• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor risiko dispepsia pada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Faktor risiko dispepsia pada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)"

Copied!
231
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR RISIKO DISPEPSIA PADA MAHASISWA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR (IPB)

ANDRI SUSANTI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

ABSTRACT

ANDRI SUSANTI. Risk Factor of Dyspepsia in Bogor Agricultural University Students. Supervised by DODIK BRIAWAN and VERA URIPI.

This study analyzed the risk factors of dyspepsia in university students. This study applied a case control study. For this purpose, two groups of samples were selected purposively based of gastric disorder history. Case group is first grade university students with gastric disorder (gastritis or peptic ulcer) history in last six months, whereas control group is first grade university students who never had gastric disorder. The total of 120 university students were taken as samples, consist of 60 students for case (24 male and 36 female) and 60 students for control (24 male and 36 female). Data were collected include gastric disorder history, dyspepsia symptom, characteristic of samples, nutritional status, eating habit, smoking, alcohol consumption, physical activity, drugs consumption (include antacid drug), stress, blood type, and family disease history of gastritis or peptic ulcer. The result of this study, showed that frequency of dyspepsia in case group was higher than control group (p<0,05). Gastric disorder history (gastritis or peptic ulcer) related to frequency of dyspepsia (p<0,05). The body mass index (BMI) scores of samples had no difference in both of the groups (p<0,05). Having meal regularly, meal frequency, softdrink consumption habit, and fat intake related significantly with frequency of dyspepsia (p<0,05). Physical activity, taking antacid drug, and stress level related significantly with frequency of dyspepsia (p<0,05). family disease history and blood type had no relation with frequency of dyspepsia. The multiple logistic regression analysis showed that the significant risk factors of dyspepsia are meal frequency more than twice per day (OR 0,082; 95% CI: 0,015-0,446), habitually consume carbonated drink (OR 8,954; 95% CI: 1,268-63,225), and higher stress level (OR 1,215; 95% CI: 1,057-1,369). The conclusion, eating frequency more than twice per day can reduce risk of dyspepsia, in the other way, consume carbonated drink more than three bottles per week, and higher stress level precisely increase the risk of dyspepsia.

(3)

RINGKASAN

Andri Susanti. Faktor Risiko Dispepsia Pada Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). (Di Bawah Bimbingan Dodik Briawan dan Vera Uripi)

Penelitian ini bertujuan mempelajari faktor risiko dispepsia pada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Tujuan khusus penelitian adalah: 1) Mempelajari karakteristik contoh; 2) Menganalisis gejala dispepsia pada contoh; 3) Menilai status gizi contoh; 4) Menganalisis kebiasaan makan contoh; 5) Menganalisis kebiasaan merokok contoh; 6) Mengetahui kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol contoh; 7) Mengukur aktivitas fisik contoh; 8) Mengetahui konsumsi obat-obatan contoh; 9) Mengukur tingkat stres contoh; 10) Menganalisis faktor herediter contoh, meliputi golongan darah dan riwayat gangguan lambung pada keluarga contoh; 11) Menganalisis faktor risiko yang berpengaruh pada frekuensi dispepsia pada contoh.

Penelitian ini dilakukan dengan desain studi kasus-kontrol berpasangan, berdasarkan jenis kelamin, umur, dan latar belakang sosial-ekonomi, dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2010 di kampus IPB Darmaga, Bogor. Contoh penelitian ini adalah mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB T.A. 2010/2011 yang diambil secara purposive dari populasi yang memenuhi kriteria penelitian (kriteria kasus dan kontrol) dan bersedia untuk menjadi responden. Contoh berjumlah 120 orang dengan rincian 60 kelompok kasus (24 putra dan 36 putri), dan 60 kelompok kontrol (24 putra dan 36 putri). Data sekunder diperoleh dari Direktorat TPB IPB, berupa jumlah mahasiswa TPB IPB dan pembagian kelasnya. Data primer yang dikumpulkan adalah riwayat penyakit atau gangguan lambung, karakteristik contoh, kebiasaan makan, kebiasaan merokok, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, golongan darah, dan riwayat penyakit keluarga. Pengolahan data menggunakan software Microsoft Office Excel 2007 dan SPSS (Statistical Product and Service Solution) 16 for Windows. Data disajikan dalam bentuk tabulasi silang, dianalisis secara deskriptif dan statistik (uji beda, uji hubungan, dan uji regresi).

Sebagian besar contoh (kasus dan kontrol) berada pada masa remaja akhir (umur 18-19 tahun), jumlah uang saku sedang (Rp 400.000 - Rp 600.000 per bulan), suku terbanyak Sunda dan Jawa, dan berasal dari Jawa Barat dan Sumatera. Sebagian besar contoh berada pada status gizi normal dan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) status gizi contoh pada kelompok kasus dan kontrol. Status gizi tidak berhubungan dengan frekuensi dispepsia (p>0,05).

Sebagian besar contoh (kasus dan kontrol) berada pada kategori frekuensi dispepsia jarang (kasus 81,7% dan kontrol 100%). Frekuensi dispepsia contoh kelompok kasus lebih sering dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Riwayat penyakit atau gangguan lambung contoh berhubungan nyata dengan frekuensi dispepsia yang dialami contoh (p<0,05). Contoh yang memiliki riwayat gangguan lambung (gastritis atau tukak peptik) sebelumnya lebih berisiko mengalami dispepsia dibandingkan yang tidak memiliki riwayat (OR: 1,224; 95% CI: 0,086-1,380).

(4)

tidak menentu, tidak terbiasa sarapan, terbiasa mengkonsumsi makanan selingan, dan memiliki kebiasaan membatasi asupan makanan. Namun uji beda menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada jeda waktu makan, kebiasaan sarapan, mengkonsumsi makanan selingan, dan membatasi asupan pada kelompok kasus dan kontrol (p>0,05). Keteraturan dan frekuensi makan berhubungan dengan frekuensi dispepsia (p<0,05). Makan teratur dapat mengurangi risiko munculnya gejala dispepsia (OR: 0,810; 95% CI: 0,715-0,918). Frekuensi makan lebih dari dua kali sehari dapat mengurangi risiko munculnya gejala dispepsia (OR: 0,113; 95% CI: 0,030-0,423). Jeda waktu makan, kebiasaan sarapan, kebiasaan mengkonsumsi makanan selingan, dan membatasi asupan makanan tidak berhubungan dengan frekuensi dispepsia (p>0,05).

Contoh pada kelompok kasus cenderung lebih banyak yang memiliki kebiasaan minum teh, kopi, minuman berkarbonasi, mengkonsumsi makanan pedas, makanan atau minuman asam, dan suplemen. Terdapat perbedaan yang nyata kebiasaan minum kopi, minuman berkarbonasi, kombinasi teh dan kopi, kombinasi teh dan minuman berkarbonasi, kombinasi teh, kopi dan minuman berkarbonasi, serta makan makanan asam pada kelompok kasus dan kontrol (p<0,05). Kebiasaan minum minuman berkarbonasi dan mengkonsumsi makanan atau minuman asam berhubungan nyata dengan frekuensi dispepsia contoh (p<0,05). Kebiasaan minum minuman berkarbonasi meningkatkan risiko sering munculnya gejala dispepsia (OR: 6,907; 95% CI: 1,423-33,519). Demikian juga kebiasaan mengkonsumsi makanan atau minuman asam meningkatkan risiko sering munculnya gejala dispepsia (OR: 9,123; 95% CI: 1,129-73,735).

Tingkat kecukupan vitamin A pada kelompok kasus cenderung lebih banyak yang defisit dibandingkan pada kontrol (p<0,05). Tingkat kecukupan vitamin C pada sebagian besar contoh (kasus 80% dan kontrol 88,3%) berada pada kategori defisit dengan kecenderungan kasus lebih tinggi tingkat kecukupan vitamin C-nya. Contoh pada kelompok kasus cenderung lebih banyak yang mengkonsumsi lemak >30% Angka Kecukupan Energi (AKE), sedangkan kelompok kontrol sebaliknya. Hampir keseluruhan contoh pada kelompok kasus dan kontrol mengkonsumsi natrium dalam jumlah cukup, tetapi masih defisit konsumsi kalium. Tingkat kecukupan vitamin C, konsumsi natrium, dan kalium antara kasus dan kontrol tidak berbeda nyata (p>0,05). Konsumsi lemak berhubungan nyata dengan frekuensi dispepsia (p<0,05), sedangkan variabel konmsumsi zat gizi lainnya tidak berhubungan nyata (p>0,05). Mengkonsumsi lemak kurang dari 30% AKE meningkatkan risiko sering munculnya gejala dispepsia (OR: 5,683; 95% CI : 1,409-22,557).

Hanya 10% contoh pada kelompok kasus dan 3,3% pada kelompok kontrol yang memiliki kebiasaan merokok. Keseluruhan contoh yang memiliki kebiasaan merokok berjenis kelamin pria, jumlah rokok yang dihisap per hari antara 1-9 batang. Usia awal merokok contoh antara 12-18 tahun dan sebagian besar merokok sejak usia 15 tahun. Tidak ada contoh yang pernah mengkonsumsi minuman beralkohol selama tinggal di asrama.

(5)

Kebiasan mengkonsumsi obat-obatan contoh pada kelompok kasus cenderung lebih tinggi dibandingkan pada kontrol (p<0,05). Lebih dari separuh contoh pada kelompok kasus (53,3%) dan kontrol (84,0%) termasuk dalam kategori “bukan pengguna obat harian” (mengkonsumsi obat kurang dari atau sama dengan tujuh tablet/kapsul/kaplet per minggu). Konsumsi obat-obatan tidak berhubungan nyata dengan frekuensi gejala dispepsia (p>0,05). Terdapat 33,3% contoh pada kelompok kasus memiliki kebiasaan mengkonsumsi antasida. Kelompok kasus lebih banyak yang mengkonsumsi antasida dibandingkan kontrol (hampir tidak ada yang terbiasa mengkonsumsi antasida) (p<0,05). Kebiasaan mengkonsumsi antasida berhubungan nyata dengan frekuensi dispepsia yang dialami contoh (p<0,05). Semakin sering frekuensi dispepsia contoh, maka cenderung memiliki kebiasaan mengkonsumsi antasida untuk mengurangi gejala (OR: 8,143; 95% CI: 2,191-30,263).

Pada kelompok kasus cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Tingkat stres berhubungan nyata dengan gejala dispepsia (p<0,05). Semakin tinggi tingkat stres contoh maka berhubungan dengan semakin sering muncul gejala dispepsia yang dialami contoh (OR: 7,031; 95% CI: 0,869-56,886).

Sebanyak 76,7% contoh pada kelompok kontrol dan 40% pada kelompok kasus tidak memiliki riwayat penyakit keluarga yang berupa gastritis maupun tukak peptik. Riwayat penyakit gastritis paling banyak ditemukan pada ibu contoh. Terdapat 43,3% contoh pada kelompok kasus dan 40% pada kelompok kontrol yang memiliki golongan darah O. Hasil uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) riwayat penyakit ibu pada kelompok kasus dan kelompok kontrol, sedangkan pada riwayat penyakit gastritis dan tukak peptik pada ayah, kakek, nenek, dan golongan darah contoh tidak berbeda nyata (p>0,05). Faktor herediter (riwayat penyakit keluarga dan golongan darah contoh) tidak berhubungan dengan frekuensi munculnya gejala dispepsia.

Faktor risiko yang berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap frekuensi gejala dispepsia berdasarkan analisis regresi logistik adalah frekuensi makan lebih dari dua kali per hari (OR 0,082; 95% CI: 0,015-0,446), kebiasaan minum minuman berkarbonasi lebih dari tiga botol kecil per minggu (OR 8,954; 95% CI: 1,268-63,225) dan tingkat stres (OR 1,215; 95% CI: 1,057-1,369). Semakin jarang frekuensi makan (≤ 2 kali per hari), memiliki kebiasaan minum minuman berkarbonasi (> 3 botol per minggu), dan semakin tinggi tingkat stres, maka semakin tinggi risiko untuk mengalami dispepsia.

(6)

FAKTOR RISIKO DISPEPSIA PADA MAHASISWA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR (IPB)

ANDRI SUSANTI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada

Departemen Gizi Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(7)

Judul : Faktor Risiko Gejala Gangguan Lambung pada Mahasiswa TPB IPB

Nama : Andri Susanti NIM : I14062402

Disetujui :

Dosen Pembimbing I

Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN NIP. 19660701 199002 1 001

Dosen Pembimbing II

dr. Vera Uripi, S.Ked NIP. 19511207 198803 2 001

Diketahui :

Ketua Departemen Gizi Masyarakat

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1 001

(8)

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Faktor Risiko

Dispepsia pada Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)”. Penulis mengucapkan

terima kasih dan penghargaan atas semua bantuan yang ditujukan kepada;

1. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsi, serta dr. Vera Uripi selaku dosen pembimbing skripsi, yang dengan penuh kesabaran telah meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi sejak awal penyusunan hingga terselesaikannya skripsi ini.

2. Katrin Roosita, SP, M.Si selaku dosen pemandu seminar dan penguji yang telah memberikan ulasan dan saran untuk perbaikan skripsi ini.

3. Ayah dan Ibuku (orang tua terbaik), adik-adik Linda dan Tyas, serta seluruh keluarga yang selalu memberikan kasih sayang, doa, dukungan, dan perhatian kepada penulis.

4. Para pembahas seminar (Rahmi, Anita, dan Anggi) atas saran dan masukan dalam penyempurnaan skripsi.

5. Tanoto Foundation (Bpk. Candra, Ibu Ratih, Mbak Vika, dkk), yang telah memberikan beasiswa kepada penulis hingga menamatkan studi di IPB. 6. Mahasiswa TPB IPB angkatan 47 yang telah bersedia menjadi responden. 7. Keluarga Besar Koperasi mahasiswa IPB (alumni, pengurus, karyawan, dan

anggota) yang telah memberi dukungan Nova P, Reza M, M. Ramdhani, Firdiansyah R, Gilar CN, M. Paturohman, Hairul, dan teman-teman seperjuangan di Kopma IPB.

8. Arina M, Karlina N, Diani P sebagai teman satu pembimbing skripsi atas dukungan dan motivasinya. Koplag’s dan keluarga GM 43 atas kebersamaan, perhatian, dan dan bantuannya.

9. Pak Mashudi, Muhamad Firdaus, dan sahabat (Eva F, Deristyani, Yustika SN) yang selalu mengingatkan, memotivasi, mendoakan, dan memberikan perhatian pada penulis.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu, namun tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Andri Susanti yang akrab dipanggil Andris, lahir di Wonogiri, tanggal 7 Januari 1989. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putri pasangan Sutarmin, M.Pd dan Eny Purwaningsih. Pendidikan formal pertama yang ditempuh penulis adalah Raudatul Athfal Perwanida X di Selogiri tahun 1992-1994. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri 2 Tekaran pada tahun 1994-2000, pendidikan menengah pertama di SMP N 1 Selogiri pada tahun 2000-2003, dan pendidikan menengah atas di SMA N 1 Sukoharjo pada tahun 2003-2006.

Pada tahun 2006, melalui jalur Undangan Seleksi masuk IPB (USMI) penulis diterima sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor. Satu tahun berikutnya, penulis diterima sebagai mahasiswa Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam organisasi dan pernah tercatat sebagai Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi Koperasi Mahasiswa IPB pada tahun 2008-2010, dan Ketua Umum Koperasi Mahasiswa IPB periode 2010-2011. Penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Dietetika Penyakit Infeksi dan Defisiensi Gizi serta mata kuliah Ekologi Pangan dan Gizi pada tahun 2010-2011. Selain itu penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan tingkat departemen hingga kampus.

(10)

DAFTAR ISI

Karakteristik Sosial-Ekonomi ... 48

Gangguan Lambung ... 50

Status Gizi ... 54

Kebiasaan Makan ... 55

Kebiasaan Merokok ... 71

Kebiasaan Mengkonsumsi Alkohol ... 73

Aktivitas Fisik dan Kebiasaan Berolahraga ... 73

Konsumsi Obat-Obatan ... 75

Tingkat Stres ... 77

Herediter ... 80

(11)

KESIMPULAN DAN SARAN ... 86

Kesimpulan ... 86

Saran ... 87

DAFTAR PUSTAKA ... 88

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Klasifikasi IMT/U untuk anak dan remaja (WHO 2007) ... 20

2 Perhitungan jumlah contoh berdasarkan OR dari studi pustaka 31 3 Variabel dan kategori variabel yang digunakan ... 38

4 Bentuk tabel 2x2 untuk menentukan odd ratio pada studi case control ... 41

5 Sebaran contoh menurut karakteristik contoh ... 47

6 Sebaran contoh menurut jumlah uang saku ... 48

7 Sebaran suku/etnis menurut ayah dan ibu contoh ... 49

8 Sebaran wilayah domisili contoh ... 49

9 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi dispepsia ... 51

10 Sebaran contoh berdasarkan status gizi ... 53

11 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan makan ... 55

12 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan minum, makan makanan pedas, asam, dan konsumsi suplemen ... 60

13 Jenis suplemen yang dikonsumsi contoh ... 66

14 Tingkat kecukupan vitamin A, vitamin C, konsumsi lemak, natrium, dan kalium contoh... 67

15 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan merokok aktif dan pasif 71 16 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan olahraga dan tingkat aktvitas fisik ... 73

17 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan mengkonsumsi obat- obatan dan antasida ... 75

18 Sebaran contoh berdasarkan tingkat stres yang dialami ... 77

19 Sebaran contoh berdasarkan gejala stres yang dialami... 79

20 Sebaran contoh berdasarkan riwayat gangguan lambung keluarga ... 80

21 Sebaran contoh berdasarkan golongan darah ... 81

22 Kesesuaian model hasil regresi logistik stepwise faktor risiko gejala gangguan lambung ... 83

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Etiologi, patogenesis, dan manajemen tukak peptik ... 10 2 Faktor risiko kekambuhan gangguan lambung pada mahasiswa

TPB IPB ... 28 3 Sebaran contoh pada kelompok kasus berdasarkan frekuensi

gejala dispepsia ... 52 4 Sebaran contoh pada kelompok kasus dan kontrol berdasarkan

status gizi ... 53 5 Kebiasaan membatasi asupan contoh untuk menurunkan berat

badan ... 60 6 Frekuensi konsumsi makanan pedas contoh ... 65 7 Sebaran contoh pada kelompok kasus dan kontrol

