Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Pada Komunitas Etnis Betawi Kabagusan

94  39  Download (0)

Teks penuh

(1)

TRADISI PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW PADA KOMUNITAS ETNIS BETAWI KEBAGUSAN

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh : Ahmad Awliya Nim : 104051001815

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

TRADISI PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW PADA KOMUNITAS ETNIS BETAWI KEBAGUSAN

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh : Ahmad Awliya Nim : 104051001815

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

TRADISI PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW PADA KOMUNITAS ETNIS BETAWI KEBAGUSAN

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh : Ahmad Awliya Nim : 104051001815

Di Bawah Bimbingan :

Dr. Murodi, M.A Nip : 150 254 102

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(4)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul TRADISI PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD

SAW PADA KOMUNITAS ETNIS BETAWI KEBAGUSAN telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

pada 27 Agustus 2008. skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh

gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I) pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Jakarta, 27 Agustus 2008

Sidang Munaqasyah

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Dr. Arief Subhan, M.A Umi Musyarofah, M.A

NIP: 150 262 442 NIP: 150 282 980

Penguji,

Penguji I, Penguji II,

Dra. Hj. Raudhonah, M.A Drs. Wahidin Saputra, M.A NIP: 150 232 920 NIP: 150 276 299

Pembimbing,

(5)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S-1) di UIN Syarif

Hidyatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya pergunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 10 Agustus 2008

(6)

ABSTRAK

Dalam sejarah kehidupan Rasulullah Saw., 12 Rabiul Awwal memiliki makna tersendiri. Selain menandai kelahiran beliau, tanggal tersebut juga menandai hijrahnya Rasulullah ke Madinah, bahkan pada tanggal tersebut Rasulullah juga menghadap kepangkuan Allah Swt. Bagi komunitas etnis Betawi Kebagusan, tanggal tersebut diabadikan dalam bentuk perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Bagaimana tata cara pelaksanaan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di kelurahan Kebagusan? Apa pengaruh perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan komunitas etnis Betawi Kebagusan?

Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Kebagusan dilakukan dengan cara membaca Al-Qur’an, mengirimkan do’a arwah, pembacaan riwayat Nabi Muhammad Saw., serta ditutup dengan ceramah agama dan do’a. Perayaan Maulid Nabi di Kebagusan menjadi wadah kebersamaan dan persatuan antar sesama muslim. Komunitas etnis Betawi Kebagusan dapat lebih terarah dan teratur dalam hidup bermasyarakat atas tuntunan sikap dan prilaku Rasulullah pada kehidupan sehari-hari. Hal ini ditandakan dengan kerukunan dan kebersamaan antar masyarakat Kebagusan, baik sesama warga Betawi maupun pada komunitas etnis lainnya.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penulis mendeskripsikan secara faktual apa yang dilihat dan ditemukan dari perayan Maulid Nabi Muhammad pda komunitas etnis Betawi Kebagusan. Metode ini didukung dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi yang telah dilakukan penulis di kelurahan Kebagusan.

Mendefinisikan agama adalah menjelaskan fungsi agama sebagai suatu simbol yang berlaku untuk memantapkan suasana hati dan motivasi-motivasi secara kuat yang meresap dan tahan lama dalam diri manusia. Caranya adalah dengan memformulasikan konsep-konsep mengenai suatu tatanan yang umum berkenaan dengan keberadaan (eksistensi) manusia. Maka selain suatu keyakinan, agama juga dapat menjadi bagian dan inti dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, sekaligus menjadi pendorong serta pengontrol tindakan-tindakan anggota masyarakat agar sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran agamanya.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. pada komunitas etnis Betawi Kebagusan merupakan ekspresi teologis atas kecintaan mereka terhadap Rasulullah. Sikap dan prilaku Rasulullah menjadi contoh tauladan yang baik dalam hidup bermasyarakat. Kejahatan dan tindak kriminal lainnya dapat berkurang melalui acara seremonial seperti ini. Dukungan dan partisipasi warga Betawi Kebagusan turut andil mensukseskan kegiatan tersebut. Keyakinan dan kecintaan yang besar terhadap Rasulullah menjadikan mereka gemar mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, segala pujian dan sanjungan penulis haturkan

kehadirat Allah Swt. yang telah berfirman: Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk

kamu agama kamu (Islam), dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Ku

ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah:3) Shalawat serta salam semoga

senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw., manusia mulia lagi dimuliakan

RabbNya, manusia yang namanya selalu terkenang sepanjang zaman dan terukir disetiap

hati orang yang beriman, manusia yang memiliki akhlak semulia Al-Qur’an, manusia

yang tidak akan pernah habis termakan zaman sekalipun bumi tenggelam dalam lautan.

Dengan tetesan keringat, basuhan air mata, serta segunung do’a akhirnya penulis

dapat menyelesaikan program studi S-1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.

Melewati hari-hari yang bahagia, namun terkadang penuh duka. Setidaknya inilah awal

untuk meniti jalan hidupyang lebih baik lagi.

Terselesaikannya skripsi ini sebagai syarat untuk menyelesaikan program studi

S-1 dan guna memperoleh predikat Sarjana Sosial Islam sangatlah penulis syukuri. Sebagai

hamba yang lemah dan penuh salah, inilah yang bisa diberikan demi kemajuan umat

Islam di Indonesia dan juga komunitas etnis Betawi dimanapun berada.

Untuk itulah perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada pelbagai

pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan baik secara moril maupun materil

sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis haturkan

(8)

Bapak Prof. Dr. Komarudin Hidayat, M.A, sebagai Rektor UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, para Pembantu Rektor dan Staff Rektorat yang tidak bisa

disebutkan satu persatu tetapi tidak mengurangi rasa hormat penulis.

Bapak Dr. H. Murodi, M.A, sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi

yang juga sebagai dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak membantu dalam

penulisan skripsi ini. Kepada Bapak Drs. Wahidin Saputra, M.A dan Ibu Umi

Musyarofah, M.A selaku kepala dan sekretaris jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Jazakumullah khairan katsira.

Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, terima kasih atas segala

ilmu yang kalian berikan. Semoga ilmu tersebut dapat berguna pada kehidupan penulis

yang akan datang.

Ayahanda Abu Bakar dan Ibunda Masenun, terima kasih atas spirit dan do’a yang

kalian berikan. Semoga Allah Swt. menjadikan kalian sebagai hamba-hamba pilihan

sehingga dapat memasuki surga yang penuh dengan kenikmatan dan kelezatan yang tidak

pernah dibayangkan manusia. Kepada adinda Syifa Amalia, Zaidah Umami, dan Nabilah

Firdayanti. Teruslah belajar dan berdo’a hingga akhir hayat kalian, jadikan keluarga kita

sebagai keluarga yang berilmu.

Seluruh teman-teman senasib seperjuangan KPI-C angkatan 2004-2005,

khususnya kepada Iskandar, Badru Zaman, Luthfi Anwar, Edwin Shaleh, Agustin Intan

Permata, Lilis Nurcholisoh, S.Sos.I, Hetty Maryati, S.Sos.I, Murniati, S.Sos.I, terima

kasih atas dukungan dan motivasi dari kalian. Terima kasih pula kepada Mardiyan

Rizkiyanti, S.E, dukungan dan motivasi yang diberikan membuat semangat penulis terus

(9)

Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada lembaga Lembaga

Kebudayaan Betawi (Bapak Yahya Andi Saputra), Forum Ulama dan Habaib Betawi

(Bapak Azis), Ikatan Warga Betawi Kebagusan (Bapak Zainal Abidin), Remaja Islam

Masjid Baitul Rahim (Abdul Azis), Kepala Kelurahan Kebagusan (Bapak Drs. Sabro

Malisi), Sekretaris Kelurahan Kebagusan (Bapak Achmad Zayadi), Ketua Dewan

Kelurahan Kebagusan (Bapak Muhdas, S.Ip.), dan Fadjriah Nurdiarsih, S.Hum.

Dengan segenap ketulusan dan keikhlasan dari lubuk hati yang paling dalam,

penulis mendoakan semoga segala bantuan, dukungan, bimbingan, kemudahan serta

perhatian yang telah diberikan mendapatkan kebaikan yang setimpal dari Allah Swt.

Akhirnya penulis menyadari bahwa skripi ini jauh dari kesempurnaaan, bahkan

masih jauh untuk dapat dikategorikan penulisan ilmiah yang baik dan benar. Untuk itulah

penulis sangatlah mengharapakan kritik dan saran yang konstruktif guna perkembangan

dan kemajuan penulis selanjutnya. Semoga skripsi ini bisa memberikan kontribusi yang

berarti bagi masyarakat Betawi di Jakarta.

