(TELAAH KAJIAN TEMATIK)
Skripsi Ini Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Oleh:
Eva Yarosdiana 107034001502
PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI
SYRIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
“PERAN SUAMI DALAM MEMBINA RUMAH TANGGA
YANG SAKINAH”
(TELAAH KAJIAN TEMATIK)
Skripsi Ini Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Oleh:
Eva Yarosdiana
107034001502
Pembimbing:
Muslih, Lc, MA
19721024 2003121 002
PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI
SYRIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
TANGGA YANG SAKINAH (TELAAH KAJIAN TEMATIK) telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 29 September 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I) pada Program Studi Tafsir-Hadis.
Jakarta, 29 September 2011
Sidang Munaqasyah
Ketua
Dr. Bustamin, M.Si NIP: 19630703 1998031 003
Sekretaris
Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.A NIP: 19711003 1999032 001
Anggota,
Penguji I
Dr. Bustamin, M.Si NIP: 19630703 1998031 003
Penguji II
Drs. Harun Rasyid. M.A NIP: 19600902 1987031 001
Pembimbing
Muslih, Lc, M.A
i
Islam telah menetapkan bahwa suami merupakan pemimpin dalam rumah tangga dan bertanggung jawab terhadap apa yang ia pimpin. Namun, tidak semua suami mengerti dan memahami tentang peranannya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya, terkadang suami cenderung ingin lepas dari peranannya itu, bahkan tidak mau peduli sama sekali. Selain itu dampak dari ketidak mengertian dan pemahaman suami tentang peranannya sebagai kepala rumah tangga, terutama dalam membina keluarga yang sakinah juga akan terlihat pada masyarakat. Oleh sebab itu dirasa sangat perlu adanya pemahaman tentang peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah. Peranan suami dalam hal ini memegang kedudukan yang sangat penting dalam menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, sesuai dengan kedudukan suami dalam rumah tangga. Peranan suami, yang akhirnya menjadi tanggung jawabnya harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab agar suami tidak merasa sebagai kepala rumah tangga yang berhak melakukan apa saja terhadap keluarganya sesuai dengan yang ia inginkan, apalagi melakukan kekerasan dalam rumah tangga, yang umumnya dilakukan oleh kaum pria, yaitu suami. Justru sebaliknya suami harus bisa menjaga dan mengayomi seluruh anggota keluarganya, serta mendidiknya, sehingga anggota keluarga itu merasa tentram berada di dalam keluarganya.
ii
iii
Seiring perjalan waktu dan atas karunia Allah Yang Maha Kuasa, dengan
selesainya skripsi ini, penulis mempersembahkan puji kepada Allah SWT, Tuhan
sekalian alam, yang dengan hidayah dan inayah-Nya, sehingga semuanya mudah
untuk penulis lalui. Shalawat dan salam diaturkan kepada Nabi Muhammad saw,
keluarga dan para sahabatnya, yang telah menuntun umatnya dari zaman
kebodohan (jahiliyah) hingga saat ini, semoga kita umatnya kelak di hari kiamat
mendapatkan syafa’at beliau, amin.
Dalam hal ini penulis mengangkat judul tentang “PERAN SUAMI DALAM MEMBINA RUMAH TANGGA YANG SAKINAH (Telaah Kajian Tematik)”. Skripsi ini disusun untuk menambah khazanah keilmuan umumnya dalam bidang Tafsir-Hadis khususnya dalam Tafsir Kajian Tematik.
Penulis sangat yakin bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin hadir
tanpa ada pihak-pihak yang membantu, untuk itu penulis ucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA, Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Dr. Zainun Kamal, M.A. (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta)
3. DR. Bustamin, M.Si., Lilik Ummi Kaltsum, MA, Kajur dan Sekjur Tafsir
Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Muslih, Lc, MA, DR. Bustamin, M.Si, dan Drs. Harun Rasyid, MA, selaku
iv
memberikan arahan kepada penulis, sehingga penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan. Semoga Bapak senantiasa diberikan nikmat sabar dan selalu
menjadi suri tauladan bagi kami.
5. Para dosen serta jajaran staf karyawan di Fakultas Ushuluddin dan
Filsafat, terima kasih atas segala ilmu yang diberikan. Semoga menjadi
ilmu yang berkah dan manfaat di dunia dan di akhirat.
6. Pimpinan Perpustakaan utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Perpustakaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.
7. Yang tercinta ayahanda Yakub prijal, S.Pd, dan ibunda Sri rosyada yang
senantiasa mencurahkan kasih sayang dan perhatian dengan sepenuh hati,
tak henti-hentinya mendoakan penulis setiap malam dan waktu.
8. Teman-teman kelas dan seluruh teman-teman yang ada di jur TH 2007,
yang telah banyak memberikan motivasi serta gagasan dalam penyelesaian
skripsi ini.
9. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis
ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Ciputat, 22 September 2011
v
ا = Tidak dilambangkan ط = t Untuk Vokal Pendek /
ب = b ظ = z harokat dan tanwin
ت = t ع = „ = a pendek
ث = ts غ = gh = i pendek
ج = j ف = f = u pendek
ح = h ق = q konsonan
خ = kh ك = k = an
د = d ل = l = in
ذ = dz م = m = un
ر = r ن = n rangkap / double
ز = z و = w
س = s ھ = h
ش = sy ا = lâ
ص = s ء = ٰ
ض = d ي = y
Untuk Vokal Panjang Untuk Madd dan Diftong
ا = â Panjang ْوا = aw
ْوا = û
و = û Panjang ْيا = ay
ْيا = î
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
TRANSLITERASI ... v
DAFTAR ISI... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 11
D. Metode Penelitian ... 12
E. Tinjauan Pustaka ... 14
F. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II SUAMI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA A. Fungsi Suami ... 17
B. Kedudukan Suami ... 22
C. Kewajiban Suami ... 27
BAB III PANDANGAN ISLAM TERHADAP PERANAN SUAMI A. Kehidupan Keluarga Dalam Islam ... 34
B. Pendapat Ulama Terhadap Peranan Suami Dalam membina Rumah Tangga Yang Sakinah ... 53
BAB IV PERANAN SUAMI DALAM AL-QUR’AN A. Bertanggung Jawab Dalam Surat An-Nisaa’ (4) Ayat 34 ... 59
B. Rumah Tangga Sakinah Dalam Surat An-Nahl (16) Ayat 80 ... 68
vii
B. Saran-saran ... 78
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam merupakan risalah terakhir dari langit ke bumi yang universal. Dan
Islam pulalah yang telah membawa dunia menuju revolusi besar dalam berbagai
aspek kehidupan. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan
penciptanya tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, dan
sebagainya.1 Aturan itu diramu dengan sangat sempurna, sehingga umat yang
patuh pada aturan yang dibuat akan menemukan suatu kebahagiaan dan
kedamaian. Islam menata hidup perkawinan dengan sempurna, karena masalah ini
adalah masalah pokok yang sangat vital. Melalui perkawinan manusia dapat saling
mengasihi, menjalin hubungan kekeluargaan dan meneruskan keturunan.
Kehidupan perkawinan merupakan industri pertama bagi umat sesudahnya untuk
meningkatkan industri selanjutnya. Bayangkan, dengan perantaraan seorang suami
dan istri, dengan perantaraan hubungan material dan individual, maka lahirlah
putera-puteri yang mungil, dengan izin Allah.2
Hikmah diciptakan oleh Allah manusia berpasang-pasangan yang
berlainan bentuk dan sifat, adalah agar masing-masing saling membutuhkan,
saling memerlukan, sehingga dapat hidup berkembang selanjutnya.3
Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang
Amir Taat Nasution, Rahasia Perkawinan Dalam Islam: Tuntunan Keluarga Bahagia
sulit dibendung. Oleh karena itu, agama mensyariatkan dijalinnya pertemuan
antara laki-laki dan perempuan, mengarahkan pertemuan itu sehingga
terlaksananya “perkawinan” dan beralihlah kerisauan laki-laki dan perempuan
menjadi ketentraman dan sakinah.4
Menurut pasal 1 undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974,
menjelaskan bahwa :
“Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.5
Perjanjian yang dibuat oleh seorang muslim untuk menjadikan seorang
muslimah sebagai istri, merupakan perjanjian yang dibuat atas nama Allah.
Karena itu hidup sebagai suami istri bukanlah semata-mata sebuah ikatan yang
dibuat berdasarkan perjanjian dengan manusia, yaitu dengan wali dari pihak
perempuan dan dengan keluarga perempuan itu secara keseluruhan, serta dengan
perempuan itu sendiri, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah
membuatperjanjian dengan Allah. Karena itu, pernikahan adalah salah satu di
antara tandatanda kekuasaan Allah.6
Allah Swt. berfirman dalam surat Ar-Rûm ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
4
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur.an, (Bandung: Mizan, 2000), Cet. Ke-11, h. 192.
5
Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. Ke-1, h. 14.
6
3
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q. S. Ar-Rûm: 21).
Ayat tersebut menggambarkan jalinan ketentraman, rasa kasih dan rasa
sayang sebagai suatu ketenangan yang dibutuhkan oleh masing-masing individu,
laki-laki dan perempuan ketika jauh dari pasangannya. Setiap suami dan istri yang
menikah, tentu sangat menginginkan kebahagiaan hadir dalam kehidupan rumah
tangga mereka, ada ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kasih sayang.
Rumah tangga yang menjadi surga dunia! tidaklah identik dengan limpahan
materi, kebahagiaan bukanlah sebuah kemustahilan untuk dicapai, sebab
kebahagiaan merupakan pilihan dan buah dari cara berfikir dan bersikap. Maka
dari itu, hanya dengan pasangannyalah ia dapat menikmati manisnya cinta dan
indahnya kasih sayang dan kerinduan.7
Islam menjadikan keluarga sebagai tempat untuk menjaga diri, yaitu
menciptakan ketentraman dan keselamatan dari segala bentuk kejahatan yang
ditimbulkan oleh orang lain, sehingga keluarga harus dijadikan tempat tinggal
yang penuh dengan kebahagiaan agar seluruh anggota keluarga betah di rumah
dan selalu merindui.
Untuk mewujudkan keluarga haruslah bersama-sama antara suami dan istri
untuk mengekalkan cinta yang merupakan anugerah dari Allah, karena tidak dapat
dipungkiri bahwa kualitas hubungan suami dan istri dalam rumah tangga sangat
mempengaruhi keluarga menjadi sakinah mawaddah wa rahmah.8 Kehidupan
suami istri itu adalah rumus dari kebahagiaan dunia. Maka ciptakanlah keluarga
7
Lembaga Darut-Tauhid, Kiprah Muslimah dalam Keluarga Islam, Terj. A. Chumaidi Umar, (Bandung: Mizan, 1990), Cet. Ke-1, h. 82.
8
yang bahagia agar hidup di dunia juga bahagia.9 Oleh sebab itu, suami istri harus
sama-sama menjaga dan menghormati ikatan perkawinan yang telah dibuat
sebagai sebuah ikatan yang suci. Agar perkawinan itu menjadi kuat, diperlukan
pengikat yang kuat pula. Adapun pengikat perkawinan yaitu:
1. Mawaddah
Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak
buruk. Prof. DR. Quraish Shihab mengatakan: “Mawaddah” adalah cinta plus
Orang yang di dalam hatinya ada mawaddah tidak akan memutuskan hubungan,
seperti apa yang terjadi pada orang bercinta. Ini disebabkan hatinya begitu lapang
dan kosong dari keburukan, sehingga pintu-pintunya pun tertutup untuk dimasuki
keburukan.10
2. Rahmah
Prof. DR. Quraish Shihab mengatakan: “Rahmah” kondisi psikologis yang
muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan. Rahmah
menghasilkan kesabaran, murah hati, tidak cemburu buta, tidak mencari
keuntungan sendiri, tidak menjadi pemarah apalagi pendendam.11 Kualitas
mawaddah wa rahmah di dalam rumah tangga, yang dipupuk oleh suami dan istri
sangat menentukan bagaimana kondisi rumah tangga tersebut, apakah bahagia
atau tidak. Lebih tegas Dr. Yusuf al-Qardlawy mengatakan bahwa tidak ada
artinya hubungan suami istri yang tidak didasarkan pada cinta dan kasih sayang,
badan berdekatan namun ruh berjauhan. Jadi, tidak bisa kita sangkal bahwa istri
9
Abu Mohammad Jibril Abdurrahman, Karakteristik Lelaki Shalih, (Yogyakarta: Wihdah Press, 2000), Cet. Ke-3, h. 21.
10
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur.an., h. 195.
11
5
tidak hanya membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan segala
kebutuhan material belaka, namun istri juga sangat mengharapkan dari suami
perhatian yang tulus, perkataan yang halus, wajah yang cerah, senyum yang ceria,
senda gurau yang menyenangkan, sentuhan yang lembut, ciuman yang mesra serta
berbagai perilaku mulia yang menyejukkan hati dan mendinginkan gundahnya,
bahkan itu semua melebihi daripada kebutuhan material.12
Pernikahan dalam Islam menawarkan ketenangan jiwa dan kedamaian
pikiran, sehingga laki-laki dan perempuan bisa hidup bersama dalam cinta, kasih
sayang, kepahitan dalam hidup, harmonis, kerjasama, saling menasehati dan
toleran meletakkan pondasi mengangkat keluarga Islam dalam suatu lingkungan
yang lestari dan sehat.13 Untuk mewujudkan itu, tidak hanya perempuan yang
harus dipilih oleh laki, tetapi perempuan pun diberi hak untuk memilih
laki-laki yang akan dijadikannya suami. Dan yang terbaik itu adalah yang bagus
agamanya.
Sebagaimana Rasulullah. Saw. bersabda:
“Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas”.14
12
Adil Fathi Abdulloh, Menjadi Suami Tercinta, Terj. Bukhori Abu Syauqi, (Pasuruan: Hilal Pustaka, 2007). Cet. Ke-1, h. xiii.
13
Muhammad Ali Al-Hasyimi, Menjadi Muslim Ideal, Terj. Ahmad Baidowi, (Jakarta: PT Mitra Pustaka, 1999), Cet. Ke-1, h. 93.
14
Hadits Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi (1085) dari hadits Abu Hatim Al Muzani
Selama ini, orang yang selalu di sorot dalam kehidupan rumah tangga
adalah seorang istri, karena dia memang dianggap sebagai yang paling
bertanggung jawab tentang kehidupan di dalam rumah, mulai dari melayani
suami, merawat dan mendidik anak, ini berakibat ketika ada sesuatu kesalahan di
rumah tangga itu, istrilah yang sering disalahkan. Sejujurnya tidaklah pantas
untuk selalu menyalahkan istri, karena suami pun ikut bertanggung jawab. Tidak
becusnyaseorang istri dalam melayani suami, tidak berhasil dalam mendidik anak
dan lain sebagainya, juga menggambarkan bahwa suami tidak bisa menjadi
pemimpin dalam rumah tangga tersebut, sehingga ia tidak bisa membimbing
istrinya.
Dalam kehidupan rumah tangga ada kalanya laki-laki menjadi pemimpin
bagi keluarganya, menjadi bapak bagi anak-anaknya, menjadi teman hidup serta
sebagai saudara bagi istrinya. Dengan demikian, istri bukanlah menjadi saingan
bagi suami, apalagi sebagai musuh. Tetapi suami dan istri itu akan jalan bersama,
saling melengkapi untuk tercapainya cita-cita menjadi keluarga yang sakinah.15
Suami istri adalah pondasi dasar bagi sebuah bangunan rumah tangga, karena
itulah Islam menetapkan kriteria khusus baginya, hingga menimbulkan rasa cinta,
kasih sayang, nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran serta saling
keterikatan.16
15
Abu Mohammad, Karakteristik Lelaki Shalih., h. 1.
16
7
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, yang dimaksud suami yaitu: “l
aki-laki yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan”.17 Sedangkan
peranan adalah dari kata dasar “peran” yang ditambahkan akhiran “an”., Peran
memiliki arti seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang
berkedudukan di masyarakat. Sedangkan “peranan” adalah bagian dari tugas
utama yang harus dilaksanakan.18 Dan sakinah disini adalah kedamaian,
ketentraman dan kebahagiaan.19 Jadi, peranan suami dalam membina keluarga
sakinah adalah bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh suami (laki-laki
yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan) untuk mewujudkan
keluarga yang penuh dengan kedamaian, ketentraman, ketenangan dan
kebahagiaan.
Pada diri manusia mempunyai kelebihan dan juga kekurangan, kelebihan.
Dan kekurangan itu membuktikan bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan
sifat yang sempurna itu hanyalah ada pada Allah Swt. Untuk itulah manusia hidup
di dunia ini harus saling tolong-menolong dan lengkap melengkapi. Allah Swt
juga telah menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam susunan
badannya, bentuk dan sifatnya, kulit dan dagingnya, tulang dan darahnya, kepala
dan rambutnya, akal dan pikirannya, kekuatan tubuh dan anggotanya, jenis
kelamin dan seterusnya.20 Perbedaan-perbedaan itu tentu mempunyai hikmah yang
banyak dan laki-laki maupun perempuan tidak akan dapat membantah dan
17
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1, h. 860.
18
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996). Edisi ke-2, h. 751.
19
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia., h. 769.
20
menyangkalnya, sehingga dengan perbedaan itu, mereka dapat saling mengerti,
cinta mencintai, sayang menyayangi dan selanjutnya mereka juga dapat saling
kuasa menguasai. Maka dari itu pendamping istri yang baik adalah suami yang
bertanggungjawab.21 Menurut al-Qur’ân, suami yang bertanggung jawab adalah
suami yang bergaul dengan istrinya secara baik dan sabar atas apa yang tidak
disukai darinya.22
Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat An-Nisâ ayat 19:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.
(Q. S. An-Nisâ: 19).
Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi. mengatakan bahwa suami akan menjaga
istrinya, dan memperlakukannya dengan patut seperti yang diperintahkan oleh
Allah.23 Ahmad Kusyairi, yang menyebut suami dengan istilah Suami yang Sâlih
mengatakan: “Yang selalu menunaikan kewajiban-kewajiban Allah”, keluarga dan
semua orang yang ada dalam tanggungannya, dengan ikhlas penuh semangat dan
21
Abu Mohammad, Karakteristik Lelaki Shalih., h. 12.
22
Majdi Fathi Al-Sayyid, Bingkai Cinta Sepasang Merpati: Bahagia Menjadi Suami Ideal dan Istri Ideal., Terj. Ibnu Ali, (Jakarta: Aillah, 2005), Cet. Ke-1, h. 185.
23
9
lapang dada, yang selalu berusaha membahagiakan istrinya.24 Penuturan Ahmad
Kusyairi tersebut, hampir sama dengan pendapat Kasmuri Selamat: yang
melaksanakan kewajiban terhadap keluarganya dengan penuh tanggung jawab,
bersemangat, penuh perhatian serta berlapang dada.25 Di lain pihak Sholeh
Gisymar menyebut suami sebagai suami yang dapat mendidik dan mengarahkan
istri pada kebaikan yang dapat menuntunnya menggapai ridâ Ilâhi.26
Berdasarkan dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas dapat penulis
simpulkan bahwa ada peranan yang harus dilakukan oleh suami. Ketika peranan
itu dilakukan, maka hadirlah di tengah-tengah keluarga kebaikan dan keberkahan.
Berbicara tentang keluarga, tentu kita tidak bisa melupakan sosok anak. Dalam
Islam, anak dipandang sebagai amanat dari Allah Swt. Amanat yang wajib
dipertanggung jawabkan. Jelas sekali tanggung jawab orang tua terhadap anak
tidaklah kecil, secara umum inti tanggung jawab itu ialah penyelenggaraan
pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Dengan demikian, pertanggung
jawaban amanat tersebut, langsung berhubungan dengan Allah Swt. sebagai
pemberi amanat. keluarga merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab
atas pendidikan anak selain sekolah dan masyarakat.
24
Ahmad Kusyairi Suhail, Menghadirkan Surga di Rumah, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2007), Cet. Ke-1, h. 109.
25
Kasmuri Selamat, Suami Idaman Istri Impian: Membina Keluarga Sakinah, (Jakarta: Kalam Mulia, 2007), Cet. Ke-6, h. 1.
26
Adapun alasan penulis memilih judul skripsi ini sebagai berikut:
1. Suami merupakan pemimpin dalam kehidupan rumah tangga yang memiliki
peranan yang sangat besar dalam membimbing istri dan mempersiapkan
pendidikan untuk anak-anaknya.
2. Inti dari sebuah keluarga itu adanya suami, istri dan anak, maka suami yang
bertanggung jawab sangat mutlak diperlukan untuk mencapai cita-cita dari
perkawinan, yaitu membentuk keluarga yang sakinah, penuh dengan
mawaddah wa rahmah.
3. Melihat realita yang ada, banyaknya suami yang melakukan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga (KDRT).
4. Untuk memperkaya khazanah keilmuan tentang konsep-konsep Islam,
diharapkan menjadi sumbangan pemikiran yang dapat dimanfaatkan oleh
semua pihak yang membutuhkan.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Dari permasalahan-permasalahan yang dapat diidentifikasi di atas, kiranya
harus dicarikan jawaban dari masalah-masalah tersebut dan menyelesaikannya.
Untuk dapat menjadikan sebuah karya tulis yang baik pembatasan terhadap
masalah yang akan dikaji merupakan salah satu bagian penting demi terciptanya
fokus pembahasan, untuk itu objek kajian yang akan dituangkan ke dalam skripsi
11
- Suami yang dimaksud adalah yang berstatus sebagai individu dan anggota
masyarakat yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan yang diikat
dengan tali pernikahan.
- Peranan yang dimaksud adalah bagian dari tugas utama (kepala keluarga) yang
harus dilakukan oleh suami.
2. Pembatasan Masalah
Kemudian dalam penulisan skripsi ini penulis merasa perlu untuk
memberikan suatu pembatasan masalah agar tidak melebar, yaitu:
1. Suami sebagai kepala rumah tangga.
2. Peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah.
3. Karakteristik Suami yang bertanggung jawab.
3. Perumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah menjadi:
1. Bagaimana peranan suami sebagai kepala rumah tangga dalam membina
keluarga sakinah?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan penulisan
Setiap karya tulis yang bernilai ilmiah tentunya memiliki tujuan yang ingin
dirumuskan dalam perumusan masalah, maka secara spesifik tujuan yang akan
dicapai dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kedudukan dan fungsi suami sebagai kepala rumah
b. Untuk mengetahui peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah
dalam persfektif Al-Qur’an.
c. Untuk mengetahui kriteria suami yang bertanggung jawab dalam persfektif
Al-Qur’an.
Sedangkan tujuan akademis dari penulisan skripsi ini adalah untuk
memperluas paradigma berpikir dan wacana keilmuan dalam bidang pendidikan,
terutama pendidikan keluarga.
2. Manfaat penulisan
Adapun hasil penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat
sebagai berikut:
a. Dari tulisan ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan para orang tua
dalam upaya membentuk keluarga yang sakinah.
b. Memberi acuan bagi para pelajar laki-laki untuk menjadi laki-laki yang
shaleh/bertanggung jawab dan mampu mengatasi berbagai masalah dalam
rumah tangga.
D. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode
maudhu’i (tematik). Yaitu cara-cara menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang
dilakukan dengan cara tertentu.27 Untuk itu harus dilakukan komparasi dan
penghimpunan ayat yang saling berkaitan, kemudian dibahas atau ditafsirkan
27
13
sesuai dengan kaedah yang berlaku. Dr. M. Quraish Shihab, di dalam karyanya
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Mizan), memberikan
defenisi tafsir maudhu.i secara lebih rinci: menghimpun ayat-ayat Al-Quran dari
berbagai surah dan yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan
sebelumnya. Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan
ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.28
Orang yang pertama kali memperkenalkan metode ini adalah al-Jalil Ahmad
As-Sa’id al-Kumi, ketua jurusan tafsir di Universitas al-Azhar.29
Penulis juga menggunakan metode Library Research (penelitian
kepustakaan), yaitu suatu metode dengan mengadakan studi kepustakaan terhadap
buku-buku/kitab-kitab, kamus, majalah, koran, artikel dan sebagainya yang ada
hubungan dengan masalah yang akan dibahas.
