Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan

95  18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

GAMBARAN RISIKO PEKERJAAN PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN DI DINAS PENCEGAH PEMADAM KEBAKARAN (DP2K)

KOTA MEDAN

SKRIPSI

Oleh :

NIM. 081000167 RAHMI SHAFWANI

(2)

GAMBARAN RESIKO PEKERJAAN PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN DI DINAS PENCEGAH PEMADAM KEBAKARAN (DP2K)

KOTA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memeroleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

NIM. 081000167 RAHMI SHAFWANI

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

ABSTRAK

Perkembangan suatu wilayah perkotaan telah membawa sejumlah persoalan penting, seperti adanya ancaman terhadap bahaya kebakaran. Adapun lembaga yang berwenang untuk menanggulangi kebakaran yang terjadi adalah institusi pemadam kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko pekerjaan yang dihadapi petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan anggota regu DP2K Kota Medan UPT I menggunakan alat bantu voice recorder.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko dari pekerjaan petugas pemadam kebakaran sebagian besar terjadi pada saat mereka di perjalanan menuju lokasi kebakaran yaitu risiko lalu lintas dan ketika di lokasi kebakaran berupa kecelakaan kerja dikarenakan listrik, suhu panas, api, bekerja di ketinggian, peralatan pemadaman, ledakan, backdraft dan flashover, kondisi bangunan yang terbakar, benda tajam, dan adu fisik dengan warga. Keluhan kesehatan yang mereka rasakan di lokasi kebakaran umumnya dikarenakan banyak menghirup asap seperti batuk, sesak nafas, mual, muntah, pusing, mata perih, serta masuk angin dan lemas.

Pemko Medan dan DP2K Kota Medan diharapkan dapat menambah jumlah APD serta melengkapi APD yang belum tersedia. Petugas diharapkan selalu menggunakan APD ketika bertugas memadamkan kebakaran untuk meminimalkan risiko yang tidak diinginkan. DP2K Kota Medan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dengan pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan untuk mengatur kelancaran lalu lintas terutama jalur yang akan dilewati mobil pemadam kebakaran menuju lokasi.

(5)

ABSTRACT

The development of an urban area has brought a number of important issues, such as the threat of fire hazard. The competent authorities to tackle fires is the fire department. The purpose of this study was to determine the occupational risks faced by firefighters in Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Medan by using a qualitative approach. Data obtained from in-depth interviews with members of the DP2K Medan UPT I using voice recorder.

The results showed that the risk of firefighters work mostly when they are on the way to the location of fire that the risk of traffic and when they due at the location of fire in the form of accidents due to electricity, heat, fire, working at height, equipment outages, explosions, backdraft and flashover, the condition of the building on fire, sharp objects, and physical fights with people. Health complaints that they feel in general because many of the fire smoke inhalation such as cough, shortness of breath, nausea, vomiting, dizziness, eye irritation, as well as cold and limp.

Pemko Medan and DP2K Medan expected to increase the amount of personal protective equipment (PPE) and PPE complete yet available. Firefighters are expected to always use PPE when on duty firefighting to minimize unwanted risks. DP2K Medan expected to increase cooperation with the police and Dinas Perhubungan to regulate the traffic especially when the fire truck will pass the road towards the location of fire.

Keywords : Risk, Firefighters, DP2K Medan

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rahmi Shafwani

Tempat/Tanggal Lahir : Pangkalan Berandan/ 27 Februari 1991 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Menikah Anak ke : 1 dari 4 bersaudara

Alamat Rumah : Jl. Banten Gg. Baru No.6 Tanjung Gusta Riwayat Pendidikan : 1. 1996-2000 : SD Kartika Medan

2. 2000-2002 : SD IT 021 YLPI Mutiara Duri - Riau 3. 2002-2005 : SMPS 5 IT Mutiara YLPI Duri - Riau 4. 2005-2008 : SMA Negeri 1 Matauli Pandan - Tapteng 5. 2008-2012 : Fakultas Kesehatan Masyarakat

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur serta terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak pernah berujung, segala kesempatan, kemudahan yang telah Ia berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan” yang merupakan salah satu prasyarat untuk dapat meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes selaku ketua Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu dr. Halinda Sari Lubis, MKKK selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

(8)

5. Ibu Ir. Kalsum, M.Kes sebagai Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dan memberikan saran untuk skripsi ini.

6. Ibu Dra. Lina Tarigan, Apt., MS sebagai Dosen Penguji III yang telah meluangkan waktu dan memberikan saran sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

7. Seluruh dosen dan staff Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Kepala Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan yang telah meberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di UPT Wilayah I.

9. Seluruh pegawai DP2K Kota Medan, Pak Gema Meliala, Pak Huddin Hasibuan, dan seluruh petugas pemadam kebakaran yang telah banyak membantu penulis sehingga penelitian ini dapat terlaksana.

10. Orangtua tercinta Ayahanda Ir. M. Surya Iriandi Putra dan Ibunda Nurhammah Sembiring atas limpahan kasih sayang, nasihat, motivasi serta dukungan yang tak pernah putus kepada penulis.

11. Adik-adik tersayang Abdurrahman Budi Arief, Fitria Nurandita, dan Fadhlah Hani atas segala dukungan, perhatian serta pengertian yang amat berarti.

12. Kak Ilza Zuhri Zikriya 07 atas segala bantuan dan pengertiannya kepada penulis selama ini, terima kasih telah menjadi kakak yang begitu baik.

(9)

14. Teman-teman “GESIT” Lidya, Vanimon, Kizty, Emma, Etak, Mey atas kebersamaan kita serta “genk Tapanuli” Pivit, Syafni, Lista, Ayu, Yuni, Uci, almh. Febrina Anggraini, dan Nisa atas semangat dan dukungan yang diberikan kepada penulis.

15. Teman – teman peminatan K3 (Vesta, Yossi, Lidya, Octa, Mailani & Amja, Mandroy, Jeffry, Cut, Bianca, Ari, Abdi) atas saran dan semangat yang diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengaharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

Medan, Agustus 2012 Penulis

(10)

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Risiko ... 9

2.1.1. Pengertian Risiko ... 9

2.1.2. Risiko K3 ... 9

2.2. Kebakaran ... 10

2.2.1. Penyebab Kebakaran ... 10

2.2.2. Klasifikasi Kebakaran ... 11

2.2.3. Bahaya Kebakaran ... 12

2.2.4. Kerugian Kebakaran ... 13

2.3. Petugas Pemadam Kebakaran ... 15

2.3.1. Bahaya Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran ... 15

2.3.2. Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran ... 21

2.3.3. Alat Pelindung Diri ... 24

2.3.4. Peralatan Pemadaman Kebakaran ... 26

2.3.5. Prosedur Operasi Penanggulangan Kebakaran ... 28

2.4. Kerangka Pikir ... 33

(11)

3.4.2. Data Sekunder ... 35

3.5. Definisi Operasional ... 35

3.6. Analisa Data ... 36

BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37

4.1.1. Sejarah Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan ... 37

4.1.2. Lokasi Penelitian ... 38

4.1.2. Wilayah Kerja Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan ... 38

4.1.3. Visi ... 38

4.1.4. Misi ... 39

4.1.5. Fungsi ... 39

4.1.6. Sarana dan Prasarana ... 40

4.2. Matriks Proses Kerja Informan ... 43

4.3. Matriks Pelatihan Informan ... 45

4.4. Risiko di Perjalanan ... 47

4.5. Matriks Penggunaan Alat Pelindung Diri Informan ... 48

4.6. Risiko di Lokasi Kebakaran ... 50

4.7. Keluhan Kesehatan ... 52

BAB 5 PEMBAHASAN 5.1. Proses Kerja Informan ... 54

5.2. Pelatihan Informan ... 55

5.3. Risiko di Perjalanan ... 58

5.4. Penggunaan Alat Pelindung Diri ... 60

5.5. Risiko di Lokasi Kebakaran ... 62

5.6. Keluhan Kesehatan ... 67

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 69

6.2. Saran ... 70

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Klasifikasi Kebakaran di Indonesia ... 12 Tabel 2.2. Paparan Risiko Petugas Pemadam Kebakaran ... 22 Tabel 4.1. Kondisi Kendaraan Dinas/Operasional DP2K Kota Medan

Tahun 2011 ... 41 Tabel 4.2. Peralatan dan Perlengkapan Kegiatan Operasi DP2K Kota Medan

Tahun 2011 ... 42 Tabel 4.3. Matriks Proses Kerja Informan di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran

(DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan ... 43 Tabel 4.4. Matriks Pelatihan Informan di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran

(DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan ... 45 Tabel 4.5. Matriks Risiko di Perjalanan Informan Dinas Pencegah Pemadam

Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan ... 47 Tabel 4.6. Matriks Penggunaan Alat Pelindung Diri Informan di Dinas Pencegah

Pemadam Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan ... 48 Tabel 4.7. Matriks Risiko di Lokasi Kebakaran Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan ... 50 Tabel 4.8. Matriks Keluhan Kesehatan Informan di Dinas Pencegah Pemadam

(13)

ABSTRAK

Perkembangan suatu wilayah perkotaan telah membawa sejumlah persoalan penting, seperti adanya ancaman terhadap bahaya kebakaran. Adapun lembaga yang berwenang untuk menanggulangi kebakaran yang terjadi adalah institusi pemadam kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko pekerjaan yang dihadapi petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan anggota regu DP2K Kota Medan UPT I menggunakan alat bantu voice recorder.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko dari pekerjaan petugas pemadam kebakaran sebagian besar terjadi pada saat mereka di perjalanan menuju lokasi kebakaran yaitu risiko lalu lintas dan ketika di lokasi kebakaran berupa kecelakaan kerja dikarenakan listrik, suhu panas, api, bekerja di ketinggian, peralatan pemadaman, ledakan, backdraft dan flashover, kondisi bangunan yang terbakar, benda tajam, dan adu fisik dengan warga. Keluhan kesehatan yang mereka rasakan di lokasi kebakaran umumnya dikarenakan banyak menghirup asap seperti batuk, sesak nafas, mual, muntah, pusing, mata perih, serta masuk angin dan lemas.

Pemko Medan dan DP2K Kota Medan diharapkan dapat menambah jumlah APD serta melengkapi APD yang belum tersedia. Petugas diharapkan selalu menggunakan APD ketika bertugas memadamkan kebakaran untuk meminimalkan risiko yang tidak diinginkan. DP2K Kota Medan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dengan pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan untuk mengatur kelancaran lalu lintas terutama jalur yang akan dilewati mobil pemadam kebakaran menuju lokasi.

(14)

ABSTRACT

The development of an urban area has brought a number of important issues, such as the threat of fire hazard. The competent authorities to tackle fires is the fire department. The purpose of this study was to determine the occupational risks faced by firefighters in Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Medan by using a qualitative approach. Data obtained from in-depth interviews with members of the DP2K Medan UPT I using voice recorder.

The results showed that the risk of firefighters work mostly when they are on the way to the location of fire that the risk of traffic and when they due at the location of fire in the form of accidents due to electricity, heat, fire, working at height, equipment outages, explosions, backdraft and flashover, the condition of the building on fire, sharp objects, and physical fights with people. Health complaints that they feel in general because many of the fire smoke inhalation such as cough, shortness of breath, nausea, vomiting, dizziness, eye irritation, as well as cold and limp.

Pemko Medan and DP2K Medan expected to increase the amount of personal protective equipment (PPE) and PPE complete yet available. Firefighters are expected to always use PPE when on duty firefighting to minimize unwanted risks. DP2K Medan expected to increase cooperation with the police and Dinas Perhubungan to regulate the traffic especially when the fire truck will pass the road towards the location of fire.

Keywords : Risk, Firefighters, DP2K Medan

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan suatu wilayah perkotaan telah membawa sejumlah persoalan

penting seperti derasnya arus mobilisasi penduduk dari desa ke kota maupun

berkembangnya berbagai kawasan seperti kawasan hunian, industri dan perdagangan.

Ironisnya kondisi ini ternyata juga membawa konsekuensi logis tersendiri, seperti

adanya ancaman terhadap bahaya kebakaran (Hia, 2007).

Kebakaran yang terjadi di pemukiman padat penduduk dapat menimbulkan

akibat - akibat sosial, ekonomi dan psikologi. Kebakaran di gedung tinggi sering

berakibat fatal akibat sulitnya upaya pemadaman dari luar gedung. Kebakaran di

kawasan kumuh padat penduduk dapat langsung memiskinkan masyarakat korban

kebakaran. Kebakaran di industri dapat mengakibatkan stagnasi usaha dan kerugian

investasi yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (Suprapto, 2007).

Pada dasarnya kebakaran adalah proses kimia yaitu reaksi antara bahan bakar (fuel) dengan oksigen dari udara atas bantuan sumber panas (heat). Ketiga unsur api tersebut dikenal sebagai segitiga api (fire triangle). Oleh karena itu, bencana kebakaran selalu melibatkan bahan mudah terbakar dalam jumlah yang besar baik yang berbentuk padat seperti kayu, kertas atau kain maupun bahan cair seperti bahan bakar dan bahan kimia (Ramli, 2010).

(16)

sebanyak 524.000 kasus, tahun 2007 sebanyak 530.500 kasus dan pada tahun 2008 jumlah kebakaran yang terjadi sebanyak 515.000 kasus (Ramli, 2010).

Adapun lembaga yang berwenang untuk menanggulangi kebakaran yang

terjadi adalah institusi pemadam kebakaran. Kewenangan umum institusi pemadam

kebakaran dalam memadamkan kebakaran tercantum dalam The Fire Services Acts 1947yang mempersyaratkan petugas pemadam kebakaran bekerja dengan efisien dan terorganisasi guna memastikan pasokan air yang mencukupi untuk memadamkan kebakaran dan memberikan hak kepada petugas pemadam kebakaran untuk memasuki gedung – gedung jika dicurigai sedang mengalami kebakaran (Ridley, 2008).

Menurut US Fire Administration, angka kematian pemadam kebakaran per 100.000 kebakaran di 50 negara bagian Amerika Serikat tahun 2007 berjumlah 119 orang (3,53%), tahun 2008 berjumlah 120 orang (3,86%), tahun 2009 berjumlah 91 orang (2,97%), dan tahun 2010 berjumlah 87 orang (2,78%). Kematian ini diantaranya disebabkan karena kelelahan akibat aktivitas fisik yang terlalu berat, kecelakaan kendaraan, tersesat dan terjebak di dalam bangunan yang terbakar, terjatuh dari ketinggian, dan gangguan kesehatan seperti sesak nafas, serangan jantung dan sebagainya (US Fire Administration, 2010).

(17)

risiko kematian, khususnya pekerja yang berada pada kelompok umur 40 – 49 tahun (Musk et al, 1978).

Penanganan kebakaran di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, baik

yang bersifat kebijakan, kinerja institusi, peraturan perundang-undangan, mekanisme

operasional maupun kelengkapan pranatanya. Dapat dikatakan, bahwa aspek proteksi

kebakaran belum dianggap sebagai salah satu basic need. Akibatnya kejadian

kebakaran sering berakibat fatal dan berulang (Suprapto, 2007). Berdasarkan data

Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta, tingkat kejadian kebakaran yang terjadi di Jakarta pada tahun 2005 sebanyak 742 kasus, tahun 2006 sebanyak 902 kasus dan pada tahun 2007 sebanyak 855 kasus kebakaran (Ramli, 2010).

Dalam operasi pemadaman, keselamatan petugas pemadam kebakaran

memang perlu mendapat perhatian serius. Sebab peristiwa kecelakaaan petugas

pemadam kebakaran saat melakukan operasi pemadaman sudah seringkali terjadi

seperti luka-luka bahkan meninggal dunia. Namun, sampai saat ini belum ada data

resmi yang dikeluarkan oleh institusi pemadam kebakaran mengenai jumlah petugas

yang mengalami kecelakaan saat operasi pemadaman.

Selain itu, setiap terjadi insiden yang menyebabkan cedera berat, terlebih

kematian seorang petugas perlu dilakukan analisis secara mendalam mengenai

penyebab insiden tersebut. Sesuatu yang ironis, menolong korban kebakaran tetapi

keselamatan petugas pemadam kebakaran tidak terjamin (Malik, 2006).

(18)

2005). Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA), alat pelindung diri merupakan alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya (Anonim, 2008).

Berdasarkan penelitian Andriyan (2011) di Dinas Kebakaran Surabaya, pekerjaan pemadam kebakaran merupakan pekerjaan yang mengandung risiko kerja sangat tinggi berupa kecelakaan kerja yang berakibat fatal seperti cacat permanen bahkan kematian. Selain itu, saat menjalankan tugas di lapangan, pasukan pemadam kebakaran sering mengalami gangguan-gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja tersebut diakibatkan kondisi lingkungan kerja yang memiliki bahaya (hazard) tinggi. Dari hasil penelitian terhadap dampak risiko kecelakaan kerja pada petugas pemadam kebakaran tersebut, diketahui bahwa jabatan anggota regu memiliki tingkat risiko tertinggi disusul jabatan komandan regu, supir pemadam, dan staf operasional (Andriyan, 2011).

(19)

tangan manusia seperti bahaya kebakaran. Peristiwa kebakaran juga ikut berkembang seiring dengan perkembangan Kota Medan (Bornok, 2008).

