Tingkat Pengetahuan Ibu yang Berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan Tentang Kejang Demam pada Anak

96  15  Download (0)

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

TINGKAT PENGETAHUAN IBU YANG BERKUNJUNG KE POLIKLINIK ANAK RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TENTANG

KEJANG DEMAM PADA ANAK

Oleh:

SAKTHY VICKNES A/P SHANMUGAM 110100400

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

TINGKAT PENGETAHUAN IBU YANG BERKUNJUNG KE POLIKLINIK ANAK RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TENTANG

KEJANG DEMAM PADA ANAK

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh:

SAKTHY VICKNES A/P SHANMUGAM 110100400

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

ABSTRAK

Latar belakang: Kejang demam adalah penyakit yang paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan umur 3 bulan sampai 5 tahun. Pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai kejang demam adalah penting untuk mencegah terjadinya kejang demam pada anak. Namun, tingkat pemahaman dan pegetahuan ibu mengenai kejang demam masih rendah terutama tentang penanganan kejang demam pada anak.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini adalah 100 orang ibu yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Penelitian ini dilaksanakan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Seterusnya, penelitian ini dianalisis menggunakan statistik deskriptif.

Hasil: Dari 100 orang responden, 45 orang (45.0%) mempunyai pengetahuan baik, pada kategori cukup adalah sebanyak 37 orang (37.0%) dan kategori kurang adalah 18 orang (18.0%). Dari hasil penelitian ini, mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan baik dengan sebagian besar berpendidikan perguruan tinggi/akademi dan paling banyak responden mendapatkan sumber informasi tentang kejang demam dari tenaga kesehatan.

Kesimpulan: Tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak adalah baik. Kebanyakan responden mengetahui penyebab, gejala klinis, faktor risiko dan penanganan kejang demam pada anak.

(5)

ABSTRACT

Background: Febrile seizures are the most common disease in children, especially in the age group of 3 months to 5 years. Mother's knowledge and awareness regarding febrile seizures is important to prevent the occurrence of febrile seizures in children. However, the level of understanding and knowledge of mothers about febrile seizures is still low, especially on the management of febrile seizures in children.

Objective: This study aimed to determine the level of mother’s knowledge of febrile seizures in children.

Methods: Descriptive study was chosen in this study with cross-sectional study research design. Population and sample of this research are 100 mothers who visited the Children Polyclinic Hospital Haji Adam Malik Medan. Sampling was done using consecutive sampling. This research was conducted through interviews and giving questionnaire to mothers. Furthermore, this study analysed using descriptive statistics.

Results: The research of 100 respondents, 45 peoples (45.0%) had good knowledge, in the category of moderate is as much as 37 peoples (37.0%) and less category is 18 peoples (18.0%).From these results, the majority of respondents have a good knowledge level which most of them are college educated / academy and most of the respondents acquired information about febrile seizures from health workers.

Conclusion: The knowledge of mothers about febrile seizures in children were categorized good. Most respondents know the causes, clinical symptoms, risk factors and treatment of febrile seizures in children.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kasih dan kurnia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Tingkat Pengetahuan Ibu yang Berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan Tentang Kejang Demam pada Anak”.

Dalam pelaksanaan penelitian ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada:

1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp. PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Lily Irsa Sp.A (K) selaku dosen pembimbing penulis. Terima kasih atas segala bimbingan, ilmu, dan waktu yang diluangkan untuk membimbing penulis.

3. Dosen penguji 1, dr.Parluhutan Siagian, M.Ked (Paru) dan Dosen Penguji 2, dr.Tetty Aman Nasution,M.Med.Sc. telah menolong membaiki dan memberi saranan tentang penulisan ini.

4. Pihak RSUP Haji Adam Malik Medan yang telah memberi izin penelitian kepada saya untuk melakukan survei penelitian di rumah sakit tersebut. 5. Orang tua penulis yang membantu memberikan dukungan buat penulis. 6. Pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas

segala bantuan yang telah diberikan.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar penulis dapat lebih baik dalam bidang penelitian ke depannya kelak. Semoga ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 8 Desember 2014, Peneliti,

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL………. 14

3.1. Kerangka Konsep Penelitian... 14

3.2. Definisi Operasional dan Variabel…...………. 14

3.2.1. Tingkat Pengetahuan tentang kejang demam………. 14

(8)

BAB 4 METODE PENELITIAN……… 18

4.1. Jenis Penelitian………... 18

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 18

4.2.1. Waktu Penelitian ... 18

4.2.2. Tempat Penelitian... 18

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 18

4.3.1. Populasi ... 18

4.3.2. Sampel ... 18

4.3.3 Besar Sampel……… 19

4.4. Teknik Pengumpulan Data ... 20

4.4.1. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 20

4.5. Pengolahan dan Analisa Data ... 21

4.6. Etika Penelitian………. 22

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………... 23

5.1. Hasil penelitian………. 23

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian………... 23

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden……… 23

5.1.3. Pengetahuan Responden………. 25

5.1.4. Pengetahuan Responden Mengenai Kejang Demam …….……… 25

5.1.5. Sumber Informasi Mengenai Kejang Demam Pada Anak….……. 28

5.1.6. Tingkat Pengetahuan Menurut Karakteristik Responden..………. 30

5.2. Pembahasaan……….…...31

5.2.1. Tingkat Pengetahuan………31

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN……… 36

6.1. Kesimpulan………..36

6.2. Saran………36

(9)

DAFTAR SINGKATAN

ATP Adenosine triphosphate

CRH Corticotropin releasing hormone

CSF Cerebrospinal fluid

EEG Elektroensefalografi (EEG) GABA Gamma Amino Buteric Acid

ILAE The International League Againsts Epilepsy

ISK Infeksi saluran kemih

ISPA Infeksi saluran pernafasan akut MRI Magnetic resonance imaging

NIH National Institutes of health Consensus Conference

NSAID Nonsteroidal anti-inflammatory drugs

OMA Otitis media akut

PCR Polymerase chain reaction

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Table 3.1. Variabel, Cara Ukur, Alat Ukur, Hasil Ukur, dan Skala Ukur 15 Tabel 4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 21 Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Dasar Responden 24 Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Pengetahuan 25 Responden Mengenai Kejang Demam Pada Anak

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden 26 Pada Variabel Pengetahuan

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi tentang Sumber Informasi tentang 29 Kejang Demam Pada Anak

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Riwayat Hidup

Lampiran 2 Lembar Penjelasan Subjek Penelitian

Lampiran 3 Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Inform Consent) Lampiran 4 Kuesioner Penelitian

Lampiran 5 Lembar Ethical Clearance

Lampiran 6 Surat Izin Penelitian

(13)

ABSTRAK

Latar belakang: Kejang demam adalah penyakit yang paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan umur 3 bulan sampai 5 tahun. Pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai kejang demam adalah penting untuk mencegah terjadinya kejang demam pada anak. Namun, tingkat pemahaman dan pegetahuan ibu mengenai kejang demam masih rendah terutama tentang penanganan kejang demam pada anak.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini adalah 100 orang ibu yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Penelitian ini dilaksanakan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Seterusnya, penelitian ini dianalisis menggunakan statistik deskriptif.

Hasil: Dari 100 orang responden, 45 orang (45.0%) mempunyai pengetahuan baik, pada kategori cukup adalah sebanyak 37 orang (37.0%) dan kategori kurang adalah 18 orang (18.0%). Dari hasil penelitian ini, mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan baik dengan sebagian besar berpendidikan perguruan tinggi/akademi dan paling banyak responden mendapatkan sumber informasi tentang kejang demam dari tenaga kesehatan.

Kesimpulan: Tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak adalah baik. Kebanyakan responden mengetahui penyebab, gejala klinis, faktor risiko dan penanganan kejang demam pada anak.

