BAB I PENDAHULUAN. Sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, manusia memiliki rasa untuk

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, manusia memiliki rasa untuk selalu terus bersama dengan orang lain. Aristoteles (384-322 SM) seperti dikutip oleh Mg Sri Wiyati (2007) menyatakan bahwa manusia merupakan zoon politicon, artinya manusia adalah makhluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia lainnya. Lebih jauh lagi Mg Sri Wiyarti (2007) menjelaskan bahwa, manusia dalam kehidupannya akan merasa kesulitan jika hidup tanpa bantuan orang lain. Kehidupan berhubungan erat dengan interaksi yang hanya akan terjadi jika melibatkan dua orang atau lebih. Interaksi manusia dalam masyarakat menjadi lebih kompleks daripada interaksi antar dua pribadi. Sebab pada saat itu manusia mencari jati diri melalui kebersamaan dengan orang lain yang sekaligus juga membentuk identitas diri. Hal ini semakin mempertegas bahwa manusia menyimpan bakat-bakat sosial atau hasrat yang dibawa sejak lahir yaitu hasrat untuk bergaul. Pergaulan memiliki peranan atas terbentuknya pribadi seseorang atau berkembangnya bakat seseorang. Secara garis besar terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kehidupan sosial manusia, yaitu warisan biologis, keadaan lingkungan sekitar, warisan sosial (social heritage), dan kelompok sosial (social

groups).

Bergabung ke dalam suatu kelompok sosial dapat membuat seorang individu tidak lagi merasa sendirian. Kelompok dimanfaatkan oleh beberapa individu yang ingin terlihat sama dalam menyikapi sesuatu, bergaya, dan berbusana. Para

(2)

anggota kelompok ingin selalu menjadi satu bagian dalam upaya pembentukan pribadi secara kolektif. Hal ini terkait dengan salah satu faktor yang melatarbelakangi terbentuknya suatu kelompok, yaitu terdapatnya anggota-anggota yang merasa senasib sehingga menimbulkan rasa ketergantungan satu sama lain. Pada konteks kekinian, banyak kelompok atau komunitas terbentuk sebagai perwujudan cerminan diri dari kebudayaan dan suku tertentu hingga kelompok yang mencerminkan gaya hidup atau fashion style tertentu.

Sebut saja Hijabers Commnuity Yogyakarta (HCY), adalah komunitas muslim masa kini yang memadukan jilbab dan fashion sebagai identitas kolektif yang khas dan berbeda dengan kelompok Islam lainnya. Terdiri dari sekumpulan perempuan muslim yang berjiwa muda, dinamis, penuh kreativitas serta pemikiran yang modern terhadap nilai-nilai Islam. Penampilan dan gaya berjilbab para anggota HCY cenderung tidak biasa, yaitu dengan menciptakan praktik jilbab yang fashionable. Dengan perkembangan fashion muslim saat ini, diharapkan dapat membawa jilbab dan Islam berkembang menuju arah yang positif sehingga dapat menjawab tantangan jaman berupa modernitas. Penampilan dan gaya berjilbab kelompok HCY terinspirasi dari trend fashion baju muslim dari negara timur-tengah yang diakses melalui media massa, cetak maupun elektronik.

Saat ini trend fashion jilbab dan busana muslim telah menjadi bagian dari budaya populer. Bing Tedjo (2007) menyebutkan bahwa budaya populer adalah budaya dimana segala makna saling ‘bertarung’ mempengaruhi pola pikir yang terdapat di masyarakat. Budaya populer juga dikenal sebagai budaya praktis, pragmatis, dan instan yang menjadi ciri khas dalam pola kehidupan. Trend jilbab

(3)

fashionable yang diusung oleh kelompok HCY merupakan bagian dari produk

budaya populer dan tanpa disadari telah menimbulkan pergeseran makna tentang pemakaian jilbab pada masa dulu dan sekarang.

Sejatinya, mengenakan jilbab dalam tuntunan agama Islam merupakan hal yang wajib bagi para perempuan, khususnya perempuan yang telah akil baligh atau dewasa untuk menutupi auratnya. Berikut kutipan ayat dalam Al-Qur’an mengenai ketentuan berjilbab:

“Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya”. (An-Nuur:31)

Jilbab pada masa Nabi Muhammad SAW merupakan pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kaki hingga kepala perempuan dewasa. Terbuat dari kain dengan potongan sederhana dan berbahan tebal. Serta tidak menggunakan perhiasan atau aksesoris yang mengundang perhatian orang lain.

Esensi awal jilbab adalah sebagai simbol keagamaan yang menunjukkan identitas dan religiusitas kelompok muslim, namun bagi Raleight (2004) saat jilbab telah menjadi bagian dari budaya populer (fashion) maka terdapat kecenderungan jilbab tidak hanya sebagai simbol yang mencerminkan identitas agama melainkan menjadi identitas kolektif bagi kelompok. Kelompok HCY memperkenalkan praktik berjilbab yang berbeda sehingga para muslimah mampu tampil modis dan fashionable dengan mengenakan jilbab. Ungkapan takwa dalam lingkup budaya populer didaur ulang menjadi ungkapan gaya berbusana. Jilbab yang tadinya kental dengan nilai keagamaan dijadikan komoditas untuk menunjukkan identitas modern tentang selera dan gaya hidup Islami.

(4)

Fashion atau penampilan bagi seorang perempuan menjadi sesuatu yang

sifatnya ‘wajib’ serta berperan penting dalam kehidupan sosialnya. Hal ini merujuk pada kepuasan dan kepribadian, yaitu keinginan dalam diri seseorang bukan hanya tampil, tetapi juga untuk diperhatikan. Ada satu kepuasan dalam diri seseorang jika dapat menjadi pusat perhatian. Mencari perhatian dapat berujung pada mencari sensasi (sensation seeking). Fertobhades (lihat Bing Tedjo, 2007) menjelaskan mencari sensasi adalah tindakan yang diniatkan untuk menampilkan suatu perilaku atau kegiatan yang berbeda dengan yang lain. Berbeda berarti tidak sama, dan ketidaksamaan itu diartikan karena adanya sesuatu yang ‘luar biasa’.

Kiprah HCY sebagai sebuah kelompok muslimah sekaligus trendsetter bagi perkembangan busana muslim dan jilbab, telah membawa warna baru dalam memaknai jilbab. Saat ini jilbab dan busana muslim tidak lagi identik sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman, melainkan sebagai simbol identitas yang dapat merepresentasikan gaya dinamis dan modern dari seorang muslimah. Sementara itu timbul pertanyaan adakah unsur nilai keagamaan yang tercermin dalam praktik berjilbab sebagai bagian aktivitas gaya hidup muslimah, atau berjilbab hanya dijadikan simbol identitas yang sifatnya kekinian.

Gaya hidup adalah bentuk orientasi individual, namun tidak dapat dilepaskan dari norma sosialisasi lingkungan, salah satunya adalah pengaruh dari kelompok. Kelompok memiliki peranan dalam menanamkan nilai agama terhadap anggota dan mempengaruhi pembentukan perilaku anggota. Sehingga bagaimana suatu kelompok seperti HCYdapat melaksanakan perannya menanamkan nilai

(5)

Islam terhadap tata cara berbusana serta penampilan dari para anggota komitenya, melalui ketentuan dan cara berjilbab yang syar’i.

1.2 Rumusan Masalah

Merujuk pada latar belakang permasalahan diatas, pertanyaan yang diajukan untuk rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Siapakah Hijabers Community Yogyakarta itu?

2. Bagaimana Hijabers Community Yogyakarta memaknai jilbab sebagai simbol agama sekaligus sebagai simbol identitas kolektif kelompok?

3. Bagaimana Hijabers Community Yogyakarta merepresentasikan identitas muslimah fashionable sebagai bagian dari praktik gaya hidup masa kini?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis memiliki beberapa tujuan, yaitu:

1. Menjelaskan tentang profil sosial dari HCYdalam rangka mengetahui gaya hidup para anggota komite.

2. Mengetahui proses yang dilakukan HCY dalam memaknai dan memahami jilbab sebagai simbol agama sekaligus simbol identitas kelompok

3. Menggali perananHCY dalam merepresentasikan pemaknaan mengenai jilbab dan berbusana fashionable terhadap para anggota komitenya dalam praktik gaya hidup masa kini.

1.4 Manfaat Penelitian

Secara umum, penelitian ini memiliki manfaat untuk menambah wawasan akademis bagi peneliti maupun pembaca. Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian sosiologi mengenai dinamika gaya hidup muslimah

(6)

termasuk jilbab dan busana sebagai representasi identitasnya. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya kajian sosiologi agama dengan mengkaji jilbab yang kini telah menjadi bagian dari fashion di Indonesia dan makna jilbab yang tidak hanya sebagai simbol agama melainkan sebagai simbol identitas kolektif.

1.5 Tinjauan Pustaka

Berikut ini adalah beberapa studi penelitian mengenai perkembangan jilbab di Indonesia yang dibahas dari sudut pandang sosial maupun budaya. Penelitian tersebut dijadikan penulis sebagai pembanding dan bahan tambahan referensi dalam melakukan penelitian.

Maiyusnida (2006) dalam jurnalnya membahas mengenai trend jilbab yang sedang berkembang pada tahun 2003 di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara (USU). Hasil dari penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan beberapa faktor yang melatarbelakangi para mahasiswi tersebut untuk mengenakan jilbab, beberapa diantaranya adalah faktor ketakwaan dan religiusitas sebagai seorang muslimah, faktor penampilan yaitu merasa dirinya lebih cantik serta menarik setelah mengenakan jilbab. Selajutnya adalah timbulrasa ‘aman’ dan jaminan terlindungi dari godaan-godaan dari luar diri mereka, misalnya laki-laki yang bukan muhrimnya. Faktor lingkungan dan peer group juga ikut melatarbelakangi para mahasiswi tersebut berjilbab. Di luar faktor-faktor yang telah disebutkan, para mahasiswi berjilbab memiliki misi untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang muslimah dan juga pembuktian bahwa dengan berjilbab tidak menghalangi aktivitas serta ruang gerak pemakainya.

(7)

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Claudia Saluz (2007) bertujuan untuk mengkaji agama Islam sebagai bagian dari budaya popular dan meneliti praktik berjilbab yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya sebagai ekspresi dari budaya pop didalam masyarakat urban. Dalam skripsinya disebutkan bahwa terdapat perbedaan model berjilbab dimana tidak ada konsensus mengenai standar pemakaian jilbab yang seharusnya. Saluz mengkategorikan 3 kelompok muslimah berdasar pada karakteristik model jilbabnya, yaitu kelompok jilbab cadar, kelompok jilbab panjang yang dipadukan dengan rok lebar, dan kelompok jilbab trendi. Kemunculan model jilbab trendi dijelaskan sebagai proses hibridisasi, adalah suatu proses interaksi antara budaya lokal dengan global, hagemoni, dan subaltern. Maka dari itu fenomena jilbab ini sebaiknya dilihat dari perspektif berbeda yang saling berhubungan dimana dimensi religius terkait dengan dimensi sosial dan kultural.

Selain itu dijelaskan oleh Saluz (2007) bagaimana konteks sejarah, kebijakan pemerintah, media massa, situasi ekonomi, dan gender saling mempengaruhi dalam proses pembentukan budaya popular Islam serta perkembangan jilbab. Jilbab pada masakolonial mulai dikenal namun hanya dikenakan pada waktu tertentu dan pada umumnya dikenakan oleh santri saja. Saat itu jilbab dijadikan kelas sosial dan religiusitas seseorang dimana sekelompok orang yang telah menunaikan ibadah haji. Selanjutnya timbul larangan terhadap pemakaian jilbab bagi para pelajar di sekolah-sekolah. Barulah pada masa orde baru jilbab dengan bebas dikenakan oleh siapa saja dimana saja. Hingga akhirnya popularitas jilbab meningkat bersamaan dengan fashion muslim

(8)

Indonesia, ditandai dengan banyaknya perancang busana yang mengeluarkan koleksi rancangan jilbab dan busana muslim. Pada era reformasi jilbab semakin berkembang sampai merambah ke media massa dimana semakin banyak diterbitkannya majalah khusus muslimah. Televisi melalui iklan, sinetron dan juga film mulai menampilkan tokoh-tokoh yang diperankan oleh perempuan berjilbab. Saluz menyimpulkan bahwa media massa memiliki peran penting dalam perkembangan jilbab dan pembentukan citra Islam yang friendly serta sociable.

Penelitian ini juga menggambarkan bagaimana peranan aktif dari muslimah muda dalam mengkonstruksikan identitasnya melalui model berjilbabnya. Ketentuan ajaran Islam wajib diikuti, namun bagi muslimah usia muda terdapat aspek lain yang dinegoisasikan dalam berjilbab. Perkembangan dari makna jilbab sebagai sebuah simbol agama Islam yang kuat dengan konotasi religius. Namun, di sisi lain terjadi kontestasi dalam pemaknaan jilbab trendi yang saat ini mengarah sebagai aksesori fashion saja sehingga kehilangan konotasi agamanya akibat proses hibridisasi. Jilbab dimanfaatkan untuk membangun identitas serta citra yang baik bagi pemakainya dan menimbulkan destabilisasi makna dari jilbab.

Penulisan jurnal yang dilakukan Rinawati (2005) bertujuan untuk membahas

lifestyle atau gaya hidup para muslimah berusia muda terkait dengan persoalan

pergaulan, fashion, bahasa, penampilan dan aktivitas waktu senggang. Dijelaskan oleh Rinawati bahwa dengan menjamurnya pusat perbelanjaan seperti shopping

mall, industri waktu luang, industri mode atau fashion, industri kecantikan,

industri kuliner hingga industri gosip, dan tayangan-tayangan di televisi yang mengungkap fenomena budaya pop seperti fashion, penampilan, dan bahasa

(9)

menjadi faktoryang mempengaruhi adanya serbuan trend tersebut. Remaja muslimah telah menjadi bagian komoditas dari industri gaya hidup. Penampilan bagi remaja adalah ciri yang khas, karena budaya anak muda identik dengan penampilan sebagai representasi identitas diri. Ciri seorang muslimah dapat dikenali dari cara berpakaiannya. Namun, gaya berpakaian para muslimah tidak luput dari pengaruh budaya populer yang kemudian memunculkan gaya baru, yaitu jilbab gaul dan menjadi trend bagi para remaja muslimah khususnya yang tidak mau ketinggalan mode. Jilbab gaul adalah gaya jilbab yang cara pakainya dengan dililitkan ke leher dengan paduan baju dan celana berpotongan ketat di badan.

Berdasarkan fenomena tersebut Rinawati menemukan adanya ’budaya

Barbies’ yang menjadi trendsetter bagi penampilan remaja muslimah saat ini.

Beberapa hal yang berhubungan dengan ‘tampangisme’ atau ‘wajahisme’

(lookism/faceism) menjadi persoalan serius dalam perburuan kecantikan dan untuk

selalu tampil cantik dalam kehidupan sehari-hari. Gejala ini dapat ditemui pada muslimah yang terobsesi dengan persoalan gaya hidup dan mendewakan penampilan sehingga salon-salon ramai dipenuhi remaja putri untuk merawat wajah, tubuh, rambut, sampai pada kuku kaki dan tangan.

Selain itu, kontribusi dari media bagi perkembangan gaya hidup para remaja sangatlah besar bersamaan menjamurnya media massa. Hal ini tidak lain dikarenakan adanya ‘ledakan informasi’ secara bertubi-tubi dan dikonsumsi mentah-mentah oleh masyarakat khususnya remaja muslimah. Tayangan di televisi yang mempertontonkan gaya pakaian (fashion) serta aksesoris sebagai

(10)

demonstrasi ideologi dapat memicu para remaja muslimah untuk mengimitasi cara berpakaian yang tidak sesuai syar’iat Islam seperti beberapa public figure gemar menampakkan aurat dengan berpakaian minim. Media massa yang sejatinya menjadi cerminan dari masyarakatnya dalam kebudayaan populer justru lebih banyak merefleksikan bayangan-bayangan yang diinginkan oleh masyarakat tersebut.

Kehidupan masyarakat kontemporer menunjukkan adanya persinggungan diantara aturan beragama yaitu perintah berjilbab dengan serbuan budaya pop dimana para remaja memaknai jilbab sebagai kewajiban yang dikorelasikan dengan pergaulan dan fashion. Selanjutnya berakibat pada banyaknya remaja muslimah yang tidak dapat memahami hakikat dari berjilbab. Rinawati menarik beberapa kesimpulan atas penelitian, yaitu adanya kolaborasi antara tuntunan ajaran agama dengan budaya pop dan globalisasi media massa yang turut mempengaruhi gaya hidup remaja muslimah.

Dari ragam tinjauan pustaka tersebut, secara umum terdapat tiga aspek penting yang berkaitan dengan fokus penelitian, yaitu: (1) sejarah perkembangan jilbab dan busana di Indonesia (2) konteks sosial dan budaya yang mempengaruhi perkembangan fashion jilbab di Indonesia (3) jilbab dapat berfungsi sebagai identitas kelompok satu dengan lainnya. Namun terdapat dua hal yang menjadi keterbatasan pada studi-studi sebelumnya, yaitu: (1) tidak membahas kemunculan kelompok muslim tertentu yang berperan dalam perkembangan dan perubahan makna jilbab (2) pembahasan studi atas jilbab terbatas pada simbol agama saja. Belum banyak studi yang membahas mengenai perubahan makna jilbab sebagai

(11)

identitas kolektif suatu kelompok tertentu. Oleh sebab itu, penelitian ini akan lebih mengarah pada pembahasan profil sosial Hijabers Community Yogyakarta (HCY) sebagai kelompok muslim yang memiliki praktik berjilbab yang berbeda dan upaya-upaya yang dilakukan kelompok ini dalam memadukan nilai tradisional agama Islam berupa kaidah berjilbab syar’i dengan pengaruh budaya populer berupa fashion muslim saat ini.

1.6 Kerangka Teori

Teori utama yang digunakan penulis dalam pembahasan penelitian ini adalah teori representasi dan identitas yang dikemukakan oleh Stuart Hall. Teori tersebut diyakini dapat menjawab pembahasan mengenai kelompok HCY memaknai jilbab sebagai simbol agama Islam sekaligus sebagai simbol identitas kolektif (identitas kelompok) dan merepresentasikan identitas muslimah fashionable masa kini. 1.6.1 Representasi

Representasi menurut Hall (2003) diartikan sebagai suatu proses dari makna yang diproduksi dan dipertukarkan oleh anggota masyarakat. Secara singkat representasi adalah salah satu proses dalam memproduksi makna.

“Representation connects meaning and language to culture. Representation is an essential part of the process by which meaning is produced and exchanged between members of culture.” (Stuart Hall,

2003:17)

Terdapat dua komponen penting dalam sistem representasi, yaitu konsep dalam pikiran dan bahasa. Konsep yang berasal dari dalam pikiran membuat seseorang mengetahui arti makna dari yang kita maksud. Sedangkan bahasa memiliki fungsi sebagai media komunikasi dalam menyampaikan makna. Misalnya, saat kita mengkomunikasikan makna dari jilbab yaitu kain yang

(12)

digunakan oleh perempuan muslim untuk menutup auratnya. Maka dari itu yang terpenting dari sistem representasi adalah terdapat suatu kelompok yang mampu berproduksi dan bertukar makna dengan baik melalui latar belakang pengetahuan yang sama, sehingga dapat menciptakan pemahaman makna yang (hampir) sama.

“Member of the same culture must share concepts, image, and ideas which enable them to think and feel about the world in roughly similar ways. They must share, broadly speaking the same ‘cultural codes’. In this sense, thinking, and feeling are themselves ‘system of representation”. (Stuart Hall, 2003:17)

Berfikir dan merasa bagi Hall adalah bagian dari sistem representasi serta berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu dibutuhkan latar belakang pemahaman yang sama terhadap konsep, gambar, dan ide (cultural codes).

Pemaknaan terhadap suatu hal dapat sangat berbeda dalam budaya atau kelompok masyarakat yang berbeda dikarenakan pada masing-masing budaya atau kelompok tersebut telah memiliki cara-cara tersendiri dalam memaknai sesuatu. Kelompok yang tidak memiliki kesamaan latar pemahaman terhadap kode-kode budaya tertentu kesulitan untuk memahami makna yang diproduksi oleh kelompok lainnya.

Makna tidak lain adalah sebuah kontruksi. Individu mengkonstruksi makna dengan tegas seolah-olah alamiah dan tidak dapat diubah. Makna dikonstruksi melalui sistem representasi dan difiksasi melalui kode. Kode ini selanjutnya membuat masyarakat berada dalam kelompok budaya yang sama, paham dan menggunakan istilah yang sama serta telah melewati proses konvensi secara sosial. Misalnya, ketika memikirkan kata ‘rumah’, maka kita menggunakan kata ‘rumah’ untuk mengkomunikasikan apa yang ingin diungkapkan pada orang lain.

(13)

Hal ini dikarenakan kata ‘rumah’ merupakan kode yang telah disepakati masyarakat untuk memaknai suatu konsep ‘rumah’ yang terdapat dalam pikiran (tempat untuk berlindung atau tempat untuk tinggal). Maka kode membangun korelasi antara sistem konseptual dalam pikiran dengan bahasa yang digunakan.

“Things don’t mean: we construct meaning, using representation system-concept and signs”. (Stuart Hall, 2003:25)

Representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari konsep yang ada dalam pikiran kita melalui bahasa. Proses produksi makna dimungkinkan dengan hadirnya sistem representasi. Namun, proses pemaknaan tersebut bergantung pada latar belakang pengetahuan dan pemahaman suatu kelompok sosial terhadap tanda. Suatu kelompok harus memiliki pengalaman yang sama agar dapat memaknai sesuatu dengan cara yang hampir sama.

1.6.2 Identitas

Telah disebutkan sebelumnya bahwa representasi merupakan proses seorang individu menggunakan bahasa untuk memproduksi makna. Individu tidak hanya memberikan makna terhadap objek, benda mati, atau kejadian yang ada di sekitarnya, namun juga memberikan makna pada individu lain. Dengan memberikan makna kepada individu lain, artinya kita memberi eksistensi kepada orang tersebut dan mengakui keberadaannya.

Proses representasi erat kaitannya dengan identitas, dikarenakan identitas terbentuk saat eksistensi seseorang dimaknai oleh orang lain. Hal atau benda yang digunakan, kegiatan yang dijalani, cara seseorang berpakaian dan berpenampilan dapat mendefinisikan siapa kita, di kelompok mana eksistensi kita diakui atau

(14)

tidak diakui. Suatu identitas dapat dimaknai melalui tanda-tanda selera, kepercayaan, sikap, dan gaya hidup. Identitas dianggap personal sekaligus sosial serta sebagai penanda bahwa diri kita berbeda dengan orang lain. Hal ini sekaligus menjadi proses seseorang dalam menentukan identitas.

“…identities are relational and contingent. They depend upon what they are defined against, and this may change over time or be understood differently in different places”. (Judy Giles, 1999:34)

Identitas memiliki sifat kultural dalam segala aspek, artinya bentuk identitas dapat berubah berkaitan dengan konteks sosial kultural. Identitas bukanlah sebuah benda, melainkan suatu deskripsi dalam bahasa. Identitas merupakan konstruksi diskursif yang berubah maknanya menurut ruang, waktu, dan pemakaian (Barker, 2009)

Hall (1992) menyatakan terdapat tiga metode yang berbeda dalam memahami identitas, yaitu subjek pencerahan, subjek sosiologis, dan subjek pascamodern. Memahami subjek pencerahan sekaligus memahami proses kultural yang lebih luas dalam pembentukan subjek dan identitas. Terdapat suatu anggapan dari Barat mengenai identitas dalam memandang orang sebagai sesuatu yang menyatu dan mampu mengorganisasi dirinya sendiri seperti berusaha memahami tentang tanggung jawab indivdu dalam bertindak. Dalam subjek sosiologis, identitas dipahami tidak dapat membangun dirinya sendiri atau berada di dalam dirinya sendiri, melainkan terbangun melalui proses akulturalisasi.

Stuart Hall (1992) dalam Chris Barker (2009:177) menyatakan bahwa, inti dari subjek tidak bersifat otonom maupun berdiri sendiri, melainkan dibentuk dalam kaitannya dengan ‘orang lain yang berpengaruh’ (significant others), yang

(15)

jadi perantara subjek dengan nilai, makna, dan simbol kebudayaan dalam dunia tempat ia hidup. Orang lain yang berpengaruh tersebut merujuk pada anggota keluarga, tempat terdapatnya proses belajar melalui pujian, hukuman, peniruan dan bahasa, bagaimana menjalani hidup dalam kehidupan sosial. Dasar pandangan sosiologis tentang subjek diartikan bahwa manusia adalah makhluk sosial dimana aspek sosial dan individu saling membentuk satu dengan lainnya. Identitas diri dibentuk secara interaktif dengan dunia sosial yang ada diluar. Internalisasi nilai serta peran sosial menstabilkan individu dan memastikan agar individu tersebut ‘cocok’ dengan struktur sosial.

Pada subjek pencerahan dan subjek sosiologis telah dijelaskan bahwa representasi adalah suatu peralihan serta pendeskripsian individu sebagai satu kesatuan menyeluruh menuju pandangan bahwa individu terbentuk secara sosial. Menurut skema Hall, diri pada pascamodern melibatkan subjek dalam perubahan sosial yang terfragmentasi dan beragam. Individu tidak hanya tersusun dari satu melainkan banyak identitas yang terkadang kontradiktif.

“Subjek memiliki identitas yang berlainan pada kurun waktu yang berbeda, identitas-identitas yang tidak terpusat di sekitar “diri” yang koheren. Yang ada didalam diri kita adalah identitas-identitas yang kontadiktif, mengarah kepada titik yang berbeda, sehingga identifikasi kita terus-menerus berubah. Jika kita merasa bahwa kita memiliki identitas terpadu sejak lahir sampai mati, itu semua hanya karena kita mengkonstruksikan suatu cerita yang melenakan atau ‘narasi diri’ tentang kita sendiri.” (Stuart Hall dalam Chris Barker 2009:178)

1.6.3 Fashion dan Media Massa

Dalam teori identitas Stuart Hall (1992) telah menyebutkan bahwa identitas tidak dapat membangun dirinya sendiri, melainkan melalui proses akulturasi.

(16)

Individu atau kelompok dapat menggunakan penampilan dan pilihan berbusana sebagai media representasi identitasnya. John Berger dalam Ibrahim (2007) menyebutkan bahwa pakaian, model rambut, dan seterusnya adalah sama tingkatannya dan digunakan untuk menyatakan identitas kita. Hal ini dipertegas oleh Kellner dalam Ibrahim (2007) bahwa sejatinya fashion, pakaian, busana adalah bagian penting dari sebuah gaya, trend, serta penampilan segari-hari yang sesungguhnya mampu memberikan pencitraan atas identitas pemakainya. Lebih lanjut lagi pada point ini, terdapat dua hal yang saling berkaitan dengan penggunaan teori representasi dan identitas dari Stuart Hall yaitu fashion dan media massa.

Berbicara mengenai busana tidak dapat lepas dari istilah fashion. Pohelmus dan Procter (1978) dalam Barnard (2011:13) menjelaskan kata fashion sebagai sinonim dari kata dandanan, gaya berdandan dan busana. Istilah fashion secara konotasi memiliki arti berbusana dengan memperhatikan gaya atau dandanan yang

‘up to date’ atau sesuai dengan ide-ide masa kini. Maka dari itu tidak semua

busana masuk dalam kategori fashionable, bisa saja suatu gaya berbusana sudah ketinggalan zaman dan menjadi tidak fashion lagi.

Fashion, pakaian, dan busana dianggap sebagai salah satu makna yang

digunakan oleh seseorang atau sejumlah orang untuk mengkomunikasikan identitas mereka ke individu atau kelompok lainnya. Jika seseorang melalui pakaian yang dikenakannya memberikan makna tertentu, maka dapat dikatakan pakaian tersebut adalah produk dari maksud si pemakai (Barnard, 2011:54). Keyakinan, harapan, dan ketakutan dari pemakai diekspresikan melalui cara

(17)

mereka mengenakan pakaian. Fashion dikonstruksikan sedemikian rupa dan menciptakan label-label tertentu. Label fashionable adalah salah satu nilai yang dikonstruksikan melalui pakaian sebagai media komunikasi. Bagi ‘penonton’nya,

fashionable lebih banyak diartikan sebagai seseorang atau sekelompok orang

dengan gaya berpakaian modis, namun bagi pemakainya sendiri bisa berarti lain. Dalam prosesnya, seseorang yang dinilai fashionable telah mengkonstruksikan nilai atau realitas tertentu yang mempengaruhi gaya berpakaiannya.

Pakaian khususnya jilbab dan busana muslim adalah tanda yang dapat merepresentasikan karakter, kerapihan, kesopanan atau simbol ketakwaan sebagai seorang perempuan muslim. Informasi yang diperoleh berkaitan dengan bagaimana mereka memaknai pakaian sekaligus menunjukkan orientasinya dalam berpakaian. Walaupun pada hakikatnya pakaian merupakan media representasi diri seseorang, namun pengaruh dari budaya dan nilai disekitarnya tidak dapat dilepaskan pengaruhnya terhadap proses representasi.

Bagan 1.1 Pengaruh fashion dan media massa terhadap pergeseran makna dan identitas jilbab

Sumber: Penulis (2013) Representasi Identitas Pengaruh Fashion dan Media Massa Pergeseran makna dan  identitas dari jilbab Jilbab

(18)

Konsep fashion tidak dapat dilepaskan dari peran media massa. Media massa menyajikan berbagai macam informasi yang aktual dan juga representatif dengan kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini media massa memegang pengaruh yang kuat dalam struktur masyarakat modern, bahkan saat ini media massa telah memenuhi ruang publik dan membawa pengaruh atasnya. Segala hal yang dikonstruksikan oleh media massa tanpa disadari telah diamini oleh masyarakat. Sehingga pakaian tidak lagi sesederhana bentuk representasi diri atas pribadi seseorang, namun menjadi produk realitas pemakai atas budaya dan nilai-nilai tertentu. Budaya populer dalam hal ini adalah perkembangan fashion jilbab, membawa perubahan yang sifatnya revolusioner terhadap kesadaran manusia, khususnya nilai-nilai kepercayaan dan bahkan jaringan emosional kehidupan.

1.7 Metodologi Penelitian 1.7.1 Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian disampaikan berbentuk narasi deskriptif dengan analisis pendekatan induktif. Tujuannya adalah memberikan gambaran menyeluruh terhadap kajian yang diteliti sehingga dapat memberikan penjelasan yang sesuai dan tepat. Proses pemaknaan (perspektif subyek) menjadi hal yang ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum mengenai latar belakang penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Perolehan data dilakukan melalui penelitian

(19)

yang digali secara alamiah. Selanjutnya peneliti akan melakukan pengembangan data berdasarkan kebutuhan penelitian dan sesuai dengan kondisi kenyataannya.

Fokus dari penelitian terletak pada studi deskriptif yang menggambarkan fenomena dan fakta yang terjadi dalam perkembangan HCY serta pembentukan identitas diri para anggota komite.

1.7.2 Unit Analisis

Unit analisis penelitian ini terdiri dari kelompok Hijabers Community

Yogyakarta (HCY) dan anggota komite yang berpenampilan fashionable.

Pemilihannya unit analisis dilakukan berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian, yaitu merupakan kelompok muslim yang merepresentasikan identitas muslimah fashionable sesuai dengan gaya hidup muslimah masa kini dan memiliki pemaknaan atas keberadaan jilbab sebagai simbol agama sekaligus identitas kolektifnya. Melihat terdapatnya kecenderungan tersebut, mendorong rasa keingintahuan dari penulis untuk melakukan penelitian secara mendalam mengenai kelompok ini. Jumlah dari anggota komite yang akan diteliti berjumlah 10-15 orang, tergantung pada kebutuhan data dan kualitas dari subjek penelitian.

1.7.3 Lokasi Penelitian

Yogyakarta merupakan kota yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Tepatnya di Rumah Muslimah yang merupakan sekretariat sekaligus tempat berkumpul dan berkegiatan para anggota komite dari Hijabers Community Yogyakarta. Bertempat di Jl. Cendrawasih No. 32 Lt.2, Demangan Baru terletak dipusat kota Yogyakarta sehingga memudahkan para muslimah yang ingin berkunjung. Pada lantai 1 difungsikan sebagai butik muslimah yang menjual perlengkapan muslimah berupa

(20)

pakaian, hijab, aksesoris dan lainnya dengan model dan gaya up to date. Pemilihan lokasi dilakukan untuk membatasi ruang dari penelitian ini.

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data

Lofland dan Lofland (1984) seperti dikutip oleh Moleong (2000:112) menjelaskan bahwa sumber data dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya merupakan data tambahan, yaitu dokumen dan lain-lain. Sedangkan menurut Afriani (2009) penulis membutuhkan beberapa metode untuk melengkapi data dalam penelitian ini, yaitu:

1. Observasi

Sebelum secara langsung bertatap muka dengan para informan, sebaiknya penulis telah memiliki informasi terlebih dulu. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, penulis melakukan observasi didalam lingkungan kelompok dengan menjadi bagian dari kelompok. Informasi tersebut berupa ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu dan perasaan. Observasi dilakukan untuk memaparkan gambaran realita atau kejadian yang terdapat di lapangan. Dalam melakukan observasi, penulis mengamati kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh

Hijabers Community Yogyakarta. Selain itu, penulis juga mengamati

penampilan para anggota komite dalam hal ini terkait dengan praktik berjilbab dan identitas muslimah fashionable.

2. Wawancara

Moleong (2000:135) mengartikan wawacara sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara merupakan salah satu media pembuktian atas

(21)

informasi atau keterangan yang didapatkan melalui kegiatan observasi.

Depth interview atau teknik wawancara mendalam dipilih penulis dalam

penelitian ini. Wawancara mendalam merupakan suatu proses mendapatkan keterangan, yaitu melakukan kegiatan tanya jawab secara langsung dengan 10-15 informan (anggota komite) dengan menggunakan interview guide berupa garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Pokok pertanyaan wawancara ditekankan pada pemaknaan serta praktik berjilbab dari kelompok HCY. Selain itu, pertanyaan yang diberikan juga seputar perkembangan trend fashion busana muslim serta muslimah

fashionable menjadi bagian dari topik wawancara.

3. Dokumentasi

Mengambil segala macam bentuk data pendukung penelitian, berupa gambar, artikel, hasil rekaman kaset, data statistik, video, dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjadi data pendukung laporan penelitian selain hasil wawancara dengan anggota komite. Penulis banyak mengambil gambar dari lapangan berupa kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kelompok Hijabers

Community Yogyakarta serta contoh gaya penampilan para anggota komite.

Hal tersebut sedikit banyak membantu penulis dalam melakukan proses pengolahan data.

1.7.5 Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data dibedakan dalam dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder.

(22)

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari informan secara langsung melalui proses wawancara ataupun dari proses pengamatan. Informan dalam penelitian ini adalah komite (pengurus) sekaligus anggota dari Hijabers

Community Yogyakarta. Kriteria pemilihan informan dalam penelitian ini

didasarkan pada (1) anggota komite yang terlibat sejak awal terbentuknya HCY, agar dapat menggambarkan proses terbentuknya kelompok hingga perkembangannya saat ini (2) dikhususkan pada anggota komite yang dinilai aktif dalam kepengurusan, untuk menggambarkan kelompok secara menyeluruh serta dapat mewakili pendapat dan pemikiran dari keseluruhan komite (3) latar belakang informan, seperti pekerjaan dan pendidikan, berkaitan untuk mengetahui relasi sosial antara anggota komite dengan gaya hidup muslimah masa kini. Hal ini dimaksudkan agar penulis mendapat data yang diinginkan sehingga dapat meneliti dengan lebih dalam profil dari komunitas beserta proses sosial yang berlangsung.

b. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua selain data lapangan. Penulis menggunakan data dari literatul, jurnal, buku, serta data yang diakses dengan internet (facebook, twitter, site blog) atau hasil penelitian sebelumnya. Dengan demikian data sekunder berfungsi untuk melengkapi dan mendukung data primer.

(23)

1.7.6 Analisis Data

Pada penelitian ini, pendekatan untuk menganalisa data lapangan mengacu pada teori representasi dan identitas Stuart Hall. Melalui teori tersebut dapat dilihat bagaimana jilbab direpresentasikan sebagai simbol agama sekaligus simbol identitas kolektif kelompok tertentu yang sekaligus dapat mempengaruhi identitas berpakaian seorang individu, yaitu anggota kelompok. Kemunculan dari muslimah

fashionable tidak lagi menjadi suatu hal yang asing ataupun tabu. Keterbukaan

informasi, keterbukaan pola pikir yang modern dan kemudahan akses media massa membuat beberapa dari para muslimah masa kini menjadi muslimah yang ‘melek’ fashion.

Media massa menyediakan berbagai macam informasi yang dapat diserap dengan mudah dan selanjutnya diimitasi oleh pembacanya. Selain media massa, keberadaan kelompok sosial menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi identitas berpakaian seseorang dan sekaligus identitas pribadinya. Identitas kolektif dalam hal ini identitas kelompok menegaskan bagaimana orang-orang cenderung serupa satu dengan lainnya, serta memiliki nilai-nilai yang diyakini bersama. Nilai-nilai tersebut nantinya memberikan perngaruh terhadap pembentukan identitas pribadi seseorang seperti, bagaiman cara dia bersikap dan berpenampilan di depan publik.

Selain pembentukan identitas, melalui teori Stuart Hall dapat dilakukan analisa terhadap representasi atas makna jilbab yang sesungguhnya menurut HCY. Bagaimana sebuah praktik berjilbab diciptakan dan menjadi sebuah bagian dari

(24)

kelompok HCY. Bagaimana mereka menempatkan jilbab ke dalam praktik dari gaya hidup modern sebagai seorang muslimah yang fashionable.

Tahap analisis data merupakan sebuah proses pencarian dan penyusunan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, catatan lapangan, dan studi dokumentasi dengan mengorganisasikan data ke sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih data yang penting dan data yang dipelajari serta membuat kesimpulan agar mudah dipahami. Terdapat tiga teknik analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, display atau penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992).

Bagan 1.2 Proses analisis data

Sumber: Miles dan Huberman (1992)

1. Reduksi data adalah proses pemilihan dan penyederhanaan dari data kasar dalam catatan peneliti yang berasal dari lapangan. Proses reduksi data dilakukan dengan mengkategorikan hasil wawancara berdasarkan aspek-aspek yang diteliti. Setelah pengumpulan data dilakukan, peneliti mampu merekam data lapangan dalam bentuk catatan lapangan (field note), selanjutnya data harus diseleksi sehingga muncul data relevan dengan fokus masalah.

2. Display atau penyajian data dilakukan dengan membentuk sejumlah daftar kategori setiap data yang didapat, penyajian ini digunakan dalam bentuk teks naratif. Untuk meminimalisir banyaknya data yang diambil, peneliti

Reduksi  Data 

Penyajian 

(25)

sebaiknya mampu menyusun data yang diperoleh secara sistematis agar sesuai dengan rumusan masalah.

3. Langkah terakhir dari proses analisis data ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan sementara, masih dapat diuji kembali dengan data lapangan. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat mencapai kebenaran yang ilmiah. Setelah hasil penelitian diuji kebenerannya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan dalam bentuk deskriptif sebagai laporan penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :