FAKTOR RISIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN
KOTA MEDAN TAHUN 2014
SKRIPSI
OLEH :
SAMUEL MARGANDA HALOMOAN MANALU 101000057
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKTOR RISIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN
KOTA MEDAN TAHUN 2014
SKRIPSI
OLEH :
SAMUEL MARGANDA HALOMOAN MANALU 101000057
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKTOR RISIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN
KOTA MEDAN TAHUN 2014
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH :
SAMUEL MARGANDA HALOMOAN MANALU 101000057
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dikarenakan masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan kematian. Kejadian diare di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan tahun 2014 adalah sebanyak 179 kasus. Faktor lingkungan yang tidak sehat dan juga personal higiene yang buruk dapat menimbulkan terjadinya diare.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya diare di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan tahun 2014 yang meliputi karakteristik, sarana prasarana sanitasi lingkungan rumah, dan personal higiene.
Populasi adalah masyarakat yang terkena diare di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan dalam kurun waktu bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2014 sejumlah 179 dengan jumlah sampel 64 orang yang diambil secara acak menggunakan teknik simple random sampling. Data karakterististik dan personal higiene diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner, data sanitasi rumah diperoleh melalui observasi ke rumah responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 43,8% masyarakat memiliki tingkat pendidikan tidak tamat sekolah, 68,8% tidak memiliki pekerjaan, jumlah penderita diare paling banyak adalah pada umur <10 tahun sebanyak 46.9%, 45,3% memiliki tingkat pemahaman yang baik mengenai diare, 59,4% memiliki sikap yang baik mengenai pencegahan diare. Seluruh rumah termasuk kategori rumah tidak sehat. Sebanyak 84,4 % memiliki personal higiene yang baik.
Disarankan kepada petugas kesehatan agar melakukan sosialisasi khususnya kepada tokoh masyarakat melalui penyuluhan. Penyuluhan dilakukan dalam kegiatan kemasyarakatan untuk memotivasi masyarakat agar mau melaksanakan kegiatan merawat dan memotong kuku tangan dan kuku kaki, serta mencuci tangan menggunakan sabun.
ABSTRACT
Diarrhea is one of the public health issues in Indonesia, to the high morbidity of diarrhea causing death.there were 179 cases of the incidence of diarrhea in the Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun in 2014. Both poor environtmental and personal hygiene are the factors that can cause diarrhea.
This was a descriptive study aimed to know the factors that caused diarrhea covering characteristics of the respondents’, infrastructure of home environmental sanitation, and personal hygiene.
The population were residents in the Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun with diarrhea in the period of January to June 2014 with a total amount of 179 people. There were 64 peoplen taken as samples. The samples were randomly selected using simple random sampling technique. The datas of respondents’ characteristics and personal hygiene were obtained through interview using questionnaires, while the datas of house sanitation collected through direct observation of the respondents’ houses.
The results of the study showed that 43.8% of the people in Kelurahan Hamdan did not finish formal education at school, and 68,8% did not have a job. The amount of respondents with diarrhea were mostly below the age of 10 years, which was 46,9% have good attitudes about the prevention of diarrhea. All houses were categorized as houses. Furthermore, as much as 84,4% people have good personal hygiene.
It is recommended to health workers to do a health socialization particularly to the community leaders through counceling. Counseling is done in community activities to motivate people to want to carry out the activities of treating and cutting fingernails and toenails, and to wash hands with soap.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Samuel Marganda Halomoan Manalu
Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 8 Agustus 1992
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Kristen Protestan
Anak ke : 2 dari 3 bersaudara
Status Perkawinan : Belum menikah
Alamat Rumah : Jalan Sembada X no. 2 Koserna Medan
Riwayat Pendidikan :
1. Tahun 1996-1998 : TK Rolina Medan
2. Tahun 1998-2003 : SD Budi Murni 6 Medan
3. Tahun 2003-2004 : SD Budi Mulia Bogor
4. Tahun 2004-2007 : SMP Negeri 4 Bogor
5. Tahun 2007-2010 : SMA Negeri 4 Medan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Faktor Risiko Terjadinya Diare Di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun
Kota Medan Tahun 2014” guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Selama penyusunan skripsi mulai dari awal hingga akhir selesainya skripsi ini
penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh
karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
2. dr. Taufik Ashar, MKM, selaku Dosen Pembimbing I skripsi yang telah banyak
meluangkan waktu untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini.
3. Dra. Nurmaini, MKM, Ph.D, selaku Dosen Pembimbing II skripsi yang telah
dengan sabar memberikan kritik dan saran yang berguna untuk
menyempurnakan penulisan skripsi ini.
4. Ir. Evi Naria, M.kes, selaku Ketua Departemen sekaligus Penguji II yang telah
banyak memberikan arahan serta masukan yang sangat bermanfaat untuk
penulisan skripsi ini.
5. Ir. Indra Chahaya, M.si, selaku Penguji III yang sangat banyak memberikan
6. dr. Heldy B Z, MPH, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
membimbing saya mulai dari pertama masuk ke FKM USU hingga akhirnya
dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Dosen FKM USU, dan juga
pegawai yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya di
kemudian hari.
8. Bapak H. Fadlin selaku Kepala Lurah yang telah memberikan saya izin
penelitian di Kelurahan Hamdan.
9. Teristimewa untuk kedua orangtuaku tersayang, Papi ( Ir. Johny Bungaran Togi
Manalu) dan Mami ( Dr. Ir. Evawany Yunita Aritonang, M.si) yang senantiasa
memberikan doa, pengertian, kasih sayang dan dukungan yang tiada hentinya
kepada penulis selama ini.
10. Teman-temanku ( Clintomi, Ivan, Jev, Ponco, Yeyen, Tia Ayudhia, Putri,
Marsel, Bg Ical, Adi, Bima, Noprin, Ali, Franky, Banu) serta semua pihak yang
tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu yang selalu memberikan semangat
dan dukungan kepada penulis.
Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam
rangka penyempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi
kita semua.
