PENGARUH PERGAULAN KAWAN SEBAYA TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 NATAR LAMPUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

55  252  Download (3)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGARUH PERGAULAN KAWAN SEBAYA TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS XI SMA

NEGERI 1 NATAR LAMPUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh

AMBAR KUSUMAWATI

Masalahdalampenelitianiniadalahkenakalanremaja.Permasalahandalampenelitianiniadalah”apaka hadapengaruhpergaulankawansebayaterhadapkenakalanremajapadasiswakelas XI SMA Negeri 1

Natartahunpelajaran 2011-2012?”Metodepenelitian yang

digunakandalampenelitianiniadalahkuantitatif.Subjekdalampenelitianiniadalah 30 orang yang melakukankenakalanremaja

Hasil penelitian menunjukkan adapengaruhpergaulankawansebayaterhadapkenakalanremaja siswa kelas XI SMA Negeri 1 Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2011/2012. Hal ini ditunjukkan

dariperhitungankorelasiantarapergaulankawansebayadankenakalanremajadenganindeksChi Kuadrat (X2) sebesar 37,303 dengannilai t tabeldengandf=22 pada α = 0,05 adalah 33,924. Jadithitung≥ttabelyaitu 37,303 >33,924 maka Ha diterimadan Ho ditolak.

Kesimpulanpenelitianiniyaituadapengaruhpergaulankawansebayaterhadapkenakalanremajapadasi swa-siswikelas XI SMA Negeri 1 Natartahunpelajaran 2011-2012.Artinyakenakalanremaja yang dilakukansiswadipengaruhiolehpergaulannyadengankawansebaya.

(2)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

1. Latar Belakang Masalah

Masa remaja merupakan suatu masa, dimana individu berjuang untuk tumbuh menjadi “sesuatu”,

menggali serta memahami arti dan makna dari segala sesuatu yang ada (Hamalik, 1995:2). Selain

menurut Hamalik secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi

dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang

yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam

masalah hak. Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran

tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional.

Dari pendapat di atas tentang pengertian remaja dapat dilihat bahwa masa remaja merupakan

masa-masa labil seseorang dalam menentukan sesuatu hal, baik sesuatu yang berhubungan bagi

dirinya sendiri ataupun bagi orang lain. Remaja percaya bahwa pada masa ini, mereka dapat

belajar lebih banyak dari kawan sebaya daripada orang tua mereka.

Pandangan remaja yang mengganggap pentingnya kehadiran kawan sebaya memiliki

konsekuensi-konsekuensi tertentu. Pertama, mereka menjadikan kawan sebaya sebagai sumber

informasi. Hal ini menyebabkan remaja benar-benar percaya bahwa kawan sebaya memiliki

(3)

masa ini banyak remaja yang terjebak dalam suatu hal yang negatif, seperti kenakalan remaja.

Kenakalan remaja merupakan berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima

secara sosial (seperti berbuat onar di sekolah) status pelanggaran (melarikan diri dari rumah),

hingga tindakan kriminal (seperti pencurian). Kenakalan remaja tersebut sering menimbulkan

keresahan di lingkungan masyarakat, sekolah, maupun keluarga.

Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan dalam perilaku menyimpang.

Dalam prespektifnya perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan

perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku.

Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan

tegaknya sistem sosial. Kenakalan remaja ini membawa banyak dampak negatif baik bagi dirinya

ataupun bagi orang lain.

Menurut Santrock, (1996) faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja adalah identitas, kontrol

diri, usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah, proses keluarga,

pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi, kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal.

Pembentukan sikap, tingkah laku, dan perilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh

lingkungan ataupun kawan-kawan sebaya, maka dari itu jika individu tidak dapat memilih kawan

sebaya yang benar-benar baik mereka akan dapat terpengaruh dalam hal-hal yang negatif.

Ewerts dalam Monks (2004: 282) menyebutkan bahwa pemberian norma tingkah laku ini

dilakukan oleh kawan sebaya (peers). Kemudian mereka akan lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok dari pada mengembangkan pola norma diri sendiri yang kemudian

akan berpengaruh terhadap tingkah laku kehidupan. Dalam pernyataan ini setiap orang yang

(4)

mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan sendiri. Oleh karena

itu jika individu menemukan kawan yang memiliki perilaku menyimpang yaitu kenakalan

remaja, maka dengan sendirinya individu tersebut akan ikut terseret dalam hal-hal yang

menyimpang.

Remaja menginginkan kawan yang mempunyai minat dan nilai-nilai yang sama, dapat mengerti,

dapat membuatnya merasa aman, dan dapat mempercayakan masalah-masalah serta membahas

hal-hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua ataupun guru. Sebagian besar remaja

mengatakan bahwa mereka ingin seseorang yang dapat dipercaya, seseorang yang dapat diajak

bicara, seseorang yang dapat diandalkan.

Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan di SMA Negeri 1 Natar banyak siswa yang

melakukan kenakalan remaja bersama dengan kawan sebaya, seperti membolos saat jam

pelajaran hanya untuk merokok di belakang kelas, ke kantin saat jam pelajaran walaupun sekedar

mengobrol dengan kawan sebaya ataupun makan di kantin, merencanakan hal jahat dengan

kawan sebaya hanya untuk menjahili guru, serta perkelahian antar kelompok di sekolah.

Informasi ini peneliti dapatkan dari guru bimbingan konseling di SMA Negeri 1 Natar, dan

dengan melakukan observasi pada saat jam pelajaran, dari observasi yang peneliti lakukan

memang masih banyak siswa-siswi yang membolos pada saat jam pelajaran. Siswa-siswi yang

membolos pelajaran biasanya makan ataupun duduk-duduk di kantin.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas dan dari latar belakang yang telah dijelaskan

maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “ Pengaruh Pergaulan

Kawan Sebaya Terhadap Kenakalan Remaja Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Natar

(5)

2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, ada beberapa masalah yang dapat di identifikasikan

sebagai berikut :

1. Sering terjadi perkelahian antar kelompok siswa

2. Banyak siswa yang meninggalkan kelas saat pelajaran sedang berlangsung bersama

kawan-kawan sebayanya

3. Terdapat siswa yang merokok bersama di dalam lingkungan sekolah

4. Ada siswa merencanakan hal jahat dengan kawan sebaya hanya untuk menjahili guru

5. Terdapat siswa dengan kawan sebayanya melanggar tata tertib sekolah

6. Terdapat siswa yang tidak mematuhi perintah guru

3. Pembatasan Penelitian

Sebagaimana telah dikemukakan dalam latar belakang masalah serta dari pengamatan awal yang

ditemukan pada fenomena-fenomena yang dipilih sebagai objek perhatian untuk dikaji secara

ilmiah. Penelitian ini hanya dibatasi pada “pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan

remajapada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2011-2012”.