Menurut data Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan,

pada tahun 2009 terjadi 141 kasus kebakaran, tahun 2010 sebanyak 197 kasus, dan

tahun 2011 kasus kebakaran yang terjadi sebanyak 159 kasus (DP2K Kota Medan,

2012). Dengan tingkat kejadian kebakaran seperti ini, petugas pemadam kebakaran

cukup sering bertugas di lapangan untuk memadamkan api sehingga frekuensi

mereka untuk terpapar bahaya juga semakin meningkat.

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap peristiwa bahaya kebakaran yang terjadi di Kota Medan (Bornok, 2008). Hal ini terdapat dalam Peraturan Daerah Kota Medan tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan bahwa DP2K Kota Medan adalah unsur pelaksana pemerintah daerah Kota Medan dalam bidang pencegahan dan pemadaman kebakaran serta melaksanakan tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah provinsi yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.

(20)

kota Medan dan sekitarnya yang berlokasi di Jl. Candi Borobudur, UPT Pemadam Kebakaran Wilayah II yang bertugas untuk daerah Amplas dan sekitarnya, UPT Pemadam Kebakaran Wilayah III yang bertugas untuk daerah Kawasan Industri Medan (KIM) dan UPT Pemadam Kebakaran Wilayah IV untuk daerah Belawan dan sekitarnya. Ketika terjadi kebakaran besar maka ke-empat UPT tersebut dapat saling berkoordinasi dan bekerja sama dalam melakukan pemadaman kebakaran (Pemko Medan, 2010).

Berdasarkan survey pendahuluan di DP2K Kota Medan pada UPT Pemadam Kebakaran Wilayah I yang berfungsi sebagai UPT induk diketahui bahwa dalam UPT Wilayah I terdiri dari seorang kepala UPT, seorang kepala sub bagian tata usaha, dan 3 regu pemadam kebakaran dengan masing-masing regu berjumlah 35 orang terdiri dari seorang komandan regu, seorang wakil komandan regu, supir pemadam, dan anggota regu pemadam dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Ketika terjadi kebakaran maka pemberangkatan regu pemadam kebakaran di DP2K Kota Medan dipimpin oleh kepala UPT dan/atau komandan regu.

Regu pemadam berangkat dengan kendaraan pemadam kebakaran yang dikemudikan oleh supir pemadam. Supir pemadam memiliki tanggung jawab untuk mengantarkan regu pemadam kebakaran agar segera mencapai lokasi kebakaran dengan selamat. Sesampaianya di lokasi kebakaran regu pemadam kebakaran bertugas sesuai peran atau tugas masing-masing.

(21)

pemadam kebakaran lain maka dia akan melaporkan ke petugas piket. Petugas piket kemudian meminta UPT terdekat untuk memberikan bantuan. Komandan regu bertugas memimpin pasukan di regunya dalam melakukan pemadaman kebakaran. Komandan regu harus berkordinasi dengan kepala UPT dalam mengatur strategi pemadaman kebakaran.

Pada awal kedatangan di lokasi kebakaran, anggota regu segera menggelar selang menuju titik terdekat ke objek yang terbakar. Setelah ada permintaan pengaliran air dari petugas pemegang nozzle, maka operator pompa yang dalam hal ini supir pemadam, segera mengalirkan air dengan tekanan air yang disesuaikan dengan kondisi atau sesuai permintaan petugas pemegang nozzle untuk menyemprotkan air di area kebakaran. Jika terjadi kehabisan air, supir pemadam bersama satu anggota regu bertanggung jawab untuk mencari air di tempat terdekat lokasi kebakaran dengan meminta petunjuk dari komandan regu atau kepala UPT (DP2K Kota Medan, 2006).

(22)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran risiko pekerjaan petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko pekerjaan yang dihadapi petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Sebagai informasi tentang risiko pekerjaan petugas pemadam kebakaran bagi Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan agar dapat melakukan upaya pencegahan kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat kerja.

1.4.2. Sebagai sarana bagi peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai petugas pemadam kebakaran.

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Risiko

2.1.1. Pengertian Risiko

Risiko adalah kemungkinan, bahaya, kerugian, akibat kurang menyenangkan dari sesuatu perbuatan, usaha, dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Menurut Soehatman Ramli (2010), risiko merupakan kombinasi dari kemungkinan dan keparahan dari suatu kejadian. Besarnya risiko ditentukan oleh berbagai faktor, seperti besarnya paparan, lokasi, pengguna, kuantiti serta kerentanan unsur yang terlibat.

2.1.2. Risiko K3

Menurut OHSAS 18001, risiko K3 adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya kejadian berbahaya atau paparan dengan keparahan dari cedera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut (Ramli, 2010).

(24)

2.2. Kebakaran

Kebakaran adalah api yang tidak terkendali, yang berarti diluar kemampuan dan keinginan manusia. Api tidak terjadi begitu saja tetapi merupakan suatu proses kimiawi antara uap bahan bakar dengan oksigen dan bantuan panas. Teori ini dikenal sebagai segitiga api (fire triangle).

Menurut teori ini, kebakaran terjadi karena adanya 3 faktor yang menjadi unsur api, yaitu : bahan bakar (fuel), sumber panas (heat), dan oksigen. Kebakaran dapat terjadi jika ketiga unsur api tersebut saling bereaksi satu dengan lainnya. Tanpa adanya salah satu unsur tersebut, api tidak dapat terjadi. Bahkan masih ada unsur ke empat yang disebut reaksi berantai, karena tanpa adanya reaksi pembakaran maka api tidak akan dapat hidup terus menerus. Keempat unsur api ini sering disebut juga Fire Tetrahedron.

2.2.1. Penyebab Kebakaran

Kebakaran disebabkan oleh berbagai faktor, secara umum dikelompokkan sebagai berikut :

a. Faktor Manusia

(25)

b. Faktor Teknis

Kebakaran juga dapat disebabkan oleh faktor teknis khususnya kondisi tidak aman dan membahayakan yang meliputi :

b.1. Proses fisik/mekanis

Faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini adalah timbulnya panas akibat kenaikan suhu atau timbulnya bunga api, misalnya pekerjaan perbaikan dengan menggunakan mesin las atau kondisi instalasi listrik yang sudah tua atau tidak memenuhi standar.

b.2. Proses kimia

Kebakaran dapat terjadi ketika pengangkutan bahan - bahan kimia berbahaya, penyimpanan dan penanganan tanpa memerhatikan petunjuk - petunjuk yang ada. b.3. Faktor Alam

Salah satu faktor penyebab adanya kebakaran dan peledakan akibat faktor alam adalah petir dan gunung meletus yang dapat menyebabkan kebakaran hutan yang luas dan juga perumahan – perumahan yang dilalui oleh lahar panas dan lain - lain (Sagala, 2008).

2.2.2. Klasifikasi Kebakaran

(26)

Tabel 2.1. Klasifikasi Kebakaran di Indonesia

Kelas Jenis Contoh

Kelas A Bahan Padat Kebakaran dengan bahan bakar padat bukan logam

Kelas B Bahan cair dan gas Kebakaran dengan bahan bakar cair atau gas mudah terbakar

Kelas C Listrik Kebakaran instalasi listrik bertegangan Kelas D Bahan Logam Kebakaran dengan bahan bakar logam

2.2.3. Bahaya Kebakaran

Kebakaran mengandung berbagai potensi bahaya baik bagi manusia, harta benda maupun lingkungan. Bahaya utama dari suatu kebakaran adalah sebagai berikut (Ramli, 2010) :

a. Terbakar api secara langsung

Panas yang tinggi akan mengakibatkan luka bakar, bahkan korban dapat hangus. Luka bakar akibat api biasanya dibedakan menurut derajat lukanya sebagai berikut :

a.1. Derajat 1

Merupakan luka bakar ringan, efek merah dan kering pada kulit seperti terkena matahari.

a.2. Derajat 2

Luka bakar dengan kedalaman lebih dari 0,1 mm menimbulkan dampak epidermis atau lapisan luar kulit dan melepuh sehingga menimbulkan semacam gelembung berair.

a.3. Derajat 3

(27)

b. Terjebak karena asap

National Fire Protection Association (NFPA) mengindikasikan bahwa kematian karena kebakaran paling banyak ditimbulkan karena terhirup asap daripada terbakar api (Hammer, 1981). Kematian akibat asap dapat disebabkan dua faktor yaitu karena kekurangan oksigen atau terhirup gas beracun. Asap kebakaran mengandung berbagai jenis zat berbahaya dan beracun tergantung jenis bahan yang terbakar, antara lain Hidrogen Sianida dan Asam Sianida, Karbon Monoksida, Karbon Dioksida, dan lainnya.

c. Bahaya ikutan akibat kebakaran

Salah satu bahaya ikutan yang sering terjadi adalah kejatuhan benda akibat runtuhnya konstruksi. Bahaya ini banyak terjadi dan mengancam keselamatan penghuni, bahkan juga petugas pemadam kebakaran yang memasuki suatu bangunan yang sedang terbakar. Selain itu, ledakan gas yang terkena paparan panas juga dapat terjadi.

d. Trauma akibat kebakaran

Bahaya ini juga banyak mengancam korban kebakaran yang terperangkap, panik, kehilangan orientasi untuk mencari jalan keluar yang sudah dipenuhi asap dan akhirnya dapat berakibat fatal.