Medan, Januari 2015 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ... i
Abstrak ... ii
Abstract ... iii
Daftar Riwayat Hidup ... iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vii
Daftar Tabel ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan ... 5
1.3.1 Tujuan Umum ... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ... 5
1.4 Manfaat ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Faktor Resiko Terjadinya Diare ... 6
2.1.1 Sanitasi Lingkungan ... 6
2.1.1.1 Penyediaan Air Bersih ... 6
2.1.1.2 Penyediaan Jamban ... 8
2.1.1.3 Pengelolaan Sampah ... 10
2.1.1.4 Sarana Pembuangan Air Limbah ... 12
2.1.2 Personal Higiene ... 14
2.1.2.1 Memelihara Dan Memotong Kuku Tangan Dan Kuku Kaki ... 14
2.1.2.2 Mencuci Tangan Menggunakan Sabun ... 15
2.2 Diare ... 16
2.2.1 Pengertian Diare ... 16
2.2.2 Pembagian Diare ... 17
2.2.3 Etiologi Diare ... 17
2.2.4 Epidemiologi Diare ... 19
2.2.5 Gejala Diare ... 20
2.2.6 Patofisiologi Diare ... 20
2.2.7 Faktor-Faktor Resiko Diare ... 21
2.2.8 Mekanisme Diare ... 24
2.2.9 Pencegahan Diare ... 25
2.2.9.1 Pencegahan Primer ... 25
2.2.9.2 Pencegahan Sekunder ... 29
2.2.9.3 Pencegahan Tertier ... 29
2.2.10 Pengobatan Diare ... 30
2.3 Kerangka Konsep ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
3.1 Jenis Penelitian ... 33
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 33
3.2.2 Waktu Penelitian ... 33
3.3 Populasi dan Sampel ... 34
3.3.1 Populasi ... 34
3.3.2 Sampel ... 34
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel ... 34
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 35
3.4.1 Data Primer ... 35
3.4.2 Data Sekunder ... 36
3.5 Definisi Operasional ... 36
3.6 Aspek Pengukuran ... 38
3.6.1 Karakteristik Responden ... 38
3.6.2 Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan ... 39
3.6.3 Personal Higiene ... 40
3.7 Teknik Pengolahan Data ... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 42
4.1 Gambaran Umum Penelitian ... 42
4.2 Analisis Univariat Karakteristik Responden ... 42
4.2.1 Pendidikan ... 43
4.2.2 Pekerjaan ... 43
4.2.3 Jenis Kelamin ... 44
4.2.4 Umur ... 44
4.2.5 Pengetahuan ... 45
4.2.6 Sikap ... 46
4.3 Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan Rumah ... 48
4.4 Personal Higiene ... 49
4.4.1 Memelihara dan Memotong Kuku Tangan dan Kaki . 49 4.4.2 Mencuci Tangan Menggunakan Sabun ... 51
BAB V PEMBAHASAN ... 52
5.1 Faktor Resiko Terjadinya Diare ... 52
5.2 Distribusi Karakteristik Responden (Pendidikan, Pekerjaan, Umur, Jenis Kelamin, Pengetahuan dan Sikap) ... 52
5.3 Distribusi Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan Rumah 53 5.3.1 Sarana Air Bersih ... 53
5.3.2 Jamban ... 54
5.3.3 Sarana Pembuangan Sampah ... 55
5.3.4 Sarana Pembuangan Air Limbah ... 57
5.3.5 Kriteria Sanitasi Lingkungan Rumah ... 58
5.4 Personal Higiene ... 58
5.4.1 Memelihara dan Memotong Kuku Tangan dan Kaki . 58 5.4.2 Mencuci Tangan Menggunakan Sabun ... 59
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 61
6.1 Kesimpulan ... 61
6.3 Saran ... 62
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan pada
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 43 Tabel 4.2 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan pada Kelurahan
Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 43 Tabel 4.3 Distribusi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin pada
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 44 Tabel 4.4 Distribusi Responden Menurut Umur pada Kelurahan Hamdan
Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 44 Tabel 4.5 Distribusi Jawaban Responden tentang Pengetahuan pada
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 45 Tabel 4.6 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan pada
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 45 Tabel 4.7 Distribusi Jawaban Responden tentang Sikap pada
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 46 Tabel 4.8 Distribusi Responden Menurut Sikap pada Kelurahan Hamdan
Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 47 Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Sanitasi Lingkungan Rumah Responden
Di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 . 48 Tabel 4.10 Gambaran Observasi Kepadatan Lalat Di Kelurahan Hamdan
Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 49 Tabel 4.11 Gambaran Keadaan Kuku Tangan dan Kaki Responden di
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 50 Tabel 4.12 Gambaran Kebersihan Kuku Tangan dan Kaki Responden di
Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 50 Tabel 4.13 Kategori Memelihara dan Memotong Kuku Tangan dan Kuku
Kaki di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Tahun 2014 ... 50 Tabel 4.14 Distribusi Jawaban Responden tentang Mencuci Tangan
ABSTRAK
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dikarenakan masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan kematian. Kejadian diare di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan tahun 2014 adalah sebanyak 179 kasus. Faktor lingkungan yang tidak sehat dan juga personal higiene yang buruk dapat menimbulkan terjadinya diare.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya diare di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan tahun 2014 yang meliputi karakteristik, sarana prasarana sanitasi lingkungan rumah, dan personal higiene.
Populasi adalah masyarakat yang terkena diare di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan dalam kurun waktu bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2014 sejumlah 179 dengan jumlah sampel 64 orang yang diambil secara acak menggunakan teknik simple random sampling. Data karakterististik dan personal higiene diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner, data sanitasi rumah diperoleh melalui observasi ke rumah responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 43,8% masyarakat memiliki tingkat pendidikan tidak tamat sekolah, 68,8% tidak memiliki pekerjaan, jumlah penderita diare paling banyak adalah pada umur <10 tahun sebanyak 46.9%, 45,3% memiliki tingkat pemahaman yang baik mengenai diare, 59,4% memiliki sikap yang baik mengenai pencegahan diare. Seluruh rumah termasuk kategori rumah tidak sehat. Sebanyak 84,4 % memiliki personal higiene yang baik.
Disarankan kepada petugas kesehatan agar melakukan sosialisasi khususnya kepada tokoh masyarakat melalui penyuluhan. Penyuluhan dilakukan dalam kegiatan kemasyarakatan untuk memotivasi masyarakat agar mau melaksanakan kegiatan merawat dan memotong kuku tangan dan kuku kaki, serta mencuci tangan menggunakan sabun.
ABSTRACT
Diarrhea is one of the public health issues in Indonesia, to the high morbidity of diarrhea causing death.there were 179 cases of the incidence of diarrhea in the Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun in 2014. Both poor environtmental and personal hygiene are the factors that can cause diarrhea.
This was a descriptive study aimed to know the factors that caused diarrhea covering characteristics of the respondents’, infrastructure of home environmental sanitation, and personal hygiene.
The population were residents in the Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun with diarrhea in the period of January to June 2014 with a total amount of 179 people. There were 64 peoplen taken as samples. The samples were randomly selected using simple random sampling technique. The datas of respondents’ characteristics and personal hygiene were obtained through interview using questionnaires, while the datas of house sanitation collected through direct observation of the respondents’ houses.
The results of the study showed that 43.8% of the people in Kelurahan Hamdan did not finish formal education at school, and 68,8% did not have a job. The amount of respondents with diarrhea were mostly below the age of 10 years, which was 46,9% have good attitudes about the prevention of diarrhea. All houses were categorized as houses. Furthermore, as much as 84,4% people have good personal hygiene.
It is recommended to health workers to do a health socialization particularly to the community leaders through counceling. Counseling is done in community activities to motivate people to want to carry out the activities of treating and cutting fingernails and toenails, and to wash hands with soap.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya
manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Masyarakat berperan serta baik
secara perseorangan maupun terorganisasi dalam segala bentuk dan tahapan
pembangunan kesehatan dalam rangka membantu mempercepat pencapaian derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Peran serta mencakup keikutsertaan
secara aktif dan kreatif (UU Kesehatan RI, 2009).
Salah satu program pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah
adalah program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan salah satu
diantaranya adalah penyakit diare. Pemerintah juga telah menetapkan suatu kebijakan
yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan penanggulangan
KLB diare yaitu melaksanakan tata laksana penderita diare yang sesuai standar dan
mengembangkan jejaring lintas sektor dan lintas program.
Penyakit diare tidak hanya terdapat di negara-negara berkembang atau
terbelakang saja, akan tetapi juga dijumpai di negara industri bahkan di negara yang
sudah maju sekalipun, hanya saja di negara maju kejadian diare karena infeksi jauh
lebih kecil. Diare di negara berkembang banyak disebabkan oleh infeksi
fekal-oral. Diare dapat mengenai semua kelompok umur dan berbagai golongan
sosial, baik di negara maju maupun di negara berkembang, dan erat hubungannya
dengan kemiskinan serta lingkungan yang tidak higienis.
Menurut data WHO, diare merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia
pada anak di bawah umur lima tahun, dengan Proportional Mortality Rate (PMR)
17%. Pada tahun yang sama, diare di Asia Tenggara juga menempati urutan ke tiga
penyebab kematian anak di bawah umur lima tahun dengan Proportional Mortality
Rate (PMR) sebesar 18% (Olyfta, 2010).