4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang identifikasi masalah dan pembatasan masalah maka masalah dalam

penelitian ini adalah banyaknya siswa yang melakukan kenakalan remaja, adapun permasalahan

yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah ,

“apakah ada pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan remaja pada siswa kelas XI

(6)

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Peneliatian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase pengaruh pergaulan kawan sebaya

terhadap kenakalan remajapada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2011-2012.

2. Manfaat Penelitian

Setelah mengetahui “pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan remajapada siswa

kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2011-2012”. maka penelitian ini diharapkan

mempunyai manfaat sebagai berikut :

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia

pendidikan khususnya pada bidang bimbingan dan konseling.

b. Manfaat Praktis

a. Sebagai pengetahuan terhadap pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan

remaja, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada lembaga pendidikan

khususnya dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling.

b. Memberi masukan bagi orang tua sebagai pertimbangan agar memberi perhatian lebih

terhadap diri anak khususnya dalam pemilihan teman untuk anak.

c. Memberikan gambaran bagi remaja tentang pentingnya pemilihan teman dalam

kehidupan bermasyarakat.

d. Memberikan masukan bagi guru bahwa pentingnya pengawasan bagi remaja di

(7)

e. Sebagai bahan masukan pada guru pembimbing untuk memahami faktor-faktor yang

mempengaruhi kenakalan remaja sehingga dapat mengantisipasi siswa terlibat dalam

kenakalan remaja.

C. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Ruang Lingkup Objek

Ruang lingkup objek penelitian ini adalah pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan remaja.

b. Ruang Lingkup Subjek

Ruang lingkup subjek penelitian adalah siswa yang melakukan kenakalan remaja di SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2011-2012.

D. Kerangka Pikir

Masa remaja merupakan suatu masa, dimana individu berjuang untuk tumbuh menjadi “sesuatu”,

menggali serta memahami arti dan makna dari segala sesuatu yang ada (Hamalik, 1995:2). Masa

remaja merupakan masa-masa labil seseorang dalam menentukan sesuatu hal, baik sesuatu yang

berhubungan bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain.

Pada masa ini banyak remaja yang terjebak dalam suatu hal yang negatif, seperti kenakalan

remaja. Kenakalan remaja sebagai merupakan berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak

(8)

dari rumah), hingga tindakan kriminal (seperti pencurian). Kenakalan remaja tersebut sering

menimbulkan keresahan dilingkungan masyarakat, sekolah, maupun keluarga.

Menurut Santrock, (1996) faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja adalah identitas, kontrol diri, usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah, proses keluarga, pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi, kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal.

Pembentukan sikap, tingkah laku, dan prilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh

lingkungan ataupun kawan-kawan sebaya, maka dari itu jika individu tidak dapat memilih kawan

sebaya yang benar-benar baik mereka akan dapat terpengaruh dalam hal-hal yang negatif.

Ewerts dalam Monks (2004: 282) menyebutkan bahwa pemberian norma tingkah laku ini dilakukan oleh kawan sebaya (peers). Kemudian mereka akan lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok dari pada mengembangkan pola norma diri sendiri yang kemudian akan berpengaruh terhadap tingkah laku kehidupan. Dalam pernyataan ini setiap orang yang sudah menemukan kawan-kawan yang cocok bahkan membuat kelompok sebaya, individu lebih mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan sendiri.

Relasi diantara kawan-kawan sebaya di masa kanak-kanak dan masa remaja juga berdampak

pada perkembangan di masa selanjutnya. Dalam sebuah studi ditemukan bahwa relasi di antara

kawan sebaya yang buruk dimasa kanak-kanak berkaitan dengan putus sekolah dan kenakalan di

masa remaja (Roff, Sells, & Golden 1972 dalam Santrock, 2007: 57).

Remaja menginginkan kawan yang mempunyai minat dan nilai-nilai yang sama, dapat mengerti,

dapat membuatnya merasa aman, dan dapat mempercayakan masalah-masalah serta membahas

hal-hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua ataupun guru. Sebagian besar remaja

mengatakan bahwa mereka ingin seseorang yang dapat dipercaya, seseorang yang dapat diajak

(9)

Berdasarkan uraian di atas kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.1 : Paradigma Penelitian

E. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap persoalan yang diajukan dalam penelitian. Hipotesis tidak hanya disusun berdasarkan pengamatan awal terhadap objek penelitian, melainkan juga didasarkan pada hasil kajian terhadap literatur yang relevan dengan bidang penelitian.

Hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang harus di uji lagi keberhasilannya melalui penelitian ilmiah atau berdasarkan data yang di peroleh melalui sampel penelitian. (Ridwan, 2005:37). Hipotesis dibangun dari kerangka pemikiran dan rumusan permasalahan penelitian.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ha : “Ada pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan remajapada siswa-siswi

kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2011-2012.

Ho : “Tidak Ada pengaruh pergaulan kawan sebaya terhadap kenakalan remajapada

siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2011-2012.

(10)
(11)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kenakalan Remaja

1. Pengertian Kenakalan Remaja

Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.(Kartono, 2003).

Santrock (2007) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai merujuk pada berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti berbuat onar disekolah) status pelanggaran (melarikan diri dari rumah), hingga tindakan kriminal (seperti pencurian).

Selain pendapat di atas Mussen dkk (1994), mendefinisikan kenakalan remaja sebagai perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang yang yang tidak dapat diterima secara sosial, seperti membuat onar di sekolah bahkan sampai melakukan tindakan kriminal yang dapat melanggar hukum.

2. Bentuk dan Aspek-Aspek Kenakalan Remaja

Jensen (dalam Sarwono, 2002) membagi kenakalan remaja menjadi empat bentuk yaitu:

a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain- lain.

(12)

c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat, hubungan seks bebas.

d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, minggat dari rumah, membantah perintah.

Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1973) berpendapat bahwa kenakalan yang dilakukan remaja terbagi dalam empat bentuk, yaitu:

a. Perilaku yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

b. Perilaku yang membahayakan hak milik orang lain, seperti merampas, mencuri, dan mencopet. c. Perilaku yang tidak terkendali, yaitu perilaku yang tidak mematuhi orangtua dan guru seperti

membolos, mengendarai kendaran dengan tanpa surat izin, dan kabur dari rumah.

d. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, seperti mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, memperkosa dan menggunakan senjata tajam.