2.2.4. Kerugian Kebakaran

(28)

a. Kerugian Jiwa

Kebakaran dapat menimbulkan korban jiwa baik yang terbakar secara langsung maupun sebagai dampak dari suatu kebakaran. Berdasarkan data – data di DKI, korban kebakaran yang meninggal dunia rata – rata 25 orang pertahun. Namun data di USA jauh lebih tinggi yaitu mencapai rata – rata 3000 orang setiap tahun. b. Kerugian Materi

Dampak kebakaran juga menimbulkan kerugian materi yang sangat besar. Di DKI kerugian materi akibat kebakaran sepanjang tahun mencapai di atas Rp 100 milyar. Angka kerugian ini adalah kerugian langsung yaitu nilai aset atau bangunan yang terbakar. Disamping itu, kerugian tidak langsung justru jauh lebih tinggi, misalnya gangguan produksi, biaya pemulihan kebakaran, biaya sosial dan lainnya. c. Menurunnya Produktivitas

Kebakaran juga memengaruhi produktivitas nasional maupun keluarga. Jika terjadi kebakaran proses produksi akan terganggu bahkan dapat terhenti secara total. Nilai kerugiannya akan sangat besar yang diperkirakan 5 – 50 kali kerugian langsung. d. Gangguan Bisnis

Menurunnya produktivitas dan kerusakan aset akibat kebakaran mengakibatkan gangguan bisnis sangat luas.

e. Kerugian Sosial

(29)

2.3. Petugas Pemadam Kebakaran

Pemadam kebakaran adalah pekerjaan dengan risiko tinggi berupa luka-luka dan penyakit akibat kerja yang dapat mengakibatkan cacat dan kematian. Fakta bahwa lingkungan kerja selama keadaan darurat dan tak terduga serta petugas pemadam kebakaran yang tidak siap untuk setiap kemungkinan, membutuhkan pengalaman pelatihan dan pendidikan serta pengembangan alat pelindung diri untuk melindungi petugas pemadam kebakaran dari bahaya dan risiko pekerjaannya (ILO, 2000).

Kewenangan umum dinas pemadam kebakaran dalam memadamkan kebakaran tercantum dalam The Fire Services Acts 1947 yang mempersyaratkan petugas pemadam kebakaran bekerja dengan efisien dan terorganisasi guna memastikan pasokan air yang mencukupi untuk memadamkan kebakaran dan memberikan hak kepada petugas pemadam kebakaran untuk memasuki gedung – gedung jika dicurigai sedang mengalami kebakaran (Ridley, 2008).

2.3.1. Bahaya Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran

Selama melakukan tugas operasionalnya, baik pemadaman kebakaran maupun penyelamatan jiwa, seorang petugas pemadam kebakaran dituntut untuk mampu mengenali jenis – jenis bahaya yang mungkin timbul pada situasi darurat (DEPDAGRI, 2005). Bahaya yang dihadapi petugas pemadam kebakaran antara lain (ILO, 2000) :

(30)

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan gaitan tangga pada tangga ketika bekerja.

a.2. Jatuh dari ketinggian karena runtuhnya bangunan.

Petugas pemadam kebakaran yang terjatuh atau terperosok kemungkinan bisa mengalami patah tulang, cedera kepala, cedera punggung, dan kekurangan oksigen ataupun terhirup asap atau sebaran gas beracun. Maka tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap dan sesuai untuk bekerja di ketinggian.

a.3. Tertimpa benda atau rubuhan bangunan yang jatuh saat melakukan pemadaman kebakaran dan penyelamatan korban atau benda-benda.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

a.4. Menginjak, terkena kaca, logam atau benda tajam lainnya yang dapat menimbulkan luka atau goresan, termasuk cedera akibat ledakan.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

a.5. Terperangkap dalam bangunan yang roboh atau material yang runtuh.

(31)

(PASS) untuk memberitahukan petugas pemadam kebakaran lain yang ada di sekitarnya.

a.6. Kelelahan dalam mengangkat selama pemadaman kebakaran atau operasi penyelamatan.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mempertahankan tingkat kebugaran serta memperhatikan aturan cara mengangkat dan membawa yang tepat.

a.7. Kontak dengan permukaan yang panas atau gas yang sangat panas.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

a.8. Menghirup udara yang sangat panas dan atau hasil dari pembakaran.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

a.9. Kontak dengan atau terpapar dengan bahan kimia selama pemadaman kebakaran, operasi penyelamatan atau penanganan bahan kimia berbahaya.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

(32)

a.11. Cedera akibat kecelakaan transportasi dalam merespon keadaan darurat.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan perangkat penahan yang tepat seperti sabuk pengaman ketika berkendara. a.12. Tergelincir, tersandung dan jatuh ke api.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap.

b. Bahaya Fisik

b.1. Runtuhnya langit-langit, dinding atau lantai.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) serta menggunakan Personal Alert Safety System

(PASS) untuk memberitahukan pemadam kebakaran lain yang ada di sekitarnya. b.2. Munculnya flashover dan backdraft.

Flashover terjadi ketika semua bahan yang mudah terbakar didalam suatu ruangan telah dipanaskan hingga mencapai suatu titik yang akan mengeluarkan uap-uap bahan bakar. Ketika uap-uap bahan bakar ini mencapai titik penyalaannya, terjadilah nyala api. Semua bahan yang mudah terbakar didalam ruangan tersebut akan menyala secara serentak.

(33)

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

b.3. Terpapar panas yang dapat mengakibatkan kebakaran.

Panas dapat mengakibatkan cedera lokal dalam bentuk luka bakar. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

b.4. Terpapar panas yang dapat mengakibatkan heat stress.

Heat Stress selama pemadaman kebakaran dapat berasal dari udara panas, pancaran panas atau kontak dengan permukaan panas. Keadaan ini diperparah dengan pakaian pelindung petugas pemadam kebakaran oleh sifat pakaian itu sendiri serta tenaga fisik petugas yang mengakibatkan produksi panas dalam tubuh (Guidotti, 1998). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan sistem rotasi kerja dan istirahat selama aktif pada saat melakukan penyelamatan kebakaran.

b.5. Meledaknya benda di permukaan tanah/lantai.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) dan menggunakan Personal Alert Safety System

(34)

c. Bahaya Kimia

c.1. Kurangnya oksigen di udara.

Kekurangan oksigen dapat menyebabkan hilangnya kinerja fisik, kebingungan, dan ketidakmampuan untuk melarikan diri. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

c.2. Kehadiran gas karbon monoksida dan hasil pembakaran lainnya di udara.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

c.3. Terpapar bahan kimia selama keadaan darurat.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap sesuai dengan bahaya yang dihadapi termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

d. Bahaya Biologi

Petugas pemadam kebakaran dapat terpapar penyakit menular saat mengevakuasi korban. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mengurangi kontak dengan korban secara langsung.

e. Bahaya Ergonomi dan Psikologi e.1. Stress

(35)

e.2. Kelelahan dan cedera muskoskeletal selama penanganan atau memindahkan benda berat seperti selang kebakaran saat mengenakan alat pelindung diri yang berat.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mempertahankan tingkat kebugaran serta memperhatikan aturan cara mengangkat dan membawa yang tepat.

2.3.2. Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran

Risiko petugas pemadam kebakaran dapat dilihat dari paparan potensi risiko dan dampak risiko. Paparan risiko pada petugas pemadam kebakaran merupakan bahaya potensial yang meliputi bahaya fisik, bahaya kimia, bahaya listrik, bahaya mekanik dan bahaya biologi. Bahaya-bahaya tersebut dapat mengakibatkan penyakit akibat kerja (Andriyan, 2011).

Tingkat paparan resiko yang mungkin dialami oleh petugas pemadam kebakaran yang diakibatkan oleh api tergantung dari bahan yang terbakar, adanya bahan kimia non-fuel, adanya korban yang memerlukan penyelamatan dan posisi petugas yang dekat dengan api, seperti petugas yang memegang nozzle (ujung penyemprot). Bahaya dan tingkat paparan yang dialami oleh petugas pemadam kebakaran yang pertama memasuki bangunan yang terbakar berbeda dengan petugas pemadam kebakaran yang masuk berikutnya atau yang membersihkan setelah api dipadamkan (Guidotti, 1998).

