungaBungaBunga BelimbingBelimbingBelimbingBelimbing wuluhwuluhwuluhwuluh

Sebanyak 500 gram bunga belimbing wuluh yang telah dihaluskan

dimaserasi dengan 500 ml etanol 96% yang telah dicampurkan dengan 2% asam

sitrat dan 0,1% natrium metabisulfit. Ditutup dan dibiarkan selama satu malam

terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, disaring dengan kertas saring, filtrat

(30)

500 ml etanol 96% (dicampurkan dengan 2% asam sitrat dan 0,1% natrium

metabisulfit), disaring dengan kertas saring (Inayati dan Nurlela, 2011). Hasil yang

diperoleh dicampur dengan filtrat pertama lalu diuapkan dengan bantuan alat

rotary evaporator pada suhu ± 48°C sampai pelarut tidak menguap lagi dan

diperoleh hasil sebanyak 300 mlekstrak cair, kemudian dikeringkan dengan freeze

dryer pada suhu -40°C selama ± 2 hari sehingga didapatkan ekstrak kental bunga

belimbing wuluh sebanyak 41, 62 g yang berwarna merah tua.

3.4 3.4

3.43.4 PembuatanPembuatanPembuatanPembuatan FormulaFormulaFormulaFormula PewarnaPewarnaPewarnaPewarna PipiPipiPipiPipi dengandengandengandengan EkstrakEkstrakEkstrakEkstrak BungaBungaBungaBunga Belimbing

BelimbingBelimbingBelimbing WuluhWuluhWuluhWuluh SebagaiSebagaiSebagaiSebagai PewarnaPewarna dalamPewarnaPewarnadalamdalamdalam BerbagaiBerbagaiBerbagaiBerbagai Konsentrasi.Konsentrasi.Konsentrasi.Konsentrasi. 3.4.1

3.4.1

3.4.13.4.1 FormulaFormulaFormulaFormula

Formula dasar yang dipilih dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Takeo Mitsui, New Cosmetic Science (1998)

R/ Talk 80

3.4.23.4.2 ModifikasiModifikasiModifikasiModifikasi formulaformulaformulaformula

(31)

Dalam formulasi ini, zink miristat dapat menyebabkan warna semakin gelap sehingga diganti dengan zink stearat. Dari hasil orientasi parafin Liquidum tidak dapat digunakan sebaagai pengikat karena memberikan hasil sediaan yang rapuh. Sehingga bahan pengikat diganti menjadi isopropyl miristat dan lanolin yang mengacu pada Formularium Kosmetika Indonesia (1985). Pengawet yang digunakan adalah nipagin. Sehingga formulasi sediaan pewarna pipi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

R/ Kaolin 4,5

Zink stearat 2,5

Zat warna x

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad 50

x merupakan konsentrasi zat warna dari ekstrak bunga belimbing wuluh.

(32)

konsentrasi 12,5 dan 15% warna tidak keluar sehingga warna sediaan tidak menempel saat dipoleskan pada kulit punggung tangan. Oleh karena itu variasi konsentrasi ekstrak bunga belimbing wuluh yang digunakan pada penelitian ini diubah menjadi 2, 4, 6, 8 dan 10% dengan warna sediaan merah jambu, merah muda kecoklatan dan merah maron karena warna yang dihasilkan sesuai untuk pembuatan sediaan pewarna pipi. Sebagai blanko juga dibuat sediaan pewarna pipi tanpa menggunakan ekstrak belimbing wuluh. Berikut ini merupakan hasil modifikasi sediaan pewarna pipi dari ekstrak bunga belimbing wuluh dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel Tabel

TabelTabel 3.13.13.13.1 Modifikasi formula sediaan pewarna pipi dari ekstrak bunga belimbing wuluh

Nipagin 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05

Parfum 3 tetes 3 tetes 3 tetes 3 tetes 3 tetes 3 tetes Isopropyl

miristate 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75

Lanolin 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75

Talkum 41,45 40,45 39,45 38,45 37,45 36,45

Keterangan:

Sediaan 1 : Formula tanpa ekstrak belimbing wuluh

(33)

Sediaan 4 : Formula dengan konsetrasi ekstrak belimbing wuluh 6% Sediaan 5 : Formula dengan konsetrasi ekstrak belimbing wuluh 8% Sediaan 6 : Formula dengan konsetrasi ekstrak belimbing wuluh 10%

3333.4..4..4..4.3333 ProsedurProsedurProsedurProsedur ppppembuatanembuatanembuatanembuatan pewarnapewarnapewarnapewarna pipipipipipipipi

