PERBANYAKAN Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera: Cossidae) PADA PAKAN BUATAN
SKRIPSI
OLEH:
ERICK S. DONGORAN 110301258
AGROEKOTEKNOLOGI / HPT
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERBANYAKAN Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera : Cossidae) PADA PAKAN BUATAN
SKRIPSI
OLEH:
ERICK S. DONGORAN 110301258
AGROEKOTEKNOLOGI / HPT
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Judul Penelitian : Perbanyakan Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera: Cossidae) pada pakan buatan
Nama : Erick S. Dongoran
Nim : 110301258
Program Studi : Agroekoteknologi
Minat : Hama dan Penyakit Tumbuhan
Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS.) (Ir. Suzanna Fitriany Sitepu, M.Si.
Ketua Anggota
)
Mengetahui,
ABSTRACT
Erick S. Dongoran, “Mass Rearing of Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera : Cossidae) on Artificial Diets”. Supervised by Maryani Cyccu
Tobing and Suzanna Fitriyani Sitepu. P. castaneae is an important stem borer pest has destroyed sugarcane in North Sumatera and is also a host of some parasitoids. This research was to study the biology of P. castaneae on artificial diets and conducted at Sei. Semayang Centre for Research and Development of Sugarcane PTPN II Medan. This research used non factorial Randomized Complete Design using artificial diets of sugarcane shoot powder variety PS 862 8,6 g, mixture of sugarcane stem and shoot powder variety VMC 76-16 4,3:4,3 g and mixture of sugarcane stem and shoot powder variety PS 862 4,3:4,3 g with 10 replications.
The results showed that the eggs period was 10-12 days, larval period was > 125 days with 10 instars. 1st instar was 6-10 (± 6,67) days, 2nd instar was 8-14 (± 9,83) days, 3rd instar was 9-18 (± 12,80) days, 4th instar was 10-17 (± 12,40) days, 5th instar was 10-16 (± 12,60) days, 6th instar was 10-18 (± 11,87) days, 7th instar was 12-20 (± 12,47) days, 8th instar was 13-18 (± 12,47) days, 9th instar was 12-18 (±13,4) days, 10th instar was not known. The highest mortality percentage was found on sugarcane shoot powder variety PS 862 8,6g (65%) and the lowest (35%) on mixture of sugarcane stem and shoot powder variety PS 862 4,3:4,3g and also be the best treatment, this showed by the duration of larval stage was significantly faster, and the mortality was lower and the long of larval was longer than the other treatments from 1st instar untill 10th instar.
ABSTRAK
Erick S. Dongoran, “Perbanyakan Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera: Cossidae) pada Pakan Buatan”, dibawah bumbingan Maryani Cyccu Tobing dan Suzanna Fitriyani Sitepu. P. castaneae merupakan hama penting pada tanaman tebu dengan cara menggerek batang dan juga sebagai inang dari berbagai jenis parasitoid serta banyak merusak tanaman tebu di Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk perbanyakan dan mengetahui biologi P. castaneae pada beberapa jenis pakan buatan. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu PTPN II Sei. Semayang Medan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) non Faktorial terdiri dari serbuk pucuk tebu varietas PS 862 8,6g, campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas VMC 76-16 4,3: 4,3g) dan campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas PS 862 4,3 : 4,3g masing-masing dengan 10 ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya fase telur 10-12 hari, fase larva > 125 hari terdiri atas 10 instar, instar 1 6-10 (± 6,67) hari, instar 2 8-14 (± 9,83) hari, instar 3 9-18 (± 12,80) hari, instar 4 10-17 hari (± 12,40) hari, instar 5 10-16 (± 12,60) hari, instar 6 10-18 (± 11,87) hari, instar 7 12-20 (±12,47) hari, instar 8 13-18 (± 12,47) hari, instar 9 12-18 (± 13,4) hari, instar 10 tidak diketahui. Persentase mortalitas tertinggi (65%) terdapat pada serbuk pucuk tebu varietas PS 862 8,6 g dan terendah (35%) terdapat pada Campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas PS 862 4,3 : 4,3 g dan merupakan pakan terbaik, ditunjukkan dari lamanya fase larva tiap instarnya yang relatif singkat dan mortalitas larva yang lebih rendah serta panjang larva yang lebih panjang dari perlakuan lainnya mulai dari instar 1 sampai 10.
Kata Kunci : Perbanyakan, P. castaneae, jenis pakan buatan, jenis serbuk,
RIWAYAT HIDUP
Erick S. Dongoran, lahir pada tanggal 04 Juni 1993 di Sei. Buluh Serdang Bedagai, putra dari Ayahanda Arnold Dongoran dan Ibunda Rosmalam Sitorus. Penulis merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Lulus dari SMA Negeri 1 Perbaungan pada tahun 2011 dan pada tahun yang sama di terima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, Program Studi Agroekoteknologi melalui jalur UMB.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif mengikuti beberapa organisasi dan tercatat sebagai anggota HIMAGROTEK (Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi) Fakultas Pertanian USU tahun 2011-2015, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Kebaktian Kristen (KMK) USU UP FP tahun 2011-2015, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badminton USU tahun 2013-2014, anggota Organisasi TSA (Tanoto Scholar Association) Medan tahun 2013-2015.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian ini. Penelitian ini berjudul “Perbanyakan Phragmatoecia Castaneae Hubner
(Lepidoptera : Cossidae) pada Pakan Buatan” yang merupakan salah satu
syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada ayahanda Arnold Dongoran dan ibunda Rosmalam Sitorus, kepada Komisi Pembimbing Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, M.S. selaku Ketua dan Ir. Suzanna Fitriyani Sitepu, M.Si. sebagai Anggota, kepada kakak dan adik kandung saya yang telah membimbing, memberikan kritik, dukungan dan saran berbagai masukan berharga kepada penulis mulai dari menetapkan judul hingga penyelesaian usulan penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumber referensi yang berguna bagi kita semua.
Medan, September 2015
DAFTAR ISI
ABSTRACT ... i
ABSTRAK ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... ..v
DAFTAR TABEL ...vii
DAFTAR GAMBAR ... ..viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Hipotesis Penelitian ... 4
Kegunaan Penulisan... 4
TINJAUAN PUSTAKA P. castaneae Hubner. ... 5
Biologi ... 5
Gejala Serangan ... 7
Pengendalian ... 8
PakanBuatan ... 10
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 14
Bahan dan Alat ... 14
Metodologi Penelitian ... 14
Pelaksanaan Penelitian... 16
Pembuatan pakan buatan ... 16
Penyediaan larva P. castaneae ... 17
Peletakan larva ke pakan buatan ... 17
Peubah Amatan ... 18
Persentase mortalitas ... 18
Fase telur ... 18
Perilaku larva ... 18
Panjang tubuh larva ... 18
Lama stadia larva ... 19
Perilaku larva ... 21
Panjang tubuh larva ... 26
Lama stadia larva ... 28
Persentase mortalitas larva ... 30
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 33
Saran ... 34 DAFTAR PUSTAKA
ABSTRACT
Erick S. Dongoran, “Mass Rearing of Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera : Cossidae) on Artificial Diets”. Supervised by Maryani Cyccu
Tobing and Suzanna Fitriyani Sitepu. P. castaneae is an important stem borer pest has destroyed sugarcane in North Sumatera and is also a host of some parasitoids. This research was to study the biology of P. castaneae on artificial diets and conducted at Sei. Semayang Centre for Research and Development of Sugarcane PTPN II Medan. This research used non factorial Randomized Complete Design using artificial diets of sugarcane shoot powder variety PS 862 8,6 g, mixture of sugarcane stem and shoot powder variety VMC 76-16 4,3:4,3 g and mixture of sugarcane stem and shoot powder variety PS 862 4,3:4,3 g with 10 replications.
The results showed that the eggs period was 10-12 days, larval period was > 125 days with 10 instars. 1st instar was 6-10 (± 6,67) days, 2nd instar was 8-14 (± 9,83) days, 3rd instar was 9-18 (± 12,80) days, 4th instar was 10-17 (± 12,40) days, 5th instar was 10-16 (± 12,60) days, 6th instar was 10-18 (± 11,87) days, 7th instar was 12-20 (± 12,47) days, 8th instar was 13-18 (± 12,47) days, 9th instar was 12-18 (±13,4) days, 10th instar was not known. The highest mortality percentage was found on sugarcane shoot powder variety PS 862 8,6g (65%) and the lowest (35%) on mixture of sugarcane stem and shoot powder variety PS 862 4,3:4,3g and also be the best treatment, this showed by the duration of larval stage was significantly faster, and the mortality was lower and the long of larval was longer than the other treatments from 1st instar untill 10th instar.
ABSTRAK
Erick S. Dongoran, “Perbanyakan Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera: Cossidae) pada Pakan Buatan”, dibawah bumbingan Maryani Cyccu Tobing dan Suzanna Fitriyani Sitepu. P. castaneae merupakan hama penting pada tanaman tebu dengan cara menggerek batang dan juga sebagai inang dari berbagai jenis parasitoid serta banyak merusak tanaman tebu di Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk perbanyakan dan mengetahui biologi P. castaneae pada beberapa jenis pakan buatan. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu PTPN II Sei. Semayang Medan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) non Faktorial terdiri dari serbuk pucuk tebu varietas PS 862 8,6g, campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas VMC 76-16 4,3: 4,3g) dan campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas PS 862 4,3 : 4,3g masing-masing dengan 10 ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya fase telur 10-12 hari, fase larva > 125 hari terdiri atas 10 instar, instar 1 6-10 (± 6,67) hari, instar 2 8-14 (± 9,83) hari, instar 3 9-18 (± 12,80) hari, instar 4 10-17 hari (± 12,40) hari, instar 5 10-16 (± 12,60) hari, instar 6 10-18 (± 11,87) hari, instar 7 12-20 (±12,47) hari, instar 8 13-18 (± 12,47) hari, instar 9 12-18 (± 13,4) hari, instar 10 tidak diketahui. Persentase mortalitas tertinggi (65%) terdapat pada serbuk pucuk tebu varietas PS 862 8,6 g dan terendah (35%) terdapat pada Campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas PS 862 4,3 : 4,3 g dan merupakan pakan terbaik, ditunjukkan dari lamanya fase larva tiap instarnya yang relatif singkat dan mortalitas larva yang lebih rendah serta panjang larva yang lebih panjang dari perlakuan lainnya mulai dari instar 1 sampai 10.
Kata Kunci : Perbanyakan, P. castaneae, jenis pakan buatan, jenis serbuk,
PENDAHULUAN
Latar belakang
Produksi gula Indonesia pada tahun 2000 hanya sebesar 1,69 juta ton dan tahun 2011 meningkat menjadi 2,23 juta ton atau meningkat sebesar 3,16%. Produksi tebu tertinggi selama periode tahun 2000-2011 terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 2,69 juta ton. Namun sejak tahun 2008 hingga tahun 2011, produksi tebu mengalami penurunan hingga 17,30% atau berkurang 155.362 ton/tahun. Dan pada tahun 2015 diprediksi menyusut 2,87% dari 70,8 ton/ha menjadi 68,7 ton/ha dan dari 2,58 juta ton pada tahun 2014 menjadi 2,54 juta ton tahun 2015. Penurunan areal, serangan hama penyakit merupakan penyebab penurunan produksi gula tersebut. Jika dibandingkan dengan negara-negara produsen gula di dunia, Indonesia menempati urutan ke-11 setelah Brazil (>35 juta ton/thn), India (>25 juta ton/thn) dan Uni Eropa (>15 juta ton/thn) pada tahun 2014-2015 (PDIP, 2015; CPS, 2015).
Ada berbagai jenis varietas pada tanaman tebu, namun hanya varietas PS 862 dan VMC 76-16 adalah varietas tebu yang ditanam di PTPN II karena memiliki rendemen gula yang tinggi. Varietas VMC 76-16 memiliki rendemen gula yang tinggi, hasil rendemen gula cukup tinggi yaitu dengan rata-rata 9.73% dimana bibit yang diperoleh dari bagal, mata ruas tunggal dan mata tunas tunggal. Varietas PS 862 memiliki rendemen gula yang cukup tinggi juga apabila ditanam pada lahan sawah, lahan tegalan dan pola keprasan berturut-turut 9.45%, 10.87%, dan 10.80% (P3GI, 2014).
batang bergaris Chilo sacchariphagus Bojer, penggerek batang berkilat Chilo auricilius Dudgeon, penggerek jambon Sesamia inferens Walker, dan penggerek batang raksasa Phragmatoecia castaneae Hubner. Pada tanaman
tebu yang sudah besar P. castaneae biasanya merupakan spesies yang dominan. Meskipun telah dikenal mulai dari Eropa sampai Asia Tenggara. (BPPP, 2007).
Berdasarkan Kepmentan No. 38 / Kpts / HK.060 / 1 / 2006 tanggal 27 Januari 2006, P. castaneae dinyatakan statusnya sebagai OPTK A2. P. castaneae
(Lepidoptera : Cossidae) disebut dengan penggerek batang tebu raksasa (PBR) yang banyak merusak tanaman tebu di daerah Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kerugian rendemen gula dari setiap ruas yang terserang berkisar antara 0,75-1,3%. Penggerek ini sering menyerang pucuk tanaman yang menyebabkan tanaman mati puser sehingga tidak dapat berproduksi (Saragih et al., 1986). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Industri Gula tahun 1977 diperoleh bahwa kerugian hasil akibat serangan penggerek ini mencapai 60%. Pada tahun 1968 di Johor Baru, penggerek ini memusnahkan tanaman tebu seluas ± 8.222 Ha, dan merupakan hama penting pada pertanaman tebu di PTP Nusantara II, Sumatera Utara (Purnama, 2001).
mendukung dari pertanaman tebu. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu alternatif agar keberadaan hama ini tetap ada namun dalam keadaan yang tidak merugikan baik secara ekologis maupun ekonomis untuk menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar pertanaman tebu.
Ada dua jenis pakan yang dapat digunakan untuk membiakkan serangga, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pemilihan jenis pakan yang digunakan dalam pembiakan massal serangga sangat berpengaruh terhadap kebugaran serangga yang dibiakkan. Oleh karena itu, jenis pakan yang digunakan harus
dipilih seselektif mungkin terutama saat digunakan untuk mempelajari reproduksi suatu serangga. Pakan buatan dinilai dapat menghasilkan serangga
yang lebih baik kebugarannya dibandingkan dengan menggunakan pakan alami (Blanco et al., 2008)
Pembiakan massal P. castaneae dalam pakan buatan perlu dilakukan untuk
menguji keefektifan musuh alaminya seperti parasitoid Tumidiclava sp., S. inferens dan Tetrastichus sp. serta dapat digunakan untuk berbagai jenis
penelitian lanjutan. Selain itu, pembiakan massal P. castaneae juga sangat bermanfaat sebagai inang dari parasitoid dan memperbanyak parasitoid dari hama ini serta menjaga ketersediaan inang agar tidak tergantung pada keberadaan hama di lapangan.
khususnya di Balai Riset dan Pengembangan PTPN II Sei. Semayang Sumatera Utara dan di Indonesia pada umumnya. Hal ini disebabkan penyebaran hama ini tidak merata di seluruh Indonesia dan hanya terdapat di beberapa daerah saja seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat serta di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam.
Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian perbanyakan P. castaneae dengan pakan buatan di laboratorium.
Tujuan penelitian
Mempelajari biologi hama P. castaneae yang diberi beberapa jenis pakan buatan dan untuk mengetahui potensi pakan buatan.
Hipotesis penelitian
Pakan buatan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan P. castaneae di laboratorium. Ada jenis pakan buatan yang terbaik untuk
perbanyakan P. castaneae di laboratorium.
Kegunaan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
P. castaneae Hubner (Lepidoptera: Cossidae)
Biologi
Telur - telur yang masih baru berwarna putih kotor. Warna tersebut selang beberapa hari berubah menjadi coklat muda. Satu atau dua hari menjelang penetasan warnanya menjadi kelabu. Telur berbentuk oval dengan panjang 1,8 mm dan lebar 0,8 mm.
Gambar 1. Telur P. castaneae
Kelompok telur terdiri dari satu baris atau lebih (Gambar 1). Telur - telur diletakkan pada pucuk yang mati (puser) atau pada daun tua dan kering yang masih melekat pada batang. Tepi daun digulung dan direkatkan. Tergantung dari letak telur dalam barisan, yaitu berada di sisi atau ujung, maka 1 cm baris terdiri dari 9 - 12 butir telur. Stadia telur 9 - 10 hari (Wirioatmodjo, 1980). Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 282-367 butir telur per betina (PTPN II, 2009).
larva mencapai 70 hari. Menjelang berkepompong ulat membuat lubang keluar pada batang yang ditutupi dengan selaput tipis (Prasasya, 2009).
Gambar 2. Larva P. castaneae instar 8
Larva jantan dapat mencapai 3,5 cm dan larva betina mencapai 5,5 cm (Gambar 2). Sebelum menjadi pupa, larva melewati fase pra pupa selama 2-3 hari.
Larva berbentuk cruciform dengan 3 tungkai sejati dan 4 tungkai palsu (Pramono, 2005).
Gambar 3. Pupa P. castaneae
Ngengat berwarna kecoklatan dan memiliki proboscis. Pada ujung tulang sayap terdapat noktah berwarna ungu kehitaman. Rata - rata panjang tubuh ngengat betina 3,02 cm dan ngengat jantan 2,77 cm. Ngengat keluar pada sore hari. Setelah keluar dari kepompong, ngengat betina berdiam selama beberapa waktu untuk mengeringkan dan mengembangkan sayap Masa penerbangan terjadi antara pukul 18.00 - 20.00. (BPTTD, 1979).
(a) (b)
Gambar 4. Imago jantan P. castaneae (a) dan imago betina P. castaneae (b) Lebar sayap imago (ngengat) sekitar 27-50 mm, betina memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan jantan. Sayap berwarna buffish-abu dengan bercak gelap. Betina memiliki abdomen yang panjang, yang membentang jauh melampaui ujung sayap saat fase istirahat (Gambar 4b). Ngengat mulai berterbangan sekitar bulan Mei-Juli (Diyasti, 2013).
Gejala Serangan
PBR menyerang tanaman tua maupun tanaman muda. Serangan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian pucuk. Kematian pada tanaman tua dapat pula terjadi, terutama bila terdapat populasi hama tinggi. Pada tanaman yang telah berumur lebih dari tiga bulan, kerusakan terjadi pada ruas - ruas. Bila gerekan ruas cukup parah, batangnya mudah patah. Gejala ditandai dengan adanya lubang - lubang gerek, yang mudah dilihat dari luar. Tingkat kerusakan biasanya ditentukan berdasarkan persen rusak ruas (dengan tanda ruas rusak dari luar) terhadap jumlah ruas (BPTTD, 1979). Setiap persen kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini dapat mengakibatkan penurunan kristal gula antara 0,7 - 1,27% (Deptan, 1994). Pada serangan berat, bagian dalam batang tebu hancur dimakan oleh larva PBR (Diyasti, 2013).