(36)

Tabel 2.2. Paparan Risiko Petugas Pemadam Kebakaran No. Bahaya Potensial Paparan risiko

1. Bahaya Fisik Suhu panas Kebisingan 2. Bahaya Kimia Asap

3. Bahaya Listrik Tersengat aliran listrik

4. Bahaya Mekanik Getaran pada scroll selang penyemprot air dan mobil

5. Bahaya Biologi Terpapar bakteri dan parasit

Selain berpotensi terpapar bahaya-bahaya di atas, petugas pemadam kebakaran juga berpotensi mengalami kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja yang berpotensi terjadi pada kegiatan pemadaman kebakaran meliputi: jatuh, kejatuhan material atau terkena serpihan material, tersulut api, tersengat aliran listrik, tergores atau tertusuk benda tajam, dan kecelakaan di perjalanan.

Sebab – sebab kecelakaan meliputi penggunaan alat pemadam yang salah, bekerja langsung di bawah tempat bekerjanya alat – alat pemadam, berdiri terlalu di pinggir atap, menggunakan peralatan yang sudah tua, pemakaian tekanan yang berlebihan pada selang – selang (Suma’mur, 1987).

Dampak risiko diidentifikasikan berdasarkan risiko yang diterima dan kondisi lingkungan kerja. Dampak risiko yang terjadi pada petugas pemadam kebakaran bisa berupa peyakit/gangguan kesehatan dan dampak kecelakaan kerja.

Dampak penyakit/gangguan kesehatan akibat kerja berupa (Andriyan, 2011) : a. Gangguan pernafasan kronis : iritasi pada hidung dan tenggorokan, flu, batuk,

(37)

b. Gangguan pernafasan akut: sesak nafas, batuk parah (menahun), kerusakan permanen syaraf pembau, pendarahan pada saluran pernafasan, batuk darah, infeksi dan peradangan pada paru-paru.

c. Sakit kepala, pusing, gangguan konsentrasi, gangguan tidur (insomnia) d. Iritasi pada kulit, gatal-gatal pada kulit.

e. Kelelahan, tegang pada otot dan badan terasa lemah. f. Iritasi pada mata, sakit pada mata.

g. Gangguan pencernaan : mual, muntah, gangguan metabolisme. h. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun.

i. Kehilangan kesadaran, pingsan. j. Gangguan pada jantung.

k. Demam.

Dampak kecelakaan kerja berupa :

a. Luka ringan yang diakibatkan kecelakaan pada waktu bekerja, cukup dengan pertolongan pertama.

b. Luka sedang yang diakibatkan kecelakaan pada waktu bekerja, perlu mendapatkan perawatan medis.

c. Luka parah yang diakibatkan kecelakaan pada waktu bekerja, perlu mendapatkan perawatan medis yang serius, waktu pemulihan lama.

(38)

f. Tersengat listrik. Kontak langsung dengan arus listrik akan mengakibatkan cedera tubuh seperti kejang otot yang berakibat lanjut pada menurunnya kemampuan gerak, terjatuh, mengakibatkan kegosongan/kebakaran yang parah, terhentinya detak jantung dan aliran pernafasan.

2.3.3. Alat Pelindung Diri

Pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran merupakan pekerjaan yang berat dan membutuhkan pemakaian alat pelindung diri pada setiap operasi pemadaman ataupun penyelamatan. Alat pelindung diri yang diperlukan oleh petugas pemadam kebakaran harus meliputi peralatan berikut ini (DEPDAGRI, 2005):

a. Peralatan Pelindung Kepala, Mata, dan Muka

Pelindung mata dan muka diperlukan jika bahaya-bahaya yang terjadi dapat mengakibatkan cedera pada mata atau muka. Peralatan ini harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada.

(39)

b. Peralatan Pelindung Tubuh

Para petugas pemadam kebakaran harus melindungi tubuh mereka dari kemungkinan sambaran kobaran api. Selama menjalankan tugas, setiap petugas pemadam kebakaran seharusnya menggunakan jas lengan panjang dan celana panjang yang terbuat dari bahan kapas atau serat yang tahan terhadap nyala api.

c. Sepatu dan Pelindung Kaki

Petugas pemadam kebakaran sebaiknya menggunakan sepatu boot panjang yang dipadukan dengan celana panjang yang terbuat dari bahan tahan panas untuk melindungi kaki dari kemungkinan tertusuk benda tajam, terkena cairan kimia yang merusak kulit, atau kejatuhan benda yang keras dan berat.

d. Peralatan Pelindung Tangan

Petugas pemadam kebakaran yang menggunakan sarung tangan akan terhindar dari kemingkinan risiko tertusuk benda tajam dan perembesan panas atau cairan/bahan kimia yang bersifat merusak.

e. Alat Bantu Pernafasan

Penggunaan alat bantu pernafasan bertekanan positif (Positive Pressure – SCBA) sangat dianjurkan bagi petugas pemadam kebakaran, khususnya bagi mereka yang harus memasuki ruangan-ruangan tertutup dan mencari korban. Salah satu alasan penggunaan alat bantu pernafasan ini adalah karena berkurangnya oksigen dan terkontaminasinya udara dengan gas beracun di dalam ruangan yang terbakar.

(40)

sinyal diri (Personal Alert Safety System / PASS) dan detektor karbon monoksida (CO Detector).

2.3.4. Peralatan Pemadaman Kebakaran

Adapun peralatan yang digunakan oleh petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan kebakaran yaitu (Puslatkar Jakarta, 1998) :

a. Selang Kebakaran (Fire Hose)

Selang kebakaran berfungsi untuk mengalirkan air dari mobil pemadam atau hidran melalui nozzle ke sasaran (kebakaran). Panjang selang penyalur yaitu 20-30 meter dengan diameter sebesar 1-1,5 inchi, 2,5 inchi.

b. Saringan (Strainers)

Strainer berfungsi untuk menyaring air dan sumber air terbuka, baik kotoran yang halus maupun yang kasar.

c. Pipa Pemancar (Nozzle)

Nozzle berfungsi untuk memancarkan air dari selang penyalur ke sasaran (kebakaran). Jenis pancaran yang dihasilkan tergantung dari tipe nozzle yang digunakan. Adapun beberapa tipe nozzle yaitu : spray nozzle, foam nozzle, fog nozzle.

d. Kopling

Kopling berfungsi untuk menyambungkan antar selang. Beberapa tipe kopling yaitu : Yan Vander Hyder (hermaprodite), kopling jantan, kopling betina.

e. Kunci Kopling

(41)

f. Adaptor

Adaptor berfungsi untuk menyambungkan dua kopling yang berlainan jenis, berbeda ukuran dan berlainan bentuk.

g. Hidran Kebakaran

Merupakan suatu alat yang dilengkapi dengan fire hose dan nozzle yang digunakan untuk mengalirkan air bertekanan bagi keperluan pemadaman kebakaran. Adapun klasifikasi hidran kebakaran yaitu :

g.1. Hidran Kelas I

Hidran yang outlet-nya berdiameter 2,5 inchi yang dipersiapkan untuk petugas pemadam kebakaran atau orang yang sudah terlatih.

g.2. Hidran Kelas II

Hidran yang outlet-nya berdiameter 1,5 inchi yang dipersiapkan untuk penghuni gedung.

g.3. Hidran Kelas III

Hidran yang outlet-nya berdiameter 1,5 dan 2,5 inchi (perpaduan hidran kelas I dan II).

h. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

(42)

Berukuran 11/2 – 5 gallon dan dapat digunakan untuk memadamkan api kelas A. Pengoperasian dapat dilakukan dengan pompa tangan.

h.2. Alat Pemadam Air yang Berisi Tekanan

Berukuran 21/2 gallon berisi tekanan udara sekitar 6,8 bar di dalam kerangka atau ruangan yang sama dengan air..

h.3. Alat Pemadam Api Carbon Dioxide (CO2)

Dapat digunakan untuk memadamkan api kelas B dan C dengan mengeluarkan gas CO2 yang bertekanan dengan beberapa “salju” melalui ujung pipa pemancar.

h.4. Alat Pemadam Api Halon

Berukuran 1 gallon sampai 10 gallon. Dapat digunakan untuk memadamkan api kelas B dan C.

h.5. Alat Pemadam Kimia Kering Dasar Biasa/Normal

Berukuran 1.134-13.608 kg. Dapat dignakan untuk memadamkan api kelas B dan C.

h.6. Alat Pemadam Kimia Kering Biasa Serba Guna

Berukuran 1.134-13.608 kg. Dapat digunakan untuk memdamkan api kelas A, B, dan C.