Dari beberapa bentuk kenakalan pada remaja dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kenakalan remaja menimbulkan dampak negatif yang tidak baik bagi dirinya sendiri dan orang lain, serta lingkungan sekitarnya. Aspek-aspek kenakalan remaja menurut pendapat Hurlock (1973) & Jensen (dalam Sarwono, 2002) terdiri dari aspek perilaku yang melanggar aturan dan status, perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, perilaku yang mengakibatkan korban materi, dan perilaku yang mengakibatkan korban fisik.

(13)

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecenderungan Kenakalan Remaja

Berikut ini adalah faktor-faktor yang sering kali dijumpai pada anak muda yang memiliki resiko dan agaknya akan terdorong untuk melakukan tindakan kekerasan Walker (dalam Santrock 2007):

a. Pernah menggunakan obat terlarang dan alkohol diusia dini b. Memiliki akses untuk memperoleh senjata, khususnya senjata api c. Sering melihat tayangan kekerasan dimedia

Banyak anak muda beresiko mudah diprovokasi untuk marah, bereaksi secara negatif terhadap celaan, entah celaan tersebut nyata atau tidak, dan kadang kala memiliki dampak yang tragis.

Faktor-faktor kenakalan remaja menurut Santrock, (1996) lebih rinci dijelaskan sebagai berikut : 1. Identitas

Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erikson (dalam Santrock, 1996) masa remaja berada pada tahap dimana krisis identitas versus difusi identitas. Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian remaja: (1) terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan (2) tercapainya identitas peran, kurang lebih dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan dan gaya yang dimiliki remaja dengan peran yang dituntut dari remaja.

(14)

diterima atau yang membuat mereka merasa tidak mampu memenuhi tuntutan yang dibebankan pada mereka, mungkin akan memiliki perkembangan identitas yang negatif. Beberapa dari remaja ini mungkin akan mengambil bagian dalam tindak kenakalan, oleh karena itu bagi Erikson, kenakalan adalah suatu upaya untuk membentuk suatu identitas, walaupun identitas tersebut negatif.

2. Kontrol diri

Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali hal ini. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, atau mungkin mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka.

(15)

dengan memiliki ketrampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja.

3. Usia

Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan, seperti hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono, 2003) yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya. Paling sedikit 60 % dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun.

4. Jenis kelamin

Remaja laki- laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian Kartono (2003) pada umumnya jumlah remaja laki- laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok diperkirakan 50 kali lipat daripada kelompok remaja perempuan.

5. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah

Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah.

(16)

dengan orangtua secara umum tidak mendukung banyak, sedangkan sikap sekolah ternyata dapat menjembatani hubungan antara kenakalan teman sebaya dan prestasi akademik.

6. Proses keluarga

Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja.

Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock, 1996) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.

7. Pengaruh teman sebaya

(17)

8. Kelas sosial ekonomi

Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50 : 1 (Kartono, 2003). Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan ketrampilan yang diterima oleh masyarakat. Mereka mungkin saja merasa bahwa mereka akan mendapatkan perhatian dan status dengan cara melakukan tindakan antisosial. Menjadi “tangguh” dan “maskulin” adalah contoh status yang tinggi bagi remaja dari kelas sosial yang lebih rendah, dan status seperti ini sering ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melakukan kenakalan dan berhasil meloloskan diri setelah melakukan kenakalan.

9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal

Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Masyarakat seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan, pengangguran, dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah.

Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan, dan aktivitas lingkungan yang terorganisir adalah faktor- faktor lain dalam masyarakat yang juga berhubungan dengan kenakalan remaja.

(18)

harmonis dan faktor lingkungan terutama kawan sebaya yang kurang baik, karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju kawan sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yang ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan dengan norma, nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat.

4. Karakteristik Remaja Nakal

Menurut Kartono (2003), remaja nakal itu mempunyai karakteristik umum yang sangat berbeda dengan remaja tidak nakal. Perbedaan itu mencakup :

1. Perbedaan struktur intelektual

Pada umumnya inteligensi mereka tidak berbeda dengan inteligensi remaja yang normal, namun jelas terdapat fungsi- fungsi kognitif khusus yang berbeda biasanya remaja nakal ini mendapatkan nilai lebih tinggi untuk tugas-tugas prestasi daripada nilai untuk ketrampilan verbal (tes Wechsler). Mereka kurang toleran terhadap hal-hal yang ambigius biasanya mereka kurang mampu memperhitungkan tingkah laku orang lain bahkan tidak menghargai pribadi lain dan menganggap orang lain sebagai cerminan dari diri sendiri.

2. Perbedaan fisik dan psikis

Remaja yang nakal ini lebih “idiot secara moral” dan memiliki perbedaan ciri karakteristik yang jasmaniah sejak lahir jika dibandingkan dengan remaja normal. Bentuk tubuh mereka lebih kekar, berotot, kuat, dan pada umumnya bersikap lebih agresif. Hasil penelitian juga menunjukkan ditemukannya fungsi fisiologis dan neurologis yang khas pada remaja nakal ini, yaitu: mereka kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan menunjukkan ketidakmatangan jasmaniah atau anomali perkembangan tertentu.

3. Ciri karakteristik individual

Remaja yang nakal ini mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang, seperti : a. Rata-rata remaja nakal ini hanya berorientasi pada masa sekarang, bersenang-senang dan

puas pada hari ini tanpa memikirkan masa depan. b. Kebanyakan dari mereka terganggu secara emosional.

c. Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal, sehingga tidak mampu mengenal norma-norma kesusilaan, dan tidak bertanggung jawab secara sosial.

d. Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berpikir yang merangsang rasa kejantanan, walaupun mereka menyadari besarnya risiko dan bahaya yang terkandung di dalamnya.

e. Pada umumnya mereka sangat impulsif dan suka tantangan dan bahaya. f. Hati nurani tidak atau kurang lancar fungsinya.

(19)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja nakal biasanya berbeda dengan remaja yang tidak nakal. Remaja nakal biasanya lebih ambivalen terhadap otoritas, percaya diri, pemberontak, mempunyai kontrol diri yang kurang, tidak mempunyai orientasi pada masa depan dan kurangnya kemasakan sosial, sehingga sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

5. Jenis Kenakalan Remaja

Jensen (dalam Sarwono, 1985,hal 417) membagi kenakalan remaja ini menjadi 4 jenis yaitu : a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan,

pembunuhan.

b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan. c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan

obat. Di Indonesia mungkin dapat juga dimasukkan hubungan seks sebelum menikah dalam jenis ini.

d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka.

