• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran suami dalam membina rumah tangga yang sakinah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran suami dalam membina rumah tangga yang sakinah"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

(TELAAH KAJIAN TEMATIK)

Skripsi Ini Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh:

Eva Yarosdiana 107034001502

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI

SYRIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

“PERAN SUAMI DALAM MEMBINA RUMAH TANGGA

YANG SAKINAH”

(TELAAH KAJIAN TEMATIK)

Skripsi Ini Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh:

Eva Yarosdiana

107034001502

Pembimbing:

Muslih, Lc, MA

19721024 2003121 002

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI

SYRIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

TANGGA YANG SAKINAH (TELAAH KAJIAN TEMATIK) telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 29 September 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I) pada Program Studi Tafsir-Hadis.

Jakarta, 29 September 2011

Sidang Munaqasyah

Ketua

Dr. Bustamin, M.Si NIP: 19630703 1998031 003

Sekretaris

Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.A NIP: 19711003 1999032 001

Anggota,

Penguji I

Dr. Bustamin, M.Si NIP: 19630703 1998031 003

Penguji II

Drs. Harun Rasyid. M.A NIP: 19600902 1987031 001

Pembimbing

Muslih, Lc, M.A

(4)
(5)

i

Islam telah menetapkan bahwa suami merupakan pemimpin dalam rumah tangga dan bertanggung jawab terhadap apa yang ia pimpin. Namun, tidak semua suami mengerti dan memahami tentang peranannya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya, terkadang suami cenderung ingin lepas dari peranannya itu, bahkan tidak mau peduli sama sekali. Selain itu dampak dari ketidak mengertian dan pemahaman suami tentang peranannya sebagai kepala rumah tangga, terutama dalam membina keluarga yang sakinah juga akan terlihat pada masyarakat. Oleh sebab itu dirasa sangat perlu adanya pemahaman tentang peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah. Peranan suami dalam hal ini memegang kedudukan yang sangat penting dalam menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, sesuai dengan kedudukan suami dalam rumah tangga. Peranan suami, yang akhirnya menjadi tanggung jawabnya harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab agar suami tidak merasa sebagai kepala rumah tangga yang berhak melakukan apa saja terhadap keluarganya sesuai dengan yang ia inginkan, apalagi melakukan kekerasan dalam rumah tangga, yang umumnya dilakukan oleh kaum pria, yaitu suami. Justru sebaliknya suami harus bisa menjaga dan mengayomi seluruh anggota keluarganya, serta mendidiknya, sehingga anggota keluarga itu merasa tentram berada di dalam keluarganya.

(6)

ii

(7)

iii

Seiring perjalan waktu dan atas karunia Allah Yang Maha Kuasa, dengan

selesainya skripsi ini, penulis mempersembahkan puji kepada Allah SWT, Tuhan

sekalian alam, yang dengan hidayah dan inayah-Nya, sehingga semuanya mudah

untuk penulis lalui. Shalawat dan salam diaturkan kepada Nabi Muhammad saw,

keluarga dan para sahabatnya, yang telah menuntun umatnya dari zaman

kebodohan (jahiliyah) hingga saat ini, semoga kita umatnya kelak di hari kiamat

mendapatkan syafa’at beliau, amin.

Dalam hal ini penulis mengangkat judul tentang “PERAN SUAMI DALAM MEMBINA RUMAH TANGGA YANG SAKINAH (Telaah Kajian Tematik)”. Skripsi ini disusun untuk menambah khazanah keilmuan umumnya dalam bidang Tafsir-Hadis khususnya dalam Tafsir Kajian Tematik.

Penulis sangat yakin bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin hadir

tanpa ada pihak-pihak yang membantu, untuk itu penulis ucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA, Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Dr. Zainun Kamal, M.A. (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta)

3. DR. Bustamin, M.Si., Lilik Ummi Kaltsum, MA, Kajur dan Sekjur Tafsir

Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Muslih, Lc, MA, DR. Bustamin, M.Si, dan Drs. Harun Rasyid, MA, selaku

(8)

iv

memberikan arahan kepada penulis, sehingga penulisan skripsi ini dapat

terselesaikan. Semoga Bapak senantiasa diberikan nikmat sabar dan selalu

menjadi suri tauladan bagi kami.

5. Para dosen serta jajaran staf karyawan di Fakultas Ushuluddin dan

Filsafat, terima kasih atas segala ilmu yang diberikan. Semoga menjadi

ilmu yang berkah dan manfaat di dunia dan di akhirat.

6. Pimpinan Perpustakaan utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

Perpustakaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

7. Yang tercinta ayahanda Yakub prijal, S.Pd, dan ibunda Sri rosyada yang

senantiasa mencurahkan kasih sayang dan perhatian dengan sepenuh hati,

tak henti-hentinya mendoakan penulis setiap malam dan waktu.

8. Teman-teman kelas dan seluruh teman-teman yang ada di jur TH 2007,

yang telah banyak memberikan motivasi serta gagasan dalam penyelesaian

skripsi ini.

9. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis

ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Ciputat, 22 September 2011

(9)

v

ا = Tidak dilambangkan ط = t Untuk Vokal Pendek /

ب = b ظ = z harokat dan tanwin

ت = t ع = „ = a pendek

ث = ts غ = gh = i pendek

ج = j ف = f = u pendek

ح = h ق = q konsonan

خ = kh ك = k = an

د = d ل = l = in

ذ = dz م = m = un

ر = r ن = n rangkap / double

ز = z و = w

س = s ھ = h

ش = sy ا = lâ

ص = s ء = ٰ

ض = d ي = y

Untuk Vokal Panjang Untuk Madd dan Diftong

ا = â Panjang ْوا = aw

ْوا = û

و = û Panjang ْيا = ay

ْيا = î

(10)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

TRANSLITERASI ... v

DAFTAR ISI... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 10

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 11

D. Metode Penelitian ... 12

E. Tinjauan Pustaka ... 14

F. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II SUAMI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA A. Fungsi Suami ... 17

B. Kedudukan Suami ... 22

C. Kewajiban Suami ... 27

BAB III PANDANGAN ISLAM TERHADAP PERANAN SUAMI A. Kehidupan Keluarga Dalam Islam ... 34

B. Pendapat Ulama Terhadap Peranan Suami Dalam membina Rumah Tangga Yang Sakinah ... 53

BAB IV PERANAN SUAMI DALAM AL-QUR’AN A. Bertanggung Jawab Dalam Surat An-Nisaa’ (4) Ayat 34 ... 59

B. Rumah Tangga Sakinah Dalam Surat An-Nahl (16) Ayat 80 ... 68

(11)

vii

B. Saran-saran ... 78

(12)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan risalah terakhir dari langit ke bumi yang universal. Dan

Islam pulalah yang telah membawa dunia menuju revolusi besar dalam berbagai

aspek kehidupan. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan

penciptanya tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, dan

sebagainya.1 Aturan itu diramu dengan sangat sempurna, sehingga umat yang

patuh pada aturan yang dibuat akan menemukan suatu kebahagiaan dan

kedamaian. Islam menata hidup perkawinan dengan sempurna, karena masalah ini

adalah masalah pokok yang sangat vital. Melalui perkawinan manusia dapat saling

mengasihi, menjalin hubungan kekeluargaan dan meneruskan keturunan.

Kehidupan perkawinan merupakan industri pertama bagi umat sesudahnya untuk

meningkatkan industri selanjutnya. Bayangkan, dengan perantaraan seorang suami

dan istri, dengan perantaraan hubungan material dan individual, maka lahirlah

putera-puteri yang mungil, dengan izin Allah.2

Hikmah diciptakan oleh Allah manusia berpasang-pasangan yang

berlainan bentuk dan sifat, adalah agar masing-masing saling membutuhkan,

saling memerlukan, sehingga dapat hidup berkembang selanjutnya.3

Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang

Amir Taat Nasution, Rahasia Perkawinan Dalam Islam: Tuntunan Keluarga Bahagia

(13)

sulit dibendung. Oleh karena itu, agama mensyariatkan dijalinnya pertemuan

antara laki-laki dan perempuan, mengarahkan pertemuan itu sehingga

terlaksananya “perkawinan” dan beralihlah kerisauan laki-laki dan perempuan

menjadi ketentraman dan sakinah.4

Menurut pasal 1 undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974,

menjelaskan bahwa :

“Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.5

Perjanjian yang dibuat oleh seorang muslim untuk menjadikan seorang

muslimah sebagai istri, merupakan perjanjian yang dibuat atas nama Allah.