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Kuesioner skrining ... 92

2 Kuesioner penelitian ... 94

3 Tabel hasil uji beda variabel kelompok kasus dan kontrol ... 101

4 Tabel hasil uji hubungan menggunakan Chi Square tabel 2x2 102 5 Tabel hasil uji regresi logistik tahap 1 ... 103

6 Tabel hasil uji regresi logistik tahap 2 ... 103

7 Tabel hasil uji regresi logistik tahap 3 ... 103

8 Tabel hasil uji regresi logistik tahap 4 ... 104

9 Tabel hasil uji regresi logistik tahap 5 ... 104

10 Tabel hasil uji regresi logistik tahap 6 ... 104

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan pembangunan. Kesehatan adalah investasi, oleh karena itu mereka yang selalu memelihara kesehatannya akan memperoleh hasil berupa produktivitas kerja yang semakin meningkat, peluang hidup yang lebih panjang, dan hidup sejahtera tanpa dirongrong penyakit (Khomsan 2002). Produktivitas pada usia remaja dapat tercermin pada prestasi belajarnya. Gangguan kesehatan sekecil apapun akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Status kesehatan seseorang ditentukan oleh faktor-faktor internal (individu) dan faktor eksternal (lingkungan). Faktor internal tersebut antara lain gaya hidup dan kebiasaan makan.

Di Indonesia, populasi remaja berjumlah 21% dari total penduduk, dengan jumlah ±44 juta jiwa. Masa remaja ditandai oleh perubahan yang besar, Hall (1989) dalam Papalia dan Olds (1998) menyebut masa ini sebagai periode

“storm and stress”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar. Pola makan yang tidak teratur dan gaya hidup yang cenderung mudah terbawa arus umumnya menjadi masalah yang timbul pada remaja.

Perkembangan teknologi, industri, dan era keterbukaan informasi saat ini membawa konsekuensi terhadap perubahan gaya hidup, kondisi lingkungan, dan perilaku masyarakat, termasuk remaja. Kecenderungan mengkonsumsi makanan cepat saji dan makanan instan, gaya hidup menjadi lebih sedentary, stres, dan polusi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gaya hidup dan kebiasaan makan yang salah akan secara langsung akan mempengaruhi organ-organ pencernaan dan menjadi pencetus penyakit pencernaan.

(16)

hidup sehari-hari (kebiasaan makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, stres, dan lain-lain).

Gatritis merupakan inflamasi dari lapisan mukosa dan submukosa gaster atau lambung. Tukak peptik (ulkus peptikum) adalah suatu istilah yang menunjuk pada suatu kelompok penyakit ulserasi (perlukaan) saluran makanan bagian atas yang melibatkan terutama duodenum dan lambung. Patogenesis tukak peptik sama-sama melibatkan asam-pepsin. Bentuk utama tukak peptik adalah tukak lambung dan tukak duodeni (Mc Guigan 1995). Keluhan paling banyak pada gastritis dan tukak peptik berupa nyeri perut atau ketidaknyamanan perut bagian atas (dispepsia), meliputi mual, muntah, kembung, rasa penuh atau terbakar di perut bagian atas (Darya dan Wibawa 2009). Munculnya gastritis terkait dengan berbagai pengobatan, faktor diet, lingkungan, gaya hidup, infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori), serta faktor psikologis (stres).

Gastritis merupakan masalah kesehatan di masyarakat, prevalensi gastritis yang cukup tinggi, mempengaruhi hingga 50% orang dewasa di negara-negara barat. Di Indonesia prevalensi gastritis sebanyak 0,99% dan insiden gastritis sebesar 115/100.000 penduduk (Yanti 2009). Prevalensi tukak peptik di Indonesia pada beberapa penelitian ditemukan antara 6-15% terutama pada usia

20-50 tahun (Suyono 2001 dalam Annisa 2009).

Prevalensi dispepsia sendiri secara global bervariasi antara 7-45%

tergantung pada definisi yang digunakan dan lokasi geografis. Prevalensi

dispepsia di Amerika Serikat sebesar 23-25,8%, di India 30,4%, New Zealand

34,2%, Hongkong 18,4%, dan Inggris 38-41% (Mahadeva dan Lee 2006). Di

Indonesia, dispepsia menempati urutan ke-15 dari 50 penyakit yang dengan

pasien rawat inap terbanyak (Depkes 2006). Laporan rawat jalan di RSUP dr.

Sardjito Yogyakarta menjelaskan bahwa pasien yang datang dengan keluhan

dispepsia mencapai 40% kasus per tahun (Dwijayanti, Ratnasari, dan

Susetyowati 2008). Menurut poliklinik IPB (2004) gangguan saluran pencernaan

berupa gejala mual dan gangguan nafsu makan merupakan salah satu penyakit

yang paling banyak diderita mahasiswa TPB IPB. Pusing, nyeri lambung, mual,

perut kembung merupakan keluhan kesehatan utama yang dialami oleh

mahasiswa TPB (Mulyani 2007). Mual merupakan salah satu gejala dispepsia

yang ditimbulkan akibat gangguan pencernaan seperti gastritis maupun tukak.

(17)

hubungan antara tukak peptik dengan kanker lambung pada orang dewasa. Gejala-gejala gastritis dan tukak peptik, yang juga dikenal dengan sindrom dispepsia cukup mengganggu penderitanya. Sekitar 30% penderita dispepsia dilaporkan tidak masuk kerja atau sekolah ketika gejala-gejala dispepsia menyerang. Dispepsia merupakan suatu hal yang mahal untuk pelayanan kesehatan karena biaya konsultasi, investigasi, dan pengobatannya.

Sejak tahun 2000, Institut Pertanian Bogor (IPB) mewajibkan seluruh mahasiswa baru tinggal bersama dalam asrama selama satu tahun. Tahun pertama bagi mahasiswa baru IPB disebut Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Perubahan lingkungan dan kebiasan sehari-hari dari yang semula tinggal di rumah bersama keluarga menjadi tinggal di asrama, seringkali membuat stres mahasiswa TPB.

Kondisi lingkungan asrama dan padatnya jadwal kegiatan mahasiswa dapat menyebabkan pola makan tidak teratur dan gaya hidup yang berubah karena berbagai faktor di sekitar mahasiswa. Stres, makan tidak teratur dan sembarangan, merokok, minum alkohol, minum kopi dapat menimbulkan masalah pencernaan, salah satunya berupa gangguan lambung. Seseorang yang telah memiliki masalah pencernaan sebelumnya, akan sangat rentan mengalami dispepsia karena kebiasaan yang tidak sehat. Bagi orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit pun, dimungkinkan untuk terjangkit dispepsia karena faktor-faktor di atas. Masalah gizi pada mahasiswa yang masih tergolong remaja akhir ini perlu mendapat perhatian khusus karena berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta dampaknya pada masalah gizi dan kesehatan pada masa dewasa. Mempertimbangkan hal-hal di atas, penelitian untuk menganalisis faktor risiko Dispepsia pada mahasiswa TPB IPB menarik untuk dilakukan.

Tujuan Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mempelajari faktor risiko dispepsia pada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tujuan Khusus

1. Mempelajari karakteristik contoh.

2. Menganalisis gejala dispepsia pada contoh. 3. Menilai status gizi contoh.

(18)

5. Menganalisis kebiasaan merokok contoh.

6. Mengetahui kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol contoh. 7. Mengukur aktivitas fisik contoh.

8. Mengetahui konsumsi obat-obatan contoh. 9. Mengukur tingkat stres contoh.

10. Menganalisis faktor herediter contoh, meliputi golongan darah dan riwayat gangguan lambung pada keluarga contoh.

11. Menganalisis faktor risiko yang berpengaruh pada gejala dispepsia yang dialami contoh.

Hipotesis

1. Terdapat perbedaan status gizi, gejala dispepsia yang dialami, kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, dan faktor herediter contoh pada kelompok kasus dan kontrol.

2. Terdapat hubungan antara status gizi, riwayat gangguan lambung (gastritis atau tukak peptik), kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, dan faktor herediter dengan gejala dispepsia yang dialami contoh.

3. Status gizi, kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, tingkat stres, dan faktor herediter merupakan faktor risiko dispepsia contoh

Kegunaan

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Dispepsia

Berdasarkan konsensus Roma tahun 1999, dispepsia diartikan sebagai rasa sakit atau ketidaknyamanan yang berpusat pada perut bagian atas (Chang 2006). Ketidaknyamanan tersebut dapat berkaitan dengan masalah organik pada saluran cerna bagian atas, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), gastritis, tukak peptik, gangguan kandung empedu (kolesistitis), atau patologi teridentifikasi lainnya. Dispepsia fungsional atau dispepsia nonulkus (nonulcer dyspepsia) merupakan ketidaknyamanan perut bagian atas, yang menetap atau kambuhan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya secara organik atau tidak disertai dengan gangguan pada organ pencernaan atas. Mekanisme dasar pada dispepsia nonulkus mungkin berhubungan dengan hipersensitivitas visceral terhadap asam atau dilatasi lambung, gangguan akomodasi lambung, gangguan pada bagian otak yang berkaitan dengan pencernaan, dan motilitas atau pengosongan lambung yang abnormal. Diet, stres, dan faktor gaya hidup lainnya dapat berkontribusi terhadap munculnya gejala dispepsia (Beyer 2004). Remaja rentan mengalami dispepsia karena pola makan yang tidak teratur dan gaya hidup yang cenderung mudah terbawa arus (mengkonsumsi makanan cepat saji, dan makanan instan, gaya hidup menjadi lebih sedentary menginginkan segala sesuatu yang mudah, serta rentan stres).

