MANAJEMEN PRODUKSI DAN ANALISIS RISIKO
PETERNAKAN AYAM BROILER PLASMA
DI DESA CISEENG PARUNG BOGOR
I MADE JONI ABDI WIRANATA
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Manajemen Produksi dan Analisis Risiko Peternakan Ayam Broiler Plasma di Desa Ciseeng Parung Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
I MADE JONI ABDI WIRANATA. Manajemen Produksi dan Analisis Risiko Peternakan Ayam Broiler Plasma di Desa Ciseeng Parung Bogor. Dibimbing oleh LUCIA CYRILLA ENSD dan SRI MULATSIH.
Ada dua sistem usaha ayam broiler yaitu pola mandiri dan pola kemitraan. Sistem yang kedua banyak digunakan saat ini, mengingat bahwa risiko yang dihadapi pada pola kemitraan lebih kecil dibandingkan dengan pola mandiri. Walaupun demikian, tetap ada risiko produksi yang harus dikelola pada pola kemitraan. Studi kasus ini dilakukan pada Plasma X di Desa Ciseeng. Manajemen yang diterapkan oleh Plasma X sudah sesuai dengan standard operational procedure (SOP) pada perusahaan inti. Terdapat tiga sumber risiko pada peternakan ini, yaitu: cuaca, penyakit, dan predator. Probabilitas risiko tertinggi sampai dengan terendah, secara berurutan ditimbulkan oleh: cuaca, penyakit, dan predator. Dampak risiko terbesar sampai dengan terkecil secara berurutan disebabkan oleh: penyakit, predator, cuaca. Strategi preventif untuk risiko cuaca adalah penggunaan blower dan vitamin C. Pencegahan risiko untuk penyakit dengan penerapan SOP yang memuat biosekuriti yang ketat. Sedangkan strategi mitigasi risiko penyakit adalah penggunaan antibiotik yang tepat. Mitigasi risiko predator dengan cara pengecekan dan perbaikan lantai serta kawat kandang pada setiap periode produksi.
Kata kunci: broiler, mitigasi, preventif, risiko produksi
ABSTRACT
partnership system. The second system is the most prefer nowdays, because the risk is fewer than private system. But, in partnership system risk productions still must be managed. The case study took place in Plasma X at Ciseeng. Management system in this broiler farm conformed with the standard operational procedure (SOP) in partner company. Three source of risk productions were: climate, disease, and predator. The highest risk probability was caused by climate, the second was disease, and the lowest was predator. Whereas, the highest risk impact caused by disease, the second was predator, and the lowest was climate. Alternative strategy to prevent climate risk is operating blower and Vitamin C. To prevent the risk from disease, SOP that contained strict biosecurity was applied. The mitigation risk strategy for disease is the correct at antibiotic use, whereas maintenance of floor and wire of stable could be implented to overcome the risk from predator.Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
MANAJEMEN PRODUKSI DAN ANALISIS RISIKO
PETERNAKAN AYAM BROILER PLASMA
DI DESA CISEENG PARUNG BOGOR
I MADE JONI ABDI WIRANATA
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Manajemen Produksi dan Analisis Risiko Peternakan Ayam Broiler Plasma di Desa Ciseeng Parung Bogor
Nama : I Made Joni Abdi Wiranata NIM : D14080053
Disetujui oleh
Ir Lucia Cyrilla ENSD, MSi Pembimbing I
Dr Ir Sri Mulatsih, MScAgr Pembimbing II
Diketahui oleh
Prof Dr Ir Cece Sumantri, MAgrSc Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui para Leluhur yang telah memberikan jalan terbaik dan juga petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Manajemen Produksi dan Analisis Risiko Peternakan Ayam Broiler Plasma di Desa Ciseeng Parung Bogor. Skripsi ini dibuat berdasar pengalaman penulis selama dua tahun. Harapan penulis, semoga skripsi ini dapat menjadi bahan untuk bertukar pengalaman dalam beternak khususnya ayam broiler. Skripsi ini adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Institut Peternakan Bogor.
Penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada Orang Tua, Kakak dan Keluarga Besar untuk dorongan semangat yang tiada henti diberikan kepada penulis. Selanjutnya, terimakasih penulis sampaikan kepada Ibu Ir Lucia Cyrilla ENSD, MSi, Ibu Dr Ir Sri Mulatsih, MScAgr dan Ibu Maria Ulfah, SPt, MScAgr atas semua arahan, semangat, dan juga berbagai macam bantuan yang diberikan kepada penulis selama proses penggarapan skripsi ini. Skripsi ini juga penulis dedikasikan kepada Alm. Ir Dwi Joko, MSi dan terimakasih penulis sampaikan kepada beliau yang sangat sabar dalam membimbing penulis dari awal proses pembuatan skripsi. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada pembimbing akademik penulis dan Kepala Departemen IPTP yaitu Bapak Dr Ir Rudy Priyanto dan Prof Dr Ir Cece Sumantri, MAgrSc atas bimbingan, semangat dan nasehatnya. Selain itu terimakasih penulis sampaikan untuk canda tawa, suka duka, semangat, kehangatan, dan kepercayaan yang diberikan oleh teman-teman penulis: Keluarga Besar Banjar 45, Bhinneka Visca Grup, Sahabat Tani Farm, Pelanggan CITA-Agen Telur, Staff AJMP IPTP, Manajer-Asisten Manajer-Pegawai Farm 77 beserta keluarga, Keluarga Besar IPTP 45, Ikhtiar Farm, Gurame Dollar, KMHD, Brahmacarya serta teman-teman lain yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari ketidaksempurnaan penulisan karya ilmiah ini, sehingga diharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari seluruh pembaca. Akhir kata, semoga skripsi ini benar-benar bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 1
Ruang Lingkup Penelitian 1
METODE 2
Waktu dan Tempat Penelitian 2
Bahan 2
Alat 2
Prosedur 2
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Manajemen Produksi Ayam Broiler Plasma X 6
Sumber-Sumber Risiko pada Plasma X 10
Nilai Probabilitas Risiko Produksi 10
Analisis Dampak Risiko produksi 12
Pemetaan Risiko Produksi 12
Strategi Penanganan Risiko Produksi 14
SIMPULAN DAN SARAN 18
DAFTAR PUSTAKA 19
DAFTAR TABEL
1 Dosis desinfektan peternak plasma X 7
2 Prosedur sampling bobot ayam 9
3 Target pencapaian bobot ayam dari umur satu sampai lima minggu 9 4 Analisis probabilitas sumber-sumber risiko produksi 10 5 Jumlah mortalitas per periode yang disebabkan oleh sumber-sumber
risiko produksi 11
6 Nilai VaR dan dampak risiko finansial selama enam periode produksi
plasma X 12
7 Status risiko produksi dari sumber-sumber risiko produksi 12
8 Catatan produksi plasma X 13
9 Harga kontrak perusahaan mitra dari plasma X 13
DAFTAR GAMBAR
1 Peta risiko 5
2 Strategi preventif risiko 5
3 Strategi mitigasi risiko 6
4 Persiapan sapronak yang telah direndam dengan desinfektan dan dicuci
dengan deterjen 6
5 Foto ayam broiler berumur empat minggu 10
6 Peta sumber-sumber risiko produksi 14
7 Outbreak penyakit CRD akibat minimnya biosekuriti 15 8 Usulan strategi preventif risiko cuaca dan penyakit 16
9 Proses karantina ayam 17
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ayam broiler merupakan salah satu komoditas ternak yang populer dalam dunia agribisnis. Produksi daging ayam ras pada tahun 2010 adalah yang tertinggi yaitu sebesar 63.3% atau 1 214 300 ton, sapi sebesar 18.4% atau 436 000 ton, Ayam Buras 14% atau 267 600 ton, dan daging lainnya sebesar 18.9% atau 447 700 ton (Dirjenak 2011). Tingginya produksi dan populasi ayam broiler dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu: masa produksi yang singkat, sumber modal yang kuat, berkembangnya lembaga hilir yakni perusahaan pengolahan dan pemasaran yang efektif, kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dari produk peternakan, dan merupakan bisnis yang sangat layak yakni keuntungan bersih dapat mencapai lebih dari 100% (Setyono dan Ulfah 2011).