WHO juga mencatat penyakit diare membunuh 2 juta anak di dunia setiap
tahun. Di Inggris, satu dari lima orang menderita diare infeksi setiap tahunnya, dan
satu dari enam orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita infeksi. Di
Afrika, anak terserang diare 7 kali setiap tahunnya dibanding di negara berkembang
lainnya yang mengalami diare 3 kali setiap tahun (WHO, 2009).
Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan
menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita serta sering
menimbulkan kejadia luar biasa. Di Indonesia, setiap tahun terdapat 112.000 kasus
diare yang mengalami kematian pada semua golongan dan 55.000 kasus kematian
terjadi pada balita (Depkes RI, 2000).
Diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Faktor
lingkungan. Dua faktor lingkungan yang dominan, yaitu sarana air bersih dan
pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku
berakumulasikan dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui
makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan diare (Wijoyo, 2013). Diare juga
dipengaruhi oleh personal higiene seseorang. Personal higiene sendiri dapat diartikan
sebagai cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka secara fisik
dan psikisnya (Potter dan Perry, 2005).
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting
dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis
seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan
kebiasaan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan,
hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele,
padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara
umum. Memelihara dan memotong kuku dapat. Kebiasaan penduduk yang tidak mau
mencuci tangan menggunakan sabun sebelum melakukan aktifitasnya, serta perilaku
lainnya yang tidak mencerminkan pola hidup sehat dapat menyebabkan timbulnya
diare.
Beberapa penelitian yang menyebutkan tentang faktor resiko terjadinya diare
antara lain : hubungan antara penanganan air rumah tangga dengan kejadian diare
(Hendarmin,dkk, 1992), hubungan penyediaan air bersih dengan kejadian diare
(Sukana, 1993), pendidikan ibu dengan kejadian diare (Sunoto, 1990), hubungan
ketersediaan jamban dengan kejadian diare (Erfandi, 1990), pemberian air susu ibu
dan makanan tambahan dengan kejadian diare (Utomo, dkk, 1990), aspek perilaku
berhubungan dengan kejadian diare (Achadi, dkk, 1999), serta faktor antara
Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2010 jumah
penderita diare berkurang menjadi 70.723 jiwa dari 112.016 jiwa pada tahun 2009.
Tetapi pada tahun 2010 terjadi KLB diare di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan
jumlah penderita 34 jiwa dan 1 orang meninggal dunia (Profil Dinkes Sumatera
Utara, 2010).
Berdasarkan Data Puskesmas Kampung Baru Kelurahan Hamdan Kecamatan
Medan Maimun Kota Medan tahun 2014, ditemukan sebesar 179 kasus . Setiap
bulannya di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun selalu ditemukan kasus
diare. Kasus diare yang paling banyak terjadi ditemukan pada Bulan Februari yaitu 9
kasus pada laki-laki dan 25 kasus pada perempuan.
Dari data diatas, kejadian Diare yang setiap bulan terjadi membuat penulis
ingin melakukan penelitian untuk mengetahui faktor resiko terjadinya diare di
Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan Tahun 2014.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah untuk mengetahui faktor resiko terjadinya diare di Kelurahan Hamdan,
Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan Tahun 2014.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk melihat faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya diare di
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat meliputi pendidikan, pekerjaan,
umur, pengetahuan, dan sikap yang dapat memungkinkan terjadinya diare.
2. Untuk mengetahui sarana dan prasarana sanitasi lingkungan meliputi
ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, ketersediaan pengolahan
sampah, ketersediaan Sarana Pembuangan Air Limbah yang dapat
memungkinkan terjadinya diare.
3. Untuk mengetahui personal higiene meliputi memelihara dan memotong kuku
tangan dan kuku kaki, mencuci tangan menggunakan sabun yang dapat
memungkinkan terjadinya diare.
1.4 Manfaat
1. Sebagai bahan masukan kepada petugas kesehatan, sehingga dapat
menurunkan angka kejadian diare di Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan
Maimun Kota Medan.
2. Sebagai bahan masukan kepada pihak Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan
Maimun Kota Medan agar dapat lebih memaksimalkan potensi masyarakat
yang ada untuk dapat mewujudkan kondisi lingkungan yang lebih baik
sehingga dapat menurunkan angka kejadian diare.
3. Sebagai bahan masukan kepada masyarakat dalam rangka memaksimalkan
pemberantasan diare di lingkungan mereka.
4. Sebagai referensi bagi berbagai pihak yang akan melanjutkan penelitian ini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Faktor Resiko Terjadinya Diare
Faktor resiko terjadinya diare adalah faktor – faktor yang memungkinkan
terjadinya diare.
2.1.1 Sanitasi Lingkungan
Sanitasi dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku disengaja dalam
pembudayaan hidup bersih dengan maksud bersentuhan langsung dengan kotoran dan
bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan
meningkatkan kesehatan manusia. Sanitasi lingkungan yang dapat menyebabkan
diare, antara lain :
2.1.1.1 Penyediaan Air Bersih
Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan
penyakit, terutama penyakit perut. Seperti yang telah kita ketahui bahwa penyakit
perut adalah penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia (Totok, 2010).
Penyediaan air bersih, selain kuantitas, kualitasnya pun harus memenuhi standar yang
berlaku. Untuk ini perusahaan air minum, selalu memeriksa kualitas airnya sebelum
didistribusikan kepada pelanggan. Karena air baku belum tentu memenuhi standar,
maka seringkali dilakukan pengolahan air untuk memenuhi standar air minum
Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat – syarat kesehatan
dan dapat diminum. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari –
hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak lebih dahulu. (Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990). (Sarudji, 2006). Air minum pun
bukan merupakan air murni. Meskipun bahan-bahan tersuspensi dan bakteri mungkin
telah dihilangkan dari air tersebut, tetapi air minum mungkin masih mengandung
komponen-komponen terlarut. Bahkan air murni sebenarnya tidak enak untuk
diminum karena beberapa bahan yang terlarut memberikan rasa yang spesifik
terhadap air minum (Fardiaz, 1992).
Air minum harus memenuhi syarat-syarat antara lain (Sutrisno, 2010):
a. Syarat Fisik :
- Air tidak boleh berwarna
- Air tidak boleh berasa
- Air tidak boleh berbau
b. Syarat Kimia :
Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat kimia
tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan.
c. Syarat Bakteriologik :
Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri patogen sama sekali dan
tidak boleh mengandung bakteri-bakteri golongan Coli melebihi batas-batas
yang telah ditentukannya yaitu 1Coli/100 ml.air.Bakteri golongan Coli ini
berasal dari usus besar dan tanah. Bakteri patogen yang mungkin ada dalam
Entamoeba hystolotica, bakteri enteritis. Air yang mengadung golongan Coli
telah berkontaminasi dengan kotoran manusia. Oleh sebab itu dalam
pemeriksaan bakteriologik, tidak langsung diperiksa apakah air itu
mengandung bakteri patogen, tetapi diperiksa dengan indikator bakteri
golongan Coli.
2.1.1.2 Penyediaan Jamban
Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran
manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa yang
dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya.
Jenis-jenis jamban yang digunakan (Proverawati dan Rahmawati, 2012) :
1. Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang
berfungsi menyimpan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan
kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup
agar tidak berbau.
2. Jamban tangki septik/ leher angsa adalah jamban berbentuk leher angsa yang
penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai
wadah proses penguraian/ dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi
dengan resapan.