Masing-masing bahan serbuk seperti kaolin, dan zink stearat dihaluskan di dalam lumpang, kemudian ekstrak bunga belimbing wuluh digerus didalam lumpang yang lain dan tambahkan talkum sedikit demi sedikit gerus hingga homogen dan dicampurkan kedalam campuran di atas gerus lagi hingga homogen. Tambahkan zat pengikat isopropil miristat dan lanolin yang sebelumnya telah dipanaskan terlebih dahulu sampai mencair, dan digerus campurannya hingga diperoleh massa yang homogen, kemudian ditambahkan nipagin dan parfum lalu diayak dengan pengayak mesh 60 dan dikeringkan di dalam lemari pengering selama 20 menit, kemudian diayak dengan pengayak mesh 100. Dikempa dengan menggunakan pencetak diameter 1,5 cm.

3.5 3.5

3.53.5 PemeriksaanPemeriksaanPemeriksaanPemeriksaan MutuMutuMutuMutu FisikFisikFisikFisik PewarnaPewarnaPewarnaPewarna PipiPipiPipiPipi

Pemeriksaan mutu fisik dilakukan terhadap masing-masing sediaan pewarna pipi. Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi: pemeriksaan dispersi warna (homogenitas), uji ppoles, uji kekerasan, uji keretakan, dan stabilitas sediaan yang mencakup pengamatan terhadap perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan.

3.5.1 3.5.1

(34)

Dispersi warna diuji dengan menyebarkan serbuk pada permukaan kertas berwarna putih dan tidak boleh ada warna yang tercoreng atau tidak merata (Butler, 2000).

3.5.2 3.5.2

3.5.23.5.2 UjiUjiUjiUji polespolespolespoles

Uji ppoles dilakukan terhadap sediaan masing-masing formula dengan cara dipoleskan lima kali pada punggung telapak tangan dan diamati warnanya (Keithler, 1956).

3.5.3 3.5.3

3.5.33.5.3 UjiUjiUjiUji tekanan/tekanan/tekanan/tekanan/ kekerasankekerasankekerasankekerasan

Sediaan yang di buat di uji kekerasannya dengan cara mengukur dengan alat coopley. Sediaan diletakkan diantara anvil dan punch, tekan knob sampai sediaan menjadi retak atau pecah, kemudian dibaca bilangan yang menunjukkan kekerasan pada layar (Soekemi, dkk., 1987).

3.5.4 3.5.4

3.5.43.5.4 UjiUjiUjiUji keretakankeretakankeretakankeretakan

Pewarna pipi dijatuhkan pada permukaan kayu beberapa kali pada ketinggian 8-10 inci. jika cake yang dihasilkan tidak rusak, mengindikasikan bahwa kekompakannya lulus uji dan dapat disimpan tanpa menghasilkan hal-hal yang tidak memuaskan (Butler, 2000).

3.5.5 3.5.5

3.5.53.5.5 UjiUjiUjiUji cemarancemarancemarancemaran mikrobamikrobamikrobamikroba

(35)

menggunakan pipet yang berbeda dan steril untuk tiap pngenceran. Tiap cawan petri dituangkan 5 ml media Nutrien Agar yang telah dicairkan pada suhu kurang lebih 45oC. Cawan petri digoyangkan hingga sampel tercampur rata dengan perbenihan. Kemudian dibiarkan hingga campuran dalam cawan petri membeku. Cawan petri dengan posisi terbalik dimasukkan ke lemari inkubator pada suhu 35oC selama 24 jam. Dicatat pertumbuhan koloni pada masing-masing cawan setelah 24 jam. Hitung ALT (angka lempeng total) dalam koloni/g sampel dengan mengalikan jumlah rata-rata koloni pada cawan dengan faktor pengenceran yang sesuai (Saifuddin, dkk., 2011).

3.6 3.6

3.63.6 UjiUjiUjiUji IritasiIritasiIritasiIritasi dandandandan UjiUji KesukaanUjiUjiKesukaanKesukaanKesukaan ((((HedonicHedonicHedonicHedonic TestTestTestTest))))

3.6.1 3.6.1

3.6.13.6.1 UjiUjiUjiUji iritasiiritasiiritasiiritasi

Uji iritasi dilakukan dengan cara mengpoleskan sediaan uji pada kulit

normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat

menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak.

Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji tempel terbuka (Open Test) pada lengan bawah bagian dalam terhadap 10 orang panelis yang bersedia dan mengisi surat pernyataan. Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengpoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 3 kali sehari selama dua hari berturut-turut (Tranggono dan Latifah, 2007). Reaksi yang diamati adalah terjadinya eritema dan edema.

(36)

1. Tidak ada reaksi 0

2. Eritema +

3. Eritema dan papula ++

4. Eritema, papula dan vesikula +++

5. Edema dan vesikula ++++

Kriteria panelis uji iritasi (Ditjen POM, 1985): 1. Wanita

2. Usia antara 20-30 tahun

3. Berbadan sehat jasmani dan rohani

4. Tidak memiliki riwayat penyakit alergi

5. Menyatakan kesediaannya dijadikan panelis uji iritasi

3.6.2 3.6.2

3.6.23.6.2 UjiUjiUjiUji kesukaankesukaankesukaankesukaan ((((HedonicHedonicHedonicHedonic TestTestTestTest))))

Uji kesukaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap sediaan yang dibuat. Jumlah panel uji kesukaaan makin besar semakin baik. Sebaiknya jumlah itu melebihi 20 orang panelis dengan cara setiap panelis memberikan penilaian terhdap masing-masing pewarna pipi berdasarkan teksturnya.

Kriteria Panelis:

1. Memiliki kepekaan yang tinggi.

2. Panelis yang digunakan adalah panelis yang tidak terlatih yang diambil secara acak.

(37)

4. Tidak dalam keadaan tertekan

5. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang penilaian organoleptik.

Setiap panelis diminta untu mengoleskan sediaan pewarna pipi yang

dibuat dengan berbagai konsentrasi ekstrak bunga belimbing wuluh pada kulit

punggung tangannya. Kemudian menuliskan angka 5 bila sangat suka, 4 bila suka,

3 bila cukup suka, 2 bila kurang suka dan 1 bila tidak suka. Paremeter

pengamatan pada uji kesukaan adalah kemudahan pengpolesan sediaan pewarna

pipi, homogenitas dan intensitas warna pewarna pipi saat dipoleskan pada kulit

punggung tangan.

3.7 3.7

3.73.7 UjiUjiUjiUji stabilitasstabilitasstabilitasstabilitas

(38)

BAB

HASIL DANDANDANDAN PEMBAHASANPEMBAHASANPEMBAHASANPEMBAHASAN

4.1 4.1

4.14.1 HasilHasilHasilHasil EkstraksiEkstraksiEkstraksiEkstraksi BungaBungaBungaBunga BelimbingBelimbingBelimbingBelimbing WuluhWuluhWuluhWuluh

Hasil maserasi dari 500 g bunga belimbing wuluh setelah di rotary diperoleh 300 ml maserat kemudian di freeze dryer selama 48 jam pada suhu -40°C dengan tekanan 2 atm menghasilkan 41,62 gram ektrak kental. Rendemen yang diperoleh yaitu 8.32%.

4.2 4.2

4.24.2 HasilHasilHasilHasil PemeriksaanPemeriksaanPemeriksaanPemeriksaan MutuMutuMutuMutu FisikFisikFisikFisik SediaanSediaanSediaanSediaan PewarnaPewarnaPewarnaPewarna PipiPipiPipiPipi 4.2.1

4.2.1

4.2.14.2.1 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji dispersidispersi warnadispersidispersiwarnawarnawarna (Homogenitas)(Homogenitas)(Homogenitas)(Homogenitas)

Hasil pemeriksaan dispersi warna menunjukan bahwa sediaan yang diibuat terdipersi merata dan tidak ada warna yang berbeda atau tidak merata pada saat ditaburkan pada kertas putih.

4.2.2 4.2.2

4.2.24.2.2 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji polespolespolespoles

(39)

digunakan maka semakin basah sediaan tersebut sehingga sediaan sulit memberikan warna.