Karena itu hidup sebagai suami istri bukanlah semata-mata sebuah ikatan yang

dibuat berdasarkan perjanjian dengan manusia, yaitu dengan wali dari pihak

perempuan dan dengan keluarga perempuan itu secara keseluruhan, serta dengan

perempuan itu sendiri, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah

membuatperjanjian dengan Allah. Karena itu, pernikahan adalah salah satu di

antara tandatanda kekuasaan Allah.6

Allah Swt. berfirman dalam surat Ar-Rûm ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

4

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur.an, (Bandung: Mizan, 2000), Cet. Ke-11, h. 192.

5

Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. Ke-1, h. 14.

6

(14)

3

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q. S. Ar-Rûm: 21).

Ayat tersebut menggambarkan jalinan ketentraman, rasa kasih dan rasa

sayang sebagai suatu ketenangan yang dibutuhkan oleh masing-masing individu,

laki-laki dan perempuan ketika jauh dari pasangannya. Setiap suami dan istri yang

menikah, tentu sangat menginginkan kebahagiaan hadir dalam kehidupan rumah

tangga mereka, ada ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kasih sayang.

Rumah tangga yang menjadi surga dunia! tidaklah identik dengan limpahan

materi, kebahagiaan bukanlah sebuah kemustahilan untuk dicapai, sebab

kebahagiaan merupakan pilihan dan buah dari cara berfikir dan bersikap. Maka

dari itu, hanya dengan pasangannyalah ia dapat menikmati manisnya cinta dan

indahnya kasih sayang dan kerinduan.7

Islam menjadikan keluarga sebagai tempat untuk menjaga diri, yaitu

menciptakan ketentraman dan keselamatan dari segala bentuk kejahatan yang

ditimbulkan oleh orang lain, sehingga keluarga harus dijadikan tempat tinggal

yang penuh dengan kebahagiaan agar seluruh anggota keluarga betah di rumah

dan selalu merindui.

Untuk mewujudkan keluarga haruslah bersama-sama antara suami dan istri

untuk mengekalkan cinta yang merupakan anugerah dari Allah, karena tidak dapat

dipungkiri bahwa kualitas hubungan suami dan istri dalam rumah tangga sangat

mempengaruhi keluarga menjadi sakinah mawaddah wa rahmah.8 Kehidupan

suami istri itu adalah rumus dari kebahagiaan dunia. Maka ciptakanlah keluarga

7

Lembaga Darut-Tauhid, Kiprah Muslimah dalam Keluarga Islam, Terj. A. Chumaidi Umar, (Bandung: Mizan, 1990), Cet. Ke-1, h. 82.

8

(15)

yang bahagia agar hidup di dunia juga bahagia.9 Oleh sebab itu, suami istri harus

sama-sama menjaga dan menghormati ikatan perkawinan yang telah dibuat

sebagai sebuah ikatan yang suci. Agar perkawinan itu menjadi kuat, diperlukan

pengikat yang kuat pula. Adapun pengikat perkawinan yaitu:

1. Mawaddah

Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak

buruk. Prof. DR. Quraish Shihab mengatakan: “Mawaddah” adalah cinta plus

Orang yang di dalam hatinya ada mawaddah tidak akan memutuskan hubungan,

seperti apa yang terjadi pada orang bercinta. Ini disebabkan hatinya begitu lapang

dan kosong dari keburukan, sehingga pintu-pintunya pun tertutup untuk dimasuki

keburukan.10

2. Rahmah

Prof. DR. Quraish Shihab mengatakan: “Rahmah” kondisi psikologis yang

muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan. Rahmah

menghasilkan kesabaran, murah hati, tidak cemburu buta, tidak mencari

keuntungan sendiri, tidak menjadi pemarah apalagi pendendam.11 Kualitas

mawaddah wa rahmah di dalam rumah tangga, yang dipupuk oleh suami dan istri

sangat menentukan bagaimana kondisi rumah tangga tersebut, apakah bahagia

atau tidak. Lebih tegas Dr. Yusuf al-Qardlawy mengatakan bahwa tidak ada

artinya hubungan suami istri yang tidak didasarkan pada cinta dan kasih sayang,

badan berdekatan namun ruh berjauhan. Jadi, tidak bisa kita sangkal bahwa istri

9

Abu Mohammad Jibril Abdurrahman, Karakteristik Lelaki Shalih, (Yogyakarta: Wihdah Press, 2000), Cet. Ke-3, h. 21.

10

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur.an., h. 195.

11

(16)

5

tidak hanya membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan segala

kebutuhan material belaka, namun istri juga sangat mengharapkan dari suami

perhatian yang tulus, perkataan yang halus, wajah yang cerah, senyum yang ceria,

senda gurau yang menyenangkan, sentuhan yang lembut, ciuman yang mesra serta

berbagai perilaku mulia yang menyejukkan hati dan mendinginkan gundahnya,

bahkan itu semua melebihi daripada kebutuhan material.12

Pernikahan dalam Islam menawarkan ketenangan jiwa dan kedamaian

pikiran, sehingga laki-laki dan perempuan bisa hidup bersama dalam cinta, kasih

sayang, kepahitan dalam hidup, harmonis, kerjasama, saling menasehati dan

toleran meletakkan pondasi mengangkat keluarga Islam dalam suatu lingkungan

yang lestari dan sehat.13 Untuk mewujudkan itu, tidak hanya perempuan yang

harus dipilih oleh laki, tetapi perempuan pun diberi hak untuk memilih

laki-laki yang akan dijadikannya suami. Dan yang terbaik itu adalah yang bagus

agamanya.

Sebagaimana Rasulullah. Saw. bersabda:

Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas”.14

12

Adil Fathi Abdulloh, Menjadi Suami Tercinta, Terj. Bukhori Abu Syauqi, (Pasuruan: Hilal Pustaka, 2007). Cet. Ke-1, h. xiii.

13

Muhammad Ali Al-Hasyimi, Menjadi Muslim Ideal, Terj. Ahmad Baidowi, (Jakarta: PT Mitra Pustaka, 1999), Cet. Ke-1, h. 93.

14

Hadits Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi (1085) dari hadits Abu Hatim Al Muzani

(17)

Selama ini, orang yang selalu di sorot dalam kehidupan rumah tangga

adalah seorang istri, karena dia memang dianggap sebagai yang paling

bertanggung jawab tentang kehidupan di dalam rumah, mulai dari melayani

suami, merawat dan mendidik anak, ini berakibat ketika ada sesuatu kesalahan di

rumah tangga itu, istrilah yang sering disalahkan. Sejujurnya tidaklah pantas

untuk selalu menyalahkan istri, karena suami pun ikut bertanggung jawab. Tidak

becusnyaseorang istri dalam melayani suami, tidak berhasil dalam mendidik anak

dan lain sebagainya, juga menggambarkan bahwa suami tidak bisa menjadi

pemimpin dalam rumah tangga tersebut, sehingga ia tidak bisa membimbing

istrinya.

Dalam kehidupan rumah tangga ada kalanya laki-laki menjadi pemimpin

bagi keluarganya, menjadi bapak bagi anak-anaknya, menjadi teman hidup serta

sebagai saudara bagi istrinya. Dengan demikian, istri bukanlah menjadi saingan

bagi suami, apalagi sebagai musuh. Tetapi suami dan istri itu akan jalan bersama,

saling melengkapi untuk tercapainya cita-cita menjadi keluarga yang sakinah.15

Suami istri adalah pondasi dasar bagi sebuah bangunan rumah tangga, karena

itulah Islam menetapkan kriteria khusus baginya, hingga menimbulkan rasa cinta,

kasih sayang, nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran serta saling

keterikatan.16

15

Abu Mohammad, Karakteristik Lelaki Shalih., h. 1.

16

(18)

7

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, yang dimaksud suami yaitu: “l

aki-laki yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan”.17 Sedangkan

peranan adalah dari kata dasar “peran” yang ditambahkan akhiran “an”., Peran

memiliki arti seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang

berkedudukan di masyarakat. Sedangkan “peranan” adalah bagian dari tugas

utama yang harus dilaksanakan.18 Dan sakinah disini adalah kedamaian,

ketentraman dan kebahagiaan.19 Jadi, peranan suami dalam membina keluarga

sakinah adalah bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh suami (laki-laki

yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan) untuk mewujudkan

keluarga yang penuh dengan kedamaian, ketentraman, ketenangan dan

kebahagiaan.