Jakarta, Juli 2008 M Rajab 1429 H

Penulis

(10)

DAFTAR ISI

ABSTRAK……….i

KATA PENGANTAR………...ii

DAFTAR ISI……….v

DAFTAR TABEL……….vii

DAFTAR LAMPIRAN………...viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah...5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian...6

D. Metodologi Penelitian ...7

E. Sistematika Penulisan...8

BAB II MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN KOMUNITAS ETNIS BETAWI A. Pengertian Perayaan...10

B. Pengertian Maulid Nabi Muhammad Saw………..11

C. Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Jakarta...19

D. Pengertian dan Sejarah Pembentukan Komunitas Etnis Betawi...24

E. Komunitas Etnis Betawi Kelurahan Kebagusan Jakarta Selatan...34

(11)

B. Kependudukan...39

C. Keadaan Komunitas Etnis Betawi Kelurahan Kebagusan...41

D. Kebudayaan Masyarakat Kelurahan Kebagusan...46

BAB IV TRADISI PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW PADA KOMUNITAS ETNIS BETAWI KEBAGUSAN

A. Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. Syair Barjanzi

Pada Komunitas Etnis Betawi Kelurahan Kebagusan...50

B. Model Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di

Kelurahan Kebagusan...57

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan……….61

B. Saran………...63

(12)

TABEL

Tabel 1: Jamuan Maulid Nabi masa Raja Malik al-Muzaffar………18

Tabel 2: Pembagian luas tanah kelurahan Kebagusan...37

Tabel 3: Jumlah penduduk kelurahan Kebagusan...40

Tabel 4: Jenis pekerjaan masyarakat kelurahan Kebagusan...42

(13)

LAMPIRAN Lampiran 1: Surat keterangan bimbingan skripsi

Lampiran 2: Surat keterangan wawancara

Lampiran 3: Rawi Syair Barjanzi

Lampiran 4: Wawancara dengan narasumber

Lampiran 5: Wawancara dengan narasumber II

Lampiran 6: Wawancara dengan narasumber III

Lampiran 7: Peta wilayah kelurahan Kebagusan

Lampiran 8: Dokumentasi perayaan Maulid Nabi di Kebagusan

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. merupakan peristiwa bersejarah bagi

umat Islam. Peristiwa ini diperingati sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad Saw. yang

merupakan Nabi dan Rasul terakhir.

Tradisi1 Maulid juga dilaksanakan oleh komunitas etnis Betawi. Komunitas etnis

Betawi memiliki kaitan yang erat dengan agama Islam. Sejak dulu, orang Betawi dikenal

sebagai penganut agama Islam yang taat. Mereka rajin bersembahyang dan mengaji di

masjid. Mereka juga bercita-cita untuk pergi haji. Begitu inginnya pergi haji, ada

peribahasa di kalangan orang Betawi yang berbunyi:

Ya Allah, Ya Rabbi…. Nyari untung biar lebi Biar bisa pegi haji Jiarah kuburan nabi2

Orang-orang tua Betawi akan merasa sangat malu jika anaknya tidak bisa

membaca Al-Qur’an, atau tidak pernah bersembahyang di masjid. Dalam cerita Nyai

Dasima karya S.M Ardan yang baru-baru ini diterbitkan ulang oleh Masup Jakarta

(2007), ada bagian yang bercerita mengenai hal tersebut.

1

Menurut Dictionary of Sociology, tradisi adalah proses situasi sosial yang merupakan pewarisan elemen kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi secara terus menerus. Secara lengkap tertulis, a social situation process in which elements of the cultural heritage are transmitted from generation to generation by contact of continuity. Lihat Henry Partt Fairchild (ed). 1962, Dictionary of Sociology, Paterson, New Jersey: Littlefield Adams & Co., hlm. 322.

2

(15)

“Ngomong-ngomong,” kata Wak Lihun sambil mendekat. Anaklo si Miun udeh kagak kenal langgar lagi sekarang, ye.” “Aye ngomongin sih ude cukup, Bang.”3

Warga Betawi Kebagusan adalah masyarakat yang fanatik terhadap agama yang

dianutnya, yaitu Islam. Tidaklah mengherankan jika berbagai pengajian marak di

kalangan masyarakat Betawi. Kaum ibu membentuk pengajian di majlis taklim, kaum

bapak memiliki pengajian di masjid, kaum remaja juga memiliki pengajian yang biasanya

diadakan bergiliran dari rumah ke rumah.4

Ketika merayakan Maulid Nabi terkadang setiap pengajian merayakannya sendiri-sendiri. Setiap pengajian akan saling mengundang jamaah pengajian yang lain.

Tujuannya memang hanya memperingati, akan tetapi bagi orang Betawi tidak afdol rasanya jika tidak mengisi acara itu dengan ceramah agama dan pembacaan riwayat Nabi Muhamad Saw. karangan syeikh Jafar al-Barjanzi.

Tradisi Maulid bagi komunitas etnis Betawi memiliki ciri khas tersendiri

dibandingkan komunitas etnis budaya lainnya. Dalam perayaan Maulid, biasanya

pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad Saw. diiringi oleh iringan rebana.5

Rebana yang mengiringi ini adalah rebana ketimpring. Karena fungsinya tersebut, rebana

ini juga dinamakan rebana Maulid.6

Rebana adalah seni musik yang mendapat pengaruh dari dunia Arab. Kesenian ini

biasanya dipertunjukkan dalam upacara perkawinan dan Mauludan.7 Sebutan rebana

berasal dari bahasa Arab yakni “robbana” yang berarti “Tuhan kami”.8 Sebutan itu timbul

karena rebana biasanya digunakan untuk mengiringi lagu-lagu yang bernafaskan agama

3

S.M. Ardan, Nyai Dasima, (Depok:Masup Jakarta, 2007), hlm. 2

4

Hasil pengamatan penulis pada tahun 2007 s/d 2008

5

Ibid.,

6

Tim Penyusun, Ragam Budaya Betawi, (Jakarta:Dinas Kebudayaan & Permuseuman Prov. DKI Jakarta, 2002), hlm. 69

7

, Sekilas Gambaran Kesenian Jakarta dan Latar Belakang Kehidupan Dalam Masyarakat, (Jakarta: Dinas Museum dan Sejarah, Cetakan kedua, 1979), hlm. 16. lihat juga Tim Redaksi,

Untuk Beberapa Macam Rebana, (Jakarta:Majalah Indonesia Indah No.32,1992), hlm. 15-17

8

(16)

Islam. Di wilayah budaya Betawi, ada berbagai jenis rebana. Di antaranya rebana

ketimpring, rebana ngarak, rebana maulud, rebana burdah, rebana dor, rebana biang,

rebana hadroh dan rebana kasidah.9

Sebutan rebana ketimpring muncul karena adanya tiga pasang kerincingan yang dipasang di tepinya. Rebana ini memiliki tiga jenis ukuran dari yang garis tengahnya 20 hingga 25 cm. Dalam satu grup ada tiga buah rebana. Ketiga rebana itu mempunyai sebutan, yaitu rebana tiga, rebana empat dan rebana lima. Selain digunakan sebagai pengiring dalam pembacaan Maulid, rebana ketimpring digunakan juga untuk mengarak pengantin. Untuk jenis yang ini, rebana tersebut dinamakan rebana ngarak. Sedangkan untuk mengiringi pembacaan Maulid disebut rebana Maulid.10

Syair-syair yang dibawakan untuk keperluan mengarak dinamakan “Syair

ad-Diba’i”. Penamaan ini dikarenakan isi syairnya diambil dari Kitab Diwan Hadroh.

Sedangkan untuk mengiringi maulid, biasanya digunakan “Syair Barjanzi”. Hal ini

disebabkan syair itu diambil dari kitab Syaraful Anam karya Syeikh Jafar al-Barjanzi.

Tidak seluruh bacaan diiringi rebana., hanya bagian tertentu seperti: Assalammualaika,

Bisyahri, Tannaqaltu, Wulidalhabibu, Shalla ’Alaika, Badat Lana dan Asyrakal. Bagian

Asyrakal lebih bersemangat sebab semua hadirin berdiri.11

Pada mulanya, tradisi Maulid diperkenalkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi, di desa Arbil, Moussil, Irak. Ketika dalam keadaan berperang, Sholahuddin al-Ayyubi yang terkenal dengan sebutan Singa Padang Pasir merasa prihatin dengan ghirah keislaman (semangat keislaman) yang semakin lama semakin memudar.12 Untuk mengembalikan orang Islam ke jalan Rasulullah, Shalahudin al-Ayubi merintis pertandingan Maulid. Pada saat itulah diadakan perlombaan mengarang riwayat dan pujian kepada Nabi. Sejak saat itu juga mulai dikenal “Syair Barjanzi”, “Syair Azzab”, “Syair ad-Diba’i” dan lain-lain. “Syair Barjanzi” dikarang oleh Syeikh Jafar al-Barzanji, Syair Azzab dikarang oleh Syekh al-Azzab, “Syair Ad-Diba,i” dikarang syeikh Muhammad Diba’i. Syair ad-Diba’i dibawakan oleh keluarga Alatas yang merupakan orang Betawi keturunan Arab.13 Saat ini banyak sekali syair-syair lain yang dibacakan dalam Maulid. Perbedaan itu tidak dipentingkan, sebab memang tidak ada aturan yang pasti. Yang jelas, tiap pembacaan

9

Muhammad Zafar Iqbal, Islam di Jakarta; studi sejarah islam dan budaya betawi, tesis, (Jakarta:Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 2002), hlm. 375

10

Tim Penyusun, Ragam Budaya Betawi, op. cit, hlm. 68-69

11

Ibid,. hlm. 70

12

Muhammad Anwar, Sejarah Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:S.A. Alaydrus, 1988), hlm. 11

13

(17)

Maulid itu mengandung pujian kepada Rasul serta riwayat perjuangan Rasul dari lahir hingga meninggalnya.

Setelah selesai perayaan Maulid, orang Betawi memiliki kebiasaan yang khas untuk menunjukkan keakraban mereka. Biasanya, tuan rumah akan menyediakan makanan ala kadarnya untuk dimakan. Pada zaman dahulu, makanan ini berupa nasi dengan lauk pauk lengkap yang diletakkan di atas tampah. Satu tampah terdiri dari nasi, ayam, tempe, dan telur. Satu tampah biasanya dimakan beramai-ramai oleh lima sampai enam orang. Dalam suasana seperti ini, terasa sekali keakraban yang muncul. Keakraban yang murni dan tanpa batas sama sekali.14

Pada masa sekarang, si empunya acara akan menyediakan berkat. Tiap orang

biasanya mendapat satu berkat yang berisi nasi beserta lauk pauk, kue-kue, dan buah.

Berkat dibungkus dalam kantong plastik hitam dan dibagikan menjelang acara selesai.

Kadang-kadang kalau berkat dengan nasi dan lauk pauk lengkap dianggap merepotkan,

tuan rumah akan memberikan berkat yang berisi sembako. Dalam berkat itu ada beras,

kopi, gula, teh, minyak goreng, mi instan, dan lain-lain.15

Bertitik tolak dari masalah ini maka penulis menuangkannya dalam skripsi yang

berjudul ”Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. Pada Komunitas Etnis Betawi Kelurahan Kebagusan, Jakarta Selatan.”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah ini dimaksudkan agar masalah lebih terarah dan lebih jelas

variabelnya. Batasan masalah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengenai

perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. pada komunitas etnis Betawi. Peneliti juga

membatasi tempat yang diteliti sebatas masyarakat kelurahan Kebagusan, Pasar Minggu,

Jakarta Selatan. Karena persoalan waktu, peneliti hanya membatasinya pada tahun 2007

s/d 2008.

14

Hasil pengamatan penulis pada tahun 2007

15

(18)

2. Perumusan Masalah

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti juga merumuskan masalah ke dalam

beberapa masalah yakni:

a. Bagaimana tata cara pelaksanaan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di

kelurahan Kebagusan?

b. Bagaimana model perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kelurahan

Kebagusan?

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

A. Tujuan secara Umum Penelitian ini adalah:

a. Menggambarkan pelaksanaan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

pada masyarakat kelurahan Kebagusan

b. Menemukan adanya keunikan dari pelaksanaan Maulid yang dilakukan

komunitas etnis Betawi kelurahan Kebagusan

B. Tujuan Ilmiah Penelitian ini

a. Meneliti tata cara pelaksanaan Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

pada komunitas etnis Betawi Kebagusan

b. Meneliti keaktifan masyarakat Betawi Kebagusan dalam

menyelenggarakan Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

c. Meneliti model perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di kelurahan

Kebagusan

d. Input bagi Fakultas Dakwah & Komunikasi dalam pengembangan

(19)

2. Manfaat Penelitian

A. Manfaat teoritis penelitian ini adalah:

a. Pengembangan ilmu Dakwah dalam masyarakat

b. Pengembangan komunikasi antar budaya yang baik dalam masyarakat

c. Input bagi mahasiswa Fakultas Dakwah dalam hal pengembangan dan

penerapan keilmuan dakwah & komunikasi di masyarakat

B. Manfaat Praktis penelitian ini adalah:

a. Menambah wawasan dan informasi peneliti tentang budaya Betawi

b. Menambah wawasan dan informasi peneliti tentang pelaksanaan Maulid

Nabi Muhammad Saw. pada komunitas etnis Betawi

c. Meningkatkan semangat keislaman penulis untuk terus melestarikan

tradisi Betawi

D. Metodologi Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penulis akan menggambarkan secara faktual apa yang dilihat dan ditemukan dari objek penelitian ini. Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini, maka digunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:

Observasi, yaitu pengamatan langsung pada perayaan Maulid Nabi Muhammad

Saw. di Kebagusan. Dalam hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran

yang tepat mengenai perayaan Maulid yang dilaksanakan komunits etnis

Betawi Kebagusan sehingga dapat disusun daftar wawancara yang tepat dan

cermat terkait dengan tata cara pelaksanaan dan model perayaan Maulidnya.

Observasi ini dilakukan dari tahun 2007 s/d 2008.

Wawancara, yakni suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan

(20)

ahli atau yang berwenang dalam suatu masalah).16 Penulis mengajukan

pertanyaan kepada Bapak Zainal Abidin (sekretaris IWBK), Abdul Azis

(RISBA), dan Fadjriah Nurdiarsih sehingga mendapat gambaran pelaksanaan

perayaan Maulid Nabi pada komunitas etnis Betawi di Kebagusan.

Studi Dokumentasi, adalah merupakan teknik yang juga dilakukan dalam

mengumpulkan data berdasarkan buku, majalah, makalah, ataupun

literatur-literatur lainnya. Penulis akan mengumpulkan beberapa foto dan gambar

pelaksanaan Maulid yang dilaksanakan di Kelurahan Kebagusan. Dari

dokumentasi tersebut penulis akan meminta keterangan terhadap Bapak Zainal

Abidin dan Abdul Azis.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai skripsi ini maka penulis akan

menguraikan dalam lima bab.

Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, serta

sistematika penulisan. Bab ini memberikan gambaran atau kerangka dari

penelitian yang dilakukan.

Bab II Maulid Nabi dan Komunitas Etnis Betawi, pada bab ini penulis menjelaskan landasan teori yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Bab ini

meliputi pengertian perayaan, pengertian Maulid Nabi Muhammad Saw.,

sejarah perayaan Maulid Nabi di Jakarta, pengertian dan sejarah pembentukan

komunitas etnis Betawi, serta penjelasan atas keberadaan komunitas etnis

Betawi di kelurahan Kebagusan.

16

(21)

Bab III Gambaran Umum Masyarakat Kelurahan Kebagusan Jakarta Selatan,

penulis akan menggambarkan kelurahan Kebagusan yang menjadi objek

penelitian dan menjelaskannya melalui pengamatan terhadap letak geografis,

kependudukan, keadaan komunitas etnis Betawi, serta kebudayaan yang

terdapat di kelurahan Kebagusan.

Bab IV Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. Pada Komunitas Etnis Betawi Kebagusan meliputi analisa penulis terhadap perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. syair Barjanzi yang dilaksanakan oleh komunitas etnis Betawi

Kelurahan Kebagusan, serta model perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di

kelurahan Kebagusan.

Bab V Penutup, menguraikan kesimpulan berdasarkan penjelasan pada bab-bab sebelumnya serta memberikan saran yang produktif dan membangun sehingga

dapat bermanfaat bagi komunitas etnis Betawi Kebagusan dan bagi

penelitian-penelitian selanjutnya. Pada bagian akhir, penelitian-penelitian ini juga dilengkapi dengan

(22)

BAB II

MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN KOMUNITAS ETNIS BETAWI

A. Pengertian Perayaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perayaan adalah pesta (keramaian, dsb)

untuk merayakan sesuatu. Sedangkan merayakan adalah memuliakan (memperingati,

memestakan) hari raya (peristiwa penting): hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia;

-hari lahir.17

Pada hari besar Nasional dan keagamaan, masyarakat Kebagusan merayakannya

dalam bentuk acara seremonial. Seperti hari Kemerdekaan Indonesia atau yang kita kenal

sebagai 17-an. Warga Kebagusan merayakannya dengan mengadakan berbagai

perlombaan yang diadakan diberbagai tempat umum seperti lapangan, jalan, maupun

kebun-kebun kosong.18

Dalam hal Maulid Nabi, warga Kebagusan juga merayakannya secara seremonial.

Ini menandakan bahwa Maulid Nabi adalah hari bersejarah bagi umat Islam Indonesia,

khususnya umat Islam Kebagusan yang patut dirayakannya secara meriah. Hal ini dapat

dilihat dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan dimana banyak membutuhkan orang

17

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Balai Pustaka, edisi ketiga, 2003), hlm. 935

18

(23)

banyak serta biaya yang besar. Di samping itu, perayaan Maulid Nabi biasanya diadakan

secara formal dengan susunan kepanitiaan lengkap dengan perangkatnya.19

B. Pengertian Maulid Nabi Muhammad Saw.

Kata Maulid merupakan bentuk mashdar Mimi yang berasal dari kata: walada,

yalidu, wilaadatan, maulidun, waldatun, wildatun, fahuwa walidun, wadzaaka mauludun,

lid, laa talid, maulidun, mauladun, miiladun. Yang berarti dari segi bahasa (etimologi)

adalah “Kelahiran.”20

Sedangkan pada istilah (terminology) berarti: Berkumpulnya manusia, membaca

apa yang mudah dari Al-Qur’an, dibacakan riwayat kabar berita yang datang pada

permulaan urusan Nabi Muhammad Saw., dan apa yang terjadi pada maulidnya (Nabi

Muhammad Saw.) daripada tanda-tanda kebesarannya, setelah itu dihidangkan bagi

mereka hidangan makanan, mereka memakannya dan mereka pulang tanpa ada tambahan

atas yang demikian itu.21

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Maulid berarti perayaan hari lahir Nabi

Muhammad Saw; bulan Maulud; bulan Rabiul Awwal.22 Sedangkan menurut Pusat

Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Maulid adalah 1. Hari lahir (terutama hari lahir

Nabi Muhammad Saw.): memperingati–Nabi Muhammad Saw.; 2. Tempat lahir; 3.