4.2.3 4.2.3

4.2.34.2.3 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji kekerasankekerasankekerasankekerasan

Hasil uji kekerasan yang didapat terhadap sediaan pewarna pipi pada konsentrasi 10% mempunyai angka kekerasan lebih tinggi yang disebabkan banyaknya zat warna yang berfungsi sebagai pengikat. Sedangkan untuk sediaan yang dibuat pada konsetrasi 2 sampai 8% menunjukkan hasil yang sama. Untuk ukuran kekerasan tidak dapat dibuat terlalu keras karena sediaan tidak dapat memberikan warna yang jelas. Hasil Uji kekerasan yang didapat terhadap sediaan pewarna pipi dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel Tabel

TabelTabel 4.14.14.14.1. Data pemeriksaan uji kekerasan pada sediaan pewarna pipi

Sediaan Perlakuan Kekerasan (Kg)

Tanpa ekstrak bunga belimbing wuluh 0,300,30

0,21 0.2

Ekstrak bunga belimbing wuluh 2% 0,200,17

0,22 0.2

Ekstrak bunga belimbing wuluh 4% 0,200,20

0,22 0.2

Ekstrak bunga belimbing wuluh 6% 0,170.24

0,23 0.2

Ekstrak bunga belimbing wuluh 8% 0,240,22

0,21 0.2

Ekstrak bunga belimbing wuluh 10% 0,400,44

(40)

4.2.4 4.2.4

4.2.44.2.4 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji keretakankeretakankeretakankeretakan

Hasil pemeriksaan yang didapat terhadap sediaan pewarna pipi dengan uji keretakan menunjukan bahwa semua sediaan yang dibuat tidak pecah. Hasil uji keretakan dapat dilihat pada Tabel 4.2. berikut ini.

Tabel Tabel

TabelTabel 4.2.4.2.4.2.4.2.Data pemeriksaan Uji keretakan pada sediaan pewarna pipi

Sediaan Di jatuhkan pada permukaan kayudengan ketinggian 8-10 (inci) dengan 3 (tiga) kali penjatuhan Tanpa ekstrak bunga belimbing

wuluh Tidak pecah

Ekstrak bunga belimbing wuluh 2% Tidak pecah Ekstrak bunga belimbing wuluh 4% Tidak pecah Ekstrak bunga belimbing wuluh 6% Tidak pecah Ekstrak bunga belimbing wuluh 8% Tidak pecah Ekstrak bunga belimbing wuluh 10% Tidak pecah

4.2.5 4.2.5

4.2.54.2.5 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji cemarancemarancemarancemaran mikrobamikrobamikrobamikroba

(41)

Tabel Tabel

TabelTabel 4.34.34.34.3Hasil uji cemaran mikroba

Hasil uji Sample (sediaan)

ALT

rata-4.2.64.2.6 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji iritasiiritasiiritasiiritasi

Dari hasil uji iritasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan pewarna pipi yang dibuat aman untuk digunakan. Hasil uji iritasi dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.

Tabel Tabel

TabelTabel 4.44.44.44.4Data uji iritasi

Panelis Eritema Eritema dan Reaksi

papula Eritema, papula danvesikula Edema danvesikula

1 0 0 0 0

1. Tidak ada reaksi 0

2. Eritema +

3. Eritema dan papula ++

4. Eritema, papula dan vesikula +++

5. Edema dan vesikula ++++

(Ditjen POM ,1985)

(42)

bahwa semua panelis tidak menunjukan reaksi terhadaap parameter reaksi iritasi yaitu Eritema dan edema. Pada uji ini digunakan sediaan pewarna pipi ekstrak bunga belimbing wuluh dengan konsentrasi paling tinggi yaitu 10%.

4.3 4.3

4.34.3 HasilHasilHasilHasil ujiujiujiuji kesukaankesukaankesukaankesukaan ((((HedonicHedonicHedonicHedonic TestTestTestTest))))

Dari hasil perhitungan didapatkan interval nilai kesukaan untuk setiap sediaan yaitu:

- Sediaan 1 memiliki interval nilai kesukaan 2,3-2,76. Untuk penulisan nilai akhir kesukaan diambil nilai terkecil yaitu 2,3 dan dibulatkan menjadi 2 (kurang suka).

- Sediaan 2 memiliki interval nilai kesukaan 3,29-3,97. Untuk penulisan nilai akhir kesukaan diambil nilai terkecil yaitu 3,29 dan dibulatkan menjadi 3 (cukup suka).

- Sediaan 3 memiliki interval nilai kesukaan 3,32-3,88. Untuk penulisan nilai akhir kesukaan diambil nilai terkecil yaitu 3,32 dan dibulatkan menjadi 3 (cukup suka).

- Sediaan 4 memiliki interval nilai kesukaan 3,51-4,21. Untuk penulisan nilai akhir kesukaan diambil nilai terkecil yaitu 3,51 dan dibulatkan menjadi 4 (suka).