(14)

ABSTRACT

Background: Febrile seizures are the most common disease in children, especially in the age group of 3 months to 5 years. Mother's knowledge and awareness regarding febrile seizures is important to prevent the occurrence of febrile seizures in children. However, the level of understanding and knowledge of mothers about febrile seizures is still low, especially on the management of febrile seizures in children.

Objective: This study aimed to determine the level of mother’s knowledge of febrile seizures in children.

Methods: Descriptive study was chosen in this study with cross-sectional study research design. Population and sample of this research are 100 mothers who visited the Children Polyclinic Hospital Haji Adam Malik Medan. Sampling was done using consecutive sampling. This research was conducted through interviews and giving questionnaire to mothers. Furthermore, this study analysed using descriptive statistics.

Results: The research of 100 respondents, 45 peoples (45.0%) had good knowledge, in the category of moderate is as much as 37 peoples (37.0%) and less category is 18 peoples (18.0%).From these results, the majority of respondents have a good knowledge level which most of them are college educated / academy and most of the respondents acquired information about febrile seizures from health workers.

Conclusion: The knowledge of mothers about febrile seizures in children were categorized good. Most respondents know the causes, clinical symptoms, risk factors and treatment of febrile seizures in children.

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Selain itu, kejang demam ini paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu (Soetomenggolo, 1999). Kejang jenis ini merupakan paling umum dan terjadi pada 2% sampai 5% dari golongan anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun, terutama pada usia 2 tahun (Seinfeld dan Pellock, 2013).

Menurut The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993), definisi kejang demam adalah kejang yang terjadipada masa anak-anak setelah usia satu bulan, yang dikaitkan dengan terjadinya penyakit demam yang tidak disebabkan oleh infeksi sistem saraf pusat (SSP). Anak dengan diagnosis kejang demam tidak memiliki riwayat kejang neonatal sebelumnya, kejang tak beralasan sebelumnya atau memenuhi kriteria untuk kejang simtomatik akut lainnya. Definisi yang dinyatakan oleh National Institutes of Health Consensus Conference (1980), adalah mirip dengan ILAE kecuali bahwa batas umur yang lebih tinggi dari definisi ILAE. Kejang demam yang didefinisikan oleh NIH adalah bangkitan yang biasanya terjadi antara 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam, tetapi tanpa bukti infeksi intrakranial atau penyebab yang jelas.

(16)

Sekitar 30% dari pasien kejang demam yang mengalami kekambuhan adalah yang berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Menurut Nelson dan Ellenberg, dalam waktu enam bulan pertama, sebanyak 50% anak-anak mengalami kejang demam kedua, 75% dalam waktu satu tahun dan 90% dalam waktu dua tahun dari episode pertama. Dari seluruh populasi umum, sebanyak 2% sampai 7% anak-anak yang mengalami kejang demam berkemungkinan besar mengalami epilepsi (Siqueira, 2010). Lumbantobing telah melaporkan bahwa 5 (6,5%) di antara pasien kejang demam di indonesia menjadi epilepsi (Soetomenggolo, 1999).

Secara epidemiologi, kejadian kejang demam terjadi tiap tahun di Amerika, hampir sebanyak 1,5 juta dan sebagian besar lebih sering terjadi pada anak berusia 6 hingga 36 bulan (2 tahun), terutama pada usia 18 bulan. Insidensi kejadian kejang demam berbeda di berbagai negara. Angka kejadian kejang demam per tahun mencatat 2-4% di daerah Eropa Barat dan Amerika, sebesar 5-10% di India dan 8,8% di Jepang. Kejang demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam (Gunawan dan Saharso, 2012).

(17)

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimanakah tingkat pengetahuan ibu yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik tentang kejang demam pada anak?

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengetahuan ibu tentang penyebab kejadian kejang demam pada anak.

2. Mengetahui pengetahuan ibu mengenai gejala-gejala kejang demam pada anak.

3. Mengetahui pengetahuan ibu tentang faktor risiko kejang demam pada anak. 4. Mengetahui pengetahuan ibu tentang penanganan kejang demam pada anak. 5. Mengetahui sumber informasi tentang kejang demam yang didapatkan ibu.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:

1. Sebagai pengalaman bagi peneliti dan memberi pengetahuan terperinci tentang kejang demam pada anak.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihak rumah sakit mengenai kejadian kejang demam.

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kejang Demam

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38˚C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat, gangguan elektrolit atau metabolik lain (Saharso et al., 2009).

2.2. Etiologi

Menurut Lumban Tobing (2005), etiologi kejang demam adalah:

1. Demam itu sendiri, demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, otitis media, pneumonia, gastroentritis dan infeksi saluran kemih.

2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme.

3. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi. 4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.

5. Ensefalitis viral ( radang otak akibat virus ) yang ringan

2.3. Klasifikasi

The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology

and Prognosis, 1993), membuat klasifikasi kejang demam pada anak menjadi dua yaitu kejang demam sederhana (simple febrile seizure) dan kejang demam kompleks (complex febrile seizure).

1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)

(19)

Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam (Saharto et al., 2009).

2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)

Kejang demam yang berlangsung selama lebih dari 15 menit, kejang yang berbentuk fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial. Kejang demam jenis ini berulang lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam (Saharto et al., 2009).

2.4. Faktor Risiko

Faktor utama timbul bangkitan kejang demam adalah demam. Perubahan kenaikan temperatur tubuh (suhu rektal >38°C) berpengaruh terhadap nilai ambang kejang dan eksitabilitas neural, karena kenaikan suhu tubuh berpengaruh pada kanal ion dan metabolisme seluler serta produksi ATP. Setiap kenaikan suhu tubuh 1˚C akan meningkatkan metabolisme karbohidrat 10% -15%, sehingga dengan adanya peningkatan suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukosa dan oksigen. Pada demam tinggi akan mengakibatkan hipoksia jaringan termasuk jaringan otak. Kenaikan suhu tubuh yang mendadak menyebabkan kenaikan kadar asam glutamat dan menurunkan kadar glutamin. Perubahan glutamin menjadi asam glutamat dipengaruhi oleh kenaikan suhu tubuh. Asam glutamat merupakan eksitator, sedangkan GABA sebagai inhibitor yang tidak dipengaruhi oleh kenaikan suhu tubuh yang mendadak (Fuadi et al., 2010).

Faktor genetik juga merupakan salah satu faktor terjadinya kejang demam pada anak. Ditemukan pada 25-40% kasus bahwa seorang anak yang mengalami kejang demam mempunyai riwayat keluarga yang pernah menderita kejang demam (Seinfeld dan Pellock, 2013).

(20)

meyebabkan perubahan stuktur kecil di otak. Merokok dapat menyebabkan peningkatan risiko kejang demam melalui perkembangan otak yang tidak optimal (Visser et al., 2010).

Seterusnya adalah faktor usia, sebagian besar kejadian kejang demam adalah pada usia kurang dari dua tahun. Pada usia ini, keadaan otak belum matang reseptor untuk asam glutamat. Sebaliknya reseptor GABA (Gamma Amino Buteric Acid) sebagai inhibitor kurang aktif, sehingga otak yang belum matang eksitasi lebih dominan dibanding inhibisi corticotropin releasing hormone (CRH) yang merupakan neuropeptida eksitator, berpotensi sebagai prokonvulsan. Pada otak yang belum matang kadar CRH tinggi dan berpotensi untuk terjadi bangkitan kejang apabila terpicu oleh demam (Fuadi et al., 2010).

2.5. Manifestasi klinis

Tanda- tanda kejang demam meliputi: 1. Demam yang biasanya di atas (38,9 º C). 2. Jenis kejang (menyentak atau kaku otot).

3. Gerakan mata abnormal (mata dapat berputar-putar atau ke atas). 4. Suara pernapasan yang kasar terdengar selama kejang.