Cara memilih jenis jamban adalah (Proverawati dan Rahmawati, 2012) :
1. Jenis cemplung digunakan uuntuk daerah yang sulit air
2. Jamban tangki digunakan untuk :
a. daerah yang cukup air
c. daerah pasang surut
Syarat jamban sehat yaitu (Proverawati dan Rahmawati, 2012) :
1. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan
lubang penampungan minimal 10 meter)
2. Tidak berbau
3. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus
4. Tidak mencemari tanah sekitarnya
5. Mudah dibersihkan dan aman digunakan
6. Dilengkapi dinding dan atap pelindung
7. Penerangan dan ventilasi yang cukup
8. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
9. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih
Peran kader dalam membina masyarakat untuk memiliki dan menggunakan
jamban sehat, yaitu :
1. Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki serta
menggunakan jamban dirumahnya
2. Melaporkan kepada pemerintah kelurahan tentang jumlah rumah tangga yang
belum memiliki jamban sehat
3. Bersama pemerintah kelurahan dan tokoh masyarakat setempat berupaya
untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki jamban
4. Mengadakan arisan warga untuk membangun jamban secara bergilir
5. Menggalang dunia usaha setempat untuk memberikan bantuan dalam
6. Memanfaatkan setiap kesempatan di kelurahan untuk memberi penyuluhan
tentang pentingnya memiliki dan menggunakan jamban sehat
7. Meminta bantuan petugas puskesmas setempat untuk memberikan bimbingan
tekniss tentang cara-cara membuat jamban sehat yang sesuai dengan situasi
dan kondisi daerah setempat
2.1.1.3 Pengelolaan Sampah
Sampah adalah setiap bahan yang untuk sementara tidak dapat dipergunakan
lagi dan harus dibuang atau dimusnahkan. (Dainur,1992).
a. Jenis Sampah
Jenis sampah di bagi menjadi 3, yaitu(Dainur,1992):
1. Menurut asalnya:
a. Sampah buangan rumah tangga; termasuk sampah bisa bahan makanan,
sampah sisa makanan, sisa pembungkus makanan dan pembungkus perabotan
rumah tangga, sampah bisa perabotan rumah tangga, sampah sisa tumbuhan
kebun, dan sebagainya.
b. Sampah buangan pasar dan tempat-tempat umum (warung, toko, dan
sebagainya); termasuk sisa makanan, sampah pembungkus makanan dan
pembungkus lainnya, sampah sisa bangunan, sampah taman dan sebagainya.
c. Sampah buangan jalanan; termasuk diantaranya sampah berupa debu jalan,
sampah sisa tumbuhan taman, sampah pembungkus bahan makanan dan bahan
d. Sampah industri (tidak dibicarakan pada bagian ini); termasuk diantaranya air
limbah industri, debu industri, sisa bahan baku dan bahan jadi, dan
sebagainya.
2. Menurut jenisnya:
a. Sampah organik; termasuk diantaranya sisa bahan makanan serta sisa
makanan, sisa pembungkus dan sebagainya. Keseluruhan dikenal juga sebagai
sampah dapur/sampah buangan rumah tangga, dan juga sampah pasar serta
sampah industri bahan makanan.
b. Sampah anorganik; termasuk diantaranya berbagai jenis sisa gelas, logam,
plastik dan sebagainya. Biasanya jenis ini terbagi atas sampah yang dapat
dihancurkan, dan yang tak dapat dihancurkan oleh mikroorganisme. Pada
umumnya sampah yang tak dapat dihancurkan oleh mikroorganisme termasuk
sampah anorganik, misalnya sisa-sisa mobil bekas, gelas dan sebagainya.
3. Menurut fisiknya:
a. Sampah kering, yaitu sampah yang dapat dimusnahkan dengan dibakar,
diantaranya kertas, sisa makanan, sisa tanaman yang dapat dikeringkan.
b. Sampah basah, yaitu sampah yang karena sifat fisiknya sukar dikeringkan
untuk dibakar.
b. Pemusnahan dan Pengolahan Sampah
Pemusnahan sampah dilakukan melalui berbagai cara, antara lain
(Notoadmodjo, 2007):
1. Ditanam (landfill), yaitu pemusnahan sampah denngan membuat lubang di
2. Dibakar (inceneration), yaitu memusnahkan sampah dengan membakar di
dalam incenerator
3. Dijadikan pupuk (composting), yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk,
khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa makanan, dan sampah
lainnya yang dapat membusuk.
2.1.1.4 Sarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah adalah sisa air yang berasal dari rumah tangga, industri dan
tempat-tempat umum lainnya yang umumnya mengandung bahan-bahan yang
membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Air limbah terbagi
atas beberapa jenis, antara lain (Notoadmodjo, 2007):
1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water)
Kategori ini termasuk air bekas mandi, bekas cuci pakaian, maupun perabot
dan bahan makanan, dan lain-lain. Air ini sering disebut sullage atau gray
water. Air ini tentunya mengandung banyak sabun atau detergen dan
mikroorganisme. Selain itu, ada lagi air limbah yang mengandung excreta,
yakni tinja dan urine manusia. Walaupun excreta mengandung zat padat,
tetapi tetap dikelompokkan sebagai air limbah. Dibandingkan dengan air
bekas cuci, excreta ini jauh lebih berbahaya karena mengandung banyak
kuman patogen. Excreta ini merupakan cara transport utama bagi penyakit
bawaan air, terutama bahaya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang
sering juga kekurangan gizi (Soemirat,2009).
2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai
sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai masing-masing
industri. Oleh karena itu, pengolahan jenis air limbah ini akan lebih rumit agar
tidak menimbulkan polusi lingkungan
3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yang berasal dari daerah:
perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat umum,
tempat-tempat ibadah, dan lainnya. Umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air
limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga.
Agar limbah tidak mencemari lingkungan, dilakukan pengelolaan terhadap air
limbah. Pengolahan air limbah diatur dalam PP No. 82 Tahun 2001 pasal 31 tentang
pengendalian pencemaran air yang mengatur tentang pengolahan air limbah yang
memenuhi kesehatan, yaitu :
a. Jarak bidang resapan tangki septic tank dengan sumber air minum harus
berjarak >10m untuk jenis tanah liat dan >15m untuk tanah berpasir.
b. Kepadatan 100 orang/ha dengan menggunakan sanitasi setempat memberikan
dampak kontaminasi bakteri coli cukup besar terhadap tanah dan air tanah.
Jadi bagi pengguna sanitasi individual pada kawasan dengan kepadatan
tersebut, penerapan anaerobic filter sebagai pengganti bidang resapan dan
effluennya dapat dibuang ke saluran terbuka, atau secara komunitas
menggunakan sistem off site sanitasi.
c. Air limbah dari toilet tidak boleh langsung dibuang ke perairan terbuka tanpa
pengeraman (digesting) lebih dari 10 hari terlebih dahulu, dan lumpurnya
harus ada pengeraman 3 minggu untuk digunakan di permukaan tanah
d. Hasil pengolahan limbah cair harus dibebaskan dari bakteri coli dengan proses
maturasi atau menggunakan desinfektan. Dengan demikian setiap IPAL harus
dilengkapi salah satu dari kedua jenis sarana tersebut; sebaiknya alat-alat
saniter (WC, urinoir, kitchen zink, wash-basin) menggunakan water trap
(leher angsa) untuk mencegah bau dan serangga keluar dari pipa buangan ke
peralatan tersebut. Penggunaan pipa pembuang udara (vent) pada sistem
plumbing harus mencapai ceiling (plafon) teratas.
2.1.2 Personal Higiene
Personal higiene adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara
kesehatan mereka secara fisik dan psikisnya (Potter dan Perry, 2005). Dalam
kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang.
Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Jika
seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan, hal ini terjadi
karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal
tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.