B. Pergaulan Kawan Sebaya

1. Pengertian Kawan Sebaya

(20)

Berbeda pendapat dari Haditomo (2004:260) Hartup (dalam Santrock, 1983: 223) memiliki pendapat sendiri yang mengatakan bahwa “kawan sebaya adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau kedewasaan yang sama”.

Dari beberapa pengertian tentang kawan sebaya, dapat diambil kesimpulan Bahwa kawan sebayaadalah sekelompok orang yang merasa memiliki beberapa kesamaan, baik dari segi usia, pola berfikir, minat, atau hal yang lain. Interaksi diantara kawan-kawan sebaya yang berusia sama memiliki peran yang unik, pertemanan berdasarkan tingkat usia dengan sendirinya akan terjadi meskipun sekolah tidak menerapkan sistem usia dalam memilih kawan.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergaulan Remaja

Menurut Retina dalam buku Bimbingan dan Konseling (2002:64), faktor-faktor yang mempengaruhi pergaulan remaja adalah sebagai berikut:

a. Kondisi fisik

Penampilan fisik merupakanaspek penting bagi remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Remaja perlu menanamkan keyakinan bahwa keindahan lahiriah bukanlah makna kecantikan

yang sesengguhnya. Kecantikan sejati justru bersumber dari hati nurani, ahlak, serta kepribadian

yang baik.

b. Kebebasan emosional

Pada umumnya, remaja ingin memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan

apa saja yang mereka sukai. Dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, seorang

remaja senantiasa berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan

orang dewasa.

(21)

Kemampuan untukk melakukan interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep

diri yang positif, sehingga seseorang mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten dan

disenangi oleh lingkungan.

d. Pengetahuan terhadap kemampuan diri

Setiap kelebihan atau potensi yang ada dalam diri manusia sesunguhnya bersifat laten. Artinya,

harus digali dan terus dirangsang agar keluar secara optimal.

e. Penguasaan diri terhadap nilai-nilai moral dan agama

Orang yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai agama cenderung mempunyai jiwa yang

lebih sehat. Kondisi tersebut ditampilkan dengan sikap yang positif, optimis, spontan, bahagia,

serta penuh gairah dan vitalitas.

3. Perubahan Perkembangan di Masa Berkawan

Di masa remaja, relasi dengan kawan sebaya memiliki proporsi yang besar dari kehidupan individu. Berdasarkan sebuah penyelidikan, diketahui bahwa selama satu minggu, remaja baik laki-laki ataupun perempuan meluangkan waktunya dua kali lebih banyak untuk berkumpul bersama kawan-kawan sebaya dibandingkan bersama orang tuanya.

Relasi yang baik di antara kawan-kawan sebaya dibutuhkan bagi perkembangan sosial yang normal di masa remaja. Isolasi sosial, atau ketidakmampuan untuk “terjun” dalam sebuah jaringan sosial, berkaitan dengan berbagai bentuk masalah gangguan mulai dari masalah kenakalan dan masalah minuman keras hingga depresi. Relasi di antara kawan-kawan sebaya di masa kanak-kanak dan masa remaja juga berdampak bagi perkembangan di masa selanjutnya. dalam sebuah studi, ditemukan bahwa relasi diantara kawan sebaya yang buruk dimasa kanak-kanak ;berkaitan dengan putus sekolah dan kenakalan di masa remaja. Relasi yang harmonis dengan kawan-kawan sebaya di masa remaja berkaitan dengan kesehatan mental yang positif diusia paruh baya Hightower (dalam Santrock, 2007:57).

(22)

sebaya dibandingkan dengan keluarga. Dengan berkumpulnya remaja dengan teman sebaya akan lebih dapat membangun interaksi sosial yang lebih baik dengan orang lain, dan remaja cenderung memilih kawan sebaya yang meiliki jenis kelamin yang sama. Relasi di antara kawan sebaya sangat mempengaruhi perkembangan remaja, jika sudah salah memilih kawan sebaya dari kanak-kanak hingga pada saat remaja akan berdampak pada hidupnya seperti putus sekolah, kenakalan remaja hingga mempengaruhi kesehatannya.

4. Relasi yang Positif dan Negatif dengan Kawan Sebaya

Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan (dalam Santrock, 2007) adalah ahli teori yang berpengaruh, yang menekankan bahwa interaksi melalui dengan interaksi dengan kawana-kawan sebaya, anak-anak dan remaja mempelajari modus relasi yang timbal balik secara simetris. Anak-anak-anak mengeksplorasi prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan melalui pengalaman mereka ketika menghadapi perbedaan pendapat dengan kawan-kawan sebaya. Mereka juga belajar mengamati dengan tajam minat dari sudut pandang kawan-kawannya agar mereka dapat mengintegrasikan minat dan sudut pandangnya sendiri dalam aktivitas yang berlangsung bersama kawan-kawan.

(23)

kesehatan mental dan masalah kejahatan di masa selanjutnya. Di samping itu, kawan-kawan sebaya dapat memperkenalkan remaja kepada alkohol, minuman keras, kenakalan, serta bentuk-bentuk lain dari perilaku yang dianggap maladaptive oleh orang dewasa.

5. Status Kawan Sebaya

Menurut Wentzel & Asher (dalam Santrock, 2007:62) lima status kawan sebaya yaitu :

a. Anak-anak popular (popular children) sering kali dipilih sebagai kawan terbaik dan jarang tidak disukai oleh kawan-kawannya.

b. Anak rata-rata (average children) memperoleh rata-rata untuk dipilih secara positif maupun negatif oleh kawan-kawannya.

c. Anak-anak yang diabaikan (neglected children) jarang dipilih sebagai kawan terbaik namun tidak ditolak oleh kawan-kawannya.

d. Anak-anak yang ditolak (rejected children) jarang dipilih sebagai kawan terbaik seseorang dan secara aktif tidak disukai oleh kawan-kawannya.

e. Anak-anak controversial (controversial children) mungkin dipilih sebagai kawan terbaik seseorang dan mungkin pula tidak disukai oleh kawan-kawannya.

Anak-anak yang popular memiliki sejumlah keterampilan sosial yang membuat mereka disukai kawan-kawannya. Sebuah studi longitudinal menemukan bahwa para remaja yang popular memiliki tingkat perkembangan ego yang lebih baik, kelekatan yang aman, serta interaksi yang positif dengan ibu dan sahabat, dibandingkan dengan remaja yang kurang popular (Allen, dkk, 2005). Meskipun demikian, remaja yang meningkatkan perilaku yang dapat diterima oleh kelompok kawan sebaya, seprti mengurangi tingkat kenakalan dan penggunaan alcohol, serta mengurangi perilaku yang tidak diterima, seperti sikap bermusuhan, dapat meningkatkan popularitasnya diantara kawan sebaya.