Prevalensi dispepsia secara global bervariasi antara 7-45%. Prevalensi dispepsia di Amerika Serikat 23,0-25,8%, di India 30,4%, Hongkong 18,4%, Australia 24,4-38,2%, dan China sebesar 23,3%. Penelitian Reshetnikov et al. (2001) menemukan 27% remaja putri dan 16% remaja putra mengalami dispepsia. Penelitian mengenai dispepsia di Indonesia lebih banyak dilakukan di rumah sakit (hospital based). Depkes (2006) menunjukkan bahwa dispepsia menempati urutan ke-15 dari daftar 50 penyakit dengan pasien rawat inap terbanyak. ). Laporan rawat jalan di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta menjelaskan bahwa pasien yang datang dengan keluhan dispepsia mencapai 40% kasus per tahun (Dwijayanti, Ratnasari, dan Susetyowati 2008).

(20)

satu atau lebih gejala yang diperkirakan berasal dari daerah gastroduodenal. Salah satu subtipe dispepsia adalah dispepsia dengan gejala-gejala menyerupai ulkus atau tukak peptik. Keluhan yang menonjol pada subtipe tersebut antara lain nyeri epigastrum episodik yang terlokalisasi, nyeri tersebut hilang setelah pemberian antasida (Chang 2006). Gangguan lambung berupa gastritis dan tukak peptik menimbulkan gejala-gejala dispepsia yang mengganggu penderitanya.

Gangguan Lambung

Lambung merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti kantung, dapat berdilatasi, dan berfungsi mencerna makanan dibantu oleh asam klorida (HCl) dan enzim-enzim seperti pepsin, renin, dan lipase. Lambung memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi pencernaan dan fungsi motorik. Fungsi pencernaan dan sekresi lambung berkaitan dengan pencernaan protein, sintesis dan sekresi enzim-enzim pencernaan. Fungsi motorik lambung terdiri atas penyimpanan makanan sampai makanan dapat diproses dalam duodenum, pencampuran makanan dengan asam lambung, hingga membentuk suatu kimus, dan pengosongan makanan dari lambung ke dalam usus dengan kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan absorbsi dalam usus halus (Wilson dan Lester 1994). Secara anatomis lambung terdiri atas empat bagian, yaitu: cardia, fundus, body atau corpus, dan pylorus. Adapun secara histologis, lambung terdiri atas beberapa lapisan, yaitu: mukosa, submukosa, muskularis mukosa, dan serosa (Ganong 2003).

(21)

Sekresi asam lambung dipengaruhi oleh kerja saraf dan hormon. Sistem saraf yang bekerja yatu saraf pusat dan saraf otonom, yakni saraf simpatis dan parasimpatis. Adapun hormon yang bekerja antara lain adalah hormon gastrin, asetilkolin, dan histamine. Terdapat tiga fase yang menyebabkan sekresi asam lambung. Pertama, fase sefalik, sekresi asam lambung terjadi meskipun makanan belum masuk lambung, akibat memikirkan atau merasakan makanan. Kedua, fase gastrik, ketika makanan masuk lambung akan merangsang mekanisme sekresi asam lambung yang berlangsung selama beberapa jam, selama makanan masih berada di dalam lambung. Ketiga, fase intestinal, proses sekresi asam lambung terjadi ketika makanan mengenai mukosa usus. Produksi asam lambung akan tetap berlangsung meskipun dalam kondisi tidur. Kebiasaan makan yang teratur sangat penting bagi sekresi asam lambung karena kondisi tersebut memudahkan lambung mengenali waktu makan sehingga produksi lambung terkontrol (Ganong 2003).

Gangguan lambung yang umum terjadi adalah gastritis dan tukak peptik (tukak lambung dan tukak duodenum). Gastritis dan tukak peptik merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan asam lambung dan pepsin. Patofisiologi dasar dari gastritis dan tukak peptik adalah gangguan keseimbangan faktor agresif (asam lambung dan pepsin) dan faktor defensif (ketahanan mukosa). Penggunaan aspirin atau obat anti inflamasi non steroid lainnya, obat-obatan kortikosteroid, penyalahgunaan alkohol, menelan substansi erosif, merokok, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat mengancam ketahanan mukosa lambung. Gastritis dan tukak peptik menimbulkan gejala berupa nyeri, sakit, atau ketidaknyamanan yang terpusat pada perut bagian atas (dispepsia) (Beyer 2004).

Gastritis

(22)

akut dan kronis. Gastritis akut yang tidak diobati akan berkembang menjadi kronis, disertai dengan borok-borok luka pada dinding yang disebut tukak lambung. Gastritis memegang peranan penting sebagai faktor penyebab ulkus atau tukak dan karsinoma. Gastritis kronis dapat menyebabkan fungsi lambung terganggu. Kondisi ini akan mengurangi asupan makanan ke tubuh sehingga berat badan turun, penyerapan vitamin B12 ikut terganggu sehingga dapat menyebabkan anemia (Uripi 2004).

Meningkatnya produksi asam lambung dan berkurangnya daya tahan dinding lambung terhadap pengaruh dari luar akan menimbulkan gastritis. Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu penyakit ini, antara lain faktor makanan, obat-obatan atau zat kimia, dan faktor psikologis (Uripi 2004). Faktor makanan seperti penyimpangan cara makan, jenis makanan, dan jeda waktu makan dapat menyebabkan gastritis. Meningkatnya cairan lambung disebabkan oleh makanan dan minuman seperti cuka, cabe, kopi, alkohol, dan makanan lain yang bersifat merangsang (Uripi 2004). Kebiasaan makan tidak teratur akan membuat lambung sulit untuk beradaptasi untuk mengeluarkan asam lambung. Jika hal ini berlangsung lama, produksi asam lambung akan berlebihan sehingga dapat mengiritasi dinding mukosa pada lambung.

Penyebab gastritis yang paling umum sebenarnya adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori). Bakteri H. pylori adalah bakteri gram negatif yang bergerak dengan flagela. Infeksi bakteri ini termasuk infeksi yang umum terjadi pada manusia (Beyer 2004). Prevalensi H. pylori di negara berkembang dilaporkan lebih tinggi dibanding negara maju. Di negara berkembang, prevalensi H. pylori berkisar antara 30-80% sedangkan di negara maju diperkirakan sebesar 10% (Fardah, Ganuh dan Subijanto 2006). Bakteri H. pylori hidup secara berkoloni di bawah lapisan selaput lendir (mukosa) dinding bagian dalam lambung dan menghasilkan urea sehingga mampu bertahan dalam suasana asam. Fungsi selaput lendir pada lambung adalah untuk melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat asam yang diproduksi lambung.

Tukak Peptik (Ulkus Peptikum)

(23)

saluran cerna yang terkena getah asam lambung, yaitu distal oesofagus, lambung, duodenum, dan jejunum (Wilson dan Lester 1994).

Keluhan yang sering diutarakan penderita adalah nyeri di daerah epigastrum (ulu hati) berupa nyeri yang tajam dan menyayat, atau terasa tertekan, penuh atau terasa perih seperti pada seseorang yang lapar. Nyeri pada bagian kanan atau kiri epigastrum terjadi 30 menit setelah makan dan dapat menjalar ke punggung. Nyeri akan terasa berkurang setelah makan atau minum antasida. Dispepsia juga dialami oleh penderita tukak peptik. Rasa nyeri pada perut bagian atas merupakan gejala khas tukak, rasa nyeri diakibatkan oleh asam lambung asam lambung dan pepsin yang merangsang serabut syaraf di dasar tukak. Selain itu, motilitas otot-otot dapat menambah rasa nyerinya. Gejala lain seperti rasa asam di mulut, mual, muntah, kembung, bersendawa, dan berkurangnya nafsu makan (Hadi 2002 dalam Harahap 2009). Luka yang timbul pada tukak peptik dapat mengakibatkan perdarahan. Bila jumlahnya sedikit, darah tersebut akan keluar bersama feses. Feses akan berubah warna menjadi kehitaman, keadaan ini disebut melena. Bila jumlahnya sangat banyak, darah akan dimuntahkan, keadaan ini disebut hematemesis (Uripi 2004).

Prevalensi tukak peptik di Indonesia pada beberapa penelitian ditemukan

antara 6-15% terutama pada usia 20-50 tahun (Suyono 2001). Wilson dan Lester

(1994) menyatakan bahwa tukak duodenum menyusun 80% dari keseluruhan

tukak peptik dan menyerang sekitar 10-12% populasi. Tukak duodenum

umumnya menyerang pada kelompok umur yang lebih muda. Terjadinya tukak

duodenum pada umumnya disebabkan oleh hipersekresi asam lambung.