(43)

Tabel Tabel

TabelTabel 4.54.54.54.5Data nilai uji kesukaan (hedonic test)

Panelis 1 2 Sediaan3 4 5

Total 76 109 108 116 103

(44)

Data yang diperoleh dari lembar penilaian (kuesioner) ditabulasi dan ditentukan nilai kesukaannya untuk setiap sediaan dengan mencari hasil rata-rata pada setiap panelis pada tingkat kepercayaannya 95%.

Berdasarkan nilai kesukaan untuk setiap sediaan, sediaan yang disukai adalah sediaan pewarna pipi dengan konsentrasi pewarna ekstrak bunga belimbing wuluh 8%.

4.4 4.4

4.44.4 StabilitasStabilitasStabilitasStabilitas PewarnaPewarnaPewarnaPewarna PipiPipiPipiPipi

(45)

sediaan pewarna pipi adalah bau khas lavender. Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bau dari sediaan dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini.

Tabel Tabel

TabelTabel 4.64.64.64.6. Data pengamatan perubahan bentuk, warna, dan bau sediaan

Pengamatan

PengamatanPengamatanPengamatan SediaanSediaanSediaanSediaan 15151515 Lama PengamatanLamaLamaLama30303030 PengamatanPengamatan (hari)Pengamatan45454545 60606060 (hari)(hari)(hari)75757575 90909090

Bentuk

Sediaan 1 : Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 2% Sediaan 2 : Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 4% Sediaan 3 : Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 6% Sediaan 4 : Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 8% Sediaan 5 : Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 10% Sediaan 6 : Formula tanpa ekstrak bunga belimbing wuluh b : baik

(46)

BAB BABBABBAB VVVV KESIMPULAN KESIMPULAN KESIMPULAN

KESIMPULAN DANDANDANDAN SARANSARANSARANSARAN

5.1 5.1

5.15.1 KesimpulanKesimpulanKesimpulanKesimpulan

1. Ekstrak bunga belimbing wuluh dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi sediaan pewarna pipi. Variasi konsentrasi pewarna ekstrak bunga belimbing wuluh yang digunakan dalam formulasi menghasilkan warna yang bervariasi pada sediaan pewarna pipi. 2. Hasil penentuan mutu fisik sediaan menunjukkan bahwa seluruh

sediaan pewarna pipi yang dibuat tidak stabil dalam penyimpanan selama 90 hari. Seluruh sediaan pewarna pipi memiliki bentuk dan konsistensi yang baik.

3. Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan terhadap 10 orang panelis menunjukkan bahwa sediaan pewarna pipi yang dibuat tidak menyebabkan iritasi.

5.2 5.2

5.25.2 SaranSaranSaranSaran

(47)

DAFTAR DAFTAR DAFTAR

DAFTAR PUSTAKAPUSTAKAPUSTAKAPUSTAKA

Barel, A. O., Marc P., dan Howard, I. M. (2001). Handbook of Cosmetic Science and Technology.Edisi ketiga. New York: Informa Healthcare. Hal. 473.

Butler H. (2000). Poucher’s Perfumes, Cosmetics, and Soaps. Edisi ke-10. London: Kluwer Academic Publisher. Hal. 188-189.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 33.

Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 189-190.

Ditjen POM. (1994). Persyaratan Cemaran Mikroba pada Kosmetika. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 11.

Elshabrina. (2013). Dahsyatnya Daun Obat Sepanjang Masa. Yogyakarta: Cemerlang Publishing. Hal. 128-129.

Haynes, A. (1994). Dibalik Wajah Cantik Fakta Tentang Manfaat dan Risiko Kosmetik. Penerjemah Ira Puspadewi. Jakarta: Penerbit YLKI. Hal. 181.

Hernowo, B. (2011).Panduan Sukses Bertaman 20 Buah dan Sayur.Klaten: Cable Book. Hal. 23.

Hidayat, N., dan Saati, E. A. (2006). Membuat Pewarna Alami. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana. Hal. 18.

Inayati dan Nurlela.(2011). Ekstraksi dan Uji Stabilitas Zat Warna alami dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis L) dan Bunga Rosela (Hibiscus sabdarifa L). Jurnal. Jakarta: Fakultas Sains dan Teknologi UIN.

Keithler. (1956). Formulation of Cosmetic and Cosmetic Specialities. New York: Drug and Cosmetic Industry. Hal. 153.

Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana. Hal. 78-80.

(48)

Muliyawan, D., Suriana, N. (2013). A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta: Gramedia. Hal. 44, 65.

National Health Surveillance Agency. (2005). Cosmetic Products Stability Guide. Brazil: ANVISA. Hal. 19.