Plasma X adalah salah satu peternak yang menggunakan pola kemitraan inti-plasma di Desa Ciseeng. Beberapa periode terakhir peternak ini mengalami kerugian akibat turunnya produksi yang bersumber pada tingginya angka mortalitas. Ada beberapa sumber risiko mortalitas, yaitu: kepadatan kandang, cuaca yang tidak stabil, penyakit, dan predator. Risiko mortalitas dapat dikendalikan dengan manajemen yang tepat, terkecuali risiko produksi yang bersumber dari pola kemitraan yaitu kualitas bibit dan pakan. Identifikasi sumber-sumber risiko, analisis probabilitas terjadinya risiko, dan analisis dampak risiko yang bersumber dari mortalitas akan membantu Plasma X menggambarkan dengan lebih jelas risiko yang dihadapinya, sehingga diharapkan diperoleh alternatif strategi manajemen yang tepat untuk menekan risiko mortalitas yang terjadi.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manajemen produksi yang diterapkan, sumber-sumber risiko produksi, menganalisis probabilitas dan dampak risiko produksi, dan menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi risiko produksi yang dihadapi oleh Peternak Plasma X di desa Ciseeng-Parung.
Ruang Lingkup Penelitian
2
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September 2012. Penelitian ini bertempat di peternakan ayam broiler Plasma X yang berlokasi di Desa Ciseeng Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi: manajemen produksi ayam broiler, penyebab risiko produksi, dan penerapan strategi untuk penanganan risiko produksi. Sedangkan data sekunder meliputi: catatan hasil usaha selama enam periode produksi (Oktober 2011-September 2012), nilai harga kontrak yang diberikan perusahaan untuk masing-masing bahan baku produksi (bibit, pakan, dan OVK-obat. vaksin dan kimia) setiap periode, nilai harga kontrak penjualan ayam broiler setiap periode, standar Feed Conversion Ratio (FCR) perusahaan inti, dan nilai batas risiko mortalitas.
Alat
Alat yang digunakan selama proses penelitian adalah: form wawancara, form catatan produksi, pulpen, meteran, alat hitung, dan komputer untuk mengolah data penelitian. Data penelitian diolah menggunakan software Microsoft Excel sedangkan untuk mendokumentasikan fakta yang diperoleh di lapangan digunakan kamera.
Prosedur
Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Pemilihan subjek penelitian menggunakan pendekatan purposive (sengaja) dengan mempertimbangkan kejadian risiko produksi yang fluktuatif.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan secara langsung (observasi), wawancara, dan diskusi. Data sekunder diambil melalui desk study dari catatan Plasma X.
Metode Analisis Data
3 Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis sumber-sumber risiko dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan oleh peternak untuk meminimalkan risiko ketidakpastian yang dihadapi.
Ukuran pertama dari risiko adalah besarnya kemungkinan terjadinya yang mengacu pada seberapa besar probabilitas risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau z-score. Penelitian ini menghitung nilai kemungkinan terjadinya risiko pada kegiatan produksi Plasma X selama 6 periode terakhir. Menurut Kountur (2006) langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini dan aplikasinya adalah:
1. Menghitung rata-rata kejadian risiko (kematian ayam)
Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata kematian ayam broiler yang diproduksi adalah:
� = nilai rata-rata dari kejadian berisiko- (ekor)
� = nilai per periode kejadian risiko ke-
� = jumlah data �= 6
= penyebab mortalitas; 1 (penyakit), 2 (predator), 3 (cuaca)
j = jumlah periode pemeliharaan; j∶1,2…n (n = 6)
2. Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian risiko
� =
� = nilai rata-rata dari kejadian berisiko-
3. Menghitung �-score
= − �
�
Keterangan :
= nilai z-score dari kejadian berisiko
= batas risiko yang dianggap masih dalam taraf normal (nilai didapat dari hasil wawancara, data pemeliharaan 8 000 ekor/periode, tingkat kematian normal adalah: penyakit = 200 ekor, predator = 150 ekor, dan cuaca = 50 ekor)
� = nilai rata-rata dari kejadian berisiko-
� = standar deviasi dari kejadian berisiko-
Hasil �-score yang negatif menunjukkan nilai tersebut ada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya.