(peringatan) hari lahir Nabi Muhammad Saw.: acara-akan diisi dengan ceramah; bulan:

bulan Rabiul Awwal. Sedangkan bermaulid-Rasul berarti memperingati hari kelahiran

Nabi Muhammad Saw.23

19

Hasil wawancara dengan Abdul Azis

20

Syarif Mursal al Batawiy, Keagungan Maulid Nabi Muhammad Saw., (Jakarta al-Syarifiyyah, 2006), hlm. 13

21

Buletin Dian al-Mahri, edisi 10, tahun 2008, hlm. 10

22

Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jakarta:Pustaka Amani), hlm. 246

23

(24)

Kelahiran Nabi Muhammad Saw. ke muka bumi ini merupakan karunia Allah

yang teramat agung untuk umat manusia. Kehadirannya bagaikan matahari terbit yang

menghapus kegelapan malam. Ia bagaikan rembulan di malam purnama dan air di tengah

padang sahara. Cahayanya menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteraan abadi.24

Sekitar 14 abad yang lalu, pada suatu malam di bulan Rabi’ul Awwal,

orang-orang kafir majusi dikagetkan dengan padamnya api sesembahan mereka yang selama

ratusan tahun tidak pernah padam, pada malam itu juga penduduk kota Mekkah

dikagetkan dengan suara burung yang berterbangan di atas udara dengan suara yang

beraneka ragam, para pendeta ahli kitab dari golongan Yahudi dan Nashrani berkumpul

dan memanggil pengikut mereka untuk beramai-ramai keluar dari rumah menyaksikan

bintang besar yang berada di cakrawala yang sejak dahulu belum pernah muncul dan

belum pernah terlihat oleh ahli perbintangan, singgasana raja Persia-pun bergonjang pada

saat itu.25 Itu semua merupakan pertanda manusia istimewa pilihan Rabb semesta alam

baru saja lahir ke muka bumi setelah sembilan bulan berada dalam kandungan Siti

Aminah.

Ketika Siti Aminah mengandung Nabi Muhammad Saw., ia tidak merasakan

seperti kandungan yang dialami oleh wanita-wanita hamil lainnya. Menurut suatu

riwayat, ketika mau atau sedang mengandung. Siti Aminah tidak pernah merasa

kelelahan dan kepayahan, meskipun kandungannya berumur tua. Selama ia mengandung

pula, Siti Aminah kerap kali didatangi para Nabi yang memberitahukan kepadanya bahwa

24

, Maulid Nabi Muhammad Dalam Tinjauan Syariah, (Jakarta:PB. Syahamah), hlm. 1

25

(25)

yang dikandungnya itu akan menjadi pelita dunia yang akan menerangi seluruh jagat raya

dari timur sampai barat serta utara maupun selatan.26

Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, 12 Rabiul Awwal memiliki makna

tersendiri, selain menandai kelahiran Nabi, tanggal tersebut juga menandai Hijrahnya

Rasulullah ke Madinah, bahkan ada yang berpendapat pada tanggal yang sama Rasulullah

menghadap kepangkuan Allah Swt.27

Sekitar enam ratus tahun setelah Nabi Muhammad wafat, di kalangan umat Islam banyak yang telah melupakan ajaran Islam itu sendiri. Kejahatan dan kemaksiatan merajalela. Perbudakan, pencurian, serta diskriminasi terhadap perempuan yang pada zaman Rasulullah dihapuskan kini kembali marak. Umat Islam pada saat itu sudah tidak memiliki semangat keislaman seperti pada zaman Rasulullah, apalagi saat itu umat Islam sedang mengalami kelelahan dalam perang salib yang berkepanjangan.28

Jika Islam menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa memupuk persatuan

dan perdamaian, maka dalam kenyataannya sedikit demi sedikit umat Islam banyak yang

saling melakukan pertentangan, sekalipun adanya pertentangan itu hanya disebabkan oleh

soal-soal kecil dan sepele saja.

Dengan adanya perpecahan-perpecahan seperti itulah yang menyebabkan

kedudukan umat Islam semakin hari semakin menjadi lemah, dan akibat dari

kelemahan-kelemahan yang demikian itu maka sebagian negara Islam dikuasai oleh

negara-negara adikuasa yang mayoritas dari Barat.

Dalam keadaan umat seperti itu, bangun dan bangkitlah Sultan Shalahudin

Ayyubi, yang terkenal dengan julukan ”Singa Padang Pasir”. Sultan Shalahudin

al-Ayyubi bangkit dengan tujuan agar umat tidak sampai berlarut-larut melupakan dan

meninggalkan ajaran dan perjuangan Rasulullah Saw. Maka dianjurkanlah orang-orang

26

Ibid,. hlm. 17

27

Syarif Mursal al-Batawiy, Keagungan Maulid Nabi Muhammad Saw., op. cit, hlm. 14

28

(26)

untuk menulis kembali riwayat kehidupan Nabi dan perjuangannya serta dipentaskan

pada acara seremonial untuk membacakan kembali sejarah Nabi Muhammad Saw.

Penulisan riwayat Nabi tersebut dikarang beberapa Ulama pada saat itu, setelah selesai

ditulis lalu kaum Muslimin diundang untuk mendengarkan pembacaan riwayat kehidupan

Nabi yang diselingi oleh jamuan- jamuan yang telah disiapkan.29

Di zaman Khulafa al-Rasyidin dan Daulat Umayyah serta Abbasiyah, belum

berkembang ide memperingati kelahiran atau Maulid Nabi, sejarah mengungkapkan

bahwa dimulainya peringatan Maulid Nabi dimulai pada masa Daulat Fathimiyyah pada

abad 14 hijriyah. Acara itu berlangsung dengan sangat meriah.30 Raja Abu Sa’id al-Malik

al-Muzaffar31 (w. malam Rabu 18 Ramadhan 630 H) ipar dari Sultan Shalahudin

al-Ayyubi adalah orang pertama (pelopor) yang memperingati Maulid Nabi Muhammad

Saw. secara besar-besaran. Raja yang memerintah Kerajaan Arbil (Arbelles) sebelah

timur Mosul Irak itu; gagah berani, pandai mengatur strategi, alim, saleh, dan adil, hidup

dalam kesederhanaan, namun untuk memperingati Maulid Nabi Saw. beliau

mengadakannya selama tujuh hari tujuh malam yang bertujuan untuk membacakan

sejarah Nabi Muhammad Saw. Di samping itu diadakan pula pekan raya sepekan di

negeri tersebut.32 Salah satu contoh kebaikan Malik al-Muzaffar adalah membangun

Masjid Muzaffari di kaki gunung Qasiyun.33 Ibn Katsir pernah berkata: “Dia (Malik

29

Ibid,. hlm 11

30

Abdul Hadi W.M., Perayaan Maulud Melintas Abad, (Jakarta:Harian Pelita, Minggu, 11 November 1990), hlm. 10

31

H.L. Gottschalk, Al-Malik Al-Kamil, hlm. 44, sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

32

Buletin Dian Al-Mahri, op. cit, hlm. 10

33

(27)

Muzaffar) dulu selalu menjalankan ibadah Maulid pada bulan Rabi’i dan merayakannya

secara meriah”.34

Menurut Cendekiawan Mesir, Hasan As-Sandubi dalam bukunya: Tarikh al-ihtifal

bil Maulud an-Nabawi, min al-asr al-awwal ila asr Faruq al-awwal, terbitan Kairo 1948,

menuliskan bahwasanya penguasa Fatimi pertamalah yang menetap di Mesir, al-Muidz

al-Din Allah (memerintah 341H/953-365H/975) yang untuk pertama kalinya merayakan

Maulud Nabi dalam sejarah Islam.35 As-Sundubi berasumsi bahwa al-Muidz al-Din Allah

merayakan Maulid Nabi karena ingin mencoba membuat dirinya populer di kalangan

rakyat dengan memperkenalkan beberapa perayaan, salah satunya yang paling penting

adalah Maulid.36

Sumber tertua yang menyebut tentang Maulid pada dinasti fatimi adalah karya

Ibnu al-Ma’mun. Nama lengkapnya adalah Jamal al-Din ibn al-Ma’mun Abi Abd Allah

Muhammad ibn Fatik ibn Mukhtar al-Bata’ihi.37 Ayahnya adalah Ma’mun ibn

al-Bata’ihi yang termasyhur, yang dari tahun 515/1121 menduduki jabatan Perdana Menteri

di istana khalifah Fatimi, al-Amir.38 Tanggal kelahirannya secara tepat tidak diketahui,

tetapi C.H. Becker mengasumsikan bahwa ia dilahirkan beberapa waktu sebelum ayahnya

34

Lihat mengenai Ibn Katsir, (lk. 700/1300-772/1373) E.l. (2), iii, hlm. 817-818, art. oleh H. Laoust. Teks yang dikutip As-Suyuti di sini hampir identik dengan teks Ibn Katsir, Al-bidayah wa-n-nihayah fi t-ta’rikh, i14 jil. Al-Qahirah 1351-8/1932-9, jil. XI, hlm. 136-137, sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (JakartaINIS, 1994)

35

Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994), hlm. 20

36

As-Sundubi, Tarikh ihtifal bil Maulud an-Nabawi, min asr awwal ila asr Faruq al-awwal, al-Qahirah 1948, hlm. 63. Sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

37

Khit. I, hlm. 390; dalam Khit., hlm. 83 dan Itt. III, hlm. 69 namanya diberikan sebagai berikut: Jamal al-Mulk Musa ibn al-Ma’mun al-Bata’ihi. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

38

(28)

ditangkap, sebab Ibn al-Ma’mun menyandang gelar amir, yang pasti didapat dari

ayahnya.39 Ibn al-Ma’mun meninggal pada tanggal 16 Jumada I/30 Mei 1192.40

Dalam Khitat karya ibn al-Ma’mun berisi satu bagian tentang Maulid. Bagian

bacaan ini mengacu kepada tahun 517/1123, adalah sebagai berikut:41

Kemudian ia (=ibn al-Ma’mun sub anno 517/1123) berkata: saya tiba pada bulan Rabi’I dan kami (=ibn al-Ma’mun dalam bukunya) akan mulai dengan hal yang membuat bulan ini termasyhur, yaitu dengan menyebutkan hari kelahiran Junjungan yang pertama dan terakhir, Muhammad –semoga Allah memberkati dan mengaruniakan damai sejahtera kepadanya- pada hari ke tiga belas.42 Dan sebagai zakat (sadaqah) ia (=Khalifah al-Amir) memberikan 6000 dirham terutama dari mal an-najawa43, dan dari persediaan dar al-fitrah44 40 piring kue dan dari gudang para wali dan pelindung mauseloum agung yang terletak di antara Bukit dan al-Qarafah45, tempat para Anggota Keluarga Hamba Allah –semoga Allah memberkatinya dan mengaruniakan damai sejahtera- diistirahatkan; gula, amandel, madu, dan minyak wijen untuk tiap mausoleum. Dan Sana’ al-Mulk ibn Muyassar46 melaksanakan pembagian 400 ratl47 manisan (halwah) dan 1000 ratl roti.