5. Penurunan kesadaran.

6. Kehilangan kontrol kandung kemih atau pergerakan usus. 7. Muntah.

8. Dapat menyebabkan mengantuk atau kebingungan setelah kejang dalam waktu yang singkat (Lyons, 2012).

2.6. Patofisiologi

(21)

lepasan muatan listrik. Lepasan muatan listrik ini dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung pada tinggi atau rendahnya ambang kejang seseorang anak pada kenaikan suhu tubuhnya. Kebiasaannya, kejadian kejang pada suhu 38ºC, anak tersebut mempunyai ambang kejang yang rendah, sedangkan pada suhu 40º C atau lebih anak tersebut mempunyai ambang kejang yang tinggi. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah (Latief et al., 2007).

2.7. Diagnosis 2.7.1. Anamnesis

Anamnesis yang baik dapat membantu menegakkan diagnosis kejang demam. Perlu ditanyakan kepada orangtua atau pengasuh yang menyaksikan anaknya semasa kejang yang berupa:

1. Jenis kejang, lama kejang, kesadaran (kondisi sebelum, diantara, dan setelah kejang)

2. Suhu sebelum atau saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak selepas kejadian kejang

3. Penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), infeksi saluran kemih (ISK), otitis media akut (OMA), dan lain-lain)

4. Riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan apakah sebelumnya pernah mengalami kejang dengan demam atau tanpa demam, riwayat perkembangan (gangguan neurologis), perlu ditanyakan pola tumbuh kembang anak apakah sesuai dengan usianya, riwayat penyakit keluarga perlu digali riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga.

(22)

2.7.2. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik, nilai keadaan umum dan kesadaran anak, apakah terdapat penurunan kesadaran. Setelah itu dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital terutamanya suhu tubuh, apakah tedapat demam, yang dapat dilakukan di beberapa tempat seperti pada axilla, rektal dan telinga. Pada anak dengan kejang demam penting untuk melakukan pemeriksaan neurologis, antara lain:

1. Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, Kernique, Laseque, Brudzinski I dan Brudzinski II.

2. Pemeriksaan nervus kranialis.

3. Tanda peningkatan tekanan intrakranial: ubun ubun besar (UUB) membonjol, papil edema.

4. Tanda infeksi di luar SSP: ISPA, OMA, ISK dan lain lain.

5. Pemeriksaan neurologis: tonus, motorik, reflek patologis dan fisiologis (Saharso et al., 2009).

2.7.3. Pemeriksaan penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam mengevaluasi kejang demam, diantaranya sebagai berikut.

1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan ini tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit, gula darah dan urinalisis (Saharso et al., 2009). Selain itu, glukosa darah harus diukur jika kejang lebih lama dari 15 menit dalam durasi atau yang sedang berlangsung ketika pasien dinilai (Farrell dan Goldman, 2011).

(23)

Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pungsi lumbal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasein kejang demam pertama (Soetomenggolo, 1999). Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk bayi kurang dari 12 bulan, bayi antara 12 - 18 bulan dianjurkan untuk dilakukan dan bayi > 18 bulan tidak rutin dilakukan pungsi lumbal. Pada kasus kejang demam hasil pemeriksaan ini tidak berhasil (UKK Neurologi IDAI, 2006).

3. Elektroensefalografi (EEG)

Pemeriksaan ini tidak direkomendasikan setelah kejang demam sederhana namun mungkin berguna untuk mengevaluasi pasien kejang yang kompleks atau dengan faktor risiko lain untuk epilepsi (Johnston, 2007). EEG pada kejang demam dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral, sering asimetris dan kadang-kadang unilateral (Soetomenggolo, 1999).

4. Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala)

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan

(CT-scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan dan dilakukan jika ada indikasi seperti kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefali, spastisitas), terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun, muntah berulang, UUB membonjol, paresis nervus VI, edema papil). (Saharso et al., 2009)

2.8. Penatalaksanaan 2.8.1. Terapi farmakologi

(24)

Obat yang dapat diberikan oleh orangtua atau di rumah adalah diazepam rektal. Dosisnya sebanyak 0,5-0,75 mg/kg atau 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang daripada 10 kg dan 10 mg untuk anak yang mempunyai berat badan lebih dari 10 kg. Selain itu, diazepam rektal dengan dosis 5 mg dapat diberikan untuk anak yang dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun. Apabila kejangnya belum berhenti, pemberian diapezem rektal dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Anak seharusnya dibawa ke rumah sakit jika masih lagi berlangsungnya kejang, setelah 2 kali pemberian diazepam rektal. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg (UUK Neurologi IDAI, 2006).

Jika kejang tetap belum berhenti, dapat diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/ kg/ kali dengan kecepatan 1 mg/ kg/ menit atau kurang dari 50 mg/menit. Sekiranya kejang sudah berhenti, dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/ kg/ hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Jika kejang belum berhenti dengan pemberian fenitoin maka pasien harus dirawat di ruang intensif. Setelah kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam, apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya (UUK Neurologi IDAI, 2006).

Seterusnya, terapi antipiretik tidak mencegah kejang kekambuhan. Kedua parasetamol dan NSAID tidak mempunyai manfaatnya untuk mengurangi kejadian kejang demam. Meskipun mereka tidak mengurangi risiko kejang demam, antipiretik sering digunakan untuk mengurangi demam dan memperbaiki kondisi umum pasien. Dalam prakteknya, kita menggunakan metamizole (dipirone), 10 sampai 25 mg/ kg/ dosis sampai empat dosis harian (100 mg/ kg/ hari), parasetamol 10 sampai 15 mg/ kg/ dosis, juga sampai empat dosis harian (sampai 2,6 g/hari) dan pada anak-anak di atas usia enam bulan, diberikan ibuprofen sebanyak 5 sampai 10 mg/ kg/ dosis dalam tiga atau empat dosis terbagi (sampai 40 mg/ kg/ hari pada anak-anak dengan berat kurang dari 30 kg dan 1200 mg). (Siqueira, 2010)

(25)

menit, kelainan neurologi yang nyata sebelum atau selapas kejadian kejang misalnya hemiparesis, paresis Todd, palsi serebal, retardasi mental dan hidrosefalus, dan kejadian kejang fokal. Pengobatan rumat dipertimbangkan jika kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam, kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan dan kejang demam berlangsung lebih dari 4 kali per tahun. Obat untuk pengobatan jangka panjang adalah fenobarbital (dosis 3-4 mg/ kgBB/ hari dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/ kgBB/ hari dibagi 2-3 dosis). Dengan pemberian obat ini, risiko berulangnya kejang dapat diturunkan dan pengobatan ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian secara bertahap selama 1-2 bulan (Saharso et al., 2009).

2.8.2. Terapi non-farmakologi

Tindakan pada saat kejang di rumah, (Ngastiyah, 2005, Mahmood et al., 2011 dan Capovilla et al., 2009):

1. Baringkan pasein di tempat yang rata.

2. Singkirkan benda-benda yang ada di sekitar pasein.

3. Semua pakaian ketat yang mengganggu pernapasan harus dibuka misalnya ikat pinggang.

4. Tidak memasukkan sesuatu banda ke dalam mulut anak. 5. Tidak memberikan obat atau cairan secara oral.

5. Jangan memaksa pembukaan mulut anak. 6. Monitor suhu tubuh.

7. Pemberikan kompres dingin dan antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi.

8. Posisi kepala seharusnya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung. 9. Usahakan jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen.

10. Menghentikan kejang secepat mungkin dengan pemberian obat antikonvulsan yaitu diazepam secara rektal.

(26)

2. Siapkan akses vena.

3. Monitor parameter vital (denyut jantung, frekuensi napas, tekanan darah, SaO2).

4. Berikan oksigen, jika perlu (SaO2 <90%)

5. Mengadministrasikan bolus intravena diazepam dengan dosis 0,5 mg/kg pada kecepatan infus maksimal 5 mg/menit, dan menangguhkan ketika kejang berhenti. Dosis ini dapat diulang jika perlu, setelah 10 menit.