2.3.5. Prosedur Operasi Penanggulangan Kebakaran

(43)

a. Setiap memulai tugas siaga pada setiap harinya, Komandan Regu dan Wakil Komandan Regu harus segera mengatur urutan mobil yang akan berangkat bila terjadi kebakaran pada saat jam tugas mereka dan melaporkannya kepada Kepala UPT.

b. Komandan serta Wakil Komandan Regu segera mengatur personil untuk masing-masing mobil, termasuk petugas yang akan menjadi Tim Rescue.

c. Komandan serta Wakil Komandan Regu segera menugaskan masing-masing supir bersama piket supir untuk memeriksa kesiapan mobil dan peralatan/perlengkapannya serta melakukan pemanasan mesin sesuai Prosedur Penggunaan dan Pemeliharaan Mobil Pemadam Kebakaran, Mobil DP2K Kota Medan lainnya dan Peralatan/Perlengkapannya sebagaimana terdapat pada Lampiran II.

d. Sesaat setelah mendengar sirene atau lonceng tanda adanya kebakaran, seluruh petugas pemadam kebakaran harus segera bergegas masuk ke mobil pemadam kebakaran dan segera memakai helm yang telah tersedia di mobil masing-masing. Dan bagi petugas yang menjadi Tim Rescue, segera mengenakan kelengkapan keselamatan personil (personil safety tools).

e. Mobil pemadam dan petugas yang berangkat menuju lokasi kebakaran ditentukan oleh Kepala UPT.

(44)

g. Sesuai dengan petunjuk dari petugas piket, seluruh mobil yang diberangkatkan segera bergerak menuju lokasi kebakaran dengan tidak lupa menyalakan lampu rotari dan membunyikan sirene. Kecepatan mobil pemadam kebakaran harus mempertimbangkan keselamatan dan kemanan seluruh pihak.

h. Dalam perjalanan menuju lokasi kebakaran, setiap unit mobil harus tetap melaporkan posisinya dan meminta panduan dari petugas piket tentang jalur lalu lintas yang paling lancar, singkat dan dapat dilalui mobil pemadam menuju lokasi kebakaran.

i. Seluruh unit mobil pemadam yang berangkat menuju lokasi kebakaran harus tetap memonitor petunjuk dari petugas piket atau Kepala UPT.

j. Pada saat regu pemadam telah sangat dekat dengan lokasi kebakaran dan dapat melihat dengan jelas kondisi kebakaran, anggota pemadam harus segera melaporkan hal-hal yang terlihat kepada petugas piket serta menyampaikan tentang perlu tidaknya penambahan jumlah unit mobil pemadam ke lokasi kebakaran.

k. Setelah mobil pemadam tiba di lokasi kebakaran, hal-hal yang harus dilakukan petugas pemadam kebakaran adalah :

k.1. Supir menempatkan mobil pada posisi yang paling tepat menurut posisi obyek terbakar dan kondisi jalan;

k.2. Operator mesin segera menempati posisi di dekat mesin pompa dan melakukan persiapan yang dibutuhkan;

(45)

dekat mesin pompa, sedangkan Petugas pembawa nozzel bertugas membawa

nozzel untuk disambungkan dengan ujung selang berkopling jantan;

k.4. Bila dibutuhkan penyambungan selang tambahan, maka Petugas lainnya segera membawa selang dengan atau tanpa kopling sambungan cabang dua dan menyambungkannya dengan selang terdahulu;

k.5. Operator segera menyambungkan ujung selang berkopling betina ke kopling jantan yang ada di mesin pompa;

k.6. Setelah ada permintaan pengaliran air dari petugas pemegang nozzle, Operator segera mengalirkan air melalui selang dengan tekanan air disesuaikan dengan kondisi atau sesuai permintaan Petugas pemegang nozzle;

k.7. Petugas tidak diperkenankan membiarkan selang atau nozzle dikuasai oleh orang lain yang bukan petugas pemadam DP2K Kota Medan. Petugas boleh bekerjasama dengan masyarakat melakukan penyiraman air, namun kendali operasi selang tetap berada di tangan petugas;

k.8.Pemadaman kebakaran harus mengutamakan upaya melokalisir perkembangan api untuk kemudian semakin memperkecil api sampai dengan padamnya api dan baranya;

k.9. Mekanisme penyuplaian air harus disesuaikan dengan formasi mobil atau sistem pemadaman, apakah menggunakan sistem statis atau dinamis, atau sesuai dengan petunjuk Komandan Regu/Kepala UPT;

(46)

k.11. Petugas yang ikut dengan setiap mobil yang kembali untuk mengisi ulang air hanyalah supir bersama dengan satu orang anggota;

k.12. Setelah selesai mengisi ulang air, supir bersama anggotanya harus segera membawa kembali mobil tersebut ke lokasi kebakaran kecuali ditentukan lain oleh Komandan Regu/Kepala UPT;

k.13. Setelah pemadaman dinyatakan selesai, masing-masing anggota pada unit mobil dikomandoi oleh supir pemadam harus segera menggulung selang yang telah digunakan dan menyimpannya kembali ke mobil bersama-sama dengan peralatan lainnya;

k.14. Setelah seluruh mobil dan peralatannya rapi, maka seluruh petugas segera melakukan apel untuk melaporkan kendala dan kesiapan masing-masing regu unit mobil kepada Komandan Regu/Kepala UPT, untuk kemudian menuggu petunjuk dari Komandan Regu/Kepala UPT;

k.15. Bila semuanya dinilai telah cukup, Komandan Regu/Kepala UPT segera memerintahkan seluruh unit mobil bersama masing-masing anggota untuk kembali ke Pos Siaga dengan formasi konvoi yang teratur dan tertib;

(47)

2.4. Kerangka Pikir

Perjalanan ke lokasi kebakaran -Memakai Alat Pelindung Diri

Tiba di lokasi kebakaran - Mengambil dan Menggelar Selang - Memasang Nozzle

Melakukan pemadaman kebakaran Bunyi lonceng

tanda kebakaran

Pemadaman Selesai -Menggulung selang -Membereskan peralatan Kembali ke kantor

(48)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interview) untuk menggali informasi mengenai risiko pekerjaan petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Wilayah I inti kota Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan. Alasan pemilihan penelitian dilokasi ini karena merupakan UPT pos induk dengan wilayah pemadaman terluas yang menangani wilayah inti kota Medan serta belum pernah dilakukan penelitian mengenai risiko pekerjaan pada petugas pemadam kebakaran di UPT tersebut.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Agustus 2012.

3.3. Populasi dan Informan 3.3.1. Populasi

(49)

langsung di lokasi kebakaran di UPT Pemadam Kebakaran Wilayah I yang berjumlah 63 orang.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dijadikan sebagai informan. Informan dalam penelitian ini yaitu anggota regu yang terdapat di UPT Pemadam Kebakaran Wilayah I yang dipilih berdasarkan pengambilan sampel homogen karena memiliki tugas dan fungsi yang sama dalam melakukan pemadaman kebakaran berdasarkan kecukupan penelitian yaitu sebanyak 4 orang.

3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer

Data primer diperoleh langsung dari hasil wawancara mendalam (indepth interview) dengan pedoman umum berupa panduan pertanyaan yang telah disusun dan menggunakan alat bantu voice recorder.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari DP2K Kota Medan mengenai jumlah pekerja dan gambaran umum DP2K Kota Medan.

3.5. Definisi Operasional

(50)

2. Risiko pekerjaan adalah kemungkinan terjadinya kejadian berbahaya atau paparan dengan cedera atau keluhan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut mulai dari petugas mendengar lonceng tanda kebakaran, berangkat ke lokasi, tiba di lokasi kebakaran, melakukan pemadaman kebakaran hingga selesai dan kembali ke kantor DP2K.

3.6. Analisa Data

(51)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1. Sejarah Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda (Batavia) tahun 1919 dan pada saat itu pemadam kebakaran ini disebut Brandwier. Sejak zaman kemerdekaan Republik Indonesia unit pemadam kebakaran ini terus tetap ada namun dikelola oleh daerah tingkat II masing – masing yang keberadaannya bergabung dengan instansi yang ada pada saat itu.

Di Kota Medan khususnya unit Pemadam Kebakaran ini berada di Dinas Pekerjaan Umum Kotamadya Medan yang berada pada salah satu seksi dan disebut Unit Pencegah / Pemadam Kebakaran Kotamadya Medan. Kemudian pada tahun 1967, unit Pemadam Kebakaran ini beralih posisinya dari Unit Pemadam Kebakaran dibawah Dinas Pekerjaan Umum Kotamadya Medan ke Sub. Direktorat Ketertiban Umum. Pada tahun 1972 Unit Pemadam Kebakaran ini berubah menjadi Unit Linmas dibawah Sub Direktorat Ketertiban Umum.