4. Probabilitas terjadinya risiko produksi
4
Metode yang digunakan untuk mengukur dampak risiko adalah Value at Risk (VaR). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Tahapan menentukan nilai VaR seperti diuraikan berikut ini:
a. Tahapan pertama adalah menghitung kerugian yang diderita oleh Plasma X setiap periode dengan rumus:
� = ×� ×
b. Tahapan kedua menghitung nilai rata-rata dari dampak kerugian yang ditimbulkan dengan rumus:
ṼŃ =
�
Keterangan
ṼŃi = nilai rata-rata kerugian akibat kejadian berisiko- ij = nilai kerugian akibat- pada periode ke-
� = jumlah data (�= 6)
c. Tahapan ketiga adalah menetapkan batas toleransi validitas dan mencari nilai VaR. Menurut Kountur (2006), VaR dapat dihitung dengan rumus berikut:
VaR = �i + �i × (�i/ �)
Keterangan :
VaR = dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko-
� = nilai rata-rata kerugian akibat kejadian berisiko-
�i = nilai � sumber risiko-i yang diambil dari tabel distribusi normal
dengan α 5%
�i = standar deviasi kerugian akibat kejadian berisiko-i � = banyaknya kejadian berisiko (�= 6)
5
Probabilitas dan dampak risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecil ditentukan oleh manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya diatas 20 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur 2006).
Penanganan Risiko
Berdasarkan hasil pemetaan risiko, maka selanjutnya dapat ditetapkan strategi penanganan risiko yang sesuai. Terdapat dua strategi yang dapat dilakukan untuk menangani risiko, yaitu:
1. Penghindaran risiko (preventif)
Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang memiliki probabilitas besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang berbeda pada kuadran 1 dan 2. Penanganan risiko dengan menggunakan strategi preventif, akan menggeser risiko pada kuadran 1 menuju kuadran 3 dan kuadran 2 akan bergeser menuju kuadran 4 (Gambar 2).
Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak besar akan dapat bergeser ke kuadran yang memiliki dampak risiko lebih kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko
6
yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 1 dan risiko yang berada pada kuadran 4 bergeser ke kuadran 3 (Gambar 5).
Probabilitas (%) Besar
Kecil
Dampak (Rp) Kecil Besar
Gambar 3 Strategi mitigasi risiko Sumber : Kountur (2006)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Manajemen Produksi Ayam Broiler Plasma X
Populasi ayam broiler Plasma X sebesar 8.000 ekor. Tahapan manajemen produksi di peternakan ini, yaitu: persiapan kandang, pemeliharaan, dan panen.
1. Persiapan Kandang
Berdasarkan Standard Operational Procedure (SOP), sebelum ayam masuk dibagi dalam tiga tahap. Pertama adalah pencucian peralatan kandang. Alat-alat kandang yang dicuci adalah: tempat pakan, minum, chick guard, alas kandang, tirai dalam dan plafon. Pencucian dilakukan dengan deterjen dan disinfektan, kemudian dijemur sampai kering.
Gambar 4 Persiapan alat-alat produksi yang telah direndam dengan disinfektan dan dicuci dengan deterjen
Kuadran 1 Kuadran 2
Kuadran 3
7 Kedua adalah pencucian kandang. Lantai kandang disemprot dengan air dan seluruh kotoran yang menempel pada lantai disikat sampai bersih. Lantai kandang kemudian dicuci dengan deterjen, setelah itu dibiarkan mengering selama satu jam dan dibilas lagi dengan air. Berikutnya lantai kandang dikapur dengan takaran 1 kg setiap 15 m2 dan dibiarkan sampai kering. Setelah itu, alas kandang dipasang dan ditaburi sekam dengan ketebalan minimal 2 cm. Peralatan kandang yang sudah kering dimasukkan kemudian kandang didisinfeksi dengan formalin pada keadaan tertutup. Takaran formalinnya adalah 5 liter (kadar 40%) ditambah dengan 95 liter air. Setelah itu kandang diistirahatkan minimal 3 hari sebelum masuknya DOC.