(24)

2004; Ladd, 2006; Parker & Asher, 1987; Sandstrom & Zakriski, 2004 dalam Santrock, 2007: 62).

Dari pandangan di atas dapat dikatakan bahwa masuknya individu dalam status kawan sebaya sesuai dari diri individu itu sendiri, apakah individu dapat membuka diri sehingga menjadi popular atau bahkan menutup diri atau pemalu yang menjadi individu tersebut ditolak oleh kawan-kawan sebayanya.

6. Kognisi Sosial dan Emosi Remaja

Keterampilan kognisi sosial dan pengetahuan sosial remaja merupakan aspek yang penting untuk mencapai keberhasilan ketika menjalin relasi dengan kawan sebaya. Demikian pula kemampuan untuk mengelola dan meregulasi emosi.

a. Kognisi Sosial

Dalam kognisi, kita dapat melakukan pembagian antara pengetahuan dan proses kognisi.

Pembagian ini dibuat untuk mempelajari aspek-aspek kognitif dalam menjalin relasi dengan

kawan sebaya. Mempelajari pengetahuan sosial yang digunakan oleh remaja ketika menjalin

relasi dengan kawan sebaya merupakan suatu hal yang penting. Demikian pula dengan

mempelajari pemrosesan informasi remaja ketika berinteraksi dengan kawan sebaya.

Ketika anak-anak mulai memasuki masa remaja, mereka memperoleh pengetahuan social yang

lebih banyak. Di samping itu, pengetahuan mereka mengenai bagaimana caranya berkawan,

membuat kawan-kawan sebaya menyukai mereka cenderung bervariasi. Apabila ditinjau dari

perspektif kognisi social, anak-anakdan remaja yang mungkin mengalami kesulitan dalam

menjalin relasi dengan kawan sebaya dapat disebabkan karena mereka kurang memiliki

(25)

kemungkinan bahwa anak-anak yang mengalami kesulitan dalam menjalin relasi dengan

kawan-kawan sebaya, kurang memiliki keterampilan kognisi sosial.

b. Emosi

Tidak hanya kognisi yang berperan penting dalm relasi dengan kawan-kawan sebaya. Emosi juga

tidak kalah penting. Sebagai contoh, kemampuan meregulasi emosi berkaitan dengan

keberhasilan dalam menjalin relasi dengan kawan-kawan sebaya. Individu yang sering murung

dan emosi negatif lebih sering mengalami penolakan oleh kawan-kawan sebaya, sementara

individu yang memiliki emosi positif akan lebih popular. Remaja yang memiliki keterampilan

regulasi diri yang efektif dapat mengatur ekspresi emosinya dalam konteks membangkitkan

emosi yang kuat, seperti ketika seorang kawan mengatakan sesuatu yang negatif. (Santrock,

2007: 65)

7. Pentingnya Persahabatan Bagi Remaja

Menurut Gotman & Parker (dalam Santrock, 2007:69) fungsi persahabatan bagi remaja dapat dikategorikan ke dalam enam golongan yaitu:

a. Kebersamaan (companionship). Persahabatan memberikan mitra yang dikenal, seseorang yang dapat diajak menghabiskan waktu dan melakukan aktivitas kolaboratif secara bersama-sama.

b. Stimulasi (stimulation). Persahabatan memberikan informasi, kegembiraan, keasyikan yang menarik.

c. Dukungan fisik (physical support). Persahabatan memberikan sumber-sumber dan bantuan yang dibutuhkan.

d. Dukungan bagi ego (ego support). Persahabatan dapat memberikan dukungan, dorongan, dan umpan balik yang dapat membantu remaja untuk membina kesan mengenai dirinya sendiri sebagai sosok yang kompeten, menarik dan berharga.

e. Perbandingan sosial (social comparison). Persahabatan dapat memberikan informasi mengenai posisi remaja dan apakah remaja itu baik-baik saja dibandingkan orang lain. f. Intimasilafeksi (intimacylaffection). Persahabatan dapat menjadi relasi yang hangat, karib,

saling percaya, dan sebuah relasi yang memungkinkan mereka saling membuka diri.

(26)

sekedar member tetapi juga banyak masukkan dari kawan-kawannya. Tetapi remaja harus dapat memilih masukkan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya yaitu masukkan yang positif yang dapat membantu remaja mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya, misalnya kebersamaan, stimulasi, dukungan bagi fisik, dan dukungan bagi ego. Dan masukkan yang dapat membawa hal negatif dapat ditinggalkan seperti perbandingan sosial, remaja tidak dapat membeda-bedakan berteman dengan remaja yang memiliki kelas sosial yang rendah.

8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Seseorang Remaja diterima oleh Kawan Sebaya Faktor-faktor yang mempengaruhi seorang remaja diterima dalam kawan sebaya antara lain :

a. Penampilan (performance) dan perbuatan dengan tampang yang baik.

b. Kemampuan pikir yaitu mempunyai inisiatif, banyak pemikiran kepentingan kelompok dan mengemukakan pikirannya.

c. Sikap, sifat, perasaan yaitu bersikap sopan, memperhatikan orang lain, penyabar atau dapat menahan marah jika berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan dirinya. d. Pribadi yaitu jujur dan dapat dipercaya, bertanggung jawab dan suka menjalankan

pekerjaannya, menaati peraturan-peraturan kelompok, maupun menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dan pergaulan sosial.

C. Pengaruh Kawan Sebaya terhadap Kenakalan Remaja

(27)

Pada masa ini banyak remaja yang terjebak dalam suatu hal yang negatif, seperti kenakalan remaja. Kenakalan remaja sebagai merupakan berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti berbuat onar di sekolah) status pelanggaran (melarikan diri dari rumah), hingga tindakan kriminal (seperti pencurian). Kenakalan remaja tersebut sering menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat, sekolah, maupun keluarga.

Menurut Santrock, (1996) faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja adalah identitas, kontrol diri, usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah, proses keluarga, pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi, kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal. Pembentukan sikap, tingkah laku, dan prilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh lingkungan ataupun teman-teman sebaya, maka dari itu jika individu tidak dapat memilih teman sebaya yang benar-benar baik mereka akan dapat terpengaruh dalam hal-hal yang negatif.