(52)

4.1.2. Lokasi Penelitian

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan terletak di Jalan Candi Borobudur No. 2 Medan dan mempunyai satu pos induk yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Wilayah I (UPT I) inti kota. Luas lahan yang ditempati oleh DP2K Kota Medan yaitu sebesar 6.790 m2 dengan luas bangunan 2.580 m2.

4.1.3. Wilayah Kerja Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan melayani 265,1 km² luas wilayah, 21 kecamatan, 151 kelurahan, dan 2001 lingkungan.

4.1.4. Visi

(53)

”Medan Siaga Bencana”. Visi tersebut menggambarkan adanya tuntutan untuk bersikap profesional dari seluruh jajaran yang ada di DP2K Kota Medan dalam menjalankan tugasnya, serta perlunya partisipasi seluruh komponen yang ada di kota Medan baik masyarakat, instansi pemerintah, swasta, dan lain-lain.

4.1.5. Misi

Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan beberapa misi yaitu :

1. Mendorong partisipasi masyarakat dan swasta serta pihak kelurahan dan kecamatan dalam pencegahan dan penanggulangan bencana

2. Meningkatkan mutu layanan ke masyarakat

3. Meningkatkan sarana dan prasarana alat pencegah dan pemadam kebakaran 4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia

4.1.6. Fungsi

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan yang dibentuk berdasarkan Perda Kota Medan No. 34 Tahun 2001, Keputusan Walikota Medan Nomor 67 Tahun 2002, tentang Tugas Pokok dan Fungsi DP2K kota Medan, mempunyai tugas melaksanakan urusan rumah tangga daerah dalam bidang pencegahan dan pemadaman kebakaran, melaksanakan pembantuan sesuai dengan bidang tugasnya.

DP2K Kota Medan mempunyai fungsi sebagai berikut :

(54)

c. Melaksanakan kegiatan operasional penanggulangan/pemadaman kebakaran atau bencana alam;

d. Menyelenggarakan pengawasan atau pengendalian terhadap pengolahan, penyimpanan, peredaran, kegiatan bongkar muat, pengangkutan barang dan bahan (material) yang mudah terbakar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

e. Mengkoordinir kegiatan unit pemadam kebakaran pada instansi pemerintah dan swasta, perusahaan, perhotelan, perbankan, tempat-tempat vital/non vital, pusat perbelanjaan, pasar dan lain-lain;

f. Melaksanakan kegiatan retribusi racun api;

g. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan pada semua bangunan, gedung pertunjukan/pameran, tempat usaha, tempat hiburan dan tempat keramaian yang ramai dikunjungi orang yang rawan terhadap bahaya kebakaran;

h. Melaksanakan seluruh kewenangan yang ada sesuai dengan bidang tugasnya; i. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah.

4.1.7. Sarana dan Prasarana

Dalam rangka optimalisasi penyelenggaraan tugas pokok dan fungsinya, DP2K Kota Medan didukung dengan berbagai sarana dan prasarana kerja yang sangat bervariasi jenisnya, yaitu :

1. Kendaraan dinas/operasional Dinas P2K Kota Medan.

(55)

penanggulangan kebakaran dan bencana lainnya yang dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1. Kondisi Kendaraan Dinas/Operasional DP2K Kota Medan Tahun 2011

Ketika terjadi kebakaran kendaraan yang digunakan untuk melakukan pemadaman di lokasi yaitu ladder truck yang berfungsi sebagai mobil tangga untuk melakukan evakuasi terhadap korban ataupun untuk menyalurkan air dengan menyedot air dari sumber air. Fire truck dan Nissan dengan sistem portable pump

(56)

2. Peralatan dan perlengkapan kerja untuk kegiatan operasi

Tabel 4.2. Peralatan dan Perlengkapan Kegiatan Operasi DP2K Kota Medan Tahun 2011

5 Portable Blower 1 0 1

6 Portable Pump 1 1 2

7 Floating Pump 6 0 6

8 Self Contained Breathing Aparatus 9 0 9

9 Baju dan Celana Tahan Panas 9 0 9

10 Baju dan Celana Tahan Api 1 0 1

11 Helm 63 0 63

12 Masker Strainer dan Full Mask 16 0 16

13 Tandu 1 0 1

14 Gergaji Mesin untuk Tembok/Besi 4 0 4

15 Kampak 2 0 2

21 Variable Nozzle 2,5" 20 0 20

22 Variable Nozzle 1,5" 14 0 14

23 Kopling Cab. 2,5" - 1,5" 12 0 12

24 Lampu Kepala 5 0 5

25 Kopling Selang Ukuran 2,5" 3 0 3

26 Kopling Selang Ukuran 1,5" 3 0 3

No. Nama Barang Jumlah

TOTAL

3. Pos Pemadam Kebakaran

(57)

2 (dua) Pos Wilayah, yaitu Pos Wilayah Selatan di Terminal Terpadu Amplas dan Pos Wilayah Utara di Kawasan Industri Medan (KIM) dan 1 (satu ) Pos Pembantu di Kecamatan Medan Belawan.

4.2. Proses Kerja Informan

Tabel 4.3. Matriks Proses Kerja Informan di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan

Nomor

Informan Proses Kerja

1 “Jadi begitu dengar lonceng kami terus naik armada kan, uda ditunjuk armada masing-masing. Armada pemadam berangkat ke lokasi.. Begitu kita nyampe di lokasi kita turun dari armada, kita persiapkan lah selang sama pemancar itu untuk penyiraman.. Selang tadi kita masukkan ke handle mobil itu kita tarik ke depan, terus kita standbye baru kita bilang “idupkan air”, idup.. terus kita siram” 2 “Kita menerima apabila ada laporan kebakaran dari masyarakat, dan

juga kita bisa menerima dari kepolisian.., kita cek pas, betul, kita lonceng..ya kita lari.. Jadi dengar lonceng kita pake lah baju, helm.. sambil kita lari menuju mobil bisa di pake, di mobil pun bisa kita pakek kan. Begitu nyampek di TKP barulah masing-masing ada yang ngambil selang ada yang ngambil nozzle ada yang ngambil, lainnya lah.. Itulah baru kita siram“

3 “Begitu informasi sudah pasti, baru bunyi alarm atau lonceng, baru kami begerak.. Jadi begitu lonceng, persiapan masing-masing, nanti ada yang belum sempat make baju, make bajunya didalem mobil.. Kami di dalam mobil udah pasang strategi.. macam ini komandan, nanti kamu pegang selang, tarik nozzle kesana, tarik selang kesana kamu bawa nozzle langsung dari arah sana..

(58)

4 “Kan kita terima telfon, cuma kan banyak telepon jahil kan.. ee jadi konfirmasi lagi ntah yang ke lurah, kepling..itu.. baru kadang di..di sahkan oleh..kayak..polisi. Terus umumkan, siap-siap, baru lonceng.. Itulah tadi, kan kebetulan kalian udah ikut langsung, kami ga usah menerangkan secara rinci..”

Berdasarkan matriks di atas dapat diketahui bahwa semua informan melakukan proses kerja yang sama sebagai anggota regu yaitu menjaga pos piket, menerima telfon laporan kejadian kebakaran kemudian melakukan konfirmasi terhadap kebenaran kejadian kebakaran. Jika informasi benar maka piket segera membunyikan lonceng tanda kebakaran dan petugas segera berlari mengambil alat pelindung diri berupa helm dan baju tahan panas kemudian menuju ke mobil pemadam (fire truck) masing-masing yang telah ditentukan untuk segera menuju lokasi kebakaran. Alat pelindung diri dipakai ketika petugas menuju ataupun ketika didalam mobil pemadam.

(59)

4.3. Pelatihan Informan

Tabel 4.4. Matriks Pelatihan Informan di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan

Nomor Informan

Pelatihan

1 “Kalo pelatihan macam kami ni kan, sekarang ni kan setiap seminggu sekali kami tetap latihan, dinamika kelompok. Itulah, fisik, lari-lari kan, senam.. sama mental juga. Udah itu, kita latihan gulung selang, ngidupkan portable, latian menggunakan breathing apparatus..tiap sabtu..”

2 “Diadakan setiap setahun sekali, diklat namanya, itu selalu ada itu namanya teori dan pelatihan. Pelatihan fisik seperti jalan, PBB, kemudian teori, cara menggunakan selang, cara melakukan penggulungan selang, cara menyiram api itu bagaimana, dengan racun api dan sebagainya..

Kalo setiap sabtu itu kita diadakan dinamika kelompok, itu diundang keseluruhannya baik itu dari wilayah Amplas, wilayah KIM dan Belawan, itu berkumpul kita melaksanakan dinamika kelompok itu mengenai teori dan praktek mengenai pemadaman kebakaran.. dinamika kelompok inilah kan untuk memantapkan lagi, mematangkan lagi cara penggunaan semua peralatan yang ada di pemadam ini..”