Pada diri manusia mempunyai kelebihan dan juga kekurangan, kelebihan.

Dan kekurangan itu membuktikan bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan

sifat yang sempurna itu hanyalah ada pada Allah Swt. Untuk itulah manusia hidup

di dunia ini harus saling tolong-menolong dan lengkap melengkapi. Allah Swt

juga telah menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam susunan

badannya, bentuk dan sifatnya, kulit dan dagingnya, tulang dan darahnya, kepala

dan rambutnya, akal dan pikirannya, kekuatan tubuh dan anggotanya, jenis

kelamin dan seterusnya.20 Perbedaan-perbedaan itu tentu mempunyai hikmah yang

banyak dan laki-laki maupun perempuan tidak akan dapat membantah dan

17

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1, h. 860.

18

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996). Edisi ke-2, h. 751.

19

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia., h. 769.

20

(19)

menyangkalnya, sehingga dengan perbedaan itu, mereka dapat saling mengerti,

cinta mencintai, sayang menyayangi dan selanjutnya mereka juga dapat saling

kuasa menguasai. Maka dari itu pendamping istri yang baik adalah suami yang

bertanggungjawab.21 Menurut al-Qur’ân, suami yang bertanggung jawab adalah

suami yang bergaul dengan istrinya secara baik dan sabar atas apa yang tidak

disukai darinya.22

Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat An-Nisâ ayat 19:

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

(Q. S. An-Nisâ: 19).

Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi. mengatakan bahwa suami akan menjaga

istrinya, dan memperlakukannya dengan patut seperti yang diperintahkan oleh

Allah.23 Ahmad Kusyairi, yang menyebut suami dengan istilah Suami yang Sâlih

mengatakan: “Yang selalu menunaikan kewajiban-kewajiban Allah”, keluarga dan

semua orang yang ada dalam tanggungannya, dengan ikhlas penuh semangat dan

21

Abu Mohammad, Karakteristik Lelaki Shalih., h. 12.

22

Majdi Fathi Al-Sayyid, Bingkai Cinta Sepasang Merpati: Bahagia Menjadi Suami Ideal dan Istri Ideal., Terj. Ibnu Ali, (Jakarta: Aillah, 2005), Cet. Ke-1, h. 185.

23

(20)

9

lapang dada, yang selalu berusaha membahagiakan istrinya.24 Penuturan Ahmad

Kusyairi tersebut, hampir sama dengan pendapat Kasmuri Selamat: yang

melaksanakan kewajiban terhadap keluarganya dengan penuh tanggung jawab,

bersemangat, penuh perhatian serta berlapang dada.25 Di lain pihak Sholeh

Gisymar menyebut suami sebagai suami yang dapat mendidik dan mengarahkan

istri pada kebaikan yang dapat menuntunnya menggapai ridâ Ilâhi.26

Berdasarkan dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas dapat penulis

simpulkan bahwa ada peranan yang harus dilakukan oleh suami. Ketika peranan

itu dilakukan, maka hadirlah di tengah-tengah keluarga kebaikan dan keberkahan.

Berbicara tentang keluarga, tentu kita tidak bisa melupakan sosok anak. Dalam

Islam, anak dipandang sebagai amanat dari Allah Swt. Amanat yang wajib

dipertanggung jawabkan. Jelas sekali tanggung jawab orang tua terhadap anak

tidaklah kecil, secara umum inti tanggung jawab itu ialah penyelenggaraan

pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Dengan demikian, pertanggung

jawaban amanat tersebut, langsung berhubungan dengan Allah Swt. sebagai

pemberi amanat. keluarga merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab

atas pendidikan anak selain sekolah dan masyarakat.

24

Ahmad Kusyairi Suhail, Menghadirkan Surga di Rumah, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2007), Cet. Ke-1, h. 109.

25

Kasmuri Selamat, Suami Idaman Istri Impian: Membina Keluarga Sakinah, (Jakarta: Kalam Mulia, 2007), Cet. Ke-6, h. 1.

26

(21)

Adapun alasan penulis memilih judul skripsi ini sebagai berikut:

1. Suami merupakan pemimpin dalam kehidupan rumah tangga yang memiliki

peranan yang sangat besar dalam membimbing istri dan mempersiapkan

pendidikan untuk anak-anaknya.

2. Inti dari sebuah keluarga itu adanya suami, istri dan anak, maka suami yang

bertanggung jawab sangat mutlak diperlukan untuk mencapai cita-cita dari

perkawinan, yaitu membentuk keluarga yang sakinah, penuh dengan

mawaddah wa rahmah.

3. Melihat realita yang ada, banyaknya suami yang melakukan Kekerasan Dalam

Rumah Tangga (KDRT).

4. Untuk memperkaya khazanah keilmuan tentang konsep-konsep Islam,

diharapkan menjadi sumbangan pemikiran yang dapat dimanfaatkan oleh

semua pihak yang membutuhkan.

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Dari permasalahan-permasalahan yang dapat diidentifikasi di atas, kiranya

harus dicarikan jawaban dari masalah-masalah tersebut dan menyelesaikannya.

Untuk dapat menjadikan sebuah karya tulis yang baik pembatasan terhadap

masalah yang akan dikaji merupakan salah satu bagian penting demi terciptanya

fokus pembahasan, untuk itu objek kajian yang akan dituangkan ke dalam skripsi

(22)

11

- Suami yang dimaksud adalah yang berstatus sebagai individu dan anggota

masyarakat yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan yang diikat

dengan tali pernikahan.

- Peranan yang dimaksud adalah bagian dari tugas utama (kepala keluarga) yang

harus dilakukan oleh suami.

2. Pembatasan Masalah

Kemudian dalam penulisan skripsi ini penulis merasa perlu untuk

memberikan suatu pembatasan masalah agar tidak melebar, yaitu:

1. Suami sebagai kepala rumah tangga.

2. Peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah.

3. Karakteristik Suami yang bertanggung jawab.

3. Perumusan Masalah

Dari pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah menjadi:

1. Bagaimana peranan suami sebagai kepala rumah tangga dalam membina

keluarga sakinah?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan penulisan

Setiap karya tulis yang bernilai ilmiah tentunya memiliki tujuan yang ingin

dirumuskan dalam perumusan masalah, maka secara spesifik tujuan yang akan

dicapai dari penulisan ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui kedudukan dan fungsi suami sebagai kepala rumah

(23)

b. Untuk mengetahui peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah

dalam persfektif Al-Qur’an.

c. Untuk mengetahui kriteria suami yang bertanggung jawab dalam persfektif

Al-Qur’an.

Sedangkan tujuan akademis dari penulisan skripsi ini adalah untuk

memperluas paradigma berpikir dan wacana keilmuan dalam bidang pendidikan,

terutama pendidikan keluarga.

2. Manfaat penulisan

Adapun hasil penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat

sebagai berikut:

a. Dari tulisan ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan para orang tua

dalam upaya membentuk keluarga yang sakinah.

b. Memberi acuan bagi para pelajar laki-laki untuk menjadi laki-laki yang

shaleh/bertanggung jawab dan mampu mengatasi berbagai masalah dalam

rumah tangga.

D. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode

maudhu’i (tematik). Yaitu cara-cara menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang

dilakukan dengan cara tertentu.27 Untuk itu harus dilakukan komparasi dan

penghimpunan ayat yang saling berkaitan, kemudian dibahas atau ditafsirkan

27

(24)

13

sesuai dengan kaedah yang berlaku. Dr. M. Quraish Shihab, di dalam karyanya

Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Mizan), memberikan

defenisi tafsir maudhu.i secara lebih rinci: menghimpun ayat-ayat Al-Quran dari

berbagai surah dan yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan

sebelumnya. Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan

ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.28

Orang yang pertama kali memperkenalkan metode ini adalah al-Jalil Ahmad

As-Sa’id al-Kumi, ketua jurusan tafsir di Universitas al-Azhar.29

Penulis juga menggunakan metode Library Research (penelitian

kepustakaan), yaitu suatu metode dengan mengadakan studi kepustakaan terhadap

buku-buku/kitab-kitab, kamus, majalah, koran, artikel dan sebagainya yang ada

hubungan dengan masalah yang akan dibahas.