Tabel 1 Dosis disinfektan peternak plasma X
Disinfektan Dosis Keterangan
Tahap akhir dari proses persiapan kandang adalah persiapan Chick-in. Tahap ini dilakukan pemasangan tirai dalam dan pembuatan brooding untuk Day Old Chick (DOC). Pembuatan brooding memiliki metode yang berbeda dari metode yang biasanya. Peternak mengurangi lebar brooding akan tetapi panjang brooding ditambah. Tujuannya agar panas pada masa brooding tersebar merata. Metode ini hanya diterapkan selama 8 jam pertama datangnya DOC, kemudian segera dilakukan pelebaran. 2. Pemeliharaan
8
pengaturan suhu yang nyaman bagi DOC guna mendapatkan crop fill yang optimal. Ciri-ciri Crop Fill yang baik adalah: mata ayam cerah, gerakan yang lincah, kaki yang basah seperti dilapisi lilin, dan tembolok yang penuh. Crop Fill harus sudah 100% paling lambat 8 jam pertama. Berikut adalah hal-hal dasar yang ditekankan oleh perusahaan inti saat masa brooding:
Saat DOC berumur 0 sampai 14 hari (periode starter), ditekankan untuk maksimalisasi pertumbuhan fisiologis ayam yaitu: tulang, otot, dan saluran pencernaan. Antibiotik dan vitamin pemacu pertumbuhan yang mengandung asam amino lengkap menjadi senjata utama. Selebihnya untuk pengaturan manajemen seperti: penambahan tempat pakan, minum, pelebaran brooding dan kualitas sekam diserahkan sepenuhnya kepada anak kandang. Kebijakan ini diberikan dengan pertimbangan bahwa anak kandang lebih mengetahui kondisi ayam di lapangan. Kunci utama periode ini adalah tercapainya target rataan bobot ayam minimal 200 gram dalam 7 hari (disesuaikan dengan kualitas bibit). Umur delapan hari, ayam mulai diperkenalkan dengan tempat pakan gantung. Tujuannya, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan menjaga kebersihan tempat pakan dari kotoran. Lalu pada umur 12 hari seluruh tempat pakan dan minum sudah digantung. Tingginya tempat pakan dan minum disesuaikan dengan pertumbuhan ayam atau setinggi punggung ayam. Pada umur ini juga dilakukan vaksinasi, jika bibit yang diberikan belum divaksin gumboro. Sejak pertengahan tahun 2011 sampai 2012, peternak melakukan vaksinasi gumboro karena bibit hanya divaksin double yaitu ND Live dan dan ND Kill/Lasota. Standard Operational Procedure (SOP) vaksinasi dari perusahaan inti diantaranya adalah: kondisi ayam sehat, penyimpanan vaksin pada tempat tertutup dengan suhu 2-8 0C dan terhindar dari panas atau sinar matahari, penggunaan chorin pada air minum dihentikan 24 jam sebelum vaksinasi, serta hindari tempat vaksin yg dicuci dengan disinfektan, sabun ataupun antiseptik.
9 Tabel 2 Prosedur sampling bobot ayam
Umur Ayam
4-panen 15 Pengambilan sampel
ayam yaitu 5 jantan, dan
Target bobot ayam berumur 2 minggu yang ditetapkan oleh peternak adalah 510 gram (disesuaikan dengan kualitas bibit). Tabel 3 menunjukkan target pencapaian bobot ayam Plasma X.
Tabel 3 Target pencapaian bobot ayam dari umur satu sampai lima minggu
Umur Bobot (Gram) FCR
10
Sumber-Sumber Risiko pada Plasma X
Analisis risiko pada Plasma X dibagi dalam dua kategori. Pertama adalah sumber risiko pola kemitraan, dan produksi ayam broiler. Sumber risiko pola kemitraan tidak dibahas dalam skripsi ini.