6. Memantau kelebihan elektrolit dan glukosa darah.

7. Jika kejang tidak berhenti, meminta saran seorang spesialis (ahli anestesi, ahli saraf) untuk pengobatan.

2.9. Edukasi

Orangtua seharusnya dalam keadaan tenang dan tidak panik serta tetap bersama pasien selama kejang. Kebanyakan orangtua menganggap bahawa anaknya akan meninggal pada saat kejang. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara memberi edukasi pada orangtua pasien kejang demam yang diantaranya:

1. Memberi keyakinan pada orangtua bahwa kejang demam memiliki prognosis yang baik.

2. Memberitahu cara penanganan.

3. Memberi informasi kemungkinan rekurensi kejang.

4. Jelaskan serinci mungkin kejadian kejang demam seperti insiden, hubungan dengan usia, tingkat kekambuhan, kejadian dalam ketiadaan relatif kerusakan otak, perbedaan dari epilepsi, risiko epilepsi berikutnya dan prognosisnya (UKK Neurologi IDAI, 2006 dan Capovilla et al., 2009).

2.10. Pengetahuan

(27)

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan merupakan hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Overt Behavior).

Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu:

a. Tahu (know) adalah mengingat kembali (recall) suatu materi yang telah dipelajari sebelumnnya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang telah dipelajari adalah menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension) adalah sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat meginterprestasi materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Application) adalah diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitnya satu sama lain. Analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

(28)

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak dan berikut adalah kerangka konsepnya:

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak.

3.2. Definisi Operasional dan Variabel

Definisi Operasional dari penelitian perlu dijabarkan untuk menghindari perbedaan persepsi dalam menginterpretasikan masing-masing variabel penelitian. Variabel pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak. Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

3.2.1. Tingkat Pengetahuan tentang kejang demam Ibu yang berkunjung ke

Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik

(29)

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak dan berikut adalah kerangka konsepnya:

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak.

3.2. Definisi Operasional dan Variabel

Definisi Operasional dari penelitian perlu dijabarkan untuk menghindari perbedaan persepsi dalam menginterpretasikan masing-masing variabel penelitian. Variabel pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak. Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

3.2.1. Tingkat Pengetahuan tentang kejang demam Ibu yang berkunjung ke

Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik

(30)

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh ibu mengenai penyebab, gejala-gejala, faktor risiko dan penanganan kejang demam pada anak.

Tabel 3.1. Variabel, Cara Ukur, Alat Ukur, Hasil Ukur, dan Skala Ukur

3.3. Cara Ukur Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan responden diukur melalui 15 pertanyaan yang akan menilai tingkat pengetahuan ibu mengenai kejang demam pada anak. Lembar kuesioner ini akan diberikan kepada ibu yang memiliki anak. Masing-masing pertanyaan memiliki satu jawaban benar dengan total skor sebanyak 30 dari 15 pertanyaan tersebut,

a) Benar diberi nilai 2 b) Tidak Benar diberi nilai 1 c) Tidak tahu diberi nilai 0

Setelah 15 pertanyaan yang ditujukan kepada ibu telah dijawab, skornya dihitung dan peneliti akan menentukan tingkat pengetahuan ibu mengenai kejang demam pada anak dengan skala pengukuran:

a) Skor > 22 : Baik b) Skor 17-22: Cukup

No Variabel Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1. Pengetahuan Wawancara Kuesioner 1: Baik

2: Cukup 3: Kurang

(31)

c) Skor < 17 : Kurang

Menurut Arikunto (2006), tingkat pengetahuan responden dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif seperti berikut:

1) Tingkat pengetahuan baik, apabila jawaban responden benar 76%- 100% dari nilai tertinggi, yaitu skor > 22

2) Tingkat pengetahuan cukup, apabila jawaban responden benar antara 56%-75% dari nilai tertinggi, yaitu skor antara 17-22

3) Tingkat pengetahuan kurang, apabila jawaban responden benar < 56% dari nilai tertinggi, yaitu skor < 17

Tingkat pengetahuan responden menurut kategori berikut:

1) Pengetahuan umum tentang kejang demam yang terdiri dari 2 pertanyaan: a) Pengetahuan baik, apabila responden menjawab benar pada 2

pertanyaan.

b) Pengetahuan cukup, apabila responden menjawab benar pada 1 pertanyaan.

c) Pengetahuan kurang, apabila responden menjawab benar pada 0 pertanyaan.

2) Gejala klinis kejang demam yang terdiri dari 2 pertanyaan:

a) Pengetahuan baik, apabila responden menjawab benar pada 2 pertanyaan.

b) Pengetahuan cukup, apabila responden menjawab benar pada 1 pertanyaan.

c) Pengetahuan kurang, apabila responden menjawab benar pada 0 pertanyaan.

(32)

a) Pengetahuan baik, apabila responden menjawab benar pada 2 pertanyaan.

b) Pengetahuan cukup, apabila responden menjawab benar pada 1 pertanyaan.

c) Pengetahuan kurang, apabila responden menjawab benar pada 0 pertanyaan.

4) Penangganan kejang demam yang terdiri dari 7 pertanyaan:

a) Pengetahuan baik, apabila responden menjawab benar pada 5-7 pertanyaan.

b) Pengetahuan cukup, apabila responden menjawab benar pada 3-4 pertanyaan.

(33)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif, cross-sectional study, dimana data yang akan dikumpulkan bertujuanuntukmengetahuitingkatpengetahuanibu yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan tentangkejangdemampadaanak.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Penelitianinitelah dijalankan mulai pada bulan September hingga November 2014.

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitianinidilaksanakan di Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasidalampenelitianiniadalahsemuaibu yang berkunjungke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3.2. Sampel

(34)

datang dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi.

Kriteriainklusiadalahsebagaiberikut: 1. Ibu yang mampumembacadanmenulis 2. Ibu yang mampuberkomunikasidenganbaik

Kriteriaeksklusipadapenelitianini:

1. Ibu yang tidak menjawab kuesioner dengan lengkap

4.3.3. Besar sampel

Penentuan besarnya sampel dihitung dengan berdasarkan rumus estimasi data proporsi populasi infinit seperti berikut:

n = d²

Zα²PQ

Keterangan :

n = besar sampel minimum

Zα = tingkat kemaknaan yang ditetapkan oleh peneliti P = proporsi di populasi

Q = (1-P)

d = tingkat kesalahan absolut yang dikehendaki

(35)

n = d²

Zα²PQ

n =

(0.1)² (1,96) ² (0.5) (0.5)

n = 96.04 n ≈ 100

Berdasarkan perhitungan diatas, maka besar sampel yang diperlukan adalah 96,04 orang dan dibulatkan menjadi 100 orang.

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dari penelitian ini berupa data primer, yaitu data yang langsung diambil dari sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berada di Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan.

Prosedurpengumpulan data dalampenelitianiniadalahdenganmenggunakanmetodeangketyang berupakuesioner

yang terdiridaripada 15 pertanyaanmengenaitingkatpengetahuanibumengenaikejangdemam. Setelah

sampel penelitian mengisi kuesioner dengan lengkap, peneliti menerima kembali kuesioner tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data dari seluruh sampel penelitian. Setelah seluruh data terkumpul, maka dilanjutkan ke tahap pengolahan dan analisa data.

4.4.1. Uji Validitas dan Reliabilitas

(36)

penelitian ini akan diuji validitas dan reliabilitas. Uji ValiditasdilakukandenganmetodePearsonataumetodeProduckMoment.Uji

Reliabilitasadalah metode Cronbach’sAlpha,dandilakukansetelahuji validitas selesai. Ujivaliditas danreliablitasinidianalisamenggunakanprogramSPSS. Sampel yang digunakan dalam uji validitas ini memiliki karakter yang hampir sama dengan sampel dalam penelitian ini. Jumlah sampel dalam uji validitas dan reliabilitas ini adalah 20 orang. Hasil uji validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Variabel No Total Pearson

Correlation

(37)

Setelah data darisetiaprespondendiperoleh, pengolahandananalisa data dilakukandenganmasukkan data tersebutke dalamkomputerdenganbantuan program SPSS. Tahap-tahappengolahan data adalahsebagaiberikut:

1. Editing, yaitumemeriksanamadankelengkapanidentitasmaupun data respondensertamemastikanbahwasemuajawabantelahterisisesuaipetunjuk.