Ada dua jenis data dalam pembuatan skripsi ini, yaitu data primer dan data

sekunder. Data primer adalah sumber kepustakaan yang berasal dari sumber

utama yang digunakan dalam pembahasan ini, yaitu al-Qur’ân al-Karîm.

Sedangkan data sekunder adalah data pendukung berupa buku-buku, kitab-kitab

tafsir, artikel-artikel, makalah dan lain-lain yang berkaitan dengan pembahasan

ini.

Teknik pembahasan dalam skripsi ini, adalah deskriptif-analisis, yaitu

suatu pendekatan masalah dengan menguraikannya terlebih dahulu sebagai

gambaran awal dan setelah itu baru dianalisis. Metode deskriptif dimaksudkan

28

http://www.qalam.or.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=341, Pengenalan Singkat Tentang

Metode Tafsir Tematik Sebagai Salah Satu Metode Tafsir Terbaru. oleh Hamid. Selasa, 20

Nopember 2007.

29

(25)

untuk menggambarkan objek apa adanya, sedangkan metode analisis dianggap

perlu guna menganalisis objek yang telah digambarkan sebelumnya.

Adapun pedoman yang digunakan dalam penulisan ini adalah buku

“Pedoman Akademik –Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan

Disertasi)- yang disusun oleh Hamid Nasuhi, dkk. Terbitan CeQDA (Center for

Quality Development and Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun

2008 – 2009.

E. Tinjauan Pustaka

Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang disusun dalam rangka

menyelesaikan studi tingkat sarjana program strata 1 (S1). Maka tidak menutup

kemungkinan ketika skripsi yang disusun oleh penulis ini memiliki kemiripan

dengan skripsi penulis lainnya. Dalam beberapa buku dan skripsi yang saya baca,

banyak hal khususnya teori dan pendapat yang menjadi perhatian penulis untuk

dijadikan penunjang penulisan dan menjadi perbandingan bagi penulis

selanjutnya. Dan sebagai tinjauan pustaka penulis dalam menyusun teori-teorinya

mengambil dari buku-buku dan skripsi yang bersangkutan dengan kewajiban

suami dalam pandangan Islam. Husain Syahatah merupakan penulis sebuah buku dengan judul Tanggung Jawab Suami dalam Rumah Tangga; Antara Kewajiban

dan Realitas yang menjadi referensi penulis dalam rangka mengetahui berbagai

teori tentang peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah. Dalam buku

ini dijelaskan bahwa peranan suami itu tidak jauh berbeda dengan peranan istri

(26)

15

dan besar larangannya jika suami tidak memperhatikan urusan keluarga (istri dan

anak), apalagi tidak memberi nafkah kepada mereka. Dari skripsi yang penulis

susun ini terdapat perbedaan dengan tinjauan pustaka yang penulis tunjukan yaitu

karya Husain Syahatah Tanggung Jawab Suami dalam Rumah Tangga; Antara Kewajiban dan Realitas perbedaan tersebut terletak pada penjabaran teori yang

lebih melihat dengan jelas kepada kewajiban suami sebagai kepala, pendidik dan

pendamping istri dalam rumah tangga.

F. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terbagi menjadi lima bab, setiap bab terdiri dari beberapa

sub-sub bab yang dimaksudkan untuk mempermudah dalam penyusunan serta

mempelajarinya, dengan sistematika sebagai berikut :

Bab pertama merupakan pendahuluan yang meliputi : latar belakang

masalah, identifikasi pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat

penulisan, metode penelitian, tinjauan pustaka dan diakhiri dengan sistematika

penulisan. Bab ini berusaha memberikan gambaran singkat tentang masalah yang

akan di bahas pada bab-bab selanjutnya.

Bab kedua membahas tentang gambaran tentang suami yang meliputi :

fungsi suami, kedudukan suami, dan kewakiban suami.

Bab ketiga membahas tentang pandangan ulama terhadap peranan suami

dalam al-Qur’an yang meliputi : persepsi ulama tentang peranan suami, pendapat

(27)

Bab keempat membahas tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan peranan

suami dalam al-Qur’an yang meliputi : memberikan teladan yang baik dalam surat

thaahaa (20) ayat 132, bertanggung jawab dalam surat an-nisaa’ (4) ayat 34,

menciptakan rumah tangga sakinah dalam surat an-nahl (16) ayat 80.

Bab lima merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan yang

didasarkan pada keseluruhan uraian dan pembahasan yang telah dijelaskan pada

(28)

17

BAB II

SUAMI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA

A. Fungsi Suami

Sudah jamak dipahami bahwa suami adalah kepala rumah tangga, dan

istri adalah ibu rumah tangga. Logika ini tidak bisa diganti dengan sebaliknya.

Problemya adalah apa yang dimaksud dengan kepala rumah tangga dan apa yang

dimaksud dengan ibu rumah tangga. Disini, adalah yang berlaku umum dalam

masyarakat kita adalah bahwa kepala rumah tangga mengurusi urusan-urusan

“besar” dalam rumah tangga, sedangkan yang menyangkut pencarian nafkah,

penjagaan hubungan rumah tangga dengan masyarakat, dan urusan-urusan lain

yang melibatkan rumah tangga dengan kehidupan sosial. Sementara itu, defenisi

ibu rumah tangga adalah bahwa seorang ibu mempunyai tugas-tugas pengaturan

rumah tangga berskala kecil, seperti pengaturan rumah dan perabotan, pengaturan

urusan dapur, pengaturan urusan keuangan rumah tangga, pengaturan

kesejahteraan anggota-anggota rumah tangga dan pengaturan anak.1

Tampaknya, tugas ibu rumah tangga tersebut ringan dan kecil, tetapi pada

kenyataannya, seorang ibu rumah tangga dihabiskan waktunya untuk disibukkan

dalam rumah tangga tersebut. Di sinilah kadang seorang kepala rumah tangga

kurang menyadari tugas-tugas ibu rumah tangga. Jadi, kalau para suami mau jujur

terhadap dirinya sendiri, maka suami akan menyadari bahwa tugas-tugas konkrit

seorang istri lebih berat dari pada tugas-tugas seorang suami. Maka, kerelaan

1

(29)

seorang istri untuk menjadi ibu rumah tangga dan keikhlasannya menganggap

suami menjadi kepala rumah tangga, adalah penghormatan yang

setinggi-tingginya yang dapat diberikan oleh seorang istri kepada suaminya. Dan hal ini

memang telah dimekanismekan oleh alam, bahwa pembagian yang seperti itu

adalah pembagian yang alamiah.2

Keluarga bisa dianggap sebagai miniatur dari sebuah sistem

pemerintahan, yang memerlukan seseorang pemimpin, bertujuan untuk

menciptakan negara yang maju, aman dan sejahtera. Begitu juga dengan

keluarga, yang memerlukan seorang pemimpin yang biasa disebut dengan kepala

rumah tangga untuk menciptakan keluarga yang diimpikan yaitu keluarga yang

sakinah, mawaddahwa rahmah.

Allah telah menetapkan adanya perbedaan antara laki-laki dan

perempuan. Kini, fungsi dan kewajiban masing-masing jenis kelamin, serta latar

belakang perbedaan itu, disinggung oleh ayat ini dengan menyatakan bahwa: para

lelaki, yakni jenis kelamin atau suami adalah qawwamun, pemimpin dan

penanggung jawab atas para wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian

mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka, yakni laki-laki secara umum

atau suami telah menafkahkan sebagian dari harta mereka untuk membayar

mahar dan biaya hidup untuk istri dan anak-anaknya. Dengan demikian, suamilah

yang akanbertanggung jawab terhadap keluarga tersebut, karena suami

merupakan pemimpinnya. Persoalan yang dihadapi suami istri, seringkali muncul

dari sikap jiwa yang tercermin dalam keceriaan wajah atau cemberutnya,

2

(30)

19

sehingga persesuaian dan perselisihan dapat muncul seketika, tapi boleh jadi juga

sirna seketika. Kondisi seperti ini membutuhkan adanya seorang pemimpin,

melebihi kebutuhan satu perusahaan yang bergelut dengan angka-angka, bukan

dengan perasaan, serta diikat oleh perjanjian rinci yang dapat diselesaikan

melalui pengadilan.