39

C.H. Becker, “Zur Geschichtsschreibung unter de Fatimiden”, dalam: Beitrage zur Geschichte Aegyptens unter dem Islam, erstes Heft, Strassburg 1902, hlm. 1-31, hlm. 23. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

40

Wiet, G., “Compte rendu de ibn Muyassar, Annales d’Egypte, ed. H. Masse, Le Caire 1919 dalam: Jurnal Asiatique 18 (1921), hlm. 65-125, hlm. 85 cat. 3. sebagaimana dikutip Nico Kapten,

Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

41

Khit, I hlm. 432-433. bagian bacaan ini langsung menyusul pemerian tentang perayaan hari lahir al-Amir pada tahun 517, yang didahului dengan pemerian tentang maulid al-Amir pada tahun 516. Jika ibn al-Ma’mun yang memerikan maulid an-nabi di bawah tahun 516, al-Maqrizi akan menempatkan kutipan itu pada maulid sesudah maulid al-Amir pada tahun 516, dan ini tidak demikian. Lihat Nico Kapten,

Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994), hlm. 9

42

Menurut G.S.P. Freeman-Grenville, The Muslim and Christian Calendars, London etc. 1963, 13 Rabi’I 517 jatuh pada hari Jum’at 11 Mei. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (JakartaINIS, 1994)

43

Najwa adalah jumlah yang harus dibayar untuk pengajaran agama (Ismaili) dalam pertemuan-pertemuan yang khusus diadakan untuk keperluan ini, yaitu yang disebut majalis, lihat E.I. (2), v, hlm. 1033a, s.v. madjlis; cf. Khit., hlm. 391. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (JakartaINIS:1994)

44

Rumah penyimpanan manisan, aslinya dimaksudkan untuk id al-fitr, dibangun oleh Khalifah Fatimi kedua di Mesir, al-Aziz, lihat ibn Zafir, Akhbar ad-duwal al-munqti’ah, ed. A. Ferre, Le Caire 1972, hlm. 38. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

45

Gunungnya adalah al-Muqattam; al-Qarafah adalah makam yang terkenal

46

Menurut As-Sundubi, Tarikh al-ihtifal bil Maulud an-Nabawi, min al-asr al-awwal ila asr Faruq al-awwal, op. cit., hlm. 67, catatan 1, dia kelak menjadi kadi Misr pada tahun 526 dan 528, dan dia dibunuh oleh Khalifah al-Hafiz pada 531/1137, sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

47

(29)

Untuk menyongsong peringatan tersebut, dipersiapkan pula sebuah buku yang

secara lengkap membahas tentang riwayat hidup Nabi Muhammad Saw. yang kemudian

ditulis oleh Al-Hafidz Ibnu Dihyah dengan judul “At-Tanwir fi-imaulidin Basyirin

Nazhir”48 (Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang menggembirakan). Dari tulisan inilah beliau mendapatkan hadiah dari Raja Malik al-Muzaffar sebanyak 1000

dinar emas49,

Perayaan Maulid secara besar-besaran didasari karena pada zaman itu, Raja

Mongolia Zengis Khan mengganas, melabrak, serta menghancurkan negeri Irak. Raja

Malik al-Muzaffar membayangkan apabila rakyat tidak memiliki ketahanan mental yang

tinggi, tentu mereka akan menjadi korban keganasan nafsu ekspansionisme tersebut. Pada

saat semangat rakyat melemah, Raja al-Muzaffar menemukan gagasan untuk

membangkitkan dan mengorbankan semangat rakyat dengan mengungkap kembali

riwayat hidup Rasulullah yang penuh dengan nilai heroisme dan patriotisme dalam

menegakkan kebenaran serta melindungi hak kaum lemah dan golongan yang tertindas.

Dengan keberkahan Maulid tersebut, diharapkan dapat memompa semangat rakyat untuk

berjuang membela negerinya sampai titik darah penghabisan, sehingga Zengis Khan-pun

tidak berhasil melabrak kerajaan kecil tersebut.50

Menurut Ibnu Jauzi menuliskan bahwa Raja Maulana Malik al-Muzaffar

mengeluarkan jamuan sebanyak51:

Tabel 1

48

Dua naskah sajak Ibn Dihyah Kitab at-tanwir fi maulid as-siraj al-munir disimpan di Paris, lihat

GAL, GI, hlm. 311. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw.,

(Jakarta:INIS, 1994)

49

Muhammad Anwar, Sejarah Nabi Muhammad, op. cit,, hlm. 12

50

Syarif Mursal al-Batawiy, Keagungan Maulid Nabi Muhammad Saw., op. cit, hlm. 15

51

(30)

No. Jamuan Banyak

1 Kambing Panggang 5.000 ekor

2 Ayam 10.000 ekor

3 Keju 10.000 kg

4 Kue dan Buah-buahan 30.000 piring

Total Biaya 300.000 dinar emas

Sumber : Ibnu Jauzi dalam Al-Miratuz Zaman

Dewasa ini perayaan hari lahir Nabi Muhammad Saw (Arab. Maulid an-nabi)

pada tanggal 12 Rabiul Awwal (=Rabi’i) merupakan satu dari tiga hari raya muslim yang

utama.52 Meskipun Maulid berbeda dari dua perayaan lainnya, yaitu Hari Raya Buka

Puasa (‘Id al-Fitr) dan Hari Raya Qurban (‘id al-Adha) dimana Maulid Nabi bukan hari

raya agama, dan perayaannya tidak ditentukan oleh Hukum,53 namun dirayakan di hampir

seluruh dunia muslim termasuk di Indonesia.

C. Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Jakarta

Merekonstruksi proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya pada abad ke-13 s/d

abad ke-16 tak dapat dilakukan tanpa menyebut nama-nama besar seperti Kyan Santang

dan Sunan Kalijaga. Tetapi fakta sejarah yang menopang terlalu sedikit yang dapat

diketahui. Namun lokasi makam Kyan Santang, legenda Parahyangan, kisah-kisah rakyat

52

Yang dimaksudkan adalah Islam Sunni. Dalam kalangan Syi’I maulid juga dirayakan, tetapi perayaan-perayaan lain lebih penting. Cf. H. Lazarus-Yafeh, “Muslim Festival”, dalam Numen 25 (1978), hlm. 52-64. sebagaimana dikutip Nico Kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., (Jakarta:INIS, 1994)

53

(31)

tentang Sunan Kalijaga, kiranya dapat menghantarkan kita pada titik terang Islamisasi

Jakarta dan sekitarnya pada masa itu.54

Keberhasilan ekspedisi Fatahillah menaklukan Bandar Sunda Kelapa pada tanggal

22 Juni 1527 dengan 1452 prajurit berhasil mengusir orang Portugis dari sana.55

Fatahillah kemudian diangkat menjadi bupati pertama Sunda Kelapa dan mengganti nama

Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan murni atas pertolongan

Allah.56 Nama tersebut terinspirasi dari ayat Al-Qur’an yakni Inna Fatahna Laka Fathan

Mubina (surat al-Fatah ayat 1) dan terinspirasi pula oleh kemenangan Rasulullah atas

Makkah pada bulan Ramadhan 8 Hijriyah/Januari 630. Fatahillah adalah tentara muslim

pertama yang menaklukan Banten dan kemudian menguasai Sunda Kalapa dari Pajajaran

pada tahun 1527.57

Berdirinya bangunan masjid di Angke, Marunda, Tambora, Kampung Banda,

Kebon Jeruk memperlihatkan fakta bahwa dakwah Islam di Jakarta dan sekitarnya

memperoleh impetus, dorongan yang inerjikal. Jayakarta di bawah Fatahillah menjadi

payung yang ampuh melindungi proses Islamisasi itu.58

Ketika J.P. Coen menaklukan Jayakarta, orang-orang Islam mundur ke

pedalaman. Saat itu masyarakat Islam yang mayoritas di Batavia hidup di luar tembok

kota. Masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan Islam. Hal itu membuktikan bahwa

masyarakat Islam Betawi tidak berhubungan dengan Belanda secara langsung.59

54

Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, op. cit, hlm. 81

55

Edi S. Ekadjati, Fatahillah Pahlawan Arif Bijaksana, (Jakarta:Mutiara, 1983), hlm. 42

56

Ibid,. hlm. 48-49. Lihat juga Soekanto, Dari Djakarta ke Djajakarta, (jakarta Penerbit Soeroengan, 1954), hlm. 60

57

R. Soekmono, Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia, jilid ke-3, (Yogyakarta:Kanisius, 1973), hlm. 56

58

Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, op. cit, hlm. 81-82

59

(32)

Pada akhir abad ke-18 para perantau dari Hadramaut (hadaral maut) memberi

darah segar bagi perkembangan dakwah Islam di Jakarta dan sekitarnya. Menurut C.C.