Ewerts dalam Monks (2004: 282) menyebutkan bahwa pemberian norma tingkah laku ini dilakukan oleh kawan sebaya (peers). Kemudian mereka akan lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok dari pada mengembangkan pola norma diri sendiri yang kemudian akan berpengaruh terhadap tingkah laku kehidupan. Dalam pernyataan ini setiap orang yang sudah menemukan teman-teman yang cocok bahkan membuat kelompok sebaya, individu lebih mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan sendiri.

(28)
(29)

III. METODOLOGI PENELITIAN

Metode dalam penelitian ini memegang peranan penting, sehingga penerapannya memerlukan

metode khusus yang dianggap relevan dan dapat membantu memecahkan masalah. Metode ini

digunakan untuk melaksanakan penelitian dan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat

dipisahkan.

A. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian, maka peneliti akan mengadakan penelitian penelitian ini di SMA Negeri 1 Natar yang dilaksanakan pada semester ganjil 2011-2012.

B. Metode Penelitian

Menurut Arikunto (1996 : 150) berpendapat, metodologi penelitian adalah cara yangdigunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif, yaitu metode ilmiah yang analisisnya dengan menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran data dan hasilnya (Arikunto, 2006:12). Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif, karena hasil yang diperoleh melalui penelitian berupa data kuantitatif. Data penelitian berupa skor (angka-angka) dan diproses melalui pengolahan statistik, selanjutnya dideskripsikan untuk mendapatkan gambaran mengenai variabel pergaulan kawan sebaya dan variabel kenakalan remaja.

C. Variabel Penelitian

Arikunto (2006:118) menyatakan bahwa: “variabel adalah objek penelitian, atau apa yang

menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Penelitian ini melibatkan dua variabel diantaranya satu

(30)

a. Variabel Bebas

“Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable terikat (Sugiyono, 2010:61)”. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pergaulan kawan sebaya.

b. Variabel Terikat

“Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010:61)”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kenakalan remaja.

D. Definisi Operasional Variabel

1. Pergaulan Kawan Sebaya

Pergaulan Kawan sebaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hubungan sosial siswa-siswa yang memiliki beberapa kesamaan dengan siswa lainnya. Karena memiliki banyaknya kesamaan seperti cara berfikir, kesamaan usia, kesamaan status sosial, siswa tersebut cenderung akan melakukan hal-hal bersama dengan kawan sebayanya. Seperti bermain bersama, membagi cerita bersama, membagi kesenangan dan kesedihan, dan belajar bersama dengan kawan sebaya.

2. Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja adalah suatu tindakan yang menjurus pada berbagai perilaku, seperti

perilaku yang tidak terkendali yaitu peluapan emosi, keluar kelas saat jam palajaran,

mengobrol di dalam kelas, menjahili Guru. Perilaku yang melakukan hal-hal yang dapat

membahayakan diri sendiri dan orang lain, yaitu : berkelahi, menggunakan benda berbahaya,

dan menggunakan zat-zat berbahaya. Perilaku yang membahayakan hak milik orang lain,

(31)

melawan status, yaitu : membolos pada jam sekolah, tidak melakukan kewajiban sekolah, dan

tidak disiplin.

E. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 siswa yang melakukan kenakaln remaja pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2011/2012. Subjek ini didaptkan dari hasil dokumentasi yang peneliti dapatkan dari konselor sekolah yang bertanggung jawab pada kelas XI.

F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Menurut Riduan (2005:69) “teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh penelitian untuk mengumpulkan data”. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam peneliatian ini adalah :

1. Angket Kenakalan Remaja

Angket adalah “sejumlah pertanyaan/pernyataan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal

yang ia ketahui.” Pertanyaan/pernyataan tersebut mengandung informasi mengenai segala

hal yang berhubungan dengan subyek penelitian (Arikunto, 2002:128).

Angket yang diberikan adalah angket kenakalan remaja, angket ini diberikan untuk

mengetahui pengaruh kawan sebaya terhadap kenakalan remaja. Dalam penelitian ini,

(32)

Penelitian ini akan menggunakan angket dalam bentuk check-list dengan empat alternatif jawaban yaitu “sangat sesuai”, “sesuai”, “tidak sesuai”, dan “sangat tidak sesuai”. Setiap

jenis respon mendapat nilai sesuai dengan arah pernyataan yang bersangkutan, untuk

lebih jelas perhatikan tabel berikut :

Tabel 3.1 Alternatif Jawaban Angket

Pernyataan Positif Negatif

Sangat sesuai (SS) 4 1

Sesuai (S) 3 2

Tidak sesuai (TS) 2 3

Sangat tidak sesuai (STS) 1 4

Dari pengertian tentang kenakalan remaja yang penulis uraikan sebelumnya, dapat

diperoleh beberapa indikator sekaligus deskriptor sebagai poin menyusun

pernyataan-pernyataan pada angket. Indikator yang dibuat dalam penelitian ini diambil dari

bentuk-bentuk kenakalan remaja yang dikemukakan oleh Jensen (dalam Sarwono, 2002) dan

Hurlock (1973). Kisi-kisi angket yang digunakan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2 Kisi-kisi angket kenakalan remaja

No Variabel Konsep

Variabel Indikator Deskriptor

1 Kenakalan

(33)

onar disekolah)

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2006:231).

Dokumen yang akan digunakan peneliti untuk memperoleh data siswa-siswa yang melakukan kenakalan remaja adalah buku-buku kasus siswa yang melakukan kenakalan remaja.

G. Uji Persyaratan Instrumen

(34)

Menurut Baba (dalam Iskandar, 2007) “validitas adalah sejauh mana instrumen penelitian mengukur dengan tepat konstruk variable yang diteliti”. Sugiyono (2005) menyatakan, “instrument yang valid adalah instrument yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan validitas kontruksi (construct validity). Menurut Sugiyono (2011:125) untuk menguji validitas konstruksi, dapat digunakan pendapat dari ahli

(judgment experts). Dalam hal ini setelah instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang

akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan

ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun itu.

Hasil Uji Ahli :

Banyak masukan yang telah diperoleh peneliti dari para ahli yang telah melakukan uji

instrument yaitu :

a) Perbaikan bahasa, seperti penggunaan bahasa yang tidak baku menjadi kata-kata baku. b) Penambahan indikator

c) Penghilangan kata-kata yang tidak perlu yaiyu menganalisis masalah siswa, cepat marah, dan akan membantu mengurangi beban pikiran.

d) Penambahan deskriptor yang dianggap penting oleh ahli untuk dimasukkan dalam instrument yang akan peneliti ujikan.

e) Penggunaan EYD yang masih perlu diperhatikan f) Perubahan kata-kata yang masih berantakan

Setelah pengujian konstruksi dari ahli dan berdasarkan pengalaman empiris di lapangan

selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen. Instrumen tersebut dicobakan pada

(35)

pengujian validitas external) jumlah anggota sampel yang digunakan sekitar 30 orang.