2. Coding,yaitumemberi kode atau angka tertentu

tertentupadakuesioneruntukmempermudahsaat mengadakantabulasidananalisa.

3. Entry, yaitumemasukkan data darikuesionerke dalam program komputerdenganmenggunakan program SPSS (StatisticalProduct and Service Solution for Windows).

4. Cleaning, yaitumemeriksakembali data yang

telahdimasukkanuntukmengetahuiadakesalahanatautidak.

4.6. Etika Penelitian

Untuk menghindari terjadinya tindakan tidak etis dalam penelitian, maka akan dilakukan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Informed Consent, yakni dilakukan dengan menberikan lembar persetujuan penelitian kepada responden untuk ditandatangani sebelum berpartisipasi dalam kegiatan penelitian.

2. Anonimity, yaitu hanya mencantumkan kode responden tanpa menuliskan nama responden dalam penelitian.

3. Confidentiality, yaitu tidak akan menginformasikan data dan hasil penelitian berdasarkan data individual, namun data akan dilaporkan berdasarkan kelompok.

(38)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap ibu yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan, Propinasi Sumatera Utara pada tahun 2014.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

(39)

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Dasar Responden

Karakteristik Frekuensi (N) Persen (%)

(40)

Berdasarkan tabel 5.1. di atas, diketahui bahwa responden yang paling banyak yang berumur diantara 30-34 tahun yaitu sebanyak 21 orang (21.0%). Jenis pekerjaan yang terbesar adalah ibu rumah tangga yaitu 48 orang (48.0%). Seterusnya, tingkat pendidikan ibu yang paling banyak adalah perguruan tinggi/ akademi dengan jumlah 46 orang (46.0%).

5.1.3. Pengetahuan Responden

Dalam penelitian ini, tingkat pengetahuan ibu dibedakan menjadi 3 kategori yaitu baik, cukup dan kurang.

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai Kejang Demam Pada Anak.

Pengetahuan Frekuensi (N) Persen (%)

Baik 45 45.0

Cukup Kurang

37 18

37.0 18.0

Jumlah 100 100.0

Pada tabel 5.2 di atas, tingkat pengetahuan ibu mengenai kejang demam berada pada kategori baik yaitu sebanyak 45 orang (45.0%).

5.1.4 Pengetahuan Responden Mengenai Kejang Demam

(41)

berisi 15 pertanyaan mengenai pengetahuan umum, penyebab, gejala klinis, faktor risiko dan penanganan kejang demam pada anak.

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden Pada Variabel Pengetahuan

No Pertanyaan Jawaban responden

Benar Tidak Benar Tidak Tahu N (%) N (%) N (%) 1 Mengetahui demam tinggi

meyebabkan kejang demam

62 62.0 32 32.0 6 6.0

2 Mengetahui bahwa kejang demam merupakan penyakit yang hanya terjadi kepada bayi dan balita

28 28.0 58 58.0 14 14.0

3 Mengetahui penyebab kejang demam

75 75.0 9 9.0 16 16.0

4 Mengetahui gejala klinis kejang demam bahwa dapat terjadi penurunan kesadaran

72 72.0 14 14.0 14 14.0

5 Mengetahui frekuensi serangan kejang demam

68 68.0 18 18.0 14 14.0

6 Mengetahui faktor risiko bahwa kejang demam merupakan

(42)

penyakit keturunan

7 Mengetahui kekerapan kejadian kejang demam pada anak usia kurang dari 2 tahun

54 54.0 32 32.0 14 14.0

No Pertanyaan Jawaban responden

Benar Tidak Benar Tidak Tahu N (%) N (%) N (%) 8 Mengetahui bahwa posisi kepala

anak harus di miringkan semasa kejadian kejang demam

32 32.0 28 28.0 40 40.0

9 Mengetahui bahwa anak perlu dibaringkan pada tempat yang rata semasa kejang demam

63 63.0 15 15.0 22 22.0

10 Mengetahui bahwa tangan dan kaki anak tidak perlu ditahan

46 46.0 43 43.0 11 11.0

11 Mengetahui bahwa lidah anak tidak perlu ditekan dengan sendok

24 24.0 61 61.0 15 15.0

12 Megetahui penanganan awal 87 87.0 6 6.0 7 7.0 13 Mengetahui pemberian obat

anti-kejang

(43)

14 Mengetahui pemberian obat penurun panas

85 85.0 6 6.0 9 9.0

15 Mengetahui komplikasi kejang demam

47 47.0 23 23.0 30 30.0

Pada tabel 5.3. diatas, pertanyaan nomor 1 dan 2 adalah mengenai pengetahuan umum tentang kejang demam. Terdapat sebanyak 62 orang (62.0%) menjawab benar pada pertanyaan nomor 1 manakala sejumlah 28 orang saja menjawab benar pada pertanyaan nomor 2. Pertanyaan 3 adalah mengenai penyebab kejang demam dimana sejumlah 75 orang (75.0%) menjawab benar. Seterusnya, pada pertanyaan nomor 4 dan 5 yaitu mengenai gejala klinis, sebanyak 72 orang (72.0%) dan 68 orang (68.0%) menjawab benar. Faktor risiko megenai kejang demam dipertanyakan pada pertanyaan nomor 6 dan 7, dimana sebesar 20 orang (20.0%) dan 54 orang (54.0%) menjawab benar.

Pertanyaan nomor 8 hingga 14 adalah mengenai penanganan kejang demam dimana pada pertanyaan nomor 8, kebanyakan responden menjawab ‘tidak tahu’ yaitu sejumlah 40 orang (40.0%) manakala pada pertanyaan nomor 9, 10, 12, 13 dan 14 kebanyakan responden menjawab benar yaitu sebesar 63 orang (63.0%) pada nomor 9, 46 orang (46.0%) pada nomor 10, 87 orang (87.0%) pada nomor 12, 71 orang (71.0%) pada nomor 13 dan 85 orang (85.0%) pada nomor 14. Pertanyaan yang paling banyak dijawab ‘benar’ oleh responden adalah pertanyaan nombor 12 sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab ‘tidak benar’ adalah pertanyaan nomor 11 yaitu sebanyak 61 orang (61.0%). Akhirnya, pertanyaan 15 adalah mengenai komplikasi kejang demam, dimana sejumlah 47 orang (47.0%) menjawab benar.

(44)

Informasi mengenai kejang demam pada anak dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti media cetak, media elektronik, tenaga kesehatan, teman dan keluarga dan lain-lain. Sumber informasi ini sangat penting untuk mendapatkan informasi yang benar megenai kejang demam supaya ibu-ibu dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang kejang demam pada anak. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi tentang sumber informasi tentang kejang demam pada anak dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi tentang Sumber Informasi tentang Kejang Demam Pada Anak

Sumber Informasi Frekuensi (N) Persen (%)

Media Cetak 14 14.0

(45)
(46)

SMA

Berdasarkan tabel 5.5, dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan yang dikategorikan baik paling banyak pada kelompok usia 30-34 tahun dan 35-39 tahun yaitu sebanyak 9 orang (9.0%). Tingkat pengetahuan ibu berdasarkan pekerjaan adalah sama. Kelompok pendidikan yang paling banyak mempunyai tingkat pengetahuan baik adalah perguruan tinggi/ akademi yaitu sejumlah 28 orang (28.0%). Persentase berdasarkan jumlah masing-masing populasi mengikut kategori responden.

5.2. Pembahasaan

5.2.1. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoadmojo (2010), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dalam penelitian ini, tingkat pengetahuan responden tentang kejang demam diukur dengan menggunakan kuesioner.