Penyebab kenaikan asam lambung diantaranya: jumlah sel parietal lebih banyak,

sel parietal lebih sensitif terhadap rangsangan, sekresi gastrin yang berlebihan,

dan hiperfungsi kelenjar. Kelainan lain yang ditemukan pada tukak duodenum

adalah pengosongan asam lambung terlalu cepat sehingga beban asam

lambung pada mukosa duodenum tinggi. Pada tukak lambung, sering ditemukan

kelainan berupa keterlambatan pengosongan lambung. Diperkirakan bahwa

regurgitasi isi duodenum yang mengandung empedu dapat mencetuskan trauma

mukosa lambung yang kemudian berlanjut dengan ulserasi lambung (Wilson dan

Lester 1994).

(24)

terlindung dari asam lambung dan pepsin melalui sekresi mukus, produksi bikarbonat, pembersihan kelebihan asam lambung (difusi ion hidrogen) melalui aliran darah, dan regenerasi sel epitelial. Produksi mukus distimulasi oleh prostaglandin (Beyer 2004). Selain faktor agresif dan defensif, terdapat beberapa hal yang menjadi faktor kontibusi untuk terjadinya tukak peptik antara lain jenis kelamin, faktor stres, herediter, merokok, obat-obatan, dan infeksi bakteri (Julius 1992). Beyer (2002) menyatakan bahwa penyebab primer tukak peptik adalah infeksi H. pylori, gastritis, penggunaan aspirin dan obat antiinflamasi non steroid, kortikosteroid, dan stres. Konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak mukosa lambung, memperburuk gejala tukak peptik, dan mengganggu penyembuhan tukak peptik. Merokok dapat mengganggu faktor defensif lambung (menurunkan sekresi bikarbonat dan aliran darah di mukosa), memperburuk peradangan, dan berkaitan erat dengan komplikasi tambahan karena infeksi H. pylori. Patofisiologi tukak peptik dipaparkan dalam gambar 1.

Gambar 1 Etiologi, patogenesis, dan manajemen tukak peptik atau peptic ulcer (Beyer 2004)

Erosi lapisan mukosa, submukosa, atau lapisan otot dinding saluran cerna atas

* OAINS : Obat Anti Inflamasi Non Steroid  Mengurangi atau menghindari inhibitor atau blok reseptor H2

Menghindari rokok

(25)

Kebiasaan Merokok

Rokok adalah silinder kertas yang berisi daun tembakau cacah. Dalam sebatang rokok, terkandung berbagai zat-zat kimia berbahaya yang berperan seperti racun. Dalam asap rokok yang disulut, terdapat kandungan zat-zat kimia berbahaya seperti gas karbon monoksida, nitrogen oksida, amonia, benzene, methanol, perylene, hidrogen sianida, akrolein, asetilen, bensaldehid, arsen, benzopyrene, urethane, coumarine, ortocresol, n-nitrosamin, nikotin, tar, dan lain-lain. Selain nikotin, peningkatan paparan hidrokarbon, oksigen radikal, dan substansi racun lainnya turut bertanggung jawab pada berbagai dampak rokok terhadap kesehatan.

Efek rokok pada saluran gastrointestinal antara lain melemahkan katup esofagus dan pilorus, meningkatkan refluks, mengubah kondisi alami dalam lambung, menghambat sekresi bikarbonat pankreas, mempercepat pengosongan cairan lambung, dan menurunkan pH duodenum. Sekresi asam lambung meningkat sebagai respon atas sekresi gastrin atau asetilkolin (Beyer 2008). Selain itu, rokok juga mempengaruhi kemampuan cimetidine (obat penghambat asam lambung) dan obat-obatan lainnya dalam menurunkan asam lambung pada malam hari, dimana hal tersebut memegang peranan penting dalam proses ulcerogenesis (timbulnya tukak). Rokok dapat mengganggu faktor defensif lambung (menurunkan sekresi bikarbonat dan aliran darah di mukosa), memperburuk peradangan, dan berkaitan erat dengan komplikasi tambahan karena infeksi H. pylori (Beyer 2004). Merokok juga dapat menghambat penyembuhan spontan dan meningkatkan risiko kekambuhan tukak peptik.

Pengukuran konsumsi rokok dapat dilakukan dengan menggunakan ukuran kuantitatif seperti frekuensi merokok (rokok/hari), durasi (berapa tahun merokok), dan umur ketika awal merokok (Musbyarini 2009). Ukuran-ukuran kuantitatif tersebut dapat dihubungkan dengan dampak kesehatan yang ditimbulkan rokok terhadap penggunanya.

Konsumsi Minuman Beralkohol

(26)

minuman keras lainnya terdapat dalam bentuk etil alkohol atau etanol (Almatsier 2002).

Metabolisme alkohol melibatkan enzim alkohol dehidrogenase yang terdapat dalam lambung dan hati. Di dalam lambung, sebagian alkohol akan mengalami pemecahan sehingga mengurangi jumlah alkohol yang diserap ke dalam aliran darah hingga 20%. Alkohol yang diabsorbsi kemudian dibawa melalui pembuluh darah ke hati, yang mampu memecah alkohol dalam jumlah besar. Jumlah alkohol yang dapat ditangani oleh hati sekaligus rata-rata sebanyak 15 gram etanol per jam, bergantung pada ukuran tubuh, kondisi kesehatan, jarak waktu makan atau kondisi lambung dan usus, kebiasaan umum, berat badan, jenis kelamin,dan lain-lain. Bila melebihi jumlah yang dapat dioksidasi oleh hati, alkohol akan dikeluarkan dan masuk sirkulasi darah dan dibawa ke bagian-bagian tubuh yang lain (Almatsier 2002).

Organ tubuh yang berperan besar dalam metabolisme alkohol adalah lambung dan hati, oleh karena itu efek dari kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang tidak hanya berupa kerusakan hati atau sirosis, tetapi juga kerusakan lambung. Dalam jumlah sedikit, alkohol merangsang produksi asam lambung berlebih, nafsu makan berkurang, dan mual, sedangkan dalam jumlah banyak, alkohol dapat mengiritasi mukosa lambung dan duodenum (Harahap 2009). Konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak mukosa lambung, memperburuk gejala tukak peptik, dan mengganggu penyembuhan tukak peptik (Beyer 2004). Alkohol mengakibatkan menurunnya kesanggupan mencerna dan menyerap makanan karena ketidakcukupan enzim pankreas dan perubahan morfologi serta fisiologi mukosa gastrointestinal (Beyer 2008).

Aktivitas Fisik

(27)

Aktivitas fisik erat kaitannya dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tubuh yang sehat akan mampu melakukan aktivitas fisik secara optimal dan sebaliknya, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dalam porsi cukup akan membawa dampak positif terhadap kesehatan tubuh. Orang yang aktif bergerak memiliki tekanan darah yang lebih baik, pola tidur yang lebih baik, stres yang lebih sedikit, dan umumnya memiliki umur harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan orang yang kurang gerak (Byrd-Bredbenner et al. 2009).

Pengaruh diet dan olahraga pada status kesehatan berhubungan dekat satu sama lain. Olahraga dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit dan kematian dini. Sebaliknya, kebiasaan dan aktivitas fisik sedentary dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara teratur menurunkan risiko berbagai dampak-dampak gaya hidup yang negatif bagi kesehatan; melakukan aktivitas ringan lebih baik daripada tidak sama sekali; untuk dampak kesehatan yang besar, tambahan manfaat bergantung pada intensitas olahraga yang lebih tinggi, frekuensi yang lebih sering dan/atau durasi yang lebih lama; sebagian besar manfaat kesehatan diperoleh dengan aktivitas fisik moderat minimal 150 menit per minggu; olahraga aerobik dan peregangan otot adalah olahraga yang sama-sama bermanfaat; manfaat olahraga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja, orang dewasa dan paruh baya, lansia, dan di setiap penelitian berdasarkan ras atau etnis (USDHHS 2008).

(28)

meningkatkan kemampuan seseorang untuk bertahan terhadap stres, dan mereduksi rangsangan sekresi asam lambung. Beberapa fakta menyatakan bahwa olahraga secara signifikan dapat mengurangi risiko tukak duodenum dan perdarahan gastrointestinal pada penderita gastritis atau tukak duodenum (Cheng et al. 2000).

Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologi, psikologi, dan sosial budaya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebiasaan makan bukanlah bawaan sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Kebiasaan makan atau pola makan adalah suatu perilaku yang berhubungan dengan makan dan makanan seperti tata krama, frekuensi makan seseorang, pola makanan yang dimakan, pantangan, distribusi makanan dalam anggota keluarga, preferensi terhadap makanan, dan cara pemilihan bahan pangan (Suhardjo 1989). Kebiasaan makan yang berubah dapat disebabkan oleh pendidikan gizi dan kesehatan, serta aktivitas pemasaran atau distribusi pangan. Kebiasaan makan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, seperti lingkungan budaya, lingkungan alam, serta populasi.

Khumaidi (1994) menyatakan bahwa pada dasarnya terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan makan manusia, yaitu faktor intrinsik (berasal dari dalam diri manusia) dan faktor ekstrinsik (berasal dari luar manusia). Faktor intrinsik yang mempengaruhi kebiasaan makan antara lain asosiasi emosional, keadaan jasmani, keadaan kejiwaan, dan penilaian terhadap makanan, sedangkan faktor ekstrinsik antara lain lingkungan sosial, alam, budaya, agama, dan ekonomi.