Murthadha Muthahhari seorang ulama terkemuka Iran dalam bukunya

yangditerjemahkan oleh Abu Az-Zahra An-Najafi ke dalam bahasa Arab dengan

judul Nizham Huquq al-Mar.ah menulis bahwa keistimewaan antara laki-laki dan

perempuan adalah sebagai berikut3:

1. Dari segi fisik

Lelaki secara umum lebih besar dan lebih tinggi dari perempuan; suara

lelaki dan telapak tangannya kasar, berbeda dengan suara dan telapak tangan

perempuan, pertumbuhan perempuan lebih cepat dari lelaki, tetapi perempuan

lebih mampu membentengi diri dari penyakit dibanding lelaki, dan lebih cepat

berbicara, bahkan dewasa dari lelaki. Rata-rata bentuk kepala lelaki lebih besar

dari perempuan, tetapi jika dibandingkan dari segi bentuk tubuhnya, maka

sebenarnya perempuan lebih besar. Kemampuan paru-paru lelaki menghirup

udara lebih besar/banyak dari perempuan, dan denyut jantung perempuan lebih

cepat dari denyut lelaki. Sangat adil pula jika Allah melengkapi laki-laki dan

wanita dengan perangkat reproduksi yang berbeda, termasuk tanda-tanda

seksualkeduanya.4

3

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah.,h. 426.

4

(31)

2. Dari segi psikis

Secara umum lelaki lebih cenderung kepada olahraga, berburu, pekerjaan

yang melibatkan gerakan dibanding wanita. Lelaki secara umum cenderung

kepada tantangan dan perkelahian, sedangkan perempuan cenderung kepada

perdamaian dan keramahan; lelaki lebih agresif dan suka ribut, sementara wanita

lebih tenang dan tentram. Perempuan menghindari penggunaan kekerasan

terhadap dirinya atau orang lain, karena itu jumlah wanita yang bunuh diri lebih

sedikit dari jumlah pria. Caranya pun berbeda, biasanya lelaki menggunakan cara

yang keras pistol, tali gantungan atau meloncat dari ketinggian, sementara wanita

menggunakan obat tidur, racun, dan semacamnya. Perasaan wanita lebih cepat

bangkit dari lelaki, sehingga sentimen dan rasa takutnya segera muncul, berbeda

dengan lelaki, yang biasanya lebih berkepala dingin. Perempuan biasanya lebih

cenderung kepada upaya menghiasi diri, kecantikan, dan mode yang beraneka

ragam serta berbeda bentuk. Di sisi lain, perasaan perempuan secara umum

kurang konsisten dibanding dengan lelaki. Perempuan lebih berhati-hati, lebih

tekun beragama, cerewet, takut, dan lebih banyak berbasa-basi. Perasaan

perempuan lebih keibuan, ini jelas nampak sejak kanak-kanak. Cintanya kepada

keluarga serta kesadarannya tentang kepentingan lembaga keluarga lebih besar

dari lelaki.

Perbedaan antara laki-laki dan wanita secara fisik dan psikis serta

fenomena kodrati di atas sesungguhnya diatur sedemikian rupa oleh Allah untuk

menunjang tugas masing-masing. Perlu dicatat bahwa walaupun secara umum

(32)

21

adalah sewajarnya untuk tidak menilai perasaan wanita yang sangat halus itu

sebagai kelemahan. Justru itulah salah satu keistimewaan yang tidak dan kurang

dimiliki oleh pria. Keistimewaan itu amat dibutuhkan oleh keluarga, khususnya

dalam rangka memelihara dan membimbing anak-anak.5

Wanita secara psikologis enggan diketahui membelanjai suami, bahkan

kekasihnya, di sisi lain pria malu jika ada yang mengetahui bahwa kebutuhan

hidupnya ditanggung oleh istrinya. Karena itu, agama Islam yang

tuntunan-tuntunannya sesuai dengan fitrah manusia, mewajibkan suami untuk menanggung

biaya hidup istri dan anak-anaknya.6 Dari kedua faktor yang disebut di atas .

keistimewaan fisik dan psikis, serta kewajiban memenuhi kebutuhan dan

anak-anak . lahir hak-hak suami yang harus pula dipenuhi oleh istri. Suami wajib

ditaati oleh istrinya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama,

serta tidak bertentangan dengan hak pribadi sang istri.

Perlu digarisbawahi bahwa kepemimpinan yang dianugerahkan Allah

kepada suami, tidak boleh mengantarnya kepada kesewenang-wenangan.

Paradigma pemimpin kaum adalah pelayan mereka, harus dipraktekkan oleh

laki-laki dalam memimpin kaum perempuan atau keluarga, agar ia tidak

mengembangkan kepemimpinan yang diktator, otoriter dan zalim. Sebab,

sebagaimana dijelaskan Taqiyyuddin an-Nabhani dalam buku an-Nizham

al-Ijtima.i, bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah

tangga bukanlah akad syirkah (perusahaan), akad perdata yang berkonsentrasi

pada kawin kontrak atau akad ijarah (sewa menyewa) sehingga istri ibarat budak

5

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah., h. 427-428.

6

(33)

bagi suami untuk dipekerjakan. Bukan pula seperti hubungan polisi dan pencuri,

sehingga istri selalu terancam dan diteror, dan suami selalu merasa superior.

Tetapi hubungan keduanya adalah hubungan sakinah, mawaddah dan rahmah.

Yaitu hubungan untuk saling mengondisikan munculnya sakinah (ketentraman

dan ketenangan) jiwa, mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (rasa sayang).7

Dengan demikian, suami akan menjadi pengayomi yang baik, serta akan

mendapatkan pelayanan baik dari istri dan anggota keluarga, bahkan akan

mendapatkan lebih baik dari apa yang telah diberikan oleh suami terhadap istri

dan anggota keluarganya. Disinilah barangkali hikmah mengapa redaksi atas

tidak berbunyi .ar-rijalu aimmat an-nisa,. melainkan berbunyi .ar-rijalu

qawwamuna .ala an-nisa. padahal kedua redaksi mempunyai pengertian yang

hampir sama. Hal ini tidak lain karena makna yang terdapat dalam kata

.qawwamah. jauh lebih mendalam dan integral daripada kata .imamah.. Termasuk

dalam makna .qawwamah. adalah memimpin, meluruskan jika ia (perempuan) itu

bengkok (salah), mengayomi, menjaga, melindungi, membina dan mendidik.8

Maka jelaslah bahwa suami menjadi pemimpin, bukan berarti ia harus menjadi

otoriter dalam memimpin, tanpa memikirkan apa yang diinginkan oleh istri dan

anggota keluarganya.

B. Kedudukan Suami

Walaupun suami merupakan pemimpin dalam keluarga, kepemimpinan

suami di sini tidak sampai memutlakkan seorang istri tunduk sepenuhnya. Istri

7

Ahmad Kusyairi, Menghadirkan Surga di Rumah., h. 185.

8

(34)

23

tetap mempunyai hak untuk bermusyawarah dan melakukan tawar menawar

keinginan dengan suami berdasarkan argumen-argumen rasional-kondisional.

Kepemimpinan suami atas keluarganya tidak menghilangkan hak-hak mereka

dalam berbagai hal.

1. Hak istri

Mendapatkan mahar

Hak istri yang pertama kali yang harus dipenuhi oleh seorang suami

adalah diberi mahar dengan penuh kerelaan. Ketika istri menghendaki mahar

tertentu suami harus memenuhinya tanpa menguranginya sedikit pun. Bahkan

istri berhak menolak ketika suaminya ingin menyentuhnya apabila mahar belum

diberikan. Namun, jika ingin menjadi perempuan yang shalehah, sebaiknya

mempermudah lamaran dan tidak memberatkan mahar.

Mendapatkan pergaulan dengan sebaik-baiknya

Secara naluri perempuan memang memiliki perasaan yang halus, tetapi ia

mudah marah. Oleh karena itu, perempuan berhak mendapatkan perlakuan yang

lembut dari suaminya saat menghadapinya. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah

saw. terhadap istri-istrinya.

Mendapatkan nafkah

Istri sangat berhak untuk mendapatkan nafkah dari suaminya, meskipun

misalnya istri tersebut adalah orang yang kaya. Secara umum termasuk

(35)

Mendapatkan pendidikan

Pendidikan juga menjadi hak istri, apalagi seorang istri nantinya akan

menjadi ibu bagi anak-anaknya, dan apabila ibunya tidak berpendidikan,

bagaimana nanti nasib dari anak-anaknya.