Setelah data ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisis

faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan

mengkorelasikan skor faktor dengan skor total (Sugiyono, 2011:125).

Uji coba instrumen dilakukan pada tanggal 17 Desember 2011 kepada 30 siswa kelas XI

SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2011/2012. Dengan diperolehnya indeks validitas tiap

item dapat diketahui secara pasti item mana yang tidak memenuhi syarat ditinjau dari

validitasnya (Arikunto, 2006:178).

Pengujian item soal dalam penelitian ini menggunakan product moment. Item-item yang

tidak memenuhi kriteria akan dibuang terlebih dahulu sebelum dapat menjadi bagian

instrumen penelitian. Pada taraf kesalahan 5% dengan n = 30 nilai kritik product moment sebesar 0,300. Sebagai kriteria pemilihan item, hasil korelasi item total dibandingkan dengan

r tabel, apabila r hitung lebih besar dari pada r tabel maka butir instrumen tersebut valid.

Menurut Azwar (2010:65) semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal daya

pembedanya dianggap memuaskan.

Berdasarkan perhitungan uji item soal yang telah dilakukan terhadap 68 item instrumen

kenakalan remaja diperoleh hasil yang menunjukan bahwa item yang berkontribusi sebanyak

52 dan yang tidak berkontribusi sebanyak 16 item. Hasil perhitungan dapat dilihat pada

lampiran 2 pada hal 4.

(36)

Realibilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya

untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Untuk

mengetahui reliabilitas alat ukur menggunakan rumus alpha. Alfa Cronbach merupakan

suatu koefisien reliabilitas yang mencerminkan seberapa baik item pada suatu rangkaian

berhubungan secara positif satu dengan lainnya (Koestoro dan Basrowi, 2006: 243).

Dalam penelitian ini, uji reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan rumus alpha yaitu dengan rumus :

Kriteria reliabilitas (Koestoro dan Basrowi, 2006 ; 244) sebagai berikut :

(37)

Dari hasil uji realibilitas instrumen kenakalan remaja yang telah peneliti lakukan didapat

rhitung adalah 0,994 dan dilihat dari kriteria yang sudah ditetapkan diatas tingkat realibilitas

tersebut yaitu 0,994 > 0,8 termasuk sangat tinggi.

H. Teknik Analisis Data

(38)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkanhasilanalisis data danpembahasanpenelitian,

makakesimpulandalampenelitianiniadalahadapengaruhpergaulankawansebayaterhadapkenakalan

remajapadasiswa-siswikelas XI SMA Negeri 1 Natartahunpelajaran

2011-2012.Artinyakenakalanremaja yang

dilakukansiswadipengaruhiolehpergaulannyadengankawansebaya.

B. Saran

Saran yang dapat dikemukakan dari penelitian yang telah dilakukan di SMA Negeri 1

Nataradalah:

1. Kepada guru

kepada guru, hendaknya dapat memperhatikanpergaulansiswa di sekolah, dan proses

pemilihankawan yang tepat

2. Kepadasiswa

Saran kepadasiswahendaknyaberusahamenolakajakankawanuntukmelakukanhal-hal yang

negatif, selektifdalampemilihankawan,

sertadapatmemikirkansegalasesuatusebelummelakukanperbuatan yang

(39)
(40)

PENGARUH PERGAULAN KAWAN SEBAYA TERHADAP KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS XI

SMA NEGERI 1 NATAR LAMPUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh

AMBAR KUSUMAWATI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(41)
(42)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(43)
(44)

B...Pergaulan Kawan Sebaya

1...Pengertian Kawan Sebaya...20

2...Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergaulan Remaja ...20

3...Perubahan Perkembangan di Masa Berkawan...22

4...Relasi yang Postif dan Negatif dengan kawan Sebaya ...23

5...Status Kawan yang Mempengaruhi Remaja diterima Oleh

Kawan Sebaya...28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A...Hasil Penelitian ... ..42

(45)

2...Pelaksanaan Kegiatan Penelitian ...42

3...Pengujian Hipotesis ... ..43

B...Pembahasan ... 45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A...Kesimpulan ...49

B...Saran 49

(46)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ali, M. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Pontianak:Bumi Aksara

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:Rieneka Cipta

__________. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:Rieneka Cipta

Basrowi, Ahmad, K. 2007. Metodelogi Penelitian Sosial, Konsep, Prosedur dan Aplikasi. Kediri:CV Jenggala Pustaka Utama

Gerungan, A.G. 1986. Psikologi Sosial. Bandung: PT Eresco

Gunarsa, S.D. 2003, Psikologi Perkembangan, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

Hadi, S. 1986. Metodelogi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Haditomo, S.R. 2004. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Unika Atma Jaya

Hamalik, O. 1995. Psikologi Remaja. Maju mundur.

Hurlock, B.E. 1973. Psikologi Perkembangan. Jakarta:Erlangga

__________. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.

Penerjemah: Istiwidayati. Jakarta: Erlangga.

Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta:GP Press.

Kartono, K. 2002, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

__________. 2003, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Koestoro, B. 2006. Strategi Penelitian Sosial Dan Pendidikan.Surabaya: Media Oetama Press

Martono, N. 2010. Statistik Sosial (Teori dan Aplikasi Program SPSS). Yogyakarta: Gava Media

Monks, F.J.K dkk. 2004. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Jogyakarta: Gadjah Mada University Press.

(47)

Maulida, N. 2008. Pengaruh Peer Group Terhadap Kesadaran Beragama pada Anggota

Pengajian Remaja Masjid Syarif, Saripanmakamhaji Pada Tahun 2008.Jurusan

Perbandingan Agama (Ushuludin). Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Surakrta.

Nazir, M. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Renita, B. 2007. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Erlangga.

Ridwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Penenliti

Pemula. Jakarta: Alfabeta.

Santoso, S. 2009. Panduan Lengkap Menguasai Statistik dengan SPSS 17. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Santrock, J.W. 1983. Life-Span Development(Perkembangan Masa Hidup). University of Texas at Dallas: Brown and Bench-Mark.