2.1.2.1 Memelihara dan memotong kuku tangan dan kuku kaki
Kuku sering kali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau,
dan cedera pada jaringan. Kuku bersih mempunyai fungsi dan peran yang penting
dalam kehidupan kita. Kuku yang kotor dapat menjadi sarang berbagai kuman
Tujuan merawat dan memotong kuku, yaitu:
1. Menjaga kebersihan tangan dan kaki
2. Mencegah timbulnya infeksi
3. Mencegah kaki berbau tidak sedap
2.1.2.2 Mencuci tangan menggunakan sabun
Kedua tangan kita sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai
pekerjaan. Makan dan minum sangat membutuhkan kerja dari tangan. Cuci tangan
dapat berfungsi untuk menghilangkan mikroorganisme yang menempel di tangan.
Cuci tangan harus dilakukan dengan menggunakan air bersih dan sabun.
Cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut (Proverawati dan
Rahmawati, 2012) :
1. Cuci tangan dengan air yang mengalir dan gunakan sabun.
2. Gosok tangan setidaknya selama 15-20 detik
3. Bersihkan bagian pergelangan tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan
kuku
4. Basuh tangan sampai bersih dengan air yang mengalir
5. Keringkan dengan handuk bersih
6. Gunakan tisu sebagai penghalang mematikan keran air.
Peran kader dalam membina perilaku cuci tangan yaitu :
1. Memanfaatkan setiap kesempatan di kelurahan untuk memberikan penyuluhan
tentang pentingnya perilaku cuci tangan, misalnya penyuluhan kelompok di
2. Mengadakan gerakan cuci tangan bersama untuk menarik perhatian
masyarakat.
2.2 Diare
2.2.1 Pengertian Diare
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau
tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan volume,
keenceran dan frekuensi dengan atau tanpa lendir darah, yaitu pada anak lebih dari 3
kali/hari dan pada neonatus lebih dari 4 kali/hari (Alimul, 2009). Diare dapat
menyebabkan kurang gizi dan kematian. Kematian akibat diare akut disebabkan oleh
kehilangan banyak cairan dan garam dari dalam tubuh. Kehilangan ini dinamai
dehidrasi. Dehidrasi timbul bila pengeluaran cairan dan garam lebih besar daripada
masukan. Lebih banyak tinja cair dikeluarkan, lebih banyak cairan garam yang
hilang. Dehidrasi dapat diperburuk oleh muntah, yang sering menyertai diare.
Dehidrasi timbul lebih cepat pada bayi dan anak kecil, iklim panas, dan bila
seseorang menderita demam. Diare menjadi lebih serius pada orang yang kurang gizi.
Diare dapat menyebabkan kurang gizi dan memperburuk keadaan kurang gizi
yang telah ada, karena selama diare:
- Zat gizi hilang dari tubuh
- Orang bisa tidak lapar
- Ibu mungkin tidak memberi makan pada anak yang menderita diare. Beberapa
ibu mungkin menunda pemberian makanan bayinya selama beberapa hari,
Untuk mengurangi kekurangan gizi segera setelah anak yang menderita diare
dapat makan, berikanlah makanan (Adrianto, 1995).
2.2.2 Pembagian Diare
Diare dibedakan menjadi dua, yaitu (Suharyono, 2008) :
a. Diare akut
Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal
(meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat
mendadak datangnya, dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Perubahan yang terjadi pada diare akut adalah kehilangan cairan,
hipoglikemia, perubahan keseimbangan asam basa, gangguan sekresi, dan
gangguan gizi.
b. Diare kronik
Diare kronik atau diare berulang adalah suatu keadaan meningkatnya
frekuensi buang air besar yang dapat berlangsung berminggu-minggu atau
berbulan-bulan baik secara terus menerus atau berulang, dapat berupa gejala
fungsional akibat suatu penyakit berat. Diare kronik dapat di sebabkan karena
infeksi dan juga dapat ditimbulkan oleh adanya alergi protein, enteropati
sensitive gluten, defisiensi imun dan penyakit hati.
2.2.3 Etiologi Diare
Diare disebabkan oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi,
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi enteral ; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut (Wijoyo, 2013) :
- Diare karena virus
Diare karena virus yang disebabkan, antara lain oleh rotavirus dan adenovirus.
Virus ini melekat pada sel-sel mukosa usus. Akibatnya sel mukosa usus menjadi
rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air maupun elektrolit
meningkat. Gejala yang ditimbulkan akibat infeksi rotavirus, adalah muntah, demam,
mual, dan diare cair akut.
- Diare karena bakteri infasif
Diare karena bakteri infasif memiliki tingkat kejadian yang cukup sering,
tetapi akan berkurang dengan sendirinya seiring dengan peningkatan sanitasi
lingkungan di masyarakat. Diare ini bersifat self-limiting dalam waktu kurang lebih
lima hari tanpa pengobatan, setelah sel-sel yang rusak diganti dengan sel-sel mukosa
yang baru.
- Diare karena parasit
Diare karena parasit disebabkan oleh protozoa seperti Entamoeba histolytica
dan Glardia lamblia. Diare karena infeksi parasit ini bercirikan mencret cairan yang
berkala dan bertahan lama lebih dari satu minggu. Gejalanya berupa nyeri pada perut,
rasa letih umum, deman dan muntah-muntah.
2. Faktor Malabsorpsi
Faktor malabsoprsi meliputi malabsorpsi lemak, malabsorpsi karbohidrat, dan
malabsorpsi protein.
3. Faktor Makanan
Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan dapat menjadi faktor
penyebab terjadinya diare. Contoh alergi terhadap makanan yaitu alergi terhadap
laktosa, makanan yang mengandung lemak tinggi dan makanan terlalu pedas atau
terlalu banyak serat dan kasar.
2.2.4 Epidemiologi Diare
Diare paling sering menyerang anak-anak, terutama usia antara 6 bulan
sampai 2 tahun. Penyakit diare dengan tingkat dehidrasi berat dengan angka kematian
paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita. Di Indonesia, biasanya balita
menderita diare lebih dari sekali dalam setahun dan hal ini yang menjadi penyebab
kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian pada balita. (Depkes RI,
2011). Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur
dengan insidensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%.
Sedangkan menurut jenis kelamin insidensi laki-laki dan perempuan hampir sama,
yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Berdasarkan pola penyebab
kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan
proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab
kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia. Di Indonesia penyebab kematian
pneumonia (23,8%). Demikian pula penyebab kematian anak balita (usia 12-59
bulan), terbanyak adalah diare (25,2%) dan pneumonia (15,5%).
2.2.5 Gejala Diare
Gejala yang ditimbulkan akibat diare adalah (Depkes RI, 1994) :
1. Diare tanpa dehidrasi: mata normal dan air mata ada, keadaan umum baik dan
sadar, tidak merasa haus, mulut dan lidah basah.
2. Diare dengan dehidrasi ringan: mencret 3 kali sehari atau lebih, kadang-kadang
muntah, terasa haus, kencing sedikit, nafsu makan kurang, aktivitas menurun,
mata cekung, mulut dan lidah kering, gelisah dan mengantuk, nadi lebih cepat
dari normal, dan ubun-ubun cekung.
3. Diare dengan dehidrasi berat: mencretnya terus menerus, muntah lebih sering,
terasa sangat haus, tidak kencing, tidak ada nafsu makan, mata sangat cekung,
mulut sangat kering, nafas sangat cepat dan dalam, nadi sangat cepat, lemah
dan tidak teraba, ubun-ubun sangat cekung.