2. Kewajiban istri

Seorang istri harus mengatur urusan rumah tangga dan mempersiapkan

kebutuhan hidup sehari-hari

Sudah menjadi rahasia umum bahwa istri mempunyai kewajiban

mengatur urusan rumah tangga dan mempersiapkan kebutuhan hidup sehari-hari,

seperti mengatur keuangan rumah tangga, menyiapkan makanan untuk anak dan

suaminya, serta yang lainya.

Berkewajiban menjaga kehormatan dan ridha suami

Suami merupakan surga dan sekaligus juga neraka bagi istri, untuk itulah

istri harus menjaga kehormatan dan ridha suami.

Wajib taat dan patuh kepada suami

Secara mutlak seorang istri wajib taat kepada suaminya terhadap segala

yang diperintahkannya, asalkan tidak termasuk perbuatan durhaka kepada Allah.

Sebab memang tidak ada alasan sama sekali bagi makhluk untuk taat kepada

sesama makhluk dalam berbuat durhaka kepada Allah. Setiap istri yang taat

(36)

25

Membantu suami bertakwa dan taat kepada Allah

Seorang istri wajib membantu suaminya untuk taat kepada Allah, dan

memberinya nasehat demi mencari keridhaan Allah. Sebagaimana Rasulullah

saw. bersabda:

Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwa Rasulullah saw bersabda: Allah merahmati seorang suami yang bangun tengah malam untuk melakukan shalat, lalu ia membangunkan istrinya agar ikut shalat, dan jika istrinya tidak mau bangun, ia memercikkan air pada wajahnya. Dan Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun tengah malam untuk shalat, lalu ia membangunkan suaminya agar ikut shalat, dan jika suaminya tidak mau bangun, maka ia memercikkan air pada wajahnya”.

Setia dan ikhlas kepada suami

Setia adalah bukti keikhlasan dan cinta sejati. Seorang istri yang sholehah

akan selalu ikhlas kepada suaminya dan menjaga perasaannya. Ia tidak mau

membebani suaminya dengan tuntutan-tuntutannya.Ia rela menghadapi kesulitan

dengan sabar dan ridha.Jika ia kaya, ia mau membantu suaminya yang miskin.

Tidak menyakiti suami

Seorang istri tidak boleh menyakiti suaminya, misalnya dengan cara

membangga-banggakan kecantikannya, atau membangga-banggakan harta

kekayaannya di hadapannya sampai menyinggungperasaannya.

Agama Islam telah mengangkat derajat kaum wanita pada suatu tingkatan

yang belum pernah dilakukan oleh agama lain dan syari.at-syari.at lain

(37)

diri mereka telah mencapai puncak peradaban dan kebudayaan. Meskipun mereka

telah menghormati dan memuliakan kedudukan wanita serta memberikan

pendidikan kepada mereka dalam bidang sains dan ilmu kemasyarakatan.

Dengan dibebankannya kepemimpinan kepada suami itulah, maka

Kasmuri Kasim, dalam bukunya Suami Idaman Istri Impian mengemukakan

empat sifat yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki yang membuatnya layak

menjadi pemimpin di dalam rumah tangga:

a. Berpengetahuan agama dan mengamalkannya secara sempurna

Yang akan dipercayai sebagai kepala rumah tangga ialah suami, oleh

karena itu ia harus mempersiapkan dirinya dengan memperbanyak pengetahuan

agama. Disamping mengerjakan perintah agama yang mendasar seperti, shalat,

puasa, zakat dan lain-lain, kemudian harus memahami pula bidang yang lain,

karena Islam adalah agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan sesuai

untuk seluruh zaman.

b. Sempurna akal dan pemikiran

Jika seorang itu ingin menjadi suami maka hendaklah ia berpikiran

positif. Karena apabila telah berumah tangga, seorang suami harus memikirkan

cara yang terbaik dalam memenuhi segala keperluan rumah tangganya, baik

secara lahiriah maupun batiniah.

c. Sehat lahir dan batin

Bagi seorang laki-laki yang ingin berumah tangga, haruslah terlebih

dahulu memperhatikan kemampuan fisiknya, karena lemahnya kemampuan

(38)

27

jika sekiranya tidak mampu untuk bekerja karena penyakit dan sebagainya akan

menjadikan laki-laki tersebut tidak dapat memberikan nafkah dan tanggung

jawab lainnya kepada keluarganya.

d. Memberikan nafkah sesuai dengan kesanggupan

Dalam kehidupan berumah tangga, Islam tidak membebankan kaum

wanita supaya mencari nafkah, akan tetapi kewajiban ini harus dilaksanakan oleh

kaum laki-laki untuk menyediakan sesuai kesanggupannya. Pada hakikatnya,

kehidupan rumah tangga adalah sebuah kerajaan iman. Dalam artian, suami

adalah rajanya, istri adalah ratunya dan anak-anak adalah raknyatnya. Suami

adalah raja yang memimpin kerajaan dan mengendalikan semua urusannya,

karena dialah yang menerima beban tanggung jawab serta amanat.9

C. Kewajiban Suami

Suami adalah kepala rumah tangga. Pada dirinya terletak responsibilitas

yang besar, kewajiban yang bermacam-macam terhadap keluarganya, dirinya dan

agamanya yang harus ia letakkan secara seimbang, sehingga satu kewajiban tidak

mengurangi kewajiban yang lain.Sesungguhnya Allah swt. Telah berkehendak

memberikan amanah kepada perempuan untuk hamil, melahirkan dan menyusui

tugas yang amat besar. Karenanya sangat adil, jika kemudian Allah

membebankan tugas kepada laki-laki untuk mencari nafkah, untuk memenuhi

kebutuhan utama keluarganya dan memberikan perlindungan kepada perempuan

sehingga dapat berkonsentrasi menjalankan tugas mulianya.

9

(39)

1. Memberi nafkah lahir dan batin/pergaulan suami istri

Ajaran Islam menetapkan bahwa suami bertanggung jawab untuk

menafkahi istrinya, baik nafkah lahir maupun nafkah batin.

a. Nafkah lahir

Rasulullah saw bersabda:

"Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Adi bin Tsabit ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Yazid Al Anshari dari Abu Mas'ud Al Anshari maka aku berkata; Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah."

Seorang ibu mengandung demi seorang ayah (suami) dan menyusui juga

demi sang suami. Oleh karena itu wajib bagi suami member nafkah secukupnya

kepada istriya berupa sandang dan papan, agar ia dapat melaksanakan

kewajibannya dalam menjaga dan memelihara bayinya. Walaupun memberi

nafkah itu merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang suami yang

merupakan kepala rumah tangga, tetapi sesuai dengan dalil yang di atas, memberi

nafkah itu tidak boleh berlebih-lebihan, dalam artian melewati batas kemampuan

suami itu,yang nantinya akan membuat suami itu sengsara. Dan tidak boleh juga

kurang, yang nantinya akan berakibat memberatkan sang istri.

Sesungguhnya Islam melarang seorang suami .menikmati. hasil usaha

(40)

29

bekerja mencari nafkah, sekiranya memang nafkah yang diberikan oleh suaminya

tersebut tidak mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Dan pencarian nafkah

yang dilakukan oleh seorang istri itu terwujud karena dua hal10: Pertama, ia

.wajib. mencari nafkah bersama sama suaminya demi memenuhi

kebutuhan-kebutuhan rumahtangga mereka. Jadi, prinsip yang harus dipegang di sini adalah

bahwawalaupun nafkah itu diberikan oleh seorang suami kepada istrinya sebagai

hak bagi istrinya, tetapi kegunaan nafkah itu tidak semata-mata untuk kebutuhan

istrinya saja (misal, untuk membeli perhiasan atau pakaian), melainkan juga

untuk kegunaan suaminya (misal, makan dan minum). Dengan demikian, harta

yang diberikan oleh seorang suami pada intinya merupakan harta yang digunakan

untuk kepentingan bersama. Oleh karena itu, pemenuhan akan kebutuhan

bersama ini tidak mencukupi, maka seorang istri tidak boleh harus memaksakan

diri untuk tidak mau tahu terhadap kekurangan tersebut dengan hanya

mengharapkan pemberian nafkah suaminya saja. Dan sang suami pun harus

berusaha untuk memenuhi kebutuhan istri agar dalam memenuhi kebutuhan itu

cukup untuk istri, karena kalau tidak itu akan memberatkan istri. Kedua,

pencarian nafkah yang dilakukan oleh seorang istri hanya bersifat .membantu.

suaminya, dan bukan merupakan kewajiban. Bantuan dalam pencarian nafkah

yang dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya di sini .tidak penting. untuk

dilakukan (yakni tidak sebagaimana dalam kasus yang pertama), karena nafkah

yang diberikan oleh suaminya telah mencukupi kebutuhan istri dan kebutuhan

rumah tangga mereka.