Sumber Risiko Produksi
Kepadatan ruang tidak termasuk sebagai sumber risiko mortalitas pada Plasma X, karena umur panen ayam paling lama adalah 34 hari dengan bobot panen 1.6-1.8 kg dan kepadatan 8 ekor/m2 (standar perusahaan). Pada peternakan ini kepadatan lebih berpengaruh terhadap performa produksi, contohnya: tingkat konsumsi pakan dan minum. Dozier et al. (2005) menjelaskan bahwa kepadatan kandang berpengaruh erat dengan tingkat konsumsi pakan dan air pada ayam broiler. Hasil yang berbeda disampaikan Pinto (2011) bahwa kepadatan ruang adalah sumber risiko yang menyebabkan mortalitas.
Mortalitas adalah penyebab risiko produksi budidaya ayam broiler Plasma X. Mortalitas pada peternakan Plasma X bersumber dari 3 faktor, yaitu: penyakit, predator, dan cuaca.
Nilai Probabilitas Risiko Produksi
Ada tiga faktor yang mempengaruhi mortalitas, yaitu: penyakit, predator, dan cuaca. Hasil analisis probabilitas risiko produksi pada Plasma X adalah: Tabel 4 Analisis probabilitas sumber-sumber risiko produksi
Sumber Risiko Batas Normal Probabilitas (%)
Cuaca 50 51.99
Penyakit 200 41.29
Predator 150 22.96
11 Standar total mortalitas produksi Plasma X yaitu 5% dari total populasi/siklus produksi. Batas normal mortalitas yang ditetapkannya adalah 50 ekor/siklus produksi atau 0.625%. Nilai probabilitas tertinggi terdapat pada faktor cuaca. Nilai z-score yang diperoleh adalah 0.05. Nilai z bertanda positif dan ada disebelah kanan dari nilai rata-rata di kurva distribusi normal. Hasil pemetaan z-score pada tabel z bernilai 0.5199. Artinya, probabilitas kematian ayam broiler akibat pengaruh cuaca melebihi 50 ekor adalah 51.99%.
Tabel 5 Jumlah mortalitas per periode yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko produksi
Periode Mortalitas (ekor)
Penyakit Predator Cuaca
Oktober-November 2011 101 112 31
Desember 2011- Januari 2012 92 179 34
Februari-Maret 2012 237 175 44
April-Mei 2012 247 196 53
Juni-Juli 2012 253 205 62
Agustus-September 2012 438 179 71
Total 1 368 1 046 295
Probabilitas tertinggi kedua adalah penyakit. Batas normal mortalitas penyakit yang ditetapkan peternak yaitu 200 ekor. Nilai z-score sumber risiko penyakit adalah -0.22. Nilai z yang bertanda negatif menunjukkan bahwa nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata kurva distribusi normal. Hasil pemetaan nilai z-score pada tabel z adalah 0.4129. Artinya probabilitas mortalitas ayam broiler akibat serangan penyakit melebihi 200 ekor adalah 41.29%.
12 Dampak risiko tertinggi disebabkan oleh penyakit. Nilai VaR sumber risiko penyakit adalah Rp5.405.996.00 dengan tingkat keyakinan 95%. Artinya, kerugian maksimal yang diderita akibat pengaruh penyakit adalah Rp5.405.996.00 dan terdapat kemungkinan 5% nilai kerugian akan melebihi nominal tersebut.
Dampak risiko terbesar kedua adalah predator. Dampak risiko tertinggi predator terjadi pada periode ke-4. Nilai VaR sumber risiko predator adalah sebesar Rp3.910.292.00. Jadi kerugian maksimal yang diderita Plasma X akibat predator adalah Rp3.910.292.00 dan ada kemungkinan 5% kerugian akan melebihi nilai nominal tersebut.
Dampak risiko paling rendah adalah cuaca. Dampak risiko cuaca tertinggi ada pada periode Juni sampai Juli 2012 dengan nominal kerugian Rp1.121.580.00. Nilai VaR sumber risiko cuaca adalah Rp1.065.079.00. Artinya, bahwa dampak kerugian maksimal yang diakibatkan karena pengaruh risiko cuaca adalah sebesar Rp1.065.079.00 dan terdapat kemungkinan 5% kerugian dapat melebihi nominal tersebut.