Ada dua jenis data dalam pembuatan skripsi ini, yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer adalah sumber kepustakaan yang berasal dari sumber
utama yang digunakan dalam pembahasan ini, yaitu al-Qur’ân al-Karîm.
Sedangkan data sekunder adalah data pendukung berupa buku-buku, kitab-kitab
tafsir, artikel-artikel, makalah dan lain-lain yang berkaitan dengan pembahasan
ini.
Teknik pembahasan dalam skripsi ini, adalah deskriptif-analisis, yaitu
suatu pendekatan masalah dengan menguraikannya terlebih dahulu sebagai
gambaran awal dan setelah itu baru dianalisis. Metode deskriptif dimaksudkan
28
http://www.qalam.or.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=341, Pengenalan Singkat Tentang
Metode Tafsir Tematik Sebagai Salah Satu Metode Tafsir Terbaru. oleh Hamid. Selasa, 20
Nopember 2007.
29
untuk menggambarkan objek apa adanya, sedangkan metode analisis dianggap
perlu guna menganalisis objek yang telah digambarkan sebelumnya.
Adapun pedoman yang digunakan dalam penulisan ini adalah buku
“Pedoman Akademik –Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan
Disertasi)- yang disusun oleh Hamid Nasuhi, dkk. Terbitan CeQDA (Center for
Quality Development and Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun
2008 – 2009.
E. Tinjauan Pustaka
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang disusun dalam rangka
menyelesaikan studi tingkat sarjana program strata 1 (S1). Maka tidak menutup
kemungkinan ketika skripsi yang disusun oleh penulis ini memiliki kemiripan
dengan skripsi penulis lainnya. Dalam beberapa buku dan skripsi yang saya baca,
banyak hal khususnya teori dan pendapat yang menjadi perhatian penulis untuk
dijadikan penunjang penulisan dan menjadi perbandingan bagi penulis
selanjutnya. Dan sebagai tinjauan pustaka penulis dalam menyusun teori-teorinya
mengambil dari buku-buku dan skripsi yang bersangkutan dengan kewajiban
suami dalam pandangan Islam. Husain Syahatah merupakan penulis sebuah buku dengan judul Tanggung Jawab Suami dalam Rumah Tangga; Antara Kewajiban
dan Realitas yang menjadi referensi penulis dalam rangka mengetahui berbagai
teori tentang peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah. Dalam buku
ini dijelaskan bahwa peranan suami itu tidak jauh berbeda dengan peranan istri
15
dan besar larangannya jika suami tidak memperhatikan urusan keluarga (istri dan
anak), apalagi tidak memberi nafkah kepada mereka. Dari skripsi yang penulis
susun ini terdapat perbedaan dengan tinjauan pustaka yang penulis tunjukan yaitu
karya Husain Syahatah Tanggung Jawab Suami dalam Rumah Tangga; Antara Kewajiban dan Realitas perbedaan tersebut terletak pada penjabaran teori yang
lebih melihat dengan jelas kepada kewajiban suami sebagai kepala, pendidik dan
pendamping istri dalam rumah tangga.
F. Sistematika Penulisan
Skripsi ini terbagi menjadi lima bab, setiap bab terdiri dari beberapa
sub-sub bab yang dimaksudkan untuk mempermudah dalam penyusunan serta
mempelajarinya, dengan sistematika sebagai berikut :
Bab pertama merupakan pendahuluan yang meliputi : latar belakang
masalah, identifikasi pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat
penulisan, metode penelitian, tinjauan pustaka dan diakhiri dengan sistematika
penulisan. Bab ini berusaha memberikan gambaran singkat tentang masalah yang
akan di bahas pada bab-bab selanjutnya.
Bab kedua membahas tentang gambaran tentang suami yang meliputi :
fungsi suami, kedudukan suami, dan kewakiban suami.
Bab ketiga membahas tentang pandangan ulama terhadap peranan suami
dalam al-Qur’an yang meliputi : persepsi ulama tentang peranan suami, pendapat
Bab keempat membahas tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan peranan
suami dalam al-Qur’an yang meliputi : memberikan teladan yang baik dalam surat
thaahaa (20) ayat 132, bertanggung jawab dalam surat an-nisaa’ (4) ayat 34,
menciptakan rumah tangga sakinah dalam surat an-nahl (16) ayat 80.
Bab lima merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan yang
didasarkan pada keseluruhan uraian dan pembahasan yang telah dijelaskan pada
17
BAB II
SUAMI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA
A. Fungsi Suami
Sudah jamak dipahami bahwa suami adalah kepala rumah tangga, dan
istri adalah ibu rumah tangga. Logika ini tidak bisa diganti dengan sebaliknya.
Problemya adalah apa yang dimaksud dengan kepala rumah tangga dan apa yang
dimaksud dengan ibu rumah tangga. Disini, adalah yang berlaku umum dalam
masyarakat kita adalah bahwa kepala rumah tangga mengurusi urusan-urusan
“besar” dalam rumah tangga, sedangkan yang menyangkut pencarian nafkah,
penjagaan hubungan rumah tangga dengan masyarakat, dan urusan-urusan lain
yang melibatkan rumah tangga dengan kehidupan sosial. Sementara itu, defenisi
ibu rumah tangga adalah bahwa seorang ibu mempunyai tugas-tugas pengaturan
rumah tangga berskala kecil, seperti pengaturan rumah dan perabotan, pengaturan
urusan dapur, pengaturan urusan keuangan rumah tangga, pengaturan
kesejahteraan anggota-anggota rumah tangga dan pengaturan anak.1
Tampaknya, tugas ibu rumah tangga tersebut ringan dan kecil, tetapi pada
kenyataannya, seorang ibu rumah tangga dihabiskan waktunya untuk disibukkan
dalam rumah tangga tersebut. Di sinilah kadang seorang kepala rumah tangga
kurang menyadari tugas-tugas ibu rumah tangga. Jadi, kalau para suami mau jujur
terhadap dirinya sendiri, maka suami akan menyadari bahwa tugas-tugas konkrit
seorang istri lebih berat dari pada tugas-tugas seorang suami. Maka, kerelaan
1
seorang istri untuk menjadi ibu rumah tangga dan keikhlasannya menganggap
suami menjadi kepala rumah tangga, adalah penghormatan yang
setinggi-tingginya yang dapat diberikan oleh seorang istri kepada suaminya. Dan hal ini
memang telah dimekanismekan oleh alam, bahwa pembagian yang seperti itu
adalah pembagian yang alamiah.2
Keluarga bisa dianggap sebagai miniatur dari sebuah sistem
pemerintahan, yang memerlukan seseorang pemimpin, bertujuan untuk
menciptakan negara yang maju, aman dan sejahtera. Begitu juga dengan
keluarga, yang memerlukan seorang pemimpin yang biasa disebut dengan kepala
rumah tangga untuk menciptakan keluarga yang diimpikan yaitu keluarga yang
sakinah, mawaddahwa rahmah.
Allah telah menetapkan adanya perbedaan antara laki-laki dan
perempuan. Kini, fungsi dan kewajiban masing-masing jenis kelamin, serta latar
belakang perbedaan itu, disinggung oleh ayat ini dengan menyatakan bahwa: para
lelaki, yakni jenis kelamin atau suami adalah qawwamun, pemimpin dan
penanggung jawab atas para wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka, yakni laki-laki secara umum
atau suami telah menafkahkan sebagian dari harta mereka untuk membayar
mahar dan biaya hidup untuk istri dan anak-anaknya. Dengan demikian, suamilah
yang akanbertanggung jawab terhadap keluarga tersebut, karena suami
merupakan pemimpinnya. Persoalan yang dihadapi suami istri, seringkali muncul
dari sikap jiwa yang tercermin dalam keceriaan wajah atau cemberutnya,
2
19
sehingga persesuaian dan perselisihan dapat muncul seketika, tapi boleh jadi juga
sirna seketika. Kondisi seperti ini membutuhkan adanya seorang pemimpin,
melebihi kebutuhan satu perusahaan yang bergelut dengan angka-angka, bukan
dengan perasaan, serta diikat oleh perjanjian rinci yang dapat diselesaikan
melalui pengadilan.
Murthadha Muthahhari seorang ulama terkemuka Iran dalam bukunya
yangditerjemahkan oleh Abu Az-Zahra An-Najafi ke dalam bahasa Arab dengan
judul Nizham Huquq al-Mar.ah menulis bahwa keistimewaan antara laki-laki dan
perempuan adalah sebagai berikut3:
1. Dari segi fisik
Lelaki secara umum lebih besar dan lebih tinggi dari perempuan; suara
lelaki dan telapak tangannya kasar, berbeda dengan suara dan telapak tangan
perempuan, pertumbuhan perempuan lebih cepat dari lelaki, tetapi perempuan
lebih mampu membentengi diri dari penyakit dibanding lelaki, dan lebih cepat
berbicara, bahkan dewasa dari lelaki. Rata-rata bentuk kepala lelaki lebih besar
dari perempuan, tetapi jika dibandingkan dari segi bentuk tubuhnya, maka
sebenarnya perempuan lebih besar. Kemampuan paru-paru lelaki menghirup
udara lebih besar/banyak dari perempuan, dan denyut jantung perempuan lebih
cepat dari denyut lelaki. Sangat adil pula jika Allah melengkapi laki-laki dan
wanita dengan perangkat reproduksi yang berbeda, termasuk tanda-tanda
seksualkeduanya.4
3
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah.,h. 426.
4
2. Dari segi psikis
Secara umum lelaki lebih cenderung kepada olahraga, berburu, pekerjaan
yang melibatkan gerakan dibanding wanita. Lelaki secara umum cenderung
kepada tantangan dan perkelahian, sedangkan perempuan cenderung kepada
perdamaian dan keramahan; lelaki lebih agresif dan suka ribut, sementara wanita
lebih tenang dan tentram. Perempuan menghindari penggunaan kekerasan
terhadap dirinya atau orang lain, karena itu jumlah wanita yang bunuh diri lebih
sedikit dari jumlah pria. Caranya pun berbeda, biasanya lelaki menggunakan cara
yang keras pistol, tali gantungan atau meloncat dari ketinggian, sementara wanita
menggunakan obat tidur, racun, dan semacamnya. Perasaan wanita lebih cepat
bangkit dari lelaki, sehingga sentimen dan rasa takutnya segera muncul, berbeda
dengan lelaki, yang biasanya lebih berkepala dingin. Perempuan biasanya lebih
cenderung kepada upaya menghiasi diri, kecantikan, dan mode yang beraneka
ragam serta berbeda bentuk. Di sisi lain, perasaan perempuan secara umum
kurang konsisten dibanding dengan lelaki. Perempuan lebih berhati-hati, lebih
tekun beragama, cerewet, takut, dan lebih banyak berbasa-basi. Perasaan
perempuan lebih keibuan, ini jelas nampak sejak kanak-kanak. Cintanya kepada
keluarga serta kesadarannya tentang kepentingan lembaga keluarga lebih besar
dari lelaki.
Perbedaan antara laki-laki dan wanita secara fisik dan psikis serta
fenomena kodrati di atas sesungguhnya diatur sedemikian rupa oleh Allah untuk
menunjang tugas masing-masing. Perlu dicatat bahwa walaupun secara umum
21
adalah sewajarnya untuk tidak menilai perasaan wanita yang sangat halus itu
sebagai kelemahan. Justru itulah salah satu keistimewaan yang tidak dan kurang
dimiliki oleh pria. Keistimewaan itu amat dibutuhkan oleh keluarga, khususnya
dalam rangka memelihara dan membimbing anak-anak.5
Wanita secara psikologis enggan diketahui membelanjai suami, bahkan
kekasihnya, di sisi lain pria malu jika ada yang mengetahui bahwa kebutuhan
hidupnya ditanggung oleh istrinya. Karena itu, agama Islam yang
tuntunan-tuntunannya sesuai dengan fitrah manusia, mewajibkan suami untuk menanggung
biaya hidup istri dan anak-anaknya.6 Dari kedua faktor yang disebut di atas .
keistimewaan fisik dan psikis, serta kewajiban memenuhi kebutuhan dan
anak-anak . lahir hak-hak suami yang harus pula dipenuhi oleh istri. Suami wajib
ditaati oleh istrinya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama,
serta tidak bertentangan dengan hak pribadi sang istri.
Perlu digarisbawahi bahwa kepemimpinan yang dianugerahkan Allah
kepada suami, tidak boleh mengantarnya kepada kesewenang-wenangan.
Paradigma pemimpin kaum adalah pelayan mereka, harus dipraktekkan oleh
laki-laki dalam memimpin kaum perempuan atau keluarga, agar ia tidak
mengembangkan kepemimpinan yang diktator, otoriter dan zalim. Sebab,
sebagaimana dijelaskan Taqiyyuddin an-Nabhani dalam buku an-Nizham
al-Ijtima.i, bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah
tangga bukanlah akad syirkah (perusahaan), akad perdata yang berkonsentrasi
pada kawin kontrak atau akad ijarah (sewa menyewa) sehingga istri ibarat budak
5
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah., h. 427-428.
6
bagi suami untuk dipekerjakan. Bukan pula seperti hubungan polisi dan pencuri,
sehingga istri selalu terancam dan diteror, dan suami selalu merasa superior.
Tetapi hubungan keduanya adalah hubungan sakinah, mawaddah dan rahmah.
Yaitu hubungan untuk saling mengondisikan munculnya sakinah (ketentraman
dan ketenangan) jiwa, mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (rasa sayang).7
Dengan demikian, suami akan menjadi pengayomi yang baik, serta akan
mendapatkan pelayanan baik dari istri dan anggota keluarga, bahkan akan
mendapatkan lebih baik dari apa yang telah diberikan oleh suami terhadap istri
dan anggota keluarganya. Disinilah barangkali hikmah mengapa redaksi atas
tidak berbunyi .ar-rijalu aimmat an-nisa,. melainkan berbunyi .ar-rijalu
qawwamuna .ala an-nisa. padahal kedua redaksi mempunyai pengertian yang
hampir sama. Hal ini tidak lain karena makna yang terdapat dalam kata
.qawwamah. jauh lebih mendalam dan integral daripada kata .imamah.. Termasuk
dalam makna .qawwamah. adalah memimpin, meluruskan jika ia (perempuan) itu
bengkok (salah), mengayomi, menjaga, melindungi, membina dan mendidik.8
Maka jelaslah bahwa suami menjadi pemimpin, bukan berarti ia harus menjadi
otoriter dalam memimpin, tanpa memikirkan apa yang diinginkan oleh istri dan
anggota keluarganya.
B. Kedudukan Suami
Walaupun suami merupakan pemimpin dalam keluarga, kepemimpinan
suami di sini tidak sampai memutlakkan seorang istri tunduk sepenuhnya. Istri
7
Ahmad Kusyairi, Menghadirkan Surga di Rumah., h. 185.
8
23
tetap mempunyai hak untuk bermusyawarah dan melakukan tawar menawar
keinginan dengan suami berdasarkan argumen-argumen rasional-kondisional.
Kepemimpinan suami atas keluarganya tidak menghilangkan hak-hak mereka
dalam berbagai hal.
1. Hak istri
Mendapatkan mahar
Hak istri yang pertama kali yang harus dipenuhi oleh seorang suami
adalah diberi mahar dengan penuh kerelaan. Ketika istri menghendaki mahar
tertentu suami harus memenuhinya tanpa menguranginya sedikit pun. Bahkan
istri berhak menolak ketika suaminya ingin menyentuhnya apabila mahar belum
diberikan. Namun, jika ingin menjadi perempuan yang shalehah, sebaiknya
mempermudah lamaran dan tidak memberatkan mahar.
Mendapatkan pergaulan dengan sebaik-baiknya
Secara naluri perempuan memang memiliki perasaan yang halus, tetapi ia
mudah marah. Oleh karena itu, perempuan berhak mendapatkan perlakuan yang
lembut dari suaminya saat menghadapinya. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah
saw. terhadap istri-istrinya.