Dari segi gizi, kebiasaan makan ada yang baik dan yang buruk. Kebiasaan makan yang baik adalah yang dapat menunjang terpenuhinya kecukupan gizi, sedangkan kebiasaan yang buruk adalah kebiasaan yang dapat menghambat terpenuhinya kecukupan gizi, seperti adanya pantangan atau tabu yang berlawanan degan konsep gizi.

(29)

tekstur, harga, tipe makanan, bentuk, dan kombinasi makanan. Ketiga, karakter lingkungan seperti musim, pekerjaan, mobilitas, dan tingkat sosial masyarakat.

Pola makan sehat mengandung dua makna, yaitu jenis makanan yang sehat dan pola makannya. Makanan yang sehat yaitu makanan yang di dalamnya terkandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Adapun pola makan yang sehat adalah kebiasaan yang baik, yaitu sesuai jumlahnya dengan yang dibutuhkan tubuh, beragam jenisnya sehingga mencukupi kebutuhan zat gizi esensial tubuh, dan jadwal makan yang teratur (Khomsan 2002).

Kaitan Kebiasaan Makan dengan Gangguan Pencernaan

Faktor yang berperan pada kejadian gastritis dan tukak lambung dengan gejala khas dispepsia diantaranya adalah pola makan atau kebiasaan makan dan sekresi asam lambung (Djojoningrat 2001). Selain jenis-jenis makanan yang dikonsumsi, ketidakteraturan makan seperti kebiasaan makan buruk, tergesa-gesa, dan jadwal yang tidak teratur dapat menyebabkan dispepsia (Eschleman 1984, diacu dalam Annisa 2009). Berdasarkan penelitian tentang gejala gastrointestinal yang dilakukan oleh Reshetnikov et al. (2007) kepada 1562 orang dewasa, jeda jadwal makan yang lama dan ketidakteraturan makan berkaitan dengan gejala dispepsia.

(30)

Jenis-jenis makanan tertentu juga berperan dalam timbulnya sindrom dispepsia. Terlalu sering mengkonsumsi makanan yang berminyak dan berlemak membuat makanan tinggal di lambung lebih lama. Makanan tersebut lambat dicerna dan menimbulkan peningkatan tekanan di lambung yang pada akhirnya membuat katup antara lambung dengan kerongkongan (lower esophageal sphincter/LES) melemah sehingga asam lambung dan gas akan naik ke kerongkongan. Lamanya pengosongan lambung berhubungan dengan tukak lambung. Sebaliknya, konsumsi lemak dalam jumlah yang cukup dapat menekan sekresi asam lambung dengan cara memperlambat pengosongan lambung dan menstimulasi aliran getah pankreas serta empedu. Dengan demikian lemak turut memfasilitasi proses pencernaan agar berlangsung lebih optimal (Ettinger 2000).

Minum kopi, teh, atau minuman lain yang mengandung kafein juga dapat mengendurkan LES. Menurut Shinya (2007), teh mengandung tanin yang mudah teroksidasi menjadi asam tanat. Asam tanat memiliki efek negatif pada mukosa lambung sehingga menyebabkan masalah pada lambung misalnya tukak lambung. Minum teh dalam kondisi perut kosong dapat menimbulkan tekanan berlebih pada lambung. Diet tinggi garam dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan proliferasi epitel lambung sehingga menyebabkan gastritis. Konsumsi NaCl dalam jumlah berlebihan akan meningkatkan kolonisasi Helicobacter pylori. Infeksi Helicobacter pylori yang predominan di antrum dapat meningkatkan kadar gastrin sehingga meningkatkan sekresi asam lambung dan menyebabkan tukak lambung (Dwijayanti, Ratnasari, dan Susetyowati 2008).

Makanan pedas dan berbumbu tajam dapat merangsang sekresi asam lambung berlebih sehingga muncul gejala-gejala sindrom dispepsia. Makanan yang terasa asam, sayuran dan buah-buahan bergas seperti kol, sawi, durian, nangka, dan lainnya dapat menimbulkan gejala sindrom dispepsia. Kebanyakan agen yang merangsang sekresi asam lambung juga akan meningkatkan sekresi pepsinogen. Peningkatan sekresi asam lambung yang melalmpaui batas akan mengiritasi mukosa lambung sehingga timbul gastritis dan tukak.

(31)

dan fungsi membran sel (cell recognition), pertumbuhan dan perkembangan, fungsi kekebalan, dan reproduksi (Mahan & Escott-Stump 2000). Diferensiasi sel terjadi apabila sel tubuh mengalami perubahan dalam sifat atau fungsi awalnya. Sel-sel yang paling nyata mengalami diferensiasi adalah sel-sel epitel khusus, terutama sel goblet, yaitu sel kelenjar yang mensintesis dan mengeluarkan mukus atau lendir. Jaringan epitel yang melapisi organ dalam tubuh dinamakan membran mukosa. Mukus melindungi sel-sel epitel dari mikroorganisme dan partikel lain yang berbahaya. Mukosa lambung juga melindungi sel epitel lambung dari sifat korosif asam lambung dan pepsin. Kekurangan vitamin A menghambat fungsi sel-sel goblet mengeluarkan mukus (Almatsier 2002).

Konsumsi Makanan

Sebagaimana diketahui, kebiasaan makan atau pola makan adalah suatu perilaku yang berhubungan dengan makan dan makanan salah satunya adalah pola makanan yang dimakan sehari-hari atau konsumsi makanan. Konsumsi makanan berkaitan erat dengan masalah gizi dan kesehatan serta perencanaan produksi pangan. Konsumsi makanan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah makanan yang dimakan (dikonsumsi) seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Definisi ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan dapat ditinjau dari aspek jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi. Dalam menghitung jumlah zat gizi yang dikonsumsi, kedua informasi tersebut (jenis dan jumlah makanan) merupakan hal yang penting.

Terdapat dua pengertian tentang penilaian konsumsi pangan, yaitu: (1) penilaian terhadap kandungan zat gizi dari makanan, dan (2) membandingkan kandungan zat gizi makanan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang dengan angka kecukupannya. Untuk mengetahui tingkat konsumsi zat gizi seseorang atau kelompok orang digunakan pengertian yang kedua. Pada prinsipnya, penilaian jumlah konsumsi zat gizi menggunakan tiga jenis data, yaitu data konsumsi pangan, data kandungan zat gizi bahan makanan, dan data kecukupan gizi (Hardinsyah dan Briawan 1994).

(32)

yang diinginkan, ketersediaan dana dan waktu, serta tingkat kemahiran/keahlian tenaga pengumpul data (Kusharto dan Sa’adiyyah 2008).

Salah satu metode survei konsumsi pangan individu adalah metode recall. Penggunaan metode ini bertujuan untuk memperoleh data konsumsi pangan secara kuantitatif. Pada metode ini dicatat mengenai jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi pada waktu yang lalu (retrospektif). Pengukuran konsumsi diawali dengan menanyakan jumlah pangan dalam URT (ukuran rumah tangga) yang kemudian dikonversikan dalam satuan berat. Metode recall memiliki beberapa keuntungan, diantaranya biaya yang murah dan tidak memakan waktu lama. Namun, kelemahan metode ini adalah data yang dihasilkan mungkin kurang akurat karena mengandalkan keterbatasan daya ingat seseorang (Kusharto dan Sa’adiyyah 2008).

Tidak ada metode yang terbaik untuk semua tujuan studi karena setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk menyesuaikan dengan subjek penelitian dan meminimalisir kelemahan suatu metode, dapat dilakukan kombinasi atau modifikasi seperlunya (Kusharto dan Sa’adiyyah 2008). Dalam penelitian ini, metode recall dimodifikasi menyerupai anamnesa diet atau kebiasaan makan. Recall tidak dilakukan berdasarkan konsumsi 24 jam responden, melainkan berdasarkan kebiasaan makan sehari-hari responden. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan responden dalam mengisi form konsumsi. Kondisi responden yang berada dalam satu lingkungan asrama dengan konsumsi mayoritas berasal dari kantin asrama menjadi pertimbangan peneliti untuk memodifikasi metode recall.

Status Gizi

Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorpsi) dan penggunaan (utilisasi) zat gizi makanan. Dengan menilai status gizi seseorang atau sekelompok orang maka dapat diketahui apakah seseorang atau sekelompok orang tersebut status gizinya baik atau tidak baik. Ada berbagai cara yang digunakan untuk menilai status gizi, yaitu melalui konsumsi makanan, antropometri, biokimia, dan klinis (Nasoetion & Riyadi 1995).

(33)

normal (overweight) mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit degeneratif. Laporan FAO/WHO/UNU diacu dalam Supariasa et al. (2001) menyatakan bahwa batasan berat badan normal ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Berikut ini merupakan rumus perhitungan IMT.