(47)

pengetahuan ibu berada pada kategori baik yaitu 45 %, kategori cukup sebanyak 37% dan 18 % pada kategori kurang.Secara umum, pengetahuan baik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber informasi dan faktor pendidikan serta faktor lingkungan. Dalam penelitian ini, kebanyakan ibu mendapatkan informasi baik dari lingkungan tenaga kesehatan, dari teman dan keluarga maupun media cetak. Tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, dimana dalam hasil penelitian ini, kebanyakan ibu yang berpendidikan tinggi mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pohan (2010), dari Universitas Sumantera Utara,tingkat pengetahuan ibu mengenai kejang demam di Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung sebagian besar termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 90% dan sisanya tergolong dalam kategori sedang 10%.

Secara keseluruhannya, pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari pendidikan, usia dan pekerjaan manakala faktor eksternal terdiri dari faktor lingkungan dan sosial budaya. Berdasarkan hasil penelitian saya, salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu adalah usia dan tingkat pendidikan. Dari hasil penelitian ini, kelompok ibu yang berusia 30-34 tahun dan 35-39 tahun, memiliki pengetahuan yang baik. Menurut Huclock, semakin cukup umur seseorang, semakin meningkat tingkat kemampuan dan kematangannya dalam berpikir dan bekerja (Wawan dan Dewi, 2011). Namun, seseorang yang berumur lebih tua tidak mutlak akan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang lebih muda lagi. Pengetahuan ibu berpendidikian tinggi lebih baik dibanding dengan ibu yang berpendidikan rendah. Sebesar 28 orang (60.9%) dari responden yang berpendidikan tinggi mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini disebabkan, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi (Wawan dan Dewi, 2011).

(48)

kejang demam. Menurut Pujiarto, 2008, telah menyatakan bahwa pada fase pelepasan sitokin proinflamasi, anak akan menggigil sampai suhu tubuh meningkat. Pada pertanyaan nomor 2 ditanyakan bahwa kejang demam hanya terjadi kepada bayi dan balita, sebanyak 28 orang saja menjawab benar dan yang selainnya menjawab tidak benar yaitu 58 orang (58.0%). Pada jurnal yang ditulis oleh Farrell et al., 2011, telah menyatakan bahwa kejang demam merupakan suatu penyakit yang biasanya terjadi pada anak berusia 3 bulan hingga 6 tahun. Pada pertanyaan ini, kebanyakan responden tidak mengetahui tentang penyakit kejang demam pada anak. Pertanyaan nomor 1 dan 2 ini dibuat sekadar hanya untuk memberikan pengenalan pada kasus yang telah dibahas dalam penelitian ini kepada ibu sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Secara umumnya, pengetahuan ibu mengenai pengetahuan umum tentang kejang demam adalah cukup.

Seterusnya pada pertanyaan 3 yang mengenai penyebab kejang demam, paling banyak responden menjawab benar yaitu 75 orang (75.0%). Menurut Irdawati, 2009, telah menyatakan bahwa infeksi seperti infeksi saluran pernafasan, otitis media dan pneumonia dapat menyebabkan demam dan menimbulkan kejadian kejang demam pada anak. Pada pertanyaan ini, kebanyakan ibu tahu bahwa infeksi dapat menyebabkan kejang demam pada anak. Pertanyaan nomor 4 dan 5 dipertanyakan persoalan mengenai gejala klinis kejang demam pada anak. Sebanyak 72 orang (72.0%) dan 68 orang (68.0%) menjawab benar pada pertanyaan 4 dan 5. Menurut Sonja Lyons, 2013, menyatakan bahwa semasa anak kejang demam akan mengalami penurunan kesadaran dan begitu juga menurut Gunawan, 2012, kejang berulang lebih dari satu kali dalam periode demam saat kejang demam pertama.

(49)

al., 2010, anak dengan riwayat kejang keluarga terdekat mempunyai risiko untuk menderita kejang demam 4,5 kali lebih besar dibandingkan yang tidak memiliki riwayat keluarga. Sebanyak 54 orang (54.0%) menjawab benar daripada responden yang menjawab tidak benar yaitu 32 orang (32.0%) pada pertanyaan nomor 7.Anak usia kurang dari dua tahun mempunyai risiko 4,43 kali lebih besar dibanding anak yang lebih dari dua tahun menurut penelitian yang dilakukan oleh Amalia et al., 2013. Secara umumnya, pengetahuan ibu mengenai faktor risiko kejang demam adalah cukup.

Pertanyaan nomor 8 hingga 14 mengenai penanganan kejang demam, pengetahuan responden pada pertanyaan ini adalah cukup. Pada pertanyaan nomor 8, sebanyak 32 orang (32.0%) telah menjawab benar pada pertanyaan nomor 8 tetapi kebanyakan ibu yang menjawab tidak tahu yaitu sebanyak 40 orang (40.0%). Dengan ini, didapati bahwa kebanyakan ibu tidak mengetahui cara memposisikan kepala anak secara miring semasa mengalami kejang demam. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ling, 2000, yaitu dari 53 orangtua, hanya 17 (29.3%) orangtua memposisikan kepala anak sacara miring selama kejang demam. Menurut Copovilla et al., 2009, anak yang mengalami kejang demam, posisi kepalanya harus dimiring supaya tidak terjadi aspirasi lambung pada anak. Seterusnya, pada pertanyaan nomor 9, sebesar 63 orang (63.0%) menjawab benar pada pertanyaan nomor 9. Anak yang mengalami kejang demam harus dibaringkan pada tempat yang lapang seperti yang dinyatakan oleh Ngastiyah, 2005. Pada pertanyaan nomor 10, sebanyak 46 orang (46.0%) menjawab benar. Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NIH), 2014, menyatakan bahwa selama anak kejang demam tidak harus menahan tangan dan kakinya. Hal ini disebabkan, tindakan ini dapat menyebabkan tulang anak patah (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2014).

(50)

orangtua telah mencoba membuka dan memasukkan sendok ke dalam mulut anak sebagai salah satu cara untuk mencegah anak dari menggigit lidahnya. MenurutMahmood et al., 2011, sewaktu anak kejang demam tidak harus memasukkan sesuatu benda ke dalam mulut anak. Hal ini disebabkan, benda yang dimasukkan ke dalam mulut dapat menyebabkan luka dan sumbatan jalan napas anak (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2014). Seterusnya, dari tabel 5.3, didapati pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan benar adalah pertanyaan nomor 12, yaitu sebanyak 87 orang (87.0%), dimana anak yang kejang demam perlu segera dibawa ke rumah sakit. Kebanyakan ibu mengambil tindakan segera dengan membawa anak mereka ke rumah sakit semasa mengalami kejang demam. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kayserili, 2008, sebanyak 78.1% orangtua segera membawa anak mereka ke rumah sakit daripada melakukan penanganan di rumah. Dalam Konsensus Penatalaksanaan Kejang demam, telah dinyatakan bahwa anak yang mengalami kejang demam yang berlangsung 5 menit atau lebih harus dibawa ke rumah sakit atau ke dokter.

Pada pertanyaan nomor 13 sebanyak 71 orang (71.0%) menjawab benar dan sebesar 85 orang (85.0%) menjawab benar pada pertanyaan 14. Menurut Capovilla et al., anak harus diberikan diazepam 0,5mg/kg secara rektal jika kejang demam masih berlanjutan lebih dari 2-3 menit. Menurut Siqueira, 2010, terapi antipiretik tidak dapat mencegah kekambuhan kejang demam namun dapat mengurangi demam dan memperbaiki kondisi umum pasien. Akhirnya, pada soal mengenai komplikasi kejang demam yaitu pertanyaan nomor 15, sebesar 47 orang (47.0%) menjawab dengan benar. Risiko terjadinya epilepsi pada pasien yang memiliki kejang demam pada pertama kali adalah antara 70% dan 85% menurut Farrell, 2011.