Berg, orang-orang Hadramaut baru berdatangan di Jakarta pada akhir abad ke-18 untuk

berniaga. Walau pada mulanya sekedar berniaga, tetapi akhirnya mereka terlibat dalam

gerakan dakwah. Yang terkenal diantara mereka ialah Sayid Alaydrus, pendiri masjid

Luar Batang. Orang-orang perantau Hadramaut banyak yang menikah dengan orang

Betawi, yang mereka sebut sebagai orang Melayu. Karena itulah orang-orang keturunan

Arab menyebut orang-orang Indonesia dengan sebutan akhwal, yaitu saudara Ibu.60

Cara-cara dakwah Islam pada masa itu adalah ceramah, pengajian dan pengajaran

fiqih, tauhid, Al-Qur’an dan Hadits menurut madzhab Imam Syafi’i. Penggunaaan

madzhab Imam Syafi’i disebabkan seluruh ulama Betawi saat itu berfaham Ahlu Sunnah

Wal Jamaah.61 Ahlus Sunnah Wal Jamaah ialah golongan atau madzhab yang dalam

membahas ajaran-ajaran Islam berpegang kuat pada sunnah (hadits-hadits shahih) dan

mempunyai pengikut terbanyak (mayoritas).62 Dalam perkembangan selanjutnya, para

ulama Betawi saat itu mulai membacakan riwayat nabi Muhammad Saw. untuk

dipertunjukkan guna menarik perhatian kepada masyarakat untuk masuk Islam. Cara ini

sangat menarik untuk mengajak orang masuk Islam sehingga orang Tionghoa banyak

yang masuk Islam seperti di daerah Tambora.63

Peringatan Maulid merupakan tradisi terpenting dalam budaya Melayu.

Peringatan ini dilakukan di masjid, mushalla, pesantren, kantor, dan perumahan. Kata

60

Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, op. cit, hlm. 83. Lihat juga Tim Peneliti, Sejarah Perkembangan Islam di Jakarta, Abad XVII sampai Abad XX, op. cit, hlm. 40

61

Ibid,.

62

Harun Nasution, Teologi Islam: aliran, sejarah, analisa, dan perbandingan, (Jakarta:UI Press, 1986)

63

(33)

Maulud lebih akrab dalam dunia Melayu. Maulud merupakan sarana dakwah yang

relevan dengan kehidupan umat Islam di Indonesia.64 Pada upacara Maulud alim ulama

dan ahli agama di berbagai daerah Indonesia menceritakan tahap-tahap kehidupan Nabi

Muhammad Saw., dan membacakan kisah-kisah dari karya Ja’far al-Barjanzi, dan

cerita-cerita kehidupan Nabi Muhammad Saw. dari kitab Sharafil’l-anam.65 Di Indonesia,

Malaysia, dan Brunei diadakan secara resmi peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di

istana-istana negara dan telah menjadi tradisi terpenting di budaya dunia Melayu.

Di Jakarta, Maulud diadakan secara resmi di Masjid Istiqlal yang dihadiri oleh

Presiden RI dan para pejabat tinggi serta duta-duta besar negara-negara Islam.66

Allah Swt. berfirman:

ﻪ ا

لﻮ ر

ْ ﻜ

نﺎآ

ْﺪﻘ

ﺮآذو

ﺮﺧﺂْا

مْﻮ ْاو

ﻪ ا

ﻮﺟْﺮ

نﺎآ

ْ

ةﻮْ أ

اﺮ ﺜآ

ﻪ ا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik

bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat

dan dia banyak menyebut nama Allah. (QS. Al-Ahzab:21).

Dalam Al-Qur’an Allah juga berfirman tentang kemuliaan pribadi Rasulullah:

ﻖ ﺧ

ﻚ إو

Artinya: Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) memiliki akhlak yang agung

dan mulia. (QS. Al-Qalam:4)

Nabi Muhammad Saw. merupakan manusia yang paling mulia. Orang yang

mencintai Nabi Muhammad Saw. akan mendapat tempat dalam surga yang penuh hikmat.

64

Tim Penyusun, Sekilas Hari-Hari Besar Islam, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta), hlm. 10-12

65

Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka, P dan K, Jakarta, 1984, hlm. 395. Lihat pula Yustiono (ed.), Islam dan Kebudayaan Indonesia, (Jakarta:Yayasan Festival Istiqlal, 1993), hlm. 259

66

(34)

Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang mencintaiku, maka ia bersamaku nanti

dalam surga”. (HR. As-Sijzi dari Anan).

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

ﻪ ا

نﺎآو

ا

ﺗﺎﺧو

ﻪ ا

لﻮ ر

ْ ﻜ و

ْ ﻜ ﺎﺟر

ْ

ﺪ أ

ﺎ أ

نﺎآ

ءْ ﺷ

Artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seseorang laki-laki di

antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha

Mengetahui segala sesuatunya. (QS. Al-Ahzab:40)

Selain dari itu Allah berfirman:

ق

ﺎ ﺟ

ْ ﻜْ إ

ﻪ ا

لﻮ ر

إ

سﺎ ا

ﺎﻬ أﺎ

ْل

Artinya: Katakanlah hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah

kepadamu. (QS. Al-Araf:158)

ﺎ ْ

ﺔ ْ ر

ﺎ إ

كﺎ ْ ْرأ

ﺎ و

Artinya: Dan tidaklah Kami mengutus engkau hai Muhammad melainkan untuk

menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya: 107)

Inilah dasar-dasar untuk merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. di

Jakarta, seluruh Indonesia, dan di dunia Melayu.67 Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.

dirayakan secara kenegaraan. Masyarakat Betawi di Jakarta merayakan Maulid Nabi

Muhammad Saw. dengan sangat meriah di masjid-masjid, rumah-rumah, serta di

tempat-tempat umum. Dalam acara Maulid di Jakarta biasanya orang membaca syair-syair

Syeikh Ja’far Al-Barjanzi yang memuji Nabi Muhammad Saw. Para Hadirin membaca:

67

(35)

Ya Nabi Salam Alaika Ya Rasul Salam Alaika Ya Habib Salam Alaika Shalawatullah Alaika.68

D. Pengertian dan Sejarah Pembentukan Komunitas Etnis Betawi

Kata “Betawi” digunakan sebagai identitas etnis tidak dikenal oleh orang Betawi

sendiri di masa lalu. Sejak abad ke-18 ada ulama asal Batavia yang belajar mengajar di

Mekkah dan Madinah menggunakan kata “Al-Batawi” di belakang namanya, seperti

Syeikh Abdurrahman Al-Batawi yang sejaman dengan ulama terkenal Muhammad

Arsyad al-Banjari sekitar tahun 1710-1812.69 Tetapi hal itu lebih menunjukkan tempat

asal daripada identitas etnis, sebagaimana lazimnya nama ulama Nusantara saat itu,

seperti Mahfudz at-Tremasi dari Termas, bukan al-Jawi yang berarti orang Jawa dan

lebih berkonotasi etnis, Hasan Mustafa al-Garuti dari Garut bukan as-Sundawi yang

berarti orang Sunda atau Abdurrauf as-Sinkili dari Singkel bukan al-Asihi yang berarti

orang Aceh.70

Islam dan Betawi merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan. Bahkan sebutan

“Betawi” hanya bisa digunakan oleh penduduk asli Jakarta yang beragama Islam.