Pemetaan Risiko Produksi
Sumber risiko penyakit memiliki status risiko tertinggi, kedua adalah predator dan yang terendah adalah cuaca.
Tabel 7 Status risiko produksi dari sumber risiko produksi
Sumber Risiko Probabilitas (%) Dampak (Rp) Status Risiko (Rp)
Penyakit 41.29 5 405 996 2 232 135.75
Predator 22.96 3 910 292 897 803.04
Cuaca 51.99 1 065 079 553 734.57
13 Tabel 8 Catatan produksi plasma X
Periode Bobot
Plasma X menggunakan hasil rata-rata nilai probabilitas yaitu 38.75% sebagai nilai tengah probabilitas risiko. Sedangkan, nilai tengah dampak risiko didapat dari penghitungan nilai rata-rata bobot panen selama enam periode terakhir yaitu 1.443 kg dikalikan dengan nilai kontrak untuk kisaran bobot 1.4-1.5 kg adalah Rp13.365.00 kemudian dikalikan lagi dengan standar mortalitas Plasma X yaitu 400 ekor lalu hasilnya dibagi dengan dua. Jadi nilai tengah dampak risiko adalah Rp3.857.139.00.
Tabel 9 Harga kontrak perusahaan mitra dari plasma X Bobot
14
Gambar 6 Peta sumber-sumber risiko produksi Strategi Penanganan Risiko Produksi
Hasil pemetaan risiko memberikan gambaran strategi penanganan sumber-sumber risiko produksi. Strategi yang diterapkan adalah preventif dan mitigasi. 1. Strategi Preventif
Strategi preventif bertujuan menekan besarnya kemungkinan terjadinya risiko dari sumber-sumber risiko produksi. Peta risiko menggambarkan bahwa sumber risiko cuaca dan penyakit memiliki nilai probabilitas yang besar yaitu >38.75%. Strategi yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
a. Sumber risiko cuaca
Angka tertinggi mortalitas akibat pengaruh cuaca ada pada bulan Agustus sampai September tahun 2012. Kondisi cuaca saat itu sangat fluktuatif. Siang hari suhu dalam kandang sangat tinggi, sedangkan sore hari suhu turun drastis. Akibatnya, ayam sulit untuk menyesuaikan suhu tubuhnya dan dapat menyebabkan stres. Akşit et al. (2006) menjelaskan bahwa selama musim panas sangat sulit untuk mendapatkan temperatur yang baik dalam kandang. Hal ini menjadi penyebab stres dan mengganggu proses homeostasis dari suhu internal tubuh ayam broiler. Cekaman panas (heat stress) dapat mengakibatkan lambatnya pertumbuhan, rendahnya bobot ayam, daya utilisasi pakan rendah, rentan terhadap penyakit serta mortalitas meningkat karena lemahnya fungsi imun tubuh ayam broiler.
Solusi untuk mengatasi suhu kandang yang fluktuatif adalah dengan penggunaan blower. Saat ini Plasma X hanya memiliki dua buah blower berukuran besar yang digunakan pada satu kandang dari lima kandang yang ada. Penggunaan blower memberikan pengaruh positif yaitu: menurunnya jumlah ayam panting, stres, dan amonia dalam kandang.
15 sebesar Rp2.560.000.00 dengan asumsi umur ekonomis blower tersebut adalah satu tahun. Penggunaan blower dapat menurunkan potensi kehilangan pendapatan sebesar Rp1.065.079.00 setiap periodenya. Strategi preventif lain yang dapat diterapkan adalah Penggunaan vitamin C pada air minum ayam. Kusnadi (2006) menyebutkan bahwa suplementasi vitamin C sebanyak 250 ppm dapat digunakan untuk mengatasi cekaman panas pada ayam broiler.
b. Pengaruh Sumber Penyakit
Dampak risiko akibat penyakit dapat mencapai Rp5.405.996.00. Salah satu sebab tingginya angka kerugian adalah minimnya biosekuriti selama masa pemeliharaan ayam broiler. Efeknya yaitu terjadi outbreak penyakit yang tiba-tiba, sehingga seluruh kandang terinfeksi penyakit.