Pengendalian
Agar penyebaran hama PBR tidak semakin meluas, perlu dilakukan eradikasi tanaman dengan memanen tebu lebih awal yaitu sekitar umur 7-8 bulan. Tindakan ini dilakukan untuk memutus siklus hidup hama dan tidak terjadi kehilangan hasil yang lebih besar, karena tebu yang terserang masih dapat digiling meskipun kualitas rendemennya turun (Diyasti, 2013).
Pengendalian bisa juga dilakukan secara hayati dengan melepas musuh alami hama PBR yaitu parasitoid telur Tumidiclava sp. (Hymenoptera) dan Trichogramma sp. (Wang et al., 2014) serta parasitoid larva S. inferens (Diptera). Selain itu, penggunaan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana dan Metarrhizium anisopliae juga cukup efektif dalam mengendalikan hama PBR (Diyasti, 2013).
Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami berupa parasitoid
larva S. inferens telah diuji pada skala laboratorium untuk mengendalikan P. castaneae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa turunan dari perkawinan yang
berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap terbentuknya imago lalat. Turunan terbaik berasal dari perkawinan imago jantan dari lapangan dan imago betina dari laboratorium dengan persentase lalat yang terbentuk sebesar 59,17%. Hasil pengamatan persentase ulat yang terparasit menunjukkan bahwa daya parasitasi S. inferens dari turunan berbeda tidak berbeda nyata terhadap larva P. castaneae dengan persentase parasitasi tertinggi diperoleh pada perlakuan R1
(perkawinan sepasang imago jantan dan betina di laboratorium) sebesar 63,33% dan terendah perlakuan R2 (imago jantan dan betina dari hasil perkawinan R1) sebesar 47,50% (Khairiyah, 2008).
Pakan Buatan
Pakan buatan merupakan salah satu alternatif untuk perbanyakan larva PBR di laboratorium. Larva PBR yang merupakan hama penting pada tanaman tebu dipelihara, selanjutnya di inokulasikan kembali dengan parasitoid agar diperoleh parasitoid yang baik. Larva juga dipelihara untuk keperluan penelitian, penelitian membutuhkan larva yang sehat pada tahap perkembangan yang tepat dan jumlah yang memadai (Tende et al., 2011).
Panchal dan Kachole (2013) telah meneliti siklus hidup dari hama Chilo partellus dalam pakan buatan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pertumbuhan dan perkembangan dari larva C. partellus meningkat secara signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bhavani (2013) yang menyatakan bahwa C. infuscatellus berkembang dengan baik pada pakan buatan dan memiliki hasil yang relatif sama dengan pakan alaminya.
bawah suhu tinggi dan tekanan dapat menyebabkan munculnya bahan kimia yang tidak diinginkan dan perubahan fisik pada produk ekstrusi (Kim et al., 2014).
Berikut ini adalah kompososi pakan buatan yang dikeluarkan oleh P3GI (2014) untuk hama C. sacchariphagus dan C. auricilius.
Tabel 1. Komposisi pakan buatan untuk C. sacchariphagus dan C. auricilius
Bahan Berat
C. sacchariphagus Bojer C. auricilius Dudgeon
Serbuk pucuk tebu 20 g 30 g
Tepung kacang hijau 175 g 30 g
Vitamin C 2.6 g 1.3 g
Formalin 40% 0.3ml 0.3 ml
Yeast (ragi roti) 25 g 13 g
Nipagin 1.6g 1,6 g
Sorbic acid 0.8 g 0.4 g
Sukrose 20 g -
Agar powder 10.2 g 5.1 g
Air untuk agar 350 ml 350 ml
Air untuk blender 120 ml -
Banlate - 0.025 g
Tauge Kacang Hijau - 18 g
Menurut Chen et al. (2014) berbagai macam formulasi pakan telah dikembangkan baik untuk larva maupun imago, terutama untuk efisiensi biaya dan pasokan bahan. Namun, hanya empat larva dan dua formulasi pakan untuk imago yang telah diterapkan di enam pabrik produksi massal lalat steril di Amerika Serikat, Meksiko dan Panama. Di sini, mereka meninjau secara singkat sejarah penelitian pakan screwworm dan pengembangannya, serta memperkenalkan formulasi pakan yang digunakan dalam pemeliharaan massal dan memaparkan kelebihan dan kekurangannya dari segi aplikasi pada tanaman.
Viedma et al. (1985) menemukan komposisi pakan buatan yang sesuai untuk beberapa ordo serangga, termasuk famili Cossidae yang terdiri dari :
Tabel 2. Komposisi pakan buatan untuk beberapa ordo serangga
Bahan Berat
Sintetis Semi sintetis
Air destilata 25 cc 200 cc
Agar 3,5 g 10 g
Selulosa 2 g 1.3 g
Glukosa 1,5 g 0.3 ml
Yeast (ragi roti) 3 g 44 g
Vitamin bebas kasein 1,2 g -
Saccharose 2,5 g -
Asam askorbat 0,4 g -
Asam benzoat 0,1 g 1 g
Campuran garam 1 g -
Larutan Vitamin 2 cc -
Nipagin 1 g 1 g
Spesific component - 10 g
Kecambah gandum - 44 g
Maize semola / tepung jagung - 22 g
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu PTPN II Sei Semayang (± 40 mdpl) mulai bulan April sampai September 2015.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu serbuk varietas tebu VMC 76-16 dan PS 682 yang berasal dari bagian batang dan pucuk (sogolan), kecambah kacang hijau, yeast, nipagin, natrium benzoat, agar powder, vitamin C, formalin 40%, Sukrosa, air (aquades), alkohol dan larva P. castaneae yang berumur < 2 hari.
Alat yang digunakan yaitu blender, timbangan digital dengan tipe Kern ACJ/ACS, cepuk (botol) plastik dengan tinggi 8 cm dan diameter 4 cm dan cepuk yang lebih kecil dengan tinggi 2 cm dan diameter 1,8 cm, kuas, bunsen, keranjang, saringan, dan alat bantu lainnya yang mendukung penelitian.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap non faktorial dan perlakuan yang digunakan adalah jenis serbuk, terdiri dari 3 taraf yaitu:
V1 = Serbuk pucuk (sogolan) tebu Varietas PS 862 dengan berat 8,6 g
V2 = Campuran serbuk batang dan pucuk (sogolan) tebu 1 : 1 Varietas VMC 76-16 dengan berat 4,3 : 4,3 g
V3 = Campuran serbuk batang dan pucuk (sogolan) tebu 1 : 1 Varietas PS 862 dengan berat 4,3 : 4,3 g
Metode linear dihitung dengan:
i = 1,2,…… t j = 1,2,…… r
t = jumlah perlakuan r = jumlah ulangan Keterangan :
Yij = data yang disebabkan pengaruh perlakuan pada taraf ke i dan ulangan ke-j µ = rataan atau nilai tengah
Ti = efek sebenarnya dari perlakuan pada taraf ke-i Eij = efek error dari treatment ke-i dan ulangan ke-j (Sastrosoepadi, 2000).
Jumlah ulangan dihitung dengan: t (r-1) ≥ 15
3 (r-1) ≥ 15 3r - 3 ≥ 15 r ≥ 18/3 r ≥ 6 = 10
Berdasarkan perhitungan diatas maka setiap perlakuan diulang sebanyak 10 kali. Sehingga diperoleh unit percobaan sebanyak 3 x 10 yaitu 30 unit percobaan.
V1 V2 V1 V3 V1 V2 V3 V1 V3 V2
V3 V3 V2 V1 V2 V3 V1 V2 V1 V3
V2 V1 V3 V2 V3 V1 V2 V3 V2 V1
Pelaksanaan Penelitian
Pembuatan serbuk tebu
Batang dan pucuk (sogolan) tebu varietas VMC 76-16 dan PS 862 yang diambil dari lapangan dicacah dengan ukuran 10-15 cm menggunakan parang. Hasil cacahan batang dan sogolan tebu dimasukkan kedalam mesin penggiling JATCO dan diulang dua kali hingga akhirnya cacahan tebu berbentuk serat kasar yang basah. Serat kasar yang masih basah kemudian dibawa ke laboratorium dan dikering anginkan di bawah sinar matahari selama ± 3-7 hari tergantung intensitas penyinaran matahari. Kemudian di masukkan ke dalam amplop ukuran A4 dan diovenkan pada suhu 80o C selama ± 4 jam. Serbuk yang telah kering diayak dan diblender lalu diayak kembali hingga serbuk menjadi halus.
Pembuatan pakan buatan
Semua bahan yang diperlukan ditimbang yaitu serbuk varietas tebu VMC 76-16 dan PS 682 yang berasal dari bagian batang, sogolan (pucuk) dan campuran batang dan sogolan sesuai dengan perlakuan (masing-masing varietas 8,6 g dan 4,3 : 4,3 g untuk campuran), kacang hijau yang telah direndam selama 12 jam 75 g, nipagin 0,7 g, yeast 10,7 g, natrium benzoat 0,35 g, agar powder 4,4 g, vitamin C 1,1 g, formalin 40% 0,12 ml, sukrosa 8,6 g, air untuk agar 160 ml, air untuk blender 80 ml.
dan vitamin C 1,1 g. Dipanaskan air sebanyak 160 ml yang di dalamnya telah dimasukkan agar powder seberat 4,4 g, selanjutnya setelah mendidih agar dimasukkan ke dalam blender yang sudah berisi seluruh bahan-bahan kemudian
diblender. Saat bahan-bahan diblender, dimasukkan formalin 40% sebanyak 0,12 ml dengan menggunakan jarum suntik ke dalam blender. Setelah itu,
disediakan cepuk-cepuk sebagai wadah pakan buatan, cepuk tersebut sebelumnya telah disterilkan dengan direbus terlebih dahulu selanjutnya dikering anginkan selama 1 hari, dibersihkan dengan alkohol selanjutnya media dituang ke dalam cepuk. Karena ada 3 perlakuan maka pembuatan media dilakukan sebanyak 3 kali sesuai dengan perlakuan yang diuji cobakan dan jumlah ulangan yang digunakan. Setiap cepuk berisi media seberat 2,5 g untuk cepuk kecil dan 15,5 g untuk cepuk besar. Setelah itu cupuk yang telah berisi media disterilkan dengan sinar UV selama 20 menit.
[image:31.595.112.513.506.705.2]Berikut ini adalah tabel komposisi pakan buatan yang digunakan dalam penelitian ini :
Tabel 3. Komposisi pakan buatan untuk larva P. castaneae
Bahan Berat
Serbuk tebu 8,6 g
Kecambah kacang hijau 75 g
Vitamin C 1,1 g
Formalin 40% 0,12 ml
Yeast (ragi roti) 10,7 g
Methyl p hidroxy benzoate/ Nipagin 0.7 g
Natrium Benzoat 0.35 g
Sukrose 8,6 g
Agar powder 4,4 g
Air untuk agar 160 ml
Penyediaan larva P. castaneae
Kelompok telur PBR diambil dari kandang perkawinan imago jantan dan betina yang terbuat dari kawat kassa yang berbentuk balok dengan panjang 1 m, lebar 0,5 m dan tinggi 0,75 m. Dalam kandang dimasukkan tanah pada bagian dasar setebal 8-10 cm dan ditancapkan puser atau pucuk tebu yang kering yang berguna sebagai tempat betina meletakkan telur. Selanjutnya, telur dipelihara dalam tabung reaksi dan ditutup kain hitam hingga berwarna kehitaman hingga akhirnya menetas setalah 10-12 hari. Setelah menetas dan berumur < 2 hari, larva diletakkan di dalam cepuk yang berisi pakan buatan sesuai dengan perlakuan.
Peletakan larva ke pakan buatan
Sebelum larva diletakkan di pakan buatan, terlebih dahulu dibuat lubang kecil pada permukaan media pakan yang diharapkan akan mempermudah larva masuk atau menggerek ke dalam pakan buatan yang telah disediakan. Peletakan dilakukan secara perlahan hingga larva benar – benar menempel pada permukaan media pakan buatan. Pada setiap cepuk diletakkan 2 larva berumur < 2 hari sehingga jumlah larva yang dibutuhkan untuk percobaan ini yaitu 60 ekor larva.
Peubah Amatan
Persentase mortalitas larva
Persentase mortalitas larva dan pupa dihitung dengan rumus :
P = x 100 %
Keterangan :
P = Persentase mortalitas larva a = Jumlah larva yang mati
Fase telur
Diamati perkembangan telur setiap hari hingga menetas menjadi larva dengan cara menghitung berapa hari fase telur hingga menetas menjadi larva dan dideskripsikan bagaimana morfologinya.
Perilaku larva
Diamati perilaku larva sejak baru menetas (instar 1) hingga memasuki fase prapupa pada instar 10. Diamati bagaimana perilaku larva tiap instarnya mulai instar 1 samapi 10 dan dicatat ciri khas larva tiap instar.
Panjang tubuh larva
Panjang tubuh larva dihitung dengan menggunakan penggaris atau kertas milimeter yang diletakkan pada dinding atau tutup cepuk tergantung pada posisi larva yang akan diukur panjangnya. Pengukuran dimulai dari instar 1 sampai instar 10.
Lama stadia Larva
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu PTPN II Sei Semayang, Medan (± 40 mdpl) dengan kisaran suhu ruang perbanyakan selama penelitian sebesar 26,3-330C dengan suhu rata-rata sebesar ±28,310C dan kisaran kelembaban sebesar 58-89% dengan kelembaban rata-rata sebesar ± 78,60%.
1. Fase Telur
Hasil pengamatan diketahui bahwa lama periode telur P. castaneae adalah 10-12 hari. Telur - telur yang masih baru berwarna putih kusam. Setelah 4-5 hari warna telur berubah menjadi coklat muda dan agak menguning. Saat berumur 8-10 hari, telur berubah menjadi kelabu pekat dan tidak transparan yang menunjukkan bahwa telur akan segera menetas. Telur berbentuk oval dengan panjang 1,4-1,7 mm dan lebar 0,6-0,8 mm. Telur diletakkan di pucuk daun tebu yang kering yang masih melekat pada batang atau di tepi daun yang digulung dan direkatkan secara berkelompok. Dalam satu helai daun tebu yang sudah kering dan menggulung dapat ditemukan lebih dari satu kelompok telur.
[image:34.595.111.511.534.681.2]a b
Gambar 5. Jumlah telur dalam satu baris tiap cm (a) dan kelompok telur P. castaneae (b).
8-13 butir telur. Jumlah telur tiap kelompok telur bervariasi antara 30-350 butir. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian PTPN II (2009) dan Wirioatmodjo (1980) yang menyatakan bahwa telur - telur yang masih baru berwarna putih kotor, telur berbentuk oval dengan panjang 1,8 mm dan lebar 0,8 mmdan setiap 1 cm baris terdiri dari 9 - 12 butir telur.
2. Perilaku Larva
Hasil pengamatan diketahui bahwa larva P. castaneae memiliki perilaku yang unik. Larva terdiri dari 10 instar, dan tiap instar memiliki perilaku yang
berbeda-beda. Pada saat telur menetas menjadi larva, maka larva memasuki fase instar 1. Lama stadia instar 1 adalah 6-10 (± 6,67) hari dengan panjang 4-5 (± 4,47) mm. Ciri khas dari larva instar 1 adalah berkelompok, aktif bergerak dan sangat tertarik terhadap cahaya. Larva mengikuti arah datangnya cahaya dan secara bersama-sama membentuk suatu kumpulan atau kelompok larva dalam jumlah yang besar.
a b c d
Gambar 6. Larva instar 1 (a dan b), larva instar 2 yang baru berganti kutikula (c) dan sudah menggerek media (d).
Lama stadia larva instar 2 yaitu 8-14 (± 9,83) hari, setelah itu akan berganti kutikula dan memasuki instar 3. Ukuran tubuh dari larva instar 3 meningkat cukup signifikan yaitu dari 4-7 ( ± 5,48) mm pada instar 2 menjadi 5-12 (± 7,33) mm pada instar 3. Larva instar 3 lebih aktif menggerek pakan (Gambar 7a) dibandingkan instar 2, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Capinera (2009) yang menyatakan bahwa larva Diatraea saccharalis pada instar 3 mulai aktif melakukan gerekan. Namun terkadang larva keluar dari pakan dan menempel di bawah tutup cepuk (Gambar 3b).
a b
Gambar 7. Pakan yang sudah digerek larva instar 3 (a) dan larva instar 3 yang menempel di bawah tutup cepuk (b).
[image:36.595.183.457.423.574.2]Larva instar 4 memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari larva instar 3 namun pada beberapa larva yang diuji coba, terdapat larva yang memiliki ukuran tubuh sama dengan instar sebelumnya atau tidak mengalami perubahan panjang tubuh. Lama stadia larva instar 4 adalah 10-17 (± 12,40) hari dengan panjang tubuh 8-13 (± 9,50) mm. Larva instar 4 sudah aktif menggerek, hal ini ditunjukkan dari media yang terdapat lorong atau lubang-lubang gerekan. Disamping itu larva instar 4 juga membentuk sawang di sekitar tutup cepuk dan sesekali naik ke permukaan media.
Larva instar 5 dan 6 memiliki perilaku yang tidak berbeda jauh yaitu aktif menggerek dan lebih sering berada di bawah tutup cepuk hal ini terlihat dari kutikula larva yang berada di atas permukaan pakan dan bukan di dalam pakan. Saat larva berada di bawah tutup cepuk, pada saat itu lah larva semakin aktif membuat benang-benang halus (Gambar 8b) sebagai jalan bagi larva untuk keluar
ataupun menggerek ke dalam pakan. Lama stadia larva instar 5 adalah 10-16 (± 12,60) hari dengan panjang tubuh 10-17 (± 12,27) mm sedangkan lama stadia
larva instar 6 adalah 10-18 (± 11,87) hari dengan panjang tubuh 11-19 (± 13,53) mm.
cepuk hingga akhirnya ada bagian cepuk yang bolong. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggerek larva ini sangat kuat dan dibutuhkan bahan tambahan sebagai pelapis tutup maupun bagaian cepuk yang terlihat sudah mulai digerek oleh larva (Gambar 8d). Lubang gerekan dalam media juga
dijadikan larva sebagai jalan untuk menggerek bagian pakan yang masih layak (Gambar 8a). Cara larva ini menggerek sangat unik yaitu selain bergerak maju
ataupun mundur, larva ini juga membalikkan tubuhnya hingga berbentuk seperti huruf C ( Gambar 8c) untuk berbalik arah dari depan ke belakang. Lama stadia larva instar 7 adalah 12-20 (± 12,47) hari dengan panjang tubuh 14-23 (± 15,60) mm sedangkan larva instar 8 adalah 13-18 (± 12,47) hari dengan panjang tubuh 17-24 (17,13) mm.
a b c d
Gambar 8. Lubang gerekan yang dibuat oleh larva instar 7 (a), sawang atau benang-benang halus yang dibuat oleh larva instar 4 (b), larva instar 7 berbalik arah membentuk huruf C dalam media (c), bagian dasar cepuk yang
diberi pelapis tambahan akibat gerekan larva instar 7.
Lama stadia instar 9 adalah 12-18 (± 13,4) hari dengan panjang 19-27 (± 18,40) mm. Setelah larva berganti kutikula, selanjutnya larva memasuki instar 10. Namun pada saat larva berada pada instar 10, larva tidak menunjukkan tanda-tanda akan memasuki fase prapupa. Larva terlihat awet muda sama seperti pada instar 9 dan tidak berganti kutikula hingga lebih dari 25 hari sehingga menyebabkan larva tetap awet muda dan tidak berubah menjadi pupa.
[image:39.595.114.515.444.573.2]Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan buatan berpengaruh terhadap lama fase setiap instar dan panjang instar. Larva tetap awet muda dan tidak berganti kutikula menjadi pupa pada instar 10. Larva berganti kutikula sebanyak 9 kali (Gambar 9) dan terus menggerek pakan, tidak menua serta tidak berubah menjadi pupa. Dengan demikian, fase larva pada P. castaneae yang dibiakkan dalam pakan buatan terdiri dari 10 instar dengan lama fase larva >125 hari. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Pramono (2005) yang menyatakan bahwa lamanya fase larva yang diberi pakan alami adalah 78-83 hari dan Naseri et al (2010) yang menyatakan bahwa H. armigera memiliki pertumbuhan yang lebih baik pada pakan buatan dengan enzim protease yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan kedelai.
gesekan pada saat pemindahan ke pakan buatan yang baru apabila media pakan yang lama sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi oleh larva. Larva terlihat sangat peka sesaat setelah berganti kutikula pada setiap instarnya dan ditemukan beberapa kasus larva yang tidak dapat melepaskan kutikula lamanya dan menyebabkan larva mati. Hanya larva yang aktif makan dan memiliki ketahanan tubuh yang tinggilah yang dapat bertahan hidup dan mampu berganti kutikula pada setiap instarnya. Kendala yang dihadapi selama penelitian adalah serangan jamur maupun bakteri pada pakan, namun hal ini jarang terjadi karena jumlah pengawet yang digunakan cukup tinggi. Selain itu, kendala lainnya adalah cepuk yang terbuat dari bahan plastik dapat dilubangi oleh larva, hal ini disebabkan oleh kemampuan menggerek larva sangat tinggi terutama instar 7-9 sehingga dapat melubangi cepuk.
[image:40.595.113.512.499.754.2]Secara ringkas mengenai perilaku larva P. castaneae pada pakan buatan untuk tiap instarnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Perilaku larva P. castaneae tiap instar pada pakan buatan.
Instar Lama stadia
(hari)
Panjang larva
(mm) Perilaku
1 6-10 (± 6,67) 4-5 (± 4,47)
Berkelompok, aktif bergerak dan sangat tertarik terhadap cahaya.
2 8-14 (± 9,83) 4-7 ( ± 5,48)
Larva tidak langsung menggerek pakan, namun menggerek secara perlahan mulai dari bagian permukaan hingga akhirnya masuk dan menggerek ke dalam media.
3 9-18 (± 12,80) 5-12 (± 7,33)
4 10-17 (± 12,40) 8-13 (± 9,50)
Larva instar 4 sudah aktif menggerek dan membentuk silken filament.
5 dan 6
10-16 (± 12,60) dan 10-18 (± 11,87)
10-17 (± 12,27)
dan 11-19 (± 13,53).
Menggerek dan lebih sering berada di bawah tutup cepuk hal ini terlihat dari kutikula larva yang berada di atas permukaan pakan dan bukan di dalam pakan.
7 dan 8
12-20 (± 12,47) dan 13-18 (± 12,47)
14-23 (± 15,60)
dan 17-24 (17,13)
Lebih dominan berada di dalam pakan, larva ini juga mem-balikkan tubuhnya hingga ber-bentuk seperti huruf C.
9 12-18 (± 13,4) 19-27 (± 18,40)
Lebih banyak menghabiskan waktu di atas permukaan media dan di bawah tutup cepuk dengan membuat benang halus.
10 25 20-30
Larva tetap awet muda dan tidak berganti kutikula menjadi pupa pada instar 10.
3. Panjang Tubuh Larva
[image:41.595.114.513.604.681.2]Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jenis pakan buatan berbeda nyata dan berpengaruh terhadap panjang tubuh larva pada beberapa instar. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4 dan Lampiran 4.
Tabel 4. Pengaruh pakan buatan terhadap panjang tubuh larva tiap instar.
Perlakuan Rataan panjang instar (mm)
1 2 3 4 5 6 7 8 9
V1 4,40 a 5,25 b 6,6 b 8,2 a 10,6 a 12,2 a 13,5 a 14,5 a 15,7 a
V2 4,45 a 5,2 0 b 7,3ab 9,3 a 12,6 a 13,4 a 14,7 a 16,6 a 17,8 a V3 4,55 a 6,00 a 8,1 a 11,0a 13,6 a 15,0 a 18,6 a 20,3 a 21,7 a Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi huruf yang berbeda menunjukkan data berbeda nyata
Tabel 4 menunjukkan adanya pengaruh pakan buatan terhadap panjang tubuh larva baik pada perlakuan V1 , V2 maupun V3. Berdasarkan data pada Tabel 4, diketahui pakan buatan pada perlakuan V3 (campuran serbuk batang dan pucuk tebu Varietas PS 862 4,3 : 4,3 g) berbeda nyata dengan V1 (serbuk pucuk tebu Varietas PS 862 8,6 g) dan V2 (campuran serbuk batang dan pucuk tebu Varietas VMC 76-16 4,3: 4,3 g) pada instar 2 yaitu 6 mm dan instar 3 yaitu 8,1 mm. Perlakuan V2 (campuran serbuk batang dan pucuk tebu Varietas VMC 76-16 4,3: 4,3 g) tidak berbeda nyata dengan V3 namun tidak lebih baik dari V3 pada instar 3 yaitu 7,3 mm. Perlakuan V1, V2 maupun V3 tidak berbeda nyata pada instar 1, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Hal ini menunjukkan bahwa V3 merupakan pakan terbaik dilihat dari panjang tubuh larva yang relatif lebih panjang dari perlakuan lainnya.
Kandungan karbohidrat yang berbeda pada ketiga jenis pakan mempengaruhi panjang tubuh larva. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa panjang tubuh maupun diameter larva relatif lebih kecil dibandingkan dengan larva yang ada di lapangan. Namun apabila dilihat dari ketiga jenis pakan yang diuji, maka V3 adalah pakan terbaik karena memiliki rata-rata panjang larva yang lebih panjang dibandingkan dengan pakan lainnya. Hal ini disebabkan pada stadia larva, karbohidrat sangat dibutuhkan oleh larva untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Seperti yang dinyatakan oleh Mcfarlane (1985) dan Stoffolano (1995) bahwa karbohidrat dibutuhkan oleh serangga untuk pertumbuhan mulai dari larva hingga menjadi imago termasuk ordo Lepidoptera.
serangga yang akan dihasilkan. Seperti yang dinyatakan oleh Brewer (1984) bahwa bahan pakan mudah mengalami degradasi dan rusak, seperti vitamin dan asam lemak, sehingga akan berpengaruh terhadap kualitas serangga yang dihasilkan. Selain itu agar yang digunakan dalam penelitian ini diduga belum tepat jumlah yang digunakan, karena serat yang berasal dari agar yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup larva dan tidak ekonomis untuk biaya perbanyakan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sorour et al. (2011) yang menyatakan bahwa pakan buatan dengan kandungan agar terendah (20 g) untuk Spodoptera littolaris adalah jenis pakan yang paling sesuai dan ekonomis.
4. Lama Stadia Larva
[image:43.595.113.511.487.567.2]Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jenis pakan buatan berbeda nyata dan berpengaruh terhadap lama stadia larva tiap instarnya. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 dan Lampiran 5.
Tabel 5. Pengaruh pakan buatan terhadap lama stadia larva tiap instar.
Perlakuan Rataan lama stadia larva (hari)
1 2 3 4 5 6 7 8 9
V1 7,0 a 9,5 b 12,7 ab 11,2 a 11,0 a 11,0 a 11,5 a 11,1 a 10,5 a
V2 6,9 a 11,1a 14,2 a 13,2 a 13,5 a 12,2 a 12,5 a 12,4 a 12,8 a
V3 6,1 b 8,9 b 11,5 b 12,8 a 13,3 a 12,4 a 13,4 a 13,9 a 14,2 a Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi huruf yang berbeda menunjukkan data berbeda nyata
pada taraf 5% berdasarkan Uji Jarak Duncan. T : 26,3-330C ±28,310C, R : 58-89% ± 78,60%.
pucuk tebu Varietas VMC 76-16 4,3: 4,3 g) pada instar 1, 2 dan 3. V3 memiliki waktu tersingkat bagi larva untuk berganti kutikula yaitu pada instar 1 selama 6,1 hari, instar 2 selama 8,9 hari dan instar 3 selama 11,5 hari . Perlakuan V1 (serbuk pucuk tebu PS 862 8,6 g) tidak berbeda nyata dengan V3 namun tidak lebih baik dari V3 pada instar 3 yaitu 12,7 hari. Perlakuan V1, V2 maupun V3 tidak berbeda nyata pada instar 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Hal ini menunjukkan bahwa V3 merupakan pakan terbaik dilihat dari lama stadia larva yang relatif lebih singkat dari perlakuan lainnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa lama stadia larva pada instar 3 perlakuan V1 dan V3 berbeda tidak nyata, hal ini ditunjukkan dari lamanya stadia larva yang juga tidak berbeda jauh yaitu hanya selisih 1,2 hari lebih singkat dibandingkan dengan V1. Lama stadia larva instar 3 menunjukkan bahwa pada perlakuan V1 dan V3 memiliki kandungan nutrisi yang tidak berbeda jauh. Kandungan karbohidrat yang lebih tinggi pada perlakuan V3 menyebabkan perlakuan ini memiliki kualitas yang lebih baik dari V1. Hal ini sesuai dengan pernyataan Brewer (1984) yang menyatakan bahwa bahan pakan mudah mengalami degradasi dan mudah rusak, seperti vitamin dan asam lemak, dapat mempengaruhi kualitas serangga yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada ketiga jenis pakan, diketahui bahwa baik pada perlakuan V1, V2 maupun V3 memiliki lama stadia larva yang tidak berbeda nyata mulai dari instar 4 sampai instar 9. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh suhu dan kelembaban. Suhu laboratorium selama penelitian
yang menyatakan bahwa lama stadia larva Helicoverpa armigera tersingkat terdapat pada pakan buatan dan pakan kacang-kacangan pada suhu laboratorium sebesar 26o C. Selain itu suhu yang rendah dan kelembaban tinggi menyebabkan larva sulit untuk berkembang, termasuk pada saat suhu tinggi dan kelembaban rendah dapat memicu ekstruksi bahan-bahan kimia yang tidak diinginkan muncul dan mengakibatkan terjadinya perubahan kandungan nutrisi pada pakan yang diuji coba. Seperti yang dinyatakan oleh Kim et al. (2014) bahwa ekstrusi dari pakan pada suhu dan tekanan tinggi dapat menyebabkan terjadinya perubahan komposisi kimia pakan yang tidak diinginkan dan perubahan fisik pada produk ekstruksi.
Selain suhu dan kelembaban, kandungan glukosa dan sukrosa yang berasal dari serbuk tebu yang ditambahkan diduga masih belum tepat untuk campuran nutrisi pakan sehingga akan berpengaruh terhadap lama stadia larva. Seperti yang dinyatakan oleh Yilmaz dan Genc (2013) bahwa penambahan bahan tanaman inang dalam pakan buatan untuk Palpita unionalis Hübner tidak menunjukkan dampak positif pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva.
5. Persentase Mortalitas Larva
[image:46.595.109.518.213.293.2]Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jenis pakan buatan berbeda nyata dan berpengaruh terhadap persentase mortalitas larva tiap instarnya. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 6 dan Lampiran 6.
Tabel 6. Pengaruh pakan buatan terhadap persentase mortalitas larva tiap instar.
Perlakuan Mortalitas (%)
1 2 3 4 5 6 7 8 9
V1 20 a 30 a 40 a 50 a 60 a 60 a 65 a 65 a 65 a V2 25 a 35 a 35 a 40 ab 45 a 45 ab 50 ab 60 a 60 a
V3 0 b 10 a 20 a 20 b 25 b 30 b 30 b 35 b 35 b Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi huruf yang berbeda menunjukkan data berbeda nyata
pada taraf 5% berdasarkan Uji Jarak Duncan. T : 26,3-330C ±28,310C, R : 58-89% ± 78,60%.
Tabel 6menunjukkan adanya pengaruh pakan buatan terhadap persentase mortalitas larva tiap instarnya baik pada perlakuan V1 , V2 maupun V3. Tabel 6 menunjukkan bahwa pakan buatan pada perlakuan V3 (campuran serbuk batang dan pucuk tebu Varietas PS 862 4,3 : 4,3 g) berbeda nyata dengan V1 (serbuk pucuk tebu Varietas PS 862 8,6 g) dan V2 (campuran serbuk batang dan pucuk tebu Varietas VMC 76-16 4,3 : 4,3 g). Kisaran persentase mortalitas terendah sebersar 0-35% terdapat pada perlakuan V3 yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya pada instar 1, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Dan kisaran persentase mortalitas tertinggi sebersar 40-65% terdapat pada perlakuan V1 pada instar 3 sampai instar 9. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan V3 merupakan jenis pakan terbaik karena memiliki persentase mortalitas terendah pada tiap instar.
perbanyakan P. castaneae pada stadia larva karena persentase mortalitasnya relatif rendah yaitu dibawah 50%. Namun demikian, pakan ini masih membutuhkan penelitian lanjutan karena larva yang dijadikan sebagai objek penelitian tidak berubah menjadi pupa walaupun umurnya sudah melebihi umur pada pakan alami, yaitu 78-83 hari pada pakan alami (Pramono, 2005) sedangkan pada pakan buatan larva tidak bertumbuh menjadi pupa walaupun umur larva sudah >125 hari. Hal ini diduga terjadi karena komposisi nutrisi dari pakan yang dibuat belum sesuai untuk pertumbuhan larva P. castaneae agar dapat berubah menjadi pupa maupun imago hingga akhirnya menghasilkan telur. Kemungkinan terjadi defisiensi ataupun kelebihan nutrisi baik itu karbohidrat, vitamin, protein maupun asam lemak dan zat-zat kimia lainnya yang menyebabkan larva tetap awet muda dan tidak mau berubah menjadi pupa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ojeda et al. (2003) bahwa bahan pakan yang memiliki kadar air dan protein yang rendah berkorelasi positif terhadap kandungan lemak dalam larva, pupa dan dewasa sedangkan bahan pakan dengan kandungan sukrosa yang rendah menyebabkan larva kurus dan ramping.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pakan buatan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva P. castaneae pada beberapa instar baik mortalitas, panjang larva, maupun lama stadia larva tiap instar.
2. Lama fase telur adalah 10-12 hari.
3. Fase larva berlangsung selama > 125 hari (lebih lama) dibandingkan dengan pakan alami dan terdiri atas 10 instar, instar 1 6-10 (± 6,67) hari, instar 2 8-14 (± 9,83) hari, instar 3 9-18 (± 12,80) hari, instar 4 10-17 hari (± 12,40) hari,
instar 5 10-16 (± 12,60) hari, instar 6 10-18 (± 11,87) hari, instar 7 12-20 (± 12,47) hari, instar 8 13-18 (± 12,47) hari, instar 9 12-18 (± 13,4) hari,
instar 10 tidak diketahui.
4. Perlakuan V3 (Campuran serbuk batang dan pucuk tebu Varietas PS 862 4,3 : 4,3 g) merupakan pakan terbaik, diperoleh dari panjang tubuh yang berbeda nyata pada larva instar 3 (± 6,00) mm dan instar 4 (± 8,1) mm, terhadap panjang tubuh larva pada instar 1 (± 6,1) hari, 2 (±8,9) hari dan 3 (±11,5) serta terhadap persentase mortalitas pada instar 1 (0%), 4 (20%), 5 (25%), 6 (30%), 7 (30%), 8 (35%) dan instar 9 (35%).
Saran
- Perlakuan V3 (campuran serbuk batang dan pucuk tebu varietas PS 862 4,3: 4,3 g) dapat dijadikan rekomendasi awal komposisi pakan buatan untuk
perbanyakan P. castaneae di laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Abbot, W.S., 1925. A method of computing the effectiveness of an insecticides. J. Econ. Entomol. 18:265-267.
Amer, A. E. A. dan A. A. A. El-Sayed. 2014. Effect of Different Host Plant and Artificial Diet on Helicoverpa armigera Hubner. (Lepidoptera: Noctuidae) Development and Growth Index. J. Acd. Entomol. 10:3923.
Alfazairy, A. A., H. A. Sadek., G. Z. Guirguis and H. H. Karam. 2012. An agar-free artificial diet: a new approach for the low cost mass rearing of the egyptian cotton leaf worm, Spodoptera littoralis (Boisd.) (Lepidoptera: Noctuidae). J. Agric. Sci. Res. 2(12):639-647.
Beuzelin, J.M. 2011. Agroecological factors impacting stem borer (Lepidoptera: Crambidae) dynamic in gulf coast sugarcane and rice. Dissertation. Department of Entomology, Louisiana State University.
Bhavani, B. 2013. Studies on the biology of sugarcane early shoot borer, chilo infuscatellus Snellen on artificial diet in North Coastal Region of Andhra Pradesh, India.Int. J. Soc. Sci. & Interdis. Res. 2(9):70-89.
Blanco, C.A., A.P. Teran-Vargas, C.A. Abel, M. Portilla, M.G. Rojas, J.A. Morales-Ramos, and G.L. Snodgrass. 2008. Plant host effect on the development of Heliothis virescens F. (Lepidoptera: Noctuidae). Environm. Entomol. 37:1538-1547.
BPPP. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Tebu. Departemen Pertanian, Jakarta.
Brewer, F. D. 1984. Ingredients for insect diets. Quality assurance, sources, and storage and handling. Advances and challenges in insect rearing, ARS, USDA, New Orleans, Louisiana.45-50.
Capinera, J. L. 2009. Life cycle of Diatraea saccharalis (Fabricius) (Insecta: Lepidoptera: Pyralidae). Entomology and Nematology Departement, University of Florida.
Chen, H., M. F. Chaudhurry., A. Sagel., P. L. Phillips. dan S. R. Skoda. 2014. Artificial diets used in mass production of the New World screwworm, Cochliomyia hominivorax. J. Appl. Entomol.1-7.
CPS. 2015. Commodity Profile of Sugar for August 2015. Diunduh dari 2015)
Deptan. 1994. Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. hlm.36.
Diyasti, F. 2013. Waspada Penggerek Batang Tebu Raksasa. Diunduh dari 2015).
Kashyap, S., S.K. Chakrabarti, D. Pattanayak, K.P. Chandran, D.C Gautam, V.K. Chandla and P.S. Naik. 2008. A modified of artificial diet for rearing potato tuber moth, Phthorimaea operculella (Zeller). J. Potato. 35(3-4):141-146.
Khairiyah, U. 2008. Perkawinan pada Ulat Penggerek Batang Tebu Raksasa (P. castaneae Hub.) (Lepidoptera : Cossidae) di Laboratorium. Skripsi.
Departemen Hama dan Penyakit Tanaman. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Kim, S., S. Hong., H. Park., Y. Lee, K. Park, W. Choi dan N. Kim. 2014. An artificial diet for the swallowtail butterfly, Papilio xuthus. Int. J. Indust. Entomol. 28(1):1-4.
Kojima, W., T. Fujii, M. Suwa, M. Miyazawa, and Y. Ishikawa. 2010. Physiological adaptation of the Asian corn borer Ostrinia furnacalis to chemical defenses of its host plant, maize. J. Insct. Physiol. 56:1349–1355. Mcfarlane, J. E. 1985. Nutrition and digestive organs. (ed). Blum, M.S.
Fundamentals of Insect Physiology. Department of Entomologi Macdonald Collage of McGill University Quebec, Canada.. A Willey-Interscience Publication. Canada. 77pp.
Naseri, B., Y. Fathipour, S.Moharramipour, V. Hosseininaveh And A. M. R. Gatehouse. 2010. Digestive proteolytic and amylolytic activities of Helicoverpa armigera in response to feeding on different soybean cultivars. Pest. Mngnt. Sci. 66:1316-1323.
Nonci, N. 2004. Biologi dan musuh alami penggerek batang Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae) pada tanaman jagung. J. Lit. Pertan. 23:8-14.
Ojeda, T. A., H. A. Woods and R. A. Raguso. 2003. Effects of dietary variation on growth, composition, and maturation of Manduca sexta (Sphingidae: Lepidoptera). J. Insect Physiol. 43:293-306.
Panchal, B. M. And M. S. Kachole. 2013. Life cycle of Chilo partellus (Swinhoe) (Lepidoptera: Pyralidae) on an artificial diets. Int. J. Plant. Anm. environm. Sci. 4(3):19-22.
PDIP. 2015. Tebu. Informasi Ringkas Komoditas Perkebunan. Bidang Data Komoditas Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta Selatan.
Pramono, D. 2005. Seri Pengolahan Hama Tebu Secara Terpadu. Seri Pertanian 2. Dioma, Malang.
Prasasya, A. 2009. Uji efikasi Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana basalmo dan Metharizium anisopliae (Metch) terhadap Mortalitas Larva Phragmatoecia castanae di Laboratorium. Skripsi. Departemen Hama dan Penyakit Tanaman. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Purnama, A. 2001. Pengendalian Hama Penggerek Batang Tebu (P. castaneae). Bagian Penelitian Tembakau Deli. PT. Perkebunan Nisantara II. hlm.1-3. PTPN II. 2009. Pengendalian Secara Hayati Penggerek Batang Raksasa
(Phragmatoecia castaneae Hubner) Pada Tanaman Tebu. Tanjung Morawa.
Saragih, R., B. Zuraida dan Z. Abidin. 1986. Pembiakan S. inferens Towns dan kemampuan memarasit P. castaneae Hub. Prosiding Temu Ilmiah Entomologi Perkebunan Indonesia. Medan. 22-24 April 1986. hlm.141-146.
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Edisi Revisi. Kanisius, Yogyakarta.
Sidauruk, D. L., M. C. Tobing dan M. U. Tarigan. 2013. Daya parasitasi Tetrastichus sp. (Hymenoptera : Eulophidae) Pada Pupa Phragmatoecia castaneae (Lepidoptera : Cossidae) di laboratorium. J. Onl. Agrotek. 1(2):76-86.
Singh., Pritam and J.G. Charles. 1977. An artificial diet for the larvae of potato tuber moth. J. NZ. Zool. 4: 449-51.
Sorour, M. A., O. Khamiss, A. S. Abd El-Wahab, M. A.K. El-Sheikh and 3S. Abul-Ela. 2011. An Economically Modified Semi-Synthetic Diet for Mass Rearing the Egyptian Cotton Leaf Worm Spodoptera littolaris. J. Acd. Entomol. 4 (3):118-123.
Stoffolano, Jr. J. G. 1995. Regulation of a Meal in dipteral, Lepidoptera, and Hymenoptera. (ed). Chapman. R.F., and G. de Boer. Regulatory Mechanism in Insect Feeding. Champan and Hall USA. 226pp.
Tende, R., T. Tefera and S. Mugo. 2011. Mass rearing and use of stem borers at the Kari-Katumani Insectary. International Maize and Wheat Improvement Centre (CIMMYT) Kenya, Nairobi.
Viedma de, M. G., J. R. Baragano., A. Notario., M. Rodero dan C. Iglesias. 1985. Artificial raising of lignicolous lepidoptera. J. of Res. on. Lepidop. 24(4):372-374.
Wang, Z.Y., K.L. He, and S. Yan. 2005. Large-scale augmentative biological control of Asian corn borer using Trichogramma in China: a success story. Second International Symposium on Biological Control of Arthropods, Davos, Switzerland, 12-16 September, 2005. pp487-494.
_________., K. L. He., F. Zhang., X. Lu and D. Babendreier. 2014. Mass rearing and release of Trichogramma for biological control of insect pests of corn in China. Biol. Cont. 68:136-144.
Wirioatmodjo, B. 1980. Biologi P. castaneae H. penggerek batang raksasa di Sumatera, Indonesia. Majalah Perusahaan Gula Thn. XVI (1). Maret 1980. hlm. 18-21.
Lampiran 1. Gambar-gambar cepuk penelitian
V2(9) V2(2) V2(3)
V2(1) V3(6) V3(9)
V1(5) V3(1) V2(9)
V2(1) V3(8) V3(2)
V1(2)
Lampiran 2. Bagan Penelitian
V2(3)
V3(3) V1(5)
V3(9) V2(8)
V1(10)
V2(6)
V1(2) V3(2)
V2(1) V1(4)
V3(6)
V2(2)
V3(1) V1(1)
V3(7)
V1(7) V2(5)
V3(8) V2(9)
V2(7) V1(9)
V1(3) V3(4)
V2(10)
V1(6)
V1(8)
V3(10)
Lampiran 3. Data suhu dan kelembaban laboratorium
Tanggal Suhu (0C) Kelembaban (%)
28-Apr-15 28,7 78
29-Apr-15 28,2 76
30-Apr-15 28 80
01-Mei-15 29,1 77
02-Mei-15 28 80
03-Mei-15 29 74
04-Mei-15 29,1 75
05-Mei-15 28,7 80
06-Mei-15 28,5 82
07-Mei-15 27,4 79
08-Mei-15 27,9 81
09-Mei-15 29,2 74
10-Mei-15 27,8 74
11-Mei-15 28,8 80
12-Mei-15 28,1 73
13-Mei-15 28,5 73
14-Mei-15 26,9 84
15-Mei-15 27,3 80
16-Mei-15 27,5 79
17-Mei-15 28 79
18-Mei-15 28,2 75
19-Mei-15 27,6 80
20-Mei-15 29,6 73
21-Mei-15 27,1 84
22-Mei-15 27,1 84
23-Mei-15 28,2 74
24-Mei-15 29 73
25-Mei-15 28,6 71
26-Mei-15 28,9 79
27-Mei-15 28,9 77
28-Mei-15 27,2 78
29-Mei-15 27,5 80
30-Mei-15 27,8 79
31-Mei-15 27,9 79
01-Jun-15 28,8 77
02-Jun-15 27,1 79
03-Jun-15 28,9 80
04-Jun-15 28,5 82
05-Jun-15 27,1 80
06-Jun-15 28,8 80
07-Jun-15 28,3 74
08-Jun-15 29,6 79
09-Jun-15 27,1 84
10-Jun-15 27,3 84
12-Jun-15 26,6 89
13-Jun-15 26,8 86
14-Jun-15 27,5 80
15-Jun-15 28,9 71
16-Jun-15 28,3 77
17-Jun-15 28,9 85
18-Jun-15 28,6 71
19-Jun-15 26,4 85
20-Jun-15 29,8 74
21-Jun-15 28,8 75
22-Jun-15 28,3 78
23-Jun-15 29,1 71
24-Jun-15 28,4 72
25-Jun-15 29,5 73
26-Jun-15 27,6 80
27-Jun-15 28,9 77
28-Jun-15 28,2 75
29-Jun-15 29,3 72
30-Jun-15 27,5 80
01-Jul-15 26,8 84
02-Jul-15 27,9 79
03-Jul-15 29,1 72
04-Jul-15 27,3 79
05-Jul-15 28,9 80
06-Jul-15 28,5 82
07-Jul-15 28 78
08-Jul-15 28,8 80
09-Jul-15 28,3 74
10-Jul-15 29,6 82
11-Jul-15 33 58
12-Jul-15 27,3 84
13-Jul-15 29,2 75
14-Jul-15 26,4 89
15-Jul-15 26,8 86
16-Jul-15 27,4 79
17-Jul-15 30,5 70
18-Jul-15 28,3 77
19-Jul-15 29,1 76
20-Jul-15 28,6 71
21-Jul-15 26,4 85
22-Jul-15 29,8 74
23-Jul-15 30,7 69
24-Jul-15 29 71
25-Jul-15 29,1 71
26-Jul-15 28,8 75
27-Jul-15 29,5 73
28-Jul-15 28 76
30-Jul-15 30,1 70
31-Jul-15 29,3 72
01-Agu-15 28,9 73
02-Agu-15 27 80
03-Agu-15 29,5 71
04-Agu-15 28,2 75
05-Agu-15 29,3 72
06-Agu-15 26,9 82
07-Agu-15 26,7 84
08-Agu-15 27,4 78
09-Agu-15 29,1 72
10-Agu-15 27,3 79
11-Agu-15 28,8 78
12-Agu-15 28,5 80
13-Agu-15 28,2 78
14-Agu-15 28,1 79
15-Agu-15 28,3 74
16-Agu-15 29,6 82
17-Agu-15 27,6 84
18-Agu-15 27 84
19-Agu-15 27,3 80
20-Agu-15 26,3 89
21-Agu-15 26,8 86
22-Agu-15 28 79
23-Agu-15 27,6 79
24-Agu-15 28,1 77
25-Agu-15 29 76
26-Agu-15 28,5 78
27-Agu-15 27 81
28-Agu-15 29,2 74
29-Agu-15 28,7 79
30-Agu-15 28,4 71
31-Agu-15 29,1 70
Kisaran suhu laboratorium selama penelitian : 26,3-330C
Suhu rata-rata (T) : 28,310C
Kisaran kelembaban laboratorium selama penelitian : 58-89%
Lampiran 4. Data panjang tiap instar (mm)
Instar 1
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 4 4 5 4,5 4 4 4 5 5 4,5 44 4,4
V2 4,5 4,5 4,5 5 4 4,5 4,5 4 4,5 4,5 44,5 4,45
V3 4 4 5 4,5 4,5 4,5 5 4,5 4,5 5 45,5 4,55
Total 12,5 12,5 14,5 14 12,5 13 13,5 13,5 14 14 134 13,4
Rata-rata 4,17 4,17 4,83 4,67 4,17 4,33 4,50 4,50 4,67 4,67 44,67 4,47
Instar 2
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 5,5 5 5,5 4,5 5,5 5,5 5,5 5,5 5 5 52,5 5,25
V2 5,5 5 6 4 5 5,5 5 5 5 6 52 5,2
V3 7 5,5 6 4,5 6 7 5 5 7 7 60 6
Total 18 15,5 17,5 13 16,5 18 15,5 15,5 17 18 164,5 16,45
Rata-rata 6,00 5,17 5,83 4,33 5,50 6,00 5,17 5,17 5,67 6,00 54,83 5,48
Instar 3
Perlakuan Ulangan
Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 8 5 7 5 6 7 6 7 7 8 66 6,6
V2 7 7 6 7 7 7 7 8 9 8 73 7,3
V3 8 8 7 8 7 9 8 6 12 8 81 8,1
Total 23 20 20 20 20 23 21 21 28 24 220 22
Rata-rata 7,67 6,67 6,67 6,67 6,67 7,67 7,00 7,00 9,33 8,00 73,33 7,33
Instar 4
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 9 8 9 8 0 11 8 10 9 10 82 8,2
V2 7 10 8 9 9 9 8 12 11 10 93 9,3
V3 12 11 10 11 10 13 10 8 12 13 110 11
Total 28 29 27 28 19 33 26 30 32 33 285 28,5
Rata-rata 9,33 9,67 9,00 9,33 6,33 11,00 8,67 10,00 10,67 11,00 95,00 9,50
Instar 5
Perlakuan Ulangan
Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 0 13 12 11 0 14 14 13 14 15 106 10,6
V2 9 12 11 13 12 12 12 15 17 13 126 12,6
V3 14 12 14 13 13 15 14 10 15 16 136 13,6
Total 23 37 37 37 25 41 40 38 46 44 368 36,8
Rata-rata 7,67 12,33 12,33 12,33 8,33 13,67 13,33 12,67 15,33 14,67 122,67 12,27
Instar 6
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 0 14 14 13 0 16 16 15 16 18 122 12,2
V2 11 15 14 15 15 13 16 17 18 0 134 13,4
V3 17 14 16 0 16 19 17 14 18 19 150 15
Total 28 43 44 28 31 48 49 46 52 37 406 40,6
Instar 7
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 0 19 0 18 0 21 20 16 20 21 135 13,5
V2 14 17 18 19 19 18 0 21 21 0 147 14,7
V3 19 20 20 0 21 23 21 18 22 22 186 18,6
Total 33 56 38 37 40 62 41 55 63 43 468 46,8
Rata-rata 11,00 18,67 12,67 12,33 13,33 20,67 13,67 18,33 21,00 14,33 156,00 15,60
Instar 8
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 0 21 0 20 0 22 21 18 21 22 145 14,5
V2 17 20 20 22 21 21 0 22 23 0 166 16,6
V3 21 22 21 0 23 24 23 22 24 23 203 20,3
Total 38 63 41 42 44 67 44 62 68 45 514 51,4
Rata-rata 12,67 21,00 13,67 14,00 14,67 22,33 14,67 20,67 22,67 15,00 171,33 17,13
Instar 9
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 0 23 0 24 0 23 23 20 22 22 0 15,7
V2 19 20 21 25 22 24 0 23 24 0 178 17,8
V3 23 22 23 0 25 27 24 24 26 23 217 21,7
Total 42 65 44 49 47 74 47 67 72 45 395 55,2
Transformasi √X + 0,5 Instar 1
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 2,12 2,12 2,35 2,24 2,12 2,12 2,12 2,35 2,35 2,24 22,11 2,21
V2 2,24 2,24 2,24 2,35 2,12 2,24 2,24 2,12 2,24 2,24 22,24 2,22
V3 2,12 2,12 2,35 2,24 2,24 2,24 2,35 2,24 2,24 2,35 22,46 2,25
Total 6,48 6,48 6,93 6,82 6,48 6,59 6,70 6,70 6,82 6,82 66,81 6,68 Rata-rata 2,16 2,16 2,31 2,27 2,16 2,20 2,23 2,23 2,27 2,27 22,27 2,23
Instar 2
Perlakuan Ulangan
Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 2,45 2,35 2,45 2,24 2,45 2,45 2,45 2,45 2,35 2,35 23,97 2,40
V2 2,45 2,35 2,55 2,12 2,35 2,45 2,35 2,35 2,35 2,55 23,85 2,38
V3 2,74 2,45 2,55 2,24 2,55 2,74 2,35 2,35 2,74 2,74 25,43 2,54
Total 7,64 7,14 7,55 6,59 7,34 7,64 7,14 7,14 7,43 7,63 73,24 7,32 Rata-rata 2,55 2,38 2,52 2,20 2,45 2,55 2,38 2,38 2,48 2,54 24,41 2,44
Instar 3
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 2,92 2,35 2,74 2,35 2,55 2,74 2,55 2,74 2,74 2,92 26,57 2,66
V2 2,74 2,74 2,55 2,74 2,74 2,74 2,74 2,92 3,08 2,92 27,89 2,79
V3 2,92 2,92 2,74 2,92 2,74 3,08 2,92 2,55 3,54 2,92 29,22 2,92
Total 8,57 8,00 8,03 8,00 8,03 8,56 8,20 8,20 9,36 8,75 83,69 8,37 Rata-rata 2,86 2,67 2,68 2,67 2,68 2,85 2,73 2,73 3,12 2,92 27,90 2,79
Instar 4
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 3,08 2,92 3,08 2,92 0,71 3,39 2,92 3,24 3,08 3,24 28,57 2,86
V2 2,74 3,24 2,92 3,08 3,08 3,08 2,92 3,54 3,39 3,24 31,22 3,12
V3 3,54 3,39 3,24 3,39 3,24 3,67 3,24 2,92 3,54 3,67 33,84 3,38
Total 9,36 9,55 9,24 9,39 7,03 10,15 9,07 9,69 10,01 10,15 93,63 9,36 Rata-rata 3,12 3,18 3,08 3,13 2,34 3,38 3,02 3,23 3,34 3,38 31,21 3,12
Instar 5
Perlakuan Ulangan
Total
Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII IX X
V1 0,71 3,67 3,54 3,39 0,71 3,81 3,81 3,67 3,81 3,94 31,05 3,11
V2 3,08 3,54 3,39 3,67 3,54 3,54 3,54 3,94 4,18 3,67 36,08 3,61
V3 3,81 3,54 3,81 3,67 3,67 3,94 3,81 3,24 3,94 4,06 37,48 3,75
Total 7,60 10,75 10,73 10,74 7,92 11,28 11,15 10,85 11,93 11,67 104,62 10,46 Rata-rata 2,53 3,58 3,58 3,58 2,64 3,76 3,72 3,62 3,98 3,89 34,87 3,49
Instar 6
Perlakuan Ulangan