2.2.6 Patofisiologi Diare
Patofisiologi diare dapat dibagi dalam tiga macam kelainan pokok, yaitu :
a. Kelainan gerakan transmukosal air dan elektrolit
Gangguan reabsorpsi pada sebagian kecil usus halus sudah dapat
menyebabkan diare, contohnya pada kejadian infeksi.
b. Kelainan cepat laju bolus makanan di dalam lumen usus
Suatu proses absorpsi dapat berlangsung sempurna dan normal apabila bolus
keadaan yang cukup tercerna. Selain itu, waktu sentuhan yang adekuat antara
khim dan permukaan mukosa usus halus diperlukan untuk absorpsi normal.
c. Kelainan tekanan osmotik dalam lumen usus
Dalam beberapa keadaan tertentu setiap pembebanan usus yang melebihi
kapasitas pencernaan dan absorpsinya akan menimbulkan diare. Adanya
malabsorpsi dari karbohidrat, lemak, dan protein akan menimbulkan kenaikan
daya tekanan osmotik intraluminal sehingga akan dapat menimbulkan
gangguan absorpsi air.
2.2.7 Faktor-Faktor Resiko Diare
Faktor-faktor resiko diare adalah faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya
diare. Faktor-faktor resiko diare antara lain :
1. Host
a. Umur
Sebagian besar diare terjadi pada anak-anak, terutama usia antara 6 bulan
sampai 2 tahun. Diare juga umum terjadi pada bayi bawah 6 bulan yang minum susu
sapi atau susu formula (Depkes RI, 1995).
Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur
dengan insidensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%.4
Kejadian diare biasanya tinggi pada kelompok umur muda dan tua (balita dan
b . Jenis kelamin
Diare akut lebih sering terjadi pada bayi daripada anak yang lebih besar.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 insidensi diare menurut jenis kelamin
hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan.
c. Status Imunisasi
Berdasarkan laporan Ditjen PPM dan PLP tahun 2005 bahwa diare sering
timbul menyertai campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu, anak harus
segera diberi imunisasi campak setelah berumur 9 bulan.
d. ASI eksklusif
ASI Eksklusif adalah pemberian air susu ibu saja kepada bayi baru lahir
sampai bayi mencapai usia 6 bulan. Pemberian ASI penuh akan memberikan
perlindungan diare 4 kali dari pada bayi dengan ASI disertai susu botol. Bayi dengan
susu botol saja akan mempunyai risiko diare lebih berat dan bahkan 30 kali lebih
banyak daripada dengan ASI penuh.
e. Status Gizi
Serangan diare lebih lama dan lebih sering terjadi pada anak dengan
malnutrisi. Semakin sering dan semakin berat diare yang diderita, maka semakin
buruk keadaan gizi anak. Diare dapat terjadi pada keadaan kekurangan gizi, seperti
pada kwashiorkor, terutama karena gangguan pencernaan dan penyerapan makanan di
2. Agent
a. Diare karena virus
Diare karena virus disebabkan oleh Rotavirus dan Adenovirus. Virus ini
melekat pada sel-sel mukosa usus, akibatnya sel mukosa usus menjadi rusak sehingga
kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air maupun elektrolit meningkat.
b. Diare karena bakteri
Diare karena bakteri invasif memiliki tingkat kejadian yang cukup sering
tetapi akan berkurang dengan sendirinya dengan peningkatan sanitasi lingkungan di
masyarakat. Bakteri pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu kedalam
mukosa, terjadi perbanyakan diri sambil membentuk toksin. Mukosa usus yang telah
dirusak mengakibatkan mencret berdarah dan berlendir. Penyebab pembentukan
enterotoksin ialah bakteri E.coli, Shigella sp, Salmonella sp, dan Campylobacter sp.
c. Diare karena parasit
Diare karena parasit disebabkan oleh protozoa seperti Entamoeba histolytica
dan Giardia lamblia. Diare karena infeksi parasit biasanya bercirikan mencret cairan
yang berkala dan bertahan lebih dari satu minggu.
3. Lingkungan
a. Sanitasi lingkungan
Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup
sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, sarana pembuangan air limbah, sarana
pembuangan sampah. Status kesehatan suatu lingkungan yang buruk dapat
b. Personal higiene
Personal higiene sendiri dapat diartikan sebagai cara perawatan diri manusia
untuk memelihara kesehatan mereka secara fisik dan psikisnya. Dalam kehidupan
sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan
karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan
itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Jika seseorang sakit,
biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan, hal ini terjadi karena kita
menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut
dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum. Memelihara dan
memotong kuku dapat. Kebiasaan penduduk yang tidak mau mencuci tangan
menggunakan sabun sebelum melakukan aktifitasnya, serta perilaku lainnya yang
tidak mencerminkan pola hidup sehat dapat memungkinkan timbulnya diare.
c. Penyediaan air bersih
Penyediaan air bersih adalah upaya ketersediaan air bersih yang merupakan
milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan. Air bersih adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari – hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak lebih
dahulu, air minum sendiri diartikan sebagai air yang kualitasnya memenuhi syarat –
syarat kesehatan dan dapat diminum. Air yang tidak memenuhi syarat-syarat
kesehatan dapat memungkinkan terjadinya diare.
2.2.8. Mekanisme Diare
a. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi
b. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau
bakteri dalam jumlah yang besar. Bila tinja dihinggapi binatang kemudian binatang
hinggap dimakanan, makanan itu dapat menularkan diare kepada orang yang
memakannya.
c. Kontaminasi dari alat-alat rumah tangga yang tidak terjaga kebersihannya,
mencuci alat-alat rumah tangga tanpa menggunakan sabun.
2.2.9 Pencegahan Diare
2.2.9.1 Pencegahan Primer (Primary Prevention)
Pencegahan primer atau pencegahan tingkat pertama ini dilakukan pada masa
prepatogenesis dengan tujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap diare.
Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam pencegahan primer yaitu (Erlan,
1999):
A. Pemberian ASI
Ibu sebaiknya hanya memberikan air susu ibu untuk bayi mereka selama 4-6
bulan pertama, dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai 2 tahun atau
lebih, sambil memberikan makanan tambahan. Di negara-negara berkembang, bayi
yang mendapat ASI mempunyai angka kesakitan dan kematian yang secara bermakna
lebih rendah dibandingkan dengan yang diberikan susu formula.
B. Pemberian Makanan Pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai
dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut merupakan masa yang
berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat
menyebabkan kematian. Perilaku pemberian makanan pendamping ASI yang baik
meliputi perhatian kapan, apa dan bagaimana makanan pendamping ASI diberikan.
Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan
pendamping ASI yang lebih baik yaitu :
1. Memperkenalkan makanan lunak, ketika anak sudah berumur 6 bulan tetapi
masih meneruskan pemberian ASI. Menambahkan macam makanan sewaktu
anak berumur 6 bulan atau lebih. Memberikan makanan lebih sering (4 kali
sehari) setelah anak berumur 1 tahun , memberikan semua makanan yang
dimasak dengan baik 4-6 kali sehari dan meneruskan pemberian ASI bila
mungkin.
2. Menambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian
untuk energi. Menambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacang–
kacangan, buah-buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya.
3. Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta
menyuapi anak dengan sendok yang bersih.
4. Memasak atau merebus makanan dengan benar, menyimpan sisa makanan
pada tempat yang dingin dan memanaskan dengan benar sebelum diberikan
kepada anak.
C. Menggunakan Air Bersih Yang Cukup
Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai risiko
menderita diare lebih kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air
menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari
sumbernya sampai penyimpanan di rumah.
Hal-hal yang harus diperhatikan, antara lain :
1. Ambil air dari sumber air yang bersih
2. Simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung khusus
untuk mengambil air
3. Jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anak-anak
4. Minum air yang sudah matang (dimasak sampai mendidih)
5. Cuci semua peralatan masak dan peralatan makan dengan air yang bersih dan
cukup
D. Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam
penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun,
terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum
menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan,
mempunyai dampak dalam kejadian diare.