Ridwan, N. (2012). Cantik Tanpa Nyandu Kosmetik. Yogyakarta: Transmedia. Hal. 7, 10.

Saifuddin, A., Viesa, R., Hilwan, Y.T. (2011). Standardisasi Bahan Obat Alam. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal: 77.

Soekemi, R. A., Yuanita, T., Aminah, F., dan Usman, S. (1987). Tablet. Medan: PT. Mayang Kencana. Hal. 51.

Tranggono dan Latifah. (2007). Pengantar Kosmetologi. Editor: Joshita Djajadisastra. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 3, 6, 8. Wasitaatmadja, S. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta:

Universitas Indonesia Press. Hal. 26, 28.

(49)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 1111Hasil determinasi tumbuhan

(50)

Lampiran Lampiran

(51)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 3333Gambar bunga belimbing wuluh

(a)

(b) Keterangan:

(a): Bunga belimbing wuluh

(52)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 4444Perhitungan bahan formulasi sediaan pewarna pipi untuk 50 g

- Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh Kaolin

Zink Stearat

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad = 50 – 8,55

= 41,45

- Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 2%.

Ekstrak bunga belimbing wuluh Kaolin

Zink Stearat

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad = 50 – 9,55

(53)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 4444(Lanjutan)

- Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 4%. Ekstrak bunga belimbing wuluh

Kaolin Zink Stearat

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad = 50 – 10,55

= 39,45

- Formula dengan ekstrak bunga belimbing wuluh 6%. Ekstrak bunga belimbing wuluh

Kaolin Zink Stearat

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad = 50 – 11,55

(54)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 4444(Lanjutan)

- Formula pewarna pipi dengan konsentrasi ekstrak bunga belimbing wuluh 8%.

Ekstrak bunga belimbing wuluh Kaolin

Zink Stearat

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad = 50 – 12,55

= 37,45

- Formula pewarna pipi dengan konsentrasi ekstrak bunga belimbing wuluh 10%.

Ekstrak bunga belimbing wuluh Kaolin

Zink Stearat

Nipagin 0,05

Isopropyl miristat 0,75

Lanolin 0,75

Parfum secukupnya

Talkum ad = 50 – 13,55

(55)

Hedonic HedonicHedonicHedonic TestTestTestTest

Pilihlah berdasarkan kemudahan pengolesan pewarna pipi, homogenitas dan intesitas warna pewarna pipi saat dioleskan, berikanlah penilaian saudara terhadap lima sediaan uji berikut ini:

No. Nama Umur Sediaan

2% 4% 6% 8% 10%

.

Keterangan: 5 (sangat suka) 4 (suka) 3 (cukup suka) 2 (kurang suka) 1 (tidak suka)

Lampiran Lampiran

(56)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 6666Perhitungan rendemen

% Rendemen

(57)

Lampiran Lampiran

(58)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 8888Gambar sediaan pewarna pipi menggunakan pewarna ekstrak bunga belimbing wuluh

(59)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 9999 Gambar hasil uji homogenitas (konsentrasi 8%) dan hasil uji iritasi (konsentrasi 10%) .

(a)

(b) Keterangan:

(60)

Lampiran Lampiran

LampiranLampiran 10101010Hasil uji poles

Konsentrasi 10%

Konsentrasi 6%

Konsentrasi 4% Konsentrasi 8%

Figur

TabelTabelTabelTabel 3.13.13.13.1 Modifikasi formula sediaan pewarna pipi dari ekstrak bungabelimbing wuluh
TabelTabelTabelTabel 3 13 13 13 1 Modifikasi formula sediaan pewarna pipi dari ekstrak bungabelimbing wuluh. View in document p.32
TabelTabelTabelTabel 4.14.14.14.1. Data pemeriksaan uji kekerasan pada sediaan pewarna pipi
TabelTabelTabelTabel 4 14 14 14 1 Data pemeriksaan uji kekerasan pada sediaan pewarna pipi. View in document p.39
TabelTabelTabelTabel 4.34.34.34.3 Hasil uji cemaran mikroba
TabelTabelTabelTabel 4 34 34 34 3 Hasil uji cemaran mikroba. View in document p.41
TabelTabelTabelTabel 4.5
TabelTabelTabelTabel 4 5. View in document p.43
Gambar 6. Sediaan pewarna pipi menggunakan pewarna ekstrak bunga
Gambar 6 Sediaan pewarna pipi menggunakan pewarna ekstrak bunga. View in document p.58

Referensi

Memperbarui...