(51)

kesehatan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hazaveh, 2011, dimana kebanyakan ibu mendapatkan informasi mengenai kejang demam daripada dokter (32.0%) dan perawat (15.0%).

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Secara keseluruhannya, tingkat pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak adalah baik.

2. Pengetahuan ibu mengenai penyebab kejang demam dimana sejumlah 75 orang (75.0%) menjawab benar, sedangkan 9 orang (9.0%) menjawab tidak benar dan 16 orang (16.0%) menjawab tidak tahu.

3. Pengetahuan ibu mengenai gejala klinis kejang demam pada anak adalah baik (60.0%).

(52)

5. Pengetahuan ibu mengenai penanganan kejang demam pada anak adalah cukup (47.0%).

6. Sumber informasi yang didapatkan oleh ibu mengenai kejang demam yang paling banyak adalah dari tenaga kesehatan.

6.2. Saran

1. Edukasi mengenai penanganan kejang demam pada anak perlu diteruskan terutama pada golongan ibu supaya mereka tahu apa yang perlu dilakukan semasa anak mereka kejang demam.

2. Selain itu, Pemerintah Pusat dalam hal ini, Kementerian Kesehatan Indonesia harus melancar program-program serta penyuluhan mengenai kejang demam pada anak.

3. Bagi petugas kesehatan ataupun puskesmas harus membantu pihak ibu memahami cara penanganan kejang demam pada anak. Selain itu pihak pelayanan kesehatan juga dapat memberikan edukasi dan konseling pada golongan ibu mengenai kejang demam.

4. Sebaiknya, dibuatkan poster dan brosur di dinding Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan agar ibu yang berkunjung dapat memahami dan mencegah terjadinya kejang demam pada anak.

5. Pihak Media massa (TV & Radio) harus mengiklankan tentang kejang demam untuk meningkatkan kesadaran dan membantu orangtua mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kejang demam.

(53)

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, K., Fatimah, Bennu, H.M., 2013. Faktor Risiko Kejadian Kejang Demam Pada Anak Balita Diruang Perawatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Daya Kota Makassar. 1(6): 1-11.

Capovilla, G., Mastrangelo, M., Romeo, A., Vigevano, F., 2009. Recommendations for the management of “febrile seizures”.Epilepsia, 50 (supple.1): 2-6.

Dewanti, A., Widjaja, J.A., Tjandrajani, A., Burhany, A.A., 2012. Kejang Demam dan Faktor yang Mempengaruhi Rekurensi. Sari Pediatri, 14 (1): 57-61. Dewi, M., Wawan, A., 2011. Konsep Pengetahuan. Dalam: Teori & Pengukuran

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta:Nuhu Medika: 11-18.

(54)

Fuadi., Bahtera, T., Wijayahadi, N., 2010. Faktor Risiko Kejang Demam pada Anak. Sari Pediatri, 12 (3): 142-149.

Gunawan, P.I., Saharso. D., 2012. Faktor Risiko Kejang Demam Berulang pada Anak. Media Medika Indonesia, 42 (2): 75-79.

Hazaveh, S.M., Shamsi, M., 2011. Assessment of mother’s behaviour in preventing febrile convulsion in their children in Arak City: an application of Health Belief Model. Journal of Jahrom University of Medical Sciences, 9(2): 33-39.

Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2014. Kejang Demam: Tidak Seseram yang

Dibayangkan. Diunduh dari:

Irdawati, 2009. Kejang demam dan penatalaksanaannya. Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, 2 (3): 143-145.

Jonston, M.V., 2007. Seizures in Childhood. Dalam:Kliegman, R.M., Behrman, R.E., Jenson, H.B., Stanton, B.F., ed. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. United States of America: Saunders Elsevier:2457-2473.

Kayserili, E., et al, 2008. Parental Knowledge and Practices Regarding Febrile Convulsion in Turkish Children. Turkish Journal Medicine Science, 38(4): 343-350.

Kresno, S., et al, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Dalam:Notatmodjo, S., ed. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. ed revisi. Jakarta: PT Rineka Cipta: 50-52.

(55)

Ling, S.G., 2000. Parental Response and Understanding Towards Febrile Convulsion. Medical Journal Malaysia, 55(4): 419-423.

Lyons, S., 2012. Febrile Seizures. Nucleus Medical Media, Inc. Diunduh dari: Mac 2014].

Madiyono, B., Mz, S.M., Sastroasmoro, S., Budiman, I., Purwanto, S.H., 2013. Perkiraan besar sampel. Dalam: Sastroasmoro, S., Ismael, S., ed. Dasar dasar Metodologi Penelitian Klinis. ed 3.Jakarta: Sagung Seto: 303-330. Mahmood, K.T., Fareed, T., Tabbasum, R., 2011. Management of Febrile

Seizures in Children. Journal Biomedical Science and Research, 3 (1): 353-357.

Najimi, A., Dolatabadi, N.K., Esmaeili, A.A., Sharifirad, G.R., 2013. The effect of educational program on knowledge, attitude and practice of mothers regarding prevention of febrile seizure in children. Journal Education

Health Promotion. Diunduh dari:

National Institute of Neurological Disorders and Stroke, 2014. Febrile Seizures. Diunduh dari:

[Diakses pada 29 April 2014].

s.htm [Diakses pada 1 Desember 2014 ].

Ngastiyah, 2005. Kejang pada anak. Dalam: Perawatan Anak Sakit. ed 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC: 165-175.

(56)

Pohan, I.T.S., 2010. Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Ibu Mengenai Kejang Demam Pada Anak Di Kelurahan Tembung Tahun 2010. Diunduh

dari: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/21511 [Diakses pada 26 November 2014].

Pujiarto, P.S., 2008. Demam Pada Anak. Majlis Kedokteran Indonesia, 58 (9): 349.

Pusponegoro, H.D., Widodo, D.P., Ismael, S., 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam.Badan Penerbit IDAI: 1-15.

Saharso, D., et al., 2009. Kejang Demam. Dalam: Pedomen pelayanan Medis. Ikatan Dokter Indonesia (IDAI): 150-153.

Seinfeld, S.D.O., Pellock, J.M., 2013. Recent Research on Febrile Seizures: A Review. Journal Neurol Neurophysical 4 (4): 1-6.

Siqueira, L.F.M.D., 2010. Febrile Seizures: Update on Diagnosis and Management. Rev Assoc Med Bras, 56 (4): 489-492.

Soetomenggolo, T.S., 1999. Kejang Demam. Dalam:Soetomenggolo, T.S.,Ismael, S., ed.Buku ajar neurologi anak. Badan Penerbit IDAI, Jakarta: 244-251. Visser, A.M., et al, 2010. Fetal growth Retardation and Risk of Febrile Seizures.

(57)

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Sakthy Vicknes A/P Shanmugam

(58)

Agama : Hindu

Alamat : No 19, Jln Prof M. Yusof, Medan Riwayat pendidikan : Sijil Pelajaran Menengah (SPM) – 2010 : Kolej Geomatika - 2011

: Fakultas Kedokteran USU - sekarang

Riwayat Organisasi : Ahli, Persatuan Kebangsaan Pelajar-pelajar Malaysia Indonesia Cawangan Medan. (PKPMI- CM)

: Ahli, Kelab Kebudayaan India Malaysia (KKIM)

LAMPIRAN 2

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN Dengan hormat,

Saya yang bernama Sakthy Vicknes A/P Shanmugam / NIM 110100400 adalah mahasiswi yang sedang menjalani pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat ini, saya sedang mengadakan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Ibu yang Berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan tentang Kejang Demam pada Anak”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan tentang kejang demam pada anak. Untuk keperluan tersebut, saya memohon kesediaan Ibu untuk mengisi kuesionar dengan jujur dan apa adanya. Jika Ibu bersedia, silalah menandatangani persetujuan ini sebagai bukti kesukarelaan anda.