Gambar 7 Outbreak penyakit CRD akibat minimnya biosekuriti
16
Gambar 8 Usulan strategi preventif risiko cuaca dan penyakit
Usulan strategi preventif dapat mengatasi risiko produksi yang berada pada kuadran 1 dan 2. Hasil dari penanganan risiko dengan usulan strategi ini diharapkan dapat menurunkan probabilitas sumber risiko yang berada pada kuadran 1 (risiko sedang) bergeser ke kuadran 3 (risiko rendah) sedangkan kuadran 2 (risiko tinggi) bergeser ke kuadran 4 (risiko sedang). 1. Strategi Mitigasi
Strategi mitigasi digunakan untuk mengatasi sumber risiko pada kuadran 2 dan 4. Sumber risiko pada kuadran 2 dan 4 secara berturut-turut adalah penyakit dan predator.
17
Gambar 9 Proses karantina ayam
Gumboro atau Infectious Bursal Disease (IBD) adalah virus yang menular melalui kotoran (feses) ataupun kontak secara langsung dengan alat atau pakaian yang terinfeksi. Efeknya yaitu daya tahan tubuh ayam akan lemah dan dapat menyebabkan produksi turun ataupun kematian (Intervet International bv 2009). Kontrol dilakukan dengan vaksinasi gumboro baik pada tingkat parent stock ataupun finisher dan dibarengi dengan pemberian air gula sesaat setelah vaksinasi. Penyakit Collibacillosis disebabkan oleh bakteri E. coli yang menyebar melalui kotoran ayam yang terinfeksi. Pencegahannya yaitu penggunaan kaporit pada air minum dan sanitasi yang baik sedangkan pengobatannya menggunakan antibiotik Amoxylin.
18
Gambar 10 Usulan strategi mitigasi penanggulangan risiko penyakit dan predator
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Manajemen produksi yang diterapkan Plasma X sudah sesuai dengan SOP yang diberikan oleh perusahaan inti. Pada peternakan ini, ada tiga sumber risiko produksi, yaitu: penyakit, predator, dan cuaca. Probabilitas risiko dari yang tertinggi hingga yang terendah, secara berurutan adalah: sumber risiko cuaca, penyakit, dan predator. Dampak risiko dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan, yaitu: sumber risiko penyakit, predator, dan cuaca. Alternatif strategi preventif risiko cuaca, adalah: penambahan blower dan pemberian vitamin C. Alternatif strategi preventif risiko penyakit adalah: SOP dengan biosekuriti yang ketat. Strategi mitigasi risiko penyakit adalah dengan cara penggunaan antibiotik yang tepat. Sedangkan strategi mitigasi risiko predator dengan cara melakukan pengecekan dan perbaikan kawat serta lantai kandang disetiap periode produksi.
Saran
19
DAFTAR PUSTAKA
Akşit M, Alçin S, Özkan S, Metin K, Özdemir D. 2006. Effects of temperature during rearing and crating on stress parameters and meat quality of broilers. Poul Sci. 85(1):1867-1874.
Intervet International bv (NL). 2009. Important poultry disease [Internet]. [diunduh 2012 Des 5]. Tersedia pada : http : // www.canadianpoultry.ca/cms _pdfs / Important % 20 Poultry % 20 Diseases % 20060058%20-%20CPC%20 website. pdf.
[Dirjenak] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. ISBN 978-979-628-019-3. 2011. Statistik Pertanian dan Kesehatan Hewan 2011. Jakarta (ID): Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
Dozier WA, Thaxton JP, Branton SL, Morgan GW, Miles DM, Roush WB. 2005. Stocking density effects on growth performance and processing yields of heavy broilers. Poul Sci. 84 : 1332-1338.
Kountur R. 2006. Manajemen Risiko. Jakarta (ID): Abdul Tandur.
Kusnadi E. 2006. Suplementasi vitamin C sebagai penangkal cekaman panas pada ayam broiler. JITV. 11(4):249-253.
Pinto B. 2011. Analisis risiko produksi pada peternakan ayam broiler milik bapak Restu di Desa Cijayanti Kecamatan Babakan madang Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
20