E. Menggunakan Jamban
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban
mempunyai dampak yang besar dalam penurunan risiko terhadap penyakit diare.
Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan keluarga harus
Hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
1. Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh
seluruh anggota keluarga.
2. Bersihkan jamban secara teratur.
3. Gunakan alas kaki bila akan buang air besar.
F. Membuang Tinja Bayi Yang Benar
Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi itu tidak berbahaya. Hal ini tidak
benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang
tuanya. Tinja bayi harus dibuang secara benar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
1. Kumpulkan segera tinja bayi dan buang di jamban
2. Bantu anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah di jangkau olehnya.
3. Bila tidak ada jamban, pilih tempat untuk membuang tinja seperti di dalam
lubang atau di kebun kemudian ditimbun.
4. Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangan dengan sabun.
G. Pemberian Imunisasi Campak
Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting untuk mencegah agar bayi
tidak terkena penyakit campak. Anak yang sakit campak sering disertai diare,
sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu
2.2.9.2 Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)
Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dan pengobatan yang tepat. Pada
pencegahan sekunder, sasarannya adalah mereka yang terkena penyakit diare. Upaya
yang dilakukan adalah (Erlan, 1999) :
a. Segera setelah diare, berikan penderita lebih banyak cairan daripada biasanya
untuk mencegah dehidrasi. Gunakan cairan yang dianjurkan, seperti larutan
oralit, makanan yang cair (sup, air tajin) dan kalau tidak ada berikan air
matang.
b. Jika anak berusia kurang dari 6 bulan dan belum makan makanan padat lebih
baik diberi oralit dan air matang daripada makanan cair.
c. Beri makanan sedikitnya 6 kali sehari untuk mencegah kurang gizi. Teruskan
pemberian ASI bagi anak yang masih menyusui dan bila anak tidak mendapat
ASI berikan susu yang biasa diberikan.
d. Segera bawa anak kepada petugas kesehatan bila tidak membaik dalam 3 hari
atau menderita hal berikut yaitu buang air besar cair lebih sering, muntah
berulang-ulang, rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, dengan atau
tinja berdarah.
e. Apabila ditemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain, maka
berikan pengobatan sesuai indikasi, dengan tetap mengutamakan rehidrasi.
2.2.9.3 Pencegahan Tertier (Tertiary Prevention)
Sasaran pencegahan tertier adalah penderita penyakit diare dengan maksud
dapat diakibatkan oleh diare adalah kurang gizi dan kematian. Kematian akibat diare
disebabkan oleh dehidrasi, yaitu kehilangan banyak cairan dan garam dari tubuh.
Diare dapat mengakibatkan kurang gizi dan memperburuk keadaan gizi yang
telah ada sebelumnya. Hal ini terjadi karena selama diare biasanya penderita susah
makan dan tidak merasa lapar sehingga masukan zat gizi berkurang atau tidak ada
sama sekali. Upaya yang dilakukan adalah (Erlan, 1999):
a. Pengobatan dan perawatan diare dilakukan sesuai dengan derajat dehidrasi.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan oleh petugas kesehatan dengan
menggunakan tabel penilaian derajat dehidrasi. Bagi penderita diare dengan
dehidrasi berat segera diberikan cairan intarvena dengan Ringer Laktat.
b. Berikan makanan secukupnya selama serangan diare untuk memberikan gizi
pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan.
c. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama dua
minggu untuk membantu pemulihan penderita.
2.2.10 Pengobatan Diare
Pengobatan diare dapat dilakukan dengan 2 terapi, yaitu (Wijoyo,2013):
a. Terapi Nonfarmakologi
1. Terapi Rehidrasi Oral
Bahaya utama diare terletak pada dehidrasi, maka penanggulangannya dengan
cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila terjadi dehidrasi.
Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengan
masyarakat ialah air kelapa, air susu ibu, air teh encer, air taji, air perasaan buah, dan
larutan gula dan garam. Pemakaian cairan ini di titikberatkan pada pencegahan
timbulnya dehidrasi, bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi oralit.
2. Oralit
Larutan oralit yang lama tidak dapat menghentikan diare. Hal ini disebabkan
formula oralit lama dikembangkan dari kejadian outbreak diare di Asia Selatan
terutama karena bakteri, menyebabkan berkurangnya lebih banyak elektrolit tubuh
terutama natrium, pada diare yang lebih banyak dijumpai belakangan ini dengan
tingkat sanitasi yang baik adalah diare karena virus. Karenanya, para ahli
mengembangkan formula baru dengan tingkat osmolaritas yang lebih rendah.
b. Terapi Farmakologi
Selain menggunakan cara pengobatan nonfarmakologi, pengobatan diare
menggunakan obat-obatan seperti loperamida, defenoksilat, kaolin, karbon adsorben,
2.3 Kerangka Konsep
Karakteristik Responden
1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Umur
4. Jenis Kelamin 5. Pengetahuan 6. Sikap
Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan
1. Ketersediaan Air
Bersih
2. Ketersediaan Jamban 3. Ketersediaan
Pengolahan Sampah
4. Ketersediaan Sarana
Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Personal Higiene
1. Memelihara dan memotong kuku tangan dan kuku kaki 2. Mencuci tangan
menggunakan sabun
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif yang bertujuan
menggambarkan karakteristik responden (pendidikan, pekerjaan, umur, pengetahuan,
dan sikap), ketersediaan sarana dan prasarana sanitasi lingkungan (ketersediaan
bersih, ketersediaan jamban, ketersediaan pengolahan sampah, ketersediaan Sarana
Pembuangan Air Limbah), dan personal higiene (memelihara dan memotong kuku
kaki dan kuku tangan, mencuci tangan menggunakan sabun) di Kelurahan Hamdan
Kecamatan Medan Maimun Kota Medan Tahun 2014.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun
Kota Medan. Adapun alasan pengambilan lokasi penelitian ini adalah :
1. Belum pernah dilakukan penelitian di daerah tersebut mengenai judul skripsi ini
2. Pada daerah ini masih sedikit warga yang mengetahui faktor resiko terjadinya
diare
3. Penyakit diare merupakan penyakit yang selalu terjadi pada setiap bulannya pada
wilayah ini
3.2.2Waktu Penelitian
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita diare di
Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun Kota Medan dalam kurun waktu
bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2014 yaitu 179 orang.
3.3.2 Sampel
n = N
1+N(d²)
dimana : N = besar populasi
n = besar sampel
d = tingkat kepercayaan/ ketetapan yang diinginkan (0.1)
maka : n = 179
1+179(0,1)²
n = 64,15
n = 64 orang
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling (acak
sederhana) di Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun Kota Medan (Azwar,
2003). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan daftar penderita diare
dari Puskesmas Kampung Baru Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun sejak
bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2014 untuk mengetahui responden yang akan
Sampel diambil secara sistematis dengan menentukan interval yaitu dengan
rumus :
I = N : n
dimana :
N = Jumlah populasi
n = Sampel
n = Interval
maka : I = 179 : 64
I = 2,79
I = 2
Maka populasi yang menjadi sampel adalah setiap responden yang
mempunyai kelipatan 2, yaitu 2, 4, 6, 8, dan seterusnya.
Jika di dalam satu rumah ditemukan lebih dari satu orang yang pernah terkena
diare, maka hanya di ambil satu orang saja. Jika di dalam satu rumah orang yang
pernah terkena diare adalah anak di bawah umur 18 tahun, maka yang akan diberikan
kuesioner adalah orang tua dari anak tersebut.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer yang diperoleh melalui wawancara langsung dan observasi
dengan menggunakan kuesioner pada masyarakat di Kelurahan Hamdan Kecamatan
Medan Maimun Kota Medan. Data primer antara lain karakteristik responden
(pendidikan, pekerjaan, umur, pengetahuan, dan sikap), ketersediaan sarana dan
sampah, ketersediaan Sarana Pembuangan Air Limbah), dan personal higiene
(memelihara dan memotong kuku tangan dan kuku kaki, mencuci tangan
menggunakan sabun).