Sedangkan untuk penduduk asli Jakarta yang beragama Kristen secara turun menurun

biasanya disebut dengan daerah asalnya, seperti penduduk asli Jakarta yang beragama

Kristen yang diduga keturunan Mardjikers di daerah Tugu Jakarta Utara disebut orang

68

Soetcipto Wirosardjono, Maulid Nabi, Roberik Asal Usul, (Jakarta:Kompas Minggu, 23 September 1990)

69

Abdul Azis, Islam dan Masyarakat Betawi, (Jakarta:Logos, 2002), hlm. 2

70

(36)

Tugu dan penduduk asli beragama Kristen di daerah Depok disebut orang Depok atau

Belanda Depok.71

A.S. Widodo mengatakan bahwa kata ”Betawi” berasal dari kata Batavia yang

diciptakan Belanda tahun 1619 guna mengenang nenek moyang orang Belanda yakni

suku “Bataav”.72 Nama Betawi diambil dari legenda rakyat tentang peperangan antara pasukan Belanda dengan pasukan Mataram. Saat itu karena Kompeni73 kekurangan peluru dan bahan peledak ditambah lagi dengan jumlah pasukan yang tersisa hanya 12

orang,74 sehingga sangat tidak memungkinkan mereka akan menang melawan pasukan

Mataram yang jumlahnya tiga kali lipat dari Belanda. Salah seorang prajurit Kompeni

mempunyai inisiatif untuk mengambil panci dan mengisinya dengan kotoran manusia

(tahi). Lalu kotoran tersebut dilemparkan kepada pasukan Mataram yang berada di balik

tembok sehingga mereka berlarian sambil meneriakkan kata “Mambet Tahi !” “Mambet

Tahi !” (bau tahi). Kejadian itulah yang menurutnya pernah menjadi julukan Batavia

sebagai kota Tahi.75 Namun asal muasal Betawi dari kata Batavia dibantah oleh Ridwan

Saidi, menurutnya plesetan kota Batavia menjadi Betawi telah terjadi lama sebelum

kedatangan Belanda di Indonesia.76

Adapun yang disebut orang Betawi adalah penduduk pribumi daerah Jakarta yang sudah tidak jelas lagi asal keturunannya disebabkan perpaduan atau hasil proses asimilasi antara penduduk pribumi yang sudah lama menghuni daerah Jakarta dengan suku bangsa lain yang datang sebagai penghuni baru, antara lain orang Banten, Jawa, Bugis, Makassar, serta pendatang dari bangsa asing seperti

71

Abdul, Azis, op. cit, hlm. 75

72

AS. Widodo, Kota Tahi, dalam Ketoprak Betawi, majalah Intisari, (Jakarta:PT. Intisari Mediatama, 2001), hlm. 38-47

73

Sebutan untuk penjajah dari Belanda

74

Pada tahun 1619, pasukan Belanda banyak yang meninggal akibat terkena penyakit malaria, pasukan dari Belandapun tak ada yang mau datang ke Batavia karena takut terjangkit penyakit menular itu.

75

AS. Widodo, Kota Tahi, op. cit, hlm. 38-47

76

(37)

Cina, Belanda, Portugis, India, dan Arab. (Budiaman, 2006:16-17)77. Guines dalam Irawati (1993) menyebutkan salah satu ciri orang Betawi adalah yang lahir dan hidup minimal tiga generasi di Jakarta. Di sisi lain, yang dimaksud orang Jakarta adalah orang-orang dari suku lain seperti Jawa, Sunda, dan Sumatra yang lahir, tinggal, maupun bekerja di Jakarta dalam jangka waktu yang cukup lama.78

Sedangkan bahasa Betawi79 secara linguistik merupakan bahasa Melayu yang digunakan oleh penduduk asli Jakarta (Betawi) sebagai percakapan sehari-hari. Berdasarkan daftar kosakata Swadesh, seorang peneliti Amerika yang bersuamikan orang Indonesia, Kay Ikranegara, menyimpulkan hasil

perhitungannya bahwa 93% kosakata dasar bahasa Betawi sama dengan kosakata bahasa Indonesia (disini bahasa Indonesia dianggap sebagai salah satu variasi

bahasa Melayu). Sisanya 7% berasal dari bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Cina.80 Menurut Yasmine Zaki Shahab seperti dikutip Irawati (1993:19-20),

masyarakat budaya Betawi dapat digolongkan menjadi tiga bagian81:

77

Fadjriah Nurdiarsih, Pandangan Sosial Dalam Sketsa-Sketsa Firman Muntaco, skripsi, program studi Indonesia, Fakultas Ilmu Bahasa UI, 2007, hlm.21-22

78

Ibid.,

79

Ada beberapa istilah yang diberikan para peneliti bahasa dengan alasan masing-masing untuk menyebut bahasa yang diucapkan oleh komunitas etnis Betawi dalam berkomunikasi. Para peneliti Belanda seperti van der Tuuk, van der Wall, dan lain-lain memberi nama Bataviiasche-Malaische. C.J Batten (1868) menyebutnya Basa Betawi dan Liem Kim Hok (1884) menggunakan nama Melayu Betawi. Hans Kahler (1966) dan Sri Sukesi Adiwimarta (1966) menyebutnya omong Jakarta. Kay Ikranegara (1975) memberi nama Melayu Betawi. Stephen Wallace (1976, 1977) dan C.D Grinjs (1991) memberi nama Jakarta Malay

(Melayu Jakarta). Muhadjir (1964, 1977) menggunakan istilah dialek Jakarta. Namun pada tulisan-tulisannya yang terakhir, Muhadjir menggunakan bahasa Betawi (2001) atau bahasa Melayu Betawi

(2004). Lihat Fadjriah Nurdiarsih, Pandangan Sosial Dalam Sketsa-Sketsa Firman Muntaco, op. cit., hal. 4 Berkaitan dengan tumbuhnya kesadaran etnisitas akhir-akhir ini, istilah bahasa Betawi lebih popular digunakan, meskipun istilah yang benar seharusnya bahasa Melayu dialek Betawi. Bahasa Melayu adalah induk dari bahasa Betawi dan memiliki tiga subdialek, yaitu tengah, pinggir, ora. Lebih jelas lihat Abdul Chaer, Perkembangan Bahasa Melayu di Jakarta (2007).

80

Muhadjir, Bahasa Betawi: sejarah dan perkembangannya, (Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 2000), hlm. 61

81

(38)

a. Betawi Tengah, meliputi wilayah yang dahulu menjadi Gemente Batavia, tidak termasuk Tanjung Priuk. Wilayah budaya Betawi Tengah meliputi seluruh Jakarta Pusat, sebagian Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Kebudayaannya sebagian dipengaruhi ajaran Islam.

b. Betawi Pinggir, meliputi sebagian wilayah Jakarta Timur, sebagian Selatan Bogor dan Bekasi. Kebudayaannya banyak dipengaruhi kebudayaan Jawa dan Sunda.

c. Betawi Ora, meliputi pinggiran Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Tangerang. Kebudayaannya banyak dipengaruhi kebudayaan Cina.

Jika kita kembali pada abad ke-10M, proses asimilasi mukimin awal berbahasa Sunda kuno dengan pendatang dari Kalimantan Barat berbahasa

Melayu Polinesia membentuk sebuah komunitas baru yang menjadi kelompok etnik baru. Kelompok ini sampai dengan abad ke-19 disebut sebagai Melayu Jawa.82

Menurut Raden Arya Sastradarma yang menyusun karangan yang berjudul Kawantonan Ing Nagari Batawi, berdasarkan penglihatannya pada tahun 1865, kelompok etnik ini sudah menyebut dirinya sebagai “orang Betawi”, bercampur dengan sebutan sebagai “orang Selam”.83 Penyebutan diri sebagai orang Selam tampaknya tidak banyak dipakai lagi oleh orang Betawi sendiri di awal abad ke-20. Orang-orang Cina masih meneruskan sebutan orang Selam. Sedangkan orang-orang Arab lebih suka menyebut orang-orang Betawi sebagai orang-orang Melayu. Ada sebutan yang tidak terlalu populer untuk kelompok etnik ini sebelum mereka dinamakan Melayu Jawa yaitu orang Semanan. Sebutan ini berasal dari plesetan bahasa Iban Senganan yang berarti orang yang baru masuk Islam.84

Di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia III diuraikan tentang kitab Sanghyang

Siksakhanda yang merupakan pedoman etnik bagi orang Pajajaran dan taklukannya.

Tatkala pesisir utara Jawa mulai dari Cirebon, Kerawang, dan Bekasi terkena pengaruh

Islam yang disebarkan oleh orang-orang Pasai, maka tidak sedikit orang-orang Melayu

82

Analisa Ridwan Saidi terhadap Lukisan Ernest Alfred Hardouin, 1853

83

Drs. S. Z. Haditsucipto, Sekitar 200 tahun Sejarah Jakarta (1750-1945), (Jakarta:Dinas Museum & Sejarah DKI Jakarta, 1979), hlm. 53

84

(39)

Jawa yang memeluk Islam. Penguasa Pajajaran menyebut mereka sebagai kaum langgara,

berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya orang yang telah berubah atau beralih.85

Orang-orang Melayu Jawa ini meninggalkan pedoman etnik Hindu Sanghyang

Sikskhanda. Tempat berkumpul mereka disebut langgar. Karena itu orang Betawi masih

menggunakan istilah itu sebagai padanan mushalla. Kaum langgara inilah yang

dinamakan Semanan. Penyebutan orang Betawi baru muncul di abad ke-19. adapun

plesetan kota Batavia menjadi Betawi telah terjadi lama sebelum itu. Hal ini karena

masalah transliterasi Arab, penulisan Batavia menjadi ba-ta-wau-ya, Betawi.86

Abdul Azis87 berpendapat bahwa etnis Betawi terbentuk relatif baru yaitu pada

sekitar permulaan abad ke-19 yang merupakan percampuran antar berbagai unsur suku

bangsa, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar wilayah Nusantara. Secara luas

telah diketahui bahwa penggunaan istilah Betawi merujuk kepada Batavia, sebuah nama

yang digunakan penjajah Belanda untuk kota Jakarta masa lalu. Sehingga sebelum istilah

Betawi lazim digunakan, mereka menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan Orang

Selam.88

Raden Arya Sastradarma, seorang pelancong dari Surakarta yang menuliskan

pengalamannya selama di Batavia pada tahun 1870 dalam buku berjudul Kawontenan Ing

Nagari Betawi, menemukan bahwa umumnya penduduk Batavia saat itu menggunakan

bahasa Melayu dalam percakapan sehari-hari dan mereka menyebut diri dengan Orang

85

Ibid,. hlm. 15

86

Ibid,. hlm. 16

87

Abdul Azis, Islam dan Masyarakat Betawi, op. cit, hlm. 2

88

(40)

Selam yang agaknya merupakan pengucapan setempat untuk Islam, sebagaimana Srani

untuk kata “Nasrani”.89

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ridwan Saidi membantah bahwa orang

Betawi asli itu tidak ada karena mereka berasal dari berbagai suku Cina, Arab, dan

Melayu. Ridwan Saidi berpendapat bahwa nenek moyang orang Betawi sudah ada sejak

daerah itu dikenal dengan nama Sunda Kelapa yang pada tahun 1522 dikontrakkan

kepada Portugis oleh kerajaan Pakuan dan pada 1527 Fatahillah merebut dan

memerdekakannya dari cengkraman kulit putih. Pertanyaan yang kemudian muncul

adalah apakah kota Sunda Kelapa yang sudah memiliki pelabuhan samudera tidak

berpenduduk? Kalau Betawi Lama (Sunda Kelapa) tidak berpenduduk, siapa yang

membongkar muatan di Sunda Kelapa? Tentunya ada kuli gotong dan kuli panggul yang

pastinya telah berumah tangga dan memiliki sanak saudara.90

Ridwan menilai sangat tidak bertanggung jawab pernyataan yang mengatakan

bahwa orang Betawi itu tidak ada karena mereka dikatakan berasal dari Cina dan Arab.