10

Muhammad Muhyidin, Meraih Mahkota Pengantin: Kiat-kiat Praktis Mendidik Istri & Mengajar Suami, (Jakarta: PT. Lentera Basritama, 2003), Cet. Ke-I. h. 260-261.

(41)

b. Nafkah batin / Pergaulan Suami Istri

Tidak dapat dipungkiri bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama

memiliki nafsu syahwat, dengan adanya nafsu syahwat itu maka setiap orang

ingin memiliki keturunan, yang akhirnya disyariatkanlah perkawinan.Ada ulama

berpendapat bahwa hukum memberikan nafkah batin (hubungan suami istri) bagi

seorang suami apabila tidak ada halangan adalah wajib. Ada juga yang

mengatakan bahwa melakukan hubungan suami istri itu wajib dilakukan setiap

empat hari sekali, tetapi ada juga yang berpendapat enam hari sekali.11

Sebenarnya berbagai macam pendapat ulama di atas itu sejalan dengan anjuran

Rasulullah saw. yang melarang setiap suami meninggalkan istrinya dalam waktu

yang terlalu lama, walaupun untuk tujuan berzikir, beribadah dan jihad. Karena

perbuatan yang demikian itu pada hakikatnya akan menyiksa perasaan istri.12

Selain hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsu syahwat, memiliki keturunan

merupakan salah satu tujuan dari ikatan perkawinan. Oleh karena itu, salah satu

dari suami atau istri tidak boleh menghalangi yang lainnya untuk memenuhi hak

berhubungan suami istri. Hakberhubungan suami istri ini ditetapkan oleh syara.

Hikmah menggauli wanita adalah untuk menjaga kelestarian jenis

manusia melalui kelahiran, bukan sekedar untuk memperoleh kelezatan

semata-mata. Karena itulah dilarang untuk menggauli wanita yang sedang haid dan pada

tempat yang lain, sebab keadaan keduanya itu tidak akan pernah menghasilkan

keturunan.13 Penyebutan istri sebagai .ladang. secara tidak langsung juga

mengatakan bahwa suami itu adalah .petani. untuk itulah petani bebas

11

Kasmuri Selamat, Suami Idaman Istri Impian., h. 79.

12

Kasmuri Selamat. Suami Idaman Istri Impian., h. 80.

13

(42)

31

mendatangi ladangnya kapan pun dan darimana pun, yang penting tujuan dari

petani tercapai. Dan petani harus bias menggarap ladangnya dan menjaganya dari

segala hama, serta ciptakanlah suasana kerohanian yang agar benih yang

diharapkan berbuah itu lahir, tumbuh dan berkembang, disertai dengan nilai-nilai

suci.14 Untuk menciptakan itu, maka kedepankanlah hubungan seks dengan

tujuan kemasalahatan untuk dunia dan akhirat, bukan hanya untuk memuaskan

nafsu yang tidak pernah kenyang, serta bertakwalah kepada Allah dalam

hubungan suami-istri, bahkan dalam segala hal. Dengan melihat kedua ayat di

atas, maka seks merupakan kebutuhan laki-laki dan perempuan. Karena itu suami

dan istri salingmembutuhkan, dan memberikan yang terbaik, sebagaimana petani

membutuhkan ladang dan ladang membutuhkan petani. Ketika nafkah bathin ini

tidak dilaksanakan oleh seorang suami dan jiwa terlalu lama menantikan belaian

cinta dari suami, air mata bias mengalir karena tidak kuat menahan rasa sepi yang

mencekam. Sementara tidak ada kekasih yang menguak hasratnya. Bahkan pada

tingkat tertentu bisa menyebabkan munculnya ketegangan rumah tangga. Oleh

karena itu, nafkah batin harus diberikan oleh suamidengan baik.15

Adapun tentang berapa lama boleh suami meninggalkan istri, Saib bin

Jubair berkata16:

"Pada suatu malam, khalifah Umar bin Khattab berjalan-jalan keliling kota Madinah dan hal yang demikian itu sering ia lakukan. Secara kebetulan di dekat rumah salah seorang wanita yang pintunya terkunci, dari luar ia mendengar wanita tersebut mendendangkan syairnya, yang isinya tentang keluhan kesedihan karena sudah terlalu lama ditinggalkan oleh suaminya. Kemudian Umar pun bertanya tentang kemana suaminya. Perempuan itu menjawab bahwa suaminya sedang berjihad fi sabilillah. Besoknya Umar

14

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah., Vol 1, h. 481.

15

Kasmuri Selamat, Suami Idaman Istri Impian., h. 81-82.

16

(43)

mengirim surat kepada suaminya dan menyuruhnya pulang. Kemudian kepada anaknya Hafsah, Umar bin Khattab bertanya: Wahai anakku, berapa lamakah kaum wanita boleh bersabar apabila ditinggal oleh suaminya? Hafsah Menjawab: Subhanullah, orang seperti ayah bertanya kepadaku tentang perkara ini? Umar menjawab: Kalau bukan karena saya ingin memperhatikan permasalahan kaum muslimin, tentu saya tidak akan bertanya tentang masalah ini kepadamu. Hafsah menjawab: Lima bulan atau enam bulan. Mendengar jawaban dari anaknya itu, maka mulai saat itu khalifah Umar bin Khattab menetapkan untuk mujahidin berperang waktunya paling lama enam bulan, waktu berangkat sebulan, tinggal di medan perang selama empat bulan dan kembalipulang selama sebulan"

2. Mempergauli istri dengan baik

Islam memandang rumah tangga dengan mengidentifikasinya sebagai

tempat ketenangan, keamanan dan kesejahteraan. Islam juga memandang

hubungan dan jalinan suami-istri dengan menyifatinya sebagai hubungan cinta,

kasih dan sayang, dan menegakkan unsur ini di atas pilihan dan kemauan mutlak

agar semuanya dapat berjalan dengan sambut menyambut, sayang menyayangi

dan cinta mencintai. Kewajiban yang harus selalu diperhatikan oleh suami

sebagai kepalarumah tangga adalah menjaga kemuliaan istrinya dari hal-hal yang

menyebabkan kehormatannya dihina atau hal-hal yang merendahkan martabatnya

sebagai manusia. Sang suami harus menjauhi hal-hal yang bisa melukai

perasaannya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengingkari janji yang

telah dibuat bersama.17

Suami harus memperbaiki pergaulannya dengan istri, untuk itu harus

menggauli mereka dengan cara yang mereka senangi. Jangan memperketat

nafkah mereka, jangan menyakiti mereka melalui perkataan maupun perbuatan.

Atau menyambut mereka dengan wajah yang muram dan menyambut mereka

17

(44)

33

dengan mengerutkan dahi.18 Dan apabila suami tidak menyenangi istrinya karena

keaiban akhlak atau fisik mereka yang tidak menyenangkan, bersabarlah, karena

Allah menjadikan kebaikan itu menyeluruh, menyangkut segala sesuatu,

termasuk pada mereka yang tidak disukai itu.19

Orang-orang saleh pernah berkata, Seorang istri itu laksana botol, maka

penuhilah botol itu dengan minuman yang engkau sukai.. Orang saleh yang lain

pernah berkata, .Dalam menghadapi seorang wanita, kita memerlukan sedikit

humor, tutur kata yang lembut, melipur lara, dan perhatian yang cukup.. Juga

diingat, tutur kata yang baik termasuksedekah.

Islam melarang suami melukai perasaan istri dengan perkataan. Karena

hal itu yang akan membuka terjadinya pemukulan dan kekerasan lain oleh suami

kepada istri, akibatnya istri akan tersakiti secara fisik juga mentalnya, walaupun

dalam batas-batas yang dibenarkan oleh syariat karena istri tidak taat kepada

suaminya boleh memukulnya. Karena memukul merupakan perubahan hukum

dari kesulitan kepada kemudahan karena suatu alas an disebabkan latar belakang

hukum asli. Sebab larangan itu merupakan rasa kasihan dan sayang kepada

mereka. Menegakkan keadaan yang membolehkan karena suatu alasan, yaitu

demi kelanggengan suami istridan terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah

dan rahmah serta menunaikan hak-haknya ketika hak-hak mereka ditinggalkan.