(59)

kurang dimengerti dan membutuhkan penjelasan, Ibu dapat langsung menghubungi saya:

Nama: Sakthy Vicknes Shanmugam Alamat: Dato Mansur

No. HP: +6283194125249

Terima kasih saya ucapkan kepada Ibu yang telah ikut berpartisipasi pada penelitian ini. Keikutsertaan Ibu dalam penelitian ini akan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi ilmu pengetahuan.

LAMPIRAN 3

SURAT PERNYATAAN

PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Nama :

Umur : Kelamin :

Telah mendapatkan penjelasan sepenuhnya mengenai penelitian,

Judul penelitian : Tingkat Pengetahuan Ibu yang Berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan tentang Kejang Demam pada anak.

Nama peneliti : Sakthy Vicknes A/P Shanmugam

Jenis penelitian : Deskriptif dengan pendekatan cross sectional

(60)

Dengan ini saya menyatakan bersedia untuk mengikuti penelitian ini.

Medan, .… SEPTEMBER 2014,

( )

LAMPIRAN 4

KUESIONER PENELITIAN

Tingkat Pengetahuan Ibu yang Berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Haji Adam Malik Medan Tentang Kejang Demam Pada Anak

Petunjuk:

1. Isilah identitas pribadi anda

2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan memilih salah satu jawaban yang benar

dengan memberi tanda “X” pada kolam yang tersedia.

3. Semua pertanyaan harus dijawab.

No. Responden :

Nama : Data Pribadi

Umur : tahun Alamat :

(61)

terakhir ( ) Perguruan Tinggi/ Akademi ( ) Lain-lain, sebutkan:……. Umur Anak : bulan/tahun

NO. PERTANYAAN YA TIDAK TIDAK TAHU

1.

Apakah anak akan menggigil semasa mengalami demam?

2.

Apakah kejang demam hanya terjadi pada bayi dan balita?

3.

Apakah infeksi dapat meyebabkan kejang demam?

4.

Apakah anak akan mengalami penurunan kesadaran semasa kejang demam?

5.

Apakah serangan kejang demam dapat timbul lebih dari satu kali selama anak demam?

6.

Apakah kejang demam merupakan penyakit yang dapat diturunkan pada anak?

7.

Apakah usia anak yang kurang dari dua tahun sering terjadi kejang demam?

8.

Menurut ibu, apakah pada penanganan di rumah, posisi kepala anak harus dimiringkan semasa anak mengalami kejang demam?

9.

Menurut ibu, apakah pada penanganan di rumah, anak yang mengalami kejang demam perlu dibaringkan di tempat yang lapang?

10.

Menurut ibu, apakah anak yang mengalami kejang demam perlu ditahan dengan cara memegangi tangan atau kakinya?

(62)

sendok?

12.

Menurut ibu, apakah anak yang mengalami kejang demam perlu segera dibawa ke rumah sakit?

13.

Apakah pemberian obat anti-kejang dapat mengatasi kejang demam?

14.

Menurut ibu, apakah anak yang mengalami kejang demam perlu diberikan obat penurun panas?

15.

Apakah kejang demam dapat menjadi ayan/ sawan di kemudian hari?

Sumber informasi yang didapatkan oleh ibu tentang kejang demam? ( ) Media Cetak ( ) Media Elektronik

( ) Tenaga Kesehatan ( ) Teman dan Keluarga ( ) Lain-lain, sebutkan: ………..

Jawaban:

1. Ya 11. Tidak 2. Ya 12. Ya 3. Ya 13. Ya 4. Ya 14. Ya 5. Ya 15. Ya 6. Ya

(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)

Hasil uji Reliabilitas

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

.884 16

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

PERTANYAAN 2 1.75 .639 20

PERTANYAAN 3 1.75 .639 20

PERTANYAAN 5 1.40 .883 20

(74)
(75)

Item-Total Statistics

Scale Mean if

Item Deleted

Scale Variance if

Item Deleted

Corrected

Item-Total Correlation

Cronbach's

Alpha if Item

Deleted

PERTANYAAN 2 19.60 46.147 .825 .867

PERTANYAAN 3 19.60 46.253 .812 .867

PERTANYAAN 5 19.95 47.313 .463 .880

PERTANYAAN 6 20.10 57.779 -.631 .904

PERTANYAAN 7 20.20 45.221 .716 .869

PERTANYAAN 8 20.35 46.661 .539 .877

PERTANYAAN 9 19.80 44.905 .734 .868

PERTANYAAN 11 20.05 49.208 .282 .889

PERTANYAAN 13 20.40 50.358 .427 .881

PERTANYAAN 14 20.20 45.221 .716 .869

PERTANYAAN 16 20.05 49.524 .406 .881

PERTANYAAN 17 19.70 49.168 .627 .876

PERTANYAAN 18 19.95 46.576 .577 .875

PERTANYAAN 20 20.50 45.526 .628 .873

PERTANYAAN 23 19.85 45.924 .634 .872

(76)

LAMPIRAN 8

No.Resp

Umur

Resp Perkerjaan Pendidikan terakhir

Umur anak

1 46 thn Lain-lain

Perguruan

Tinggi/Akademi 17 thn

2 56 thn Lain-lain Lain-lain 18 thn

Tinggi/Akademi 12 thn

5 51 thn

Tinggi/Akademi 10 bln

9 34 thn

Ibu Rumah

Tangga SMA 8 bln

10 37 thn Pengawai Swasta

Perguruan

Tinggi/Akademi 4 thn

11 26 thn Lain-lain

Perguruan

Tinggi/Akademi 7 bln

12 34 thn Pengawai Swasta

Perguruan

Tinggi/Akademi 10 thn

13 26 thn

(77)

16 34 thn Pengawai Swasta SMA 8 thn

Tinggi/Akademi 19 thn

19 36 thn

Tinggi/Akademi 17 thn

24 31 thn Lain-lain SMA 17 thn

Tinggi/Akademi 9 thn

30 29 thn Wiraswasta

Perguruan

Tinggi/Akademi 2,6 thn

31 28 thn

Ibu Rumah

Tangga SMA 10 thn

32 38 thn Lain-lain

Perguruan

Tinggi/Akademi 3 thn

33 40 thn Lain-lain

Perguruan

Figur

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang kejang

Gambar 3.1.

Kerangka konsep penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang kejang p.28
Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang kejang

Gambar 3.1.

Kerangka konsep penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang kejang p.29
Tabel 3.1. Variabel, Cara Ukur, Alat Ukur, Hasil Ukur, dan Skala Ukur

Tabel 3.1.

Variabel, Cara Ukur, Alat Ukur, Hasil Ukur, dan Skala Ukur p.30
Tabel 4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner

Tabel 4.1.

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner p.36
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Dasar Responden

Tabel 5.1.

Distribusi Frekuensi Karakteristik Dasar Responden p.39
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai Kejang Demam Pada Anak

Tabel 5.2.

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai Kejang Demam Pada Anak p.40
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden Pada

Tabel 5.3.

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden Pada p.41
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi tentang Sumber Informasi tentang Kejang

Tabel 5.4.

Distribusi Frekuensi tentang Sumber Informasi tentang Kejang p.44
Tabel 5.5. Tingkat Pengetahuan Menurut Karakteristik Responden

Tabel 5.5.

Tingkat Pengetahuan Menurut Karakteristik Responden p.45
Tabel frekuensi pendidikan terakhir

Tabel frekuensi

pendidikan terakhir p.86
Tabel frekuensi pekerjaan

Tabel frekuensi

pekerjaan p.86
Tabel frekuensi sumber informasi

Tabel frekuensi

sumber informasi p.87
Tabel frekuensi umur responden

Tabel frekuensi

umur responden p.88
Tabel frekuensi tingkat pengetahuan

Tabel frekuensi

tingkat pengetahuan p.93

Referensi

Memperbarui...

Outline : Pembahasaan