Jauh sebelum kedatangan orang Arab dan Cina serta suku bangsa lain, Bandar Sunda

Kelapa/Jayakarta/Oud Batavia sudah ada penduduknya.91

Prof. Slamet Mulyana dalam bukunya Dari Holotan ke Djayakarta

mengungkapkan bahwa dalam satu ekskavasi di kawasan Condet, Jakarta Timur,

ditemukan kapak genggam dari zaman Neolitichum. Ini memberi petunjuk bahwa

kawasan Condet merupakan daerah hunian purba di Jakarta. Buku Sejarah Nasional

Indonesia III, editor umum: Marwati Djuned Pusponagoro dan Nugroho Notosusanto,

mengungkapkan bahwa ketika orang Belanda datang pertama kali tahun 1956 di Kalapa,

89

Ibid., hlm. 29 dan 74

90

Ridwan Saidi, Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, (Jakarta:LSIP, 1994), hlm. 41

91

(41)

mereka menceitakan bahwa banyak sekali dijumpai para pencari ikan. Dan selanjutnya

dalam Hikayat Banjar disebutkan bahwa penduduk yang berada di dalam dan di luar

kraton Jayakarta berjumlah 3.000 keluarga. Bila setiap keluarga rata-rata terdiri dari 5

jiwa, maka jumlah penduduk di Kalapa diperkirakan 15.000 orang yang berdiam di

kraton dan kawasan sekitarnya.92

Berdasarkan persebaran kapak persegi dari kebudayaan Neolitik, baik menurut

Solheim maupun R. Von Heine Geldern, dapatlah diperkirakan bahwa tanda-tanda

adanya awal pendudukan daerah-daerah di Indonesia termasuk daerah Jakarta

diperkirakan mulai 3000-1000SM. Usia ini tidak begitu bertentangan dengan dugaan usia

terjadinya dataran rendah menurut Dr. Verstappen yaitu 5000 tahun yang lalu. Hal itu

dapat dihubungkan pula dengan bukti bahwa tempat-tempat penemuan sebagian besar

alat-alat kapak persegi, beliung, batu-batuan itu kebanyakan berada di daerah Jakarta

yang letaknya di atas tanah-tanah93 yang lebih tinggi daripada dataran hasil

pengendapan.94

Bondan Kanumoyoso dalam pengantar buku Profil Etnik Jakarta mengatakan

bahwa Lance Cantles dalam suatu artikelnya menyebutkan salah satu unsur yang

membentuk etnis Betawi adalah para budak karena ia mendasarkan analisanya pada data

jumlah budak yang menetap di kota Batavia.95 Memang benar bahwa sampai dengan

abad ke-18 jumlah budak di dalam kota Batavia lebih banyak daripada jumlah penduduk

bebas. Namun jika kita mengalihkan perhatian ke wilayah di luat tembok kota yang

92

Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, op. cit, hlm. 4

93

Pada tahun 1699 jumlah penduduk Batavia 21.911orang, dan penduduk Ommelanden 49.688 orang. Sedangkan tahun 1759 penduduk Batavia 16.194 orang dan Ommelanden 111.172 orang. Lihat Remco Raben, Batavia and Colombo, The Etnic and Spatial Order of Two Colonial Cities, 1600-1800, PH. D., dissertation: Leiden University, 1996, hlm. 309-319

94

Uka Tjandrasasmita, Sejarah Jakarta: Dari Zaman Prasejarah Sampai Batavia tahun 1750

(Jakarta:Dinas Museum dan Pemugaran Prov. DKI Jakarta, 2001), hlm. 12

95

(42)

disebut dengan Ommelanden akan didapat gambaran yang berbeda. Jumlah penduduk

Ommelanden lebih besar daripada penduduk di dalam kota.96

Dalam prasasti Tugu disebutkan tentang penggalian Sungai Chandrabagha (sungai

Bekasi) oleh Raja Purnawarman. Sri Maharaja Purnawarman pada tahun ke-22

pemerintahannya memerintahkan pula menggali sungai Gomati sampai ke laut sepanjang

6.122 tombak atau sama dengan 12 km., dikerjakan dalam waktu 21 hari. Setelah

pekerjaan itu selesai diadakan upacara besar-besaran dan raja menghadiahkan 100 ekor

lembu kepada rakyat dan para Brahmana yang telah berjasa membuat saluran itu. Juga

ditanamkan patung Ganesha, dewa keselamatan, untuk menjaga bahaya.97

Dengan demikian sudah ada komunitas yang disantuni oleh kerajaan

Tarumanegara pada saat itu. Dapatlah dibayangkan berapa banyak jumlah tenaga kerja

yang dilibatkan dalam pembuatan sungai itu serta betapa ramai pesta yang diadakan

setelah itu.98

Wilayah kerajaan Tarumanegara yang berbatas timur sungai Citarum, berbatas

barat sungai Cisadane, berbatas selatan gunung Salak dan Gede, dan berbatas utara laut

Jawa, mempunyai rakyat dalam jumlah besar. Hanya saja berapa besar populasi

Tarumanegara tidak diketahui secara pasti. Namun dari prasasti Tugu dapat disimpulkan

bahwa kerajaan ini berpenduduk. Mereka yang berdiam di Kalapa merupakan bagian dari

populasi Tarumanegara.99 Kalapa adalah nama yang paling purba dari kawasan yang

kemudian disebut Jakarta.100

96

Ibid.,

97

Minggu Merdeka, minggu ke-5, November 1992

(43)

Kerajaan Tarumanegara mulai memudar pada abad ke-7M. Sementara itu

kekuasaan Sunda Pajajaran belum bangkit. Prof. Slamet Mulyana berpendapat di antara

tenggang waktu tersebut terjadi vacuum kekuasaan politik di Kalapa. Dalam masa

vacuum itulah muncul kerajaan Budha Sriwijaya sebagai periode interrugnum di Kalapa.

Bahkan berdasarkan prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 yang ditemukan di

Pulau Bangka, J. Moens dan Purbatjaraka berpendapat bahwa kerajaan Tarumanagara

runtuh akibat serangan Sriwijaya.101

Pada abad ke-12M kerajaan Sunda Pajajaran mendirikan sejumlah pelabuhan

antara lain di Cimanuk, Tangerang, dan di Kalapa. Pelabuhan ini didirikan bukan untuk

membangun prasarana fisik melainkan mendirikan kantor untuk mengutip cukai di

pelabuhan. Pelabuhan itu sendiri secara tradisional telah berfungsi. Pada

perkembangannya pelabuhan yang oleh Pajajaran dinamakan Sunda Kalapa102 merupakan

pelabuhan yang paling ramai dibanding dengan pelabuhan-pelabuhan lain yang dikontrol

oleh kerajaan Sunda Pajajaran.103

Keistimewaan Sunda Kalapa adalah pasokan airnya, di samping anggurnya yang

dibuat oleh orang-orang Cina sangat digemari oleh para pelayar. Orang-orang Kalapa

telah mengerti cara penyaringan air minum yang berasal dari sumber Kali Ciliwung.

Sampai dengan abd ke-18M orang-orang Belanda minum air kali Ciliwung yang telah

disaring. Hingga sekarang di daerah Jakarta-Kota ada tempat yang dinamakan

Penjaringan, yang seharusnya Penyaringan. Di samping itu adanya dua pasar kuno yakni

101

Minggu Merdeka, Minggu ke-5, November 1992

102

Ini suatu ungkapan berdasarkan gramatika purba dimana subjek yang diterangkan berada di belakang yang menerangkan, berdasatr gramatika modern mestinya Kalapa Sunda, Kalapa yang menjadi milik Sunda. Lihat Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, op. cit, hlm. 7

103

Figur

Tabel 2: Pembagian luas tanah kelurahan Kebagusan...................................37

Tabel 2:

Pembagian luas tanah kelurahan Kebagusan...................................37 p.12
No. Tabel 2 Keterangan
No. Tabel 2 Keterangan p.47
No. Tabel 4 Jenis Pekerjaan Kuantitas
No. Tabel 4 Jenis Pekerjaan Kuantitas p.52
No. Tabel 5 Sarana Ibadah
No. Tabel 5 Sarana Ibadah p.61

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di