Mendapatkan nafkah
Istri sangat berhak untuk mendapatkan nafkah dari suaminya, meskipun
misalnya istri tersebut adalah orang yang kaya. Secara umum termasuk
Mendapatkan pendidikan
Pendidikan juga menjadi hak istri, apalagi seorang istri nantinya akan
menjadi ibu bagi anak-anaknya, dan apabila ibunya tidak berpendidikan,
bagaimana nanti nasib dari anak-anaknya.
2. Kewajiban istri
Seorang istri harus mengatur urusan rumah tangga dan mempersiapkan
kebutuhan hidup sehari-hari
Sudah menjadi rahasia umum bahwa istri mempunyai kewajiban
mengatur urusan rumah tangga dan mempersiapkan kebutuhan hidup sehari-hari,
seperti mengatur keuangan rumah tangga, menyiapkan makanan untuk anak dan
suaminya, serta yang lainya.
Berkewajiban menjaga kehormatan dan ridha suami
Suami merupakan surga dan sekaligus juga neraka bagi istri, untuk itulah
istri harus menjaga kehormatan dan ridha suami.
Wajib taat dan patuh kepada suami
Secara mutlak seorang istri wajib taat kepada suaminya terhadap segala
yang diperintahkannya, asalkan tidak termasuk perbuatan durhaka kepada Allah.
Sebab memang tidak ada alasan sama sekali bagi makhluk untuk taat kepada
sesama makhluk dalam berbuat durhaka kepada Allah. Setiap istri yang taat
25
Membantu suami bertakwa dan taat kepada Allah
Seorang istri wajib membantu suaminya untuk taat kepada Allah, dan
memberinya nasehat demi mencari keridhaan Allah. Sebagaimana Rasulullah
saw. bersabda:
“Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwa Rasulullah saw bersabda: Allah merahmati seorang suami yang bangun tengah malam untuk melakukan shalat, lalu ia membangunkan istrinya agar ikut shalat, dan jika istrinya tidak mau bangun, ia memercikkan air pada wajahnya. Dan Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun tengah malam untuk shalat, lalu ia membangunkan suaminya agar ikut shalat, dan jika suaminya tidak mau bangun, maka ia memercikkan air pada wajahnya”.
Setia dan ikhlas kepada suami
Setia adalah bukti keikhlasan dan cinta sejati. Seorang istri yang sholehah
akan selalu ikhlas kepada suaminya dan menjaga perasaannya. Ia tidak mau
membebani suaminya dengan tuntutan-tuntutannya.Ia rela menghadapi kesulitan
dengan sabar dan ridha.Jika ia kaya, ia mau membantu suaminya yang miskin.
Tidak menyakiti suami
Seorang istri tidak boleh menyakiti suaminya, misalnya dengan cara
membangga-banggakan kecantikannya, atau membangga-banggakan harta
kekayaannya di hadapannya sampai menyinggungperasaannya.
Agama Islam telah mengangkat derajat kaum wanita pada suatu tingkatan
yang belum pernah dilakukan oleh agama lain dan syari.at-syari.at lain
diri mereka telah mencapai puncak peradaban dan kebudayaan. Meskipun mereka
telah menghormati dan memuliakan kedudukan wanita serta memberikan
pendidikan kepada mereka dalam bidang sains dan ilmu kemasyarakatan.
Dengan dibebankannya kepemimpinan kepada suami itulah, maka
Kasmuri Kasim, dalam bukunya Suami Idaman Istri Impian mengemukakan
empat sifat yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki yang membuatnya layak
menjadi pemimpin di dalam rumah tangga:
a. Berpengetahuan agama dan mengamalkannya secara sempurna
Yang akan dipercayai sebagai kepala rumah tangga ialah suami, oleh
karena itu ia harus mempersiapkan dirinya dengan memperbanyak pengetahuan
agama. Disamping mengerjakan perintah agama yang mendasar seperti, shalat,
puasa, zakat dan lain-lain, kemudian harus memahami pula bidang yang lain,
karena Islam adalah agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan sesuai
untuk seluruh zaman.
b. Sempurna akal dan pemikiran
Jika seorang itu ingin menjadi suami maka hendaklah ia berpikiran
positif. Karena apabila telah berumah tangga, seorang suami harus memikirkan
cara yang terbaik dalam memenuhi segala keperluan rumah tangganya, baik
secara lahiriah maupun batiniah.
c. Sehat lahir dan batin
Bagi seorang laki-laki yang ingin berumah tangga, haruslah terlebih
dahulu memperhatikan kemampuan fisiknya, karena lemahnya kemampuan
27
jika sekiranya tidak mampu untuk bekerja karena penyakit dan sebagainya akan
menjadikan laki-laki tersebut tidak dapat memberikan nafkah dan tanggung
jawab lainnya kepada keluarganya.
d. Memberikan nafkah sesuai dengan kesanggupan
Dalam kehidupan berumah tangga, Islam tidak membebankan kaum
wanita supaya mencari nafkah, akan tetapi kewajiban ini harus dilaksanakan oleh
kaum laki-laki untuk menyediakan sesuai kesanggupannya. Pada hakikatnya,
kehidupan rumah tangga adalah sebuah kerajaan iman. Dalam artian, suami
adalah rajanya, istri adalah ratunya dan anak-anak adalah raknyatnya. Suami
adalah raja yang memimpin kerajaan dan mengendalikan semua urusannya,
karena dialah yang menerima beban tanggung jawab serta amanat.9
C. Kewajiban Suami
Suami adalah kepala rumah tangga. Pada dirinya terletak responsibilitas
yang besar, kewajiban yang bermacam-macam terhadap keluarganya, dirinya dan
agamanya yang harus ia letakkan secara seimbang, sehingga satu kewajiban tidak
mengurangi kewajiban yang lain.Sesungguhnya Allah swt. Telah berkehendak
memberikan amanah kepada perempuan untuk hamil, melahirkan dan menyusui
tugas yang amat besar. Karenanya sangat adil, jika kemudian Allah
membebankan tugas kepada laki-laki untuk mencari nafkah, untuk memenuhi
kebutuhan utama keluarganya dan memberikan perlindungan kepada perempuan
sehingga dapat berkonsentrasi menjalankan tugas mulianya.
9
1. Memberi nafkah lahir dan batin/pergaulan suami istri
Ajaran Islam menetapkan bahwa suami bertanggung jawab untuk
menafkahi istrinya, baik nafkah lahir maupun nafkah batin.
a. Nafkah lahir
Rasulullah saw bersabda:
"Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Adi bin Tsabit ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Yazid Al Anshari dari Abu Mas'ud Al Anshari maka aku berkata; Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah."
Seorang ibu mengandung demi seorang ayah (suami) dan menyusui juga
demi sang suami. Oleh karena itu wajib bagi suami member nafkah secukupnya
kepada istriya berupa sandang dan papan, agar ia dapat melaksanakan
kewajibannya dalam menjaga dan memelihara bayinya. Walaupun memberi
nafkah itu merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang suami yang
merupakan kepala rumah tangga, tetapi sesuai dengan dalil yang di atas, memberi
nafkah itu tidak boleh berlebih-lebihan, dalam artian melewati batas kemampuan
suami itu,yang nantinya akan membuat suami itu sengsara. Dan tidak boleh juga
kurang, yang nantinya akan berakibat memberatkan sang istri.