Untuk menganalisis status gizi anak dan remaja (usia 5-19 tahun), salah satu referensi yang dapat digunakan adalah referensi WHO 2007. Referensi WHO 2007 adalah rekonstruksi dari National Center for Health Statistic (NCHS) atau WHO. Referensi WHO 2007 menggunakan kumpulan data NCHS yang disuplementasi dengan data dari standar pertumbuhan WHO untuk anak balita. Indikator yang digunakan dalam referensi WHO 2007 adalah IMT terhadap umur (IMT/U), berat badan terhadap umur (BB/U), dan tinggi badan terhadap umur (TB/U). Klasifikasi dan cut off point status gizi berdasarkan IMT dijelaskan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1 Klasifikasi IMT/U untuk anak dan remaja (WHO 2007) Klasifikasi Cut off point

Sangat kurus (severe thinnes) < -3 SD Kurus (thinnes) < -2 s.d. -3 SD

Normal -2 SD s.d. +1 SD

Overweight > +1 s.d. +2 SD

Obesitas (obese) > +2 SD

Keterangan: SD = standar deviasi; s.d.= sampai dengan

Konsumsi Obat-Obatan

Obat-obatan yang Memicu Terjadinya Gangguan Lambung

Gastritis dan tukak peptik dapat disebabkan karena memakan obat-obat tertentu. Obat anti nyeri (aspirin, neuralgin, piroxicam, parasetamol), obat anti inflamasi non steroid (OAINS), antibiotik, kortikosteroid (hormon), tablet besi, suplemen kalium, dan obat kemoterapi adalah beberapa jenis obat yang memiliki efek menyebabkan gastritis. Selain itu, menelan racun atau zat kimia tertentu pun berpotensi menyebabkan gastritis, seperti menelan asam korosif, alkohol, benda asing seperti klip, stapler, dan lainnya (Santoso 2008).

Obat anti inflamasi biasanya diindikasikan untuk mengurangi gejala-gejala pada kondisi artritis reumatoid, osteosrtritis, gout akut, dismenorea, sakit kepala dan migren, nyeri pasca operasi, nyeri derajat ringan sampai sedang akibat cedera jaringan, pireksia (demam), ileus, kolik ginjal, dan lainnya. Di Indonesia, obat-obatan banyak yang dijual secara bebas. Obat-obatan daftar G (obat yang

(34)

perlu resep dokter) dapat dengan mudah dibeli tanpa menggunakan resep. Pemakaian obat-obatan yang luas ini meyebabkan kejadian efek samping obat meningkat. Beberapa obat menimbulkan efek samping yang berhubungan dengan saluran cerna. Sekitar 10-20% pasien yang menggunakan aspirin dan OAINS mengalami dispepsia. Terdapat dua mekanisme kerja obat-obatan ini yang dapat menyebabkan iritasi secara langsung maupun tidak langsung pada saluran cerna. Molekul-molekul obat yang bersifat asam akan langsung mengiritasi mukosa lambung dan inhibisi atau hambatan pengeluaran kadar prostaglandin yang bersifat protektif terhadap mukosa lambung. Prostaglandin dihambat karena dianggap bertanggungjawab terhadap munculnya inflamasi dan rasa nyeri (Santoso 2008).

Obat-obatan untuk Mengatasi Gangguan Lambung

Obat yang lazim digunakan untuk mengatasi gejala gastritis dan tukak peptik adalah obat-obatan untuk menghambat sekresi asam lambung. Obat-obatan ini diantaranya adalah penghambat histamin (H2 blocker) seperti cimetidine dan ranitidine, inhibitor pompa proton seperti omeprazole, maupun obat untuk menetralisir asam lambung (antasida) seperti mylanta, sanmag, promag, dan lainnya. Bila diketahui gastritis atau tukak peptik yang terjadi disebabkan oleh H. pylori, maka antibiotik akan diberikan pada penderita.

Antasida merupakan obat yang paling umum digunakan untuk mengatasi gejala gastritis atau tukak peptik. Obat jenis ini termasuk obat yang dijual bebas, (OTC, Over the counter). Obat-obatan lainnya (penghambat histamin, inhibitor pompa proton, antibiotik) merupakan obat daftar G yang seharusnya memerlukan resep dokter.

Antasida diberikan secara oral untuk mengurangi rasa perih akibat suasana lambung yang terlalu asam dengan cara menetralkan asam lambung. Umumnya antasida merupakan basa lemah, terdiri dari zat aktif yang mengandung alumunium hidroksida dan magnesium hidroksida. Terkadang antasida juga dikombinasikan dengan simetikon untuk mengurangi kelebihan gas. Efek samping yang utama pada antasida dengan zat aktif alumunium hidroksida adalah konstipasi (sembelit). Sedangkan antasida dengan zat aktif magnesium hidroksida dapat menyebabkan diare, sehingga kedua zat aktif ini sering dikombinasikan agar efek samping dapat diminimalisir.

(35)

mengandung mineral magnesium atau alumunium. Mineral yang yang memiliki berat molekul dan jumlah muatan (valensi) sama akan bersaing satu sama lain untuk diabsorbsi. Magnesium (Mg), kalsium (Ca), besi (Fe), dan tembaga (Cu) sama-sama memiliki valensi +2 sehingga jika dikonsumsi bersamaan akan saling menghambat absorbsi (Almatsier 2002). Sering mengkonsumsi antasida akan menimbulkan risiko defisiensi vitamin dan mineral tertentu. Jika defisiensi besi dan vitamin B12 yang terjadi, maka dapat berdampak pada anemia.

Stres

Secara umum, stres dapat dibedakan menjadi dua, yaitu stres fisik dan stres psikologis. Stres fisik terjadi, misalnya karena luka bakar, infeksi yang sampai masuk ke pembuluh darah atau sepsis, adanya trauma, sedang dalam perawatan setelah pembedahan, adanya henti napas, gagal ginjal, dan kerusakan saraf. Semua keadaan di atas menimbulkan stres fisik yang cukup serius sehingga secara tidak langsung dapat menyebabkan iritasi pada lambung. Adapun stres psikologis lebih bersifat ketegangan atau tekanan mental yang dirasakan internal di dalam diri (Tarigan 2003).

(36)

Selain hormon kortisol, ada hormon lain yang turut berperan dalam mekanisme ini, diantaranya hormon katekolamin yang terdiri dari zat aktif dopamin, norepinefrin, dan epinefrin yang lebih dikenal dengan adrenalin. Hormon ini akan mengaktifkan suatu sistem ingatan jangka panjang yang akan mengingat stressor yang sama pada peristiwa selanjutnya serta menekan bagian otak yang berperan dalam ingatan jangka pendek. Penekanan ingatan jangka pendek inilah yang dinilai para ahli sebagai faktor utama yang menyebabkan orang tidak lagi berpikir secara rasional ketika mereka dilanda stres. Proses ini juga memicu terjadinya penyakit psikosomatik dengan gejala dispepsia, seperti mual dan muntah, diare, pusing, sakit otot, juga sendi. Berbagai mekanisme hormonal (penurunan serotonin, peningkatan asetilkolin, penurunan katekolamin, dll.) akan menimbulkan hipersimpatotonik sistem gastrointestinal yang akan menimbulkan peningkatan peristaltik dan sekresi asam lambung yang menyebabkan hiperasiditas lambung, kolik, vomitus, dan sebagian besar gejala gastritis dan ulkus peptik (Tarigan 2003).

Faktor Herediter dan Golongan Darah

Hampir semua penyakit yang terjadi pada manusia memiliki unsur genetik. Faktor genetik pada setiap orang dapat mempengaruhi struktur dan fungsi tubuh dalam kondisi normal dan ketika sakit. Setiap penyakit, satu atau lebih faktor genetik menentukan karakter, gejala, dan tingkat keparahan penyakit. Pada penyakit tukak peptik, gastritis, dan kanker lambung, faktor genetik berkontribusi pada kerentanan dan konsekuensi infeksi (Riccardi dan Rotter 2004).

(37)

faktor psikososial yang berkaitan dengan ibu juga berpengaruh pada munculnya gangguan lambung. Kebiasaan makan anak dibentuk di keluarga. Ibu adalah pihak yang berperan penting dalam membentuk kebiasaan anak sejak dini. Kebiasaan baik yang ditanamkan oleh ibu sejak masa kanak-kanak biasanya akan terinternalisasi dan terbawa hingga anak beranjak remaja. Kebiasaan makan dan gaya hidup yang sehat akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa golongan darah berhubungan dengan risiko penyakit. Golongan darah mempengaruhi sistem metabolisme dan daya tahan tubuh serta keadaan mental. Hal ini dikarenakan adanya hubungan secara genetik antara gen pada golongan darah dengan gen lain yang berpengaruh terhadap kesehatan dan sistem metabolisme secara keseluruhan (D’Adamo 2002). Pada golongan darah O didapatkan 30-40% lebih sering mengalami tukak peptik dibandingkan golongan darah lainnya (Julius 1992). Golongan darah O memiliki kecenderungan untuk terkena insiden penyakit pencernaan, yaitu gastritis, duodenitis, dan tukak peptik (ulkus) lebih tinggi dibandingkan dengan golongan darah lainnya karena produksi asam lambungnya lebih banyak dibandingkan golongan darah yang lain. Penelitian Mulyani (2007) pada mahasiswa TPB IPB menunjukkan bahwa golongan darah O mempunyai risiko sebesar 1,96 kali lebih besar untuk mengalami penyakit peptik dibandingkan golongan darah yang lain (A, B, dan AB).

Lingkungan (Sosial-Ekonomi)

(38)

rendah merupakan salah satu faktor resiko terjadinya gejala gangguan saluran cerna bagian atas dan bawah. Hal ini mungkin terkait dengan faktor kebersihan. Faktor kebersihan yang buruk membuat infeksi bakteri H. pylori menjadi lebih sering terjadi. Penyebaran dispepsia, gastritis, dan tukak peptik berkaitan dengan H. pylori umumnya terjadi pada lingkungan yang padat penduduknya, sosio-ekonomi yang rendah, dan lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan di negara maju. Beberapa penelitian menyimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara rendahnya pendapatan rumah tangga dan besarnya jumlah anggota keluarga dengan peningkatan kejadian penyakit gastrointestinal, termasuk dispepsia yang merupakan predisposisi gastritis dan tukak peptik. Ketidaknyamanan dengan pendapatan finansial berhubungan dengan stres yang juga dapat menimbulkan gastritis dan tukak peptik. Menurut Sultan (2009), ras, jenis kelamin, merupakan faktor yang berkontribusi pada tukak peptik.

Remaja

Monks (1999) menyebutkan bahwa remaja adalah individu yang berusia antara 12-21 tahun, yang sedang mengalami masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Usia 12-15 tahun disebut sebagai remaja awal, 15-18 tahun disebut masa remaja pertengahan atau madya, dan 18-21 tahun dinamakan remaja akhir. Di Indonesia, populasi remaja berjumlah 21% dari total penduduk, dengan jumlah ±44 juta jiwa.

Remaja merupakan periode penting pertumbuhan dan kematangan pada manusia. Pertumbuhan yang pesat, perubahan psikologis yang dramatis, serta peningkatan aktivitas yang menjadi karakteristik masa remaja, menyebabkan peningkatan kebutuhan zat gizi, dan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi status gizi remaja. Saat mencapai puncak kecepatan pertumbuhan (growth spurt), biasanya remaja mengkonsumsi makanan lebih sering dan lebih banyak. Sesudah masa growth spurt biasanya mereka akan lebih memperhatikan penampilan dirinya, terutama remaja putri. Mereka sering kali terlalu ketat dalam pengaturan pola makan dalam menjaga penampilannya sehingga dapat mengakibatkan kekurangan gizi (Sayogo 2006).

(39)

identitas, dan membentuk hubungan baru termasuk perasaan seksual (Santrock 1998). Hall (1989) dalam Papalia dan Olds (1998) menyebut masa ini sebagai periode “storm and stress”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar.

Pada remaja awal, konsep diri remaja ditandai dengan adanya peningkatan kesadaran diri secara eksponen dalam tanggapannya terhadap transformasi somatis pubertas. Kesadaran pada usia ini cenderung untuk berpusat pada karakteristik luar yang berbeda dengan introspeksi pada remaja akhir. Bagi remaja awal, adalah hal yang normal bila memperhatikan dengan teliti penampilannya dan merasakan bahwa orang lain juga berlaku demikian. Gangguan citra tubuh tingkat ringan pada usia ini bersifat universal. Gangguan citra tubuh yang serius seperti anoreksia nervosa juga cenderung muncul pada usia ini (Nelson 2000 dalam Annisa 2009).

Di Indonesia, populasi remaja berjumlah 21% dari total penduduk, dengan jumlah ±44 juta jiwa. Periode remaja merupakan periode kritis dimana terjadi perubahan fisik, biokimia, dan emosional yang cepat. Adanya pertumbuhan dan perkembangan pesat yang terjadi pada tubuhnya dan kesadaran untuk menjaga penampilan diri dapat membuat remaja mempunyai gambaran tentang diri (body image) yang salah. Body image adalah gambaran seseorang mengenai bentuk dan ukuran tubuhnya sendiri, gambaran ini dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran tubuh serta harapan terhadap bentuk dan ukuran tubuh yang diinginkan. Apabila harapan tersebut tidak sesuai dengan kondisi tubuh aktualnya maka, ini dianggap sebagai body image yang negatif (Heinberg dan Thompson 1999).

(40)

KERANGKA PEMIKIRAN

Status gizi dan kesehatan seseorang ditentukan oleh faktor-faktor internal (individu) dan faktor eksternal (lingkungan). Faktor internal tersebut antara lain gaya hidup dan kebiasaan makan. Status gizi adalah keadaan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan utilisasi zat gizi makanan. Gangguan kesehatan sekecil apapun akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang (Khomsan 2002).

Dispepsia merupakan sekumpulan rasa tidak nyaman pada perut bagian atas. Faktor risiko yang dapat memicu dispepsia antara lain umur, jenis kelamin, gaya hidup (merokok, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, aktivitas fisik), kebiasaan makan, status gizi, dan stres atau kondisi psikososial. Seseorang yang memiliki riwayat penyakit atau gangguan lambung sebelumnya (gastritis dan tukak peptik), akan lebih rentan mengalami dispepsia (kekambuhan gangguan lambung) dibandingkan orang normal. Gastritis atau tukak lambung disebabkan oleh infeksi H pylori, faktor genetis (riwayat penyakit keluarga(, dan golongan darah O (sekresi asam lambung pada orang bergolongan darah O lebih tinggi).

Menurut Supariasa (2001) status gizi turut menentukan kondisi kesehatan seseorang. Kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa adalah masalah penting kerena akan menimbulkan risiko-risiko penyakit tertentu. Berat badan yang sangat kurang (underweight) mempunyai risiko terhadap penyakit infeksi, sementara berat badan yang melebihi batas normal (overweight) mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit degeneratif.

(41)

saluran gastrointestinal cerna sehingga pencernaan menjadi lebih baik (Bredbenner 2009).

Kebiasaan makan erat kaitannya dengan sekresi asam lambung dan penyakit gastrointestinal. Kebiasaan makan yang teratur sangat penting bagi sekresi asam lambung karena kondisi tersebut memudahkan lambung mengenali waktu makan sehingga produksi asam lambung terkontrol (Annisa 2009). Peningkatan sekresi asam lambung yang melalmpaui batas akan mengiritasi mukosa lambung dan menimbulkan gatritis hingga tukak peptik. Zat gizi tertentu seperti lemak dan minyak, kafein, tanin, dan natrium memiliki hubungan yang kuat dengan timbulnya gastritis. Sebaliknya, vitamin A, vitamin C, dan kalium yang berperan memberikan perlindungan terhadap membran mukosa dapat menurunkan risiko terjadinya gastritis dan tukak peptik dan meringankan gejala-gejalanya (sindrom dispepsia).

Faktor stres erat kaitannya dengan berbagai rangkaian reaksi tubuh yang merugikan kesehatan. Gangguan psikis atau konflik emosi yang menimbulkan gangguan psikosomatik ternyata diikuti oleh perubahan fisiologis dan biokemis seseorang. Berbagai mekanisme hormonal akan menimbulkan hipersimpatotonik sistem gastrointestinal yang akan menimbulkan peningkatan peristaltik dan sekresi asam lambung yang menyebabkan hiperasiditas lambung, kolik, vomitus, dan sebagian besar gejala gastritis dan ulkus peptik (Harahap 2007).

Faktor herediter berpengaruh pada kejadian gastritis dan tukak peptik, demikian pula dengan golongan darah. Penyakit tukak peptik terjadi 2-3 kali lebih sering pada keluarga yang terdapat riwayat tukak peptik dibanding populasi normal. Golongan darah O memiliki kecenderungan untuk terkena insiden penyakit pencernaan, yaitu gastritis, duodenitis, dan tukak peptik (ulkus) lebih tinggi dibandingkan dengan golongan darah lainnya karena produksi asam lambungnya lebih banyak dibandingkan golongan darah yang lain (Riccardi dan Rotter 2004).

Gambar

Gambar 1 Etiologi, patogenesis, dan manajemen tukak peptik atau peptic ulcer
Gambar 2 Faktor risiko dispepsia pada mahasiswa IPB
Tabel 2 Perhitungan jumlah contoh minimal berdasarkan OR dari studi pustaka
Tabel 3 Variabel dan kategori variabel yang digunakan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi antara lain umur, status gizi, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, pola makan, alkohol, stress, dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang meliputi riwayat merokok, mengunyah tembakau, menyirih, dan konsumsi alkohol pada pasien kanker rongga mulut di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur, status pasangan, obesitas, konsumsi garam, merokok, stres, konsumsi alkohol, kebiasaan minum kopi, aktivitas

Hipotesis dari penelitian ini adalah perbedaan faktor risiko kesehatan yaitu BMI, merokok, pola makan, konsumsi alkohol dan aktivitas fisik mempengaruhi

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi susu dan kebiasaan olahraga dengan status gizi dan densitas tulang remaja di

Hubungan Antara Karakteristik Responden, Kebiasaan Makan Dan Minum Serta Pemakaian Nsaid Dengan Terjadinya Gastritis Pada Mahasiswa Kedokteran. Surabaya (Indonesia):

Variabel yang ingin dianalisis adalah hubungan faktor risiko seperti merokok, konsumsi alkohol, status gizi, kurang aktifitas fisik dan gangguan mental emosional,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang meliputi riwayat merokok, mengunyah tembakau, menyirih, dan konsumsi alkohol pada pasien kanker rongga mulut di