(60)

senam, beladiri, ya gitu lah dia, kekmana latihan fisik.. nanti bisa juga dia teori..

4 “Itu setiap tahunnya ada pendiklatan kita..

Tiap jum'at senam, sabtu itu dinamika, dinamika kan bisa berobah-obah, cuma kita pikirkan dulu, kalo dinamika bisa studi kasus..

Kalo materi intinya kan pertama kesemaptaan, PBB, disiplin.. baru pembinaan mental, termasuk fisik, itulah yang lari-lari.. baru belajar pola tentang pemadam kebakaran ini, diajarin masalah bahaya, bahaya bencana lah, bahaya bencana kebakaran.. jadi kekmana pola-pola penanggulangan make selang, nozzle kan, pengoperasian mobil kan diajari, cara penyiraman..

Kita pun kan bukan cuma teknik pemadamannya yang diajari, akibat dari teknik pun kan ada kadang, akibat dari kebakaran itu, diajari juga kita resikonya, kan ada risiko terbakar, terjebak, terjebak api terjebak asap..”

Berdasarkan matriks di atas dapat dilihat seluruh informan menyebutkan bahwa selama bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran mereka mendapat pelatihan rutin setiap hari sabtu yaitu dinamika kelompok yang meliputi cara penggunaan alat, teknik pemadaman kebakaran, pelatihan fisik dan mental serta teori.

(61)

4.4. Risiko di Perjalanan

Tabel 4.5. Matriks Risiko di Perjalanan Informan Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan

Nomor Informan

Risiko di Perjalanan

1 “Jadi kalo resikonya itu dari mulai di jalan itu uda ada ya kan, karna kan namanya pemadam tu harus cepat, bisa belanggar, ntah apaa, risiko kan tinggi..”

2 “Kalo namanya kecelakaan kalo apa itu di jalan tu sering, belanggar mobil.. terutama sekitar tahun 1999, setahun saya bekerja di pemadam ini tepatnya kan ada kebakaran di.. apa.. (berpikir) di.. kota bangun, itu mobil tangki pemadam yang isinya 10 ton bertabrakan dengan container ya kan.. Pada waktu itu terbalik la mobil tangki, meninggal 1 orang, 1 orang luka, luka berat la di (RS) Martha Friska..”

3 “Jadi tugas kami memang nyawa taruhan kami, lain ga ada.. Di jalan aja kami udah nyawa, keluar aja kami dari hanggar bunyi sirine, uda nyawa taruhan kami dek.. Di jalan, ga sekali dua kali kami kecelakaan, uda berapa kawan kami yang meninggal karna kecelakaan di jalan..

Abang sendiri yang ngalamin, jadi kejadiannya itu kebakaran di Fakultas Kedokteran UISU di SM Raja ujung.. Diantara jalan pemuda, sama jalan palang merah, kan banyak gedung, suara sirine kan ga denger, ya kami jumpa.. kami uda lewat, ekor mobil kami yang kenak.. orang itu yang nabrak dari kepalanya.. jadi.. kecepatan tinggi disitu. Disitu Bapak Kepala Dinas, Pak Marlon Simanjuntak ininya langsung koyak, kepala otaknya.. sementara abang sendiri uda bentol-bentol kepala ini, langsung bendol-bendol ini.. yang lainnya muntah-muntah. Kami ada.. 6 orang, satu mobil isinya 3 orang.. disitulah kecelakaan yang meninggal Kepala Dinas, 1 orang sekarat, 1 orang luka-luka termasuk abang..”

(62)

Berdasarkan matriks di atas dapat dilihat bahwa semua informan menyebutkan risiko dari pekerjaan mereka sebagian besar terjadi pada saat mereka di perjalanan atau risiko lalu lintas yaitu kecelakaan lalu lintas.

4.5. Penggunaan Alat Pelindung Diri Informan

Tabel 4.6. Matriks Penggunaan Alat Pelindung Diri Informan di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) UPT Wilayah I Kota Medan Nomor

Informan

Penggunaan Alat Pelindung Diri

1 “Ada juga kita masker, baju tahan panas.. itulah kita pake ke dalam, helm, untuk keselamatan kami juga la gitukan, safety nya, karna kan kalo masuk ruangan tu kan resikonya tinggi, lebih tinggi dia, karna hawa panas itu, asap, segala macam lah..

Kalo..ini lah celana (celana panjang biasa) sehari-hari bertugas, cuma kalo kita berangkat ada baju tahan panasnya, baju tahan panasnya itu panjang dia segini (nunjuk se-dengkul) untuk perlindungan, sepatu PDL, ini uda menunjang lah.. kalo kenak paku kan dia ga tembus.. Oksigen uda ada.. oksigen tu perlunya kan kalo titik api tu ga nampak di dalam, kita gabisa masuk, asap tebal, baru pake SCBA, karna kalo ga pake itu ga sanggup kita. Yang makek itu tergantung, gak semua. Sarung tangan ada juga, cuma kita liat situasi, kalo diperlukan kita pake”

(63)

3 “Untuk safety diri helm, baju tahan panas, masker kalo ada, tapi kami ni lagi usahakan BA namanya, breathing aparatus, jadi situasi asap tebal pun kami bisa evakuasi.. masker kita kalo asap tebal kan itu kek mana ya, kita nanti tahan sebentar, sekian menit nanti kita uda ga tahan. Peralatan kita banyak kurang ini disini, seperti BA tadi.. BA tadi kan itu kalo bisa satu orang kan satu, baju tahan panas.. ini kenak kaca karna pake baju dinas biasa aja kami yang biru itu, bayangin coba, resikonya besar..

Uda gitu sepatu kita kan sepatu jungle boot gini, kalo bisa kan sepatunya yang.. yang kayak sepatu ikan gitu, itu memang safety kali.. jadi kalo ada korban yang mau di evakuasi jadi bisa..

Terus ga pake sarung tangan.. kami jarang-jarang pake sarung tangan..”

4 “Kadang kan kita.. apa namanya, lalai untuk make safety.. lalai satu, minim satu, dikasi safety ga dipake, cemanaa.. berat kali helm itu, ga enteng itu, jarang.. Jadi kadang kita masuk tanpa helm, kalo jatuh ntah apa kan ketimpa kepala ya kan.. itu dia, resikonya satu..”

Figur

Tabel 2.1. Klasifikasi Kebakaran di Indonesia
Tabel 2 1 Klasifikasi Kebakaran di Indonesia . View in document p.26
Tabel 2.2. Paparan Risiko Petugas Pemadam Kebakaran
Tabel 2 2 Paparan Risiko Petugas Pemadam Kebakaran . View in document p.36
Tabel 4.1. Kondisi Kendaraan Dinas/Operasional DP2K Kota Medan Tahun
Tabel 4 1 Kondisi Kendaraan Dinas Operasional DP2K Kota Medan Tahun . View in document p.55

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan Latar Belakang Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Faktor Manusia Terbakar api secara langsung Terjebak karena asap Bahaya ikutan akibat kebakaran Kerugian Jiwa Kerugian Materi Menurunnya Produktivitas Gangguan Bisnis Kerugian Sosial Bahaya Kecelakaan Bahaya Fisik Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran Bahaya Kimia Bahaya Biologi Peralatan Pelindung Kepala, Mata, dan Muka Peralatan Pelindung Tubuh Peralatan Pemadaman Kebakaran Peralatan dan Kelengkapan Lainnya Prosedur Operasi Penanggulangan Kebakaran Sepatu dan Pelindung Kaki Peralatan Pelindung Tangan Alat Bantu Pernafasan Kerangka Pikir Jenis Penelitian Definisi Operasional Lokasi Penelitian Wilayah Kerja Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan Visi Misi Fungsi Sarana dan Prasarana Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan Analisa Data Proses Kerja Informan Tabel 4.3. Matriks Proses Kerja Informan di Dinas Pencegah Pemadam Pelatihan Informan Tabel 4.4. Matriks Pelatihan Informan di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Risiko di Perjalanan Tabel 4.5. Matriks Risiko di Perjalanan Informan Dinas Pencegah Pemadam Risiko di Lokasi Kebakaran Tabel 4.7. Matriks Risiko di Lokasi Kebakaran Dinas Pencegah Pemadam Keluhan Kesehatan Tabel 4.8. Matriks Keluhan Kesehatan Informan di Dinas Pencegah Proses Kerja Informan Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan Pelatihan Informan Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan Risiko di Perjalanan Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan Penggunaan Alat Pelindung Diri Risiko di Lokasi Kebakaran Keluhan Kesehatan Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan