MODEL MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

31  426  34 

Teks penuh

(1)

MODEL-MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

Dalam Mata Kuliah

PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Oleh:

Akhris Fuadatus Sholihah 1411021016 Muhammad Fais Alfafa 1411021018

Miftahul Risky 1411021034

JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

(2)

DAFTAR ISI

Halaman SAMPUL ... i DAFTAR ISI ... ii MODEL DESAIN BERORIENTASI KELAS

A.Model Dick, Carey, and Carey ... B.Model Morrison, Ross, dan Kemp ... C.Model Banathy ... D.Model PPSI ... E.Model Henich, Molenda, Russell, dan Smaldino (ASSURE) ... F. Model Smith dan Ragan ...

1

A.Model Bergman dan Moore ... B.Mode Bates ... C.Model Nieveen ... D.Model Seels dan Glasgow ... E.Hannafin dan Peck ... B.Model Dorsey, Goodrum, dan Schwen ... C.Model Diamon ... D.Model Smith dan Ragan ... E.Model Dick, Carey, dan Carey ...

(3)

MODEL DESAIN BERORIENTASI KELAS

A. Model Dick, Carey, and Carey 1.Deskripsi model

Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang meliputi analisis desain pengembangan, implementasi dan evaluasi.

2.Langkah-langkah model

Adapun komponen dan sekaligus merupakan langkah-langkah utama dari model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick, Carey & Carey (2009) adalah:

1) Mengidentifikasi tujuan pembelajaran. 2) Melakukan analisis instruksional.

3) Menganalisis karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran. 4) Merumuskan tujuan pembelajaran khusus.

5) Mengembangkan instrumen penilaian. 6) Mengembangkan strategi pembelajaran. 7) Mengembangkan dan memilih bahan ajar.

8) Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif. 9) Melakukan revisi terhadap program pembelajaran. 10) Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.

B. Model Morrison, Ross, dan Kemp 1.Deskripsi model

(4)

2.Langkah-langkah model

Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah, yaitu: 1) Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk

pembelajaran tiap topiknya

2) Menganalisis karakteristik peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain

3) Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolok ukur perilaku peserta didik

4) Menentukan isi materi pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan

5) Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik

6) Memilih aktivitas dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan

7)Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran.

8) Mengevaluasi pembelajaran peserta didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

C. Model Banathy 1.Deskripsi model

(5)

2.Langkah-langkah model

Secara garis besar, pengembangan system instruksional model Banathy dapat diformulasikan dalam enam langkah, sebagai berikut:

1) Merumuskan tujuan

Dalam langkah ini guru harus merumuskan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik setelah mengikuti program pengajaran tertentu.

2) Mengembangkan test

Dalam mengembangkan evaluasi ini perlu didasarkan pada tujuan instruksioanal yang telah dirumuskan.

3) Menganalisis kegiatan belajar

Dalam langkah ini perlu dirumuskan kegiatan belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan.

4) Mendesain system instruksional

Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat dari masing-masing komponen instruksional. Seluruh komponen instruksional yang telah dirumuskan perlu ditetapkan sebagai suatu system pengajaran.

5) Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil

Dalam langkah ini sistem instruksional yang telah didesain perlu diujicobakan dan dilaksanakan, selain itu juga perlu mengadakan penilaian terhadap hasil belajar yang dicapai peserta didik.

6) Mengadakan perbaikan

Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik ( feed back) dalam rangka mengadakan perbaikan sistem.

D. Model PPSI 1.Deskripsi model

PPSI dilihat dari segi makna kata. Kata “prosedur” berarti tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktifitas. Kata “pengembangan” berarti membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif dan sebagainya. Kata “Intruksional” berhubungan dengan proses pembelajaran. Dari arti kata tersebut, PPSI dapat di artikan adalah suatu tahapan kegiatan pengembangan perencanaan komponen-komponen pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan.

2.Langkah-langkah model

(6)

1) Perumusan tingkah laku dan kemampuan (kompetensi)

Merumuskan tingkah laku dan kompetensi yang akan dimiliki oleh pebelajar. Sebelum melakukan proses pembelajaran, pembelajar harus merumuskan tingkah laku dan kompetensi yang nantinya akan di miliki oleh pebelajar dalam setelah melakukan proses pembelajaran, satu rumusan untuk satu tingkah laku dan kompetensi.

2) Perumusan alat evaluasi atau tes

Perumusan alat evaluasi ini di tujukan untuk mengukur dan menilai sampai berapa jauh kemampuan yang telah dikuasai pebelajar, yang akan dibuat acuan untuk merumuskan apa yang harus dilakukan oleh pembelajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hal ini di lakukan untuk melakukan pre-test dan post test, yang nantinya dapat member informasi seberapa jauh pemahaman pebelajar tentang materi yang nantinya akan di sampaikan.

3) Perumusan kegiatan belajar

Pembelajar menetapkan kegiatan belajar yang sesuai dengan tujuan yang telah di tentukan, penentuan kegiatan belajar di lakukan dengan bertahap. Tahapan pertama menetukan seluruh kegiatan yang di mungkinkan dilakukan oleh pebelajar. Tahap kedua mengeliminasi kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan. Tahap terahir menentukan dan menetapkan kegiatan-kegiatan yang di lakukan dalam proses pembelajaran. Semisal kegiatan belajar berapa diskusi, Tanya jawab antar pebelajar atau bisa yang lainya.

4) Menentukan program kegiatan

Setelah kegiatan belajar di putuskan, maka selanjutnya untuk memastikan tercapainya kegiatan belajar tersebut di lakukan, harus di tentukan program kegiatan yang menjamin terlaksananya kegiatan belajar. Semisal menentukan program kegiatan berupa presentasi makalah kelompok, maka yang harus di lakukan adalah menentukan materi presentasi, pembagian anggota kelompok, mencari referensi, menentukan sistematika presentasi, menentukan media yang akan dipakai dalam presentasi, penentuan waktu presentasi makalah kelompok, menentukan tempat presentasi.

(7)

Langkah terahir yaitu langkah implementasi program kegiatan seperti

E. Model Henich, Molenda, Russell, dan Smaldino (ASSURE) 1.Deskripsi model

Model ASSURE adalah salah satu petunjuk dan perencanaan yang bisamembantu untuk bagaimana cara merencanakan, mengidentifikasi, menentukan tujuan, memilih metode dan bahan, serta evaluasi. Model Assure ini merupakan rujukan bagi pendidik dalam membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna bagi peserta didik.

Model ASSURE lebih difokuskan pada perencanaan pembelajaran untuk digunakan dalam situasi pembelajaran di dalam kelas secara actual.

2.Langkah-langkah model = Seleksi media, metode, dan bahan = Memanfaatkan bahan ajar

= Melibatkan siswa dalam kegiatan belajar\ = Evaluasi dan revisi

Untuk lebih memahami model ASSURE, berikut ini dikemukakan deskripsi dari setiap komponen yang terdapat dalam model tersebut:

1)Analyzze Learnes

(8)

Pemahaman yang baik tentang karakteristik siswa akan sangat membantu siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Analisis terhadap karakteristik siswa meliputi beberapa aspek penting, yaitu karakteristik umum, kompetensi spesifik yang telah dimiliki sebelumnya, dan gaya belajar atau learning style siswa.

2)State Objectives

Langkah selanjutnya dari model desain sistem pembelajaran ASSURE adalah menetapkan tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik. Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus atau kurikulum, informasi yang tercacat dalam buku teks, atau dirumus kansen diri oleh perancang atau instruktur. Tujuan pembelajaran merupakan rumusan atau pernyataan yang mendeskripsikan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa setelah menempuh proses pembelajaran.

Setelah menggambarkan kompetensi yang perlu dikuasai oleh siswa, rumusan tujuan pembelajaran juga mendeskripsikan kondisi yangdiperlukan oleh siswa untuk menunjukkan hasil belajar yang telahdicapai dan tingkat penguasaan siswa atau degree terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari.

3)Select Methods, Media, and Materials

Langkah berikutnya adalah memilih metode, media, dan bahan ajar yang akan digunakan. Ketiga komponen ini berperan penting dalam membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah digariskan.

Pemilihan metode, media, dan bahan ajar yang tepat akan mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa dan membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran. Dalam memilih metode, media, dan bahan ajar yang akan digunakan, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan, yaitu memilih media dan bahan ajar yang telah tersedia, dan memproduksi bahan ajar baru. 4)Utilize Materials

(9)

komponen tersebut dapat berfungsi efektif untuk digunakan dalam situasi atau setting yang sebenarnya. Langkah berikutnya adalah menyiapkan kelas dan sarana pendukungyang diperlukan untuk dapat menggunakan metode, media, dan bahan ajar yang dipilih. Setelah semuanya siap, ketiga komponen tersebut dapat digunakan.

5)Requires Learner Participation

Proses pembelajaran memerlukan keterlibatan mental siswa secara aktif dengan materi atau substansi yang sedang dipelajari. Pemberianlatihan merupakan contoh cara melibatkan aktifitas mental siswa dengan materi yang sedang dipelajari.

Siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran akan denganmudah memelajari materi pembelajaran. Setelah aktif melakukan proses pembelajaran, pemberian umpan balik berupa pengetahuantentang hasil belajar akan memotivasi siswa untuk mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. 6) Evaluate and Revise

Setelah mendesain aktifitas pembelajaran maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi. Tahap evaluasi dalam model ini dilakukan untuk menilai efektivitas pembelajaran dan juga hasil belajar siswa. Proses evaluasi terhadap semua komponen pembelajaran perlu dilakukan agar dapat memperoleh gambaran yang lengkap tentang kualitas sebuah program pembelajaran.

F. Model Smith dan Ragan 1.Deskripsi model

Particia L. Smith and Tillman J. Ragan (2003) mengemukakan sebuah model desain sistem pembelajaran yang populer dan profesional yang memiliki kecenderungan terhadap implementasi teori belajar kognitif. Hampir semua langkah dan prosedur dalam sistem desain pembelajaran ini difokuskan pada rancangan tentang srategi pembelajaran.

(10)

Model desain yang dikemukakan oleh Smith dan Ragan terdiri dari beberapa langkah dan prosedur yaitu:

1) Analisis lingkungan belajar

Analisis lingkungan belajar meliputi prosedur menetapkan kebutuhanakan adanya proses pembelajaran dan lingkungan tempat program pembelajaran akan di implementasikan. Tahap analisis dalam model inidigunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran.

2) Analisis karakteristik siswa

Analisis karakter siswa meliputi aktifitas atau prosedur untuk mengidentifikasi dan menentukan karakteristik siswa yang akanmenempuh program pembelajaran yang didesain. Karakter siswa yangakan menempuh program pembelajaran meliputi kondisi socialekonomi, penguasaan isi atau materi pelajaran dan gaya belajar. Gaya belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi gaya belajar auditori, gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik.

3) Analisis tugas pembelajaran

Analisis tugas pembelajaran perlu dilakukan untuk menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran spesifik yang perlu dimiliki oleh pembelajar untuk menciptakan kompetensi dalam melakukan pekerjaan.

4) Menulis butif tes

Menulis butir tes dilakukan untuk menilai apakah program pembelajaran yang dirancang dapat membantu siswa dalam mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Butir-butir tes yang ditulis harus bersifat valid dan reliable agar dapat digunakan untuk menilai kemampuan atau kompetensi siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

5) Menentukan strategi pembelajaran

(11)

6) Memproduksi program pembelajaran

Program pembelajaran merupakan output dari desain system pembelajaran yang mencakup deskripsi tentang kompetensi atau tujuan, metode, media, strategi dan isi atau materi pembelajaran, sertaevaluasi hasil belajar.

7) Melaksanakan evaluasi formatif

Dilakukan untuk menemukan kelemahan-kelemahan dari draf bahan ajar yang telah dibuat agar segera direvisi.

8) Merevisi program pembelajaran

Dengan melakukan revisi untuk terhadap draf program pembelajaran

(12)

MODEL DESAIN BERORIENTASI PRODUK

A. Model Bergman dan Moore 1.Deskripsi model

Bergman dan Moore (1990) mempublikasikan sebuah model yang khusus ditujukan untuk membimbing dan mengelola produksi produk dari multimedia interaktif. Setiap kegiatan menentukanmasukan, penyampaian (output), dan strategi evaluasi. Output dari setiap kegiatan memberikanmasukan untuk kegiatan berikutnya.

Mereka mengacu pada setiap baris horizontal dari modeltersebut sebagai fase dan mengingatkan pembaca bahwa meskipun tidak ditampilkan, mungkin perlu untuk meninjau fase dan menguji kembali aktivitas yang dipilih. Mereka juga menekankan pentingnya mengevaluasi output (penyampaian) dari setiap kegiatan sebelum melanjutkan.Daftar pengecekan yang mereka berikan untuk melakukan evaluasi ini sangat luas dan akan berharga jika salah satu menggunakan model pengembangan produk yang berbeda untuk pengembangan multimedia interaktif.

2.Langkah-langkah model

Model Bergman dan Moore yang berisi enam kegiatan utama, berikui 6 langkahnya:

1) Analisis 2) Desain

3) Mengembangkan 4) Memproduksi

5) Author (coding, testing, running) 6) Memvalidasi

B. Mode Bates

1.Deskripsi model

(13)

berarti mengharuskan adanya persyaratan bagi siswa untuk belajar, dan untuk sebagian siswa yang memiliki keterbelakangan, dan sebuah langkah yang menentukan untuk menyediakan pendidikan pada bentuk yang sesuai untuk memecahkan masalah keterbelakangan tersebut. Tujuan yang lain adalah untuk menciptakan lingkungan belajar jarak jauh yang akan meningkatkan pengalaman bagi peserta melalui interaksi. Dalam mempertimbangkan pengaturan pendidikan, Bates juga mengklaim "karena jenis kelamin, ras, dan penampilan fisik, status, atau pengalaman yang tidak nampak, dan karena akses ke konferensi dapat dibuat dan disediakan bagi siswa dan guru secara sama, dan setiap orang yang berpartisipasi yang dinilai semata-mata pada nilai kontribusi mereka, meskipun hal ini sangat tergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh tutor atau moderator" (Bates, 1995: 11).

Model yang tepat untuk diterapkan dalam pengembangan desain isntruksional Diklat Jarak Jauh Online adalah model dari kelompok yang berorientasi produk. Salah satu model yang tepat adalah model pengembangan instruksional Bates karena memeliki kekhasan yaitu dikembangkan khusus untuk pembelajaran mandiri, memiliki kejelasan hubungan antara langkah, pelaku dan produk dan langkahnya tidak kompleks.

2.Langkah-langkah model

Model pengembangan intruksional Bates terdiri dari empat langkah yaitu:

1) Pengembangan outline diklat 2) Pemilihan media

3) Pengembangan dan produksi bahan ajar 4) Uji coba dan perbaikan

C. Model Nieveen 1.Deskripsi model

(14)

guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang baik. Adapun kriteria model pembelajaran yang baik menurut Nieveen (Trianto, 2007: 8) adalah sebagai berikut.

a. Valid

Validitas atau ketepatan model pembelajaran berhubungan dengan dua hal, yaitu rasional teoritik yang kuat dan memilki konsistensi internal.

b. Praktis

Kriterium praktis menunjuk pada: pertama, para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang mereka kembangkan dapat diterapkan dan kedua, kenyataan menunjukkan bahwa apa yang mereka kembangkan tersebut betul-betul dapat diterapkan.

c. Efektif

Efektivitas suatu model pembelajaran ditunjukkan dengan parameter: pertama, para ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa model pembelajaran tersebut efektif, dan kedua, secara operasional model pembelajaran tersebut memberikan hasl sesuai dengan yang diharapkan.

2.Langkah-langkah model

a. Preliminary research (studi pendahuluan)

Pada tahap ini dilakukan analisis permasalahan dan pengembangan kerangka konseptual berdasarkan studi literatur dan peneltian- penelitian terdahulu. Hasil dari studi pendahuluan ini akan menjadi blueprint pertama pada tahapan pengembangan ini.

b. Prototyping stage (tahap prototiping)

Pada tahap ini dirancang prototype untuk selanjutnya diujicobakan, dievaluasi dan direvisi. Ujicoba dalam tahap ini dimaksudkan sebagai ujicoba oleh ahli untuk selanjutnya dilakukan evaluasi formatif (kevalidan & kepraktisan) dari prototipe berdasarkan penilaian ahli (expert judgement). c. Assessment stage (tahap penilaian)

(15)

d. Systematic reflection and documentation (refleksi dan dokumentasi) Refleksi dan dukumentasi merupakan kegiatan yang kontinu pada setiap tahap yang ada dalam proses pengembangan ini. Secara tidak langsung tahap yang keempat ini telah berada pada ketiga tahap pengembangan sebelumnya.

D. Model Seels dan Glasgow 1.Deskripsi model

Seels dan Glasgow (dalam Arsyad, 2002) membagi media ke dalam dua kelompok besar, yaitu: media tradisional dan media teknologi mutakhir. Pilihan media tradisional berupa media visual diam tak diproyeksikan dan yang diproyeksikan, audio, penyajian multimedia, visual dinamis yang diproyeksikan, media cetak, permainan, dan media realia. Sedangkan pilihan media teknologi mutakhir berupa media berbasis telekomunikasi (misal teleconference) dan media berbasis mikroprosesor (misal: permainan komputer dan hypermedia).

Dari beberapa pengelompokkan media yang dikemukakan di atas, tampaknya bahwa hingga saat ini belum terdapat suatu kesepakatan tentang klasifikasi (sistem taksonomi) media yang baku. Dengan kata lain, belum ada taksonomi media yang berlaku umum dan mencakup segala aspeknya, terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Atau memang tidak akan pernah ada suatu sistem klasifikasi atau pengelompokan yang sahih dan berlaku umum. Meskipun demikian, apapun dan bagaimanapun cara yang ditempuh dalam mengklasifikasikan media, semuanya itu memberikan informasi tentang spesifikasi media yang sangat perlu kita ketahui. Pengelompokan media yang sudah ada pada saat ini dapat memperjelas perbedaan tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam memilih media yang sesuai untuk suatu pembelajaran tertentu.

2.Langkah-langkah model

Model pengembangan intruksional Seels dan Glasgow terdiri dari empat langkah yaitu:

(16)

3)Develop (material development)

4)Evaluation (formatif and sumatif evaluation)

E. Model Hanafin and Peck 1. Deskripsi model

Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase, yaitu fase analisis kebutuhan, fase desain dan fase pengembangan atau implementasi. Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga fase utama dalam model Hannafin dan Peck.

Fase pertama dari model Hannafin dan Peck adalah analisis kebutuhan. Fase ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran termasuklah di dalamnya tujuan dan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi, Hannafin dan Peck menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan pembangunan ke fase desain.

Fasa yang kedua dari model Hannafin dan Peck adalah fase desain. Di dalam fase ini informasi dari fase analisis dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran. Hannafin dan Peck (dalam Supriatna & Mulyadi, 2009 : 14) menyatakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaidah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut. Salah satu dokumen yang dihasilkan dalam fase ini ialah dokumen story board yang mengikut urutan aktivitas pengajaran berdasarkan keperluan pelajar dan objektif media pembelajaran seperti yang diperoleh dalam fase analisis keperluan. Seperti halnya pada fase pertama, penilaian perlu dijalankan dalam fase ini sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi.

(17)

dan penilaian sumatif. Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini akan digunakan dalam proses penyesuaian untuk mencapai kualitas media yang dikehendaki. Model Hannafin dan Peck (dalam Supriatna & Mulyadi, 2009 : 14) menekankan proses penilaian dan pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut Hannafin dan Peck (dalam Supriatna & Mulyadi, 2009 : 14) menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif ialah penilaian yang dilakukan sepanjang proses pengembangan media sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah media telah selesai dikembangkan. Dengan berpedoman pada sebuah desain pembelajaran yang telah tersusun, maka pembelajaran di kelas dapat dilaksanakan dengan lebih terarah dan terencana.

2. Langkah-langkah model a. Fase analisis kebutuhan.

Fase ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran termasuklah di dalamnya tujuan dan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran.

b. Fase desain.

Di dalam fase ini informasi dari fase analisis dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran.

(18)

Hannafin dan Peck mengatakan aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif dan penilaian sumatif.

F. Model ADDIE 1. Deskripsi model

Sebagian besar orang mengatakan bahwa ADDIE merupakan model pengembangan intruksional. Jika demikian, maka kita harus telusuri kembali apakah yang dimaksud dengan model itu sendiri. Menurut definisi, model merupakan representasi yang akurat menyerupai struktur yang ada 2. Berdasarkan definisi tersebut, model pengembangan intruksional ADDIE seharusnya akan menjadi representasi yang mencerminkan struktur yang ada untuk desain instruksional. Namun demikian, kenyataannya ADDIE tidak hanya dapat digunakan sebagai model pengembangan instruksional. ADDIE dapat digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga dapat dikatakan bahwa ADDIE bukanlah sebuah model pengembangan instruksional, melainkan hanya berupa model umum, atau dapat juga disebut sebagai sebuah kerangka konseptual.

Dalam proses pengembangan sistem instruksional, ADDIE merupakan sebuah kerangka konseptual yang mengacu pada proses utama dari proses ISD secara generik: analisis, desain, pengembangan, implemetasi, dan evaluasi. Dikatakan sebagai kerangka konseptual karena ADDIE menjadi dasar pemikiran para ahli dalam mengembangakan model desain instruksional. Model-model instruksional yang ada hingga saat ini menunjukkan bahwa secara umum di dalamnya unsur-unsur ADDIE, meskipun secara rinci pelaksanaannya berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan tujuan yang dihasilkan dari masing-masing model pengembangan instruksional.

(19)

Model pengembangan intruksional ADDIE terdiri dari lima langkah yaitu:

(20)

MODEL DESAIN BERORIENTASI SISTEM

A. Model Gentry (IPDM Model) 1. Deskripsi model

Gentry (1994) disebut juga Instructional Project Development and Management (IPDM) dimaksudkan untuk memperkenalkan kedua konsep dan prosedur dasar dari intruksional desain proses dan proses pendukung. Modelnya hadir untuk apa yang perlu dilakukan dan bagaimana sesuatu dilakukan selama proyek pengembangan instruksional. Model Gentry ini disertai oleh berbagai teknik dan alat bantu pekerjaan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terkait dengan pengembangan instruksional. Menurut Gentry, model IPDM ditujukan untuk mahasiswa pascasarjana, berlatih pengembang instruksional, dan guru. Namun, deskripsi komprehensif dari seluruh proses dan alat-alat yang menyertainya untuk mengelola proyek-proyek besar membuatnya cocok untuk mengembangkan sistem skala besar.

Model Gentry ini dibagi menjadi dua kelompok komponen: komponen pembangunan dan komponen pendukung dengan komponen komunikasi yang menghubungkan dua bagian.

Model IPDM menekankan pentingnya berbagi informasi antara dua kelompok komponen selama hidup proyek pengembangan instruksional. komponen komunikasi adalah "proses dimana informasi penting didistribusikan dan beredar di kalangan mereka yang bertanggung jawab, atau terlibat dalam kegiatan proyek.

(21)

membuat pengenalan yang komprehensif untuk proses dan teknik pengembangan instruksional.

2. Langkah-langkah model

Komponen pengembangan terdiri dari 8 komponen yaitu: Need analysis, Adoptio, Desig, Production, Prototyping, Installation, Operation, dan Evaluation.

1) Analisis (menetapkan kebutuhan dan tujuan prioritas untuk instruksi yang ada atau yang diusulkan)

2) Adaptasi (membangun penerimaan oleh pengambil keputusan, dan memperoleh komitmen sumber daya)

3) Desain kebutuhan (menentukan tujuan, strategi, teknik dan media) 4) Produksi (membangun elemen proyek ditentukan oleh desain dan revisi

data)

5) Prototipe (merakit, uji coba, memvalidasi, dan menyelesaikan unit instruksional)

6) Instalasi (membangun kondisi yang diperlukan untuk operasi yang efektif dari produk instruksional baru)

7) Operasi (merawat produk instruksional setelah instalasi)

8) Evaluasi (mengumpulkan, menganalisis, dan meringkas data untuk memungkinkan keputusan revisi).

Ada lima komponen pendukung yaitu Manajemen, Informasi penanganan, Alokasi anggaran/sumber daya, Personil, Fasilitas.

1) Manajemen (proses dimana sumber daya dikendalikan, terkoordinasi, terpadu, dan dialokasikan untuk mencapai tujuan proyek)

2)Informasi penanganan (proses memilih, mengumpulkan, menghasilkan, mengorganisir, menyimpan, mengambil, mendistribusikan, dan menilai informasi yang diperlukan oleh intruksional desain proyek)

(22)

4)Personil (proses untuk menentukan kebutuhan staf, mempekerjakan, pelatihan, menilai, memotivasi , anggota konseling, mencela, dan mengabaikan intruksional desain proyek)

5)Fasilitas (proses untuk mengatur dan merenovasi ruang untuk desain, implementasi, dan pengujian unsur instruksi).

B. Model Dorsey, Goodrum, dan Schwen 1. Deskrisi model

Dorsey, Goodrum dan Schwen (1997) menyebutkan proses mereka dengan Rapid Collaborative Prototyping yang menekankan peran sentral pengguna terlibat dalam proses pengembangan. Mereka membayangkan desainer bukan sebagai ahli eksternal yang mengawasi pengembangan, melainkan sebagai kolaborator pada tim dimana pengguna memainkan peran kunci perancangan. Mereka percaya bahwa kolaborasi ini, dengan pengguna memainkan peran sentral dalam semua tahap proses, hasil produk yang lebih baik lebih mungkin dapat digunakan.

Berdasarkan contoh-contoh yang termasuk dalam deskripsi mereka model, prototipe kolaboratif cepat tampaknya paling tepat diterapkan di tingkat pengembangan saja, meskipun mungkin juga dapat digunakan untuk menghasilkan produk untuk digunakan dalam program. Model mereka memiliki serangkaian siklus pengujian berulang prototipe. Prototipe awal biasanya memiliki ketepatan rendah untuk produk yang diinginkan, sedangkan prototipe kemudian sebenarnya diuji coba memiliki ketepatan yang tinggi untuk produk yang diinginkan. Kelima siklus adalah: menciptakan visi, mengeksplorasi prototipe konseptual, percobaan dengan tangan-on mock-up, prototipe uji coba bekerja, dan sepenuhnya melaksanakan visi berkembang.

Dorsey, Goodrum dan Schwen tidak memberikan informasi rinci tentang bagaimana pengembangan dan pengujian harus dilakukan, tapi menawarkan sejumlah prinsip dasar RAPD dalam empat kategori: Proses, interaksi, kesetiaan, dan umpan balik.

(23)

memodifikasi dan kembali ke prototipe dengan cepat (kecepatan sangat penting) dan mencari altematif, bukan hanya modifikasi. Rapid, Collaborative Prototyping memiliki tiga prinsip dalam prosesnya yaitu prinsip interaksi, prinsip ketepatan, prinsip umpan balik.

Tiga prinsip interaksi adalah: menganggap pengguna sebagai desainer, hindari penggunaan bahasa teknis, dan memelihara komunikasi yang konsisten. Masing-masing prinsip terdiri dari tiga prinsip.

Tiga prinsip ketepatan yaitu: menggunakan prototipe ketepatan rendah hingga mendapatkan umpan balik pada tingkat awal desain dan menggunakan protorypes ketepatan fidelity tinggi untuk mendapatkan umpan balik kualitas selama tingkat akhir desain.;mempertimbangkan protorype yang efektif jika memungkinkan pengguna untuk memberikan umpan balik dan produktif , dan memanfaatlcan teknologi yang tersedia.

Tiga prinsip umpan balik adalah: menangkap apa yang pengguna suka dan, yang lebih penting, apa yang dia tidak suka, jika pengguna tidak ingin, maka perbaiki,jika ingin maka jangan memperbaikinya, dan kumpulkan data. pada tiga tingkatan (mikro, mini, dan makro).

Model ini sangat interaktif, yang menekankan bentuk dasar cepat di semua lima unsur ADDIE, membuatnya agak unik intruksional desain literatur dan merupakan dasar seleksi untuk ulasan. Sayangnya, hal ini lebih konseptual dari operasional, sehingga rincian bagaimana untuk menerapkannya kurang. Namun, kami mengantisipasi melihat model yang lebih seperti di masa depan, mudah-mudahan dengan lebih rinci operasional, sebagai pengembang berusaha menerapkan bentuk asli cepat untuk semua fase intruksional desain proses. 2. Langkah-langkah model

Collaborative Prototyping terdiri dari 5 siklus : 1) Penciptaan visi (Create a vision )

2) Eksplorasi prototipe konseptual (Explore conceptual prototypes) 3) Eksperiment

4) Test prototype (Pilot test working prototypes)

(24)

C. Model Diamond 1. Deskripsi model

Model Selama beberapa tahun, Diamond (1998) dikembangkan dan disempurnakan model pembangunan yang khusus untuk lembaga pendidikan tinggi (seefig. 19). Walaupun Model Diamond mungkin dianggap berorientasi kelas, kami telah menempatkan dalam kategori sistem karena keyakinannya bahwa pembangunan adalah upaya tim dan sering diarahkan pada luas-persembahan kurikulum di kecanduan kursus. Diamond juga menekankan kebutuhan untuk peka terhadap isu-isu politik dan sosial yang ada di kampus dan dalam departemen akademik. Menjamin bahwa upaya pembangunan yang diusulkan konsisten dengan prioritas organisasi dan misi merupakan perhatian penting lain yang agak unik untuk model ini. Diamond diyakini intruksional desain adalah proses tim dengan masukan yang signifikan dari personil universitas yang secara khusus ditugaskan untuk membantu fakultas. Untuk semua alasan ini, modelnya tampaknya paling tepat untuk klasifikasi sebagai model sistem.

The Diamond Model (1989) khusus untuk pendintruksional desainikan tinggi. Asumsi yang mendasari:

1) Isu-isu politik dan sosial yang ada di kampus dan dalam departemen akademik sangat penting.

2) Pengembangan instruksional adalah upaya team, yang konsisten dengan prioritas dan misi organisasi.

(25)

menyumbang gol, waktu, sumber daya manusia dan lainnya, dan kebutuhan siswa.

Selama dua tempat dari kegiatan yang ditentukan dalam model Diamond, setiap unit kursus kurikulum berlangsung melalui proses tujuh langkah. Langkah pertama adalah untuk menentukan tujuan unit ini diikuti oleh desain instrumen evaluasi dan prosedur, langkah yang keluar bersamaan dengan memilih format instruksional dan memeriksa bahan yang ada untuk inclussion mereka mungkin dalam sistem. Setelah langkah-langkah telah diambil, bahan-bahan baru yang diproduksi dan bahan-bahan yang ada dimodifikasi. Menariknya Diamond ini termasuk percobaan bidang sebagai bagian dari langkah yang sama seperti produksi bahan, walaupun sebagian besar pengembang model yang membuat langkah mereka terpisah. Juga implisit untuk langkah ini adalah revisi dari instruksi berdasarkan data uji lapangan, tapi Berlian termasuk dalam proses revisi. Di samping langkah terakhir adalah mengkoordinasikan logistik untuk pelaksanaan, diikuti dengan implementasi skala penuh, termasuk evaluasi dan revisi. Berlian menekankan cocok dengan keputusan tentang apakah untuk terlibat dalam pembangunan untuk misi kelembagaan dan rencana strategis, serta masalah instruksional. Dia juga menekankan perlunya untuk menjamin fakultas kapal pemilik hasil dari upaya pembangunan dan kebutuhan untuk sebuah organisasi formal untuk mendukung upaya pengembangan fakultas.

2. Langkah-langkah model

Model Diamond ini dibagi menjadi dua fase: pemilihan proyek, desain, dan produksi, pelaksanaan dan evaluasi.

a. Pemilihan proyek, desain, dan produksi

Pemilihan proyek merupakan langkah pertama, langkah dimana menentukan apa yang akan dikerjakan. Desain merupakan perancangan apa yang akan dibuat. Sedangkat produksi yaitu menentukan bagaimana itu akan dikerjakan dan langkah mengerjakan sebuah perancangan.

b. Pelaksanaan dan evaluasi

(26)

melihat sesuatu yang telah dibuat tadi memerlukan perbaikan atau sesuatu itu siap digunakan di lapangan.

D. Model Smith dan Ragan 1.Deskripsi model

Smith dan Ragan (1999) telah dibuat dan proses desain instruksional Model yang menjadi semakin populer dengan mahasiswa dan profesional di bidang teknologi instruksional yang sangat tertarik pada dasar psikologi kognitif dari proses intruksional desain. Hampir setengah dari prosedur dalam model mereka mengatasi desain dalam strategi struksional.

Model Smith dan Ragan mencerminkan keyakinan filosofis mereka yang menerapkan proses yang sistematis, pemecahan masalah dapat mengakibatkan efektif instruksi, berpusat pada peserta didik. Model mereka mempunyai keterangan yang kuat di bidang pengembangan strategi pembelajaran yang spesifik, dibanding sebuah kelemahan umum yang banyak pada model lainnya.

Model Smith dan Ragan dianggap sangat kuat di bidang pengembangan strategi instruksional, sehingga efektif, instruksional yang berpusat pada pelajar.

2.Langkah-langkah model

Model ini terdiri dari tiga Fase, yaitu: a. AnaIisis

1) Menganalisis lingkungan belajar

2) Menganalisis peserta dintruksional desainik (menggambarkan karakter stabil peserta didik; menggarnbarkan perubahan arah peserta didik) 3) Menganalisis tugas belajar

4) Menulis item-item test

b.Tentukan strategi instruksional

1) Menghasilkan lnstruksi (kembangkan bahan Intruksional) 2) Melakukan evaluasi formatif

3) Merevisi instruksional

(27)

2) Strategi penyampaian

3) Strategi pengelolaan, selanjutnya 4) Tulis dan produksi instruksional c. Evaluasi

1) Melakukan Evaluasi Formatif 2) Merevisi instruksional

E. Model Dick, Carey, dan Carey 1. Deskripsi model

Tanpa ragu, model intruksional desain yang paling banyak dikutip adalah salah satu awalnya diterbitkan oleh Walter Dick dan Lou Carey yang mereka sekarang telah menambahkan James Carey. Kedua pendukung intruksional desain dan kritikus paling kuat yang hampir selalu mengutip model ini ketika mengekspresikan pendapat mereka mengenai keinginan sistematis merancang instruksi. Model Carey dan Carey (2001) telah menjadi standar semua model dibandingkan intruksional desain lain (dan pendekatan alternatif untuk desain dan pengembangan instruksi). karenanya kita termasuk dalam publikasi ini juga. Dalam teks ini banyak digunakan, sekarang dalam edisi kelima (Dick, carey dan carey, 2001), model tidak berubah dari edisi sebelumnya. Model ini mungkin dianggap produk-berorientasi daripada sistem berorientasi tergantung pada ukuran dan ruang lingkup langkah satu-kegiatan.

Kebutuhan untuk mengidentifikasi (menilai instruksional tujuan). Banyak dari contoh-contoh dan lembar kerja yang tampak harus diarahkan dalam mengembangkan hasil pembelajaran tertentu , tetapi bagian dari cerita lebih menunjukkan perspektif . Untuk tujuan itu, kami menganggap itu sebagai suatu kursus atau sistem model tingkat yang juga berlaku untuk pembelajaran yang memiliki fokus yang lebih terbatas. Perlu dicatat bahwa mereka menggunakan desain istilah instruksional untuk proses keseluruhan yang kita definisikan sebagai pengembangan instruksional.

(28)

yang terisolasi. Model ini membahas instruksi sebagai keseluruhan sistem, dengan fokus pada hubungan timbal balik antara konteks, konten, pembelajaran dan pengajaran. Menurut Dick dan Carey, 'Komponen seperti instruktur, peserta didik, materi, kegiatan pembelajaran, sistem pengiriman, dan pembelajaran dan kinerja Iingkungan berinteraksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mewujudkan hasil belajar siswa yang diinginkan.

2. Langkah-langkah model

Komponen Model Pendekatan Sistem, juga dikenal sebagai Dick dan Carey Model, adalah sebagai berikut:

a. ldentifikasi tujuan lnstruksional

menyatakan pernyataan tujuan yang menjelaskan keterampilan, pengetahuan atau sikap (SKA) bahwa pelajar akan diharapkan untuk menunjukkan.

Melakukan Analisis lnstruksional mengidentifukasi apa pelajar harus ingat; mengidentifikasi apa pelajar harus mampu Iakukan untuk melakukan tugas tertentu.

Menganalisis Peserta didik dan Konteks mengidentifukasi karakteristik umum target audiens termasuk keterampilan sebelumnya, pengalaman sebelumnya, dan demografi dasar; mengidentifikasi karakteristik Iangsung berhubungan dengan keterampilan yang akan diajarkan; dan menganalisis pengaturan kinerja dan pembelajaran.

Menulis Tujuan Kinerja menulis tujuan yang terdiri dari deskripsi perilaku, kondisi dan kriteria.

Mengembangkan Instrumen Penilaian mengidentifikasi tujuan pengujian kemampuan awal, pretesting, pasca-pengujian, dan praktek.

Mengembangkan Strategi Pembelajaran mengembangkan kegiatan prainstruksional, presentasi isi, partisipasi peserta didik, dan penilaian.

b. Mengembangkan dan pilih bahan ajar

Desain dan Perilaku Formatif Evaluasi Instruksi mengidentifikasi area bahan ajar yang membutuhkan perbaikan.

(29)

c. Desain dan melakukan evaluasi sumatif

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Wicaksono, D. 2016. Instructional Development Models. Tersedia pada: http://alivixongko.blogspot.co.id/2016/09/instructional-development-models .html. (23 Desember 2016).

Sujarwo. Desain Sistem Pembelajaran. Tersedia pada: http://staff.uny.ac.id/sites/ default/files/penelitian/Dr.%20Sujarwo,%20M.Pd./Desain

%20Pembelajaran-pekerti.pdf. (23 Desember 2016).

Awan’n, M. Bergman dan Moore. Tersedia pada: https://www.scribd.com/doc/14 5522383/Bergman-Dan-Moore. (23 Desember 2016).

Suryadi, A. 2013. Penerapan Model Bates Dalam Desain Djj Online. Tersedia pada: http://www.academia.edu/4226508/PENERAPAN_MODEL_BATE S_ DALAM_DESAIN_DJJ_ONLINE. (23 Desember 2016).

Nurrohmah, C. 2015. Model Desain Pembelajaran Menurut a. W. Bates. Tersedia pada: http:// www.edukasi.in/2015/08/model-desain-pembelajaran-menurut-w.html. (23 Desember 2016).

Kuntjojo. 2009. Model Pembelajaran. Tersedia pada: https://ebekunt.word press.com/2009/09/25/ untitled-2/. (23 Desember 2016).

Rahmawati, U. 2013. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika. Tersedia pada: http://eprints.uny.ac.id/11632/7/tessis-uki-rahmawati-11709251040. pdf. (23 Desember 2016).

Juliantara, P. 2015. Media Pembelajaran: Arti, Posisi, Fungsi, Klasifikasi, dan Karakteristiknya. Tersedia pada: http://www.kompasiana.com/ikpj/media-pembelajaranarti-posisi-fungsi-klasifikasi-dan-karakteristiknya_54ff4771a3 3311874a50fb9a. (23 Desember 2016).

Mita, S. 2015. Model Pengembangan Instruksional. Tersedia pada: https://septia nimitaa.wordpress.com/tag/model-pengembangan-instruksional/. (23 Desem ber 2016).

Sujarwo. Desain Sistem Pembelajaran. Tersedia pada: http://staff.uny.ac.id/sites/ default/files/penelitian/Dr.%20Sujarwo,%20M.Pd./Desain

%20Pembelajaran-pekerti.pdf. (21 Desember 2016).

Setiawati, Eti. 2015. DESAIN Analisis Perbandingan Model Pembelajaran. Tersedia pada: http://www.academia.edu/19909381/DESAIN_analisis_per bandingan_model_pembelajaran. (21 Desember 2016).

(31)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...