Sesungguhnya Islam melarang seorang suami .menikmati. hasil usaha
29
bekerja mencari nafkah, sekiranya memang nafkah yang diberikan oleh suaminya
tersebut tidak mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Dan pencarian nafkah
yang dilakukan oleh seorang istri itu terwujud karena dua hal10: Pertama, ia
.wajib. mencari nafkah bersama sama suaminya demi memenuhi
kebutuhan-kebutuhan rumahtangga mereka. Jadi, prinsip yang harus dipegang di sini adalah
bahwawalaupun nafkah itu diberikan oleh seorang suami kepada istrinya sebagai
hak bagi istrinya, tetapi kegunaan nafkah itu tidak semata-mata untuk kebutuhan
istrinya saja (misal, untuk membeli perhiasan atau pakaian), melainkan juga
untuk kegunaan suaminya (misal, makan dan minum). Dengan demikian, harta
yang diberikan oleh seorang suami pada intinya merupakan harta yang digunakan
untuk kepentingan bersama. Oleh karena itu, pemenuhan akan kebutuhan
bersama ini tidak mencukupi, maka seorang istri tidak boleh harus memaksakan
diri untuk tidak mau tahu terhadap kekurangan tersebut dengan hanya
mengharapkan pemberian nafkah suaminya saja. Dan sang suami pun harus
berusaha untuk memenuhi kebutuhan istri agar dalam memenuhi kebutuhan itu
cukup untuk istri, karena kalau tidak itu akan memberatkan istri. Kedua,
pencarian nafkah yang dilakukan oleh seorang istri hanya bersifat .membantu.
suaminya, dan bukan merupakan kewajiban. Bantuan dalam pencarian nafkah
yang dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya di sini .tidak penting. untuk
dilakukan (yakni tidak sebagaimana dalam kasus yang pertama), karena nafkah
yang diberikan oleh suaminya telah mencukupi kebutuhan istri dan kebutuhan
rumah tangga mereka.
10
Muhammad Muhyidin, Meraih Mahkota Pengantin: Kiat-kiat Praktis Mendidik Istri & Mengajar Suami, (Jakarta: PT. Lentera Basritama, 2003), Cet. Ke-I. h. 260-261.
b. Nafkah batin / Pergaulan Suami Istri
Tidak dapat dipungkiri bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama
memiliki nafsu syahwat, dengan adanya nafsu syahwat itu maka setiap orang
ingin memiliki keturunan, yang akhirnya disyariatkanlah perkawinan.Ada ulama
berpendapat bahwa hukum memberikan nafkah batin (hubungan suami istri) bagi
seorang suami apabila tidak ada halangan adalah wajib. Ada juga yang
mengatakan bahwa melakukan hubungan suami istri itu wajib dilakukan setiap
empat hari sekali, tetapi ada juga yang berpendapat enam hari sekali.11
Sebenarnya berbagai macam pendapat ulama di atas itu sejalan dengan anjuran
Rasulullah saw. yang melarang setiap suami meninggalkan istrinya dalam waktu
yang terlalu lama, walaupun untuk tujuan berzikir, beribadah dan jihad. Karena
perbuatan yang demikian itu pada hakikatnya akan menyiksa perasaan istri.12
Selain hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsu syahwat, memiliki keturunan
merupakan salah satu tujuan dari ikatan perkawinan. Oleh karena itu, salah satu
dari suami atau istri tidak boleh menghalangi yang lainnya untuk memenuhi hak
berhubungan suami istri. Hakberhubungan suami istri ini ditetapkan oleh syara.
Hikmah menggauli wanita adalah untuk menjaga kelestarian jenis
manusia melalui kelahiran, bukan sekedar untuk memperoleh kelezatan
semata-mata. Karena itulah dilarang untuk menggauli wanita yang sedang haid dan pada
tempat yang lain, sebab keadaan keduanya itu tidak akan pernah menghasilkan
keturunan.13 Penyebutan istri sebagai .ladang. secara tidak langsung juga
mengatakan bahwa suami itu adalah .petani. untuk itulah petani bebas
11
Kasmuri Selamat, Suami Idaman Istri Impian., h. 79.
12
Kasmuri Selamat. Suami Idaman Istri Impian., h. 80.
13
31
mendatangi ladangnya kapan pun dan darimana pun, yang penting tujuan dari
petani tercapai. Dan petani harus bias menggarap ladangnya dan menjaganya dari
segala hama, serta ciptakanlah suasana kerohanian yang agar benih yang
diharapkan berbuah itu lahir, tumbuh dan berkembang, disertai dengan nilai-nilai
suci.14 Untuk menciptakan itu, maka kedepankanlah hubungan seks dengan
tujuan kemasalahatan untuk dunia dan akhirat, bukan hanya untuk memuaskan
nafsu yang tidak pernah kenyang, serta bertakwalah kepada Allah dalam
hubungan suami-istri, bahkan dalam segala hal. Dengan melihat kedua ayat di
atas, maka seks merupakan kebutuhan laki-laki dan perempuan. Karena itu suami
dan istri salingmembutuhkan, dan memberikan yang terbaik, sebagaimana petani
membutuhkan ladang dan ladang membutuhkan petani. Ketika nafkah bathin ini
tidak dilaksanakan oleh seorang suami dan jiwa terlalu lama menantikan belaian
cinta dari suami, air mata bias mengalir karena tidak kuat menahan rasa sepi yang
mencekam. Sementara tidak ada kekasih yang menguak hasratnya. Bahkan pada
tingkat tertentu bisa menyebabkan munculnya ketegangan rumah tangga. Oleh
karena itu, nafkah batin harus diberikan oleh suamidengan baik.15
Adapun tentang berapa lama boleh suami meninggalkan istri, Saib bin
Jubair berkata16:
"Pada suatu malam, khalifah Umar bin Khattab berjalan-jalan keliling kota Madinah dan hal yang demikian itu sering ia lakukan. Secara kebetulan di dekat rumah salah seorang wanita yang pintunya terkunci, dari luar ia mendengar wanita tersebut mendendangkan syairnya, yang isinya tentang keluhan kesedihan karena sudah terlalu lama ditinggalkan oleh suaminya. Kemudian Umar pun bertanya tentang kemana suaminya. Perempuan itu menjawab bahwa suaminya sedang berjihad fi sabilillah. Besoknya Umar
14
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah., Vol 1, h. 481.
15
Kasmuri Selamat, Suami Idaman Istri Impian., h. 81-82.
16
mengirim surat kepada suaminya dan menyuruhnya pulang. Kemudian kepada anaknya Hafsah, Umar bin Khattab bertanya: Wahai anakku, berapa lamakah kaum wanita boleh bersabar apabila ditinggal oleh suaminya? Hafsah Menjawab: Subhanullah, orang seperti ayah bertanya kepadaku tentang perkara ini? Umar menjawab: Kalau bukan karena saya ingin memperhatikan permasalahan kaum muslimin, tentu saya tidak akan bertanya tentang masalah ini kepadamu. Hafsah menjawab: Lima bulan atau enam bulan. Mendengar jawaban dari anaknya itu, maka mulai saat itu khalifah Umar bin Khattab menetapkan untuk mujahidin berperang waktunya paling lama enam bulan, waktu berangkat sebulan, tinggal di medan perang selama empat bulan dan kembalipulang selama sebulan"
2. Mempergauli istri dengan baik
Islam memandang rumah tangga dengan mengidentifikasinya sebagai
tempat ketenangan, keamanan dan kesejahteraan. Islam juga memandang
hubungan dan jalinan suami-istri dengan menyifatinya sebagai hubungan cinta,
kasih dan sayang, dan menegakkan unsur ini di atas pilihan dan kemauan mutlak
agar semuanya dapat berjalan dengan sambut menyambut, sayang menyayangi
dan cinta mencintai. Kewajiban yang harus selalu diperhatikan oleh suami
sebagai kepalarumah tangga adalah menjaga kemuliaan istrinya dari hal-hal yang
menyebabkan kehormatannya dihina atau hal-hal yang merendahkan martabatnya
sebagai manusia. Sang suami harus menjauhi hal-hal yang bisa melukai
perasaannya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengingkari janji yang
telah dibuat bersama.17
Suami harus memperbaiki pergaulannya dengan istri, untuk itu harus
menggauli mereka dengan cara yang mereka senangi. Jangan memperketat
nafkah mereka, jangan menyakiti mereka melalui perkataan maupun perbuatan.
Atau menyambut mereka dengan wajah yang muram dan menyambut mereka
17
33
dengan mengerutkan dahi.18 Dan apabila suami tidak menyenangi istrinya karena
keaiban akhlak atau fisik mereka yang tidak menyenangkan, bersabarlah, karena
Allah menjadikan kebaikan itu menyeluruh, menyangkut segala sesuatu,
termasuk pada mereka yang tidak disukai itu.19
Orang-orang saleh pernah berkata, Seorang istri itu laksana botol, maka
penuhilah botol itu dengan minuman yang engkau sukai.. Orang saleh yang lain
pernah berkata, .Dalam menghadapi seorang wanita, kita memerlukan sedikit
humor, tutur kata yang lembut, melipur lara, dan perhatian yang cukup.. Juga
diingat, tutur kata yang baik termasuksedekah.
Islam melarang suami melukai perasaan istri dengan perkataan. Karena
hal itu yang akan membuka terjadinya pemukulan dan kekerasan lain oleh suami
kepada istri, akibatnya istri akan tersakiti secara fisik juga mentalnya, walaupun
dalam batas-batas yang dibenarkan oleh syariat karena istri tidak taat kepada
suaminya boleh memukulnya. Karena memukul merupakan perubahan hukum
dari kesulitan kepada kemudahan karena suatu alas an disebabkan latar belakang
hukum asli. Sebab larangan itu merupakan rasa kasihan dan sayang kepada
mereka. Menegakkan keadaan yang membolehkan karena suatu alasan, yaitu
demi kelanggengan suami istridan terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah
dan rahmah serta menunaikan hak-haknya ketika hak-hak mereka ditinggalkan.
Jadi, seorang kepala rumah tangga mempunyai kewajiban; selain harus
memberikan nafkah kepada istrinya, baik lahir maupun batin, juga harusmenjaga
kehormatan dan perasaan istrinya itu.
18
Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi., Jil 4, h. 384.
19
34
A.Kehidupan Keluarga dalam Islam 1. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan sebuah pondasi dan institusi yang paling dicintai
dalam Islam. Masyarakat terbentuk dari unit-unit yang lebih kecil dan keluarga
merupakan unit yang paling kuno dan alami serta titik diawalinya kehidupan
manusia. Keluarga adalah pusat perkumpulan dan poros untuk melestarikan
tradisi-tradisi serta tempat untuk menyemai kasih sayang dan emosional. Unit ini
ibarat landasan sebuah komunitas dan ketahanannya akan mendorong
ketangguhan sebuah masyarakat.1
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai institusi terkecil dalam masyarakat,
keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan
pembangunan sebuah bangsa. Hal ini terkait erat dengan fungsi keluarga sebagai
wahana pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.2
Keluarga memiliki peran fundamental dalam menjaga bangsa-bangsa dari
dekadensi dan kehancuran. Karena itu, undang-undang juga harus disusun untuk
mempermudah terbentuknya keluarga, memelihara kesuciannya, dan memperkuat
hubungan kekeluargaan berdasarkan hak-hak dan etika Islam. Dari segi psikologi,
keluarga juga punya peranan penting dalam meredam emosi, mencegah depresi,
dan memberi dampak-dampak psikis lain bagi seseorang. Anak-anak yang
1
Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana,2005),h. 37.
2
35
kehilangan orang tuanya akan larut dalam kesedihan, diliputi rasa takut, bersikap
emosi, dan kehilangan rasa tenang. Dari sini terlihat kontribusi positif keluarga
dalam menjaga kesehatan mental dan memberi ketahanan terhadap
tekanan-tekanan jiwa dan depresi.3
Sedangkan menurut kajian hukum, keluarga dalam literature Islam dikenal
dengan istilah al-ahwal as-syakhsyiyyah: ahwal (plural) dari kata tunggal al-hâl,
artinya hal, urusan, atau keadaan. Sedangkan as-Syakhsyiyyah berasal dari kata
as-syakhsyu jamaknya asykhasy yang berarti orang atau manusia (al-Insân).
As-syakhsyiyyah, berarti kepribadian atau identitas diri-pribadi (jati diri). Disamping
istilah tersebut, juga dikenal dengan Huququl usrah/huququl „a‟ilâh (hak-hak
keluarga), Ahkamul usrah (hukum-hukum keluarga), dan Qanunul Usrah
(undang-undang keluarga). Hukum keluarga Islam dalam literature bahasa Inggris
dikenal dengan: Islamic Family law dan Muslim family law.4
2. Tujuan Berkeluarga
Kata pernikahan, berasal dari kata „nikah„, menurut kamus bahasa Indonesia
berarti „perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri dengan
resmi.5
Al-Qur’an menjelaskan kata pernikahan dalam dua bentuk kata yang
berbeda, namun memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu, „nikah’ dan
3
Abu Zahwa, Buku Pintar Keluarga Sakinah, (Jakarta: kultumedia, 2003), h.75.
4
Mahmud Al-Shabbagh, Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam, h. 114.
5
„zawwaja’ yang keduanya memiliki arti „ keberpasangan.6 Kata nikah
diulang-ulang Allah dalam al-Qur’an sebanyak 23 kali sementara kata zawwaja sebanyak
80 kali.
Secara eksplisit al-Qurân dan al-hâdits menjelaskan bahwa tujuan
perkawinan dalam Islam adalah karena7 :
a. Cinta, „fankihû mâ tâba lakum’, Sebagai ungkapan perasan terdalam dari hati
membuat manusia berkeinginan untuk selalu dekat kepada orang yang
dicintainya. Kerinduan akan kekasih yang dilamunkan setiap saat, terpenuhi
dengan adanya ikatan perkawinan.
b. Kebutuhan akan keberpasangan sebagai sifat naluriah manusia atau saling
membutuhkan yang ditamsilkan Allah sebagai pakaian „hunna libâsul lakum,
waantum libâsul lahunna. Maksudnya, sebagai kodrat manusia, kita tidak
luput dari kelemahan dan kekurangan, sehingga masing-masing pasangan
dapat menutupi kelemahan dan kekurangan pasangannya, sebagaimana fungsi
pakaian untuk menutup aurat pemakainya, juga sebagai tahsin atau
memperindah pemakainya. Karena itu dalam kehidupan berkeluarga,
masing-masing suami-istri harus bersungguh-sungguh dan berjuang untuk
mendatangkan kebaikan bagi pasangannya serta menolak segala yang
menggangu dan mengeruhkannya, saling menutupi kelemahan keduanya dan
saling mendukung untuk kemajuan keduanya sesuai tujuan Islam.
6
Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Panduan Pernikahan Islami, (Jawa Tengah: 2010), h. 5.
7Adil Abdul Mun’im Abu Abbas,
Ketika Menikah Jadi Pilihan, (jakarta: almahira, 2009), h.
37
c. Untuk memperoleh keturunan dan pemenuhan hasrat libido secara legal atau
syah. Allah menganugerahkan kepada manusia libido ( dorongan seksual).
Libido dapat menimbulkan ketegangan dan kegelisahan orang. Ketegangan
libido dapat diredakan dengan masturbasi, prostitusi dan free sex, namun
ketiga hal tersebut bukan merupakan penyaluran yang yang di ridhai Allah
Swt, bahkan haram hukumnya. Free sex dan prostitusi mengandung resiko
sangat tinggi, yang berakibat kepada timbulnya penyakit HIV/AIDS. Hanya
dengan perkawinan yang syah atau legal penyaluran seksual manusia
terpenuhi.
Pernikahan umumnya menimbulkan keinginan untuk memiliki
keturunan, dan terjaminnya kelanggengan keturunan umat manusia yang
diakui secara hukum, sehingga dengan kumunitas yang banyak, bumi Allah
yang luas dan subur ini dapat dikelola atau dimanage secara benar sesuai
dengan hukum-hukum Allah, „Hua ansyâkum min al ardi wasta‟marakum
fîhâ’. Tidak seperti pasangan yang hidup bersamen leven/kumpul kebo yang
pada umumnya tidak mau terbebani kelahiran anak yang berakibat kepada
pemusnahan komunitas dan menimbulkan kerugian pada pihak perempuan,
yang bisa jadi pelecehan, karena dianggap sebagai alat pemuas sex belaka.
d. Untuk memperoleh ketenangan, ketenteraman, dan kasih sayang. Kenyataan
empirik membuktikan orang yang melajang, hidupnya tidak begitu tenang,
selalu gelisah. Merasa serba salah. Ingin mencurahkan segala isi hati dan
uneg-uneg pikirannya, tapi tidak tahu kepada siapa akan dicurahkan. Dan