____________. 1996. Perkembangan Remaja, Edisi 6. Jakarta: Erlangga.

____________. 2007. Remaja, Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Sarwono, S.W. 1998. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

____________. 2002. Psikologi Remaja Edisi 6. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana, 2002. Metoda Statistika. Bandung: Transito.

Sugiyono, 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

________. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&B. Bandung: CV.Alfabeta.

(48)
(49)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1...Tabel 3.1 AlternatifJawabanAngket...36

2...Tabel 3.2 Kisi-kisiAngketKenakalanRemaja ...36

3...Tabel 3. 3 HasilAnalisis Item InstrumenInteraksiSosial ...39

(50)

MOTTO

Suksestidakdiukurdariposisi yang

dicapaiseseorangdalamhidup,

tapidarikesulitan-kesulitan yang

berhasildiatasiketikaberusahameraihsukses

(Booker T. Washington)

(51)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan Bismillahirohmanirohim

Kupersembahkan karya yang sederhana ini sebagai ungkapan rasa syukur dan bangga kepada:

BapakdanIbutercinta yang telahmembesarkan,

mendidikdanmendoakandenganhati yang tulus.

Mba, kakakdankeponakantersayang yang

selalumenantikankeberhasilanku.

Sahabat-Sahabatku yang selalumembantu, memotivasiku, dan yang

selaluadadisaatbenar-benarkumembutuhkansemangatmereka.

Teman-temankumahasiswaBimbingandanKonseling

Serta

(52)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Natar pada tanggal 02 Maret 1990, yang merupakan anak bungsu

dari dua bersaudara pasangan Bapak Drs. Amin Basuki dan Ibu Istoniah.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) Darmawanita Natar selesai tahun 1995,

Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Merak Batin, Natar selesai tahun 2001, Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Negeri 1 Natar, Lampung Selatan selesai tahun 2004, Sekolah Menengah Atas

(SMA) Negeri 1 Natar, Lampung Selatan Bandar Lampung selesai tahun 2007.

Pada tahun 2007, penulis diterima sebagai mahasiswa baru di Universitas Lampung di Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Ilmu Pendidikan Program Studi

Pendidikan Bimbingan dan Konseling melalui jalur PKAB. Pada Tahun 2010, Penulis

melaksanakan Praktek Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PLBK-S) di SMA Negeri

1 Natar Lampung Selatan.

Penulis,

(53)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis

dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pergaulan Kawan Sebaya

Terhadap Kenakalan Remaja Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Natar Tahun Pelajaran 2011/2012”.

Adapun maksud penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan,

FKIP Universitas Lampung.

Penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan atas bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

Lampung yang telah memberikan izin bagi penulis untuk mengadakan penelitian.

2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas

Lampung.

3. Bapak Drs. Yusmansyah, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan Konseling sekaligus selaku

pembahas pada penulisan skripsi ini. Terima kasih atas masukan dan saran-saran pada seminar

terdahulu sampai menuju ujian akhir.

4. Bapak Drs. Giyono, M.Pd selaku Pembimbing Utama yang telah memberikan masukan dan

mengarahkan demi terselesaikannya skripsi ini.

5. Ibu Ranni Rahmayanthi Z, S.Pd, MA selaku Pembimbing Pembantu yang telah memberikan

masukan dan arahan demi terselesaikannya skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu Dosen Bimbingan dan Konseling, terimakasih atas didikannya selama kurang

lebih empat tahun perkuliahan. Semoga apa yang bapak dan ibu berikan dapat bermanfaat

(54)

7. Bapak dan Ibu staf dan karyawan FKIP Unila, terimakasih atas bantuannya selama ini dalam

menyelesaikan segala keperluan administrasi kami.

8. Drs. Suwarlan, M.MPd selaku kepala Sekolah SMA Negeri ! Natar yang telah

yang telah berkenan memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

9. Dra. Ni Made Suarmiati selaku koordinator BK yang telah membantu penelitian ini.

10. Kedua orang tuaku tercinta yang tak henti-hentinya menyayangiku, memberikan doa, dukungan,

semangat serta menantikan keberhasilanku.

11. Mba ku Wiwiek, kakak ipar ku Zenal serta keponakan tersayang ku Galuh yang selalu memberikan

doa serta dukungan untuk terselesainya skiripsi ini.

12. Sahabat-sahabat PASTI yang selalu menemani, tak henti-hentinya memberikan masukan serta

dukungan untuk ku Pipit, Ayi, Tio, Enti terima kasih atas segala sesuatu yang telah kalian berikan

sampai terselesainya skripsi ini.

13. Sahabat-sahabat seperjuanganku bimbingan dan konseling angkatan 2007 Metong, Supai, Lida,

Emon, Once, Betey, Fika, Saeng Izni tempat berbagi banyak video serta cerita tentang OPPA ”we

are ELF oeo”, Eonni Diah yang selalu galau, Resti, Sulis, Pede, Wita, Mba Dian, Ekasus, Wuri, Inoy,

Siska, Ewin, Panjul, Arem, Asep, Wahid, Nadia Arissanti Wardhani, Yunis Mutiara Putri Ayogo,

Boyce Saputra, Eka Lisdiana, Nikmah Ranti Maulidah,Yusbowo, Agus Purwanto, Alfitri Asmaul

Husna, Ardian Mandela, Asep Lukman Efendi, Astutik Riyanti, Citra Passa Hartadi, Rekta Herwina,

Susi Novianti, Trialita Widianingrum, Widi Sujatmiko, Yudhi Riski Prihantoro, Maleluan Pramana.

14. Semua adik tingkat BK 2008 yang tidak dapat lepas dari kakak tingkat 2007 nya yang tidak dapat

disebutkan satu persatu terimakasih atas bantuan dan dukungannya selama ini.

15. Teman-teman PLBK Jon, Nenek, Fatma, Endri, Mba Anita, Rekta, Dini, Vivi, Mba Yuni, Mba

Dwika, Kak Panca terimakasih atas canda tawa kalian, kebersamaan itu membuat PLBK terasa

begitumenyenangkan.

(55)

17. Semua yang mengisi dan mewarnai hidupku, terimakasih atas kasih sayang, kebaikan dan

dukungannya yang telah memberikan pelajaran buatku.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Tidak sedikit kekurangan

dan kelemahan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik

yang membangun demi sempurnanya skripsi ini.

Bandarlampung, 2012

Penulis

Figur

Tabel 3.1 Alternatif Jawaban Angket

Tabel 3.1

Alternatif Jawaban Angket p.32
Tabel 3.2 Kisi-kisi angket kenakalan remaja

Tabel 3.2

Kisi-kisi angket kenakalan remaja p.32

Referensi

Memperbarui...