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dengan melakukan pencatatan data-data dari instansi
yang terlibat berupa demografi penduduk dan batas wilayah.
3.5 Definisi Operasional
1. Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak
seperti biasanya yang disertai perubahan yang terjadi berupa perubahan
peningkatan volume, keenceran dan frekuensi dengan atau tanpa lender.
2. Personal higiene adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara
kesehatan mereka secara fisik dan psikisnya, contohnya : mencuci tangan
menggunakan sabun dan merawat kuku tangan dan kuku kaki.
3. Mencuci tangan menggunakan sabun adalah perilaku individu dalam upaya
membersihkan tangan dari kotoran dengan membasuh kedua tangan dengan
menggunakan air dan sabun.
4. Merawat kuku tangan dan kuku kaki adalah perilaku individu dalam menjaga
kebersihan kuku tangan dan kuku kaki dari kuman dan kotoran.
5. Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup
sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, sarana pembuangan air limbah,
sarana pembuangan sampah.
6. Penyediaan air bersih adalah upaya ketersediaan air bersih yang merupakan
7. Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran
manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher
angsa yang dilengkapi dengan septic tank .
8. Pengelolaan sampah adalah upaya pengelolaan sampah dengan upaya seperti
pengumpulan sampah, penyimpanan sampah, pembuangan sampah, dan
pembakaran sampah.
9. Pengelolaan air limbah adalah penghilangan kontaminan dari air limbah
rumah tangga.
10. Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang diperoleh seseorang pada
periode waktu tertentu pada suatu instansi yang resmi disahkan oleh
pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan tertentu yang ditandai
adanya ijazah setelah selesai pendidikan.
11. Pekerjaan adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan responden untuk
memperoleh uang dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
12. Umur adalah lamanya hidup responden yang dihitung dari sejak dilahirkan
sampai ulang tahun terakhir.
13. Pengetahuan adalah tingkat pemahaman responden mengenai diare.
3.6. Aspek Pengukuran
3.6.1 Karakteristik Responden
1. Pendidikan
Untuk mengetahui pendidikan responden diajukan 1 pertanyaan berbentuk
kuesioner. Penilaian terhadap jawaban responden dilakukan dengan memberikan nilai
1 jika responden menjawab pendidikan SD, nilai 2 jika responden menjawab SMP, nilai 3 untuk responden yang menjawab SMA, dan memberikan nilai 4 kepada
responden yang menjawab PT. Tingkat pendidikan berdasarkan skala ordinal.
2. Pekerjaan
Untuk mengetahui pekerjaan responden diajukan 1 pertanyaan berbentuk
kuesioner. Diberikan nilai 1 apabila responden menjawab bekerja dan nilai 0 bila
tidak bekerja. Pekerjaan berdasarkan skala nominal.
3. Pengetahuan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang diare diajukan 10
pertanyaan dalam kuesioner. Penilaian terhadap jawaban responden dilakukan dengan
memberikan nilai 1 jika responden menjawab dengan benar, jika responden
menjawab salah maka diberikan nilai 0. Penilaian akan dibagi menjadi 3 kategori
berdasarkan skor yaitu : kategori baik dengan skor 7-10, kategori sedang dengan skor
4-6, dan kategori buruk dengan skor 0-3.
Jawaban pilihan a untuk soal nomor 3, 4, 6, 7, dan 8, jawaban pilihan b untuk
4. Sikap
Untuk mengetahui sikap responden tentang pemberantasan dan pencegahan
diare dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi diare diajukan 10
pernyataan. Masing-masing jawaban akan diberikan skor. Pernyataan 1-5 akan
diberikan skor 5 untuk jawaban sangat setuju, 4 untuk jawaban setuju, 3 untuk
jawaban ragu-ragu, 2 untuk jawaban tidak setuju, dan 1 untuk jawaban sangat tidak
setuju. Sebaliknya untuk pernyataan 6-10 akan diberikan skor 5 untuk jawaban sangat
tidak setuju, 4 untuk jawaban tidak setuju, 3 untuk jawaban ragu-ragu, 2 untuk
jawaban setuju, dan 1 untuk jawaban sangat setuju. Skor yang di dapat kemudian
dijumlahkan dan akan dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu kategori baik untuk skor >35,
kategori sedang untuk skor 20-35, dan kategori buruk untuk skor <20.
3.6.2 Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan
Penelitian sanitasi lingkungan menggunakan Kepmenkes RI Nomor
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan, yang terdiri dari
2 kriteria yaitu sehat apabila skor ≥ 334 dan tidak sehat apabila skor < 334. Adapun
komponen yang dinilai dihitung berdasarkan rumus nilai x bobot dengan ketentuan
sebagai berikut:
1. Sarana air bersih yaitu ada, milik sendiri, tidak berbau, tidak berwarna, tidak
berasa dengan skor 100
2. Jamban yaitu ada leher angsa, septik tank dengan skor 100
3. Sarana pembuangan air limbah yaitu ada , dialirkan keselokan tertutup untuk
diolah lebih lanjut dengan skor 100
3.6.3 Personal Higiene
1. Memelihara dan Memotong kuku tangan dan kuku kaki
Pengukuran variabel kebersihan kuku menggunakan lembar observasi yang
terdiri dari keadaan kuku dan kebersihan kuku.
Pada keadaan kuku, skor 0 untuk keadaan panjang dan skor 2 untuk keadaan
pendek, sedangkan pada kebersihan kuku, skor 0 untuk keadaan kotor dan skor 2
untuk keadaan bersih.
Variabel sanitasi lingkungan dikategorikan menjadi 2 yaitu :
a. Baik, jika skor yang diperoleh responden 6-8
b. Buruk, jika skor yang diperoleh responden 0-5
2. Mencuci tangan menggunakan sabun
Pengukuran variabel mencuci tangan menggunakan sabun menggunakan
kuesioner sebanyak 5 pertanyaan. Skor 2 untuk jawaban Ya dan skor 0 untuk jawaban
tidak. Variabel sanitasi lingkungan dikategorikan menjadi 2 yaitu :
a. Baik, jika skor yang diperoleh responden 5-10
b. Buruk, jika skor yang diperoleh responden 0-4
3.7 Teknik Pengolahan Data
Data diolah dengan cara :
1. Tabulating, yaitu memasukkan data yang sudah dikelompokkan kedalam
tabel-tabel
2. Editing, yaitu proses memeriksa data yang sudah dikumpulkan, meliputi
kelengkapan isian, keterbacaan, tulisan, kejelasan jawaban, relevansi jawaban,
3. Coding, yaitu kegiatan memberikan kode pada setiap data yang terkumpul di
setiap instrumen penelitian. Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan dalam
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Penelitian
Kelurahan Hamdan berada di Kecamatan Medan Maimun Kota Medan,
dengan batas wilayah sebagai berikut :
- Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Sukaraja dan Kelurahan Aur
Kecamatan Medan Maimun
- Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Madrashulu Kecamatan Medan Petisah
- Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Jati Kecamatan Medan Maimun
- Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Jati Kecamatan Medan Maimun dan
Kelurahan Madrashulu Kecamatan Medan Petisah
Luas Kelurahan Hamdan adalah 525.000 m², yang terdiri dari 10 lingkungan. Jumlah
penduduk di kelurahan ini adalah sebanyak 9.337 jiwa dengan jumlah laki-laki