Jadi, seorang kepala rumah tangga mempunyai kewajiban; selain harus

memberikan nafkah kepada istrinya, baik lahir maupun batin, juga harusmenjaga

kehormatan dan perasaan istrinya itu.

18

Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi., Jil 4, h. 384.

19

(45)

34

A.Kehidupan Keluarga dalam Islam 1. Pengertian Keluarga

Keluarga merupakan sebuah pondasi dan institusi yang paling dicintai

dalam Islam. Masyarakat terbentuk dari unit-unit yang lebih kecil dan keluarga

merupakan unit yang paling kuno dan alami serta titik diawalinya kehidupan

manusia. Keluarga adalah pusat perkumpulan dan poros untuk melestarikan

tradisi-tradisi serta tempat untuk menyemai kasih sayang dan emosional. Unit ini

ibarat landasan sebuah komunitas dan ketahanannya akan mendorong

ketangguhan sebuah masyarakat.1

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai institusi terkecil dalam masyarakat,

keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan

pembangunan sebuah bangsa. Hal ini terkait erat dengan fungsi keluarga sebagai

wahana pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.2

Keluarga memiliki peran fundamental dalam menjaga bangsa-bangsa dari

dekadensi dan kehancuran. Karena itu, undang-undang juga harus disusun untuk

mempermudah terbentuknya keluarga, memelihara kesuciannya, dan memperkuat

hubungan kekeluargaan berdasarkan hak-hak dan etika Islam. Dari segi psikologi,

keluarga juga punya peranan penting dalam meredam emosi, mencegah depresi,

dan memberi dampak-dampak psikis lain bagi seseorang. Anak-anak yang

1

Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana,2005),h. 37.

2

(46)

35

kehilangan orang tuanya akan larut dalam kesedihan, diliputi rasa takut, bersikap

emosi, dan kehilangan rasa tenang. Dari sini terlihat kontribusi positif keluarga

dalam menjaga kesehatan mental dan memberi ketahanan terhadap

tekanan-tekanan jiwa dan depresi.3

Sedangkan menurut kajian hukum, keluarga dalam literature Islam dikenal

dengan istilah al-ahwal as-syakhsyiyyah: ahwal (plural) dari kata tunggal al-hâl,

artinya hal, urusan, atau keadaan. Sedangkan as-Syakhsyiyyah berasal dari kata

as-syakhsyu jamaknya asykhasy yang berarti orang atau manusia (al-Insân).

As-syakhsyiyyah, berarti kepribadian atau identitas diri-pribadi (jati diri). Disamping

istilah tersebut, juga dikenal dengan Huququl usrah/huququl „a‟ilâh (hak-hak

keluarga), Ahkamul usrah (hukum-hukum keluarga), dan Qanunul Usrah

(undang-undang keluarga). Hukum keluarga Islam dalam literature bahasa Inggris

dikenal dengan: Islamic Family law dan Muslim family law.4

2. Tujuan Berkeluarga

Kata pernikahan, berasal dari kata „nikah„, menurut kamus bahasa Indonesia

berarti „perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri dengan

resmi.5

Al-Qur’an menjelaskan kata pernikahan dalam dua bentuk kata yang

berbeda, namun memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu, „nikah’ dan

3

Abu Zahwa, Buku Pintar Keluarga Sakinah, (Jakarta: kultumedia, 2003), h.75.

4

Mahmud Al-Shabbagh, Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam, h. 114.

5

(47)

zawwaja’ yang keduanya memiliki arti „ keberpasangan.6 Kata nikah

diulang-ulang Allah dalam al-Qur’an sebanyak 23 kali sementara kata zawwaja sebanyak

80 kali.

Secara eksplisit al-Qurân dan al-hâdits menjelaskan bahwa tujuan

perkawinan dalam Islam adalah karena7 :

a. Cinta, „fankihû mâ tâba lakum’, Sebagai ungkapan perasan terdalam dari hati

membuat manusia berkeinginan untuk selalu dekat kepada orang yang

dicintainya. Kerinduan akan kekasih yang dilamunkan setiap saat, terpenuhi

dengan adanya ikatan perkawinan.

b. Kebutuhan akan keberpasangan sebagai sifat naluriah manusia atau saling

membutuhkan yang ditamsilkan Allah sebagai pakaian „hunna libâsul lakum,

waantum libâsul lahunna. Maksudnya, sebagai kodrat manusia, kita tidak

luput dari kelemahan dan kekurangan, sehingga masing-masing pasangan

dapat menutupi kelemahan dan kekurangan pasangannya, sebagaimana fungsi

pakaian untuk menutup aurat pemakainya, juga sebagai tahsin atau

memperindah pemakainya. Karena itu dalam kehidupan berkeluarga,

masing-masing suami-istri harus bersungguh-sungguh dan berjuang untuk

mendatangkan kebaikan bagi pasangannya serta menolak segala yang

menggangu dan mengeruhkannya, saling menutupi kelemahan keduanya dan

saling mendukung untuk kemajuan keduanya sesuai tujuan Islam.

6

Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Panduan Pernikahan Islami, (Jawa Tengah: 2010), h. 5.

7Adil Abdul Mun’im Abu Abbas,

Ketika Menikah Jadi Pilihan, (jakarta: almahira, 2009), h.

(48)

37

c. Untuk memperoleh keturunan dan pemenuhan hasrat libido secara legal atau

syah. Allah menganugerahkan kepada manusia libido ( dorongan seksual).

Libido dapat menimbulkan ketegangan dan kegelisahan orang. Ketegangan

libido dapat diredakan dengan masturbasi, prostitusi dan free sex, namun

ketiga hal tersebut bukan merupakan penyaluran yang yang di ridhai Allah

Swt, bahkan haram hukumnya. Free sex dan prostitusi mengandung resiko

sangat tinggi, yang berakibat kepada timbulnya penyakit HIV/AIDS. Hanya

dengan perkawinan yang syah atau legal penyaluran seksual manusia

terpenuhi.

Pernikahan umumnya menimbulkan keinginan untuk memiliki

keturunan, dan terjaminnya kelanggengan keturunan umat manusia yang

diakui secara hukum, sehingga dengan kumunitas yang banyak, bumi Allah

yang luas dan subur ini dapat dikelola atau dimanage secara benar sesuai

dengan hukum-hukum Allah, „Hua ansyâkum min al ardi wasta‟marakum

fîhâ’. Tidak seperti pasangan yang hidup bersamen leven/kumpul kebo yang

pada umumnya tidak mau terbebani kelahiran anak yang berakibat kepada

pemusnahan komunitas dan menimbulkan kerugian pada pihak perempuan,

yang bisa jadi pelecehan, karena dianggap sebagai alat pemuas sex belaka.

d. Untuk memperoleh ketenangan, ketenteraman, dan kasih sayang. Kenyataan

empirik membuktikan orang yang melajang, hidupnya tidak begitu tenang,

selalu gelisah. Merasa serba salah. Ingin mencurahkan segala isi hati dan

uneg-uneg pikirannya, tapi tidak tahu kepada siapa akan dicurahkan. Dan

Gambar

gambaran awal dan setelah itu baru dianalisis. Metode deskriptif dimaksudkan

Referensi

Dokumen terkait

Kasus penelantaran yang dilakukan oleh suami dalam ruang lingkup rumah tangga haruslah mendapat perhatian khusus dari pemerintah, pihak kepolisian ataupun masyarakat

Mereka (para suami) tidak merasa tertekan atau teraniaya, semuanya berjalan normal dan mereka juga merasa biasa-biasa saja, akan tetapi, kondisi tersebut menjadi sangat

Suami yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga berhak mendapat perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial

Di Indonesia, pada umumnya pria memegang peranan penting dalam rumah tang. Begitu terjadi perkawinan, maka suami harus mengambil tanggung jawab sebagai kepala rumah

Suami yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga berhak mendapat perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pada bagian perlengkapan dan rumah tangga, seorang kepala bagian ditujuk guna mengatur dan memotori semua aktivitas yang

Fungsi Kepala sekolah memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap

Pembagian Peran dalam Pengambilan Keputusan Hasil penelitian menunjukan bahwa pengambilan keputusan keluarga diputuskan oleh suami sebagai kepala keluarga dengan cara mengajak istri